Anda di halaman 1dari 4

1.

Sel Surya Photovoltaik


Sel surya photovoltaik merupakan suatu alat yang dapat merubah energi
sinar matahari secara langsung menjadi energi listrik. Pada asasnya sel tersebut
merupakan suatu dioda semikonduktor yang bekerja menurut suatu proses khusus
yang dinamakan proses takseimbang (non-equilibrium process) dan berlandaskan
efek photovoltaik (photovoltaic effect).
Pada umumnya, dalam proses ini sebuah sel surya menghasilkan tegangan
antara 0,5 dan 1 volt, tergantung intensitas cahaya dan zat semikonduktor yang
dipakai. Hal ini telah dibahas dalam suatu bab terdahulu mengenai energi surya.
Dalam penggunaannya, sel-sel surya itu dihubungkan satu sama lain.
Sejajar dan atau dalam seri, tergantung dari apa yang diperluka, untuk
menghasilkan daya dengan kombinasi tegangan dan arus yang dikehendaki.
Untuk daya yang agak besar, gagasan ini menghadapi keterrbatasanketerbatasan, yang pada asasnya berlandaskan intensitas enegi yang terkandung
dalam seminar surya yang rendah pada saat mencapai permukaan bumi, yang
berjumlah sekitar 1000 watt per m2. Daya guna konversi energi radiasi surya
menjadi energi listrik berdasarkan efek photovoltaik pada saat ini sudah mencapai
lebih kurang 25%. Dengan demikian oleh sel surya berjumlah 250 watt per m2.
Untuk memperoleh daya sebesar 1000 watt, atau 1 kW, diperlukan luas
sebanyak 4 m2. Untuk 1000 kW, atau 1 MW, diperlukan 4000 m 2. Belum terhitung
keperluan tanah bagi alat-alat pembantu dan lain sebagainya.
Suatu ha (10.000 m2) akan dapat menghasilkan 2,5 MW. Untuk
mendapatkan 100 MW, diperlukan 40 ha, sedangkan 1000 MW (1GW) akan
memakai tanah seluas 400 ha! Tanah demikian luas mungkin hanya tersedia di
suatu padang pasir. Lepas dari soal harga, sel surya photovoltaik pada umumnya
kiranya tidak akan dapat dimanfaatkan untuk sistem-sistem besar bagi
penggunaan di permukaan bumi, karena memerlukan luar wilayah yang terlampai
besar. Untuk pemakaian demikian sel surya photovoltaik akan terbatas pada
sistem-sistem relatif kecil, terutama di tempat terpencil.
2. Satelit Surya

Pembatasan yang dikemukakan sebelumnya, kiranya dapat diatasi,


bilamana listrik tebaga surya itu ditempatkan pada sebuah satelit yang berada [ada
suatu orbit. Dalam gagasan ini, pada sebuah satelit, yang diperkirakan bergerak di
luar geosfir secara sinkron dengan geakan bumi, terpasang pusat listrik tersebut.
Dengan cara ini diperoleh tiga keuntungan. Pertama, bahwa intensitas radiasi
surya di luar geosfir jauh lebih tinggi, yaitu sampai enam kali daripada
dipermukaan bumi. Keuntungan kedua adalah, bahwa persoalan luas tempat tidak
lagi menjadi masalah. Manfaat ketiga adalah, bahwa dapat diatur sedemikian
rupa, bahwa satelit menerima energi matahari hampir 24 jam sehari.
Menurut pemikiran ini, pusat listrik tenaga surya satelit (PLTSS) itu
mentransmisikan energi yang diterimanya ke sebuah stasiun tertentu yang terletak
di permukaan bumi, untuk dikonversi menhadi tenaga listrik. Sel-sel surya pada
PLTSS merubah energi matahari menjadi energi listrik, yang kemudian dirubah
lagi menjadi energi dalam bentuk gelombang mikro (micro-wave) atau laser.
Energi gelombang mikro atau laser itu diterima oleh sebuah stasiun bumi,
yang

kembali

merubahnya

menjadi

energi

listrik,

untuk

selanjutnya

ditransmisikan dan didistribusikan seterusnya. Dalam gambar 2 gagasan tersebut


terlihat secara sederhana.
3. Pusat Listrik Tenaga Surya Satelit
Riset dan pengembangan secara intensif dilakukan oleh berbagai lembaga,
antara lain di Amerika Serikat oleh DEO (Department of Energy) dan NASA
(National Aeronautics and Space Administration), yang mempelajari pembuatan
sebuah PLTSS raksasa dengan daya terpasang 5000 MW (5 GW).
Dalam PLTSS ini, sel-sel surya dijajarkan pada suatu tempat seluas lk 60
km2, yang akan menangkap sebanyak 800 juta kW daya surya. Dengan efisiensi
20% maka 1600 juta MW yang dapat ditransmisikan ke bumi. Dalam disain ini
energi listrik diubah menjadi energi gelombang mikro, yang ditransmisikan
melalui antena-antena raksasa yang mempunyai garis tengah sebesar 1 kilometer.

Stasiun bumi akan mempunyai antena penerima khusus, berbentuk elips, yang
menyearahkan. Antena penerrima ini dinamakan rektena (receiving-rectifying
antenna, rectenna). Dengan areal seluas lk 40 km 2 stasiun bumi akan dapat
mengkonversikan 5 sampai 10 MW daya listrik.
Beberapa hal yang menarik dalam disain ini:
Ketersediaan energi surya untuk ditransmisikan, akan mendekati 100%

sehingga cocok untuk memikul beban dasar listrik.


Satu PLTSS akan mempunyai daya terpasang sebesar 5 GW.
Daya guna transmisi AS-AS (arus searah ke arus searah melalui gelombang
mikro) akan melampaui 60%.

Di antara persoalan-persoalan yang masih dihadapi PLTSS ini adalah


pengaruh lingkungan disebabkan transmisi gelombang mikro, yang mungkin akan
memakai frekuensi 2,45 GHz, yaitu yang menyangkut:

Interferensi pada siaran-siaran radio.


Pemanasan setempat ionosfir (ionosphere) yang akan mengganggu hubungn-

hubungan satelit-satelit komunikasi lain yang ada.


Pancaran-pancaran gelombang mikro itu dapat mempunyai efek-efek biologis
yang kurang baik.

Energi matahari yang diterima sel-sel surya dirubah menjadi energi listrik
arus searah. Energi listrik itu perlu disesuaikan sebelum dimasukkan ke dalam
generator gelombang mikro. Sebagian dari energi yang terbuang di generator,
dapat diolah kembali, untuk meningkatkan daya guna. Antena mengirimkan
pancaran gelombang mikro ke satelit bumi, yang diterima oleh rektena. Dari
satelit bumi dikirim suatu pancaran kendali, untuk mengatur letak antena terhadap

rektena, supaya penerimaan energi dari angkasa itu tepat arah pemancarnya.
Melalui satelit bumi, energi yang diterima oleh rektena dikonversi menjadi energi
listrik dan dimasukkan ke dalam jaringan.
Sementara itu NASA telah membuat sebuah proyek demonstrasi sebesar 30
kW, yang cukup berhasil. Daya guna transmisi AS-AS (Arus Searah ke Arus
Searah) proyek percontohan ini mencapai 54%.
Sementara

itu

perlu

dikemukakan,

bahwa

persoalan-persoalan

dampak

lingkungan bertalian dengan Pusat Listrik Tenaga Satelit Surya masih


dimasalahkan.