Anda di halaman 1dari 3

SOP LEPRA

No. Dokumen
No. Revisi
SOP Tanggal Terbit
Halaman

:
:
:
:

PUSKESMAS
CAKRANEGARA

1. Pengertian
2.Tujuan
3.Kebijakan
4.Referensi

5.Prosedur

dr. Hj. Y. Nevy Lestari


NIP.196311071997032001

Lepra adalah penyakit menular, menahun dan disebabkan oleh


Mycobacterium leprae yang bersifat intraselular obligat.
Sebagai pedoman mendiagnosa dan memberikan pertolongan pada
pasien Lepra
SK Kepala Puskesmas Cakranegara No. /SK/PKM.C/I/2016
Djuanda, A., Hamzah, M., Aisah, S. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. (Djuanda, et al., 2007)
Persiapan Alat dan Bahan:
1. Tensimeter
2. Stetoscope
3. Thermometer
4. Penlight
5. handscun
6. Blangko Register
7. Blangko Observasi
8. Blangko penggunaan obat

6.Langkah-Langkah 1. Informed concent


2. Anjurkan pasien untuk berbaring di tempat tidur
3. Anamnesa
Keluhan
Bercak kulit berwarna merah atau putih berbentuk plakat, terutama
di wajah dan telinga. Bercak kurang/mati rasa, tidak gatal. Lepuh
pada kulit tidak dirasakan nyeri. Kelainan kulit tidak sembuh
dengan pengobatan rutin,terutama bila terdapat keterlibatan saraf
tepi.
4. Lakukan pemeriksaan fisik
Tanda Patognomonis
Tanda-tanda pada kulit
Perhatikan setiap bercak, bintil (nodul), bercak berbentuk
plakat dengan kulit mengkilat atau kering bersisik. Kulit tidak
berkeringat dan berambut. Terdapat baal pada lesi kulit, hilang
sensasi nyeri dan suhu, vitiligo. Pada kulit dapat pula
ditemukan nodul.
Tanda-tanda pada saraf
Penebalan nervus perifer, nyeri tekan dan atau spontan pada
saraf, kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota gerak,
kelemahan anggota gerak dan atau wajah, adanya deformitas,
ulkus yang sulit sembuh.
5. Lakukan pemeriksaan laboratorium
Diagnosis ditegakkan apabila terdapat satu dari tanda-tanda utama

atau kardinal (cardinal signs), yaitu:


Kelainan (lesi) kulit yang mati rasa
Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf
Adanya basil tahan asam (BTA) dalam kerokan jaringan
kulit (slit skin smear)
6. Jika hasil Lab. Positif Rujuk
a. Pasien diberikan informasi mengenai kondisi pasien saat ini,
serta mengenai pengobatan dan pentingnya kepatuhan untuk
eliminasi penyakit.
b. Kebersihan diri dan pola makan yang baik perlu dilakukan.
c. Pasien dimotivasi untuk memulai terapi hingga selesai terapi
dilaksanakan.
d. Terapi menggunakan Multi Drug Therapy (MDT) pada:
a) Pasien yang baru didiagnosis kusta dan belum pernah
mendapat MDT.
b) Pasien ulangan, yaitu pasien yang mengalami hal-hal di
bawah ini:
Relaps
Masuk kembali setelah default (dapat PB maupun MB)
Pindahan (pindah masuk)
Ganti klasifikasi/tipe
c) pada pasien PB:
Pengobatan bulanan: hari pertama setiap bulannya
(obat diminum di depan petugas) terdiri dari: 2 kapsul
Rifampisin @ 300mg (600mg) dan 1 tablet
Dapson/DDS 100 mg.
Pengobatan harian: hari ke 2-28 setiap bulannya: 1
tablet Dapson/DDS 100 mg. 1 blister obat untuk 1
bulan.
Pasien minum obat selama 6-9 bulan ( 6 blister).
Pada anak 10-15 tahun, dosis Rifampisin 450 mg, dan
DDS 50 mg.
d) pada Pasien MB:
Pengobatan bulanan: hari pertama setiap bulannya
(obat diminum di depan petugas) terdiri dari: 2 kapsul
Rifampisin @ 300mg (600mg), 3 tablet Lampren
(klofazimin) @ 100mg (300mg) dan 1 tablet
dapson/DDS 100 mg.
Pengobatan harian: hari ke 2-28 setiap bulannya: 1
tablet lampren 50 mg dan 1 tablet dapson/DDS 100 mg.
1 blister obat untuk 1 bulan.
Pasien minum obat selama 12-18 bulan ( 12 blister).

Pada anak 10-15 tahun, dosis Rifampisin 450 mg,


Lampren 150 mg dan DDS 50 mg untuk dosis
bulanannya, sedangkan dosis harian untuk Lampren 50
mg diselang 1 hari.
e. Dosis MDT pada anak <10 tahun dapat disesuaikan dengan
berat badan:
Rifampisin: 10-15 mg/kgBB
Dapson: 1-2 mg/kgBB
Lampren: 1 mg/kgBB
f. Obat penunjang (vitamin/roboransia) dapat diberikan vitamin
B1, B6, dan B12.
g. Tablet MDT dapat diberikan pada pasien hamil dan menyusui.

Bila pasien juga mengalami tuberkulosis, terapi rifampisin


disesuaikan dengan tuberkulosis.
h. Untuk pasien yang alergi dapson, dapat diganti dengan lampren,
untuk MB dengan alergi, terapinya hanya 2 macam obat
(dikurangi DDS).
7. Bagan Alir
LOKE

POLI
UMUM
(Anamnesa)
LABORATORIUM
8. Hal-hal yang
perlu
diperhatikan
9. Unit Terkait

10. Dokumen
Terkait

11. Rekaman
Historis
perubahan

Rawat Jalan
Pasien
pulang
Rawat Inap

Rujuk

Keadaan umum pasien


1.
2.
3.
4.
1.
2.
3.
4.
5.
No.

Poli Klinik Rawat Jalan.


Poli KIA
Ruang Rawat Inap.
IGD
Blangko Register
Blangko Observasi
Blangko penggunaan obat
Blangko rawat inap
Blangko rujukan
Yang diubah
Isi
perubahan

Tanggal
diberlakukan

mulai