Anda di halaman 1dari 10

Endang Wulan Sari,14334711, 2016

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi

EFEK ANTIDIARE EKSTRAK ETANOL KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) PADA
MENCIT SWISS WEBSTER JANTAN
Endang Wulan Sari
Fakultas Farmasi, Institut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta
endang. wulan002@gmail.com
ABSTRAK
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair, dengan
demikian kandungan air lebih banyak dari biasanya. Berbagai pengobatan dilakukan untuk
mengobati diare, baik dengan obat sintetik maupun dengan cara tradisional. Salah satu tanaman
yang dipercaya masyarakat sebagai antidiare adalah kayu secang (Caesalpinia sappan L.).
Penelitian sebelumya menunjukkan bahwa tanaman secang memiliki aktivitas antimikroba,
analgesik dan antidiare dengan metode ekstraksi infusa. Pada penelitian ini dilakukan uji efek
antidiare menggunakan ekstrak etanol 70% dari kayu secang (Caesalpinia sappan L.) pada mencit
Swiss webster jantan. Ekstrak etanol 70% diperoleh melalui proses maserasi. Dosis yang
digunakan 4 mg/Kg BB, 8 mg/Kg BB dan 16 mg/Kg BB. Pengujian dilakukan dengan metode
proteksi terhadap diare yang diinduksi oleh Oleum ricini dengan Loperamid HCl sebagai
pembanding dan metode transit intestinal dengan Norit 0,5 % sebagai marker. Parameter yang
diamati pada metode proteksi terhadap diare yang diinduksi oleh Oleum ricini meliputi waktu
terjadinya diare, frekuensi diare, konsistensi feses, bobot feses dan durasi diare. Parameter pada
metode transit intestinal adalah rasio panjang usus yang dilalui marker. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dengan kedua metode tersebut, ketiga dosis ekstrak etanol kayu secang
memiliki efek antidiare, yang berbeda secara nyata bila dibandingkan terhadap kelompok kontrol
yaitu CMC-Na 0,5 %(p<0,05). Ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.) pada dosis 16
mg/Kg BB memberikan efek antidiare paling baik dan tidak berbeda bermakna dengan kelompok
pembanding yaitu Loperamid HCl 0,26 mg/Kg BB (p>0,05).
Kata Kunci : Kayu secang, Caesalpinia sappan L., antidiare, metode proteksi, metode transit
intestinal.
ABSTRACK

Diarrhoea is a bowel movement (defecation) with feces as a liquid or semi-liquid, thus contains
more water than usual. Various treatments performed to treat diarrhea, both with synthetic drugs,
as well as in the traditional way. One of the plants is believed to society as antidiarrheal wooden
cup (Caesalpinia sappan L.). Previous research indicates that plants secang have antimicrobial
activity, analgesic and antidiarrheal with infusa extraction method. In this study tested the effects
of antidiarrheal using 70% ethanol extract of the wooden cup (Caesalpinia sappan L.) on Swiss
Webster male mice. 70% ethanol extract is obtained through a maceration process. The dose used
4 mg / kg, 8 mg / kg and 16 mg / kg. Tests conducted by the method of protection against diarrhea
induced by Oleum ricini with Loperamide HCl as a comparison and intestinal transit method with
Norit 0.5% as a marker. The parameters were observed in methods of protection against diarrhea
induced by Oleum ricini includes the time of occurrence of diarrhea, diarrhea frequency, stool
consistency, stool weight and duration of diarrhea. Parameters on intestinal transit method is the
ratio of length of the colon that passed the marker. The results showed that with both methods, all
three doses of ethanol extract of the wooden cup has antidiarrheal effect, were significantly
different when compared to the control group 0.5% CMC-Na (p <0.05). The ethanol extract
wooden cup (Caesalpinia sappan L.) at a dose of 16 mg / Kg BB provide most excellent
antidiarrheal effect and no significant difference in the comparison group that Loperamide HCl
0.26 mg / Kg BB (p> 0.05).
Keywords : Sappan Lignum (Caesalpinia sappan L.), antidiarrhoea, Proteksi Method, transit
intestinal method.

Endang Wulan Sari,14334711, 2016 | endang.wulan002@gmail.com

Endang Wulan Sari,14334711, 2016


Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi

PENDAHULUAN
WHO memperkirakan bahwa 4 milyar
kasus diare terjadi setiap tahun di seluruh
dunia (1 milyar terjadi pada anak-anak
berusia dibawah 5 tahun) dan bahwa sekitar
5 juta kematian disebabkan oleh diare setiap
tahun (2,5 juta kematian terjadi pada anakanak berusia di bawah 5 tahun). Penyakit
diare masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat di negara berkembang seperti di
Indonesia,
karena
morbiditas
dan
mortalitasnya yang masih tinggi. Pada tahun
2010 terjadi wabah diare di 33 kecamatan di
Indonesia
dengan
jumlah
penderita
mencapai 4.204 jiwa dan menyebabkan
kematian terhadap 73 jiwa. Data Riskesdas
2013 insiden diare untuk seluruh kelompok
umur di Indonesia adalah 3,5 persen.
Berdasarkan
karakteristik
penduduk,
kelompok umur balita adalah kelompok
yang paling tinggi menderita diare. Insiden
diare balita di Indonesia adalah 6,7 %. 1-3
Diare adalah pengeluaran feses cair
berulang kali atau lebih dari 3 (tiga) kali
sehari atau diare adalah suatu keadaan yang
frekuensi defekasinya melebihi frekuensi
normal dengan konsistensi feses yang encer.
Diare merupakan masalah umum untuk
orang yang menderita pengeluaran feses
yang terlalu cepat dan terlalu encer, tetapi
agar lebih kuantitatif, ilmuwan biasanya
mendefinisikan diare sebagai kelebihan
bobot cairan, untuk orang Barat usia dewasa
yang sehat, maksimum berat air normal
dalam feses adalah 200 g/hari. Karena berat
feses sebagaian besar ditentukan oleh feses
yang berair.2
Melihat penyakit diare masih menjadi
masalah kesehatan terutama di negaranegara berkembang salah satunya Indonesia,
maka kebutuhan akan obat-obat antidiare
masih tinggi.
Kelompok
obat yang
seringkali digunakan pada diare adalah
kemoterapeutika,
obstipansia,
dan
spasmolitika. Pengobatan diare dilakukan
dengan mengkonsumsi obat-obat kimia.
Beberapa pengobatan tersebut dapat
menimbulkan efek samping seperti mual,
muntah, nyeri abdomen serta ruam pada
kulit. Selain pengobatan
menggunakan
obat-obatan
kimia,
masyarakat
juga
mengenal alternatif pengobatan tradisional
dalam mengatasi diare. Beberapa penelitian
terdahulu menjelaskan bahwa beberapa
tanaman obat efektif mengobati diare karena
kandungan senyawa tanin, fenol, saponin,
minyak atsiri, alkaloid dan flavonoid.4

Indonesia
yang
beriklim
tropis
menyebabkan tanahnya subur sehingga
banyak jenis tumbuhan yang dapat tumbuh.
Di antara berbagai jenis tersebut beberapa
jenis tumbuhan memiliki khasiat sebagai
obat. Menurut Akbar, R (2015) dan Herbie
,T (2015) salah satu tumbuhan obat yang
mempunyai efek antidiare dan digunakan
sebagai obat tradisional adalah
Kayu
Secang (Caesalpinia sappan L). 5,6
Pada penelitian sebelumnya infusa kayu
secang memiliki efek antidiare pada dosis
1,25; 2,5 dan 3,75 g/Kg BB yang diberikan
pada mencit jantan dengan metode proteksi
terhadap diare yang diinduksi oelum ricini
dan
sebagai
kelompok
pembanding
digunakan Loperamid HCl.7
Penelitian terdahulu menggunakan
penyarian infusan untuk meneliti aktivitas
antidiare. Berdasarkan uraian di atas, akan
diteliti ekstrak kayu secang sebagai
penelitian lanjut antidiare. Hal ini
diharapkan
dalam
ekstrak
hanya
mengandung senyawa aktif terutama tanin
yang memiliki fungsi sebagai adstringen,
yaitu dapat meringankan diare dengan
mekanisme kerja menciutkan permukaan
usus atau zat yang bersifat sebagai proteksi
terhadap
mukosa
usus
dan
dapat
menggumpalkan protein, selain itu tanin
memiliki sifat sebagai pengelat yang berefek
spasmolitik.8
Pada penelitian kali ini, dilakukan
pengamatan terhadap pengaruh ekstrak
Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.)
dengan variasi dosis sediaan uji terhadap
aktvitas antidiare dengan metode proteksi
ditinjau berdasarkan waktu terjadinya
(onset) diare, frekuensi diare, konsistensi
diare, bobot feses, lama (durasi) diare, dan
metode transit intestinal dilihat dari uji
waktu lintas usus pada mencit Swiss Webster
jantan
yang
dibandingkan
dengan
Loperamid HCl dan CMC-Na 0,5 % sebagai
kelompok kontrol. Kayu secang dimaserasi
dengan pelarut etanol 70 % (1:7) selama tiga
hari. Keuntungan menggunakan pelarut
etanol 70 % karena lebih selektif, kapang
dan kuman pun sukar tumbuh dalam etanol
20 % ke atas, tidak beracun, netral dan
absorbsinya baik. Selain itu, etanol 70 %
paling sesuai untuk bahan simplisia berupa
akar, batang atau bagian kayu dari
tumbuhan.8,9
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini,
ekstrak kayu secang diharapkan dapat
memiliki potensi sebagai antidiare selain itu
diharapkan penelitian ini dapat memberikan

Endang Wulan Sari,14334711, 2016 | endang.wulan002@gmail.com

Endang Wulan Sari,14334711, 2016


Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi

informasi ilmiah mengenai Kayu Secang


(Caesalpinia sappan L.) yangmemiliki
potensi sebagai antidiare sehingga dapat
digunakan sebagai alternatif pengobatan
diare secara alami dan tanpa efek samping
bagi semua usia serta dapat mengangkat
potensi kayu secang sebagai obat herbal
yang ekonomis.

2.

BAHAN DAN HEWAN UJI


Bahan. Kayu secang (Caesalpinia
sappan L.), pakan mencit, CMC-Na 0,5%,
minnyak jarak (Oleum ricini), norit 0,5%,
kertas saring, aquadest, eanol 70%, dan
Loperamid HCl (imodium) 0,26 mg/Kg
BB.
Hewan Uji. Hewan pecobaan yang
digunakan adalah mencit Swiss Webster
jantan dengan bobot 20-30 g dengan umur
rata-rata 2 bulan yang diperoleh dari Institut
Pertanian Bogor.

METODE PENELITIAN
Pembutan Ekstrak Etanol Kayu
Secang (Caesalpinia sappan L.). 400 g
serbuk simplisa kayu secang diekstraksi
dengan
seperangkat
alat
maserasi
menggunakan penyari etanol 70 % (1:7)
selama 3x 24 jam. Ekstrak yang diperoleh
dipekatkan dengan Rotary evaporator,
diupakan di atas penangas dengan suhu
50C. Rendemen ekstrak etanol kayu secang
yang dihasilkan sebesar 9,27 %.
Pengujian Efek Antidiare Ekstrak
Etanol Kayu Secang (Caesalpinia sappan
L.). Pengujian efek antidiare ekstrak etanol
kayu secang (Caesalpinia sappan L.) diuji
dengan metode proteksi yang diinduksi oleh
oleum ricini dan metode transit intestinal.
Metode proteksi diare yang diinduksi
oleh Oleum ricini
1. Mencit dipuasakan selama satu jam
sebelum pengujian dimulai. Setelah
ditimbang,
hewan
dikelompokkan
secara acak menjadi 5 kelompok,
masing-masing kelompok terdiri atas 6
ekor mencit. Pada saat t=0, masingmasing kelompok diberi sediaan secara
oral sebagai berikut :
a) Kelompok kontrol diberi suspensi
CMC-Na 0,5%.
b) Kelompok pembanding diberi
suspensi Loperamid 0,26 mg/Kg
BB.
c) Kelompok uji I diberi suspensi
ekstrak etanol kayu secang 4
mg/Kg BB.

3.

4.

5.

1.

2.

Endang Wulan Sari,14334711, 2016 | endang.wulan002@gmail.com

d) Kelompok uji II diberi suspensi


ekstrak etanol kayu secang dosis 8
mg/Kg BB
e) Kelompok uji III diberi suspensi
ekstrak etanol kayu secang dosis 16
mg/Kg BB.
Satu jam setelah pemberian sediaan,
masing-masing hewan uji dari setiap
kelompok diberi oleum ricini sebanyak
0,75 ml/20 g BB secara oral dan
ditempatkan secara individual di bejana
pengamatan yang beralaskan kertas
saring yang telah ditimbang terlebih
dahulu.
Respon Respon yang telah terjadi
diamati selang waktu 30 menit sampai 4
jam, kemudian selang waktu 1 jam
sampai 6 jam setelah pemberian Oleum
Ricini.
Parameter yng diamati meliputi
konsistensi feses, frekuensi diare, bobot
feses, waktu mulai terjadinya diare
(onset) diare, dan lama terjadinya diare
(durasi) diare.
Data dianalisis secara statistika dengan
Anova dan uji Posthoc Tukey HSD
menggunakan perangkat lunak SPSS 20
for windows.
Metode transit intestinal
Selama 18 jam sebelum dimulai, mecit
dipuasakan dari makan. Setelah
ditimbang,
hewan
dikelompokkan
secara acak menjadi 5 kelompok,
masing-masing kelompok terdiri atas 6
ekor mencit. Pemberian pembawa,
pembanding dan ekstrak uji diberikan
pada saat t = 0 menurut dosis yang
ditetapkan sebagai berikut :
a) Kelompok kontrol diberi suspensi
CMC-Na 0,5%.
b) Kelompok pembanding diberi
suspensi Loperamid 0,26 mg/Kg
BB.
c) Kelompok uji I diberi suspensi
ekstrak etanol kayu secang 4
mg/Kg BB.
d) Kelompok uji II diberi suspensi
ekstrak etanol kayu secang dosis 8
mg/Kg BB
e) Kelompok uji III diberi suspensi
ekstrak etanol kayu secang dosis 16
mg/Kg BB.
Setelah t = 45 menit, mencit diberikan
suspensi norit 5% sebanyak 0,2 mL/20
g BB secara oral.

Endang Wulan Sari,14334711, 2016


Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi

3.

4.

5.

Pada t = 65 menit, mencit dikorbankan


dengan cara dislokasi tulang leher. Usus
mencit dikeluarkan secara hati-hati,
sampai teregang.
Panjang seluruh usus dan bagian usus
yang dilalui marker norit mulai dari
pilorus sampai ujung akhir (berwarna
hitam) diukur dari masing-masing
hewan kemudian dihitung perbandingan
jarak yang ditempuh marker norit
terhadap panjang usus keseluruhan.
Data dianalisis secara statistika dengan
Anova dan uji Posthoc Tukey HSD
menggunakan perangkat lunak SPSS 20
for windows.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pengujian
efek
antidiare
ini
menggunakan dua metode yang saling
berkaitan yaitu metode proteksi diare yang
diinduksi oleh Oleum ricini dan metode
transit intestinal. Pada metode proteksi diare
digunakan
Oleum
ricini
sebagai
penginduksinya. Oleum ricini merupakan
trigliserida dari asam risinoleat yang dapat
terhidrolisis dalam usus oleh lipase menjadi
gliserin dan asam risinoleat. Sebagai
surfaktan anionik zat ini bekerja mengurangi
absorpsi neto cairan dan elektrolit serta
menstimulasi peristaltik usus, sehingga
Oleum ricini dapat menyebabkan diare.
Parameter yang diamati pada metode
proteksi diare yang diinduksi oleh Oleum
ricini adalah frekuensi diare, bobot feses,
konsistensi feses, waktu timbul diare dan
lama diare.
Parameter pertama yang diamati pada
metode proteksi diare yang diinduksi oleh
oleum ricini adalah konsistensi feses , pada

parameter ini dikategorikan menjadi 5 yaitu,


padat (1), padat lembek (2), lembek (3),
lembek cair (4) dan cair (5). Kelompok yang
dinyatakan diare adalah kelompok yang
menunjukkan konsistensi nomor 4 dan 5.
Konsistensi
feses
dinilai
dengan
menggunakan scoring, sehingga kelompok
yang dinyatakan memiliki efek antidiare
adalah kelompok yang menunjukkan angka
konsistensi paling kecil.. Dari nilai rata-rata
hasil pengamatan pada tabel 1, kelompok
uji ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia
sappan L.) dosis 4 mg/Kg BB (dosis 1) tidak
menunjukkan konsistensi feses yang lebih
padat dibandingkan dengan kelompok
kontrol dan tidak terdapat adanya perbedaan
bermakna dari kelompok kontrol (p>0,05).
Kelompok uji ekstrak etanol Kayu Secang
dosis 8 mg/Kg BB (dosis 2) menunjukkan
konsistensi feses yang lebih padat dan
berbeda bermakna dibandingkan kelompok
kontrol (CMC-Na 0,5 %) pada menit ke-300
sampai menit ke-360 (p<0,05). Kelompok
uji ekstrak etanol Kayu Secang dosis 16
mg/Kg BB (dosis 3) menunjukkan
konsistensi feses yang lebih padat
dibandingkan kelompok dan berbeda
bermakna dengan kelompok kontrol pada
menit ke-240 sampai menit ke-360 (p<0,05).
Pada kelompok ekstrak etanol kayu secang
dosis 3 (16 mg/Kg BB) memiliki angka
konsistensi feses yang lebih kecil dan tidak
berbeda bermakna atau sebanding dengan
kelompok pembanding yang diberikan
Loperamid HCl 0,26 mg/Kg BB pada menit
ke 300 dan 360 (p>0,05).

Tabel 1. Data Hasil Rata-rata Pengamatan Konsistensi Feses Ekstrak Etanol Kayu Secang
Rata-rata Konsistensi Feses pada menit keKelompok

30

60

90

120

150

180

210

240

300

360

Kontrol

0,67

0,83

2,67

4,33

4,33

4,17

3,33

4,17

3,83

4,33

Pembanding

0,67

0,00

1,50

2,17

3,33

3,50

2,67

2,50

1,17

0,67

Dosis 1

0,50

0,67

2,67

3,67

3,5

3,50

3,17

3,00

4,17

3,16

Dosis 2

0,33

1,67

2,00

3,17

4,33

2,83

2,67

4,00

1,67

1,16

Dosis 3

0,50

1,17

2,17

2,83

3,50

2,67

3,67

3,17

1,67

0,83

Keterangan tabel 1 :
Kontrol
Pembanding
Dosis 1

: Suspensi CMC-Na 0,5%


: Suspensi Loperamid 0,26 mg/Kg BB
: Ekstrak Etanol kayu secang 4 mg/Kg BB

Endang Wulan Sari,14334711, 2016 | endang.wulan002@gmail.com

Endang Wulan Sari,14334711, 2016


Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi

Dosis 2
Dosis 3

: Ekstrak Etanol kayu secang 8 mg/Kg BB


: Ekstrak Etanol kayu secang 16 mg/Kg BB

Parameter kedua adalah frekuensi diare.


Frekuensi diare dinyatakan dalam berapa
kali mencit mengalami diare selama selang
waktu pengamatan. Dari hasil yang
diperoleh menunjukkan dengan semakin
tinggi frekuensi terjadinya diare maka efek
antidiare akan semakin lemah.
Perolehan hasil pengamatan frekuensi
diare yang tertera gambar 2, kelompok uji
ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia
sappan L.) dosis 4 mg/Kg BB (dosis 1)
menunjukkan rata-rata frekuensi diare yang
lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok
kontrol dan berbeda bermakna pada menit
ke-360 (p<0,05). Kelompok uji ekstrak
etanol Kayu Secang dosis 8 mg/Kg BB
(dosis 2) menunjukkan rata-rata frekuensi

Kelompok
Kontrol
Pembanding
Dosis 1
Dosis 2
Dosis 3

30
0,67

60
0,67

0,5

0,67

0,5

0,33

0,83

0,33

0,67

90

diare yang lebih sedikit dibandingkan


kelompok kontrol dan hasil berbeda
bermakna pada menit ke-300 dan menit ke360 (p<0,05). Kelompok uji ekstrak etanol
Kayu Secang dosis 16 mg/Kg BB (dosis 3)
menunjukkan rata-rata frekuensi diare yang
lebih sedikit dibandingkan kelompok kontrol
dan berbeda bermakna pada menit ke-240
sampai menit ke-360 (p<0,05). Dan
kelompok ekstrak etanol kayu secang dosis
16 mg/Kg BB (dosis 3) mengurangi
frekuensi diare dan tidak berbeda secara
bermakna atau sebanding dengan kelompok
pembanding Loperamid HCl 0,26 mg/Kg
BB pada menit ke-240 sampai menit ke-360
(p>0,05).

Rata-rata Frekuensi Diare pada menit ke120


150
180
210
240

1,67

2,67

3,00

2,00

1,67

1,83

0,83

1,3

2,00

1,83

1,33

1,00

1,50

2,50

2,50

2,00

1,67

1,50

0,33

0,33

2,33

1,17

1,50

0,83

1,00

1,67

2,16

1,50

1,33

1,33

300

360

1,33

1,17

0,83

0,33

1,50

1,07

1,00

1,00

1,00

1,00

Tabel 1. Data Hasil Rata-rata Pengamatan Frekuensi Diare Ekstrak Etanol Kayu Secang
Keterangan tabel 1 :
Kontrol
: Suspensi CMC-Na 0,5%
Pembanding
: Suspensi Loperamid 0,26 mg/Kg BB
Dosis 1
: Ekstrak Etanol kayu secang 4 mg/Kg BB
Dosis 2
: Ekstrak Etanol kayu secang 8 mg/Kg BB
Dosis 3
: Ekstrak Etanol kayu secang 16 mg/Kg BB
Parameter ketiga adalah bobot feses
Kelompok uji ekstrak etanol etanol
dimana bobot feses yang paling ringan
kayu Secang dosis 16 mg/Kg BB (dosis 3)
dinyatakan memiliki efek antidiare yang
menunjukkan rata-rata bobot feses yang
baik.
lebih ringan dibandingkan dan hasil berbeda
Perolehan hasil pengamatan bobot pada
bermakna dengan kelompok kontrol pada
gambar 3, kelompok uji ekstrak etanol kayu
menit ke -240 sampai menit ke-360
secang (Caesalpinia sappan L.) dosis 4
(p<0,05). Dan kelompok ekstrak etanol kayu
mg/Kg BB (dosis 1) tidak menunjukkan
secang pada dosis 8 mg/Kg BB (dosis 2)
rata-rata bobot feses yang lebih ringan
tidak berbeda bermakna atau sebanding
dibandingkan dengan kelompok kontrol dan
dengan kelompok pembanding Loperamid
tidak
berbeda
bermakna
(p>0,05).
HCl 0,26 mg/Kg BB pada menit ke-300
Kelompok uji ekstrak etanol kayu Secang
sampai menit ke-360 (p>0,05). Pada ekstrak
(Caesalpinia sappan L.) dosis 8 mg/Kg BB
etanol kayu secang dosis 16 mg/Kg BB
(dosis 2) menunjukkan rata-rata bobot feses
(dosis 3) tidak berbeda bermakna atau
yang lebih ringan dibandingkan kelompok
sebanding dengan kelompok pembanding
dan hasil berbeda bermakna dibandingkan
Loperamid HCl 0,26 mg/Kg BB pada menit
dengan kelompok kontrol (p<0,05) pada
ke- 240 sampai menit ke -360.
menit ke-300 sampai menit ke-360 (p<0,05).

Endang Wulan Sari,14334711, 2016 | endang.wulan002@gmail.com

Endang Wulan Sari,14334711, 2016


Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi

Tabel 3. Hasil rata-rata pengamatan Bobot feses ekstrak etanol kayu secang
Rata-rata Bobot Feses pada menit ke-

Kelompok

Kontrol
(CMC-Na 0,5%)
Pembanding
(Loperamid 0,26
mg/Kg BB)
Dosis 1 (Ekstrak
Etanol Kayu Secang 4
mg/Kg BB)
Dosis 2
(Ekstrak Etanol Kayu
Secang 8 mg/Kg BB)
Dosis 3
(Ekstrak Etanol Kayu
Secang 16 mg/Kg BB)

30

60

90

120

150

180

210

240

300

360

0,48

0,58

1,44

1,20

1,28

1,2

0,74

1,79

1,38

1,65

0,05

0,00

0,87

0,71

0,97

0,75

0,74

0,32

0,28

0,19

0,37

0,52

1,44

1,15

1,07

1,05

0,96

1,06

1,28

1,34

0,32

0,46

0,77

0,9

1,03

1,05

0,83

0,75

0,64

0,33

0,26

0,19

0,80

0,85

0,97

0,87

0,79

0,97

0,46

0,24

Rata-rata Onset Diare (Menit)

Pada keempat yaitu pengamatan


parameter waktu terjadinya (onset) diare,
pada gambar 4 kelompok yang memiliki
waktu terjadinya diare lebih lama
dibandingkan dengan kelompok kontrol
dinyatakan memiliki efek sebagai antidiare.
Dari hasil yang diperoleh menunjukkan
dengan semakin cepat terjadinya diare maka
efek antidiare semakin lemah.
Kelompok kontrol mulai mengalami
diare setelah 95,67 menit diinduksi Oleum
ricini, kelompok pembanding mulai
mengalami diare setelah 140,67 menit
setelah diinduksi Oleum ricini. Sedangkan
pada kelompok uji ekstrak etanol Kayu
Secang (Caesalpinia sappan L.) dosis 4
180
160
140
120
100
80
60
40
20
0

140.67

119.17

118.67

Dosis 2

Dosis 3

98.67
95.67

Kontrol

mg/Kg BB (dosis 1), 8 mg/Kg BB (dosis 2)


dan 16 mg/Kg BB (dosis 3) secara berturutturut mulai mengalami diare setelah 98,67
menit, 119,17 menit dan 118,67 menit
diinduksi Oleum ricini. Hasil uji Posthoc
Tukey HSD, menunjukkan bahwa kelompok
uji ekstrak etanol kayu secang dosis 4
mg/Kg BB, 8 mg/Kg BB dan 16 mg/Kg BB
berbeda bermakna dengan kelompok kontrol
(p<0,05). Sedangkan kelompok ekstrak
etanol kayu secang dosis 16 mg/Kg BB
(dosis 3) mulai mengalami diare setelah
diinduksi oleum ricini tidak berbeda
bermakna
atau
sebanding
dengan
pembanding (Loperamid HCl 0,26 mg/Kg
BB) (p>0,05).

Pembanding

Dosis 1
Kelompok

Gambar 4. Diagram Batang Rata-rata Onset Diare Ekstrak Etanol kayu secang
(Caesalpinia sappan L.)
Keterangan gambar :
*) : onset diare dilihat berdasarkan konsistensi feses lembek cair (4)
dan cair (5)
Kontrol
: Suspensi CMC-Na 0,5%

Endang Wulan Sari,14334711, 2016 | endang.wulan002@gmail.com

Endang Wulan Sari,14334711, 2016


Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi

Pembanding
Dosis 1
Dosis 2
Dosis 3

: Suspensi Loperamid 0,26 mg/Kg BB


: Ekstrak Etanol kayu secang 4 mg/Kg BB
: Ekstrak Etanol kayu secang 8 mg/Kg BB
: Ekstrak Etanol kayu secang 16 mg/Kg BB

Pengamatan parameter terakhir pada


metode proteksi yang diinduksi oleum ricini
yaitu durasi diare, kelompok yang memiliki
durasi diare yang lebih pendek bila
dibandingkan dengan kelompok kontrol
dinyatakan memiliki efek sebagai antidiare.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kelompok kontrol menghasilkan durasi diare
selama 262,33 menit dari awal mengalami
diare hingga berhentinya diare, kelompok
pembanding menunjukkan durasi diare
selama 90,17 menit dari awal mengalami
diare hingga berhentinya diare. Sedangkan
pada kelompok uji ekstrak etanol Kayu
Secang (Caesalpinia sappan L.) dosis 4
mg/Kg BB (dosis 1), 8 mg/Kg BB (dosis 2)
dan 16 mg/Kg BB (dosis 3) secara berturut-

Rata-rata Durasi Diare


(menit)

350

262.33

turut menunjukkan durasi diare selama


224,50 menit, 136,50 menit dan 124,83
menit dari awal mengalami diare hingga
berhentinya diare. Hasil uji statistik
Postchoc Tukey HSD, menunjukkan bahwa
kelompok uji ekstrak etanol kayu secang
dosis 4 mg /Kg BB (dosis 1), 8 mg/Kg BB
(dosis 2) dan 16 mg/Kg BB (dosis 3)
berbeda bermakna bila dibandingkan dengan
kelompok kontrol (p<0,05).
Sedangkan ekstrak etanol kayu secang
dosis 8 mg/Kg BB (dosis 2) dan dosis 16
mg/Kg BB (dosis 3) waktu durasi diare
tidak berbeda secara bermakna atau
sebanding dengan kelompok pembanding
(Loperamid HCl 0,26 mg/Kg BB) (p>0,05).

244.50

300
250

136.50

200

124.83

90.17

150
100
50
0
Kontrol

Dosis 1
Dosis2
Dosis 3
Kelompok
Gambar 5. Diagram Batang Rata-rata Durasi Diare Ekstrak Etanol Kayu Secang
(Caesalpinia sappan L.)
Keterangan gambar :
Kontrol
: Suspensi CMC-Na 0,5%
Pembanding : Suspensi Loperamid 0,26 mg/Kg BB
Dosis 1
: Ekstrak Etanol kayu secang 4 mg/Kg BB
Dosis 2
: Ekstrak Etanol kayu secang 8 mg/Kg BB
Dosis 3
: Ekstrak Etanol kayu secang 16 mg/Kg BB

Pembanding

Pada pengamatan dengan metode transit


intestinal, parameter yang diamati adalah
nilai rasio usus yang dilalui marker norit.
Semakin kecil nilai rasio usus, maka
dinyatakan memberikan efek antidiare yang
baik.
Dari hasil pengujian pada gambar 3,
dapat dikatakan bahwa ketiga kelompok uji
ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia
sappan L.) dosis 4 mg/Kg BB, 8 mg/Kg BB,

dan 16 mg/Kg BB memberikan efek


antidiare.
Hasi pengujian statistik dengan
Postchoc Tukey HSD, hanya kelompok uji
dosis 8 mg/Kg BB (dosis 2) dan dosis 16
mg/Kg BB (dosis 3) memberikan efek
antidiare yang memberikan hasil berbeda
bermakna bila dibandingkan dengan
kelompok kontrol (p<0,05). Kelompok uji
yang memberikan hasil yang paling baik
adalah kelompok uji dosis 3 (16 mg/Kg BB)

Endang Wulan Sari,14334711, 2016 | endang.wulan002@gmail.com

Endang Wulan Sari,14334711, 2016


Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi

Rasio (%)

memberikan hasil yang tidak berbeda


sebesar 36,40%. Nilai rasionya mendekati
bermakna atau sebanding dengan kelompok
nilai rasio kelompok pembanding yaitu
pembanding loperamid HCl 0,26 mg/Kg BB
32,70%.
(p>0,05) dengan rata-rata persen rasio
Gambar 3. Diagram Batang Rata-rata Persen Rasio Ekstrak Etanol Kayu secang
80
70
60
50
40
30
20
10
0

59.05

56.05
45.35
32.7

Kontrol

Pembanding

Hasil skrining fitokimia menunjukkan


serbuk simplisia dan ekstrak etanol kayu
secang
(Caesalpinia
sappan
L.)
mengandung alkaloid, flavonoid, tanin,
saponin, dan steroid. Hasil ini menunjukkan
bahwa kayu secang (Caesalpinia sappan L.)
mengandung senyawa tanin, yaitu senyawa
metabolit sekunder yang mempunyai efek
farmakologi dengan sifat adstringensia
sebagai antidiare.
Tanin memiliki sifat mengendapkan zat
putih telur dan berkhasiat adstringen, yaitu
dapat meringankan diare dengan menciutkan
selaput lendir usus serta tanin memiliki sifat
sebagai pengelat dan berefek spasmolitik
yang dapat mengerutkan usus sehingga
menyebabkan gerakan peristaltik berkurang
selain itu, terdapat adanya senyawa
flavonoid
yang
dapat
menghambat
pengeluaran asetilkolin dan kontraksi usus
yang berfungsi sebagai antidiare.

KESIMPULAN
Dari ketiga dosis tersebut, yang
menunjukkan efek antidiare paling baik dari
hasil penelitian adalah dosis 16 mg/Kg BB.
Hasil pengujian pada metode proteksi pada
parameter onset diare dan durasi diare dosis
16 mg/Kg BB berbeda secara bermakna atau
sebanding dengan kelompok pembanding
(Loperamid HCl 0,26 mg/Kg BB) (p>0,05),
pada parameter konsistensi feses diperoleh
hasil
sebanding
dengan
kelompok
pembanding (Loperamid HCl 0,26 mg/Kg
BB) pada menit ke-300 dan 360 (p>0,05),
pada parameter frekuensi diare diperoleh
hasil sebanding dengan pembanding
(Loperamid HCl 0,26 mg/Kg BB) pada

Dosis 1
Kelompok

Dosis 2

36.4

Dosis 3

menit ke-240-360 (p>0,05), pada parameter


bobot feses hasil sebanding dengan
kelompok pembanding (Loperamid HCl
0,26 mg/Kg BB) pada menit ke-240 sampai
menit ke-360 (p>0,05). Pada pengujian
antidiare dengan metode transit intestinal
dosis 16 mg/Kg BB diperoleh hasil berbeda
bermakna dengan kelompok pembanding
Loperamid HCl 0,26 mg/Kg BB (p>0,05)
SARAN
Disarankan untuk melakukan pengujian
lebih lanjut mengenai efek lain dari kayu
Secang (Caesalpinia sappan L.) dan bagianbagian lain dari tumbuhan secang ini yang
memberikan efek farmakologi, serta
dilakukan uji toksisitas akut untuk
mengetahui keamanan penggunaan., serta
disarankan sebagai uji optimalisasi dosis
antidiare pada ekstrak etanol kayu secang.
DAFTAR PUSTAKA
Kemenkes RI.,(2010). Situasi Diare di
Indonesia. Buletin Jendela Data dan
Informasi. Volume 2. Subdit Pengendalian
Diare dan Infeksi Saluran Pencernaan.
Jakarta. Halaman 1-2.
.Adisasmito,Wiku., (2007). Faktor
Resiko Diare Pada Bayi dan Balita di
Indonesia Systematic Review Penelitian
Akademik Bidang Kesehatan Masyarakat.
Departemen Administrasi dan Kebijakan
Kesehatan, Makara Kesehatan. Volume 11.
No 1. Depok. Halaman 1-2.
Kemenkes RI., (2013). Riset Kesehatan
Dasar (RISKESDAS). Badan Penelitian dan

Endang Wulan Sari,14334711, 2016 | endang.wulan002@gmail.com

Endang Wulan Sari,14334711, 2016


Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi

Pengembangan
Halaman 72.

Kesehatan

RI.

Jakarta.

Teknologi Nasional. Jakarta. Halaman 9-13.


[Skripsi].

Hariana, Arief., (2002). Tumbuhan


Obat dan Khasiatnya Seri 1. Penebar
Swadaya. Jakarta. Halaman 1.

Setiadi., (2007). Anatomi dan Fisiologi


Manusia, Edisi Pertama. Graha Ilmu.
Yogyakarta. Halaman 63.

Akbar, Raditiya., (2015). Aneka


Tanaman Apotek Hidup di Sekitar Kita. One
Books. Jakarta. Halaman 147-150.

Guyton, Arthur C. dan Jhon E. Hall.,


(1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran,
Edisi 9. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Halaman 987.

Herbi, Tandi., (2015). Kitab Tanaman


Berkhasiat Obat 226 Tumbuhan Obat
untuk
Penyembuhan
Penyakit
dan
Kebugaran Tubuh. Octopocus Publishing
House. Yogyakarta. Halaman 694-695.
Melani, Dian., (2010). Uji Efek
Antidiare Infusa Kayu Secang (Caesalpinia
sappan L.) Terhadap Mencit JantanYang
Diinduksi Oleum Ricini. Universitas
Muhammadiyah. Surakarta. Halaman 1-2.
[Skripsi].
Suryawati, S., B. Santoso (Eds).,(1993).
Penapisan
Farmakologi,
Pengujian
Fitokimia dan Pengujian Klinik, Yayasan
Pengembangan Obat dan Bahan Alam.
Phytomedika. Jakarta. Halaman 19-23.
Direktorat Jendral POM, Depkes RI.,
(1979). Farmakope Indonesia, Edisi III.
Departemen
Kesehatan
RI.
Jakarta.
Halaman 33,63,65.
Direktorat Jendral POM, Depkes RI.,
(1986). Sediaan Galenik. Departemen
Kesehatan RI. Jakarta. Halaman 5,6,8-28.
Direktorat Jendral POM, Depkes RI.,
(1989). Materia Medika Indonesia, Jilid V.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta. Halaman 541-553
Harborne, J.B., (1987). Metode
Fitokimia, Edisi ke Dua. Institut Teknologi
Bandung. Bandung. Halaman 102-107.

Asmawatiningsih, Ella.,(2012). Uji


Efek Antidiare Ekstrak Kulit Batang Srikaya
(Annona squamosa L.)Terhadap Mencit
Jantan yang diinduksi Oleum Ricini. Bhakti
Wiyata. Kediri. [Skripsi].
Pramidihta, Hana.,(2015). Uji Aktivitas
Ekstrak Etanol Daun Sukun Terhadap
Staphylococcus epdermidis dan Esherichia
Coli ATCC 25922. Institut Sains dan

Mutschler, Ernst., (1991). Dinamika


Obat Edisi 5. Terjemahan oleh Mathilda B.
Widianto dan Anna Setiadi Ranti. Institut
Teknologi Bandung. Bandung. Halaman
521.
Bambang, Aria., (2015). Efek Antidiare
Ektsrak Etanol Daun Singkong (Manihot
esculenta Crantz) Pada Mencit Swiss
Webster Jantan. Universitas Achmad Yani.
Bandung. [Skripsi].
Gunawan, didik dan Mulyani., (2004).
Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid I.
Swadaya. Jakarta. Halaman 87-88.
Sukandar, Elin, dkk., (2008). Iso
Farmakoterapi. Ikatan Sarjana Farmasi
Indonesia. Jakarta. Halaman 349.
Tan, H. T dan K. R Raharja., (2003).
Obat-Obat
Penting
Khasiat
dan
Penggunaannya.
Gramedia.
Jakarta.
Halaman 288, 289, 293, 296.
Direktorat Jendral POM, Depkes RI.,
(1995). Farmakope Indonesia, Edisi IV.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta. Halaman 63,508.
Neal, Michael J., (2006). At a Glance
Farmakologi Medis Edisi kelima. Erlangga.
Surabaya. Halaman 33.
Gusti, Enda., (2009) Uji Efek Antidiare
Ekstrak
Etanol
Kulit Batang Salam (Syzygium polyanthum
(Wight Walp.) Terhadap Mencit Jantan.
Universitas Sumatera Utara. Medan.
[Skripsi].
Direktorat Jendral POM, Depkes RI.,
(1995) : Materia Medika Indonesia, Jilid VI,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta. Halaman XVIII, 321-377.

Endang Wulan Sari,14334711, 2016 | endang.wulan002@gmail.com

Endang Wulan Sari,14334711, 2016


Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi

Shaikat,
Md.
,dkk.,
(2012)
:
Phytochemical
Screening
and
Antidiarrhoeal
Activity
of
Hyptis
suaveolens. International Journal of Applied
Research in Natural Products, Volume 5.
Halaman 1-4 [Journal].
Khoironi, Nur., (2003). Karakterisasi
simplisia dan standarisasi ekstrak etanol
Herba kemangi (Ocimum americanum L.).
Jakarta. Halaman 21-24.
Direktorat Jendral POM, Depkes RI.,
(2000) Parameter Standar Umum Ekstrak
Tumbuhan Obat.
Derektorat Jendral
Pengawasan Obat dan Makanan. Jakarta.
Halaman 31-32.
Hermanto, Faizal dan Suherman,
Linda., (2004). Efek Antidiare Ekstrak
Etanol Kulit Batang Mindi (Melia azedarach
Linn) Terhadap Mencit Swiss Webster
Jantan.
Universitas
Achmad
Yani.
Bandung.[Journal].
Pratiwi, Yolanda., (2015). The Potential
Of Guava Leaf (Psidium guajava l.) For
Diarrhe. Lampung. Halaman 2-3. [Jurnal].
Harmita dan Radji, M, (2008). Buku
Ajar Analisis Hayati. EGC. Jakarta.
Halaman 66.
Voigt, Rudolf., (1994) Buku Pelajar
Teknologi Farmasi Edisi ke-5, University
Gajah Mada Press. Yogyakarta. Halaman
563.
Riwidikdo,
Handoko.,
(2012).
STATISTIK KESEHATAN. Nuha Medika.
Yogyakarta. Halaman 19,31,41.
Cheria, Valentina. (2009). Pengaruh
Pemajanan
Medan
Elektromagnet
Extremely Low Frequency Secara Kontinue
Terhadap Perubahan Siklus Esterus Mencit
Swiss Webster Jantan.
Universitas
Indonesia. Jakarta. Halaman 21. [Skripsi].

10

Nerly, Juli., (2014). Karakterisasi dan


Skrining Fitokimia Serta Uji Efektivitas
Antidiare Ekstrak Etanol Biji Asam Jawa
(Tamarindus indica L.) Terhadap Mencit
Jantan Dengan Metode Transit Intestinal.
Universitas Sumatera Utara. Medan.
[Skripsi].

Endang Wulan Sari,14334711, 2016 | endang.wulan002@gmail.com

10