Anda di halaman 1dari 1

1.

Sight

Tepat jam tiga sore motor maticku memasuki lapangan parkir SMA Cardiv.
Bagunan

sekolah

ini

tidak

pernah

berhenti

menghipnotis

tiap

kali

aku

menjejakkan kakiku didalamnya. Campuran struktur beton dan batu alam,


ditambah sentuhan bangunan klasik di tiap jendalanya membuat bangunan ini
terlihat sempurna dimataku. Sudah hampir dua tahun aku sekolah disini, tidak
pernah seharipun aku melewatkan satu menit momen magis saat memandang
bangunan raksasa ini dari parkiran motor tiap pagi. Sekolah ini benar-benar
terlihat seperti seorang nyonya yang congkak, anggun dan manis disaat yang
sama. Aneh, tapi sangat sangat mempesona.
Lapangan

tengah

sekolah

sudah

penuh

dengan

manusia-manusia

seusiaku. Beberapa dari mereka sedang asyik bercanda dan beberapa sudah
mulai melakukan pemanasan ringan sebelum memulai latihan rutin. Disinilah aku
selalu menghabiskan sabtu sore, berlatih ju-jitsu dengan teman-teman satu
sekolahku. Cuacanya sangat teduh dan berangin, sepertinya akan agak sulit
berkeringat hari ini. Saat tiba di kerumunan, ku lemparkan tasku ke bawah pohon
terdekat. Tanganku dengan hati-hati memasang sabuk ju-jitsu di luar seragamku
dan mengikat simpul nya se rapi mungkin .
Sensei belum datang Ra?, tanyaku pada Zara, satu-satunya anggota
perempuan tim ju-jitsu SMA Cardiv selain diriku sendiri. Zara menggelengkan
kepala sambil membetulkan kembali kuncir kudanya. Sensei Rian adalah pelatih
tetap ju-jitsu sekolahku. Tinggi badan dan wajahnya sangat kekanakan untuk
laki-laki yang sudah berusia dua puluh tujuh tahun. Sensei selalu datang tepat
waktu di tiap latihan, sepertinya dia sedang ada urusan mendesak, pikirku. Aku
mulai berlari mengelilingi lapangan sekolah dan melakukan pemanasan seperti
biasa, bersama anak-anak lainnya.