Anda di halaman 1dari 24

KONTROL STRATIGRAPY TERHADAPA POLA PENYEBARAN BATU GAMPING DI

LAPANGAN PT SEMEN BATURAJA

PROPOSAL PENELITIAN TUGAS AKHIR


Diajukan untuk Penelitian Tugas Akhir Mahasiswa Pada Jurusan Teknik
Program Studi Teknik Geologi Universitas Sriwijaya

Oleh
M Rian Saputra
03071281320003

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

KONTROL STRATIGRAPY TERHADAPA POLA PENYEBARAN BATU GAMPING DI


LAPANGAN PT SEMEN BATURAJA

OLEH
M Rian Saputra
03071281320003

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat


Untuk Penelitian Tugas Akhir (TA)
Program Studi Teknik Geologi

Palembang, 12 Oktober 2016

Menyetujui,

Mengetahui,

Pembimbing

Ketua Program Studi Teknik Geologi

Elisabet Dwi Mayasari S.T, M.T

Dr. Ir. Endang Wiwik, M.Sc.

Perihal

Palembang, Oktober 2016

: Permohonan Tugas Akhir

di PT. Semen Baturaja


Kepada

: Learning & Development Dept.


PT. Semen Baturaja

Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama

: M Rian Saputra

NIM

: 03071281320003

Jurusan

: Program Studi Teknik Geologi Universitas Sriwijaya

Semester

: VII (Tujuh)

IPK Terakhir

: 2.90

Dengan ini saya mengajukan permohonan kepada Manager Learning & Development Dept. PT.
Semen Baturaja untuk Melakukan Tugas Akhir dengan judul Kontrol Stratigrapy Terhadap
Pola Penyebaran Batu Gamping Di Lapangan PT Semen Baturaja
Sebagai bahan pertimbangan PT. Semen Baturaja, dengan ini saya lampirkan persyaratan sebagai
berikut :
a. Melampirkan Surat pengantar dari Perguruan Tinggi yang telah ditandatangani Ketua Program
Fakultas Teknik UNSRI.
b. Curiculum Vitae.
c. Salinan Transkip Akademis terakhir yang ditandantangani Pembantu Dekan I Bidang
Pendidikan
d. Proposal tugas akhir yang telah ditandatangani Ketua Program Studi dan Pembimbing
Proposal dengan judul Kontrol Stratigrapy Terhadap Pola Penyebaran Batu Gamping
Di Lapangan PT Semen Baturaja

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Batubara merupakan endapan sedimen yang di dominasi oleh kandungan organic dan
sedikit kandungan an-organic yang terbentuk dan telah mengalami proses kimia, fisika, dan
geologi (Permadi dkk., 2014). Kandungan utama dalam batubara adalah maseral, dan kandungan
lain dalam batubara berupa mineral pengotor, kadar air serta gas yang terperangkap dalam pori.
Kandungan-kandungan yang terdapat di dalam batubara berasal dari proses penggambutan dan
pembatubaraan. Kandungan air yang terkandung dalam lapisan batubara dapat berasal dari
tumbuhan awal yang membentuk batubara dan proses setelah terjadinya proses pembatubaraan
(Nasir, 2012). Tumbuhan-tumbuhan dapat mengandung kadar air sesuai dengan lingkungan
pengendapan tumbuhan tersebut dan tanah penutup (overburden) dapat mempengaruhi
kelembaban lapisan batubara, tanah penutup yang tipis dapat mempermudah kontaminasi air
permukaan menuju lapisan batubara (Prayitno, 2011).
Dalam menganalisis kandungan air di dalam lapisan batubara dapat menggunakan
metode proximate, yaitu dengan menganalisis total moisture yang terdapat didalam pori
batubara. Total moisture adalah seluruh kandungan air yang terdapat di dalam lapisan batubara
dalam bentuk inherent dan adherent pada kondisi saat batubara tersebut diambil atau pada saat
kondisi batubara itu diterima. Kualitas batubara dapat ditentukan salah satunya dengan
menggunakan analisis berbasis total moisture, dimana dari 2-15% berat untuk jenis bituminous
dan 25-45% berat untuk jenis lignit (Nasir, 2012). Hasil data yang didapat dari analisis berbasis
total moisture dapat dijadikan bahan acuan dalam kelayakan penambangan sumber daya dan
cadangan. Kadar air dalam batubara juga dapat menentukan penggunaan batubara itu sendiri,
seperti pembangkit listrik tenaga uap.
Berdasarkan penjelasan diatas maka perlu dilakukan kajian/peneliti mengenai Kendali
Geologi Terhadap Kualitas Lapisan Batubara Berbasis Total Moisture Pada Formasi
Muara Enim di Daerah Tanjung Jambu, Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat.

1.2 Perumusan Masalah


Posisi penelitian terhadap penelitian-penelitian sebelumnya (state of the art)
diperlihatkan pada Tabel 1.1. Terdapat tiga materi yaitu, materi geologi, materi kualitas batubara,
dan materi Formasi Muara Enim. Materi geologi mencakup pembahasan stratigrafi meliputi
lingkungan pengendapannya, dan struktur geologi meliputi aktifitas tektonik yang mengontrol
struktur di lokasi penelitian. Materi kualitas batubara mencakup total moisture meliputi
kandungan seluruh jumlah air pada batubara dalam bentuk inherent dan adherent, free moisture
meliputi kandungan air yang berada di permukaan batubara yang mempunyai pori-pori yang
memiliki ukuran yang relatif besar, dan inherent moisture meliputi kandungan air yang terdapat
pada rongga-rongga kapiler dan pori-pori batubara yang memiliki ukuran yang relatif kecil.
Formasi Muara Enim mencakup wilayah regional yang meliputi keadaan lapisan batubara di
Formasi Muara Enim pada Cekungan Sumatra Selatan, wilayah lokal meliputi keadaan lapisan
batubara Seam M2 yang berada di lokasi penelitian.
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, maka tampak jelas permasalahan penting yang
perlu dirumuskan adalah mengenai kualitas batubara berdasarkan analisis Moisture di Seam M2,
Formasi Muara Enim. Permasalahan pentinganya adalah :
1. Apa dan bagaimana total moisture pada kualitas batubara?
Pertanyaan masalahnya adalah:
a) Apa itu total moisture ?
b) Bagaimana hubungan total moisture terhadap penentuan kualitas batubara?
c) Bagaimana total moisture pada lapisan batubara Seam M2 Formasi Muara Enim?
2. Bagaimana kondisi geologi di lokasi penelitian?
a) Apa saja geomorfologi lokasi penelitian?
b) Apa saja stratigrafi lokasipenelitian?
c) Apa saja struktur geologi lokasipenelitian?
d) Bagaimana karakteristik seam M2 pada Formasi Muara Enim?

Tabel 1. Posisi peneliti terhadap peneliti-peneliti terdahulu.

2
3
4
5
6
7

Nasir S., 2012. Dasar-Dasar Teori Dan Teknologi Pemanfaatan


Batubara.
Cassel.dkk., 2012. Proximate Analysis of Coal and Coke using the
STA 8000 Simultaneous Thermal Analyzer.
Putro dkk., 2012. Analisa Log Densitas Dan Volume Shale Terhadap
Kalori, Ash Content Dan Total Moisture Pada Lapisan Batubara
Berdasarkan Data Well Logging Daerah Banko Pit 1 Barat,
Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Provinsi
Sumatera Selatan.
Sulistyana dan Saputra, 2012. Analisis Pengaruh Lingkungan
Pengendapan Terhadap Kandungan Sulfur Batubara.

9
Komariah W.E., 2012. Peningkatan Kualitas Batubara Indonesia
Peringkat Rendah Melalui Penghilangan Moisture Dengan
Pemanasan Geolombang Mikro.

10

Tobing T.J.L, 2016. Kualitas Lapisan Batubara Berbasis Total


Moisture Pada Formasi Muara Enim Di Daerah Tanjung Jambu,
Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat.
= Telah di teliti
= Akan di teliti

1.3 Tujuan Dan Manfaaat Penelitian


Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain adalah :
1. Mengetahui hubungan antara proses-proses geologi yang mengendalikan total moisture
pada lapisan batubara.
2. Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi total moisture.

Lokal

Formas
i Muara
Enim
Regional

Moisture Inherent

Adiwidaya dan Decoster, 1973. Pre-Tertiary Paleo topography and


Related Sedimentary.
Shell Mijnbouw, 1978. Geological Map The South Sumatera Coal
Province Scale1 : 250.000.
Pulonggono dkk., 1991. Pre - Tertiary And Tertiary Fault Systems As
A Framework Of The South Sumatra Basin; A Study Of Sar-Maps.
Speight. 2005. Handbook Of Coal Analysis. Wiley-Interscience.

Moisture Free

Kualitas Batubara
MoistureTotal

Peneliti

GeologiStruktur

No

Stratigrafi

Kendali
Geologi

3. Membangun model genetic kualitas batubara di Seam M2 pada lokasi penelitian


Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi akademisi, dapat sebagai panduan dalam memahami kendali geologi terhadap
kualitas batubara.
2. Bagi industri, terwujudnya model total moisture yang memperhatikan aspek genetik.
3. Bagi masyarakat, dapat sebagai sarana informasi mengenai kendali geologi di daerah
sekitar.
1.4 Ruang Lingkup
a. Secara keruangan dibatasi oleh Formasi Muara Enim, terkhusus pada Seam M2, sedangkan
secara struktural berada di lipatan yang berarah Baratlaut-Tenggara. Berdasarkan kondisi
tersebut maka lintasan pengamatan akan direncanakan melalui traverse di beberapa sungai
yang berarah Timurlaut-Baratdaya (Gambar 1.1).
b. Stratigrafi lokasi penelitian meliputi Formasi Muara Enim dan Formasi Kasai yang berumur
Neogen (Gambar 1.1).
c. Secara administrasi berada di daerah Tanjung Jambu, Kecamatan Merapi Timur Kabupaten
Lahat. Berada di Selatan atau Tenggara dari lintas Muara Enim-Lahat (Gambar 1.2).
d. Obyek penelitian meliputi kualitas lapisan batubara M2 berbasis total moisture di lokasi
penelitian.
e. Obyek pengamatan meliputi kendali geologi yang mengontrol lokasi penelitian seperti
struktur, stratigrafi dan topografi.

Gambar 1.1 Peta Geologi Lembar Lahat, Sumatra Selatan (Gafoer, S dkk., 1986)

Gambar 1.2 Peta Administrasi Daerah Lahat, Sumatra Selatan (sumber: BAPPEDA Lahat)

BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Geologi Regional
2.1.1 Fisiografi
Pulau Sumatera memiliki orientasi fisiografi berarah barat laut dan terletak dibagian barat
Paparan Sunda dan disebelah selatan Lempeng Eurasia. Ciri khas fisiografi yang dimiliki Pulau

Sumatera adalah keterdapatannya Pegunungan Bukit Barisan disebelah barat pulau ini yang
memanjang disepanjang Pulau Sumatera. Fisiografi lokasi penelitian menrut Asikin (1989),
terbagi menjadi empat bagian, yaitu: Cekungan Sumatera Selatan, Bukit Barisan dan Tinggian
Lampung, Cekungan Bengkulu,dan

rangkaian kepulauan di sebelah barat Sumatera, yang

membentuk suatu busur tak bergunung api di sebelah barat pulau Sumatera.
Secara fisiografi van Bemmelen (1949), membagi Pulau Sumatera menjadi enam zona
fisiografi (Gambar 2.1) yakni: a) Zona Jajaran Barisan, b) Zona Smangko, c) Zona Pegunungan
Tigapuluh, d) Zona Kepulauan Busur Luar, e) Paparan Sunda dan f) Zona Dataran Rendah dan
Berbukit.

Gambar 2.1. Zona fisiografi Pulau Sumatera (van Bemmelen, 1949).

Berdasarkan pembagian zona fisiografi van Bemmelen, lokasi penelitian termasuk dalam
zona dataran rendah dan berbukit (berwarna abu).
2.1.2 Tektonik
Menurut Pulunggono dkk., (1992) perkembangan tektonik di Cekungan Sumatera Selatan
dibagi menjadi empat fase yaitu:

Gambar 2.2. Tektonik Sumatera Selatan (Pulonggono, 1992).

1. Zaman Jura Upper Cretaceus terjadi pergerakan lempeng Samudra Hindia dengan arah
barat laut secara mekanisme akan mengalami kompresi dan seiring dengan kontrol
tektonik, yang berpusat miring terhadap garis tepi arah barat barat laut-timur
menenggaraSundaland yang menginduksi vulkaniknya dan menyertai arah sesar gesernya
(zona sesar) yang saat ini dilihat sebagai kelurusan musi dan kelurusan lematang (dengan
N 30 W diarahkan pusat lempeng Samudera Hindia ke sebuah garis tepi searah barat
barat laut-timur menenggara Sundaland, sudut miring konvergensi adalah30). Akibatnya
terjadi vulkanisme menghasilkan intrusi granitoid. Disertai arah sesar geser dekstral
(Sesar Lematang) memotong sesar yang berarah utara-selatan (Sesar Lenggaran dan
Sesar Kikim).
2. Pada zaman Upper Crestaceous Lower Tersier merupakan fase kedua yang berkembang
ektensional. Gaya ini berorientasi utara-selatan dan barat barat laut-timur menenggara
mengalami pemekaran membentuk graben atau depresi. Hal ini mengakibatkan sesar
Lematang berada pada timur Sesar Kikim bermula strike slip fault berarah barat dayatimut laut (N30E). Menjadi sesar normal berarah N 300 E.Perkembangan selanjutnya

menjadi Sesar Limau menghasilkan block horst dan grabben. Blok tersebut adalah
pembentuk basementCekungan Sumatera Selatan. Jalur subduksi yang mengalami
pemekaran mengakibatkan Intrusi vulkanik bergeser menghasilkan Garba. Pada fase itu
juga dimulainya pengisian sedimen-sedimen ke blok grabben diatas batuan dasar
bersamaan dengan aktivitas vulkanik.
3. Pada fase ketiga adalah fase adanya tektonik miosen yang menyebabkan uplift pada tepitepi cekungan dan diikuti dengan pengendapan material klastik. Ketika kala ini terjadi
pembentukan Bukit Barisan berorientasi N320E. Hal itu juga membuat pada fase ketiga
disebut Bukit Barisan Orogeny. Akibatnya berkembanglah struktur-struktur berupa strike
slip fault pada masa Mid-Miocene disertai dengan peningkatan laju aktivitas vulkanisme
Pada kala Plio-Pleistocene yaitu fase keempat kembali mengalami compressional. Zona
subduksi berubah dari Pulau Sumatera membentuk konvergensi oblique dan arahnya N 6
E. Hal tersebut membuat terbentuk blok sesar geser Semangko. Akibatnya
menghasilkan wrenching, rejuvenation dan inversi tectonic. Pegunungan Bukit Barisan
ini membentang luas dari utara-selatan berbentuk miring dan berarah barat laut-tenggara.
Pegunungan ini yang membatasi Cekungan Sumatera Selatan pada bagian barat daya.
2.1.3 Stratigrafi
Sedimentasi di Cekungan Sumatera Selatan berlangsung menerus selama zaman Tertiary
disertai dengan penurunan dasar cekungan hingga ketebalan sedimen mencapai 600 meter (van
Bemmelen, 1949). Stratigrafi daerah Cekungan Sumatra Selatan secara umum dapat dikenal satu
megacycle (daur besar) yang terdiri dari fase transgresi dan diikuti fase regresi. Fase transgresi
termuda terendapkan pada Early Miocene-Mid Miocene (Adiwijaya, 1973). Formasi yang
terbentuk selama fase transgresi dikelompokkan menjadi Kelompok Telisa (Formasi Talang
Akar, Formasi Baturaja, dan Formasi Gumai). Kelompok Palembang diendapkan selama fase
regresi (Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim, dan Formasi Kasai), sedangkan Formasi
Lemat dan older Lemat diendapkan sebelum fase Transgresi utama (Gambar 2.3). Stratigrafi
Cekungan Sumatra Selatan menurut (De Coster 1974) adalah sebagai berikut:
1. Kelompok Pra Tersier
Formasi ini merupakan batuan dasar (basement rock) dari Cekungan Sumatra
Selatan.Tersusun atas batuan beku Mesozoikum, batuan Metamorf Paleozoikum-

Mesozoikum, dan batuan karbonat yang termetamorfosa. Hasil dating di beberapa tempat
menunjukkan bahwa beberapa batuan berumur Cretaceouse Akhir sampai EarlyEocene.
Batuan metamorf Paleozoikum-Mesozoikum dan batuan Sedimen mengalami perlipatan dan
pensesaran akibat intrusi batuan beku selama episode orogenesa Mesozoikum Tengah (MidMesozoikum).
2. Formasi Kikim Tuff dan older Lemat atau Lahat
Batuan tertua yang ditemukan pada Cekungan Sumatera Selatan adalah batuan yang
berumur LateMesozoikum. Batuan yang ada pada Formasi ini terdiri dari batupasir tuffan,
konglomerat, breksi, dan lempung. Batuan-batuan tersebut kemungkinan merupakan bagian
dari siklus sedimentasi yang berasal dari Continental, akibat aktivitas vulkanik, dan proses
erosi dan disertai aktivitas tektonik pada Late Cretaceouse-Early Tertiary di Cekungan
Sumatera Selatan.
3. Formasi Lemat Muda atau Lahat Muda
Formasi Lemat tersusun atas klastika kasar berupa batupasir, batulempung, fragmen
batuan, breksi, Granit Wash, terdapat lapisan tipis batubara, dan tuff. Semuanya
diendapkan pada lingkungan kontinen. Sedangkan Anggota Benakat dari Formasi Lemat
terbentuk pada bagian tengah cekungan dan tersusun atas serpih berwarna coklat abu-abu
yang berlapis dengan serpih tuffaan (tuffaceousshales), batulanau, batupsir, terdapat lapisan
tipis batubara dan batugamping (stringer), Glaukonit; diendapkan pada lingkungan freshbrackish.

Formasi

Lemat

secara

normal

dibatasi

oleh

bidang

ketidakselarasan (unconformity) pada bagian atas dan bawah Formasi. Kontak antara
Formasi

Lemat

dengan

Formasi

Talang

Akar

yang

diintepretasikan

sebagai paraconformable. Formasi Lemat berumur Paleosen - Oligosen, dan Anggota


Benakat berumur Late Eocene-Oligosen, yang ditentukan dari spora dan pollen, juga dengan
dating K-Ar. Ketebalan Formasi ini bervariasi, lebih dari 2500kaki (+-760 M). Pada
Cekungan Sumatra Selatan dan lebih dari 3500 kaki (1070M) pada Zona Depresi sesar di
bagian tengah Cekungan (didapat dari data seismik).
4. Formasi Talang Akar
Formasi ini terletak di atas Formasi Lemat dan di bawah Formasi Telisa atau
Anggota Basal Batu gamping Telisa. Formasi Talang Akar terdiri dari batupasir yang berasal
dari delta plain, serpih, lanau, batupasir kuarsa, dengan sisipan batu lempung karbonan,

batubara dan di beberapa tempat konglomerat. Kontak antara Formasi Talang Akar dengan
Formasi Lemat tidak selaras pada bagian tengah dan pada bagian pinggir dari cekungan
kemungkinan paraconformable, sedangkan kontak antara Formasi Talang Akar dengan
Telisa dan Anggota Basal Batu gamping Telisa adalah conformable. Umur dari Formasi
Talang Akar ini adalah Oligocene-Miocen dan kemungkinan meliputi N 3 (P22), N7 dan
bagian N5 berdasarkan zona Foraminifera planktonik yang ada pada sumur yang dibor pada
formasi ini berhubungan dengan delta plain dan daerah shelf.
5. Formasi Baturaja
Anggota ini dikenal dengan Formasi Baturaja. Diendapkan pada bagian
intermediate-shelfal dari Cekungan Sumatera Selatan, di atas dan di sekitar platform dan
tinggian. Kontak pada bagian bawah dengan Formasi Talang Akar atau dengan batuan
PraTersier. Komposisi dari Formasi Baturaja ini terdiri dari Batugamping Bank (Bank
Limestone) atau platform dan reefal. Ketebalan bagian bawah dari formasi ini bervariasi,
namun rata-rata 200-250 feet (sekitar 60-75 m). Singkapan dari Formasi Baturaja di
Pegunungan

Garba

tebalnya

sekitar

1700 feet (sekitar

520

m).

Formasi

ini

sangat fossiliferous dan dari analisis umur anggota ini berumur Miosen. Fauna yang ada
pada Formasi Baturaja umurnya N6-N7.
6. Formasi Telisa (Gumai)
Formasi Gumai tersebar secara luas dan terjadi pada zaman Tertiary, formasi ini
terendapkan selama fase transgresiflaut maksimum, (maximum marine transgressive)
kedalam 2 cekungan. Batuan yang ada di formasi ini terdiri dari napal yang mempunyai
karakteristik fossiliferous, banyak mengandung foram plankton. Sisipan batugamping
dijumpai pada bagian bawah.Formasi Gumai berbeda fasies dengan Formasi Talang Akar
dan sebagian berada di atas Formasi Baturaja. Ketebalan dari formasi ini bervariasi
tergantung pada posisi cekungan, namun variasi ketebalan untuk Formasi Gumai ini berkisar
dari 6000 9000 feet (1800-2700 m).
7. Formasi Lower Palembang (Air Benakat)
Formasi Lower Palembang diendapkan selama awal fase siklus regresi. Komposisi
dari formasi ini terdiri dari batupasir glaukonitan, batulempung, batulanau, dan batupasir
yang mengandung unsur karbonatan. Pada bagian bawah dari Formasi Lower Palembang

kontak dengan Formasi Telisa. Ketebalan dari formasi ini bervariasi dari 3300 5000 kaki
(sekitar 1000 1500 m ).
8. Formasi Middle Palembang (MuaraEnim)
Batuan penyusun yang ada pada formasi ini berupa batupasir, batulempung, dan
lapisan batubara. Batas bawah dari Formasi Middle Palembang di bagian Selatan Cekungan
berupa lapisan batubara yang biasanya digunakan sebagai marker. Jumlah serta ketebalan
lapisan-lapisan batubara menurun dari selatan ke utara pada cekungan ini. Ketebalan formasi
berkisar antara 1500 2500 kaki sekitar 450-750 m. (De Coster 1974) menafsirkan formasi
ini berumur LateMiocene-Pliocene, berdasarkan kedudukan stratigrafinya. Formasi ini
diendapkan pada lingkungan laut dangkal sampai brackist (pada bagian dasar), delta
plain dan lingkungan non marine.
9. Formasi Upper Palembang (Kasai)
Formasi ini merupakan formasi yang paling muda di Cekungan Sumatra Selatan.
Formasi ini diendapkan selama orogenesa pada Plio-Pleistocen dan dihasilkan dari proses
erosi Pegunungan Barisan dan Tigapuluh. Komposisi dari formasi ini terdiri dari batupasir
tuffan, lempung, dan kerakal dan lapisan tipis batubara. Umur dari formasi ini tidak dapat
dipastikan, tetapi diduga Plio-Pleistocen dan lingkungan pengendapannya darat.

Gambar 2.3. Stratigrafi Cekungan Sumatera Selatan (Sardjito et.al., 1991).

2.2 Geologi Batubara


2.2.1 Seam M2
Lokasi penelitian berada pada Formasi Muara Enim. Formasi Muara enim diendapkan
secara selaras diatas Formasi Air Benakat. FormasiMuara Enim merupakan formasi pembawa
batubara yang berumur Miosen Atas Pliosen Bawah. Shell (1978), telah membagi formasi ini
berdasarkan kelompok kandungan lapisan batubara menjadi 4 (empat) anggota yaitu M1, M2,
M3 dan M4.

Anggota M2

Terdiri dari batulempung, batulempung karbonan, batulanau,

batupasir dan batubara. Batulempung karbonan berwarna abu-abu tua, umumnya masif sebagian
paralel laminasi dan flaser bedding, banyak dijumpai jejak tumbuhan dan fragmen batubara.
Satuan ini biasanya dijumpai sebagai batuan pengapit batubara. Anggota M2 terdapat 2 (dua)
lapisan utama yaitu Lapisan Suban dan Mangus dengan penyebaran tidak kontinyu (Gambar
2.4.). Anggota ini dikenali berdasarkan kandungan batubaranya yaitu Lapisan Mangus yang
dicirikan oleh sisipan batulempung tufa-an dengan kandungan mineral biotit. Lapisan Mangus
merupakan batas atas Anggota M2, sedangkan batas bawahnya adalah Lapisan Petai. Litologinya

disusun oleh perselingan batulanau dengan batulempung; sisipan batupasir dan batubara.
Batulanau berwarna abu-abu muda sampai abu-abu kecoklatan, kompak, terdapat nodul-nodul
pirit, tebal lapisan 1,50 - >15,00m. Batulempung berwarna abuabu muda sampai abu-abu
kehijauan, lunak-padu, mengandung sisa-sisa tumbuhan, struktur sedimen khas lentikular, tebal
lapisan 0,50 7,75m. Batupasir berwarna abu-abu terang, halus-sedang, tufaan, rapuh-keras,
dominan kuarsa, struktur sedimen flacer, gelembur gelombang, paralel laminasi dan graded
bedding. Berdasarkan hasil penyelidik terdahulu dibagian selatan, anggota ini dapat ditembus
oleh beberapa lobang bor dengan ketebalan sampai dengan 27,29m ; sedangkan dari data
singkapan ditemukan di 37 lokasi yang umumnya terendam air/lumpur. Seam M2 dicirikan
dengan adanya sisipan material vulkanik berupa silisified coal atau dikenal juga sebagai tonstein
coal, kehadiran material tersebut mencirikan lingkungan pengendapan batubara dipengaruhi oleh
aktivitas volkanik disekitar cekungan.

Gambar 2.4. Stratigrafi CekunganSumatera Selatan (modifikasi Shell, 1978)

2.2.2 Moisture

Kandungan (moisture) dalam lapisan batubara dapat mepengaruhi beberapa aktifitas


seperti eksplorasi, penambangan, perawatan alat, penyimpanan, dan proses pembakaran
batubara. Moisture yang terdapat dalam lapisan batubara bukanlah semua kandungan air yang
terdapat di dalam lapisan batubara dari penguraian batubara itu sendiri, tetapi moisture adalah
kandungan air yang ditemukan dalam lapisan batubara maupun yang telah terurai yang kemudian
mengalami proses oksidasi (Komariah, 2012). Kandungan air (moisture) yang tinggi dalam
batubara dapat meningkatkan biaya transportasi, penanganan, dan peralatan. Lapisan batubara
yang mempunyai kandungan moisture tinggi disebabkan oleh beberapa faktor yaitu akibat
lingkungan pengendapan, material pembentuk batubara, dan akibat adanya struktur geologi.
Kadar Moisture dapat mempengaruhi jumlah pemakaian udara primer. Batubara dengan
kandungan moisture yang tinggi akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengeringkannya
yang disebabkan oleh jumlah pemakaian udara primer lebih banyak pada suhu keluar mill tetap.
Semakin tinggi air di permukaan batubara akan semakin rendah daya gerus grinding mill pada
saat penggerusan.
Total moisture adalah seluruh kandungan air yang terdapat di dalam lapisan batubara
dalam bentuk inherent dan adherent pada kondisi saat batubara tersebut diambil atau pada saat
kondisi batubara itu diterima. Kandungan total moisture dalam lapisan batubara dapat menjadi
faktor penentu kualitas batubara karena total moisture dapat mempengaruhi calorific value.
Nilai total moisture didapatkan dari hasil pengitungan residual moisture (inherent moisture) dan
nilai free moisture:
%TM = %FM + %RM (1 - % FM/100)
Free moisture merupakan air pada permukaan batubara dan pori-pori batubara yang relatif
besar, biasanya akan menguap akibat suhu ruangan. Keberadaan free moisture dalam lapisan
batubara dapat diperoleh akibat bercampurnya air tanah dengan batubara yang disebabkan
adanya rekahan pada lapisan batubara akibat adanya pengaruh struktur geologi, taburan air hujan
pada tumpukan batubara yang ada di stockpile, sisa air di permukaan batubara sehabis proses
pencucian dan air yang disemprotkan untuk mengurangi debu di tumpukan batubara. Batubara
yang mempunyai kompaksi dan kualitas yang tinggi cenderung memiliki kandungan free
moisture yang rendah dibandingkan dengan batubara dengan kompaksi dan kualitas yang rendah.
Inherent moisture merupakan kadar air yang dianggap terdapat didalam rongga-rongga
kapiler dan pori-pori batubara yang relatif kecil pada kondisi aslinya. Penentuan nilai inherent

moisture didapatkan dari jumlah air menguap dari batubara yang sudah dikeringkan (setelah free
moisture-nya menguap) apabila dipanaskan pada temperatur 105 110 C, proses pengerjaan
untuk mendapatkan inherent moisture merupakan tahapan kedua dalam penentuan nilai total
moisture.

BAB 3
METODELOGI
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-observatif yaitu dengan
tahapan akuisisi data, analisis data, dan sintesa data (Gambar 3.1).

Gambar 3.1 Diagram Alir Metode Penelitian

3.1 Akuisisi
Akuisisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bearti perolehan,pemerolehan. Akuisisi
dalam bagan alir diatas menjelaskan data apa saja yang perlu diperoleh dalam penelitian.
Berdasarkan diagram 3.1. akuisisi terdiri dari studi kajian pustaka, pengamatan bentuk lahan,
pengukuran struktur geologi, lintasan stratigrafi terukur, pengamatan singkapan, sampling
batubara dan batuan lainnya. Pengumpulan data terdiri dari data sekunder dan data primer. Data
sekunder adalah data yang diperoleh sebelum penelitian dilakukan sedangkan data primer adalah
data yang diperoleh pada saat dilapangan. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini
adalah studi kajian pustaka dilakukan sebelum melakukan penelitian. Studi kajian pustaka yang
digunakan berasal dari jurnal-jurnal yang telah dipublikasi.

Data primer adalah data yang

diperoleh dilapangan seperti data bentuk lahan, struktur geologi, lintasan stratigrafi, pengamatan
singkapan dan pengambilan sampel.
3.2 Analisis

Analisis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kegiatan yang dilakukan dilaboratorium untuk memeriksa zat dalam sampel . Berdasarkan Gambar 3.1 analisis digolongkan
menjadi tiga yaitu: 1) analisis kajian pustaka, 2) analisis data lapangan dan 3) analisis hasil
laboratorium. Analisis kajian pustaka terdiri dari proyeksi tektonik regional ke struktur geologi
lokal, proyeksi stratigrafi regional ke stratigrafi lokal, proyeksi fisiografi regional ke satuan
bentuk lahan. Analisis data lapangan terdiri dari: satuan bentuk lahan dan bentuka asal, analisis
struktur geologi, penampang stratigrafi, profil batubara, dan lokasi singkapan. Analisa hasil uji
dilakukan pada sampel batubara yang diuji di laboratorium Teknologi Mineral dan Batubara
(tekMira), sedangkan analisa petrologi dan paleontologi di laboratorium Program Studi Teknik
Geologi.
Berdasarkan proyeksi tektonik regional ke lokal dan analisis struktur geologi akan
menghasilkan struktur yang berkembang dilapangan apakah itu struktur kekar, lipatan, maupun
sesar. Proyeksi stratigrafi regional ke lokal, satuan bentuk lahan, penampang stratigrafi terukur,
profil batubara dan analisis petrografi akan menghasilkan satuan bentuklahan. Analisis proksimat
akan memperlihatkan hasil dari kualitas batubara pada lokasi penelitian. Penampang stratigrafi
terukur, profil batubara, analisis petrografi dan paleontologi akan menghasilkan umur serta
lingkungan pengendapan. Lokasi singkapan, analisis petrografi dan analisis paleontologi akan
menghasilkan lintasan pengamatan.
3.3 Sintesa
Sintesa atau sintesis dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti hasil akhir dari
percobaan untuk menggabungkan antara thesis dan antithesis. Hasil yang diperoleh dalam
penelitian ini adalah, kendali geologi terhadap kualitas batubara berbasis total moisture pada
Formasi Muara Enim, yang dihimpun berdasarkan data geologi lokasi penelitian dan model
kualitas batubara pada lokasi penelitian.
BAB 4
JADWAL PENELITIAN DAN BIAYA
4.1 Jadwal Penelitian
Langkah awal menuju kegiatan penelitian telah dimulai sejak September 2016 dengan
melakukan pengumpulan data sekunder, referensi yang relevan dan koresponden perusahaan

yang akan dijadikan lokasi observasi lapangan. Terdapat 14 kajian pustaka yang dikumpulkan
yaitu kajian pustaka terkait Geologi Regional Sumatera Selatan dan Analisis Kualitas
Batubara Berbasis Ash Content yang diambil berdasarkan text book, jurnal dan international
proceding. Setelah usulan penelitian diajukan, langkah selanjutnya adalah pengambilan data
pada bulan desember (Table 4.1). Apabila izin memasuki area pertambangan sudah diberikan
oleh perusahaan maka, kegiatan lapangan direncanakan akan berlangsung pada Desember
2016 - Januari 2017. Analisis laboratorium akan dilakukan segera setelah mendapatkan
sejumlah perconto batubara. Penyusunan laporan dan penulisan hasil penelitian untuk
diseminasi (seminar/konferensi dan publikasi) akan dilakukan seiring dengan kemajuan data
yang diperoleh.
4.2 Biaya
Penelitian ini meliputi penelitian lapangan dan laboratorium dan waktu yang diperlukan
untuk penelitian ini maksimum 1 bulan. Penelitian sangat penting dilakukan karena
pengamatan dan pengukuran serta pengamatan perconto hanya dapat dilakukan dilapangan,
hal ini merupakan pekerjaan pertama dari geologist. Sarana laboratorium untuk analisis
proksimat batubara belum dimiliki di UNSRI, sehingga harus menggunakan jasa lab komersil
di TekMira Bandung. Perlu ditegaskan bahwa biaya penelitian yang diusulkan disini telah
disusun berdasarkan kebutuhan riil untuk menyelesaikan penelitian (Tabel 4.1).

Tabel 4.1 Rincian biaya selama kegiatan tugas akhir.


No
Deskripsi
A. Pekerjaaan Lapangan
1 Survei Palembang-Muara Enim pulang pergi
Keberangkatan Palembang-Muara Enim
2 pulang pergi

Jumlah

Unit

Volume

Harga PerUnit

Total (Rp)

Ticket/day

Rp 80.000,00

Rp 160.000,00

Ticket/day

Rp 80.000,00
Sub-Total (A)

Rp 160.000,00
Rp 320.000,00

B. Analisis
1
2

Analisis proksimat
Analisis batuan lain

Rp
150.000,00

10

Unit

Petrologi

Unit

Paleontologi

Unit

Pack

Cetak literature
Equipment (sepatu lapangan, jas hujan,
meteran 50m)

Pack

Sewa GPS

Unit/day

Sewa Kompas

Unit/day

Obat-obatan dan makanan

Pack

Rp
150.000,00
Rp
150.000,00
Sub-Tota (B)

Rp 1.500.000,00

Rp 450.000,00
Rp 450.000,00
Rp 2.400.000,00

C. Peralatan
1

C. Laporan
1 Kertas

Pack

2
3

Tinta printer
Map

1
1

Pack
Pack

Model Geologi

Pack

Komunikasi

Person

Rp
200.000,00
Rp.
700.000,00
Rp
400.000,00
Rp
300.000,00
Rp
100.000,00
Sub-Total
(C)
Rp 50.000,00
Rp
100.000,00
Rp 30.000,00
Rp
400.000,00
Rp
200.000,00
Sub-Total
(D)
TOTAL

Rp 200.000,00
Rp. 700.000,00
Rp 400.000,00
Rp 300.000,00
Rp 100.000,00
Rp 1.700.000,00
Rp 150.000,00
Rp 100.000,00
Rp 30.000,00
Rp 400.000,00
Rp 200.000,00
Rp 880.000,00
Rp
6.000.000,00

BAB 5
PENUTUP
Demikianlah proposal ini saya buat sebagai bahan pertimbangan agar dapat diterima untuk
melaksanakan Tugas Akhir di PT. Budi Gema Gempita. Melihat keterbatasan dan kekurangan
yang saya miliki, maka saya sangat mengharapkan bantuan dan dukungan baik secara moril
maupun materil dari pihak perusahaan untuk kelancaran penelitian tugas akhir ini.

Adapun bantuan yang sangat kami harapkan dalam pelaksanaan penlitian tugas akhir ini
adalah:
1.
2.

Adanya bimbingan selama penelitian tugas akhir.


Kemudahan dalam mengadakan penelitian (akomodasi) ataupun

pengambilan data-data yang diperlukan selama melaksanakan tugas akhir.


3.
Transportasi menuju lokasi tambang.
Semoga hubungan baik antara pihak industri pertambangan dengan pihak institusi
pendidikan pertambangan di Indonesia tetap berlangsung secara harmonis demi kemajuan dunia
pendidikan dan perkembangan industri pertambangan Indonesia. Atas perhatian dan bantuan
yang diberikan, kami ucapkan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA
Adiwidjaja P. dan Decoster G.L.
(1973). Pre-Tertiary Paleotopography And Related
Sedimentation In South Sumatra : Proceeding Indonesian Petroleum Association 2nd.
Komariah W.E. (2012). Peningkatan Kualitas Batubara Indonesia Peringkat Rendah Melalui
Penghilangan Moisture Dengan Pemanasan Geolombang Mikro. Tesis Magister pada FT
UI Depok: Tidak Diterbitkan

Nasir S. (2012). Dasar - Dasar Teori Dan Teknologi Pemanfaatan Batubara. Palembang: Unsri
Press.
Putro.S.D., Santoso., dan Hidayat. (2012). Analisis Log Densitas Dan Volume Shale Terhadap
Kalori, Ash Content Dan Total Moisture Pada Lapisan Batubara Berdasarkan Data Well
Logging Daerah Banko Pit 1 Barat, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim,
Provinsi Sumatera Selatan.
Pulunggono A., Haryo A.S., dan Kosuma C.G. (1992). Pre-Tertiary And Tertiary Fault Systems
As A Framework Of The South Sumatra Basin: A Study Of Sar-Maps. Proceeding
Indonesian Petroleum Association 21st .
Sulystiana W.B., dan Saputra D. (2012). Analisis Pengaruh Lingkungan Pengendapan Terhadap
Kandungan Sulfur Batubara. Prosiding Simposium Dan Seminar Geomoekanika 1.
Speight. (2005). Handbook Of Coal Analysis. Wiley-Interscience.
Gafoer S., Cobrie T., dan Punomo J. (1986). Peta Geologi Lembar Lahat, Sumatra Selatan.