Anda di halaman 1dari 31

PENGENDALIAN KUALITAS PRODUKSI TEH PADA PTPN XII

(PERSERO) KEBUN WONOSARI, KABUPATEN MALANG, PROVINSI


JAWA TIMUR

PROPOSAL MAGANG KERJA

Oleh :
RIDWAN FAUZI
135040100111056
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
MALANG
2016
LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL MAGANG KERJA

Nama

: Ridwan Fauzi

NIM

: 135040100111056

Fakultas / Jurusan

: Pertanian / Sosial Ekonomi Pertanian

Judul/Topik

: Manajemen tata letak Pabrik Teh Pada PTPN XII


(Persero) Kebun Wonosari, Kabupaten Malang,
Provinsi Jawa Timur

Tempat Magang Kerja: Kebun Wonosari PTPN XII, Desa Toyomarto,


Kecamatan Lawang, Kab. Malang, Provinsi Jawa
Timur.
Waktu Pelaksanaan

: Juli - September 2016

Disetujui Oleh:

Pembimbing Lapangan,

Pembimbing Magang Kerja,

(Rachman Hartono, SP. MP.)


NIP 196911281997021001

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal magang kerja yang berjudul
Pengendalian kualitas produksi teh Pada PTPN XII (Persero) Kebun Wonosari,
Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur ini dapat terselesaikan dengan baik.
Proposal ini merupakan prasyarat dalam melaksanakan kegiatan magang kerja
untuk mahasiswa Strata 1 Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
Proposal magang kerja ini dapat terselesaikan dengan adanya bantuan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak terimakasih
kepada:
1. Bapak Rahman Hartono, SP.MP. selaku dosen pembimbing magang kerja atas
bimbingan, arahan, waktu dan motivasi yang diberikan dalam penyelesaian
proposal magang kerja ini.
2. Kedua orang tua dan adik-adik penulis atas semangat, motivasi, dan doa yang
tak pernah putus.
3. Teman-teman atas dukungan dan motivasinya
4. Pihak-pihak lain yang ikut membantu dalam terselesainya proposal magang
kerja ini.
Penulis berharap semoga proposal magang kerja ini dapat bermanfaat bagi
civitas akademika FP UB, PTPN XII, masyarakat, serta pihak lain yang
membutuhkan informasi terkait bahasan ini. Penulis menyadari bahwa dalam
penyusunan proposal magang kerja ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh
karena itu, saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi
perbaikan proposal ini.

Malang, 6 Juni 2016

Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN..............................................................................

KATA PENGANTAR........................................................................................

ii

DAFTAR ISI...................................................................................................... iii


DAFTAR GAMBAR ........................................................................................

DAFTAR TABEL .............................................................................................

vi

I. PENDAHULUAN.............................................................................................

I.1 Latar Belakang........................................................................................

I.2 Tujuan Magang Kerja ............................................................................

I.3 Sasaran Kompetisi..................................................................................

II. TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................

II.1Tinjauan Tentang Teh..............................................................................

2.1.1 Macam-macam Teh........................................................................

2.1.2 Taksonomi Teh...............................................................................

2.2 Tinjauan Tentang Pengolahan Pasca Panen Teh ....................................

2.2.1 Pengolahan Primer atau Pengolahan Hulu Teh .............................

2.2.2 Pengolahan Sekunder atau Pengolahan Hilir Teh..........................

2.3 Tinjauan Tentang Teori Manajemen Produksi dan Operasi....................

2.4 Tinjauan Tentang Kualitas / Mutu .........................................................

2.4.1 Definisi Kualitas / Mutu ...............................................................

2.4.2 Pengaruh Kualitas / Mutu ............................................................. 10


2.4.3 Etika dan Manajemen Kualitas...................................................... 11
2.5 Pengendalian Kualitas............................................................................ 12
2.5.1 Tujuan Pengendalian Kualitas ....................................................... 12
2.5.2 Ruang Lingkup Pengendalian Kualitas ......................................... 13
2.6 Tinjauan Tentang Standarisasi dan Uji Mutu Produksi Teh.................... 14
2.6.1 Syarat Mutu Bahan Baku (Biji Teh Berdasarkan Standar

Nasional Indonesua (SNI) melalui Uji Mutu Fisik Biji Teh.......... 14


2.6.2 Syarat Mutu Bahan Baku melalui Uji Citarasa ............................. 17
2.6.3 Proses Kontrol dan Kontrol Mutu pada Pengolahan Teh Bubuk... 17
2.6.4 Syarat Mutu Produk Teh Olahan ................................................... 18
III.METODE PELAKSANAAN........................................................................... 20
III.1...............................................................................................................Met
ode Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian ......................................... 20
III.2...............................................................................................................Met
ode Pelaksanaan Magang Kerja.............................................................. 20
III.3...............................................................................................................Met
ode Pengumpulan Data .......................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 23
LAMPIRAN...................................................................................................... 24

DAFTAR GAMBAR

No

Teks

Perbedaan

Biji

Teh

Halaman

Arabika

dan

Robusta

.
Tahapan Pengolahan Teh Secara Basah (Kiri) dan Secara
Kering (Kanan)

Proses Produksi Teh Bubuk

Ruang Lingkup Manajemen Produksi dan Operasi.................

DAFTAR TABEL

No

Teks

Halaman

Syarat Mutu Umum Teh ....

15

Syarat Mutu Khusus Teh Arabika .........................................

15

5
6

Syarat Mutu Khusus Berdasarkan Sistem Nilai Cacat

Penentuan Besarnya Nilai Cacat Biji Teh


.
Proses Kontrol dan Kontrol Mutu pada Pengolahan Teh
Bubuk ..
Syarat Mutu Produk Teh Olahan

15

16

18
18

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sektor perkebunan merupakan sektor yang berperan sebagai penghasil
devisa negara, salah satu komoditas perkebunan penghasil devisa adalah
komoditas teh. Teh merupakan salah satu komoditas andalan dalam sektor
perkebunan Indonesia. Peran komoditas teh bagi perekonomian Indonesia cukup
penting, baik sebagai sumber pendapatan bagi petani teh, sumber devisa,
penghasil bahan baku industri, maupun penyedia lapangan kerja melalui kegiatan
pengolahan, pemasaran, dan perdagangan (ekspor dan impor).
Indonesia merupakan negara produsen teh curah pada urutan ke lima di
dunia setelah India, Cina, Sri Lanka, dan Kenya. Pada tahun 2002 total produksi
teh Indonesia mencapai 172.790 ton atau 5,7 persen dari total produksi teh dunia
yang mencapai 3.062.632 ton (International Tea Committee/ITC, 2003). Sebagian
besar produksi teh Indonesia (65%) ditujukan untuk pasar ekspor. Volume ekspor
teh Indonesia sebagian besar (94%) masih dalam bentuk teh curah. Selain sebagai
produsen, Indonesia juga merupakan negara eksportir teh curah pada urutan
kelima di dunia dari segi volume setelah Sri Lanka, Kenya, Cina, dan India. (ITC,
2003)
Beberapa pasar utama teh yang telah dikuasai Indonesia, telah diambil alih
oleh negara produsen teh lainnya. Pasar-pasar yang kurang dapat dipertahankan
Indonesia atau telah diambil alih tersebut adalah Pakistan, Inggris, Belanda,
Jerman, Irlandia, Rusia, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Siria, Taiwan,
Mesir, Moroko, dan Australia (Suprihatini, 2000). Penurunan pangsa volume
ekspor teh Indonesia tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh lemahnya daya
saing teh Indonesia di pasar teh dunia karena sebagian besar teh yang diekspor
masih berupa teh curah dengan kualitas yang masih rendah.
Menurut Feigenbaum (1992: 5-6) dalam AEKI (2011) sistem Manajemen
Mutu Terpadu memberikan arahan dan panduan bagi pelaksanaan kegiatan
peningkatan dan pengendalian mutu. Kendali mutu merupakan salah satu
kekuatan perusahaan yang utama untuk mencapai peningkatan produktivitas total

secara tepat. Disamping itu, dengan pengendalian mutu diharapkan manajemen


perusahaan mampu menyelenggarakan usaha dagang kekuatan dan keyakinan atas
mutu produk atau jasa mereka.
1.2 Tujuan Magang Kerja
Tujuan dari kegiatan magang kerja adalah sebagai berikut:
a. Untuk memahami, mempelajari, mempraktekkan, dan memperoleh
pengalaman kerja pada pelaksanaan dan penerapan manajemen kualitas
produksi teh pada PTPN XII (Persero) Kebun Wonosari, Kecamatan
Singosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.
b. Untuk mencari, memecahkan, dan mempraktekan solusi atau pemecahan
masalah dalam pelaksanaan manajemen kualitas produksi teh yang
diterapkan di PTPN XII (Persero) Kebun Wonosari, Kecamatan Singosari,
Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

1.3 Sasaran Kompetensi


Sasaran kompetensi yang ditargetkan dalam magang kerja ini adalah:
a. Mampu merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi manajemen
kualitas pada produksi teh PTPN XII (Persero) di Kebun Wonosari.
b. Mampu mengidentifikasi permasalahan, memfasilitasi, memediasi, dan
mengembangkan pelaksanaan manajemen mutu pada produksi teh PTPN
XII (Persero) di Kebun Wonosari.
c. Mampu belajar dan berpikir analitik untuk mengidentifikasi, merumuskan
masalah dan akar masalah serta mencari solusi berbasi ilmiah dalam
manajemen kualitas pada produksi teh di PTPN XII (Persero) di Kebun
Wonosari.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Tentang Teh


II.1.1 Jenis Teh berdasar Penggolongannya
Ada 4 (empat) jenis teh yang sudah akrab bagi orang Indonesia: teh
oolong (oolong tea), teh hitam (black tea), teh hijau (green tea), teh putih
(white tea). Keempatnya dibedakan berdasarkan proses pengolahan. Kualitas
teh tinggi apabila dipetik dari lembar pucuk pertama sampai ketiga. Sebab
dalam ketiga lembar daun itu kandungan katekin penambah rasa segar dan
kafein tinggi. Katekin sendiri merupakan senyawa polifenol yang kaya
antioksidan (Mulja, 1995).
Teh oolong merupakan jenis peralihan antara teh hitam dan teh hijau
yang mengalami setengah fermentasi, berbeda dengan proses pengolahan teh
hitam, untuk menghasilkan daun teh yang telah dilayukan kemudian
dipanaskan dengan menggunakan panas api atau udara panas. Setelah proses
pemanasan dilakukan proses fermentasi, selanjutnya dimasukkan dalam mesin
penggulung dan akhirnya dikeringkan. Teh oolong ini tidak dikenal di
Indonesia dan merupakan teh khas Cina dan Taiwan. (Spillane, 1992)
Teh hijau dihasilkan melalui proses pengolahan tanpa proses fermentasi,
hanya melalui proses pengeringan daun setelah dipetik. Pengolahan dilakukan
secara sederhana dengan proses pemanasan yang menggunakan alat yang
sederhana pula. Sebelum dikonsumsi, umumnya teh hijau dicampur dengan
daun melati yang telah dikeringkan. Pencampuran ini berguna untuk
menghilangkan bau yang tidak dapat hilang akibat tidak difermentasi.
(Spillane, 1992)
Teh hitam adalah teh yang dihasilkan dari proses fermentasi (proses
pemeraman) yang merupakan ciri khasnya. Teh hitam ini dihasilkan dari proses
pelayuan (witehring) untuk menurunkan kadar air dan memudahkan
penggulungan pada proses berikutnya. Pada proses penggulungan, daun teh
disortasi untuk memisahkan daun yang berukuran besar dan kecil dengan
tujuan agar proses fermentasi dapat dilakukan dengan sempurna dan merata

hasilnya. Kemudian dilakukan fermentasi dalam ruang khusus yang dijaga


kelembabannya. Setelah proses fermentasi, daun teh dikeringkan dalam mesin
pengering yang dialiri udara panas. (Spillane, 1992)
Teh putih atau white tea merupakan teh dengan proses pengolahan
paling sederhana, yaitu pelayuan dan pengeringan. Bahan baku yang digunakan
untuk proses pembuatan teh putih inipun hanya berasal dari pucuk dan dua
daun dibawahnya. Pelayuan dapat dilakukan dengan memanfaatkan panas dari
sinar matahari. Biasanya proses pelayuan ini mampu mengurangi kadar air
sampai 12%. Selanjutnya, daun teh yang sudah layu dikeringkan menggunakan
mesin pengering. Pucuk teh kemudian akan menjadi jenismutu silver needle,
sedangkan dua daun di bawahnya akan menjadi white poeny. (Rohdiana, 2015)

II.1.2 Taksonomi Teh


Tanaman teh tergolong tanaman perdu, sistem perakaran teh adalah akar
tunggang. Tangkai putik bercabang tiga, panjangnya kurang lebih 1 cm dan
berwarna hijau kekuningan. Daun teh merupakan daun tunggal dan memiliki
panjang 415 cm dan lebar 25 cm. Helai daun berbentuk lanset dengan ujung
meruncing dan bertulang menyirip. Pangkal daun runcing dan tepinya lancip
bergerigi. Daun muda yang berwarna hijau muda lebih disukai untuk produksi
teh. Daun teh mempunyai rambut-rambut pendek putih di bagian bawah daun.
Daun tua berwarna lebih gelap (Magambo & Cannell,1981).
Menurut

Graham

(1984),

tanaman

diklasifikasikan sebagai berikut:


Kerajaan

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta (tumbuhan biji)

Sub divisi : Angiospermae (tumbuhan biji terbuka)


Kelas

: Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah)

Sub Kelas : Dialypetalae


Bangsa

: Guttiferales (Clusiales)

Suku

: Camelliaceae (Tehaceae)

Marga

: Camellia

teh

Camellia

sinensis

Jenis
: Camellia sinensis
II.2 Pemetikan
Fungsi dari pemetikan pucuk tanaman teh agar memenuhi syarat-syarat
pengolahan dimana tanaman mampu membentuk suatu kondisi yang berproduksi
secara berkesinambungan. Kecepatan pertumbuhan dari tunas baru tergantung dari
tebal lapisan daun pendukung pertumbuhan tunas 15-20 cm. Kecepatan
pembentukan tunas menentukan aspek-aspek pemetikan seperti: jenis pemetikan,
jenis petikan, daun petik, areal petik, tenaga petik, dan pelaksanaan pemetikan.
Pada Gambar disajikan penamaan daun teh agar aspek-aspek pemetikan mudah
dimengerti.

Gambar 14. Penamaan daun teh.


Pemetikan teh adalah pengambilan pucuk meliputi: 1 kuncup + 2-3 daun muda.
Akibat pucuk dipetik maka pembuatan zat pati berkurang untuk pertumbukan
tanaman. Pemetikan pucuk akan menghilangkan zat pati sekitar 7,5%, semakin
kasar pemetikan semakin tinggi kehilangan zat pati. Kehilangan zat pati akibat
pemetikan pucuk tidak akan mengganggu pertumbuhan tanaman asalkan lapisan
daun pemeliharaan cukup untuk melakukan proses asimilasi.
II.2.1 Macam dan Rumus Pemetikan
Macam petikan didasarkan pada mutu pucuk yang dihasilkan tanpa
memperhatikan bagian yang ditinggalkan, sedangkan rumus digambarkan
dengan lambang huruf dan angka. Macam dan rumus petikan ditentukan
berdasarkan:
(1) Petikan imperial, dimana hanya kuncup peko (p) yang dipetik (p+0),
(2) Petikan pucuk pentil, peko+satu daun di bawahnya (p+1m),
6

(3) Petikan halus, peko+satu/dua lembar daun muda/burung dengan satu


lembar daun muda (p+2m, b+1m),
(4) Petikan medium, (p+2m, p+3m, b+1m, b+2m, b+3m),
(5) Petikan kasar (p+3, p+4, b+1t, b+2t, b+3t)
(6) Petikan kepel, daun yang tinggal pada perdu hanya kepel (p+n/k, b+n/k).
II.2.2 Jenis Pemetikan
Dalam satu daur pangkas jenis pemetikan dapat dibagi atas: pemetikan
jendangan dan pemetikan produksi. Nama pemetikan jendangan bila pemetikan
dilakukan pada tahap awal setelah pemangkasan tanaman. Tinggi bidang petik
jendangan dari bidang pangkasan tergantung pada tinggi pangkasan.
(1) Pangkasan 40-45 cm, tinggi jendangan 20-25 cm,
(2) Pangkasan 45-50 cm, tinggi jendangan 15-20 cm,
(3) Pangkasan 50-55 cm, tinggi jendangan 15-20 cm,
(4) Pangkasan 55-60 cm, tinggi jendangan 10-15 cm,
(5) Pangkasan 60-65 cm, tinggi jendangan 10-15 cm.
Pemetikan jendangan dapat dilaksanakan apabila 60% areal telah memenuhi
syarat untuk dijendang. Biasanya pemetikan jendangan dilakukan setelah 10
kali pemetikan, kemudian dilanjutkan dengan pemetikan produksi.
Sedangkan pemetikan produksi dapat dilakukan terus menerus dengan jenis
petikan tertentu sampai pangkasan dilakukan. Berdasarkan daun yang
ditinggalkan, pemetikan produksi dapat dikategorikan sebagai berikut:
(1) pemetikan ringan, apabila daun yang tertinggal pada perdu satu atau dua
daun di atas kepel (rumus k+1 atau k+2),
(2) pemetikan sedang, apabila daun yang tertinggal pada bagian tengah perdu
tidak ada, tetapi di bagian pinggir ada satu atau dua daun di atas kepel
(rumus k+o pada bagian tengah, k+1 pada bagian pinggir),
(3) petikan berat, apabila tidak ada daun yang tertinggal pada perdu di atas
kepel (k+0). Umumnya yang dilakukan hanya pemetikan sedang dengan
bidang petik rata.

II.2.3 Jenis Petikan


Maksud dari jenis petikan yaitu macam pucuk yang dihasilkan dari pelaksanaan
pemetikan. Berdasarkan jumlah helaian daun, jenis petikan terdiri atas
beberapa kategori, seperti tersaji pada Gambar 15.
(1) Petikan halus, pucuk peko (p) dengan satu daun, atau pucuk burung (b)
dengan satu daun muda (m), rumus p+1 atau b+1m.
(2) Petikan medium, pucuk peko dengan dua atau tiga daun muda, serta pucuk
burung dengan satu, dua atau tiga daun muda (p+2, p+3, b+1m, b+2m,
b+3m).
(3) Petikan kasar, pucuk peko dengan lebih empat daun dan pucuk burung
dengan beberapa daun tua (t) { (p+4 atau lebih, b+(1-4t)}.

Gambar 15. Jenis petikan: (1) petikan halus, (2) petikan


medium, (3) petikan kasar.
II.2.4 Daur Petik
Pengertian tentang daur petik adalah jangka waktu pemetikan yang pertama
dan jadwal selanjutnya. Lamanya waktu daur petik tergantung pertumbuhan
pucuk teh.Beberapa faktor yang menentukan pertumbuhan pucuk teh antara
lain:
a. Umur pangkas yang makin lambat berakibat pada daur petik yang
semakin panjang.
b. Makin tinggi letak kebun pertumbuhan semakin lambat sehingga daur
petik jadi panjang.
c. Daur petik lebih panjang pada musim kemarau dibanding musim hujan.
d. Tanaman makin sehat maka daur petik lebih cepat dibandingkan dengan
yang kurang sehat.

II.3 Pengolahan Pasca Panen Teh


Untuk menghasilkan teh yang bermutu tinggi, penanganan pucuk teh
yang dipanen sebagai bahan baku perlu ditangani sebaik mungkin sebelum
diproses dari kebun sampai ke pabrik. Saat ini pucuk teh sesuai dengan pasaran
ada yang dibuat teh hitam, teh hijau, teh oolong dan teh wangi. Selain itu cita rasa
teh juga disajikan dalam berbagai produk kemasan dan minuman langsung di
dalam restauran dengan cara mencampur dengan bahan yang membuat rasa teh
bertambah enak. Kegiatan pengelolaan dan pemeliharaan tanaman semuanya
bertujuan untuk menghasilkan kualitas catechin dan caffein yang tinggi karena
senyawa ini berperan dalam rasa, warna, dan aroma.
II.3.1 Jenis Teh berdasarkan Pengolahannya
Berdasarkan proses pengolahannya, jenis teh dapat dibedakan menjadi teh
tanpa fermentasi (teh putih dan teh hijau), teh semi fermentasi (teh oolong),
serta teh fermentasi (teh hitam).

II.3.1.1

Teh Oolong

Teh oolong adalah teh hasil semioksidasi enzimatis alias tidak


bersentuhan lama dengan udara saat diolah. Teh oolong terletak diantara teh
hijau dan teh hitam. Fermentasi terjadi namun hanya sebagian (30 70 %).
Hasilnya, warna teh menjadi cokelat kemerahan. Teh oolong biasa disajikan
dalam upacara pernikahan dan sebagai teman menyantap hidangan laut.

Sebelum menjadi teh oolong yang kering dan dapat dikonsumsi secara
praktis, teh tersebut mengalami beberapa tahapan proses yaitu:
1. Proses Pemetikan
Proses ini dilakukan dengan tangan agar lebih selektif. Kalau dengan alat
pemotong, misalnya ani-ani yang digunakan untuk memanen padi,
batang keras pun kemungkinan besar akan ikut terpotong.
2. Proses pelayuan
Proses pelayuan ini dilakukan dengan menggunakan sinar matahari
selama 90 menit. Kemudian dipaparkan di dalam ruangan untuk
dilakukan kembali proses pelayuan selama 4-8 jam.
3. Proses pengeringan
Pada proses pengeringan dilakukan dengan Panning System, hal ini
bertujuan untuk inaktivasi enzim agar fermentasi tidak sempurna atau
fermentasinya parsial.
4. Proses peggulungan
Proses peggulungan ini dilakukan dengan sistem open top roller selama
5- 12 menit. Tujuannya adalah untuk memecah sel daun sehingga
menghasilkan rasa sepat. Tapi proses penggulungannya tidak sampai
hancur seperti pada proses teh hitam (pada bagian penggilingan)
(Sujayanto, 2008).
II.3.1.2 Teh Hijau
Teh hijau diolah tanpa mengalami oksidasi, tidak memberi

kesempatan terjadinya fermentasi. Setelah layu daun teh langsung digulung,


dikeringkan, dan siap untuk dikemas. Biasanya pucuk teh diproses langsung
dengan uap panas (steam) atau digoreng (pan frying) untuk menghentikan
aktivitas enzim. Warna hijau tetap bertahan dan kandungan taninnya relatif
tinggi. (Sujayanto, 2008).
Sebelum menjadi teh hijau yang kering, teh hijau ini juga mengalami
beberapa proses yaitu:
1. Proses Pemetikan
Proses ini dilakukan dengan tangan agar lebih selektif. Kalau dengan
alat pemotong misalnya ani-ani yang digunakan untuk memanen
padi, batang keras pun kemungkinan besar akan ikut terpotong.
10

2. Proses Pelayuan
Proses selanjutnya adalah pelayuan. Proses ini bertujuan untuk
inaktivasikan enzim polifenol oksidase dan mengurangi kadar air
hingga 60-70 %. Proses ini dilakukan dengan system rotary panner
dengan panas 80-100oC selama 2-4 menit.
3. Proses Penggulungan
Proses peggulungan ini dilakukan dengan sistem open top roller
selama 15-17 menit. Tujuannya adalah untuk memecah sel daun
sehingga menghasilkan rasa sepet. Tapi proses penggulungannya
tidak sampai hancur seperti pada proses teh hitam (pada bagian
penggilingan).
4. Proses Pengeringan
Proses selanjutnya adalah pengeringan yang dilakukan dalam dua
tahap. Tahap pertama dilakukan pada suhu 110-135oC selama 30
menit. Tahap berikutnya pemanasan 70-90o C dalam waktu 60-90
menit, selanjutnya proses sortasi dan pengemasan (Sujayanto, 2008).
II.3.1.3

Teh Hitam

Teh hitam didapat dari hasil penggilingan yang menyebabkan daun terluka
dan mengeluarkan getah. Getah itu bersentuhan dengan udara sehingga
menghasilkan senyawa tea flavin dan tearubigin. Artinya, daun teh
mengalami perubahan kimiawi sempurna sehingga hampir semua kandungan
katekin terfermentasi menjadi tea flavin dan tearubugin. Warna hijau bakal
berubah menjadi kecoklatan dan selama proses pengeringan menjadi hitam.
Tea flavin menurunkan warna merah kekuning-kuningan dalam setiap
seduhan, tearubigin memberi kombinasi warna coklat kemerahan dan kuning.
Soal rasa seperti katekin, tea flavin memberi kesegaran (Sujayanto, 2008).
Sebelum menjadi teh hitam yang kering daun-daun teh tersebut telah
melewati berbagai proses yaitu:
1. Proses Pemetikan
Proses ini dilakukan dengan tangan agar lebih selektif. Kalau dengan
alat pemotong misalnya ani-ani yang digunakan untuk memanen padi,
batang keras pun kemungkinan besar akan ikut terpotong.

11

2. Proses Pelayuan
Proses selanjutnya adalah pelayuan. Proses ini bertujuan untuk
mengurangi kadar air sehingga kandungan enzim dalam pucuk teh
lebih kental. Proses ini dilakukan pada tempat pelayuan (witehring
trough) berupa kotak persegi panjang beralaskan kawat kasa. Di
bawah kawat kasa ini terdapat blower penghembus udara kearah kasa.
Pucuk daun teh dibeberkan di atas witehring trough dengan ketebalan
30 cm, bagian permukaannya harus rata agar pelayuan merata.
Hembusan udara tadi dapat menerbangkan air dalam daun teh. Proses
pelayuan berlangsung 7- 24 jam. Untuk mencapai kadar air yang
diinginkan maka dilakukan proes pembalikan. Langkah ini juga
supaya pucuk teh tidak terbang tertiup blower. Kemudian hamparan
pucuk teh dibongkar untuk dimasukkan ke dalam conveyor (semacam
corong yang dihubungkan dengan alat penggiling). Lalu teh
dimasukkan ke dalam tong plastik lantas diletakkan ke ban berjalan
untuk masuk ke ruang giling.
3. Proses Penggilingan
Setelah itu daun masuk ke mesin penggilingan. Yaitu Green Leaf
Shifter, pada proses ini pucuk teh masuk ke mesin getar. Dengan
demikian pucuk teh terpisahkan dari ulat, kerikil, pasir dan serpihan
lain melalui perbedaan berat jenisnya. Pucuk teh tersebut masuk ke
conveyor untuk mengalami proses penggilingan awal dengan mesin
BLC (Barbora Leaf Conditioner), dimana pucuk teh dipotong menjadi
serpihan kecil-kecil sebagai prakondisi untuk proses penggilingan
selanjutnya menggunakan mesin Crush Tear & Curl (CTC) dan agar
fermentasi dapat berlangsung dengan lancar. Out put yang dihasilkan
adalah berupa bubuk teh basah berwarna hijau.
4. Proses Fermentasi
Proses ini lebih tepat disebut oksidasi enzimatik. Mesin bekerja
membeber bubuk daun teh basah hingga terpapar oksigen sehingga
terjadi perubahan warna. Pada ujung fermentasi teh akan berwarna
kecoklatan. Selain perubahan warna juga terjadi perubahan aroma, dari

12

bau daun menjadi harum teh. Proses ini berlangsung selama 1-5 jam
dengan suhu optimal 26 - 27oC.
5. Proses Pengeringan
Tujuan dari proses ini adalah untuk menghentikan reaksi oksidasi
enzimatik pada daun teh. Selain itu juga untuk membunuh
mikroorganisme yang beresiko terhadap kesehatan. Pengeringan ini
juga dapat membuat teh tahan lama disimpan karena kadar air yang
rendah dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Pengeringan
dilakukan dengan menggunakan oven besar Fluid Bed Dryer (FBD),
dengan suhu masuk 100 - 120oC dan suhu keluarnya 80 - 105oC
selama 15 - 20 menit. Sehingga kadar airnya hanya 2,5 - 3 % saja di
dalam teh, selanjutnya proses sortasi dan pengemasan (Sujayanto,
2008).
II.3.1.4

White Tea

Teh putih atau white tea merupakan teh dengan proses pengolahan
paling sederhana, yaitu pelayuan dan pengeringan. Bahan baku yang
digunakan untuk proses pembuatan teh putih inipun hanya berasal dari pucuk
dan dua daun dibawahnya. Dari teh ini diambil dari pucuk daun yang masih
menggulung yang memiliki kandungan katekin dan kafein paling tinggi.
(Sujayanto, 2008).
II.4 Tinjauan Tentang Teori Manajemen Produksi dan Operasi
Manajemen adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk mencapai
tujuan dengan menggunakan atau mengkordinasikan kegiatan-kegiatan orang lain.
Dalam pengertian ini terdapat tiga unsur penting, yaitu adanya orang lebih dari
satu, adanya tujuan yang ingin dicapai, dan orang yang bertanggung jawab akan
tercapainya tujuan tersebut.
Manajemen produksi dan operasi merupakan kegiatan untuk mengatur dan
mengkordinasikan penggunaan sumber-sumber daya yang berupa sumber daya
manusia, sumber daya alat dan sumber daya dana serta bahan, secara efektif dan
efisien, untuk menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang atau
jasa. Dari uraian di atas, dapatlah dinyatakan bahwa manajemen produksi dan
operasi merupakan proses pencapaian dan pengutilisasian sumber-sumber daya

13

untuk memproduksi atau menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa yang berguna


sebagai usaha untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Sasaran dari
organisasi itu antara lain adalah untuk mempeoleh tingkat laba tertentu atau
memaksimalisasi laba, memberikan pelayanan dengan tingkat pelayanan yang
baik, serta berupaya dan berusaha untuk menjamin eksistensi dari organisasi
tersebut.

Gambar 4. Ruang Lingkup Manajemen Produksi dan Operasi

II.5 Tinjauan Tentang Kualitas/Mutu


II.5.1 Definisi Kualitas/Mutu
Kualitas merupakan suatu istilah relatif yang sangat bergantung pada
situasi. Ditinjau dari pandangan konsumen, secara subyektif orang mengatakan
kualitas adalah sesuatu yang cocok dengan selera. Sedangkan menurut Juran
(1962) dan Krajewski (1987) dalam Zulian (2007) menyatakan bahwa ditinjau
dari sudut pandang produsen, kualitas dapat diartikan sebagai kesesuaian
dengan spesifikasinya. Suatu produk akan dinyatakan berkualitas oleh
produsen, apabila produk tersebut telah sesuai dengan spesifikasinya.
Kesesuaian mencakup beberapa unsur, yaitu : (a) sesuai dengan spesifikasi

14

fisiknya, misalnya ciri khusus, kekerasan, teknologi. (b) sesuai dengan


prosedurnya, dan (c) sesuai dengan persyaratannya.
Mutu (kualitas) dalam kerangka ISO 9000 didefinisikan sebagai ciri dan
karakter menyeluruh dari suatu produk atau jasa yang mempengaruhi
kemampuan produk tersebut untuk memuaskan kebutuhan tertentu. Hal ini
berarti bahwa kita harus dapat mengidentifikasikan ciri dan karkter produk
yang berhubungan dengan mutu dan kemudian membuat suatu dasar tolok ukur
dan cara pengendaliannya.
Kualitas dianggap sangat penting bagi organisasi karena sebagai berikut:

Meningkatkan reputasi perusahaan, perusahaan yang telah menghasilkan


suatu produk atau jasa yang berkualitas akan mendapat predikat sebagai
organisasi yang mengutamakan kualitas.

Penurunan biaya, dengan menghasilkan produk yang berkualitas, akan


tercapai sebuah kegitan produksi yang efektif dan efisien. Karenaproduk
yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan. Selain
itu dengand diterapkannya quality control yang ketat perusahaan akan
terhindar dari kegiatan yang tidak menghasilkan produk atau jasa yang
tidak dibutuhkan oleh pelanggan.

Peningkatan pangsa pasar, pangsa pasar suatu organisasi akan tercapai bila
minimalisasi biaya tercapai, karena organisasi, atau perusahaan dapat
menekan harga, walaupun kualitas tetap menjadi yang utama.

Pertanggung jawaban produk, dengan semakin meningkatnya persaingan


kualitas produk atau jasa yang dihasilkan, maka organisasi akan dituntut
untuk semakin bertanggung jawab terhadap desain, proses, dan
pendistribusian produk tersebut untuk memenuhi kebutuhan dan harapan
pelanggan.

Dampak internasional, bila suatu organisasi dapat menawarkan produk


atau jasa yang bekualitas, maka selain dikenal dipasar lokal, produk atau
jasa yang ditawarkan juag akan dikenal dan diterima di pasar internasional.

Penampilan

produk

atau

jasa

dan

mewujudkan

kualitas

yang

dirasakan, kualitas akan membuat suatu produk dikenal, dan hal ini akan
15

membuat perusahaan atau organisasi yang menghasilkan produk atau


menawarkan jasa yang juga dikenal dan dipercaya masyarakat luas.
Dalam penerapan manajemen kualitas, perusahaan perlu mendapat
dukungan dari semua pihak yang ada didalamnya. Penerapan norma-norma
manajemen yang ada dapat memantau terlaksananya proses produksi. Dengan
adanya penerapan norma manajemen kerjasama dalam perusahaan dapat
meningkatkan mutu kualitas dalam seluruh aspek.
Dalam membangun sistem mutu sekurang-kurangnya diperlukan
kesiapan sumberdaya manusia (SDM), penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK), sarana dan pra-sarana, serta administrasi (pencatatan dan
dokumentasi). SDM memegang peran yang sangat vital dalam pengendalian
mutu, oleh karena perlu dipersiapkan SDM terlatih yang paham tentang mutu
teh dan sistem mutu dalam jumlah cukup. Mutu citarasa teh ditentukan oleh
banyak faktor mulai dari penggunaan bibit, pemeliharaan tanaman, panen,
pengolahan pasca panen, sampai di tingkat penyimpanan di gudang. Oleh
karena itu, penguasaan IPTEK di bidang pra panen dan pasca panen sangat
penting dalam sistem mutu. Sarana dan prasarana seperti alat pengambil contoh
dan laboratorium penguji mutu lengkap dengan alat ukur kadar air, mesin
penyangrai contoh biji, dll. Perlu dipersiapkan dengan baik. Administrasi
sumber daya dan kegiatan dalam sistem mutu perlu dilakukan dengan baik,
terutama dalam hal pencatatan dan dokumentasi.
II.5.2 Pengaruh Kualitas/Mutu
Menurut Heizer, Jay dan Barry Render (2008), selain sebagai elemen
penting dalam operasi, kualitas juga memiliki pengaruh lain. Ada tiga alasan
yang menyebabkan kualitas itu penting, diantaranya adalah:
a. Reputasi Perusahaan
Suatu organisasi menyadari bahwa reputasi akan mengikuti kualitas
apakah itu baik atau buruk. Kualitas akan muncul sebagai persepsi
tentang produk baru perusahaan, kebiasaan pekerjaannya, dan hubungan
pemasoknya. Promosi tidak akan dapat menggantikan produk berkualitas.
b. Kehandalan Produk

16

Produk dan jasa yang dirancang, diproduksi, dan diedarkan harus produk
yang berkualitas, artinya penggunaannya tidak mengakibatkan kerusakan
atau kecelakaan. Peraturan seperti Consumer Product Safety Act
membuat standar produk dan melarang produk yang tidak dapat
memenuhi standar tersebut misalnya makanan tidak bersih yang
menyebabkan penyakit.
c. Keterlibatan Global
Di masa teknologi modern seperti sekarang ini, kualitas adalah suatu
perhatian internasional. Bagi perusahaan dan negara yang ingin bersaing
secara efektif pada ekonomi global, produk mereka harus memenuhi
ekspektasi akan kualitas, desain, dan harga secara global.
II.5.3 Etika dan Manajemen Kualitas
Menurut Heizer, Jay dan Barry Render (2008), bagi manajer operasi,
salah satu pekerjaan adalah memberikan produk dan jasa yang sehat, aman, dan
berkualitas kepada pelanggan. Karena kurangnya proses desain dan produksi,
pengembangan produk-produk berkualitas rendah tidak hanya mengakibatkan
biaya produksi yang lebih tingi, tetapi juga dapat menimbulkan kecelakan,
tuntutan hokum, dan bertambahnya peraturan pemerintah.
Ada banyak pihak berkepentingan yang terlibat dalam produksi dan
pemasaran produk-produk berkualitas rendak, termasuk pemegang saham, para
pekerja, pelanggan, pemasok, distributor, dan kreditor, dalam hal etika, pihak
manajemen harus menanyakan apakah para pihak yan berkepentinga ini
disalahkan. Setiap perusahaan harus mengembangkan nilai inti yang menjadi
panduan sehari-hari untuk semua orang, mulai dari CEO sampai pekerja di lini
produksi.
II.6 Pengendalian Kualitas
II.6.1 Tujuan Pengendalian Kualitas
Menurut

Prawirosentono

(2002)

dalam

Anggraeny

(2010),

pengendalian mutu dalam suatu perusahaan mempunyai tujuan ganda, yakni


selain untuk memperoleh mutu produk atau mutu jasa yang sesuai dengan
standar, sehingga pengolahan mutu suatu produk sebenarnya bertujuan untuk
menjaga pangsa pasar yang telah dikuasai, bahkan bila mungkin pangsa pasar
17

tersebut

diperluas.

Implikasi

yang

diharapkan

adalah

menjaga

keberlangsungan hidup perusahaan dengan usaha meningkatkan volume


penjualan dan keuntungan.
Tujuan pokok dari pengendalian kualitas/mutu adalah untuk
mengetahui sampai seberapa jauh proses dan basil produk dan jasa yang
dibuat sesuai dengan standar yang ditetapkan perusahaan. Pengendalian mutu
merupakan upaya untuk mencapai dan mempertahankan standar bentuk,
kegunaan,

dan

warna

yang

direncanakan.

Dengan

perkataan

lain,

pengendalian mutu ditujukan untuk mengupayakan agar produk atau jasa


akhir sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Dalam pengendalian mutu ini, semua kondisi barang diperiksa
berdasarkan standar yang ditetapkan. Bila terdapat penyimpangan dari standar
dicatat untuk dianalisis. Hasil analisis pengendalian mutu tersebut digunakan
untuk dijadikan pedoman atau perbaikan sistem kerja sehingga produk yang
bersangkutan

sesuai

dengan

standar

yang

ditentukan.

Pelaksanaan

pengawasan mutu dan kegiatan produksi harus dilaksanakan secara terusmenerus untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyimpangan dari
rencana standar agar dapat dengan segera diperbaiki. Maksud dari
pengawasan mutu adalah agar standar spesifikasi produk yang telah
ditetapkan sebelumnya tercermin dalam hasil produk akhir.
Secara umum tujuan pengawasan mutu adalah sebagai berikut:
a. Produk akhir mempunyai spesifikasi sesuai dengan standar mutu yang
telah ditetapkan.
b. Agar biaya desain produk, biaya inspeksi, dan biaya proses produksi dapat
berjalan secara efisien.
Bila dua hal tersebut dapat terlaksana, yakni produk yang dihasilkan bermutu
baik dengan harga jual yang logis maka perusahaan dapat meningkatkan daya
saingnya.
II.6.2 Ruang Lingkup Pengendalian Kualitas/Mutu
Menurut Prawirosentono (2002) dalam Anggraeny (2010), kegiatan
pengendalian mutu merupakan bidang pekerjaan yang sangat luas dan

18

kompleks karena semua variabel yang memengaruhi mutu harus diperhatikan.


Secara garis besar, proses kegiatan pengendalian mutu pada berbagai jenjang
kegiatan yang berhubungan dengan mutu antara lain :
a. Pengendalian Mutu Bahan
Mutu bahan akan sangat memengaruhi hasil akhir dari barang yang
dibuat. Bahan baku dengan mutu yang jelek akan menghasilkan mutu
barang yang jelek. Sebaliknya, bahan baku yang baik dapat menghasilkan
barang yang baik. Pengendalian mutu bahan harus dilakukan sejak
penerimaan bahan baku di gudang, selama penyimpanan, dan waktu
bahan baku akan dimasukkan dalam proses produksi (work in process).
Kelainan mutu bahan baku akan memberi akibat mutu produk yang
dihasilkan berada di luar standar mutu yang direncanakan.
b. Pengendalian Mutu dalam Proses Pengelolaan
Sesuai dengan DAP (Diagram Alur Produksi) dapat dibuat tahap-tahap
pengendalian mutu sebelum proses produksi berlangsung. Dalam
membuat suatu produk diperlukan beberapa urutan proses produksi agar
produk yang dihasilkan dapat sesuai dengan yang direncanakan. Tiap
tahap proses produksi diawasi sehingga kesalahan yang terjadi dalam
proses produksi dapat diketahui, untuk selanjutnya segera dilakukan
perbaikan (koreksi).
Terdapat beberapa cara pengendalian mutu selama proses produksi
berlangsung. Misalnya melalui contoh (sampel), yakni hasil yang diambil
pada selang waktu yang sama. Sampel tersebut dianalisis secara statistik
untuk memperoleh gambaran apakah sampel tersebut sesuai dengan yang
direncanakan atau tidak. Bila tidak sesuai berarti proses produksinya
salah. Selanjutnya, kesalahan tersebut harus diteruskan kepada operator
(pelaksanaan) untuk dilakukan perbaikan. Pengawasan dilakukan
terhadap seluruh tahapan proses produksi dari awal hingga akhir tanpa
kecuali. Bila salah satu tahapan produksi diabaikan berarti pengendalian
mutu tidak cermat. Di sinilah perlunya kerja saling mendukung antara
karyawan satu dengan yang lain, termasuk pihak manajemen

19

c. Pengendalian Mutu Produk Akhir


Produk akhir harus diawasi mutunya sejak keluar dari proses produksi
hingga tahap pengemasan, penggudangan, dan pengiriman ke konsumen.
Dalam memasarkan produk, perusahaan harus berusaha menampilkan
produk yang bermutu. Hal ini hanya dapat dilaksanakan bila atas produk
akhir tersebut dilakukan pengecekan mutu agar produk rusak (cacat)
tidak sampai ke tangan konsumen.

III.

METODE PELAKSANAAN

3.1 Metode Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian


Pemilihan lokasi Magang Kerja di PT. Perkebunan Nusantara XII
(Persero), dilakukan secara sengaja (purposive). Kegiatan magang kerja ini akan
dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara XII (Persero), yang bertempat di
wilayah kerja Kebun Wonosari desa Toyomarto, Kabupaten Malang, Provinsi
Jawa Timur. Magang Kerja dilaksanakan selama tiga bulan yaitu, pada bulan Juli
sampai dengan September 2016. Adapun pelaksanaan magang kerja sesuai dengan
jam kerja di perusahaan tersebut.
3.2 Metode Pelaksanaan Magang Kerja
Magang kerja dilakukan di PT. Perkebunan Nusantara XII wilayah kerja
Kebun Wonosari. Supervisi dilakukan oleh setiap pembimbing dengan ketentuan
bahwa supervisi penuh dilakukan oleh pembimbing lapang. Pembimbing lapang
diharapkan menjadi petunjuk utama bagi peserta dalam menguasai bidang yang
sedang dipelajari dan berhak menegur serta mengarahkan peserta magang jika
terdapat

suatu

kesalahan.

Sedangkan

pembimbing

mahasiswa

bertugas

memastikan bahwa peserta telah bekerja sesuai dengan prosedur magang yang
telah ditentukan.
Metode yang akan digunakan pada pelaksanaan kegiatan magang di PT.
Perkebunan Nusantara XII wilayah kerja Kebun Wonosari adalah sebagai berikut:
1)

Praktik Kerja Langsung

20

Melakukan kegiatan praktik kerja langsung di PT. Perkebunan Nusantara XII


wilayah kerja Kebun Wonosari, khususnya pada kegiatan yang berhubungan
dengan konsentrasi agribisnis yaitu kegiatan produksi dan operasi komoditas
Teh.
2) Diskusi dan Wawancara
Melakukan diskusi dan wawancara melalui komunikasi langsung dengan
pendamping praktik lapangan dan pekerja / staf perusahaan yang ada yang
berkaitan dengan kegiatan agribisnis di PT. Perkebunan Nusantara XII
wilayah kerja Kebun Wonosari. Metode ini dilakukan dengan cara
mendiskusikan segala permasalahan yang ada di lapang yang berhubungan
dengan konsentrasi agribisnis, khususnya yang berkaitan dengan manajemen
produksi dan operasi, pengolahan panen dan pasca panen teh pada umumnya,
dan proses pengawasan mutu produksi teh.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data dalam melaksanakan magang kerja
adalah sebagai berikut:
1) Data Primer
Data diperoleh secara langsung dari sumber yang diamati, dimana dalam
hal ini sumber yang diamati adalah perusahaan. Data diperoleh melalui metode
wawancara, dimana metode wawancara yang digunakan ada dua, meliputi
wawancana mendalam dan terstruktur, serta observasi partisipatif.
a. Wawancara Mendalam
Yaitu perolehan data dilakukan dengan cara tanya jawab secara langsung
kepada narasumber yaitu karyawan perusahaan dan atau pembimbing
lapang sehingga diperoleh data yang akurat seperti proses produksi dan
operasi, panen dan pasca panen teh, pengawasan mutu teh, dan lainnya.
b. Wawancara Terstruktur
Yaitu wawancara kepada responden dengan menggunakan daftar
pertanyaan atau kuisioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Untuk
hasil wawancara menggunakan kuisioner ini, data yang diperoleh
dikumpulkan kemudian diberi skor atau nilai.
21

c. Observasi Paritisipatif
Observasi atau pengamatan secara langsung, digunakan untuk mengetahui
fakta yang terjadi di daerah penelitian berdasarkan pengamatan secara
langsung di perusahaan. Observasi ini dilakukan melalui pengamatan
langsung dengan membandingkan kondisi data dengan kondisi sebenarnya
di perusahaan.

2) Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang digunakan sebagai data pendukung untuk
menunjang data primer sebagai pelengkap penulisan laporan yang diperoleh dari
bukti-bukti yang relevan. Data ini diperoleh secara langsung dari pustaka,
penelitian terdahulu, bukti bukti relevan dan lembaga atau instansi terkait yang
berhubungan dengan penelitian ini. Data ini bertujuan untuk mengetahui kondisi
umum lokasi penelitian.Pengambilan data sekunder yang digunakan untuk
mengambil data adalah dengan cara dokumentasi dan pustaka yang berkaitan
dengan manajemen kualitas (quality control) teh pada PTPN XII wilayah kerja
kebun Wonosari.
3) Dokumentasi
Dokumentasi adalah salah satu alat kelengkapan data yang bertujuan untuk
menunjang informasi yang sudah di dapat dilapang sehingga deskripsi dan
argumentasi yang diungkapkan dapat meyakinkan. Dokumentasi ini dapat berupa
foto, data kegiatan perusahaan dan lain sebagainya terkait aktivitas yang
dilakukan saat magang.

22

DAFTAR PUSTAKA

Anonymousa. 2008. Manajemen Kualitas. (online). http://huangcorp.wordpress.


com/2008/04/29/manajemen-kualitas-quality-management/. Diakses pada
tanggal 6 Juni 2016.
Anonymousb.

2014.

Kualitas

dan

Manajemen

Kualitas.

(online).

http://scm.aurino. com/kualitas-dan-manajemen-kualitas/. Diakses pada


tanggal 6 Juni 2016.
Heizer, Jay dan Barry Render. 2008. Operation Management. Jakarta:Salemba
Empat
Prawirosentono, Sujadi. 2002. Filosofi Baru Tentang Manajemen Mutu Terpadu
Total Quality Management. Bumi Aksara. Jakarta.
Tjiptono, Fandy dan Diana, Anastasia. 2005. Total Quality Manajemen.
Yogyakarta : Andi.
Yamit, Zulian. 2001. Manajemen Kualitas Produk dan Jasa. Yogyakarta :
Ekonisia.

23

LAMPIRAN
DATA PRIBADI
Nama

Ridwan Fauzi

NIM

135040100111056

Tempat / Tanggal Lahir

Banyuwangi, 18 Pebruari 1994

Jenis Kelamin

Laki-laki

Tinggi / berat

170 cm / 80 kg

Agama

Islam

Kewarganegaraan

Indonesia

Alamat Asal

RT 004 / RW 001, dusun Ngadirejo, desa Bulurejo,


kecamatan Purwoharjo, kabupaten Banyuwangi

Alamat Malang

Jl. Mertojoyo Barat No. 10, Lowokwaru, Malang

Telepon

085748765551

Email

Ridwanfau18@gmail.com

Nama Perguruan Tinggi

Universitas Brawijaya

Fakultas

Pertanian

Jurusan / Prodi

Agribisnis

Semester

7 ( tujuh)

AlamatPerguruan Tinggi

Jl. Veteran Malang 65145

No. Telp./ Fax

(0341) 575 843 dan 551 611/(0341) 569 237

Rumpun/ Bidang

Manajemen Analisis Agribisnis

Judul Topik Magang Kerja Identifikasi Manajemen Kualitas (Quality Control) Teh
Pada PT. Perkebunan Nusantara XII (Persero) Wilayah
Kerja Kebun Wonosari, Desa Toyomarto, Kabupaten
Malang
Deskripsi Singkat Topik

Mengidentifikasi dan mengetahui manajemen kualitas


(Quality Control) teh dalam bidang produksi dan operasi
Pada PT. Perkebunan Nusantara XII (Persero) Wilayah
Kerja Kebun Wonosari, Desa Toyomarto, Kabupaten
Malang

24