Anda di halaman 1dari 5

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Karet
Karet adalah tanaman perkebunan tahunan berupa pohon batang lurus. Tanaman
karet dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian antara 1-600 meter diatas
permukaan laut, dengan suhu harian 25-30O C. Derajad keasaman tanah yang paling
cocok untuk ditanami tanaman karet adalah 5-6. Pohon karet pertama kali tumbuh
di brazil, Amerika Selatan. Namun, setelah percobaan beberapa kali oleh Henry
Wickham, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, dimana tanaman ini
banyak dikembangkan sehingga sampai sekarang. Asia merupakan sumber karet
alami. Di Indonesia, tanaman karet mulai dicoba dibudidayakan pada tahun 1876.
Awalnya, karet ditanam di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman baru untuk untuk
dikoleksi. Selanjutnya, karet dikembangkan menjadi tanaman perkebunan dan
tersebar dibeberapa daerah.
Klasifikasi botani tanaman karet adalah sebagai berikut:
Divisi

: Spermatophyta

Sub Divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotylodenae

Keluarga

: Euphorbiaceae

Genus

: Hevea

Spesies

: Hevea Brasiliensis

Tanaman karet berasal dari bahasa latin bernama Havea brasiliensis yang berasal
dari negara Brazil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan tanaman karet
alam dunia. Indonesia merupakan negara penghasil karet kedua terbesar di dunia,
dengan areal perkebunan karet yaitu sekitar 3,4 juta ha pada tahun 2008 dengan
produksi mencapai 2,76 juta ton (Dirjen Perkebunan, 2008).
2.2.

Biji Karet

Pada industri karet, hasil utama yang diambil dari tanaman karet adalah lateks.
Sementara itu biji karet masih belum dimanfaatkan dan dibuang sebagai limbah.
Padahal biji karet tersedia dalam jumlah yang banyak. Setiap pohon tanaman karet
dapat menghasilkan 800 biji karet pertahun. Jika lahan seluas 1 hektar, dapat

ditanami

sebanyak 400 pohon karet. Maka untuk lahan seluas 1 hektar

diperkirakan dapat menghasilkan 5.050 kg biji karet per tahunnya (Siahaan, et al.,
2011). Biji karet masak terdiri dari 70% kulit buah dan 30% biji karet. Biji karet
terdiri dari

40% tempurung dan 60% tempurung daging biji, dimana variasi

proporsi kulit dan daging buah tergantung pada kesegaran biji. Biji karet yang segar
memiliki kadar minyak yang tinggi dan kandungan air yang rendah. Akan tetapi biji
karet yang terlalu lama disimpan akan mengandung kadar air yang tinggi sehingga
menghasilkan minyak dengan mutu yang kurang baik. Biji segar terdiri dari 34,1%
kulit, 41,2% isi dan 24,4% air, sedangkan pada biji karet yang telah dijemur selama
dua hari terdiri dari 41,6% kulit, 8% air, 15,3% minyak da 35,1% bahan kering
(Swem, 1964). Biji karet mengandung sekitar 4050%-b minyak nabati dengan
komposisi asam lemak yang dominan adalah asam oleat dan asam linoleat,
sementara sisanya berupa asam palmitat, asam stearat, asam arachidat dan asam
lemak lainnya.
Kandungan Biji Karet Pada umumnya minyak tersusun atas tiga molekul asam
lemak yang bersenyawa dengan satu molekul gliserin, sehingga sering disebut
dengan trigliserida. Suatu trigliserida dapat mengandung hanya satu macam asam
lemak atau dua sampai tiga macam asam lemak.
Tabel 2.2.1 Komposisi Asam Lemak Minyak Biji Karet

Biji karet selama ini kurang dimanfaatkan hingga nyaris terbuang-buang begitu
saja. Dikebanyakan perkebunan, biji karet hanya dibiarkan begitu saja jatuh dari
pohonnya dan paling-paling hanya menjadi mainan anak-anak. Padahal bila
dimanfaatkan akan cukup menguntungkan karena jumlahnya melimpah ruah.
Dengan luas areal tanaman karet terbesar didunia, yaitu hampir mencapai 3 juta ha

dan bila 1 ha kebun bisa menghasilkan tak kurang dari 5.000 biji karet setiap tahun,
maka betapa banyaknya biji karet yang bisa diolah. Bila jumlah yang begitu besar
ini tidak diolah, maka selain terbuang percuma juga akan mengotori areal
perkebunan karet (Tim Penabar Swadaya, 2007). Biji karet terdapat dalam setiap
ruang buah. Buah karet berbentuk kotak tiga atau empat. Setelah berumur enam
bulan buah akan masak dan pecah sehingga biji karet terlepas dari batoknya. Biji
karet mempunyai bentuk ellipsoidal, dengan panjang 2,5-3 cm, yang mempunyai
berat 2-4 gram/biji. Biji karet terdiri dari 40-50% kulit yang keras berwarna coklat,
50-60% kernel yang berwarna putih kekuningan. Kernel biji karet terdiri dari 4050% minyak, 2,71% abu, 3,71% air, 22,17% protein dan 24,21% karbohidrat
sehingga biji karet berpotensi digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Akan tetapi,
kandungan air yang cukup besar dalam biji karet dapat memicu terjadinya hidrolisa
trigliserida menjadi asam lemak. Oleh sebab itu, biji karet perlu dikeringkan
terlebih dahulu sebelum dipres untuk diambil minyaknya (Ikwuagwu et. all.,
2000).
2.2.1. Kandungan Protein Biji Karet
Dilihat dari komposisi kimianya, ternyata kandungan protein biji karet
terhitung tinggi. Dari hasil analisa diketahui kadar proteinnya sebesar 24,21%, air
3,71%, abu 2,71%, thiamin 450g, asam nikotinat 2,5g, karoten dan tokoferol
250g, dan sianida sebanyak 330 mg dari setiap 100 g bahan. Selain kandungan
proteinnya cukup tinggi, pola asam amino biji karet juga sangat baik. Semua asam
amino esensial yang diperlukan tubuh terkandung didalamnya. Agar biji karet dapat
dimanfaatkan, maka harus diolah dulu menjadi konsentrat. Konsentrat adalah hasil
pemekatan fraksi protein biji karet yang kadar sebenarnya sudah tinggi menjadi
lebih tinggi lagi. Dalam proses pembuatannya, fraksi protein dibuat lebih tinggi
kadarnya dengan mengurangi atau menghilangkan lemak atau komponenkomponen non protein lain yang larut. Daya guna protein biji karet yang meningkat
dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, terutama sebagai suplemen atau
komplemen produk makanan. Pengertian suplemen disini adalah meningkatkan
kandungan protein suatu produk, sedangkan pengertian komplemen sebagai
pelengkap kekurangan asam amino suatu bahan pangan. Jenis-jenis produk

makanan yang bisa dicampur dengan konsentrat biji karet adalah daging sintetis,
roti, aneka snack, makanan bayi, dan masih banyak lagi.
Adanya kandungan sianida membuat biji karet berbahaya bila dikonsumsi
mentah, tanpa diolah terlebih dahulu. Melalui proses perendaman selama 24 jam
dengan air yang sering diganti dan perebusan terbuka, maka sianida dapat
dihilangkan, menguap. Semakin banyak makanan yang dapat dierkaya kandungan
proteinnya dengan penambahan konsentrat biji karet, maka semakin benyak orang
yang dapat memperoleh manfaat dari bahan yang sering terbuang percuma di
daerah-daerah perkebunan (Tim Penebar Swadaya, 2007).
2.2.2

Kandungan Minyak Biji Karet

Selama ini biji karet hanya dibuang begitu saja seperti biji kapuk randu
seolah-olah tidak ada nilainya. Padahal, biji karet amat potensial menjadi bahan
baku biodiesel. Minyak biji karet merupakan minyak nabati yang berdasarkan sifat
mengeringnya termasuk jenis minyak mengering, yaitu minyak yang mempunyai
sifat dapat mengering jika kena oksidasi dan membentuk jenis selaput jika
dibiarkan diudara terbuka. Minyak nabati adalah minyak yang bersumber dari
tanaman baik dari biji-bijian palawija (seperti: jagung, biji kapas, wijen, kedelai,
dan bunga matahari), kulit buah tanaman tahunan (seperti: zaitun dan kelapa sawit),
maupun dari biji-bijian tanaman tahunan (seperti: kelapa, cokelat, inti sawit, dan
karet). Di Indonesia sendiri sumber minyak nabati yang dapat dimanfaatkan sangat
berlimpah, dimulai dari kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, biji kapok, kacang tanah,
kemiri, kelor, nyamplung, jagung karet, dan lain-lain. Adapun perbedaan umum
lemak nabati dan hewani adalah:
1.

Lemak hewani mengandung kolestrol sedangkan lemak nabati


mengandung fitosterol.

2. Kadar asam lemak tidak jenuh dalam lemak hewani lebih kecil dari
lemak nabati.
Tipe dan persentase asam lemak tergantung jenis tanaman dan kondisi pertumbuhan
tanaman. Kandungan asam lemak bebas FFA pada minyak mentah biji karet sekitar
17% dan bilangan asam sekitar 34.

Beri Nilai