Anda di halaman 1dari 33

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN SOSIAL

Oleh
H. Mahsyar Idris,
Hj. Nurhayati Ali
Saiful Amir
(Universitas Muhammadiyah Parepare)
A. Nilai-nilai dan Ajaran Sosial Kemanusiaan dalam Persefektif
Muhammadiyah (Teologi al-Maun)
1. Nilai Kemanusiaan
Dalam salah satu tulisan Munir Mulkan mengatakan, Visi
kemanusiaan agama-agama intinya adalah
Johannes Paulus II dan

cinta kasih.

Paus

Benediktus XVI adalah toko agama yang

dikenal sangat gigih memperjuangkan nilai kemanusiaan. Tulisan


Munir Mulkan tersebut

sesungguhnya menegaskan bahwa KH.

Ahmad Dahlan tidak ketinggalan jika dibanding dengan Paus


Johannes Paulus II dan
tampaknya

menjadi

tokoh

Benediktus XVI. KH. Ahmad Dahlan


pencari

identitas

kebenaran

etos

kemanusiaan global. Berangkat dari gagasan mulia itu maka lahirlah


berbagai rumah sakit, rumah bersalin, sekolah mulai dari taman
kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Dari diploma sampai S.3, panti
asuhan yatim piatu, rumah miskin dan kepanduan.1 (Munir Mulkan,
Pesan dan Kisah: 2010,h.43).
Selanjutnya Munir Mulkan mengutip hasil penelitian Alfian
dan Nakamura berkesimpulan bahwa paham keislaman Kiai Ahmad
Dahlan adalah mengedepankan penafsiran pragmatis yang oleh
Nakamura disebut sebagai bermuka dua (Munir Mulkan 2010, h.80)
Lebih lanjut dijelaskan bahwa amalan lahiriah adalah bekas dan hasil
dari daya ruh agama itu sendiri. Agama mengandung ajaran yang
dapat menjadi dasar pembentukan nilai-niali sosial dan prilaku soaial.

1 Munir Mulkan

Menurut Muhammadiyah gerakan sosial termasuk dalam urusan


muamalah al-duniawiyah.
Manusia mempunyai nilai universal tanpa dibatasi oleh
keyakinan, wilayah, etnis dan jenis kelamin. Nilai itu adalah nilai
kemuliaan yang disandang oleh setiap anak cucu Adam. Di dalam alQuran surah al-Isra :/17: 70


Terjemahnya
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami
angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki
dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan
yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami
ciptakan.
Secara kultual, kemuliaan dapat diperoleh melalui banyak
cara, diantaranya: manusia dapat dianggap mulia karena ilmunya,
itulah sebabnya orang berilmu biasa disebut al-mukarram. Manusia
dapat dianggap mulia karena hartanya, itulah sebabnya orang kaya
biasanya

dihormati.

jabatannya,

itulah

Manusia
sebabnya

dapat
pejabat

dianggap
biasa

mulia

dihormati.

karena
Tetapi

kemuliaan tersebut bukanlah kemuliaan yang dimaksudkan di dalam


al-Quran. Kemuliaan tersebut dapat membawa nilai apabila diikuti
dengan sifat lain misalnya: Ilmuwan mempunyai nilai apabila ia
mengajarkan dan mengamalkan ilmunya. Orang kaya dapat dianggap
mempunyai nilai apabila ia menjadi dermawan. Pejabat dapat
dinggap mempunyai nilai apabila ia menjalankan kepemimpinannya
dengan adil.

Secara subtansial, kemuliaan manusia itu melekat pada


fitrah, itulah sebabnya pada ayat lain dalam al-Quran disebutkan
bahwa












Terjemahnya
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(QS.al-Hujurat /49: 13)
Bentuk kemuliaan itu direspon dalam al-Quran dengan janji
antara lain: mudkhalan kariman /dimasukkan ketempat yang mulia
atau Syurga

(QS an-Nisa /4:31), maghfirah wa rizkun karim

memperoleh maghfirah dan nikmat yang mulia (QS al-Anfal /8:4)


maqaam karim/tempat yang mulia (QS asy-Syuara/26:58)
Potensi untuk meraih kemuliaan itu disebut sebagai
sebaik baik makhluk. Makhluk yang diberi potensi tersebut adalah
manusia. Inilah yang disinggung dalam QS al-Thin/95:4














Terjemahnya
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk
yang sebaik-baiknya.
Kemuliaan seseorang dapat dilihat dari 5 aspek yakni:
1. Hubungan dirinya dengan Tuhan
Hubungan manusia dengan Tuhan diatur dalam aspek aqidah
dan ibadah. Aqidah adalah inti kehidupan beragama. Jantun Islam
adalah penyaksian keesaan Tuhan, kemutlakan untuk tunduk pada
kehendak Tuhan. Dua kalimat syahadat adalah suatu pernyataan
pokok yang mengandung makna pembebasan diri dari bebagai
bentuk

ikatan

kecuali

ikatan

terhadap

Allah

swt.

Pernyataan

kehambaan, bawha tidak ada tempat menghambakan diri kecuali


hanya menghabakan diri kepada Allah swt.
Iman adalah percaya dengan penuh tanggungjawab, kepercayaan
terhadap Tuhan merupakan masalah personal, ia ada dalam hati.
Orang bebas menentukan keyakinan dan kepercayaannya. Nabi
Muhammad

bukan

dalam

kapasitas

memaksakan

keimanan

sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:


- QS al-Ghasyiah/88:22

Terjemahnya
Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,
-QS Yusuf/10:99







Terjemahnya
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua
orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu
(hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orangorang yang beriman semuanya?

2. Hubungan dirinya dengan alam


Tujuan utama diciptakan manusia adalah untuk menjadi
khalifah

yang

bertugas

mengelolah,

merawat,

menjaga,

memakmurkan dan memelihara kelestarian alam semesta dalam


pengertain yang seluas-luasnya. Tugas tersebut disebutkan dalam
QS. Al-Baqarah/2:

Terjemahnya
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di
muka bumi".

Keseimbangan dan keramahan lingkungan terhadap manusia


tergantung pada bagaimana manusia memperlakukan alam semesta.

Al-Quran menyatakan dengan tegas tentang bahaya dari ketidak


ramahan manusia terhadap lingungan. QS ar-Rum/ 30:41















Terjemahnya
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar).

3. Hubungan dirinya dengan masyarakat


Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, sebagai
makhluk yang cenderung hidup bermasyarakat, hidup bersama,
hidup

berkelompok-kelompok,

hidup

berbangsa-bangsa.

Islam

menekankan pada pentingnya menjaga akhlak dalam kehidupan


bermasyarakat,

misalnya:

menghormati

tetangga,

menhormati

sejawat, sebagaimana disebutkan misalnya:


-QS. al-Nisa/4:36






Terjemahnya
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibubapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat,
ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong dan membanggabanggakan diri,
-QS. Luqman /31:18-19

















.


5







Terjemahnya
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia
(karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi
dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah
suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara
keledai.
Dua ayat tersebut di atas masing-masing menjelaskan
secara eksplisit bahwa sifat sombong adalah sifat yang dicelah,
dikecam dalam al-Quran. Sombong merupakan ungkapan yang
menjadi simbol dari sikap individuaisme, sikap menang sendiri, sikap
merendahkan orang lain. Merendahkan orang termasuk salah satu
penyakit masyarakat.
4. Hubungan dirinya dengan keluarganya
Dalam melaksanakan hubungan dengan keluarga, prinsip yang
harus dijaga adalah: Prinsip saling menghormati, prinsip taawun
(tolong

menolong),

prinsip

saling

menasihati

dan

prinsip

musyawarah.
5. Hubungan dengan dirinya sendiri
Menjaga diri dari hal-hal yang bisa merusak harkat dan
martabat atau bisa mengurangi derajat kemuliaan. Sebaliknya harus
memelihara diri dari sifat-sifat yang wajib dimiliki seperti: ihlas,
sabar, jujur, istiqamah.

Perlakuan terhadap diri sendiri menjadi

acuan untuk memperlakukan orang lain. Perlakuan orang lain kepada


diri, merupakan refleksi dari perlakuan diri terhadap orang lain.
2.Ajaran sosial kemanusiaan
Islam menetapkan dua pola hubungan yang permanent
dalam kehidupan beragama yakni: hubungan terhadap Allah SWT

yang lazim disebut hablun minallah dan hubungan terhadap sesama


manusia atau lazim disebut hablun minannas. Hubungan dengan
Allah dalam bentuk ibadah dibahas dalam ilmu fiqih, sedangkan
hubungan dengan sesama manusia dibahas dalam ilmu akhlak. Baik
yang berhubungan dengan ibadah maupun yang berhubungan
dengan akhlak apabila disebutkan secara jelas dan tegas di dalam alQuran atau al-hadis maka itu disebut ajaran. Jadi ajaran Islam adalah
ajaran yang terdapat di dalam al-Quran atau al-hadis.
Ajaran sosial kemanusiaan dipopulerkan dengan istilah teologi
al-Maun yang mengandung empat nilai yakni:
1.Nilai religi atau nilai iman
Iman adalah sesuatu yang menjadi ruh semangat
keberagamaan, sesuatu yang menjadi sumber dan sekaligus motivasi
atau

penggerak

amaliah.

Iman

bukanlah

barang

melainkan ia aktif. Iman bukan sesuatu yang absolut

yang

pasif

tidak dapat

diamati, tidak dapat diukur melainkan iman dapat diamati dapat


diukur dapat terlihat dalam interaksi sosial.
Di dalam al-Quran banyak disinggung tentang iman dan amal
sosial, keduanya harus aktif secara bersamaan. Iman disejajarkan
dengan memberikan harta yang dicintai sebagaimana dijelaskan
dalam QS.al-Baqarah/2:177


Terjemahnya
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu
suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah
beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitabkitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada
kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang
memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang memintaminta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat,
dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya
apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orangorang yang bertakwa.
Ayat tersebut di atas menyebutkan ada 7 syarat perbuatan
yang disejajarkan nilainya dan menjadi syarat taqwa, yakni:
1). Beriman
2). Memberikan harta yang dicintainya
3). Memerdekakan hamba sahaya,
4). Mendirikan shalat,
5). Menunaikan zakat;
6). Menepati janji
7). Sabar
Tujuh item dari pesan ayat di atas dapat di identifikasi
kepada 2 bagian. Bagian pertama yang terkait dengan hubungan
dengan Tuhan, poin yang termasuk kategori ini adalah: nomor 1 dan
4; kategori ke dua adalah menyangkut hubungan dengan sesama
manusia, yang termasuk kategori ini adalah nomor, 2,3,5,6 dan 7. Hal
ini berarti tanda-tanda taqwa lebih banyak berdimensi kemanusiaan.
2.Nilai belas kasih atau nilai al-rahmah

Nilai al- rahmah atau cinta kasih atau belas kasihan


merupakan ajaran dasar yang sangat prinsip. Berbagai sifat yang
berlawanan dengan sifat al-rahmah misalnya: pemarah, sombong,
dengki, dendam itu dikecam dalam al-Quran. Dalam hadis nabi
disebutkan bahwa cinta kasih merupakan indikator iman seseorang
sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari Anas bin Malik,





Artinya,
Dari Anas Ibn Malik ra, dari nabi saw. Bersabda, tidak beriman
seseorang di antara kamu sebelum ia mencintai saudaranya atau
tetangganya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (hadis
riwayat Muslim juz 1 h.49).
Rahmah adalah bagian dalam atau bagian dari aspek
kejiwaan (psikologi) yang menjadi dasar dari perasaan setiap orang.
Perasaan tersebut menjadi identitas diri kemanusiaan. Apabila
perasaan tersebut hilang maka identitas kemanusiaan juga dapat
dikatakan telah hilang. Istilah yang lebih eksterim adalah perasaan
telah mati. Inilah yang dimaksud jiwa yang meninggal sementara
jasad masih hidup. Untuk memahami makna al-rahmah, berikut
sebuah riwayat yang menceritrakan bahwa, suatu ketika nabi
menggendong

seorang

anak

yang

sedang

menghadapi

sakaratulmaut, nafasnya tersenggal-senggal, menyaksikan situasi


tersebut

air mata nabi saw. Menetes membasahi pipinya. Sahabat

yag hadir pada waktu termasuk Thalhah merasa heran dan bertanya
ada apa gerangan ya rasulullah, Beliau menunjuk kepada air mata
yang ada di pipinya sambil menjawab, hadzihi al-rahmah (ini
adalah rahmah). Jadi orang menangis mengeluarkan air mata karena

kesedihan atau perasaan belas kasihan itulah yang disebut alrahmah.


Dalam riwayat lain disebutkan bahwa suatu ketika nabi saw
diminta untuk mendoakan orang musyrik agar dilaknat oleh Allah
swt. Lalu nabi menjawab sebagaimana disebutkan dalam hadis dari
Abi Hurairah,









Artinya,
Dari Abi Hurairah, berkata, ya rasulallah doakan orang musyrik supaya dilaknat,
lalu nabi menjawab, saya diutus bukan untuk melaknat melainkan sebagai
rahmat (Hadis riwayat Muslim juz 8,h.24)
Menurut M.Amin Rais doktrin Muhammadiyah ada empat
yakni: Pertama, doktrim pencerahan ummat, itulah sebabnya amal
usaha yang pertama dirintis oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah adalah
mendirikan sekolah. Kedua, doktrin amal shalih, Dalam Anggaran
Rumah Tangga Muhammadiyah telah ditetapkan bahwa syarat
berdirinya suatu ranting adalah diwajibkan memiliki amal usaha
minimal mendirikan taman kanak-kanak. Ketiga,doktrin kerjasama
untuk kebajikan doktrin ini berlandaskan pada QS.al-Maidah/5:2.
Keempat,

doktrin

tidak

berpolitik.(M.Amin

Rais

Visi

dan

Misi

Muhammadiyah:1998, h.44-48)
3.Nilai Syukur
Syukur adalah bentuk pernyataan terima kasih atas nikmat yang
telah diperoleh. Tuhan akan memberi balasan kepada hambanya
yang suka bersyukur (QS al-Qamar/54:35). Bentuk syukur yang

10

diimplementasikan Muhammadiyah dalam mengatasi amal shaleh


adalah bekerja keras dan bekerja secara sungguh-sunggguh dalam
mengelola lembaga pendidikan. Pintu untuk meraih kebahagiaan
adalah kerja keras (syukur), Tuhan tidak akan membiarkan hambanya
dalam keadaan termarginal, dalam keadaan tertinggal untuk keluar
dari kesulitan apabila hamba beriman dan bekerja keras (bersyukur).
(QS. an-Nisa/4:147). Lebih tegas dinyatakan bahwa Allah pasti
membalas orang-orang yang bekerja keras (syukur) sebagaimana
disebutkan dalam (QS Ibrahim/14:7)

Terjemahnya
Dan
(ingatlah
juga),
tatkala
Tuhanmu
mema`lumkan:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan
menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Pada

ayat

diperantonikan,

tersebut
yakni

di

atas

term

terdapat

dua

term

syukur/syakartum

yang
dengan

kufr/kafartum Syukur adalah simbol dari orang yang tahu berterima


kasih kepada Tuhan, sedangkan kufr adalah simbol dari orang yang
tidak tahu berterima kasih. Salah satu perwujudan syukur adalah
bekerja

keras.

Jadi

bekerja

keras

untuk

mengatasi

masalah

kemiskinan atau bekerja keras untuk mengurusi anak yatim adalah


sikap dan perilaku orang yang tahu bersyukur.
4.Nilai tolong menolong
Tolong menolong merupakan prinsip ajaran Islam dalam
kehidupaan bermasyarakat. Tolong menolong disebutkan dalam
QS.al-Maidah/5:2

Terjemahnya

11

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan


dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa
dan pelanggaran. Dan bertakwalah
kamu kepada Allah,
sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
Muhammadiyah
bermasyarakat.

di

menganut doktrin bahwa: hidup harus

dalamnya

terkadung

pengertian

adanya

kerjasama, salin menghargai, saling mengakui. Ide atau cita-cita


sosial Muhammadiyah berkisar pada: ukhuwah, hurriyah, musawah,
dan adalah (persaudaraan, kemerdekaan, persamaan dan keadilan)
(M.Amin Rais:h.17).

Hidup bermuhammadiyah berarti hidup harus

memperbanyak kawan, hal ini mengandung pengertian memelihara


kesetia kawanan. Hidup bermuhammadiyah berarti hidup ini harus
menghargai orang lain, menghargai organisasi lain, menghargai
agama lain.
B. Gerakan Peduli Pada Fakir Miskin dan Anak yatim
Fakir dalam kamus bahasa Indonesia diartikan, orang yang
sangat berkekurangan. Miskin diartikan sebagai tidak berharta
benda, serba kekurangan (berpenghasilan rendah). Dalam bahasa
Arab kata miskin berakar dari kata, sa-ka-na yang berarti diam atau
tenang. Kenapa orang miskin disebut miskin karena dia lebih banyak
diam. Seperti halnya, kenapa keluarga yang bahagia disebut keuarga
sakinah, karena keduanya merasa tenteram atau tenang (diam)
terhadap pasangannya dengan demikian keduanya tidak kemanamana. Tentang kriteria kemiskinan tidak dijelaskan di dalam al-Quran
maupun al-hadis. Itulah sebabnya ulama berbeda pendapat tentang
pengertain fakir dan miskin.
Al-Quran memuji kecukupan bahkan al-Quran menganjurkan
untuk

memperoleh

kelebihan

(Quraisy

Syihab:451)

Ayat

yang

dijadikan rujukan adalah:


-QS. Al-Jumah/62:10

12



Terjemahnya
Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah
kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah
Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
-QS. Al-Dhuha/93: 8

Terjemahnya
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu
Dia memberikan kecukupan
-QS. Al-Baqarah/2:198





Terjemahnya
Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil
perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak
dari `Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan
berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang
ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum
itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.
Kedua

ayat

tersebut

di

atas

memberi

kesan

bahwa

berkecukupan adaah sesuatu yang mulia dan karenanya harus


bekerja keras untuk meraih kecukupan tersebut. Yang dilarang dan
dicelah ialah rakus atau berkecukupa lalu kikir.
Muhammadiyah memahami bahwa tujuan yang ingin dicapai
diturunkannya agama di muka bumi ini adalah untuk mengatur dan

13

menyelamatkan manusia, membimbing manusia

ke arah

tujuan

yang luhur, mencerahkan dari kehidupan, membebaskan manusia


dari segala bentuk perbudakan. Tidak ada penghambaan kecuali
hanya menghambakan diri kepada Allas swt.

Dalam konteks

kehidupan sekarang manusia mendesak untuk dibebaskan paling


tidak dari tiga bentuk cenkeraman yakni: membebaskan dari
kemiskinan, membebaskan dari kebodohan, dan membebaskan dari
keterbelakangan.
Salah satu problem nasional atau problam umat Islam saat
ini

adalah

mengenai

pengentasan

kemiskinan.

Kemiskinan

merupakan ketidak mampuan seseorang, atau ketidak mampuan


satu keluarga, atau ketidak mampuan satu kelompok masyarakat
untuk memenuhi kebutuhan dasarnya berupa kebutuhan
atau

kebutuhan pada

pendidikan

dasar

dan

pangan,

menengah, atau

kebutuhan pada pemenuhan kesehatan. Ketidakmampuan dalam


memenuhi kebutuhan dasar inilah yang biasa disebut dengan
kemiskinan absolute.
Gerakan peduli fakir miskin yang diserukan oleh nabi
Muhammad saw sebagaimana disinggung dalam al-Quran. Tidak
hanya memuat perintah untuk menyantuni fakir miskin tetapi alQuran juga merekonstruksi prilaku masyarakat Quraisy. Tidak jarang
al-Quran mengecam berbagai bentuk sikap mereka terkait dengan
harta, terkait dengan anak yatim, dan fakir miskin. Kecaman tersebut
dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Peringatan terhadap orang suka menghimpun harta ,suka
bermewah-mewah atau serakah (QS.al-Takatsur /102:1-2).




.




Terjemahnya

14

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu


masuk ke dalam kubur.
2. Mencintai harta secara berlebihan (QS. al-Fajar /89: 17-20)

Terjemahnya
.dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang
berlebihan.

3.

Menghardik anak yatim, tidak memberi makan

orang miskin (.QS. al-Fajar /89: 17-20)









.


.
.


Terjemahnya
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak
memuliakan anak yatim,dan kamu tidak saling mengajak
memberi makan orang miskin,dan kamu memakan harta
pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang
bathil)
QS. al-Maun / 107:1-6



.
.













.
.









Terjemahnya
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang
yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi
makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang

15

shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,


orang yang berbuat riya.

orang-

Dalam tafsir Bahr al-Ulum disebutkan bahwa pengertain


yukadzdzibu biddin adalah orang-orang kafir, hai Muhammad inilah
orang-orang kafir.(Tafsir Bahr al-Ulum: juz 3:h. 600). Jadi orang yang
menghardik

anak

diperantonimkan

yatim

dengan

adalah
orang

symbol

orang

dari

yang

orang

menghargai

kafir
dan

mengasihi anak yatim sebagai orang yang beriman. Ayat ini


berbicara secara simbolis antara orang beriman dan orang kafir.
Surat sebelumnya yakni QS al-Quraisy menegaskan bahwa,
Tuhanlah yang memberi makan dan minum kepada kamu hai
manusia, baik yang kaya maupun yang miskin. Lalu pada surah
sesudahnya yakni surah al-Kautsar menyebutkan ,sesungguhnya
Tuhanlah yang memberi nikmat kepada kamu, maka berkorbanlah
dengan harta yang kamu miliki.
Terdapat riwayat yang menceriterakan bahwa pembesar suku
Quraisy setiap minggu menyembelih seekor unta, namun ketika anak
yatim datang meminta sedikit daging unta yang disembelih itu,
mereka tidak memberi daging bahkan mereka
mengusir

anak

yatim

tersebut.

Realitas

menghardik dan

sosial

inilah

yang

menghidupkan spirit al-maun dan memperkenalkan ide sentral tauhid


dan kemanusiaan serta keadilan sosial ekonomi. Spirit al-Maun itulah
yang menggerakkan Muhammad saw dalam melakukan transformasi
sosio moral ekonomi masyarakat Arab. (Fazlur Rahman, Islam
terj.Ashim Mohammad Bandung: Pustaka, 2003), h. 3
Sebaliknya al-Quran memuji dan mensejajarkan antara ibadah
shalat dengan menginfaqkan sebahagian harta (QS. al-Maarij 70/ 1925)





.










16

Terjemahnya
yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang
yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang
(miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apaapa (yang tidak mau meminta)
Ayat di atas memperantonimkan orang kikir, keluh kesah,
dengan orang shalat sekaligus dermawan, menyisihkan sebagian
hartanya untuk kepentingan orang yang membutuhkan. Dua macam
sifat yang diperantonimkan tersebut merupakan dua kutub yang
saling behadapan dan senantiasa hadir pada setiap komunitas
sepanjang waktu.
Sikap dan prilaku memuliakan anak yatim dan sikap memberi
makan orang miskin digambarkan sebagai suatu perbuatan yang
amat susah bagi orang-orang Quraisy sehingga ayat menyebut
sebagai jalan yang mendaki. Apa yang dimaksud jalan mendaki
dalam (QS al-Balad /90:11-16.) Jalan ini cenderung dihindari oleh
manusia

justeru

dikecam

oleh

al-Quran.

Jalan

yang

mendaki

adalah:membebaskan perbudakan, memberi bantuan kepada anak


yatim dan orang miskin yang hidup dalam penderitaan dan
kesengsaraan. Dalam keadaan situasi seperti di atas yakni: rakus,
cinta harta berlebihan, pada saat yang mereka

tidak lagi memiliki

sikap kepedulian, suka menghardik, suka mencaci, membiarkan anak


yatim dan orang fakir miskin terlantar, dalam kondisi seperti itulah
QS.al-Maun diturunkan.
Kemiskinan merupakan masalah kemanusiaan yang
implikasi problem yang ditimbulkan melibatkan berbagai aspek:
terkait

masalah

keamanan,

terait

masalah

pendidikan,

terkait

masalah politik, terkait masalah kesehatan. Salah satu bentuk nyata


dari problem kemiskinan adalah terjadinya pengangguran, terjadinya
busun lapar, gizi kurang, kriminalitas, bahkan sampai pada bunuh
diri.

17

C. Bentuk dan Model Gerakan Sosial Kemanusiaan


Muhammadiyah
Kiai Ahmad

Dahlan

menerjemahkan teks teks al-Quran

kedalam kegiatan praksis sosial direspon dalam bentuk amaliah, atau


tindakan. Inilah yang menjadi pembeda dengan tokoh-tokoh yang
lain. Beliau menonjolkan aksi, bukan menonjolkan pemikiran, tetapi
tidak berarti Muhaammadiyah mengabaikan pemikiran keagamaan.
Konsistensi dibidang gerakan sosial ini menjadi ciri khas kemudian
dikenal istilah metode tafsir sosial dalam muhammadiyah.
Teologi al-Maun diterjemahkan kedalam tiga pilar kerja
atau tiga bentuk pelayanan yakni: pelayanan pendidikan, pelayanan
kesehatan dan pelayanan sosial
a. Pelayanan pendidikan
Seperti disebutkan pada uraian di atas bahwa doktrin
Muhammadiyah

adalah

pencerahan

Konsikuensi dari doktrin ini adalah

dan

doktrin

amal

saleh.

Muhammadiyah mencurahkan

segala kemampuannya untuk mendirikan sekolah-sekolah mulai


taman kanak-kanak atau pendidikan usia dini sampai ke perguruan
tinggi.

Besarnya

apresiasi

sejarah

terhadap

organisasi

Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari peranan Muhammadiyah


dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri
bahwa salah satu faktor yang mendorong Kiai Ahmad Dahlan
mendirikan Muhammadiyah adalah karena keterbelakangan bangsa
Indonesia dari segi pendidikan. Tentu problem tersebut sekaligus
menjadi problem umat Islam. (Amir Hamzah 1985:120)
Dewasa ini Muhammadiyah mengelolah lembaga pendidikan :
1132 Sekolah Dasar, 1769 Madrasah Ibtidaiyah, 1184 S ekola
Menengah

pertama,

534

Madrasah

Tsanawiah,

511

Sekolah

Menengah Atas, 263 Sekolah Menengah Kejuruan, 172 Madrasah

18

Aliyah, 67 Pondok Pesanteren, 55 Akademi, 4 Politeknik, 70 Sekolah


Tinggi

36

Universitas

tersebar

diseluruh

Indonesia

(Profil

Muhammadiyah 2005)
Setelah 10 tahun kemudian yakni pada tahun 2015 data
tentang lembaga pendidikan yang dikelola Muhammadiyah sebagai
berikut: TK/TPQ 4.623, SD/MI : 2.604, SMP/MTs: 1772, SMA/SMK/MA:
1.143, Pondok Pesantren 67 dan Perguruan Tinggi: 172 (profil
muhammadiyah 2015)
Data tersebut menujukkan bahwa muhammadiyah telah
bekerja

keras

dalam

melayani

masyarakat

untuk

memenuhi

kebutuhannya dalam bidang pendidikan. Usaha kerja keras tersebut


dimaknai sebagai ibadah yang nilainya tidak kalah mulia dari ibadah
mahdah.
b. Pelayanan kesehatan
Tahun 1918 telah berdiri penolong kesengsaraan umum (PKU)
tahun 1921 menjadi bagian khusus

dalam Muhammadiyah. Pada

tahun 1926 klinik di Surabaya, Malang dan Surakarta atau Solo,


Selain Klinik yang ada di Yokyakarta. (1 Abad Muhammadiyah:h.102)
Sekarang ini masalah pelayanan kesehatan diurus oleh suatu majelis
yang diberi nama Majelis
mewujudkan
adalah

Pembina Kesehatan Umum. Dalam

Visi Muhammadiyah tahun 2025 salah satu usaha

Meningkatkan

kualitas

kesehatan

dan

kesejahteraan

masyarakat. Sekarang Muhammadiyah mengelola Rumah Sakit,


Rumah Berrsalin, BKIA, BP dll; 457, (Profil muhammadiyah 2015)
c. Pelayanan sosial
Dalam mewujudkan visi Muhammadiyah tahun 2025
salah

satu

usaha

adalah

memajukan

perekonomian

dan

kewirausahaan ke arah perbaikan hidup yang berkualitas. Selain


masalah pendidikan yang menjadi alasan utama kiai Ahmad Dahlan

19

mendirikan Muhammadiyah, masalah ekonomi umat juga menjadi


faktor dominan pendorong lahirnya persyarikatan Muhammadiyah.
Jika usaha pendidikan berusaha untuk merubah situasi umat yang
bodoh menjadi umat yang cerdas, maka
dalam

rangka

merubah

keadaan

bidang ekonomi digarap

masyarakat

miskin

menjadi

masyarakat yang kaya atau paling tidak menjadi masyarakat yang


berkecukupan.
Amal usaha dalam bidang kesejahteraan /kesehatan
meliputi pembinaan anak yatim dan anak fakir miskin, pembinaan
daerah kumuh, daerah tertinggal, anak jalanan, pekerja anak, rumah
sakit, Rumah bersalin, Balai Kesehatan Masyarakat. (Keputusan
Mutamar Muhammadiyah 43, h. 162) Pemberdayaan masyarakat,
pendampingan usaha masyarakat tani dan nelayan.
Semangat warga muhammadiayah mendirikan amal usaha
dalam

bidang

kesehatan

semakin

tumbuh.

Hal

ini

mungkin

disebabkan karena banyaknya putra-putri muhammadiyah yang


kuliah di Fakultas Kedokteran. (Din Syamsuddin, Muhammadiyah
unyuk semua: 2014,h.63)
Sampai tahun 2015

amal usaha Muhammadiyah dalam

bidang sosial meliputi: Panti asuhan, santunan, asuhan keluarga dll


318, panti jompo, 54, rehabilitasi cacat 82, SLB 71, mesjid 6 118,
majelis yang terkait dengn urusan sosial adalah: Majelis Pelayanan
Sosial, Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan, Majelis Pemberdayaan
Masyarakat. Sedangkan lembaga yang terkait adalah: Lembaga
Penanganan Bencana dan Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah.
D. Revitalisasi Gerakan Sosial
1. Revitalisasi Pendidikan
Indonesia adalah negara yang penduduknya terbesar sebagi
mayoritas muslim. Jauh sebelum Islam datang penduduk Indonesia

20

mayoritas beragama Hindu, disamping agama-agama lokal yang


tumbuh. Setelah Islam datang penduduk berubah menjadi mayoritas
muslim

terbesar

di

dunia.

Faktor

yang

menjadi

pendorong

transformasi agama adalah faktor strategi berdakwah yang mampu


memikat hati dan menawarkan jalan hidup yang memberi harapan
lebih baik bagi masyarakat di kepulauan nusantara ini.

Kini misi

gerakan Islam sesungguhnya masih menghadapi tantangan besar,


yakni bagaimana membebaskan, memberdayakan, dan memajukan
umat

Islam

maupun

masyarakat

Indonesia

dari

berbagai

ketertinggalan menuju kehidupan yang berkemajuan di segala


bidang.

Tantangan

gerakan

Islam

menjadi

lebih

berat

ketika

berhadapan dengan misi gerakan agama lain yang lebih progresif


dan sistematis. Gerakan Islam diharapkan mampu menjadi alternatif.
Karenanya

perlu

meninjau

ulang

dan

memperbarui

pesan,

pendekatan, strategi, dan langkah-langkah gerakan Islam agar selain


dapat

merawat

jumlah

kepemelukan

umat

secara

kuantitas,

sekaligus mampu menjadikan pemeluk Islam sebagai umat terbaik.


(Haedar Nashir, Muhammadiyah dan Gerakan Pencerahan Untuk
Indonesia Berkemajuan)
Muhammadiyah

memandang

bahwa

unuk

membangun

Indonesia yang berkemajuan diperlukan adanya dukungan manusia


yang cerdas dan berkarakter. Ikhtiar membangun pendidikan yang
mencerahkaan menjadi pilihan utama. Haedar Nasir mengutip ikhtiar
membangun Indonesia Berkemajuan menuntut dikembangkannya
pendidikan yang mencerahkan. Kutipan lengkap dari pemikiran
dalam buku tersebut bahwa, Indonesia Berkemajuan meniscayakan
dukungan sumberdaya manusia yang cerdas dan berkarakter utama.
Manusia yang cerdas adalah manusia Indonesia seutuhnya yang
memiliki kekuatan akal budi, moral, dan ilmu pengetahuan yang
unggul

untuk

membangun

memahami
kehidupan

realitas

persoalan

serta

mampu

kebangsaan

yang

bermakna

bagi

21

terwujudnya cita-cita nasional. Manusia Indonesia yang cerdas


memiliki fondasi iman dan taqwa yang kokoh, kekuatan intelektual
yang berkualitas, kepribadian yang utama, dan menjadi pelaku
kehidupan kebangsaan yang positif sesuai dengan nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila. Sumber daya manusia Indonesia yang
cerdas dan berkarakter utama hanya dapat dihasilkan oleh sistem
pendidikan yang "mencerdaskan kehidupan bangsa" sebagaimana
diamanatkan Pembukaan UUD 1945. Pendidikan tersebut dalam
prosesnya tidak hanya menekankan pada kemampuan membaca,
menulis, dan berhitung, tetapi sekaligus sebagai proses aktualisasi
diri yang mendorong peserta didik untuk memiliki ilmu pengetahuan
tinggi dan berkeadaban mulia. Karenanya, pendidikan nasional yang
selama ini berlaku harus direkonstruksi menjadi sistem pendidikan
yang mencerahkan. (.(Haedar Nashir, Muhammadiyah dan Gerakan
Pencerahan Untuk Indonesia Berkemajuan)
Berikut ini dikemukakan uraian tentang revitalisasi pendidikan
Muhammadiyah meliputi: Filsafat pendidikan Muhammadiyah, visi
dan misi Muhammadiyah, Konsep pendidikan Muhammadiyah.
a.Rumusan Filsafat Pendidikan Muhammadiyah
Pendidikan Muhammadiyah adalaah penyiapan lingkungan
yang memungkinkan seseorang tumbuh sebagai manusia yang
menyadari kehadiran Allah swt sebagai Rabb yang menguasai dan
memiliki ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS). Dengan
kesadaran spiritual (iman) dan penguasaan IPTEKS seseorang mampu
memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri, peduli terhadap
sesama, menyebar luaskan kemakmuran, mencegah kemungkaran,
ramah

lingkungan,

kerangka

ibadah

beradab,
kepada

mewujudkan
Allah

kesejahteraan

swt.(Revitalisasi

dalam

Gerakan

Muhammadiyah,2010,h. 63)

22

Pendidikan Muhammadiyah merupakan pendidikan


Islam modern yang mengintegrasikan agama dengan kehidupan dan
antara iman dan kemajuan yang holistik. Dari pendidikan Islam
diharapkan

lahir

kepribadiannya,
tantangan

generasi
sekaligus

zaman.

Inilah

muda

Islam

mampu

yang

menghadapi

pendidikan

Islam

kuat
dan

yang

iman

dan

menjawab

berkemajuan.

(Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah,2010,h. 63)


Ayat

kauniyah

dan

ayat

qauliah

merupakan

kesatuan integral yang terus dikembangkan melalui penelitian dan


pengembangan berorientasi pada kemuliaan, kemanusiaan dan
dalam alam kehidupan yang lestari. Penguasaan IPTEKS adalah
langkah awal dari tumbuhnya kesadaran makrifat sehingga pemikiran
rasional adalah awal dari kesadaran spiritual makrifat ketuhanan.
Pengabdian ibadah kepada Allah swt meliputi ibadah yang terangkum
dalam rukun Islam, penelitian dan pengembangan IPTEKS, penataan
lingkungan hidup, pembebasan setiap orang dari penderitaan akibat
kebodohan

dan

kemiskinan.

(Revitalisasi

Gerakan

Muhammadiyah,2010,h. 64)
b.Visi Pendidikan Muhammadiyah
Visi pendidikan Muhammadiyah adalah, terbentuknya
manusia pembelajar yang bertaqwa, berakhlak mulia, berkemajuan
dan unggul dalam IPTEKS sebagai perwujudan tajdid dakwah amar
ma,ruf nahi mungkar.
c. Misi Pendidikan Muhammadiyah
1). Mendidik manusia memiliki kesadaran ketuhanan (spiritual
makrifat).
2). Membentuk manusia berkemajuan yang memiliki etos
tajdid, berfikir cerdas, alternatif dan berwawasan luas

23

3). Mengembangkan potensi manusia, berjiwa mandiri, beretos


kerja keras, wira usaha, kompetitif dan jujur
4). Membina peserta didik agar menjadi manusia yang memiliki
kecakapan hidup dan keterampilan sosial, teknologi, informasi
dan komunikasi
5). Membimbing peserta didik agar menjadi manusia yang
memiliki jiwa, kemampuan menciptakan dan mengapresiasi
karya seni budaya
6). Membentuk kader persyarikatan, umat dan bangsa yang
ikhlas,

peka,

kemanusiaan

peduli
dan

dan

bertanggungjawab

leingkungan

((Revitalisasi

terhadap
Gerakan

Muhammadiyah,2010,h. 64)
d. Konsep Pendidikan Muhammadiyah
1). Nilai dasar Pendidikan Muhammadiyah
Amal

usaha

Muhammadiyah

dalam

bidang

pendidikan

merupakan wilayah yang sangt strategis dalam rangka mewujudkan


kemajuan umat dan bangsa. Lembaga pendidikan yang dikelola oleh
Muhammadiyah sudah bertahan lebih dari 100 tahun. Fakta ini
menjadi argumen

bahwa Muhammadiyah

telah memberikan

kontribusi yang tidak bisa dihitung nilainya terhadap perkembangan


bangsa Indonesia. Amal usaha ini pula yang menjadi pembeda antara
Muhammadiyah dengan organisasi lainnya. Hampir setiap daerah
atau kabupaten berdiri bangunan sekolah Muhammadiyah.
Pendidikan Muhammadiyah di dasarkan pada lima nilai dasar
yakni:

pertama,

pendidikan

Muhammadiyah

dilaksanakan

berdasarkan nilai al-Quran dan sunnah. Nilai dasar dikembangkan


berdasarkan nilai kebenaran, nilai pencerahan, dan nilai budi pekerti
yang baik. (Revitalisasi: h.65) Dalam QS al-Furqan/ 25:44

24

Terjemahnya
atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu
mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah
seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya
(dari binatang ternak itu).
Bersarkan telaah terhadap ayat tersebut di atas Kiai Ahmad
Dahlan

mengeluarkan

fatwa,

manusia

tidak

menuruti,

tidak

mempedulikan sesuatu yang sudah terang benar bagi dirinya, artinya


dirinya sendiri, fikirannya sendiri, sudah dapat mengatakan itu benar
tetapi

ia

tidak

mau

menuruti

kebenaran

itu

karena

takut

mendapatkan kesukaran takut berat dan takut bermacam-macam


yang dikhawatirkan karena nafsu dan hatinya sudah terlanjur rusak
berpenyakitan akhlak (budi pekerti), hanyut dan tertarik oleh
kebiasaan buruk (R.Hadjid:2005: h.24-25). Kedua,Nilai Ikhlas. Ikhlas
menjadi dasar dalam mencari ridha Allah swt. Ikhlas menjadi inspirasi
dalam ikhtiar mendirikan dan menjalankan amal usaha dibidang
pendidikan. Ketiga, Nilai kerjasama (musyawarah) dengan tetap
menjaga sikap kritis baik pada masa Hindia Belanda, Dai Nippon
(Jepan), Orde Baru hingga pasca Orde Baru. Keempat, nilai tajdid,
yakni selalu memelihara dan menghidup hidupkan prinsip pembaruan
(tajdid) inovasi dalam menjalankan amal usaha dibidang pendidikan.
Kelima, memelihara kultur memihak kepada kaum dhuafa dan
mustadhafin dengan melakukan proses-proses kreatif sesuai dengan
tantangan

dan perkembangan yang terjadi pada masyarakat

Indonesia.(Revitalisasi: h.66)
Kehadiran

Muhammadiyah

sebagai

gerakan

Islam

yang

mengemban misi dakwah dan tajdid selama perjalanan satu abad


lebih, sungguh dituntut untuk memberi sibghah sekaligus mengubah

25

jalan kehidupan umat dan bangsa ke arah yang lebih berkemajuan.


Di sinilah pentingnya gerakan pencerahan yang menyinari penduduk
negeri, sehingga Indonesia menjadi negara dan bangsa yang
berkemajuan. Islam yang Mencerahkan Islam sesungguhnya agama
yang

mencerahkan

kehidupan

umat

manusia

(din

at-tanwir).

Kehadiram Islam membawa misi penting untuk mengeluarkan umat


manusia dari segala bentuk kegelapan (kejahiliyahan) menuju pada
keadaan terang-benderang, takhrij min al-dhulumat ila al-nur (QS
AlBaqarah: 257). Pesan-pesan Islam seperti perintah iqra (QS
Al-'Alaq:

1-5),

al-Quran

sebagai

hidayah-bayan-furqan

(QS

Al-

Baqarah: 189), agar setiap umat mengubah nasib dirinya dan


memperhatikan

masa

depan

(QS

Ar-ra'du:

11;

Al-Hasyr:

18),

membebaskan kaum dhu'afa mustadh'afin (QS Al-Ma'unn: 1-7; AlBalad: 11-16, dst), menjadi khalifah di muka bumi untuk membangun
dan tidak untuk merusak (QS Al-Baqarah: 30; Hud: 61; Al-Baqarah:
11; dst.); menunjukkan pesan imperatif Allah bahwa ajaran Islam
menawarkan pencerahan bagi umat manusia semesta.
2).Aspek-aspek pendidikan Muhammadiyah
a).Aspek Pembelajar
Pendidikan Muhammadiyah memberika peluang
kepada perkembangan akal sehat peserta didik, pada saat yang
sama juga mendorong untuk tumbuhnya hati yang suci dalam diri
peserta didik, serta mendorong tumbuhnya soft skill (IQ, EQ dan SQ).
Terkait dengan masalah ini KHA. Dahlan berpesan, Akal manusia
sesungguhnya suatu ketika akan menghadapi bahaya dan jika
manusia menghadapi hal yang demikian maka sesungguhnya ia telah
memiliki perangkat untuk menghadapinya yaitu hati yang suci. Oleh
karena itu orang yang mempunyai akal harus menjaga bahaya akal
yang merusak kesucian hati. (Revitalisasi: h.67).
b). Aspek pembelajaran

26

Pendidikan yang menghidupkan dan membebaskan


memerlukan adanya integrasi kritis antara legitimasi normatif (alQuran

dan

sunnah)

dengan

realitas

sosial.

Pendidikan

Muhammadiyah terkait dengan nilai-nilai dasar persyarikatan, artinya


pendidikan dalam Muhammadiyah harus

menjamin

terciptanya

lulusan yang cerdas sekaligus berposisi sebagai kader organisasi


demi kelangsungan organisasi Muhammadiyah.
Penyelenggaraan

pendidikan

Muhammadiyah

perlu memperhatikan nilai manfaat sebagai upaya pemenuhan


prinsip-prinsip sosio kemanusiaan sehingga out putnya memiliki
kontribusi nyata bagi masyarakat bangsa dan Negara. Pendidikan
Muhammadiya harus memperhatikan dimensi sosialnya sehingga
bermanfaat

bagi

kemanusiaan,

harus

memperhatikan

ideologis sehingga menjamin pencerahan peradaban

dimensi
sekaligus

menjadi sarana terciptanya kader yang mampu membaca tandatanda zaman. (Revitalisasi: h.69)
c). Aspek Pendidik
Pendidikan Muhammadiyah yang menghidupkan
dari

aspek

kompetensi

pendidik
pedagogik,

terkait

dengan

kompetensi

kompetensi

atau

komitmen

akademik,
ideologi

persyarikatan, kompetensi sosial, dan kompetensi keperibadian.


Pendidik yang mengabdi pada lembaga pendidikan Muhammadiyah
adalah pendidik yang memiliki kompetensi dasar sebagai pendidik
yang

didukung

Muhammadiyah,

oleh

komitmennya

nilai-nilai

dan

pada

pemahamann

persyarikatan
keislaman

sebagaimana yang dipahami oleh Muhammadiyah


Kemampuan

komparatif

yang

dimiliki

oleh

pendidik akan menentukan arah perubahan peradaban. Pendidik


harus memiliki pengetahuan dasar mengenai pendidikan akhlak
sebagai dasar untuk menanamkan karakter pembelajar yang sesuai

27

dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan


pendidik individu yang utuh dan pendidikan kemasyarakatan yang
bertujuan

untuk

menjamin

kemampuan

hidup

bermasyarakat.

(Revitalisasi: h70)
Dalam pandangan KHA Dahlan pendidikan yang
utuh

adalah

pendidikan

perkembangan mental

yang

berkeseimbangan

antara

dan jasmani, antara keyakinan dan intlek,

antara perasaan dan akal fikiran serta antara dunia dan akhirat
(Djarnawi Hadikusumo: h.5)
d). Aspek Persyarikatan
Pendidikan Muhammadiyah yang menghidupkan
dan membebaskan dikaitkan dengan persyarikatan adalah model
pendidikan

yang

eksistensi

dan

persyarikatan

mampu

menjadi

pengembangan

media

kegiatan

Muhammadiyah.

Sinergi

dan

instrumen

sosial
lembaga

bagi

kemanusiaan
pendidikan

Muhammadiyah sebagai instrumen persyarikatan untuk mencapai


tujuan

terwujudnya

masyarakat

Islam

yang

sebenar-benarnya.

Lembaga pendidikan perlu mengembangkan misi persyarikatan


dengan konsisten agar lembaga pendidikan benar-benar menjadi alat
persyarikatan mencapai tujuannya.
KHA Dahlan pernah berpesan, Muhammadiyah
sekarang ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka
teruslah kamu bersekolah menuntut ilmu pengetahuan di mana saja.
Jadilah guru kembalilah ke Muhammadiyah, jadilah dokter kembalilah
ke

Muhammadiyah,

jadilah

Insinyur

dan

kembalilah

ke

Muhammadiyah. (Yunus Salam: h.135)


e). Aspek Manajerial
Aspek manajerial manajemen yang dipakai dalam
lingkungan persyarikatan Muhammadiyah yang sesui dengan prinsip-

28

prinsip Islam disamping mengadopsi prinsip manajemen modern.


Penerapan

manajemen

modern

seperti

adanya

standarisasi,

profesionalisme, impersonal, reward and Punishment di satu sisi


memberikan dasar yang kuat bagi eksistensi lembaga pendidikan
Muhammadiyah tetapi pada sisi lain, jika diterapkan sacara kaku
akan

merugikan

recruitment

persyarikatan

misalnya

pertimbangan

idiologi

biasa

Muhammadiyah.
jadi

persyarikatan.

Dalam

mengesampinkan
Implementasi

soal
aspek

manajemen

modern dalam pengelolaan institusi pendidikan di Lingkungan


Muhammadiyah harus dapat dikembalikan pada prinsip-prinsip dasar
yang telah disepakati oleh persyarikatan Muhammadiyah.
f). Aspek Kurikulum
Strategi pengembangan kurikulum berdasarkan pada orientasi
kebutuhan, dimana dimensi akademik dan keorganisasian menjadi
faktor

krusial

dan

inti

dalam

penentuan

muatan

kurikulum.

Pendekatan backward curriculum harus dikedepankan agar prinsip


religious ideologis dan humanistis dapat dipenuhi dalam kurikulum
yang

diterapkan

dalam

penyelenggaraan

pendidikan

Muhammadiyah.
Muatan

Kurikulum

dirancang

berdasarkan

pertimbangan

kebutuhan dasar keilmuan, idiologi persyarikatan, dan pasar atau


yang dibutuhkan masyarakat.

Kurikulum

Muhammadiyah harus

menganut prinsip desentralisasi yang mampu memberdayakan


pendidik untuk mendinamisasikan isi kurikulum secara maksimal.
Pencapaian kurikulum pendidikan Muhammadiyah harus berorientasi
pada kompetensi dan berkelanjutan. Dalam pengelolan lembaga
pendidikan

Muhammadiyah

organisasi

bukan

tetap

semata-mata

memperhatikan
memperhatikan

kepentingan
stakeholders.

Keberadaan institusi pendidikan sebagai amal usaha ditempatkan


sebagai instrument dan wahana beramal sehingga pendidikan tidak

29

diarahkan semata pada pencapaian kompetensi tetapi juga dalam


kerangka pengkaderan persyarikatan.
g). Aspek Kemasyarakatan
Pendidikan
menghidupkan,

mencerdaskan

Muhammadiyah
dan

yang

membebaskan

dalam

pengelolaannya harus memihak kepada orang-orang lemah, orang


yang sengsara. Pendidikan yang dikelola oleh Muhammadiyah harus
mampu mengentaskan kemiskinan. (Revitalisasi: h.73) Pembaruan
dan pengembangan amal usaha pendidikan Muhammadiyah harus
dimotivasi kembali dengan semangat teologi al-maun agar tidak
sekedar menjadi lembaga pelayanan sosial yang bersifat rutin, tetapi
menjadi

institusi

pembebasan

dan

pemberdayaan

terutama

masyarakat dhuafa (lemah, miskin) dan mustadafin (temarginal,


tersingkir,

tertindas)

(Haedar

Nashir,

Muhammadiyah

Gerakan

Pembaruan: 2010, h. 421-422)


2.Revitalisasi Kader Muhammadiyah
Revitalisasi kader merupakan langkah penataan,
pembinaan,

peningkatan,

dan

pengembangan

anggota

inti

persyarikatan yang dapat melaksanakan misi, usaha dan pencapaian


tujuan Muhammadiyah. Tujuan revitalisasi ialah berkembangnya
jumlah kualitas kader Muhammadiyah yang berperang aktif dalam
persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan universal sebagai
perwujudan pelaku dakwah dan tajdid. Dengan revitalisasi kader
diharapkan agar rekruitmen dan pengembangan kader benar-benar
menjadi komitmen organisasi secara menyeluruh, konsisten, dan
didukung berbagai sumberndana, jaringan, dan dukungan yang
optimal. (Revitalisasi:h. 48)
Kompetensi yang secara normatif penting untuk diwujudkan dalam
revitalisasi kader Muhammadiyah adalah sebagai berikut:

30

a.Kompetensi Keberagaman, dicirikan dengan nilai-nilai:


1).Kemurnian aqidah
2).Ketaatan beribadah
3). Keihlasan
4).Shiddiq
5).Amanah (komitmen)
6).Berjiwa gerakan
b. Kompetensi akademik dan intlektual dicirikan dengan nila-nilai:
1).fathonah

(Kecerdasan)

2).Tajdid
3).Istiqamah
4).Etos belajar
5). Moderat
c.Kompetensi sosial-kemanusiaan dan kepeloporan dicirikan
dengan nilai-nilai
1). Kesalehan
2). Kepedulian Sosial
3). Suka beramal
4) keteladanan
5).Tabligh
6).Inovatif
7).Berfikiran maju

31

d.Kompetensi keorganisasian dan kepemimpinan dicirikan oleh:


1).

Penghidmatan dan partisipasi aktif

dalam peran keumatan, kebangsaan,


dan

kemanusiaan yang universal


2).

Menempati posisi apapun dengan semangat

ikhlas, berdedikasi,
berperestasi, dan menghasilkan hal-hal terbaik
3)

Menjadi bagian yang menyatu dengan denyut

nadi kehidupan
persyarikatan, umat dan bangsa sebagai wujud
menjalankan misi
organisasi
4)

Berkomitmen dan menjunjung tinggi idiologi

Muhammadiyah dan mampu bersikap tegas, tetapi arif


dalam

membela

serta

menegakkan

prinsip

dan

kepentingan persyarikatan
5) Mengutamakan misi dan kepentingan Muhammadiyah di
atas lainnya dengan niat ihlas dan berhidmat.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran dan Terjemahnya
Hamzah , Amir, Pembaharuan Pengajaran dan Pendidikan oleh
Pergerakan Muhammadiyah, Jember Universitas Muammadiyah,
1985
al-Hanafi, Abu Naim Nashr ibn Muhammad ibn Ibrahim al-samarqandy
al-Fiqih, Tafsir Bahr al-Ulum Beirut: dar al-Fikr

32

Hadjid, R., Pelajaran KHA. Dahlan 7 Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok


ayat al-Quran, Yokyakarta LPI PP Muhammadiyah, 2005
Hadikusumo, Djarnawi, Ilmu Akhlak, (Yokyakarta: Persatuan, 1980
Mulkam, Munir, Pesan dan Kisah: 2010
al-Naisaburiy, Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj ibn Muslim alQusyairiy, Al-Jami al-Shahih /Shahih Muslim, juz 8, Bairut: Dar
al-Jayyil /Dar al-Afaq al-Jadiidah
Nashir, Haedar, Muhammadiyah Gerakan Pembaruan, Yokyakarta:
Suara Muhammadiyah, 2010
--------Muhammadiyah dan Gerakan Pencerahan Untuk Indonesia
Berkemajuan
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Keputusan Mutamar
Muhammadiyah 43
Pimpinan

Pusan

Muhammadiyah,

Revitalisasi

Gerakan

Muhammadiyah, 2010
Rais, M.Amin, Visi dan Misi Muhammdiyah, Yokyakarta, Suara
Muhammadiyah, 1998
Rahman, Fazlur, Islam terj.Ashim Mohammad, Bandung: Pustaka,
2003
Tim Majlis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan
Bekerjasama dengan Lembaga Pustakan dan informasi, 1
Abad Muhammadiyah, Gagasan Pembaruan Sosial
Keagamaan, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2010
Salam, Yunus, KHA. Dahlan Amal dan Perjuangannya, Tangerang, alWasat, 2009

33