Anda di halaman 1dari 1

Yayasan Spiritia

Lembaran Informasi 671

TES LABORATORIUM HEPATITIS C


Beberapa tes laboratorium (darah)
dipakai terkait hepatitis C (HCV). Tes ini
termasuk tes fungsi hati, viral load HCV,
tes genotipe, tes genetik IL28B, dan tes
pembekuan darah.

Tes Fungsi Hati


Tes laboratorium yang disebut tes fungsi
hati tidak mengukur bagaimana hati
berfungsi. Sebaliknya, tes tersebut mengukur tingkat enzim yang ditemukan di
jantung, hati, dan otot. Enzim adalah
protein yang terkait dengan reaksi kimia
dalam organisme hidup. Lihat Lembaran
Informasi (LI) 135 untuk informasi lebih
lanjut mengenai tes fungsi hati.
Tingkat enzim yang tinggi dapat menunjukkan kerusakan pada hati yang disebabkan oleh obat, asupan alkohol yang berat,
hepatitis virus, asap beracun atau penggunaan narkoba. Hasil tes enzim hati dapat
sulit ditafsirkan. Orang dengan kerusakan
hati yang berat kadang kala memiliki
tingkat enzim hati yang normal.
Pola yang berbeda dari enzim ini ketika
ada yang tinggi dan yang lain tetap normal
adalah bagian dari informasi yang
dipakai oleh dokter memakai untuk
memantau kesehatan hati.
Tes fungsi hati termasuk:
y Albumin adalah protein yang paling
umum dalam darah. Hal ini penting
untuk pengalihan cairan tubuh secara
benar. Albumin membantu memindahkan molekul kecil di seluruh tubuh.
Karena albumin dibuat oleh hati, penurunannya mungkin merupakan tanda
penyakit hati, penyakit ginjal, atau gizi
buruk.
y ALT (alanine aminotransferase, dulu
dikenal sebagai SGPT) dipakai bersamaan dengan AST untuk memantau kesehatan hati. Kadang kala ALT dipakai
untuk melihat apakah pengobatan berhasil memperbaiki fungsi hati.
y AST (aspartate aminotransferase, dulu
dikenal sebagai SGOT) biasanya dipakai dengan ALT untuk memantau kesehatan hati. Namun tes ini tidak secara
khusus menunjukkan fungsi hati, dan
tidak benar-benar dibutuhkan.
y Bilirubin adalah cairan berwarna kuning
yang dihasilkan ketika sel darah merah
menjadi rusak. Tingkat bilirubin yang
tinggi dapat menyebabkan ikterus
(penyakit kuning), yang menyebabkan
bagian putih mata dan kadang kala kulit
menjadi berwarna kuning. Tingginya
tingkat bilirubin dapat menandakan
penyakit hati, tapi mungkin juga tidak
penting jika disebabkan oleh obat

antiretroviral (ARV) indinavir atau


atazanavir.
y Fosfatase alkalin. Sel hati yang rusak
mengeluarkan jumlah fosfatase alkali
yang meningkat ke aliran darah. Tingkat
yang tinggi juga bisa menandakan
penyakit tulang.
y Feritin adalah protein yang mengikat
pada zat besi. Tingkat feritin atau zat besi
dalam darah yang tinggi dapat menandai
pengumpulan zat besi (hemokromatosis)
atau penyakit hati lain.
y GGT (gamma glutamil transpeptidase).
Hasil tes ini dapat menunjukkan apakah
hasil tes abnormal yang lain disebabkan
oleh masalah hati atau masalah tulang.
Bila AST dan ALT tidak meningkat, tes
GGT mungkin dilakukan untuk membantu menentukan apakah sumber
fosfatase alkali tinggi adalah kelainan
tulang atau penyakit hati. Tingkat GGT
meningkat dengan konsumsi alkohol
yang berat.
y LDH (laktik dehidrogenase) adalah
enzim ditemukan dalam banyak jaringan tubuh. Peningkatan tingkat LDH
biasanya menunjukkan beberapa jenis
kerusakan jaringan. Tes ALT, AST, dan
fosfatase alkali membantu menentukan
organ yang mana terlibat.

Tes Viral Load


Tes viral load HCV menghitung berapa
banyak bibit virus hepatitis C (HCV)
dalam darah. Tes ini mirip dengan tes viral
load HIV (lihat LI 125) tetapi ada beberapa perbedaan penting:
y Viral load HCV diukur dalam satuan
internasional per mililiter (IU/mL). Satu
IU adalah sekitar tiga tiruan (copy) HCV.
y Viral load HCV jauh lebih tinggi dibandingkan viral load HIV. Viral load HCV
dapat mencapai beberapa juta IU. Viral
load HCV di bawah 400.000 sampai
600.000 IU dianggap rendah.
y Viral load HIV dipakai untuk meramalkan perkembangan penyakit. Namun, hal
ini tidak dibenarkan untuk viral load
HCV. Viral load HCV yang tinggi tidak
menunjukkan bahwa penyakit berkembang lebih cepat. Namun, viral load HCV
dapat meramalkan tanggapan terhadap
pengobatan HCV: semakin rendah viral
load, semakin mungkin pengobatan HCV
akan berhasil.
y Viral load dipakai untuk menentukan
apakah pengobatan HCV berhasil, dan
seberapa cepat viral load menjadi tidak
terdeteksi. Bila viral load menjadi tidak
terdeteksi selama pengobatan HCV dan
tetap begitu selama enam bulan setelah

pengobatan selesai, hal ini disebut


sebagai sustained virologic response atau
SVR. Bila kita mencapai SVR, umumnya hasil ini tetap dialami selama sepuluh
tahun atau lebih, dan dianggap penyembuhan.

Tes Genotipe HCV


Ada lebih dari enam tipe HCV, yang
diidentifikasi oleh nomor. Ada juga
subtipe, yang diidentifikasi oleh huruf.
Contohnya, ada genotipe 1a dan 1b.
Genotipe HCV ditentukan dengan menganalisis contoh darah untuk mengetahui
kode genetik virus. Tipe HCV yang paling
umum di Amerika Utara adalah genotipe
1, jauh lebih lazim daripada genotipe 2 dan
3. Tampaknya keadaan genotipe juga mirip
di Indonesia.
Genotipe dan subtipe HCV memberikan
informasi yang penting pada dokter untuk
memilih pengobatan. Misalnya, genotipe
2 dan 3 paling mudah diobati dengan
interferon.

Tes Genetik IL28B


Para peneliti baru-baru ini menemukan
hubungan antara kode genetik pasien dan
tanggapannya terhadap pengobatan yang
baku. Kode genetik dari sekelompok besar
pasien dengan HCV genotipe 1 dianalisis.
Pasien dengan jenis gen IL28B yang
tertentu lebih dari dua kali lebih mungkin
menanggapi pengobatan HCV baku dengan interferon dan ribavirin secara baik.
Tes IL28B mungkin akan menjadi alat
penting untuk memandu pengobatan HCV.

Tes Pembekuan Darah


Beberapa tes mungkin akan dipakai jika
kita akan melakukan biopsi hati (lihat
LI 672.) Dengan biopsi, ada risiko perdarahan. Tes pembekuan darah mengukur
seberapa cepat darah membentuk pembekuan, yang menghentikan perdarahan.
Nilai abnormal pada tes ini mungkin
menandakan penyakit hati lanjut.
y PT/INR (Prothrombin Time dan International Normalized Ratio) adalah tes
pembekuan darah yang paling umum.
Contoh kecil darah dites di laboratorium
untuk menentukan dibutuhkan berapa
lama untuk membentuk pembekuan.
y Hitung Trombosit (Platelet Count)
menunjukkan jumlah trombosit dalam
darah. Orang dengan penyakit hati lanjut
mungkin memiliki lebih sedikit trombosit
dan mungkin lebih cenderung berdarah
setelah biopsi hati.

Ditinjau 8 Mei 2014 berdasarkan FS 671 The AIDS


InfoNet 24 Februari 2014

Diterbitkan oleh Yayasan Spiritia, Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Jakarta 10560. Tel: (021) 422-5163/8 E-mail: info@spiritia.or.id Situs web: http://spiritia.or.id/
Semua informasi ini sekadar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sebelum melaksanakan suatu pengobatan sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.

Seri Lembaran Informasi ini berdasarkan terbitan The AIDS InfoNet. Lihat http:// www.aidsinfonet.org