Anda di halaman 1dari 14

A.

Flexibacter columnaris
2.1 Pengertian
Menurut Bernardet (1989), Penyakit Columnaris, yang disebabkan oleh bakteri patogen
Flexibacter columnaris, adalah penyakit yang banyak menyerang ikan air tawar dan memiliki
distribusi di seluruh dunia. Strain virulensi rendah bakteri patogen untuk menjadi salmonids pada
suhu air melebihi 20 C, sedangkan strain virulensi tinggi mungkin patogen pada suhu di atas 15
C. Tingkat mortalitas berkisar dari ca 10 sampai 100% tergantung pada suhu air.
2.2 Morfologi
Menurut Nofiani dan Gusrizal (2004), bakteri gram negatif lebih resisten terhadap obat-obatan
dibandingkan dengan bakteri gram positip. Karena bakteri gram negatif mempunyai sistem efflux
aktif untuk obat-obatan, yaitu multidrug, multication, atau nodulation signal efflux complexes.
Kemungkinan lain adalah adanya gen resisten tetracyclin yang terdapat di dalam sel. Gen ini
masuk ke dalam sel bersamaan dengan mer operon.
Menurut Purwani et al., (2009), mikroba gram negatif mempunyai ketahanan yang lebih baik
terhadap senyawa antimikroba. Mikroba gram negatif memiliki sistem seleksi terhadap zat-zat
asing yaitu pada lapisan lipopolisakarida. Struktur dinding sel mikroba gram negatif relatif lebih
kompleks, berlapis tiga yaitu lapisan luar yang berupa lipoprotein, lapisan tengah yang berupa
lipopolisakarida dan lapisan dalam berupa peptidoglikan.
2.3 Gejala Klinis
Menurut Bernardet (1989), tanda-tanda klinis dan lesi biasanya terbatas pada permukaan tubuh
dan mengambil bentuk erosi sln dan nekrosis insang. Lesi karakteristik saddleback dapat
ditemukan dalam kasus maju di lele. Infeksi sistemik dapat terjadi pada kasus yang berat,
tergantung pada virulensi dari strain. Di Perancis, bakteri meluncur biasanya diisolasi dari lesi
eksternal ikan yang sakit. Klasifikasi saat ini kelompok organisme membuat identifikasi yang
akurat sulit, di terbaik. Selain itu, Flexjbacter columnaris pernah diidentifikasi di Perancis.
Menurut Irianto (2005), gejala-gejala klinis antara lain terjadinya peradangan kulit disertai
dengan bintik-bintik putih kecil pada sirip ekor dan selanjutnya meluas ke arah kepala. Sirip ekor
dan sirip anal dapat mengalami erosi berat dan kulit akan mengalami borok-borok bewarna putih
keruh atau kelabu. Pada umumnya insang mengalami kerusakan yang ditandai dengan nekrosis
pada ujung distal lamella insang dan dapat meluas kesuluruh lamellae insang.
2.4 Penyebab Munculnya Penyakit

Menurut Irianto (2005), infeksi F. colimnaris seringkali terkait dengan kondisi stress yang
umumnya ditimbulkan oleh suhu air tinggi (25-32 oC), padat tebaran tinggi, luka dan kualitas air
buruk (kandungan oksigen rendah dan peningkatan ammonia bebas).
Menurut Kismiyati et al., (2009) faktor yang menyebabkan timbulnya penyakit antara lain
disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus. Sementara faktor kualitas air
yang buruk, pakan, oksigen menurun dapat mempengaruhi adanya penyakit.

B. Aeromonas hydrophila
Salah satu bakteri yang umum dijumpai pada ekosistem perairan dan mempunyai peranan
sebagai microbial flora bagi organisme air pada kondisi lingkungan yang stabil yaitu bakteri
Aeromonas hydrophila. Dimana bakteri tersebut bersifat patogen pada ikan air tawar seperti ikan
nila pada kondisi kualitas air yang buruk. Selain itu bakteri Aeromonas hydrophila memiliki
kemampuan osmoregulasi yang tinggi dimana mampu bertahan hidup pada perairan tawar,
perairan payau dan laut yang memiliki kadar garam tinggi dengan penyebaran melalui air,
kotoran burung, saluran pencernaan hewan darat dan hewan amfibi serta reptil (Mangunwardoyo
et al., 2010).
Salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya intensif adalah penyakit ikan. Dimana
menimbulkan kerugian ekonomi bagi para pembudidaya ikan. Salah satu jenis penyakit yang
sering dijumpai pada organisme budidaya adalah penyakit bakterial yang disebabkan oleh bakteri
Aeromonas hydrophilla, dimana merupakan bakteri patogen penyebab penyakit Motil
Aeromonas Septicemia (MAS), terutama untuk spesies ikan air tawar di perairan tropis
(Rahmaningsih, 2012).
Bakteri Aeromonas hydrophila merupakan salah satu bakteri penyebab penyakit yang
berbahaya pada budidaya ikan air tawar. Bakteri tersebut banyak menyerang ikan mas yang
merupakan salah satu komoditas unggulan air tawar dan dapat menginfeksi ikan pada semua
ukuran yang dapat menyebabkan kematian hingga mencapai 80%, sehingga mengakibatkan
kerugian yang sangat besar baik dalam usaha budidaya ikan air tawar (Sanoesi, 2008).
1. 2.

Epidemilogi

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri pada ikan khususnya yang disebabkan oleh A.
hydrophila mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1980, dimana bakteri ini menyebabkan
wabah penyakit pada ikan karper di wilayah Jawa Barat dan menyebabkan kematian sebanyak
125 ton. Di tahun yang sama kejadian serupa juga terjadi dan menyerang spesies ikan mas,
penyakit tersebut dikenal dengan penyakit `Ulcerative disease` atau penyakit borok/penyakit
merah yang mengakibatkan kematian sekitar kurang lebih
173 ton jenis ikan mas termasuk didalamnya 30 % ikan-ikan kecil/benih mati disebabkan oleh
bakteri Aeromonas sp dan Pseudomonas sp, mengakibatkan kerugian sekitar Rp. 126 juta.
Penyakit ini dapat menyebabkan sistemik yang menimbulkan kematian ikan yang tinggi,

menyerang ikan-ikan budidaya dan dalam waktu singkat menyebar kedaerah lain
(Lukistyowati dan Kurniasih, 2011).
Bakteri Aeromonas hydrophila termasuk bakteri gram negatif, dimana mempunyai karakteristik
berbentuk batang pendek, bersifat aerob dan fakultatif anaerob, tidak berspora, motil,
mempunyai satu flagel, hidup pada kisaran suhu 25-300C. Jika organisme terkena serangan
bakteri maka akan mengakibatkan gejala penyakit hemorhagi septicaemia yang mempunyai ciriciri sebagai berikut: terdapat luka dipermukaan tubuh, insang, ulser, abses, dan perut gembung.
Tidak hanya menyerang organisme budidaya seperti ikan, tetapi penyakit ini juga menyerang
manusia dimana menyebabkan infeksi pada gastroenteristis, diare dan extra intestinal pada
manusia. Bakteri Aeromonas hydrophyla sangat mempengaruhi usaha budidaya ikan air tawar
dan seringkali menimbulkan wabah penyakit dengan tingkat kematian yang tinggi (80 100 %)
dalam kurun waktu yang singkat (1 2 minggu). Sehingga sangat merugikan petani ikan dalam
usaha budidaya ikan. Tingkat virulensi dari bakteri
A. hydrophila dapat menyebabkan kematian ikan tergantung dari racun yang dihasilkan.
Didalam tubuh bakteri Aeromonas hidrophyla terdapat Gen Aero dan hlyA yang bertanggung
jawab dalam memproduksi racun aerolysin dan hemolysin dimana Aerolisin merupakan protein
extraseluler yang diproduksi oleh beberapa strain A. hydrophila yang bisa larut, bersifat
hydrofilik dan mempunyai sifat hemolitik serta sitolitik. Mekanisme racun Aerolysin pada
bakteri Aeromonas hidrophyla dalam menyerang dan menginfeksi racun pada ikan yaitu dengan
mengikat reseptor glikoprotein spesifik pada permukaan sel eukariot sebelum masuk ke dalam
lapisan lemak dan membentuk lubang. Racun aerolysin yang membentuk lubang melintas masuk
ke dalam membran bakteri sebagai suatu preprotoksin yang mengandung peptida. Racun
tersebut dapat menyerang sel-sel epithelia dan menyebabkan gastroenteristis (Lukistyowati dan
Kurniasih, 2012).
Proses invasi bakteri patogen Aeromonas hydrophila kedalam tubuh host adalah diawali dengan
melekatnya bakteri pada permukaan kulit dengan memanfaatkan pili, flagela dan kait untuk
bergerak dan melekat kuat pada lapisan terluar tubuh ikan yaitu sisik yang dilindungi oleh zat
kitin. Selama proses berlangsung bakteri Aeromonas hydrophila memproduksi enzim kitinase
yang berperan dalam mendegradasi lapisan kitin sehingga bakteri dapat dengan mudah masuk
kedalam host. Selain memanfaatkan kitinase bakteri Aeromonas hydrophila juga mengeluarkan
enzim lainnya seperti lesitinase dalam upaya masuk kedalam aliran darah (Mangunwardoyo et
al., 2010).
Bakteri Aeromonas hidrophyla termasuk patogen oportunistik yang hampir selalu terdapat
di air dan seringkali menimbulkan penyakit apabila ikan dalam kondisi yang kurang baik.
Penyakit yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophilla ditandai dengan adanya bercak merah
pada ikan dan menimbulkan kerusakan pada kulit, insang dan organ dalam. Penyebaran penyakit
bakterial pada ikan umumnya sangat cepat serta dapat menyebabkan kematian yang sangat tinggi
pada ikan-ikan yang diserangnya. Gejala klinis yang timbul pada ikan yang terserang infeksi
bakteri Aeromonas hidrophyla adalah gerakan ikan menjadi lamban, ikan cenderung diam di
dasar akuarium; luka/borok pada daerah yang terinfeksi; perdarahan pada bagian pangkal sirip
ekor dan sirip punggung, dan pada perut bagian bawah terlihat buncit dan terjadi pembengkakan.
Ikan sebelum mati naik ke permukaan air dengan sikap berenang yang labil (Rahmaningsih,
2012).

Menurut (Tanjung et al., 2011), tanda-tanda sekunder serangan bakteri Aeromonas


hydrophila terlihat dengan tumbuhnya jamur berwarna putih pada bagian ujung sirip ikan dan
pada bagian tubuh yang mengalami luka memar. Sekresi lendir tampak berlebihan menyeliputi
tubuh ikan, dengan warna tubuh yang memucat. Nafsu makan berkurang mulai pada hari ke dua.
Indikasi ikan mendapat serangan bakteri dari mata pucat umumnya tampak setelah hari ke lima,
sedangkan kerusakan sisik dan tumbuhnya jamur sudah muncul mulai dari hari pertama. Warna
tubuh pucat umumnya tampak setelah hari ke tiga. Adapun beberapa analisis yang digunakan
untuk mengetahui serangan dari bakteri Aeromonas hydrophila antara lain:

Analisis morfologis

Indikasi-indikasi serangan bakteri terhadap berbagai strain ikan Gurami cukup beragam, baik ciri
maupun waktunya. Serangan bakteri tersebut dicirikan oleh perubahan warna mata menjadi abuabu dan terjadi penonjolan bola mata atau exophthalmia, luka memar yang bisa meliputi
sekujur tubuh, warna tubuh menjadi pucat, dan sirip rusak, dengan waktu (hari) serangan yang
bervariasi. Tanda-tanda yang paling peka terhadap serangan bakteri, ditandai waktu
munculnya serangan umumnya sudah tampak pada hari pertama. Jenis yang paling tahan adalah
strain Padang dengan indikasi serangan umumnya setelah dua hari. Hal ini sesuai dengan tingkat
ketahanan hidupnya yang paling tinggi (8-10 hari). Indikasi kerusakan pada sirip tidak selalu
muncul, dalam hal ini ikan yang tidak menunjukkan sisik atau sirip rusak (ta), boleh jadi ikan
tersebut sudah terserang bakteri.

Analisis histologis intestin dan hati

Pada ikan yang sehat irisan hati berwarna cerah serta sel-sel hepatosit mengandung nukleus dan
heterokromatin. Ikan yang terkena serangan A. hydrophila menunjukkan kondisi sel hati yang
rusak karena mengalami infeksi, tetapi tidak mengeluarkan nanah (non purulent multifocal
hepatitis). Kantung empedu dan sel hati mengalami peradangan atau infeksi (cholangiohepatitis),
yang pada kondisi parah infeksi ini dapat mencapai jaringan parenkim hati. Ditemukan juga
vakuola dan sel-sel darah karena terjadi pendarahan dalam (internal haemoragy). Kematian selsel hati (focal nekrosis) merupakan manifestasi yang umum terjadi pada ikan yang terserang
A. hydrophila. Intestin ikan Gurami yang terpapar A. hydrophila menunjukkan kondisi yang
mengalami deplesi pada sel lamina intestin tersebut sehingga terkikis habis. Mukosa intestin juga
mengalami kematian sel (nekrosis) yang disebabkan oleh degradasi enzimatik yang dikeluarkan
oleh A. hydrophila .

1. 3.

Habitat

Bakteri aeromonas hydrophila memiliki kemampuan osmoregulasi yang tinggi dimana mampu
bertahan hidup pada perairan tawar, perairan payau dan laut yang memiliki kadar garam tingg
dengan penyebaran melalui air, kotoran burung, saluran pencernaan hewan darat dan hewan
amfibi serta reptil (Mangunwardoyo et al., 2010).

Lingkungan dengan yang mempunyai konsentrasi kadar garam tertentu memiliki kerapatan A.
hydrophila yang jauh lebih tinggi dibandingkan lingkungan air tawar, meskipun variasi dalam
kepadatan antara habitat dengan kadar garam tertentu jauh lebih besar daripada habitat air tawar,
umumnya,
A. hydrophila tidak dianggap sebagai bakteri laut, namun, studi ini menunjukkan bahwa itu
ditemukan secara alami bakteri Aeromonas hydrophila hidup dilingkungan yang mempunyai
kadar garam air laut, air payau sampai dengan air tawar dan dapat ditemukan di semua salinitas,
kecuali (paling ekstrim> 100%o). Baru-baru ini, bakteri A. hydrophila menyebabkan penyakit
borok pada ikan cod (Gadus morhua), dan ikan laut lainnya. A. hydrophila dapat diisolasi dari
perairan yang memiliki kekeruhan 0-395 unit turbidity Jackson. Suhu yang optimum untuk
pertumbuhan bakteri A. hydrophila adalah 35C, dan suhu maksimum yaitu mendekati suhu
450C. Dalam studi ini,
A. hydrophila diisolasi dari air yang memiliki suhu antara 40 dan 45.00C.
A. Hydrophila tidak dapat diisolasi pada suhu lebih besar dari 450C, kepadatan tertinggi terjadi
pada 350C, sepanjang gradien termal mulai dari
200 sampai 720C. PH air tampaknya tidak memainkan peran penting dalam distribusi A.
hydrophila, karena bakteri dapat diisolasi selama rentang pH seluruh sampel (5,2-9,8). Bakteri
Aeromonas hydrophila tidak mampu tumbuh pada pH lebih rendah dari 4 atau lebih tinggi dari
10 (Hazen et al., 2011).
Bakteri Aeromonashydrophila, merupakan bakteri negatif, dianggap sebagai salah satu bakteri
patogen yang paling penting pada hewan air di daerah beriklim sedang, seperti ikan yang sakit,
belut, katak, dan kura-kura. Selain itu bakteri A.hydrophila dilaporkan sebagai salah satu spesies
Aeromonas paling umum yang terkait dengan penyakit usus pada manusia
(Esteve et al., 2004).
1. 4.

Ikan atau udang yang diserang

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu jenis ikan budidaya air tawar yang
mempunyai nilai ekonomis penting dan telah dibudidayakan secara intensif. Salah satu kendala
yang dihadapi dalam budidaya intensif ikan nila adalah penyakit ikan. Salah satu jenis penyakit
ikan yang sering dijumpai adalah penyakit bakterial yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas
hydrophilla, yang menyerang spesies ikan air tawar di perairan tropis (Rahmaningsih, 2012).
Bakteri Aeromonas hidrophyla merupakan bakteri patogen yang menyerang ikan lele,
dimana menyebabkan penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia). Bakteri ini dapat
menyebabkan kematian pada ikan lele mencapai 80% bahkan dapat mencapai 100% dalam kurun
waktu 1 minggu
(Mulia, 2012).
Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) telah umum dibudidayakan dan menjadi andalan
sebagai salah satu sumber protein hewani. Kawasan pengembangan budidaya ikan Gurami juga
sudah terbentuk di beberapa daerah, seperti di Jawa Barat (Bogor, Tasikmalaya, Ciamis, Garut),
Jawa Tengah (Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga), Walaupun ikan Gurami sudah
lama dibudidayakan secara komersial namun masih menghadapi kendala dalam hal pertumbuhan
yang lambat dan ketahanan hidup yang rendah. Salah satu penyebabnya adalah serangan

penyakit oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Selain ikan, berbagai spesies Aeromonas juga
dapat menyerang amfibi dan hewan reptil. Pada amfibi, bakteri ini dapat menyebabkan
pendarahan dalam yang bisa berakibat fatal. Pada manusia, bakteri ini dapat menyebabkan
infeksi pada saluran pencernaan, septisemia (keracunan darah), infeksi pada luka dan
pembengkakan pada lambung dan usus yang disertai muntah dan diare atau gastroenteritis
(Tanjung et al., 2011).
Bakteri Aeromonashydrophila diketahui sebagai patogen pada amfibi, reptil, ikan, siput,
sapi dan, baru-baru ini, bakteri Aeromonas hydrophila menyerang manusia. Beberapa kasus
penyakit septicemias yang menyerang manusia yang dapat berakibat fatal yang disebabkan oleh
bakteri A.hydrophila, tetapi penyakit tersebut menyerang pada manusia yang mempunyai daya
tahan tubuh yang lemah dan terpapar oleh penyakit laiinya, misalnya leukemia. hanya
A.hydrophila dilaporkan menyerang dan menjadi patogen pada manusia ketika terdapat luka dan
kontak langsung dengan air dimana air tersebut mengandung strain bakteri A.hydrophila. Bakteri
Aeromonas hydrophila menyebabakan kerugian yang besar dibidang perikanan, misalnya, pada
tahun 1973, 37.500 ekor ikan mati selama dalam kurun waktu 13 hari dalam satu periode di
Danau North Carolina (Hazen et al., 1978).
1. 5.

Cara pencegahan dan pengobatan

Usaha yang telah dilakukan untuk mengatasi baik pencegahan maupun pengobatan penyakit
yang disebabkan bakteri A. hydrophila adalah dengan pemberian bahan-bahan kimia maupun
pemberian antibiotik sintetis seperti tetracycline. Pemberian bahan kimia ini memang dapat
mencegah maupun mengobati penyakit pada ikan bila digunakan dengan dosis yang tepat, akan
tetapi bila digunakan tidak terkontrol maka dapat menimbulkan beberapa efek negatif. Residu
antibiotik dapat mencemari lingkungan dan juga dapat dijumpai di tubuh ikan, sehingga ikan
tidak aman untuk dikonsumsi oleh manusia (Lukistyowati dan Kurniasih, 2011).
Salah satu alternatif dalam mengobati penyakit bakterial pada ikan adalah menggunakan
bahan-bahan alami yang mempunyai kemampuan anti bakteri antara lain ekstrak bawang putih
untuk mengobati benih ikan lele yang terinfeksi A.hydrophilla; ekstrak air kunyit untuk
mengobati Pseudomonas aeruginosa pada ikan gurame (Rahmaningsih, 2012).
Vaksinasi merupakan suatu metode alternatif yang efektid dan efisien untuk mencegah
penyakit yangn disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Vaksinasi dilakukan dengan
merangsang kekebalan spesifik ikan terhadap penyakit tersebut. Metode vaksinasi tidak
menimbulkan dampak negatif, baik pada ikan, lingkungan maupun konsumen. Tingkat
perlindungan dari metode vaksinasi terhadap serangan bakteri bakteri Aeromonas hydrophila
tergantung pada jenis dan kualitas vaksin, cara vaksinasi, kondisi ikan dan lingkungan hiidupnya.
Dari hasil penelitian pemberian vaksin dari debris sel Aeromonas hydrophila pada ikan lele
menunjukkan peningkatan produksi titer antibodi dimana dapat meningkatkan produksi antibodi
ikan lele dumbo. Perlakuan vaksinasi, baik yang dibooster maupun yang tidak meningkatkan titer
antibodi ikan lele setelah ikan divaksinasi (Mulia, 2012).
Upaya penanganan pencegahan penyakit yang disebabkan oleh
A. hydrophila adalah dengan menggunakan ektraks tumbuhan alami seperti ekstrak daun

pepaya. Sebagai tanaman obat, pepaya (C. Papaya L) juga mengandung zat atau senyawa
bioaktif yang yang dapat meningkatkan ketahanan dan tanggap kebal ikan. Zat aktif yang
terdapat pada daun pepaya antara lain alkaloid, flavonoid, dan saponin, selain zat bioaktif daun
pepaya juga memiliki kemampuan antagonis dalam melawan bakteri patogen sehingga
mempunyai sifat imunostimulan. Semakin banyak kosentrasi ekstrak daun pepaya yang
diberikan pada ikan seraca oral jumlah sel macrofagh pada ikan mas meningkat, dimana dosis
pemberian ekstrak daun pepaya pada konsentrasi 65% (Sanoesi, 2008).

C. Vibrio alginolyticus
Vibrio sp Bakteri Vibrio merupakan genus yang dominan pada lingkungan air
payau dan estuaria. Umumnya bakteri Vibrio menyebabkan penyakit pada hewan
perairan laut dan payau. Sejumlah spesies Vibrio yang dikenal sebagai patogen seperti
V. alginolyticus, V. anguillarum, V. carchariae, V. cholerae, V. harveyii, V. ordalii dan V.
vulnificus (Irianto, 2003). Menurut Egidius (1987) Vibrio sp. menyerang lebih dari 40
spesies ikan di 16 negara. Vibrio sp. mempunyai sifat gram negatif, sel tunggal
berbentuk batang pendek yang bengkok (koma) atau lurus, berukuran panjang (1,4
5,0) m dan lebar (0,3 1,3) m, motil, dan mempunyai flagella polar (Gambar 1).
Menurut Pitogo et al., (1990), karakteristik spesies Vibrio berpendar (Tabel 1). Sifat
biokimia Vibrio adalah oksidase positif, fermentatif terhadap glukosa dan sensisif
terhadap uji O/129 (Logan, 1994 cit. Gultom, 2003).
Bakteri Vibrio sp adalah jenis bakteri yang dapat hidup pada salinitas yang relatif
tinggi. Menurut Rheinheiner (1985) cit. Herawati (1996), sebagian besar bakteri
berpendar bersifat halofilik yang tumbuh optimal pada air laut bersalinitas 2040. Bakteri Vibrio berpendar termasuk bakteri anaerobic fakultatif, yaitu dapat hidup
baik dengan atau tanpa oksigen. Bakteri Vibrio tumbuh pada pH 4 - 9 dan tumbuh
optimal pada pH 6,5 - 8,5 atau kondisi alkali dengan pH 9,0 (Baumann et al., 1984
cit. Herawati, 1996).
Vibrio sp merupakan salah satu bakteri patogen yang tergolong dalam divisi
bakteri, klas Schizomicetes, ordo Eubacteriales, Famili Vibrionaceae. Bakteir ini bersifat
gram negatif, fakultatif anaerob, fermentatif, bentuk sel batang dengan ukuran panjang

antara 2-3 m, menghasilkan katalase dan oksidase dan bergerak dengan satu flagella
pada ujung sel (Austin, 1988).
Pencemaran limbah dalam suatu perairan mempunyai hubungan dengan jenis
dan jumlah mikroorganisme dalam perairan tersebut. Air buangan kota dan desa yang
berpenduduk padat tidak hanya meningkatkan pertumbuhan bakteri koliform akan tetapi
juga meningkatkan jumlah bakteri patogen seperti Salmonella, Shigella dan Vibrio
cholera (Shuval, 1986).
Infeksi pada luka mungkin ringan tetapi sering berlanjut dengan cepat (setelah
beberapa jam), dengan perkembangan lesi kulit bullous, selulitis, dan miositis dengan
nekrosis. Karena cepatnya kemajuan dari infeksi, maka diperlukan pengobatan
antibiotic sesuai sebelum konfirmasi dengan kultur didapat. Diagnose didapat melalui
kultur organisme pada media laboratorium standar (Jawetz, dkk. 2005).
2.1.2

Klasifikasi Vibrio

Kingdom : Eubacteria
Divisi

: Bacteri

Class

: Schizomycetes

Ordo

: Eubacteriales

family

: Vibrionaceae

Genus

: Vibrio

Spesies :
Vibro anguillarum
Vibrio almonicida
Vibrio lginolyticus
Vibrio cholera
Vibrio hollisae
Vibrio damsel
Vibrio fluvialis
Vibrio mimicus

2.1.3 Morfologi dan Identifikasi


2.1.3.1

Ciri khas organisme

Secara umum, morfologi atau struktur tubuh dari bakteri Vibrio bila diisolir dari
faeces penderita atau dari biakkan yang masih muda adalah batang bengkok seperti
koma, tetapi akan berbentuk batang lurus bila diambil atau didapat dari biakan yang
sudah tua.
Mempunyai sifat Gram negatif dengan ukuran 1 3 x 0,4 0,6 m tetapi ada
beberapa literatur yang mengatakan bahwa Vibrio berukuran panjang (1,4 5,0) m
dan lebar (0,3 1,3) m.
2.1.3.2

Biakan

Berdasarkan pengamatan visual terhadap bakteri pathogen spesies Vibrio, maka


bakteri ini dapat dibedakan berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran koloni yang
tumbuh pada media TCBS agar setelah masa inkubasi 24 - 48 jam pada suhu kamar
(30C). TCBS adalah media yang lebih dianjurkan untuk kultur tinja, dimana
sebagian besar galur menghasilkan koloni-koloni yang berwarna biru-hijau (sukrosa
negatif). (Jawetz, dkk. 2005).
Dari hasil penelitian terhadap isolat bakteri Vibrio sp, ditemukan enam spesies
bakteri patogen Vibrio sp, yaitu :
1) Vibrio parahaemolyticus
Vibrio

parahaemolyticus

adalah

bakteri

halofilik

yang

menyebabkan

gastroenteritis akut sebagai akibat makan makanan seafood yang terkontaminasi


seperti ikan mentah atau kerang. Setelah periode inkubasi selama 12 24 jam,
terjadi mual dan muntah, kram perut, demam dan diare air dan darah. Lekosit pada
tinja sering terlihat. Enteritis cenderung sembuh sendiri dalam 1-4 hari tanpa
pengobatan, selain restorasi air dan keseimbangan elektrolit. Tidak ada enterotoksin
yang diisolasi dari organisme.
Penyakit ini terjadi diseluruh dunia, dengan kejadian tertinggi pada wilayah
dimana orang gemar makan seafood mentah. Vibrio parahaemolyticus tidak dapat
tumbuh dengan baik pada media differensial yang biasa digunakan untuk
Salmonella dan Shigella, tetapi dapat tumbuh dengan baik pada agar darah. Mereka
juga dapat tumbuh pada TCBS dimana menghasilkan koloni yang berwarna hijau.

Vibrio parahaemolyticus biasanya diidentifikasi melalui pertumbuhan oksidase


positifnya pada agar darah.
2) Vibrio vulnificus
Vibrio vulnificus dapat menyebabkan infeksi luka parah, bekteremia, dan
mungkin gastroenteritis. Mereka adalah bakteri yang bebas hidup dimuara, yang
ditemukan di AS, Atlantik, Teluk dan Pantai Pasifik. Infeksi telah dilaporkan dari
Korea, dan organism tersebar diseluruh dunia. Vibrio vulnificus khususnya
ditemukan pada tiram, terutama pada bulan-bulan musim panas.
Bakteremia dengan infeksi yang tidak focus terjadi pada orang yang memakan
tiram yang terinfeksi dan orang yang gemar minum alcohol atau berpenyakit hati.
Luka bisa menjadi terinfeksi pada orang normal atau yang imunokompromistik yang
berhubungan dengan air dimana bakteri terdapat. Proses infeksi seringkali terjadi
dengan cepat, dengan perkembangan penyakit yang parah. Sekitar 50% pasien
dengan bakteremia meninggal. (Jawetz, dkk. 2005).
3) Vibrio anguillarum
Mempunyai ciri-ciri warna putihkekuning-kuningan, bulat, menonjol dan berkilau.
Karakteristik fisika-biokimia adalah pewarnaan gram negatif, dan mempunyai sifat
fermentatif, katalase, oksidase, glukosa, laktosa, sellobiosa, galaktosa dan manitol
positif. Sedangkan methyl red dan H2S negatif.
4) Vibrio alginolyticus.
Mempunyai ciri-ciri berwarna kuning, diameter 3-5 mm. Karakteristik fisikabiokimia adalah pewarnaan gram negatif, dan mempunyai sifat fermentatif, katalase,
oksidase, methyl red dan H2S glukosa, laktosa, dan manitol positif. Sedangkan
sellobiosa, fruktosa, galaktosa negatif.
5) Vibrio salmonicida
Mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: berwarna bening, diameter < 1 mm, bulat,
menonjol dan utuh. Karakteristik biokimia adalah pewarnaan gram negatif, dan
mempunyai sifat fermentatif, katalase, oksidase, glukosa positif. Sedangkan methyl
red, H2S, laktosa, galaktosa, mannitol sellobiosa, fruktosa, bersifat negatif.
6) Vibrio vulnificus.

Mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: berwarna biru sampai hijau, diameter 2-3
mm. Karakteristik biokimia adalah pewarnaan gram negatif, dan mempunyai sifat
fermentatif, katalase, oksidase, methyl red dan H2S glukosa, sellobiosa, fruktosa,
galaktosa dan manitol positif. Sedangkan, laktosa bersifat negatif.
7) Vibrio cholera
Mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : Berwarna kuning, datar, diameter 2-3 mm,
warna media

berubah

menjadi kuning. Karakteristik fisika-biokimia adalah

pewarnaan gram negatif, dan mempunyai sifat fermentatif, katalase, oksidase,


methyl red dan H2S glukosa, laktosa, galaktosa dan manitol positif. Sedangkan
sellobiosa, fruktosa, bersifat negatif.
Vibrio cholera tumbuh baik pada agar tiosulfat-sitrat-empedu-sukrosa. pH
optimumnya 7,8 8,2 (alkalis), bakteri ini cepat mati karena asam. Perbenihan
khusus untuk bakteri ini adalah perbenihan Diedonne yang mempunyai pH 8,5 9,5.
Perbenihan ini merupakan perbenihan selektif untuk bakteri ini karena dengan pH ini
bakteri lain akan mati sedangkan Vibrio cholera tidak. Pada agar darah bersifat
haemodigesti, mengeluarkan eksotoksin, dan pada media padat, kooninya bening
seperti embun.
Pada perbenihan cair, bakterinya akan lari ke permukaan yang menimbulkan
selaput pada permukaan perbenihan dan sifat ini khas untuk Vibrio cholera. Vibrio
cholera menimbulkan penyakit cholera asiatica. Masa inkubasi dari 5 jam sampai
beberapa hari.
8) Vibrio El Tor
Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Gotschlick tahun 905 di stasion Qarantina
El Tor di Semenanjung Sinai (Mesir). Sifat bakteri ini sama dengan Vibrio cholera
hanya pada agar darah bersifat haemolsis. Pada manusia menyebabkan penyakit
muntah da diare, tetapi lebih ringan dibandingkan dengan cholera asiatica dan
sering disebut paracholera (Entjang, 2003).

2.1.4. Patogenitas
Dalam keadaan alamiah, bakteri ini hanya patogen terhadap manusia, tetapi
secara eksperimen dapat juga menginfeksi hewan. Hewan laut yang telah terinfeksi
Vibrio khususnya Udang, akan mengalami kondisi tubuh lemah, berenang lambat,
nafsu makan hilang, badan mempunyai bercak merah-merah (red discoloration)
pada pleopod dan abdominal serta pada malam hari terlihat menyala. Udang yang
terkena vibriosis akan menunjukkan gejala nekrosis. Serta bagian mulut yang
kehitaman adalah kolonisasi bakteri pada esophagus dan mulut.
Vibrio tidak bersifat invasif, yaitu tidak pernah masuk kedalam sirkulasi darah
tetapi menetap di usus sehingga dapat menyebabkan gastritis pada manusia.
Masa inkubasi bakteri ini antara 6 jam sampai 5 hari. Vibrio menghasilkan
enterotoksin yang tidak tahan asam dan panas, musinase, dan eksotoksin. Toksin
diserap dipermukaan gangliosida sel epitel dan merangsang hipersekresi air dan
klorida sehingga menghambat absorpsi natrium. Akibat kehilangan banyak cairan
dan elektrolit, terjadilah kram perut, mual, muntah, dehidrasi, dan shock (turunnya
laju aliran darah secara tiba-tiba). Kematian dapat terjadi apabila korban kehilangan
cairan dan elektrolit dalam jumlah besar. Penyakit ini disebabkan karena korban
mengkonsumsi bakteri hidup, yang kemudian melekat pada usus halus dan
menghasilkan toksin. Produksi toksin oleh bakteri yang melekat ini menyebabkan
diare berair yang merupakan gejala penyakit ini.
Proses ini dapat dibuktikan dengan pemberian viseral antibodi. Bila terjadi
dehidrasi, maka diberikanlah cairan elektrolit. Immunitas pasif dapat dilakukan
dengan memberikan viseral antibodi dan viseral antitoksin yang dapat mengurangi
cairan tanpa mematikan kuman. Vibrio jenis lain juga dapat menghasilkan soluble
hemolysin yang dapat melisiskan sel darah merah.
Struktur antigen Vibrio baik yang patogen maupun nonpatogen memiliki
antigen-H tunggal yang sejenis dan tidak tahan panas. Antigen-H ini sangat
heterogen dan juga banyak terjadi overlapping dengan bakteri lain.
Gartnor dan Venkatraman membagi antigen-O Vibrio menjadi grup O1-O6.
Yang patogen bagi manusia adalah grup O1 dari Vibrio coma. Antibodi terhadap
antigen-O bersifat protektif sehingga Ogawa, Inaba, dan Hikojima membagi tiga
serotip yang mewakili tiga faktor gen yaitu A, B, dan C. Serotip Hikojima atau
serotip ketga merupakan campuran antara Ogawa dan Inaba.

D. Edwardsiella tarda
Bakteri Edwardsiella tarda merupakan salah satu jenis bakteri yang bersifat patogen pada
ikan lele. Bergeys (2014) menjelaskan klasifikasi ilmiah dari bakteri Edwardsiella tarda
sebagai berikut : Filum : Proteobacteria, Kelas : Gamma Proteobacteria, Ordo :
Enterobacteriales, Famili : Enterobacteriaceae . Genus : Edwardsiella, Spesies : Edwardsiella
tarda.
Edwardsiella tarda merupakan bakteri Gram negatif yang berbentuk batang bengkok, dengan
ukuran 1 x 2-3 m, bergerak dengan bantuan flagella, tidak membentuk spora atau kapsul dan
bersifat fakultatif anaerob. Bakteri ini dapat dijumpai di lingkungan air tawar dan air laut,
dengan suhu optimal bagi pertumbuhannya sekitar 35oC, sedangkan pada suhu di bawah
10oC atau di atas 45oC tidak dapat tumbuh (Park dkk., 2012).
Wei dkk (2008) berhasil mengidentifikasi 18 strain bakteri Edwardsiella tarda pada ikan lele
(Clarias bathracus), mas (Cyprinus carpio), sidat (Anguilla japonica), dan gurami
(Osphronemus goramy) yang dibudidayakan di malaysia. Bakteri E. tarda merupakan bakteri
penyebab penyakit edwardsiellosis. Menurut Wei dkk (2008), bahwa infeksi bakteri E.tarda
dapat membahayakan inang yang terinfeksi. Telah dilaporkan bahwa E. tarda menjadikan
hewan amfibi, reptil, ikan, sertab manusia sebagai inang defenitifnya.
Upaya terbaik dalam mengatasi permasalahan penyakit adalah melalui pencegahan,
pencegahan dapat dilakuan dengan cara selalu menjamin air yang digunakan adalah air yang
layak untuk pertumbuhan ikan lele, penggunaan pakan yang sesuai baik kualitas maupun
kuantitasnya, pemilihan induk dan benih yang unggul, dan menjalin koordinasi dengan
intitusi pemerintah yang mepunyai kompeten otoritas dalam upaya pencegahan dan
pengendalian penyakit pada ikan lele.

E. Mycobacterium sp.
Mycobacterium sp. yang dikenal sebagai penyebab penyakit
tuberkulosis ikan (Fish TB), adalah bakteri yang berbentuk batang,
dengan ukuran 0,2-0,6 x 1,0-10 m, bersifat gram positif lemah, tidak
bergerak, tidak membentuk spora atau kapsul dan bersifat aerob. Bakteri
ini banyak dijumpai di perairan tawar dan laut maupun tanah dengan
suhu optimal pertumbuhannya 25-30oC. Tidak dapat tumbuh pada suhu
37oC kecuali M. marinum, M. fortuitum dan M. chelonei.
Untuk Mycobacterium sp. cara penularannya belum diketahui dengan
pasti diduga beberapa yang mungkin adalah melalui makanan dan air
yang terkontaminasi. Cara penularan Nocardia sp. pada ikan juga belurn
jelas diketahui, sedangkan penularan Aerococcus viridansmelalui ikan
yang sakit.

Selain menyerang berbagai ikan air tawar ataupun air


laut,Mycobacterium sp. dilaporkan juga menyerang katak, jenis-jenis
kadal, ular, buaya dan kura-kura maupun penyu. Nocardia sp. dilaporkan
menyerang berbagai ikan air tawar dan air laut antara lain rainbaow
trout (Oncorhynchus mykiss), brook trout (Salvelinus fontinalis), neon
tetra, sepat (Trichogaster trichopterus), paradise fish, gurami dan yellow
tail(Seriolla quinquiradiata).
Serangan Mycobacterium sp. pada ikan menunjukkan tanda-tanda seperti
mata menonjol, pembengkakan vena, dan adanya luka pada tubuh, mama
pucat, lordosis, skeliosis, ulser atau luka dan rusaknya sirip (patah-patah).
Adanya bintil berwama putih keabu-abuan pada hati, ginjal dan empedu.
Benjolan terdapat di berbagai organ seperti insang, pericardium, mata,
empedu, ginjal dan hati.
Mycobacterium sp. penyebab tuberculosis dan Nocardia sp. penyebab
nocardiosis kemungkinan sudah terdapat di seluruh dunia, khusus
untuk Mycobacterium sudah terdapat di Indonesia (Sumatera),
sedangkan Pasteurella piscicida dilaporkan terdapat di AS, negara-negara
Eropa dan Jepang.
- Mycobacterium spp. : hanya Mycobacterium chelonei subspesies piscarium yang telah
dipelajari secara mendetail. Pada suhu air 12 C, infeksi eksperimental telah dilakukan pada
rainbow trout melalui penyuntikan secara intraperitoneal sebanyak kira-kira 10 7 sel.
Mortalitas akumulatif berkisar dari 20 % sampai 52 %. Pada juvenil chinook salmon, 98 %
mortalitas dilaporkan dalam 10 hari pada suhu air 18 C.
Mycobacterium Pada Ikan
Lansdell et al. (1993) mengamati spesies-spesies bakteri Mycobacterium pada ikan.
Beberapa spesies ikan laut yang ditangkap dari alam liar dan ikan hias air tawar digunakan
dalam studi ini. Organ-organ yabg diinfeksi (hati, limfa, dan ginjal) disampling untuk
menemukan mycobakteria. Sampel jaringan yang telah didekontaminasi diletakan pada media
selektif untuk mencari mycobakteria. Setelah isolasi awal, teknik fluoresensi dan penodaan
asam-cepat digunakan untuk mengidentifikasi bakteri sampai ke genus. Profil karakteristik
pertumbuhan biokimia dipakai untuk menidentifikasi lebih lanjut isolat tersebut sampai ke
spesies. Lima spesies Mycobacterium telah diidentifikasi : Mycobacterium simiae,
Mycobacterium scrofulaceum, Mycobacterium marinum, Mycobacterium chelonae dan
Mycobacterium fortuitum. Di antara mereka Mycobacterium simiae dan Mycobacterium
scrofulaceum belum pernah dilaporkan ditemukan pada ikan.