Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

ORGANISASI JASA DAN MULTINASIONAL


PENENTUAN HARGA TRANSFER

Disusun oleh:
Kelompok 1
Muhammad Sobri

222014256

Bellynda Jasmine Pratiwi

222014019

Dina Puspitasari

222014198

Ulpa Mulyani P

222014030

Dita Fariska

222014299

Program Studi Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Palembang
2016 / 2017

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Karakteristik Organisasi Jasa Secara Umum
2.2. Organisasi Jasa Profesional
2.3. Organisasi Jasa Keuangan
2.4. Organisasi Jasa Perawatan Kesehatan
2.5. Pengertian Organisasi Multinasional
2.6. Perbedaan Budaya
2.7. Harga Transfer
2.8. Nilai Tukar Mata Uang
2.9. Contoh Kasus Mengenai Organisasi Jasa dan Organisasi Multinasional
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem pengendalian manajemen tidak hanya menyangkut aspek manufaktur saja. Sistem
pengendalian manajemen juga berfungsi pada sektor jasa. Salah satu yang melatar belakangi
berdirinya perusahaan jasa dilihat dari pengertian perusahaan yaitu suatu organisasi dimana
sumber daya (input) dasar seperti bahan dan tenaga kerja dikelola serta diproses untuk
menghasilkan barang atau jasa (output) kepada pelanggan. Jasa merupakan hal yang biasa kita
dengar sehari-hari dalam berbagai kegiatan yang dilakukan. Jasa juga dapat dikaitkan dengan
sarana penunjang dari produk yang dibeli agar tercipta kepuasan konsumen. Juga salah satu
faktor berdirinya perusahaan jasa adalah kebutuhan manusia yang tidak terbatas selain barang
yang berwujud manusia juga perlu pelayanan yang dapat memuaskan kebutuhan hidupnya.
Dalam proses pengendaliannya, sektor jasa mempunyai karakteristik yang relatif berbeda
dibanding sektor manufaktur. Sistem pengendalian manajemen yang akan dibahas adalah
dikhususkan pada organisasi jasa profesional (konsultan hukum, pengacara, akuntansi dan
profesi sejenis), rumah sakit, nirlaba (yayasan), pemerintah dan organisasi dagang (agen,
distributor, pengecer).
Selain membahas mengenai sistem pengendalian manajemen pada sektor jasa, makalah ini
juga membahas mengenai sistem pengendalian manajemen pada perusahaan multinasional.
Adanya sebuah perjanjian kerjasama secara global untuk mengadakan daerah pasar bebas dan
mendorong banyak pihak eksternal atau yang dalam hal ini adalah Organisasi Multinasional
untuk berinvestasi ke negara-negara berkembang yang memiliki kelebihan dalam aspek Sumber
Daya Manusia dan bahan baku yang mudah di dapatkan pada kawasan Asia Tenggara, khususnya
Indonesia.Berkembangnya Organisasi Multinasional disuatu negara sangatlah berpengaruh
terhadap ekonomi negara itu sendiri dimana pengangguran akan berkurang sehingga pendapatan
negara itu sendiri otomatis akan bertambah. Dalam rangka membantu perubahan terhadap negara
khususnya Indonesia perkembangan organisasi multinasional merupakan prioritas utama dalam
pembangunan negara, maka pembangunan ini memerlukan konsep yang sangat bagus agar
tujuan-tujuan tercapai semua.

1.2 Rumusan Masalah


Dari uraian latar belakang di atas dapat ditarik beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Bagaimanakah karakteristik organisasi jasa secara umum?


Bagaimanakah karakteristik dan sistem pengendalian organisasi jasa profesional?
Bagaimanakah karakteristik dan sistem pengendalian organisasi jasa keuangan
Bagaimanakah karakteristik dan sistem pengendalian organisasi jasa perawatan kesehatan?
Bagaimana arti dari organisasi multinasional?
Bagaimana perbedaan budaya mempengaruhi organisasi secara global?
Bagaimana harga transfer dapat mempengaruhi organisasi multinasional?
Bagaimana nilai tukar mata uang dapat mempengaruhi organisasi multinasional?

1.3 Tujuan
1. Memahami karakteristik organisasi jasa secara umum
2. Memahami karakteristik dan sistem pengendalian organisasi jasa profesional
3. Memahami karakteristik karakteristik dan sistem pengendalian organisasi jasa keuangan
4. Memahami karakteristik sistem pengendalian organisasi jasa perawatan kesehatan
5. Untuk memahai arti penting dari organisasi multinasional
6. Mengetahui perbedaan budaya dapat mempengaruhi organisasi global
7. Mengetahui harga transfer dapat mempengaruhi organisasi multinasional
8. Mengetahui nilai tukar mata uang dapat mempengaruhi organisasi global

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 ORGANISASI JASA SECARA UMUM
Pada tahun 2003, lapangan kerja sektor jasa telah tumbuh lebih dari dua kali lipat
pertumbuhan sektor manufaktur yang membutuhkan wawasan yang lebih mengenai sistem
pengendalian manajemen bagi organisasi jasa.
A. Karakteristik

Pengendalian manajemen dalam industri jasa agak berbeda dengan pengendalian manajemen
dalam perusahaan manufaktur. Karakteristik tersebut adalah:
1. Ketiadaan Persediaan Penyangga
Barang dapat disimpan dalam bentuk persediaan yang merupakan penyangga untuk
memperkecil dampak fluktuasi dalam volume penjualan terhadap proses produksi, jasa tidak
dapat disimpan. Perusahaan jasa tidak dapat melakukan apa yang dilakukan oleh perusahaan
manufaktur, sehingga perusahaan jasa harus mencoba untuk meminimalkan kapasitasnya yang
tidak terpakai. Lebih lanjut lagi, biaya dan banyak organisasi jasa pada dasarnya bersifat tetap
dalam jangka pendek. Dalam jangka pendek, sebuah hotel tidak dapat mengurangi biayabiayanya secara substansial dengan menutup beberapa kamarnya. Kantor akuntan, kantor
pengacara, dan organisasi profesional lainnya enggan untuk memberhentikan karyawan
profesionalnya ketika volume penjualan rendah karena dampak moral dan biaya untuk merekrut
dan melatih kembali karyawan baru.
2. Kesulitan dalam Mengendalikan Kualitas
Perusahaan jasa tidak dapat menilai kualitas produk sampai pada saat jasanya diserahkan, dan
sering kali penilaian tersebut bersifat subjektif. Misalnya kualitas pendidikan, kualitas
pendidikan adalah hal yang sulit untuk diukur sehingga hanya beberapa Organisasi pendidikan
yang memiliki sistem pengendalian kualitas formal.
3. Padat Karya
Perusahaan manufaktur dapat menambah peralatan dan mengotomisasi lini produksi sehingga
dengan demikian, perusahaan menggantikan buruh dan mengurangi biaya. Hampir semua
perusahaan jasa bersifat padat karya dan tidak dapat melakukan hal semacam itu. Rumah sakit
memang dapat menambah peralatan yang mahal, tetapi kebanyakan hal itu ditujukan untuk
memberikan pelayanan yang lebih baik, dan hal ini menambah biaya. Kantor pengacara
memperluas usahanya dengan menambah rekan kerja dan karyawan pendukung yang baru.
4. Organisasi Multi-Unit
Beberapa organisasi jasa mengoperasikan banyak unit di berbagai lokasi, di mana setiap unit
adalah relatif kecil. Kesamaan dari unit-unit yang terpisah memberikan dasar yang umum untuk
menganalisis anggaran dan mengevaluasi kinerja, yang tidak ada di perusahaan manufaktur.
Informasi dan setiap unit dapat dibandingkan dengan rata-rata sistem atau regional, dan
karyawan dengan kinerja tinggi dan rendah dapat diidentifikasikan.

2.2 ORGANISASI JASA PROFESIONAL


Organisasi penelitian dan pengembangan, kantor pengacara, kantor akuntan, organisasi
kesehatan, perusahaan teknik, perusahaan, arsitektur, kantor konsultan, organisasi simfoni dan
organisasi kesenian lainnya, serta organisasi olahraga adalah contoh organisasi yang produknya
adalah jasa profesional.
A. Karakterstik Khusus
1.Sasaran
Organisasi profesional memiliki relatif sedikit aktiva yang berwujud; aktiva utamanya adalah
keterampilan dan staf profesionalnya, yang tidak muncul di neraca perusahaan. Tingkat
pengembalian atas aktiva ang digunakan pada hakikatnya tidak berarti dalam organisasi.
Sasaran keuangan untuk memberikan kompensasi yang memadai kepada para profesional.
Sasaran terkait adalah meningkatkan ukuran organisasi. Hal ini mencerminkan tendensi alamiah
untuk mengaitkan keberhasilan dengan ukuran yang besar; skala ekonomi dalam menggunakan
usaha dan staf karyawan dan unit sentral yang bertanggung jawab untuk menjaga agar organisasi
tetap terkini.
2. Profesional
Organisasi profesional adalah organisasi yaig padat karya, dan karyawannya adalah orang-orang
yang khusus. Banyak profesional lebih menyukai bekerja secara independen daripada sebagai
bagian dan suatu tim. Profesional yang juga adalah manajer cenderung bekerja hanya paruh
waktu dalam aktivitas manajemen. Pendidikan bagi kebanyakan profesi tidak mencakup
pendidikan dalam manajemen tetapi pada umumnya menekankan kepada keterampilan profesi di
banding kepada keterampilan manajemen. Profesional cendrung meremehkan implikasi
keuangan dari keputusan mereka; mereka ingin untuk melakukan pekerjaan terbaik yang dapat
mereka lakukan, tanpa memperdulikan biayanya. Sikap ini mempengaruhi sikap dari staf
pendukung dan karyawan nonprofesional dalam organiasi tersebut; hal ini mengarah pada
pengendalian biaya yang tidak memadai.
3. Pengukuran Input dan Output
Output dari organisasi profesional tidak dapat diukur dengan ukuran fisik, seperti unit, ton, atau
galon. Seseorang dapat mengukur jumlah pasien yang dilayani oleh seorang dokter dalam satu
hari, dan bahkan dapat mengklasifikasikan pasien-pasien tersebut berdasarkan jenis keluhannya;
tetapi tidak dapat disamakan dengan jumlah atau kualitas layanan yang diberikan oleh dokter

tersebut. Yang terbaik yang dapat diukur adalah efisiensi dokter tersebut dalam menangani
pasiennya, yang dapat digunakan untuk mengidentifikasikan pekerja yang santai dan pekerja
keras. Pendapatan yang diperoleh adalah salah satu ukuran output di heberapa organisasi
profesional, tetapi angka moneter ini, paling-paling hanya berkaitan dengan kuantitas jasa yang
diberikan, namun bukan kualitasnya (meskipun kualitas yang buruk tercermin dalam pendapatan
yang berkurang dalam jangka panjang).
4. Perusahaan Kecil
Dengan beberapa perkecualian, seperti beberapa kantor pengacara dan kantor akuntan, organisasi
profesional biasanya relatif kecil dan beroperasi di satu lokasi saja. Manajemen senior dalam
organisasi semacam itu dapat secara pribadi mengamati apa yang sedang berlangsung dan secara
langsung memotivasi karyawannya. Dengan demikian, terdapat lebih sedikit kebutuhan akan
sistem pengendalian manajemen yang canggih, dengan pusat laba dan laporan kinerja formal.
Meskipun demikian, organisasi yang kecilpun tetap membutuhkan anggaran, perbandingan
umum antara kinerja terhadap anggaran, dan suatu cara untuk mengaitkan kompensasi dengan
kinerja.
5. Pemasaran
Dalam suatu perusahaan manufaktur terdapat garis pemisah yang jelas antara aktivitas
pemasaran dengan aktivitas produksi; hanya manajemen senior yang menaruh perhatian pada
keduanya. Pemisahan yang jelas semacam itu tidak terdapat dalam organisasi proesional. Di
beberapa organisasi profesional, kode etik profesi membatasi jumlah dan karakter dan usaha
pemasaran yang terlalu kentara oleh para profesional. Tetapi, pemasaran adalah aktivitas yang
penting di hampir semua organisasi. Dalam situasi seperti ini, sangatlah sulit untuk memberikan
penghargaan yang sesuai kepada orang yang bertanggung jawab untuk menjual ke pelanggan
baru.
B. Sistem Pengendalian Manajemen
1.Penentuan Harga
Harga jual dan pekerjaan ditetapkan dengan cara tradisional di banyak perusahaan-perusahaan
profesional. Jika profesi tersebut merupakn salah satu profesi di mana para anggotanya sudah
terbiasa untuk mencatat jadwal waktu mereka, penentuan biaya profesional yang harus dibayar
biasanya dikaitkan dengan waktu profesional yang digunakan dalam penugasan tersebut. Tarif
tagihan per jam biasanya didasarkan pada kompensasi dari tingkat profesional tersebut (dan

bukannya kompensasi dari orang tertentu), ditambah dengan beban untuk biaya overhead dan
laba.
2. Pusat Laba dan Penetapan Harga Transfer
Unit-unit pendukung, seperti pemeliharaan, pemrosesan informasi transportasi, percetakan, dan
pengadaan barang dan jasa, membebankan layanan yang mereka berikan ke unit yang
mengonsumsi layanan tersebut.
3. Perencanaan Strategis dan Penyusunan Anggaran
Secara umum, sistem perencanaan strategis formal di organisasi profesional tidak berkembang
sebaik di perusahaan manufaktur dengan ukuran yang sama. Sebagian dari penjelasan atas hal
tersebut adalah bahwa organisasi profesional tidak memiliki kebutuhan yang besar akan sistem
semacam itu. Di perusahaan manufaktur, banyak keputusan program melibatkan komitmen untuk
membeli pabrik dan peralatan. Keputusan-keputusan tersebut mempunyai dampak yang dapat
diprediksikan, baik terhadap kapasitas maupun biaya selama beberapa tahun ke depan, dan,
sekali telah dibuat, keputusan tersebut pada hakikatnya tidak dapat dibalik. Dalam suatu
organisasi profesional, aktiva utamanya adalah manusia. Meskipun organisasi tersebut
menghindari fluktuasi jangka pendek dalam jumlah karyawan, perubahan dalam ukuran dan
komposisi karyawan lebih mudah untuk dilakukan dan lebih mudah untuk dibalik dibandingkan
dengan perubahan dalam kapasitas fisik pabrik
4.Pengendalian Operasi
Banyak perhatian yang, atau sebaiknya, dicurahkan pada penjadwalan waktu profesional. Rasio
waktu yang ditagih (billed time ratio), yang merupakan rasio dari jumlah jam yang dapat ditagih
terhadap jumlah jam yang tersedia, dipantau secara ketat. Jika ternyata penggunaan waktu yang
sebaliknya merupakan waktu menganggur atau untuk alasan pemasaran atau pelayanan umum,
beberapa penugasan dibebankan dengan tarif yang lebih rendah dari tarif normal, maka varians
harga yang ditimbulkan harus dipantau secara ketat.
Ketidakmampuan untuk menetapkan standar bagi kinerja tugas, keinginan untuk melaksanakan
pekerjaan dalam tim, masalah yang ditimbulkan karena mengelola organisasi matriks, dan
karakteristik perilaku dari profesional, semuanya memperumit perencanaan dan pengendalian
atas operasi sehari-hari dalam organisasi profesional. Ketika pekerjaan dilaksanakan oleh tim
proyek, maka pengendalian difokuskan pada proyek. Rencana tertulis untuk setiap proyek

dibutuhkan, dan laporan tepat waktu harus dibuat, yang membandingkan kinerja aktual dengan
kinerja yang direncanakan dalam hal biaya, jadwal, dan kualitas.
5. Pengukuran dan Penilaian Kinerja
Penilaian yang dibuat oleh atasan adalah penilaian yang paling umum. Untuk itu, organisasi
profesional semakin banyak yang menggunakan sistem formal untuk mengumpulkan penilaian
kinerja sebagai dasar keputusan personalia dan ntuk diskusi dengan profesional tersebut.
Beberapa sistem memerlukan peringkat numerik atas atribut tertentu dari kinerja dan
memberikan rata-rata tertimbang bagi peringkat-peringkat ini. Kompensasi mungkin dikaitkan,
sebagian, pada peringkat numerik ini. Penilaian oleh rekan sekerja, atau oleh bawahan, kadang
kala merupakan bagian dan sistem pengendalian formal. Di beberapa organisasi, individu dapat
diminta untuk membuat penilaian atas diri sendiri. Ekspresi kepuasan atau ketidakpuasan dari
kiien juga merupakan dasar yang penting untuk menilai kinerja, meskipun ekspresi semacam itu
mungkin tidak selalu tersedia.
Anggaran dapat digunakan sebagai dasar untuk mengukur kinerja biaya, dan waktu aktual yang
digunakan dapat dibandingkan dengan waktu yang direncanakan. Anggaran dan pengendalian
atas beban diskresioner di perusahaan profesional adalah sama pentingnya dengan di perusahaan
manufaktur. Tetapi, ukuran-ukuran keuangan semacam itu adalah relatif tidak penting dalam
menilai kontribusi dari seorang profesional terhadap profitabilitas perusahaan. Kontribusi utama
dari profesional tersebut berkaitan dengan kuantitas dan berada di atas seluruh kualitas
pekerjaan, sehingga penilaiannya tetu saja harus lebih banyak bersifat subjektif. Lebih lanjut
lagi, penilaian tersebut harus dilakukan saat itu juga.

2.3. ORGANISASI JASA KEUANGAN


Organisasi jasa keuangan meliputi bank komersial dan institusi penghematan, perusahaan
asuransi, dan perusahaan efek. Perusahaan-perusahaan ini berada dalam bisnis yang terutama
bertujuan untuk mengelola uang. Beberapa dari perusahaan tersebut bertindak sebagai
perantara,yang lain bertindak sebagai pemindah risiko dan yang lainnya lagi adalah pedagang.
A.Karakteristik Khusus
1. Aktiva Moneter

Kebanyakan aktiva dari perusahaan jasa keuangan bersifat moneter. Nilai sekarang dari aktiva
moneter adalah jauh lebih mudah untuk diukur dibandingkan dengan nilai pabrik dan aktiva fisik
lainnya, atau paten dan aktiva tidak berwujud lainnya. Dalam industri jasa keuangan, kualitas
mengacu pada kualitas jasa yang diberikan dan pada kualitas instrumen keuangan selain uang;
tidak ada kebutuhan akan pengendalian kualitas atas uang.Aktva finansial dapat juga
dipindahkan dari satu pemilik ke pemilik lainnya dengan mudah dan cepat. Dalam pemindahan
dana secara elektronik, uang berpidah hampir seketika. Perusahaan yang menangani aktiva
keuangan, terutama uang, harus mengambil tindakan-tindakan yang ketat guna melindunginya.
Hal ini tidak hanya melibatkan tindakan-tindakan fisik untuk melindungi mata uang dan
dokumen, melainkan juga tindakan-tindakan yang dirancang untuk memelihara integritas dan
sistem untuk mentransfer uang dari satu pihak ke pihak lain.
2. Jangka Waktu Transaksi
Pengendalian memerlukan adanya suatu cara pengawasan yang berkelanjutan atas kelayakan dari
suatu transaksi selama jangka waktu tertentu, termasuk audit periodik atas semua pinjaman yang
beredar.
3. Imbalan dan Risiko
Banyak perusahaan jasa keuangan bergerak dalam bisnis yang menerima risiko sebagai ganti atas
imbalan yang diperoleh. Kebanyakan keputusan bisnis melibatkan trade-off antara risiko dan
imbalan. Semakin besar risikonya, sebaiknya semakin besar pula imbalan yang diantisipasi. Di
dalam perusahaan jasa keuangan, trade-off ini lebih eksplisit dibandingkan dengan di dalam
investasi bisnis seperti keputusan pembelian suatu mesin atau pengenalan suatu produk baru.
Tingkat bunga pinjaman dan premi polis asuransi didasarkan pada asumsi tentang risiko, yang
mungkin terbukti akurat atau tidak.
4. Teknologi
Teknologi telah merevolusi industri jasa keuangan. Perusahaan jasa keuangan telah
menggunakan teknologi informasi sebagai suatu cara untuk menawarkan layanan yang inovatif.
ATM bank merupakan salah satu contohnya. Layanan broker secara online merupakan segmen
dengan pertumbuhan yang cepat.
2.4. ORGANISASI JASA PERAWATAN KESEHATAN
Organisasi perawatan kesehatan terdiri atas rumah sakit, klinik, dan organisasi kedokteran
yang serupa; organisasi pemeliharaan kesehatan; panti wreda dan rumah perawatan; organisasi

pelayanan rumah; dan laboratorium medis adalah beberapa di antaranya. Meskipun kesemuanya
memiliki hampir semua karakteristik dari organisasi nirlaba, banyak di antaranya yang
merupakan perusahaan berorientasi laba.
A. Karakteristik Khusus
1. Masalah Sosial yang Sulit
Masyarakat lambat laun mulai memahami fakta bahwa sistem pemberian pelayanan kesehatan
sekarang ini tidak berjalan. Di pihak lain, biaya per layanan tidak dapat dihindari lagi akan terus
meningkat dengan pengembangan peralatan dan obat-obatan baru; beban rumah sakit semakin
meningkat. Di pihak lain, jumlah orang yang sakit semakin bertambah karena kemajuan medis
memperpanjang usia orang-orang tua, yang kemungkinan besar memerlukan perawatan.
Masyarakat tidak dapat membayar peningkatan yang dapat diprediksikan jika tingkat kenaikan
biaya sekarang ini berlanjut lebih lama lagi. Penyedia layanan kesehatan menyadari masalah ini,
adalah jelas bahwa pemberian layanan kesehatan akan berubah secara drastis. Organisasi layanan
kesehatan harus waspada terhadap peruahan-perubahan ini.
2. Perubahan dalam Bauran Penyedia Layanan
Dalam kenaikan keseluruhan dan biaya layanan kesehatan, perubahan yang signifikan telah
terjadi dalam cara dengan mana pelayanan kesehatan diberikan dan, akibatnya, dalam kelayakan
jenis tertentu dan penyedia layanan. Untuk tetap layak beroperasi, rumah sakit harus memiliki
fleksibilitas untuk beradaptasi terhadap perubahan ini, balk dengan memberikan lebih banyak
layanan kepada pasien rawat jalan atau dengan menghilangkan layanan pasien rawat inap yang
tidak lagi menguntungkan.
3. Pembayar Pihak Ketiga
Program terbesar dan pemerintah adalah Medicare, sebuah program pemerintah federal ang
menyediakan dukungan bagi orang-orang berusia 65 tahun ke atas dan bagi anak-anak muda
dengan ketidakmampuan tertentu. Sampai tahun 1983, Medicare telah mengganti biaya-biaya
yang terjadi sesuai dengan kewajaran, yang memberikan sedikit insentif kepada penyedia
layanan kesehatan untuk mengendalikan biaya. Pada saat ini, Medicare mengganti biaya rumah
sakit berdasarkan Kelompok Diagnostik Terkait (Diagnostic Related Groups-DRG).
Sistem DRG, dan kenaikan dalam biaya rumah sakit per pasien, telah memotivasi rumah sakit
untuk memasang sistem akuntansi biaya yang canggih. Beberapa rumah sakit memberikan
layanan pemrosesan informasi kepada rumah sakit lain berdasarkan kontrak. Sistem ini

memberikan informasi atas pasien individual dan mereka melaporkan biaya aktual dibandingkan
dengan biaya standar untuk setiap DRG; biaya diklasifikasikan berdasarkan departemen dan
bahkan berdasarkan dokter yang merawat dalam departemen tersebut. Informasi ini merupakan
tambahan atas informasi yahg secara tradisional dikumpulkan di rumah sakit. Informasi tersebut
fokus pada output (layanan pasien), serta pada input (biaya per tes laboratorium). Oleh karena
itu, tugas yang sulit untuk mengendalikan pembayaran-pembayarannya agar tidak melampaui
iuran, yang mereka terima, tetapi dengan memastikan bahwa layanan kesehatan yang memadai
tetap disediakan.
4. Profesional
Loyalitas utama profesional adalah kepada profesi dan bukan kepada organisasi. Para manajer
departemental biasanya adalah profesional yang fungsi manajemeya hanya bersifat paruh waktu;
kepala bedah melakukan pembedahan. Secara historis, para dokter cenderung memberikan
tekanan yang relatif kecil terhadap pengendan biaya.
5. Pentingnya Pengendalian Kualitas
Industri layanan kesehatan berurusan dengan nyawa manusia, jadi kualitas layanan yang
diberikannya merupakan hal yang paling penting. Terdapat peninjauan jaringan dari prosedur
pembedahan, peninjauan rekan sejawat atas dokter individual, dan agen peninjau luar yang
diharuskan oleh pemerintah federal.
B. Proses Pengendalian Manajemen
Karena pergeseran dalam bauran produk dan karena peningkatan kuantitas serta biaya peralatan
baru, proses perencanaan strategis di rumah sakit adalah penting. Proses penyusunan anggaran
tahunan adalah secara konvensional. Sejumlah besar informasi tersedia dengan cepat untuk
pengendalian aktivitas operasi. Kinerja keuangan dianalisis dengan membandingkan pendapatan
dan beban aktual dengan anggaran, dengan mengidentifikasikan varians-varians penting, dan
mengambil tindakan yang sesuai atas varians-varians tersebut.
2.5 ORGANISASI MULTINASIONAL
Organisasi multinasional yaitu suatu perusahaan yang berbasis di satu negara (negara induk)
akan tetapi pesusahaan itu memiliki kegiatan produksi ataupun pemasaran cabang di negara
negara lain (negara cabang). Organisasi Multinasional adalah perusahaan yang beroperasi di dua
atau lebih negara. Ini menjadi fenomena yang dominan dalam hubungan internasional saat ini

terkait dengan adanya globalisasi perdagangan dan perkembangan perekonomian dunia.


Dalam hal perkembangan perekonomian domestik suatu negara,

memiliki pengaruh yang

signifikan sebab keberadaan Organisasi Multinasional pada suatu negara menjadi salah satu
penyumbang pajak tertinggi bagi pendapatan suatu negara sekaligus bagi perkembangan
ekonominya.
Organisasi Multinasional adalah bentuk korporasi baru yang tidak dapat di hindari sebagai
sebuah konsekuensi logis dari adanya globalisasi itu sendiri. Organisasi Multinasional
merupakan wujud dari perdagangan modern dimana profit merupakan orientasi utama dari
keberadaan setiap Organisasi Multinasional di suatu negara.
Kehadiran anak perusahaan bagi negara cabang banyak memberikan keuntungan untuk
negara tersebut diantaranya pemberian pajak untuk perusahaan tersebut yang cukup besar. Tidak
hanya itu, dengan adanya suatu anak perusahaan dinegara lain, berarti sedikit membantu
membuka peluang kerja bagi penduduk yang belum bekerja di negara tersebut.
Terbukanya perusahaan multinasional disambut baik dengan penduduk negara tersebut,
karena perusahaan multinasional memiliki banyak keuntungan di bandingkan dengan perusahaan
lainnya, di antaranya sebagai berikut :
1. Jaringan kerja yang luas
Perusahaan multinasional mempunyai jaringan pekerjaan yang luas, perusahaan tersebut tidak
hanya berkembang pada satu negara saja, akan tetapi banyak negara. Oleh sebab itu, peluang
untuk ke luar negeri besar untuk pelatihan ataupun penambahan pekerja dinegara lainnya
2.

Pendapatan yang lebih tinggi

Hal ini yang membuat banyak orang memilih perusahaan multinasional, karena perusahaan
multinasional menawarkan gaji yang lebih tinggi di bandingkan dengan perusahaan lainnya.
Tidak hanya gaji, perusahaan ini pun memiliki fasilitas yang lebih di bandingkan dengan
perusahaan swasta ataupun nasional lainnya.
3.

Deskiripsi pekerjaan lebih jelas

Dekskripsi pekerjaan yang diberikan perusahaan multinasioanal lebih jelas atau tidak tumpang
tindih sehingga kita merasa nyaman dalam bekerja.

Perusahaan multinasional sebagai pengaruh globalisasi di abad ini tidak akan penah bisa
dihindari sebab selain banyak dikecam juga tidak salah kiranya disebutkan memberikan manfaat
yang berguna bagi kesejahteraan bangsa.
2.6.

PERBEDAAN BUDAYA
Satu dari variabel kontekstual yang penting yang mempengaruhi pengendalian menejemen di
dalam sebuah perusahaan multinasional adalah perbedaan budaya antarnegara. Menurut
definisinya, sebuah organisasi multinasional akan beroperasi di banyak negara dan harus siap
menghadapi perbedaan budaya seiring dengan koordinasi dan pengendalian yang dilakukan oleh
kantor pusat terhadap anak-anak perusahaannya. Baik dalam konteks sebuah organisasi atau
suatu bangsa, kata budaya akan merujuk kepada nilai nilai, asumsi, dan norma perilaku yang
diakui bersama. Ketika sebuah organisasi merentangkan operasinya melintasi berbagai negara,
perbedaan budaya yang sangat besar yang berkaitan dengan karakter nasional dan regional yang
ada mempunyai hubungan yang penting dengan pengendalian manajemen.
Menurut Hofstede, budaya dapat berbeda pada 4 dimensi :
1.

Jangkauan kekuasaan merujuk kepada sejauh mana kekuasaan didistribusikan dan

dipusatkan secara tidak seimbang. Budaya dengan jangkauan kekuasaan tertinggi termasuk
Filipina, Venezuela, dan Meksiko. Budaya dengan jangkauan kekuasaan rendah termasuk Israel,
Denmark, dan Austria.
2. Individualisme/kolektivisme merujuk kepada sejauh mana seseorang mendefinisikan dirinya
sendiri sebagai seorang individu atau sebagai bagian dari kelompok yang lebih besar. Budaya
individualistik yang tinggi termasuk Amerika Serikat, Australia, dan Inggris. Budaya kolektivitas
yang tinggi termasuk Saudi Arabia, Venezuela, dan Peru.
3. Menghindari ketidakpastian merujuk sampai sejauh mana seseorang akan merasa terancam
oleh situasi yang tidak menentu. Budaya penghindaran ketidakpastian tertinggi termasuk Jepang,
Portugal, dan Yunani. Budaya dengan penghindaran ketidakpastian terendah termasuk Singapura,
Hongkong, dan Denmark.
4. Maskulinitas/feminitas merujuk kepada sampai sejauh apakah pengaruh yang dimiliki oleh
salah satu dari kedua nilai dominan tersebut berupa penekanan ketegasan dan materialisme
(maskulin) versus perhatian pada orang lain dan kualitas hidup (feminin). Budaya dengan

maskulin tinggi termasuk Austria, Swiss, dan Halia. Budaya feminin tinggi termasuk Swedia,
Norwegia, Belanda, dan Swiss.
Skema klasifikasi lain diusulkan oleh Hall. Menurut pendapatnya, kebudayaan berbeda satu
sama lain dalam spektrum yang dimulai dari budaya berkonteks rendah pada satu sisi (Jerman,
Swiss, Skandinavia, Inggris, Amerika Utara) dimana orang langsung melaksanakan bisnisnya
dan bernegosiasi seefisien mungkin, hingga ke budaya berkonteks tinggi pada sisi yang lain
(Cina, Jepang, Korea, Saudi Arabia) dimana orang berusaha membangun hubungan pribadi
sebelum melakukan bisnis dan negosiasi berjalan dengan lambat dan bersifat ritual.
Beberapa kesimpulan dapat ditarik tentang jenis sistem perencanaan dan sistem pengendalian
yang akan lebih efektif di dalam budaya yang berbeda. Pada budaya individualistis, pegawai
mungkin lebih menyukai imbalan berdasarkan prestasi individu, sedangkan imbalan yang
berdasarkan kelompok mungkin lebih disukai oleh pegawai dalam budaya kebersamaan. Dalam
budaya dengan jangkauan kekuasaan yang rendah, desentralisasi dalam pengambilan keputusan
dan kesempatan berpartisipasi yang lebih besar pada penyiapan anggaran mungkin lebih disukai.
Adapun hal yang sebaiknya mungkin berlaku di dalam budaya dengan jangkauan kekuasaan
yang tinggi. Evaluasi kinerja subjektif akan lebih efektif pada budaya penghindaran
ketidakpastian yang rendah daripada yang tinggi. Sistem perencanaan dan pengendalian formal
akan diterima lebih baik dalam budaya berkonteks rendah, sedangkan di dalam budaya
berkonteks tinggi, membangun keakraban dan kepercayaan antarpersonal dirasakan sangat
penting sehingga pengendalian secara informal kemungkinan besar akan lebih efektif.
Jadi, kesimpulannya adalah para eksekutif di dalam organisasi multi- nasional harus
memahami dan menghormati perbedaan budaya serta menye- suaikan pengendalian manajemen
antarnegara.
2.7. HARGA TRANSFER
1. Pengertian Harga Transfer
Harga Transfer untuk barang, jasa dan teknologi merupakan salah satu dari perbedaan
besar yang terjadi antara pengendalian manajemen operasi domestik dan luar negeri. Dalam
operasi luar negeri dibutuhkan beberapa pertimbangan penting lainnya untuk dapat sampai
kepada suatu harga transfer, antara lain :
1. Perpajakan

Tingkat pajak penghasilan efektif dapat memiliki perbedaan yang sangat jauh di masingmasing negara asing. Sistem harga transfer yang memungkinkan pengalihan keuntungan ke
negara-negara dengan tingkat pajak yang rendah dapat mengurangi jumlah pajak penghasilan
perusahaan yang digabungkan dari seluruh dunia.
2. Peraturan Pemerintah
Jika tidak diatur oleh pemerintah, perusahaan akan menetapkan harga transfer untuk
meminimalkan laba kena pajak di negara-negara dengan tingkat pajak penghasilan yang tinggi.
Meskipun demikian, otoritas pajak pemerintah menyadari adanya kemungkinan ini dan
mengeluarkan peraturan yang menen tukan bagaimana harga ransfer dapat dihitung.
3. Tarif
Tarif sering kali dipungut berdasarkan presentase tertentu dari nilai impor suatu produk.
Semakin rendah harganya semakin rendah pula tarif yang akan dikenakan. Timbulnya tarif
biasanya memiliki hubungan terbalik dengan timbulnya pajak pendapatan di dalam harga
transfer. Karena pajak penghasilan umumnya memiliki jumlah yang lebih besar daripada tarif,
harga transfer internasionalnya biasanya lebih banyak didasarkan pada pajak penghasilan
daripada tarif.
4. Pengendalian Devisa
Bebarapa negara membatasi jumlah devisa yang tersedia untuk mengimpor beberapa
komoditas tertentu. Dalam kondisi ini, harga transfer yang lebih rendah memungkinkan anak
perusahaan untuk memasukkan komoditas tersebut dalam jumlah yang lebih besar.
5. Akumulasi Dana
Perusahaan mungkin ingin mengakumulasikan dananya di satu negara tertentu daripada di
negara lain. Karena, ahrga transfer merupakan salah satu cara untuk mengalihkan dana tersebut
ke dalam atau ke luar negeri tertentu.
6. Joint Venture
Joint venture adalah bentuk kerjasama antar beberapa perusahaan yang berasal dari
beberapa negara menjadi satu perusahaan untuk mencapai konsentrasi kekuatan-kekuatan
ekonomi yang lebih padat. Joint venture memberikan komplikasi tambahan dalam harga transfer.
2. Penggunaan Metode Harga Transfer
a. Pertimbangan Hukum

Hampir semua negara melakukan beberapa pembatasan pada fleksibilitas perusahaan dalam
menetapkan harga transfer untuk transaksi anak-anak perusahaan di luar negeri. Alasannya
adalah untuk mencegah perusahaan multinasional melakukan penghindaraan pajak penghasilan
di negara tuan rumah.
Metode-metode harga transfer antarperusahaan sepengendali yang dapat diterima, disusun
menurut prioritasnya dari yang paling penting adalah sebagai berikut :
1. Metode perbandingan dengan harga tidak sepengendali. Harga yang wajar
dapat dipastikan dari penjualan barang atau jasa yang dapat diperbanding -kan antara perusahaan
multinasional dan pelanggan yang tidak memiliki hubungan istimewa, atau antara dua
perusahaan yang masing-masing tidak saling memiliki hubungan istimewa.
Transfer = Harga yang digunakan dalam penjualan tidak sepengendali yang sebanding
Penyesuaian Dalam penjualan sepengendali, transaksi yang terjadi adalah antara dua anggota
kelompok sepengendali. Dalam penjualan tidak sepengendali, salah satu pihak bukan anggota
kelompok sepengendali.
2.

Metode harga jual kembali. Bila tidak ada penjualan yang dapat dibandingkan, metode

berikutnya yang diperbolehkan adalah metode harga jual kembali. Dalam metode ini, wajib pajak
bekerja mundur dari harga penjualan final pada saat kekayaan yang dibeli dari perusahaan afiliasi
dijual kembali dalam sebuah penjualan tidak sepengendali.
Metode ini digunakan jika : (1) jika tidak tersedia penjualan tidak sepengendali yang sebanding,
(2) penjualan kembali dilakukan dalam jangka waktu yang wajar sebelum atau sesudah
pembelian antar perusahaan sepengendali, (3) penjualan kembali tidak menambahkan nilai yang
berarti kepada barang yang bersangkutan dengan mengubahnya secara fisik, selain dari kemasan,
label dan seterusnya atau dengan penggunaan atau pemanfaatan kekayaan yang tak berwujud.
Harga Transfer = Harga jual kembali yang berlaku Markup yang memadai Penyesuaian
Harga jual kembali yang berlaku adalah harga dimana aktiva yang dibeli melalui penjualan
sepengendali, dijual kembali oleh pihak pembeli dalam penjualan yang tidak sepengendali.
Markup yang memadai = Harga jual kembali yang berlaku * Persentase markup yang wajar
Persentase markup yang wajar adalah Persentase dari laba kotor (diekspresikan dalam presentase
dari penjualan) yang didapatkan oleh pembeli (penjual kembali) atau pihak lain di dalam sebuah
pembelian dan penjualan kembali yang tidak sepengendali yang serupa dengan penjualan
kembali sepengendali.

3.

Metode biaya-plus. Menurut metode ini, yang menjadi prioritas terendah di antara ketiga

metode yang diuraikan, titik awal untuk menentukan harga yang wajar adalah biaya untuk
memproduksi produk, dihitung menurut praktik akuntansi yang benar. Ke dalam biaya ini
ditambahkan laba kotor yang wajar yang dinyatakan dalam presentase tertentua dari biaya dan
didasarkan pada penjualan tidak sepengendali yang serupa yang dilakukan oleh pihak penjual,
atau penjual lain, atau tingkat yang berlaku untuk industri tersebut.
Harga transfer = Biaya + Markup memadai Penyesuaian
Markup yang memadai = Biaya*Persentase laba kotor yang memadai
Persen laba kotor yang memadai = Persentase laba kotor (diekspresikan dalam persentase dari
biaya) yang diperoleh oleh penjual kembali atau pihak lain pada penjualan tidak sepengendali
yang sama dengan penjualan sepengendali.
Implikasi dari Bagian 482
Dari sudut pandang pengendalian manajemen, terdapat dua implikasi penting dari bagian 482,
yang masing-masing dibahas di bawah ini :
1.

Meskipun terdapat pembatasan hukum terhadap fleksibilitas perusahaan dalam menentukan


harga transfer masih terdapat cukup ruang gerak di dalam pembatasan ini.

2. Dalam situasi tertentu, pembatasan hukum dapat mendikte jenis-jenis harga transfer yang harus
diterapkan.
Ruang Gerak dalam Harga Transfer
Di banyak perusahaan multinasional terdapat perbedaan antara harga transfer yang murni
akan digunakan oleh manajemen hanya untuk tujuan pengendalian dan harga tansfer yang secara
hukum diperkenankan untuk meminimalkan akibat dari dampak jumlah pajak dan tarif.
Manajemen dapat meminimalkan jumlah pajak penghasilan dan tarif dengan menetapkan harga
transfer sejauh mungkin dari ujung rangkaina yang memadai.
Terdapat dua kebijakan ekstrem dalam menangani masalah ini.
1.

Beberapa perusahaan mengizinkan anak perusahaan berurusan satu sama lain sesuai prinsip
ekonomi yang wajar dan membiarkan dampak akibat pajak serta tarif apa adanya. Dengan
kebijakan ini, tidak ada lagi keraguan tentang legalitas harga transfer karena anak perusahaan
mencoba melakukan hal ini sesuai dengan yang diminta oleh peraturan yang berlaku
melakukan transaksi secara wajar. Kebijakan harga transfer pada pokoknya akan sama dengan

harga transfer domestik. Akibatnya, sistem harga transfer akan mendukung sistem pengendalian
manajemen.
2.

Harga transfer untuk negara asing hampir seluruhnya dikontrol oleh kantor pusat perusahaan
dengan maksud untuk meminimalkan biaya total perusahaan, memaksimalkan arus kas dalam
dolar atau memperoleh kombinasi yang optimum untuk posisi mata uang. Namun, kebijakan ini
dapat membatasi kegunaan sitsem pengendalian, karena dalam keadaan tertentu harga transfer
tidak berhubungan dengan harga yang berlaku jika unit-unit yang melakukan pembelian &
penjualan adalah independen.
Banyak perusahaan yang menggunakan harga transfer untuk meminimalkan pajak dan tarif,
harga transfer yang sama untuk persiapan anggaran keuntungan dan pelaporan sebagaimana yang
digunakan untuk tujuan akuntansi dan perpajakan. Jika anggaran dan laporan laba merefleksikan
harga transfer yang tidak ekonomis, kehati-hatian harus diambil untuk memastikan para manajer
anak perusahaan membuat keputusan yang terbaik bagi kepentingan perusahaan.
Pembatasan Hukum dalam Sistem Harga Transfer
Dalam beberapa situasi, pembatasan hukum dapat meminta digunakannya
sistem harga transfer tertentu, atau sebuah sistem transfer yang disukai untuk tidak digunakan.
Dalam situasi yang lain, pendekatan full cost yang implisit dapat membatasi kemampuan
perusahaan untuk mentransfer beberapa produk kurang dari full costnya. Contoh, departemen
pemasaran ingin memperkenalkan produk baru dalam pasar pada harga yang lebih rendah dari
ahrga normalnya, bahkan mungkin tidak cukup tinggi untuk menutupi full costnya.
b. Kepentingan Minoritas
Sewaktu-waktu kepentingan minoritas ikut terlibat, fleksibilitas manajemen puncak dalam
mendistribusikan laba antara anak-anak perusahaan dapat sangat dibatasi karena pihak minoritas
mempunyai hak hukum untuk memperoleh pembagian laba yang adil di perusahaan. Dalam
kasus ini, anak perusahaan harus sebisa mungkin melakukan transaksi secara wajar.

2.8. NILAI TUKAR MATA UANG


Arus kas perusahaan multinasional dinominasikan dalam beberapa mata uang dimana nilai
setiap mata uang relatif kepada nilai dolar akan berbeda seiring dengan perbedaan waktu. Variasi
ini memperumit masalah pengukuran kinerja anak perusahaan dan para manajernya. Lebih

spesifik lagi, perusahaan multinasional memiliki eksposur akibat translasi, transaksi, dan
ekonomi perubahan nilai tukar.
1. Nilai Tukar
Nilai tukar adalah harga dari sebuah mata uang jika dibandingkan dengan mata uang yang
lainnya. Hal ini dapat dinyatakan baik sebagai jumlah unit dari mata uang negara induk
perusahaan yang diperlakukan untuk membeli satu unit mata uang asing (penawaran langsung)
atau sejumlah unit mata uang asing yang diperlukan untuk membeli satu unit mata uang induk
perusahaan (penawaran tidak langsung).
Nilai tukar yang biasanya ditawarkan disebut nilai tukar nominal. Nilai tukar spot adalah nilai
tukar nominal yang berlaku pada satu hari tertentu. Nilai tukar riil adalah nilai tukar spot setelah
penyesuaian perbedaan inflasi antara dua negara yang dihitung. Ada juga nilai tukar forward
yaitu, nilai tukar hari ini yang dapat digunakan menjadi dasar penyelesaian suatu transaksi yang
terjadi di suatu waktu di masa depan.
2. Berbagai Jenis Eksposur Nilai Tukar
1.

Eksposur Translasi atau nilai tukar adalah eksposur dari neraca dan laporan laba rugi

perusahaan multinasional terhadap perubahan yang terjadi di dalam nilai tukar nominal. Hal ini
dikarenakan adanya fakta bahwa perusahaan multinasional harus mengonsolidasikan pembukuan
mereka dalam satu mata uang (biasanya mata uang negara induk perusahaan), meskipun arus kas
mereka didenominasi dalam banyak mata uang.
2. Eksposur Transaksi adalah eksposur nilai tukar yang dimiliki oleh perusahaan untuk
transaksi-transaksi antarnegaranya ketika transaksi semacam itu dicatat hari ini tetapi
penyelesaian pembayarannya dilaksanakan di kemudian hari. Contohnya, piutang, kewajiban dan
utang atau pembayaran bunga yang belum dilaksanakan dalam mata uang asing.
3.

Eksposur Ekonomi adalah eksposur nilai tukar atas arus kas perusahaan operasional atau

eksposur kompetitif terhadap nilai tukar.


3. Pilihan Metrik dalam Evaluasi Kinerja
Dalam survei perusahaan-perusahaan multinasional, Choi dan Czechowich mengemukakan
bahwa hampir semua responden memiliki sistem evaluasi kinerja yang membandingkan aktual
terhadap anggarannya dalam menilai kinerja anak perusahaan.
Mempersiapkan anggaran
Awal

proyeksi

akhir

menelusuri
anggaran

Awal
Proyeksi
Akhir

1
4
7

2
5
8

3
6
9

Terdapat 3 kemungkinan pemilihan metrik dalam penetapan dan pelacakan anggaran :


nilai tukar yang berlaku pada saat anggaran ditentukan (nilai tukar awal), nilai tukar yang
diproyeksikan pada saat anggaran ditentukan (nilai tukar proyeksi), atau nilai tukar yang berlaku
pada saat anggaran dilacak (nilai tukar akhir). Terdapat 9 kemungkinan di atas.
Meskipun demikian, tidak semua 9 sel tersebut layak digunakan hanya 5 sel yang diberi
garis bawah yang layak. Yang jelas-jelas layak terdiri dari 3 sel di mana anggaran ditetapkan dan
dilacak dengan menggunakan metrik yang sama (awal ke awal, sel 1; proyeksi ke proyeksi, sel 2;
akhir ke akhir, sel 9). Demikian pula, bila bila kita menetapkan anggaran dengan menggunakan
nilai tukar awal dan melacaknya dengan mengggunakan nilai tukar akhir (sel 3), dan
menentukan dengan menggunakan nilai tukar proyeksi dan melacak pada nilai tukar akhir )
sel 6). Bagaimanapun, tidaklah logis jika menetapkan anggaran pada nilai tukar akhir dan
melacak aktualnya dengan menggunakan nilai tukar awal atau nilai tukar proyeksi
(mengesampingkan sel 7 & 8). Begitu pula memproyeksikan nilai tukar dalam menetapkan
anggaran dan kemudian melacaknya dengan nilai tukar yang berlaku awal (mengesampingkan
sel 4).
4. Efek Translasi
Manajer anak perusahaan tidak perlu ambil pusing terhadap keputusan keputusan strategis dan operasional (seperti penetapan harga dan sumbernya) untuk merespons
perubahan nilai tukar. Selain itu, perubahan nilai tikar seluruhnya berada di luar kendali manajer
anak perusahaan. Oleh karena itu, terlihat cukup adil jika para manajer anak perusahaan
dianggap tidak perlu mempertanggung- jawabkan dampak dari translasi.
Ketika perusahaan memberikan laporannya kepada para pemegang saham, mereka harus
mengonsolidasikan angka-angka akuntansi dari anak perusahaan di negara asing dengan angkaangka akuntansi dari induk perusahaan. Laba dan rugi akibat translasi yang ditimbulkan dari
konversi neraca dan laporan laba rugi anak perusahaan di luar nigeri ke dalam unit moneter dari
induk perusahaan seharusnya tidak memengaruhi evaluasi kinerja dari manajer anak perusahaan.
5. Eksposur Ekonomi

Ketika anak perusahaan memiliki transaksi antarnegara, mereka juga akan menjadi subjek
dari eksposur ekonomi. Sebuah sistem pengendalian yang secara efektif menangani eksposur
ekonomi, memiliki perbedaan cara yang fundamental dari yang telah kita uraikan untuk eksposur
translasi. Dalam eksposur ekonomi, hal ini merupakan suatu hal yang tepat bagi sistem
pengendalian untuk mengevaluasi manajer anak perusahaan atas keputusan-keputusan yang
seharusnya memungkinkan anak perusahaan merespons perubahan yang terjadi pada nilai tukar
riil. Kita akan menjelaskan bagaimana ini dilakukan dengan mempertimbangkan dua tipe generik
dari anak perusahaan multinasional :
1.

Importir murni adalah anak perusahaan yang menjual sebagian besar produknya di dalam

negaranya sendiri, tetapi mengimpor sebagian besar barang mentahnya dari luar negeri ( baik itu
dari anak perusahaan lain atau dari anak perusahaan luar).
2. Eksportir murni adalah anak perusahaan yang menjual kebanyakan produknya ke luar negeri
( baik kepada anak perusahaan lain maupun kepada
anak perusahaan luar lainnya), tetapi membeli sebagian besar bahan mentahnya di dalam negara tersebut.
6. Efek Transaksi
Pendekatan mendasar dalam menangani eksposur transaksi adalah dengan menggunakan
stategi lindung nilai mata uang asing yang tepat. Lindung nilai (hedging) adalah transaksitransaksi yang dapat menurunkan kemungkinan risiko yang berhubungan dengan arus kas di
masa depan. Dalam prosesnya, perusahaan yang membeli instrumen lindung nilai mengalihkan
risiko kepada entitas yang menjual entitas tersebut, biasanya adalah bank komersial dalam kasus
untuk pasar valuta. Dan jasa itu sudah pasti membutuhkan biaya.
Lindung nilai adalah praktik yang berlaku umum di banyak perusahaan sebagai contoh, kapan
saja perusahaan membeli asuransi, secara tidak langsung perusahaan tersebut telah melakukan
transaksi lindung nilai internasional, dan hal itu dipergunakan sebagai cara untuk mengatasi efek
dari eksposur transaksi.
7. Kinerja Anak Perusahaan
Sejauh ini, kita telah mengusulkan bahwa adalah penting untuk membedakan antara kinerja
ekonomi anak perusahaan dan kinerja manajernya, dan pedoman-pedoman yang dibicarakan atas
semata-mata hanya menangani pengisolasian dampak nilai tukar terhadap kinerja manajer anak
perusahaan. Hal ini penting untuk disadari bahwa kinerja ekonomi anak perusahaan itu sendiri

harus merefleksikan akibat-akibat negatif atau positif atas eksposur translasi, eksposur transaksi,
dan eksposur ekonomi.
8. Pertimbangan Manajemen
Dalam mendesain sistem evaluasi kinerja anak perusahaan multinasional, perusahaan dapat
menggunakan pedoman-pedoman berikut ini :
1. Para manajer anak perusahaan seharusnya tidak dianggap bertanggung jawab terhadap efek
translasi. Cara termudah untuk mencapai tujuan ini adalah membandingkan anggaran terhadap
hasil aktual dengan menggunakan metrik yang sama dan mengisolasi efek yang berhubungan
dengan inflasi melalui analisis varian. Tidak ada gunanya bagi manajer untuk khawatir tentang
metrik yang tepat. Perusahaan multinasional hendaknya memilih metrik yang di anggap lebih
mudah untuk digunakan.
2. Efek transaksi paling baik ditangani melalui koordinasi terpusat dari kebutuhan lindung nilai
perusahaan multinasional secara keseluruhan. Hal ini kemungkinan besar akan jauh lebih murah
dan sederhana, dan dapat mencegah anak perusahaan menjadi peramal dan spekulan nilai tukar.
3. Manajer anak perusahaan harus bertanggung jawab terhadap efek ketergantungan dari nilai
tukar yang diakibatkan oleh eksposur ekonomi.
4.

Evaluasi anak perusahaan sebagai basis dari pengambilan keputusan untuk menentukan

lokasi operasi di sebuah negara atau merelokasi operasi dari sebuah negara seharusnya
merefleksikan konsekuensi-konsekuensi dari adanya eksposur translasi, eksposur transaksi, dan
eksposur ekonomi.
2.9 CONTOH KASUS
CONTOH KASUS INVESTASI PERUSAHAAN JASA
Saham Perusahaan Jasa Konstruksi Indonesia
Dalam banyak prediksi para analis, disebutkan bahwa tahun 2012-2013 adalah masa yang cukup
baik bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Secara berturut-turut pertumbuhan ekonomi
Indonesia tumbuh pada kisaran 5,5%-6,5% bahkan ketika krisis eropa sedang memanas lagi usai
krisis pada 2008. Lalu bagaimana dampaknya bagi usaha Jasa Konstruksi di Indonesia ?
Tulisan berikut akan menyajikan data perkembangan saham dan sedikit ulasan mengenai
pengaruh pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap Tiga perusahaan Jasa Konstruksi terbesar
Indonesia yang listing di Bursa Efek Indonesia yaitu:

PT. PP (Persero)
PT. Wijaya Karya (Persero)
PT. Adi Karya
Kita ambil PT. Adhi Karya sebagai contoh
PT. Adhi Karya
Nama Adhi Karya untuk pertama kalinya tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Pekerjaan
Umum dan Tenaga Kerja pada tanggal 11 Maret 1960.Kemudian berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 65 tahun 1961 Adhi Karya ditetapkan menjadi Perseroan Negara Adhi Karya.
Pada tahun itu juga, berdasarkan PP yang sama Perseroan Bengunan bekas milik Belanda yang
telah dinasionalisasikan, yaitu Associate NV, dilebur ke dalam Perseroan.
ADHI (kode emiten untuk Adhi Karya) listing di BEI dengan harga IPO Rp. 150,-/lembar.
Berikut adalah perkembangan harga saham ADHI sejak tahun 2010.
Pada Awal Februari 2010, harga saham ADHI berada pada 370/lbr. Harga saham naik pada
sekitar triwulan III 2010 hingga mencapai 1050/lbr.Namun harga saham turun selama setahun
hingga mencapai 440/lbr pada akhir 2011.Harga kembali naik pada bulan Mei 2012 hingga
mencapai 1140/lbr.Saat ini harga cukup stabil di angka 900/lbr.
Perkembangan harga saham emiten ADHI memang cukup fluktuatif.Jika dilihat sejak awal tahun
2010, harga saham telah mengalami kenaikan 149%. Cukup tinggi dibanding dengan
pertumbuhan PDB dalam kurun waktu yang sama.
Bagaimana dengan pertumbuhan laba? ADHI menghasilkan laba sebesar Rp. 23,1 Miliar pada
semester I 2010 dan naik menjadi Rp. 29,05 Miliar pada semester I 2012 atau mengalami
kenaikan sebesar 25,8% dalam dua tahun. Angka pertumbuhan ini sedikit lebih rendah dibanding
WIKA.
Kenaikan harga saham sebesar 149% tentu saja jauh di atas pertumbuhan laba.Lagi-lagi perlu
diingat bahwa variabel harga saham tidaklah sesederhana variabel laba.Setidaknya ADHI bisa
jadi lebih beruntung dengan pertumbuhan laba terkecil diantara PTPP dan WIKA, namun
mendapat kenaikan harga saham yang cukup tinggi.
Penilaian saham
Price Earning Ratio
PER juga merupakan ukuran untuk menentukan bagaimana pasar memberi nilai atau harga pada
saham perusahaan. Keinginan investor melakukan analisis saham melalui rasio-rasio keuangan

seperti PER, dikarenakan adanya keinginan investor atau calon investor akan hasil (return) yang
layak dari suatu investasi saham. Semakin besar PER suatu saham maka menyatakan saham
tersebut akan semakin mahal terhadap pendapatan bersih per saham. Jika dikatakan suatu saham
mempunyai PER 5 kali, berarti harga saham tersebut 5 kali lipat terhadap EPSnya.
Saham yang memiliki PER yang semakin kecil bagi pemodal akan semakin bagus, karena saham
tersebut memiliki harga yang semakin murah. PER merupakan salah satu segi untuk memandang
kinerja harga saham.
Formula dasar utnuk menghitung Price Earning Ratio adalah
Dimana :
Untuk melihat kemampuan perusahaan dalam menghitung laba bersih per saham
Industri konstruksi merupakan industri yang mendapat berkah atas pertumbuhan ekonomi
Indonesia yang mengesankan pada beberapa tahun terakhir. Buktinya, laporan keuangan
perusahaan konstruksi yang listing di BEI cukup kinclong hingga semester I 2012. Tercatat
empat perusahaan yang layak menjadi nominasi terbaik yaitu PT. PP (Persero), PT. Total Bangun
Persada, PT. Wijaya Karya (Persero), dan PT. Adhi Karya (Persero). So, which one the best?
Mari kita telusuri laporan keuangan terakhir keempat perusahaan kontruksi tersebut.
Tulisan ini bisa saja sesi ke dua atas tulisan sebelumnya yang mencoba menghubungkan kinerja
pertumbuhan ekonomi, kinerja laba, dan perkembangan harga saham emiten jasa konstruksi.
Pada tulisan ini, lebih fokus mengulas masalah yang lebih detil dalam laporan keuangan mereka.
Bicara laporan keuangan tentu tak lepas juga bicara atas bagaimana perilaku investor atas
perusahaan tersebut.
Beberapa hal yang menjadi paramater penilaian adalah:
Penjualan dan pertumbuhannya
Laba bersih dan pertumbuhannya
Operational Margin
PER / PE (Price Earning Ratio)
PBV (Price to Book Value)
DER (Debt Equity Ratio)
ROE (Return on Equity Ratio)
Data yang dinilai adalah data terakhir laporan keuangan ke-empat perusahaan jasa konstruksi
tersebut yaitu laporan keuangan Triwulan I dan II tahun 2012 yang diambil dari BEI yang

dihubungkan dengan data yang sama pada tahun sebelumnya untuk mengetahui tingkat
pertumbuhannya selama setahun. Data tersebut dikompilasikan menjadi tabel di bawah ini:
1. Penjualan dan Pertumbuhannya
Dari aspek penjualan, terlihat bahwa pada kuartal 1 dan 2 WIKA menjadi yang teratas dengan
nilai sales 4023,8 Miliar, diikuti oleh PTPP sebesar 2063,3 Miliar dan ADHI sebesar 1801,9
Miliar. Namun dari sisi pertumbuhan penjualan PTPP mencatat pertumbuhan tertinggi
dibandingkan yang lainnya pada kuartal 2 sebesar 23,3%. Hasil negatif dicatat oleh ADHI baik
pada kuartal 1 maupun kuartal 2. PTPP dan WIKA cukup stabil dan bersaing dalam hal
pertumbuhan penjualan pada kuartal 1 dan 2.
2. Laba bersih dan Pertumbuhannya
Laba bersih atau net income dipimpin oleh WIKA dengan 180,1 Miliar yang diikuti oleh TOTL
dan PTPP. ADHI mencatatkan laba bersih yang cukup kecil di kuartal 2 yaitu sebesar 29,1 Miliar.
Dilihat dari sisi pertumbuhannya di kuartal ke 2, PTPP mencapai hasil tertinggi yaitu 44,1%
yang diikuti oleh TOTL sebesar 38,6%. ADHI yang mencatat laba bersih terendah, namun
memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu sebesar 34,7%.
3. Operational Margin dan Fluktuasinya
TOTL menjadi juara pada aspek Operational margin di kuartal ke 2 dengan nilai 10,2% diikuti
oleh PTPP dan WIKA. Namun jika diperhatikan nilai operational margin pada kuartal 1 dan 2
TOTL mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Berbeda dengan PTPP yang stabil di 8,2%.
WIKA mengalami penurunan dari 8,6% ke 7,9% dan menjadi satu-satunya perusahaan
konstruksi yang mengalami penurunan dari aspek operational margin. Sedangkan ADHI
merupakan yang terendah namun mengalami peningkatan cukup baik dari 5,4% ke 6,3%. TOTL
menjadi juara atas parameter ini secara umum dan bisa disimpulkan bahwa TOTL yang
merupakan perusahaan konstruksi swasta selektif dalam memilih proyek dan cukup baik dalam
menekan risiko sehingga menghasilkan operational margin yang paling tinggi.
4. PER dan Fluktuasinya
PER atau Price Earning Ratio merupakan parameter yang menilai mahal atau tidaknya suatu
saham. Semakin tinggi nilai PER, maka harga saham bisa dikatakan semakin mahal. Parameter
ini menjadi indikator penting bagi investor. Dari aspek ini secara umum dilihat pada kuartal 1
dan 2, ADHI merupakan perusahaan konstruksi yang sahamnya termahal. Tidak hanya termahal,
namun terpaut jauh dibandingkan dengan yang lainnya. Di bawahnya ada PTPP dan WIKA.

Perubahan dari kuartal 1 dan 2, terlihat hampir semua saham perusahaan konstruksi menjadi
lebih murah kecuali WIKA. Hal ini berarti saham WIKA lebih cepat menyesuaikan harga atas
membaiknya kondisi perekonomian dan kondisi laporan keuangan dibandingkan dengan yang
lainnya. Terlihat ADHI mengalami perubahan PER yang signifikan yang lebih dari separo dari
pada kuartal sebelumnya. Jika dihubungkan dengan PER rerata atas keempatnya. Dapat
disimpulkan bahwa ADHI cukup diminati investor walaupun profitabilitasnya tidak setinggi
minat investor. Investor seperti punya keyakinan atas ADHI.
5. PBV dan Fluktuasinya
PBV atau Price to Book Value merupakan parameter lain yang terkait dengan penilaian mahal
tidaknya suatu saham. Bedanya dengan PER, PBV dinilai atas harga buku yang dibandingkan
dengan harga saham. TOTL merupakan perusahaan termahal jika dinilai dari PBV kuartal 2 dan
termurah adalah ADHI dengan nilai PBV masing-masing 2,7 dan 1,8. Umumnya keempat
perusahaan semakin mahal harganya dari kuartal 1 ke kuartal 2. Ini berarti semua perusahaan
konstruksi semakin diminati oleh investor sehingga perkembangan harga lebih tinggi dibanding
perkembangan harga buku.
6. DER dan Fluktuasinya
DER atau Debt Equity Ratio adalah rasio hutang atas ekuitas. Parameter ini dapat
memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam mengelola cash flow. Hutang tentu berdampak
biaya bunga. Jika hutang tidak dikelola dengan baik atau tidak berbuah laba yang lebih tinggi
dari nilai bunga, tentu perusahaan akan merugi. DER yang lebih kecil akan lebih baik dari DER
yang lebih tinggi. Idealnya nilai DER adalah 0,3. Namun untuk perusahaan konstruksi nilai DER
di atas 1,5.
Dari aspek DER, TOTL adalah yang terbaik dengan nilai DER sebesar 2,0. Nilai DER tertinggi
adalah ADHI yang diikuti oleh PTPP. Secara umum nilai DER pada keempat perusahaan
konstruksi ini meningkat dari kuartal 1 ke kuartal 2. Peningkatan terkecil dialami oleh TOTL dan
yang terbesar oleh PTPP.
Dalam hal DER, TOTL terlihat konsisten memilih proyek dengan term of payment yang baik.
Hal ini mengingat perusahaan tersebut murni perusahaan konstruksi. Berbeda dengan WIKA,
PTPP, dan ADHI yang sudah tidak murni perusahaan konstruksi karena mulai menjadi
perusahaan investasi dan trade company.
7. ROE dan Fluktuasinya

ROE atau Return on Equity adalah tingkat pengembalian atas modal. Rasio ini merupakan rasio
profitabilitas yang terpenting dalam menilai kinerja perusahaan. Siapa yang terbaik? Dari tabel di
atas, TOTL adalah juaranya. ROE TOTL cukup jauh meninggalkan pesaingnya di angka 27,6%
diikuti oleh WIKA yang cukup stabil di level 14%-15%. PTPP dalam hal ini cukup moderat dan
naik perlahan walaupun belum tembus double digit. Sedangkan ADHI terkesan sedang
mengalami problem masa lalu dimana ROE awal tahun selalu berada di level 1%-2% akan
tetapi di kuartal 4 di level 18%-22%. Ini berbeda dengan ketiga perusahaan yang lain dimana
selisih nilai pada kuartal 4 ke kuartal 1 tahun berikutnya tidak selebar ADHI.
Kesimpulan
Kajian atas beberapa parameter di atas yang walaupun cukup sederhana, namun secara garis
besar dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
Perusahaan konstruksi terbesar adalah WIKA yang diikuti oleh PTPP. Dengan melihat produk
usahanya, WIKA merupakan produsen precast terbesar yang mengkontribusi laba lebih 50% atas
laba bersih WIKA. Sedangkan PTPP sangat didominasi oleh usaha konstruksinya dimana
pencapaian laba semester I sangat ditunjang oleh unit barunya yaitu EPC. Atas kondisi tersebut
bisa dikatakan PTPP merupakan perusahaan jasa konstruksi terbesar di Indonesia. Terlebih PTPP
baru saja memenangkan tender New Tanjung Priok senilai 9 Triliun yang sudah pasti akan
mengkontribusi laba sangat besar selama 4 tahun berikutnya. PTPP sangat berpotensi menjadi
perusahaan konstruksi nomor satu pada tahun-tahun yang akan datang.
TOTL merupakan perusahaan jasa konstruksi yang cukup selektif dalam memilih proyek yang
akan dikerjakan. Tidak hanya dari sisi term of payment, tapi juga dari sisi risiko dan
pengelolaannya. Sehingga menjadikan TOTL cukup handal dari sisi ROE, operational margin
dan DER. Tak heran harga sahamnya bisa dikatakan cukup mahal jika dilihat atas PBV. Namun
paling murah dilihat dari aspek PER. Saat ini TOTL merupakan salah satu target investasi oleh
para Investor selain WIKA yang tumbuh baik dan stabil namun harga sahamnya sudah agak
mahal.
ADHI bisa jadi sedang mengalami masa-masa sulit atau setidaknya mulai bangkit dan ternyata
masih cukup disayang investor karena nama besarnya. Bagaimana tidak? Dengan sales yang
turun, laba bersih yang terbilang kecil untuk size nya yang gajah, ROE yang lebih rendah

dibanding bunga deposito 6 bulan, harga saham yang kemahalan dan tingkat hutang atas modal
yang kelewat tinggi, ADHI seperti sedang sakit yang bisa jadi bukan demam biasa. Walau
demikian, ADHI terlihat menyimpan beberapa harapan sembuh dengan pertumbuhan laba bersih
yang cukup signifikan, hampir sama dengan kondisi perusahaan yang baru tumbuh dan akan
besar.

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Pengendalian manajemen pada organisasi jasa berbeda bila dibandingkan dengan
organisasi manufaktur. Hal ini disebabkan ketiadaan persediaan penyangga pada organisasi jasa,
kesulitan mengukur kualitas, dan pada umumnya perusahaan jasa cenderung merupakan padat
karya. System pengendalian manajemen pada organisasi jasa umumnya sama dengan system
pengendalian manajemen pada organisasi dagang.
Organisasi jasa keuangan berbeda dalam dua hal dibandingkan perusahaan lainnya.
Pertama, bahan bakunya adalah uang. Kedua, tingkat laba dari banyak transaksi tidak bisa diukur

hingga bertahun-tahun setelah komitmen yang dilakukan. Yang utama, perusahaan akan
mendapat laba jika pendapatan masa depan diperoleh dari pinjaman saat ini, investasi, dan
premin asuransi yang melebihi biaya dana yang berkaitan dengan pendapatan ini. Masalah
pengendalian manajemen lebih kompleks dalam investasi perbankan, perdagangan sekuritas, dan
beberapa organisasi lainnya karena fakta bahwa laba ataupun rugi bisa dihasilkan dari satu
transaksi tunggal.
Dari sudut pandang pengendaliaan manajemen, terdapat tiga topik yang unik bagi
perusahaan multinasional yaitu : perbedaan perbedaan budaya, harga transfer, dan nilai
tukar. Sebagai tambahan dari kesesuaian tujuan, dibutuhkan pertimbangan pertimbangan
penting lainnya untuk memperoleh harga transfer pada perusahaan multinasional yaitu :
perpajakan, peraturan pemerintah, tarif, pengendalian nilai tukar luar negri, akumulasi
dana dan joint venture. Sebuah evaluasi dtas kinerja ekonomi anak perusahaan sebaiknya
menggabungkan konsekuensi negatif atau positif dari eksposur translasi, transaksi dan
ekonomi. Akan tetapi, selagi mengevaluasi kinerja manajer yang berwenang dari anak
perusahaan, efek dari eksposur translasi dan transaksi harus di hilangkan meskipun
demikian manajer anak perusahaan harus dapat mempertanggung jawabkan efek efek
ketergantungan dari nilai tukar yang diakibatkan eksposur ekonomi.
2. Saran
Dalam sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang apapun dan dalam cakupan
manapun hendaknya organisasi tersebut menjalankan organisasinya secara terorganisir,
sebab setiap organisasi pasti mempunyai tujuan, tidak hanya untuk memperoleh
keuntungan juga diharapkan organisasi tersebut dapat bertahan lama dimasa yang akan
datang. Agar supaya dalam mencapai tujuan yang diinginkan dapat tercapai, dalam hal
ini sistem pengendalian manajemen sangat dibutuhkan karena sistem pengendalian
manajemen ini mampu menuntun dan memberikan arah yang jelas pada sebuah
organisasi untuk mencapai tujuan organisasi tersebut.

DAFTAR PUSAKA
Sistem Pengendalian Manajemen (Management Control Systems, 11th)/Robert N. Anthony, Vijay
Govindarajan : Jakarta, Salemba Empat, 2005.
L. Daft Richard, Manajemen. Edisi enam, Salemba empat, Jakarta, 2006.
Drucker Peter F. Pengantar Manajemen. Jaya Pirusa, Jakarta, 1982
Gibson, Donnelly, Ivancevich, manajemen edisi kesembilan, Airlangga, Jakarta, 1997.
Griffin, Manajemen. Airlangga, Jakarta, 2004.
Amirullah, Rindyah Hanafi, Pengantar Manajemen. Graha Ilmu, Yogyakarta, 2002.

https://www.scribd.com/doc/76980378/ORGANISASI-JASA