Anda di halaman 1dari 5

ALAT BANTU PENCAHAYAAN

7.
Payung
Payung adalah alat yang dapat membantu bagi Sobat yang serius dalam dunia fotografi. Secara
khusus, payung ini membantu Sobat dalam mendapatkan gambar yang profesional. Dengan
menggunakan payung cahaya akan menyebar sehingga memungkinkan Sobat untuk mencapai
pencahayaan lembut dalam gambar Sobat. Jadi, payung tidak membiarkan cahaya secara langsung
untuk fokus pada subjek, tetapi payung memantulkan cahaya dan menyebarkannya. Hasilnya
adalah gambar yang lebih jelas dengan bayangan lembut atau tidak ada bayangan sama sekali.
Pada dasarnya, ada dua warna payung dapat Sobat gunakan pada saat pemotretan. Yaitu
hitam/perak dan putih, masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.
payung putih biasanya digunakan untuk untuk fotografi indoor. Untuk menggunakannya, Sobat
harus menembak cahaya secara langsung melalui payung untuk mendapatkan gambar yang lembut.
Ada juga teknik lain yang harus Sobat ingat. Untuk menghilangkan bayangan, misalnya, Sobat harus
menempatkan payung dalam posisi yang akan menempatkan bayangan di belakang subjek Anda.
Taktik ini biasanya digunakan untuk memfoto potret.
Payung hitam / perak, berfungsi untuk mencerahkan subjek Sobat. Payung Ini adalah kombinasi
antara hitam pada bagian luar dan perak pada bagian dalam. dengan jenis payung ini, cahaya
langsung mengarah pada bagian perak sehingga mencerahkan subjek. Meskipun cahaya diarahkan
pada subjek, payung membantu mendapatkan gambar yang bersih.
Untuk gambar lebih cerah, teknik terbaik adalah dengan menggunakan kombinasi antara payung
putih dan hitam silver. Ini akan memungkinkan Anda untuk menghilangkan bayangan dan membuat
subjek Anda terlihat bercahaya. Tips yang baik adalah dengan menggunakan payung hitam/perak
sebagai sumber utama cahaya dan kemudian menggunakan payung putih untuk menyebarkan
cahaya untuk mendapatkan gambar yang lebih lembut.
Sangat penting untuk dicatat bahwa bagi Sobat-sobat yang ingin gambar-gambar hasil jepretnya
terlihat lebih kreatif, hanya menggunakan flash built-in bukanlah ide yang baik. Alasannya adalah
bahwa hal itu dapat menciptakan bayangan dan dapat membuat subjek akan terlihat satu-dimensi.
Tetapi jika Sobat mencoba untuk memindahkan sumber cahaya dari subjek Sobat dan gunakan
payung atau jenis lain dari diffuser, Sobat dapat menciptakan cahaya lembut dan mencapai foto
yang lebih jelas.
Perlu diingat bahwa ukuran subjek dan sumber cahaya mempengaruhi kerasnya bayangan. Dengan
kata lain, cahaya keras adalah hasil dari subjek kecil dan sumber cahaya kecil sementara lightsource
besar akan memberikan cahaya lembut untuk subjek Sobat.
Jika Sobat senang menghemat energi, Sobat dapat menggunakan LED dan neon. Alat ini adalah
alternatif yang bagus untuk hot light dan sangat ideal untuk video HD dan digital stills. (/ch)
8.
Reflektor
Digunakan untuk memberi cahaya tambahan yang merupakan pantulan cahaya dari main light.
Biasanya berbentuk bundar dan kotak. Pada umumnya memiliki 3 warna yaitu putih, perak dan
emas. Kita juga dapat menggunakan sehelai kain putih, styrofoam dan kertas mengkilap sebagai
reflektor yang berguna pada saat pemotretan.
9.
Soft Box
Sebuah kotak yang terbuat dari kain dengan kedudukan atau rangka yang berbentuk seperti
pyramid. Cahaya yang dihasilkan softbox lebih lembut daripada cahaya yang dihasilkan payung
reflektor maupun reflektor. Softbox memiliki bermacam-macam ukuran(semakin besar ukurannya
semakin lembut cahaya yang dihasilkan). Sumber cahaya Soft Box juga berasal dari strobo.
10.
Barndoors
Berbentuk segi empat dan bewarna gelap. Biasanya dipasang pada soft box. Kegunaan dari
barndoors adalah untuk mengarahkan cahaya yang keluar dari sumber cahaya.
11.
Honeycomb/Sarang Tawon
Alat ini sejenis dengan filter dan bentuknya bundar seperti sarang tawon, tapi dipasang pada
lampu/sumber cahaya. Berfungsi untuk menghaluskan cahaya yang jatuh ke arah obyek..
12. Light Stand
Alat yang digunakan untuk menyangga lampu studio.
13.
Flash Meter
Berfungsi sebagai pengukur kekuatan sumber cahaya dalam pemotretan indoor atau outdoor. Alat
ini lebih akurat daripada light meter yang ada pada kamera.
14.
Trigger

Menyalakan flash/lampu studio dengan gelombang elektro


Kamera secara simpel merupakan sebuah kotak yang terdapat body untuk menempatkan film dan
bagian depannya terdapat sebuah lubang yang tertutup rapat dengan sebuah lensa, dengan
demikian sebuah lensa kamera pada prinsipnya terdiri dari dua bagian utama yaitu body kamera
dan lensa.
15. Kamera
Kamera adalah sebuah alat yang mengarahkan bayangan yang difokuskan oleh lensa/sistem optik
lain keatas permukaan foto sensitif yang berada dalam tempat tetutup/film. Dilihat dari jenisnya,
kamera ada 2 macam yaitu:
a. Compact Camera,yaitu kamera yang pemakaiannya langsung melihat obyek yang difoto tanpa
melalui lensa pengatur.
b. Single Lens Reflex(SLR),yaitu kamera yang cara kerjanya dengan bayangan benda yang dilihat
lalu di pantulkan oleh cermin yang terdapat didalam kamera, sehingga dengan jenis ini obyek tidak
dapat dilihat jika lensa dalam keadaan tetutup.

16. Lampu Studio

Ketika lampu pertama sampai di anda, lakukan fase sbb: (keterangan dibawah ini untuk contoh foto
lampu paling atas 100w)
A. CABLE POWER SOCKET : colok kabel power ke lubang ini dan colok juga ke socket listrik di
rumah anda.
B. LIGHT SWITCH : tombol on-off untuk menghidupkan flash lighting tsb. Sebelum dihidupkan dapat
anda pasang modeling lamp terlebih dahulu.
Flash Lighting (flash tube) ini, dengan tombol hidupnya dari LIGHT SWITCH, bentuk lampunya nya
bulat seperti gelang, dan dia memancarkan cahaya jika ditrigger dgn pemicu dari kamera anda
seperti (Cable Syncro, Radio Slave, IR Trigger dan Flash Eksternal Kamera).
Power dari flash tube ini sesuai dgn spek yg anda beli, 110 ws atau 250 ws bahkan 500ws dan lain
sbgnya.
Nyala lampu ini sebagai cahaya utama. Biasanya berwarna putih, tergantung pada Kelvin pada spek
lampu, untuk berwarna putih sekitar 5600K (seperti contoh lampu pada tulisan saya ini).
Muncul suatu pertanyaan, apakah daya lampu jika kita beli yg 500ws itu bisa hidup dirumah anda yg
daya listriknya cuma 900w?
BISA, karena prinsip kerjanya tidak langsung menyedot daya sebesar 500w (sesuai spek) tapi
mengumpulkan sedikit demi sedikit, dan mengeluarkan ketika sudah cukup power, itu pun dengan
cara di trigger. Jadi dipakai 2 titik lampu juga tidak apa-apa.
Jika kemudian hari flash tube ini putus, biasanya harus mengganti dengan spare part dari merk
lampu yg anda miliki, beli ketempat anda membeli lampu tsb.
C. MODELING LAMP SWITCH : tombol on-off untuk menghidupkan modeling lamp. Bentuk modeling
lamp seperti lampu rumah atau lampu belajar, (spot/continues light) nyala terus, biasanya berwarna
kuning (dibawah 5000K), cahayanya dan wattnya biasanya lebih kecil dari spek lampu, contoh
lampu flash power110w merk tronic, flash tubenya 110w, modeling lampnya cuma 60w.
Modeling lamp ini, berfungsi sebagai guide lamp, memberi petunjuk kepada kita, kira-kira kemana

jatuh cahaya. Juga sebagai pembantu auto focus kamera kita, ketika ruang studio kita buat gelap
gulita. Dapat juga dimanfaatkan sebagai fill light (cahaya untuk mengisi).
Untuk modeling lamp ini jika kemudian hari putus, sebagian lampu studio dapat mengantinya
dengan lampu rumahan umum, sejauh drat belakangnya masuk dan cocok.
D. OUT PUT CONTROL : Untuk menaik atau turunkan power dari kekuatan pancaran cahaya flash
tube, posisi 1 = full power (untuk perawatan, ketika memutar full power, turunkan sedikit, tetap
diangka 1 tapi tidak mentok habis), = setengah power dsbg sampai dengan 1/8 power.
E. TEST BUTTON : Setelah lampu anda persiapkan, ada baiknya lakukan test button, mencoba
apakah lampu menyala. Ketika anda selesai memotret dan mematikan power, lakukan test button
lagi untuk membuang power flash yg masih tersimpan (untuk perawatan).
F. 100% INDICATOR LAMP : Lampu kecil ini akan menyala ketika pengisian power sudah cukup untuk
di pakai kembali, untuk lampu contoh sekitar 4 detik waktu recyclenya. Untuk perawatan pastikan
lampu ini sudah nyala untuk kita memakai kembali, sabar saja sekitar 4 detik. Kalau mau yg satu
detik mungkin ada, tetapi sudah tentu lampu mahal.
G. SYNC CABLE SOCKET : Biasanya setiap membeli lampu (seperti merk contoh) kabel syncro turut
disertakan, ini dapat digunakan jika kamera anda memiliki socket penerimanya, atau membeli
adapter pada hot shoe kamera anda. Kabel syncro berfungsi untuk mentriger flash studio anda
melalui mediasi kabel.
Selain itu jika memakai Radio Slave untuk mentrigger lampu flash anda, biasanya di socket ini
receiver dari radio slave di colokkan. Dengan tertanamnya Radio Slave maka pancaran flash orang
lain pada Sync Controler lampu anda, tidak dapat mentrigger lampu tsb. Lampu hanya untuk anda.
H. SYNC CONTROLER : Lampu kecil ini merupakan sensor untuk mentrigger lampu flash studio,
setiap bias sinar yg menyentuhnya, lampu akan tertriger, biasanya dengan menggunakan Flash
eksternal (set dimanual, jangan TTL) atau IR Triger. Namun orang lain yg memakai flash eksternal
bahkan pop up/internal flash, bisa ikut mentriggernya, bahkan jika di out door Sync Controler yg
telah tersirami cahaya matahari sekian lama, IR Trigger dan Flash Eksternal anda tidak dapat
mentrigger lampu tersebut, istilahnya lampu jadi "bego". Solusinya pakai radio slave.
I. FUSE TUBE : Untuk beberapa lampu (contoh 110ws tronic) jika kita ingin menyalakan power,
ternyata lampu mati total, dan tombol-tombol tidak berfungsi, ganti saja fuse, mungkin putus.
J. UMBRELLA HOLDER : Umumnya pada bawah lampu ada lubang untuk dudukan payung studio.

17. Lensa
Ada banyak sekali jenis lensa di dunia fotografi dengan kegunaan, kelebihan, dan kekurangannya
masing-masing. Untuk kamu yang mungkin belum begitu paham, berikut daftarnya:
Fisheye: Tidak ada manfaat spesifik, kecuali memberikan efek mata ikan. Baca juga penjelasan lebih
spesifiknya di artikel yang ini.
Ultra-wide rectilinear, lebih lebar dari 19mm: Biasanya untuk memotret interior, dengan ruang
terbatas tapi dibutuhkan pandangan menyeluruh di dalam sebuah ruangan.
Ultra-wide-angle (19, 20, 21, atau 24mm): Satu dari empat atau lima lensa penting untuk
profesional, sangat berguna untuk seniman dan pemula yang sudah mengenal dasar fotografi.
Digunakan untuk landscape, interior, street photography, foto massa, dan sebagainya. Masih jarang
orang menggunakan lensa ukuran ini untuk fotografi sehari-hari.
Ultra-wide-angle zoom (lebar ujungnya 20mm atau lebih lebar): Berguna jika seorang fotografer mau
membawa sebuah lensa berat dan bukannya tiga yang lebih ringan, atau mereka yang menyukai
efek flare. Kadang berpasangan dengan lensa zoom 80-200mm sebagai dua lensa penting
profesional.
Wide angle: Sekarang lensa ukuran 24mm lebih sering digantikan oleh 20mm dan lensa 35mm telah
menjadi focal length yang dianggap normal, sehingga diantara keduanya hadirlah focal length fixed
yaitu 28mm. Berguna untuk melakukan pemotretan apapun (terutama untuk street photography,
art, photojournalism, dan portret lingkungan) dimana tampilan lebar dibutuhkan.

Shift: Untuk memotret bangunan. Memperbaiki lengkungan pada garis yang diakibatkan oleh
masalah perspektif.
Tilt shift: sama dengan lensa shift, sekarang biasanya digunakan untuk memberi efek miniatur, juga
untuk memotret landscape dengan porsi foreground yang banyak.
Zoom 28-200mm untuk segala keperluan: jarang dipakai karena range focal-nya yang terlalu lebar
sehingga tidak bisa menghasilkan foto yang kualitasnya baik.
Lensa fixed normal (35mm): Ini adalah focal length yang paling mudah digunakan untuk memotret,
tapi seringkali digantikan oleh lensa zoom. Sering digunakan untuk street photography.
Normal/standard (50mm): Berguna untuk memotret jarak dekat. Bagus untuk belajar disiplin bagi
mereka yang sudah terbiasa menggunakan lensa zoom. Jika digunakan oleh mereka yang ahli, bisa
menghasilkan foto serupa wide angle juga telephoto.
Macro/micro: Untuk memotret bunga, serangga, bola mata, bulu mata, barang-barang kecil, sarang
laba-laba yang dihiasi embun, dan semacamnya. Lensa hobi yang sangat populer, karena fotografer
makro adalah salah satu tipe fotografer paling antusias yang seringnya memotret hal-hal
menyenangkan.
Normal super cepat (f/2, f/1.2): Digunakan oleh mereka yang suka depth of field yang sangat
terbatas. Biasanya untuk membuat portrait, juga untuk mereka yang suka bokeh.
Zoom standard (35-70mm, 28-105mm, 35-135mm, dsb.): Digunakan untuk memotret dibawah
cahaya terang biasanya snapshot, pemandangan, mobil, foto perjalanan, foto-foto underexposedm
dan foto yang meledak karena flash dari kamera. Berguna untuk foto-foto yang sangat umum.
Lensa fixed 135mm: Jarang digunakan atau dimiliki. Umumnya hanya menjadi lensa standard 35mm
jika digunakan pada kamera rangefinder.
Zoom medium cepat: Untuk profesional, ini adalah lensa sehari-hari. Untuk pemula, jarang
digunakan. Sangat mahal, besar, dan berat tapi kualitasnya setara lensa fixed yang lebih murah.
Short tele (75, 77, 80, 85, 90, 100, atau 105mm): Untuk portrait, landscape ketat, foto wajah, beauty
dan fashion. Biasanya kit lens yang datang bersama body camera juga dalah zoom standard seperti
ini.
Lensa fixed lambat 180mm atau 200mm: Ringan dan mudah dibawa.
Telephoto zoom standard (70 atau 80 atau 180, 200, atau 210): Baik itu cepat atau lambar, lensa ini
bagus untuk kebanyakan fotografer, pro maupun pemula. Digunakan untuk segala jenis action,
aktivitas, fashion, portrait, foto wajah, reportase, olahraga, wildlife, landscape dan alam. Bisa
mencakup range telephoto yang dibutuhkan kebanyakan fotografer setidaknya sampai mereka
mulai tertarik untuk memotret burung.
300mm cepat: Untuk fashion, katalog, fashion show, olahraga, alam, pertunjukan pesawat terbang.
Lensa yang penting untuk profesional, juga untuk fotografer alam. Agak sulit digunakan oleh pemula
kecuali untuk memotret serangga.
400mm: Serangga, olahraga, dan burung. Juga untuk memotret pertandingan sepak bola dengan
fokus pada pemain secara individu.
500mm: Serangga dan burung.
600mm: Serangga.
18. Release Cable
Cable shutter release yang akan sangat membantu anda didalam pemotretan
landscape/macro/night shoot, memudahkan penggunaan speed yang sangat rendah sampai dengan
Bulb.. dan menghilangkan getaran dari jari-jemari saat menekan tombol shutter.
Fungsi tombol:
- Setengah tekan untuk auto fokus.
- Tekan penuh untuk release shutter.
- Lock untuk continouse shutter.
Panjang kabel +/- 1 meter.
Model NE-C1
=====================
Canon 300D/350D/400D/450D/500D/1000D/All Pentax
Model NE-C3
=====================

Canon 1D series, 5D series, 50D, 40D, 30D, 20D, 10D


Model NE-N1
==============================
Nikon D3 series, D2 series, D1 series, D700, D300, D200
Fujifilm S5 Pro, S3 Pro
Kodak DCS-14N
Model NE-N2
==============================
Nikon D70s/D80
Model NE-N3
==============================
Nikon D90/D5000
Model NE-S1
===============================
Sony Alpha & Konica Minolta Camera - All DSLR Series.