Anda di halaman 1dari 36

Ian Konjo Blog

Tips & Trik Blogging, Komputer, Internet, Pendidikan, Filsafat, Renungan, Tips
Bagus, Facebook, Ebook, Budaya, Profil Tokoh, dll
Translate

Top of Form

Mau cari di

Ian Konjo Blog Atau di

Web

Bottom of Form
skip to main | skip to sidebar
Pengertian Pendekatan, Metode, Teknik, Model, dan Strategi Pembelajaran
1.

PENDEKATAN

Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap
proses pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi
pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau
pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat
pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta
strategi pembelajaran induktif (Sanjaya, 2008:127).

2.

METODE

Metode merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan


ke dalam berbagai metode. Metode adalah prosedur pembelajaran yang
difokuskan ke pencapaian tujuan. Teknik dan taktik mengajar merupakan
penjabaran dari metode pembelajaran.

3.

TEKNIK

Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka


mengimplementasikan suatu metode. Misalnya, cara yang bagaimana yang

harus dilakukan agar metode ceramah yang dilakukan berjalan efektif dan
efisien? Dengan demikian sebelum seorang melakukan proses ceramah
sebaiknya memperhatikan kondisi dan situasi.

4.

MODEL

Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal


sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Dalam model
pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan
pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.Nah, berikut ini ulasan singkat
tentang perbedaan istilah tersebut.

5.

STRATEGI

Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang


rangkaian kegiatan yang didisain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu
(J.R. David dalam Sanjaya, 2008:126). Selanjutnya dijelaskan strategi
pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru
dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien
(Kemp dalam Sanjaya, 2008:126). Istilah strategi sering digunakan dalam
banyak konteks dengan makna yang selalu sama. Dalam konteks pengajaran
strategi bisa diartikan sebagai suatu pola umum tindakan guru-peserta didik
dalam manifestasi aktivitas pengajaran (Ahmad Rohani, 2004 : 32). Sementara
itu, Joyce dan Weil lebih senang memakai istilah model-model mengajar daripada
menggunakan strategi pengajaran (Joyce dan Weil dalam Rohani, 2004:33.

Nana Sudjana menjelaskan bahwa strategi mengajar (pengajaran) adalah


taktik yang digunakan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar
(pengajaran) agar dapat mempengaruhi para siswa (peserta didik) mencapai
tujuan pengajaran secara lebih efektif dan efisien (Nana Sudjana dalam Rohani,
2004:34). Jadi menurut Nana Sudjana, strategi mengajar/pengajaran ada pada
pelaksanaan, sebagai tindakan nyata atau perbuatan guru itu sendiri pada saat
mengajar berdasarkan pada rambu-rambu dalam satuan pelajaran. Berdasarkan
pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa strategi pembelajaran harus
mengandung penjelasan tentang metode/prosedur dan teknik yang digunakan
selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan kata lain, strategi
pembelajaran mempunyai arti yang lebih luas daripada metode dan teknik.
Artinya, metode/prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari
strategi pembelajaran. Dari metode, teknik pembelajaran diturunkan secara
aplikatif, nyata, dan praktis di kelas saat pembelajaran berlangsung.
Penulis : Ian Konjo Ipass Label: Pendidikan
Tampilkan Komentar

30 comments:

anisayu13 September 2012 13:57


wah dapat pelajaran disini dg gratis...
sip :)
ReplyDelete
Replies

Ian Konjo Ipass16 September 2012 14:28


Hehe... Saya ingin berbagi apa yang saya punya mbak Anisa, kebanyakan yang
ada di sini adalah tugas2 waktu kuliah dulu. Siapa tahu ada yang
membutuhkan... hehehe ^_^

Delete

aco6 December 2012 22:31


MANTAP MAKSIH ATAS POSTINGANNYA N SANGAT BERMANFAAT
Delete

Ian Konjo Ipass14 June 2013 16:57


Sama-sama bro....
Delete
Reply

BlogS of Hariyanto15 September 2012 01:07

jadi ingat kuliah metode penelitian :)


ReplyDelete
Replies

Ian Konjo Ipass16 September 2012 14:45


Hehehe... iye daeng...
Delete

sari fatimah balwell SMAN729 March 2013 18:29


wah, ga bisa di copy ya blog nya ? :O
Delete

sari fatimah balwell SMAN729 March 2013 18:31


wah, ga bisa di copy ya blog nya ? :O
Delete

Ian Konjo Ipass5 April 2013 13:14


Bisa nona. Coba klik kanan, akan muncul tulisan copy-nya....
Delete
Reply

toserba15 September 2012 01:08


nice share post ^_^
ReplyDelete
Replies

Ian Konjo Ipass16 September 2012 14:46


Iya, thank's...
Delete
Reply

binkbenk16 September 2012 15:26


mantep banget sharenya sobat..
Ijin simpan ya...
ReplyDelete
Replies

Ian Konjo Ipass16 September 2012 16:05


Dipersilahkan sob.....
Delete
Reply

software simbos6 October 2012 09:02


trimakasih infonya gant..
ijin beriklan gant
butuh software simbos kesini saja
http://www.juknisbos.com/
ReplyDelete
Replies

Ian Konjo Ipass14 October 2012 04:15


Terima kasih atas kunjungannya sob....
Ntar aku cari ke sana deh.... Makasih infox...
Delete
Reply

icha9 December 2012 13:25


makasih y,mas..
lmyan buat bntu" referensi tgas kul aq,,,
ReplyDelete
Replies

Anak Pesisir24 May 2013 17:41


Iya. Sama2...
Delete
Reply

Try Out Online16 January 2013 14:36


ngomongin soal pendidikan kali ini saya juga mempunyai situs pendidikan yg
bisa membuat giat dan rajin dalam belajar, untuk linknya
http"//gameforsmart.com
ada pengadaan kompetisi cerdas cermat online se-jawatimur2 yg di laksanakan
pada bulan februari mendatang yang bisa di di ikuti olech adek-adek mulai
jenjang sd s/d smp untuk cara ikutnya sangat mudah dan gratiiiissss tanpa
pungutan biaya apapun. dan juga berhadiah jutaan rupiah...
kami tunggu konfirmasinya...!!!!
ReplyDelete

ninik7 February 2013 09:48


bisakah disertakan daftar pustakanya? maturnuwun
ReplyDelete

bintang disurga12 February 2013 08:40


saya mau tanya, kalau tujuan dari startegi pembelajaran itu apa?
ReplyDelete

Toko Buku Bandung2 April 2013 14:28


Bila anda membutuhkan buku terkait Strategi dan Model Pembelajaran, silahkan
hubungi kami toko buku bandung
ReplyDelete

Aisyah Jaya10 April 2013 11:03


thank you yh...
ReplyDelete
Replies

Anak Pesisir24 May 2013 17:39


Sama-sama nona.
Delete
Reply

ngadiyono11 April 2013 17:25

nambah referensi bg kami


ReplyDelete
Replies

Anak Pesisir24 May 2013 17:40


Alhamdulillah kalau begitu.
Delete
Reply

Khamaludin Toha21 May 2013 23:39


bismillaah, mohon izin kopi artikel. terima kasih
ReplyDelete
Replies

Anak Pesisir24 May 2013 17:40


Silahkan pak. Terima kasih kembali.
Delete
Reply

SATRI8 June 2013 21:11


PERMISI IKUT NGOPI YA?
ReplyDelete
Replies

Ian Konjo Ipass11 June 2013 20:04


Silahkan..... Mkasih telah berkunjung...
Delete
Reply

Anonymous8 July 2013 22:03


MOHON MAAF TAU METODE HANGIS GAK ?
KALAU BOLEH TAU METODE HANGIS ITU APA YA ?
ReplyDelete
Add comment
Load more...
Artikel Terbaru Artikel Lama Beranda

Subscribe to: Post Comments (Atom)


Entri Populer
Pengertian Pendekatan, Metode, Teknik, Model, dan Strategi Pembelajaran
Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia

Situs-Situs Download Film Gratis


Sejarah Kebudayaan Islam (Makalah)
Peranan Penting Pendidikan Agama Islam
Makalah: Pengelolaan Kelas
Menu Arsip

Top of Form
Recent PostPendidikanIlmu Agama
Ian Konjo Blog
Resensi Novel Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) karya Marah Rusli
Judul Buku
Penerbit

: Siti Nurbaya ( Kasih Tak Sampai ) Pengarang


: Marah Rusli
: Balai Pustaka Tahun Terbit : 1992 Tempat Terbit :

Stelistika
A. Definisi dan Konsep Stelistika Leech, Geoffey dan Short (1981:10)
membedakan istilah style dan stylistics. Dalam arti luas style mengacu pada
bagaimana bahasa dipakai dalam konteksnya oleh seseorang untuk tujuan
tertentu.
Sastra: Definisi Puisi
A. Definisi Puisi Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal
dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata
puisi ini adalah poetry yang erat dengan poet dan -poem. Mengenai kata poet,

Media Pembelajaran

Media pembelajaran Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk
jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atas pengantar.
Media adalah perantara atau pengantar pesan dari
Pengertian Belajar
1. Pengertian belajar Belajar menurut Omar Hamalik (2002:154) adalah
perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman.
Hilgard dan Bower seperti yang dikutip Ngalim Purwanto (1993:84) bahwa
Belajar
Makalah: Pengelolaan Kelas
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Peranan guru sebagai manajer
dalam kegiatan belajar di kelas sudah lama diakui sebagai salah satu faktor yang
penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
Pengertian Pendekatan, Metode, Teknik, Model, dan Strategi Pembelajaran
1.
PENDEKATAN Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut
pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada
guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction),
pembelajaran deduktif atau pembelajaran
Tokoh: Biografi Muhammad Yamin
Muhammad Yamin dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada tanggal 23
Agustus 1903. Ia menikah dengan Raden Ajeng Sundari Mertoatmadjo. Salah
seorang anaknya yang dikenal, yaitu Rahadijan Yamin. Di zaman

Resensi Novel Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) karya Marah Rusli
Stelistika
Sastra: Definisi Puisi
Media Pembelajaran
Pengertian Belajar
Makalah: Pengelolaan Kelas
Pengertian Pendekatan, Metode, Teknik, Model, dan Strategi Pembelajaran
Kurangnya Minat Belajar di Kalangan Mahasiswa
Konsep Perubahan Sosial
Karya Sastra dan Masyarakat
Sejarah Perpustakaan di Indonesia

Perkembangan Perpustakaan Klasik di Berbagai Negara


Peranan Penting Pendidikan Agama Islam
Makalah: Individu dan Masyarakat
Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia
Jenis Wacana Tulis
Apresiasi Karya Sastra Prosa Fiksi
Definisi Metafisika Dalam Ranah Filsafat
Teori Semiotik Menurut Para Ahli
Teori Semiotik
Pengaruh Perpustakaan Sekolah terhadap Mutu Pendidikan
Ciri-Ciri Pembelajaran Aktif di Kelas
Sejarah Kebudayaan Islam (Makalah)
Langkah-Langkah Dasar dalam Menulis
Tujuan dan Kegunaan Menulis
Bentuk-Bentuk Menulis
Bahasa Sebagai Alat Komunikasi
Bentuk Hubungan Logis dalam Bahasa Indonesia
Apresiasi Sastra (Pengantar)
Keuniversalan Bahasa
Pendidikan Menurut HAMKA
Pendidikan Menurut Para Ahli
Definisi Bahan Ajar
Definisi Diktat
Definisi Artikel
Definisi Makalah
Definisi Penelitian
Karya Tulis Ilmiah
Definisi Karangan

Download Makalah Lengkap


Jenis-Jenis Menulis
Pembelajaran Sastra
Teori Semiotika
Download Gratis Proposal dan Skripsi
Jenis-Jenis Membaca
Deklarasi Bone (1460 Masehi)
Download Gratis Silabus dan RPP SMP
Peranan Sastra dalam Dunia Pendidikan dan Masyarakat
Filsafat Ilmu (2)
Filsafat Ilmu (I)
Widget by BBK
Peranan Penting Pendidikan Agama Islam
Imam Al Ghazali (Tokoh Filsafat dan Tasawuf Terkemuka)
Definisi Metafisika Dalam Ranah Filsafat
Mengapa Wanita Meneteskan Air Mata?
Mengenal Tuhan Adalah Fitrah
Membuktikan Keberadaan Tuhan
Pengertian Tarekat
11 Golongan yang Selalu Didoakan oleh Malaikat
Doa Meminta Husnul Khatimah
Apakah Agama itu?
Kata-Kata Penuh Hikmah tentang Akal
Faktor-Faktor Kesalahan Akal Menurut al-Qur'an
Nalar Islam (Antara Tradisi Teks dan Tradisi Gnosis)
Tanda-Tanda Menjelang Kematian
Indahnya Islam Kita
Kebijaksanaan

10 Cara Menjadi Orang yang Kreatif


Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Arbitrasi (SQ: Antara Agama dan Makna)
Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Arbitrasi (SQ: Antara Psikologi dan
Psikoanalisa)
Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Arbitrasi (SQ: Kecerdasan Memaknai Hidup)
Bottom of Form
Jejak Tamu dan Taffic IKB

NetworkedBlogs
Blog:
Ian Konjo Blog
Topics:
Internet, Blogging, Pendidikan

Follow my blog

<a href="http://www.histats.com" target="_blank"><img


src="http://sstatic1.histats.com/0.gif?1674843&amp;101" alt="free hit counter"

border="0" /></a>
<a href="http://feedjit.com/">Feedjit Live Blog Stats</a>

Subscribe
Twitter Admin
Facebook Admin
Google+ Admin

Followers

Recent Comment
On Jul 08 Anonymous commented on pengertian pendekatan metode teknik
MOHON MAAF TAU METODE HANGIS GAK ?KALAU BOLEH TAU METODE HANGIS
ITU APA YA ?
On Jun 28 Ian Konjo Ipass commented on pengertian belajar
Iya... Sama-sama! Terima kasih telah berkunjung. ^_^
On Jun 20 Ian Konjo Ipass commented on sejarah perkembangan bahasa
indonesia
Iya. Sama-sama bro... Makasih kunjungannya.
On Jun 20 Ardhie Winarkho commented on sejarah perkembangan bahasa
indonesia
terimakasih infonya, sangat bermanfaat gan
On Jun 17 Orang Indonesia commented on pengertian belajar
Makasih share-nya gan....Salam kenal.
On Jun 15 Ian Konjo Ipass commented on kurangnya minat belajar di kalangan
Ada di bagian bawah tertulis gan....
On Jun 14 Ian Konjo Ipass commented on pengertian pendekatan metode teknik
Sama-sama bro....
On Jun 14 Ian Konjo Ipass commented on media pembelajaran
Sama-sama sob....Slam bloger.
On Jun 14 Muara Imaji commented on media pembelajaran
Terima kasih telah berbagi..... Salam bloger!
On Jun 12 Ian Konjo Ipass commented on resensi novel siti nurbaya kasih tak
Karya yang begitu dahsyat....
On Jun 12 Orang Baru commented on resensi novel siti nurbaya kasih tak
Sebuah roman yang bisa dikatakan wow...
On Jun 11 Ian Konjo Ipass commented on pengertian pendekatan metode teknik
Silahkan..... Mkasih telah berkunjung...
On Jun 08 SATRI commented on pengertian pendekatan metode teknik
PERMISI IKUT NGOPI YA?

On Jun 06 Ian Konjo Ipass commented on stelistika


Makasih daeng. Saya hanya berbagi ilmu...
G+ Followers
Back to Top
Copyright 2012 Ian Konjo Blog | Desain by: Ian Konjo Blog | Muara Imaji

Pembelajaran Berpusatkan Murid


Pembelajaran berpusatkan murid bermaksud penglibatan murid secara aktif dalam sesuatu
aktiviti pembelajaran. Walau bagaimanpun huraian yang ringkas ini tidak bermaksud guru
tidak memainkan peranannya dalam kelas. Penglibatan murid bermakna murid bersama-sama
guru berinteraksi untuk meneroka, menganalisis, mencuba serta mencari penyelesaian secara
kritis, kreatif dan inovatif terhadap s
Corak pembelajaran secara konvensional atau pembelajaran berpusatkan guru lebih
menumpukan pembelajaran secara satu hala. Guru memainkan peranan yang aktif manakala
murid pula hanya mendengar dan membuat catatan sahaja tanpa terlalu banyak berlakunya
interaksi antara kedua-dua pihakPEMBELAJARAN berpusatkan murid bermaksud
penglibatan murid secara aktif dalam sesuatu aktiviti pembelajaran. Walau bagaimanpun
huraian yang ringkas ini tidak bermaksud guru tidak memainkan peranannya dalam kelas.
Antara cirri-ciri Pengajaran Berpusatkan Murid adalah:

Murid tidak terlalu bergantung pada arahan guru semata-mata dalam proses pembelajaran.
Hal ini bermakna murid-murid itu sendiri akan bergerak mengikut panduan dan nasihat yang
diberikan oleh guru.

Murid-murid tidak memencilkan diri mereka daripada rakan-rakan. Malah mereka


memerlukan kerjasama antara satu sama lain untuk menyelesaikan sebarang masalah
pembelajaran. Mereka menghargai satu sama lain, berkerjasama, saling bantu membantu dan
sering bertukar-tukar idea dalam suasana yang ceria dan menyeronokkan.

Kaedah ini akan meningkatkan kemahiran interpersonal dalam kalangan murid melalui
proses kolaborasi yang mereka lalui dalam melaksanakan aktiviti pembelajaran.

Guru berperanan sebagai fasilitator dan pembimbing dalam proses pembelajaran dan
pengajaran. Guru mereka bentuk pengajaran yang berperanan untuk menentukan hala tuju
pembelajaran tersebut agar hasilan pembelajaran tercapai, mengurus aktiviti murid supaya
interaksi berjalan dengan lancar, dan merekabentuk pendekatan pengukuran dan penilaian
untuk tujuan melihat perkembangan prestasi murid dari semasa ke semasa.
Dalam menjayakan pengalaman pembelajaran berpusatkan pelajar, aspek minda pelajar dan tenaga pengajar
serta pendekatan aktiviti P & P perlu selaras dengan falsafah pembelajaran berpusatkan pelajar atau pengajaran
berpusatkan pelajar. Di antara strategi yang boleh diamalkan ialah:
1. Menjadikan pelajar lebih aktif dalam memperoleh pengetahuan dan kemahiran melalui aktiviti kerja
lapangan, kuiz, dan penggunaan ICT secara optimum.
2. Menggalakkan pelajar bertanggungjawab untuk pembelajaran mereka sendiri dengan menjadikan pelajar
lebih sedar apa yang dipelajari oleh pelajar dan sebab mengapa mereka perlu mempelajari sesuatu.
3. Mengamalkan model pengajaran dan pembelajaran aktif bersesuaian dengan peringkat pendidikan termasuk
pembelajaran koperatif, pembelajaran kolaboratif, pembelajaran komuniti, pembelajaran berasaskan masalah,
pembelajaran berasaskan projek, kajian kes, pembelajaran berasas rakan sebaya, pembelajaran konstruktivisme
dan pembelajaran berasaskan inkuiri.

Pembelajaran aktif dalam pembelajaran berpusatkan pelajar memerlukan beberapa


teknik penilaian murid yang berkualiti . Persekitaran penilaian berpusatkan murid
menyediakan peluang untuk memberi maklum balas dan penambahbaikan sepanjang proses
pembelajaran. Penilaian yang berbentuk formatif ini akan menyumbang kepada penilaian dan
penaksiran di penghujung proses pembelajaran. Antara teknik penilaian bersifat formatif yang
berpusatkan pelajar adalah membina buku skrap, persediaan portfolio (e-portfolio), penilaian
rakan sebaya, projek, dan kerja kumpulan. Penggunaan penilaian berasaskan panduan guru
digalakkan untuk penilaian yang objektif dan berkesan dalam menilai tugasan muridesuatu
tugasan yang diberikan.

PEMBELAJARAN BERPUSATKAN PELAJAR DAN KAITANNYA


DENGAN PEMBANGUNAN DIRI DAN PELUANG PEKERJAAN
Dr. Abdullah Ibrahim
Kolej Universiti Kejuruteraan dan Teknologi Malaysia(KUKTEM)
PENDAHULUAN
Kertas kerja ini bertujuan untuk berkongsi pengetahuan dan pengalaman tentang kepentingan strategi
pembelajaran yang dilaksanakan di tiga jenis institusi pendidikan - di sekolah, di maktab perguruan
dan di universiti. Fokus perbincangan ini berkisar kepada strategi pembelajaran yang diamalkan dan
implikasinya kepada pembangunan diri dan masa depan pelajar bila berdepan dengan alam pekerjaan.
Semasa di sekolah sama ada secara sedar atau tidak kita mengaplikasikan pelbagai strategi pengajaran
dengan harapan ianya boleh meningkatkan keberkesanan proses pembelajaran. Pengetahuan dan
kemahiran tentang strategi pengajaran ini diwarisi semasa menerima latihan di maktab-maktab
perguruan atau pun semasa mengikuti program diploma pendidikan di mana-mana universiti yang
menawarkannya. Ramai mengakui teknik syarahan masih mendominasikan pengajaran seseorang guru
di sekolah dalam menyampaikan isi pelajaran.
Di Maktab Perguruan, pensyarah menyampaikan pengajaran dengan mengaplikasikan pelbagai
strategi seperti pengajaran di bilik darjah, perbincangan, perbincangan kumpulan dan sebagainya juga
dengan tujuan menambah keberkesanan penyampaian mereka. Walau bagaimana pun pengalaman
menunjukkan strategi pembelajaran di maktab-maktab perguruan masih menggunakan teknik syarahan
sebagai kaedah utama penyampaian pensyarah. Sebagai sebuah maktab perguruan, guru pelatih
dibekalkan dengan ilmu pedagogi yang memberi pengetahuan dan kemahiran mengajar dengan
harapan mereka dapat mengamalkannya di sekolah. Tiada satu bentuk penekanan tentang strategi yang
diberikan yang membawa kepada lepasan maktab perguruan mengulangi kaedah tradisional dalam
pengajaran mereka. Garis Panduan Praktikum Latihan Perguruan PraPerkhidmatan keluaran Bahagian
Pendidikan Guru (April 2002) juga tidak menggariskan penekanan tentang bentuk pendekatan yang
harus diamalkan oleh guru pelatih terutama sekali pendekatan pembelajaran berpusatkan pelajar.
Justeru, kaedah tradisional terus membudayakan teknik pengajaran di mana-mana pusat pengajian
hinggalah ke institusi pengajian tinggi.
Walau bagaimana pun kebelakangan ini timbul kesedaran tentang perlunya peralihan strategi
pembelajaran terutama di IPTA. Kaedah tradisional bukan lagi cara terbaik dan mampu menyediakan
pelajar dengan pelbagai kemahiran khasnya kemahiran-kemahiran yang diperlukan oleh sektor
pekerjaan. Justeru beberapa seminar telah pun diadakan seperti seminar Problem-Based Learning
anjuran Universiti Malaya, International Conference on Learning and Teaching anjuran UiTM dan 3rd
International Workshop on Self-Learning Material Development anjuran USM. Kesemuanya
bertujuan memberi kesedaran tentang perlunya peralihan dalam strategi pembelajaran.
Kolej Universiti Kejuruteraan dan Teknologi Malaysia (U-Tec) mengambil langkah awal dengan
menggalakkan kakitangan akademiknya beralih daripada kaedah tradisional kepada kaedah
Pembelajaran Berpusatkan Pelajar atau lebih popular di peringkat global dengan panggilan StudentCentred Learning (SCL). SCL telah dilaksanakan di negara maju dengan pelbagai panggilan seperti
Student-Centred Instruction (Felder dan Brent, 1996) atau Student-Centred Teaching (MotschnigPitrik, 2004) atau Learner-Centered Instruction (Newby et al, 2000) dengan membawa maksud yang
serupa. U-Tec mengambil tindakan proaktif hasil daripada maklumbalas dari sektor pekerjaan
terutama sekali sektor perindustrian tentang kemahiran-kemahiran yang perlu dimiliki oleh seseorang
graduan apabila mereka ingin mencari pekerjaan seperti kemahiran komunikasi (lihat Mahaleel,
2002). Pendekatan SCL ialah strategi yang boleh membina tiga jenis kemahiran yang dianggap laris di
sektor pekerjaan iaitu pengetahuan dan kemahiran dalam work related area dan soft skill (di Barat
lebih dikenali dengan social skill).
LATAR BELAKANG MASALAH
Banyak rungutan dari sektor pekerjaan dari pelbagai disiplin seperti sains, teknologi serta kejuruteraan
bahawa graduan kini tidak memiliki kemahiran yang benar-benar diperlukan oleh majikan. Misalnya
sejak dari dulu lagi Pengerusi Federation of Manufacturing Malaysia (FMM), encik Hoong (1989,
m.s.4) mengakui bahawa keluaran dari institusi teknikal memiliki kemahiran yang tidak setara dengan
kehendak industri bila berkata .there is a gap between skilled jobs and the supply of skilled

manpower.....
Kebelakangan ini pula banyak kenyataan yang telah dikeluarkan mengenai perkara yang sama
contohnya Timbalan Menteri Sains, Teknologi dan Inovasi, Datuk Kong Cho Ha pernah menyarankan
supaya program pendidikan kita hendaklah melatih dan mampu melahirkan sumber manusia yang
sesuai dengan pasaran kerja serta mahir terutama dalam pelbagai disiplin secara bersepadu untuk
melahirkan pelapis dan profesional yang diharapkan. Kata beliau, .Dalam hal ini, pendidikan kita
harus merupakan sistem pengajaran yang kreatif, inovatif dan bertaraf global. (UM, 19 Jun 2004, ms
10). Bekas Timbalan Menteri Pendidikan, Tan Sri Musa Hitam juga membuat kenyataan yang sama
bila beliau meminta sistem pendidikan negara ini dikaji semula supaya mampu menghasilkan tenaga
manusia yang .laku. di pasaran kerja.
Senario sekarang menujukkan pelajar yang lulus cemerlang di sekolah sudah dianggap berjaya oleh
kaum guru manakala nasib pelajar yang dihasilkan belum tentu benar-benar berjaya kerana masih
.pincang. dari segi kebolehan sebenar mereka. Walau pun pelajar yang berjaya ini melangkah kaki ke
pusat pengajian tinggi mereka masih mengulangi sistem pembelajaran cara tradisional dan syarahan
masih merupakan teknik yang dominan. Akhirnya mereka hanya lulus dan berbangga dengan ijazah
mereka tanpa menyedari itu masih belum memadai untuk mereka menempuh alam pekerjaan kerana
tidak memiliki kemahiran yang diperlukan selain hanya pengetahuan di bidang yang dipelajari.
Menyedari hakikat ini U-Tec telah mengambil tindakan proaktif sebelum mengeluarkan graduan
sulungnya pada tahun 2005 bagi lulusan diploma dan 2006 bagi lulusan ijazah dengan menyediakan
pelbagai pengetahuan dan kemahiran yang dikehendaki oleh industri berteraskan U-Tec.s core
product iaitu, pengetahuan teknikal, kemahiran teknikal, dan soft skill. Soft skill merupakan kemahiran
utama yang diperlukan oleh sektor pekerjaan khasnya industri selain kemahiran dalam work related
area (Rees, et al (1989); Mahaleel, 2002; Abdullah, 1998).
Untuk menghasilkan graduan yang memiliki kesemua kemahiran ini strategi SCL dipilih untuk
diamalkan. Kertas kerja ini membincangkan kepentingan pendekatan SCL dalam proses pembelajaran
serta kaitannya dengan pembangunan diri dan kemahiran pelajar dan seterusnya membincangkan
kaitannya dengan kriteria yang harus dimiliki oleh calun yang memohon pekerjaan.
KEPERLUANMEMAHAMI STRATEGI PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN
Perkataan strategi pembelajaran memang tidak asing lagi dikalangan kaum pendidik tetapi sejauh
manakah seseorang pendidik itu serius dengan pelaksanaan strategi pengajaran yang dirancang itulah
yang menjadi persoalan. Pendidik faham bahawa strategi yang sesuai boleh menarik perhatian pelajar
dan seterusnya pelajar mudah memahami apa yang disampaikan. Dalam masa yang sama tanpa
mereka sedari ada strategi yang jika dilaksanakan dengan serius boleh membina kemahiran pelajar
secara menyeluruh yang mampu menyediakan pelajar dengan nilai tambah (value-added) apabila
mereka mencari pekerjaan nanti. Strategi yang dimaksudkan ialah pembelajaran berpusatkan pelajar
atau Student Centred Learning (SCL).
Pedagogi bestari yang diperkenalkan pada tahun 1998 seiring dengan sekolah dan kelas bestari
sebenarnya telah membawa pendekatan berkenaan dengan pengajaran lebih berpusatkan pelajar. Ia
juga mengubah peranan pendidik dari .sage on the stage kepada 'guide on the side. (Rosenberg, 2001).
Oleh kerana para pendidik tidak bersungguh-sungguh mengamalkannya kerana tidak memahami
dengan menyeluruh faedah daripada pelaksanaannya, maka tidak dapat diukur darjah kejayaannya.
Lagi pun kata seorang pensyarah pendidikan di sebuah maktab perguruan, .sistem pendidikan kita
masih berorientasikan peperiksaan, jadi guru terbudaya dengan sikap nak habiskan silabus. Tumpuan
kepada aktiviti pelajar tidak diambil berat.. Akhirnya teknik syarahan masih mendominasikan strategi
pembelajaran di kebanyakan sekolah dan pelajar terus dibudayakan dengan konsep .spoon feeding..
Walau bagaimana pun kebelakangan ini perubahan sudah dapat diperhatikan di mana konsep SCL
telah berlaku di sekolah-sekolah walau pun tanpa disedari oleh guru-guru yang mengamalkannya. Ini
dapat dilihat apabila ramai pelajar mengakui terdapat elemen pembelajaran yang berpusatkan pelajar.
Kajian ke atas 180 orang pelajar tahun satu di U-Tec telah dengan jelas menunjukkan perubahan ini.
Jadual 1 menunjukkan taburan responden mengikut negeri sekolah asal mereka. Semua pelajar
mewakili negeri-negeri di seluruh Malaysia dengan kelebihan bilangan pelajar menjurus kepada
negeri-negeri di pantai timur Semenanjung Malaysia.
Jadual 1. Taburan Responden Mengikut Negeri
Negeri N Negeri N
Kelantan 26 (14.4) Perak 15 (8.3)
Terengganu 21 (11.7) Kuala Lumpur 5 (2.8)
Pahang 27 (15.0) P. Pinang 5 (2.8)

Johor 18 (10.0) Kedah 12 (6.7)


Melaka 14 (7.8) Perlis 5 (2.8)
N. Sembilan 5 (2.8) Sabah 8 (4.4)
Selangor 15 (8.3) Sarawak 4 (2.2)

Responden merupakan wakil daripada pelbagai jenis sekolah dan dipilih secara rawak. Jadual 2
menunjukkan taburan pelajar dari dua jenis sekolah iaitu sekolah harian biasa dan sekolah asrama
penuh. Pelajar dari seolah harian biasa mendominasikan populasi U-Tec. Jadual 3 pula menunjukkan
bilangan responden daripada setiap fakulti. Terdapat 5 fakulti di U-Tec iaitu Fakulti Kejuruteraan
Elektrik dan Elektronik, Fakulti Kejuruteraan Kimia dan Sumber Asli, Fakulti Kejuruteraan
Mekanikal, Fakulti Kejuruteraan Awam dan Sumber Alam, dan Fakulti Sains Komputer dan
Kejuruteraan Perisian.
Jadual 2. Taburan Responden Mengikut Jenis Sekolah
Jenis Sekolah N %
Sekolah Harian Biasa 136 75.6
Sekolah Asrama Penuh 44 24.4
Jadual 3. Taburan Responden Mengikut Fakulti
Fakulti N %
Kejuruteraan Elektrik dan Elektronik 40 22.2
Kejuruteraan Kimia dan Sumber Asli 41 22.8
Kejuruteraan Mekanikal 48 26.7
Kejuruteraan Awam dan Sumber Alam 34 18.9
Sains Komputer dan Kejuruteraan Perisian 17 19.4
Jadual seterusnya merupakan penilaian pelajar terhadap amalan strategi pembelajaran di sekolah
menggunakan lima skala pendekatan Likert. Petunjuk yang digunakan ialah 1 (untuk tidak setuju)
sehingga 5 (mewakili sangat setuju). Jadual 5 menunjukkan kaedah mengajar kesukaan pelajar
manakala Jadual 6 ialah ekspektasi pelajar terhadap kaedah pengajaran yang diharapkan dilaksana di
U-Tec.
Jadual 4. Respon Terhadap Kaedah Mengajar Di Sekolah
Sekolah/
Strategi
Syarahan Perbin. Perbin.
Kumpul
Simulasi Demo Inkuiri
Penemuan
Luar
Darjah
Keseluruhan 3.47 3.99 3.76 3.26 3.56 3.21 3.02
Sek Harian
Asrama Pen
3.43
3.59
3.99
4.00
3.74
3.82
3.15
3.59
3.59
3.48
3.28
2.98
3.05
2.91
Jadual 5. Kaedah Mengajar Kesukaan Pelajar
Sekolah/
Strategi
Syarahan Perbin. Perbin.
Kumpul
Simulasi Demo Inkuiri

Penemuan
Luar
Darjah
Keseluruhan 2.81 4.14 4.13 3.96 4.25 3.96 4.01
Sek Harian
Asrama Pen
2.76
2.95
4.15
4.11
4.18
3.98
3.90
4.14
4.22
4.34
3.95
4.00
4.02
4.00

Jadual 6. Ekspektasi Kaedah Mengajar Yang Akan Dilaksanakan Di U-Tec


Sekolah/
Strategi
Syarahan Perbin. Perbin.
Kumpul
Simulasi Demo Inkuiri
Penemuan
Luar
Darjah
Keseluruhan 3.15 4.30 4.31 4.18 4.38 4.05 4.03
Sek Harian
Asrama Pen
3.06
3.40
4.30
4.30
4.34
4.25
4.17
4.23
4.39
4.33
4.02
4.44
4.04
4.00

Perbandingan penilaian pelajar juga dibuat untuk melihat darjah perbezaan pelaksanaan kaedah
mengajar di sekolah asal pelajar dengan ekspektasi mereka terhadap kaedah yang akan dilaksanakan
di U-Tec. Data menunjukkan kesungguhan pelajar terhadap pelaksanaan kaedah yang harus diamalkan
oleh pensyarah di U-Tec (Jadual 7).
Jadual 7. Perbandingan Amalan Kaedah Mengajar Di Sekolah dan
Ekspektasi Pelaksanaan Di U-Tec
Strategi Syarahan Perbin. Perbin.
Kumpul
Simulasi Demo Inkuiri
Penemuan
Luar
Darjah
Di
Sekolah

3.47 3.99 3.76 3.26 3.56 3.21 3.02


Di U-Tec 3.15 4.30 4.31 4.18 4.38 4.05 4.03

Tidak dapat dinafikan bahawa syarahan ada kebaikannya kerana ia mampu menyampaikan maklumat
yang banyak dalam masa yang singkat dan ia juga sesuai dilaksanakan bila melibatkan pelajar yang
ramai. Ini menukarkan trainer-as-expert kepada learners-as-novices. Namun kaedah syarahan sudah
menjadi sasaran kritikan. Kajian yang dijalankan di kalangan pengarah-pengarah latihan di Amerika
menunjukkan syarahan dianggap sebagai kaedah penyampaian yang kurang berkesan. Satu sebab
utama ialah kerana kaedah ini tidak melibatkan pelajar dalam aktiviti pembelajaran.
Bob Pike of Creative Training Techniques International, Minneapolis menyediakan peraturan untuk
latihan di mana tidak ada modul latihan yang melibatkan pengajaran melebihi 90 minit. Rentak
pengajaran akan bertukar setiap dua puluh minit, dan mereka akan cuba melibatkan pelajar setiap
lapan minit. Buku Tony Buzan bertajuk Use Both Sides of Your Brain juga menyatakan orang dewasa
mampu dengar dan faham dalam masa 90 minit sahaja manakala mereka boleh dengar serta
mengamati cuma selama dua puluh minit sahaja.
Pembelajaran Berpusatkan Pelajar (SCL)
Banyak huraian dapat dibuat tentang SCL. Bagaimanapun ia akan menjurus kepada satu idea asas iaitu
pelajar. SCL boleh didefinisikan sebagai disiplin yang melibatkan interaksi antara pasukan pelajar
yang mengalami pembelajaran kreatif yang akan diaplikasikan dalam situasi sebenar (Thorburg,
1995). Dalam SCL guru bukanlah tarikan utama. Pendekatan ini juga menjadikan pelajar diistilah
sebagai .pasangan. dengan guru sebagai sebahagian proses pembelajaran (Alley, 1996). Csete dan
Gentry (1995) menggunakan istilah SCL sebagai pengajaran yang dikawal oleh pelajar. Kawalan
disini bermaksud pelajar mengawal prosedur, masa dan penilaian untuk memenuhi keperluan mereka
yang berbeza.
Seorang tokoh pendidikan di Amerika iaitu Richard M. Felder berkata beban komunikasi akan terletak
pada pelajar dalam pendekatan SCL. SCL ialah satu pendekatan pembelajaran yang meluas termasuk
teknik-teknik seperti menukarkan pengalaman belajar secara aktif, menyelesaikan masalah yang
memerlukan pemikiran kritis dan kreatif, melibatkan pelajar dalam simulasi dan main peranan,
menggunakan teknik kadar kendiri dan pembelajaran koperatif. Dalam SCL guru menyediakan pelajar
peluang belajar secara bebas. SCL akan meningkatkan motivasi, pemahaman, dan pelajar akan lebih
meminati pelajaran yang diajar (Meyes dan Jones 1993).
Tidak seperti pembelajaran berpusatkan guru (Teacher-Centered Learning), strategi SCL
mengandungi pelbagai kaedah latihan yang mampu membina kemahiran sosial pelajar. Individu
belajar dengan cara yang berbeza, dan dengan mengaplikasikan pelbagai kaedah akan meningkatkan
kemungkinan pelajar akan .terkena. dengan sekurang-kurangnya satu daripada kaedah yang
dilaksanakan. Dengan menggunakan satu kaedah sahaja ia akan membosankan pelajar. Perlu diingat
bahawa pelajar berlainan dan matlamat latihan yang berlainan memerlukan pendekatan yang fleksibel.
Kepentingan SCL
Banyak kajian membuktikan kebaikan amalan pendekatan SCL. Lebih penting lagi ia boleh membantu
mencapai matlamat pendidikan negara dengan membantu mencapai matlamat Falsafah Pendidikan
Kebangsaan dan Falsafah Pendidikan Guru kerana penerapan nilai sosial boleh disediakan melalui
kaedah ini. SCL secara umumnya dapat membina individu yang akan memiliki fikiran berdaya tinggi
(higher-order thinking) kerana:
1. pendekatan ini (SCL) melatih pelajar tentang kemahiran menyelesaikan masalah iaitu melibatkan
'reasoning' untuk menyelesaikan masalah yang kompleks.
2. Pengajaran berpusatkan guru hanya sesuai untuk menyampaikan maklumat berfakta, menggunakan
mnemonic dan latihan dan sekali gus membina pemikiran aras rendah.
3. Pengunaan teknik-teknik seperti simulasi, inkuiri-penemuan, penyelesaian masalah, pembelajaran
koperatif boleh membina kemahiran berfikir aras tinggi.
4. Dapat menghayati masalah dan cara penyelesaiannya. Oleh itu pelajar perlu melibatkan diri dengan
pelbagai sumber (lihat gambarajah di bawah).

Pelajar
Keluarga, Rakan
Lain-lain
Organisasi
Media
Pendidik
Teknologi

5. Pendekatan SCL akan mengubah peranan guru:

Daripada Kepada
Sentiasa dilihat sebagai pakar isi kandungan
matapelajaran dan sumber untuk semua
jawapan bagi persoalan.
Penglibatan dalam banyak masa sebagai
seorang yang tidak tahu semua tetapi sanggup
belajar.
Dilihat sebagai sumber utama maklumat yang
sentiasa menyampaikannya kepada pelajar.
Dilihat sebagai penyokong, pemberi kerjasama,
dan jurulatih di mana pelajar belajar bersamasama
dan menilai sendiri maklumat berkenaan.
Sentiasa bertanyakan soalan dan mengawal
fokus pembelajaran.
Melatih pelajar membina dan mengeluarkan
soalan dan mencari penyelesaian sendiri
melalui pelbagai cara
Mengarahkan pelajar melakukan latihan
langkah-demi-langkah supaya semua mencapai
keputusan yang sama.
Menggalakkan individu menggunakan
pengetahuan dan kemahiran sendiri mencapai
penyelesaian.
Rujukan: Newby et al. (2000).
Walau bagaimana pun strategi ini tidak dapat lari daripada kesulitannya seperti guru sukar
menghabiskan sukatan plajaran. Tinjauan Felder mendapati guru merungut dengan berkata, .If I spend
time in class on active learning exercises, I'll never get through the syllabus.. Lain-lain rungutan ialah
seperti hilang kawalan kelas, pelajar sukar memahami sekiranya dibiarkan mereka belajar sendiri dan
pelajar tidak melibatkan diri dalam perbincangan kumpulan. Sebenarnya guru tidak mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang pendekatan mengajar kaedah SCL kerana tiada pendedahan yang
cukup. Tetapi melalui pengalaman dan latihan perkara ini boleh diatasi (Dinan and Frydrychowski,
1995).
KRITERIAMAJIKAN DALAM MEMILIH PEKERJA
Ramai beranggapan seseorang yang memiliki kelulusan sudah cukup kompeten dan bersedia untuk
menghadapi alam pekerjaan. Tanpa mereka sedari kelulusan dalam bidang tertentu semata-mata
masih belum mencukupi untuk melayakkan diri mereka untuk diambil bekerja. Maksud kompeten
dalam kerja ialah seseorang mesti mampu melaksanakan peranan mereka bukan sahaja cekap
melakukan tugas-tugas di bidang yang diceburi, tetapi seseorang mestilah boleh menguruskan tugas
tersebut seperti boleh menilai keutamaan dan menentukan urutan, bijak menangani sesuatu kejadian
yang tak diduga, dan boleh bertindak dengan berkesan terhadap persekitaran kerja (Stewart and
Sambrook, 1995). Semua di atas memerlukan individu yang memiliki aras pemikiran tinggi.
Banyak kajian menunjukkan kemahiran selain di bidang kerja amat penting dalam melengkapkan diri
seseorang untuk memasuki alam pekerjaan. Justeru, Jones dan Moore (1995) menyifatkan kemahiran
sosial merupakan faktur utama dalam memburu peluang pekerjaan walau pun ia masih .terselindung.
dalam mentakrifkan ketrampilan seseorang. Oleh sebab itulah Rees et al. (1989) pernah menekankan
sekiranya sesuatu pekerjaan itu memerlukan kemahiran teknikal, kemahiran sosial sentiasa diperlukan
untuk seseorang itu mencapai tahap ketrampilannya. Apabila pekerjaan itu tidak memerlukan
kemahiran teknikal, kemahiran sosial sentiasa menjadi kriteria utama majikan dalam memilih pekerja.
Pendidikan umum (general education) penting kerana banyak majikan mengandaikan ianya menjadi
asas pembentukan kemahiran di bidang kerja, pembangunan diri dan kemahiran sosial (Bengtsson,
1993).
Kajian Hallak dan Caillods (1980) tentang bagaimana majikan mengambil pekerja telah dilakukan di
dua buah negara . Panama dan Indonesia. Di Panama, mereka mengkaji 15 industri termasuk industri
pembuatan, perkhidmatan, bank dan pemborongan; manakala di Indonesia mereka mengkaji sektor
perdagangan, pembinaan, tekstil dan penghotelan. Hasil kajian mereka menunjukkan majikan
menumpukan kepada tiga kriteria dalam menawarkan pekerjaan - Kognitif, afektif dan askriptif.

Dalam aspek kognitif, majikan melihat kelulusan calun, latihan vokasional, pengalaman bekerja, dan
pengetahuan dalam bahasa asing. Dalam aspek afektif pula, majikan menilai sahsiah dan sikap calun.
Dalam hal ini Velde dan Hopkins (1994) menyiasat tentang maklumat yang diperlukan oleh majikan
tentang graduan yang berpotensi untuk ditawarkan pekerjaan. Mereka dapati majikan memerlukan
maklumat mengenai kebolehan berkomunikasi, berminat, kebolehan bekerja perpasukan, toleransi,
bersemangat, ada inisiatif dan boleh dipercayai. Aspek terakhir mengikut Hallak dan Caillods ialah
kriteria askriptif, iaitu majikan juga inginkan calun pekerja mereka bersih daripada gejala negatif dan
sihat tubuh badan. Oleh itu, rekod polis dan rekod kesihatan juga diambil kira selain kepentingan
seperti jantina, bangsa, umur dan taraf perkahwinan.
Satu kajian telah dijalankan di Malaysia ke atas 110 syarikat elektrik tentang kriteria yang digunakan
untuk memilih calun pekerja. Syarikat telah dikategorikan kepada tiga . kecil (tidak melebihi 50
pekerja); sederhana (51 hingga 200 pekerja); dan besar (melebihi 200 pekerja). Dapatan kajian
menunjukkan majikan mengutamakan kemahiran sosial dalam memilih calun pekerja. Dapatan ini
menyamai kajian Stasz (1997) di Amerika di mana majikan di Amerika juga memilih kemahiran
sosial termasuk kemahiran berkomunikasi sebagai faktur utama memilih pekerja. Ini menunjukkan
betapa pentingnya pendidikan dan latihan membina kemahiran sosial untuk membolehkan individu
laris di pasaran pekerjaan. Jadual 8 menunjukkan urutan faktur yang menjadi kriteria yang dianggap
penting dalam memilih pekerja. Data dalam jadual menunjukkan sahsiah dan kemahiran sosial
menjadi kriteria yang sangat penting manakala kelulusan merupakan 'pilihan kedua' syarikat-syarikat
berkenaan. Ringkasnya kriteria afektif mendahului kognitif kemudian diikuti oleh kriteria askriptif.
Jadual 8. Kriteria Pemilihan Calun Pekerja
Kriteria Kedudukan
Berminat 1
Menepati waktu 2
Boleh dipercayai 3
Boleh bekerja berpasukan 4
Berpengalaman 5
Sifat fizikal 6
Jenis institusi dihadiri 7
Kelulusan 8
Umur 9
Taraf perkahwinan 10
IMPLIKASI DAN PERTIMBANGAN DASAR
Kaedah SCL mampu membentuk kematangan peribadi pelajar melalui aktiviti-aktiviti yang dirancang
semasa proses pengajaran dan pembelajaran dan ianya berlaku secara berterusan. Ini tidak bererti
penulis mengabaikan kepentingan teknik syarahan di mana elemen-elemen teknik berkenaan sentiasa
perlu. Selain meningkatkan keberkesanan proses pembelajaran, pendekatan SCL bertujuan membina
kemahiran sosial pelajar bagi membekalkan diri mereka dengan alam pekerjaan di mana kemahiran
berkomunikasi, leadership, kerja berpasukan, dan kebolehan menyelesaikan masalah merupakan
kriteria yang sentiasa dituntut oleh sektor pekerjaan. Oleh itu, wajar kiranya strategi ini diberi
perhatian bermula dari bangku sekolah lagi. Ini memudahkan pelajar bila menjejak kaki ke institusi
pengajian tinggi tanpa mengalami kejutan disebabkan peralihan strategi pembelajaran di mana corak
pembelajaran akan beralih kepada pembelajaran berpusatkan pelajar atau pembelajaran berasaskan
masalah atau lain-lain bentuk strategi yang lebih bertumpu kepada pelajar. Sehubungan itu, beberapa
cadangan dikemukakan untuk penambahbaikan pendekatan ini:
1. Kepentingan pembelajaran berpusatkan pelajar perlu difahami oleh semua pendidik. Oleh itu
beberapa program kesedaran wajar diatur oleh pengurusan tertinggi pendidikan.
2. Dengan melaksanakan SCL guru bimbang tidak dapat menghabiskan sukatan pelajaran. Anggapan
ini sebenarnya tidak tepat kerana dengan melaksanakannya dengan betul ia boleh menyumbang
kepada banyak lagi kebaikan. Justeru, ia memerlukan latihan tentang cara melaksanakannya.
3. Pelaksanaan pembelajaran berpusatkan pelajar perlu dipantau dari masa ke semasa. Oleh kerana
sistem pendidikan kita masih berorientasikan peperiksaan, guru terus terbudaya dengan kaedah
syarahan. Ini kerana pelajar tidak mempunyai keyakinan belajar tanpa bergantung kepada guru.
4. Pendekatan SCL perlu diberi penekanan oleh institusi pendidikan guru seperti maktab-maktab
perguruan.
KESIMPULAN
Kemahiran sosial harus diterap sejak dari bangku sekolah lagi supaya pelajar tidak menghadapi

masalah bila menjejak kaki ke institusi pengajian tinggi dan seterusnya ke alam pekerjaan. Justeru,
pendidik haruslah membawa pendekatan pengajaran yang sesuai yang mendominasikan aktiviti
pembelajaran yang melibatkan pelajar. Ini jelas berdasarkan kajian dan pengalaman yang telah
dibuktikan. Pembelajaran berpusatkan pelajar (SCL) merupakan satu daripada pendekatan yang
dicadang dilaksanakan di dalam kelas atau bilik kuliah.
Kesimpulannya, pertukaran ke arah pendekatan SCL di sekolah membolehkan pelajar memainkan
peranan yang aktif dalam proses pembelajaran dengan bekerja secara berpasukan, menggunakan
pelbagai sumber dan belajar cara menyelesaikan masalah. Yang lebih penting ialah pelajar mampu
berdikari dalam membuat analisis, sintesis dan penilaian. SCL juga jika dilaksanakan dengan betul
boleh menukarkan corak pendidikan kepada proses pembelajaran sepanjang hayat. Ini kerana pelajar
berkemampuan menyelesaikan masalah yang timbul tanpa bergantung sepenuhnya kepada guru.
Rujukan
Abdullah (1998). Vocational Education and Training in an Industrialising Economy.
Unpublished PhD Tesis.
Alley (1996). Dalam Smith, R. http:/www.gsu.edu/~mstswhcourses/it7000/papers/student1.html
Bengtsson, J. (1993), Labor Market of the Future: The Challenge to Education Policy
Makers. European Journal of Education. Vol. 28, No. 2. 135-156.
Dinan dan Frydrychowski (1995). Dalam Smith, R.
Retrieved from: http:/www.gsu.edu/~mstswhcourses/it7000/papers/student-1.html
Scete dan Gentry (1995). Dalam Smith, R.
http:/www.gsu.edu/~mstswhcourses/it7000/papers/student-1.html
Felder, R.M. dan Brent, R. (1996). Navigating the bumpy road to student-centered
instruction. College Teaching, Vol. 44, 2, 43-47.
Hallak, J. dan Caillods, F. (1980), Introduction. Education, Work and Employment . 1
Paris : UNESCO.
Hoong, S.S. (1989), Human Resources-Advanced Skill and Vocational Training. Paper
Presented at the Centre for Instructor and Advanced Skill Training (CIAST).
Jones, L. Dan Moore, R. (1995), Appropriating Competence: The Competency
Movement, the New Right and the Culture Change Project. British Journal of
Education and Work. Vol. 8, No. 2, 78-90.
Motschnig-Pitrik, R. Combining Carl Rogers. student-centered learning with eLearning:
Experiences, consequences, and hypothese.
Retrieved on July 2004 from: http:/www.saybrook.edu/crr/papers/motschnig-.html
.Negara Kurang 35,000 Tenaga Mahir. Utusan Malaysia, 19 Jun 2004, ms 10.
Newby, T.J.; Stepich, D.A.; Lehman, J.D.; Russell, J.D. (2000). Instructional Technology for
Teaching and
Learning. New Jersey: Prantice Hall.
Rees, G. Williamson, H. DanWinckler, V. (1989), Employers. Recruitment Strategies.
Vocational Education and Training: An Analysis of a .Loose. Labour Market. A
Research Report. University ofWales, Cardiff: Education, Training and Labour
Markets Research Group, School of Social and Administrative Studies.
Rosenberg, M.J. (2001). E-Learning. New York: McGraw Hill.
Starz, C. (1997), Do Employers Need the Skills TheyWant? Evidence From Technical
Work. Journal of Education and Work. Vol. 10, No. 3, 205-223.
Stewart, J. dan Sambrook, S. (1995), The Role of Functional Analysis in National
Vocational Qualifications: A Critical Appraisal. British Journal of Education and Work.
Vol. 8, No. 2. 93-105.
Tengku Mahaleel (2002). Qualities for graduate students required for work in the private
sector. Kertas kerja pembentangan di Seminar Antara Industri dan IPTA pada 6-7
Ogos 2002.

Author: SifooSidee
Filed under: Student guide
Friday
Oct 1,2010

Pada kebiasaannya, dalam organisasi sesebuah sekolah, tugas guru adalah mengajar dan pelajar pula
belajar daripada gurunya. Di peringkat sekolah lagi, pelajar telah diberi kesedaran supaya mempunyai
nilai-nilai murni, kawalan disiplin yang baik, kesungguhan dalam menjalankan tugas, dapat
merancang tugas dengan berkesan dan dapat mengelakkan pembaziran masa. Guru pula bertindak
dan berusaha untuk mempengaruhi generasi pelajar ke arah pembentukan sikap yang positif,
berdisiplin dan bertanggungjawab.

Sikap positif daripada kedua-dua golongan ini akan dapat

melahirkan manusia yang lebih produktif dan berkesan untuk pembangunan diri dan juga negara.
Tetapi persoalan atau masalah yang sering diperkatakan tentang sekolah ialah pendekatan dalam
pendidikan lebih melihat kepada persekolahan yang melakukan untuk pelajar, pelajar di lihat tidak
mampu melakukan pendidikan itu untuk diri mereka sendiri (Levin,1993). Levin dalam jurnalnya
berjudul Student and Educational Productivity menyatakan pendidikan lebih dilihat sebagai unsur
produktiviti. Pelajar dipandang sebagai hasil proses pembelajaran di sekolah. Pelajar yang produktif
adalah hasil dan kesan daripada input dan output yang diperoleh di sekolah. Input yang berkualiti
akan melahirkan output yang berkesan. Monk (1992) juga menegaskan bahawa produktiviti boleh
meningkatkan keberkesanan pembelajaran. Untuk mencapai keberkesanan tersebut, pembelajaran
harus diberi perhatian terhadap pemikiran pelajar berbanding guru. Menteri Pendidikan Malaysia,
Encik Anwar Ibrahim(1986) juga ada menyatakan,
Pembiayaan untuk pelaburan itu diadakan dengan hasrat supaya ia akan menghasilkan
pulangan yang sebaik-baiknya dalam jangka masa panjang. Pendidikan mempunyai kesan
langsung ke atas ekonomi. Dengan peningkatan tahap dan stok ilmu pengetahuan yang ada
pada seorang individu akan menjadikannya seorang tenaga kerja yang produktif dan boleh
memberi sumbangan terhadap tambahan nilai keluarga. Seterusnya tambahan nilai keluaran
ini akan meningkatkan pendapatan negara. Oleh yang demikian konsep produktiviti dalam
sektor pendidikan adalah dilihat dari segi kecekapan jentera pelaksanaan sistem pendidikan
mengeluarkan tenaga kerja yang produktif sesuai dengan keperluan pembangunan sektor
ekonomi lain dalam meningkatkan hasil keluaran negara

Sehubungan dengan itu, guru dan pelajar mempunyai peranan masing-masing untuk meningkatkan
tahap produktiviti mereka. Berdasarkan pandangan tokoh-tokoh pendidik berkenaan,

jelas

menunjukkan bahawa pembelajaran yang berkesan ialah pembelajaran yang mampu membentuk diri
seseorang individu atau pelajar itu untuk memberi makna yang berkesan terhadap proses
pembelajarannya. Mereka mampu menggunakan ilmu yang dipelajarinya untuk membentuk sesuatu
yang berharga untuk diri mereka sendiri. Pembelajaran yang bersifat mengikut apa sahaja yang diajar

oleh guru tidak mampu untuk melahirkan insan pelajar yang berdaya maju dan produktif. Tegasnya,
pembelajaran atau pendidikan tidak boleh di anggap sebagai terdiri daripada satu aktiviti sahaja.
Ianya tidak boleh dilakukan dengan aktiviti sehala sahaja seperti menghafal, membaca, menulis,
melihat, mendengar, melukis, membincang dan berfikir. Pendidikan pelajar harus di lihat lebih jauh
daripada itu.
Menurut Schofield (1972), pendidikan yang melakukan untuk diri pelajar adalah pendidikan mengikut
nature, pembelajaran melalui pengalaman dan pembelajaran melalui penemuan. Pelajar adalah lebih
penting daripada guru atau mata pelajaran. Begitulah sebaliknya. Pendidikan yang melakukan untuk
pelajar melihat mata pelajaran bersifat tunjuk ajar atau pengajaran formal, kerana tunjuk ajar formal
bertujuan menggunakan guru dan mata pelajaran untuk membentuk sahsiah pelajar dan menyekat
kebebasan pelajar mengembangkan sahsiahnya yang semulajadi.
Schofield juga menyatakan pelajar hanya boleh belajar apa yang dia boleh belajar, iaitu kebolehan dan
kesediaannya untuk pembelajaran hendaklah diambilkira. Isi pelajaran janganlah tertutup kerana
lebih bermakna jika dalam proses pembelajaran pengalaman dan penglibatan pelajar dipertimbangkan.
Pendekatan bertumpukan kepada mata pelajaran dikatakan tidak mampu memotivasikan pelajar
kerana minat serta keperluan dan kesediaan pelajar diabaikan. Pelajar tidak dapat memahami idea
orang dewasa yang disampaikan kepadanya terutama sekali idea yang abstrak, jauh daripada
pengalaman pelajar yang terhad.

Kesudahannya, apa yang akan dicapai oleh pelajar ialah

pembelajaran secara menghafal dan kebolehan mengulang, tanpa memahami apa yang dipelajari.
Pembelajaran yang mengikut kehendak pelajar akan menjadi bermakna kerana ia membolehkan
pelajar tumbuh dan berkembang mengikut keadaan semulajadi pelajar itu.

Pertumbuhan dan

perkembangan secara semula jadi ini pula diertikan sebagai kematangan. Contohnya, pelajar boleh
berpengetahuan tentang bunga mawar kerana dia boleh melihat, menghidu dan memegang bunga
tersebut. Tetapi pelajar tidak boleh ada pengetahuan tentang benua Afrika kecuali dia pergi ke tempat
itu dan mengalami kehidupan di situ. Pelajar juga didapati tidak akan ada minat dan bermotivasi jika
dia diajar secara tunjuk ajar.

Contoh, pelajar dikehendaki membuat bangku, tanpa mengikut

kemahiran dan kebolehan yang ada pada mereka. Guru tidak sepatutnya menetapkan struktur bangku
itu, sebaliknya memberi kebebasan kepada pelajar untuk membentuk struktur yang disukainya dengan
memberi rasional-rasional tersendiri.
Pembelajaran bersifat mengikut kehendak pelajar ini lebih cenderung kepada anti-sekolah.
Pembelajaran cara ini menentang tunjuk ajar dan yang demikian menganggap tidak natural untuk
pelajar pergi ke sekolah.

Tetapi sekolah dilihat sebagai institusi pendidikan yang utama.

Persoalannya, bolehkan sekolah dihapuskan tanpa menjejaskan perkembangan pendidikan para

pelajar? Seseorang guru itu boleh menunjuk ajar, boleh memberi maklumat-maklumat asas, asalkan
di peringkat-peringkat tertentu guru itu memberi pelajar peluang membuat kesimpulan tentang
peringkat yang berikutnya daripada apa yang telah diberitahukan kepadanya. Kaedah cuba jaya juga
baik kerana pelajar belajar dengan lebih berkesan melalui kesilapan yang dibuatnya. Tetapi ada juga
yang mengatkan bahawa kesilapan yang dibuat adalah satu langkah kepada terbentuknya kebiasaan
yang buruk. Cara belajar yang paling selamat adalah dengan tidak membuat apa-apa kesilapan. Perlu
diingatkan bahawa gagal menemui apa yang dipelajari lambat laun akan membawa kepada
kehampaan.
Contohnya, bagi seorang pelajar yang mempunyai talent atau bakat dalam bermain piano atau organ
tanpa mempelajari note muzik dan sebagainya. Pelajar yang berbakat dan berpotensi ini mampu
melahirkan sebuah lagu yang bermutu tanpa menggunakan atau mempelajari note muzik yang
sepatutnya. Ini berbeza dengan pelajar yang tidak mempunyai bakat semulajadi. Mereka terpaksa
melalui pelbagai peringkat latihan atau level tertentu sebelum boleh mencipta sebuah lagu yang baik.
Di sini boleh dikatakan pembelajaran atau pendidikan tetap boleh berlaku tanpa pengajaran.
Walaubagaimanapun, biasanya proses pendidikan, khasnya pendidikan formal melibatkan bukan
sahaja pembelajaran tetapi juga pengajaran, kerana ada banyak perkara yang pelajar mesti dibantu
untuk mempelajarinya dan ada matlamat-matlamat pendidikan yang susah hendak dicapai dengan
cepat, cekap dan berkesan tanpa pengajaran.
Seperti konsep pembelajaran, konsep pengajaran oleh guru agak rumit juga untuk diterangkan. Di
sini pelajar dikehendaki menguasai berbagai fakta, maklumat, sikap, kepercayaan, pengetahuan,
kemahiran, prinsip dan sebagainya melalui banyak aktiviti. Oleh yang demikian aktiviti pengajaran
untuk mencapai matlamat pembelajaran pasti banyak juga. Aktiviti-aktiviti berkenaan termasuklah
membuat catatan di papan hitam, menjawab soalan, menyoal, mendera, memberi ganjaran, menyelia
kerja amali, memeriksa tugasan yang diberi, menguji dan menilai, mengadakan bahan untuk
pembacaan dan menyediakan peluang agar pelajar dapat menemui, menyelidik serta menanyakan
sesuatu.
Daripada apa yang telah diperkatakan itu, bolehlah dimaksudkan bahawa dalam pengajaran guru
terdapat hanya satu niat atau tujuan. Ini bermakna pengajaran diarahkan kepada satu matlamat, iaitu
tidak lain dan tidak bukan daripada mencapai atau menghasilkan pembelajaran yang berfaedah
melalui cara-cara yang terbaik sekali, yang sistematis dan dikawal atau dirancangkan. Pendek kata
pengajaran ialah aktiviti atau tindakan yang praktikal dilakukan secara sengaja dan disedari untuk
membantu pembelajaran. Berhubung dengan perkara di atas, pelajar dan guru mempunyai hubungan
yang rapat. Maksudnya, pengajaran tidak ada erti tanpa pembelajaran. Sebaliknya, pembelajaran
tidak semestinya ada kaitan dengan konsep pengajaran. Pembelajaran, dalam bentuk pembelajaran-

kendiri, boleh wujud tanpa pengajaran atau bantuan daripada orang lain. Oleh yang demikian, lebih
wajar atau logik jika pelajar mendapat pendidikan secara formal di sekolah supaya proses
pembelajaran berlaku dengan tersusun dan berkesan. Pengajar atau guru sekolah adalah seorang yang
profesional, dan bertanggungjawab untuk mengajar pelajar.
Pembelajaran pelajar adalah sesuatu yang mesti dikuasai atau dipelajari. Tidaklah boleh dikatakan
seseorang itu mengajar sesuatu jika aktiviti yang dijalankannya tidak menunjukkan yang sesuatu itu
dengan terang dan nyata atau secara eksplisit.

Misalnya, tidaklah boleh dikatakan bahawa ada

pengajaran tentang senaman jika guru sukan berkenaan duduk di bawah pokok menghisap rokok
sambil membaca majalah. Tegasnya, jika guru tunjukkan secara eksplisit kepada pelajar apa yang
hendak diajarnya, maka pembelajaran boleh berlaku dengan lebih mudah. Di sini guru mestilah
mempunyai pengetahuan tentang kandungan yang hendak diajar dan idea tertentu tentang bagaimana
hendak mengajar. Selain guru mengajar, sesuatu itu mesti dinyatakan atau ditunjukkan dengan terang.
Sesuatu aktiviti itu susah hendak di anggap sebagai pengajaran jika guru tidak menimbangkan atau
mengambil kira keadaan pelajar. Bolehkah pelajaran dalam tingkatan lima diterangkan kepada pelajar
darjah satu?

Tentu tidak.

Pembelajaran tidak akan berlaku, dan oleh itu tiadalah pengajaran.

Menurut Wringe (1976) guru mesti menimbangkan tahap pemahaman atau apa yang difahami oleh
pelajar dengan keupayaan dan kemampuan kognitif yang ada pada pelajar itu serta menimbangkan
minat pelajar berkenaan.

Scheffler (1973) juga meminta guru menghormati integriti intelektual

pelajar dan keupayaannya membuat pertimbangan sendiri. Guru harus melengkapkan diri dengan
dalam bidang psikologi dan sosiologi pendidikan, misalnya boleh menolong guru dalam hal ini.
Pengetahuan tentang teori-teori sahsiah, pembelajaran dan perancangan kurikulum amatlah berguna
juga kepada guru. Oleh itu segala matlamat, kandungan dan kaedah pengajaran mestilah rasional,
bermoral dan bernilai.
Menurut Daley(1966) kanak-kanak adalah sebahagian daripada alam kerohanian yang mutllak. Oleh
itu mereka mempunyai tujuan kerohanian yang perlu dipenuhi mengikut kebolehan dan keupayaan
mereka sendiri. Dalam perkara ini proses pembelajaran mestilah berusaha memupuk dengan lebih
dekat lagi, kekariban di antara pelajar dan unsur-unsur kerohanian tabii serta memberi penekanan
kepada keharmonian di antara pelajar dengan alam sejagat. Pelajar harus diberi kebebasan dalam
membuat keputusan. Idea pelajar di anggap sebagai suatu kemungkinan yang terdapat dalam diri
pelajar yang perlu dibentuk dan bukan sebagai suatu prinsip di luar diri kanak-kanak. Socrates (1979)
juga menyatakan kandungan kurikulum sekolah harus meliputi perkara-perkara, idea-idea dan proses
pemikiran rasional yang tahan diuji oleh masa dan kebudayaan. Perkara ini merupakan asas kepada
tamadun.

Sebagai contoh, bagi pelajar mata pelajaran Kemahiran Hidup mereka telah ditentukan oleh guru
untuk menyiapkan projek mengikut spesifikasi yang diberikan. Semua pelajar dikehendaki
menyiapkan mengikut standard atau skema yang telah diberikan. Jika gagal mematuhi skema yang
telah ditentukan, potongan markah akan diberikan kepada pelajar yang terlibat. Perkara seperti ini
tidak sepatutnya berlaku. Pelajar seharusnya diberikan kebebasan dalam mereka cipta projek yang
dikehendaki. Bagi pelajar yang berjaya mencipta sesuatu yang bersifat kreatif seharusnya mendapat
markah yang tertinggi. Dengan kaedah ini akan berusaha mengasah dan memahirkan diri pelajar
dalam membentuk sesuatu yang bernilai dan bermanfaat untuk diri mereka.
Akhir sekali, guru dan pelajar mempunyai peranan yang penting dalam proses pembelajaran dan
pengajaran di sekolah. Mereka mempunyai hubungan yang rapat untuk menentukan matlamat dan
tujuan sebenar pendidikan itu tercapai sepenuhnya. Cuma yang menjadi masalah ialah sama ada
pembelajaran itu diberikan kebebasan kepada pelajar atau guru yang menentukan apa yang harus
dipelajari. Sekolah yang produktif dianggap sebagai sekolah yang mampu menggunakan segala
input-iput sekolah untuk melahirkan insan pelajar yang berkualiti dan produktif. Produktiviti juga
mampu menghasilkan sesuatu perkhidmatan guru yang bermutu tinggi bagi melahirkan pelajar yang
produktif. Mereka boleh bertindak dan berusaha untuk kemajuan diri sendiri dengan menggunakan
daya kreatif dan inovatif yang ada. Pelajar boleh dilibatkan dalam projek atau tugasan yang diberikan
oleh guru.

Di samping itu, guru dan pelajar bersama-sama mengenal pasti dan menentukan

pengetahuan-pengetahuan yang di dapati berguna dalam menyelesaikan masalah-masalah tertentu.