Anda di halaman 1dari 2

Pembahasan oleh :

Nurlailatush Sholihah (151424021)


2A-TKPB, kelompok 5
Percobaan kali ini adalah reaksi saponifikasi, Saponifikasi adalah proses
pembuatan sabun yang berlangsung dengan mereaksikan asam lemak khususnya
trigliserida dengan alkali yang menghasilkan sabun dan hasil samping berupa
gliserol. Pada praktikum ini, bahan yang digunakan untuk pembuatan sabun
adalah dengan mencampurkan asam stearate kedalam minyak goreng lalu di
tambahkan dengan NaOH . Reaksi saponifikasi yang terjadi adalah sebagai
berikut :
CH3(CH2)14CO2 H + 3 NaOH 3 CH3(CH2)14CO2Na +
C3H8O3
Tujuan dari praktikum ini adalah menjelaskan variable-variabel yang
berpengaruh dalam saponifikasi, menetukan komposisi yang tepat dalam
pembuatan sabun padat dan bahan aditif yang ditambahkan, serta menganalisis
produk
sabun
padat
yang
didapat.
Dari praktikum, saat selesai pembuatan, produk sabun dicoba apakah berhasil
atau tidak dengan mencoba menggosok gosokkan sabun dengan air. Hasilnya
sabun menghasilkan sedikit busa. Hal ini disebabkan sabun bersifat basa
dan mengandung -C-O-(polar dan Hidrofil) akan larut dalam air membentuk buih
dan mengikat partikel partikel kotoran sehingga terbentuk emulsi.
Lalu, sabun dapat membersihkan karena R- (non polar dan Hidrofob) akan
membelah molekul minyak dan kotoran menjadi partikel yang lebih kecil
sehingga air mudah membentuk emulsi dengan kotoran dan mudah dipisahkan.
Dalam sabun terdapat zat aktif yang di sebut surfaktan. Zat aktif ini
merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil
(suka air) dan hidrofob (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi
menurunkantegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang
menempel pada permukaan bahan.
Selanjutnya, pada sabun yang dihasilkan dilakukan proses analisis alkali
bebas, asam lemak bebas, dan lemak tak tersabunkan dengan cara titrasi. Analisis
ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dari produk sabun yang dihasilkan.
Adapun hasil yang diperoleh dari proses analisis alkali bebas yang terkandung
dalam sabun adalah sebesar 5%, pada saat di teteskan indicator PP, larutan sabun
langsung ada perubahan warna, dapat di simpulkan bahwa dalam sabun terdapat
banyak Na, sehingga tidak ada asam lemak bebas dalam sabun.
Mengapa tikus lebih menyukai sabun dari pada detergen? Karena bahan baku
sabun adalah minyak yang sering di konsumsi manusia. Bahan dasar pembuat
sabun adalah lemak, garam basa, dan air. Kemudian baru ditambahkan zat-zat
tambahan lainnya seperti pewarna, atau pewangi. Lemak yang digunakan dalam
pembuatan sabun dapat berasal dari tumbuhan (lemak nabati) seperti minyak
zaitun dan minyak kelapa atau dari hewan (minyak hewani) seperti tallow dan
grease. Tallow merupakan lemak yang didapatkan dari industri pengolahan daging

yang diambil dari lemak sapi atau domba. Sedangkan grease merupakan lemak
hewani dengan kualitas lebih rendah dari tallow.
Lemak inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh tikus sehingga mereka
memakannya saat tidak berhasil menemukan makanan lain. Seperti kita ketahui,
tikus adalah hewan pengerat. Mereka membutuhkan sesuatu yang dapat dikerat
untuk menghambat pertumbuhan giginya. Jika tikus tidak mengerat, giginya dapat
terus tumbuh dan ini membahayakan tikus itu sendiri. Sabun batangan menjadi
pilihan tikus karena benda itu selain dapat memberi mereka lemak, juga dapat
mereka kerat.
Sabun cair dan bubuk tidak dipilih karena tidak dapat dikerat. Sabun
deterjen juga tidak dipilih karena memiliki konsentrasi antibakteri yang tinggi
sehingga dapat menyebabkan tikus keracunan jika mereka nekat memakannya.
Selain itu, deterjen merupakan sabun sintetis, bukan sabun yang dibuat dari lemak
nabati atau hewani seperti sabun mandi batangan.