Anda di halaman 1dari 4

Aspek Sosial Ekonomi dan Demografi Kemaritiman

Oleh:
Wulan Ramadhani Mappatunru
(G21116534)

Program Studi Agribisnis


Fakultas Pertanian
Universitas Hasanuddin
Makassar
2016

1. Aspek Sosial Ekonomi


1.1 Aspek Sosial
Sebagai negara kepulauan yang besar dengan sumber daya alam berlimpah,
bangsa Indonesia masih belum mampu memanfaatkan potensi yang dimilikinya.
Kondisi ini terjadi karena rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di
bidang maritim. Salah satunya, Indonesia masih kekurangan tenaga pelaut.
Krisis tenaga pelaut di Tanah Air hingga kini masih menjadi masalah serius.
Jumlah lulusan pendidikan tersebut belum seimbang dengan kebutuhan di bidang
pelayaran. Di sektor angkatan laut minim tenaga pelaut. Para lulusan pelaut tingkat
perwira hampir 75 persen memilih bekerja di kapal asing atau berbendera asing
ketimbang mengabdikan diri untuk perusahaan pelayaran nasional dengan alasan
yang masuk akal yakni penghasilan yang lebih besar.
Rendahnya SDM bangsa ini terjadi karena fokus pmbangunan pemerintah masih
berkiblat pada sektor darat atau agraris. Pemerintah tidak berupaya mengubah arah
pembangunan sesuai dengan kondisi geografis yang dimiliki bangsa ini.
Berpijak pada sejarah bangsa Indonesia yang pernah berjaya di masa kerajaan
Sriwijaya dan Majapahit menggambarkan bahwa masyarakat ini maju sebagai negara
maritim, bukan negara agraris. Selama ini kebudayaan Indonesia di konsep dengan
format kebudayaan agraris, yang cenderung terpaku pada alam, kekuatan adikodrati,
feodalistik, yang membagi masyarakat pada sastra-sastra kekuasaan.
Jadi, sangat disayangkan apabila pemerintah bangsa Indonesia hanya terpaku pada
pembangunan dibidang agraris saja. Padahal, seperti yang kita ketahui bahwa
pendapatan terbesar Negara ini bias kita dapat dari perairan kita karena luas lautan di
Indonesia lebih besar disbanding luas daratannya, jadi sangat dissayangkan apabila
pemerintah tidak memanfaatkannya dengan sangat baik. Namun, juga sangat lebih
baik lagi apabila pemerintah menjadikan focus pembangunan Negara pada bidang
kemaritiman dan bidang agraris, sehingga pendapatan Negara dapat meningkat
karna secara tidak langsung, apabila Negara kita ini menjadi Negara swasembada
dibidang kemaritiman dan agraris, maka otomatis jumlah ekspor kita akan meningkat
pula.

1.2 Aspek Ekonomi


Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia belum mampu
memberdayakan potensi ekonomi maritim. Negeri ini juga belum mampu
mentransformasikan sumber kekayaan laut menjadi sumber kemajuan dan
kemakmuran rakyat Indonesia. Indonesia bagaikan negara raksasa yang masih tidur
Industri maritime di Indonesia masih dikuasai oleh Negara asing. Disinilah
seharusnya ada peran pemerintah dalam merebutnya kembali dan mengelolahnya
dengan cara kita sendiri, dan oleh perusahaan Indonesia sendiri, dan bukan dikuasai
oleh perusahaan dari Negara Negara lain.
Jadi, disini kita dapat menarik pertanyaan Apa yang sebenarnya menjadi
penghambatnya? seperti yang telah saya bahas sebelumnya. Apa yang menjadi
penghambat utamanya disini adalah pemerintah itu sendiri. Pemerintah yang belum
mampu menjadikan bagian lautan Indonesia sebagai fokus utamanya. Seandainya
saja pemerintah mampu memanfaatkannya dengan sangat baik. Bisa saja nusantara
kita ini dapat mendapatkan pendapat yang lumayan meningkat.

2. Demografi Kemaritiman
Konsep penduduk bahari dalam konteks sosial buadaya bahari mengacu kepada
orang orang yang penghidupan sosial ekonominya bersumber secara lansung atau
tidak lansung dari pemanfaatan sumberdaya laut dan jasa jasa laut, baik komunitas
pesisir dna pulau pulau, maupun mereka yang berasal dari kawasan pemukiman
perkotaan dan pedalaman.
Kategori penduduk maritim bangsa kita terbagi atas 3, yaitu;
penduduk nelayan, menurut asal usul tempat pemukiman, penduduk
nelayan di Indonesia dapat atas penduduk pesisir dan pulau-pulau dan
penduduk nelayan yang berasal dari kelurga-keluarga yang tinggal secara
terpisah-pisah di kawasan permukiman kota, pinggiran kota,dan daerahdaerah pedalaman.

pelayar/penusaha transportasi laut, pelayar yang mencakup pengusaha dan


pekerja transportasi laut merupakan kategori penduduk pemangku budaya
bahari tulen.
pengguna sumber daya dan jasa-jasa laut yang lain, termasuk dalam
kategori penduduk pengguna sumber daya dan jasa-jasa laut bselain
nelayan dan pelayar ialah para pedagang hasil-hasil laut,rentenir,pekerja
di pasar atau pelelangan ikan.
Skema sederhana mengenai mobilitas penduduk maritim Indonesia, yaitu pada
dasarnya para nelayan bermobilitas (migrasi atau pengembaraan) karena para
nelayan-nelayan selalu mencari lokasi-lokasi yang sumber dayanya melimpah dan
yang mengandung sepsis-spesies yang laris di pasar ekspor serta mencari tempat
dimana terdapat pasar atau pelanggan ikan sebagai tempat penjualan tangkapan dan
pembelian perlengkapan dan pembekalan. Ciri mobilitas georafi penduduk nelayan
yang tinggi terkondisikan dengan lingkkungan laut yang luas yang pada umumnya
dicirikan dengan pemanfaatan secara terbuka.