Anda di halaman 1dari 9

PEMBUATAN SABUN CAIR ANTISEPTIK DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK MANGROVE JENIS PEDADA (Sonneratia alba)

MAKING ANTISEPTIC LIQUID SOAP WITH THE ADDITION OF FRUIT EXTRACTS MANGROVE TYPES PEDADA (Sonneratia alba)

Ermianti T, Muh. Novrizal dan Wisnu Murti P Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas sabun cair antiseptik dengan penambahan ekstrak buah mangrove jenis pedada (Sonneratia alba) terhadap aktivitas bakteri pada permukaan tangan. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah buah mangrove pedada (Sonneratia alba). Dari hasil analisa laboratorium didapatkan data pH sabun cair sebesar 6,5 yang jika dibandingkan dengan produk perlindungan kulit dengan keasaman 3-6 sabun cair ini dapat membantu memulihkan kondisi awal kulit dengan cepat. Berat jenis sebesar 1,02 g/mL yang masih dalam batas aman sesuai SNI 06-4085-1996 sehingga sabun dengan mudah larut dalam air dan tidak meninggalkan residu di permukaan kulit atau lingkungan. Viskositas sabun cair sebesar 700 cPs masih sesuai dengan standar viskositas sabun cair (400-4000 cPs). Perhitungan ALT swab diperoleh hasil sebelum dan sesudah menggunakan sabun adalah 4,4 x 10 1 dan dibawah range perhitungan ALT swab sehingga tidak dapat dihitung, hasil ini menunjukan adanya penurunan aktivitas bakteri di permukaan tangan yang sesuai dengan SNI

2332-8-2010.

Kata kunci : Pedada (Sonneratia alba), Sabun cair, Antiseptik

ABSTRACT This research aims to determine the effectiveness of antiseptic liquid soap with the addition of fruit extracts mangrove types pedada (Sonneratia alba) on the activity of bacteria on the surface of the hand. Material that used in this study is the fruit of mangrove pedada (Sonneratia alba). From the result of laboratory analysis showed that acidity of liquid soap is 6,5, which is when compared with skin protection products with the acidity of the liquid soap 3-6 will help restore the initial condition of the skin quickly. Scale density 1.02 g / mL which is within the limits of SNI 06-4085-1996 it makes this soap dissolves easily in water and leaves no residue on the skin or environment. Viscosity of 700 cPs liquid soap is still in accordance with the standard viscosity liquid soap (400- 4000 cPs). ALT swab calculation results obtained before and after using the soap is 4.4 x 101 and below range calculation ALT swab that can not be calculated, the results showed a decrease in the activity of the bacteria on the surface of the hand in accordance with SNI 2332-8-2010.

Keywords : Pedada (Sonneratia alba), Liquid soap, Antiseptic

PENDAHULUAN Mangrove merupakan komunitas tanaman yang hidup di habitat payau yang berfungsi melindungi garis pantai dan menjadi habitat berbagai hewan perairan. Mangrove termasuk tanaman sejati karena memiliki akar, batang, daun, dan buah (Nagelkerken et al. 2008). Kebanyakan masyarakat di Indonesia belum mengetahui buah mangrove. Salah satu jenis mangrove yang menghasilkan buah adalah pedada (Sonneratia alba). Buah pedada banyak ditemui di daerah perairan payau yang merupakan tempat bertumbuhnya tanaman mangrove. Sabun adalah garam natrium atau kalium dari asam lemak yang berasaldari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun dapat berwujud padat atau cair. Sabun cair adalah bahan yang komponen utamanya trigliserida dan sabun cair ini mampu mengemulsikan air, kotoran/minyak. Sabun cair efektif untuk mengangkat kotoran yang menempel pada permukaan kulit baik yang larut air maupun larut lemak. Antiseptik atau germisida adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan yang hidup seperti pada permukaan kulit dan membran mukosa.

BAHAN DAN METODA Penelitian dilakukan tanggal 15 februari 2016 sampai dengan 24 maret 2016, bertempat di workshop pengolahan, laboratorium kimia pangan dan laboratorium mikrobiologi Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta.

Alat dan Bahan Alat alat yang digunakan dalam pembuatan sabun cair antiseptik ekstrak mangrove adalah vacum dryer, penggiling, rotary evaporator, orbital shaker, aerator, magnetic stirrer, hot plate, erlenmeyer, kertas saring dan pisau. Bahan yang digunakan unuk proses pembuatan sabun cair mangrove adalah buah mangrove jenis pedada (Sonneratia alba), texaphon (Sodium Lauryl Sulfat), NaCl, Na 2 SO 4, Asam Sitrat, Gliserin, EDTA, Pewarna dan Pewangi.

Metode Penelitian Pembuatan ekstrak mangrove Mangrove diiris tipis dan dikeringkan dengan vacum dryer, hasil pengeringan digiling hingga halus. Campurkan serbuk mangrove dengan etanol dengan perbandingan 1 : 3. Kocok dengan orbital shaker selama 24 jam, lalu saring dengan kertas saring. simplisia mangrove lalu di rotary evaporator selama ± 1 jam hingga menjadi pasta dan diairasi dengan airator selama 1 malam.

Pembuatan Sabun Cair Mangrove Aquades dipanaskan dengan hotplate dan stirer dengan suhu 80-90 o C, tambahkan ekstrak mangrove dan homogenkan. Tambahkan Texaphon (Sodium Lauryl Sulfat), EDTA, NaCl, Na 2 SO 4, gliserin, dan asam sitrat secara berurutan dan homogenkan secara berkala setiap dilakukan penambahan larutan. Tambahkan pewarna dan pewangi sebagai bahan tambahan sabun. Tunggu hingga larutan sabun dingin.

Pengujian Sabun cair Pengujian Hedonik sampel sabun cair mangrove 0,1 gr, 0,3 gr, 0,5 gr dan control diujikan kepada 30 orang panelis. Panelis menilai dengan skala skor 1-9 tergantung kesukaan masing masing panelis. Pengujian didasarkan pada parameter kenampakan, kekentalan, warna, aroma dan busa. Hasil lalu dirata rata untuk mendapat formula terbaik. Pengujian Mutu Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui mutu sabun cair sesuai dengan standar SNI sabun cair 06-4085-1996. Pengujian yang dilakukan yaitu pengujian pH ( derajat keasaman ) dengan menggunakan pH meter, pengujian Viskositas dengan viskometer, pengujian bobot jenis dengan cara menghitung bobot jenis terhadap penambahan ekstrak dan pengujian ALT swab dengan cara pengujian ALT koloni bakteri.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan Ekstrak Mangrove

Mangrove Pemotongan
Mangrove
Pemotongan

Pengeringan

(Vacum Dryer)

Digiling (Mesin Penggiling)

Pengeringan (Vacum Dryer) Digiling (Mesin Penggiling) Peniupan (Airator) Pemisahan ekstrak dan pelarut (Rotary
Peniupan (Airator)
Peniupan
(Airator)

Pemisahan ekstrak dan pelarut (Rotary Evaporator)

Maserasi

(Orbital Shaker)

dan pelarut (Rotary Evaporator) Maserasi (Orbital Shaker) Pembuatan Sabun cair Aquades 80 ml + Ekstrak mangrove
dan pelarut (Rotary Evaporator) Maserasi (Orbital Shaker) Pembuatan Sabun cair Aquades 80 ml + Ekstrak mangrove

Pembuatan Sabun cair

Aquades 80 ml + Ekstrak mangrove

Pembuatan Sabun cair Aquades 80 ml + Ekstrak mangrove Penambahan 1 (stirrer 10- 40’, suhu 90

Penambahan 1 (stirrer 10-40’, suhu 90-100°C)

mangrove Penambahan 1 (stirrer 10- 40’, suhu 90 -100°C) Texaphon 10 gr Penambahan 2 (stirrer 10-
mangrove Penambahan 1 (stirrer 10- 40’, suhu 90 -100°C) Texaphon 10 gr Penambahan 2 (stirrer 10-

Texaphon 10 gr

Penambahan 2 (stirrer 10-40’, suhu 90-100°C)

10 gr Penambahan 2 (stirrer 10- 40’, suhu 90 -100°C) Penambahan 3 (stirrer 10- 40’, suhu

Penambahan 3 (stirrer 10-40’, suhu 70-80°C)

90 -100°C) Penambahan 3 (stirrer 10- 40’, suhu 70 -80°C) EDTA 0,5 gr 2 g r
90 -100°C) Penambahan 3 (stirrer 10- 40’, suhu 70 -80°C) EDTA 0,5 gr 2 g r
90 -100°C) Penambahan 3 (stirrer 10- 40’, suhu 70 -80°C) EDTA 0,5 gr 2 g r

EDTA 0,5 gr90 -100°C) Penambahan 3 (stirrer 10- 40’, suhu 70 -80°C) 2 g r N A C

2 g r N A C L 2 gr NACL

40’, suhu 70 -80°C) EDTA 0,5 gr 2 g r N A C L 1 ,
40’, suhu 70 -80°C) EDTA 0,5 gr 2 g r N A C L 1 ,

1 , 5 g r N a 2 S O 4 1,5 gr Na 2 SO 4

3 ml Glisering r N A C L 1 , 5 g r N a 2 S O

C L 1 , 5 g r N a 2 S O 4 3 ml Gliserin

1 g r A s . S i t r a t 1 gr As. Sitrat

4 tetes

fragrance

Pewarna &1 g r A s . S i t r a t 4 tetes fragrance Penambahan

Penambahan 4 stirrer 10-40’, suhu 70-80°C)

& Penambahan 4 stirrer 10- 40’, suhu 70 -80°C) Penambahan 5 (stirrer 10- 40’, suhu 70

Penambahan 5 (stirrer 10-40’, suhu 70-90°C)

70 -80°C) Penambahan 5 (stirrer 10- 40’, suhu 70 -90°C) Penambahan 6 (stirrer 10- 40’, suhu

Penambahan 6 (stirrer 10-40’, suhu 70-90°C)

70 -90°C) Penambahan 6 (stirrer 10- 40’, suhu 70 -90°C) Penambahan 7 (stirrer 10- 40’, suhu

Penambahan 7 (stirrer 10-40’, suhu 70-90°C)

10- 40’, suhu 70 -90°C) Penambahan 7 (stirrer 10- 40’, suhu 70 -90°C) Penambahan Aquades hingga

Penambahan Aquades hingga 100 ml

Sabun Cair
Sabun Cair

Pengujian Hedonik Penentuan nilai hedonik dilakukan oleh panelis dengan menggunakan panca indra. Pengujian hedonik dilakukan untuk menghasilkan sabun cair ekstrak mangrove yang paling disukai oleh konsumen

Tabel 1. Nilai hedonik sabun cair ekstrak mangrove.

Faktor uji

Control

Mangrove

Mangrove

Mangrove

0,1 gram

0,3 gram

0,5 gram

Warna

5,3

5,8

5,2

4,9

Kekentalan

4,2

4,0

5,7

6,4

Aroma

6,0

6,1

5,4

5,9

Kenampakan

5,2

5,3

5,4

5,8

Busa

3,9

4,1

5,5

6,5

Rata rata

4,92

5,0

5,4

5,9

1. Warna

Pada saat dilakukan uji hedonik didapatkan nilai pada uji warna 4,9. Pada uji warna panelis kurang menyukai warna pada sabun cair dengan penambahan 0,5 gr dikarenakan semakin banyak pasta mangrove yang ditambahkan warna pada sabun cair akan semakin memudar tidak terlalu terang seperti sabun cair lainnya dengan penambahan 0,1 gr dan 0,3 gr. Dengan konsentrasi yang sama warna ini dihasilkan dari penambahan pewarna pada sabun. Pewarna berfungsi untuk memberikan efek yang menarik bagi konsumen untuk mencoba sabun ataupun membeli sabun dengan warna yang menarik (Lestari, 2014).

2. Kekentalan

Pada uji kekentalan didapatkan nilai 6,4 dan para panelis sangat menyukai kekentalan pada penambahan mangrove 0,5 gr dikarenakan semakin banyak mangrove yang ditambahkan kedalam sabun cair kekentalan sabun itu akan semakin bertambah. Massa buah mangrove mempengaruhi kekentalan produk karena semakin bertambah konsentrasi mangrove maka akan semakin besar pula massa produk sabun cair. Kekentalan produk merupakan salah satu faktor penting bagi konsumen ketika memilih sabun cair. Hal ini berkaitan dengan persepsi konsumen bahwa produk sabun cair yang rendah viskositasnya akan cenderung boros untuk digunakan (Mariana, 2006).

3. Aroma

Pada uji hedonik panelis lebih suka dengan aroma penambahan mangrove 0,1 dengan nilai 6,1. sedangkan aroma penambahan 0,5 gr didapatkan nilai 5,9 dan panelis tidak terlalu suka dengan penambahan mangrove 0,5 gr. Hal ini dikarenakan semakin banyak mangrove yang ditambahkan aroma parfumnya semakin memudar. Mangrove memiliki aroma khas sehingga akan berpengaruh pada fragrance (parfum) yang di masukan dalam produk, aroma mangrove akan bercampur dengan fragrance dan mereduksi aroma dari fragrance tersebut. Aroma parfum penting bagi penerimaan konsumen produk sabun. Parfum juga mengandung beberapa komponen termasuk asam karboksilat, ester, aldehid,

keton, dan glikol 5 dimana pemilihan komponen dapat mempengaruhi stabilitas dan kemampuan proses produk akhir (Apriyani, 2013).

4.

Kenampakan

Pada saat dilakukan uji hedonik pada kenampakan didapatkan nilai 5,8. Panelis sangat suka dengan kenampakan 0,5 gr karena kenampakannya sangat bagus dari penambahan mangrove yang lainnya. Kenampakan suatu produk merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan image suatu produk di mata

konsumen. Umumnya konsumen cenderung memilih produk yang memiliki penampakan yang baik. Penampakan sabun cair akan mempengaruhi penilaian konsumen terhadap produk (Gandasasmita, 2009).

5.

Busa

Pada uji hedonik busa didapatkan nilai 6,5 dan panelis sangat suka dengan stabilitas busa pada mangrove 0,5 karena semakin banyak penambahan pasta mangrove, busa yang didapatkan akan semakin banyak. Hal ini karena mangrove jenis pedada mengandung senyawa saponin dari tumbuhan adalah glikosida dari triterpene dan steroid, yang larut dalam air dan mempunyai kemampuan membentuk buih sabun bila dikocok di air (Mahato et al., 1988 dalam Purnobasuki, 2004). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sabun cair dengan penambahan ekstrak mangrove jenis pedada dengan penambahan jumlah 0,5 gr mangrove sebagai penambahan yang paling disukai oleh panelis dengan rincian warna, kekentalan, aroma, kenampakan, dan busa.

Pengujian Mutu

1. Uji Viskositas Proses ini bertujuan untuk menunjukan sifat fisik dari suatu produk. Selain itu

viskositas juga dapat menunjukan kestabilan produk. Pengujian ini menggunakan viskometer dengan spindle no. 3 dengan kecepatan putar 30 rpm selama 3 menit.

Tabel 2. Hasil uji viskositas

No

Sample

Hasil

1

Control

500

2

Mangrove 0,1 gr

610

3

Mangrove 0,3 gr

660

4

Mangrove 0,5 gr

700

Dari pengujian viskositas yang dilakukan didapatkan hasil terbaik yaitu 700 cPs, dengan spindle no.3, kecepatan putar 30 rpm selama 3 menit hal ini menunjukan hasil masih dalam batas normal. Nilai viskositas untuk produk sabun mandi cair umumnya berkisar antara 400-4000 cPs (Suryakusumah, 2006).

2. Uji Bobot Jenis

Pengujian bobot jenis dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan konsenterasi ekstrak mangrove terhadap bobot jenis sabun cair. Bobot jenis merupakan rasio bobot suatu zat baku dengan volume yang sama dengan suhu yang sama dan dinyatakan dalam desimal. penting untuk membedakan antara

kerapatan dan bobot jenis. Kerapatan adalah massa per satuan volume, yaitu bobot zat per satu volume (Ansel, 2006).

Tabel 3. Hasil uji bobot jenis

No

Sample

Hasil

1

Control

1,03 gr/ml

2

Mangrove 0,1 gr

1,02 gr/ml

3

Mangrove 0,3 gr

1,12 gr/ml

4

Mangrove 0,5 gr

1,12 gr/ml

Berdasarkan SNI 06-4085-1996 bobot jenis sabun cair yang memenuhi persyaratan yaitu sebesar 1,01-1,10. Hasil pengujian terbaik yang didapat pada praktek pembuatan sabun cair mangrove jenis pedada yaitu 1,02 gr / ml. Jadi hasil pengujian bobot jenis yang dilakukan masih memenuhi syarat mutu SNI sabun mandi cair yaitu 1,01-1,10.

3. Uji pH

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keasaman produk sabun cair terhadap pengaruhnya pada kulit manusia. Derajat keasaman (pH) berfungsi

sebagai parameter penting pada produk kosmetika, kerena pH dapat mempengaruhi daya absorsi kulit.

Tabel 4. Hasil uji pH

No

Sample

pH

1

Control

6,0

2

Mangrove 0,1 gr

6,2

3

Mangrove 0,3 gr

6,4

4

Mangrove 0,5 gr

6,5

Nilai pH sabun mandi cair mangrove jenis pedada yang dihasilkan adalah 6,5. Nilai pH yang dihasilkan memenuhi persyaratan mutu SNI 06-4085-1996, yaitu berkisar antara 6-8. Produk kosmetika yang memiliki nilai pH yang sangat tinggi atau sangat rendah dapat menambah daya absorsi pada kulit sehingga mengakibatkan kulit iritasi, oleh karena itu produk kosmetika perawatan diri sebaiknya dibuat dengan menyusuaikan dengan pH kulit, yaitu berkisar 4,5-7,0 (Wasitaatmadja, 1997).

Pengujian Tingkat Antiseptik Sabun Cair

1. Pengujian ALT Swab

Hasil pengujian didapat data :

:

Tabel 5. Hasil uji ALT swab sebelum memakai sabun cair

No

Pengenceran

Mangrove 0,5 gr

1.

10

-1

TBUD

7

2.

10

-2

44

7

Tabel 6. Hasil uji ALT swab sesudah memakai sabun cair

No

Pengenceran

Mangrove 0,5 gr

1.

10

-1

7

5

2.

10

-2

7

5

Hasil perhitungan ALT cemaran bakteri diperoleh koloni bakteri sebesar 4,4 x 10 1 koloni/gram sebelum menggunakan sabun cair, dan setelah menggunakan sabun cair koloni bakteri tidak bisa dihitung karena sangat sedikit dan tidak memenuhi range syarat perhitungan ALT swab koloni bakteri yang berkisar antara 25-250. Hasil tersebut memenuhi persyaratan mutu SNI 06-4085-1996, yaitu <1 x 10 5 koloni/gram. Hasil ini membuktikan bahwa aktivitas antibakteri dari sabun cair ekstrak mangrove masih efektif membunuh dan mengurangi koloni bakteri yang terdapat di tangan. Hal tersebut dikarenakan pedada mengandung senyawa steroid, saponin, flavonoid dan tannin. Senyawa saponin dari tumbuhan adalah glikosida dari triterpene dan steroid, yang larut dalam air dan mempunyai kemampuan membentuk buih sabun bila dikocok di air. Saponin berfungsi sebagai spermisida, antimikrobia, anti peradangan, dan aktivitas sitotoksik (Mahato et al., 1988 dalam Purnobasuki, 2004). Saponin mampu sebagai anti mikroba karena dapat merendahkan tegangan permukaan (Surface tenstn) dengan hidrolisis lengkap akan dihasilkan sapogenin (aglikon) dan karbohidrat (heksosa, pentose, dan Saccharic acid) (Kim Nio,1989). Sejumlah mikroba pada sabun cair mangrove jenis pedada yang dihasilkan, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang pertama yaitu, pH, dan pada proses pembuatannya dilakukan pemanasan pada suhu70-90 0 C. Kondisi ini bukan kondisi optimum untuk pertumbuhan bakteri atau mikroba ( BSN, 1996). Hasil yang di dapatkan karena pada proses sterilisasi dilakukan dengan menggunakan peralatan yang telah disterilisasikan terlebih dahulu, dan semaksimal mungkin untuk menghindari kontaminasi.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Pembuatan sabun cair mangrove dimulai dengan pembuatan pasta mangrove yang selanjutnya akan ditambahkan dalam proses pembuatan sabun. Pembuatan sabun dilakukan dengan pencampuran bahan bahan kimia serta ektrak mangrove dengan cara di stirer dan dipanaaskan dengan hotplate. Konsentrasi sabun terbaik adalah dengan penambahan 0,5 gram berdasarkan hasil uji hedonik yang menghasilkan nilai 5,9 dengan hasil warna 4,9, kekentalan 6,4, aroma 5,9, kenampakan 5,9 dan busa 6,5.

2. Mutu sabun cair dengan beberapa parameter uji kimia telah memenuhi persyaratan sabun mandi SNI 06-4085-1996. Hasil uji bobot jenis, viskositas dan pH dengan skema berturut-turut menghasilkan 1,02 g/ml, 700 cPs, 6,5.

3. Hasil pengujian ALT Swab jumlah bakteri sebelum dan sesudah memakai sabun cair mangrove 4,4 x10 1 dan dibawah range perhitungan ALT bakteri (25-250). Sehingga sabun cair mampu membunuh dan menurunkan aktivitas bakteri dan layak untuk digunakan karena memenuhi SNI 06-4085-1996.

Saran

1. Sarana dan prasarana yang mendukung diperlukan agar penelitian tentang aktivitas antibakteri pada sabun cair dapat terlaksana dengan baik dan berlajut.

2. Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai daya awet sabun cair dengan berbagai parameter.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2013.

Antiseptik.

ferbruari2016)

https://id.wikipedia.org/wiki/Antiseptik.

(20

Anonim. 2013. Sodium Sulfat. https://id.wikipedia.org/wiki/Sodium_sulfat. (20 ferbruari 2016)

Ansel, C Howard. 2006. Kalkulasi Farmasetik. Penerbit Buku Kedokteran EGC :

Jakarta

2013. Formulasi Sediaan Sabun mandi Cair Minyak Atsiri Jeruk Nipis

(Citrus aurantifolia) dengan Cocamid DEA Sebagai surfaktan. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta. Badan Standarisasi Nasional. 1996. SNI 06-4085-1996. Sabun Mandi Cair. Jakarta: Dewan Standardisasi Nasional. Badan Standarisasi Nasional. 2010. SNI 2332-8-2010. Cara uji mikrobiologi - Bagian 8: Penentuan jumlah bakteri pada permukaan ikan dan peralatan pengolahan ikan (the swab technique). Jakarta: Dewan Standardisasi Nasional. Gandasasmita, H D Putra. 2009. Pemanfaatan Kitosan dan Karageenan ada Produk Sabun Cair. IPB. Bogor Gunawan. 2002. Simplisia. Dep Kesehatan RI. Jakarta Harbone J B. 1987. Metode Fitokimia Penentuan Cara Modern menganalisa Tumbuhan Diterjamahkan Oleh Kosasi Padmawinata.Bandung. ITB Holinda, A. 2014.Makalah Maserasi.Universitas Indonesia Timur Fakultas Farmasi. Kim Nio, Ocy.,1989. Zat-zat toksik yang secara alamiah ada pada tumbuhan nabati. Cermin Dunia Kedokteran, No.58. Lestari, S. 2014. Makalah Pembuatan Sabun Cair. http://sinthalestari.blogspot. co.id/2014 /05/makalah-pembuatan-sabun-cair.html. ( 28 maret 2016). Lewis and M.P.F.E Lewis.1977. Medical Botany Plants Affecting Man’s Health. A Wiley Interscience. New York Kematangan dan Analisis Kadar Lemak Buah Peada. http//diaha0887.student.ipb.ac.id.2010. Mahato, S.B., S.K. Sarkar and G. Poddar. 1988. Triterpenoid saponin. Phytochemistry 27: 3037-3067 Manalu, R D Elsa. 2011. kadar beberapa vitamin pada buah pedada (sonneratia caseolaris) dan hasil olahannya. IPB. Bogor. Mariana. 2006. Perilaku Konsumsi Sarapan Pagi dan Makanan Jajanan Serta Status Gizi Siswa SLTP Negeri 17 dan SLTP Perguruan Budi Satrya di Kecamatan Medan Tembung Tahun 2006. Skripsi Gizi Kesehatan Masyarakat. FKM USU. Nix DH. 2005. Wound Care: Factors To Consider When Selected skin Cleansing Products. http://www.wocn.org/ (20 februari 2016)

Apriani, D

Priyono, A, Dkk. 2010. Berbagai Olahan Berbahan Dasar Mangrove. Semarang :

KeSEMaT. Purnobasuki, H. 2004. Potensi Mangrove Sebagai Tanaman Obat. FMIPA. UNAIR. Surabaya.

Rachman, D. 2009. Jenis-Jenis Ekstraksi.http://www.blogpribadi.com. 28 Oktober

2010.

Santoso N, Kusmana C, Sudarma D, Sukmadi R. 2008. Ekologi tumbuhan pidada (Sonneratia caseolaris (L) Engler 1987) pada kawasan Muara Angke propinsi daerah khusus ibu kota Jakarta. Jurnal KKMN . Jakarta, 5 September 2008. Suryakusumah Nyi Raden Nia, K. Palikasi Agar agar rumput laut (Gelidium sp) sebagai pengental dalam formulasi sabun mandi cair. Skripsi. IPB. Bogor Wasitaadmadja. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI-Press.