Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH FISIKA BUMI DAN ANTARIKSA

BOLA LANGIT

DOSEN PEMBIMBING:
SYUBHAN ANNUR, M.Pd
SAIYIDAH MAHTARI, M.Pd

OLEH:
PURNAMA SARI WAHYUNI

(A1C413035)

ZARA YAHYANA

(A1C413063)

WAHYU AZHARI

(A1C413097)

HELMAN ARI AFNIZAR

(A1C413229)

KELOMPOK: 11

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2016

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunianya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan makalah Fisika Bumi dan Antariksa mengenai Bola
Langit.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk menjelaskan apa itu bola langit
beserta pengertian lain yang menunjang pemahaman mengenai bola langit.
Selama penyusunan makalah ini penulis dibantu dan dibimbing oleh banyak
pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Dalam penyelesaian makalah ini penulis telah berusaha semaksimal
mungkin, namun penulis percaya bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran
yang bersifat membangun.
Banjarmasin, 10 April 2016
Penulis,

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...
DAFTAR ISI.
BAB I PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.
E.

Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penulisan
Manfaat Penulisan
Batasan Masalah .....

BAB II lI PEMBAHASAN
A. Bola Langit
B. Tata Koordinat
C.
BAB III PENUTUP...
A. Kesimpulan......
B. Saran................
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemegahan langit pada waktu malam membangkitkan keingintahuan orang
sejak dahulu kala. Setelah banyaknya pengamatan dan semakin sempurnanya
instrumen perbintangan, maka pola langit menjadi lebih jelas. Meskipun masih
banyak sekali hal-hal yang belum kita ketahui tentang jagat raya kita.
Pengetahuan tentang luar angkasa atau antariksa telah menjadi perdebatan
sejaklama, rasa ingin tahu dan penasaran manusia mendorong mereka untuk terus
melakukan penelitian tentang segala sesuatu yang belum mereka temui atau belum
terpecahkan khususnya yang berkaitan dengan antariksa, karena begitu luasnya
kajian tentang alam semesta yang belum diketahui batasnya, meskipun Nabi
Muhammad SAW telah melakukan isra dan miraj hingga menembus langit ke
tujuh atas seijin Allah SWT. Namun, sampai saat ini belum ada seorang manusia
pun yang dapat menembus langit tersebut dan pengetahuan manusia hanya sebatas
di langit pertama yang juga belum diketahui batasnya.
Berbagai pendapat dan hipotesis bermunculan dengan tujuan memberikan
informasi paling mutakhir dan valid. Keingintahuan ini terlihat dari orang-orang
Yunani kuno yang mempelajari astronomi, namun terkadang juga digunakan
untuk keperluan astrologi karena keterbatasan pengetahuan. Ilmu astronomi
khususnya pada penentuan posisi bintang sudah sejak lama digunakan sebagai
navigasi oleh nenek moyang manusia untuk berbagai keperluan seperti peramalan
musim dan pelayaran berdasarkan tata letak bintang di langit. Seiring terus
berkembangnya pengetahuan manusia tentang astronomi dengan berbagai metode
mulai dari pengamatan sederhana dengan perhitungan-perhitungan tertentu hingga

dibuatlah observatorium untuk mengamati bintang dan benda-benda langit


lainnya.
Untuk menyatakan letak suatu benda langit diperlukan suatu tata koordinat
yang dapat menyatakan secara pasti kedudukan benda langit tersebut. Tata
koordinat tersebut dikenal sebagai tata koordinat langit. Tiap-tiap tata koordinat
tentunya memiliki cara penggunaan sistem yang berbeda serta terdapatnya
berbagai macam keuntungan dan kelemahan dalam penggunaan sistem tersebut.
Dengan demikian penggunaan suatu sistem koordinat bergantung pada hasil yang
kita inginkan, apakah hasil yang didapat ingin digunakan untuk waktu sesaat atau
untuk waktu yang lama dan dapat dipakai secara universal. Dengan tata koordinat
bola langit, kita dapat menentukan posisi benda langit salah satunya adalah
bintang. Dalam penulisan kali ini kelompok penulis akan membahas tentang tata
koordinat bola langit untuk menentukan posisi bintang, berdasarkan titik
pengamatan pada koordinat tertentu.
Dahulu kala, mungkin sebelum awal sejarah, orang-orang mulai
membayangkan bahwa mereka dapat memahami pola atau rancangan dalam
pengelompokan bintang-bintang. Jauh di luar dan di atas jagat raya matahari dan
planet-planet kita yang sangat kecil ini terdapat bimasakti, suatu lintasan yang
indah dan megah melingkar langit. Bimasakti terbentuk seperti sebuah roda
dengan sebuah poros pusat. Bila kita menuju ke arah bimasakti, dari posisi kita
yang dekat dengan matahari, kita akan melihat ke dalam pusat galaksi bintang.
Oleh karena itu, bintang-bintang tampaknya begitu rapat dan merupakan sebuah
pita yang bercahaya. Bintang-bintang individual dalam langit malam kita juga
termasuk pada sistem bimasakti. Bintang-bintang itu tampaknya terpencar, sebab
ketika kita melihatnya kita memandang ke arah bagian luar galaksi.
Itulah beberapa benda yang kita lihat di langit. Untuk menentukan tempat
benda-benda ini di ruang angkasa, para ahli astronomi telah mengembangkan
konsep bola langit. Untuk mengetahui lebih mendalam tentang bola langit maka
akan dibahas dalam makalah ini.

B.
1.
2.
3.
4.

Rumusan Masalah
Apa pengertian bola langit?
Apa sajakah tata koordinat bola langit?
Bagaimana cara menentukan koordinat bola langit?
Tata koordinat apa saja yang digunakan pengamat untuk menentukan

posisi benda langit?


5. Faktor apa saja yang mempengaruhi pengamat dalam menentukan posisi
benda langit?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk:
1. Menjelaskan peran koordinat bola pada penentuan posisi benda-benda
langit
2. Mendeskripsikan macam-macam koordinat untuk mengamati bendabenda pada bola langit.
3. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi posisi benda langit
melalui pengamatan.
D. Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya
bagi penulis dan umumnya bagi pembaca, yakni :
1. Sebagai informasi dan pengetahuan dari ilmu pengetahuan bumi dan
antariksa (IPBA) spesialisasi pada koordinat bola langit dan posisi
bintang.
2. Sebagai motivasi untuk mengkaji lebih dalam tentang IPBA

E. Batasan Masalah

BAB II
PEMBAHASAN

A. Bola Langit
Bagi seseorang yang berdiri di Bumi, permukaan bumi tampak datar.
Matahari, Bulan, dan Bintang seolah-olah bergantungan pada suatu kotak raksasa
di atasnya. Jika seseorang berdiri di suatu tempat yang letaknya dibalik bola bumi,
tepat berlawanan dengan tempat berdirinya sekarang, ia akan melihat kubah yang
lainnya. Kedua kubah setengah bola ini membentuk bola langit.
Matahari, Bulan, dan Bintang tidaklah diam. Semua itu berputar dan
berputar pada orbitnya, tetapi geraknya tak kelihatan oleh manusia karena Bumi
yang diinjaknya juga berputar dan beredar. Sebaliknya benda-benda di angkasa ini
seakan-akan terbit di Timur dan terbenam di Barat
Jika kita berdiri ditempat terbuka, kita akan melihat di depan kita suatu
garis pertemuan antara permukaan bumi tempat kita berdiri dengan lengkung
langit. Garis pertemuan itu kita sebut dengan Horizon Semu. Permukaan bumi
tempat kita berdiri sampai garis horizon kita sebut dengan bidang pemandangan,
sedang titik tempat kita berdiri untuk melihat langit, disebut titik pengamatan atau
titik tinjau. Makin tinggi letak titik pengamatan, makin luas bidang pemandangan
didepan kita dan makin lebar atau besar horizon semu yang selalu berubah-ubah
sesuai dengan kedudukan pengamat.
Sejajar dengan horizon semu dan melalui pusat bumi dapat dibuat horizon
yang mempunyai lengkung lebih besar. Horizon ini disebut Horizon Sejati. Pada
bidang yang melewati horizon ini, buatlah lewat titik pengamatan sebuah garis
yang arahnya utara selatan. Garis ini akan menembus bola langit pada titik utara
dan titik selatan. Tegak lurus arah utara-selatan melalui titik pengamatan, dapat
dibuat garis timur-barat. Garis ini akan menembus bola langit pada titik timur dan
titik barat.
Sekarang melalui titik pengamatan itu pula, kita membuat garis vvertikal
melewati kepala kita sampai menembus bola langit di bagian ataas. Titik itu kita

sebut zenith. Jika garis vertical itu kita perpanjang ke bawah kaki kita sampai
menembus bola langit di bagian bawah, akan kita dapatkan nadir.
Kita dapat melihat bola langit dengan tiga posisi, yaitu:
-

Posisi bola langit tegak


Posisi bola langit miring
Posisi bola langit sejajar

1. Posisi Bola Langit Tegak.


Posisi ini terjadi bila si pengamat memamndang bola langit dari
tempatnya di ekuator. Dengan demikian utara-selatan bola langit berimpit
dengan kutub utara langit (KUL) dan kutub langit selatan (KUS). Sedang
zenith dan nadir terletak pada bidang ekuator langit. Perhatikan gambar
berikut ini!

2.
Posisi

Bola Langit Miring.


Posisi ini terjadi bila pengamat memandang bola langit dari
tempatnya di lintang tengah (misalnya 30 LU

atau 30 LS ).

Dengan demikian kutub utara langit (KUL) sebesar 30 di atas horizon,

di dekat titik utara (U). kutub selatan langit (KSL) berada dibawah
horizon, didekat titik selatan (S). lingkaran ekuator tegak lurus pada garis
KUL-KSL. Untuk lebih jelasnya lihaat gambar berikut ini!

3. Posisi Bola Langit Sejajar.


Posisi ini terjadi bila si pengamat memandang bola langit dari
tempatnya di kutub utara. Dengan demikian kutub utara langit (KUL)
berimpit dengan zenith dan kutub selatan langit (KSL) berimpit dengan
nadir.
Dengan posisi ini, orang-orang kutub utara akan melihat matahari
yang tidak terbenam, jika matahari kebetulan berada pada garis balik utara
(Tropic of cancer), sebaliknya pada saat itu, orang-orang kutub selatan
(dari tanggal 22 maret 22 september) tidak akan pernah melihat
matahari. Coba perhatikan gambar berikut ini!

Bola langit tampak sebagai atap berbentuk kubah raksasa menaungi kita,
semua benda langit seolah-olah menempel pada kubah itu. Atap kubah hasil
angan-angan kita ini disebut Bola Langit. Tetapi atap ini tidak berbentuk bola
penuh, melainkan hanya setengah bola saja yang dibatasi oleh lingkaran yang
disebut horizon atau kaki langit. Horizon di bedakan sebagai berikut:
-

Horizon kodrat: yaitu pertemuan antara kaki langit dan permukaan bumi.

Makin tinggi tempat kita berdiri makin luas bidang horizonnya.


Horizon semu: yaitu bidang datar khayal pada tempat berdiri yang

menyinggung permukaan bumi.


Horizon sejati: yaitu bidang datar yang di khayalkan melalui pusat bumi,
dan sejajar dengan horizon semu.
Pada ketiga henis horizon tersebut di atas, sikap tegak kita merupakan

garis tegak lurus padanya dan dinamakan vertikal. Vertikal ini akan memotong
bola langit di sebelah atas, disebut zenith dan disebelah bawah di sebut nadir.
Sedangkan tempat bediri (bumi) sebagai pusat bola langit.
Koordinat suatu titik di bidang permukaan bola dapat di tentukan dengan
mendefinisikan lingkaran dasarnya (analogi dengan sumbu x) dan titik asal
koordinatnya.

Ada 3 tata koordinat di bola langit, yaitu:


1. Tata koordinat horizon
- Sebagai lingkaran dasar adalah lingkaran horizon.
- Sebagai titik asal adalah titik selatan.
2. Tata koordinat khatulistiwa/ekuator
- Sebagai lingkaran dasar adalah lingkaran ekuator.
- Sebagai titik asal adalah titik Vernal Equinox atau titik pertama aries.
3. Tata koordinat ekliptika
- Sebagai lingkaran dasar adalah lingkaran ekliptika.
- Sebagai titik asal adalah titik Vernal Equinox atau titik pertama aries.
B. Tata Koordinat
Untuk menentukan letak suatu tempat, baik itu di permukaan bumi
maupun di bola langit, diperlukan suatu cara yang lazim digunakan yang disebut
tata koordinat.
Jika tempat yang kita cari terletak di permukaan bumi, kita menganggap
tata koordinat bumi. Misalnya mencari letak suatu kota, letak suatu pulau, dan
letak suatu negara, kita menggunakan tata kordinat bumi. Dalam geografi, letak
suatu tempat yang berdasarkan tata kordinat bumi disebut letak astronomis.
Biasanya digunakan satuan derajat lintang ( Lintang Utara dan Selatan) dan
derajat bujur ( Bujur Barat dan Timur).
Jika tempat yang kita cari terletak di bola langit, kita menggunakan tata
koordinat bola langit. Tata koordinat bola langit terdiri atas: tata koordinat
horizon, tata koordinat ekuator,dan tata koordinat ekliptika.
Masing-masing tata koordinat mempunyai aturan tersendiri yang akan
dibicarakan dalam uraian berikut ini.
1. Tata Koordinat Bumi

Perhatikan gambar bola bumi atau globe berikut ini.

KU adalah kutub utara bumi, KS adalah kutub selatan bumi. Antara KU


dan KS dihubungkan garis-garis. Garis-garis itu disebut garis bujur atau
meridian.Garis bujur

dimulai dari sebuah kota bernama Greenwich (dekat

London). Tempat-tempat sebelah timur Greenwich sampai garis bujur 180 ,


disebut bujur timur (BT). Tempat-tempat sebelah barat Greenwich sampai 180
,

disebut bujur barat (BB). Jadi bujur 180 BT berimpit dengan 180

BB. Garis bujur yang berimpit itu terletak di samudra pacific. Namanya
garis/batas tanggal internasional (international date line). Maksud batas tanggal
internaasional tersebut menyeragamkan dan memudahkan perhitungan kalender
pada separuh atau setengah bagian dunia. Jadi dalam hal ini, dunia dibagi menjadi
dua bagian, yaitu separuh dunia bagian barat dan separuh dunia bagian timur.

Berputarnya bumi pada porosnya dari barat ke timur, menyebabkan waktu


pada separuh dunia bagian timur lebih dulu daripada waktu pada separuh dunia
bagian barat. Dengan kata lain, tempat-tempat pada bujur timur (BT) lebih dulu
daripada tempat-tempat pada bujur barat (BB).
Untuk lebih jelasnya, coba perhatikan peta berikut ini!

Dari peta tersebut, kita dapat melihat bahwa waktu (lonceng) di AsiaAfrika lebih dulu daripada waktu (lonceng) di Canada-Amerika. Dalam hal ini
waktu (lonceng) ini, kita berpedoman pada garis bujur 0 , yaitu bujur yang
melewati kota Greenwich. Namun dalam hal penentuan waktu (kalender), yang
dipakai sebagai pedoman perhitungan adalah batas tanggal internasional. Dengan
demikian tanggal untuk Canada-Amerika akan lebih kemudian daripada waktu
untuk Asia-Afrika. Dengan kata lain, jika kita berlayar 1 hari dari Hawaii
(Honolulu) ke barat melewati batas tanggal internasional dengan tujuan Jepang
(Tokyo). Kita akan sampai selang (satu) hari. Jika kita berangkat dari Honolulu
pada tanggal 2 April, maka kita akan sampai di Tokyo tanggal 4 April. Namun
sebaliknya jika kita dari Tokyo tanggal 2 April berlayar ke Honolulu 1 hari, maka
kita akan sampai pada tanggal 2 April juga.

Indonesia terletak pada separuh dunia bagian timur, yaitu pada 95 BT


141 BT. Dengan kata lain seluruh wilayah Indonesia mempunyai bujur
sebesar 46

Untuk menyeragamkan perhitungan waktu diseluruh dunia, maka dunia


dibagi menjadi 24 daerah waktu. Masing-masing daerah waktu besarnya 15
bujur ,atau setiap 15

bujur sama dengan 1 jam (60 menit). Jadi setiap 1

bujur besarnya 4 menit.


Indonesia, derajat busurnya mencapai 46 . Oleh karena itu waktu di
Indonesia dibagi menjadi tiga daerah waktu, yang masing-masing berbeda 60
menit.
Adapun daerah waktu di Indonesia itu terdiri atas:
1. Waktu Indonesia Bagian Timur (WIT), yang meliputi propinsi Maluku dan
Irian Jaya.
2. Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA), yang meliputi propinsi Timor
timur (sekarang bukan bagian NKRI), Nusa Tenggara Barat, Nusa
Tenggara Timur, Bali, Propinsi di Sulawesi, Propinsi Kalimantan Timur
dan Kalimantan Selatan
3. Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB), yang meliputi propinsi Kalimantan
Tengah, Kalimantan Barat, Propinsi di Jawa dan Sumatera.
Dengan adanya pembagian daerah waktu tersebut, kita dengan mudah dapat
menghitung perbedaan waktu antara Jayapura (Irian Jaya) dengan Bandung (Jawa
Barat). Jika di Jayapura 09.00, maka di Bandung baru pukul 07.00. namun hal itu
akan membawa akibat sampingan (bagi arloji yang kita pakai). Jika kita pergi dari

Jayapura ke Bandung, maka setelah sampai di Bandung jam atau arloji yang kita
pakai harus kita undurkan 2 jam, agar waktunya sama dengan waktu di Bandung
(yang termasuk WIB). Jika tidak, waktu yang ditunjukoleh arloji yang kita pakai
akan terlalu cepat 120 menit atau 2 jam.

Berikut ini bisa anda lihat peta pembagian daerah waktu di Indonesia.

Dengan demikian jelaslah bahwa garis bujur atau meridian dapat dipakai
sebagai pedoman dalam menghitung perbedaan waktu antara satu daerah dengan
daerah lain, antara negara satu dengan negara lain.
Selain garis bujur, pada bola bummi atau globe seperti gambar di muka
bumi, terdapat garis-garis sejajar yang melilit bumi arah timur-barat. Garis-garis
yang melilit bumi dan sejajar satu dengan yang lain, disebut garis lintang atau
parallel.

Garis lintang itu dimulai dari garis lintang 0 , yang sering disebut
dengan khatulistiwa, garis lini, atau ekuator. Dari khatulistiwa ke utara sampai ke
kutub selatan, besarnya 90 . Jadi tempat-tempat yang terletak di sebelah utara
khatulistiwa, mempunyai kedudukan Lintang Utara (LU).
Bagaimana dengan tempat-tempat yang terletak disebelah selatan
khatulistiwa? Tempat-tempat di selatan khatulistiwa berkedudukan Lintang
Selatan (LS). Dari khatulistiwa ke Kutub selatan, besranya 90 .

Berdasarkan garis lintang atau paralelnya, kita bisa membagi bumi atas:
1. Daerah Ekuator, terletak antara

1
1
23 LU 23 LS
2
2

Daerah ini sering disebut daerah tropic (panas)


1
1
23 66
2. Daerah Sedang, terletak antara
2
2
Daerah ini ada dua, yaitu daerah sedang utara yang terletak antara
1
1
23 LU 66 LU
2
2

dan daerah sedang selatan yang terletak antara

1
1
23 LU 66 LS
.
2
2
1
66 90
3. Daerah Kutub, terletak antara
2

Daerah ini sering disebut dengan daerah dingin, daerah dingin juga ada

dua, yaitu daerah dingin utara, yang terletak antara

, dan daerah dingin selatan, yang terletak antara

1
66 LU 90 LU
2

1
66 LS90 L
S.
2

Tempat di permukaan bumi yang mempunyai lintang tinggi (yaitu tempattempat yang jauh dari ekuator), misalnya pada daerah kutub, akan memperoleh
sinar matahari yang berbeda intensitasnya jika dibandingkan dengan lintang
rendah. Hal itu berhubungan erat dengan sudut datangnya sinar. Makin besar
sudut datangnya sinar, makin banyak sinar matahari yang diserap oleh permukaan
bumi. Berarti makin sedikit sinar yang dipantulkan.
Daerah kutub, sudut datang sinar matahari lebih kecil jika dibandingkan
dengan daerah lintang tengah (daerah sedang). Apalagi jika dibandingkan dengan
daerah ekuator.

Untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut ini

Jadi, garis lintang atau parallel berpengaruh terhadap temperature di


permukaan bumi. Bahkan berpengaruh terhadap iklim dipermukaan bumi, yang
disebut iklim matahari.

Menentukan Tempat di Permukaan Bumi


Untuk menentukan letak suatu tempat di permukaan bumi secara tepat,

kita harus menggunakan garis bujur dan garis lintang bersama-sama, yang
disebut tata koordinat Bumi. Misalnya negara Indonesia, terletak pada 95 BT141

BT dan 6

LU-11

LS. Jakarta terletak pada 106 50 BT

dan 6 10 LS. Yang pertama, yaitu letak Indonesia, merupakan letak


wilayah karena terletak antara dua garis bujur dan garis lintang. Sedang yang
kedua, yaitu letak Jakarta merupaka letak suatu titik, karena merupakan
pertemuan antara bujur dan lintang, letak yang berdasarkan pertemuan antara
bujur dan lintang, disebut letak bujur dan lintang.
2. Tata Koordinat Horizon

Tata koordinat ini sangat sederhana dan mudah di laksanakan. Tetapi


setiap tempat di Bumi ini mempunyai vertical dan horizonnya sendiri yang
berbeda-beda kedudukannya di bola langit, system tata koordinat horizon dan
lingkaran vertical, suatu benda langit dapat ditentukan tempatnya, jika dari benda
langit itu dapat ditentukan azimuthdan tingginya. Azimuth bintang adalah busur
yang dihitung dari titik selatan ke arah barat sampai titik perpotongan tinggi
bintang itu pada horizon. Besarnya dihitung dari 0 sampai 360 .

Tinggi Bintang
Tinggi bintang adalah sepotong busur pada lingkaran vertical yang melalui

bintang dan besarnya diukur dari titik potong horizon pada lingkaran vertical
tersebut sampai kebintang itu sendiri. Jadi, tinggi bintang, di ukur dari horizon
sampai ke bintang dinyatakan dengan derajat yaitu dari 0

sampai 90 .

Busur lingkaran vertical antara bintang dan zenith disebut jarak zenith. Perhatikan
gambar 3-3

Cara menentukan posisi benda-benda langit yang paling sederhana yaitu


menggunakan bidang horizon dan meridian pengamat sebagai pangkal. Tata
koordinat horizon ini sering disebut koordinat azimuth tinggi bintang.

System ini sangat sederhana serta mudah di bayangkan. Ciri-ciri atau sifatsifat koordinat horizon yaitu:
1.
2.
3.
4.

System koordinat ini tergantung kepada tempat


Azimuth dan tinggi bintang senantiasa berubah-ubah tergantung waktu
Sulit untuk menentukan letak horizon sejati
Horizon sejati dari satu tempat ialah bidang dasar yang melalui pusat bumi
sejajar dengan horizon semu. Di dalam kosmografi horizon sejati inilah
yang di maksud dengan mata angin, yaitu arah SBUT Garis hubung U-S

dan T-B saling berpotongan tegak lurus di titik pusat horizon.


5. Sebagai dasar untuk melukis system koordinat horizon ini marilah kita
pahami istilah-istilah sebagai berikut.
6. Titik pusat bola langit ialah pusat bumi yang berhimpit pula dengan bumi
yang digambar sebagai titik saja.
7. Garis vertikal ialah garis yang ditarik tegak lurus di pusat semu dari
horizon sejati
8. Zenith ialah titik yang berada tepat di atas kita (pengamat) yang
merupakan titik tertinggi (di bola langit) karena berada 90

di atas

horizon.
9. Nadir ialah titik yang berada di bawah kita (pada bola langit) merupakan
titik terendah di bola langit dan berada 90 di bawah horizon.
10. Lingkaran-lingkaran vertikal ialah lingkaran-lingkaran yang dapat di
gambar di bola langit melalui titik-titik zenith dan nadir. Jadi, bergaris
tengahgaris vertikal.
11. Meridian langit ialah bidang vertikal yang melalui titik pusat bumi dan
terletak tegak lurus pada horizon tempat itu juga melalui titik ZTNBZ atau
ZSNUZ (kalua S dan U dinyatakan sebagai titik horizon).
3. Tata Koordinat Ekuator
Dalam system atau tata koordinat ekuator, kita mengamati benda-benda
langit berdasarkan lintang suatu tempat, deklimasi bintang dan Ascencio Recta
bintang. Dalam hal ini perlu diberikan beberapa pengertian atau batasan yang ada

hubungannya dengan tata koordinat ekuator seperti disebutkan diatas, sebagai


berikut:
1. Lintang suatu tempat adalah letak si pengamat, dihitung dari zenith dan
dinyatakan dalam derajat (misalnya 30 LU atau 45 LS). Jadi,
dalam hal ini kita menentukan berapa derajat besarnya lintang tempat
pengamat, dihitung dari zenith.
2. Yang berkaitan dengan lintang suatu tempat adalah tinggi kutub.
Tinggi kutub adalah busur pada bola langit, dihitung dari titik utara (U)
atau selatan (S). besarnya busur ini (tinggi kutub) = besar lintang suatu
tempat pengamat, atau linntang suatu tempat= tinggi kutub langit di
tempat itu. Jadi, jika lintang suatu tempat besarnya = 30 LU, maka
tinggi kutub tempat pengamat = 30 .
Perhatikan gambar berikut ini!

3. Lingkaran deklinasi Ialah lingkaran pada bola langit yang ditarik melalui
kedua kutub Utara dan Selatan. Lingkaran deklinasi mempunyai garis
tengah sumbu langit dan tegak lurus pada ekuator langit.

4. Deklinasi sebuah bintang adalah busur pada lingkaran deklimasi, dihitung


dari ekuator langit sampai ke bintang itu.
Deklinasi positif, jika kea rah kutub utara langit (KUL)
Deklanasi negative, jika kea rah kutub selatan langit (KSL)
5. Ekuator langit adalah ekuator langit pengamat. Busur ekuator langit tegak
urus pada sumbu KUL-KSL atau Ialah lingkaran besar yang bidangnya
melalui titik pusaat bola langit, tegak lurus pada sumbu langit. Jadi garis
tengahnyategak lurus pada kutub langit.
6. Ascencio Recta (AR) suatu bintang adalah busur pada ekuator langit,
dihitung dari titik Aries sampai ke proyeksi bintang itu pada ekuator langit.
Arah dalam mengukur besarnya AR dari titik Aries berlawanan dengan
cara menentukan titik Aries.
7. Titik Aries bisa ditentukan dengan jalan mengalikan waktu bintang (Wb)
dengan 15 . Arahnya dari titik kulminasi ke barat
8. Kutub langit/lintang geografis Ialah busur meridian langit antara horizon
dan kutub busur di atas horizon merupakan perpanjangan kutub
utara/selatan.
9. Titik barat timur (BT) Ialah titik perpotongan lingkaran horizon (lingkaran
datar pada titik US) dengan lingkaran ekuator. Penentuan titiknya apabila
kita menghadap ke utara maka sebelah kanan kita adalah arah timur dan
sebelah kiri kita arah barat.
10. Sudut jam bintang Ialah sudut yang dibentuk oleh bintang deklanasi
bintang dengan bidang meridian langit, sesudah bintang melalui titik
kuliminasi atasnya (berimbang). Sudut ini juga dapat dibaca pada ekuator
langit dari meridian langit sampai kelingkaran deklinasi menurut arah
positif. Besarnya busur ini sama dengan busur antara titik kulminasi ataas
bintang. Sampai ke bintang itu sendiri (pada lingkaran pergeseran Bt
sehari-hari). Jadi, dapat pula dikatakan bahwa sudut jam bintang dari suatu
bintang ialah busur yang ditempuh bintang tersebut setelah mencapai titik
kulminasi atas.
11. Hari bintang dan tanggal bintang Dalam kehidupan sehari-hari yang
dimaskud satu hari ialah lamanya 24 jam dan berhubungan erat dengan
keudukan matahari tiap-tiap hari. Satu hari (sehari-semalam) waktu

matahari ialah waktu yang berselang antara 2 saat matahari mencapai titik
kulminasi bawahnya secara berurutan.
12. Waktu bintang Ialah sudut jam bintang titik aries yang dnyatakan dengan
bilangan jam atau derajat. Waktu bintang suatu tempat mulai pada 00.00,
yakni pada saat titik aries merembang. Jadi, waktu sudut jam titik aries = 0
, jam 01.00 waktu bintang ialah sudut jam titik aries sebesar 1 jam

atau 15 . Dengan kata lain, jika lonceng/waktu astronomi menunjuk


jam n maka sudut jam titik aries adalah n jam atau n x 15 . Jadi rumus
titik aries adalah WB (waktu bintang) x 15 .
4. Gerak semu langit setiap hari
Setiap hari matahari terbit di sebelah timur pada horizon. Makin lama
matahari makin naik (tinggi). Kurang lebih pada pukul 12.00 siang, ia mencapai
titik yang paling tinggi di langit, kemudian turun kea rah barat. Pada sore hari ia
terbenam di sebelah barat pada horizon.
Demikian pula halnya dengan bulan dan bintang-bintang. Kita saksikan bahwa
bola langit itu seakan-akan bergerak dari timur ke barat, padahal sebenarnya
bumilah yang bergeser dari barat ke timur. Perhatikan gambar 3-2.

Apabila kita perhatikan peredaran sehari-hari dari bintang-bintang mulai


dari terbitnya sampai terbenamnya dan hubungkan titik terbit dan titik tebenam,
maka tenyata bahwa semua garis-garis itu sejajar satu sama lain.

Garis Timur-Barat
Salah satu di antara garis-garis ini melalui titik tempat kita berdiri. Garis

inilah yang di sebut garis tengah horizon atau garis tengah bola dan garis inilah
yang dinamakan garis timur-barat. Apabila kita menghadap lurus kea rah utara,
maka di sebelah kanan kita adalah titik timur dan di sebelah kiri kita adalah
wilayah titik barat.

Garis Utara-Selatan
Jika kita tarik sebuah garis tengah yang lain pada horizon yang memotong

garis timur-barat tegak lurus, maka terjadilah garis utara-selatan.

Lingkaran-lingkaran Vertikal
Melalui garis vertical dapat dilukiskan atau ditarik lingkaran-lingkaran

yang tak terhingga banyaknya. Lingkaran-lingkaran tersebut disebut lingkaranlingkaran vertical. Karena aris vertical tegak lurus pada horizon, maka semua

garis vertical tegak lurus juga pada horizon. Semua garis vertical melalui zenith
dan nadir serta membagi lingkaran horizon atas dua bujur yang sama yaitu
masing-masing 180 .

Meridian
Lingkaran-lingkaran vertical itu melalui titik utara dan titik selatan,

lingkaran verikal inilah yang disebut dengan meridian. Jadi meridian adalah
lingkaran vertical yang melalui titik utara dan titik selatan. Lingkaran vertical ini
dengan sendirinya melalui zenith, nadir dan tempat berdiri, lingkaran vertical
utama ialah lingkaran yang melalui titik timur dan titik barat.

C. Lintasan Harian Benda Langit


Bumi kita berputar seperti gasing. Gerak putar Bumi pada sumbu putarnya
ini dinamakan gerak rotasi. Untuk menyelesaikan satu putaran (satu periode
rotasi), dibutuhkan waktu 23 jam 56 menit 4.1 detik. Gerak rotasi Bumi inilah
yang menyebabkan terjadinya siang dan malam dan pergerakan semu bendabenda langit.
Gerak semu langit adalah gerak yang kita amati dari Bumi, dimana bendabenda langit terlihat terbit di timur dan tenggelam di barat. Gerak semu ini
teramati karena Bumi kita yang ber-rotasi dengan arah sebaliknya, dari barat ke
timur. Lintasan gerak benda-benda langit yang terbit di timur dan terbenam di
barat, dinamakan lintasan harian benda langit. Lintasan harian ini terlihat berbeda
jika kita mengamatinya dari lintang berbeda. Jika kita berada tepat di khatulistiwa,
kita akan mengamati lintasan haria benda-benda langit tersebut, tegak lurus
terhadap horizon / ufuk.
Jika kita berada di bumi belahan selatan (sebelah selatan khatulistiwa),
kita akan mengamati lintasan harian benda-benda langit tidak lagi tegak lurus
terhadap horizon, tapi condong ke arah utara. Besarnya kemiringan lintasan harian

ini tergantung sejauh mana kita dari khatulistiwa. Semakin ke arah selatan, maka
garis lintasan gerak harian benda-benda langit akan semakin condong ke arah
utara. Begitu juga sebaliknya jika kita bergerak ke arah utara. Semakin ke utara
dari khatulistiwa, maka semakin besar kecondongan lintasan harian benda-benda
langit itu ke arah selatan.
Gerak semu langit tidak sama periodenya dengan gerak Matahari di langit
(diamati dari Bumi). Gerak semu langit periodenya 23 jam 56 menit 4.1 detik,
sedangkan gerak harian Matahari di langit periodenya 24 jam. Terdapat perbedaan
sekitar 4 menit. Perbedaan ini menyebabkan penampakan langit sedikit berbeda
dilihat pada jam yang sama tiap harinya. Sebagai contoh: misalnya sebuah bintang
hari in terbit pukul 18:00 sore. Maka keesokan harinya ia akan terbit pukul 17:56,
lusa pkul 17:52, dst. Bintang itu akan terbit 4 menit lebih cepat dari hari
sebelumnya. Karena itu, perlahan-lahan penampakan langit akan bergeser dari
hari ke hari. Kira-kira enam bulan dari sekarang, bagian langit yang berada di atas
kepala kita pada (misalnya) jam 9 malam, akan berada di bawah kaki kita. Dengan
kata lain, jika kita mengamati langit dengan waktu pengamatan yang terpisak 6
bulan,kita akan mengamati dua belahan bola ulangit yang berbeda.
Objek-objek langit seperti Matahari, Bulan, dan planet-planet, memiliki
geraknya sendiri diantara bintang-bintang. Matahari bergerak secara perlahan ke
arah timur relatif terhadap bintang-bintang. Karena itu, untuk menyelesaikan satu
putaran mulai dari misalnya posisi tepat di atas kepala kita, terbenam, terbit,
kembali di atas kepala kita, matahari membutuhkan waktu 24 jam (selang waktu
sehari semalam). Bintang-bintang membutuhkan waktu sama denga periode rotasi
Bumi, 23j 56m 4.1d.
Bulan membutuhkan waktu sedikit bervariasi, kira-kira 50 menit lebih
panjang dari 24 jam. Planet-planet bergerak di langit dengan kecepatan yang lebih
besar lagi variasinya, tergantung pada seberapa dekat planet tersebut ke Matahari,
dan dimana posisinya (dalam orbitnya) relatif terhadap Bumi.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bola langit adalah bola khayal dengan radius tak hingga yang tampak
berotasi, konsentrik dan koaksial dengan bumi, dan semua obyek langit
dibayangkan berada pada kulit bola sebelah dalam. Bola langit merupakan suatu
ruang berbentuk bola di mana semua benda langit tampak atau diproyeksikan
pada bidang melengkung tersebut. Bola langit digunakan untuk menentukan posisi
benda-benda langit sehingga memudahkan dalam pengamatan.
Untuk menyatakan letak suatu benda langit diperlukan suatu tata koordinat
yang dapat menyatakan secara pasti kedudukan benda langit. Koordinat-koordinat
tertentu tersebut yang disebut dengan tata koordinat bola langit yang terdiri dari
tata koordinat bumi, tata koordinat horizon, tata koordinat equatorial atau
khatulistiwa. Namun yang sering digunakan dalam astronomi hanya koordinat
horison dan koordinat ekuator. Tiap-tiap tata koordinat memiliki cara penggunaan

sistem yang berbeda serta terdapatnya berbagai macam keuntungan dan


kelemahan dalam penggunaan sistem tersebut.
B. Saran
Demikianlah makalah yang bisa kami paparkan, apabila ada kesalahan
baik dalam segi penulisan maupun isi makalah, kami mengharapkan saran dan
kritikan yang bisa membangun guna kesempurnaan makalah yang berikutnya.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis maupun pembaca. Aamiin.

DAFTAR PUSTAKA
Dr. Ischak. 1989. Geografi 2A Program Inti Kelas 3 Semester 5 SMA. Jakarta: PT.
Intan Pariwara.
Drs. Suwadi, dkk. 1987. Geografi GBPP Edisi 1987 Program Inti Jilid 2A SMA
Kelas 3 Semester 5. Jakarta: Erlangga.
Winardi Sutantyo. 1984. Astrofisika, Mengenal Bintang. Bandung: ITB
Wardiyatmoko, K. 1996. Geografi SMU Jilid 2A untuk SMU Kelas 2 Caturwulan
1 dan 2. Jakarta: Erlangga.