Anda di halaman 1dari 315

MDDUL

Perkembangan Konsep Kewi rausahaan


Dr. Ir . S B. Har i Lu b i s
PENDAHULUAN

obalah Saudara mengamati dinamika bisnis di belahan bumi ini, tidak


'-""" terkecuali di Indonesia, maka Saudara akan mendapati perubahan yang
sangat luar biasa. Derasnya arus globalisasi, liberalisasi perdagangan,
pesatnya perkembangan teknologi, telah mengubah dinamika persaingan di
mana antarpemain bisnis telah terjadi perlombaan untuk saling mengungguli.
Akibatnya, situasi persaingan yang dahulu statis, kini menjadi sangat
dinamik, bahkan liar. Keunggulan bersaing yang dulu menjadi andalan
perusahaan, kini tidak berdaya menghadapi keunggulan baru yang diciptakan

pesa1ng.
Menghadapi situasi seperti itu, dunia usaha dituntut untuk selalu
meningkatkan dan memperbaharui keunggulannya sebelum didahului oleh
pesaing. Oleh karena itu, dunia usaha harus pandai-pandai memandang masa
depan mereka, kemudian menyesuaikan bisnisnya dengan perubahan yang
bakal dihadapinya. Untuk mewujudkan hal itu, dunia usaha harus mempunyai
kemauan untuk terus-menerus belajar guna mengembangkan wawasan baru
serta cara-cara baru dalam mengelola bisnisnya. Seperti dikatakan Peter
Senge (1990), perusahaan yang paling berhasil di era 1990-an adalah
perusahaan yang disebut 'organisasi pembelajar' (learning organization).
Organisasi pembelajar hanya dapat dicapai melalui individu-individu yang
'belajar'. Oleh karena itu, menciptakan individu-individu pembelajar
merupakan hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Kemampuan untuk
belajar lebih cepat dibanding pesaing, merupakan satu-satunya keunggulan
bersaing yang lestari.
Dalam konteks kewirausahaan atau dunia usaha di Indonesia,
mewujudkan hal itu bukan perkara mudah. Saudara mengetahui bahwa
selama 30 tahun masa pemerintah Orde Baru telah terlahir 'pengusaha baru'
yang kemudian dengan cepat tumbuh menjadi konglomerat yang menguasai
hampir semua sektor perekonomian di Indonesia. Namun ketika krisis

1. 2

KEWIRAUSAHAAN

ekonomi melanda Indonesia, banyak di antara para konglomerat tersebut


tidak mampu bertahan. Kendati tidak mudah mencari akar masalah
ambruknya para konglomerat tersebut, namun diduga karena "fondasi" usaha
mereka rapuh. Para konglomerat tersebut pada umumnya tumbuh dan
menjadi besar karena mendapat fasilitas atau kemudahan dari pemerintah.
Padahal, wirausaha sejati tidak seperti itu. Wirausahawan sejati seyogianya
merupakan inovator dan pengembang usaha yang mampu mengenali dan
memanfaatkan peluang, mengubah peluang menjadi sesuatu yang layak
dilaksanakan maupun dipasarkan. Wirausahawan juga mampu memberikan
nilai tambah melalui waktu, melalui usaha yang dikeluarkan, melalui uang
atau modal untuk memulai usaha, memanfaatkan keterampilan, bersedia
menanggung risiko jika pasar ternyata penuh dengan persaingan dan
menyadari imbalan yang akan diperoleh dari usaha yang dilakukan.
Wirausahawan boleh dianggap sebagai katalisator yang secara agresif
berusaha mengubah dunia usaha. Wirausahawan juga merupakan orangorang dengan pemikiran bebas (independen) yang berani memunculkan
gagasan yang berbeda dari pemikiran masyarakat umum.
Sasaran utama modul ini tidak berpretensi mengubah para mahasiswa
menjadi wirausaha. Jika hal itu yang menjadi sasarannya, rasanya akan sulit
sekali. Kehadiran modul ini lebih diarahkan untuk ikut membangun
kesadaran pentingnya kewirausahaan dalam pembangunan ekonomi bangsa.
Dalam Modul 1 ini, kita akan membahas berbagai topik tentang konsep
kewirausahaan. Sesudah membaca modul ini, diharapkan saudara mampu:
1. memahami pengertian kewirausahaan;
2. menjelaskan karakteristik kewirausahaan;
3. menjelaskan berbagai karakteristik kewirausahaan;
4. menjelaskan berbagai mitos kewirausahaan;
5. menjelaskan berbagai pendekatan dalam memahami kewirausahaan.

1. 3

EKMA4370/MODUL 1

KEGIATAN

BELAL.JAR

Konsep Kewi rausahaan


ampir semua yang pernah kita dengar tentang entrepreneurship
ternyata keliru. Entrepreneurship bukan permainan sulap, bukan pula
sesuatu yang misterius, dan entrepreneurship tidak ada kaitannya dengan
keturunan. Entrepreneurship merupakan sebuah disiplin ilmu, dan seperti
disiplin ilmu lainnya, bisa dipelajari.
Peter F.Drucker

Kata "entrepreneur" (entrepreneurship diterjemahkan menjadi


kewirausahaan dalam tulisan ini, sedangkan entrepreneur diterjemahkan
menjadi wirausahawan) berasal dari kata bahasa Perancis "entreprendre"
yang berarti "melakukan" atau "melaksanakan". Wirausahawan adalah
seseorang yang mengorganisasikan, mengelola, dan menanggung risiko
sebuah usaha.
Perkembangan kegiatan kewirausahaan selama ini menyebabkan definisi
tersebut perlu diperluas. Sekarang ini wirausahawan juga sering kali
mencakup penemu dan pengembang usaha yang mampu mengenali dan
memanfaatkan peluang, mengubah peluang menjadi sesuatu yang layak
dilaksanakan maupun dipasarkan. Wirausahawan juga mampu memberikan
nilai tambah melalui waktu, melalui usaha yang dikeluarkan, melalui uang
atau modal untuk memulai usaha, memanfaatkan keterampilan, bersedia
menanggung risiko jika pasar ternyata penuh dengan persaingan, dan
menyadari imbalan yang akan diperoleh dari usaha yang dilakukan.
Wirausahawan boleh dianggap sebagai katalisator yang secara agresif
berusaha mengubah dunia usaha. Wirausahawan juga merupakan orangorang dengan pemikiran bebas (independen) yang berani memunculkan
gagasan yang berbeda dari pemikiran masyarakat umum.
Berbagai tulisan mengenai kewirausahaan pada umumnya menunjukkan
kesamaan karakteristik dari para wirausahawan. Para wirausahawan biasanya
dikaitkan dengan beberapa karakteristik utama yang melekat padanya, antara
lain sebagai berikut:
1. memiliki sifat inisiatif;
2. mempunyai kemampuan mengonsolidasikan berbagai sumber;
3. memiliki keterampilan manajemen;

1. 4

4.
5.

KEWIRAUSAHAAN

menginginkan kebebasan mengatur diri sendiri;


mempunyai keberanian menanggung risiko
usahanya.

dalam

menjalankan

Di samping itu, ada pendapat lain tentang beberapa karakteristik para


usahawan yang berbeda dengan yang disebutkan di atas, di antaranya adalah:
a. pada umumnya agresif;
b. memiliki semangat kompetisi yang tinggi;
c. perilakunya cenderung mengarah pada sasaran (goal-oriented)
d. percaya dirinya yang besar;
e. cenderung memanfaatkan peluang (oportunis);
f. tindakan-tindakannya biasanya mengandalkan intuisi;
g. bertindak sesuai kondisi nyata yang dijumpai di lapangan;
h. mampu belajar dari kesalahan;
i. mampu memanfaatkan keterampilan membina hubungan sosial; dan
sebagainya.

A. PERKEMBANGAN KONSEP KEWIRAUSAHAAN


Kewirausahaan diperkenalkan oleh para ahli ekonomi sebagai topik
bahasan dalam diskusi dan analisis sejak abad ke-18 maupun abad ke-19.
Sekarang ini istilah kewirausahaan sering dianggap sama ataupun dianggap
berkaitan erat dengan kebebasan berusaha ataupun kapitalisme. Wirausaha
juga pada umumnya dianggap sebagai agen perubahan yang memunculkan
gagasan-gagasan kreatif dan inovatif dalam menjalankan usaha, ataupun
perusahaan
sehingga
menjadi
untuk
membantu
perkembangan
menguntungkan.
Hingga saat ini definisi wirausahawan maupun kewirausahaan masih
terus berkembang sesuai dengan semakin lengkapnya pemahaman manusia
mengenai gej ala kewirausahaan ini, seperti dinyatakan secara khusus oleh
1
Kuratko :
Berbagai j eni s t eori tel ah mencoba memberi kan penj el asan mengenai
perkembangan peradaban manusia, dari mulai j aman batu hingga
sekarang. Ham pi r semua t eori menonj ol kan per an pent i ng "agen
perubahan" dal am evol usi t ersebut, yait u sebagai kekuat an yang
1

Kuratko, hal. 29

EKMA4370/MODUL 1

1.5

memelopori dan mendorong terj adinya kemaj uan. 8ekarang ini mulai
disadari bahwa agen perubahan tersebut adalah wirausahawan.

Kewirausahaan pertama kali diperkenalkan di Perancis pada abad ke-18


oleh seorang ahli ekonomi bemama Richard Cantillon. Cantillon
menganggap wirausahawan sebagai pihak yang menanggung risiko dalam
perekonomian. Pada periode yang sama di Inggris sedang terjadi Revolusi
Industri, di mana peran wirausahawan jelas terlihat sebagai pihak yang harus
menanggung risiko dan berperan mengubah berbagai jenis sumber.
Hubungan kewirausahaan dengan perekonomian sudah dikenal lama.
Hingga tahun 1950-an sebagian besar definisi dan tulisan mengenai
kewirausahaan selalu muncul dari ahli -ahli ekonomi, seperti Can till on ( 1725)
yang telah dijelaskan sebelumnya. Selain Cantillon ada Jean Baptiste Say
(1803), seorang ahli ekonomi Perancis yang terkenal, dan Joseph Schumpeter
(1934) ahli ekonomi abad ke-20. Ahli-ahli ekonomi ini terutama membahas
kewirausahaan dan dampaknya terhadap perkembangan perekonomian.
Hingga sekarang masih banyak ahli ekonomi yang mencoba menjelaskan
wirausahawan maupun kewirausahaan, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Wirausahawan melaksanakan sesuatu dengan cara yang tidak lumrah
dibanding kebiasaan masyarakat umum, dan biasanya cenderung
dipengaruhi oleh corak kepemimpinan.
2. Dalam masyarakat demokratis, wirausahawan merupakan "jembatan"
yang menghubungkan bagian masyarakat nonekonomi dengan berbagai
lembaga pencari keuntungan dengan cara memuaskan lingkungan
ekonomisnya.
3. Para wirausahawan biasanya memiliki ciri perilaku sebagai berikut.
a. merupakan pihak yang mengambil inisiatif;
b. mengorganisasikan mekanisme sosial ekonomi, memanfaatkan
situasi, dalam mengubah berbagai sumber; dan
c. bersedia menerima kegagalan maupun risiko.
Kemudian Ronstadt mencoba merangkum berbagai definisi
kewirausahaan sebagai berikut. Kewirausahaan merupakan proses dinamis
dalam peningkatan kemakmuran. Kemakmuran diciptakan oleh pihak yang
harus menanggung risiko terbesar dalam hal aset, waktu ataupun karier
dengan cara memberikan nilai dari sejumlah produk ataupun jasa. Produk
atau jasa yang diusahakan tidak harus baru atau unik, tetapi bisa dibuat

1. 6

KEWIRAUSAHAAN

menjadi lebih bernilai oleh para wirausahawan melalui keterampilan dan


berbagai sumber yang mereka miliki.
Di bidang apapun juga kegiatan mereka dilaksanakan, sekarang ini
wirausahawan dipandang sebagai pahlawan usaha bebas. Banyak
wirausahawan memanfaatkan kreativitas maupun inovasi untuk mengubah
perusahaan yang sudah hampir pailit menjadi perusahaan besar yang
menguntungkan. Beberapa di antaranya hanya dalam waktu yang singkat,
kurang dari 10 tahun! Para wirausahawan ini menciptakan produk ataupun
jasa baru, dan bersedia menanggung risiko berkaitan dengan kegiatan ini.
Karena itu, tidak mengherankan apabila wirausahawan juga sering dipandang
sebagai pionir, pelopor yang berada di garis paling depan dalam dunia usaha.
Kewirausahaan merupakan kemampuan menciptakan dan membangun
sebuah impian, praktis dari ketiadaan, dan sebenarnya merupakan
kegi at an kreat if yang san gat manusi awi. Kewi rausahaan merupakan
pemanf aat an energi secara nyat a unt uk memul ai dan membangun
sebuah perusahaan ataupun organisasi, dan bukan hanya sekadar
melakukan pengamatan ataupun anal isis.
1\kwuj udkan impian membutuhkan kesediaan untuk menanggung risiko,
baik risiko yang menyangkut pribadi pengusahanya maupun risiko
finansial , dan mengusahakan apapun yang mungkin dilakukan untuk
mengurangi
risiko
kegagalan.
Kewirausahaan
juga mencakup
kemampuan unt uk mengembangkan tim yang di per I ukan unt uk
mendukung dan mel engkapi
bakat sert a ket erampi Ian yang sudah
dimiliki oleh wirausahawan. Kewirausahaan merupakan kemampuan
unt uk merasakan ad any a pel uang dari suat u sit uasi, sement ara pi hak
Iai n hanya mel i hat kekacauan, kegal au an, maupun kont radi ksi dari
sit uasi
it u.
Kewi rausahaan juga mencakup kemahi ran unt uk
menemukan, mengarahkan, dan mengendalikan pemanfaatan berbagai
j enis sumber, yang sering kali merupakan milik orang lain.

B. MITOS MEN GENAl WIRAUSAHA WAN


Selama ini di masyarakat telah muncul berbagai mitos mengenai
wirausahawan. Sebagian pihak berpendapat bahwa berbagai mitos ini muncul
karena kurangnya penelitian mengenai kewirausahaan. Para peneliti
kewirausahaan tentunya bisa merasakan bahwa bidang ini masih terus
berkembang, sehingga memang banyak mitos yang masih menjadi
kepercayaan masyarakat karena belum "tergusur" oleh basil penelitian ilmiah
yang membantah kebenaran kepercayaan semacam itu. Berikut ini disajikan

EKMA4370/ MODUL 1

1. 7

sepuluh mitos yang paling sering muncul di masyarakat mengenai


wirausahawan.

Mitos 1:
Wirausahawan merupakan orang yang cenderung bertindak dan bukan
pemikir.
Walaupun memang benar bahwa wirausahawan cenderung merupakan
orang lebih suka bertindak, namun tidaklah benar apabila mereka bukan
d i goIongkan sebagai orang yang pem i ki r. 8ebagai cont oh, sekar ang in i
lebih disukai business plan yang j elas dan juga lengkap, yang
menunj ukkan bahwa wi rausaha juga dit unt ut unt uk berpi ki r. Bagi
wi rausaha, berpi ki r sam a pent i ngnya dengan kecenderungan mereka
unt uk bert i ndak.

Mitos 2:
Kewirausahaan merupakan bakat yang dibawa seseorang sejak lahir.
8elama ini banyak pihak yang lebih percaya bahwa kewirausahaan tidak
bisa diaj arkan ataupun dipelaj ari. 8Jdah sej ak lama masyarakat percaya
bahwa ciri-ciri kewirausahaan dalam diri seseorang merupakan bakat
bawaan yang dibawa sej ak lahir. Ori-ciri ini misalnya, mencakup
agresivitas, berinisiatif, bersemangat, bersedia menanggung risiko,
memiliki kemampuan analisis yang baik, dan terampil dalam
membangun hubungan dengan orang I ai n. 8ekarang i ni, kewi rausahaan
cenderung dianggap sebagai suatu disiplin ilmu, sehingga mematahkan
mitos itu. Kewirausahaan, seperti juga semua bidang ilmu lainnya,
memi I i ki model, proses, dan juga berbagai macam st udi kasus yang
memungkinkannya untuk dipelaj ari dan juga diaj arkan.

Mitos 3:
Wirausahawan mesti merupakan penemu hal baru (inventor).
Pemikiran bahwa wirausahawan selalu merupakan penemu hal baru
(inventor) muncul karena kesalahan pemahaman. 1\kmang dalam
kenyataan
cukup
banyak
penemu
yang
kemudian
menj adi
wirausahawan, tetapi juga kenyataan menunj ukkan bahwa banyak
wi rausahawan yang bukan penemu hal baru. 8ebagai cont oh, di
Ameri ka, Ray Kroc bukanl ah penemu makanan cepat saj i, t et api
gagasannya yang i novat if mendorong 1\/t Donald menj adi perusahaan
cepat saj i yang terbesar di dunia. Di Indonesia, sudah sangat lama
masyarakat mi num t eh, t et api gagasan i novat if unt uk menj ual t eh

1. 8

KEWIRAUSAHAAN

dalam kemasan (botol ataupun kotak) baru belakangan ini muncul.


Sekarang ini, pengertian wirausahawan tidak saj a mencakup penemu
namun juga bukan penemu hal baru.

Mitos 4:
Wirausahawan cenderung gagal di sekolah maupun dalam pergaulan
sosial.
Pandangan bahwa wirausahawan cenderung gagal di sekolah maupun
dalam pergaulan sosial terj adi karena beberapa individu pengusaha
t ernyat a berhasi I mengembangkan perusahaan yang sukses set el ah
mengalami drop-out dari sekolah ataupun setelah berhenti menjadi
karyawan. Banyak kasus sej enis ini digelembungkan sehingga muncul
pandangan yang kel i ru mengenai wi rausahawan maupun kewi rausahaan.
Lembaga pendidikan dan organisasi sosial di masa lalu memang
kebanyakan tidak memberikan tempat terhadap kewirausahaan. Hal ini
terj adi karena pandangan yang lebih diwarnai oleh keberadaan
perusahaan-perusahaan besar, sehingga pendidikan bisnis cenderung
lebih membahas permasalahan perusahaan-perusahaan ukuran besar.
Pandangan yang Iebi h mut akhi r cenderung menganggap wi rausahawan
sebagai pelopor di bidang ekonomi, sosial, maupun pendidikan.
Wirausahawan tidak lagi dianggap sebagai pribadi yang menyeleweng ke
luar j alur, melainkan sebagai profesional.

Mitos 5:
Wirausahawan dipandang memiliki ciri-ciri tertentu.
Ban yak t ul i san dal am buku maupun art i kel mengenai kewi rausahawan
yang memuat daftar ciri-ciri wirausahawan yang berhasil. Ori-ciri ini
sering kali tidak diperiksa keabsahannya, cenderung dihasilkan dari
penelitian terhadap kasus-kasustertentu dan sering kali tidak dilakukan
dengan membandingkannya terhadap ciri-ciri orang yang bukan
wi rausahawan.
Sekarang ini mulai dipahami bahwa besar sekali hambatan maupun
kesulitan yang dihadapi dalam menemukan ciri-ciri wirausahawan
maupun kewirausahaan yang dapat dianggap berlaku umum. Kondisi
I i ngkungan, perusahaan, maupun kewi rausahaan, t ernyat a sal i ng
mempengaruhi satu sama lain sehingga memungkinkan untuk
menj umpai ci ri -ci ri wi rausahawan yang berhasi I pad a sit uasi yang
berlainan.

1. 9

EKMA4370/ MODUL 1

Mitos 6:
Wirausahawan hanya tertarik pada uang.
Per I u di akui bahwa sebuah perusahaan membut uhkan modal at au uang
agar bisa bertahan hidup. tv1emang benar banyak perusahaan yang gagal
karen a kondi si keuangannya t i dak sehat.
Tet api , kenyat aan
menunj ukkan bahwa ketersediaan modal at au uang belum tentu bisa
mencegah kebangkrutan sebuah perusahaan. Apabila ditelusuri,
kegagalan karena masalah keuangan sering kali merupakan akibat dari
ket i dakberesan pad a aspek yang Iai n sepert i pen gel ol a yang t i dak
kompet en , perencanaan yang buruk, kult ur kerj a yang t idak
mendukung, dan berbagai alasan lainnya. Di pihak lain, banyak
wi rausahawan yang perusahaannya berhasi I t ernyat a sebel umnya t idak
memi I i ki modal yang mencukupi, t et api mereka berhasi I mengat asi
kekurangan tersebut sambil membangun usaha dengan bertumpu pada
aspek nonuang. Untuk para wirausahawan, modal atau uang memang
merupakan sumber daya, t et api seri ng kal i bukan merupakan t uj uan
akhi r sat u-sat unya.

Mitos 7:
Keberhasilan
kemujuran.

wirausahawan

tergantung

pada

nasib

baik

atau

Berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat memang merupakan
keuntungan bagi seseorang. Tetapi, kemuj uran baru akan terwuj ud
apabila persiapan seseorang sesuai dengan peluang yang ia hadapi.
Apabila ia tidak siap, maka peluang itu akan hi lang begitu saj a tidak
sempat dimanfaatkan. Karena itu, hanya wirausaha yang memiliki
persiapan yang mencukupi yang akan mampu memanfaatkan peluang,
sehingga kebanyakan orang melihat kejadian ini sebagai suatu
kemuj uran. Wirausahawan yang berpeluang untuk berhasil sebenarnya
memang lebih siap menghadapi situasi dan mengubah situasi yang ia
hadapi menj adi keberhasilan. Apa yang sering kali terlihat sebagai
kemuj uran sesungguhnya t erdi ri dari persi apan yang bai k, semangat,
ket eguhan hat i, pemahaman akan permasal ahan at au sit uasi yang
di hadapi, dan j uga kecerdi kan unt uk memuncul kan car a yang I ebi h
cerdas unt uk menghadapi sit uasi at au pun permasal ahan t ersebut .

Mitos 8:
Ketidaktahuan merupakan berkah bagi wirausahawan.
8ering kali dikatakan bahwa terlalu banyak perencanaan maupun
eval uasi just ru akan membawa masal ah, yait u membuat kit a menj adi

1. 10

KEWIRAUSAHAAN

memi I i ki keraguan unt uk bert i ndak sehi ngga menj adi I umpuh karen a
malas bergerak. Di masa sekarang, pernyataan itu tidak lagi berlaku,
karena pasar maupun dunia usaha penuh dengan persaingan sehingga
di per Iukan pemi ki ran yang mat ang, perencanaan yang ri nci dan
persi apan yang mat an g. rvlemahami secara Iengkap dan benar kekuat an
dan kelemahan usaha yang hendak dij alankan membuat seorang
pengusaha mampu memi I i ki rencana cadangan yang bai k unt uk
menghadapi munculnya permasalahan yang tidak terduga. Peluang
untuk mengalami akibat buruk dari kegagalan bisa dikurangi melalui
st rat egi yang di rumuskan secara cermat, yang di dasarkan pad a
pemahaman akan proses sebab akibat yang mampu membawa kit a pada
keberhasi Ian. Perencanaan yang mat ang dan cermat merupakan ci ri
wirausahawan yang berhasil, bukan ketidaktahuan.

Mitos 9:
Lebih banyak wirausahawan yang gagal daripada yang berhasil.
rvlemang benar bahwa kebanyakan wi rausahawan berul ang kal i
mengal ami kegagal an sebel um mampu mencapai keberhasi Ian.
Kegagal an memang memberi kan banyak pel aj aran kepada orang yang
bersedia belaj ar dari pengalaman tersebut, dan ternyata kegagalan
sering kali mampu membawa seseorang pada keberhasilan. lni terlihat
j elas pada "prinsip koridor" yang menyatakan bahwa apabila suatu
usaha mulai dij alankan, maka berbagai peluang baru yang tidak
di rencanakan akan segera muncul. Perusahaan 3M mi sal nya, men gal ami
kegagalan karena lem yang mereka buat ternyata tidak mampu
menempel t erl al u kuat. Lem yang gagal it u t i dak mereka buang, t et api
di cob a di cari kemungki nan pemanf aat annya. Akhi rnya, berhasi I
dikembangkan kertas post-it, yakni lembar catatan berwarna kuning
yang bisa ditempel dan dilepas dengan mudah di dinding.
Pernyataan bahwa lebih banyak wirausahawan yang gagal dibanding
yang berhasil, ternyata tidak bisa diterima. Seorang peneliti
menemukan bahwa masyarakat pandangan kebanyakan orang bahwa
Iebi h banyak wi rausahawan yang gagal dari pad a yang berhasi I t ernyat a
2
t idak t epat .

Mitos 10:
Wirausahawan adalah pengusaha bersifat untung-untungan.
Banyak pi hak yang mel i hat wi rausahawan seakan-akan merupakan
pengusaha yang perilakunya sangat untung-untungan. Kenyataan di
Iapangan memperl i hat kan bahwa wi rausahawan bi asanya memi I i h j eni s
2

Kuratko, hal. 33

EKMA4370/MODUL 1

1. 11

kegiatan dengan risiko yang sedang ataupun risiko yang bisa dihitung
(calculated risk). Wirausahawan yang sukses biasanya pekerja keras
dengan perencanaan serta persiapan yang matang, dengan maksud
untuk menurunkan risiko,
sehingga dengan kemampuan
itu
sesungguhnya wirausahawan memiliki kapabilitas untuk mengendalikan
masa depan.

Sepuluh mitos ini perlu dipahami dan perlu dijadikan landasan pemikiran
dalam pembahasan mengenai wirausahawan maupun kewirausahaan.
Kemampuan untuk membedakan mitos dari kenyataan lapangan akan
memberikan peluang untuk mengamati dan menjelaskan berbagai ciri
wirausahawan sesuai kenyataan di lapangan, tanpa diganggu oleh berbagai
kepercayaan yang sesungguhnya tidak terbukti secara ilmiah.

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)
4)

J elaskan pengertian wirausaha atau kewirausahaan!


Jelaskan karakteristik wirausaha!
Jelaskan peranan kewirausahaan dalam perekonomian!
Jelaskan mitos-mitos tentang kewirausahaan!

Petunjuk Jawaban Latihan


1)

Banyak pakar yang mencoba mendefinisikan wirausaha atau


kewirausahaan, di antaranya Ronstadt, Cantillon, Jean Baptiste Say,
Joseph Schumpeter dan lain-lain. Untuk mengetahui secara flllCI
m.e ngenai hal itu, coba simak kembali uraian di atas, terutama yang
menyangkut pengertian wirausaha atau kewirausahaan.
Banyak uraian yang membahas karakteristik wirausaha atau
kewirausahaan. Untuk mengetahui secara rinci mengenai hal itu, coba
simak kembali uraian di atas, terutama yang menyangkut karakteristik
wirausaha atau kewirausahaan.
Peranan kewirausahaan dalam perekonomian telah dibahas. Coba simak
kembali pembahasan tentang Perkembangan Konsep Kewirausahaan.

2)

3)

1. 12

4)

KEWIRAUSAHAAN

Paling tidak ada 10 mitos tentang wirausaha atau kewirausahaan. Coba


simak kembali pembahasan tentang Mitos Wirausaha atau
Kewirausahaan.

RANGKUMAN- - - - - - - - - - - - - - - - - - -

1.

2.

3.

4.

Kata entrepreneur sering diterjemahkan menjadi wirausahawan,


Kata entrepreneur berasal dari bahasa Perancis "entreprendre" yang
berarti "melakukan" atau "melaksanakan". J adi wirausahawan
sering diartikan sebagai seseorang yang mengorganisasikan,
mengelola dan menanggung risiko sebuah usaha.
Perkembangan kegiatan kewirausahaan selama ini menyebabkan
definisi kewirausahaan di atas menjadi lebih luas, yakni sering kali
mencakup penemu dan pengembang usaha yang mampu mengenali
dan memanfaatkan peluang, mengubah peluang menjadi sesuatu
yang layak dilaksanakan maupun dipasarkan. Wirausahawan juga
mampu memberikan nilai tambah melalui waktu, melalui usaha
yang dikeluarkan, melalui uang atau modal untuk memulai usaha,
memanfaatkan keterampilan, bersedia menanggung risiko jika pasar
temyata penuh dengan persaingan dan menyadari imbalan yang
akan diperoleh dari usaha yang dilakukan.
Karakteristik utama para wirausaha wan adalah memiliki sifat-sifat
berikut ini, antara lain: inisiatif, kemampuan mengonsolidasikan
berbagai sumber, memiliki keterampilan manajemen, menginginkan
kebebasan mengatur diri sendiri, dan juga keberanian menanggung
risiko, pada umumnya agresif, memiliki semangat kompetisi yang
tinggi, perilaku yang cenderung mengarah pada sasaran (goaloriented), percaya dirinya yang besar, cenderung memanfaatkan
peluang (oportunis ), tindakan-tindakannya biasanya mengandalkan
intuisi, bertindak sesuai kondisi n yata yang dij umpai di lapangan,
mampu belajar dari kesalahan, dan mampu memanfaatkan
keterampilan membina hubungan sosial.
Kewirausahaan merupakan proses dinamis dalam peningkatan
kemakmuran. Kemakmuran diciptakan oleh pihak yang harus
menanggung risiko terbesar dalam hal aset, waktu ataupun karier
dengan cara memberikan nilai dari sejumlah produk ataupun jasa.
Produk atau jasa yang diusahakan tidak harus baru atau unik, tetapi
bisa dibuat menjadi lebih bernilai oleh para wirausahawan melalui
keterampilan dan berbagai sumber yang mereka miliki.

1. 13

EKMA4370/MODUL 1

T E S

F 0 R MAT IF

1_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1)

Istilah entrepreneur (diterjemahkan menjadi wirausahawan) berasal dari


kata bahasa Perancis "entreprendre" yang artinya ....
A. melakukan atau melaksanakan
B. berbisnis
C. berniaga
D. mencari untung

2)

Seseorang yang mengorganisasikan, mengelola dan menanggung risiko


sebuah us aha disebut ....
A. pegawai
B. manajer
C. CEO
D. wirausahawan

3)

Salah satu ciri seorang wirausahawan adalah ....


A. tidak bebas mengatur sendiri
B. sulit mengonsolidasikan berbagai sumber
C. memiliki keterampilan teknikal
D. berani menanggung risiko

4)

Salah satu karakteristik seorang wirausaha wan adalah ....


A. tidak agresif
B. takut berkompetisi
C. perilakunya kurang mengarah pada sasaran (goal-oriented)
D. oportunis

5)

Salah satu mitos tentang wirausahawan yaitu ....


A. cenderung berpikir, dan bukan bertindak
B. lebih banyak wirausahawan yang berhasil daripada yang gagal
C. mesti merupakan penemu hal baru (inventor)
D. tidak memiliki ciri -ciri tertentu

1.14

KEWIRAUSAHAAN

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80o/o,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.

1. 15

EKMA4370/MODUL 1

KEGIATAN

BELAL.JAR

Berbagai Pendekat an dal am


Menj el askan Kewi rausahaan
emahaman mengenai kewirausahaan terus-menerus mengalami
perkembangan karena semakin meningkatnya peran penting
wirausahawan dalam kegiatan masyarakat. Teori-teori mengenai
kewirausahaan seharusnya mampu menunjukkan prinsip-prinsip dasar yang
mampu menjelaskan arti wirausahawan ataupun kewirausahaan, serta aturan
saling hubungan antara berbagai elemen yang mendorong munculnya
wirausahawan ataupun kewirausahaan. Pemahaman ini seharusnya dapat
memberikan kemampuan untuk memperkirakan basil dari berbagai kegiatan
bersifat wirausaha dan juga bisa memberikan petunjuk mengenai cara
bertindak yang tepat bagi wirausahawan untuk menghadapi suatu corak
tertentu.
Semakin lama semakin dipahami bahwa kewirausahaan merupakan
bidang yang bersifat multidisiplin. Karena itu tidak mengherankan apabila
muncul berbagai jenis pendekatan dalam menjelaskan kewirausahaan seperti
diuraikan berikut ini.

A. PENDEKATAN MAKRO DAN MIKRO DALAM PEMIKIRAN


MENGENAIKEWIRAUSAHAAN
Terdapat dua jenis cara pandang utama dalam pemikiran mengenai
kewirausahaan, yaitu pandangan makro dan pandangan mikro.

1.

Pandangan Makro
Pandangan makro terhadap kewirausahaan menunjukkan adanya
sejumlah faktor yang berkaitan dengan sukses atau gagalnya usaha yang
dijalankan oleh seorang wirausahawan. Faktor-faktor ini mencakup berbagai
proses dari luar (eksternal) yang sering kali berada di luar kendali seorang
wirausahawan. Dalam pandangan bersifat makro ini terdapat tiga pendekatan,
di antaranya adalah sebagai berikut.

1.16

KEWIRAUSAHAAN

a.

Pendekatan Lingkungan
Pendekatan atau cara pandang ini terutama berkaitan dengan berbagai
faktor dari luar yang berpengaruh terhadap pola hidup seseorang
sehingga menyebabkan dia memiliki potensi ataupun tidak memiliki
potensi untuk menjadi seorang wirausahawan. Faktor-faktor ini bisa
berpengaruh positif maupun negatif terhadap munculnya keinginan
untuk memulai kegiatan sebagai wirausahawan.
Faktor-faktor ini terutama berkaitan dengan keberadaan institusi, nilainilai masyarakat dan adat istiadat, yang secara bersama-sama
membentuk suasana lingkungan sosial dan politis tertentu yang mampu
memberikan pengaruh terhadap pemunculan wirausaha. Atau sebaliknya,
kombinasi tertentu dari keseluruhan faktor-faktor tersebut justru
menghambat munculnya kewirausahaan. Sebagai contoh, karyawan
tingkat menengah yang dalam lingkungan pekerjaannya terbiasa
mendapat kebebasan serta dukungan untuk mengembangkan gagasan
dan merealisasikannya, diizinkan mengembangkan perjanjian (kontrak)
dengan pihak luar, menciptakan dan mencoba gagasan baru, maka
lingkungan kerja semacam itu bisa mendorong munculnya keinginan
untuk memulai usaha sendiri sebagai wirausahawan. Lingkungan sosial
seseorang, lingkungan pertemanan maupun keluarga juga bisa
berpengaruh terhadap munculnya keinginan seseorang untuk memulai
usaha sebagai seorang wirausahawan.

b.

Pendekatan Keuangan
Pendekatan ini terutama memfokuskan perhatian pada proses penanaman
dan menumbuhkan modal atau uang. Sebagian pihak memang
memandang kewirausahaan hanya sebagai proses mengembangkan atau
menggandakan uang, sementara pandangan yang lain berpendapat bahwa
proses keuangan ini hanyalah salah satu segmen saja dari kegiatan
kewirausahaan.

c.

Pendekatan Perpindahan
Cara pandang ini didasarkan pada fenomena kelompok. Dikatakan
bahwa suasana yang dialami kelompok bisa mendorong ataupun
menghambat munculnya faktor-faktor yang menyebabkan seseorang
menjadi wirausaha. Menurut Ronstadt, seseorang tidak akan terdorong
untuk menjalankan suatu usaha atau menjadi wirausahawan, jika mereka

EKMA4370/MODUL 1

1. 17

tidak dihambat untuk mengerjakan sesuatu ataupun terdesak untuk


meninggalkan kegiatannya semula, sehingga akhirnya mengerjakan jenis
3
kegiatan yang lain . Terdapat tiga jenis penyebab utama yang
menyebabkan sekelompok orang terdorong untuk berpindah kegiatan,
dan ketiga jenis aspek pendorong tersebut menggambarkan pola
pemikiran yang mewamai pendekatan ini adalah sebagai berikut.
1) Faktor Politik
W arna politik suatu negara yang tidak menghalalkan
berkembangnya usaha bebas milik pribadi akan menghambat
munculnya kegiatan kewirausahaan. Corak dari berbagai peraturan
yang diberlakukan oleh suatu negara juga bisa menghambat ataupun
mengarahkan kegiatan masyarakat sehingga cenderung lebih banyak
menggeluti kegiatan tertentu.
2) Faktor Budaya
Kelompok-kelompok sosial tertentu, misalnya yang muncul karena
latar belakang etnis, agama, suku, jenis kelamin dan sebagainya
yang menjadi golongan minoritas di suatu negara, sering kali
diasingkan dari bidang pekerjaan yang umum dikerjakan oleh
masyarakat luas. Desakan semacam ini sering kali mengakibatkan
golongan minoritas tidak tertarik memasuki bidang pekerjaan yang
umum dan cenderung mengembangkan kegiatan bersifat wirausaha.
Sebagai contoh, warga negara Indonesia keturunan Tionghoa di
Indonesia cenderung lebih banyak dijumpai mengerjakan profesi
yang bebas seperti menjadi pedagang daripada profesi pegawai
negeri ataupun menj adi anggota militer.
3) Faktor Ekonomi
Perubahan kondisi perekonomian ke arah yang lebih buruk seperti
resesi sering kali menimbulkan banyak pemutusan hubungan kerja
dan melahirkan banyak penganggur. Perubahan kondisi
perekonomian juga bisa menghambat ataupun mendorong
bertumbuhnya keinginan untuk menjadi wan.
Ketiga jenis pendorong yang menyebabkan terjadinya perpindahan
tersebut menggambarkan faktor-faktor dari luar (eksternal) yang bisa
berpengaruh terhadap berkembangnya kewirausahaan.
3

Ronstadt, dalam Kuratko, hal. 3 5

1.18

2.

KEWIRAUSAHAAN

Pandangan Mikro

Pandangan mikro terutama membahas faktor-faktor yang khas dari


kewirausahaan, yaitu terutama yang muncul dari dalam diri wirausahawan
sendiri. Dalam pandangan mikro terdapat tiga jenis pendekatan, yaitu sebagai
berikut.
a.

Pendekatan Ciri
Banyak penelitian telah dilakukan untuk menemukan ciri-ciri umum
wirausahawan yang dianggap berhasil. Pendekatan semacam ini
berusaha mempelajari ciri-ciri umum orang-orang yang berhasil dalam
mengembangkan us aha, sehingga apabila ciri-ciri itu ditiru maka
diharapkan akan dapat meningkatkan peluang para peniru tersebut untuk
juga mencapai keberhasilan dalam menjalankan usaha. Sebagai contoh,
terdapat empat faktor yang biasanya dianggap terdapat dalam diri
wirausahawan yang sukses, yaitu mempunyai keinginan berprestasi
(achievement), kreatif, memiliki keteguhan hati (determinasi) dan
memiliki pemahaman teknis yang memadai.
Pendapat lain menyatakan bahwa latar belakang keluarga dan pola
pendidikan yang dialami juga bisa berpengaruh terhadap keberhasilan
wirausahawan. Sebagian peneliti malah beranggapan bahwa pola
pendidikan tertentu malah bisa menghambat munculnya kewirausahaan,
sementara peneliti yang lain justru mempercayai hal yang sebaliknya.
Pendapat yang lain mengatakan bahwa pola pendidikan tertentu dalam
keluarga dapat mendorong ciri-ciri kewirausahaan tumbuh pada
seseorang sejak dini, dan dapat mengantarkannya menjadi wirausahawan
yang berhasil.

b.

Pendekatan Peluang Usaha


Pendekatan ini memfokuskan perhatian terhadap masalah peluang dalam
tumbuhnya kewirausahaan. Menemukan gagasan usaha, selanjutnya
mengembangkan gagasan tersebut menjadi konsep usaha, dan kemudian
memanfaatkan peluang usaha merupakan bidang-bidang yang dianggap
penting dalam pendekatan ini. Oleh karena itu, pendekatan ini
menganggap kreativitas serta pemahaman pasar merupakan dua aspek
dasar yang penting.
Gagasan usaha yang tepat, yang muncul pada waktu yang juga tepat, dan
ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dari pasar sasaran (target market)

EKMA4370/MODUL 1

1. 19

yang tepat pula, merupakan kunci keberhasilan kegiatan kewirausahaan


oleh pendekatan ini.
Perkembangan berikutnya dari pendekatan ini kemudian memunculkan
"prinsip koridor". J alur yang dilalui ataupun peluang baru yang muncul
ternyata berbeda, sehingga wirausahawan berkembang ke arah yang
berlainan. Kemampuan untuk mencium adanya peluang saat peluang
tersebut muncul dan juga kemampuan untuk melaksanakan langkahlangkah yang dibutuhkan dalam implementasinya, merupakan faktor
kunci menurut pendekatan ini. Dalam pendekatan ini dipercayai bahwa
pihak yang memiliki persiapan memadai, bertemu dengan peluang, akan
mengalami kemujuran. Karena itu, penganut pendekatan ini percaya
bahwa semakin siap seseorang dalam berbagai segmen usaha, akan
meningkatkan kemampuannya untuk menemukan peluang usaha.
c.

Pendekatan Strategis
Pendekatan ini menekankan peran penting proses perencanaan dalam
pengembangan usaha yang sukses. Ronstadt memandang perumusan
strategi sebagai pemanfaatan berbagai elemen yang bersifat unik, seperti
pasar yang unik, karyawan, produk, dan berbagai sumber, yang
seluruhnya unik. Elemen-elemen yang unik ini perlu diidentifikasikan,
dan kemudian dikombinasikan sehingga menjadi usaha yang efektif,
yaitu dalam pengertian sebagai berikut.
1) Pasar yang khas
Strategi dikembangkan melalui identifikasi segmen pasar yang
utama dan memahami celah atau ceruk yang khas yang muncul
karena pengaruh segmen pasar utama, dan memanfaatkan ceruk
pasar yang khas tersebut dalam pengembangan usaha.
2) Tenaga kerja yang khas
U saha dikembangkan dengan memanfaatkan keterampilan atau
bakat luar biasa yang khas dari tenaga kerja yang dimiliki.
3) Produk yang khas
U saha dikembangkan berlandaskan inovasi, sehingga produk yang
dihasilkan mampu melampaui produk yang sudah ada di pasar.
4) Sumber yang khas
Berusaha memiliki sumber-sumber yang khas dalam jangka panjang
(seperti air, tanah, bahan baku) dan memanfaatkannya sebagai
tumpuan strategi.

1.20

KEWIRAUSAHAAN

B. PENDEKATAN PROSES DALAM PEMIKIRAN MENGENAI


KEWIRAUSAHAAN
Pendekatan proses merupakan cara lain untuk mengamati kegiatan yang
tercakup dalam kewirausahaan. Dalam pendekatan ini sebenarnya sudah
banyak metode dan model yang dikembangkan dalam rangka
merestrukturkan proses kewirausahaan, tetapi pembahasan hanya akan
dilakukan terhadap tiga jenis pendekatan yang sifatnya lebih tradisional yaitu
Pendekatan Entrepreneurial Events, Pendekatan Assessment Process, dan
Pendekatan Multidimensional.
Pendekatan terakhir ini
mencoba
menggabungkan individu, lingkungan, dan proses.
Keseluruhan pendekatan ini menjelaskan proses kewirausahaan sebagai
konsolidasi berbagai faktor.

1.

Pendekatan Tahapan Pertumbuhan Wirausahawan

Kewirausahaan merupakan proses di mana individu merencanakan,


mengimplementasikan, dan mengendalikan kegiatan kewirausahaannya, dan
ternyata berbagai faktor berpengaruh terhadap setiap kej adian dalam proses
entrepreneurial ini. Pendekatan ini memusatkan perhatian terhadap proses
yang terjadi dalam kegiatan kewirausahaan dengan mempertimbangkan
pengaruh berbagai faktor berikut:
a. Inisiatif
: seseorang atau sekelompok orang mengambil inisiatif
untuk menjalankan usaha.
b. Organisasi : berbagai jenis sumber dikumpulkan di kumpulkan atau
diorganisasikan dalam rangka mencapai tujuan dari
us aha.
c. Pengaturan : pihak yang berinisiatif tadi menjalankan pengaturan
terhadap organisasi usaha.
: pemegang inisiatif ini memiliki kebebasan tertentu untuk
d. Otonomi
menggunakan maupun mengalokasikan sumber-sumber
yang ada.
e. Risiko
: keberhasilan ataupun kegagalan us aha yang dij alankan
juga ditanggung oleh karyawan.
f. Lingkungan : usaha ini dilakukan dalam lingkungan di mana terdapat
peluang, berbagai sumber, pesaing, yang keseluruhannya
bisa mempengaruhi terhadap setiap tahapan dalam
perkembangan usaha.

1. 21

EKMA4370/MODUL 1

Perkembangan usaha mengikuti empat tahapan, yaitu tahapan


munculnya gagasan (inovasi), tahapan munculnya unsur pemicu, tahapan
implementasi, dan tahapan tumbuh. Pada setiap tahapan dari pertumbuhan
usaha terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi, seperti ditunjukkan pada
skema di halaman berikut (Gambar 1.1) sehingga pola tumbuh setiap
wirausahawan juga berlain-lainan.
Pribadi
Keinginan mencapai sukses
Kebebasan
mengatur diri
sendiri
Toleransi
terhadap situasi
mendua
Kesediaan
menanggung resiko
Nilai yang dianut
Pendidikan
Pengalaman

Pribadi
Kesediaan
menanggung resiko
Ketidakpuasan
dalam pekerjaan
Kehilangan
pekerjaan
Pendidikan
Agama
Jenis Kelamin
Keteguhan
(komitmen)

Tahapan

Tahapan mun-

gagasan
(inovasi)

culnya unsur

lingkungan
Peluang
Role model
Kreatifitas

Sosial

Pribadi

Organisasi

Jejaring
pergaulan
Kelompok
Orangtua
Keluarga
Role model

pem1cu

Kewirausahan
Pemimpin
Manajer
Keteguhan
(komitmen)
Cara pandang

Tahapan
lmple
mentas1

Tim
Strategi
Struktur
Budaya
Jenis Produk

Tahapan
Tumbuh

lingkungan

lingkungan

Tingkat
.
persamgan
Ketersediaan
sumber
lnkubasi usaha
Kebijakan
pemerintah

Pesaing
Pasar/ konsumen
Pemasok
Pemodal
Bank
Hukum
Ketersediaan
sumber
Kebijakan
pemerintah

Gambar 1.1.
Tahapan Pertumbuhan Kewirausahaan

1.22

2.

KEWIRAUSAHAAN

Pendekatan Perspektif Kewirausahaan

Pendekatan ini dilakukan melalui inventarisasi secara kualitatif, secara


kuantitatif, secara strategis, dan secara etis terhadap wirausahawan,
perusahaannya,
dan
juga
lingkungannya.
Untuk
mengevaluasi
kewirausahaan, basil inventarisasi ini perlu dibandingkan terhadap tahap
perkembangan kewirausahaan, yaitu kewirausahaan yang terjadi pada
tahapan dini dari karier seseorang, pada pertengahan karier, dan yang terj adi
di akhir karier. Pendekatan ini dijelaskan pada skema yang ditunjukkan pada
Gambar 1.2.
Jenis Usaha
yang dijalankan

Corak
Wirausahawan

lnventarisasi:
Kuantitatif

~-----'~

Kualitatif
Strategis
Etis

l~'-----1

Corak
Lingkungan

apakah hasil inventarisasi sesuai dengan :


Tahapan perkembangan sebagai Q

Pendidikan dan
Pengalaman
sebelumnya

Menjadi
wirausaha
wan sejak
dini

Menjadi
wirausahawan pada
pertengahan
karir

Menjadi
wirausahawan pada
akhir karir

Gam bar 1. 2.
Pendekat an Perspekt if Kewi rausahaan

EKMA4370/MODUL 1

3.

1.23

Pendekatan Multidimensi
Pendekatan yang lebih rinci melihat kewirausahaan dari berbagai
dimensi. Kewirausahaan dipandang sebagai kerangka multidimensi yang
kompleks yang terutama memperhatikan dimensi individu, lingkungan,
organisasi, dan proses pertumbuhan usaha. Faktor-faktor yang berkaitan
dengan masing-masing dimensi adalah sebagai berikut.

Individu
a. Keinginan mencapai sukses.
b. Kebebasan mengatur diri sendiri.
c. Kesediaan menanggung risiko.
d. Kepuasan kerja.
e. Pengalaman kerja sebelumnya.
f. Kadar kewirausahaan orang tua
g. Umur.
h. Pendidikan.
Lingkungan
a. Ketersediaan modal ventura.
b. Kehadiran wirausahawan berpengalaman.
c. Tenaga kerja yang memiliki keterampilan teknis.
d. Ketersediaan pemasok.
e. Ketersediaan konsumen atau pasar (yang baru).
f. Dukungan kebijakan pemerintah.
g. Kehadiran Perguruan Tinggi.
h. Ketersediaan laban dan fasilitas.
i. Ketersediaan transportasi.
j. Sikap masyarakat sekitar.
k. Ketersediaan j as a pendukung.
1. Standar hidup masyarakat.
Organisasi
a. Jenis atau corak us aha.
b. Lingkungan kewirausahaan.
c. Partner untuk patungan.
d. Variabel strategis: 1) Ongkos, 2) Diferensiasi, 3) Fokus
e. Ambang persaingan untuk masuk dalam usaha.

1.24

KEWIRAUSAHAAN

Proses
1. Menemukan peluang usaha.
2. Mengumpulkan sumber yang diperlukan.
3. Memasarkan produkljasa.
4. Membuat produk.
5. Mengembangkan organisasi.
6. Menjawab keinginan pemerintah dan masyarakat.
Saling hubungan antara empat dimensi utama yang terlibat dalam
pertumbuhan wirausaha wirausahawan baru dijelaskan pada Gambar 1.3.
Pendekatan ini mengubah pemikiran mengenai kewirausahaan dari pemikiran
yang memandang berbagai dimensi kewirausahaan secara terpilah-pilah
menjadi pendekatan dinamis yang memperhatikan saling hubungan antara
berbagai dimensi secara interaktif.

1.25

EKMA4370/ MODUL 1

lndividu :

~~

Keinginan mencapai sukses


Kebebasan mengatur diri sendiri
Kesediaan menanggung resiko
Kepuasan kerja
Pengalaman ke~a sebelumnya
Kadar kewirausahaan orangtua
Umur
Pendidikan

Lingkngan :
Ketersedian modal ventura
Kehadiran wirausahawan berpengalaman
Tenaga kerja yang memiliki keterampilan teknis
Ketersediaan pemasok
Ketersediaan konsumen atau pasar (yang baru)
Dukungan kebijakan pemerintah
Kehadiran Perguruan Tinggi
Ketersediaan lahan dan fasilitas
Ketersediaan transportasi
Sikap masyarakat sekitar
Ketersediaan jasa pendukung
Standar hidup masyarakat
Tingkat Diferensiasi Pekerjaan dan lndustri
Persentase imigran yang tinggi
Daerah perkotaan yang luas
Ketersediaan sumber keuangan
Ambang masuk
Tingkat persaingan
Tekanan produk substitusi
Posisi tawar pembeli
Posisi tawar pemasok

~:

Organisasi :

Proses :

Menemukan peluang usaha


Mengumpulkan sumber yang

diperlukan

~-~ Memasarkan produk/jasa


Membuat produk
Mengembangkan organisasi
Menjawab keinginan pemerintah
dan masyarakat

Keinginan mencapai sukses


Diferensiasi
Fokus
Produkljasa baru
Pesaing sejenis
Munculnya franchise
Transaksi geografis
Kelangkaan supply
Pemanfaatan sumber yang terbengkalai
Kontrak dengan konsumen
Menjadi sumber ke dua
Jonit venture (usaha bersama)
Lisensi
Melepas Pasar
Pemisahan Divisi
Cenderung memasok pemerintah
Perubahan Peraturan Pemerintah

~=

Gam bar 1. 3.
Variabel-variabel yang terlibat dalam Pembentukan Usaha Baru

1.26

KEWIRAUSAHAAN

C. INTRAPRENEURSHIP
Istilah intrapreneur mulai menjadi populer di dunia usaha. Intrapreneur
mengembangkan semangat kewirausahaan dalam suatu organisasi, sehingga
menyebabkan tumbuhnya atmosfer atau suasana inovatif dalam organisasi
tersebut. Intrapreneur secara sukarela mengambil tanggung jawab untuk
menciptakan temuan-temuan baru yang bermanfaat dalam suatu organisasi.
Penjelasan mengenai intrapreneurship ini akan dibahas pada modul
selanjutnya.

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)
4)

Sebutkan jenis cara pandang utama dalam pemikiran mengenai


kewirausahaan!
Jelaskan cara pandang pendekatan lingkungan mengenai kewirausahaan!
Jelaskan apa yang menjadi fokus utama pendekatan keuangan?
Jelaskan pandangan pendekatan perpindahan tentang kewirausahaan!

Petunjuk Jawaban Latihan


1)
2)

3)
4)

Terdapat dua jenis cara pandang utama dalam pemikiran mengenai


kewirausahaan, yaitu pandangan makro dan pandangan mikro.
Pendekatan lingkungan memandang berbagai faktor dari luar yang
berpengaruh terhadap pola hidup seseorang sehingga menyebabkan dia
memiliki potensi ataupun tidak memiliki potensi untuk menjadi seorang
wirausaha wan.
Fokus utama pendekatan keuangan adalah pada proses penanaman dan
menumbuhkan modal atau uang.
Berdasarkan pendekatan perpindahan, faktor yang bisa mendorong
ataupun menghambat seseorang menjadi wirausaha adalah suasana yang
dialami kelompok.

e EKMA4370/MODUL 1

1.27

RANG KUMA N;.__ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

1)

2)

3)

4)

5)

6)

7)

Terdapat dua jenis cara pandang utama dalam pemikiran mengenai


kewirausahaan, yaitu pandangan makro dan pandangan mikro.
Pandangan makro menunjukkan adanya sejumlah faktor yang
berkaitan dengan sukses atau gagalnya usaha yang dijalankan oleh
seorang wirausahawan. Faktor-faktor ini mencakup berbagai proses
dari luar (eksternal) yang sering kali berada di luar kendali seorang
wirausahawan. Dalam pandangan bersifat makro ini terdapat tiga
pendekatan, yaitu: ling kung an, keuangan dan perpindahan.
Pendekatan lingkungan memandang berbagai faktor dari luar yang
berpengaruh terhadap pola hidup seseorang sehingga menyebabkan
dia memiliki potensi ataupun tidak memiliki potensi untuk menjadi
seorang wirausahawan.
Pendekatan keuangan terutama memfokuskan perhatian pada proses
penanaman dan menumbuhkan modal atau uang. Sebagian pihak
memang memandang kewirausahaan hanya sebagai proses
mengembangkan atau menggandakan uang, sementara pandangan
yang lain berpendapat bahwa proses keuangan ini hanyalah salah
satu segmen saj a dari kegiatan kewirausahaan.
Berdasarkan pendekatan perpindahan, suasana yang dialami
kelompok bisa mendorong ataupun menghambat munculnya faktorfaktor yang menyebabkan seseorang menjadi wirausaha.
Pandangan mikro membahas terutama faktor-faktor yang khas dari
kewirausahaan, yaitu terutama yang muncul dari dalam diri
wirausahawan sendiri. Dalam pandangan mikro terdapat tiga jenis
pendekatan, yaitu pendekatan ciri, pendekatan peluang usaha dan
pendekatan strategis.
Pendekatan proses merupakan cara lain untuk mengamati kegiatan
yang tercakup dalam kewirausahaan. Dalam pendekatan ini
sebenamya sudah banyak metode dan model yang dikembangkan
dalam rangka menstrukturkan proses kewirausahaan, tetapi
pembahasan hanya akan dilakukan terhadap tiga jenis pendekatan
yang sifatnya lebih tradisional yaitu Pendekatan Entrepreneurial
Events, Pendekatan Assessment Process, dan Pendekatan
Multidimensional.
Intrapreneur mengembangkan semangat kewirausahaan dalam suatu
organisasi, sehingga menyebabkan tumbuhnya atmosfer atau
suasana inovatif dalam organisasi tersebut. Intrapreneur secara
sukarela mengambil tanggung jawab untuk menciptakan temuantemuan baru yang bermanfaat dalam suatu organisasi.

1.28

KEWIRAUSAHAAN

T E S

F 0 R MAT IF 2= - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1)

Pendekatan atau cara pandang yang berkaitan dengan berbagai faktor


dari luar yang berpengaruh terhadap pola hidup seseorang sehingga
menyebabkan dia memiliki potensi ataupun tidak memiliki potensi untuk
menjadi seorang wirausahawan disebut pendekatan ....
A. lingkungan
B. multidimensional
C. assesment process
D. keuangan

2)

Salah satu pendekatan dalam pandangan makro ini antara lain


pendekatan ....
A. multidimensional
B. perpindahan
C. assesment process
D. entrepreneurial events

3)

Suasana yang dialami kelompok bisa mendorong ataupun menghambat


munculnya faktor-faktor yang menyebabkan seseorang menjadi
wirausaha.
Hal ini merupakan pandangan pendekatan ....
A. keuangan
B. lingkungan
C. perpindahan
D. multidimensional

4)

Pandangan yang membahas faktor-faktor yang khas dari kewirausahaan,


terutama aspek yang muncul dari dalam diri wirausahawan sendiri
adalah merupakan pandangan ....
A. makro
B. keuangan
C. perpindahan
D. mikro

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

1.29

EKMA4370/MODUL 1

Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.

1.30

KEWIRAUSAHAAN

Kunci Jawaban Tes Format if


Tes Formatif 1
1)
2)
3)
4)

A
D
D
D

5)

Tes Formatif2
1)
2)
3)
4)

A
B

c
D

e EKMA4370/MODUL 1

1. 31

Daft ar Pust aka


Boyd and Gumpert. (1985). Coping with Entrepreneurial Stress. Harvard
Business Review, Nov, Dec.
Bruce G. Whiting. (1988). Creativity and Entrepreneurship: How Do They
Relate? Journal of Creative Behavior 22, No.3.
Donald M. Dible. (1980). Small Business Success Secrets. The Entrepreneur
Press.
Doris Shallcross, Anthony M. Gawienowski. (1989). ''Top Experts Address
Issues on Creativity Gap in Higher Education. Journal of Creative
Behavior 23, No.2.
Douglas W. Naffziger, Jeffrey S. Hornsby, and Donald F. Kuratko. (1994).
"A Proposed Research Model of Entrepreneurial Motivation",
Entrepreneurship Theory and Practice. Spring.
Edward de Bono. (1970). Lateral Thinking, Creativity Step by Step. New
York: Harper & Row.
Eugene Staley, Richard Morse. (1965). Modern Small Industry for
Developing Countries. McGraw-Hill.
John J. Kao. (1991). The Entrepreneur. Englewood Cliffs, New Jersey:
Prentice-Hall.
Manfred P.R. Kets de Vries. (1985). The Dark Side of Entrepreneurship.
Harvard Business Review, Nov, Dec.
Michael Kirton. (1976). Adaptors and Innovators: A Description and
Measure. Journal of Applied Psychology, Oct.
Peter F. Drucker. (1985). Innovation and Entrepreneurship. New York,
Harper & Row.

1.32

KEWIRAUSAHAAN

Peter R. Dickson. (1994). Marketing Management. (Fort Worth, TX), The


Dryden Press.
Peter R. Dickson. (2000). Marketing Research and Information Systems,
Marketing Best Practices. Ft. Worth, TX : Harcourt College Publishers.
Program Orientasi Industri Kecil dan Menengah di Perguruan Tinggi. (2007).
Paket 1 Pelatihan IKM untuk Wisudawan Perguruan Tinggi. Bandung:
Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen
Perindustrian Republik Indonesia dan SBHL Consulting.
S.B. Hari Lubis. (1984). Caracteristiques des Dirigeants, Degre de
Croissance et Types d'Organization Dans Les Petites Entreprises en
Indonesia. Etude de 61 Firmes Industrielles de Textile. Disertasi Doktor,
IAE Grenoble-Prancis.
Stephen W McDaniel and A. Parasuraman. (1986). "Practical Guidelines for
Small Business Marketing Research". Journal of Small Business
Management, Jan.
Thomas Monroy and Robert Folger. (1993). "A Typology of Entrepreneurial
Styles : Beyond Economic Rationality. Journal of Positive Entreprise IX,
No.2.
Timothy A. Matherly and Ronald E. Goldsmith. (1985). The Two Faces of
Creativity. Business Horizons, Sept/Oct.

MDDUL 2

Kar akt er i st i k dan Fakt or Ri si ko


dal am Kewi rausahaan
Dr. lr. S B. Hari Lubis
PENDAHULUAN

ebelum membahas lebih dalam tentang kewirausahaan, mari kita


renungkan beberapa pertanyaan berikut.
1. Saat ini jumlah penduduk Indonesia mencapai kurang lebih 238 juta
orang dan tingkat pengangguran mencapai kurang lebih 12,6 juta orang.
Siapakah pihak yang dapat mengurangi jumlah pengangguran dengan
membuka lapangan pekerjaan?
2. Indonesia mempunyai sumber kekayaan alam yang melimpah dan
tanahnya dikenal subur. Siapakah yang akan mengembangkannya untuk
kemakmuran ban gsa Indonesia?
Jawabannya tidak lain adalah para wirausahawan. Para wirausahawan
inilah yang akan menggerakkan roda perekonomian negara. Merekalah yang
mampu mengenali dan memanfaatkan peluang dan selanjutnya mengubah
peluang tersebut menjadi suatu usaha yang layak dilaksanakan. Berdasarkan
uraian di atas tergambar betapa besar peran para wirausahawan ini. Berkaitan
dengan hal itu McClelland mengatakan bahwa suatu negara akan mampu
mencapai kemakmuran jika jumlah wirausahawan negara tersebut paling
sedikit mencapai 2% dari jumlah penduduknya.
Dengan menggunakan patokan angka 2% dari McClelland tersebut,
dengan asumsi jumlah penduduk saat ini 238 juta, berarti negara Indonesia
memerlukan 4,76 juta wirausahawan yang tangguh. Andaikata rata-rata setiap
satu wirausahawan mampu menyerap sepuluh orang pekerja, maka akan
tercipta lapangan kerja untuk 41 juta penduduk. Dengan asumsi setiap
pekerja menanggung beban 4 orang, maka sebanyak 164 juta orang akan
terbantu kehidupannya. Dilihat dari segi penerimaan negara, andaikata ratarata seorang wirausahawan membayar pajak per bulan sebesar 10 juta, maka

2.2

KEWIRAUSAHAAN

negara akan mendapatkan penerimaan pajak sebesar 41 triliun per bulan atau
492 triliun per tahun.
Berdasarkan gambaran di atas, tergambar betapa besar peran para
wirausahawan ini dalam menggerakkan roda perekonomian suatu negara.
Oleh karena itu, dalam Modul 2 ini kami perlu membahas secara khusus
mengenai wirausahawan ini. Setelah mempelajari modul ini, diharapkan
mahasiswa mampu:
1. menjelaskan siapa sebenarnya wirausahawan;
2. menjelaskan sumber Informasi dalam mempelajari kewirausahawan;
3. menjelaskan ciri-ciri wirausahawan;
4. menjelaskan "sisi gelap" wirausahawan;
5. menjelaskan motivasi wirausahawan.

2.3

EKMA4370/ MODUL 2

KEGIATAN

BELAL.JAR

Ka r a k t e r i st i k Wi r au sa haw an
enelitian terhadap penciptaan usaha baru diawali dengan mempelajari
ciri-ciri psikologis para entrepreneur (wirausahawan). Lama-kelamaan,
ciri-ciri individual ini dibongkar, dijungkirbalikkan, dan akhirnya disadari
telah diukur dengan cara yang salah. Akibatnya, muncul kecenderungan
untuk mengukur faktor apapun, asal bukan mengukur tentang orangnya.
Kondisi ekonomi dianggap merupakan unsur yang penting, juga pemasaran,
keuangan, dan sebagainya. Tapi, keseluruhan unsur-unsur ini tidak akan
mampu menciptakan usaha baru. Tetap saja diperlukan seseorang yang
menggabungkan keseluruhan unsur tersebut dalam pikirannya, yang
meyakini bahwa inovasi memang dimungkinkan, dan memiliki motivasi
untuk tetap bertahan hingga pekerj aan terlaksana.

A. ENTREPRENEUR (WIRA US AHA WAN)


Generasi muda abad ke-21 di Amerika sering kali dinamakan generasi X
karena mereka sering merasa diasingkan (exile) dari peluang-peluang
tradisional. Generasi abad ke-21 ini mungkin lebih tepat disebut Generasi E
karena merupakan generasi yang paling bersifat entrepreneur sejak Revolusi
Industri. Hampir 5,6 juta orang Amerika yang berusia kurang dari 34 tahun
sedang mencoba mengembangkan usaha baru milik sendiri. Sepertiga dari
entrepreneur baru ini usianya kurang dari 30 tahun. Lebih dari 60%
penduduk yang berusia antara 18 hingga 29 tahun ternyata ingin memiliki
usaha sendiri, dan hampir 80% calon pengusaha berumur antara 18 tahun
hingga 34 tahun.
Setiap orang memiliki potensi dan bebas untuk memilih menjadi
entrepreneur. Apa yang sebenarnya mendorong seseorang memilih menjadi
entrepreneur belum teridentifikasi,
walaupun sebenarnya proses
kewirausahaan terus-menerus dipelajari untuk memahami kekuatan yang
mendorong seseorang menjadi entrepreneur.
Modul ini mencoba lebih menjelaskan sisi individual dan sisi psikologis
entrepreneur. Selain itu akan dijelaskan ciri-ciri umum yang sering dianggap
berkaitan dengan entrepreneur yang sukses, dan juga elemen-elemen yang
menyebabkan kegagalan. Dengan cara seperti ini diharapkan dapat diperoleh

2.4

KEWIRAUSAHAAN

pemahaman yang lengkap tentang perilaku entrepreneur, sehingga


pemahaman tersebut bisa menjadi acuan untuk mengukur potensi setiap
orang untuk menjadi pengusaha.

B. SlAPA SEBENARNYA ENTREPRENEUR?


Entrepreneur dianggap menjadi landasan dari sistem usaha dalam
perekonomian Amerika. Enterpreneur dianggap sebagai pelaku usaha yang
selalu memperbaharui diri dalam perekonomian. Entrepreneur biasanya
didefinisikan sebagai pihak yang menanggung risiko dalam penciptaan usaha
baru, sehingga biasanya merupakan orang yang optimis, pekerja keras yang
berpendirian teguh, yang memperoleh kepuasan besar karena mampu
mencari nafkah secara mandiri. Memulai usaha bukan hanya memerlukan
gagasan, tetapi juga memerlukan orang yang istimewa, yakni seorang
entrepreneur yang menggunakan rencana dan pertimbangan yang tepat, serta
kesediaan menanggung risiko untuk mendukung keberhasilan usahanya.
Didorong oleh rasa tanggung jawab yang besar dan daya tahan yang
teguh, entrepreneur biasanya bekerja sangat keras. Entrepreneur biasanya
merupakan seseorang yang optimis sehingga menganggap cangkir yang
hanya terisi setengahnya sebagai cangkir setengah penuh, sementara orang
yang pesimis menganggapnya sebagai cangkir setengah kosong. Mereka
sangat menghargai integritas dan sangat bersemangat berusaha mencapai
keberhasilan. Mereka memanfaatkan kesalahan sebagai bahan untuk belajar,
sehingga dengan penuh rasa percaya diri para entrepreneur kebanyakan
meyakini bahwa mereka sendirian mampu meningkatkan basil usaha yang
mereka j alankan.
Banyaknya usaha baru yang gagal menunjukkan sulitnya membuka dan
menjalankan usaha. Kegagalan usaha baru paling sering terjadi karena
pengusaha baru biasanya tidak memiliki pengalaman maupun kemampuan
yang memadai. Tetapi faktor-faktor apa saja yang sebenarnya bisa membuat
perusahaan sukses? Apakah faktor-faktor ini sesuai dengan komponenkomponen entrepreneurship. Bagian ini akan mencoba untuk membahas
masalah tersebut.

EKMA4370/MODUL 2

2.5

C. SUMBER INFORMASI DALAM MEMPELAJARI


ENTREPRENEURSHIP (KEWIRAUSAHAAN)
Terdapat tiga jenis sumber informasi yang utama dalam usaha untuk
memahami entrepreneurship, yakni berbagai jenis publikasi, baik yang
bersifat populer maupun yang bersifat ilmiah, seperti berikut ini.
1. Jumal teknis dan profesional.
2. Text book entrepreneurship.
3. B uku-buku tentang entrepreneurship bersifat petunjuk praktis (how-to)
yang ditulis oleh para praktisi yang memang memiliki pengalaman
aktual di lapangan.
4. Biografi atau otobiografi dari para entreprenenur.
5. Surat kabar.
6. Buletin lembaga-lembaga yang kegiatannya berkaitan dengan pembinaan
usaha baru.
7. Proceeding konferensi mengenai entrepreneurship.
8. Berbagai publikasi pemerintah yang relevan.
Sumber informasi kedua untuk memahami entrepreneurship datang dari
pengamatan langsung terhadap entrepreneur dan kegiatan yang mereka
lakukan di lapangan. Melalui pengamatan, wawancara dan studi kasus,
dicoba dipelajari pengalaman para entrepreneur dalam menjalankan
usahanya, yaitu untuk memahami ciri, karakteristik, dan kepribadian masingmasing entrepreneur sehingga bisa ditemukan profil entrepreneur secara
umum.
Sumber informasi lain adalah pidato atau presentasi para entrepreneur,
misalnya dalam seminar, loka karya ataupun dalam pertemuan lainnya.
W alaupun tidak memberikan keterangan yang mendalam, tetapi informasi
semacam ini bisa memberikan peluang untuk memahami cara berpikir para
Entrepreneur.

2.6

KEWIRAUSAHAAN

D. KARAKTERISTIK ENTREPRENEUR
1

John Kao menunjukkan beberapa karakteristik umum entrepreneur


berikut ini.
1. Bertanggung jawab penuh, berhati yang teguh, dan memiliki daya tahan
yang tinggi.
2. Memiliki dorongan yang kuat untuk berhasil maupun untuk tumbuh.
3. Berorientasi pada peluang dan memiliki sasaran yang jelas.
4. Berinisiatif dan bersedia memikul tanggung jawab secara pribadi.
5. Memiliki ketekunan dalam memecahkan masalah.
6. Realistis dan mampu menghargai humor.
7. Mencoba memperoleh umpan balik dan memanfaatkannya.
8. Menginginkan kebebasan mengatur diri sendiri (internal locus of
control).
9. Bersedia menanggung risiko yang terhitung.
10. Tidak mengindahkan status dan tidak tertarik pada kekuasaan.
11. Memiliki integritas dan merupakan seseorang yang bisa dipercaya.
Seorang peneliti mendeskripsikan entrepreneurship sebagai berikut:
Cal on entrepreneur biasanya memiliki impian, ingin mencapai "pulau
pri badi t em pat unt uk membangun" , menci pta, dan mengubah i mpi an
mereka menj adi kenyataan. rv1enj adi entrepreneur seakan memiliki
pul au i mpi an dan yang Iebi h pent i ng adal ah memi I i ki perahu dan
kesediaan bekerj a, mendayung perahu menuj u pulau impian.
Sebagian orang hanya sanggup berputar-putar sekitar pantai tidak
mampu mencapai tuj uan karena tidak paham cara mendayung maupun
cara mengendalikan perahu. Lebih buruk lagi adalah orang-orang yang
tetap di darat dan tidak masuk ke dalam perahu karena merasa takut.
Tetapi, para pemimpi ini suatu saat mungkin berubah menjadi
entrepreneur j i ka mereka mampu mengarahkan berbagai j eni s sumber,
dari luar maupun dari dalam, untuk mengubah impian mereka menj adi
kenyataan. Setiap orang memiliki impian, tetapi mimpi entrepreneur
adalah tentang usaha.

John J.Kao, The Entrepreneur, Englewood Cliffs, New Jersey : Prentice-Hall, 1991,
dalam Kuratko, hal. 97.

EKMA4370/MODUL 2

2.7

Stevenson dan Gumpert menunjukkan bahwa seseorang yang bersifat


entrepreneur biasanya imajinatif, fleksibel, dan bersedia menanggung risiko.
Selanjutnya, Hornaday mempelajari berbagai jenis literatur dan menyusun
42 ciri yang dikatakan biasanya dimiliki oleh seorang entrepreneur. Di
bawah ini ciri-ciri yang sering dianggap dimiliki entrepreneur, adalah berikut
. . 2
Inl.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
2

Percaya diri.
Memiliki daya tahan dan keteguhan hati yang kuat.
Penuh energi dan tekun.
Memiliki banyak akal.
Kemampuan untuk mengambil risiko terhitung.
Dinamis dan memiliki kepemimpinan.
Optimis.
Memiliki dorongan untuk berhasil.
Memiliki aneka rag am kemampuan, pemahaman mengenai produk,
pasar, peralatan, dan teknologi.
Kreatif.
Memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain.
Memiliki kemampuan untuk membina hubungan baik dengan pihak lain.
B erinisiatif.
Fleksibel.
Cerdas.
Cenderung memiliki sasaran yang jelas.
Menanggapi tantang an secara positif.
Independen.
Menanggapi saran dan kritik secara positif.
Pandai memanfaatkan waktu dan efisien.
Kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat.
Bertanggung jawab.
Mampu melihat ke masa depan.
Memiliki ketelitian dan pengamatan yang lengkap.
Mampu bekerja sama.
Kecenderungan pada keuntungan.
Kemampuan untuk belajar dari kesalahan.
Kemampuan memahami kekuasaan.

Kuratko, hal. 98.

2.8

KEWIRAUSAHAAN

29.
30.
31.
32.
33.
34.
3 5.
36.
37.
38.
39.
40.

Memiliki kepribadian yang menyenangkan.


Memiliki harga diri.
Memiliki keberanian.
Memiliki imajinasi.
Cepat paham.
Mampu menerima situasi mendua.
Agresif.
Memiliki kemampuan untuk menikmati kegembiraan.
Efektif.
Menepati janji.
Kemampuan untuk mempercayai karyawan.
Peka terhadap orang lain.
41. Jujur dan memiliki integritas.
42. Memiliki kedewasaan dan keseimbangan.

Kewirausahaan juga sering kali dianggap sebagai basil interaksi berbagai


jenis keterampilan berikut. Kontrol diri, perencanaan dan penetapan sasaran,
kesediaan menanggung risiko, inovasi, pemahaman terhadap realitas,
pemanfaatan umpan balik, pengambilan keputusan, hubungan antarmanusia,
dan kebebasan. Selain itu banyak pihak yang percaya bahwa entrepreneur
yang sukses adalah seseorang yang tidak takut menghadapi kegagalan.

Sekarang ini sepuluh karakteristik entrepreneur yang paling ser1ng


3
muncul adalah Karakteristik Enterpreneur A bad 21, yang terdiri dari:
1. mampu mengenali dan memanfaatkan peluang;
2. memiliki aneka ragam kemampuan;
3. kreatif;
4. memiliki impian masa depan;
5. berpikiran bebas;
6. pekerj a keras;
7. optimis;
8. penemu sesuatu yang baru (inovator);
9. berani mengambil risiko;
10. memiliki jiwa pemimpin.

Kuratko, hal. 99.

EKMA4370/MODUL 2

2.9

Ciri-ciri baru terus-menerus ditambahkan pada 10 karakteristik


entrepreneur tersebut.
Berikut ini dicoba memberikan penjelasan yang lebih lengkap terhadap
beberapa karakteristik entrepreneur yang paling sering muncul. W alaupun
belum lengkap, tetapi penjelasan ini diharapkan mampu memberikan
pemahaman yang lebih mendalam mengenai kewirausahaan.

1.

Menepati Janji, Daya Tahan, Keteguhan Hati yang Kuat

Melebihi berbagai faktor lainnya, keteguhan hati yang kuat untuk


berhasil membuat entrepreneur mampu mengatasi berbagai jenis hambatan
maupun kegagalan. Keteguhan hati yang kuat disertai tekad yang kuat
membuat entrepreneur mampu mengatasi kesulitan dan hambatan yang oleh
kebanyakan orang dianggap tidak akan dapat diatasi. Entrepreneur tidak
jarang harus menggadaikan rumah tempat ia tinggal, mengurangi gajinya
sendiri, mengorbankan waktu untuk berkumpul dengan keluarga, dan
mengurangi kenyamanan hidupnya demi keberhasilan mencapai tujuan.

2.

Dorongan untuk Berhasil

Entrepreneur biasanya memacu dirinya sendiri dan memiliki dorongan


internal yang kuat untuk bersaing, melampaui standar yang ia buat sendiri,
dan berusaha mencapai sasaran yang menantang. Kebutuhan untuk mencapai
keberhasilan (prestasi) banyak dibahas dalam tulisan mengenai entrepreneur
yang dipelopori oleh David McClelland di tahun-tahun 1950-1960an
mengenai motivasi. Seseorang dengan keinginan yang tinggi untuk berhasil
ternyata merupakan pengambil risiko yang moderat. Mereka mengamati
situasi, kemudian menetapkan taktik untuk meningkatkan besarnya
kemungkinan berhasil. Karena itu, keputusan yang dianggap mengandung
risiko yang tinggi oleh orang biasa sering kali dianggap sebagai keputusan
dengan risiko yang moderat oleh entrepreneur yang memiliki dorongan kuat
untuk berhasil.

3.

Berorientasi pada Peluang

Entrepreneur yang berhasil dan memiliki pikiran terbuka pada umumnya


memiliki pola yang jelas, yaitu perhatiannya lebih terpusat pada peluang
daripada terhadap sumber, struktur, ataupun terhadap strategi. Mereka
memulai usaha dari peluang dan pemahaman mereka terhadap peluang selalu
menjadi acuan dalam menyelesaikan berbagai jenis permasalahan. Dalam

2.10

KEWIRAUSAHAAN

berbagai tindakan, para entrepreneur ini selalu mengacu pada tujuan untuk
memanfaatkan peluang. Biasanya mereka menetapkan sasaran yang
cenderung tinggi tetapi masih memungkinkan untuk dicapai, sehingga bisa
menghemat energi, mampu menyeleksi peluang dengan cermat, dan paham
kapan harus mengatakan tidak. Kecenderungan terhadap sasaran juga
membuat mereka mampu menetapkan prioritas, menentukan ukuran
keberhasilan pencapaiannya, sehingga dia dapat mengukur sebaik apa kinerja
yang telah dicapai.

4.

Berinisiatif dan Bertanggung Jawab


Sejak lama para entrepreneur dipandang sebagai inovator yang
independen dan juga memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kebanyakan
peneliti menyepakati bahwa para entrepreneur merupakan pihak yang secara
aktif mengambil inisiatif. Mereka bersedia menjadi penanggung jawab
keberhasilan ataupun kegagalan suatu kegiatan. Mereka juga merupakan
pengambil inisiatif dalam pemecahan masalah atau dalam mengisi
kekosongan kepemimpinan. Mereka menyukai situasi di mana dampak dari
kehadiran ataupun keikutsertaan mereka bisa terlihat dengan jelas. Ini
dianggap merupakan ekspresi dari fitrah entrepreneur yang cenderung
bertindak.
5.

Memiliki Ketekunan dalam Pemecahan Masalah


Entrepreneur tidak terganggu oleh situasi yang sulit. Mereka memiliki
rasa percaya diri yang tinggi, optimis, sehingga menganggap kondisi yang
sulit akan segera berlalu. Tetapi, sikap semacam ini bukan muncul karena
para entrepreneur bersikap "bagaimana nanti" ataupun karena "keras kepala"
dalam menghadapi hambatan. Jika permasalahan yang menghambat terlalu
mudah ataupun mustahil bisa diselesaikan, sering kali entrepreneur yang
lebih dulu menyerah. Permasalahan yang terlalu mudah mereka anggap
membosankan, sedang permasalahan yang mustahil bisa diselesaikan mereka
anggap sebagai penghamburan waktu. W alaupun entrepreneur biasanya
sangat 'keras hati', tetapi mereka tetap realistis sehingga menyadari apa yang
bisa ataupun tidak mungkin diselesaikan. Mereka juga biasanya paham di
mana bisa memperoleh bantuan untuk menyelesaikan permasalahan yang
sulit dan tampak seakan tidak terhindarkan.

EKMA4370/MODUL 2

2. 11

6.

Mencoba Memperoleh Umpan balik


Enterpreneur yang berhasil sering digambarkan sebagai pembelajar yang
baik. Tidak seperti orang biasa, mereka menonjol sekali keinginannya untuk
mengetahui, untuk berbuat, dan memperbaiki kinerja mereka. Karena itu para
entrepreneur secara aktif mencari dan memanfaatkan umpan balik. Umpan
balik ini juga merupakan acuan utama yang mereka gunakan dalam belajar,
baik dari kegagalan maupun dari kemunduran.

7.

Kebebasan Mengatur Diri Sendiri (Internal Locus of Control)


Entrepreneur yang berhasil selalu percaya kepada dirinya sendiri.
Mereka tidak percaya bahwa keberhasilan ataupun kegagalan usaha yang
mereka jalankan bersumber dari kemujuran, kesialan, takdir, ataupun
kekuatan sejenis. Mereka lebih percaya bahwa kemajuan ataupun
kemunduran ada di bawah kendali dan pengaruh diri sendiri. Karena itu
mereka bisa mempengaruhi basil dari kegiatan yang mereka jalankan. Ciri ini
selaras dengan perlunya dorongan yang kuat untuk berhasil, keinginan
bertanggung jawab, dan rasa percaya diri yang umumnya dimiliki oleh para
entrepreneur.
8.

Mampu Menerima Situasi Mendua


Entrepreneur yang baru mulai membuka usaha harus terus-menerus
berhadapan dengan ketidakpastian, sehingga harus menghadapi situasi
mendua serta stres dalam setiap langkah dari usaha yang mereka jalankan.
Kegagalan dan berbagai kejutan sering mereka hadapi dan juga berbagai
ketidaksempurnaan lainnya dalam organisasi yang mereka kembangkan.
Entrepreneur yang berhasil tumbuh dan menikmati situasi mendua tersebut.
Rasa aman dalam pekerjaan ataupun pensiun bukanlah situasi yang mereka
inginkan.
9.

Bersedia Menanggung Risiko yang Terhitung


Entrepreneur yang sukses bukan 'penjudi'. Dalam menjalankan usaha,
mereka melakukan perhitungan dan berpikir dengan matang. Mereka
berusaha sebisa mungkin mencapai sukses yang lebih besar dan berusaha
menghindari risiko yang tidak diperlukan. Kadang-kadang para entrepreneur
ini berusaha mengajak orang lain terlibat agar risiko finansial menjadi
berkurang, misalnya dengan membujuk para pemasok agar mau menyediakan
bahan baku dengan pembayaran kemudian, atau meminta pemesan
menyediakan uang muka.

2.12

KEWIRAUSAHAAN

10. Memiliki Integritas dan Bisa Dipercaya


Entrepreneur biasanya memiliki integritas dan bisa dipercaya sehingga
mampu membuat entrepreneur, mengembangkan hubungan usaha yang
mampu bertahan lama. Beberapa pihak seperti pemberi pinjaman, mitra kerja,
konsumen, sangat menghargai kualitas hubungan seperti ini. Faktor integritas
bisa dipercaya membuat hubungan usaha mampu bertahan, sehingga dua
karakteristik ini penting untuk keberhasilan usaha.
11. Tidak Takut Terhadap Kegagalan
Entrepreneur memanfaatkan kegagalan untuk belajar. Proses mencobacoba (trial and error) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam
perjalanan menuju keberhasilan. Entrepreneur yang efektif biasanya
menanggapi kegagalan secara realistis. Mereka tidak kecil hati atau tertekan
menghadapi kemunduran atau kegagalan, malah dalam situasi sulit seperti itu
mereka mencoba mencari peluang. Banyak entrepreneur berpendapat bahwa
mereka belajar lebih banyak dari kegagalan dibanding dari keberhasilan.
12. Penuh Energi
Behan kerja yang besar dan tekanan pekerjaan yang tinggi menuntut
entrepreneur untuk mengutamakan energi. Banyak entrepreneur yang secara
cermat mengatur makanan dan minuman yang dikonsumsi, agar mampu
menghadapi beban kerja yang berat. Mereka berolahraga secara teratur dan
paham waktunya untuk beristirahat.
13. Kreatif dan Inovatif
Kreativitas pada mulanya sering dianggap sebagai bakat yang
diwariskan. Tetapi, sekarang ini mulai muncul pandangan baru bahwa
kreativitas merupakan sesuatu yang bisa dipelajari. Usaha baru sering kali
memiliki kreati vitas kolektif yang muncul sebagai basil us aha bersama
pemilik dan karyawan, sehingga kreativitas kolektif itu mampu menghasilkan
produk dan jasa yang unik.
14. Memiliki Impian (Vision)
Entrepreneur sadar ke arah mana tujuan mereka. Mereka memiliki
gambaran atau pemikiran mengenai masa depan usaha yang mereka jalankan.
Sebagai contoh, Steve Job - pendiri Apple Computer, menginginkan agar
perusahaannya bisa menyediakan komputer kecil yang bisa digunakan semua

EKMA4370/MODUL 2

2.13

orang, mulai anak sekolah hingga pengusaha. Komputer ini bukan hanya
berfungsi sebagai mesin penghitung, namun juga merupakan bagian dari
kehidupan seseorang dalam belajar maupun berkomunikasi. Memiliki
gambaran atau konsep seperti ini membuat Apple menjadi salah satu pemain
utama dalam industri komputer mikro.
Tidak semua entrepreneur memiliki konsep sejak awal usahanya berdiri.
Beberapa entrepreneur mengembangkan konsep usahanya sambil
menjalankan usahanya menjadi besar.

15. Percaya Diri dan Optimis


Walaupun harus menghadapi banyak hambatan, rasa percaya diri para
entrepreneur tidak menjadi luntur. Pada masa sulit mereka tetap
mempertahankan rasa percaya diri dan menunjukkan keteguhan tersebut
kepada orang di sekeliling mereka. Hal ini membuat orang di sekitar mereka
tetap optimis, dan mampu menjaga tingkat rasa percaya diri agar tetap
memadai untuk menjadi kelompok kerja yang handal.
16. Independen
Keinginan untuk independen merupakan kekuatan di belakang
entrepreneur masa kini. Mereka tidak suka terhadap sistem birokrasi, dan
mempunyai keinginan yang kuat untuk menciptakan sesuatu yang berbeda,
disertai dengan kepribadian yang independen dan selalu mencoba
menyelesaikan tugas dengan cara mereka sendiri. Entrepreneur tidak selalu
menetapkan seluruh keputusan sendiri, mereka sering kali hanya memegang
kewenangan untuk menetapkan keputusan-keputusan yang paling penting.
17. Membangun Kelompok Kerja yang Handal (Team Building)
Keinginan untuk menjadi independen dan otonom tidak mengurangi
minat entrepreneur untuk mengembangkan kelompok kerja yang handal.
Entrepreneur yang sukses biasanya memiliki kelompok kerja yang handal
dengan motivasi yang tinggi. Kelompok ini mendukung perkembangan usaha
yang dijalankan. Kenyataan menunjukkan bahwa walaupun arah
pengembangan perusahaan lebih dipahami oleh sang entrepreneur, tetapi
sering kali anggota kelompok kerja lebih mahir menangani pekerjaan dan
permasalahan yang dihadapi sehari-hari.

2.14

KEWIRAUSAHAAN

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)
4)
5)

J elaskan siapa sebenarnya entrepreneur itu?


Sebutkan sumber Informasi dalam mempelajari entrepreneurship
(Kewirausahaan).
Sebutkan karakteristik entrepreneur menurut John Kao.
Sebutkan beberapa ciri-ciri yang sering dianggap dimiliki entrepreneur
menurut Hornaday.
Sebutkan karakteristik enterpreneur di abad 21.

Petunjuk Jawaban Latihan


1)

2)

Entrepreneur biasanya didefinisikan sebagai pihak yang menanggung


risiko dalam penciptaan usaha baru, sehingga biasanya merupakan orang
yang optimis, pekerja keras yang berpendirian teguh, yang memperoleh
kepuasan besar karena mampu mencari nafkah secara mandiri.
Terdapat tiga jenis sumber informasi yang utama dalam usaha untuk
memahami entrepreneurship, yakni pertama, berbagai jenis publikasi,
baik yang bersifat populer maupun yang bersifat ilmiah. Sumber
informasi kedua untuk memahami entrepreneurship datang dari
pengamatan langsung terhadap entrepreneur dan kegiatan yang mereka
lakukan di lapangan. Melalui pengamatan, wawancara dan studi kasus,
dicoba dipelajari pengalaman para entrepreneur dalam menjalankan
usahanya, yaitu untuk memahami ciri, karakteristik, dan kepribadian
masing-masing entrepreneur sehingga bisa ditemukan profil
entrepreneur secara umum.
Sumber informasi ketiga adalah pidato atau presentasi para entrepreneur,
misalnya dalam seminar, loka karya ataupun dalam pertemuan lainnya.
W alaupun tidak memberikan keterangan yang mendalam, tetapi
informasi semacam ini bisa memberikan peluang untuk memahami cara
berpikir para Entrepreneur.

EKMA4370/MODUL 2

2.15

3) John Kao menunjukkan beberapa karakteristik umum entrepreneur di


antaranya adalah
a) bertanggung jawab penuh, berhati yang teguh, dan memiliki daya
tahan yang tinggi;
b) memiliki dorongan yang kuat untuk berhasil maupun untuk tumbuh;
c) berorientasi pada peluang dan memiliki sasaran yang jelas;
d) berinisiatif dan bersedia memikul tanggung jawab secara pribadi;
e) memiliki ketekunan dalam memecahkan masalah;
f) realistis dan mampu menghargai humor;
g) mencoba memperoleh umpan balik dan memanfaatkannya;
h) menginginkan kebebasan mengatur diri sendiri (internal locus of
control);
i) bersedia menanggung risiko yang terhitung;
j) tidak mengindahkan status dan tidak tertarik pada kekuasaan;
k) memiliki integritas dan merupakan seseorang yang bisa dipercaya.
4)

Hornaday mempelajari berbagi jenis literatur dan menyusun 42 ciri yang


dikatakan biasanya dimiliki oleh seorang entrepreneur: Di bawah ini
merupakan sebagian ciri-ciri yang sering dianggap dimiliki
entrepreneur, yaitu:
a) percaya diri;
b) memiliki daya tahan dan keteguhan hati yang kuat;
c) penuh energi dan tekun;
d) memiliki banyak akal;
e) kemampuan untuk mengambil risiko terhitung;
f) dinamis dan memiliki kepemimpinan;
g) optimis;
h) memiliki dorongan untuk berhasil;
i) memiliki aneka ragam kemampuan, pemahaman mengenai produk,
pasar, peralatan, dan teknologi;
j) kreatif;
k) dan sebagainya (lihat kembali uraian di atas).

John J.Kao, The Entrepreneur, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, 1991,
dalam Kuratko, hal. 97.

2.16

KEWIRAUSAHAAN

Karakteristik Enterpreneur Abad 21 terdiri dari:


a) mampu mengenali dan memanfaatkan peluang;
b) memiliki aneka ragam kemampuan;
c) kreatif;
d) memiliki impian masa depan;
e) berpikiran bebas;
f) pekerj a keras;
g) optimis;
h) penemu sesuatu yang baru (inovator);
i) berani mengambil risiko;
j) memiliki jiwa pemimpin.

5)

RANGKUMAN

1.

2.

3.

4.

Memulai usaha bukan hanya memerlukan gagasan, tetapi juga


memerlukan orang yang istimewa, yakni seorang entrepreneur yang
menggunakan rencana dan pertimbangan yang tepat, serta kesediaan
menanggung risiko untuk mendukung keberhasilan usahanya.
Banyaknya usaha baru yang gagal menunjukkan sulitnya membuka
dan menjalankan usaha. Kegagalan usaha baru paling sering terjadi
karena pengusaha baru biasanya tidak memiliki pengalaman
maupun kemampuan yang memadai.
Para entrepreneur tersebut memanfaatkan kesalahan sebagai bahan
untuk belajar, sehingga dengan penuh rasa percaya diri para
entrepreneur kebanyakan meyakini bahwa mereka sendirian mampu
meningkatkan hasil usaha yang mereka jalankan.
Kewirausahaan juga sering kali dianggap sebagai hasil interaksi
berbagai jenis keterampilan berikut: kontrol diri, perencanaan dan
penetapan sasaran, kesediaan menanggung risiko, inovasi,
pemahaman terhadap realitas, pemanfaatan umpan-balik,
pengambilan keputusan, hubungan antar manusia, dan kebebasan.
Selain itu banyak pihak yang percaya bahwa entrepreneur yang
sukses adalah seseorang yang tidak takut menghadapi kegagalan.

2.17

e EKMA4370/MODUL 2

T E S

F' 0 R MAT I F'

1_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!

1) Generasi abad ke- 21 di Amerika Serikat disebut dengan istilah


generas1 ....
A. G
B. X
C. E
D. XY

2) lstilah yang lebih tepat untuk generasi abad ke- 21 adalah ....
A. G
B. X
C. E
D. XY
3)

Pihak yang menanggung risiko dalam penciptaan usaha baru, sehingga


biasanya merupakan orang yang optimis, pekerja keras yang
berpendirian teguh, yang memperoleh kepuasan besar karena mampu
mencari nafkah secara mandiri disebut ....
A. kewirausahaan
B. wirausaha
C. pedagang
D. saudagar

4)

Salah satu jenis sumber informasi untuk memahami entrepreneurship


dari jenis publikasi, baik yang bersifat populer maupun yang bersifat
ilmiah, antara lain ....
A. jumal teknis dan profesional
B. observasi
C. pengamatan
D. pidato entrepreneur

5)

Seseorang yang mempunyai keinginan yang tinggi untuk berhasil,


menurut McClelland ternyata orang tersebut ....
A. takut mengambil risiko
B. senang berspekulasi
C. senang dengan risiko
D. pengambil risiko yang moderat

2.18

KEWIRAUSAHAAN

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.

2.19

EKMA4370/MODUL 2

KEGIATAN

BELAL.JAR

Fakt or Ri si ko dal am
Kehi dupan Entrepreneur
ita sering mendengar kisah sukses entrepreneur. Mungkin kita sering
melihat buku-buku yang menceritakan kisah sukses pengusaha.
Mereka yang telah berhasil dengan bangga akan menceritakan bagaimana dia
mencapai kesuksesan, kiat-kiat apa yang menj adikan dia seperti sekarang ini.
Sekedar mengagumi kesuksesan entrepreneur tidaklah cukup, karena harus
disadari bahwa dibalik kesuksesan para entrepreneur tersebut, banyak kisah
duka, cerita-cerita kegagalan dan kerja keras yang harus mereka dilalui.
Berbagai bentuk kegagalan yang dialami para entrepreneur inilah yang
justru membuat mereka semakin tegar dan semakin matang dalam
menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan usahanya.

A. SISI NEGATIF DALAM KEHIDUPAN ENTREPRENEUR


Seperti telah dijelaskan di atas, ternyata ada juga sisi gelap (negatif)
dalam kehidupan para entrepreneur, walaupun yang lebih sering
digambarkan adalah keberhasilan dan pencapaian mereka. Sisi gelap ini
terjadi karena dorongan yang kuat dan penuh energi dari para entrepreneur
dalam menjalankan usahanya, dan ternyata hal ini membawa akibat yang
sifatnya merusak. Dalam mempelajari dua sisi dari kehidupan entrepreneur
ini, Manfred Kets de Vries menunjukkan keberadaan faktor-faktor negatif
5
yang bisa mempengaruhi perilaku para entrepreneur . Penting bagi para
entrepreneur untuk memahami faktor-faktor negatif ini.

B. ENTREPRENEUR BERHADAPAN DENGAN RISIKO


Seseorang yang membeli atau memulai usaha akan menghadapi risiko.
Makin besar keuntungan yang diperkirakan akan diperoleh dari usaha yang
dijalankan, makin tinggi juga biasanya risiko yang harus dihadapi. Hal ini

Manfred F.R.Kets de Vries, "The Dark Side of Entrepreneurship", Harvard Business


Review (Nov, Dec 1985): 160-167, dalam Kuratko hal. 104.

2.20

KEWIRAUSAHAAN

yang menyebabkan para entrepreneur cenderung menghitung risiko dengan


cara berhati-hati.
Untuk menjelaskan bagaimana cara entrepreneur menghadapi risiko,
Thomas Monroy dan Robert Folger mengembangkan pengelompokan gaya
entrepreneur. Gambar 2.1 di halaman berikut mengelompokkan entrepreneur
menurut (1) risiko finansial yang dihadapi entrepreneur dalam
mengembangkan usaha baru, dan (2) besamya harapan untuk mendapatkan
keuntungan dari usaha yang dijalankan (profit motive).
Kegiatan mencari keuntungan (profit seeking) diartikan sebagai
keinginan yang kuat untuk memaksimumkan keuntungan, sedangkan activity
seeking menjelaskan berbagai corak kegiatan yang diinginkan karena sesuai
dengan sifat para entrepreneur, misalnya kebebasan dalam melaksanakan
kerja.
Ada berbagai macam profil orang yang berhasil memunculkan inovasi
dan memulai usaha. Mereka memang berbeda dari orang kebanyakan,
misalnya dalam hal kesediaan mereka menghadapi risiko, kemampuan
bertahan dalam situasi mendua yang tidak jelas.
Rendah

~--

Tingkat
Resiko Finansial
yang Dihadapi

--~

Tinggi

Rendah

Kuatnya
Keinginan
untuk
Memperoleh
Keuntungan

Menghindari resiko
Menginginkan corak
kegiatan tertentu

Menerima resiko
Menginginkan corak
kegiatan tertentu

Menghindari resiko
Menginginkan
keuntungan

Menerima resiko
Menginginkan
keuntungan

Tinggi

Gambar 2.1.
6
Tipologi Gaya Ent repreneur
6

Thomas Monroy and Robert Folger, "A Typlogy of Entrepreneurial Styles: Beyond
Economic Rationality", Journal of Positive Entreprise IX, no.2 (1993): 64-79, dalam
Kuratko, hal. 105.

2.21

EKMA4370/MODUL 2

Entrepreneur rnenghadapi
dikelornpokkan sebagai berikut.

berbagai

Jems

risiko,

yang

dapat

1.

Risiko Finansial
Harnpir dalarn sernua perintisan usaha baru, terdapat seseorang yang
rnernpertaruhkan uangnya, yang rnungkin saja akan hilang lenyap
sepenuhnya apabila usaha baru tersebut gagal. Entrepreneur sering kali
dituntut untuk rnernpertaruhkan kewajiban perusahaan, yang sebenarnya jauh
lebih besar daripada seluruh harta pribadinya, sehingga sebenarnya para
entrepreneur berpeluang rnenjadi seseorang yang pailit. Karena itu wajar
apabila banyak orang yang tidak bersedia rnenjadi entrepreneur karena tidak
rela rnernpertaruhkan harta sirnpanannya, rurnah tinggal, serta uangnya untuk
rnernulai sebuah usaha baru.
2.

Risiko Karier
Calon entrepreneur sering kali rnernpertanyakan apakah rnereka akan
dapat rnencari pekerjaan baru atau kernbali ke pekerjaan rnereka sernula
apabila usaha rnereka ternyata gagal. Hal ini yang sering kali rnenjadi
pertirnbangan dan harnbatan bagi karyawan yang rnemiliki pekerjaan yang
arnan dan bergaji tinggi, untuk rnenjadi Entrepreneur.
3.

Risiko Keluarga dan Sosial


Mernulai usaha baru sangat rnenguras waktu dan energi yang dimiliki
oleh seorang entrepreneur, sehingga sering rnengganggu kewajibannya yang
lain. Entrepreneur yang sudah berkeluarga kadang-kadang terpaksa
rnengabaikan keluarganya sehingga bisa rnenirnbulkan 'cacat ernosional'
yang perrnanen. Selain itu perternanan rnereka juga sering terganggu karena
entrepreneur selalu disibukkan oleh pekerjaannya.

4.

Risiko Kejiwaan
Boleh jadi, risiko paling besar bagi entrepreneur adalah dalarn aspek
kejiwaan. Uang bisa diganti, rurnah baru bisa dibangun, keluarga dan ternanternan rnungkin bisa rnernaklurni kesibukan seorang entrepreneur. Tetapi,
darnpak psikologis entrepreneur yang pernah gagal sering kali tidak bisa
segera disernbuhkan, dan akhirnya kebanyakan berakibat buruk.

2.22

KEWIRAUSAHAAN

5.

Stress dan Entrepreneur


Kebanyakan entrepreneur menganggap alasan utama mengapa dia
memulai usaha adalah faktor kebebasan. Sering kali sasaran ini berhasil
dicapai oleh seorang entrepreneur, namun dengan pengorbanan yang tidak
kecil. Tidak jarang para entrepreneur tersebut mengidap sakit punggung,
pencemaannya terganggu, mengalami insomnia dan juga sakit kepala. Agar
mampu mencapai sasarannya, yaitu kebebasan, banyak entrepreneur terpaksa
membiarkan stress yang dideritanya sehingga berakibat pada munculnya
berbagai jenis penyakit.

6.

Stress seorang Entrepreneur


Secara umum stress sering dianggap sebagai akibat dari kesenjangan
antara harapan dan tingkat kemampuan seseorang untuk memenuhi
permintaan. Jika seseorang tidak mampu memenuhi tuntutan perannya maka
terjadi stress. Seorang peneliti menunjukkan bagaimana tuntutan peran dan
lingkungan kerja bisa memunculkan stress.
Memulai dan menjalankan usaha menuntut risiko yang cukup tinggi.
Risiko bisa terjadi pada berbagai aspek seperti: finansial, karier, keluarga,
dan sebagainya. Entrepreneur juga dituntut untuk selalu terlibat dalam
kegiatan komunikasi, bergaul dengan berbagai pihak yang relevan seperti
konsumen, pemasok, pemerintah, dan sebagainya yang juga sering membawa
strees.
Walaupun hanya memiliki sumber terbatas, seorang entrepreneur tetap
harus menanggung beban biaya jika perusahaannya membuat kesalahan, dan
juga sambil menjalankan berbagai jenis pekerjaan secara simultan seperti
negosiator, salesman, dan sebagainya. Akibatnya, beban yang harus
ditanggung entrepreneur menjadi berlebihan.
Memiliki dan menjalankan usaha membutuhkan komitmen yang kuat
dengan bersedia mengorbankan waktu dan energi. Hal ini sering kali
dilakukan dengan mengorbankan kepentingan keluarga maupun kegiatan
sosial. Entrepreneur juga biasanya bekerja hanya dengan sejumlah orang
yang terbatas, sehingga ia tidak dapat mengharapkan dukungan sepenuhnya
dari orang-orang di sekelilingnya.
Stress juga bisa muncul karena corak kepribadian entrepreneur. Orang
dengan perilaku tipe A biasanya tidak sabar, penuntut, dan mudah gugup.
Individu seperti ini cenderung terbenam dalam beban kerja yang berat, dan
menangani kebanyakan aspek dari usahanya.

e EKMA4370/MODUL 2

a.
b.

c.
d.
e.

2.23

Ciri yang menonjol dari orang tipe A adalah:


selalu merasa dikejar waktu;
terus-menerus terlibat dalam proyek yang memiliki batas waktu (dead
line), tetapi orang tipe A memang senang apabila merasa tertimbun
pekerjaan;
mengabaikan semua aspek kehidupan lainnya, dan memusatkan
perhatiannya pada pekerjaan;
cenderung mengambil tanggung jawab yang berlebihan, dan sering
merasa bahwa hanya dia yang mampu menyelesaikan permasalahan;
cenderung meledak -ledak, berbicara lebih cepat daripada orang lain,
biasa memaki apabila merasa kecewa, diyakini juga bahwa orang tipe A
sering terserang penyakit jantung.

7.

Somber Stress
Boyd dan Gumpert menemukan empat penyebab munculnya stress di
kalangan Etrepreneur, yaitu (1) kesepian, (2) tenggelam dalam pekerjaan,
(3) permasalahan sumber day a manusia, dan (4) keinginan untuk berhasil.

a.

Kesepian
Walaupun sehari-hari dikelilingi banyak pihak, tetapi entrepreneur
merasa terisolasi jika merasa bahwa orang sekeliling mereka tidak dapat
dipercaya. Bekerja dalam waktu yang lama membuat para entrepreneur
tidak dapat kenyamanan serta dukungan dari ternan-ternan maupun dari
keluarga. Mereka juga cenderung jarang terlibat dalam kegiatan sosial,
kecuali apabila berpeluang untuk dimanfaatkan.

b.

Tenggelam dalam Pekerjaan


Entrepreneur yang sukses sebenamya memperoleh uang dalam jumlah
yang mencukupi untuk dinikmati. Tetapi, mereka tidak memiliki waktu
yang memadai untuk menikmati uang yang berhasil diperoleh karena
kegiatan yang dilakukan tidak 'mengizinkan' para entrepreneur ini
mangkir. Kebanyakan entrepreneur seakan-akan 'menikah' dengan
perusahaannya. Mereka terus-menerus bekerja dan hanya memiliki
waktu yang terbatas untuk rekreasi, mengikuti organisasi
kemasyarakatan ataupun menempuh pendidikan lanjut.

2.24

KEWIRAUSAHAAN

c.

Permasalahan Sumber Daya Manusia


Dalam menjalankan kegiatan, entrepreneur bergantung dan juga harus
bekerja sama dengan mitra, karyawan dan konsumen. Entrepreneur yang
sukses biasanya bersifat perfeksionis, dan juga paham bagaimana suatu
tugas seharusnya diselesaikan. Karena itu, entrepreneur biasanya juga
menghabiskan banyak waktu untuk membuat karyawan yang kurang
terampil ataupun kurang bersemangat menjadi karyawan dengan kinerja
yang baik. Sering kali, usaha Entrepreneur ini menyebabkan karyawan
merasa terganggu.

d.

Keinginan untuk berhasil


Dikatakan bahwa keberhasilan mencapai sesuatu akan membawa
kepuasan. Boyd dan Gumpert menemukan bahwa terdapat perbedaan
yang jelas antara kegagalan karena mencoba mencapai terlalu banyak
dengan gagal untuk mencapai secukupnya. Sering kali entrepreneur
memilih untuk mencoba mencapai terlalu banyak. Banyak dari mereka
yang tidak merasa puas walau berbagai tugas telah dijalankan dengan
baik. Entrepreneur biasanya menyadari bahaya dari keinginan yang tidak
terkendali, tetapi mereka memang biasanya mengalami kesulitan untuk
mengendalikan keinginan mereka untuk berhasil. Entrepreneur pada
umumnya meyakini bahwa jika mereka berhenti atau mengurangi
kecepatan maka akan segera muncul pesaing yang akan menyalip, dan
apa yang sudah mereka bangun akan menjadi hancur.

8.

Menghadapi Stress
Perlu dipahami bahwa tidak semua stress bersifat buruk. Tapi, stress
yang berlebihan dapat mengganggu kehidupan seseorang, juga akan
menurunkan daya tahan tubuh. Jika stress bisa dikendalikan dalam batasbatas yang wajar, maka efisiensi dan kinerja seseorang akan meningkat.
7
Boyd dan Gumpert memberikan sumbangan yang berarti mengenai
penyebab stress yang dihadapi para entrepreneur. Tetapi, yang lebih
berharga, mereka juga memperkenalkan teknik-teknik untuk meredam stress.
Teknik-teknik itu dapat dimanfaatkan oleh para entrepreneur untuk
memperbaiki mutu kehidupan pribadi maupun mutu dari kegiatan usahanya.

Boyd and Gumpert, "Coping with Entrepreneurial Stress", dalam Kuratko, hal. 108.

EKMA4370/ MODUL 2

2.25

Teknik-teknik klasik untuk mengurangi stress seperti meditasi, relaksasi


otot, berolahraga secara rutin memang dapat membantu mengurangi stress.
Boyd dan Gumpert justru mengusulkan agar entrepreneur mencoba
memperjelas penyebab stress yang mereka hadapi. Jika penyebab stress bisa
teridentifikasi, Entrepreneur bisa memerangi stress dengan cara:
a. menyadari keberadaan stress,
b. mengembangkan cara atau mekanisme untuk mengatasi stress, dan
c. mencoba mendalami adanya keinginan-keinginan pribadi yang tidak
disadari.
Berikut ini disajikan cara-cara untuk mengurangi stres adalah sebagai
berikut.
a. Mengembangkan jejaring sesama pengusaha
Salah satu cara untuk mengobati rasa kesepian dalam mengelola usaha
adalah melalui berbagi pengalaman melalui jejaring yang dibentuk
dengan sesama pemilik perusahaan. Mendengar cerita tentang
pengalaman sukses dan juga kegagalan pengusaha yang lain bisa
membawa efek menenangkan.
b.

Liburan
Salah satu cara efektif untuk mengatasi stress menurut beberapa orang
entrepreneur adalah dengan berlibur dan melupakan pekerjaan selama
berlibur. Setelah berlibur kita seakan-akan menjadi orang baru.

c.

Berkomunikasi dengan Karyawan


Entrepreneur berhubungan langsung secara pribadi dengan karyawan
sehingga bisa segera mendapat dukungan perhatian dari karyawannya.
Hubungan yang bersifat pribadi sering tidak muncul pada perusahaan
berukuran besar (misalnya yang bisa dilihat dengan adanya jam kerja
yang fleksibel, kas bon, dan lain-lain). Dalam suasana di mana terdapat
hubungan pribadi dengan entrepreneur, maka karyawan sering kali
menjadi lebih produktif.

d.

Mencari Kepuasan di Luar Perusahaan


Entrepreneur biasanya terikat, seakan-akan terjaring dalam kegiatan
perusahaan. Karena itu kadang-kadang entrepreneur perlu meninggalkan
perusahaan sementara waktu untuk mencari perspektif baru dan menjadi
lebih menyukai kehidupan.

2.26

e.

KEWIRAUSAHAAN

Melakukan Pendelegasian
Implementasi cara mengatasi stress ternyata memerlukan waktu. Karena
itu, entrepreneur perlu melakukan pendelegasian tugas agar ia memiliki
waktu yang memadai untuk mengimplementasikan cara mengatasi
stress. Tetapi, sering kali para entrepreneur tidak bersedia melakukan
pendelegasian karena ia mengira harus sepanjang waktu harus terlibat
dalam kegiatan usaha. Karena itu perlu ditemukan dan dilatih karyawan
yang bisa dipercaya untuk menerima pendelegasian tugas dari
entrepreneur.

C. EGO ENTREPRENEUR
Selain menghadapi risiko dan juga mengalami stress, entrepreneur juga
bisa mengalami akibat negatif dari melambungnya ego. Adanya karakteristik
tertentu yang mendorong para entrepreneur ke arah keberhasilan, juga bisa
membuat mereka terlalu percaya diri secara berlebihan. Berikut ini dijelaskan
empat jenis karakteristik yang berpotensi merusak para entrepreneur.

1.

Keinginan yang Berlebihan untuk Mengontrol


Entrepreneur biasanya memiliki keinginan yang kuat untuk bisa
mengendalikan usaha maupun mengatur masa depan. Keinginan untuk
menjadi pengendali temyata juga membuat para entrepreneur ingin
mengendalikan segalanya, sehingga para entrepreneur biasanya hanya
bersedia bekerj a dalam situasi terstruktur apabila struktur tersebut mereka
buat sendiri. Karena itu, sering muncul masalah dalam bekerja sama, karena
pengendalian dari luar dianggap ancaman bagi independensi entrepreneur.
Karakteristik yang bisa mendorong entrepreneur untuk sukses juga ternyata
bisa membawa pengaruh bersifat negatif.
2.

Rasa Tidak Percaya


Karena harus selalu mengamati pesaing, konsumen, perubahan peraturan
dan berbagai unsur lainnya, maka entrepreneur perlu terus-menerus
memantau lingkungan. Mereka berusaha untuk mengantisipasi dan bisa bertindak lebih dulu daripada pihak lain yang kesadarannya muncul terlambat.
Karena selalu waspada, sering kali perhatian mereka malah terfokus
pada masalah yang tidak penting, dan akibatnya menjadi kehilangan
pemahaman mengenai realitas, menjadi tidak logis, dan akhirnya mengambil

EKMA4370/MODUL 2

2.27

tindakan-tindakan yang sebenamya merusak. Rasa tidak percaya adalah pisau


bermata dua.

3.

Keinginan Berlebihan untuk Terlihat Sukses


Ego dalam diri seorang entrepreneur adalah gejolak yang kuat ingin
selalu berhasil, sekecil apapun peluang untuk mencapai keberhasilan tersebut.
Karena itu banyak entrepreneur tumbuh menjadi orang yang bersikap
menantang, yang terus-menerus berusaha agar terlihat sukses. Proyek pribadi
yang menunjukkan keberhasilannya sering dianggap lebih penting daripada
perusahaannya sendiri. Keinginan untuk berhasil ternyata juga memiliki sisi
negatif.

4.

Optimisme yang Berlebihan


Optimisme para entrepreneur merupakan faktor kunci dalam perjalanan
menuju keberhasilan. Entrepreneur memiliki antusiasme yang tinggi, hingga
akhirnya membentuk optimisme. Hal inilah yang menyebabkan entrepreneur
tetap diikuti walaupun dalam masa sulit. Tetapi, apabila antusiasme itu
berlebihan, maka entrepreneur bisa mengabaikan fakta, kecenderungan,
ataupun suatu laporan, dan bahkan bisa membohongi diri sendiri bahwa
seakan-akan semuanya berjalan lancar. Perilaku semacam ini tidak akan
mampu berhadapan dengan realitas dunia usaha.
Berdasarkan uraian di atas, hendaknya Anda tidak mengartikan bahwa
semua entrepreneur memiliki sifat buruk, tetapi calon entrepreneur perlu
mengetahui bahwa terdapat "sisi gelap" dari entrepreneurship.

D. MOTIVASI ENTREPRENEUR
Mempelajari mengapa seseorang memulai usaha, dan bagaimana mereka
berbeda dari kebanyakan orang yang tidak mencoba membuka usaha ataupun
gagal memulai usaha, dapat memberikan gambaran mengenai motivasi yang
mendorong entrepreneur waktu awal memulai usaha, dan ternyata hal itu
berkaitan dengan perilaku yang ditunjukkannya kemudian dalam menjaga
kelangsungan hidup perusahaan.
W alaupun penelitian tentang karakteristik psikologis entrepreneur belum
mampu menunjukkan profil entrepreneur yang bisa disepakati semua pihak,
tetapi penting untuk mengenali kontribusi faktor-faktor psikologis terhadap
proses entrepreneurial. Penelitian terhadap penciptaan usaha baru dan

2.28

KEWIRAUSAHAAN

kesediaan untuk mempertahankan usaha tersebut sebenarnya berhubungan


langsung dengan motivasi entrepreneur. Salah satu studi menunjukkan peran
penting kepuasan terhadap kesediaan entrepreneur untuk bertahan di
perusahaan. Jenis sasaran, sikap, latar belakang, merupakan faktor-faktor
penentu kepuasan entrepreneur. Penelitian sejenis mencoba memeriksa
proses tumbuhnya motivasi yang dialami entrepreneur seperti yang disajikan
8
pada Gambar 2.2. berikut ini .
Pembanding
Manfaat
an hasil I
instrinsik I
1~'------------~
ekspektasi
ekstrinsik
'

KP

LP

SP

Keputusan
"
../"
utk menjadi
~/ ".lr
,___ _ _..,., atau berlaku
l
/'' / '
sebagai Entrepreneur
LU
Gagasan

Persepsi thd
hasil I implementasi

1--tl
4

Strategi
Entrepreneur

,
4

Manajemen
Entrepreneur

,....._,,.
4

Hasil yang
Dicapai
Perusahaan

.....
1~'----------'

KP = Karakteristik Pribadi
LP = Lingkungan Pribadi
SP = Sasaran Pribadi
LU = Lingkungan Usaha
Gambar 2.2.
rvbdel rvbt ivasi &It repreneur

Keputusan untuk berkelakuan sebagai entrepreneur merupakan basil


interaksi berbagai faktor. Salah satu kumpulan faktor yang terlibat
menyangkut karakteristik pribadi individu, lingkungan pribadi dan
lingkungan usaha yang relevan, sasaran pribadi, dan adanya gagasan yang
memang layak dikembangkan. Seorang calon entrepreneur akan
8

Douglas W.Naffziger, Jeffrey S.Hornsby, and Donald F.Kuratko, "A Proposed


Research Model of Entrepreneurial Motivation", Entrepreneurship Theory and
Practice (spring 1994): 29-42, dalam Kuratko: hal .112

e EKMA4370/MODUL 2

2.29

membandingkan perkiraan basil yang akan diperoleh dengan harapan


pribadinya. Berikutnya, ia akan mencoba melihat hubungan antara perilaku
sebagai entrepreneur yang akan dijalankannya dengan basil yang diharapkan.
Menurut model di atas, harapan entrepreneur akan dibandingkan dengan
hasil aktual yang diperoleh perusahaan. Perilaku entrepreneur di masa depan
bergantung pada basil pembandingan ini. Apabila basil yang diperoleh
mampu menyamai atau melebihi harapan, maka perilaku entrepreneur akan
terdorong untuk menjadi kuat, dan ia akan termotivasi untuk tetap
berperilaku sebagai entrepreneur, baik melalui usahanya yang sedang
berjalan ataupun melalui usaha baru, tergantung sasaran yang ia inginkan.
Apabila basil yang diperoleh gagal memenuhi harapannya, motivasi
entrepreneur akan berkurang, menurun, dan bisa mempengaruhi terhadap
minatnya untuk tetap berkelakuan sebagai entrepreneur. Persepsi semacam
ini juga akan berpengaruh terhadap corak strategi dan implementasinya dan
juga corak manajemen atau pengelolaan perusahaan.

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)
4)
5)

Apa arti profit seeking?


Apa arti activity seeking?
Sebutkan pengelompokan entrepreneur menurut Thomas Monroy dan
Robert Folger!
Sebutkan berbagai risiko yang dihadapi entrepreneur!
Sebutkan penyebab munculnya stress di kalangan etrepreneur menurut
Boyd dan Gumpert!

Petunjuk Jawaban Latihan

1)

Profit seeking (kegiatan mencari keuntungan) diartikan


keinginan yang kuat untuk memaksimumkan keuntungan.

sebagai

2)

Activity seeking menjelaskan berbagai corak kegiatan yang diinginkan


karena sesuai dengan sifat para entrepreneur, misalnya kebebasan dalam
melaksanakan kerja.

2.30

KEWIRAUSAHAAN

3) Thomas Monroy dan Robert Folger mengembangkan pengelompokan


gaya entrepreneur sebagai berikut.
a) Risiko finansial yang dihadapi entrepreneur dalam mengembangkan
usaha baru.
b) Besamya harapan untuk mendapatkan keuntungan dari us aha yang
dijalankan (profit motive).

4)

Entrepreneur menghadapi berbagai


dikelompokkan sebagai berikut:
a) risiko finansial;
b) risiko karier;
c) risiko keluarga dan sosial;
d) risiko kejiwaan.

5)

Penyebab munculnya stress di kalangan entrepreneur menurut Boyd


dan Gumpert, yaitu:
a) kesepian;
b) tenggelam dalam pekerjaan;
c) permasalahan sumber day a manusia; dan
d) keinginan untuk berhasil.

Jenis

risiko,

yang

dapat

RANG KUMA N:.____ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Dalam usaha untuk menjelaskan perspektif atau pemahaman tentang


sifat entrepreneur yang terdapat dalam diri seseorang, modul ini
mencoba menyajikan karakteristik atau ciri-ciri entrepreneur yang
sukses. Selain itu, juga dijelaskan sisi gelap dari sifat entrepreneur, yang
mengungkapkan berbagai faktor yang sifatnya negatif atau merusak bagi
para entrepreneur. Selanjutnya, juga dilakukan pembahasan terhadap
model yang memperlihatkan berbagai faktor yang ikut mempengaruhi
motivasi para entrepreneur dalam menjalankan usahanya.
Pertama-tama, penting untuk mengenali keberadaan berbagai
sumber informasi yang berkaitan dengan pengetahuan mengenai
entrepreneur. Tiga sumber utama tersebut adalah:
1) berbagai jenis publikasi yang relevan;
2) melalui pengamatan atau observasi langsung terhadap para
entrepreneur;

EKMA4370/ MODUL 2

3)

2.31

dengan mencermati presentasi yang dilakukan oleh para


entrepreneur ataupun berbagai studi kasus mengenai kegiatan para
entrepreneur yang melakukan kegiatan secara aktual di lapangan.

Berbagai jenis studi telah dilakukan untuk mempelajari mutu dan


ciri-ciri entrepreneur yang berhasil. Beberapa ciri entrepreneur telah
dibahas dalam modul ini, seperti:
- memiliki tanggung jawab penuh;
berhati yang teguh dan memiliki daya tahan yang tinggi;
- memiliki ketekunan dalam memecahkan masalah;
- memiliki dorongan yang kuat untuk berhasil maupun untuk tumbuh;
- memiliki kecenderungan pada peluang dan memiliki sasaran yang
jelas;
- memiliki inisiatif dan bersedia memikul tanggung jawab;
- mencoba memperoleh umpan balik dan memanfaatkannya;
- menginginkan kebebasan mengatur diri sendiri (internal locus of
control);
- memiliki toleransi terhadap situasi mendua;
- bersedia menanggung risiko terhitung;
- memiliki integritas dan bisa dipercaya;
- memiliki toleransi terhadap kegagalan;
- memiliki derajat energi yang relatif tinggi;
- kreatif, inovatif;
- memiliki impian atau gambaran mengenai masa depan;
memiliki kepercayaan diri dan bersifat optimis;
- mendambakan independensi; dan
memiliki kemampuan untuk membangun serta mengelola kelompok.
Bagian selanjutnya dari modul ini mencoba membahas sisi gelap
(negatif) dari kehidupan para entrepreneur, termasuk membahas
konfrontasi antara entrepreneur dengan risiko, mempelajari
permasalahan stress para entrepreneur, dan juga ciri -ciri khusus yang
mungkin mendorong munculnya ego yang berlebihan pada para
entrepreneur.
Bagian terakhir dari modul ini mencoba memperkenalkan suatu
model yang menjelaskan munculnya motivasi yang mendorong
munculnya entrepreneur. Menyadari adanya sumbangan faktor-faktor
kejiwaan terhadap proses muncul dan tumbuhnya para entrepreneur,
model ini menunjukkan hubungan harapan para entrepreneur dan basil
aktual yang berhasil mereka capai terhadap tumbuhnya motivasi para
entrepreneur untuk memulai dan mempertahankan usaha yang
dijalankannya.

2.32

KEWIRAUSAHAAN

T E S

F 0 R MAT IF 2= - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!


1)

Thomas Monroy dan Robert Folger mengembangkan pengelompokan


gay a entrepreneur ke dalam ....
A. risiko finansial yang dihadapi entrepreneur dalam mengembangkan
usaha baru
B. besarnya harapan untuk mendapatkan keuntungan dari usaha yang
dijalankan (profit motive)
C. profit seeking
D. risiko finansial yang dihadapi entrepreneur dalam mengembangkan
usaha baru dan besarnya harapan untuk mendapatkan keuntungan
dari usaha yang dijalankan (profit motive)

2)

Apabila basil yang diperoleh mampu menyamai atau melebihi harapan,


maka perilaku entrepreneur akan terdorong untuk menjadi ....
A. kuat
B. lemah
C. tidak ada perubahan
D. stagnan

3)

Entrepreneur menghadapi berbagai jenis risiko, antara lain risiko ....


A. SDM
B. finansial
C. izin operasional
D. kena pajak

4)

Menurut Boyd dan Gumpert, salah satu dari empat penyebab stress di
kalangan Etrepreneur, yaitu ....
A. keluarga
B. anak
C. kesepian
D. pemerintah

5)

Salah satu cara untuk mengurangi stress adalah ....


A. spa
B. seminar
C. liburan
D. rapat

2.33

EKMA4370/MODUL 2

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.

2.34

KEWIRAUSAHAAN

Kunci Jawaban Tes Format if


Tes Formatif 1
1)
2)
3)
4)

5)

c
B
A
D

Tes Formatif2
1) D
2) A
3) B
4) c
5) c

e EKMA4370/MODUL 2

2.35

Daft ar Pust aka


Boyd and Gumpert. (1985). Coping with Entrepreneurial Stress. Harvard
Business Review, Nov, Dec.
Bruce G. Whiting. (1988). Creativity and Entrepreneurship: How Do They
Relate? Journal of Creative Behavior 22, No.3.
Donald M. Dible. (1980). Small Business Success Secrets. The Entrepreneur
Press.
Doris Shallcross, Anthony M. Gawienowski. (1989). ''Top Experts Address
Issues on Creativity Gap in Higher Education. Journal of Creative
Behavior 23, No.2.
Douglas W. Naffziger, Jeffrey S. Hornsby, and Donald F. Kuratko. (1994).
"A Proposed Research Model of Entrepreneurial Motivation",
Entrepreneurship Theory and Practice. Spring.
Edward de Bono. (1970). Lateral Thinking, Creativity Step by Step. New
York: Harper & Row.
Eugene Staley, Richard Morse. (1965). Modern Small Industry for
Developing Countries. McGraw-Hill.
John J. Kao. (1991). The Entrepreneur. Englewood Cliffs, New Jersey:
Prentice-Hall.
Manfred P.R. Kets de Vries. (1985). The Dark Side of Entrepreneurship.
Harvard Business Review, Nov, Dec.
Michael Kirton. (1976). Adaptors and Innovators: A Description and
Measure. Journal of Applied Psychology, Oct.
Peter F. Drucker. (1985). Innovation and Entrepreneurship. New York,
Harper & Row.

2.36

KEWIRAUSAHAAN

Peter R. Dickson. (1994). Marketing Management. (Fort Worth, TX), The


Dryden Press.
Peter R. Dickson. (2000). Marketing Research and Information Systems,
Marketing Best Practices. Ft. Worth, TX : Harcourt College Publishers.
Program Orientasi Industri Kecil dan Menengah di Perguruan Tinggi. (2007).
Paket 1 Pelatihan IKM untuk Wisudawan Perguruan Tinggi. Bandung:
Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen
Perindustrian Republik Indonesia dan SBHL Consulting.
S.B. Hari Lubis. (1984). Caracteristiques des Dirigeants, Degre de
Croissance et Types d'Organization Dans Les Petites Entreprises en
Indonesia. Etude de 61 Firmes Industrielles de Textile. Disertasi Doktor,
IAE Grenoble-Prancis.
Stephen W McDaniel and A. Parasuraman. (1986). "Practical Guidelines for
Small Business Marketing Research". Journal of Small Business
Management, Jan.
Thomas Monroy and Robert Folger. (1993). "A Typology of Entrepreneurial
Styles : Beyond Economic Rationality. Journal of Positive Entreprise IX,
No.2.
Timothy A. Matherly and Ronald E. Goldsmith. (1985). The Two Faces of
Creativity. Business Horizons, Sept/Oct.

MDDUL 3

Kreat i vi t as, I novasi, dan

Entrepreneurship
Dr. lr. S B. Hari Lubis
PENDAHULUAN

aman manusia pintar hampir berakhir, zaman baru sudah mulai


.__.. . muncul yaitu zamannya manusia kreatif.
Pinchas Noy
Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya manusia itu
menyukai hal-hal yang baru. Dalam konteks produk, manusia menyukai
model baru, teknologi baru, rasa baru, dan sebagainya. Walkman misalnya,
dari segi teknologi bukanlah merupakan teknologi baru, namun hanya
merupakan miniaturisasi dari tape recorder. Namun demikian, penciptaan
walkman mendapatkan sambutan yang luar biasa dari pasar.
Untuk menciptakan produk baru demi memenuhi tuntutan masyarakat,
maka para entrepreneur harus pandai-pandai berinovasi. Inovasi merupakan
kunci dari proses entrepreneurial. Hampir semua peneliti entrepreneurship
sepakat dengan pendapat Peter Drucker mengenai konsep Inovasi.
lnovasi merupakan fungsi yang khas dari Entrepreneurship, yaitu
merupakan al at yang di gunakan Entrepreneur menci pt akan berbagai
sumber usaha baru dalam rangka mencari kekayaan, atau mengubah
sumber-sumber yang sudah ada menj adi lebih berharga ataupun lebih
1
berpot ensi unt uk menghasi I kan kekayaan .

Inovasi dinyatakan sebagai proses di mana Entreprenur mengubah


peluang menjadi gagasan usaha yang bisa dipasarkan. Inovasi merupakan alat
yang digunakan oleh para Entrepreneur, sehingga para Entrepreneur ini
dapat dianggap sebagai katalisator perubahan.
1

Peter F.Drucker, Innovation and Entrepreneurship (New York, Harper & Row,
1985), hal. 20.

3.2

KEWIRAUSAHAAN

Berangkat dari pernikiran di atas, maka dalam Modul 3 ini perlu dibahas
secara khusus bahasan tentang inovasi dan kreativitas dalam kewirausahaan.
Setelah membaca modul ini, diharapkan Anda mampu:
1. menjelaskan peranan inovasi dalam kewirausahaan;
2. menjelaskan peranan kreativitas dalam kewirausahaan;
3. menjelaskan proses kreatif;
4. menjelaskan proses dan sumber inovasi.

3.3

e EKMA4370/MODUL 3

KEGIATAN

BELAL.JAR

Kreativitas dan Kewirausahaan


roses kreati vitas dan inovasi lebib dari sekedar proses di mana
dimunculkan gagasan yang bagus. Penting bagi kita untuk memabami
asal-usul munculnya gagasan dan menyadari babwa berpikir kreatif (creative
thinking) merupakan sesuatu yang penting atau vital dalam proses munculnya
Inovasi.
Perlu dipabami babwa terdapat perbedaan yang mendasar antara gagasan
yang munculnya merupakan basil dari proses yang bersifat untung-untungan
dan sederbana, dengan gagasan yang merupakan basil dari proses berpikir
yang matang, gagasan yang muncul dari penelitian, dan juga gagasan yang
munculnya diilbami oleb proses pengerj aan.
Penting untuk dipabami babwa Entrepreneur yang berpotensi meraib
kesuksesan ternyata memiliki niat atau keinginan untuk mewujudkan sebuab
gagasan melewati berbagai tahapan pengembangan sehingga berbasil
diwujudkan. Inovasi semacam ini merupakan basil dari kombinasi 'mimpi'
untuk memunculkan gagasan yang bagus, disertai dengan daya taban serta
dedikasi untuk menjaga dan mempertabankan gagasan tersebut selama proses
pengembangannya.
Entrepreneur menggabungkan pikiran imajinatif yang mirip mimpi,
dengan pikiran kreatif, yang disertai dengan kemampuan memproses secara
logis dan teratur secara sistematis. Kombinasi ini yang dianggap akan mampu
mengantarkan Entrepreneur menjadi sukses. Selain itu, Entrepreneur yang
berpotensi untuk sukses selalu mencoba mencari peluang yang unik untuk
memuaskan keinginan maupun kebutuban mereka. Para Entrepreneur bisa
merasakan adanya peluang pada saat mereka mengbadapi permasalaban
dalam kegiatan usaba yang mereka jalankan. Ini muncul karena para
Entrepreneur pada umumnya terus-menerus mempertanyakan, mengapa
sesuatu dilaksanakan atau dikerjakan dengan cara tertentu, ataupun mengapa
suatu kegiatan tidak dilaksanakan atau dikerj akan dengan cara tertentu.
Para Entrepreneur mengembangkan kemampuan untuk mampu melibat
dan mengenali dan juga menciptakan peluang dari permasalaban yang
mereka badapi, sementara orang biasa banya mampu melibat dan merasakan
adanya permasalaban. Ada yang mengatakan babwa pasangan permasalaban

3.4

KEWIRAUSAHAAN

dengan solusi seakan-akan mirip dengan pasangan permintaan terhadap


persediaan.
Entrepreneur memanfaatkan aturan ini, dan seakan-akan mencoba
menganalisis permasalahan dari berbagai sudut pandang, yaitu dengan
mempertanyakan:
1. apa yang sebenarnya menjadi permasalahan;
2. pihak mana saja yang terpengaruh oleh permasalahan;
3. bagaimana pengaruh itu terjadi;
4. apakah permasalahan tersebut dapat dipecahkan;
5. seberapa besar biaya yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan;
dan
6. apakah pasar bersedia membeli produk/j as a yang dihasilkan.
Cara berpikir semacam ini yang menggabungkan pemikiran kreatif
dengan analisis yang sistematis. Kegiatan Belajar ini akan mencoba
menjelaskan peran kreativitas dalam proses Entrepreneurial, yaitu untuk
mencoba memahami peluang untuk mengembangkannya.

A. PERAN KREA TIVITAS


Penting untuk dipahami bagaimana peran kreativitas dalam proses
inovasi. Tetapi, sebelumnya, perlu dipahami bahwa kreativitas dalam hal ini
didefinisikan sebagai:
pengumpulan ataupun penumpukan gagasan yang dapat membuat suatu
2
sistem menj adi lebih efektif dan juga lebih efisien

Proses dan orang merupakan dua komponen penting dari kreativitas.


Proses, yang orientasinya pada sasaran, sebenarnya dirancang untuk bisa
menjawab permasalahan yang dihadapi. Sedangkan orang merupakan
komponen yang menentukan corak solusi yang akan dimunculkan dalam
mengatasi permasalahan. Proses bisa saj a serupa, tetapi pendekatan yang
digunakan oleh setiap orang bisa saja saling berbeda. Sebagai contoh,
2

Timothy A.Matherly and Ronald E. Goldsmith, 'The Two Faces of Creativity'',


Business Horizons (Sept/Oct, 1985); Bruce G.Whiting, "Creativity and
Entrepreneurship: How Do They Relate?", Journal of Creative Behavior 22, no.3
(1988): 178-183, dalam Kuratko, hal. 121.

3.5

EKMA4370/MODUL 3

kadang-kadang kita meniru solusi dari pihak lain, tetapi di kesempatan lain
mungkin saja dicoba untuk merumuskan solusi yang sangat inovatif untuk
menghadapi suatu permasalahan. Tabel 3.1 berikut ini mencoba
membandingkan kedua jenis solusi tersebut, yang disebut sebagai solusi
adaptor, yang merupakan tiruan dari solusi yang sudah biasa dijalankan oleh
pihak lain dan solusi baru yang inovatif.
Tabel3.1.
3
Dua Jenis Pendekatan dalam Perumusan Solusi Permasalahan
Solusi Adaptor

Sol usi lnovatif

Menggunakan pendekatan yang sifatnya


berdisi :>lin, teliti, dan men~ ikuti prosedur
Lebih tertarik pada pemecahan masalah
daripada penemuan atau pemahaman
permasalahan
menyempurnakan
praktekBerusaha
praktek pemecahan masalah yang sudah
biasa di unakan
Cenderung berorientasi terhadap alat
pemecahan masalah
'
'
Mam :>u menan ani masalah hin a nnc1
Mudah dipengaruhi oleh suasana kerja
sama dan kedekatan dalam kelompok

Memikirkan
solusi
permasalahan
den an sudut :>andan yan~ tidak biasa
Menemukan
atau
memahami
permasalahan dan kemungkinan cara
:>en ~elesaiannJa
'
Mempertanyakan asums1 dasar dari
praktek-praktek pemecahan masalah
van sudah biasa di unakan
Tidak terlalu mempedulikan alat, lebih
tertarik terhadap hasil
Tidak ada peker'aan van sifatn ~a rutin
Tidak peduli terhadap kesepakatan dan
tidak peka terhadap perasaan orang
lain

Membedakan Entrepreneur yang bersifat adaptor dan inovatif, menurut


aspek orang dan juga aspek proses ternyata sangat efektif. Pemahaman
terhadap kecenderungan seseorang dalam pemecahan masalah ternyata
sangat bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan kreatif orang
tersebut.

B. SIFAT PROSES KREA TIF


Kreativitas ternyata merupakan proses yang dapat dikembangkan dan
juga bisa disempurnakan. Sesungguhnya, semua orang memiliki sifat kreatif,
3

Michael Kirton, "Adaptors and Innovators: A Description and Measure", Journal of


Applied Psychology (Oct.1976): 623, dalam Kuratko, hal. 121.

3.6

KEWIRAUSAHAAN

walaupun hanya hingga derajat tertentu. Tetapi, seperti pada orang-orang


yang berprestasi, ternyata bisa dijumpai orang-orang yang memiliki bakat
yang lebih besar daripada orang kebanyakan. Atau, sebagian orang memang
dibesarkan serta mengalami pendidikan dalam lingkungan yang cenderung
mendorong mereka untuk mengembangkan kreativitas. Mereka memang
diajari untuk berpikir dan juga bertindak secara kreatif.
U ntuk orang lain, proses kreatif ini ternyata merupakan suatu hal yang
sulit, karena mereka memang tidak pernah mendapat dukungan yang bersifat
positif untuk menjadi kreatif. Selain itu, jika seseorang ingin menjadi kreatif,
ternyata ia juga harus belajar untuk mengimplementasikan proses kreatif itu
sendiri.
Banyak orang yang berpandangan keliru, mengira bahwa hanya orang
yang jenius yang bisa menjadi kreatif, ataupun berpendapat bahwa kreativitas
adalah suatu sifat yang dibawa sej ak lahir. Karena itu, hanya orang yang
berbakat ataupun orang yang sangat pintar yang mampu memunculkan
gagasan atau pemikiran mendalam yang kreatif. Penghambat kreativitas yang
sebenarnya bukanlah karena seseorang tidak berbakat, ataupun karena
seseorang kurang pintar. Padahal sebenarnya penghambat munculnya
kreativitas sering kali adalah kalimat-kalimat negatif yang sifatnya
mencemooh yang sering kali digunakan oleh berbagai pihak dalam
berkomunikasi. Kalimat-kalimat semacam ini mungkin tidaklah dengan
sengaja menghentikan munculnya gagasan kreatif, tetapi lebih tepat apabila
kalimat-kalimat sejenis itu mencegah kita untuk berpikir lebih jauh. Kalimatkalimat negatif tersebut misalnya:
1. "kita sudah mencoba cara seperti itu bertahun-tahun yang lalu !"
2. "saya tidak melihat ada yang salah atau yang perlu diperbaiki dari cara
yang kita gunakan sekarang."
3. "wah, deadlinenya sudah sangat dekat, kita tidak akan puny a waktu lagi
untuk mempertimbangkan gagasan Anda."
4. "anggaran kita tidak akan cukup untuk menjalankan gagasan Anda."
Kenyataannya, kreativitas bukan bakat langka yang sifatnya misterius,
yang hanya diberikan oleh Tuhan kepada sejumlah kecil orang. Kreativitas
adalah cara yang berbeda dalam memandang kehidupan, dan sering kali tidak
logis. Proses kreatif mencakup kemampuan untuk melihat saling-hubungan
antara unsur-unsur, yang sering kali tidak mudah dilihat oleh orang
kebanyakan. Contohnya, sangat banyak orang yang sehari-hari melihat dan

EKMA4370/MODUL 3

3.7

menggunakan telepon serta komputer, tetapi tidak banyak yang mampu


memunculkan gagasan kreatif untuk menciptakan modem yang
memanfaatkan telepon untuk mengirimkan data antar komputer.
Banyak pihak menyatakan bahwa proses kreatif untuk memunculkan
inovasi terdiri dari empat tahapan, yang sering kali diberi nama berbeda. Para
peneliti menyadari bahwa keempat tahapan kreatif tersebut tidak selalu
muncul dengan urutan yang sama untuk setiap jenis kegiatan inovasi.
Berikut ini dijelaskan keempat tahapan proses kreatif untuk
memunculkan inovasi:

Tahapan 1
Akumulasi Pengetahuan
Temuan yang berhasil biasanya didahului oleh proses penj aj agan
(investigasi) dan proses pengumpulan informasi. Penjajagan untuk
melakukan pengumpulan informasi dilakukan melalui berbagai j enis
cara, misalnya melalui bahan bacaan, atau dengan melakukan diskusi
dengan pihak-pihak yang sudah berpengalaman di bidang sej enis, at au
kadang-kadang juga dengan mengikuti pertemuan ilmiah di mana
banyak berkumpul ahli-ahli yang memiliki pengetahuan serta
pengalaman yang berkaitan dengan permasalahan. Kadang-kadang juga
diperlukan informasi yang secara langsung maupun yang tidak secara
langsung berkaitan dengan permasalahan yang dipelaj ari.
Proses penj aj agan biasanya memberikan beragam informasi mengenai
permasal ahan. Berbagai ragam i nformasi i ni pent i ng bagi para
Entrepreneur, yang memerlukan pemahaman mendasar mengenai
sel uruh aspek yang berkait an dengan pengembangan suat u produk, j asa,
ataupun usaha baru.
Pemahaman tentang latar belakang permasalahan sering kali diperoleh
dari (1) bahan bacaan, (2) kelompok atau asosiasi profesi, (3) mengikuti
pertemuan dan seminar ilmiah, (4) mengunjungi tempat baru,
(5) melakukan diskusi dengan berbagai pihak mengenai permasalahan,
(6) majalah, surat kabar, dan jurnal, yang memuat artikel yang
berkaitan dengan permasalahan, (7) selalu mencatat informasi yang
relevan, dan (8) mencoba mengembangkan dan mempertanyakan,
mempertebal rasa ingin tahu.

Tahapan 2
Proses Inkubasi
93seorang yang kreatif biasanya membiarkan bawah sadar mereka
memikirkan kumpulan informasi yang sudah mereka peroleh dari
tahapan sebelumnya. Proses inkubasi, atau menetasnya gagasan, sering
kali terjadi pada saat yang tidak diduga, misalnya pada saat mereka

3.8

KEWIRAUSAHAAN

sedang sibuk mengerj akan kegiatan yang sebenarnya tidak berkaitan


dengan permasalahan, atau sedang berada di kamar mandi ataupun di
j amban. 1\/engabaikan permasalahan, dan membiarkan bawah sadar kit a
yang bekerj a menyusun berbagai informasi yang sudah dimiliki menj adi
suatu kesimpulan bersifat kreatif. Bahkan ada pihak yang mengatakan
bahwa proses kreatif itu juga bisa terjadi di saat seseorang sedang
tidur. Karena itu, sering kali nasihat bagi seseorang yang mengalami
f rust rasi menghadapi permasal ahan yang seakan-akan t idak t erpecahkan
adalah agar orang tersebut membawa masalah sampai tidur!
Beberapa langkah yang sering kali dianggap merangsang terjadinya
proses inkubasi adalah (1) mengerjakan kegiatan rutin yang tidak
memerl ukan pemi ki ran sepert i menyapu hal am an, mencuci pi ring yang
kotor, dan sebagainya; (2) berlatih dengan waktu yang teratur;
(3)
mengikuti
berbagai
jenis permainan,
seperti
olahraga;
(4) memikirkan permasalahan sebelum pergi tidur; (5) melakukan
meditasi; dan (6) duduk santai pada waktu-waktu tertentu secara
teratur.

Tahapan 3
Memunculkan Gagasan
Tahapan i ni seri ng kal i dianggap sebagai peri ode yang paling
menggairahkan, yaitu tahapan di mana gagasan ataupun j awaban yang
dicari seseorang ternyata bisa muncul. Karena merupakan tahapan di
mana gagasan muncul, maka tahapan ini sering disebut "tahapan
eureka". Ban yak pi hak yang menganggap t ahapan i ni sebagai sat usat unya tahapan kreat ivitas.
93pert i juga pad a proses i nkubasi, gagasan baru yang bersif at i novat if
sering kali muncul pada saat yang tidak terduga, misalnya pada satu
seseorang sedang mengerj akan kegiatan yang tidak ada kaitannya
dengan permasal ahan yang sedang di pi ki rkan sol usi nya. 93hi ngga,
seakan-akan gagasan itu muncul tiba-tiba entah berasal dari mana.
93ring kali, jawaban terhadap sesuatu muncul secara bertahap pada
pi ki ran seseorang, per Iahan t et api past i seseorang t ersebut sebenarnya
sedang merumuskan j awaban bagi permasal ahan yang di hadapi. a eh
karena itu, sering kali memang sulit untuk menentukan kapan tahapan
inkubasi berakhir dan dilanj utkan dengan mulainya tahapan
memunculkan gagasan.
Unt uk mempercepat proses memuncul kan gagasan i ni, per I u rangsangan
melalui (1) mimpi atau berangan-angan mengenai hasil kegiatan yang
diharapkan,
(2)
mempraktekkan hobby yang relevan dengan
permasal ahan, (3) bekerj a dal am I i ngkungan yang t idak t ergesa-gesa,
permasalahan bukan sebagai
(4) menempatkan atau menganggap
sesuat u yang paling pent i ng, ( 5) menyedi akan buku cat at an de kat
dengan tempat tidur, sehingga bisa segera mencatat gagasan yang

EKMA4370/ MODUL 3

3.9

muncul pada saat tengah malam ataupun saat bangun tidur, dan
(6) sengaj a mengambil masa istirahat pada saat sedang sibuk bekerj a.

Tahapan 4
Evaluasi dan Implementasi
Tahapan ini sering kali dianggap sebagai tahapan yang paling sulit
dal am sebuah proses kreat if karen a unt uk mel al ui nya di per I ukan
keberanian yang besar, disiplin diri, dan juga daya tahan yang tangguh.
Entrepreneur yang berhasil biasanya mampu menemukan gagasan yang
memang memungki nkan unt uk di kerj akan karen a ket erampi Ian yang
di mi I i ki Entrepreneur t ersebut memang memadai unt uk mewuj udkan
(mengimplementasikan) gagasan tersebut. Akan tetapi, yang lebih
penting bagi Entrepreneur adalah memiliki daya tahan sehingga mereka
tidak menyerah apabila harus berhadapan dengan hambatan bersifat
sementara dalam mewuj udkan gagasan. Biasanya, para Entrepreneur
mengalami berulang kali kegagalan sebelum akhirnya berhasil
mewuj udkan gagasan mereka. Dal am proses t ersebut seri ng kal i
dij umpai Entrepreneur yang akhirnya ternyata mengambil arah yang
sangat berbeda, bahkan berlawanan, dari gagasan mereka semula. Juga
bisa dij umpai Entrepreneur yang menemukan gagasan baru yang lebih
memungki nkan unt uk diwuj udkan pad a saat i a berusaha unt uk
mewuj udkan gagasan yang lebih awal.
Dengan demikian, salah satu bagian penting dari tahapan ini adalah
penyempurnaan gagasan sehi ngga berhasi I menj adi bent uk at au wuj ud
akhir. Karena gagasan biasanya muncul dari tahapan sebelumnya dalam
bent uk yang masi h kasar, sel anj ut nya gagasan t ersebut per I u di perbai ki,
dan juga di uj i, sebel um akhi rnya mencapai wuj ud akhi r.

Pada skema berikut digambarkan empat tahapan yang terjadi dalam


proses munculnya kreativitas. Apabila dalam proses tersebut dijumpai
kesulitan, sering kali akan sangat membantu apabila dicoba untuk mundur
kembali ke tahapan sebelumnya, dan kemudian mencoba kembali maju ke
tahapan berikutnya.

EKMA4370/MODUL 3

3. 11

secara teratur, yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan kreatif.


Bagian berikut ini mencoba menjelaskan cara-cara untuk meningkatkan
kesadaran terhadap kebiasaan berpikir yang menghambat kreati vitas,
sehingga diharapkan bisa membantu meningkatkan kreativitas seseorang.

1.

Mengenali Hubungan
Banyak penemuan dan inovasi muncul karena si penemu mampu
mengenali hubungan yang sifatnya baru atau berbeda, antara obyek, proses,
bahan, teknologi, dan orang. Contohnya bisa sangat beragam, misalnya
menggabungkan becak dengan kuda-kudaan mainan anak-anak menjadi
odong-odong, atau menggabungkan motor bakar dengan roda sehingga
tercipta mobil, atau menggabungkan kekuatan air dengan dinamo truk
sehingga tercipta pembangkit listrik tenaga air ukuran kecil.
Untuk memperbaiki kreativitas, akan membantu apabila diciptakan
hubungan antara elemen-elemen, ataupun antara orang-orang di sekeliling
kita dengan cara yang berbeda dari yang biasa. Kegiatan seperti ini perlu
diawali dengan pemahaman atau persepsi terhadap aspek hubungan.
Kemampuan semacam ini dapat dikembangkan dengan memandang sesuatu
ataupun orang sebagai pelengkap atau saling melengkapi dengan sesuatu
ataupun dengan orang lain.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa keberadaan sesuatu ataupun
orang di dunia ini karena ada hubungannya dengan sesuatu ataupun orang
lain. Orang yang kreatif tampaknya memiliki intuisi untuk menyadari
fenomena ini, dan kemampuannya juga berkembang untuk mengenali
hubungan yang berbeda ataupun hubungan yang baru.
Hubungan ini sering kali mendorong munculnya pandangan baru yang
dapat menghasilkan gagasan baru, produk baru, ataupun jasa yang baru. Agar
dapat mengembangkan kemampuan untuk mengenali adanya hubungan yang
baru, perlu dicoba melatih kemampuan memahami hubungan ini.
2.

Mengembangkan Pemahaman tentang Fungsi


Kemampuan memahami hubungan akan mengakibatkan berkembangnya
pemahaman tentang fungsi dari sesuatu ataupun tentang orang. Seseorang
yang kreatif cenderung memandang sesuatu ataupun orang dalam hubungan
dengan kemungkinan pemanfaatannya untuk memenuhi kebutuhan ataupun
kegiatannya. Contohnya, seseorang yang tidak memiliki obeng, kemudian
ternyata menggunakan sebilah pisau dapur untuk membuka atau untuk

3.12

KEWIRAUSAHAAN

mengencangkan sekrup. Dengan demikian seseorang tersebut ternyata


memanfaatkan pisau dapur untuk memenuhi kebutuhannya akan obeng.
Untuk menjadi inovatif ataupun menjadi kreatif, kita perlu
membayangkan diri kita dalam hubungan saling melengkapi dengan sesuatu,
ataupun dengan orang lain. Sesuatu ataupun seseorang perlu dilihat dalam
kaitannya sebagai pelengkap yang dibutuhkan untuk memenuhi suatu
kebutuhan ataupun untuk memecahkan suatu permasalahan. Kesimpulannya,
kita perlu memandang sesuatu ataupun seseorang dengan cara yang tidak
konvensional dan dengan perspektif yang berbeda.

3.

Menggunakan Otak
Sej ak tahun 1960an, para ahli kreati vitas, inovasi, dan pengembangan
diri, telah menyadari pentingnya mengembangkan keterampilan yang
berkaitan dengan otak kiri dan otak kanan.
Dikatakan bahwa otak kanan membantu seseorang untuk memahami
kesamaan, membayangkan, dan menggabungkan informasi sedangkan otak
kiri membantu kita melakukan analisis, mengungkapkan sesuatu
menggunakan kata-kata, dan menggunakan pendekatan yang rasional dalam
menghadapi permasalahan. Selanjutnya dikatakan bahwa walaupun kedua
bagian otak ini memproses informasi yang berlainan (lihat Tabel 3 .2), dan
masing-masing digunakan untuk melakukan kegiatan ataupun keterampilan
yang berbeda, kedua bagian tersebut diintegrasikan melalui sekelompok
serabut syaraf yang disebut corpus callosum. Dengan demikian keberadaan
maupun berfungsinya kedua bagian otak tersebut saling melengkapi satu
sama lain.
Tabel 3. 2.
Corak Proses Otak Kiri dan Otak Kanan

Otak Kiri

lisan
analitis
abstrak
rasional
log is
linier

Otak Kanan

bukan lisan
sintesis
melihat kesamaan
tidak rasional
berkaitan ruang
intuisi
..

1m a In aS I

EKMA4370/MODUL 3

3.13

Proses kreatif mencakup pemikiran yang logis dan analitis dalam


akumulasi pengetahuan, evaluasi, dan implementasinya. Selain itu juga
dibutuhkan imajinasi, intuisi, pemikiran mengenai kesamaan, dan sintesis
dalam tahapan inkubasi maupun dalam tahapan pengembangan gagasan.
Dengan demikian, untuk menjadi lebih kreatif diperlukan latihan dan
pengembangan keterampilan yang berkaitan dengan otak kiri maupun otak
kanan.

4.

Menghilangkan Cara Berpikir yang Menghambat


Banyak cara berpikir yang menghambat munculnya gagasan-gagasan
kreatif. Penelitian menunjukkan bahwa manusia dewasa biasanya hanya
4
menggunakan 2 hingga 10 persen dari potensi kreatif yang dimilikinya .
Sebagai contoh, banyak orang yang cenderung hanya menggunakan
pertimbangan sesaat apabila menghadapi hal yang baru, bertemu dengan
orang baru, dan juga terhadap gagasan baru. Banyak orang yang cenderung
mencari-cari hal negatif dari gagasan baru ataupun dari gagasan yang berbeda
dari kebiasaan. Hal ini terjadi karena muncul ketidaknyamanan psikologis
apabila seseorang harus menghadapi perubahan.
Kebiasaan-kebiasaan yang sering kali menghambat munculnya
kreativitas maupun inovasi antara lain cara berpikir yang sifatnya mencari
aman, cara berpikir stereotip, cara berpikir "mungkin" yang menunjukkan
keengganan mengambil keputusan, ataupun cara berpikir "atau" yang
menunjukkan keengganan memilih.
Kebiasaan semacam ini cenderung menghambat dan mengacaukan
proses berpikir kreatif, sehingga sesungguhnya diperlukan cara berpikir yang
berbeda agar kreativitas bisa muncul. Tabel 3.3. berikut menunjukkan caracara yang dapat digunakan untuk mempraktekkan pengembangan otak kiri
dan otak kanan, sehingga bisa muncul pikiran kreatif.
a.

Cara Berpikir Mendua


Karena perubahan terjadi dengan sangat cepat di jaman modern ini maka
pola kehidupan manusia juga penuh dengan ketidakpastian dan ambiguitas
(kemenduaan). Akibatnya, banyak orang yang justru kehidupannya menjadi
tertahan karena selalu menginginkan kepastian yang terlalu besar.
4

Doris Shallcross, Anthony M.Gawienowski, "Top Experts Address Issues on


Creativity Gap in Higher Education", Journal of Creative Behavior 23, no.2 (1989):
75, dalam Kuratko, hal. 131.

3.14

KEWIRAUSAHAAN

Orang yang kreatif biasanya belajar untuk menerima ketidakpastian dan


ambiguitas dalam batas-batas yang wajar, baik dalam kehidupannya seharihari maupun dalam pekerjaan. Berbagai fakta menunjukkan bahwa orang
yang sangat kreatif justru mencari dan menganggap lingkungan yang penuh
ketidakpastian serta ambiguitas sebagai tempat yang lebih menyenangkan
karena berbagai ketidakpastian tersebut malah mendorong munculnya
gagasan-gag as an kreatif.
Tabel 3. 3.
1\!engembangkan Ot ak Ki ri dan Ot ak Kanan
Otak Kiri
1. Merencanakan langkah demi lang
kah pekerjaan maupun kegiatan
hidup.
2. Membaca tulisan jaman klasik pertengahan, kasus-kasus legal, bukubuku logika.
3. Selalu menjadwal seluruh kegiatan.
4. Selalu menggunakan komputer.

Otak Kanan

1.

2.
3.
4.

5.
6.

b.

Menggunakan kiasan dan analogi


untuk menjelaskan sesuatu/orang
secara lisan maupun tertulis.
Melepas jam tangan jika tidak
sedang bekerja.
Menahan penilaian awal terhadap
gagasan, seseorang, film, acara
TV, dll.
Mencatat perasaan, dugaan,
intuisi,
dan
memeriksa
ketepatan nya.
Membayangkan secara rinci
situasi masa depan.
Menggambar wajah, karikatur,
dan landsca:>e.

Mencari Aman

Kebanyakan orang mencoba untuk selalu membuat keputusan yang


benar dan berusaha bertindak tanpa melakukan kesalahan. Karena itu, orangorang semacam ini mencoba mengacu kepada rata-rata, kepada stereotip,
ataupun pada teori -teori kemungkinan, sehingga risiko untuk berbuat
kesalahan bisa menj adi minimum. W alaupun strategi seperti ini sering kali
membawa basil yang baik, ada saat-saat tertentu di mana seorang penemu
harus berani mengambil risiko yang sifatnya terhitung. Risiko terhitung
sering kali membuat si penemu menghadapi kesalahan dan kekeliruan.
Tetapi, orang yang kreatif menganggap kesalahan dan kekeliruan sebagai
bagian dari perjalanan yang hams dilewati, dan ia belajar dari kesalahannya
agar mampu menciptakan hal yang lebih besar.

EKMA4370/MODUL 3

3.15

Thomas Edison berkali-kali mengalami kekeliruan pada saat mencoba


menemukan bahan yang sesuai untuk kawat pijar bola lampu.
Berpikir Stereotip
Sangatlah ironis bahwa kebanyakan gambaran yang dibuat orang
didasarkan pada rata-rata ataupun stereotip, dan temyata banyak keputusan
dibuat berdasarkan dua ukuran tersebut yang dianggap seakan-akan fakta
yang sebenarnya di dunia nyata. Sering kali profil rata-rata ternyata tidak
sesuai dengan individu yang manapun karena komponen-komponen profil
rata-rata itu datang dari individu yang berbeda. Semakin jelas deskripsi
gambaran rata-rata ataupun stereotip, temyata makin sulit menemukan
individu yang sesuai dengan gambaran tersebut. Karena itu, merencanakan
tindakan berdasarkan gambaran rata-rata ataupun stereotip sebenarnya sama
dengan bertindak menggunakan dasar gambaran yang keliru mengenai
realitas, dan juga membatasi pemahaman tentang besaran aktual dan
5
kemungkinan-kemungkinan pemanfaatannya. Edward de Bono menyatakan
bahwa cara berpikir harus berubah untuk memanfaatkan kreativitas. Dengan
demikian hanya pola berpikir baru yang dapat mendorong munculnya
gagasan baru maupun inovasi.
c.

d.

Mengandalkan Kemungkinan
Agar bisa memperoleh rasa aman, banyak orang yang cenderung
mengandalkan teori kemungkinan dalam mengambil keputusan. Tetapi,
terlalu mengandalkan teori kemungkinan dalam pengambilan keputusan bisa
mengganggu realitas dan mencegah seseorang untuk berani menanggung
risiko terhitung yang akan mendorong munculnya kreativitas. Salah satu cara
untuk meningkatkan kapasitas kreatif adalah dengan memandang situasi
kehidupan kita sebagai suatu permainan dengan kemungkinan berhasil
hampir 50%, dan memulai untuk berani menanggung risiko. Berikut ini
disajikan beberapa petunjuk yang dimaksudkan untuk menghilangkan cara
berpikir yang menghambat munculnya kreativitas:
1) Berani mencoba menanggung risiko kecil dalam kehidupan, dan
mencoba untuk mengandalkan intuisi serta dugaan. Selanjutnya,

Edward de Bono, Lateral Thinking : Creativity Step by Step (New York, Harper &
Row, 1970), dalam Kuratko, hal. 132.

3.16

2)

3)

4)

5)

KEWIRAUSAHAAN

disarankan untuk mencatat risiko yang dihadapi, ketepatan perkiraan kita


mengenai risiko tersebut, dan juga konsekuensinya.
Mencoba untuk mengerjakan sejumlah kegiatan yang hasilnya belum
pasti ataupun kegiatan yang bisa diramalkan. Kita juga perlu
membiasakan diri untuk menghadapi ambiguitas, tetapi dalam kadar
yang masih bisa ditangani. Selanjutnya, cobalah untuk reaksi diri kita
terhadap ambiguitas yang dihadapi.
Jika seseorang mengajukan sebuah gagasan kepada kita, mula-mula
perlu dipikirkan semua aspek positif dari gagasan tersebut, dan
kemudian mencoba memikirkan semua aspek yang bersifat negatif, dan
terakhir semua hal yang menarik dari gagasan tersebut.
Jika kita mendengarkan seseorang mengungkapkan gagasannya,
mencoba untuk menahan diri agar tidak memberikan penilaian yang
terlalu dini terhadap gagasan maupun informasi yang disampaikan.
Sebaiknya, kita perlu mencoba mendengarkan gagasan ataupun
informasi yang disampaikan.
Sebaiknya kita mencoba untuk sesegera mungkin mengambil keputusan.
Sebaiknya kita perlu berusaha agar pengalaman kita di masa lalu,
ataupun perkiraan tentang masa depan, tidak berpengaruh terhadap
pengambilan keputusan yang akan kita lakukan.

D. IKLIM KREATIF
Kreativitas terutama akan muncul apabila kita berada pada iklim usaha
yang sesuai. Tidak ada satu pun perusahaan yang akan sanggup memiliki
manajer ataupun pemilik yang kreatif apabila iklim yang sesuai juga tidak
dikembangkan dan juga dipelihara. Untuk menumbuhkan kreativitas
diperlukan iklim dengan karakteristik sebagai berikut ini.
1. Perlu dimiliki pimpinan yang bisa dipercaya dan tidak terlalu ketat
dalam mengontrol karyawan.
2. Perlu dimiliki jalur komunikasi yang terbuka antaranggota kelompok
atau perusahaan.
3. Mengembangkan kontak dan juga komunikasi yang intensitasnya
memadai.
4. Senang mencoba gagasan baru.
5. Tidak takut menghadapi akibat negatif apabila melakukan kesalahan.
6. Melakukan seleksi dan promosi karyawan dengan dasar prestasi.

e EKMA4370/MODUL 3

7.
8.

3.17

Menggunakan teknik-teknik yang mampu menggugah munculnya


gagasan, termasuk sistem untuk memberi saran dan brainstorming.
Memiliki sumber daya, manajer, manusia, dan waktu yang memadai,
sehingga sasaran memang memungkinkan untuk tercapai.

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)
4)
5)

J elaskan pengertian kreati vitas!


Sebutkan dua komponen kreativitas dan jelaskan perbedaannya!
Jelaskan duajenis pendekatan dalam perumusan solusi permasalahan!
Sebutkan cara-cara yang diharapkan bisa membantu meningkatkan
kreativitas seseorang!
Sebutkan empat tahapan proses kreatif untuk memunculkan inovasi!

Petunjuk Jawaban Latihan


1)

2)

3)

Kreativitas didefinisikan sebagai pengumpulan ataupun penumpukan


gagasan yang dapat membuat suatu sistem menjadi lebih efektif dan juga
lebih efisien.
Dua komponen penting dari kreativitas yaitu proses dan orang. Proses,
berorientasi pada sasaran, dan sebenarnya proses dirancang untuk bisa
menjawab permasalahan yang dihadapi. Sedangkan orang merupakan
komponen yang menentukan corak solusi yang akan dimunculkan dalam
mengatasi permasalahan.
Dua jenis pendekatan dalam perumusan solusi permasalahan yakni jenis
solusi adaptor (merupakan tiruan dari solusi yang sudah biasa dijalankan
oleh pihak lain) dan solusi baru yang inovatif. Adapun perbedaan kedua
pendekatan tersebut adalah

3.18

4)

KEWIRAUSAHAAN

Solusi Adaptor

Solusi lnovatif

Menggunakan pendekatan yang sifatnya


berdisi Jlin, teliti, dan men ikuti Jrosedur
Lebih tertarik pada pemecahan masalah
daripada penemuan atau pemahaman
permasalahan
Berusaha menyempurnakan praktekpraktek pemecahan masalah yang sudah
biasa di unakan
Cenderung berorientasi terhadap alat
pemecahan masalah
'
'
Mampu menan ani masalah hin a nnc1
Mudah dipengaruhi oleh suasana kerja
sama dan kedekatan dalam kelompok

Memikirkan
solusi
permasalahan
den an sudut pandan 1an tidak biasa
Menemukan
memahami
atau
permasalahan dan kemungkinan cara
Jen 'elesaiann'la
'
Mempertanyakan asums1 dasar dari
praktek-praktek pemecahan masalah
yan sudah biasa di unakan
Tidak terlalu mempedulikan alat, lebih
tertarik terhadap hasil
Tidak ada pekeraan van sifatn 'a rutin
Tidak peduli terhadap kesepakatan dan
tidak peka terhadap perasaan orang
lain

Cara-cara untuk meningkatkan kesadaran terhadap kebiasaan berpikir


yang menghambat kreativitas, sehingga diharapkan bisa membantu
meningkatkan kreativitas seseorang:
a) Mengenali hubungan.
b) Mengembangkan pemahaman tentang fungsi.
c) Menggunakan otak.
d) Menghilangkan cara berpikir yang menghambat.
Empat tahapan proses kreatif untuk memunculkan inovasi
a) Tahapan 1: Akumulasi Pengetahuan.
b) Tahapan 2: Proses Inkubasi.
c) Tahapan 3: Memunculkan Gagasan.
d) Tahapan 4: Evaluasi dan Implementasi.

5)

RANGKUMAN- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

1.

Penting untuk dipahami bahwa entrepreneur yang berpotensi meraih


kesuksesan ternyata memiliki niat atau keinginan untuk
mewujudkan sebuah gagasan baru melewati berbagai tahapan
pengembangan sehingga gagasan tersebut berhasil diwujudkan.
Inovasi semacam ini rnerupakan basil dari kornbinasi 'mirnpi' untuk
rnernunculkan gagasan yang bagus, disertai dengan daya tahan serta
dedikasi untuk rnenjaga dan rnernpertahankan gagasan tersebut
selarna proses pengernbangannya.

EKMA4370/MODUL 3

2.

3.

4.

5.

6.

3.19

Kreativitas dalam hal ini didefinisikan sebagai pengumpulan


ataupun penumpukan gagasan yang dapat membuat suatu sistem
menjadi lebih efektif dan juga lebih efisien.
Proses dan orang merupakan dua komponen penting dari kreativitas.
Proses yang orientasinya pada sasaran, sebenarnya dirancang untuk
bisa menjawab permasalahan yang dihadapi. Sedangkan orang
merupakan komponen yang menentukan corak solusi yang akan
dimunculkan dalam mengatasi permasalahan.
Temuan yang berhasil biasanya didahului oleh proses penjajagan
(investigasi) dan proses pengumpulan informasi. Penjajagan untuk
melakukan pengumpulan informasi dilakukan melalui berbagai jenis
cara, misalnya melalui bahan bacaan, atau dengan melakukan
diskusi dengan pihak-pihak yang sudah berpengalaman di bidang
sejenis, atau kadang-kadang juga dengan mengikuti pertemuan
ilmiah di mana banyak berkumpul ahli-ahli yang memiliki
pengetahuan
serta
pengalaman
yang
berkaitan
dengan
permasalahan.
Beberapa langkah yang sering kali dianggap merangsang terjadinya
proses inkubasi adalah ( 1) mengerj akan kegiatan rutin yang tidak
memerlukan pemikiran seperti menyapu halaman, mencuci piring
yang kotor, dan sebagainya; (2) berlatih dengan waktu yang teratur;
(3) mengikuti berbagai jenis permainan, seperti olahraga;
(4) memikirkan permasalahan sebelum pergi tidur; (5) melakukan
meditasi; dan (6) duduk santai pada waktu-waktu tertentu secara
teratur.
Untuk mempercepat proses memunculkan gagasan ini, perlu
rangsangan melalui (1) mimpi atau berangan-angan mengenai basil
kegiatan yang diharapkan; (2) mempraktekkan hobby yang relevan
dengan permasalahan; (3) bekerja dalam lingkungan yang tidak
tergesa-gesa; (4) menempatkan atau menganggap permasalahan
bukan sebagai sesuatu yang paling penting; (5) menyediakan buku
catatan dekat dengan temp at tidur, sehingga bisa segera mencatat
gagasan yang muncul pada saat tengah malam ataupun saat bangun
tidur; dan (6) sengaja mengambil masa istirahat pada saat sedang
sibuk bekerja

3.20

KEWIRAUSAHAAN

T E S

F" 0 R MAT I F"

1_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1)

Pengumpulan ataupun penumpukan gagasan yang dapat membuat suatu


sistem menjadi lebih efektif dan juga lebih efisien disebut ....
A. inovasi
B. inkubasi
C. kreativitas
D. pembaruan

2)

Dua komponen penting dari kreativitas yaitu ....


A. proses dan orang
B. modal dan fasilitas
C. kompetensi inti dan pendidikan
D. pendidikan dan pelatihan

3)

Salah satu solusi inovatif yaitu ....


A. menggunakan pendekatan yang sifatnya berdisiplin, teliti, dan
mengikuti prosedur
B. berusaha menyempurnakan praktek-praktek pemecahan masalah
yang sudah biasa digunakan
C. cenderung berorientasi terhadap alat pemecahan masalah
D. memikirkan solusi permasalahan dengan sudut pandang yang tidak
biasa

4)

Salah satu solusi adaptor yaitu ....


A. mempertanyakan asumsi dasar dari praktek-praktek pemecahan
masalah yang sudah biasa digunakan
B. tidak terlalu mempedulikan alat, lebih tertarik terhadap hasil
C. menggunakan pendekatan yang sifatnya berdisiplin, teliti, dan
mengikuti prosedur
D. memikirkan solusi permasalahan dengan sudut pandang yang tidak
bias a

5)

Beberapa langkah yang sering kali dianggap merangsang terjadinya


proses inkubasi adalah ....
A. berlatih dengan waktu yang teratur
B. berangan-angan mengenai basil kegiatan yang diharapkan
C. mempraktekkan hobby yang relevan dengan permasalahan
D. bekerja dalam lingkungan yang tidak tergesa-gesa

3.21

EKMA4370/ MODUL 3

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.

3.22

KEWIRAUSAHAAN

KEGIATAN

BELAL.JAR

Proses I novasi
novasi kebanyakan muncul dari usaha yang secara sadar dimaksudkan
6
untuk menemukan peluang baru. Menurut Peter Drucker inovasi adalah
sesuatu yang bersifat konseptual dan juga disertai dengan pemahaman,
sehingga calon inovator perlu turun ke lapangan untuk bisa lebih memahami
realitas baik melalui bertanya maupun dengan mendengarkan. Inovator yang
berhasil biasanya menggunakan otak kiri dan otak kanan. Mereka biasa
mengamati angka-angka, mengamati orang-orang di sekelilingnya dan secara
analitis mencoba memunculkan inovasi untuk memenuhi peluang dari apa
yang mereka lihat di sekeliling mereka. Kemudian mereka turun ke lapangan,
memeriksa potensi pasar untuk memperoleh gambaran tentang apa yang
sebenarnya merupakan ekspektasi orang-orang di sekitar mereka, memeriksa
besarnya permintaan, maupun daya belinya.
Inovasi yang paling berhasil biasanya bentuknya sederhana, jelas, dan
terfokus. Inovasi sejenis ini umumnya mengarah pada penggunaan yang juga
jelas, spesifik, dan juga memang dirancang secara cermat. Dalam proses
pengembangannya, inovasi yang berhasil semacam ini biasanya mampu
menciptakan pasar yang baru dan juga konsumen yang baru. Contohnya,
transpor berupa travel antara Jakarta dengan Bandung ditujukan bagi orangorang yang ingin bepergian dengan mudah antara kedua kota, dan bisa
berangkat maupun tiba di lokasi yang paling sesuai bagi masing-masing
orang tersebut.
Dalam kenyataannya, Inovasi ternyata cenderung lebih melibatkan
kegiatan kerja daripada kecerdasan si penemu, seperti yang diungkapkan oleh
Thomas Edison yang menganggap bahwa seorang yang jenius sebenarnya
terdiri dari 1% inspirasi ditambah dengan 99% keringat. Selain itu, Edison
juga menyatakan bahwa inovator jarang sekali yang bekerja pada banyak
bidang. Temuan Edison yang begitu beragam ternyata hanya terjadi di bidang
listrik.

Peter F.Drucker, "The Discipline of Innovation", hal.67 dalam Kuratko, hal.134.

3.23

EKMA4370/MODUL 3

A. JENIS INOVASI
Terdapat empat jenis inovasi, mulai dari produk, proses, ataupun jasa
yang betul-betul merupakan temuan baru hingga modifikasi dari produk,
proses, ataupun jasa yang sudah ada, seperti dijelaskan pada Tabel 3.4 berikut

lnl.

1.

Invensi (Invention)
Penciptaan produk baru, proses baru, ataupun jasa baru, yang belum
pernah ada sebelumnya ataupun yang belum pernah dicoba.
2.

Ekstensi (Extension)
Pengembangan produk, proses, ataupun jasa yang sebenarnya sudah ada
sebelumnya, sehingga diperoleh corak penggunaan atau pemanfaatan dengan
cara baru yang berbeda dari gagasan sebelumnya.
Tabel 3.4.
Jenis lnovasi

Jenis lnovasi
lnvensi

Ekstensi

Duplikasi

Sintesis

Keterangan
Produk, proses, atau jasa,
yang benar-benar baru

Penggunaan atau
pemanfaatan baru dari suatu
jenis produk, proses, atau
jasa yang sudah ada
Replikasi atau mengulangi
munculnya produk, proses,
ataupun jasa yang sudah ada
secara kreatif
Menggabungkan gagasangagasan atau faktor-faktor yang
sudah ada sebelumnya, menu rut
formula baru ataupun untuk
penggunaan baru.

Contoh
Kakak-beradik Wright pesawat terbang
Thomas Edison - bola lampu
Alexander Graham Bell telepon
Ray Kroc - makanan cepat
saji McDonald

Wai-Mart- department store

Fred Smith - jasa kurir

3.24

3.

KEWIRAUSAHAAN

Duplikasi (Duplication)

Mengulangi atau mereplikasi munculnya produk, proses, ataupun jasa


yang sudah ada, tetapi dengan corak pengulangan yang tidak semata-mata
meniru, melainkan dengan menambahkan sentuhan kreatif tertentu untuk
memperbaiki gagasan lama, dalam rangka memenangkan persaingan.

4.

Sintesis (Synthesis)

Menggabungkan gagasan-gagasan atau faktor-faktor yang sebelumnya


sudah ada dengan cara baru sehingga muncul pemanfaatan produk, proses,
atau j as a secara berbeda ataupun baru.

B. SUMBER INOVASI
Inovasi adalah alat yang dipergunakan oleh para Entrepreneur lebih
untuk memanfaatkan perubahan daripada menciptakan perubahan. Dalam
kenyataan, beberapa jenis temuan memang mampu membawa perubahan,
walaupun hal seperti ini sebenamya jarang terjadi, dan lebih mudah dijumpai
inovasi yang muncul untuk memanfaatkan perubahan.
Terdapat berbagai bidang yang biasanya merupakan sumber terjadinya
inovasi, seperti yang dijelaskan berikut ini.

1.

Kejadian tak Terduga

Temuan yang sifatnya tidak disengaja, dan munculnya sebenarnya


tidaklah direncanakan sehingga biasanya merupakan kejutan inovatif bagi
perusahaan.

2.

Kesenjangan

Kesenjangan terjadi apabila terdapat ketidaksesuaian antara harapan


dengan kenyataan. Banyak pencetus gagasan baru ternyata mendapat ilham
dari kesenjangan semacam ini.

3.

Menjawab Kebutuhan

Muncul kebutuhan khusus yang menyebabkan si Entrepreneur perlu


berinovasi untuk menjawab kebutuhan khusus tersebut, seperti munculnya
makanan kesehatan

EKMA4370/MODUL 3

3.25

4.

Perubahan Industri dan Pasar


Kondisi pasar selalu mengalami perubahan, baik karena sikap konsumen
berubah, terjadinya perubahan atau kemajuan teknologi, pertumbuhan sektor
industri, dll. Karena itu industri maupun pasar akan selalu berubah, baik
perubahan pada struktumya, pada definisinya, dan juga pada unsur-unsur
lainnya. Sebagai contoh, saat ini industri perawatan kesehatan sudah sangat
berubah di mana perawatan di rumah (home health care) dan pengobatan
pencegahan (preventive medicine) telah menjadi tren yang menggantikan
perawatan-inap di Rumah Sakit ataupun pembedahan. Entrepreneur perlu
mampu membaca perubahan semacam ini dan memanfaatkan peluang yang
dimunculkannya.
5.

Perubahan Demografi
Perubahan populasi, seperti umur, tingkat pendidikan, pekerj aan, sebaran
secara geografis, dsb. juga bisa memunculkan peluang. Sebagai contoh,
apabila usia rata-rata populasi meningkat, yang berarti peluang hidup menjadi
lebih besar, maka permintaan terhadap industri perawatan kesehatan juga
akan menjadi lebih besar.

6.

Perubahan Persepsi
Perubahan juga bisa terjadi pada persepsi masyarakat tentang sesuatu
hal, baik berupa pandangan maupun mengenai keadaan. W alaupun tidak
tampak secara langsung, tetapi berubahnya persepsi masyarakat bisa sangat
berpengaruh terhadap peluang usaha. Contohnya ditunjukkan oleh makin
kuatnya persepsi masyarakat tentang perlunya memiliki badan yang sehat dan
bentuk badan yang proporsional menyebabkan meningkatnya permintaan
terhadap sasanafitness serta makanan-makanan penunjang kesehatan.

7.

Gagasan dengan Dasar Ilmu Pengetahuan


Ilmu Pengetahuan merupakan dasar dari tercipta dan berkembangnya
suatu inovasi. Penemuan baru biasanya merupakan sesuatu yang dilandaskan
pada pemikiran baru, metode baru, dan pengetahuan baru. Perkembangan
inovasi sejenis ini sering kali memerlukan waktu yang panjang, mulai dari
tahapan inisiasi sehingga akhimya produk memasuki tahapan pemasaran,
karena perlu selalu dilakukan berbagai jenis pengujian maupun perbaikan.

3026

KEWIRAUSAHAAN

Beberapa jenis sumber terjadinya proses inovasi disajikan pada Tabel 3.5
berikut ini.
Tabel 30 5.
8Jmber lnovasi

SUMBERINOVASI

CONTOH

Kejadian tidak terduga

Keberhasilan tidak terduga : Komputer Apple


Kegagalan tidak terduga : Mobil Ford Edsel

Ketidaksesuaian

Pengiriman paket 1 malam

Menjawab Kebutuhan

Produk makanan bebas gula


Kepi bebas kafei n
Oven microwave

Perubahan lndustri dan Pasar

Perubahan Perawatan lnap di Rumah sakit menjadi


Perawatan Kesehatan di Rumah

Perubahan Demografi

Rumah Jompo

Perubahan Persepsi

Fitness Center, Aerobic

Gagasan dengan dasar


llmu Pengetahuan

lndustri Video

C. MITOS TENTANG INOVASI


Mitos 1
Inovasi muncul karena direncanakan dan bisa diperkirakan.
Mtos ini muncul karena didasarkan pada konsep lama yang beranggapan
bahwa dalam organisasi inovasi merupakan tugas resmi dari Bagian
Penel it ian dan Pengembangan Sebenarnya, i novasi t i dakl ah bi sa
diperkirakan dan bisa muncul dari siapa pun juga dalam sebuah

organ 1saSI
0

EKMA4370/ MODUL 3

3.27

Mitos 2
Spesifikasi teknis suatu inovasi perlu dipersiapkan secara lengkap.
Persiapan lengkap dan menyeluruh biasanya memerlukan waktu yang
panjang. Karena itu, sering kali lebih menguntungkan apabila inovasi
muncul dari kegiatan bersifat coba-coba.

Mitos 3
Kreativitas muncul dari mimpi maupun gagasan yang mengawangawang.
Dalam kenyataan, para penemu sering kali merupakan seseorang yang
kehidupannya sangat praktis, dan menciptakan sesuatu dari peluang
yang tidak teperhatikan, dari realitas, bukan dari mimpi di siang
bolong.

Mitos 4
Kegiatan skala besar membuat inovasi yang lebih baik dari kegiatan
skala kecil.
Mt os sepert i i ni berkal i-kal i t erbukt i sal ah. Perusahaan-perusahaan
besar modern seri ng kal i mendorong karyawan unt uk bekerj a dal am
kelompok-kelompok kecil di mana gagasan kreatif lebih mudah muncul.

Mitos 5
Teknologi merupakan pendorong Inovasi dan keberhasilan.
Teknologi memang merupakan salah satu sumber inovasi, tetapi bukan
sat u-sat unya sumber. Pasar at au konsumen seri ng kal i merupakan
sumber i novasi yang Iebi h kuat. lnovasi yang muncul karen a t unt ut an
pasar at au pun yang didasarkan pad a kebut uhan konsumen seri ng kal i
merupakan i novasi dengan pel uang sukses paling besar.

D. PRINSIP INOVASI
Entrepreneur perlu memahami prinsip-prinsip Inovasi. Prinsip-prinsip
Inovasi perlu dipelajari, dan apabila digabungkan dengan kesempatan, dapat
mendorong individu untuk berinovasi.

3.28

1.

2.
3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

KEWIRAUSAHAAN

Cenderung bertindak
Inovator haruslah aktif mencari gagasan baru, mencari kesempatan, atau
sumber inovasi.
Menyederhanakan produk, jasa, atau proses, dan mudah dipahami
Masyarakat perlu bisa memahami temuan tersebut dengan mudah.
Membuat produk, jasa, atau proses berdasarkan kebutuhan konsumen
Inovator perlu selalu mengingat konsumen yang akan menggunakan
temuannya. Semakin kuat kesadaran inovator terhadap kebutuhan
konsumen maka semakin besar peluang bahwa gagasannya akan
diterima dan digunakan oleh masyarakat.
Mulai dengan skala kecil
Inovator sebaiknya tidak mengawali proyek atau kegiatannya dalam
skala besar. Sebaiknya, memulai dalam skala kecil, kemudian
membangun dan berusaha mengembangkannya, sehingga pertumbuhan
terencana dan ekspansi bisa terjadi secara benar dan pada waktu yang
tepat.
Memiliki rasa optimis bahwa akan berhasil
Inovator sebaiknya optimis bahwa akan berhasil, antara lain dengan
mencari ceruk pasar yang sesuai bagi temuannya.
Temuan dicoba, diuji, dan diperbaiki
Inovator harus selalu mengikuti prosedur "cob a, uji, perbaiki" sehingga
produk, jasa, dan proses yang dihasilkan menjadi lebih sempurna.
Belajar dari kesalahan
Inovasi tidak menjamin tercapainya keberhasilan. Tetapi, tetapi yang
lebih penting disadari adalah menyadari bahwa kesalahan sering kali
merupakan sumber munculnya inovasi.
Memiliki jadwal dan ukuran kemajuan
Inovator perlu memiliki jadwal yang dapat menunjukkan kemajuan yang
telah dicapai. Walaupun kegiatannya tidak memenuhi target jadwal
ataupun lebih cepat dari rene ana, memiliki rene ana dan j adwal tetap
diperlukan agar ia dapat merencanakan dan mengevaluasi kegiatannya.
Memberikan penghargaan untuk kegiatan heroik
Kegiatan inovatif perlu mendapat penghargaan, dan juga memberikan
toleransi tertentu terhadap kegagalan. Toleransi ini sering kali mampu
merangsang munculnya inovasi, yang mampu memberikan cakrawala
baru bagi perusahaan.

3.29

EKMA4370/MODUL 3

10. Bekerja dengan giat dan terus-menerus


Gambaran ini tampaknya sederhana tetapi tepat untuk menggambarkan
prinsip inovasi. Inovasi yang berhasil biasanya muncul dari kegiatan
kerja, bukan dari kejeniusan, ataupun dari sesuatu yang misterius.

E. LIMA JENIS INOVATOR


Frohman dan Pascarella mengungkapkan bahwa terdapat lima jenis
Inovator, yaitu:

1.

Penjaga Gerbang
Inovator sejenis ini mengumpulkan dan menyebarkan informasi
mengenai perubahan atau kemajuan dalam bidang teknis. Mereka tidak
pernah terlambat memahami perkembangan mengenai apa yang terjadi
ataupun tentang gagasan-gagasan baru. Informasi mengenai perkembangan
yang terjadi mereka peroleh lewat hubungan pribadi, pertemuan para ahli,
ataupun dari media massa. Apabila penjaga gerbang ini memperoleh
informasi yang relevan, mereka akan mengirimkan ataupun meneruskan
informasi tersebut kepada pihak ataupun unit yang sesua1 agar
ditindaklanjuti.

2.

Pengembang Gagasan
Pengembang gagasan biasanya menganalisis informasi tentang teknologi
baru, produk baru, ataupun prosedur yang baru, untuk menemukan gagasan
baru bagi perusahaan. Gagasan baru tersebut mungkin berupa solusi yang
bersifat inovatif terhadap permasalahan yang muncul dalam mengembangkan
produk, dalam pengembangan usaha, ataupun dalam mencari peluang baru
dalam pemasaran produk ataupunjasa.

3.

Juara
Para juara merupakan penganjur atau pendorong gagasan baru.
Pemegang peran juara akan berusaha untuk mendapatkan berbagai jenis
sumber yang akan digunakan untuk membuktikan bahwa gagasannya
memang layak dikembangkan. Para juara cenderung mementingkan basil dan
tidak terlalu peduli risiko dan juga tidak tertarik untuk mempelajari
konsekuensi yang harus dihadapi apabila terj adi kegagalan. Misi utama para
juara adalah untuk menyingkirkan berbagai jenis hambatan terhadap gagasan
baru.

3.3Q

KEWIRAUSAHAAN

4.

Project Managers
Seseorang perlu merencanakan anggaran dan jadwal, menyusun laporan
yang memuat informasi tentang kemajuan yang sudah dicapai. Ia juga
mengoordinasikan tenaga kerja dan mengusahakan berbagai peralatan yang
diperlukan maupun berbagai jenis sumber lainnya. Selain itu, ia juga
memantau kemajuan yang berhasil dicapai dan membandingkannya dengan
rencana. Para manajer proyek ini yang mengintegrasikan dan mengelola
pekerjaan, tenaga kerja, yang dibutuhkan untuk mengubah suatu gagasan
menjadi kenyataan.

5.

Pelatih

Jenis ini menggambarkan aspek teknis dan aspek hubungan


antarmanusia yang terjadi dalam proses inovasi. Pelatih akan mengusahakan
pelatihan teknis yang berkaitan dengan pengembangan suatu gagasan baru,
dan membantu tenaga kerja agar bisa bekerja sama mengubah gagasan
menjadi kenyataan.

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)
4)
5)

J elaskan jenis inovasi duplikasi dan beri contoh!


Jelaskan jenis sintesisi dan beri contoh!
Jelaskan inovator tipe 'penjaga gerbang'!
J elaskan inovator tipe juara!
J elaskan inovator tipe pelatih!

Petunjuk Jawaban Latihan


1)

2)

Inovasi duplikasi merupakan replikasi atau mengulangi munculnya


produk, proses, ataupun j as a yang sudah ada secara kreatif. Contoh W alMart.
Jenis inovasi sintesis berusaha menggabungkan gagasan-gagasan atau
faktor-faktor yang sudah ada sebelumnya, menurut formula baru ataupun
untuk penggunaan baru. Contohnya perusahaanjasa kurir Fred Smith.

3.31

e EKMA4370/MODUL 3

3)

Inovator tipe 'penjaga gerbang' merupakan inovator yang mengumpulkan dan menyebarkan informasi mengenai perubahan atau kemajuan
dalam bidang teknis.
Tipe inovator juara merupakan penganjur atau pendorong gagasan baru.
Tipe inovator pelatih menggambarkan aspek teknis dan aspek hubungan
antarmanusia yang terj adi dalam proses inovasi.

4)
5)

RANGKUMAN

------------------------------------

1.
2.
3.

4.

Inovasi yang paling berhasil biasanya bentuknya sederhana, jelas,


dan terfokus.
Terdapat empat jenis inovasi, yaitu Invensi (Invention), Ekstensi
(Extension), Duplikasi (Duplication), dan Sintesis (Synthesis).
Terdapat berbagai bidang yang biasanya merupakan sumber
terj adinya inovasi, yaitu
a. kej adian tidak terduga;
b. ketidaksesuaian;
c. menjawab kebutuhan;
d. perubahan industri dan pasar;
e. perubahan demografi;
f. perubahan persepsi;
g. gagasan dengan dasar ilmu pengetahuan.
Frohman dan Pascarella mengungkapkan bahwa terdapat lima jenis
inovator, yaitu
a. penjaga gerbang;
b. pengembang gagasan;

c. JUara;
d. project managers;
e. pelatih.

TES

FORMATIF 2

Pilihlah satu j awaban yang paling tepat!


1)

Penciptaan produk baru, proses baru, ataupun jasa baru yang belum
pernah ada sebelumnya ataupun yang belum pernah dicoba disebut ....
A. ekstensi
B. duplikasi
C. sintesis
D. invensi

3.32

KEWIRAUSAHAAN

2)

Pengembangan produk, proses, ataupun jasa yang sebenarnya sudah ada


sebelumnya, sehingga diperoleh corak penggunaan atau pemanfaatan
dengan cara baru yang berbeda dari gagasan sebelumnya disebut ....
A. ekstensi (extension)
B. duplikasi
C. sintesis
D. invensi

3)

Jenis inovator yang biasanya menganalisis informasi tentang teknologi


baru, produk baru, ataupun prosedur yang baru untuk menemukan
gagasan baru bagi perusahaan disebut ....
A. pengembang gagasan
B. penjaga gerbang
C. juara
D. pelatih

4)

Inovasi yang didasarkan adanya ketidaksesuaian antara harapan dengan


kenyataan merupakan inovasi yang bersumber pada ....
A. kej adian tidak terduga
B. kesenjangan
C. perubahan demografi
D. perubahan persepsi

5)

Ide pendirian rumah jompo merupakan inovasi yang bersumber pada ....
A. kej adian tidak terduga
B. kesenjangan
C. perubahan demografi
D. perubahan persepsi

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal

e EKMA4370/MODUL 3

3.33

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.

3.34

KEWIRAUSAHAAN

Kunci Jawaban Tes Format if


Tes Formatif 1
1)
2)
3)
4)
5)

c
A
D

c
A

Tes Formatif2
1) D
2) A
3) A
4) B
5) c

e EKMA4370/MODUL 3

3.35

Daft ar Pust aka


Boyd and Gumpert. (1985). Coping with Entrepreneurial Stress. Harvard
Business Review, Nov, Dec.
Bruce G. Whiting. (1988). Creativity and Entrepreneurship: How Do They
Relate? Journal of Creative Behavior 22, No.3.
Donald M. Dible. (1980). Small Business Success Secrets. The Entrepreneur
Press.
Doris Shallcross, Anthony M. Gawienowski. (1989). ''Top Experts Address
Issues on Creativity Gap in Higher Education. Journal of Creative
Behavior 23, No.2.
Douglas W. Naffziger, Jeffrey S. Hornsby, and Donald F. Kuratko. (1994).
"A Proposed Research Model of Entrepreneurial Motivation",
Entrepreneurship Theory and Practice. Spring.
Edward de Bono. (1970). Lateral Thinking, Creativity Step by Step. New
York: Harper & Row.
Eugene Staley, Richard Morse. (1965). Modern Small Industry for
Developing Countries. McGraw-Hill.
John J. Kao. (1991). The Entrepreneur. Englewood Cliffs, New Jersey:
Prentice-Hall.
Manfred P.R. Kets de Vries. (1985). The Dark Side of Entrepreneurship.
Harvard Business Review, Nov, Dec.
Michael Kirton. (1976). Adaptors and Innovators: A Description and
Measure. Journal of Applied Psychology, Oct.
Peter F. Drucker. (1985). Innovation and Entrepreneurship. New York,
Harper & Row.

3.36

KEWIRAUSAHAAN

Peter R. Dickson. (1994). Marketing Management. (Fort Worth, TX), The


Dryden Press.
Peter R. Dickson. (2000). Marketing Research and Information Systems,
Marketing Best Practices. Ft. Worth, TX : Harcourt College Publishers.
Program Orientasi Industri Kecil dan Menengah di Perguruan Tinggi. (2007).
Paket 1 Pelatihan IKM untuk Wisudawan Perguruan Tinggi. Bandung:
Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen
Perindustrian Republik Indonesia dan SBHL Consulting.
S.B. Hari Lubis. (1984). Caracteristiques des Dirigeants, Degre de
Croissance et Types d'Organization Dans Les Petites Entreprises en
Indonesia. Etude de 61 Firmes Industrielles de Textile. Disertasi Doktor,
IAE Grenoble-Prancis.
Stephen W McDaniel and A. Parasuraman. (1986). "Practical Guidelines for
Small Business Marketing Research". Journal of Small Business
Management, Jan.
Thomas Monroy and Robert Folger. (1993). "A Typology of Entrepreneurial
Styles : Beyond Economic Rationality. Journal of Positive Entreprise IX,
No.2.
Timothy A. Matherly and Ronald E. Goldsmith. (1985). The Two Faces of
Creativity. Business Horizons, Sept/Oct.

MDDUL 4

Karakt eri st i k Produk/ Jasa


yang Sesuai untuk Usaha Kecil
Dr. lr. S B. Hari Lubis
PENDAHULUAN
1

epasang peneliti Amerika, Staley dan Morse , setelah mengamati data


industri di negaranya merasa heran karena dalam sistem ekonomi yang
bebas seperti di negeri mereka, temyata terdapat beberapa sektor industri
2
yang dikuasai atau didominasi oleh industri ukuran keci1 . Setelah
mempelajari ciri-ciri beberapa sektor industri yang dikuasai oleh perusahaanperusahaan industri berukuran kecil dan membandingkannya dengan
beberapa sektor industri yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan industri
berukuran besar, akhirnya mereka menemukan bahwa sektor-sektor industri
tersebut mengandung faktor-faktor tertentu yang sesuai (javorabel) bagi
perusahaan industri berukuran kecil sehingga mendorong perusahaanperusahaan industri berukuran kecil menjadi unggul (mendominasi) sektorsektor. tersebut. Selain itu, pada beberapa sektor industri lainnya mereka
menemukan faktor-faktor tertentu yang justru lebih sesuai (javorabel) bagi
perusahaan industri ukuran besar sehingga mendorong industri berukuran
besar menjadi unggul. Secara keseluruhan mereka menemukan bahwa
terdapat faktor-faktor yang sesuai untuk perusahaan industri kecil dan faktor3
faktor lainnya yang justru mendorong keberhasilan industri ukuran besar .

Eugene Staley, Richard Morse, Modem Small Industry for Developing Countries,
McGraw-Hill, 1965
2

Staley dan Morse menganggap suatu sektor industri dikuasai oleh perusahaanperusahaan industri berukuran kecil apabila lebih dari 50% omzet di sektor itu
dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan industri ukuran kecil.
3
Walaupun penelitian Staley dan Morse khusus dilakukan terhadap sektor industri,
tetapi sifat-sifat produk yang sesuai bagi industri kecil juga sesuai bagi perusahaan
jasa dan usaha kecil pada umumnya.

4.2

KEWIRAUSAHAAN

Dalam modul ini akan dibahas faktor-faktor yang sesuai (javorabel)


untuk perusahaan industri skala kecil. Setelah mempelajari modul ini,
diharapkan mahasiswa mampu:
1. menjelaskan karakteristik-karakteristik yang sesuai (javorabel) untuk
perusahaan industri berukuran kecil;

2. menjelaskan ciri-ciri produk/jasa yang sesua1 (javorabel) bagi


perusahaan industri berukuran kecil;
3. menjelaskan pengaruh lokasi, proses dan pasar terhadap kesesuaian jenis
produk/jasa bagi industri kecil;
4. tempat menemukan gagasan penciptaan produk/jasa baru yang sesuai
untuk industri kecil;
5. menjelaskan instrumen ABCD.

4.3

EKMA4370/MODUL 4

KEGIATAN

BELAL.JAR

Jeni s Produk/ Jasa yang Sesuai dengan


Usaha Keci I
ungkin kita semua masih ingat ketika krisis ekonomi yang melanda
negara kita beberapa tahun yang lalu. Ketika itu terjadi gelombang
PHK di mana-mana. Bayangkan, ketika harga barang-barang membumbung
tinggi, justru banyak orang yang mengalami PHK. Untuk mengatasi hal itu,
pada waktu itu banyak orang yang mencoba menjadi wirausaha. Salah satu
fenomena di Jakarta ketika itu adalah banyaknya orang mendirikan kafe
dalam suatu tenda, atau yang populer dengan sebutan "kafe tenda". Selain
"kafe tenda", pada waktu krisis tersebut banyak orang tiba-tiba menekuni
bisnis jangkrik. Saat ini pelatihan beternakjangkrik menjadi marak.
Namun saat ini, kebanyakan usaha-usaha tersebut rontok. Mengapa hal
itu terjadi? Ternyata, usaha kecil itu menuntut beberapa persyaratan atau
karakteristik tertentu. Untuk itulah maka dalam Kegiatan Belajar 1 ini, kami
akan mengulas masalah tersebut.
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa agar sukses dalam usaha kecil,
maka dibutuhkan persyaratan, yakni kesesuaian dalam hal berikut.
1. Kesesuaian antara jenis dan corak produk/jasa yang dihasilkan oleh
Usaha Kecil dengan corak pasar yang membutuhkan produkljasa jasa
tersebut.
2. Kesesuaian antara pasangan produkljasa dengan pasarnya terhadap corak
dari pengusaha, yaitu terhadap corak dan keterbatasan kemampuan diri si
pengusaha maupun perusahaannya.
Kasus Roti Bakar berikut ini dimaksudkan untuk lebih memahami jenis
dan corak produklj as a dan kesesuaiannya terhadap us aha kecil.
KASJS FOTI BAKAR
Tahun 1966, para pelajar dan mahasiswa di Indonesia, termasuk di
kota Bandung, sedang aktif terlibat melakukan berbagai aksi
demonst rasi unt uk menumbangkan rej i m Or de Lama. Aki bat nya proses
belajar sering kali ditinggalkan, bahkan sebagian pelajar dan mahasiswa
t ersebut t erpaksa meni nggal kan bangku sekol ah at au pun kul i ah mereka
selama berbulan-bulan. Setiap hari, mereka berdemonstrasi atau

4.4

KEWIRAUSAHAAN

melakukan berbagai kegiatan lainnya, sedangkan di malam hari mereka


berkumpul di markas yang di namakan "konsul at" , seri ng kal i bergadang,
tidak tidur untuk berjaga-jaga dan merencanakan kegiatan yang akan
di Iakukan keesokan hari nya.
Akhirnya, rejim Orde Lama tumbang, digantikan oleh rejim Qde Baru.
Kondisi kemudian berangsur-angsur aman dan kehidupan kembali
menj adi normal.
Tetapi, banyak aktivis pelaj ar dan mahasiswa yang ternyata
"kebablasan", sulit untuk kembali menj adi "anak sekolah" yang normal.
l\!1ereka mengalami kesulitan untuk menghilangkan kebiasaan berkumpul
dan bergadang di malam hari. Lama-kelamaan, tempat berkumpul
mereka pindah ke radio-radio amatir yang memang banyak bermunculan
pada saat itu. Radio-radio amatir inilah yang di kemudian hari
kebanyakan berubah bentuk menjadi radio swasta komersial. Kebiasaan
bergadang yang berkepanj angan i ni akhi rnya mengi I hami penyanyi
Ahoma lrama untuk menciptakan lagu "Bergadang" yang hingga
sekarang masih sangat populer di Indonesia.
Kondisi malam hari di kota Bandung di saat itu relatif masih sepi.
Berbeda dengan kondisi sekarang di mana kehidupan malam seakan
tidak pernah berhenti. Saat itu, warung makan yang buka hingga dini
hari san gat t erbat as j uml ahnya. Konsumen warung makan sej eni s i ni
kebanyakan adal ah pedagang yang akan berbel anj a di pasar i nduk dan
pengemudi angkutan kota, yang memang memulai kegiatannya sej ak
di ni hari. Karen a it u, para pemuda yang bergadang i ni seri ng kal i
mengalami kesulitan apabila di malam hari mereka bermaksud mencari
warung makan apabila mereka merasa lapar.
Kel angkaan penj ual makanan di mal am hari i ni akhi rnya mendorong
muncul nya gagasan seorang karyawan sal ah sat u radio swast a unt uk
membuka kedai yang menj ual berbagai j enis minuman hangat seperti
kopi susu, coke Iat susu, dan rot i bakar dengan berbagai j eni s i si, sepert i
selai, cokelat, dan sebagainya. Kedai roti bakar ini ternyata sangat
sesuai dengan kebut uhan para pel ajar dan mahasi swa yang bi asa
bergadang hi ngga di ni hari, sehi ngga segera menj adi popul er dan sangat
di sukai kal angan anak mud a di kat a Bandung. Ti ap mal am pengunj ung
kedai rot i bakar t ersebut ban yak sekal i, seakan t idak pernah berhent i.
l\!1elihat keberhasilan warung roti bakar yang pertama, banyak orang
kemudian meniru mendirikan warung roti bakar. Dalam waktu yang
tidak terlalu lama bertebaran banyak sekali kedai roti bakar di seluruh
penj uru kat a Bandung. Akhi rnya, Iebi h banyak pi hak yang menj ual rot i
bakar di banding j uml ah pembel i. Pasar menj adi j enuh, dan akhi rnya
kedai-kedai roti bakar mengalami kesulitan mendapatkan pembeli. Satu
demi sat u kedai rot i bakar t ersebut akhi rnya bangkrut, kemudi an
terpaksa ditutup oleh pemiliknya.

EKMA4370/MODUL 4

4.5

Kasus ini memberikan penjelasan bahwa pasar Roti Bakar menjadi jenuh
karena produk semacam itu terlalu mudah ditiru, atau dengan perkataan lain,
4
merniliki "ambang teknologi" yang terlalu rendah . Berdasarkan kasus Roti
Bakar tersebut maka dapat ditarik kesimpulan berikut ini.
1. Salah satu sifat atau karakteristik produk/jasa adalah "tingkat kesulitan
untuk menghasilkannya", atau ambang teknologinya.
2. Setiap jenis produk/jasa memiliki sifat atau karakteristiknya masingmasing. Berdasarkan Kasus Roti Bakar di atas, ternyata dalam suatu
produk/jasa terdapat sifat atau karakteristik yang menyebabkan
produk/jasa tersebut tidak sesuai untuk usaha kecil.
3. Perlu ditemukan aspek-aspek yang merupakan sifat atau karakteristik
jenis produk/jasa, kemudian perlu dikaji kesesuaian karakteristik tersebut
untuk dijalankan oleh Usaha Kecil.
Selanjutnya, pengamatan yang dilakukan penulis terhadap sejumlah
industri kecil tekstil menunjukkan bahwa sebagian perusahaan ternyata bisa
bertahan bahkan berkembang. Perusahaan industri kecil tersebut ternyata
mempunyai corak strategi yang mampu menghindarkan dari persaingan
dengan industri tekstil ukuran besar serta terlindungi dari ketatnya persaingan
dengan sesama industri kecil. Adapun pilihan corak strategi yang diterapkan
5
industri kecil tekstil tersebut adalah sebagai berikut.
1. Untuk mempertahankan diri dari persaingan dengan industri tekstil
ukuran besar, industri kecil tekstil yang sanggup bertahan dan
berkembang memilih strategi sebagai berikut.
a. Mernilih jenis produk tekstil dengan permintaan terbatas, sehingga
tidak dirninati oleh industri tekstil ukuran besar, misalnya jenis
tekstil tradisional ataupun tekstil untuk penggunaan khusus seperti
untuk upacara adat. Industri tekstil ukuran besar tidak berrninat
memasuki pasar dengan perrnintaan terbatas karena tidak
memberikan peluang untuk mencapai skala ekonornis yang
memadai.
4

Secara umum, hambatan untuk "masuk" dalam suatu jenis usaha disebut "barrier to
entry". Dalam kasus roti bakar, hambatan ini hanya menyangkut aspek teknologi
produksi, sehingga dinamakan "ambang teknologi".
5
Program Orientasi lndustri Kecil dan Menengah di Perguruan Tinggi, Paket 1
Pelatihan IKM untuk Wisudawan Perguruan Tinggi, Direktorat Jenderal lndustri
Kecil dan Menengah. Departemen Perindustrian Republik Indonesia dan SBHL
Consulting Bandung, 2007.

4.6

KEWIRAUSAHAAN

b.

2.

Memilih jenis produk tekstil dengan ongkos produksi per unit yang
tidak dipengaruhi oleh volume produksi. Dengan demikian, ongkos
produksi per unit di industri besar tidak menjadi lebih rendah karena
memproduksi lebih banyak. Jenis tekstil yang memenuhi kriteria ini
adalah yang proses produksinya banyak dilakukan secara manual.
Untuk mempertahankan diri dari persaingan dengan sesama industri
tekstil ukuran kecil, industri kecil tekstil yang sanggup bertahan dan
berkembang memilih jenis tekstil yang proses produksinya memiliki
tingkat kesulitan ( ambang teknologi) yang cukup tinggi, sehingga tidak
semua industri kecil tekstil mampu membuat produk sejenis itu.

Jika kita menyimak Kasus Roti Bakar di atas dengan seksama maka kita
akan menemukan bahwa salah satu karakteristik produkljasa yang mampu
memberikan perlindungan, agar para pesaing tidak mudah masuk, yaitu
ambang teknologi atau tingkat kesulitan untuk membuat produk atau jasa.
Sedangkan berdasarkan pembahasan terhadap Industri Kecil Tekstil di
atas kita akan menemukan dua kriteria atau karakteristik lainnya, yaitu
a. besarnya permintaan terhadap produk atau jasa, dan
b. hubungan antara ongkos produksi per unit dengan volume produksi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa setiap jenis produk/jasa
memiliki ciri atau karakteristik tertentu. Kita perlu mempelajari ciri atau
karakteristik produk/jasa tersebut apakah sesuai untuk diusahakan oleh
U saha Kecil.

A. JENIS PRODUK/JASA YANG SESUAI BAGI USAHA KECIL


6

Setelah mengamati data industri di negaranya , Staley dan Morse


merasa heran karena dalam sistem ekonomi yang bebas seperti di Amerika
Serikat, ternyata terdapat beberapa sektor industri yang dikuasai atau

Eugene Staley, Richard Morse, Modem Small Industry for Developing Countries,
McGraw-Hill, 1965.
7
Eugene Staley, Richard Morse, Modem Small Industry for Developing Countries,
McGraw-Hill, 1965.

4.7

e EKMA4370/MODUL 4

didominasi oleh industri ukuran keci1 . Setelah mempelaj ari ciri-ciri dari
beberapa sektor industri yang didominasi oleh perusahaan-perusahaan
industri berukuran kecil dan membandingkannya dengan beberapa sektor
industri yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan industri berukuran besar,
Staley dan Morse akhirnya menemukan bahwa sektor-sektor industri tersebut
mengandung faktor-faktor tertentu yang sesuai bagi perusahaan industri
berukuran kecil, sehingga mendorong perusahaan-perusahaan industri
berukuran kecil menjadi unggul di sektor-sektor tersebut. Selain itu, pada
beberapa sektor industri lainnya, Staley dan Morse menemukan faktor-faktor
tertentu yang justru lebih sesuai bagi perusahaan industri ukuran besar
sehingga mendorong industri berukuran besar menjadi unggul. Secara
keseluruhan mereka menemukan bahwa terdapat 10 (sepuluh) faktor yang
sesuai (favorable) bagi perusahaan industri kecil dan 10 (sepuluh) faktor
9
lainnya yang justru mendorong keberhasilan industri ukuran besar .
Sepuluh faktor yang sesuai bagi perusahaan industri kecil terdiri dari
faktor-faktor sebagai berikut.
1. Hubungan antara aspek fisik dengan aspek engineering.
2. Produk yang memerlukan tingkat keterampilan dan ketelitian yang
tinggi.
3. Produk massal komponen-komponen khusus, atau produk akhir yang
bersifat khusus.
4. Produk yang dibuat dalamjumlah kecil.
5. Produk yang dipengaruhi oleh lokasi dan ongkos transportasi.
6. Produk dengan desain khusus, atau produk yang memerlukan inovasi
tinggi.
7. Hubungan yang dekat antarpersonil dalam industri kecil.
8. Fleksibilitas operasi dan ongkos tak langsung yang rendah.
9. Pelayanan yang lebih baik.
10. Respon yang cepat terhadap perkembanganlperubahan.

Staley dan Morse menganggap suatu sektor industri dikuasai oleh perusahaanperusahaan industri berukuran kecil apabila lebih dari 50% omzet di sektor itu
dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan industri ukuran kecil.
9
Walaupun penelitian Staley dan Morse khusus dilakukan terhadap sektor industri,
tetapi sifat-sifat produk yang sesuai bagi industri kecil juga sesuai bagi perusahaan
jasa dan usaha kecil pada umumnya.

4.8

KEWIRAUSAHAAN

Enam faktor pertama berkaitan dengan ciri-ciri atau karakteristik produk


yang dihasilkan oleh perusahaan industri ukuran kecil, sedang empat faktor
sisanya berkaitan dengan dinamika perusahaan industri kecil dalam
menjalankan kegiatannya.
Penjelasan lebih lanjut mengenai keseluruhan faktor-faktor tersebut
adalah sebagai berikut.

Hubungan Antara Aspek Fisik dengan Aspek Engineering


Produk yang secara fisik bobotnya ringan dan berdimensi kecil serta
proses produksinya hanya membutuhkan presisi yang sedang-sedang, sering
kali bisa dibuat hanya dengan menggunakan mesin-mesin sederhana yang
ringan dan berharga rendah, ataupun hanya dengan menggunakan proses
asembling yang relatif sederhana. Karena itu, titik-pulang-pokok (breakeven) untuk produk sejenis ini bisa tercapai pada kuantitas produksi yang
relatif rendah. Contohnya, pembuatan ring hanya menuntut penggunaan
mesin punching/mesin pons sederhana yang harganya relatif rendah,
sementara proses pembuatannya hanya menggunakan satu langkah kegiatan.
Karena itu, titik-pulang-pokok (break-even) pembuatan produk sejenis ini
bisa segera dicapai walaupun produk hanya dibuat dalam jumlah yang tidak
terlalu besar, sehingga sesuai yang dikerj akan oleh perusahaan industri yang
ukurannya kecil.
1.

2.

Produk yang Memerlukan Tingkat Keterampilan dan Ketelitian


yang Tinggi
Terdapat jenis produk tertentu yang proses pembuatannya menuntut
tingkat keterampilan ataupun tingkat ketelitian yang sangat tinggi sehingga
hanya bisa dihasilkan dengan baik oleh tenaga kerj a yang sangat ahli atau
sangat terampil. Karena itu, tidak banyak pihak atau perusahaan yang mampu
menghasilkan produk sejenis ini, sehingga berakibat bahwa hanya akan ada
sedikit saingan dalam membuat produk tersebut. Perusahaan industri
berukuran kecil yang mampu menguasai tingkat keahlian dan tingkat
keterampilan tinggi tersebut akan mampu memperoleh keunggulan dalam
persaingan walaupun berukuran relatif. Contohnya adalah perusahaanperusahaan lukisan kaca.

EKMA4370/MODUL 4

4.9

3.

Produksi Massal Komponen-komponen Khusus, atau Produk Akhir


yang Bersifat Khusus
Industri/perusahaan kecil dapat mengonsentrasikan diri untuk membuat
komponen khusus yang diperlukan oleh beberapa industri/perusahaan besar.
Bagi masing-masing industri/perusahaan besar, membuat komponen khusus
ini akan merugikan karena jumlah yang mereka perlukan tidak cukup untuk
melewati titik pulang pokok. Karena itu sebuah industri/perusahaan kecil
akan sesuai jika menerjuni bisnis yang menyediakan komponen khusus
tersebut bagi beberapa industrilperusahaan besar. Ukurannya yang kecil
menyebabkan industri/perusahaan kecil bisa mencapai titik-pulang-pokok
(break-even) secara lebih cepat (dengan jumlah produksi yang lebih rendah).
Contoh: membuat baut dengan ukuran/dimensi khusus.
4.

Produk yang Dibuat dalam Jumlah Kecil


Beberapa jenis produk tertentu tidak mempunyai bentuk yang baku
(standar) dan perlu dibuat bervariasi sesuai dengan permintaan atau pesanan
konsumen. Biasanya, setiap jenis produk hanya dibuat dalam jumlah yang
kecil sehingga hanya memberikan kesempatan untuk mencapai titik-pulang
pokok (break-even) bagi perusahaan industri berukuran kecil. Di samping itu,
beberapa jenis produk tertentu memang hanya mempunyai konsumen yang
terbatas jumlahnya dan hanya dibutuhkan dalam jumlah yang terbatas.
Karena itu, produk sejenis ini juga hanya sesuai bagi perusahaan industri
berukuran kecil. Contoh produk yang hanya dibutuhkan dalam jumlah
terbatas ini adalah kain songket, yang hanya dibutuhkan dalam jumlah yang
terbatas.

5.

Produk yang Dipengaruhi oleh Lokasi dan Ongkos Transportasi


Terdapat jenis produk tertentu yang sifatnya dipengaruhi oleh lokasi dan
ongkos transportasi. Skala usaha produk sejenis ini cenderung menjadi
terbatas karena tingginya ongkos transportasi produk, ataupun karena sumber
bahan baku yang tersebar dan karena sifatnya, sulit dipindahkan sehingga
membuat ongkos angkut bahan baku menjadi mahal. Perusahaan skala besar
yang mencoba mengerjakan produk sejenis ini akan sangat dibebani oleh
besamya ongkos angkut produk ataupun bahan baku karena perusahaan akan
cenderung melayani daerah yang relatif luas. Contohnya: kurungan ayam,
peti mati, pabrik batu bata.

4. 1Q

KEWIRAUSAHAAN

6.

Produk dengan Desain Khusus, atau Produk yang Memerlukan


Inovasi Tinggi
Banyak perusahaan industri skala kecil yang muncul pertama kali
sebagai pembuat produk yang disesuaikan dengan kebutuhan atau keinginan
khusus konsumen, baik yang menyangkut aspek desain maupun aspek
lainnya. Contoh: tune-up "racing" bagi mobil atau sepeda motor.

7.

Hubungan yang Dekat Antarpersonil dalam Industri Kecil


Hubungan yang lebih erat antara pekerja dengan pimpinan maupun
antarpekerja sendiri, menyebabkan perusahaan industri kecil mampu
melayani permintaan yang sifatnya rumit dan tercapainya produktivitas yang
tinggi, maupun langkanya pemutusan hubungan kerja. Sering kali hubungan
antarpimpinan pada perusahaan industri kecil juga lebih erat, sehingga kerj a
sama menjadi lebih efektif.
8.

Fleksibilitas Operasi dan Ongkos Tidak Langsung yang Rendah


Ongkos tak langsung bisa menjadi sangat rendah pada perusahaan
industri kecil karena sederhananya prosedur operasi dan juga tingkat
birokrasinya yang rendah, berbeda dengan yang terjadi pada perusahaan
industri ukuran besar.
9.

Pelayanan yang Lebih Baik


Adanya perhatian khusus pada konsumen menyebabkan perusahaan
industri kecil mampu mencapai kualitas yang lebih baik, kecepatan yang
lebih tinggi, dan lebih fleksibel. Perhatian perusahaan industri kecil dapat
dipusatkan pada pesanan yang penting ataupun pada peluang yang menarik,
tidak seperti yang terjadi pada perusahaan industri berskala besar.
10. Respon yang Cepat terhadap Perkembangan/Perubahan
Pola permintaan produk yang dinamis menyebabkan perusahaan industri
kecil sering menghadapi perubahan. Pada saat perubahan terjadi, terbuka
kesempatan bagi perusahaan industri kecil yang karena kecepatannya dalam
pengambilan keputusan maupun dalam pelaksanaan dapat mengalahkan
perusahaan industri berskala besar.
Kedekatan perusahaan industri kecil terhadap konsumen menyebabkan
mereka lebih peka terhadap perubahan maupun untuk merasakan adanya
kesempatan.

EKMA4370/MODUL 4

4.11

Sepuluh faktor yang cocok bagi perusahaan industri kecil ini


komposisinya tidak selalu tetap, bisa berubah sesuai dengan kondisi
lingkungannya.
Dengan demikian, semakin jelas bahwa memang terdapat jenis produk
atau j as a tertentu yang karena sifatnya, lebih sesuai untuk diusahakan oleh
Usaha Kecil. Produk atau jasa sejenis ini sifatnya terlindung dari "bawah"
karena ambang teknologinya cukup sulit untuk ditembus oleh orang
kebanyakan, dan terlindung dari keharusan untuk bersaing dengan
perusahaan-perusahaan yang lebih besar. Karena itu, jika seseorang mencoba
menjadi pengusaha kecil dan ternyata mengalami kegagalan, belum tentu
karena orang yang menjalankannya tidak berbakat. Mungkin saja kegagalan
tersebut diakibatkan oleh pilihan produk ataupun j as a yang tidak sesuai
dengan berbagai karakteristik (terutama dengan kelemahan) Usaha Kecil.

B. PENGARUH LOKASI, PROSES, DAN PASAR TERHADAP


KESESUAIAN JENIS PRODUK/JASA BAGI INDUSTRI KECIL
Staley dan Morse kemudian mencoba melanjutkan penelitian mereka
untuk mengenali ciri -ciri j enis produk a tau j as a yang sesuai bagi industri
kecil dengan mencoba melihat kaitannya terhadap berbagai aspek yang
berkaitan dengan pengusahaannya di lapangan. Akhirnya ditemukan tiga
aspek lapangan yang membuat produk atau jasa lebih sesuai untuk industri
kecil, yai tu
1. lokasi;
2. proses; dan
3. pasar.
Pengaruh aspek-aspek tersebut terhadap industri kecil dijelaskan berikut

Inl.

1.

Industri Kecil yang dipengaruhi Lokasi


a.

Industri yang memproses bahan baku yang menyebar (dispersed)


Proses yang dilakukan pada jenis industri sejenis ini pada umumnya
dimaksudkan untuk mengurangi berat atau membuat dimensi produk
menjadi kecil. Dimensi produk mengecil sehingga produk bisa
dikirimkan ke tempat yang lokasinya jauh dengan ongkos yang jauh
lebih rendah daripada ongkos mengangkut bahan baku.

4.12

KEWIRAUSAHAAN

b.

Karena itu, dalam rangka menekan ongkos transpor bahan baku,


pabrik biasanya didirikan dekat dengan lokasi sumber bahan baku,
seperti dekat daerah pertanian, hutan, tempat penggalian, dan
sebagainya.
Kondisi lain yang mendasari munculnya industri kecil sejenis ini
adalah lokasi sumber bahan baku yang menyebar, sehingga
persediaan bahan pada setiap titik pengumpulan jumlahnya terbatas.
Karena itu jumlah bahan baku yang tersedia di masing-masing
lokasi jumlahnya relatif terbatas sehingga hanya mampu mencapai
skala ekonomis bagi industri ukuran kecil. Apabila pengusahaan
produk sejenis ini dilakukan oleh industri yang berukuran lebih
besar, maka terpaksa bahan baku harus dikumpulkan dari beberapa
tempat pengumpulan agar jumlahnya memadai. Tetapi pengumpulan
bahan baku seperti itu cenderung akan menaikkan ongkos produksi
karena tingginya biaya pemindahan bahan. Keterbatasan persediaan
di setiap lokasi ini juga bisa disebabkan ketersediaan bahan baku
yang sifatnya musiman.
Dalam jenis industri sejenis ini, ongkos bahan baku merupakan
bagian ongkos yang terbesar. Karena itu teknik pemrosesan sering
kali berorientasi pada penghematan bahan, yang pada umumnya
proses pengerjaannya dilakukan dengan proses mekanik yang
sederhana.
Contoh produk sejenis ini:
1) bata merah;
2) penyulingan minyak atsiri;
3) dan lain-lain.
Produk yang hanya mempunyai pasar lokal terbatas dengan ongkos
angkut/transpor produk relatif tinggi
Industri sejenis ini umumnya mengusahakan produk yang
dimensinya besar seperti kurungan ayam atau peti mati, produk yang
bobotnya berat, sulit dipegang, mudah hancur ataupun rusak apabila
dipindahkan, ataupun merupakan kombinasi dari bahan-bahan yang
berasal dari berbagai sumber yang lokasinya tersebar. Ongkos
pemindahan produk menjadi lebih tinggi dibanding ongkos
pemindahan bahan baku, sehingga lokasi perusahaan yang terbaik
adalah di dekat pasar.

EKMA4370/MODUL 4

c.

4.13

Proses produksi memakan ongkos yang cukup besar, tetapi terdiri


dari operasi pencampuran sederhana atau proses sederhana lainnya,
yang hanya memberikan keuntungan relatif kecil bagi Industri
Besar.
Apabila industri sejenis ini ditujukan untuk melayani pasar yang
lebih besar akan menjadi merugikan karena tingginya ongkos angkut
produk jadi, sehingga hanya cocok untuk melayani satu lokasi pasar
saj a, yaitu pasar yang lokasinya dekat dengan perusahaan.
Contoh produk sejenis ini:
1) peti mati;
2) tangki;
3) perahu;
4) kasur, bantal, dan bantal guling.
Industri Jasa
Industri yang menjalankan kegiatan sejenis ini umumnya melayani
permintaan yang bervariasi, di mana permintaan jasa pada umumnya
bersifat individual, bisa berubah coraknya sesuai keinginan pemesan
(job order) dan
bukan permintaan jasa dalam jumlah besar
(massal). Usaha sejenis ini biasanya memerlukan proses
penyelesaian yang cepat, sehingga lebih cocok diusahakan oleh
industri kecil karena lebih mudah untuk mempunyai kontak
langsung yang erat dengan pemesan. Ongkos tenaga kerja yang
melaksanakan proses produksi merupakan bagian penting yang
cukup besar, karena biasanya memerlukan tenaga kerja yang
memiliki keterampilan khusus dan relatif terlatih.
Perusahaan perlu berada dekat dengan lokasi konsumen agar dapat
merespons permintaan dengan cepat. Karena itu perusahaan
semacam ini lokasinya biasanya menyebar pada pusat-pusat
kegiatan. Jenis usaha semacam ini tidak sesuai bagi industri besar,
karena pada setiap daerah jumlah konsumen pengguna produk yang
diusahakan tidak cukup besar dan permintaan sangat bervariasi,
sehingga akan menjadi sangat rumit apabila diselenggarakan dalam
jumlah besar.
Contoh usaha sejenis ini:
1) perusahaan percetakan;
2) perusahaan pelapisan logam (electroplating);

4.14

KEWIRAUSAHAAN

3)
4)

2.

Industri Kecil yang dipengaruhi Proses


a.

10

laboratorium klinis untuk pemeriksaan kesehatan


reparasi kamera;

10

Proses manufaktur yang bisa dipisah


Produk yang diusahakan oleh jenis industri kecil seperti ini
menuntut adanya operasi pengerjaan yang dapat dipisah, dan
dikerjakan dengan menggunakan mesin perkakas seperti mesin
bubut, mesin skrap, dan berbagai mesin pemotongan logam lainnya.
J enis us aha semacam ini menuntut adanya spesialisasi yang tinggi,
yang merupakan ciri khas industri logam dengan presisi tinggi di
mana keahlian tenaga kerja diperoleh melalui latihan dalam
menjalankan proses produksi yang sifatnya berulang (repetitif).
Spesialisasi keahlian tenaga kerja dan pembagian tuga,s
menyebabkan adanya perpindahan produk yang sedang diproses,
dan juga perlunya dilakukan proses set-up (pemasangan produk
pada mesin yang digunakan dalam proses pengerjaan), pada setiap
langkah pengerjaan yang dilalui. Selain itu, sering kali diperlukan
peralatan khusus seperti jigs dan fixtures (perkakas pembantu, yang
berguna untuk "memegang" produk selama proses pengerjaan
dilakukan). Pembagian tugas dan perlunya spesialisasi dalam
pelaksanaan tugas-tugas ini membuka kesempatan untuk
mengintegrasikan berbagai proses yang ada dalam satu pabrik
tertentu, atau memisahkannya dalam beberapa perusahaan
tergantung pada proses yang perlu dilakukan. Karena itu jenis usaha
semacam ini bisa sesuai bagi industri ukuran besar maupun industri
yang berukuran kecil.
Komponen mesin atau peralatan tertentu, yang dibutuhkan dalam
volume pemakaian yang rendah, atau produk yang memerlukan
pengerjaan yang disesuaikan dengan kebutuhan pemesan (custommade), dan juga produk yang pengerjaannya memerlukan ketelitian
yang tinggi. Persyaratan ini menyebabkan proporsi pekerj aan presisi

Agar ukuran perusahaan bisa menjadi besar, sementara pada setiap lokasi hanya mampu "menyerap"
laboratorium klinis berukuran kecil maka berkembang usaha yang dilakukan dengan cara yang
dinamakan sebagai "multi-plant", yakni perusahaan dibangun di mana-mana tetapi di setiap lokasi
tetap dalam skala kecil.

EKMA4370/MODUL 4

b.

4.15

menjadi tinggi (dibanding pengerjaan biasa). Karena itu jenis


produk semacam ini bisa sesuai bagi industri berukuran kecil. Hal
ini juga menyebabkan tingginya biaya tenaga kerja dalam jenis
usaha ini.
Lokasi perusahaan sejenis ini sebaiknya dekat dengan konsumen
agar memudahkan komunikasi, khususnya untuk pesanan-pesanan
khusus. Kelompok usaha semacam ini sering ditemukan
mengelompok pada suatu daerah tertentu karena melayani suatu
pusat industri. Produk yang dihasilkan juga sering kali tidak
menuntut biaya pengiriman yang tinggi dan cukup ekonomis jika
dikirim kepada pemesan yang jaraknya cukup jauh, sehingga lokasi
perusahaan tidak terpengaruh oleh jarak konsumen.
Contoh produk sejenis ini:
1) ring;
2) mur dan baut;
3) perkakas pembantu.
Industri Craft atau Industri Presisi
Beberapa jenis usaha hanya cocok dikerjakan oleh perusahaan yang
selamanya berukuran kecil karena proses pengerjaan dilakukan
dengan menggunakan tangan, memanfaatkan spesialisasi karyawan
dalam kelompok berukuran kecil yang terdiri dari operator atau
pengrajin memiliki keterampilan tinggi.
Jenis usaha semacam ini biasanya menghasilkan produk dengan
biaya transportasi yang j auh lebih rendah dibanding harga
produknya sendiri, sehingga perusahaan sejenis ini dapat memilih
lokasi pabrik di pusat-pusat distribusi produk yang besar tanpa harus
mendekati lokasi sumber bahan baku ataupun mendekati konsumen.
Tetapi untuk jenis produk yang nilainya lebih rendah seperti kap
lampu, bunga plastik, dengan ongkos angkut produk yang relatif
lebih tinggi, lokasi perusahaan perlu mendekati konsumen.
Contoh produk sejenis ini:
1) barang-barang kerajinan
2) penjahit pakaian
3) produksi sepatu menurut pesanan

4. 16

KEWIRAUSAHAAN

c.

3.

Asembling sederhana, proses pencampuran (mixing), dan proses


finishing
Proses pengerjaan yang dilakukan untuk menghasilkan produk
relatif sederhana. Karena itu perusahaan yang mengerjakan produk
sejenis ini cukup berukuran kecil, karena prosesnya tidak rumit dan
volume produksi juga relatif rendah. Mesin-mesin ataupun peralatan
yang digunakan juga biasanya bersifat sederhana, dan harganya
murah sehingga tidak menuntut adanya skala ekonomis yang tinggi.
Industri kimia pada jenis usaha ini melakukan pencampuran
beberapa zat dasar menjadi produk dan juga tidak menuntut skala
ekonomis yang tinggi.
Contoh produk sejenis ini:
1) berbagai jenis komponen dari karet~
2) lem~
3) penjilidan buku~
4) pabrik tinta cetak.

Industri kecil yang dipengaruhi Pasar


a. Produk yang beragam (differentiated), yang masing-masing hanya
mempunyai skala ekonomis yang rendah
Produk yang dikerjakan oleh usaha semacam ini biasanya dibuat
bervariasi, masing-masing jenis dibuat dalam jumlah sedang dan
prosesnya tidak memerlukan waktu yang lama. Variasi produk dapat
berupa ukuran, kualitas, desain dan merek. V ariasi ini disebabkan
oleh adanya perubahan mode yang terjadi secara terus-menerus.
Tidak adanya standar yang pasti membuat produk sejenis ini tidak
dapat dibuat dalamjumlah yang sangat besar.
Keragaman produk mendorong produksi berorientasi pada proses
asembling yang tidak menuntut peralatan yang mahal (yang bisa
mengakibatkan naiknya skala ekonomis). Ongkos bahan baku sering
kali merupakan komponen biaya produksi yang cukup besar
persentasenya dalam produk seperti ini.
Contoh produk sejenis ini:
1) pakaian jadi~
2) tas tangan (wanita)~
3) dompet~

EKMA4370/MODUL 4

b.

4.17

4) sepatu;
5) barang-barang mode.
Industri yang melayani pasar ukuran kecil
Produk yang dihasilkan industri semacam ini ditandai oleh volume
permintaan yang kecil terhadap setiap jenis produk. Karena itu,
setiap jenis produk hanya bisa menghasilkan nilai keuntungan dan
pemasukan uang yang relatif kecil sehingga tidak cukup menarik
bagi industri berukuran besar dan hanya sesuai diusahakan oleh
industri berukuran kecil.
Contoh produk sejenis ini:
1) tenda;
2) jok mobil.

Dari ketiga aspek yang berpengaruh tersebut (lokasi, pasar dan proses),
penelitian Staley dan Morse menemukan bahwa di Amerika aspek lokasi
merupakan aspek yang paling terasa pengaruhnya. Penelitian mereka
menemukan bahwa industri kecil terutama unggul pada jenis us aha berikut:
1. industri kecil yang melayani pasar lokal;
2. industri kecil yang memenuhi permintaan jasa dari konsumen lokal;
3. industri kecil yang memproses bahan baku yang lokasinya tersebar.
Penelitian Staley dan Morse juga menemukan bahwa pada kondisi di
mana ongkos transpor relatif murah ternyata jarak perusahaan terhadap pasar,
dan kebutuhan pemindahan produk serta bahan baku, masih tetap
memberikan pengaruh terhadap industri kecil dan mampu mendorong
keberhasilan industri kecil, terutama di negara-negara yang secara geografis
berukuran besar.
Selain itu, penelitian ini juga berhasil menunjukkan empat jenis industri
kecil yang paling berhasil, yaitu berikut ini.
1. Industri kecil penyedia j as a, seperti perusahaan percetakan dan
perusahaan pengerjaan logam Uenis 1C).
2. Industri kecil manufaktur dengan proses operasi yang dapat dipisah
(separable manufacturing operations), yang menghasilkan produk
khusus yang pengerjaannya dilakukan dengan menggunakan mesin
seperti pembuatan komponen Uenis 2A).
3. Industri kecil yang menghasilkan produk presisi yang tinggi dan barangbarang kerajinan seperti perhiasan Uenis 2B).

4.18

4.

KEWIRAUSAHAAN

Industri Kecil yang membuat produk beragam dengan skala ekonomis


yang rendah, terutama pakaian wanita dan pakaian anak-anak Genis 3A).

Juga ditemukan bahwa perusahaan kecil yang bisa berkembang menjadi


perusahaan berukuran besar adalah industri kecil dengan proses manufaktur
yang bisa dipisah (separable manufacturing operations) dan menghasilkan
berbagai produk khusus yang dikerjakan dengan mesin seperti komponenkomponen mesin dan peralatan lainnya Genis 2A).
Berbagai jenis industri kecil yang relatif mudah mencapai keunggulan
tersebut bisa menjadi "jalan masuk" bagi perkembangan dan pengembangan
industri ataupun usaha kecil. Tetapi dengan tetap mengingat bahwa delapan
jenis industri kecil unggulan yang ditemukan di Amerika oleh penelitian
Staley dan Morse tersebut belum tentu sesuai dengan kondisi kita di
Indonesia. Karena itu perlu dilakukan penelitian sejenis untuk menemukan
jenis industri kecil unggulan bagi negeri kita.

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)

2)

3)

Agar sukses dalam usaha kecil, maka dibutuhkan persyaratan yakni


kesesuaian dalam beberapa aspek. Sebutkan aspek tersebut!
Agar mampu mempertahankan diri dari persaingan dengan industri
tekstil ukuran besar, maka industri kecil tekstil harus memilih beberapa
strategi. Sebutkan strategi tersebut!
menemukan 10 (sepuluh) faktor yang sesua1
Staley dan Morse
(favorable) bagi perusahaan industri kecil. Sebutkan faktor-faktor
tersebut!

Petunjuk Jawaban Latihan


1)

Agar sukses dalam usaha kecil maka dibutuhkan persyaratan yakni


kesesuaian dalam beberapa hal, yaitu
a) kesesuaian antara jenis dan corak produk/jasa yang dihasilkan oleh
Usaha Kecil dengan corak pasar yang membutuhkan produk/jasa
j as a tersebut;

e EKMA4370/ MODUL 4

4.19

b)

kesesuaian antara pasangan produk/j as a dengan pasarnya terhadap


corak dari pengusaha, yaitu terhadap corak dan keterbatasan
kemampuan diri si pengusaha maupun perusahaannya.
2) Agar mampu mempertahankan diri dari persaingan dengan industri
tekstil ukuran besar maka industri kecil tekstil harus memilih beberapa
strategi, antara lain:
a) memilih jenis produk tekstil dengan permintaan terbatas, sehingga
tidak diminati oleh industri tekstil ukuran besar;
b) memilih jenis produk tekstil dengan ongkos produksi per unit yang
tidak dipengaruhi oleh volume produksi. Dengan demikian, ongkos
produksi per unit di industri besar tidak menj adi lebih rendah karena
memproduksi lebih banyak.
3) Staley dan Morse menemukan 10 (sepuluh) faktor yang sesuai
(favorable) bagi perusahaan industri kecil, yaitu
a) hubungan antara aspek fisik dengan aspek engineering;
b) produk yang memerlukan tingkat keterampilan dan ketelitian yang
tinggi;
c) produk massal komponen-komponen khusus, atau produk akhir
yang bersifat khusus;
d) produk yang dibuat dalamjumlah kecil;
e) produk yang dipengaruhi oleh lokasi dan ongkos transportasi;
f) produk dengan desain khusus, atau produk yang memerlukan
inovasi tinggi;
g) hubungan yang dekat antar personil dalam industri kecil;
h) fleksibilitas operasi dan ongkos tak langsung yang rendah;
i) pelayanan yang lebih baik;
j) respon yang cepat terhadap perkembangan/perubahan.

RANGKUMAN

1.

Setelah mempelaj ari ciri-ciri dari beberapa sektor industri yang


didominasi oleh perusahaan-perusahaan industri berukuran kecil dan
membandingkannya dengan beberapa sektor industri yang dikuasai
oleh perusahaan-perusahaan industri berukuran besar, Staley dan
Morse akhirnya menemukan bahwa sektor-sektor industri tersebut
mengandung faktor-faktor tertentu, yang sesuai bagi perusahaan
industri berukuran kecil, sehingga mendorong perusahaan-

4.2Q

2.

KEWIRAUSAHAAN

perusahaan industri berukuran kecil menjadi unggul di sektor-sektor.


tersebut.
Staley dan Morse menemukan tiga aspek yang membuat produk
atau j as a lebih sesuai untuk industri kecil, yaitu
a. lokasi;
b. proses; dan
c. pasar.

T E

F 0 R MAT IF

, _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1)

U saha pakaian bordir cocok untuk us aha berskala ....


A. besar
B. sedang
C. kecil
D. konglomerat

2)

U saha tenun cocok untuk us aha berskala ....


A. besar
B. sedang
C. kecil
D. konglomerat

3)

Usaha ban mobil cocok untuk usaha berskala ....


A. besar
B. sedang
C. kecil
D. konglomerat

4)

Contoh industri yang memproses bahan baku yang menyebar (dispersed)


antara lain .. ..
A. otomotif
B. mie ins tan
C. bata merah
D. elektronik

5)

Produk yang beragam (differentiated), yang masing-masing hanya


mempunyai skala ekonomis yang rendah ....
A. otomotif
B. mie instan

4.21

EKMA4370/MODUL 4

C. pakaian jadi
D. elektronik
Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80o/o,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.

4.22

KEWIRAUSAHAAN

KEGIATAN

BELAL.JAR

Tempat Menemukan Gagasan Produk/ Jasa


Baru yang Sesuai Bagi Usaha Keci I
elain berbagai faktor yang telah dijelaskan melalui penelitian yang
dilakukan oleh Staley dan Morse di Amerika, diduga masih terdapat
faktor-faktor lain yang membuat usaha kecil mampu mencapai keberhasilan
11
ataupun menjadi unggul. Dible , seorang tenaga pemasaran (salesman) yang
selalu harus bepergian dan mengatur jadwal pertemuan berikutnya dengan
para pelanggan, selalu merasa kesulitan karena ternyata membawa-bawa
penanggalan (kalender) ataupun buku agenda dirasakannya kurang praktis.
Pengalamannya itu kemudian mendorong Dible berpikir untuk
menemukan penanggalan berukuran kecil dan mudah dibawa, sehingga tidak
mengganggu dalam perjalanannya, dan juga mudah digunakan. Akhirnya,
muncul gagasan Dible untuk membuat stiker penanggalan berukuran kecil,
tembus-pandang (transparan), yang bisa ditempelkan di kaca jam tangan.
Dengan demikian Jam tang an tetap bisa digunakan, sementara penanggalan
juga bisa dilihat dengan mudah. Menggunakan penanggalan penetapan
jadwal pertemuan berikutnya dengan para pelanggan menjadi lebih mudah
dilakukan, tanpa perlu membuka buku agenda ataupun penanggalan
berukuran besar.
Produk ciptaan Dible itu kemudian banyak diminati dan dibeli oleh
sesama tenaga pemasaran. Berawal dari stiker penanggalan tembus-pandang,
Dible kemudian menciptakan berbagai jenis produk baru, dan akhirnya ia
dikenal sebagai seorang pengusaha kecil sukses. Di kemudian hari, setelah
menjadi pengusaha kecil yang berhasil, Dible menyadari bahwa stiker
penanggalan tembus-pandang yang ia ciptakan sesuai untuk diusahakan oleh
perusahaan skala kecil karena memiliki sifat berikut.
1. Penyimpanannya mudah, untuk menyimpan sejumlah besar stiker
penanggalan tembus-pandang hanya dibutuhkan sebuah kotak karton,
dan tidak memerlukan sebuah ruangan khusus seperti gudang.

11

Donald M.Dible, Small Business Success Secrets, The Entrepreneur Press, 1980.

2.

EKMA4370/MODUL 4

4.23

Kebutuhan akan kalender juga terjadi terus-menerus (setiap tahun


berganti) walaupun jumlahnya kecil.

Selain itu, Dible juga menyarankan agar usaha kecil mencoba


menjalankan kegiatan dengan sifat memerlukan layanan khusus dan rumit.

A. GAGASAN PRODUK/JASA BARU BAGI USAHA KECIL


Dible juga menyarankan agar gagasan tentang produk atau jasa baru
yang sesuai bagi usaha kecil dicoba ditemukan melalui penelaahan terhadap
aspek -aspek berikut.

1.

Nostalgia

Kenangan terhadap masa lalu sering kali memunculkan keinginan untuk


memiliki barang-barang yang bisa membangkitkan kenangan masa lalu
(nostalgia), seperti munculnya:
a. penggemar mobil tua;
b. penggemar mebel antik;
c. penggemar lagu-lagu lama.

2.

Perubahan Peraturan Pemerintah

Perubahan peraturan pemerintah sering kali mengakibatkan munculnya


kebutuhan akan produk ataupun jasa baru, seperti:
a. keharusan penyediaan alat-alat pencegahan kebakaran;
b. penggunaan helm bagi pengendara sepeda motor;
c. penggunaan sabuk keselamatan pada pengendara mobil.

3.

Kelangkaan

Kelangkaan akan suatu jenis produk atau jasa tertentu sering kali
menyebabkan peminat terhadap jenis kebutuhan tersebut menjadi meningkat.
Kelangkaan tersebut juga menyebabkan munculnya perantara yang berperan
membantu orang yang membutuhkan pemenuhan kebutuhan yang langka
yaitu:
a. produk adi-busana (haute-couture);
b. perantara pengurusan dokumen-dokumen penting.

4.24

4.

KEWIRAUSAHAAN

Teknologi Barn

Munculnya jenis teknologi baru sering kali menumbuhkan minat untuk


memahami dan terampil teknologi baru tersebut, sehingga melahirkan
ke giatan-ke giatan seperti:
a. kursus komputer;
b. kursus membuat desain menggunakan komputer (CAD).

5.

Polusi

Semakin tercemarnya lingkungan dan bertambahnya jumlah anggota


masyarakat yang menyadari bahaya yang ditimbulkan pencemaran tersebut
terhadap kesehatan menyebabkan munculnya berbagai jenis produk yang
menawarkan peluang untuk menghindari pencemaran, seperti:
a. alat penj ernih air;
b. alat daur ulang sampah.

6.

Kesehatan

Semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya badan yang


bugar dan terhindar dari penyakit merangsang tumbuhnya berbagai jenis
produk ataupun jasa untuk menjaga kesehatan, seperti:
a. spa;
b. pusat kebugaran.

7.

Emansipasi Wanita

Emansipasi wanita menyebabkan proporsi wanita yang meninggalkan


fungsi-fungsi tradisional kaum wanita seperti ibu rumah tangga. Karena itu
muncul berbagai jenis kebutuhan yang dimaksudkan untuk menggantikan
peran kaum wanita di rumah, seperti:
a. tempat penitipan bayi;
b. makanan siap saji.

8.

Perubahan Standar Moral

Perubahan standar moral juga mendorong munculnya kebutuhan akan


berbagai hal yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan secara terbuka di
hadapan umum, seperti:
a. konsultasi seks;
b. konsultasi perkawinan.

EKMA4370/MODUL 4

4.25

9.

Rekreasi
Pola kerja yang semakin menyita waktu menyebabkan meningkatnya
jumlah orang yang merasa bahwa kebutuhannya akan rekreasi bersama
keluarga menjadi lebih penting, sehingga muncul berbagai jenis usaha
seperti:

a. arung Jeram;
b. wisata agro;
c. wisata sej arah.
Berbagai tempat untuk menemukan jenis usaha baru yang diusulkan oleh
Dible ini belum tentu seluruhnya sesuai dengan kondisi Indonesia. Di
samping itu, terdapat kondisi-kondisi khas Indonesia yang mungkin
memunculkan kebutuhan yang tidak dijumpai di negara lain, seperti
bimbingan tes untuk masuk perguruan tinggi, biro jasa untuk membantu
mengurus berbagai jenis perizinan, dan sebagainya.

B. KORIDOR YANG SESUAI BAGI USAHA KECIL


Berbagai uraian yang telah diberikan pada bagian sebelumnya
menunjukkan bahwa terdapat semacam "tempat" yang sesuai bagi usaha
kecil. Kasus Roti Bakar di Kegiatan Belajar 1 menunjukkan bahwa usaha
kecil perlu menghindari jenis usaha dengan ambang teknologi yang rendah,
sehingga terlalu mudah ditiru oleh sesama pengusaha ukuran kecil. Di sisi
lain, usaha kecil juga disarankan untuk menghindari jenis usaha dengan
permintaan yang terlalu besar, karena merupakan tempat yang lebih sesuai
bagi usaha skala besar yang memiliki modal serta kekuatan yang sulit
disaingi oleh perusahaan berukuran kecil. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa perusahaan berukuran kecil perlu memperhatikan adanya
dua sisi yang harus dihindari, sehingga seakan-akan terdapat semacam
"koridor" yang merupakan tempat yang lebih sesuai bagi usaha kecil, seperti
ditunjukkan pada gambar berikut ini.

4.26

KEWIRAUSAHAAN

pasar
kuat

pasar
lemah

Usaha
Sang at
Kecil

Usaha
Menengah
dan Besar

Koridor yang sesuai


bagi Usaha Kecil

Gambar 4. 1.
Koridor yang sesuai bagi usaha kecil

Koridor tersebut tampaknya sangat dipengaruhi oleh besamya


permintaan pasar, sebagai berikut.
1. Jika permintaan pasar kuat maka yang sesuai untuk tumbuh melayani
pasar yang kuat itu adalah usaha ukuran menengah dan ukuran besar.
2. Jika permintaan pasar lemah, maka akan tumbuh usaha yang berukuran
sangat kecil, walaupun kemudian usaha semacam ini biasanya tidak akan
mampu bertahan lama, karena permintaan pasar tidak cukup kuat untuk
mendukung usaha sangat kecil bertahan hidup (survive).
3. Koridor yang sesuai bagi us aha kecil terj adi apabila kekuatan permintaan
pasar berukuran sedang:
a. apabila dalam koridor ini permintaan pasar lemah maka akan
tumbuh usaha kecil dalamjumlah yang terbatas;
b. apabila dalam koridor ini permintaan pasar cukup kuat maka akan
tumbuh usaha kecil dalamjumlah yang besar membentuk kumpulan.
Pemahaman mengenai koridor yang sesuai bagi usaha kecil ini penting
untuk dikuasai. Banyak usaha kecil yang semula berjalan dengan baik,
kemudian mengalami kesulitan karena produk atau jasa yang diusahakan
ternyata (kemudian baru disadari) mempunyai ambang teknologi yang
rendah, sehingga terlalu banyak pihak yang ikut mengusahakannya. Tempat

EKMA4370/MODUL 4

4.27

yang juga perlu diperhatikan adalah jenis produk atau jasa yang semula
sesuai bagi usaha kecil, tetapi segera menjadi tidak sesuai jika kondisi
berubah (dan menj adi lebih sesuai bagi us aha berukuran besar). Sebagai
contoh, industri tekstil di Indonesia pemah hanya sesuai bagi usaha kecil
pada saat bahan baku masih terbatas, tetapi segera menjadi tidak sesuai
setelah ban yak pabrik pemintalan benang tenun.

C. INSTRUMEN ABCDE
Ketepatan memilih produk atau jasa yang sesuai (layak) untuk
diusahakan oleh usaha kecil, merupakan hal yang rawan dan perlu dilakukan
berhati-hati, agar usaha kecil yang hendak dijalankan bisa memiliki peluang
untuk meraih keberhasilan.
Sepuluh faktor yang mampu mendorong industri kecil untuk mencapai
keberhasilan yang ditemukan dalam penelitian Staley dan Morse, tempat
untuk menemukan jenis produk ataupun jasa yang sesuai bagi usaha kecil
yang diusulkan oleh Dible, dan berbagai pengamatan yang dijumpai di
lapangan, digunakan untuk merumuskan alat yang lebih mudah digunakan
dalam memeriksa kesesuaian suatu jenis produk ataupun jasa bagi usaha
berukuran kecil. Alat ini dinamakan Instrumen ABCDE karena menggunakan
lima jenis kriteria sebagai berikut.
Suatu jenis produk atau jasa sesuai untuk diusahakan oleh usaha kecil
apabila memenuhi kriteria sebagai berikut.

1.

Produk atau Jasa dengan Permintaan Terbatas atau Bersifat


Khusus
Permintaan pasar terhadap produk atau jasa rendah karena tingkat
kebutuhan berada dalam skala yang rendah, atau karena permintaan
pasar memiliki derajat customization yang tinggi (bervariasi) sesuai
keinginan atau kebutuhan konsumen sehingga untuk setiap variasi
tingkat permintaan menjadi rendah, atau karena ongkos angkut produk
j adi yang relatif tinggi sehingga akan dijumpai kesulitan apabila
melayani daerah yang luas.

4.28

KEWIRAUSAHAAN

2.

Produk atau Jasa dengan Somber Bahan yang Memiliki


Karakteristik Khusus
Bahan baku, bahan pembantu, dan berbagai bahan yang dibutuhkan
untuk menghasilkan produk atau jasa memiliki keterbatasan tertentu
karena: volume persediaan terbatas, lokasi tersebar, sulit dipindahkan,
ongkos angkut mahal, atau memerlukan proses-proses tambahan
sebelum dapat diproses lebih lanjut.

3.

Produk atau Jasa dengan Struktur Ongkos Tertentu


Produk atau j as a, bisa dihasilkan dengan ongkos tetap yang rendah, dan
karena sifat proses produksi yang digunakan maka ongkos produksi per
unit untuk menghasilkan produk atau jasa relatif tetap dan tidak
dipengaruhi oleh volume produksi.

4.

Produk atau Jasa dengan Ambang Teknologi yang Cukup Tinggi


Produk atau j as a, memiliki sifat proses produksi berikut. Hanya bisa
dihasilkan melalui proses produksi yang memiliki tingkat teknologi yang
cukup tinggi, sehingga tidak mudah dikuasai oleh masyarakat awam,
atau proses produksi bersifat fleksibel, atau proses produksi dapat
dipecah-pecah.

5.

Produk atau Jasa Dipengaruhi oleh Hubungan yang Erat Antara


Aspek Manusia dan Produk
Nilai produk atau jasa, dipengaruhi oleh mutu aspek manusia yang
menghasilkannya, seperti tingkat keterampilan, tingkat ketelitian,
kreativitas, cita-rasa.

Lima karakteristik produk atau j as a ini dalam kenyataan sering kali tidak
berdiri sendiri-sendiri dan kombinasinya diharapkan bisa digunakan untuk
memilih berbagai jenis produk maupun jasa yang layak diusahakan oleh
usaha kecil.
Contoh Penggunaan Instrumen ABCDE
Berikut ini diberikan beberapa contoh penggunaan Instrumen ABCDE
untuk memeriksa kesesuaian j enis produk atau j as a tertentu bagi us aha kecil.
Huruf yang dilingkari pada setiap jenis produk atau jasa menunjukkan
kriteria yang sesuai terhadap sifat-sifat usaha kecil.

4.29

EKMA4370/MODUL 4

A
a.

12

Analisis terhadap Produk Peti Mati


A. Peti mati termasuk jenis produk dengan tingkat permintaan yang
12
rendah , sehingga sesuai untuk dikerj akan oleh us aha kecil. Peti
Mati juga merupakan jenis produk dengan ongkos angkut produk
j adi relatif tinggi karena peti mati tidak diinginkan mengalami
gores an atau cacat lainn ya pada saat diangkut.
Kesimpulan: memenuhi syarat untuk kriteria A.
B. Peti mati tidak memerlukan bahan baku yang bersifat khusus. Bahan
baku untuk membuat peti mati relatif mudah diperoleh di lokasi
manapun.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria B.
C. Peti mati diproduksi dengan proses yang banyak mengandung unsur
manual, sehingga ongkos produksi per unit yang perlu dikeluarkan
untuk membuat peti mati relatif tidak menjadi rendah walaupun
jumlah peti mati yang dibuat relatif besar.
Kesimpulan: memenuhi syarat untuk kriteria C.
D. Pembuatan peti mati memang membutuhkan keahlian yang relatif
tinggi, tetapi keahlian yang dibutuhkan tersebut bukanlah jenis
keahlian yang dapat dianggap langka. Banyak anggota masyarakat
yang memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk memproduksi
peti mati.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria D.
E. Proses pembuatan peti mati tidak terlalu bergantung pada aspek
manusia. Proses produksi peti mati tidak terlalu dipengaruhi oleh
cita-rasa yang dimiliki orang yang mengerjakannya.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria E.

Penetapan apakah suatu jenis produk memenuhi atau tidak memenuhi suatu kriteria
sangat tergantung lokasi di mana produk tersebut diusahakan. Dalam contoh ini
dinyatakan peti mati merupakan jenis produk dengan tingkat permintaan pasar yang
rendah. Di daerah tertentu bisa terjadi permintaan pasar terhadap peti mati relatif
tinggi karena masyarakatnya terbiasa memakamkan jenazah menggunakan peti mati.

4.30

KEWIRAUSAHAAN

A
b.

Analisis terhadap Produk Batu Bata


A. Batu bata termasuk jenis produk dengan tingkat permintaan yang
tinggi, sehingga tidak sesuai untuk dikerjakan oleh usaha kecil. Batu
bata juga bukan merupakan jenis produk dengan ongkos angkut
produk jadi relatif tinggi.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria A.
B. Ongkos angkut bahan baku batu bata relatif tinggi sehingga proses
produksi sering kali dibuat sedekat mungkin dengan sumber bahan
baku.
Kesimpulan: memenuhi syarat untuk kriteria B.
C. Batu bata bisa diproduksi dengan proses yang banyak mengandung
unsur manual hingga proses yang lebih banyak menggunakan mesin
atau alat, sehingga ongkos produksi per unit yang perlu dikeluarkan
untuk membuat batu bata bisa menjadi lebih rendah apabila jumlah
batu bata yang dibuat relatif besar.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria C.
D. Pembuatan batu bata tidak membutuhkan keahlian yang relatif
tinggi. Keterampilan yang dibutuhkan untuk memproduksi batu bata
relatif mudah dipelajari dalam waktu yang singkat.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria D.
E. Proses pembuatan batu bata tidak terlalu bergantung pada aspek
manusia. Proses produksi batu bata tidak terlalu dipengaruhi oleh
cita-rasa ataupun keterampilan yang dimiliki orang yang
mengerj akannya.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria E.

A
c.

Analisis terhadap Produk Ember Plastik


A. Ember plastik termasuk jenis produk dengan tingkat permintaan
yang tinggi, sehingga tidak sesuai untuk dikerjakan oleh usaha kecil.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria A.

4.31

e EKMA4370/MODUL 4

B. Ember plastik tidak memerlukan bahan baku yang bersifat khusus


ataupun bahan baku yang sulit diperoleh.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria B.
C. Ember plastik diproduksi dengan proses yang banyak menggunakan
mesin dan peralatan otomatis, sehingga ongkos produksi per unit
yang perlu dikeluarkan untuk membuat ember plastik relatif menjadi
rendah apabila jumlah ember plastik yang dibuat membesar.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria C.
D. Pembuatan ember plastik tidak membutuhkan keahlian yang tinggi.
Biasanya pabrik barang-barang plastik telah dirancang untuk bisa
dioperasikan oleh karyawan yang memiliki keterampilan standar
dan tidak terlalu tinggi.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria D.
E. Proses pembuatan ember plastik tidak terlalu bergantung pada aspek
manusia. Proses produksi ember plastik tidak terlalu dipengaruhi
oleh cita-rasa yang dimiliki orang yang mengerjakannya.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria E.

Penerjemah
Buku Berbahasa lnggris
d.

Ana/isis terhadap Jasa Penerjemah Buku Berbahasa lnggris


A. Penerjemah buku berbahasa Inggris termasuk jenis usaha jasa
dengan tingkat permintaan yang rendah, sehingga sesuai untuk
dikerjakan sebagai usaha kecil.
Kesimpulan: memenuhi syarat untuk kriteria A.
B. Penerjemah buku berbahasa Inggris tidak memerlukan bahan baku
yang bersifat khusus.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria B.
C. Proses penerjemahan buku berbahasa Inggris dilakukan satu demi
satu dan tidak bisa dilakukan secara massal. Proses yang dilakukan
banyak mengandung unsur individual sehingga ongkos produksi
untuk setiap buku berbahasa Inggris yang diterjemahkan relatif tidak
berubah walaupun jumlah buku berbahasa Inggris yang
diterjemahkan.
Kesimpulan: memenuhi syarat untuk kriteria C.

4.32

KEWIRAUSAHAAN

D. Penerjemahan buku berbahasa Inggris memang mempersyaratkan


keahlian yang relatif tinggi, Tidak banyak anggota masyarakat yang
memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk mampu menjadi
penerjemah buku berbahasa Inggris.
Kesimpulan: memenuhi syarat untuk kriteria D.
E. Proses pembuatan penerjemah buku berbahasa Inggris sangat
bergantung pada aspek manusia. Penerjemahan buku berbahasa
Inggris dipengaruhi oleh cita-rasa yang dimiliki orang yang
mengerjakannya.
Kesimpulan: memenuhi syarat untuk kriteria E.

Antar-jemput
anakSD
e.

13

Analisis terhadap Usaha Antar-jemput Anak SD


A. Antar-jemput anak SD termasuk jenis kegiatan dengan tingkat
13
permintaan yang rendah , sehingga sesuai untuk dikerj akan oleh
usaha kecil. Antar-jemput anak SD juga merupakan jenis produk
dengan ongkos angkut produk jadi relatif tinggi karena antar-jemput
anak SD tidak diinginkan mengalami goresan atau cacat lainnya
pada saat diangkut.
Kesimpulan: memenuhi syarat untuk kriteria A.
B. Antar-jemput anak SD hanya memerlukan kendaraan dan tidak
memerlukan peralatan yang bersifat khusus.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria B.
C. Jumlah anak SD yang bisa diantar-jemput untuk setiap kendaraan
yang digunakan terbatas besarnya sehingga ongkos per anak yang
perlu dikeluarkan relatif tetap walaupun secara keseluruhan jumlah
anak yang dilayani cukup besar.
Kesimpulan: memenuhi syarat untuk kriteria C.

Penetapan antar-jemput anak SD merupakan jenis jasa dengan tingkat permintaan


pasar yang rendah sangat tergantung lokasinya. Di daerah tertentu bisa terjadi
permintaan pasar terhadap jasa antar jemput anak SD relatif tinggi.

4.33

e EKMA4370/MODUL 4

D. Pelaksanaan antar-jemput anak SD tidak membutuhkan keahlian


yang relatif tinggi. Banyak anggota masyarakat yang memiliki
keterampulan yang memadai untuk menyelenggarakan dan
melaksanakan usaha antar-jemput anak SD.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria D.
E. Kegiatan antar-jemput anak SD tidak dipengaruhi oleh cita-rasa
yang dimiliki orang yang mengerjakannya.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria E.

Konsultasi
Statistik untuk
Skripsi

Analisis terhadap Usaha Konsultasi Statistik untuk Skripsi


A. Konsultasi statistik untuk skripsi termasuk jenis produk dengan
tingkat permintaan yang rendah, sehingga sesuai untuk dikerj akan
oleh usaha kecil.
Kesimpulan: memenuhi syarat untuk kriteria A.
B. Konsultasi statistik untuk skripsi tidak memerlukan bahan baku
yang bersifat khusus.
Kesimpulan: tidak memenuhi syarat untuk kriteria B.
C. Konsultasi statistik untuk skripsi dilaksanakan dengan proses yang
banyak mengandung unsur individual, sehingga ongkos yang perlu
dikeluarkan menangani setiap skripsi relatif tidak menjadi rendah
walaupun jumlah penulis skripsi yang dilayani relatif besar.
Kesimpulan: memenuhi syarat untuk kriteria C.
D. Pelayanan jasa konsultasi statistik untuk skripsi membutuhkan
keahlian yang relatif tinggi. Keahlian yang dibutuhkan tersebut
bukanlah jenis keahlian yang mudah dijumpai.
Kesimpulan: memenuhi syarat untuk kriteria D.
E. Pelayanan konsultasi statistik untuk skripsi sangat bergantung pada
aspek manusia, sangat dipengaruhi oleh keterampilan dan
pengalaman orang yang mengerjakannya.
Kesimpulan: memenuhi syarat untuk kriteria E.

4.34

KEWIRAUSAHAAN

Penggunaan Instrumen ABCDE untuk memeriksa suatu jenis usaha


dikerjakan oleh usaha berukuran kecil, tidaklah mempersyaratkan jenis usaha
tersebut memenuhi seluruh kriteria. Cukup salah satu kriteria yang dipenuhi
maka sebenarnya pengusahaan jenis usaha tersebut sudah bisa dilaksanakan.
Hal yang lebih penting dari penggunaan Instrumen ABCDE ini adalah
kemampuannya untuk mengungkapkan sifat dari pengusahaan suatu jenis
usaha. Perusahaan Batu Bata misalnya, walaupun hanya satu kriteria saja
yang memenuhi persyaratan, sudah bisa diusahakan oleh perusahaan
beruk:uran kecil. Tetapi perusahaan kecil tersebut perlu mewaspadai
masuknya pesaing yang berukuran lebih besar yang memiliki kemampuan
modal dan produksi lebih kuat, sehingga mampu menawarkan batu bata
dengan harga yang lebih rendah dan waktu pengiriman lebih cepat kepada
konsumen.
LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)

Sebutkan ide bisnis yang bersumber pada aspek nostalgia!


Sebutkan ide bisnis yang bersumber pada aspek kelangkaan!
Sebutkan ide bisnis yang bersumber pada aspek kesehatan!

Petunjuk Jawaban Latihan


1)

2)

3)

Baca kembali bahasan tentang cara yang


menemukan gagasan bisnis yang cocok
menengah!
Baca kembali bahasan tentang cara yang
menemukan gagasan bisnis yang cocok
menengah!
Baca kembali bahasan tentang cara yang
menemukan gagasan bisnis yang cocok
menengah!

dilakukan Dibel dalam


untuk usaha kecil dan
dilakukan Dibel dalam
untuk usaha kecil dan
dilakukan Dibel dalam
untuk usaha kecil dan

e EKMA4370/ MODUL 4

4.35

RANG KUMA N;.__ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

1.

Dalam Kegiatan Belajar 2 diperkenalkan sejenis instrumen yang


dapat digunakan untuk memeriksa kesesuaian sejenis produk
ataupun jasa untuk diusahakan oleh sebuah perusahaan kecil,
lengkap dengan beberapa contohnya.
Dible juga menyarankan agar gagasan tentang produk atau jasa baru
yang sesuai bagi usaha kecil dicoba ditemukan melalui penelaahan
terhadap aspek-aspek berikut.
a. Nostalgia.
b. Perubahan Peraturan Pemerintah.
c. Kelangkaan.
d. Teknologi Baru.
e. Polusi.
f. Kesehatan.
g. Emansipasi W anita.
h. Perubahan Standar Moral.
i. Rekreasi.
Suatu jenis produk atau jasa sesuai untuk diusahakan oleh usaha
kecil apabila memenuhi kriteria sebagai berikut.
a. Produk atau J as a dengan permintaan terbatas atau bersifat
khusus apabila melayani daerah yang luas.
b. Produk atau Jasa dengan sumber bahan yang memiliki
karakteristik khusus.
c. Produk atau J as a dengan struktur ongkos tertentu.
d. Produk atau J as a dengan ambang teknologi yang cukup tinggi.
e. Produk atau J as a dipengaruhi oleh hubungan yang erat antara
aspek manusia dan produk.

2.

3.

T E

F 0 R MAT IF 2_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1)

Contoh gagasan bisnis yang diilhami oleh aspek nostalgia adalah ....
A. helm
B. sabuk pengaman pada mobil
C. mobil antik
D. produk adi busana

4.36

KEWIRAUSAHAAN

2)

Contoh gagasan bisnis yang diilhami oleh aspek perubahan peraturan


pemerintah adalah ....
A. lagu nostalgia
B. sabuk pengaman pada mobil
C. perantara pengurusan dokumen
D. produk adi busana

3)

Contoh gagasan bisnis yang diilhami oleh aspek kelangkaan adalah ....
A. helm
B. sabuk pengaman pada mobil
C. mobil antik
D. produk adi busana

4)

Contoh gagasan bisnis yang diilhami oleh aspek polusi adalah ....
A. penjernih air
B. sabuk pengaman pada mobil
C. mobil antik
D. produk adi busana

5)

Contoh gagasan bisnis yang diilhami oleh aspek kesehatan adalah ....
A. helm
B. spa
C. mobil antik
D. produk adi busana

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci J awaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

EKMA4370/MODUL 4

4.37

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.

4.38

KEWIRAUSAHAAN

Kunci Jawaban Tes Format if


Tes Formatif 1
1)
2)
3)
4)
5)

c
c
A

c
c

Tes Formatif2
1)
2)
3)
4)
5)

c
B
D
A
B

e EKMA4370/MODUL 4

4.39

Daft ar Pust aka


Boyd and Gumpert. (1985). Coping with Entrepreneurial Stress. Harvard
Business Review, Nov, Dec.
Bruce G. Whiting. (1988). Creativity and Entrepreneurship: How Do They
Relate? Journal of Creative Behavior 22, No.3.
Donald M. Dible. (1980). Small Business Success Secrets. The Entrepreneur
Press.
Doris Shallcross, Anthony M. Gawienowski. (1989). ''Top Experts Address
Issues on Creativity Gap in Higher Education. Journal of Creative
Behavior 23, No.2.
Douglas W. Naffziger, Jeffrey S. Hornsby, and Donald F. Kuratko. (1994).
"A Proposed Research Model of Entrepreneurial Motivation",
Entrepreneurship Theory and Practice. Spring.
Edward de Bono. (1970). Lateral Thinking, Creativity Step by Step. New
York: Harper & Row.
Eugene Staley, Richard Morse. (1965). Modern Small Industry for
Developing Countries. McGraw-Hill.
John J. Kao. (1991). The Entrepreneur. Englewood Cliffs, New Jersey:
Prentice-Hall.
Manfred P.R. Kets de Vries. (1985). The Dark Side of Entrepreneurship.
Harvard Business Review, Nov, Dec.
Michael Kirton. (1976). Adaptors and Innovators: A Description and
Measure. Journal of Applied Psychology, Oct.
Peter F. Drucker. (1985). Innovation and Entrepreneurship. New York,
Harper & Row.

4.40

KEWIRAUSAHAAN

Peter R. Dickson. (1994). Marketing Management. (Fort Worth, TX), The


Dryden Press.
Peter R. Dickson. (2000). Marketing Research and Information Systems,
Marketing Best Practices. Ft. Worth, TX : Harcourt College Publishers.
Program Orientasi Industri Kecil dan Menengah di Perguruan Tinggi. (2007).
Paket 1 Pelatihan IKM untuk Wisudawan Perguruan Tinggi. Bandung:
Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen
Perindustrian Republik Indonesia dan SBHL Consulting.
S.B. Hari Lubis. (1984). Caracteristiques des Dirigeants, Degre de
Croissance et Types d'Organization Dans Les Petites Entreprises en
Indonesia. Etude de 61 Firmes Industrielles de Textile. Disertasi Doktor,
IAE Grenoble-Prancis.
Stephen W McDaniel and A. Parasuraman. (1986). "Practical Guidelines for
Small Business Marketing Research". Journal of Small Business
Management, Jan.
Thomas Monroy and Robert Folger. (1993). "A Typology of Entrepreneurial
Styles : Beyond Economic Rationality. Journal of Positive Entreprise IX,
No.2.
Timothy A. Matherly and Ronald E. Goldsmith. (1985). The Two Faces of
Creativity. Business Horizons, Sept/Oct.

MDDUL 5

Karakt eri st i k Pengusaha Keci I


Dr. Ir . S B. Har i Lu b i s
PENDAHULUAN

ada modul sebelumnya telah dijelaskan berbagai pandangan yang


muncul mengenai karakteristik umum seorang entrepreneur atau
wirausaha. Pengamatan para peneliti menemukan berbagai ciri tersebut
dipraktekkan dalam bentuk lain oleh para entrepreneur di lapangan.
Kemudian, dari berbagai praktek lapangan yang dijumpai, para peneliti
mencoba menarik kesimpulan bersifat umum (generalisasi) mengenai ciri-ciri
Entrepreneur. Karena itu, tidaklah selalu mudah untuk melihat ataupun
membayangkan wujud dari setiap ciri teoretis tersebut dalam praktek seharihari di lapangan. Kursus-kursus ataupun materi pelajaran mengenai
Entrepreneurship sering kali memberikan penjelasan mengenai ciri-ciri
Entrepreneur dalam bentuk teoretis sehingga ciri-ciri tersebut dipahami oleh
peserta kursus ataupun kuliah, tetapi tidak membuat mereka berhasil
mempraktekkannya secara nyata di lapangan.
Modul ini mencoba memberikan mengenai ciri-ciri yang sering dijumpai
pada seorang Entrepreneur di lapangan, dengan harapan menjadi lebih
mudah dipahami dan juga dipraktekkan. Setelah mempelajari modul ini,
diharapkan mahasiswa mampu:
1. memahami karakteristik entrepreneur secara teoritik;
2. memahami karakteristik entrepreneur di "lapangan";
3. memahami ciri -ciri pengusaha yang berhasil.

5.2

KEWIRAUSAHAAN

KEGIATAN

BELAL.JAR

Karakt eri st i k Pengusaha


alam kasus sehari-hari banyak hal-hal yang dianggap sederhana di
sekitar kehidupan kita sehari-hari, ternyata mengandung peluang
1
usaha . Banyak pihak setiap hari melihat dan menggunakan antena TV, tetapi
ternyata sedikit sekali yang mampu melihat peluang usaha tersembunyi di
dalam perangkat ini. Hanya para entrepreneur yang jeli yang mampu melihat
peluang tersebut.
Di samping harus pandai melihat peluang usaha, menurut John Kao, ada
beberapa karakteristik entrepreneur, yaitu:
1. bertanggung jawab penuh, berhati yang teguh, dan memiliki daya tahan
yang tinggi;
2. memiliki dorongan yang kuat untuk berhasil maupun untuk tumbuh;
3. berorientasi pada peluang dan memiliki sasaran yang jelas;
4. berinisiatif dan bersedia memikul tanggung jawab secara pribadi;
5. memiliki ketekunan dalam memecahkan masalah;
6. realistis dan mampu menghargai humor;
7. mencoba memperoleh umpan balik dan memanfaatkannya;
8. menginginkan kebebasan mengatur diri sendiri (internal locus of
control);
9. bersedia menanggung risiko yang terhitung;
10. tidak mengindahkan status dan tidak tertarik pada kekuasaan;
11. memiliki integritas dan merupakan seseorang yang bisa dipercaya.
Atau pandangan dari seorang peneliti lain yang mengungkapkan bahwa
terdapat 42 ciri yang biasanya dimiliki oleh seorang Entrepreneur adalah
sebagai berikut.
1. Percaya diri.
2. Memiliki daya tahan dan keteguhan hati yang kuat.
3. Penuh energi dan tekun.
4. Memiliki banyak akal.
1

Kemungkinan masih banyak peluang usaha bisa muncul dari perangkat sehari-hari
lainnya seperti kompor gas, pompa air, sumber air, jaringan listrik, dsb., akan tetapi
belurn dimanfaatkan karena belurn "ditemukan".

EKMA4370/MODUL 5

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.

5.3

Kemampuan untuk mengambil risiko terhitung.


Dinamis dan memiliki kepemimpinan.
Optimis.
Memiliki dorongan untuk berhasil.
Memiliki aneka rag am kemampuan, pemahaman mengenai produk,
pasar, peralatan, dan teknologi.
Kreatif.
Memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain.
Memiliki kemampuan untuk membina hubungan baik dengan pihak lain
B erinisiatif.
Fleksibel.
Cerdas.
Cenderung memiliki sasaran yang jelas.
Menanggapi tantang an secara positif.
Independen.
Menanggapi saran dan kritik secara positif.
Pandai memanfaatkan waktu dan efisien.
Kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat.
Bertanggung jawab.
Mampu melihat ke mas a depan.
Memiliki ketelitian dan pengamatan yang lengkap.
Mampu bekerja sama.
Kecenderungan pada keuntungan.
Kemampuan untuk belajar dari kesalahan.
Kemampuan memahami kekuasaan.
Memiliki kepribadian yang menyenangkan.
Memiliki harga diri.
Memiliki keberanian.
Memiliki imajinasi.
Cepat paham.
Mampu menerima situasi mendua.
Agresif.
Memiliki kemampuan untuk menikmati kegembiraan.
Efektif.
Menepati janji.
Kemampuan untuk mempercayai karyawan.
Peka terhadap orang lain.

5.4

KEWIRAUSAHAAN

41. Jujur dan merniliki integritas.


42. Merniliki kedewasaan dan keseimbangan.
Ataupun sepuluh karakteristik yang dianggap paling sering dijumpai
pada seorang Entrepreneur dan dianggap merupakan ciri-ciri Entrepreneur
abad ke-21, adalah berikut ini.
1. Mampu mengenali dan memanfaatkan peluang.
2. Merniliki aneka ragam kemampuan.
3. Kreatif.
4. Merniliki impian masa depan.
5. Berpikiran bebas.
6. Pekerja keras.
7. Optirnis.
8. Penemu sesuatu yang baru (inovator).
9. Berani mengambil risiko.
10. Merniliki jiwa pernimpin.
Pengamatan para peneliti menemukan berbagai ciri tersebut
dipraktekkan dalam bentuk lain oleh para Entrepreneur di lapangan.
Kemudian, dari berbagai praktek lapangan yang dijumpai, para peneliti
mencoba menarik kesimpulan bersifat umum (generalisasi) mengenai ciri-ciri
Entrepreneur. Karena itu, tidaklah selalu mudah untuk melihat ataupun
membayangkan wujud dari setiap ciri teoretis tersebut dalam praktek seharihari di lapangan. Kursus-kursus ataupun materi pelajaran mengenai
Entrepreneurship sering kali memberikan penjelasan mengenai ciri -ciri
Entrepreneur dalam bentuk teoretis sehingga ciri-ciri tersebut dipaharni oleh
peserta kursus ataupun kuliah tetapi tidak membuat mereka berhasil
mempraktekkannya secara nyata di lapangan.
Bah ini mencoba memberikan mengenai ciri-ciri yang sering dijumpai
pada seorang Entrepreneur di lapangan, dengan harapan menjadi lebih
mudah dipaharni dan juga dipraktekkan.

5.5

EKMA4370/MODUL 5

KASUS ANTENA TV
Satu hari, Monang, pemuda perantau tamatan SMA, yang berasal dari
sebuah kampung kecil di pinggiran Pulau Samosir duduk termenung di
beranda rumah pamannya di Bandung. Sudah empat bulan ia di Bandung,
setelah melalui perjalanan yang melelahkan dari kampungnya, mula-mula
menyeberang danau Toba menuju kota Medan, kemudian naik bus ALS
(Antar Lintas Sumatra) dua hari tiga malam dari Medan menuju Bandung.
Sejak berangkat dia sudah waswas mengenai peluangnya untuk bisa
"maju" di kota Bandung. Waktu ibunya menulis surat kepada pamannya yang
menampungnya sekarang ini, meminta agar bersedia menampung Monang,
surat balasan pamannya tegas-tegas mengatakan "kalau si Monang ke
Bandung, tempat tinggal dan makannya bisa saya tanggung. Tapi, saya tidak
sanggup jika diminta menyekolahkan. Andaikata dia ingin bekerja, harus
cari sendiri. Saya cuma orang kecil di Bandung ini, gaji pas-pasan dan tidak
ada koneksi! ".
Memang benar, Monang juga menyaksikan sendiri sang paman (guru
SMA), dan bibinya (guru SD), hidup sederhana di Bandung. Mereka harus
disiplin sekali mengatur pengeluaran agar setiap bulan bisa membayar
angsuran rumah sederhana yang sekarang mereka tempati. Untung saja
pamannya belum punya anak. Monang segera sadar bahwa memang mustahil
bagi sang paman untuk menyekolahkannya.
Karena itu, Monang juga sadar bahwa ia harus berusaha segera mendapat
penghasilan. Tapi, memang sulit. Sebagai orang baru ia belum punya kenalan
di kota Bandung. Tempat tinggalnya juga agak di pinggir kota, maklum
perumahan sederhana, sehingga sulit buat Monang mencoba "keliling"
mencari peluang, sebab perlu ongkos yang lumayan. Padahal persediaan
uangnya sudah sangat menipis, sisa-sisa bekal yang dibawanya dari
kampung.
Tanpa terasa sudah hampir 4 bulan ia tanpa "kemajuan" di Bandung.
Makin lama ia makin resah. Kehadirannya tentu jadi beban (walaupun paman
dan bibinya tidak pernah mengeluh). Kembali ke kampung juga bukan
pilihan. Mencari pekerj aan juga sulit, hanya berij azah SMA, keterampilan
lain tidak ada, kenalan terbatas, apalagi koneksi. Empat bulan ini ia hanya
bergaul dengan keluarga-keluarga sederhana tetangga pamannya. Monang
cepat populer. Barangkali karena penampilannya lugu, seperti anak SMA,
ramah, dan mungkin karena logat batak-nya yang kental.

5.6

KEWIRAUSAHAAN

Hari ini Monang duduk termenung di beranda rumah pamannya. Paman


dan bibinya sudah sejak pagi berangkat bekerja. Hatinya resah, bingung,
karena ia tidak tahu apa yang hendak dilakukan dan kemana kakinya mesti
dilangkahkan. Sesekali di pelupuk matanya terbayang ibunya, dan tentu saja
kampung-halamannya - yang nyaman walaupun tidak memberi harapan.
Terbayang tetesan air mata ibu waktu melepasnya, berangkat meninggalkan
rumah panggung tempat mereka tinggal, padahal sekarang ini ia ternyata
seakan terperangkap tanpa daya di Bandung.
Tanpa terasa sudah lama Monang duduk melamun. Lokasi rumahnya
memang agak sepi karena terletak paling ujung, berbatasan dengan pinggiran
kompleks perumahan lain yang penghuninya kebanyakan golongan
menengah atas. Matanya menerawang kosong, sebab pikirannya sedang
kalut.
Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa, tiang Antena
TV di salah satu rumah di kompleks tetangga itu patah, dan karena ia seharihari di rumah, ia juga tahu bahwa di rumah itu tidak ada penghuninya yang
"pantas" naik ke atap. Pikiran Monang mulai berputar: "siapa yang akan
naik membetulkan tiang Antena TV itu ? "
Saat itu, lbu Ocid salah satu tetangga Monang, kebetulan lew at. B u Ocid
sehari-hari menjajakan kue-kue (kue lapis, kue bugis, dan lain-lain) dari
rumah ke rumah, terutama di kompleks perumahan menengah atas itu.
Bu Ocid: "Monang, kasep, jajan?"
Monang : "Tidak Bu, saya sudah sarapan, dan terutama sih ... bangkrut!"
Monang kemudian menunjukkan rumah yang tiang antena TV -nya patah itu
kepada lbu Ocid:
Monang : "Bu, lihat rumah itu, tiang antena TV -nya patah. Kasian, pasti
tidak bisa nonton 'Tersanjung' nanti malam.
Bu Ocid: (sambil melihat ke arah yang ditunjukkan Monang) "lya, itu
rumah Bu Yanto. Sudah 3 hari TV mereka tidak ada gambarnya.
Di rumah itu memang tidak ada yang bisa naik ke atap"
Monang : "Kasian ya! Padahal nyuruh saya saja, saya juga lagi nganggur"
Sambil menjajakan dagangannya, Bu Ocid menyampaikan tawaran Monang
itu kepada Bu Y anto:

EKMA4370/MODUL 5

Bu Ocid :

Bu Yanto :

Bu Ocid :

5.7

"Bu Yanto, beli apa? kuenya masih hangat nih, kue lapis, bugis
juga ada. TV-nya sudah nyala Bu? Padahal, Bu Yanto nyuruh
si Monang saja".
"lya Bu, tidak ada yang bisa naik. Masak mesti saya, badan
sebesar kulkas begini, kalau naik ke atap bisa-bisa rumah
ambruk! Ada keponakan yang mau membetulkan, tapi 2
minggu lagi. Dia lagi sibuk ujian semester. Siapa Bu yang mau
bantu? Orangnya baik?"
"Si Monang, Bu. Tuh, yang rumahnya cat hijau, keponakan
Pak Guru. Anaknya baik, rajin, suka ketawa, lucu, kasihan
masih nganggur, padahal jauh-jauh datang dari Sumatra".

Akhirnya, siang itu, Monang diantar Bu Ocid ke rumah Bu Yanto.


Dengan cekatan ia naik ke atap mengganti tiang antena TV yang patah,
mengatur arahnya sehingga semua stasiun TV tertangkap dengan jelas.
Monang harus turun-naik atap, tapi ia memang terampil panjat-memanjat
karena sudah biasa memetik buah-buahan semasa di kampung.
Setelah antena TV diperbaiki, Monang melihat talang air rumah Bu Yanto
juga penuh daun-daunan: "Bu, talang air sekalian saya bersihkan ya. Musim
hujan begini, kuatir mampet".
Hampir jam 5 sore, baru pekerjaan Monang selesai. Antena TV sudah
bagus, talang air sudah bersih. Tangga dan peralatan yang ia gunakan sudah
ia simpan dengan rapi. Saat pamitan, Monang berkata: "Bu, kalau perlu
bantuan lagi, jangan ragu-ragu pang gil saya ". Ternyata lbu Yanto
menyumpalkan beberapa lembar uang ke saku celananya (walaupun Monang
sungguh-sungguh menolak). Bu Yanto mengancam: "kalau Monang tidak
mau terima, ibu tidak mau kenai lagi, apalagi minta to long".
Malam itu Monang kembali termenung. Uang yang dijejalkan Bu Yanto
lumayan besar, Rp 25.000,- : "besok, saya mau jajan kue Bu Ocid" (Monang
berpikir: "Bu Ocid berjasa" - jadi kalau ia jajan dari Bu Ocid seakan-akan ia
memberikan "marketing fee").
Beberapa hari kemudian, Monang dipanggil kembali oleh Bu Yanto:
"Monang, ibu minta to long lagi, genting ada yang bocor". Lain kali ia
dipanggil untuk memasang kabel listrik di kamar Bu Y an to, membetulkan
pagar, memasang bel, membetulkan engsel pintu, dan lain-lain. Monang
akhirnya seakan-akan menjadi "teknisi" rumah Bu Yanto.

5.8

KEWIRAUSAHAAN

Suatu hari, Monang dipanggil Bu Yanto: "Monang, Bu Candra sebelah minta


tolong, atapnya bocor. Selesai di sebelah, tolong betulkan lagi antena TV ya,
TPI gambarnya tidakjelas".
Makin lama rumah-rumah di kompleks itu makin banyak yang
memanfaatkan tenaga Monang. Monang jadi populer, terutama di kalangan
ibu-ibu. Hampir tiap hari ada rumah yang memerlukan bantuan. Kadangkadang ia dibayar, sering kali juga tidak dibayar. Tapi, Monang tetap seperti
semula, seluruhnya ia kerjakan dengan ramah.
Suatu hari, Monang dipanggil ke rumah Bu Maman, masih di kompleks
perumahan temp at tinggal Bu Y anto:
Bu Maman:
"Monang, ibu minta tolong ya. Pompa air rusak, memang
umurnya sudah lebih 8 tahun. Barangkali bagusnya diganti
saja, kita beli saja pompa air yang baru".

Monang
(terkejut) "Bu, saya tidak paham Pompa Air. Saya biasa

panjat-memanjat, tapi membetulkan pompa air saya sama


sekali tidak ada pengalaman. Di kampung saya dulu,
jangankan pompa air Bu, listrik saja belum masuk".
Monang tiba-tiba teringat pada kenalannya, Mang Tatang, tukang rokok yang
berjualan di gerbang kompleks. Kabarnya dia ini dulunya tukang reparasi

pompa atr:

Monang
"Bu, kalau urusan pompa air, bagaimana kalau saya

panggilkan saja Mang Tatang? Itu lho Bu, yang jualan rokok
di depan. Kata orang sih dia itu dulunya tukang reparasi
pompa a1r.
Bu Maman: "Yang hitam, berkumis itu? Jujur atau tidak? Jangan-jangan
siang dia masuk ke rumah lbu malamnya malah mencuri."

Monang
"Wah, saya tidak tahu Bu soal kejujurannya. Tapi kata orang

Mang Tatang memang ahlinya pompa air. Saya sering lihat


dia membetulkan pompa air di kiosnya"
Bu Maman : "Tapi, pompa air lbu perlu cepat diperbaiki. Baru sehari saja
tidak ada air, rasanya sudah sangat susah, tidak bisa mandi,
nyuci, piring juga kotor semua. Tadi pagi, lbu minta air ke
rumah sebelah. Padahal Ibu lagi repot. Sebentar lagi pergi
arisan, pulangnya ke rumah mertua. Paling-paling nanti sore
baru bisa pulang.

EKMA4370/MODUL 5

5.9

Akhimya, muncul gagasan di kepala Bu Maman:


Bu Maman : "Begini saja. Pokoknya, Monang urus saja semuanya. Coba
dulu Monang tanya-tanya, Mang Tatang itu jujur atau tidak.
lbu harus pergi. lbu tinggalkan uang, kalau perlu beli pompa
baru, pergi ke tokonya Monang harus ikut, uangnya jangan
dipegang Mang Tatang. Nanti, saat dia pasang pompa baru,
tolong Monang awasi. Kalau perlu minum, bikin kopi, masak
sendiri saj a di dapur. lbu pulangnya jam 5 sore. Kalau sudah
beres, tolong dikunci semua, titipkan saja kuncinya ke Ibu
sebelah".
Ternyata, Monang berhasil: Mang Tatang ternyata memang ahlinya.
Pompa air Bu Maman berganti baru, air kembali mengalir lancar, rumah
aman, dan waktu Bu Maman pulang ia sangat senang menjumpai rumahnya
dalam keadaan bersih, semua peralatan sudah disimpan, sehingga Monang
diberi bayaran yang lumayan besar (sambil berpesan: "jangan kapok ya
kalau Ibu minta tolong!").
Sesudah pompa air Bu Maman, kembali muncul berbagai permintaan
yang mengharuskan Monang mempekerjakan macam-macam tenaga tukang,
seperti tukang tembok, tukang pelitur, tukang gali sumur, penata taman, dan
sebagainya. Setahun kemudian Monang menyewa sebuah ruangan kecil di
dekat rumah pamannya, memasang telepon, Monang mendirikan "Marmata
Services" - "terima mengerjakan berbagai jenis pekerjaan perawatan dan
reparasi rumah tinggal ".
Mula-mula ia hanya dikenal di kompleks perumahan tempat tinggal Bu
Yanto. Lama-kelamaan ia mulai mencetak kartu nama, mencetak brosur
untuk memperkenalkan perusahaannya di kompleks perumahan yang lain.
Makin lama nama Monang makin terkenal, pelanggannya makin banyak, dan
ia juga makin makmur, sehingga setiap akhir bulan ia sanggup mengirimi
ibunya uang. Kepada semua pelanggan yang sudah dilayani, dan kelihatan
puas, Monang selalu minta bantuan: "Bu, kalau ada kenalan lbu yang
memerlukan bantuan, tolong saya dikenalkan ya", Ia biasa meninggalkan
beberapa lembar kartu nama maupun brosur di setiap rumah yang sudah ia
layani.
Suatu malam, Monang kedengaran mengobrol dengan pamannya:
Monang : "Paman, TV paman ini kelihatannya sudah uzur, bagusnya
diganti saja. "

5. 1Q

KEWIRAUSAHAAN

Paman : "Wah, kau ini, mana ada uangnya Monang, bayar cicilan rumah
saja sudah hampir habis nafas paman"
Esok harinya, sebuah mobil bak terbuka datang ke rumah paman
Monang. Sebuah televisi 29 inci, model terbaru, diturunkan dari mobil itu .....
Monang sekarang sudah sanggup membantu pamannya, tidak percuma ia
merantau begitu jauh dari Pulau Samosir!
000

Kasus ini menunjukkan bahwa banyak hal yang dianggap sederhana di


2
sekitar kehidupan kita sehari-hari, ternyata mengandung peluang usaha .
Banyak pihak setiap hari melihat dan menggunakan antena TV, tetapi
ternyata sedikit sekali yang mampu melihat peluang usaha, tersembunyi di
dalam perangkat ini. Bahkan Monang dalam kasus yang sudah dibahas
sebelumnya, juga menemukan peluang usaha secara tidak sengaja. Dan
setelah memiliki banyak pengalaman melaksanakan pekerjaan perbaikan dan
perawatan barulah ia menyadari bahwa yang ia tawarkan adalah jasa
perbaikan dan perawatan rumah tinggal.
Di lapangan sering kali dijumpai pengusaha kecil yang berhasil memiliki
pola pengalaman seperti yang dialami oleh Monang, yaitu mengerjakan
sesuatu tanpa pemikiran apapun, tetapi melakukannya dengan sabar, ramah
dan sungguh-sungguh, dan apa yang dikerjakannya itu kemudian ternyata
menjadi sebuah perusahaan yang berhasil.
Bagian ini mencoba untuk menjelaskan ciri-ciri pengusaha kecil yang
berhasil di lapangan, berbeda dengan ciri-ciri teoretis Entrepreneur yang telah
dibahas pada bab QQQ.

Kemungkinan masih banyak peluang usaha bisa muncul dari perangkat sehari-hari
lainnya seperti kompor gas, pompa air, sumber air, jaringan listrik, dsb., akan tetapi
belum dimanfaatkan karen a bel urn "ditemukan".

e EKMA4370/ MODUL 5

5.11

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
Sebutkan ciri-ciri entrepreneur menurut John Kao.
Sebutkan ciri-ciri entrepreneur peneliti atau pakar lain.
Pelajaran apa yang dapat Saudara petik dari kasus Antena TV di atas?

1)
2)
3)

Petunjuk Jawaban Latihan


1)
2)

Baca kembali pemikiran John Kao!


Telah kembali pemikiran peneliti lain mengenai karakteristik
entrepreneur!
Baca seksama kasus Antena TV atau kisah Monang di atas.

3)

RANGKUMAN- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

1.

2.

Pengamatan para peneliti menemukan berbagai ciri tersebut


dipraktekkan dalam bentuk lain oleh para entrepreneur di lapangan.
Kemudian, dari berbagai praktek lapangan yang dijumpai, para
peneliti mencoba menarik kesimpulan bersifat umum (generalisasi)
mengenai ciri-ciri Entrepreneur. Karena itu, tidaklah selalu mudah
untuk melihat ataupun membayangkan wujud dari setiap ciri teoretis
tersebut dalam praktek sehari-hari di lapangan. Kursus-kursus
ataupun materi pelajaran mengenai Entrepreneurship sering kali
memberikan penjelasan mengenai ciri-ciri Entrepreneur dalam
bentuk teoretis sehingga ciri-ciri tersebut dipahami oleh peserta
kursus ataupun kuliah tetapi tidak membuat mereka berhasil
mempraktekkannya secara nyata di lapangan.
Menurut John Kao, ada beberapa karakteristik entrepreneur, yaitu:
a. bertanggung jawab penuh, berhati yang teguh, dan memiliki
daya tahan yang tinggi;
b. memiliki dorongan yang kuat untuk berhasil maupun untuk
tumbuh;
c. berorientasi pada peluang dan memiliki sasaran yang jelas;
d. berinisiatif dan bersedia memikul tanggung jawab secara
pribadi;

5.12

KEWIRAUSAHAAN

e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

memiliki ketekunan dalam memecahkan masalah;


realistis dan mampu menghargai humor;
mencoba memperoleh umpan balik dan memanfaatkannya;
menginginkan kebebasan mengatur diri sendiri (internal locus
of control);
bersedia menanggung resiko yang terhitung;
tidak mengindahkan status dan tidak tertarik pada kekuasaan;
memiliki integritas dan merupakan seseorang yang bisa
dipercaya.

TES

F"ORMATIF"

--------------------------------

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1)

Menurut John Kao, entrepreneur mempunyai ada beberapa karakteristik,


di antaranya adalah ....
A. memiliki daya tahan yang tinggi
B. tidak memiliki sasaran yang j elas
C. tidak bersedia memikul tanggung jawab secara pribadi
D. kurang memiliki ketekunan dalam memecahkan masalah

2)

Di antara karakteristik entrepreneur menurut John Kao antara lain ....


A. tidak menginginkan kebebasan mengatur diri sendiri
B. segan bersedia menanggung risiko yang terhitung
C. tidak tertarik pada kekuasaan
D. kurang memiliki integritas

3)

Ciri lain seorang entrepreneur antara lain ....


A. kurang memiliki banyak akal
B. mempunyai kemampuan untuk mengambil risiko terhitung
C. tidak dinamis
D. pesimis

4)

Ciri lain seorang entrepreneur antara lain ....


A. tidak agresif
B. kurang memiliki kemampuan untuk menikmati kegembiraan
C. kurang memiliki kemampuan untuk mempercayai karyawan
D. agresif

5)

5.13

EKMA4370/MODUL 5

Ciri lain seorang entrepreneur antara lain ....


A. kemampuannya tidak beragam
B. kurang kreatif
C. memiliki impian masa depan
D. berpikiran terbatas

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.

5.14

KEWIRAUSAHAAN

KEGIATAN

BELAL.JAR

Ci ri -ci ri Pengusaha Keci I yang Berhasi I


i lapangan sering kali dijumpai pengusaha kecil yang berhasil ternyata
memiliki perilaku yang berlawanan dengan teori-teori mengenai
Entrepreneur yang telah dibahas sebelumnya, sehingga mendorong kita
untuk menganggap bahwa teori-teori itu tidaklah benar. Tampaknya teoriteori tersebut tidaklah keliru. Dalam sebuah kelompok perusahaan kecil yang
umumnya berhasil, ciri -ciri teoretis pengusaha yang berhasil tampaknya
hanya dimiliki pengusaha pertama, yaitu orang yang menjadi pelopor jenis
usaha tersebut. Sementara pengusaha berhasil lainnya adalah "peniru yang
beruntung", yaitu kebetulan ikut-ikutan pada jenis usaha yang prospeknya
baik, sehinggajuga terbawa menjadi pengusaha yang berhasil.
Dengan demikian bisa dipertanyakan apakah diperlukan bakat apabila
seseorang bercita-cita hendak menjadi pengusaha kecil yang berhasil.
Kenyataan mengejutkan pernah dijumpai di suatu kelompok industri kecil
yang membuat produk teknik dan tergolong berhasil. Temyata lebih 80%
pengusaha yang berhasil tersebut sebenarnya tidak bercita-cita menj adi
pengusaha, melainkan lebih menginginkan menjadi Pegawai Negeri. Dengan
demikian berarti bahwa mereka menjalankan usaha dengan keinginan yang
tidak selaras atau searah dengan yang mereka j alankan, dan tetap his a
berhasil.
Hal ini menunjukkan kemungkinan bahwa keberhasilan usaha kecillebih
didukung oleh ketepatan pilihan produk atau jasa, yaitu yang memang hanya
sesuai bagi usaha kecil (yang dibahas pada bah sebelumnya), dan bukan
3
karena dipimpin pengusaha berbakat . Dengan demikian terbuka peluang
bagi siapa pun juga, berbakat ataupun tidak, untuk menjadi pengusaha kecil
yang berhasil.
3

Keberhasilan perusahaan kecil lebih bergantung pada pilihan produk/jasa dibanding


karakteristik pengusahanya. Karena itu, banyak ditemukan perusahaan kecil sukses dengan pilihan produk atau jasa yang sesuai bagi usaha kecil - yang dipimpin oleh
pengusaha yang tidak berbakat. Sebaliknya, mungkin sulit untuk menemukan
gabungan pengusaha yang berbakat - dengan pilihan produk atau jasa yang tidak
sesuai bagi usaha kecil - yang perusahaannya bisa berhasil. Pendapat ini masih bisa
diperdebatkan, dan belum pernah diuji kebenarannya secara ilmiah.

EKMA4370/MODUL 5

5.15

Pengamatan di lapangan, menunjukkan dua ciri menonjol dari pengusaha


kecil yang berhasil, yaitu ( 1) memiliki kemampuan "melihat lebih dalam"
sehingga mampu menemukan peluang usaha, dan (2) memiliki keuletan atau
konsistensi untuk menjalankan peluang usaha tersebut. Kedua ciri lapangan
tersebut akan diuraikan berikut ini.

A. KEMAMPUAN "MELIHAT LEBIH DALAM"


Pengusaha kecil yang berhasil pada umumnya mampu melihat dan
memahami, secara lebih mendalam, kondisi dan apa yang terjadi, dalam
lingkup usaha mereka. Mereka pada umumnya sangat menghayati kegiatan
yang mereka jalankan dan juga situasi yang terjadi di sekeliling mereka
sehingga mereka mampu menemukan peluang usaha, yang kemudian terbukti
berhasil, dari hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan oleh orang
lain.
Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan melihat lebih
dalam" terdiri dari j enis kemampuan berikut :

1.

Kemampuan membaca peluang usaha


Kemampuan mengidentifikasikan atau mencium adanya peluang usaha,
baik berupa permintaan yang sudah muncul ataupun yang masih tersembunyi
dari peristiwa yang mereka lihat ataupun yang mereka alami dalam
kehidupan sehari-hari, seperti contoh kasus Antena TV ataupun contoh kasus
berikut ini.
IBU RUMAH TANGGA SEKOLAH S-2

Suatu hari, seorang dosen di sebuah perguruan tinggi memasuki kantor


tempat ia menjadi pengelola program Pasca Sarjana S-2, Sejumlah
mahasiswa S-2 berkerumun di depan pintu masuk kantor itu.
Mahasiswa S-2 ini pada umumnya berusia sekitar 30 tahun, pada
umumnya sudah bekerja, sedang berusaha membangun karier, sehingga
berusaha meningkatkan pendidikannya agar dapat meraih masa depan
yang lebih baik. Sebagian baru menikah 3 sampai 5 tahun, dan beberapa
di antaranya sudah mempunyai anak yang masih usia balita.

5.16

KEWIRAUSAHAAN

Tepat di pintu masuk, sang dosen masih sempat mendengar obrolan yang
sangat menarik, dari dua orang ibu muda, keduanya mahasiswa program
S-2:
lbu A :
lbu B :

"kamu kok kelihatan agak kusut?"


"iya, sialan, lagi musim ujian begini, mertua datang,
sudah dua hari!"

Mendengar dialog yang sangat unik ini sang dosen mengurungkan


niatnya masuk ke ruangan kantor. Ia malah menghampiri kedua
mahasiswa S-2 itu, dan kemudian bertanya: "Ibu, apa sebabnya 'sialan'

kalau mertua datang?"


Kedua ibu muda itu tertegun, lbu B akhirnya menjawab: "Pak, kalau
suami saya, dia paham betul bahwa saya sedang sekolah, dan sedang
sibuk menghadapi ujian, karena dia juga dulu sekolah di sini. J adi, kalau
saya tidak sempat memasak dengan serius, dia juga bisa memaklumi.
Tapi, ibu mertua menginap sudah 2 hari, mustahil saya suguhi makan
mie instan tiap hari!"
lbu B malah kemudian menambahkan: "di mana kita bisa memesan
makanan rumah yang bisa diantar? Andaikata ada, 'kan melayani mertua
j adi mudah!"
000

Kasus lbu Rumah Tangga Sekolah S-2 ini memberikan gambaran bahwa
gagasan mengenai peluang usaha ternyata bisa muncul dari peristiwa yang
kita alami sehari-hari. Secara khusus kasus ini menunjukkan munculnya
peluang usaha, apabila ada pihak yang tidak dapat menjalankan fungsi yang
biasanya ia j alankan. Ibu rumah tangga yang bias any a tinggal di rumah,
menyediakan makan untuk keluarga, meninggalkan fungsi yang biasa ia
jalankan karena menjadi mahasiswa S-2.
Kebutuhan yang mudah terlihat adalah yang bersifat konsumtif, karena
jelas seperti makanan dan pakaian, sehingga merupakan jenis gagasan usaha
yang biasanya muncul pada para pengusaha kecil baru. Karena itu, akan lebih
mudah apabila pengusaha baru mencari gagasan lain di luar jenis usaha yang
bersifat konsumtif. Secara lebih lengkap, peluang usaha bisa muncul dari
berikut ini.

a.

b.

EKMA4370/MODUL 5

5.17

Kebutuhan menggantikan fungsi


Kebutuhan bisa muncul apabila ada pihak yang terpaksa meninggalkan
tugas atau fungsinya sehingga perlu digantikan, seperti contoh yang telah
ditunjukkan melalui kasus lbu Rumah Tangga Sekolah S-2 sebelumnya.
Kebutuhan untuk menghubungkan
Kehidupan manusia modern jauh lebih rumit dibanding kehidupan
manusia di jaman dahulu. Di masa sebelumnya, manusia cenderung
harus menyediakan seluruh komponen kebutuhannya sendiri. Memakan
makanan yang ia tanam ataupun basil perburuannya sendiri, mengenakan
pakaian yang ia buat sendiri, dan seterusnya. Sementara, manusia
modern tidak lagi memiliki kesempatan untuk memenuhi sendiri seluruh
jenis kebutuhannya. Manusia modern mengonsumsi nasi yang berasal
dari padi yang ditanam oleh orang lain, memakan daging yang berasal
dari peternakan yang tidak dikelolanya sendiri. Kebutuhan berpakaian
juga tidak lagi dipenuhi sendiri, manusia modern tinggal pergi ke toko
dan membeli pakaian yang diproduksi oleh pihak lain. Kesimpulannya,
semakin modern tingkat kehidupan, semakin banyak pula komponen
kebutuhan manusia yang tidak dapat diusahakan sendiri dan perlu
disediakan oleh orang lain.
Berbagai jenis komponen yang dibutuhkan tersebut memang dibuat atau
disediakan oleh pihak lain. Tetapi, karena pihak yang membutuhkan
ternyata memiliki keterbatasan waktu, tempat tinggalnya terlalu jauh dari
lokasi penyedia, ataupun tidak memiliki pemahaman yang memadai
untuk memilih sendiri, dan juga berbagai alasan lainnya, menyebabkan
pihak yang membutuhkan tidak tepat apabila mencoba mendapatkannya
secara langsung dari pihak penyedia. Kondisi seperti ini mendorong
munculnya kebutuhan akan fungsi perantara, yang menghubungkan
pihak yang membutuhkan dengan pihak penyedia, sehingga pihak yang
membutuhkan menjadi terbantu untuk memperoleh komponenkomponen kebutuhannya.
Dengan bantuan fungsi perantara, pihak yang membutuhkan tidak perlu
mencari, memeriksa, memilih sendiri, ataupun mendatangi lokasi yang
jauh untuk mendapatkan kebutuhannya. Pihak yang membutuhkan akan
memperoleh kebutuhannya dengan mudah, akan tetapi ia perlu
membayar jasa dari pihak yang menjadi perantara.
Semakin modern kehidupan manusia, maka semakin banyak komponen
kehidupannya yang akan lebih mudah diperoleh melalui perantara.

5.18

KEWIRAUSAHAAN

Karena itu, peluang untuk menjalankan fungsi perantara banyak


dijumpai di kota besar.
Kebutuhan akan fungsi perantara ini bisa dijumpai hampir pada seluruh
aspek kehidupan manusia, seperti digambarkan pada contoh kasus
berikut ini.
DELIVERY MAKAN SIANG

Gendut, mahasiswa sebuah perguruan tinggi teknik, perantau dari sebuah


kota kecil di Jawa Timur, tinggal bersama belasan mahasiswa lainnya di
sebuah rumah kos sederhana dekat kampus. Tempat kos Gendut tidak
menyediakan makan bagi para penghuni, tetapi tidak menjadi sulit bagi
Gendut dan kawan-kawan karena rumah kosnya bersebelahan dengan
sebuah toko kecil yang menjual berbagai jenis kebutuhan sehari-hari,
juga sebuah warung makan yang murah dan cukup enak.
Mahasiswa yang serumah dengan Gendut, ternyata kebanyakan berasal
dari bidang Teknik Kimia, yang kegiatan sehari-harinya relatif sibuk.
Sehari-hari, selain mengikuti kuliah di kelas, para mahasiswa Teknik
Kimia ini banyak mendapat tugas praktikum di laboratorium. Kegiatan
praktikum sangat banyak menyita waktu dan perhatian para mahasiswa
Teknik Kimia ini. Sebagian praktikum hanya membutuhkan waktu
3 jam, tetapi beberapa jenis praktikum lain membutuhkan waktu yang
lebih panjang. Salah satu praktikum membutuhkan waktu hingga 10 jam,
dilakukan mulai jam 7.00 pagi hingga jam 17.00 sore, dengan waktu
istirahat antarajam 12.00 hingga 13.00.
Di awal pelaksanaan praktikum, mahasiswa sudah sibuk dengan
keharusan mempersiapkan Laporan Pendahuluan dan menjalankan Tes
Pendahuluan, yang seluruhnya harus selesai sebelum kegiatan praktikum
yang sebenarnya berlangsung. Selama pelaksanaan praktikum, kegiatan
dan pikiran para peserta praktikum terkonsentrasi pada berbagai
percobaan kimia yang harus mereka jalankan. Karena itu, tidak
mengherankan jika pada saat istirahat yang hanya diberikan selama
1 jam sering kali tidak mencukupi. Pada saat istirahat yang pendek itu,
peserta praktikum harus melakukan pengolahan data basil praktikum,
dan mempersiapkan Laporan Akhir yang harus diserahkan di akhir
praktikum. Karena itu, waktu yang tersisa untuk keperluan pribadi para
peserta praktikum ini sempit sekali. Kebanyakan peserta praktikum

5.19

EKMA4370/MODUL 5

biasanya hanya sempat melaksanakan ibadah salat, tetapi jarang yang


bisa membeli makan siang. Ini juga diakibatkan karena lokasi kantin
agakjauh dari laboratorium mereka.
Peserta praktikum yang tinggal di rumah sendiri biasanya sengaja
membawa bekal makan siang dari rumah. Tetapi, mahasiswa yang
tinggal di rumah kos seperti Gendut, kebanyakan akhirnya terpaksa
menahan lapar, dan baru bisa mengisi perut setelah praktikum usai, jam
17.00 sore.
Kondisi semacam ini menyebabkan munculnya gagasan "bisnis" di
kepala Gendut. Ia memutuskan untuk menjadi penyedia makan siang,
yang akan diantarkan langsung kepada para pemesan di laboratorium
tempat praktikum berlangsung. Tetapi, Gendut tidak membayangkan
akan memproduksi makanan sendiri, ia tidak punya keterampilan
memasak yang memadai, tidak memiliki peralatan, dan ia sendiri juga
harus kuliah.
Gendut mencoba menawarkan jasa tersebut kepada para mahasiswa
Teknik Kimia yang tinggal serumah dengannya: "kalau mau, saya bisa
sediakan makan siang buat kalian, diantar jam 12.00 ke laboratorium.
Tapi, harganya beda sedikit dari yang biasa ya!". Kemudian ia mencoba
berunding dengan lbu pemilik warung makan di sebelah rumah kosnya,
yang ternyata setuju untuk menyediakan makanan yang dipesan Gendut,
asalkan dibayar di muka.
Usaha Gendut berjalan lancar. Peserta praktikum ternyata merasa sangat
senang, bisa makan siang tanpa kehilangan waktu, harganya juga
termasuk "miring", dan mereka juga his a memilih makanan yang
diinginkan sesuai selera dan kantong mereka. Pemesanan dilakukan
seminggu sebelum praktikum dengan pembayaran di muka. Daftar
pesanan itu kemudian diserahkan kepada lbu pemilik warung. Pada saat
praktikum berlangsung, Gendut mengantarkan sendiri pesanan makanan
itu ke laboratorium.
Lama kelamaan hampir seluruh peserta praktikum memesan makanan
dari Gendut, juga termasuk para asisten, dan akhirnya juga para dosen.
Gendut akhirnya mulai lagi berpikir: "di kampus ini banyak sekali
laboratorium dan tentu saja praktikum". Gendut mulai berpikir untuk
menjajaki kemungkinan pengembangan usahanya.
000

5.2Q

KEWIRAUSAHAAN

c.

Kebutuhan akan jenis produk/jasa tertentu karena terjadi perubahan


atau karena suatu kondisi khusus
Berbagai jenis perubahan selalu terjadi dalam kehidupan manusia
maupun dalam masyarakat, baik perubahan yang terjadi karena situasi
yang memang bergeser, ataupun karena peraturan pemerintah. Berbagai
perubahan tersebut sering kali disertai dengan munculnya kebutuhan
tertentu yang mungkin bisa dimanfaatkan sebagai peluang usaha.
Beberapa contoh perubahan yang menumbuhkan peluang usaha antara
lain sebagai berikut.
1) Perubahan Tegangan Listrik, menyebabkan munculnya kebutuhan
akan transformator Step-up Step-down yang mampu mengubah
tegangan listrik, dari 110 volt menjadi 220 volt, dan sebaliknya.
2) Perubahan Peraturan Lalu Lintas, yang mewajibkan pengendara
sepeda motor mengenakan helm ataupun pengendara mobil
menggunakan sabuk pengaman, menyebabkan munculnya berbagai
jenis usaha yang berkaitan dengan kedua jenis perangkat tersebut.
3) Pengetatan Penagihan Pajak, sementara aturan dan formulir untuk
membayar pajak pengisiannya relatif menyulitkan bagi pembayar
pajak, menyebabkan tumbuhnya kebutuhan akan konsultan pajak.
4) Meningkatnya minat untuk melanjutkan pendidikan di sekolah
ataupun perguruan tinggi yang dianggap bermutu menyebabkan
munculnya usaha bimbingan tes maupun les privat.

2.

Kemampuan Membaca atau Memahami Hal Mendasar dari Produk


atau Jasa

Setelah memilih jenis produk ataupun jasa yang hendak diusahakan


(menggunakan berbagai instrumen yang telah dijelaskan pada bab
sebelumnya), perlu dimiliki kemampuan untuk memahami hal mendasar
(esensial) dari pengusahaan produk atau jasa tersebut. Pemahaman akan hal
mendasar dari produk atau jasa akan membuat pengusaha memahami secara
lengkap sifat dari produk atau j as a yang diusahakannya, sehingga akan
mampu menonjolkan hal-hal penting maupun melindungi aspek-aspek yang
rawan dari usahanya. Sebagai contoh, dalam kasus Antena TV sebelumnya,
pada saat Ibu Ocid menawarkan bantuan Hamonangan untuk membetulkan
tiang antena TV yang patah (lihat halaman 4 ), calon klien, yaitu Bu Yanto,
sama sekali tidak bertanya mengenai keahlian atau kompetensi yang dimiliki

EKMA4370/MODUL 5

5.21

Hamonangan dan justru bertanya mengenai kelakuannya: "Siapa Bu yang


mau bantu? Orangnya baik?"
Ini menunjukkan bahwa hal mendasar yang dibutuhkan oleh calon klien
dalam usaha jasa seperti yang dijalankan oleh Hamonangan adalah rasa
aman. Setelah terbukti berkelakuan baik, selanjutnya Hamonangan berulangkali diminta membantu melakukan berbagai jenis perbaikan di rumah Bu
Y anto, memasang kabel listrik, membetulkan pagar, memasang bel,
membetulkan engsel pintu, dan lain-lain. Dengan demikian usaha jasa seperti
yang dijalankan oleh Hamonangan ini perlu dipromosikan dengan
menonjolkan jaminan rasa aman bagi para pelanggannya.
Kegagalan pengusaha, terutama yang berukuran kecil, sering kali terjadi
karena tidak memahami hal-hal mendasar dari produk atau jasa yang
diusahakannya, sehingga saat memasarkan ataupun menawarkan produk atau
jasa tidak tepat ataupun tidak secara lengkap menonjolkan aspek-aspek yang
diinginkan konsumen, ataupun cenderung hanya menonjolkan aspek teknis.

3.

Kemampuan membaca potensi ataupun keterbatasan diri


Setelah memiliki pilihan produk atau jasa dengan prospek yang baik dan
juga memahami hal mendasar dari produk atau jasa tersebut, selanjutnya
perlu dipahami kesesuaian pilihan tersebut dengan potensi ataupun
keterbatasan diri pengusaha ataupun usaha yang dijalankannya.
Sering kali dikatakan bahwa seseorang sebaiknya menjalankan bidang
usaha yang betul-betul ia pahami dan juga sesuai dengan potensi ataupun
keterbatasan dirinya. Menjalankan usaha tanpa pemahaman akan memaksa
pengusaha tersebut mempekerjakan pihak lain dengan keahlian yang lebih
tinggi. Akibatnya sering dijumpai perusahaan tidak terkendalikan dengan
baik karena pengusaha didikte oleh pihak yang lebih ahli.
Selain itu pada umumnya sering terjadi kekeliruan dalam memahami
arti potensi diri. Potensi diri sering kali hanya ditafsirkan sebagai "keahlian
teknis", misalnya keahlian menjahit, mengelas, main musik, dan sebagainya,
yang sulit dan perlu waktu panjang untuk dikuasai. Masih banyak jenis
potensi diri lainnya, yang mungkin sudah bertahun-tahun kita miliki tanpa
sadar, dan ternyata memungkinkan untuk dimanfaatkan dalam
mengembangkan perusahaan, seperti sifat ramah, sifat sebagai perunding
(negosiator), memiliki pergaulan dengan network yang luas ataupun
pergaulan di kalangan elite, sehingga bisa dimanfaatkan untuk memasarkan
suatu jenis produk atau jasa yang sesuai seperti yang digambarkan pada kasus

5.22

KEWIRAUSAHAAN

berikut ini. Kasus ini memberikan gambaran bahwa tanpa disadari seseorang
mungkin sudah berada dalam pasar, dengan daya beli yang kuat dan juga
sudah sangat dikenal, sehingga tinggal memikirkan produk ataupun jasa yang
tepat untuk ditawarkan,
IBU JENDERAL BUKA CATERING

lstri seorang J enderal (lbu J enderal) merasa bahwa ia harus banyak


mensyukuri kebahagiaan yang diberikan Tuhan kepada keluarganya.
Sekarang mereka sekeluarga hidup nyaman di Jakarta, uangnya banyak
sehingga mereka mampu memiliki sebuah rumah yang besar di daerah
elit, sudah sering jalan-jalan ke luar negeri (paling sedikit setahun
sekali), karier suami bagus, dan yang luar biasa ketiga anaknya juga bisa
dibanggakan, sekolahnya maju - bahkan anak sulungnya diangkat
menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka, dan
mendapat bea-siswa untuk mengikuti program doktor di luar negeri;
sementara anak kedua dan ketiga juga sedang menyelesaikan pendidikan
mereka di perguruan tinggi negeri yang lain.
Ibu Jenderal masih ingat bagaimana di awal perkawinannya dengan Pak
Jenderal, mereka hidup sangat sederhana. Waktu itu, suaminya masih
berpangkat sersan-mayor, harus pandai-pandai berhemat karena gaji
suami relatif kecil. Tetapi, pangkat suaminya naik tingkat demi tingkat,
hingga akhirnya mampu menjadi jenderal, dengan tugas yang relatif
"empuk" mengelola berbagai jenis perusahaan milik tentara di berbagai
daerah di Indonesia. Tanpa korupsi-pun penghasilan suaminya sudah
cukup besar untuk bisa hidup nyaman, seperti yang mereka nikmati saat

llll.

Pergaulannya juga berubah, istri jenderal tentunya bergaul dengan ibuibu jenderal juga. Dulu, waktu pangkat suaminya masih rendah,
pergaulannya dengan ibu-ibu bintara, dan obrolan waktu arisan tentang
kiat menghemat agar gaji sebulan bisa cukup; sekarang berubah sekolah
anak di luar negeri, bowling, parfum, shopping, Paris, Singapura, dan
lain-lain. Tetapi, karena ia pemah merasakan hidup dari "bawah", urusan

Kasus semacam ini dimungkinkan terjadi pada saat bisnis militer masih diizinkan di
Indonesia.

EKMA4370/MODUL 5

5.23

dapur bukan hal yang luar bias a bagi lbu J enderal, bahkan boleh dibilang
bahwa jika ia memasak hasilnya sangat enak.
Pada suatu hari, si lbu J enderal sibuk di dapur memasak, karena ia
mendapat giliran menyelenggarakan acara arisan istri-istri tentara.
Undangan yang datang juga tentunya kebanyakan ibu-ibu jenderal, dan
banyak peserta arisan yang pada saat hendak pulang memberikan pujian:
"Jeng, masakannya enaaak sekali!"
Beberapa minggu kemudian, si lbu Jenderal ditelepon oleh seorang
rekannya, anggota arisan:
Rekan lbu Jenderal :
"Jeng, waktu arisan yang lalu, masakannya enak
sekali. Dari catering mana ya?"

Ibu J enderal
"Bukan catering Jeng, saya sendiri kok".

Rekan lbu Jenderal : "Oooh, tadinya saya pikir catering. Tadinya


saya mau pesan, kebetulan mau sukuran, si
sulung baru pulang dari Amerika, sekolahnya
sudah tamat''.
lbu Jenderal akhirnya menawarkan bantuan agar ia yang memasak untuk
acara sukuran rekannya itu, yang ternyata berakhir sukses karena para
tamu merasa puas dengan hidangannya yang enak. Tidak berapa lama
kemudian, beberapa istri jenderal yang lain juga minta bantuan
memasak, sehingga akhirnya si Ibu Jenderal dikenal sebagai ahli masak
yang ulung di kalangan rekan-rekannya.
Suatu saat, si lbu J enderal ditelepon oleh seorang rekannya: "Jeng, minta
bantuan masak lagi ya, kebetulan perusahaan Bapak mau meresmikan
gedung baru. Tolong bikinkan kalkulasinya ya. Tolong yang agak 'wah',
soalnya lbu Panglima juga mau hadir".
Lama-kelamaan kegiatan si Ibu Jenderal menjadi perusahaan catering
yang laku keras. Langganannya, mula-mula ibu-ibu jenderal, berbagai
kesatuan militer, perusahaan-perusahaan milik tentara, kemudian
menjalar ke perusahaan-perusahaan swasta murni. Jadilah usaha si lbu
Jenderal catering besar yang sangat menguntungkan.
Suatu saat Bapak dan lbu Jenderal berangkat ke luar negeri untuk
menjenguk anak sulung mereka yang sedang mendapat tugas belajar.
Kembali ke Indonesia, mereka bawa seperangkat radio komunikasi CB
(Citizen Band) untuk anak bungsu mereka, pemuda, mahasiswa sebuah

5.24

KEWIRAUSAHAAN

perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta. Peralatan komunikasi seperti


ini masih langka dan belum banyak dijual di Indonesia pada saat itu.
Dua tahun kemudian, si bungsu juga temyata menjadi pengusaha. Ia
membuka toko yang menjual dan menyervis radio CB. Dua tahun
sebelumnya, radio CB dari orang tuanya segera ia operasikan. Kawankawannya banyak yang tertarik, mula-mula mencoba, dan akhirnya ingin
memiliki. Anak jenderal biasanya bergaul dengan anak-anak muda yang
daya belinya kuat. Karena ia yang paling pertama memiliki radio CB,
teman-temannya banyak yang bertanya tentang cara mengoperasikan,
minta bantuan memasang, dan juga membeli perangkat radio CB,
sehingga akhirnya menjadi perusahaan!
000

4.

Kemampuan mengusahakan kesesuaian

Pilihan jenis produk atau jasa perlu sesuai dengan corak permintaan
pasar, dan juga sesuai untuk dijalankan oleh usaha kecil (terutama sesuai
dengan potensi maupun keterbatasannya). Kesesuaian ketiga unsur tersebut
merupakan kunci keberhasilan berdirinya usaha kecil.
Pemahaman mengenai corak permintaan pasar, corak proses produksi,
hal-hal yang mendasar dari produk atau jasa yang diusahakan, dan juga
paham potensi maupun keterbatasan usaha kecil yang dijalankan, secara
keseluruhan berawal dari "kemampuan melihat lebih dalam". Pada bab 4
halaman 8 telah dijelaskan bagaimana cara-cara yang disarankan untuk
mengembangkan kreativitas. Kreativitas dibutuhkan untuk menemukan jenis
produk atau jasa yang akan diusahakan. Selanjutnya, diperlukan kemampuan
melihat lebih dalam untuk memahami cara yang tepat untuk menjalankan
us aha.
Di lapangan, perjalanan para pengusaha kecil yang berhasil dilalui
dengan banyak melakukan kesalahan. Mereka berulang kali melakukan
berbagai kekeliruan, tetapi kemampuan melihat lebih dalam akhimya
membuat para pengusaha berhasil, bisa memiliki pemahaman yang lebih
lengkap untuk mengerti cara menjalankan usaha secara lebih baik, yaitu cara
yang mampu mengusahakan kesesuaian antara ketiga unsur yang telah
dibahas sebelumnya.

5.25

EKMA4370/MODUL 5

B. ULET/KONSISTEN
Telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa melalui berbagai jenis
kekeliruan yang dialarni, pengusaha kecil yang berhasil akhirnya merniliki
pemahaman yang lengkap mengenai kegiatan usaha yang mereka jalankan,
karena memiliki kemampuan melihat lebih dalam. Karena itu, persyaratan
kedua agar pengusaha kecil bisa berhasil adalah ulet atau konsisten. Keuletan
atau konsistensi membuat para pengusaha kecil yang berhasil mampu tetap
bertahan walaupun dihadapkan pada serangkaian kekeliruan, dan akhirnya
memiliki pemahaman yang relatif sempurna mengenai cara menj alankan
kegiatannya.
KASUS HAJJ SOMA

Haji Soma, pengusaha pertenunan yang sukses dari Majalaya, sebuah


kota kecil 30 krn ke arah tenggara kota B andung. Ia memulai us aha
pertenunan sejak jaman penjajahan Belanda. Sebelumnya, ia dan istrinya
bekerja di rumah seorang pejabat Belanda sebagai pembantu. Sang
suarni menjadi tukang kebun, sedang si istri di dapur. Pasangan suarni
istri ini bekerj a dari pagi hingga sore, dan sehari-hari mereka tidur di
rumah rnilik mereka sendiri, tidak menginap di tempat sang majikan.
Setelah cukup lama menabung, mengumpulkan sisa-sisa gaji bulanan,
akhirnya mereka berhasil membeli 2 buah alat tenun (ATBM - Alat
Tenun Bukan Mesin). Selanjutnya, mereka kembali menabung untuk
membeli bahan baku (benang tenun). Setelah merniliki bahan baku,
setiap malam, selepas jam kerja, Haji Soma dan istrinya mulai bertenun
kain.
Setelah menghasilkan beberapa gulung kain, Haji Soma kemudian
merninta cuti beberapa hari. Gulungan kain dinaikkan pada sebuah
sepeda, diikat, dan karena cukup banyak jurnlahnya sepeda tersebut tidak
lagi bisa ditunggangi, dan hanya bisa didorong. Ia kemudian berkeliling,
mendorong sepeda, menjajakan kain.
Di kota asalnya, Maj alaya, biasanya tidak ada kain yang berhasil dijual,
karena di kota tersebut sangat banyak perusahaan pertenunan kelas
rumahan. Haji Soma kemudian berjalan kaki ke arah kota Bandung,
sambil mendorong sepeda yang sarat dimuati gulungan tekstil. Lima
kilometer kemudian ia sampai di Ciparay, yang juga penuh dengan

5.26

KEWIRAUSAHAAN

pengrajin tenun, sehingga biasanya tidak ada juga kain yang berhasil
dijual. Melanjutkan perjalanan, 30 kilometer kemudian ia sampai di
pinggiran kota Bandung, dan mulailah beberapa gulungan kain berhasil
dijual.
Puluhan tahun kemudian, Haji Soma sudah menjadi pengusaha yang
terbilang paling sukses di daerahnya. Suatu saat ia diwawancarai oleh
seorang peneliti yang ingin mempelajari perjalanan perkembangan para
pengusaha kecil yang berhasil.
Peneliti

Haji Soma:
Peneliti

Haji Soma :

Peneliti

Haji Soma:

"Pak Haji, biasanya perjalanan mendorong sepeda sambil


bawa kain, berakhir di mana?"
"Kadang-kadang sampai Tanjung Priok, Jakarta.
Pulangnya, saya naik kereta api sampai ke Majalaya".
"Berapa lama Pak Haji berjualan kain dengan cara
seperti itu?"
"Yaah, barangkali 3 sampai 6 tahun".
"Terus-terusan seperti itu caranya berjualan selama
6 tahun?"
"Tidak juga, kadang-kadang berhenti dulu, soalnya
uangnya sering terpakai keperluan yang lain, ada yang
sakit, dan lain-lain. Tapi, kalau uangnya sudah ada lagi,
mulai lagi, bikin tekstillagi"

Hampir semua pengusaha kecil yang berhasil ternyata pernah mengalami


masa-masa "keras", terutama di awal memulai usaha. Tetapi mereka
secara konsisten akan selalu mencoba kembali menekuni usaha yang
sebelumnya sudah mereka mulai.
Mengapa keuletan atau konsistensi menjadi persyaratan utama?
Keuletan dan konsistensi menjadi penting karena pengusaha yang tetap
bertahan akan mengakumulasi pengalaman, sehingga menjadi paham
dan menguasai seluruh aspek penting maupun yang rawan dari usaha
yang dijalankannya. Calon pengusaha yang "cepat patah", segera
berhenti atau pindah ke jenis usaha yang lain begitu mengalami
kesulitan, sulit untuk menguasai aspek-aspek penting suatu jenis usaha
secara lengkap dan mendalam.

EKMA4370/MODUL 5

5.27

Pengusaha yang ulet dan konsisten akhirnya paham dan menguasai


seluruh aspek penting dari kegiatan usahanya, mula-mula paham cara
bertahan-hidup (survive) kemudian paham cara untuk menjadi unggul
seperti ditunjukkan pada wawancara selanjutnya.
"Apa sebabnya Pak Haji malah membuka petemakan
Peneliti :
bebek, pabrik batako, dan lain-lain? Mengapa bukan
perusahaan pertenunan saja yang dibesarkan. Sekarang
Pak Haji cuma punya 120 mesin tenun, padahal saya lihat
Pak Haji Dodi punya 350 tenun, bahkan di pabrik Pak
Haji Ahadiat ada 600 mesin?"
Haji Soma: "lya, saya juga tahu. Tapi, saya juga sudah coba, punya
200 mesin tenun, pemah juga 80 mesin tenun. Ternyata,
yang paling menguntungkan 120 mesin tenun. Buat apa
punya 600 mesin tenun kalau sehari-hari kebanyakan
menganggur!"
Di saat yang lain, si peneliti mencoba mempertanyakan teori tentang
pertumbuhan perusahaan kepada Pak Haji Soma. Menurut teori, semakin
besar persentase keuntungan yang ditanamkan kembali di perusahaan
(reinvestasi) maka perusahaan akan lebih cepat tumbuh (growth).
Peneliti

Haji Soma:
Peneliti

Haji Soma:

"Kalau Pak Haji untung 100, berapa yang ditanamkan


kembali di perusahaan ?"
" Maksimum 3 !"
"Lho, kok ada maksimumnya? Bukannya makin banyak
makin bagus? Biar perusahaan Pak Haji cepat jadi
besar?"
" Kalau lebih dari 3, jadi "modal mati! Saya sudah
pemah coba, 10, 5, 2, ternyata yang paling pas 3. Lebih
dari 3, barang tidak terjual!"

Kesimpulannya, pengusaha yang konsisten selalu mencoba "melihat


lebih dalam", akhirnya akan dapat menemukan bentuk dan cara menjalankan
kegiatan usahanya secara tepat, sehingga memiliki peluang lebih besar untuk
berhasil. Ditunjukkan bahwa Haji Soma berulang-ulang melakukan
kesalahan, tetapi karena konsisten akhirnya mampu menemukan bentuk
paling sesuai untuk menjalankan usahanya.

5.28

KEWIRAUSAHAAN

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)

2)
3)

Pengusaha perlu juga mencari gagasan lain di luar jenis usaha yang
bersifat konsumtif. Gagasan peluang usaha bisa muncul dengan
mengamati kebutuhan "menggantikan fungsi". Coba berikan contoh!
Gagasan peluang usaha bisa muncul dengan mengamati kebutuhan
untuk "menghubungkan". Jelaskan dengan contoh!
Gagasan peluang usaha bisa muncul dengan mengamati "kebutuhan
akan jenis produk/jasa tertentu karena terjadi perubahan atau karena
suatu kondisi khusus.

Petunjuk Jawaban Latihan


1)
2)
3)

Coba baca kembali uraian tentang kemampuan membaca peluang!


Coba baca kembali uraian tentang kemampuan membaca peluang!
Coba baca kembali uraian tentang kemampuan membaca peluang!

RANGKUMAN

------------------------------------

Di antara persyaratan untuk menj adi pengusaha kecil yang berhasil,


yaitu:
1. memiliki kemampuan "melihat lebih dalam", sehingga bisa
menemukan jenis produk ataupun jasa yang sesuai untuk ia
usahakan, dan juga mampu memahami hal mendasar dari kegiatan
usahanya. Pemahaman ini akhirnya membuat pengusaha menjadi
mampu mewujudkan bentuk pengusahaan yang sesuai dengan
karakteristik produk,, ataupun jasa yang ia usahakan maupun
terhadap kondisi-kondisi di luar perusahaan;
2. memiliki keuletan atau konsistensi, sehingga mampu tetap bertahan
untuk mengantarkan usahanya, mulai dari tahapan survive,
berkembang, akhimya sukses.

e EKMA4370/MODUL 5

T E S

5.29

F 0 R MAT IF 2;;__ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1)

Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan melihat lebih


dalam" terdiri dari jenis kemampuan berikut, antara lain ....
A. kemampuan membaca peluang usaha
B. kemampuan memahami secara mendasar dari produk orang lain
C. ulet
D. tahan banting

2)

Bisnis katering rumahan yang muncul karena kesibukan ibu-ibu yang


bekerja merupakan contoh peluang usaha yang dipicu oleh kebutuhan ....
A. menggantikan fungsi
B. menghubungkan
C. karena terjadi perubahanlkondisi khusus
D. karena terjadi perubahan peraturan

3)

Peluang usaha mendirikan kantor konsultan pajak muncul karena adanya


faktor kebutuhan ....
A. menggantikan fungsi
B. menghubungkan
C. karena terjadi perubahan atau kondisi khusus
D. substitusi

4)

Peluang usaha produksi helm, karena adanya peraturan yang mewajibkan


pengendara motor harus memakai helm merupakan contoh peluang
us aha yang dipicu oleh kebutuhan ....
A. menggantikan fungsi
B. karena terj adi perubahan atau kondisi khusus
C. menghubungkan
D. substitusi

5)

Bimbel (bimbingan belajar) karena ingin masuk PTN favorit merupakan


contoh peluang us aha yang dipicu oleh kebutuhan ....
A. menggantikan fungsi
B. menghubungkan
C. substitusi
D. karena terjadi perubahan atau kondisi khusus

5.30

KEWIRAUSAHAAN

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.

5.31

EKMA4370/ MODUL 5

Kunci Jawaban Tes Format if


Tes Formatif 1

Tes Formatif2

1)
2)
3)
4)
5)

1)
2)
3)
4)
5)

c
B
D

A
A

c
B
D

5.32

KEWIRAUSAHAAN

Daft ar Pust aka


Boyd and Gumpert. (1985). Coping with Entrepreneurial Stress. Harvard
Business Review, Nov, Dec.
Bruce G. Whiting. (1988). Creativity and Entrepreneurship: How Do They
Relate? Journal of Creative Behavior 22, No.3.
Donald M. Dible. (1980). Small Business Success Secrets. The Entrepreneur
Press.
Doris Shallcross, Anthony M. Gawienowski. (1989). ''Top Experts Address
Issues on Creativity Gap in Higher Education. Journal of Creative
Behavior 23, No.2.
Douglas W. Naffziger, Jeffrey S. Hornsby, and Donald F. Kuratko. (1994).
"A Proposed Research Model of Entrepreneurial Motivation",
Entrepreneurship Theory and Practice. Spring.
Edward de Bono. (1970). Lateral Thinking, Creativity Step by Step. New
York: Harper & Row.
Eugene Staley, Richard Morse. (1965). Modern Small Industry for
Developing Countries. McGraw-Hill.
John J. Kao. (1991). The Entrepreneur. Englewood Cliffs, New Jersey:
Prentice-Hall.
Manfred F.R. Kets de Vries. (1985). The Dark Side of Entrepreneurship.
Harvard Business Review, Nov, Dec.
Michael Kirton. (1976). Adaptors and Innovators: A Description and
Measure. Journal of Applied Psychology, Oct.
Peter F. Drucker. (1985). Innovation and Entrepreneurship. New York,
Harper & Row.

e EKMA4370/MODUL 5

5.33

Peter R. Dickson. (1994). Marketing Management. (Fort Worth, TX), The


Dryden Press.
Peter R. Dickson. (2000). Marketing Research and Information Systems,
Marketing Best Practices. Ft. Worth, TX : Harcourt College Publishers.
Program Orientasi Industri Kecil dan Menengah di Perguruan Tinggi. (2007).
Paket 1 Pelatihan IKM untuk Wisudawan Perguruan Tinggi. Bandung:
Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen
Perindustrian Republik Indonesia dan SBHL Consulting.
S.B. Hari Lubis. (1984). Caracteristiques des Dirigeants, Degre de
Croissance et Types d'Organization Dans Les Petites Entreprises en
Indonesia. Etude de 61 Firmes Industrielles de Textile. Disertasi Doktor,
IAE Grenoble-Prancis.
Stephen W McDaniel and A. Parasuraman. (1986). "Practical Guidelines for
Small Business Marketing Research". Journal of Small Business
Management, Jan.
Thomas Monroy and Robert Folger. (1993). "A Typology of Entrepreneurial
Styles : Beyond Economic Rationality. Journal of Positive Entreprise IX,
No.2.
Timothy A. Matherly and Ronald E. Goldsmith. (1985). The Two Faces of
Creativity. Business Horizons, Sept/Oct.

MDDUL 6

Dasar-dasar Evat uasi dan


Met ode Pembandi ngan Rencana
Invest asi
Dr. lr. S B. Hari Lubis
PENDAHULUAN

egiatan investasi merupakan aktivitas yang tidak terhindarkan dalam


dunia bisnis. Aktivitas-aktivitas seperti mendirikan pabrik, pembelian
mesin produksi, ekspansi usaha merupakan sebagian contoh bentuk investasi.
Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan proyek investasi, di
antaranya adalah penyerapan tenaga kerja, peningkatan output yang
dihasilkan dan sebagainya. Selain itu, dengan adanya proyek investasi, akan
memacu aktivitas ekonomi.
Kegiatan investasi, entah dilakukan dalam bidang industri atau di bidang
lain, pada hakikatnya merupakan usaha menanamkan faktor-faktor produksi
langka dalam proyek tertentu. Proyek investasi dapat bersifat baru sama
sekali atau perluasan dari proyek yang ada.
Pada umumnya, pendirian suatu proyek membutuhkan dana yang besar.
Oleh karena itu, bagi investor swasta, aspek profitabilitas merupakan
pertimbangan utama dalam berinvestasi. Hal ini tidak berarti bahwa proyek
investasi swasta tidak akan mendatangkan manfaat makro atau sosial.
Pendirian sebuah pabrik dapat menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu,
jika pabrik tersebut berorientasi ekspor, berarti pabrik tersebut berkontribusi
dalam meningkatkan pendapatan valuta asing bagi negara. Atau jika pabrik
tersebut menghasilkan produk yang mampu menggantikan produk impor,
berarti pabrik tersebut berkontribusi dalam penghematan de visa.
Sudah menjadi kenyataan yang sulit dipungkiri, tidak semua proyek
yang dibangun mampu memetik manfaat seperti yang diharapkan. Memang,
tidak sedikit ada proyek yang dapat beroperasi dengan baik sejak permulaan.
Namun tidak sedikit pula proyek yang baru dalam fase pembangunan fisik

6.2

KEWIRAUSAHAAN

saja sudah menuai kegagalan. Proyek yang gagal, tidak dapat begitu saja
ditinggalkan tanpa menderita kerugian besar. Menjual mesin, gedung, atau
peralatan bekas lain tidaklah mudah. Seandainya laku dijual, harganya pasti
jauh di bawah harga pasar. Sedangkan jika mengupayakan peralatan tersebut
untuk kegiatan lain yang berbeda dengan perencanaan semula, hal itu belum
tentu menguntungkan. Oleh karena itu, sebelum proyek investasi diputuskan,
maka harus dilakukan evaluasi yang mendalam agar jangan sampai sesudah
dilaksanakan, ternyata proyek tersebut tidak sesuai dengan harapan. Dengan
evaluasi yang mendalam, diharapkan perusahaan akan mempunyai gambaran
yang lebih rinci apakah proyek tersebut perlu ditindaklanjuti atau tidak.
Dalam modul ini akan dibahas beberapa metode dalam melakukan
investasi. Setelah membaca modul ini diharapkan Anda mampu:
1. memahami nilai waktu dari uang;
2. menghitung bunga;
3. menilai kelayakan suatu investasi.

6.3

e EKMA4370/MODUL 6

KEGIATAN

BELA&JAR

Ni I ai Wakt u dari Uang


eperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa dengan melakukan suatu
evaluasi terhadap suatu proyek, maka investor akan mendapatkan
gambaran, seberapa j auh rene ana investasi pada proyek tersebut dapat
dipertanggungjawabkan dari berbagai aspek. Seorang investor yang
berpengalaman tidak akan tergesa-gesa merealisasikan ide atau gagasan
mendirikan suatu proyek investasi hanya karena insting bisnis atau naluri
semata Ide untuk mendirikan proyek terinvestasi tersebut harus disaring
terlebih dahulu, bahkan jika perlu dilakukan secara bertahap. Pada setiap
tahap, proyek yang akan didirikan diteliti secara rinci dan mendalam. Jika
investor yakin bahwa proyek investasi yang akan didirikan dapat
mendatangkan manfaat (benefit) yang layak, serta risiko yang akan terjadi
dapat dikelola, maka barulah investor tersebut mengambil langkah-langkah
yang diperlukan.
Untuk menilai rencana investasi atau melakukan analisis ekonomi
terhadap suatu rencana investasi, kita dapat melakukan perhitungan
sederhana dengan menghitung tingkat efisiensi, baik efisiensi fisik maupun
efisiensi ekonomis dengan cara sederhana sebagai berikut.
OUTPUT
EFISIENSI FISIK

INPUT
MANFAAT (KEUNTUNGAN)

EFISIENSI EKONOMIS

-ONGKOS YANG DIKELUARKAN

Pada umumnya masalah keuangan atau arus kas suatu investasi


mencakup periode waktu yang cukup panjang (bertahun-tahun). Oleh karena
itu, manajer investor perlu memperhitungkan pengaruh waktu terhadap nilai
uang. Mengapa demikian? Karena satu rupiah pada saat sekarang, tentu

6.4

KEWIRAUSAHAAN

bernilai lebih tinggi dari pada satu rupiah pada waktu yang akan datang.
Berdasarkan alasan itulah maka investor perlu memperhitungkan pengaruh
waktu terhadap nilai uang.

A. BUNGAUANGDANRUMUSBUNGA
Suatu hal yang lazim bahwa sebagian dana investasi dibiayai dari dana
pinjaman. Sebagai konsekuensinya, peminjam harus membayar bunga atas
pinjaman tersebut. Oleh karena itu, dalam investasi, bunga merupakan
ongkos atau sewa atas pemakaian sejumlah uang.

1.

Rumus Bunga
Dalam perhitungan investasi, kita mengenal dua macam bunga, yaitu
bunga sederhana dan bunga berbunga (bunga majemuk). Bunga sederhana
merupakan bunga yang dihitung secara linier, tidak ditambahkan ke dana
pokok untuk menghitung perolehan berikutnya. Sedangkan dalam bunga
majemuk, perhitungan besarnya dana pokok berikutnya, sama dengan dana
pokok periode sebelumnya, ditambah jumlah bunga yang diperoleh sampai
pada waktu itu.

a.

Contoh perhitungan bunga:


Bunga diambil di akhir periode -7 jumlah simpanan tidak berubah
besarnya.
Contoh:
Misalnya, Saudara menyimpan uang sebesar Rpl.OOO selama 4 tahun,
dengan bunga 5%/tahun dan diambil setiap akhir tahun. Dengan
demikian perhitungannya adalah sebagai berikut.
~SrvPJNtN

~'tGDflfv1.

DANt. TA-lN

lh1

SrvPJNtND
ANt. TA-lN

BLM-IRTA-lN

SrvPJNtND
M-IRTA-lN

M-IRTA-lN

Fp 1.00),00

Fp50,00
(5%x Fp 1.000,00)

Fp50,00

Fp 1.00),00

Fp50,00

Fp 1.00),00

Fp50,00

Fp50,00

Fp 1.00),00

Fp50,00

Fp 1.00),00

Fp50,00

Fp50,00

Fp 1.00),00

Fp50,00

Fp 1.00),00

Fp50,00

Fp50,00

Fp 1.00),00

Fp 1050,00

fti\GfvBlA\1

(1000+ 50)

b.

6.5

EKMA4370/ MODUL 6

Bunga tidak diambil di akhir periode (disebut BUNGA BERBUNGA)


Contoh: Misalnya Saudara meminjam uang di awal tahun sebesar
Rp1000,00, dengan bunga 6%/tahun dan diambil tiap akhir tahun selama
4 tahun. Dengan demikian perhitungannya adalah sebagai berikut.
lh1
1

8...J'.rn'tGD~
BLM-IRTPH..N

SrvP~D

~l.M

ANt. TPH..N

8...J'.rn
D M-IRTPH..N

M-IRTPH..N

M-IRTPH..N

FP 1.cro,oo

t=pOO,OO

FP-

FP 1.060,00

FP-

t=p63,00

FP-

FP 1.123,00

FP-

A~D

FP 1.060,00

(()0/ox FP 1.000,00)

(()0/oXFP 1.060,00)

(1000 + 60)

FP 1.123,00

t=p67,42

FP-

FP 1.191,02

FP-

FP 1.191,02

t=p71 ,46

FP-

FP 1.262,48

FP 1.262,48

Perhitungan di atas dapat ditulis dengan cara lain, yaitu


lh1

A~D

/WL TPH..N

8...I'-rn'Jf1U
lA~. r A

m.~

DBl\YPRD M-IRTPH..N

A~D

M-IRTPH..N

FtfVBI\YJBt.J
M-IRTPH..N

1.cro,oo

1.cro,oo x o,06 =

FP oo,oo

1.cro,oo x (1,06) 1 = 1060,00

1.060,00

1.060,00 X0,06 =

FP 63,00

1.cro,oo x (1,06)2= 1123,00

1.123,00

1.123,00 X0,06 =

FP 67,42

1.cro,oo x (1,06)3 = 1191 ,02

1.191 ,02

1.191 ,02 X0,06 =

FP 71 ,46

1.000,00 X( 1,06)4 = 1262,48

1.262,48

Dari perhitungan di atas berarti jika Saudara meminjam uang saat ini,
sebesar Rp1.000,00 dengan bunga 6% per tahun (majemuk), maka setelah
4
4 tahun besamya pinjaman menjadi Rp 1.000,00(1 + 0,06) atau Rp 1.262, 48.
Atau jika Saudara meminjam uang saat ini sebesar [ P ] dengan bunga
i% /tahun (majemuk), setelah n tahun maka besamya pinjaman menjadi

P(l+i)n.

6.6

KEWIRAUSAHAAN

Jika besarnya pinjaman setelah n tahun disebut F, maka:

F==P(1+i)n
dan

p ==

F
( 1+ i )n

Notasi pada Rumus Bunga:


i = suku bunga tahunan atau per periode.
n = jumlah periode di mana bunga dihitung.
P = jumlah uang sekarang (present sum).
A = pembayaran tahunan (Annual Payment), besarnya sama tiap
periode, pada setiap akhir tahun.
F = jumlah uang di masa datang (Future Sum) pada akhir tahun ken.
Hubungan P (resent), F(uture) dan, A (nnual)
p- F:

2.

p- A:

3.

A=P

i(1+i)n
(1+i)n -1

F- A:

4.

P=A

(1 +i )n -1
i(1 + i)n

6.7

EKMA4370/MODUL 6

5.

6.

A=F

i(l+i)n
(l+i)n -1

Hubungan di atas dapat digambarkan sebagai berikut.


p

I
2

I
3

n-1

I
n

Untuk memudahkan, hubungan di atas dapat digambarkan sebagai berikut.


p
Al
0

-------------------2

n-2

n-1

P - selalu terjadi di awal tahun pertama


A - selalu terj adi di akhir tahun, setiap tahun, mulai tahun ke 1 s/d
tahun ke n, dengan besar yang sama setiap tahun
F - selalu terjadi di akhir tahun terakhir n
Karena perhitungan rumus 1 s/d 6 di atas rumit, maka Anda dapat
menggunakan Tabel Bunga, di mana faktor bunga telah dihitung. Dengan
Tabel Bunga tersebut, maka rumus bunga dinyatakan sebagai berikut.
1. F = P(F/P,i,n)

2. P = F(P/F,i,n)

3. A= P(A/P,i,n)

4. P = A(P/A,i,n)

5. F = A(F/A,i,n)

6. A= F(A/F,i,n)

dari Tabel Bunga

6.8

KEWIRAUSAHAAN

Contoh Tabel Bunga (i = 10% per tahun):


n

(F7P, i, n)

(R'F, i, n)

(F7A i, n)

(A'F, i, n)

(R'A i, n)

(A'P, i, n)

1,4640

0,6830

4,6410

0,2155

3,1699

0,3155

.----

----,

1,6110

0,6209

6,1050

0,1638

3,7908

0,2638

1,7220

0,5645

7,7160

0,1296

4,3553

0,2996

Sebagai contoh, jika A meminjam uang sekarang sebesar Rp1.000,00 (P),


yang akan ia bayar 5 tahun (n) kemudian dengan bunga majemuk 10%/tahun
(i). Berapa harus dibayar oleh A 5 tahun kemudian?
P = Rp 1.000,00
N = 5 tahun
i = 10%/tahun

Berapa F (5 tahun kemudian)?

F = P(F/P,i,n)
= Rp1.000,00 (F/P,10%,5)
= Rp1.000,00 (1,6110) = Rp1.611,00

Contoh-contoh Soal:
1. Jika Anda menabung sebesar Rp5 juta dengan bunga tunggal 8%/tahun.
Harus berapa lama tabungan disimpan agar menjadi Rp6,4 juta?
Bunga= Rp(6,4- 5) juta
= Rp1,4 juta
= n x Bunga Tahunan (Tunggal)

Rp1,4 juta = n

Rp0,4 juta

Rp1,4 juta
Bunga Tahunan
= 8% x Rp5 juta
= Rp0,4 juta

n =

= 3,5 tahun
Rp0,4 juta

2.

6.9

EKMA4370/MODUL 6

Jika Saudara meminjam dari Bank Rp1 juta saat ini, dan harus dibayar
lunas 5 tahun kemudian. Berapa besar pembayaranjika i = 8%/tahun?
F=?
P = Rp 1juta

=
=

3.

2
3
4
P (F/P, i, n) = 1 juta x (F/P,8%,5)
1 juta (1,4690) = Rp1,4690 juta

Lima tahun lagi si A harus membayar pinjaman uang sebesar Rp1 juta.
Jika i = 8%/tahun, berapa uang yang harus disimpan sekarang agar
pinj aman bisa dilunasi di akhir tahun ke 5?

F = Rp 1 juta
P=?

= F (P/F, i, n) = 1 juta x (P/F,8%,5)


= 1 juta (0,6860) = Rp 0,6860 juta

4.

Angsuran rumah dibayar tiap akhir tahun sebesar Rp1 juta, selama 5
tahun dengan i = 8%/tahun. Berapa yang harus di tabung saat ini agar
angsuran tahunan itu selalu bisa dibayar?
A= Rp 1 juta
P=?

0
P

= A(P/A, i, n) = 1 juta x (P/A,S%,5)


= 1 juta (3,99270) = Rp 3,9927 juta

5.

Simpanan sebesar Rp1 juta saat ini, ternyata menjadi Rp1,5 juta setelah 5
tahun. Berapa besarnya suku bunga?

6.10

KEWIRAUSAHAAN

i =?

P = Rp 1 juta

F = Rp 1,5 juta

= F (F/P, i, n)

1,5 Juta = Rp 1 juta (F/P, i, 5)

(F/P, i, 5)

Rp 1,5 juta

= 1,500

Rp 1 juta
Dari Tabel Bunga
(F/P, 8%, 5) = 1,469
(F/P, 9%, 6) = 1,539

1,500 di antara 1,469 dan 1,539

Dilakukan Interpolasi:
9%

-------------------------------

i1f
?%
8%

-------I
I
I
I

1,469

1,500

1,500- 1,469

= 8% +

x(9%-8%)
1,539- 1,500
0,031

= 8%+

0.039

1%

= 8,79%

1,539

(F/P, i, 5)

6. 11

EKMA4370/MODUL 6

Suku Bunga Gradien:


Dalam Suku Bunga Gradien, besarnya angsuran tahunan selalu berubah,
dengan perubahan yang tetap.
Contoh:
a. Pembayaran angsuran tahunan selama 5 tahun, tiap akhir tahun.
b. Angsuran pertama Rp 1 juta, naik Rp 100.000,00 tiap tahun.

Berapa harus disimpan sekarang untuk membayar angsuran itu


(i = 8%/tahun)?
1,4 jt
1,3 jt
Gradien (G)
= Rp 0,1 juta

1,2 jt

P=?

1,1 jt
1 jt

Untuk menjawab soal di atas, kita dapat memecah angsuran di atas


menjadi dua bagian seperti di bawah ini.
0,2
0,3
0,2
1

0,1

dan
1

dikonversi menjadi
A2, menggunakan
Tabel Bunga Gradien

(n=5)

A2 =
=

G(A/G, i, n) = 0,1 juta (A/G, 5%, 5) = 0,1 juta x 1,8645


Rp 0,18465 juta

6.12

KEWIRAUSAHAAN

A total = A1 + A2 = 1 juta + 0,18465 juta = 1,18465 juta

A total

I
I
I
I
I

A total= 1,18465 jt
1

= A (PIA, 8%, 5) = 1,18465 juta (3,9927) = Rp 4,72995 juta.

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai rnateri di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)

J elaskan rumus menghitung efisiensi fisik dan efisiensi ekonornis!


Jelaskan pengertian bunga sederhana dan bunga majernuk!
Apa yang disebut bunga gradien?

Petunjuk Jawaban Latihan


1)
2)
3)

Baca kernbali rumus penghitungan efisiensi fisik dan efisiensi ekonornis.


Pelajari kernbali pengertian bunga sederhana dan bunga majemuk.
Cob a baca kernbali tentang bunga gradien.

RANGKUMAN

Seorang investor yang berpengalarnan tidak akan tergesa-gesa


merealisasikan ide atau gagasan rnendirikan suatu proyek investasi,
hanya karena insting bisnis atau naluri sernata Ide untuk mendirikan
proyek terinvestasi tersebut harus disaring terlebih dahulu, bahkan jika
perlu dilakukan secara bertahap. Pada setiap tahap, proyek yang akan
didirikan diteliti secara rinci dan mendalam.

6.13

e EKMA4370/MODUL 6

Pada umumnya masalah keuangan atau arus kas suatu investasi,


mencakup periode waktu yang cukup panjang (bertahun-tahun). Oleh
karena itu, manajer investor perlu memperhitungkan pengaruh waktu
terhadap nilai uang. Mengapa demikian? Karena satu rupiah pada saat
sekarang tentu bernilai lebih tinggi, dari pada satu rupiah pada waktu
yang akan datang.
Suatu hal yang lazim bahwa sebagian dana investasi dibiayai dari
dana pinjaman. Sebagai konsekuensinya, peminjam harus membayar
bunga atas pinjaman tersebut. Oleh karena itu, dalam investasi, bunga
merupakan ongkos atau sewa atas pemakaian sejumlah uang.

T E

F 0 R MAT IF

, _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1)

Output: input merupakan rumus untuk menghitung ....


A. efisiensi fisik
B. efisiensi ekonomis
C. efisiensi nonfisik
D. benefit/manfaat

2)

Untuk menghitung efisiensi ekonomis dapat digunakan rumus ....


A. output: input
B. input: output
C. manfaat: ongkos yang dikeluarkan
D. ongkos yang dikeluarkan: manfaat

3)

Suku bunga di mana besarnya angsuran tahunan selalu berubah secara


tetap disebut suku bung a ....
A. majemuk
B. sederhana
C. bunga berbunga
D. gradien

4)

"Perhitungan besarnya dana pokok berikutnya, sama dengan dana pokok


periode sebelumnya ditambah jumlah bunga yang diperoleh sampai pada
waktu itu" merupakan perhitungan bunga berdasarkan ....

6.14

KEWIRAUSAHAAN

A.
B.
C.
D.
5)

sederhana
majemuk
linier
gradien

Suku bunga majemuk disebut dengan istilah lain ....


A. bunga sederhana
B. simple interest
C. bunga berbunga
D. gradien

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.

6.15

EKMA4370/MODUL 6

KEGIATAN

BELA&JAR

Pemilihan Alternatif lnvestasi


alam rangka mengambil keputusan untuk memilih usulan proyek,
investor harus melakukan seleksi secara teliti terhadap usulan tersebut.
Dalam seleksi tersebut investor dihadapkan pada pilihan menerima atau
menolak proyek yang diusulkan. Dalam pengambilan keputusan tersebut
investor juga bisa mendasarkan diri pada derajat (ranking) tingkat
"menarik"nya proyek tersebut dilihat dari aspek finansial atau ekonomi.
Penentuan ranking tersebut menjadi penting jika investor dihadapkan pada
masalah keterbatasan dana atau jika proyek tersebut bersifat saling
meniadakan.

A. KRITERIA PEMILIHAN ALTERNATIF INVEST ASI


Ada beberapa kriteria seleksi yang lazim digunakan dalam menentukan
proyek yang dipilih, di antaranya berikut ini.
1. Rate of Return (RoR).
2. Benefit-Cost Ratio (BCR).

B. ALIRAN KAS (CASH FLOW)


Dalam ilmu akuntansi kita mengenal dua jenis laporan keuangan, yakni
neraca dan laporan rugi-laba. Selain itu, kedua jenis laporan tersebut, para
ahli akuntansi menetapkan laporan Aliran Kas sebagai laporan keuangan
yang ketiga. Aliran kas menggambarkan tentang jumlah dana yang tersedia
setiap saat yang dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional
perusahaan.
Contoh:
PT. KC menyimpan RplO juta di bank dengan bunga (tunggal) 7%/tahun.
Simpanan diambil seluruhnya pada akhir tahun ke 4. Dengan demikian aliran
kasnya adalah sebagai berikut.

6.16

KEWIRAUSAHAAN

Akhir tahun ke

Cash Flow PT KC

Cash Flow Bank

- 10 juta

+ 10 juta

+ 0,7 juta

- 0,7 juta

+ 0,7 juta

- 0,7 juta

+ 0,7 juta

- 0,7 juta

+ 10,7 juta

- 10,7 juta

Contoh:
Misalnya perusahaan harus memilih mesin A atau B dengan kriteria sebagai
berikut.
Harga

Keuntungan/Tahun

Umur

Nilai Sisa

MesinA

2juta

0,45 juta

6 tahun

0,1 juta

Mesin B

3 juta

0,60 juta

6 tahun

0,7 juta

Dari data di atas, kita dapat menghitungnya seperti berikut.

Mesin A:

Rp 2juta
1

Pengeluaran

6
Rp 0,1 juta

Rp 0,45 juta

Penerimaan

6.17

e EKMA4370/MODUL 6

=- 2 juta + 0,45 juta (PIA, 8%, 6) + 0,1 juta (P/F, 8%, 6)


=- 2 juta + 0,45 juta (4,623) + 0,1 juta (0,6302)
= 0,14337 juta

PWA

Mesin B:
p

Rp 3 juta

Pengeluaran

Rp 0,7 juta

Penerimaan

Rp 0,60 juta

PWB

=- 3 juta + 0,60 juta (PIA, 8%, 6) + 0,7 juta (P/F, 8%, 6)


=- 2 juta + 0,60 juta (4,623) + 0,7 juta (0,6302)
= 0,21494 juta

Karena PWB > PWA

-7

maka kita memilih Mesin B

C. RATE OF RETURN (ROR)


Sering kali investor membutuhkan suatu analisis untuk mengetahui
apakah proyek yang sedang digagas menarik jika dilihat dari arus
pengembalian. Untuk itu prosedur yang lazim digunakan adalah mengkaji
arus pengembalian proyek melalui metode Rate of return (RoR). Rate of
return adalah suku bunga di mana total penerimaan ekivalen dengan total
pengeluaran.
Contoh:
1. Sebuah mesin yang berharga Rp10 juta menghasilkan keuntungan
Rp2,374 juta/tahun selama 5 tahun. Berapa RoR?
10 juta = 2,374 juta (PIA, i, 5)

6.18

KEWIRAUSAHAAN

PENGELUARAN

PENERIMA

10 juta
= 4,2123

(P/A, i, 5) =

-7 i
2.

2,374
RoR = 6%

6%

Misalnya aliran kas bersih (net cash-flow dari 2 alternatif investasi


adalah sebagai berikut.
Tahun

Alternatif 1

Alternatif 2

Alt.1 - Alt.2

-10 juta

-20 juta

-10 juta

+15 juta

+28 juta

+ 13 juta

Jika MARR (minimum attractive Rate of Return) = 6%/tahun, mesin


mana yang sebaiknya dipilih? Untuk menjawab pertanyaan itu,
perhatikan uraian berikut.
-10 + 15
PW 1 =

- - - - = 50%

> MARR

10

Kedua mesin memenuhi syarat


-20 + 28
PW2 =

20

= 40o/o

> MARR

-10 + 13
PW2_1 = - - - - = 30% > MARR -7
10

Pilih Mesin 2

6.19

e EKMA4370/MODUL 6

D. BENEFIT-COST RATIO (BCR)


Untuk mengevaluasi kelayakan suatu proyek, salah satu metode yang
sering digunakan adalah Benefit-Cost Ratio. Dalam perhitungan Benefit-Cost
Ratio ini, kita harus membandingkan antara BENEFIT (Manfaat) yang
diterima dari suatu investasi terhadap COST (biaya atau pengorbanan), di
titik yang sama (P atau A, atau F) dari alternatif yang hendak dibandingkan.
Metode ini merupakan salah satu metode yang cukup populer untuk
mengevaluasi kelayakan proyek untuk kepentingan umum atau sektor publik.
Namun hal ini tidak berarti sektor swasta harus mengabaikan penghitungan
ini. Pada proyek sektor swasta, benefit (manfaat) merupakan pendapatan
dikurangi dengan biaya.
Rumus:

P Benefit
BCRAlt.l =

F Benefit

A Benefit

Alt.l

- - - Alt.l =
P Cost

A cost

F Cost

P Benefit

A Benefit

F Benefit

Alt.l =

P Cost

Alt.2

Alt.2 =

Alt.2 =

BCRA1t.2 =

A cost

F Cost

Proyek yang dipilih adalah proyek dengan BCR terbesar dengan ketentuan
sebagai berikut.

P Benefit
Alt.l

P Cost

P Benefit

Alt.2

6.20

KEWIRAUSAHAAN

P Cost
Jika BCR > 1, maka us ulan investasi atau proyek diterima;
Jika BCR < 1, maka usulan investasi atau proyek ditolak;
J ika B CR = 1, netral.
Contoh:
Suatu proyek membutuhkan investasi senilai Rp60 juta dengan tingkat bunga
9%. Diperkirakan manfaat yang akan diterima selama tiga tahun secara
berturut-turut adalah Rp20 juta, 30 juta dan 45 juta. Apakah proyek tersebut
diterima atau tidak?
Perhitungan:
TAHUN
0
1

2
3
Benefit

PERHITUNGAN ALIRAN KAS (i


- R 160,00 juta
20 juta (0,917) =
R 118,34 juta
R 125,26 juta
30 juta (0,842) =
45 juta (0,772) =
R 134,74 juta
R [)78,34 juta

= 9%)

78,34 juta
BCR=
60,00 juta
--

1,31

Berdasarkan penghitungan di atas, maka BCR proyek tersebut 1 ,31. Karena


BCR-nya > 1, maka berarti proyek tersebut diterima.
E.

KESULITAN DALAM PEMILIHAN ALTERNATIF

Dalam memilih alternatif proyek investasi tersebut temyata tidak mudah,


karena ada beberapa permasalahan yang disebabkan oleh beberapa faktor
berikut.
1. Input/output bisa bervariasi:
a. Input fixed
b. Output fixed
c. Input/output bervariasi
2. Periode Analisis bisa berbeda dari Umur Alternatif:
a. Periode Analisa = Umur Alternatif

6.21

EKMA4370/ MODUL 6

Periode Analisa i- Umur Alternatif


1) Umur terbatas (N terbatas)
2) Umur tidak terbatas (N = oo)
Apakah sebelumnya mulai dari kondisi:
a. Belum ada sama sekali alternatif dimiliki
b. Sudah ada altematif yang dimiliki, dan in gin dig anti
b.

3.

Untuk memudahkan memahami masalah di atas, perhatikan tabel


berikut.
lm'JK'IVEIGE rvB\CroJ PPO\

R:Jicre traisa = Unr


lttentiif
(Nteb:ics)

plih atera~

plih at:eraif

plih atenrtif

cg,: (~)

b~ tcp letih

<tJl:

<tJl:

rurit

Pa.tpJ: ~mm'tai::Exr

AupJ: ~mm'tai::Exr

FatpJ: ~mm'tai::Exr

R:Jicre traisa = Unr


ltterraif

Faicre traisa -t Unr


ltterraif

AupJ: ~
mm'teb:sc:r
A= P.i

(Ntidc:Ktataas oo)

Fa.tpJ: ~

AupJ: ~
mm'tai::Exr
A= P.i

mm'tai::Exr

plih at:era~

plih at:eraif

plih atara~

cg,: (~~ )

cg,:

<tJl:

Rrp..t niri-

Arp.t nirimrn

Firp..t nirimrn

mm'te1<001

/te1<001

/te1<001

- tut p:ricx::E
aaisa=

unratara
tif ciaJ<tJl
rila ssa

- icim(~)

R:Jicre traisa = Unr


ltterraif
(Nteb:ics)

R:Jicre traisa = Unr


ltterraif
(Nticla< teb:ics oo)

Rrp..t niri-

Arp.t nirirrun

mm'te1<001
P= A'i

/te1<001
A= P.i

Faicre traisa -t Unr


ltterraif

- tut p:ricx::E
aaisa =

Arp.t nirimrn

Firp..t nirirrun

/te1<001

/te1<001

unratara
tif ciaJ<tJl
rila ssa
-icim(~~ )

,....

~
F

R:Jicre traisa = Unr


ltterraif
(Nteb:ics)

R:Jicre traisa = Unr


ltterraif
(Nticla< te'l:xtcs oo)
Faicre traisa -t Unr

plih at:araif
cg,: (0)

plih at:araif
cg,: (0 0)

-Frn

-Em

~rrun

~rrun

-RR>!WfR

-Em> 1

icbn(O),
titl.J-g Frn
<tJl P= A'i

icbn(O 0),
titLrg EI:R<tJl

P= A'i

6.22

KEWIRAUSAHAAN

-....... :. LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)

Sebutkan dan jelaskan beberapa kriteria pemilihan investasi/proyek yang


Anda ketahui!
Jelaskan pengertian aliran kas!
Jelaskan kesulitan dalam pemilihan kriteria pemilihan investasi!

Petunjuk Jawaban Latihan

1)
2)
3)

Pelajari kembali RoR, BCR.


Pelajari pengertian aliran kas.
Baca kembali tabel di atas tentang karakteristik masalah.

RANGKUMAN

Dalam rangka mengambil keputusan untuk memilih usulan proyek,


investor harus melakukan seleksi secara teliti terhadap usulan tersebut.
Dalam seleksi tersebut investor dihadapkan pada pilihan menerima atau
menolak proyek yang diusulkan. Dalam pengambilan keputusan tersebut
investor juga bisa mendasarkan diri pada derajat (ranking) tingkat
"menarik"nya proyek tersebut dilihat dari aspek finansial atau ekonomi.
Penentuan ranking tersebut menjadi penting jika investor dihadapkan
pada masalah keterbatasan dana atau jika proyek tersebut bersifat saling
meniadakan.
Dalam ilmu akuntansi kita mengenal dua jenis laporan keuangan,
yakni neraca dan laporan rugi-laba. Selain itu kedua jenis laporan

6.23

e EKMA4370/MODUL 6

tersebut, para ahli akuntansi menetapkan laporan Aliran Kas sebagai


laporan keuangan yang ketiga. Aliran kas menggambarkan tentang
jumlah dana yang tersedia setiap saat yang dapat digunakan untuk
membiayai kebutuhan operasional perusahaan.
Sering kali investor membutuhkan suatu analisis untuk mengetahui
apakah proyek yang sedang digagas menarik jika dilihat dari arus
pengembalian. Untuk itu prosedur yang lazim digunakan adalah
mengkaji arus pengembalian proyek melalui metode Rate of return
(RoR). Rate of return merupakan adalah suku bunga di mana total
penerimaan ekivalen dengan total pengeluaran.
Untuk mengevaluasi kelayakan suatu proyek, salah satu metode
yang sering digunakan adalah Benefit-Cost Ratio. Dalam perhitungan
Benefit-Cost Ratio ini, kita harus membandingkan antara Benefit
(manfaat) yang diterima dari suatu investasi terhadap Cost (biaya atau
pengorbanan). Metode ini merupakan salah satu metode yang cukup
populer untuk mengevaluasi kelayakan proyek untuk kepentingan umum
atau sektor publik. N amun hal ini tidak berarti sektor swasta harus
mengabaikan penghitungan ini. Pada proyek sektor swasta, benefit
(manfaat) merupakan pendapatan dikurangi dengan biaya.

TES

FDRMATIF 2

~-----------------------------

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1)

Kriteria investasi di mana suku bunga di mana total penerimaan sama


dengan total pengeluaran disebut ....
A. NPV
B. RoR
C. ROI
D. BCR

2)

Kriteria investasi di mana kita harus membandingkan antara Benefit


(manfaat) yang diterima dari suatu investasi terhadap Cost (biaya atau
pengorbanan) disebut ....
A. NPV
B. RoR
C. ROI
D. BCR

6.24

KEWIRAUSAHAAN

3)

Gambaran jumlah dana yang tersedia setiap saat, yang dapat digunakan
untuk membiayai kebutuhan operasional perusahaan disebut ....
A. laporan rugi-laba
B. neraca
C. aliran kas
D. BCR

4)

Dalam memilih alternatif proyek investasi ternyata tidak mudah, karena


ada beberapa permasalahan yang sering muncul, di antaranya adalah ....
A. periode analisa = umur altematif
B. tidak ada data pendukung
C. tidak ada rumus yang pasti untuk memilih proyek
D. manajer proyek sangat sulit didapat

5)

Salah satu metode yang cukup populer untuk mengevaluasi kelayakan


proyek untuk kepentingan umum atau sektor publik adalah ....
A. NPV
B. Cash ratio
C. ROI
D. BCR

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

e EKMA4370/MODUL 6

6.25

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.

6.26

KEWIRAUSAHAAN

Kunci Jawaban Tes Format if


Tes Formatif 1
1) A
2) c
3) D
4) B
5) c

Tes Formatif2
1)
2)
3)
4)
5)

B
D

c
A
D

e EKMA4370/MODUL 6

6.27

Daft ar Pust aka


Boyd and Gumpert. (1985). Coping with Entrepreneurial Stress. Harvard
Business Review, Nov, Dec.
Bruce G. Whiting. (1988). Creativity and Entrepreneurship: How Do They
Relate? Journal of Creative Behavior 22, No.3.
Donald M. Dible. (1980). Small Business Success Secrets. The Entrepreneur
Press.
Doris Shallcross, Anthony M. Gawienowski. (1989). ''Top Experts Address
Issues on Creativity Gap in Higher Education. Journal of Creative
Behavior 23, No.2.
Douglas W. Naffziger, Jeffrey S. Hornsby, and Donald F. Kuratko. (1994).
"A Proposed Research Model of Entrepreneurial Motivation",
Entrepreneurship Theory and Practice. Spring.
Edward de Bono. (1970). Lateral Thinking, Creativity Step by Step. New
York: Harper & Row.
Eugene Staley, Richard Morse. (1965). Modern Small Industry for
Developing Countries. McGraw-Hill.
John J. Kao. (1991). The Entrepreneur. Englewood Cliffs, New Jersey:
Prentice-Hall.
Manfred P.R. Kets de Vries. (1985). The Dark Side of Entrepreneurship.
Harvard Business Review, Nov, Dec.
Michael Kirton. (1976). Adaptors and Innovators: A Description and
Measure. Journal of Applied Psychology, Oct.

6.28

KEWIRAUSAHAAN

Peter F. Drucker. (1985). Innovation and Entrepreneurship. New York,


Harper & Row.
Peter R. Dickson. (1994). Marketing Management. (Fort Worth, TX), The
Dryden Press.
Peter R. Dickson. (2000). Marketing Research and Information Systems,
Marketing Best Practices. Ft. Worth, TX : Harcourt College Publishers.
Program Orientasi Industri Kecil dan Menengah di Perguruan Tinggi. (2007).
Paket 1 Pelatihan IKM untuk Wisudawan Perguruan Tinggi. Bandung:
Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen
Perindustrian Republik Indonesia dan SBHL Consulting.
S.B. Hari Lubis. (1984). Caracteristiques des Dirigeants, Degre de
Croissance et Types d'Organization Dans Les Petites Entreprises en
Indonesia. Etude de 61 Firmes Industrielles de Textile. Disertasi Doktor,
IAE Grenoble-Prancis.
Stephen W McDaniel and A. Parasuraman. (1986). "Practical Guidelines for
Small Business Marketing Research". Journal of Small Business
Management, Jan.
Thomas Monroy and Robert Folger. (1993). "A Typology of Entrepreneurial
Styles : Beyond Economic Rationality. Journal of Positive Entreprise IX,
No.2.
Timothy A. Matherly and Ronald E. Goldsmith. (1985). The Two Faces of
Creativity. Business Horizons, Sept/Oct.

MDDUL 7

Memahami Kondi si Li ngkungan sebagai


Persiapan Bagi Usaha Baru
Dr. lr. S B. Hari Lubis
PENDAHULUAN

emampuan membaca dan menyesuaikan diri terhadap kondisi


lingkungan yang selalu berubah, mungkin merupakan faktor yang
paling menentukan keberhasilan maupun kegagalan perusahaan.
Alan J.Rowe, Richard O.Mason, Earl L.Dickel
Strategic Management and Business Policy

Banyak cara dikembangkan untuk menginventarisasi kondisi lingkungan


bagi usaha yang masih baru. Pendekatan-pendekatan yang dikembangkan
untuk melakukan inventarisasi ini biasanya tidak terlalu rumit, sehingga para
pengusaha baru dapat melakukan sendiri inventarisasi terhadap kondisi
lingkungan yang dihadapinya. Biasanya yang diinventarisasikan adalah
kondisi ekonomi secara umum, peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, yang mungkin berpengaruh
terhadap kegiatan usaha. Selanjutnya, dilakukan evaluasi yang lebih rinci
terhadap jenis usaha yang hendak dijalankan, dengan mengutamakan
pemahaman mengenai karakteristik usaha dan kegiatannya, corak persaingan
yang akan dihadapi, dan hambatan untuk masuk (barrier to entry) dalam
jenis usaha tersebut.
Penelaahan juga perlu dilakukan terhadap kondisi wilayah tempat usaha
akan dijalankan, yang dimaksudkan untuk memeriksa kesesuaian kegiatan
usaha yang akan dijalankan terhadap kondisi di sekitarnya. Selama
melakukan penelaahan tersebut calon pengusaha perlu berusaha
mengumpulkan berbagai jenis informasi, terutama yang diperlukan agar si
pengusaha siap menjalankan kegiatan usaha baru yang direncanakan.

7.2

KEWIRAUSAHAAN

Modul ini membahas bagaimana cara melakukan pemantauan terhadap


kondisi lingkungan sebagai persiapan usaha baru. Diharapkan sesudah
mempelajari modul ini mahasiswa mampu:
1. memantau kondisi lingkungan;
2. elemen-elemen lingkungan;
3. lima kekuatan yang mempengaruhi persaingan;
4. tinjauan aspek mikro.

7.3

EKMA4370/MODUL 7

KEGIATAN

BELAL.JAR

Memant au Kondi si Li ngku ngan


A. PENGANTAR: ELEMEN LINGKUNGAN
Pemantauan terhadap kondisi lingkungan merupakan kegiatan yang
ditujukan untuk memeriksa kondisi lingkungan luar maupun lingkungan
internal suatu kegiatan usaha. Lingkungan luar terdiri dari berbagai sosial,
baik yang bersifat peluang maupun yang dapat menjadi ancaman bagi
kegiatan usaha yang terdapat di luar organisasi usaha tersebut, dan tidak
dapat dikendalikan oleh si pengusaha. Kondisi dan konfigurasi sosial variabel
ini akan menentukan situasi lingkungan luar yang harus dihadapi oleh
kegiatan usaha. Lingkungan luar ini terdiri dari dua bagian, yaitu lingkungan
tugas (task environment) dan lingkungan sosial (societal environment) seperti
ditunjukkan pada Gambar 7 .1.
Lingkungan tugas mencakup elemen-elemen atau kelompok-kelompok
yang secara langsung bisa mempengaruhi ataupun dipengaruhi kegiatan
utama.
LINGKUNGAN SOSIAL

Kekuatan
Sosial Budaya

LINGKUNGAN TUGAS
(industri I jenis usaha)
Pemegang
Saham

II

Pemerintah

Kelompok
Kepentingan (LSM)

~-

--

Supplier

-------

LINGKUNGAN
INTERNAL

Struktur

I
\

Sumber

\\

"' "" --

\
)

Budaya

Karyawan/
Serikat
Pekerja

I
Pesaing

--- -------

Pemberi
Pinjaman

Kekuatan
Politik!Hukum

Kekuatan
Ekonomi

Asosiasi
Usaha
Komunitas

Gambar 7. 1.
B emen-el em en Li ngkungan

Kekuatan
Teknologi

7.4

KEWIRAUSAHAAN

Lingkungan tugas mencakup elemen-elemen atau kelompok-kelompok


yang secara langsung bisa mempengaruhi ataupun dipengaruhi kegiatan
utama organisasi seperti pemegang saham, pemerintah, supplier, komunitas
sosial, kelompok-kelompok kepentingan seperti LSM, pesaing, pelanggan,
pemberi pinjaman, serikat pekerja dan asosiasi usaha. Lingkungan tugas
suatu jenis usaha sering dinamakan "industri" dari jenis usaha tersebut.
Lingkungan sosial mencakup berbagai kekuatan yang bersifat umum dan
tidak secara langsung berpengaruh terhadap kegiatan jangka pendek
perusahaan. Walaupun demikian, dalam jangka panjang berbagai kekuatan
ini bisa terasa pengaruhnya, seperti tingkat pendidikan masyarakat,
pendapatan per kapita, dan sebagainya.
Lingkungan internal terdiri dari sosial variabel yang bisa berupa
kekuatan maupun kelemahan, dan terdapat di dalam perusahaan, yang
biasanya relatif dapat dikendalikan perusahaan. Variabel-variabel ini akan
menentukan corak situasi dalam perusahaan menjalankan kegiatannya.
Situasi tersebut dibangun oleh struktur kegiatan usaha, corak budaya, dan
jenis sumber yang tersedia. Struktur kegiatan usaha menunjukkan cara yang
biasa dij alankan dalam mengelola us aha ditinj au dari aspek-aspek
komunikasi, otoritas, dan aliran kegiatan, seperti tergambarkan pada skema
organisasi. Budaya menggambarkan corak kepercayaan, harapan, dan sistem
nilai yang dianut oleh kebanyakan anggota organisasi, dan juga
sesungguhnya menggambarkan corak perilaku yang biasanya dianut dan bisa
diterima dalam organisasi. Sumber terdiri dari berbagai aset yang dimiliki,
dan digunakan untuk mengubah bahan mentah (input) menjadi keluaran
(output) berupa produk ataupun jasa. Berbagai jenis sumber antara lain
mencakup sumber daya manusia, kemampuan manajerial, aset keuangan,
fasilitas produksi, keterampilan, serta berbagai jenis kemampuan lainnya.
B. TINJAUAN SECARA MAKRO: LINGKUNGAN EKONOMI DAN
LINGKUNGAN USAHA

Penelaahan terhadap kondisi lingkungan secara makro perlu dilakukan


terhadap (1) Lingkungan Ekonomi secara keseluruhan, dan (2) kondisi
Lingkungan Usaha dari kegiatan yang dijalankan.

e EKMA4370/MODUL 7

7.5

Lingkungan Ekonomi
Kondisi atau corak dari lingkungan ekonomi sangat besar pengaruhnya
terhadap keberhasilan ataupun kegagalan dari suatu usaha yang baru dimulai.
Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa para Entrepreneur
pada umumnya hanya menaruh sedikit perhatian terhadap usaha untuk
menelaah, apakah lingkungan ekonomi yang dihadapi sesungguhnya
mendukung ataupun merupakan ancaman terhadap usaha yang dijalankannya.
Di lapangan kerap kali dijumpai pengusaha atau calon pengusaha yang berani
menanamkan modalnya tanpa penelaahan kondisi lingkungan ekonomi secara
memadai. Sesungguhnya, penelaahan yang memadai terhadap kondisi
lingkungan ekonomi, bisa membantu para pengusaha ataupun calon
pengusaha, untuk memahami kondisi yang dihadapi agar tidak terjebak dalam
situasi yang menyulitkan.
Terdapat beberapa pertanyaan penting yang sebaiknya dipelajari apabila
pengusaha atau calon pengusaha bermaksud untuk memulai sebuah usaha
1
baru, antara lain :
1. Seperti apa kondisi ekonomi negara temp at us aha baru akan dimulai?
2. Seperti apa corak atau kondisi pasar tenaga kerja di mana usaha baru
akan dijalankan?
3. Apakah suku bung a yang berlaku relatif stabil a tau selalu mengalami
kenaikan?
4. Berapa banyak perusahaan-perusahaan sejenis telah berdiri dan di
kemudian hari mungkin menjadi saingan?
5. Apakah perusahaan-perusahaan sejenis tersebut berukuran sama, ataukah
bervariasi? Apakah berbeda ukurannya dengan us aha baru yang hendak
dij alankan?
6. Bagaimana penyebaran lokasi perusahaan-perusahaan sejenis yang
berpotensi untuk menjadi saingan? Apakah lokasinya tersebar atau hanya
terkonsentrasi di suatu daerah tertentu?
7. Apakah perusahaan-perusahaan sejenis tersebut cenderung hanya
melayani pasar lokal atau juga melayani daerah lain? Apakah ada
perusahaan sejenis yang melakukan ekspor? Apakah memang terdapat
peluang untuk memasarkan produk yang dihasilkan di pasar luar negeri?
8. Adakah peraturan-peraturan pemerintah yang mungkin berpengaruh
terhadap jenis usaha yang akan dijalankan?
1

Kuratko, hal.192

7.6

9.

KEWIRAUSAHAAN

B agaimana corak persaingan yang selama ini terj adi antara perusahaanperusahaan sej enis?

Jawaban terhadap beberapa pertanyaan ini akan memberikan gambaran


awal tentang usaha yang dijalankan dan juga corak lingkungan ekonomi yang
akan dihadapi.
Entrepreneur yang akan memulai usaha baru, perlu menyadari bahwa
diperlukan sikap dan keterampilan tertentu agar memiliki kemampuan untuk
membaca kondisi lingkungan ekonomi. Beberapa karakteristik yang dianggap
paling penting disajikan berikut ini.
1. Pengusaha atau calon pengusaha perlu memiliki pemahaman yang luas
mengenai pengaruh lingkungan luar, terutama elemen-elemennya yang
mungkin berpengaruh terhadap usaha yang hendak dijalankan
2. Pengusaha atau calon pengusaha perlu memiliki kemampuan untuk
menafsirkan dan menerjemahkan pengaruh lingkungan luar menjadi pola
pengelolaan ataupun pola pengambilan keputusan yang tepat dalam
menjalankan usaha. Perumusan pola pengelolaan ataupun pola
pengambilan keputusan yang tepat ini perlu bertumpu pada pemahaman
yang menyeluruh (holistic) terhadap kegiatan maupun jenis kegiatan
dalam usaha yang dijalankan.
3. Pengusaha atau calon pengusaha perlu memiliki kemampuan negosiasi
dan juga kompromi untuk menyelesaikan berbagai jenis konflik
kepentingan yang terjadi karena berbagai jenis konstituen ternyata
memiliki sasaran maupun sosial nilai yang berbeda.
4. Pengusaha atau calon pengusaha perlu memiliki kecerdasan intelektual
yang memadai untuk mempelajari dan memahami berbagai
permasalahan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Pengusaha
atau calon pengusaha perlu memiliki kemampuan berpikir jernih agar
dapat menghadapi berbagai permasalahan yang terjadi.

C. MEMAHAMI ATURAN PEMERINTAH


Perusahaan perlu menaati peraturan dan undang-undang yang berlaku di
tempat perusahaan itu menjalankan kegiatannya. Karena itu, ongkos-ongkos
yang perlu dikeluarkan oleh perusahaan maupun besarnya keuntungan yang
dapat diperoleh bisa dipengaruhi oleh perubahan peraturan pemerintah yang
berlaku di daerah itu. Keputusan-keputusan mendasar seperti jenis usaha

EKMA4370/MODUL 7

7.7

yang akan dijalankan, produk ataupun jasa yang akan dipilih sebagai
keluaran perusahaan, lokasi kegiatan, cara memasarkan produk atau j as a
yang dihasilkan, harga yang hendak ditawarkan, dan berbagai keputusan
mendasar lainnya akan terpengaruh oleh aturan-aturan yang berlaku.
2
Berbagai contoh di Amerika menunjukkan bahwa aturan-aturan yang
dikeluarkan pemerintah sering kali mempengaruhi usaha berukuran kecil dari
berbagai segi seperti:

1.

Harga
Usaha kecil sering kali terpaksa menaikkan harga jual produk atau jasa
yang dihasilkannya untuk mengimbangi kenaikan ongkos yang terjadi karena
3
berusaha memenuhi aturan-aturan pemerintah .
2.

Ketahanan menghadapi perubahan


Dampak dari aturan yang baru ataupun peraturan yang berubah sering
membawa konsekuensi sosial dengan proporsi yang lebih memberatkan bagi
usaha berukuran kecil.

3.

Persaingan Usaha
Aturan-aturan pemerintah yang baru ataupun yang mengalami perubahan
sering lebih terasa dampaknya pada perusahaan-perusahaan berukuran kecil
sehingga cenderung membuat usaha kecil menjadi lemah dalam persaingan,
terutama menghadapi usaha berukuran besar.
4.

Pengelolaan
Aturan pemerintah sering kali memaksa usaha berukuran kecil untuk
mengorbankan waktu dengan proporsi yang lebih besar agar dapat memenuhi
berbagai aturan tersebut.

5.

Mental
Berbagai jenis kesulitan, kegagalan, penghamburan waktu, dan lain-lain
sering kali membuat pengusaha kecil menjadi lebih mudah frustrasi. Karena
berbagai kelemahan tersebut tidak mengherankan apabila banyak usaha

Kuratko, hal.195
3
Di Indonesia sering kali perusahaan terpaksa membaikkan harga untuk
mengimbangi biaya-biaya tidak resmi yang harus dipenuhi oleh perusahaan di
lapangan.

7.8

KEWIRAUSAHAAN

berukuran kecil yang berusaha menghindar dan tidak mematuhi aturan


pemerintah.

Membaca Kondisi Lingkungan Usaha


Ahli strategi yang terkenal, Michael E. Porter, berpendapat bahwa
kegiatan membaca kondisi lingkungan pada dasarnya dilakukan agar mampu
menjawab dua buah pertanyaan penting, yaitu
1. Seperti apa karakteristik struktur industri dari jenis usaha yang kita
jalankan? Bagaimana kemungkinan perubahan yang mungkin bisa terjadi
dalam struktur industri tersebut? Apakah perubahan tersebut akan
membawa peluang sehingga menjadi jenis industri ataupun usaha yang
kitajalankan menjadi menarik?
2. Bagaimana posisi sosial perusahaan yang kita jalankan dalam struktur
industri tersebut? Pertanyaan ini muncul karena pada jenis industri yang
menarik sekalipun, keberhasilan perusahaan hanya akan tercapai apabila
perusahaan yang kita j alankan memiliki posisi so sial yang baik dalam
struktur industri. Sebaliknya, sekalipun kita berada dalam sosial industri

yang kurang menarik, perusahaan akan tetap mampu mencapa1


keberhasilan apabila menempati ceruk usaha yang tepat.
Porter selanjutnya berpendapat bahwa perusahaan berukuran kecil tidak
akan cukup memiliki kekuatan untuk mempengaruhi ataupun mengubah
struktur industri sosial yang digelutinya, dan cenderung hanya memiliki
kemampuan untuk memiliki posisi yang baik, yaitu apabila perusahaan kecil
itu memiliki dan mampu memanfaatkan keunggulan kompetitif yang
dimilikinya.
Dalam usaha untuk memahami kondisi lingkungan, pemahaman
terhadap corak struktur industri yang ditempatinya merupakan langkah
penting berikutnya bagi sebuah perusahaan yang baru berdiri. Berikut ini
dijelaskan elemen-elemen penting yang ikut bermain dalam suatu jenis
struktur industri, dan perlu mendapat perhatian dari perusahaan-perusahaan
yang berada dalam struktur industri tersebut (ditunjukkan pada Gambar 7.3).
Selanjutnya, pada gambar berikutnya, ditunjukkan secara rinci dan
menyeluruh rangkaian pertanyaan yang dapat digunakan untuk memahami
karakteristik dari suatu jenis struktur industri (lihat Gambar 7.4 ).

7.9

e EKMA4370/MODUL 7

Hambatan Masuk [Barrier to


Entry):
Skala ekonomi
Peran pengalaman
Diferensiasi produk
Keterkenalan merek (brand
identitiy)
Ongkos perpindahan
Periaku hambatan masuk

An cam an
terhadap
pendatang
baru

Posisi tawar
Pemasok

Pemasok
(supplier)

Tingkat Persaingan antar


Perusahaan:
Jumlah perusahaan sejenis
Tingkat pertumbuhan
industri sejenis
Surplus kapasitas di industri

Pengusaha
Pendatang
Baru

S8J8niS

, r

Posisi tawar
Pembeli

Pesaing

\ ...

....

Ketatnya

persa1ngan
Kekuatan Pemasok :
Jumlah pemasok ukuran
besar
Peran komponen/bahan
yang disediakan pemasok

<-

Ancaman dari
produk/jasa
pengganti

Pembeli
(buyer)

Kekuatan Pembeli :
Jumlah pembeli ukuran
besar
Pentingnya produk/jasa
bagi pembeli

Produk/Jasa
Pengganti
(substitusi)
Ketersediaan Produk/Jasa Pengganti
(Substitusi) :
Ketersediaan produk/jasa pengganti yang
sangat mirip
Rasia harga terhadap produk/jasa pengganti

Gambar 7.2.
Bemen-elemen Utama S:ruktur lndustri (fvbdel 5 Kekuatan Porter)

7.10

KEWIRAUSAHAAN

PENGUSAHA PENDATANG
BARU
Apa yang menjadi hambatan bagi
pengusaha pendatang baru? Faktorfaktor apa yang bisa mengurangi
hambatan tersebut?
Perusahaan pendatang baru mana
yang berpotensi untuk maju? Seperti
apa karakteristiknya (ukuran, jumlah,
tingkat pertumbuhan, jenis
konsumennya, dll
Seperti apa kira-kira strategi bersaing
perusahaan baru? Perubahan apa
yang akan terjadi dalam industri sejenis
yang diakibatkan strategi dari perusahaan pendatang baru?

PEMASOK

PESAING

Perusahaan mana yang menjadi

pemasok? Seberapa ukurannya?


Bagaimana tingkat kepadatannya?
Seberapa terkonsentrasi jenis usaha
yang dijalankan? Berapa persen output
pemasok yang dibeli oleh sekian
persen pembeli?
Apakah perusahaan-perusahaan
sering berganti pemasok?
Berapa persen output pemasok yang
dibeli oleh jenis usaha ini? Berapa
jumlah perusahaan pemasok?
Seberapa besar mutu input dari
pemasok berpengaruh terhadap
produkljasa yang dihasilkan?
Berapa besar persentase harga
pemasok terhadap ongkos produksi?
Berapa besar ancaman terjadinya
forward integration (pemasok ikut
membuat produk/jasa) oleh pemasok
dan seberapa besar peluang pesaing
melakukan backward integration?
Seperti apa posisi tawar pemasok
terhadap usaha yang dijalankan?

PEMBELI
Perusahaan mana yang menjadi

Perusahaan mana yang menjadi

pesaing utama saat ini. Seperti apa


karakteristiknya (ukuran, tingkat
pertumbuhan, jenis produk/jasa,
daerah pemasaran,dll)
Seperti apa posisi pesaing dalam
persaingan?
Apa yang menjadi keunggulan
(competitive advantage) pesaing?
Bagaimana cara/strategi bersaing para
pesaing? Keunggulan apa yang
mereka manfaatkan?
Bagaimana corak persaingan? Kejam,
tenang, diam-diam, sopan?
Bagaimana cara untuk melakukan
diferensiasi?
Seberapa kompetitif jenis usaha yang
kita jalankan? Adakah pesaing yang
berusaha mengubah struktur industri?
Bagaimana caranya?

l....o

....

pembeli bagi jenis usaha ini? Seberapa


kepadatannya?
Seberapa cepat tumbuhnya
permintaan secara keseluruhan dan
per segmen? Seberapa besar peluang
untuk menciptakan pasar atau ceruk
pasar yang baru?
Apa saja yang menjadi ongkos untuk
mengubah pemakaian jenis produk
/jasa (swithcing cost). Berapa
besarnya?
Seberapa sensitif konsumen terhadap
perubahan harga tiap jenis
produk/jasa?
Seberapa besar ancaman backward
integration (pembeli membuat sendiri
produk!jasa yang dibutuhkan)
Seperti apa posisi tawar pembeli
terhadap usaha yang dijalankan?

PRODUKIJASA PENGGANTI
(Substitusi)
Apa yang menjadi subtitusi produk/jasa
yang dihasilkan?
Seberapa besar akibat produkljasa
substitusi terhadap produk yang ada
sekarang?
Seberapa cepat penetrasi produk/jasa
substitusi?
Perusahaan mana yang akan
menganggap produk/jasa substitusi
sebagai peluang diversifikasi?

Gambar 7.3.
Pet unj uk Penggunaan 1\tbdel 5 Kekuat an Porter

EKMA4370/MODUL 7

7. 11

D. KARAKTERISTIK INDUSTRI SECARA UMUM


W alaupun ukurannya berlainan dan juga tingkat atau kecepatan
perkembangannya berbeda-beda, industri baru yang sedang tumbuh biasanya
secara umum memiliki karakteristik yang sama, yaitu sebagai berikut.

1.

Ketidakpastian Teknologi (Technological Uncertainty)

Pada industri yang masih sedang tumbuh biasanya teknologi yang


digunakan belum cukup ajeg. Karena relatif masih baru dan juga sedang
tumbuh, belum sepenuhnya dipahami konfigurasi produk atau jasa yang
paling baik, dan juga belum sepenuhnya dipahami jenis teknologi yang
paling efisien untuk menghasilkan produk atau jasa tersebut. Penggunaan
masing-masing jenis teknologi dalam praktek juga belum dikuasai
sepenuhnya. Karena itu, dalam pertumbuhan industri sering kali terjadi
ketidakpastian teknologi.

2.

Ketidakpastian Strategi (Strategic Uncertainty)

Karena teknologi produksi yang digunakan masih berubah-ubah, maka


corak strategi yang digunakan juga masih dalam taraf mencoba-coba untuk
menemukan strategi yang paling baik bagi perusahaan. Pada saat awal
pertumbuhan, perusahaan-perusahaan pada suatu sosial industri yang sedang
tumbuh akan menggunakan pendekatan atau strategi yang berbeda-beda
dalam penetapan posisi produk atau jasa yang dihasilkan (product
positioning), dalam penetapan harga, dalam penetapan ragam produk atau
jasa yang dihasilkan, dan juga dalam pemilihan jenis teknologi yang
digunakan.

3.

Pembeli Pemula

Pembeli produk atau j as a yang dihasilkan oleh industri yang baru


tumbuh adalah pembeli pemula. Mereka merupakan pembeli pertama kali.
Karena itu, fungsi marketing bertugas untuk mengusahakan agar pembeli
bersedia mengganti produk atau jasa dengan produk atau jasa yang dihasilkan
perusahaan, atau mengusahakan agar pembeli bersedia mencoba produk
ataupun j as a baru yang dihasilkan perusahaan.

4.

Horison W aktu yang Pendek

Pada industri yang baru tumbuh muncul tekanan untuk menumbuhkan


konsumen bagi produk atau jasa yang dihasilkan ataupun untuk mampu
menghasilkan produk ataupun jasa yang sesuai dengan permintaan pasar,
secara tergesa-gesa dan cenderung lupa untuk melakukan analisis terhadap

7. 12

KEWIRAUSAHAAN

kondisi masa depan. Pemikiran jangka panjang mengenai pertumbuhan


perusahaan sering kali diabaikan.

E. HAMBATAN MASUK
Pada industri yang sedang ataupun baru tumbuh sering kali terdapat
hambatan untuk masuk bagi pengusaha pendatang baru. Hambatan yang
sering muncul pada umumnya berkaitan dengan keterbatasan pengusaha baru
pada aspek-aspek berikut ini.
1. Teknologi
Penggunaan teknologi yang sesuai sering kali terasa mahal bagi
pengusaha pendatang baru yang kondisi permodalannya masih terbatas.
2. Jaringan distribusi
Akses terhadap j aringan distribusi yang masih terbatas ataupun sama
sekali belum terbentuk mengakibatkan munculnya kesulitan memasarkan
hasil produksi bagi pengusaha pendatang baru.
3. Bahan baku dan berbagai sumber lainnya
Pengusaha pendatang baru juga hanya memiliki akses yang terbatas
terhadap bahan baku dan sumber-sumber lainnya. Contohnya, sering kali
dialami kesulitan untuk memperoleh tenaga kerja terampil.
4. Pengalaman
Keterbatasan pengalaman sering kali mengakibatkan pengusaha
pendatang baru harus mengeluarkan ongkos-ongkos yang lebih besar
sosial para pemain lama.
5. Risiko
Pengusaha pendatang baru sering kali menghadapi risiko yang lebih
besar karena kurang menguasai dan memahami berbagai aspek yang
dibutuhkan dalam kegiatan usaha.
Berbagai jenis hambatan masuk lainnya disajikan pada Tabel 7 .1. Pada
umumnya berbagai jenis hambatan untuk masuk ini akan menjadi lebih
ringan ataupun hilang apabila perusahaan mulai berkembang dan mulai
menimba pengalaman.

F. PERSAINGAN
Hal lain yang juga penting untuk mendapatkan perhatian adalah masalah
persaingan. Analisis terhadap kondisi persaingan yang dihadapi perusahaan
mencakup pengamatan terhadap jumlah pesaing dan juga kekuatan dari
masing-masing pesaing tersebut. Dalam melakukan penelaahan terhadap

7.13

EKMA4370/MODUL 7

persaingan penting untuk tetap menyadari keseluruhan elemen yang


berpengaruh terhadap persaingan, seperti petunjuk yang disajikan pada
Gambar 7 .4. Gambar ini menunjukkan berbagai analisis yang perlu dilakukan
dalam membaca kondisi persaingan, yaitu dengan mempertimbangkan
( 1) sosial apa yang bisa mendorong terj adinya persaingan antar perusahaan,
dan (2) tindakan apa saja yang bisa muncul dalam persaingan. Dengan
mempelajari berbagai sosial ini diharapkan para pengusaha memiliki suatu
4
kerangka yang jelas dalam melakukan analisis terhadap persaingan . Analisis
yang lepat dan lengkap terhadap kondisi persaingan merupakan modal yang
penting untuk mengantarkan sebuah usaha yang masih baru menuju
keberhasilan.
Tabel 7. 1.
Berbagai Jenis Hambatan dalam Pengembangan Usaha

Jenis Hambatan

Penjelasan

Ketidakmampuan
memperoleh Bahan Baku dan
berbagai jenis komponen
lainnya

Perkembangan sebuah usaha baru menuntut ketersediaan


pemasok baru. Tak pelak
pemasok lama perlu
meningkatkan volume outputnya, atau perlu memodifikasi
bahan baku sehingga sesuai dengan
kebutuhan
perusahaan pendatang baru. Jika hal itu diabaikan maka
akan muncul peluang terjadinya kelangkaan bahan
baku/komponen lainnya.
Permintaan yang meningkat karena munculnya
perusahaan baru sementara supply tidak mencukupi, akan
mengakibatkan harga bahan baku mengalami kenaikan
pada awal munculnya perusahaan baru. Kenaikan harga
terjadi mengikuti socia supply dan demand atau karena
pemasok paham bahwa bahan baku sangat dibutuhkan
oleh perusahaan baru.
Usaha baru sering kali menghadapi kesulitan yang muncul
karena infrastruktur belum tersedia, misalnya belum
tersedia jalur distribusi, penyedia jasa-jasa perawatan,
ketersediaan kar 'awan 'an~ teram pi I, dan lain-lain.
Pertumbuhan usaha baru bisa terhambat apabila
konsumen menganggap bahwa produk/jasa yang
dihasilkan akan segera ketinggalan jaman (obsolete) jika
muncul teknologi yang lebih baru. Konsumen akan
menunggu munculnya teknologi yang lebih baru dan
ter'adinva :>enurunan har a.

Harga bahan baku naik


secara cepat

lnfrastruktur belum tersedia

Produk/jasa yang dihasilkan


cepat ketinggalan jaman
(obsolete)

Bandingkan gambaran yang disajikan mengenai unsur-unsur persaingan dengan lnstrumen ABCDE yang
telah dijelaskan pada bab sebelumnya.

7.14

KEWIRAUSAHAAN

Jenis Hambatan
Mutu produk/jasa tidak
konsisten

Image perusahaan belum


cukup baik

Penjelasan
Karena belum memiliki standar maupun teknologi yang
ajeg, mutu produk/jasa yang dihasilkan oleh perusahaan
baru sering tidak konsisten. Walaupun mutu yang buruk
hanya terjadi pada sebagian kecil perusahaan, tetapi hal ini
bisa men uran i kredibilitas mau :>un ima e usaha baru.
Konsumen sering kecewa terhadap usaha baru karena
belum mampu menghasilkan produk/jasa dengan mutu
yang konsisten, sehingga kredibilitas usaha baru sering
dianggap buruk oleh lembaga-lembaga keuangan. Karena
itu, usaha baru sering mengalami hambatan dalam
mendapatkan pinjaman ataupun pinjaman dengan bunga

Apa yang mendorong


(mendrive) pesaing?

Apa yang mendorong


(mendrive) pesaing?

Sasaran Masa
De pan

Strategi yang
digunakan saat ini

Pada semua tingkatan


manajemen dan
berbagai dimensi

bagaimana cara/usaha
yang dijalankan saat ini

CARA PESAING BEREAKSI


Apakah pesaing sudah merasa puas dengan
posisinya saat ini?
Seperti apa kira-kira tindakan atau perubahan
strategi yang akan dijalankan oleh pesaing?
Aspek apa yang merupakan titik lemah pesaing?
Apa yang akan dapat mendorong pesaing untuk
melakukan tindakan balasan yang paling kuat?

Pandangan
Pesaing

Kemampuan

pesa1ng

Gambar 7.4.
Unsur-unsur dalam Anal isis Persaingan

EKMA4370/MODUL 7

7.15

G. MEMILIH TAHAPAN
Selain berbagai proses analisis yang telah dijelaskan sebelumnya,
beberapa langkah berikut ini dianggap penting untuk dijalankan agar
diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai jenis industri yang
dij alankan.

1.

Definisikan Secara Jelas Bidang Usaha yang akan Dijalankan oleh


Usaha Baru

Penting untuk ditetapkan dengan sejelas-jelasnya bidang usaha yang


dijalankan atau yang akan dijalankan oleh sebuah usaha yang masih baru
sehingga perhatian pengusaha bisa terfokus pada bidang usaha yang sedang
dijalankan dan peluang untuk bisa tinggal-landas menjadi lebih besar.

2.

Mempelajari Persaingan yang Harus Dihadapi

Memahami jumlah pesaing yang harus dihadapi dalam usaha baru yang
dijalankan, ukuran atau kekuatannya, kebiasaannya, struktur ongkosnya akan
membantu munculnya pemahaman mengenai corak persaingan yang akan
dihadapi.
Perlu juga diamati perubahan tingkat persaingan dan juga perubahan
karakteristik para pesaing. Sebagai contoh, perlu dipelajari, apa yang akan
terjadi jika (a) peningkatan permintaan terjadi secara cepat, (b) pesaing utama
memiliki ukuran seimbang dengan perusahaan yang kita jalankan, (c)
sejumlah pesaing berhasil tumbuh menjadi perusahaan yang lebih besar dari
usaha yang kita jalankan, atau (d) diferensiasi produkljasa ternyata
berkembang dengan lambat.

3.

Mempelajari Kekuatan dan Sifat Pemasok

Perlu dipahami corak ketergantungan usaha baru terhadap pemasok.


Seperti apa sikap atau pelayanan pemasok terhadap usaha baru sosial
terhadap usaha yang sudah lama? Apakah pemasok bersedia melayani usaha
baru dengan cara yang berbeda dan tidak memberatkan? Atau usaha baru
harus rela menerima pelayanan yang sifatnya terbatas.

4.

Mempelajari Nilai-tambah Usaha Baru

Nilai tambah secara mendasar bisa diartikan sebagai selisih antara nilai
penjualan dengan harga bahan baku, dan menunjukkan besarnya nilai yang

7.16

KEWIRAUSAHAAN

ditambabkan oleb perusabaan terbadap produk atau jasa yang dibasilkan.


Penelaaban terbadap nilai tambab akan menentukan apakab akan terjadi
integrasi usaba ke arab bulu ataupun ke arab bilir. Integrasi usaba ke arab
bulu akan terjadi apabila pembeli temyata berusaba memiliki usaba penyedia
produk ataupun jasa. lntegrasi ke arab hilir terjadi apabila penyedia produk
atau jasa berusaha menjadi pembeli. Corak nilai tambab akan menentukan
arab integrasi yang akan terj adi.

5.

Perkiraan ukuran permintaan/pasar


Permintaan terbadap produk ataupun jasa cenderung bersifat dinamis
sehingga sangat mungkin untuk berubab setiap waktu. Karena itu, penting
untuk memabami sejarab perkembangan pasar untuk mengetabui potensi
pertumbubannya.
Kelima butir ini tidaklab selalu saling berkaitan, tetapi dapat menj adi
baban untuk melakukan analisis awal mengenai kondisi lingkungan dari
usaba yang kita jalankan. Analisis bersifat makro semacam ini diperlukan
untuk memabami kerangka di mana suatu usaba akan dimulai, tumbub, dan
memiliki potensi untuk berkembang. Selanjutnya, perbatian dipusatkan pada
analisis yang bersifat mikro, yaitu penelaaban terbadap lingkungan yang
lebib sempit.

LATIHAN

Untuk memperdalam pemabaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlab latihan berikut!
1)
2)
3)

Sebutkan elemen-elemen lingkungan luar (eksternal).


Sebutkan elemen-elemen lingkungan internal.
Sebutkan elemen-elemen lingkungan tugas.

Petunjuk Jawaban Latihan


1)
2)
3)

Baca kembali uraian tentang elemen-elemen lingkungan eksternal.


Lihat babasan tentang elemen lingkungan internal.
Coba simak kembali unsur-unsur lingkungan tugas.

7.17

e EKMA4370/MODUL 7

RANG KUMA N;.__ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pemantauan terhadap kondisi lingkungan merupakan kegiatan yang


ditujukan untuk memeriksa kondisi lingkungan luar maupun lingkungan
internal suatu kegiatan usaha.
Lingkungan luar terdiri dari berbagai sosial, baik yang bersifat
peluang maupun yang dapat menjadi ancaman bagi kegiatan usaha yang
terdapat di luar organisasi usaha tersebut, dan tidak dapat dikendalikan
oleh si pengusaha. Lingkungan luar ini terdiri dari dua bagian, yaitu
lingkungan tugas (task environment) dan lingkungan sosial (societal
environment). Lingkungan tugas mencakup elemen-elemen atau
kelompok-kelompok yang secara langsung bisa mempengaruhi ataupun
dipengaruhi kegiatan utama organisasi seperti pemegang saham,
pemerintah, supplier, komunitas lokal, kelompok-kelompok kepentingan
seperti LSM, pesaing, pelanggan, pemberi pinj aman, serikat pekerj a dan
asosiasi usaha. Lingkungan sosial mencakup berbagai kekuatan yang
bersifat umum dan tidak secara langsung berpengaruh terhadap kegiatan
jangka pendek perusahaan.
Lingkungan internal terdiri dari variabel-variabel yang bisa berupa
kekuatan maupun kelemahan, dan terdapat di dalam perusahaan, yang
biasanya relatif dapat dikendalikan perusahaan.

:=:-::"'

T E

F 0 R MAT I F

, _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1)

Elemen-elemen atau kelompok-kelompok yang secara langsung bisa


mempengaruhi ataupun dipengaruhi kegiatan utama organisasi disebut
lingkungan ....
A. tugas
B. sosial
C. industri
D. internal

2)

Pemerintah termasuk kategori elemen lingkungan ....


A. sosial
B. tugas
C. industri
D. intern

7.18

KEWIRAUSAHAAN

3)

Variabel-variabel yang bisa berupa kekuatan maupun kelemahan yang


terdapat di dalam perusahaan yang biasanya relatif dapat dikendalikan
perusahaan merupakan lingkungan ....
A. tugas
B. sosial
C. industri
D. internal

4)

Budaya perusahaan termasuk kategori elemen lingkungan ....


A. sosial
B. tugas
C. internal
D. industri

5)

Dalam konteks "lima kekuatan yang mempengaruhi persaingan",


diferensiasi merupakan salah satu contoh ....
A. hambatan keluar
B. hambatan masuk
C. substitusi
D. kekuatan pemasok

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 1OOo/o = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.

7.19

EKMA4370/ MODUL 7

KEGIATAN

BELAL.JAR

Ti nj au an Mi kro:
Anal isis Ter hadap Kom unit as
A. PENGANTAR

Analisis terhadap lingkungan mikro difokuskan terhadap lokasi ataupun


komunitas di mana sebuah usaha baru akan dijalankan. Penetapan lokasi di
mana usaha baru hendak dijalankan perlu didahului dengan memahami
kondisi lokasi ataupun komunitas, di mana us aha baru hendak dij alankan,
yaitu melalui analisis terhadap beberapa faktor berikut.

1.

Demografi
Memahami demografi lokasi dapat membantu pengusaha atau calon
pengusaha untuk menentukan komposisi ataupun karakteristik konsumen
yang terdapat di lokasi ataupun komunitasnya. Informasi yang dibutuhkan
antara lain mencakup jumlah penduduk, daya beli, tingkat pendidikan, jenis
pekerjaan, dsb.
Analisis terhadap berbagai jenis informasi ini akan digunakan untuk
menentukan ukuran usaha yang hendak dikembangkan, misalnya disesuaikan
dengan jumlah dan corak penduduk di lokasi ataupun komunitas tersebut,
maupun jumlah perusahaan-perusahaan lain yang sama-sama berusaha di
wilayah itu. Analisis semacam ini diperlukan untuk menetapkan potensi
penjualan dan pertumbuhannya, ketersediaan tenaga kerja, kebutuhan dan
ketertarikan konsumen terhadap produk atau jasa yang akan dihasilkan oleh
perusahaan.
Setiap variabel sesungguhnya saling berkaitan dan juga secara langsung
berkaitan dengan ukuran perusahaan. Sebagai contoh, munculnya perusahaan
baru dapat meningkatkan total jumlah penjualan (omset) dari keseluruhan
perusahaan sejenis di suatu lokasi. Andaikata sebuah perusahaan mebel baru
didirikan berdekatan dengan sebuah perusahaan sejenis yang sudah lama
berdiri maka akan terj adi peningkatan total ketersediaan mebel di lokasi itu.
Pembeli yang datang dari lokasi lain akan membandingkan harga di kedua
toko mebel dan akan tinggal untuk membeli mebel. Penduduk lokal akan
lebih besar kemungkinannya untuk membeli mebel dari lokasi sendiri dan

7.20

KEWIRAUSAHAAN

menjadi enggan membeli mebel dari lokasi lain. Fenomena ini terjadi karena
mebel adalah jenis barang yang biasa dibandingkan harga, desain, dan
mutunya oleh calon konsumen, dan kebanyakan calon konsumen biasanya
membandingkan paling sedikit dua toko mebel sebelum memutuskan untuk
membeli.
Karakteristik penting lain dari demografi suatu lokasi adalah tingkat atau
intensitas kegiatan yang bersifat entrepreneur (wirausaha) di lokasi itu, yang
biasanya dibaca dengan memeriksa persentase pengusaha bersifat
entrepreneur (wirausaha) di lokasi tersebut. Antara lain perlu diperoleh
berbagai j enis informasi berikut.
a. Jumlah atau persentase pengusaha yang bersifat entrepreneur
(wirausaha) di suatu lokasi.
b. Jenis usaha yang dijalankan oleh para pengusaha yang bersifat
entrepreneur (wirausaha) tersebut.
c. Corak hubungan para pengusaha dengan pemasok.
d. Corak hubungan para pengusaha dengan bank.
Pada lokasi yang memiliki lebih banyak kegiatan usaha bersifat
entrepreneur (wirausaha) akan lebih mudah menerima munculnya usaha
baru.

2.

Kegiatan Dasar Perekonomian


Besarnya peluang yang dapat dimanfaatkan oleh para entrepreneur (wira
usaha) di suatu lokasi bisa diukur melalui kegiatan dasar perekonomian yang
terdapat di lokasi tersebut. Perlu diketahui corak pekerj aan dari para
konsumen tersebut, distribusi dan tingkat pendapatannya, dan juga pola
bekerjanya. Perlu juga diperiksa apakah kondisi ketenagakerjaan di lokasi itu
bergantung atau dipengaruhi sebuah perusahaan berukuran besar, dan apakah
kegiatan perusahaan besar tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi musiman.

3.

Kecenderungan Perkembangan Populasi


Kecenderungan perkembangan populasi juga perlu dipelajari untuk
memperoleh kepastian bahwa populasi ataupun suatu komunitas cenderung
sedang berkembang, dan bukan berada dalam kondisi statis ataupun mundur.
Komunitas atau daerah yang sedang tumbuh biasanya merupakan tempat
yang subur bagi kegiatan usaha bersifat entrepreneur (wirausaha).

EKMA4370/MODUL 7

7.21

4.

Iklim Usaha
Kondisi iklim usaha di suatu lokasi sebenarnya tergambarkan oleh
kondisi dari berbagai faktor yang tersedia di lokasi tersebut, seperti kondisi
sistern transportasi di lokasi itu, kondisi sis tern perbankan, ketersediaan j as a
profesional seperti konsultan, kegiatan dasar perekonomian, kecenderungan
pertumbuhan yang terjadi di lokasi itu, dan keajegan pendapatan konsumen.
Kondisi iklim usaha penting untuk dipahami sebelum menetapkan lokasi
tempat sebuah usaha baru hendak didirikan.

B. IDENTIFIKASI ELEMEN-ELEMEN LINGKUNGAN USAHA


Perusahaan sebagai suatu organisasi yang merupakan bagian dari
lingkungannya akan memiliki ketergantungan terhadap lingkungan usahanya.
Berkaitan dengan pandangan ini muncul pemikiran bahwa jenis elemenelemen lingkungan yang berpengaruh terhadap suatu perusahaan dan juga
corak pengaruhnya akan berlainan, sesuai dengan perbedaan jenis perusahaan
maupun perbedaan kondisi lingkungannya. Karena itu, penting untuk
menemukan cara mengidentifikasi elemen-elemen lingkungan yang dapat
digunakan pada semua jenis perusahaan yang berada pada lingkungan yang
berbeda-beda
Salah satu cara untuk melakukan identifikasi ini diungkapkan dalam
sebuah penelitian mengenai karakteristik Organisasi Industri Kecil di
1
Indonesia ). Penelitian ini menggunakan uraian mengenai proses kegiatan
yang terjadi dalam operasi suatu perusahaan manufaktur untuk
mengidentifikasikan elemen-elemen lingkungan. Penelitian ini menunjukkan
bahwa ada suatu kegiatan dasar atau proses operasi yang terjadi secara
berulang-ulang pada suatu perusahaan, dimulai dari masuknya bahan baku ke
dalam perusahaan, transformasi bahan baku tersebut menjadi produk jadi,
dan akhirnya pemasaran produk jadi kepada konsumen, seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 7.5 berikut ini.

S.B. Hari Lubis; Caracteristiques des Dirigeants, Degre de Croissance et Types


d'Organisation Dans Les Petites Entreprises en Indonesia. Etude de 61 Firmes
lndustrielles de Textile, Disertasi Doktor, IAE Grenoble-Perancis, 1984, hal. 115-118.

7.22

KEWIRAUSAHAAN

Pasar:
Supplier
Peralatan

Ungkungan
Teknologi

/ilia< Farrirta:n

PERUSAHAAN
MANUFAKTUR

Sirgn'~

I
I

Peralatan

I
I

Teknologi
I
I

r--~

..
I
I
I
I
I
I
I
I
I

I
I

BAHAN
BAKU

I
I

B:tm B:kJ --+ Fhrl..kJrl

,-----J

---,

r---------------------------

TRANSFORMASI

I
I
I
I

L----,

PROD UK
JADI

PEMASARAN
Fhxi.kJrl

KEGIATAN DASAR PERUSAHAAN MANUFAKTUR

Energi

Tenaga Kerja

..

<IIIII-

Dana/Modal

-..,..

Supplier Bahan
Baku

Supplier
Energi

Supplier/ Pasar
Tenaga Kerja

Lingkungan
Keuangan

Pemerintah

I
I

Masyarakat

LINGKUNGAN USAHA

Gambar 7.5.
ldentifikasi Bemen-elemen Lingkungan Usaha melalui
Proses Q:>erasi suat u Perusahaan fv1anuf akt ur

Bahan baku yang digunakan, diperoleh dari supplier bahan baku, yang
merupakan salah satu elemen lingkungan. Proses transformasi memerlukan
adanya peralatan, energi, teknologi, serta tenaga kerja. Peralatan dan energi,
masing-masing diperoleh dari leveransir. Teknologi yang digunakan akan
sangat dipengaruhi oleh cara permintaan pasar, yang juga merupakan salah
satu elemen lingkungan. Pemasaran produk jadi dipengaruhi oleh kondisi
pasar, di mana terdapat saingan maupun konsumen, yang keseluruhannya
merupakan bagian dari lingkungan ekonomi. Keseluruhan proses ini
memerlukan adanya modal, yang cara mendapatkannya tergantung pada
kondisi lingkungan keuangan. Selain itu, organisasi juga beroperasi dalam
kawasan suatu negara, sehingga pemerintah juga merupakan salah satu dari
elemen-elemen lingkungan. Dengan cara yang telah diuraikan ini diharapkan
seluruh elemen lingkungan yang berpengaruh terhadap suatu perusahaan
dapat diidentifikasikan secara lengkap.
Karena itu jumlah dan jenis elemen-elemen lingkungan dari setiap
perusahaan juga akan berbeda, tergantung jenis usaha dan juga dalam
lingkungan seperti apa perusahaan itu berada. Pada Gambar berikut ini

7.23

e EKMA4370/ MODUL 7

diperlihatkan contoh penggunaan cara tersebut untuk mengidentifikasikan


elemen-elemen lingkungan dari sebuah penjahit pakaian.

LINGKUNGAN
US AHA

Barm-ee1 a 1urgu-g:n l..lxtla

SJRJER /JUSJ-A.N
M:NA-IT : ~

SJRJER
l'vfiA
&I AKA.

SJRJER
USIRK

~D.L

SJRJER
/JUSJ-A.N
lWS

SJRJER
M\R.A-1
M:IE

SJRJER
CB\T
R.lTMRf

SJRJER
&IRI<A

----- - ------ ---- ---- ---- ---- ---- -.


Jrun
~acn

M:ie-

Ugrik

--

fvtja

Siri~

Rrtu

fv1:x:E

-al

Siri~

Grtirg

Act

~---

Chi
Rit-

M:ta

816:

tuis

9e1
~ffi

BJ<u
atctal

v v

vvv v vvv

PENGUKURAN
BAD AN

BAHAN
BAKU/
KAIN

OBRAS

it v

it

PEMBUATAN
POLA
1\

1\

1\

M:ta

rvt:Sn

1\

fv1:ja

Bnrg

~n

Jrun

...

.....

'

ll

TfflYl

...

...
~

SJRJER
l'vfiA
lUJS

~---

!-

1-----

R=rrEsa1
(irdvrll)
I

[\

...
~

PENJAHIT
PAKAIAN

!---.

SJRJER /JUSJ-A.N
M:NA-IT : GNlll\0

BAJU

Ferexra1 I~ A'an:S

-------- --- --

SJRJER
JaKRS

00 IN:l\.1DJ

Jf!A

~IN:l\.1DJ

IKIN

~D.L

00
~

..

"'

~~

Ora'

.....

~ia

- ---- -----

OUTPUT

R:ruxtm1
Grrra1

Rrtu

~N

..

Pa:s:ris:
ritsLitirg, d l

Jrun

Tuis

SJRJER

DISETRIKA

\I

uiU<

itVVV

1\

/YY

Jilt

MEMBUANG
BENANG/
JAHITAN
YANG TIDAK
PERLU

PEMASANGAN ASESORIS

MENJAHIT KAIN
YANG
SUDAH DIPOTONG

L_

vv
~

1\

PEMOTONGAN KAIN
SESUAIPOLA

1\

JHTJl\1

A'ca;s
Trcrd~

T.ta..f\O!N
ffi\OR

r- -

ANJlfvJN
BIN<

BIN<

__ ..I B:ics R:rL.Eam1

Gambar 7.6.
ldentifikasi Bemen-elemen Lingkungan bagi Penj ahit Pakaian

7.24

KEWIRAUSAHAAN

C. PENGAMATAN TERHADAP PERSYARATAN YANG PERLU


DIMILIKI PENGUSAHA DI LAPANGAN
Memiliki kemampuan untuk mengidentifikasikan elemen-elemen
lingkungan usaha, tampaknya merupakan salah satu persyaratan, agar
pengusaha baru bisa membuat perusahaannya mampu bertahan ataupun
menjadi berkembang. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa paling
sedikit perlu dimiliki beberapa kemampuan berikut agar pengusaha atau
pengusaha baru bisa membuat perusahaannya mampu bertahan ataupun
menjadi berkembang.

1.

Memahami Mekanisme Keberhasilan Perusahaan


Banyak pengusaha yang tidak sepenuhnya memahami mekanisme yang
perlu dilalui agar perusahaan yang dikelolanya mampu mencapai
keberhasilan. Pemahaman mengenai mekanisme keberhasilan ini akan
membuat pengusaha menjadi mampu untuk mengerti mengapa
perusahaannya mampu mencapai keberhasilan dan juga mengenali bagianbagian penting yang sebenarnya membuat perusahaannya mencapai
keberhasilan. Pemahaman ini dibutuhkan agar pengusaha dapat
mengantisipasi perubahan lingkungan sehingga tidak membahayakan
kelangsungan hidup perusahaannya.
Sebagai contoh, pedagang kecil gerabah dan tape singkong di daerah
Purwakarta, yang semula biasa dilalui orang yang bepergian menggunakan
kendaraan bermotor antara Jakarta dengan Bandung atau sebaliknya,
banyak yang tidak mengantisipasi pembukaan jalan tol Cipularang antara
kedua kota tersebut. Setelah j alan tol Cipularang diresmikan dan mulai
digunakan, orang yang bepergian antara Jakarta dengan Bandung tidak lagi
melalui kota Purwakarta, sehingga para pedagang tersebut kehilangan
pembeli. Pemahaman terhadap mekanisme keberhasilan seharusnya bisa
menunjukkan bahwa keberhasilan usaha mereka selama ini disebabkan
banyaknya pembeli yang melewati kota Purwakarta, dan bukan karena
gerabah ataupun tape singkong yang mereka perdagangkan memiliki daya
tarik yang luar biasa. Karena itu, tidak mengherankan apabila usaha mereka
segera mundur setelah para calon pembeli memilih untuk menggunakan jalan
tol Cipularang, dan tidak melewati Purwakarta. Contoh lain, terj adi pada para
pengusaha industri mebel rotan di daerah Cirebon. Semula, industri mebel
rotan Cirebon berhasil berkembang karena mendapat banyak pesanan dari

EKMA4370/MODUL 7

7.25

luar negeri karena Indonesia melarang ekspor bahan baku rotan ke luar
negeri. Setelah ekspor bahan baku rotan tidak lagi dilarang, industri rotan
Cirebon segera menjadi lesu. Kondisi ini sesungguhnya menunjukkan bahwa
selama ini, keunggulan tercapai bukan karena kemampuan menghasilkan
produk yang bermutu ataupun desain yang menarik. Pemahaman mengenai
mekanisme keberhasilan bisa menunjukkan bahwa pada saat mengalami
keberhasilan karena pembatasan ekspor bahan baku rotan, seyogianya dicoba
untuk mengembangkan berbagai aspek keunggulan yang lain sehingga
perubahan aturan ekspor tidak menggoyahkan posisi industri rotan Cirebon.

2.

Memahami Sifat Produk atau Jasa yang Diusahakan


Pada bah sebelumnya telah dijelaskan Instrumen ABCDE yang
dimaksudkan untuk memahami sifat atau karakteristik suatu jenis produk
ataupun jasa. Pemahaman terhadap sifat produk atau jasa yang diusahakan
akan memberikan peluang kepada pengusaha untuk menonjolkan aspek
tertentu dari produk atau jasa yang bisa dimanfaatkan dalam persaingan
ataupun untuk mempertahankan perusahaannya.
Sebagai contoh, penggunaan instrumen tersebut akan menunjukkan
bahwa perusahaan pertenunan ukuran kecillebih sesuai untuk membuat jenis
tekstil tradisional agar terhindar dari keharusan bersaing melawan pertenunan
skala besar yang lebih efisien.
Pemahaman terhadap sifat produk atau jasa yang diusahakan juga akan
membantu pengusaha agar mampu memilih lokasi yang tepat untuk
menjalankan usahanya. Sebagai contoh, produk yang menuntut ongkos
angkut bahan baku yang relatif tinggi sebaiknya dibuat di lokasi yang
berdekatan dengan sumber bahan baku, seperti pabrik bata, genting, dsb.

3.

Mampu Membaca Perubahan Kecenderungan Lingkungan Usaha


Kemampuan membaca perubahan kecenderungan lingkungan usaha akan
membantu para pengusaha untuk mengantisipasi perubahan-perubahan yang
bersifat merugikan ataupun memanfaatkan perubahan-perubahan yang
bersifat menguntungkan. Sebagai contoh, pandai besi yang biasanya
memproduksi alat-alat pertanian sebaiknya bersiap menghadapi
berkurangnya permintaan karena semakin banyak laban pertanian yang
berubah fungsi. Semakin banyak pasangan suami istri yang bekerja
menunjukkan bahwa permintaan akan berbagai jenis jasa pelayanan untuk
menggantikan kegiatan ibu rumah tangga akan menjadi semakin besar.

7.26

KEWIRAUSAHAAN

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)

Apa yang harus dilakukan oleh pengusaha sebelum menetapkan lokasi


di mana usaha baru hendak dijalankan?
Informasi apa saja yang termasuk variabel demografi?
Kondisi iklim us aha di suatu lokasi dapat dilihat pada kondisi dari
berbagai faktor yang tersedia di lokasi tersebut. Sebutkan!

Petunjuk Jawaban Latihan


1)
2)
3)

Baca kembali analisis terhadap komunitas.


Telaah kembali uraian tentang faktor demografi.
Simak uraian tentang iklim us aha.

RANGKUMAN- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Memahami demografi lokasi dapat membantu pengusaha atau calon


pengusaha untuk menentukan komposisi ataupun karakteristik konsumen
yang terdapat di lokasi ataupun komunitasnya. Informasi yang
dibutuhkan antara lain mencakup jumlah penduduk, daya beli, tingkat
pendidikan, jenis pekerjaan, dan sebagainya.
Besarnya peluang yang dapat dimanfaatkan oleh para entrepreneur
(wira usaha) di suatu lokasi bisa diukur melalui kegiatan dasar
perekonomian yang terdapat di lokasi tersebut.
Kecenderungan perkembangan populasi juga perlu dipelajari untuk
memperoleh kepastian bahwa populasi ataupun suatu komunitas
cenderung sedang berkembang, dan bukan berada dalam kondisi statis
ataupun mundur.
Kondisi iklim usaha penting untuk dipahami sebelum menetapkan
lokasi tempat sebuah usaha baru hendak didirikan.

7.27

e EKMA4370/MODUL 7

TES

FORMATIF 2

--------------------------------

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1)

lnformasi yang dibutuhkan dalam analisis faktor demografi dalam


menentukan lokasi us aha antara lain mencakup ....
A. budaya masyarakat setempat
B. iklim
C. daya beli
D. kebiasaan

2)

Kondisi iklim usaha di suatu lokasi dapat tergambarkan oleh kondisi


dari beberapa faktor berikut, antara lain ....
A. kondisi sistem perbankan
B. tingkat pendidikan
C. tingkat penghasilan
D. j enis pekerj aan

3)

Omset pedagang kecil gerabah dan tape singkong di daerah Purwakarta


kini sepi, karena berkurangnya jumlah pengendara yang melewati daerah
tersebut karena adanya jalan tol Cipularang. Berdasarkan kejadian
tersebut maka pengusaha harus memahami masalah ....
A. sifat produk atau jasa yang diusahakan
B. mekanisme keberhasilan perusahaan
C. kemampuan membaca perubahan kecenderungan lingkungan usaha
D. karakteristik pengusaha kecil

4)

Perusahaan pertenunan ukuran kecil lebih sesuai untuk membuat jenis


tekstil tradisional, agar terhindar dari keharusan bersaing melawan
pertenunan skala besar yang lebih efisien. Dalam hal ini pengusaha
tersebut sudah mernahami aspek penting yang harus dimiliki pengusaha
kecil, yaitu kemampuan memahami ....
A. sifat produk atau jasa yang diusahakan
B. mekanisme keberhasilan perusahaan
C. kemampuan membaca perubahan kecenderungan lingkungan usaha
D. teori manajemen

5)

Kemampuan membaca perubahan lingkungan usaha dapat akan sangat


membantu para pengus aha untuk ....
A. mengantisipasi perubahan-perubahan yang bersifat merugikan
ataupun menguntungkan perusahaan

7.28

KEWIRAUSAHAAN

B. menghitung rugi atau lab a


C. memperluas pangsa pasar
D. meningkatkan omset
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.

7.29

EKMA4370/ MODUL 7

Kunci Jawaban Tes Format if


Tes Formatif 1
1) A
2) B
3) D
4) c
5) B

Tes Formatif2
1)
2)
3)
4)
5)

c
A
B
A
A

7.30

KEWIRAUSAHAAN

Daft ar Pust aka


Boyd and Gumpert. (1985). Coping with Entrepreneurial Stress. Harvard
Business Review, Nov, Dec.
Bruce G. Whiting. (1988). Creativity and Entrepreneurship: How Do They
Relate? Journal of Creative Behavior 22, No.3.
Donald M. Dible. (1980). Small Business Success Secrets. The Entrepreneur
Press.
Doris Shallcross, Anthony M. Gawienowski. (1989). ''Top Experts Address
Issues on Creativity Gap in Higher Education. Journal of Creative
Behavior 23, No.2.
Douglas W. Naffziger, Jeffrey S. Hornsby, and Donald F. Kuratko. (1994).
"A Proposed Research Model of Entrepreneurial Motivation",
Entrepreneurship Theory and Practice. Spring.
Edward de Bono. (1970). Lateral Thinking, Creativity Step by Step. New
York: Harper & Row.
Eugene Staley, Richard Morse. (1965). Modern Small Industry for
Developing Countries. McGraw-Hill.
John J. Kao. (1991). The Entrepreneur. Englewood Cliffs, New Jersey:
Prentice-Hall.
Manfred F.R. Kets de Vries. (1985). The Dark Side of Entrepreneurship.
Harvard Business Review, Nov, Dec.
Michael Kirton. (1976). Adaptors and Innovators: A Description and
Measure. Journal of Applied Psychology, Oct.
Peter F. Drucker. (1985). Innovation and Entrepreneurship. New York,
Harper & Row.

EKMA4370/MODUL 7

7.31

Peter R. Dickson. (1994). Marketing Management. (Fort Worth, TX), The


Dryden Press.
Peter R. Dickson. (2000). Marketing Research and Information Systems,
Marketing Best Practices. Ft. Worth, TX : Harcourt College Publishers.
Program Orientasi Industri Kecil dan Menengah di Perguruan Tinggi. (2007).
Paket 1 Pelatihan IKM untuk Wisudawan Perguruan Tinggi. Bandung:
Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen
Perindustrian Republik Indonesia dan SBHL Consulting.
S.B. Hari Lubis. (1984). Caracteristiques des Dirigeants, Degre de
Croissance et Types d'Organization Dans Les Petites Entreprises en
Indonesia. Etude de 61 Firmes Industrielles de Textile. Disertasi Doktor,
IAE Grenoble-Prancis.
Stephen W McDaniel and A. Parasuraman. (1986). "Practical Guidelines for
Small Business Marketing Research". Journal of Small Business
Management, Jan.
Thomas Monroy and Robert Folger. (1993). "A Typology of Entrepreneurial
Styles : Beyond Economic Rationality. Journal of Positive Entreprise IX,
No.2.
Timothy A. Matherly and Ronald E. Goldsmith. (1985). The Two Faces of
Creativity. Business Horizons, Sept/Oct.

MDDUL 8

Ri set Pemasaran unt uk Usaha Baru


Dr. Ir . S B. Har i Lu b i s
PENDAHULUAN

engembangan dan pelaksanaan Riset Pemasaran memberikan peluang


untuk mempelajari perubahan pasar lebih cepat daripada para pesaing
sehingga bisa memberikan keunggulan kompetitif dan keunggulan dalam

persa1ngan.

Peter R.Dickson
Marketing Management
Pasar terdiri dari sekelompok konsumen ataupun calon konsumen yang
potensial, yang kebutuhannya belum terpenuhi, dan memiliki daya beli.
U saha baru hanya bisa bertahan hidup apabila memang tersedia pasar bagi
produk atau jasa yang dihasilkannya. Karena itu, para entrepreneur perlu
mempersiapkan diri, yaitu dengan melakukan analisis terhadap pasar, agar
dapat memilih sasaran pemasaran yang tepat. Akan tetapi, kenyataan
menunjukkan bahwa banyak entrepreneur hanya memiliki pemahaman yang
relatif terbatas mengenai pasar. Bahkan, cukup banyak entrepreneur yang
memulai usahanya tanpa mencoba sedikit pun mengidentifikasi pasar. Ini
sangat berbeda apabila dibandingkan terhadap praktek yang biasanya
dijalankan oleh para pengusaha besar seperti ditunjukkan pada Tabel 8.1 di
halaman berikut.
Berbagai jenis metode dan strategi dapat digunakan oleh para pengusaha
untuk menganalisis pasar sehingga mampu memahami pasar secara
mendalam, dan bisa menerjemahkannya menjadi rencana kegiatan usaha
(business plan) yang tersusun dengan baik. Analisis pasar yang dilakukan
dengan baik juga bisa membantu sebuah usaha baru untuk memosisikan diri
secara tepat dalam pasar ataupun untuk melakukan berbagai penyesuaian
yang diperlukan agar dapat meningkatkan penjualan. Riset Pemasaran

8.2

KEWIRAUSAHAAN

(marketing research) merupakan kunci untuk melakukan berbagai perbaikan

lill.

Modul ini membahas bagaimana cara melakukan riset pemasaran,


diharapkan sesudah mempelajari modul ini mahasiswa mampu:
1. menetapkan maksud dan sasaran riset pemasaran;
2. mengumpulkan data sekunder;
3. mengumpulkan data primer;
4. berbagai teknik riset pemasaran.

8.3

EKMA4370/MODUL B

KEGIATAN

BELAL.JAR

Riset Pemasaran (Marketing Research)


iset pemasaran mencakup pengumpulan informasi mengenai suatu
pasar tertentu dan dilanjutkan dengan analisis terhadap informasi yang
1
berhasil diperoleh . Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik
mengenai riset pemasaran bisa sangat membantu bagi para entrepreneur
untuk mengumpulkan, memproses, dan menafsirkan informasi mengenai
pasar.
Tabel 8. 1.
2
Berbagai Jenis Kemampuan yang Dimiliki Pengusaha Besar yang Berhasil

No.

1.

2.

3.
4.

5.
6.

7.

Kemampuan/Keterampilan Pemasaran
yang Dimiliki Pengusaha Besar yang Berhasil
Memiliki cara pandang yang unik terhadap Lingkungan Usaha, yang dimanfaatkan
untuk menemukan peluang dari berbagai hal yang tidak bisa dilihat, atau dianggap
memiliki pros pek, oleh oran lain.
Mengembangkan strategi pemasaran yang juga unik, dan merupakan hasil dari cara
pandang unik yang dimiliki. Mereka menganggap cara-cara lama sebagai suatu
kebiasaan 'an( oerlu diubah.
Berani menanggung risiko, berbeda dari kebanyakan orang. Karena kebanyakan
orang pada umumnya tidak memiliki cara pandang yang baik, maka cara pandang
para pen usaha besar 'an sukses ini serin kali dian ao keliru.
Terus-menerus memiliki rasa kuatir akan munculnya pihak lain yang mampu
mendahului dirin1a di oasar.
San at kom petitif.
Memikirkan implikasi setiap alternatif strategi, menyaring alternatif strategi
berdasarkan pemahaman mereka tentang berfungsinya pasar, sehingga mampu
menemukan dan menyelesaikan permasalahan yang tidak disadari keberadaannya
oleh oran lain.
Teliti, paham hingga detail permasalahan, dan terus-menerus mencoba menemukan
keunggulan dalam aspek kualitas maupun dalam efisiensi ongkos, sekecil apapun.

Stephen W McDaniel and A.Parasuraman. "Practical Guidelines for Small Business


Marketing Research", Journal of Small Business Management (Jan.1986) hal. 1-7,
dalam Kuratko, hal. 222.
2
Peter R.Dickson, Marketing Management (Fort Worth, TX), The Dryden Press,
1994, hal. 8

8.4

No.

8.
9.
10.
11.

KEWIRAUSAHAAN

Kemampuan/Keterampilan Pemasaran
yang Dimiliki Pengusaha Besar yang Berhasil
Menjadi ujung tambak perusahaan, menjalankan strategi dengan antusias dan
secara atakratis, men antral infarmasi secara ketat a:>abila mendele asikan.
Terus-menerus mendaran diri sendiri maupun bawahannva.
Siap menyesuaikan strategi secara cepat dan terus-menerus menyesuaikannya
sehingga bisa diimplementasikan, dan memiliki daya tahan yang lebih tinggi
dibandin aran lain.
Memiliki pandangan yang jelas mengenai sasaran, tahapan berikutnya yang dicaba
dicapai, memiliki kemampuan melihat ke depan lebih jauh dari rata-rata pandangan
manaer biasa.

A. MENETAPKAN MAKSUD DAN SASARAN RISET


Setelah ditetapkan jenis keputusan yang hendak diambil, langkah
pertama dalam melakukan riset pemasaran adalah mengidentifikasikan secara
jelas dan rinci kebutuhan informasi yang menyertai jenis keputusan yang
hendak diambil. Sering kali hal ini tidak dipikirkan dengan matang, sehingga
jenis informasi yang dikumpulkan ternyata kurang tepat, ataupun kurang
lengkap, sehingga menjadi kurang bermanfaat.
Selain itu, juga perlu dirumuskan tujuan khusus dari riset yang hendak
dilakukan, misalnya berikut ini.
1. Mengidentifikasikan dari mana konsumen potensial selama ini biasanya
membeli barang atau jasa yang sedang dipelajari.
2. Mengapa konsumen potensial memilih membeli dari sumber tersebut?
3. Sebesar apa kira-kira potensi pasar yang tersedia, dan seberapa besar
yang dapat direbut oleh perusahaan kita?
4. Bagaimana perbandingan kekuatan usaha yang hendak dijalankan
dibandingkan perusahaan-perusahaan pesaing?
5. Sejauh mana dampak promosi terhadap sikap atau minat konsumen?
6. Jenis produk atau jasa seperti apa yang sebenarnya diinginkan oleh
konsumen potensial?

B. PENGUMPULAN DATA SEKUNDER


Informasi yang telah terkumpul sebelumnya, dinamakan data sekunder.
Ongkos untuk melakukan pengumpulan data sekunder biasanya lebih rendah
daripada pengumpulan data primer, yaitu data baru yang langsung

EKMA4370/MODUL B

8.5

dikumpulkan dari sumber data (responden). Karena itu, para entrepreneur


disarankan untuk sebanyak mungkin memanfaatkan data sekunder dalam
melaksanakan riset pemasaran. Keputusan dalam kegiatan pemasaran sering
kali bisa ditetapkan hanya berdasarkan analisis terhadap data sekunder.
Data sekunder bisa mencakup berbagai informasi internal maupun yang
berkaitan dengan kondisi eksternal. Informasi internal yang termasuk data
sekunder merupakan informasi yang telah tersimpan di perusahaan, misalnya
catatan tentang kegiatan pemasaran ataupun kegiatan usaha yang telah
dij alankan dan basil yang berhasil diperoleh. lnformasi mengenai kondisi
eksternal yang termasuk data sekunder tersedia di luar perusahaan, seperti
berbagai jenis data yang tercantum dalam publikasi pemerintah, jurnal yang
diterbitkan asosiasi, dsb.
Sayangnya, pemanfaatan data sekunder sering kali disertai dengan
munculnya berbagai permasalahan. Data sekunder sering kali sudah
kadaluwarsa sehingga tidak layak untuk dimanfaatkan dalam pengambilan
keputusan. Data sekunder juga sering menggunakan dimensi atau unit
pengukuran yang sesuai dengan permasalahan yang akan dipelajari. Data
sekunder juga sering kali mengandung tingkat keabsahan (validitas) yang
terlalu rendah sehingga tidak memadai untuk digunakan.

C. PENGUMPULAN DATA PRIMER


Jika data sekunder yang tersedia ternyata tidak mencukupi ataupun tidak
memenuhi syarat untuk digunakan dalam pengambilan keputusan, maka
selanjutnya perlu dikumpulkan data primer. Pengumpulan data primer
biasanya dilakukan dengan menggunakan pengamatan ataupun melalui
bertanya. Pengumpulan data primer melalui pengamatan akan membuat
peneliti terhindar dari hubungan langsung dengan responden, sementara
pengumpulan data primer melalui bertanya akan melibatkan responden
dengan berbagai tingkat keterlibatan tertentu.
Pengamatan merupakan bentuk penelitian yang paling tua, dan bisa
digunakan secara ekonomis. Selain itu, metode pengamatan bisa menghindari
bias, yang mungkin terj adi apabila responden menyadari keterlibatannya,
seperti yang biasa terj adi apabila digunakan metode bertanya. Kelemahan
utama metode pengamatan adalah keterbatasannya, yakni hanya bisa
mengumpulkan data berbentuk deskripsi.

8.6

KEWIRAUSAHAAN

Survei dan eksperimen merupakan dua metode di mana terjadi kontak


antara peneliti dengan responden. Survei mencakup hubungan melalui surat,
telepon, dan wawancara individual. Bertanya melalui surat sering kali
digunakan apabila responden tersebar, tapi di pihak lain memiliki kelemahan,
yaitu rendahnya prosentase responden yang menjawab. Survei melalui
telepon dan wawancara menggunakan komunikasi lisan dengan responden.
Survei sejenis ini biasanya mampu memberikan prosentase responden
menjawab yang relatif tinggi. Wawancara terhadap individu lebih mahal
daripada survei yang dilakukan melalui surat ataupun melalui telepon. Pada
budaya tertentu sering kali responden enggan untuk diwawancarai secara
individual. Pada Tabel 8.2. di halaman berikut disajikan perbedaan dari
beberapa teknik riset yang paling sering digunakan.
Eksperimen merupakan bentuk penelitian yang dimaksudkan untuk
mempelajari proses sebab-akibat. Sasarannya adalah untuk memahami
pengaruh variabel eksperimen terhadap suatu variabel tergantung (dependen),
misalnya untuk meneliti pengaruh perubahan harga terhadap omset. Harga
merupakan variabel eksperimental yang dicoba dilihat pengaruhnya terhadap
variabel dependen. Mengukur hubungan antara dua variabel sebenarnya
relatif mudah, tetapi sering kali terganggu oleh pengaruh variabel-variabel
lainnya.

1.

Mengembangkan Instrumen Pengumpulan Data


Kuesioner merupakan instrumen dasar untuk mengarahkan peneliti
maupun responden dalam suatu survei. Kuesioner perlu dirancang secara
cermat sebelum digunakan. Beberapa hal berikut ini perlu dipertimbangkan
dalam penyusunan kuesioner.
a. Setiap pertanyaan dalam kuesioner hendaknya hanya mengandung satu
permasalahan, yang tujuannya selaras dengan tujuan penelitian yang
dilakukan.
b. Pertanyaan yang sederhana dan mudah dijawab sebaiknya ditempatkan
di awal, sedangkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab
ditempatkan di bagian akhir dari kuesioner.
c. Sebaiknya dihindarkan penggunaan pertanyaan-pertanyaan yang bias
dan mengarahkan.
d. Sebaiknya dihindarkan kemungkinan bahwa pertanyaan yang diajukan
bersifat bias dan mengarahkan jawaban responden ke arab.

e.

f.

g.

8.7

EKMA4370/MODUL B

Perlu dibayangkan kemungkinan pertanyaan yang diajukan diartikan


keliru tertentu oleh responden. Sebaiknya dilakukan perbaikan kata-kata
yang digunakan untuk memperbaiki penafsiran yang keliru.
Berikan penjelasan ringkas dan jelas pada kuesioner. Secara ringkas
jelaskan informasi yang diperlukan, dan responden perlu dituntun dan
tidak diharuskan menjawab pertanyaan yang tidak relevan.
Apabila memungkinkan, gunakan pertanyaan dengan ukuran yang jelas,
dan bukan hanya pertanyaan yang dij awab "ya" atau "tidak". Contohnya,
daripada mengajukan pertanyaan yang bunyinya "apakah menurut anda
pramuniaga di toko X ramah?" yang hanya dijawab "ya" atau "tidak",
lebih.
Tabel 8. 2.
3
Perbedaan Beberapa Teknik A set

Kriteria

Kerumitan
dan
Penggunaan

Banyaknya
informasi/
data yang
diperoleh

Riset melalui
Surat

Tidak banyak

Sedang

Riset melalui
Telepon
Sedang
sulit
digunakan
jika skala
panjang atau
rum it
Sedikit
biasanya
hanya
berlangsung
15 s/d 30
men it

Wawancara
di Rumah

San gat
fleksibel

Paling fleksibel

Paling banyak

Terbatas
dibatasi
waktu

Pengendalian
Sam pel

Sedikit

Bag us
Paling bagus
sampel
pengendalian
mungkin tidak
sampel paling
representatif
baik

Mutu Data

Sesuai untuk
pertan 'aan 'an

Pewawancara
bisa bertan va

Wawancara
di Mall

Seperti riset
melalui teleoon

Bisa
bermasalah
sampel
mungkin
tidak
re presentatif
Bisa
bermasalah

Peter R.Dickson, "Marketing Researcth and Information Systems", Marketing Best


Practices (Ft. Worth, TX: Harcourt College Publishers, 2000) hal.ll4, dalam Kuratko,
hal.224.

8.8

KEWIRAUSAHAAN

sensitif/memalukan
tanpa kehadiran
pewawancara
untuk konfirmasi jawaban

Tingkat
Pengembalian

Kecepatan

Ongkos

Penggunaan

Umumnya rendah
han 'a 10/o
Beberapa minggu
bisa bertambah
lama jika
disertai surat
susulan

Rendah

Eksekutif, industri,
kesehatan, bacaan

lebih dalam
untuk membuat
jawaban jadi
lebih jelas
bisa
mengarahkan pada
jawaban
yang lumrah
diterima
masvarakat

bisa
muncul
jawaban
bohong

sampel
mungkin
terpengaruh
suasana

Antara 60-80/o

Lebi h dari 80/o

Hingga 80/o

Riset skala
besar bisa
selesai dalam 3
-4 minggu

Lebih cepat
daripada Surat
tetapi lebi h
lam bat dari
Telepon

Riset skala
besar bisa
selesai dalam
beberapa hari

Lebih tinggi dari


Surat
tergantung
incidence
rate
(keberadaan
responden
pada saat
dihubungi)
dan panjang
daftar
:>ertanvaan

Bisa menjadi
mahal, tetapi
sang at
bervariasi

Lebih rendah
dari
Wawancara di
Rumah, lebih
tinggi dari
Telepon
tergantung
incidence
rate dan

panJang
daftar
:>ertanvaan

Efektif pada
riset yang
memerlukan
sampel nasional

Riset untuk
test produk,
atau riset lain
yang
membutuhkan
contoh visual
atau prototip
produk

Riset untuk test


resapan, test
nama, test
kemasan, test
copy

Baik diajukan pertanyaan dengan jawaban yang lebih terukur, rnisalnya


dengan rnenggunakan Skala Likert yang rnenggunakan lima tingkatan
jawaban dari skala 1 hingga 5 sebagai berikut.

8.9

EKMA4370/MODUL B

Skala
1
2
3
4

Tingkat Keramahan
San at tidak ramah
Tidak ramah
Bias a
Ramah
San at ramah

2.

Interpretasi Data dan Laporan


Setelah data yang diperlukan terkumpul, selanjutnya data tersebut perlu
diolah agar bisa menjadi bermanfaat. Data dalam jumlah yang besar sering
kali hanya berupa kumpulan fakta yang tidak berarti, dan perlu ditafsirkan
terlebih dahulu sebelum bisa memberikan kesimpulan.
Untuk mengelompokkan dan menyederhanakan data agar lebih mudah
dipahami digunakan tabel, diagram, atau metode-metode grafis lainnya.
Besaran-besaran statistik, seperti harga rata-rata (mean), median, mode,
simpangan baku, sering kali sangat bermanfaat pada tahapan ini.
3.

Pertanyaan yang Digunakan pada Riset Pasar


Apakah riset pasar perlu dij alankan sebelum perusahaan berdiri ataupun
saat perusahaan sudah berj alan, tergantung pada j enis us aha yang dij alankan.
Akan tetapi, secara umum terdapat pertanyaan-pertanyaan baku yang biasa
diajukan, berikut ini.
a.

Penjualan (Sales)
1) Apakah Anda memiliki pengetahuan yang lengkap tentang kinerja
pesaing dalam penjualan, baik menurut jenis produk maupun
menurut daerah?
2) Apakah Anda paham jenis produk yang menguntungkan bagi Anda,
dan bagaimana cara mengenali jenis produk yang berpotensi
memberikan keuntungan?
3) Apakah kekuatan perusahaan Anda dalam penjualan memang
dikonsentrasikan padajenis produk yang paling menguntungkan?

b.

Distribusi
1) Jika Anda bermaksud mengusahakan jenis produk baru, apakah
Anda paham secara lengkap tentang sikap distributor dan dealer
terhadap j enis produk baru tersebut?

8.10

KEWIRAUSAHAAN

2)
3)

Apakah tenaga pemasaran/penjual (sales) distributor Anda


menyatakan hal yang benar tentang produk yang Anda usahakan?
Apakah pola distribusi produk yang Anda hasilkan disesuaikan
dengan kondisi geografis pasar?

c.

Pasar
1) Apakah Anda memahami secara lengkap segala hal yang diperlukan
tentang perbedaan kebiasaan membeli maupun selera menurut
daerah ataupun menurut jenis produk?
2) Apakah Anda memiliki informasi yang memadai tentang merek
(brand), loyalitas konsumen, dan pembelian ulang padajenis produk
yang Anda usahakan?
3) Apakah Anda bisa memperkirakan pangsa pasar produk yang Anda
hasilkan untuk setiap periode?

d.

/klan
1) Apakah iklan perusahaan Anda mampu mencapai sasaran yang
benar?
2) Apakah iklan perusahaan Anda cukup efektif dibanding iklan yang
dipasang oleh perusahaan pesaing?
3) Apakah alokasi anggaran perusahaan Anda disesuaikan dengan
besarnya keuntungan yang diperoleh menurut jenis produk, menurut
daerah, atau menurut potensi pasar?

e.

Produk
1) Apakah perusahaan Anda memiliki metode kuantitatif yang dapat
dipercaya untuk mengukur penerimaan pasar terhadap produk yang
Anda dihasilkan, ataupun terhadap modifikasi produk tersebut?
2) Apakah perusahaan Anda memiliki metode yang meyakinkan untuk
memeriksa efek dari penggunaan kemasan baru ataupun perubahan
kemasan terhadap volume penjualan?
3) Apakah perusahaan Anda memiliki pemahaman yang lengkap
mengenai akibat atau pengaruh dari penurunan ataupun peningkatan
mutu produk terhadap penumbuhan pasar yang baru dan juga
menguntungkan untuk produk yang dihasilkan oleh perusahaan
Anda?

e EKMA4370/MODUL B

8.11

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)

Jelaskan berbagai jenis kemampuan yang dimiliki pengusaha besar yang


berhasil!
Jelaskan hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun
kuesioner!
J elaskan beberapa perbedaan teknik riset!

Petunjuk Jawaban Latihan


1)
2)
3)

Lihat kembali Tabel 8.1 di atas.


Pelajari masalah mengembangkan instrumen pengumpulan data.
Lihat kembali Tabel 8.2 di atas.

RANGKUMAN

Riset pemasaran mencakup pengumpulan informasi mengenai suatu


pasar tertentu dan dilanjutkan dengan analisis terhadap informasi yang
berhasil diperoleh. Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik
mengenai riset pemasaran bisa sangat membantu bagi para entrepreneur
untuk mengumpulkan, memproses, dan menafsirkan informasi mengenai
pasar.
Selain itu, juga perlu dirumuskan tujuan khusus dari riset yang
hendak dilakukan, misalnya berikut ini.
1. Mengidentifikasikan dari mana konsumen potensial selama ini
biasanya membeli barang atau jasa yang sedang dipelajari.
2. Mengapa konsumen potensial memilih membeli dari sumber
tersebut?
3. Sebesar apa kira-kira potensi pasar yang tersedia, dan seberapa besar
yang dapat disebut oleh perusahaan kita?
4. Bagaimana perbandingan kekuatan usaha yang hendak dijalankan
dibandingkan perusahaan-perusahaan pesaing?
5. Sejauh mana dampak promosi terhadap sikap atau minat konsumen?
6. Jenis produk atau jasa seperti apa yang sebenarnya diinginkan oleh
konsumen potensial?

8.12

KEWIRAUSAHAAN

Informasi yang telah terkumpul sebelumnya, dinamakan data


sekunder. Ongkos untuk melakukan pengumpulan data sekunder
biasanya lebih rendah daripada pengumpulan data primer, yaitu data
baru yang langsung dikumpulkan dari sumber data.(responden). Karena
itu, para entrepreneur disarankan untuk sebanyak mungkin
memanfaatkan data sekunder dalam melaksanakan riset pemasaran.
Keputusan dalam kegiatan pemasaran sering kali bisa ditetapkan hanya
berdasarkan analisis terhadap data sekunder.
Jika data sekunder yang tersedia ternyata tidak mencukupi ataupun
tidak memenuhi syarat untuk digunakan dalam pengambilan keputusan,
maka selanjutnya perlu dikumpulkan data primer. Pengumpulan data
primer biasanya dilakukan dengan menggunakan pengamatan ataupun
melalui bertanya. Pengumpulan data primer melalui pengamatan akan
membuat peneliti terhindar dari hubungan langsung dengan responden,
sementara pengumpulan data primer melalui bertanya akan melibatkan
responden dengan berbagai tingkat keterlibatan tertentu.

TES

FDRMATIF

1- - - - - - - - - - - - - - - -

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!


1) Langkah pertama dalam melakukan riset pemasaran adalah ....
A. mengidentifikasikan secara j elas dan rinci kebutuhan informasi yang
menyertai jenis keputusan yang hendak diambil
B. menyusun personil riset
C. menentukan biaya riset
D. menentukan metode riset
2)

Ada beberapa permasalahan dalam memanfaatkan data sekunder, antara


lain karena sering kali data sekunder tersebut ....
A. mahal
B. kadaluwarsa, sehingga tidak layak untuk dimanfaatkan dalam
pengambilan keputusan
C. tidak sahih
D. sulit dianalisis

3)

Para entrepreneur disarankan untuk sebanyak mungkin memanfaatkan


data sekunder dalam melaksanakan riset pemasaran karena ....
A. data sekunder lebih sahih
B. data sekunder lebih sesuai dengan kebutuhan pengus aha kecil
C. lebih murah
D. menentukan metode riset

8.13

EKMA4370/MODUL B

4)

Survei melalui surat sering kali digunakan apabila responden ....


A. mengelompok
B. jumlahnya sedikit
C. beragam
D. tersebar

5)

Dalam menyusun kuesioner, pertanyaan yang sederhana dan mudah


dij awab sebaiknya ditempatkan pada bagian ....
A. awal
B. tengah
C. akhir
D. tidak ada aturan baku

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79o/o = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.

8.14

KEWIRAUSAHAAN

KEGIATAN

BELAL.JAR

Hal-hal yang Menghambat Riset Pemasaran


alaupun fakta di lapangan menunjukkan bahwa riset pemasaran dapat
membawa manfaat bagi usaha baru ataupun usaha yang berukuran
kecil, akan tetapi kebanyakan entrepreneur enggan melaksanakannya.
Terdapat berbagai alasan mengapa keengganan memanfaatkan riset
pemasaran ini muncul, antara lain ongkos yang harus dikeluarkan dalam
pelaksanaannya, kerumitan dalam pelaksanaannya, dianggap tidak relevan
dengan kegiatan, dan juga anggapan bahwa tingkat kebutuhan akan
keputusan strategis seperti yang dihasilkan oleh riset pemasaran masih
rendah, seperti diuraikan berikut ini.
1.

Ongkos
Riset pemasaran bisa menuntut ongkos yang tinggi, sehingga banyak
entrepreneur yang menganggap bahwa kegiatan sejenis ini hanyalah layak
untuk dilaksanakan oleh perusahaan skala besar. Riset pemasaran tingkat
tinggi yang dilaksanakan dengan canggih memang menuntut biaya yang
besar, tetapi sebenarnya tersedia teknik-teknik Riset pemasaran sederhana
dengan biaya rendah sehingga masih dapat ditanggung oleh perusahaanperusahaan berukuran kecil.
2.

Kerumitan Pelaksanaan
Teknik riset pemasaran tertentu menggunakan tahapan sampling, survey,
dan diakhiri dengan analisa statistik. Kerumitan dalam pelaksanaan Riset
pemasaran, terutama yang berkaitan dengan kegiatan berhitung menggunakan
teknik-teknik statistik membuat entrepreneur enggan melaksanakannya dan
cenderung tidak berminat menggunakannya. Perlu disadari bahwa hal yang
sering perlu mendapat perhatian adalah interpretasi terhadap data yang
berhasil diperoleh. Para entrepreneur sebenarnya dapat meminta bantuan dari
pihak-pihak yang memiliki kompetensi untuk merancang dan mengevaluasi
basil yang diperoleh, seperti dari ahli riset pemasaran ataupun dari para
pengajar di perguruan tinggi.

EKMA4370/MODUL B

8.15

3.

Keputusan Strategis
Banyak entrepreneur beranggapan bahwa hanya keputusan-keputusan
strategis yang sangat menentukan yang perlu didukung oleh pelaksanaan riset
pemasaran. Anggapan ini terutama muncul berkaitan dengan permasalahan
tingginya ongkos, dan juga kerumitan pelaksanaan riset pemasaran yang telah
dibahas sebelumnya: hanya keputusan besar yang pantas didukung dengan
biaya yang tinggi, dan kerumitan yang memusingkan. Anggapan semacam ini
muncul karena kesalahan pengertian, mengenai ongkos maupun kerumitan.
Sebenarnya, banyak kegiatan entrepreneur dalam aspek pemasaran yang akan
menjadi ringan dan lebih tepat apabila didasarkan pada basil riset pemasaran,
yang dapat dipandang sebagai kompensasi tingginya ongkos maupun
kerumitan yang harus dihadapi.
4.

Relevansi
Banyak entrepreneur yang beranggapan bahwa informasi yang
dikumpulkan melalui riset pemasaran hanya menghasilkan informasi yang
sudah mereka ketahui, ataupun jenis informasi yang sebenamya tidak
diperlukan. Riset Pemasaran memang sering kali menghasilkan informasi
yang tidak relevan, akan tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa Riset
Pemasaran juga banyak menghasilkan informasi yang bermanfaat.
Selain itu, jika informasi yang diperoleh temyata mengonfirmasi hal-hal
yang sebenarnya sudah diketahui oleh para entrepreneur, maka kondisi ini
menunjukkan bahwa pemahaman tersebut telah teruji, sehingga para
entrepreneur bisa menjadi lebih yakin akan tindakannya.
Berbagai hambatan terhadap pelaksanaan Riset Pemasaran menunjukkan
bahwa hambatan terhadap penggunaannya, terjadi karena salah pengertian
ataupun karena keengganan untuk menanggung biaya pelaksanaan, padahal
sebelumnya telah ditunjukkan bahwa riset pemasaran tidak selalu mahal dan
bisa sangat bermanfaat.

A. PENGEMBANGAN KONSEP PEMASARAN


Pemasaran yang efektif dibangun melalui tiga elemen utama, yakni
falsafah, segmentasi pasar, dan perilaku konsumen. Sebuah perusahaan baru
perlu mengintegrasikan ketiga elemen tersebut dalam pengembangan konsep
pemasaran maupun dalam memutuskan pilihan pendekatan yang akan
digunakan untuk menaklukkan pasar. Pendekatan semacam ini akan

8. 16

KEWIRAUSAHAAN

membantu dalam merumuskan tahapan-tahapan yang akan dilalui dalam


memasarkan produk ataupun jasa yang dihasilkan.

1.

Falsafah Pemasaran
Tiga jenis falsafah pemasaran biasanya dianut oleh usaha yang relatif
baru, yaitu pemasaran yang dikendalikan oleh produksi (production driven),
pemasaran yang dikendalikan oleh penjualan (sales driven), dan pemasaran
yang dikendalikan oleh konsumen (consumer driven).
Falsafah pemasaran yang dikendalikan produksi didasarkan pada
anggapan bahwa jika perusahaan mampu melaksanakan kegiatan produksi
secara efisien, maka pemikiran mengenai pemasaran bisa ditetapkan
kemudian. Produksi mendapat perhatian utama dari perusahaan, sementara
perhatian terhadap pemasaran akan mengikuti kondisi yang terjadi pada
produksi. Falsafah pemasaran seperti ini biasanya dijalankan oleh usaha baru
yang menghasilkan keluaran berteknologi tinggi ataupun berteknologi
mutakhir.
Falsafah pemasaran yang dikendalikan penjualan berfokus pada
penjualan dan iklan, yang dimaksudkan untuk membujuk konsumen agar
membeli produk ataupun jasa yang dihasilkan perusahaan. Jika terdapat
persediaan produk atau jasa yang berlebihan, maka biasanya falsafah sejenis
ini yang digunakan, seperti yang biasanya dianut oleh dealer mobil baru.
Falsafah pemasaran yang dikendalikan konsumen biasanya didasarkan
pada studi yang berusaha menemukan preferensi, keinginan, dan kebutuhan
konsumen, sebelum produksi benar-benar dilaksanakan. Dengan demikian
produk atau j as a yang dihasilkan betul-betul disesuaikan dengan konsumen.
Dengan demikian, riset pemasaran memegang peran penting untuk lebih
memahami, di mana dan siapa yang merupakan pasar bagi perusahaan, dan
juga bagaimana strategi yang sesuai untuk memanfaatkan pasar tersebut. Dari
ketiga jenis falsafah pemasaran tersebut, pendekatan yang didasarkan pada
konsumen biasanya merupakan yang paling efektif.
Terdapat tiga jenis faktor utama yang mempengaruhi pilihan falsafah
pemasaran yang dianut oleh sebuah perusahaan:
a.

Tekanan Persaingan
Intensitas persaingan sering kali memaksa perusahaan untuk mengadopsi
falsafah baru. Contohnya, persaingan yang kuat akan membuat banyak
entrepreneur mencoba mengembangkan pemasaran yang berorientasi

EKMA4370/MODUL B

8.17

kepada konsumen dengan tujuan agar memiliki kelebihan dibanding para


pesaing. Sebaliknya, tingkat persaingan yang rendah cenderung
membuat entrepreneur tetap menganut falsafah pemasaran yang
didominasi produksi, karena meyakini bahwa apa yang dihasilkan akan
dapat dij ual

b.

Latar Belakang Pengusaha


Jenis keterampilan dan kemampuan para entrepreneur sangatlah
beragam. Sebagian entrepreneur memiliki latar belakang di bidang
Pemasaran, sedang yang lain j ustru dibesarkan pada aspek produksi.
Latar belakang yang dimiliki akan berpengaruh terhadap pilihan falsafah
pemasaran yang dianut.

c.

Pandangan Jangka Pendek


Sering kali, falsafah yang berorientasi pemasaran lebih diminati karena
pemikiran jangka pendek yang menganggap bahwa terjadinya
penumpukan produk merupakan hal yang buruk, sehingga muncul
dorongan untuk segera bisa menjual produk tersebut. Pendekatan seperti
ini memang bisa meningkatkan volume penjualan, sehingga banyak
entrepreneur cenderung tertarik untuk menggunakannya. Tetapi, sering
kali pendekatan semacam ini cenderung bersifat "banting harga" dan
mengabaikan preferensi konsumen, sehingga dalam jangka panjang
cenderung merugikan.

Salah satu dari ketiga falsafah pemasaran ini bisa mendorong usaha baru
untuk meraih keberhasilan. Tetapi, penting untuk diperhatikan, bahwa dalam
jangka panjang, falsafah pemasaran yang berorientasi konsumen biasanya
merupakan yang paling berhasil. Pendekatan ini berfokus pada kebutuhan,
preferensi, dan juga kepuasan konsumen, sehingga bisa sesuai bagi pengguna
produk ataupun jasa yang ditawarkan.

2.

Segmentasi Pasar

Segmentasi pasar merupakan proses untuk mengidentifikasikan satu set


sifat atau karakteristik yang dapat membedakan sekelompok konsumen dari
kelompok konsumen lainnya. Contohnya, banyak sekali orang gemar
memakan es krim dan pasar es krim dapat disegmentasikan dengan
membedakannya menurut rasa dan harga. Sebagian orang lebih menyukai es
krim mutu tinggi karena rasanya memang lebih enak, sebagian yang lain
tidak mampu membedakan ramuan es krim mutu tinggi dari es krim mutu

8.18

KEWIRAUSAHAAN

sedang, sehingga tidak bersikap (indiferent) terhadap rasa. Harga es krim


mutu tinggi tentu saja lebih mahal, sehingga ukuran pasarnya menjadi lebih
kecil dibanding pasar es krim mutu sedang. Proses segmentasi merupakan
tempat yang kritis bagi perusahaan baru dengan sumber-sumber yang
terbatas.
Untuk mengidentifikasikan suatu segmen pasar yang spesifik, perlu
dilakukan analisis terhadap sejumlah variabel. Dua variabel utama yang bisa
menjadi fokus perhatian adalah variabel demografi dan variabel benefit.
Variabel demografi mencakup usia, status perkawinan, jenis kelamin,
pekerj aan, penghasilan, dan berbagai informasi lainnya. V ariabel benefit
mencoba mengidentifikasikan atau menemukan jenis kebutuhan yang belum
terpenuhi di pasar, misalnya harga, kenyamanan, gaya, tren, dsb. tergantung
dari usaha apa yang hendak kita jalankan. Apakah yang hendak diusahakan
adalah produk ataupun jasa, sangat penting untuk memahami jenis kebutuhan
yang belum terpenuhi di segmen pasar yang menjadi sasaran sehingga bisa
menjadi dasar untuk menetapkan segmen pasar yang spesifik.

3.

Perilaku Konsumen (Consumer Behavior)


Corak perilaku konsumen dipengaruhi oleh profil atau karakteristik
konsumen, terutama yang berkaitan dengan karakteristik pribadi dan
karakteristik psikologisnya. Pada Tabel 8.3. berikut ini disajikan contoh
kategorisasi karakteristik pribadi dan karakteristik psikologis konsumen.
Melalui berbagai ciri ini pengusaha diharapkan akan dapat memiliki
gambaran mengenai jenis atau kelompok konsumen yang akan dijadikan
sasaran penjualan.
Langkah berikutnya adalah mengaitkan karakteristik konsumen
potensial, termasuk berbagai hal yang menjadi prioritas dalam kehidupan
mereka, terhadap kecenderungan pasar, seperti ditunjukkan pada Tabel 8.4.

8.19

EKMA4370/ MODUL B

Tabel 8. 3.
Karakteristik Konsumen

1Jj D~kW~~ I

1. 17QdaflltaD
..

"

~_.

'i

! .....

P.~btJ
,,

~~~
I al~fmnd
t ill

I~

ll

~i:lfl

II

lffllili~

iTingpt

T~rrnJn

!;I TA

'RufnB)JI

~~att

*11M

~ffd!J

-rr~n

T~~~~~ ~.
r~~

htrnlf~~

~ti' 'BJr

~.wu

Ht1AW

KQU8fp

"a~vaw.sr~

iWI

:SD

., ;PH ~~ooumm
!el't1'1Rl9

6'
~filli~ '

~1''. ~

..-

HlJ'rJ:taf\1

' :~6l~Ulmatmn

,paning
-

P.~ UUi~ifr~

l. l I

-~sn..n:rtattall

K~iT~i~~~

~~rw~~ r.

't~oanmn

"5.. P.

Ksch1

SakotaU

shl
4,.

'I

TJYl~Bit

fql~~ME
. ' ..
.. -

~~kG)~

~a~mtJ.

u~~"i

~~

,-,

v;~IF~r&tt::

~1

adik:~sn

.~lfiT~WJil~
1' BK8[~ far.

.~ - JII;:;~

rill~!!

I~ 1\~fd~

iflbu~.~m

\um
out1
~I<Ult

pariU11g

M'amrUn

n,

~IU 1~

~.1

0 tlnerrwi

\Vak,tb.

~:fin~J
'I

Gtf~"e!

nastrkinT1

11

-" ;\l~attr ' l\?1

masa

..

Pri8llr

lil t

'IU$.8 I .llill""

"J~()at'l

~ ~~p~-w-

,.1,:

~,~~~~~ ~~l

lfrlrJak .

nos.k~'

'~~IU: ~tkl~ll11
~s.1al '

K~"~-~~brir

ak!n

Ktbutua.an

OJ~~~t~
itUEIBb!km1

r r I

US~IiSI

'. IJ~d~~,.~,:n
nn:n~a

,dasar untok

akart ~asa

___, 1Klmc:ummlltarr
I

~maulll1n!t:U.

~'\ff~

~r

~-tau's
flii11.1~p
Sf1h~ii 1
~

'Efll ?dlmnJt I

- --

111.ml

~~~~t\t~~h~f I

~~~~l'~~
~n

'P.orlr_
ap_
~

:Clrr~t

~.l~.J~rr

- -1- - -i::liSt~~~
thwdu'ma11 T
mn
I

~~~!!.~~ ~ .
r~trrl\ijih d~rr

...~

r: n

tprodllJI~

~Ia~: r:J11f

,.

t~~11k rib~~"''

~k-f.\,1~9\1i1~.

, ~8UfEU1CE

~cl:1:~tnfea

~.1141.

*kal ~

Dd

,., Hit,~~,,~. ~;~~a~


1

~13 1111 J~s 1 f1Hn

8.20

KEWIRAUSAHAAN

Tabel 8. 4.
Perubahan Prioritas dan Pembelian dalam Kehidupan Keluarga
Usia
Belasan Tahun
s/d awal 20-an
20-an

20-an hingga
awal 30-an (baru
menikah)
30-50 tahun

50- 75 tahun

70-90 tahun

Prioritas

Barang yang Dibeli

Diri sendiri
Sosialisasi
Pendidikan
Diri sendiri
Pasangan
Karier
Bayi
Karier

Produk yang berkaitan dengan


penampilan, pakaian, mobil, rekreasi,
hobby, perjalanan

Makanan anak, pakaian, pendidikan,


' '
transportasi, perawatan Qlgl, karier,
konseling keluarga

Anak-anak
Karier
Krisis ten ah-ba va
Diri sendiri dan orang
lain
Relaksasi
Diri sendiri
Kesehatan
Kesepian

Furnitur, hiburan, menabung

Rumah, taman, produk perawatan bayi,


'
asurans1, perlengkapan yang bisa
dikerjakan sendiri

Furnitur, hiburan, perjalanan, hobby,


mobil mewah, investasi
Jasa pelayanan kesehatan, diet,
produk kenyamanan dan keamanan,
televisi, buku, telepon jarak jauh

Tabel ini menunjukkan hubungan karakteristik konsumen (yang


dinyatakan dengan usia) di Amerika pada tahun 1990-an, perubahan prioritas
yang terjadi dalam perkembangan usianya, yang selanjutnya berpengaruh
terhadap keputusan konsumen dalam membelanjakan uang yang dimiliki.
Faktor-faktor ini berkaitan dengan perilaku konsumen, yang ternyata
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, situasi lingkungan,
dan juga perubahan sosial. Dengan memanfaatkan kedua tabel (Tabel 8.3.
dan Tabel 8.4.) dapat dipelajari secara lebih teliti perilaku konsumen bagi
suatu j enis us aha.
Perlu dipahami seperti apa pandangan konsumen terhadap sejenis produk
atau jasa. Pengusaha perlu menyadari bahwa terdapat 5 (lima) kelas atau
kategori produk di antaranya berikut ini.

a.

b.

c.

d.

e.

8.21

EKMA4370/MODUL B

Convenience Goods
Produk makanan, produk yang dibeli dengan keputusan bersifat impulsif,
produk atau jasa yang dibeli secara darurat. Produk atau jasa sejenis ini
sebenarnya diinginkan oleh konsumen, tetapi konsumen tidak bersedia
meluangkan waktu untuk sengaja berbelanja membeli produk atau jasa
sejenis itu.
Shopping Goods
Produk atau jasa yang diperiksa secara cermat oleh konsumen, dan
membandingkan mutu maupun harganya dengan produk atau jasa yang
lain ataupun dengan penjual yang lain.
Specialty Goods
Produk atau jasa yang untuk mendapatkannya ataupun untuk
membelinya, konsumen bersedia mengeluarkan usaha khusus.
Unsought Goods
Produk atau jasa yang tidak sedang dibutuhkan sehingga tidak sengaja
dicari oleh konsumen, seperti asuransi jiwa, ensiklopedi. Produk atau
jasa sejenis ini biasanya diperkenalkan kepada konsumen melalui
penjelasan secara langsung ataupun dengan peragaan.
Produk Baru
Produk atau jasa yang belum dikenal konsumen karena belum
dipromosikan atau diiklankan, sehingga memerlukan waktu sebelum bisa
dipahami, seperti komputer di awal pemunculannya.

Pemahaman terhadap adanya pengelompokan jenis produk atau jasa


penting untuk menetapkan cara yang akan digunakan dalam melakukan
kegiatan penjualan ataupun untuk memilih jalur distribusi, seperti contoh
pilihan pengecer yang ditunjukkan pada Tabel 8.5. berikut ini.
Tabel 8. 5.
Jenis Produk at au Jasa dan Jenis Pengecer

Jenis Produk atau Jasa


Convenience Goods
Shop:)in Goods
Specialt vGoods
Unsou ht Goods
Produk Baru

Pengecer
Su :)ermarket
Mall
Toko Khusus
Door-to-door
Penjualan langsung
Penualan melalui surat

8.22

KEWIRAUSAHAAN

B. TAHAPAN PEMASARAN UNTUK PERUSAHAAN YANG


SEDANG TUMBUH
Perusahaan yang sedang tumbuh pada umumnya akan mengalami
perubahan cara pemasaran. Pada setiap tahapan dalam pertumbuhan
perusahaan, ternyata fungsi dari kegiatan pemasaran juga ternyata berubah
sehingga mendorong munculnya kebutuhan akan strategi pemasaran yang
4
berbeda .
Perusahaan yang tumbuh akan melewati empat tahapan pemasaran yang
sifatnya berlainan, yaitu (1) entrepreneurial marketing, (2) opportunistic
marketing, (3) responsive marketing, dan (4) diversified marketing. Pada
Tabel 8.6. diperlihatkan kaitan dari setiap tahapan tersebut dengan strategi
pemasaran, organisasi pemasaran, sasaran pemasaran, dan juga faktor yang
menj adi penentu keberhasilan.
Tabel 8. 6.
Evol usi Fungsi Pemasaran

Strategi
Pemasaran

Tahap 1:
Entrepreneurial
Marketin
Ceruk pasar
market niche

Organisasi
Pemasaran

Tidak formal
dan fleksibel

Manajemen
Pemasaran

Manajemen
Produk-Pasar

Sasaran
Pemasaran

Mendapat
kepercayaan
pasar

Meningkatkan
volume
Penjualan

Kepuasan
Konsumen

Bantuan dari
relasi!teman

Ekonomisasi
produksi

Koordinasi
fungsi-fungsi

Faktor Kritis
Penentu
Keberhasilan

Tahap 2:
Opportunistic
Marketin
Penetrasi
::>asar

Tahap 3:
Responsive
Marketin y
Pengembangan
Produk-Pasar

Tahap 4:
Diversified
Marketin y
Pengembangan
Jenis Usaha Baru
Manajemen
tingkat Korporat
dan Divisional
Product life-cycle
(daur hidup
produk) dan
Manajemen
Portofolio
Entrepreneurship
dan lnovasi

Perlu dicatat bahwa strategi yang digunakan pada setiap tahapan temyata
berkaitan erat dengan corak sasaran yang hendak dicapai pada tahapan
tersebut, sebagai berikut.
4

Kuratko, hal.234

EKMA4370/MODUL B

8.23

Tahap 1: Entrepreneurial Marketing


Menggunakan strategi berupa pengembangan atau usaha untuk
menemukan ceruk pasar dengan tujuan agar perusahaan
mendapatkan tempat yang relatif mudah untuk memasarkan basil
produksinya, dan sasaran yang hendak dicapai adalah mendapat
kepercayaan pasar.
Tahap 2: Opportunistic Marketing
Tahapan ini ditandai oleh strategi penetrasi pasar yang bertujuan
untuk meningkatkan volume Penjualan. Peningkatan volume
Penjualan sering kali menuntut perusahaan untuk menjual produk
atau j as a yang dihasilkan dengan harga yang lebih rendah dari
pesaing, sehingga keberhasilan ditentukan oleh kemampuan untuk
membuat kegiatan produksi menjadi lebih ekonomis.
Tahap 3: Responsive Marketing
Pada tahapan ini diusahakan untuk mengembangkan pasangan
Produk-Pasar dan mengusahakan agar konsumen puas terhadap
produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan. Keberhasilan kegiatan
ini sering kali harus bertumpu pada kesempurnaan koordinasi antar
fungsi-fungsi perusahaan.
Tahap 4: Diversified Marketing
Pada tahapan ini kegiatan difokuskan pada usaha untuk
mengembangkan jenis Usaha Baru, dan usaha untuk menyesuaikan
corak kegiatan terhadap daur hidup produk (product life-cycle).
Setiap tahapan dalam daur hidup produk ternyata menuntut corak
kegiatan perusahaan tertentu, sehingga perlu ditafsirkan secara tepat.
Karena itu, pada tahapan ini sering kali keberhasilan ditentukan oleh
entrepreneurship dan kemampuan perusahaan untuk mengembangkan inovasi yang tepat dan sesuai dengan tahapan daur hidup produk
yang sedang dilalui.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tahapan-tahapan pemasaran
ini berkembang sesuai dengan pertumbuhan usaha yang dijalankan.
Pertumbuhan perusahaan ternyata berpengaruh terhadap cara pemasaran yang
dij alankan.

8.24

KEWIRAUSAHAAN

C. PERENCANAAN PEMASARAN (MARKETING PLANNING)


Perencanaan Pemasaran merupakan proses penetapan cara yang jelas dan
komprehensif untuk menciptakan konsumen. Dalam pengembangan rencana
pemasaran beberapa kegiatan berikut ini perlu mendapat perhatian khusus.
1. Riset Pemasaran (Marketing Research)
Menetapkan siapa yang diinginkan menjadi konsumen perusahaan, apa
yang sebenarnya mereka inginkan, dan bagaimana kebiasaan konsumen
dalam melakukan pembelian.
2. Riset Penjualan (Sales Research)
Mempromosikan dan mendistribusikan produk sesuai dengan berbagai
temuan dari Riset Pemasaran.
3. Sistem Informasi Pemasaran (Marketing Information System)
Mengumpulkan, menyaring, menganalisis, menyimpan, dan menggunakan kembali dan menyebarkan informasi tentang pemasaran, yang
selanjutnya akan digunakan sebagai dasar perencanaan, dasar untuk
perencanaan keputusan, maupun dalam bertindak.
4. Peramalan Penjualan (Sales Forecasting)
Meramalkan besarnya penjualan, yang dilakukan dengan menggabungkan penilaian pribadi karyawan dan informasi yang dapat
dipercaya mengenai pasar.
5. Rencana Pemasaran (Marketing Plan)
Perumusan rencana untuk mencapai sasaran jangka panjang dalam
pemasaran serta penjualan.
6. Evaluasi
Mendeteksi adanya penyimpangan dari rencana.

1.

Riset Pemasaran (Marketing Research)


Riset Pemasaran bertujuan untuk mengidentifikasikan konsumen, yang
menjadi target pasar, agar perusahaan dapat memenuhi kebutuhan dari para
konsumen tersebut. Dalam melaksanakan riset pemasaran perlu
dipertimbangkan faktor-faktor berikut ini.
a.

Kekuatan dan kelemahan utama Perusahaan


Pemahaman mengenai kekuatan dan kelemahan utama perusahaan dapat
menjadi acuan untuk memahami dan menetapkan peluang yang bisa
memberikan keuntungan bagi perusahaan, potensi permasalahan, dan
juga sebagai acuan dalam pengambilan keputusan.

b.

c.

d.

e.

g.

EKMA4370/MODUL B

8.25

Profil Pasar
Pemahaman tentang profil pasar dapat membantu perusahaan untuk
mengidentifikasikan kebutuhan yang muncul di pasar yang dilayani,
tingkat keuntungan yang biasa diperoleh, pasar yang paling potensial dan
yang paling tidak sesuai (inappropriate), dan juga pasar yang di masa
depan akan ditinggalkan oleh konsumennya.
Konsumen yang Dilayani dan Konsumen Paling Baik
Memiliki kemampuan mengidentifikasikan konsumen yang sekarang
secara aktual dilayani, akan menunjukkan ke arah mana sebaiknya
sumber-sumber dialokasikan. Memiliki kemampuan mengenali
konsumen paling baik akan menunjukkan segmen pasar yang sebaiknya
diusahakan untuk dimasuki oleh perusahaan.
Konsumen Potensial
Mampu mengenali konsumen potensial, baik secara geografis maupun
menurut area yang dilayani, akan meningkatkan kemampuan perusahaan
untuk mengubah konsumen potensial menjadi konsumen yang aktif.
Kompetisi (Persaingan)
Kemampuan memahami para pesaing dan corak persaingan akan dapat
memberikan pemahaman kepada perusahaan mengenai perusahaan lain
yang akan masuk di ceruk pasar yang sama.
Faktor-faktor Luar
Analisis terhadap berbagai faktor luar akan memberikan gambaran
tentang perubahan kecenderungan demografis, situasi ekonomi,
teknologi, budaya masyarakat, dan juga kebijakan pemerintah. Berbagai
faktor tersebut perlu dikenali oleh perusahaan, dan dipahami
pengaruhnya terhadap corak kebutuhan konsumen dan juga pelayanan
yang diinginkan.
Perubahan Peraturan/Hukum
Riset Pemasaran juga mendorong manajemen perusahaan untuk lebih
paham dan lebih waspada terhadap perubahan yang berarti dalam
berbagai aturan pemerintah, seperti mengenai standardisasi dan
peraturan perpajakan.

Biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan Riset Pemasaran tidaklah


harus sangat tinggi. Berikut ini disajikan beberapa petunjuk untuk melakukan
riset pemasaran dengan biaya rendah, sehingga bisa bermanfaat bagi
entrepreneur yang tidak memiliki dana yang mencukupi untuk melakukan
riset yang canggih.

8.26

1)

2)

3)

4)

5)

2.

KEWIRAUSAHAAN

Penyelenggaraan sayembara atau kontes yang mengharuskan peserta


untuk menjawab beberapa pertanyaan sederhana tentang mutu produk
a tau j as a yang diusahakan oleh perusahaan.
Menyertakan kuesioner yang memuat pertanyaan mengenai mutu produk
atau jasa yang dihasilkan perusahaan pada brosur atau company profile
perusahaan. Juga dapat disertakan pertanyaan tentang produk lain yang
diusahakan oleh perusahaan, yang juga diinginkan untuk dikenal oleh
konsumen.
Keluhan konsumen yang merasa tidak puas sebaiknya dimanfaatkan
dalam melakukan wawancara terhadap konsumen secara mendalam,
yang dimaksudkan untuk menemukan berbagai permasalahan yang
sebelumnya kurang disadari.
Perlu dirumuskan daftar pertanyaan tentang mutu produk atau jasa yang
dihasilkan perusahaan, yang bisa ditanyakan oleh masyarakat yang
berminat melalui telepon. Seorang karyawan ditugaskan menghubungi
20 hingga 30 orang konsumen setiap bulan.
Kuesioner juga bisa dimasukkan dalam kemasan produk yang dihasilkan
perusahaan. Kuesioner tersebut dimaksudkan untuk menjajaki di mana
pembeli mengenal produk tersebut, dan alasan mengapa memilih produk
yang dihasilkan perusahaan, dll. Kelemahan cara semacam ini adalah
karena terlalu terfokus pada konsumen yang jelas telah membeli produk
yang dihasilkan perusahaan tetapi tidak mengumpulkan informasi
5
tentang potensi penjualan terhadap pihak yang tidak membeli .

Riset Penjualan (Sales Research)

Seorang pengusaha (entrepreneur) perlu terus-menerus meninjau metode


yang digunakan dalam melaksanakan penjualan maupun dalam kegiatan
distribusi, dan menghubungkannya dengan basil riset pemasaran yang telah
dilakukan. Menyesuaikan profil konsumen secara tepat dengan prioritas
penjualan merupakan tujuan utama dari riset penjualan. Riset Penjualan perlu
mampu menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.
a. Apakah tenaga penjualan memberikan prioritas yang tinggi dan waktu
yang memadai untuk melayani prospek yang paling baik?

Kuratko, hal. 238

b.
c.
d.

e.

f.

EKMA4370/MODUL B

8.27

Apakah tim penjualan (sales force) menghubungi para pengambil


keputusan?
Apakah area penjualan dibagi sesuai potensi penjualan dan kemampuan
tenaga penjualan?
Apakah kunjungan penjualan (sales call) dikoordinasikan dengan usahausaha lain yang berkaitan dengan kegiatan penjualan seperti publikasi,
promosi melalui surat, dan sebagainya?
Apakah tenaga penjualan mengajukan pertanyaan yang tepat pada saat
mengunjungi konsumen? Apakah laporan penjualan memuat informasi
yang lengkap dan tepat? Apakah tenaga penjualan memahami kebutuhan
konsumen potensial?
Bagaimana pengaruh pertumbuhan dan penurunan usaha atau prospek
usaha konsumen mempengaruhi penjualan perusahaan?

3.

Sistem Informasi Pemasaran (Marketing Information System)


Sistem Informasi Pemasaran mengumpulkan dan menyusun data tentang
ongkos, pendapatan dan keuntungan yang diperoleh dari konsumen.
Informasi ini bisa dimanfaatkan untuk memonitor strategi, keputusan yang
diambil, dan berbagai program marketing lainnya. Sistem Informasi sejenis
ini perlu memperhatikan ( 1) reliabilitas data, (2) kemungkinan pemanfaatan
dan kemudahan pemahaman data, (3) ketepatan waktu pelaporan,
(4) relevansi data, dan (5) ongkos dan biaya sistem informasi.
4.

Ramalan Penjualan (Sales Forecasting)


Ramalan penjualan merupakan perkiraan penjualan yang didasarkan
pada angka historis penjualan, dan penggunaan teknik-teknik statistik. Proses
ini memiliki keterbatasan karen a kebergantungann ya pada data historis mas a
lalu yang sering kali tidak mampu mencerminkan kondisi pasar saat ini.
Sebagai bagian dari perencanaan pemasaran yang komprehensif, ramalan
penjualan bisa sangat berharga.
5.

Rencana Pemasaran (Marketing Plans)


Rencana Pemasaran merupakan bagian dari strategi perusahaan secara
keseluruhan. Agar dapat dirumuskan rencana pemasaran yang efektif, maka
rencana tersebut perlu dibuat berdasarkan sasaran usaha yang spesifik.
Berikut ini disajikan contoh 5 langkah yang terstruktur untuk merumuskan
Rencana Pemasaran.

8.28

KEWIRAUSAHAAN

Langkah 1
Memperkirakan kekuatan dan kelemahan pasar dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin memberikan sumbangan
pada sisi kompetitif (competitive edge) perusahaan. Perlu
diperhatikan faktor-faktor seperti desain produk, reliabilitas, daya
tahan, perbandingan harga dengan mutu produk, kapasitas dan
batas-batas kapasitas produk, sumber yang dimiliki, dan kebutuhan
6
akan keahlian khusus .
Langkah 2
Mengembangkan sasaran pemasaran dengan gambaran yang jelas
tentang sasaran penjualan jangka pendek dan jangka menengah
untuk mencapai sasaran tersebut. Selanjutnya, dikembangkan
rencana penjualan yang spesifik untuk satu tahun. Sasaran tersebut
perlu dinyatakan dengan jelas, terukur, dan mungkin terjangkau oleh
perusahaan.
Langkah 3
Mengembangkan strategi produk atau jasa. Strategi produk atau jasa
diawali dengan mengidentifikasikan konsumen akhir, pedagang
besar dan pedagang eceran, dan memahami kebutuhan maupun
spesifikasinya. Desain produk, karakteristik, performasi produk,
ongkos dan harga jual produk, perlu disesuaikan terhadap corak
kebutuhannya.
Langkah 4
Mengembangkan strategi pemasaran. Strategi pemasaran dibutuhkan
agar perusahaan mampu mencapai target penjualan jangka pendek
dan jangka menengah ukuran tengah, dan juga memenuhi tujuan
jangka panjangnya. Strategi seyogianya mencakup pemasangan
iklan, kegiatan promosi, pameran, direct mail, dan tele marketing.
Strategi juga mungkin diperlukan untuk meningkatkan kekuatan
tenaga penjualan ataupun juga untuk melaksanakan pemasaran
produk baru. Selain itu juga perlu disiapkan alternatif berupa
rencana cadangan untuk mengantisipasi perubahan teknologi
ataupun inflasi.

Bandingkan dengan penggunaan Instrumen ABCDE di bab ...

EKMA4370/MODUL B

8.29

Langkah 5
Menetapkan struktur harga. Struktur harga akan menentukan jenis
konsumen yang akan menjadi target pemasaran, dan juga jenis serta
mutu produk ataupun jasa yang akan ditawarkan. Banyak
perusahaan yang percaya bahwa dalam persaingan pasar akan
mendikte struktur harga. Tetapi, banyak contoh di lapangan yang
memperlihatkan perusahaan justru berhasil dengan harga jual yang
mahal. Seperti apapun strategi yang dianut, hal penting yang perlu
diperhatikan adalah bahwa harga yang ditawarkan memang wajar.
Karena itu, penetapan harga produk atau j as a baru dilakukan setelah
strategi pemasaran dirumuskan.

6.

Evaluasi
Tahapan terakhir yang penting dalam perencanaan pemasaran adalah
evaluasi. Banyak variabel yang bisa mempengaruhi basil dari perencanaan
pemasaran, sehingga penting dilakukan evaluasi terhadap performasi
perusahaan. Penting sekali dilakukan analisis untuk memahami alasan yang
mendasari ketertarikan ataupun ketidaktertarikan konsumen terhadap produk
atau jasa yang dihasilkan perusahaan, dan juga preferensi dari konsumen
yang ternyata menunjukkan kesetiaannya. Analisis ini bisa dibandingkan
terhadap volume penjualan, omset, ataupun besarnya pangsa pasar. Hanya
melalui analisa semacam ini fleksibilitas dan penyesuaian bisa
dipertimbangkan dalam perencanaan pemasaran.

D. TELEMARKETING
Telemarketing merupakan penggunaan komunikasi melalui telepon
untuk menjual barang-barang langsung kepada konsumen. Telemarketing
merupakan cara yang relatif mudah untuk dimanfaatkan oleh para
entrepreneur. Penggunaan telemarketing semakin meningkat, sehingga
akhirnya berkembang sistem Telemarketing otomatis yang memungkinkan
jangkauan yang lebih luas.

8.3Q

1.

KEWIRAUSAHAAN

Keuntungan
Telemarketing bisa membantu kegiatan pemasaran suatu perusahaan
karena memiliki karakteristik sebagai berikut.
a. Tingkat Penerimaan
Kontak melalui telepon sering kali lebih baik daripada kontak langsung
karena mampu membuat konsumen menjadi kurang tertekan.
b. lmpresi
Impresi awal, walaupun sering kali keliru, bisa mempengaruhi
keberhasilan menjual. Telepon hanya memperdengarkan suara penjual
sehingga bisa membatasi impresi yang buruk.
c. Peningkatan frekuensi kontak
Tenaga penjual langsung memang mampu memperoleh rasio prospek
yang lebih tinggi dari jumlah kontak yang dilakukan dibanding kontak
melalui telepon. Tetapi, kontak melalui telepon dapat dilakukan dengan
frekuensi yang lebih tinggi, sehingga secara keseluruhan bisa membawa
basil yang lebih besar.
d. Jangkauan geografis
Kontak melalui telepon bisa dilakukan dengan jangkauan geografis yang
lebih luas dibanding penjualan secara langsung.
e. Penghematan waktu
Penjualan langsung menghabiskan waktu yang relatif lama untuk
perjalanan dan menunggu waktu untuk bertemu konsumen.
Telemarketing bisa memiliki waktu lebih banyak untuk menjual. Jika
seorang konsumen sedang tidak bisa dihubungi, dengan Telemarketing
perusahaan bisa mengontak yang lain, sehingga waktu tidak terbuang.
f Umpanbalik segera
Telemarketing merupakan cara yang paling cepat untuk mendapatkan
gambaran tentang strategi penjualan, juga untuk mencoba strategi
penjualan yang baru.
g. Pengendalian yang lebih baik
Tenaga penjual dalam Telemarketing tidak meninggalkan perusahaan
sehingga lebih mudah dikendalikan.
h. Mengurangi pembajakan karyawan
Tenaga penjual dalam Telemarketing jarang meninggalkan perusahaan,
sehingga tidak sering bertemu langsung dengan konsumen ataupun
dengan tenaga penjual dari perusahaan pesaing, sehingga jarang
menerima tawaran untuk pindah kerja.

i.

j.

EKMA4370/MODUL B

8.31

Pengeluaran untuk imbalan lebih rendah


Tenaga penjual dalam Telemarketing biasanya tidak memerlukan
imbalan yang relatif lebih rendah dibanding tenaga penjual yang
bergerak di lapangan.
Ongkos keseluruhan menjadi lebih rendah
Tenaga penjual dalam Telemarketing bisa bekerja rangkap, misalnya
menangani administrasi penjualan, dll. sehingga secara keseluruhan
menjadi lebih hemat.

2.

Kerugian
Walaupun Telemarketing memiliki banyak kelebihan, tetapi para
entrepreneur juga perlu mewaspadai berbagai kekurangannya.
a. Teknik penggunaan yang buruk bisa menggagalkan strategi
Telemarketing, misalnya karena kebiasaan karyawan yang buruk seperti
tidak ramah, tidak jujur, dll. yang sebenarnya bisa dihilangkan melalui
pelatihan.
b. Terjadi persaingan ataupun kerja sama yang buruk antara tenaga
Telemarketing dengan tenaga penjual langsung di lapangan. Karena itu
perlu dikembangkan komunikasi dan koordinasi yang baik antara kedua
kelompok sehingga tidak menimbulkan kekecewaan bagi konsumen.
c. Pekerjaan sebagai tenaga Telemarketing bersifat monoton sehingga
biasanya memiliki turn-over yang tinggi. Pekerjaan menghadapi telepon
juga sering kali dianggap kurang bergengsi. Perlu dirumuskan sistem
pengembangan karier yang baik sehingga tenaga Telemarketing tidak
memandang rendah pekerjaannya.

E. PEMASARAN MELALUI INTERNET


Internet bisa membantu strategi pemasaran sebuah perusahaan baru
melalui berbagai cara. Internet bisa membantu perusahaan baru untuk
meningkatkan kehadirannya di pasar. Situs internet perusahaan ataupun
merek produk yang dihasilkan memberi peluang untuk mengomunikasikan
misi dan sej arab perusahaan ataupun produk yang dihasilkan. Selain itu,
perusahaan juga mendapat kesempatan untuk memperkenalkan bauran
pemasaran (marketing mix) yang ditawarkan.
1. Internet memberi peluang untuk menumbuhkan konsumen baru.
Memberikan informasi tentang produk atau jasa yang dihasilkan

8.32

2.

3.

KEWIRAUSAHAAN

perusahaan dan juga pesaing yang dihadapi, sehingga memudahkan


pengambilan keputusan. Internet juga mampu menunjukkan bagaimana
produk pada saat digunakan, sehingga dapat meningkatkan minat
konsumen terhadap produk tersebut. Internet memberikan peluang
kepada konsumen untuk menyesuaikan kebutuhannya dengan tawaran
perusahaan. Sangatlah penting untuk menyadari bahwa pemasaran
dengan gaya tradisional cenderung berorientasi "mendorong" (push
oriented) di mana perusahaan menetapkan apa yang bisa dilihat oleh
konsumen dan juga menetapkan lokasi atau tempat untuk melihat produk
tersebut. Internet cenderung bersifat "menarik" (pull oriented) di mana
konsumen bisa memilih sendiri apa, kapan, dan lokasi atau tempat untuk
melihat atau memeriksa produk yang ditawarkan.
Internet mempermudah pelayanan kepada konsumen (customer service)
dengan memberikan kebebasan kepada konsumen untuk memilih jenis
pelayanan yang mereka inginkan dan juga lokasinya. Melalui internet
jumlah konsumen yang dilayani bisa ditingkatkan hanya dengan
menambah jumlah server yang tersedia.
Internet memudahkan transfer informasi. Secara tradisional informasi
dikumpulkan melalui survei melalui telepon atau surat, atau dengan
metode wawancara, dengan biaya yang relatif tinggi dalam
pelaksanaannya. Internet mampu mengumpulkan informasi sejenis itu
dengan biaya yang relatif lebih rendah. Internet bukan hanya bisa
dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi mengenai konsumen
tetapi juga dapat memudahkan memberikan informasi kepada konsumen
yang menginginkannya. Potensi terbesar penggunaan internet di masa
depan barangkali diperoleh dari pemasaran langsung (direct marketing),
di mana internet dapat digunakan untuk menyebarkan katalog
perusahaan kepada calon konsumen.

Penggunaan internet memang memberikan beberapa jenis keuntungan,


tetapi terdapat dua hal utama yang bisa menjadi penghambat
pemanfaatannya, yaitu (1) keterbatasan target pasar, dan (2) resistansi di
perusahaan terhadap perubahan.

EKMA4370/MODUL B

8.33

F. STRATEGI PENETAPAN HARGA (PRICING STRATEGIES)


Masalah terakhir yang dibahas dalam tulisan ini adalah strategi
penetapan harga (pricing). Banyak pengusaha yang sebelumnya sudah
melakukan Riset Pemasaran tetap ragu-ragu dalam menetapkan harga produk
atau j as a yang dihasilkan.
Beberapa faktor sebenarnya berpengaruh terhadap penetapan harga
seperti tingkat persaingan, ketersediaan, perubahan musiman permintaan
pasar, ongkos distribusi, tahapan daur hidup (product life-cycle), kondisi
ekonomi, pelayanan yang ditawarkan penjual, banyaknya promosi yang telah
dilakukan, dan daya beli pasar. Harga yang ditawarkan biasanya tidak
mampu memenuhi seluruh aspek. Tetapi, kesadaran bahwa aspek-aspek
tersebut memang berpengaruh terhadap harga, merupakan hal yang penting.
Beberapa hal lain biasanya berkaitan dengan aspek-aspek psikologis, antara
lain sebagai berikut.
1. Dalam situasi tertentu mutu produk diinterpretasikan sebanding dengan
harganya oleh konsumen.
2. Beberapa kelompok konsumen tidak bersedia membeli produk apabila
tidak mencantumkan atau mencetak harganya.
3. Menekankan pembelian barang yang berharga mahal dengan
pembayaran bulanan sering kali membuat nilai penjualan menjadi lebih
besar dibanding pembelian yang dilakukan melalui pembayaran tunai.
4. Banyak pembeli bersedia membayar harga yang bulat untuk barangbarang yang dianggap bergengsi, dan beranggapan bahwa harga barangbarang kelas yang biasa selayaknya tidak berupa angka yang bulat.
5. Semakin banyak aspek dari suatu produk yang merupakan manfaat bagi
konsumen bisa disampaikan oleh penjual, dan biasanya akan
menyebabkan resistansi terhadap harga menjadi berkurang.
Prosedur penetapan harga biasanya beragam, tergantung pada jenis
perusahaan, misalnya: apakah berbentuk perusahaan ritel, manufaktur, atau
perusahaan jasa. Penetapan harga yang disesuaikan terhadap daur hidup
produk (lihat Tabel 8.7. di halaman berikut) bisa digunakan pada setiap jenis
perusahaan. Tabel ini menunjukkan langkah-langkah dasar dalam
mengembangkan sistem penetapan harga.
Dengan memanfaatkan garis besar ini sebagai acuan umum, para
entrepreneur akan dapat memilih strategi penetapan harga yang sesuai bagi
perusahaannya.

8.34

KEWIRAUSAHAAN

Permintaan konsumen dan volume penjualan bervariasi sesuai perkembangan


produk. Harga produk perlu disesuaikan dengan tahapan daur hidup produk
yang sedang dijalani. Secara garis besar ditunjukkan metode penetapan harga
yang sesuai dengan tiap tahapan dalam daur hidup produk.
Tabel 8. 7.
7
Penetapan Harga sesuai Tahapan dalam Daur Hidup Produk

Tahapan dalam Daur


Hidup Produk
Product Life-cvcle
Tahapan Perkenalan
(Introduction)
Produk Unik

Produk Tidak Unik

Tahapan Tumbuh
(Growth)

Tahapan Dewasa
(Maturity)

Tahapan Turun
(Decline)

Dari Kuratko, hal. 244.

Strategi Penetapan Harga

Alas an

Ciduk (skimming) menetapkan harga yang


tinggi untuk
memaksimumkan
keuntungan jangka pendek

Harga awal ditetapkan mahal


untuk membuat image bahwa
produk bermutu, menyediakan
modal untuk menanggung biaya
pengembangan, dan agar di masa
depan mampu menurunkan harga
dalam
rangka
menghadapi
'
persa1ngan

Penetrasi- menetapkan
harga serendah-rendahnya,
contoh: produk dijual dengan
harga rendah yang
sebenarn ~a ru i
Consumer Pricingkombinasi penetrasi dan
harga yang kompetitif untuk
mendapat pangs a pasar,
tergantung tafsir konsumen
tentan nilai :>roduk
Demand-oriented Pricing harga tergantung
permintaan (), strategi
fleksibel, harga didasarkan
:>ada tin kat permintaan
Harga produk lebih rendah
dari ongkos produksi, dalam
usaha
untuk
menarik
perhatian

Secara cepat bisa merebut


pangsa pasar, dengan harga lebih
rendah dibanding pesaing

Tergantung jumlah konsumen


potensial, ukuran pasar total,
distribusi di pasar, dan sebagainya

Pertumbuhan penjualan mulai


turun, konsumen sangat sensitif
terhadap harga

Produk hanya sedikit atau tidak


menarik
bagi
konsumen,
pemikirannya
adalah
harga
rendah untuk menarik konsumen
kepada lini :>roduk 1an baru

e EKMA4370/MODUL B

8.35

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)

Ada beberapa hambatan bagi pengusaha atau wirausaha kecil-kecil


dalam melakukan riset pemasaran. Sebutkan danjelaskan!
Pemasaran yang efektif dibangun melalui tiga elemen utama. Sebutkan
dan j elaskan!
Terdapat tiga jenis faktor utama yang mempengaruhi pilihan falsafah
pemasaran yang dianut oleh sebuah perusahaan. Sebutkan dan jelaskan!

Petunjuk Jawaban Latihan


1)

2)

3)

Ada beberapa hambatan bagi pengusaha atau wirausaha kecil kecil


dalam melakukan riset pemasaran, antara lain:
a) riset pemasaran menuntut ongkos yang tinggi, sehingga banyak
wirausaha yang menganggap bahwa kegiatan tersebut hanya cocok
untuk perusahaan skala besar;
b) pelaksanaan riset pemasaran dianggap rumit, terutama yang
berkaitan penggunaan teknik-teknik statistik sehingga membuat para
wirausaha enggan melaksanakannya;
c) banyak wirausaha beranggapan bahwa hanya keputusan-keputusan
strategis yang perlu didukung oleh pelaksanaan riset pemasaran;
d) para wirausaha beranggapan bahwa informasi yang dikumpulkan
melalui riset pemasaran merupakan informasi yang sudah mereka
ketahui, ataupun jenis informasi yang sebenarnya tidak diperlukan.
Pemasaran yang efektif dibangun melalui tiga elemen utama, yakni
falsafah, segmentasi pasar, dan perilaku konsumen. Sebuah perusahaan
baru perlu mengintegrasikan ketiga elemen tersebut dalam
pengembangan konsep pemasaran maupun dalam memutuskan pilihan
pendekatan yang akan digunakan untuk menaklukkan pasar.
Terdapat tiga jenis faktor utama yang mempengaruhi pilihan falsafah
pemasaran yang dianut oleh sebuah perusahaan.
a. Tekanan Persaingan Intensitas persaingan sering kali memaksa
perusahaan untuk mengadopsi falsafah baru
b. Latar Belakang Pengusaha

8.36

KEWIRAUSAHAAN

c.

Jenis keterampilan dan kemampuan para entrepreneur sangatlah


beragam. Latar belakang yang dimiliki akan berpengaruh terhadap
pilihan falsafah pemasaran yang dianut.
Pandang an J angka Pendek
Sering kali, falsafah yang berorientasi pemasaran lebih diminati
karena pemikiran jangka pendek yang menganggap bahwa
terjadinya penumpukan produk merupakan hal yang buruk, sehingga
muncul dorongan untuk segera bisa menjual produk tersebut.
Pendekatan seperti ini memang bisa meningkatkan volume
penjualan, sehingga banyak entrepreneur cenderung tertarik untuk
menggunakannya. Tetapi, sering kali pendekatan semacam ini
cenderung bersifat "banting harga" dan mengabaikan preferensi
konsumen, sehingga dalamjangka panjang cenderung merugikan.

RANGKUMAN

Terdapat empat hal yang membuat pengusaha baru enggan


melakukan Riset Pemasaran, yaitu (1) ongkos, (2) kerumitan
pelaksanaannya, (3) kepercayaan bahwa hanya keputusan strategis
ukuran besar yang perlu didukung oleh Riset Pemasaran, dan (4) bahwa
data yang diperoleh tidak relevan dengan kegiatan operasi perusahaan.
Para pengusaha biasanya salah mengerti mengenai nilai riset pemasaran,
ataupun karena enggan mengeluarkan ongkos yang dibutuhkan dalam
kegiatan semacam ini.
Pengembangan sebuah konsep pemasaran mencakup tiga bidang
yang penting. Bidang pertama menyangkut perumusan konsep atau
falsafah pemasaran. Pengusaha baru ternyata terbagi menjadi kelompok
dengan kecenderungan berbeda, yaitu kecenderungan pada produksi
(production driven), kecenderungan pada pasar (sales driven), dan
kecenderungan pada konsumen (consumer driven). Kecenderungan
pengusaha temyata tergantung pada nilai-nilai yang dianut oleh
pengusaha dan kondisi pasar yang dihadapi.
Bidang kedua adalah segmentasi pasar, yang merupakan proses
identifikasi serangkaian karakteristik khusus yang bisa membedakan
sekelompok konsumen dari kelompok-kelompok konsumen lainnya.
Variabel demografi dan variabel manfaat sering kali digunakan dalam
proses segmentasi ini.
Bidang ketiga adalah pemahaman terhadap perilaku konsumen.
Jenis dan pola perilaku konsumen bervariasi sehingga entrepreneur perlu

e EKMA4370/MODUL B

8.37

memahami karakteristik pribadi dan karakteristik psikologis


konsumennya agar dapat merumuskan strategi pemasaran yang
berorientasi pada konsumen. Analisis terhadap konsumen ini
memperhatikan faktor-faktor penting seperti kebiasaan berbelanja
masyarakat secara umum, kekhususan kebiasaan berbelanja konsumen
yang dijadikan sasaran, dan jenis produk atau jasa yang biasanya dijual.
Perusahaan berkembang melalui empat tahapan pemasaran, yaitu
entrepreneurial marketing, opportunistic marketing, responsive
marketing, dan diversified marketing. Setiap tahapan perlu dihadapi
dengan strategi yang berbeda.
Rencana Pemasaran merupakan penetapan pendekatan yang jelas
dan komprehensif untuk menciptakan konsumen. Dalam mengembangkan rencana pemasaran,penting untuk diperhatikan hasil dari riset
pemasaran, riset penjualan, sistem informasi pemasaran, peramalan
penjualan, rencana pemasaran dan evaluasi terhadap rencana pemasaran
periode sebelurnnya.
Dua bidang penting dalam pemasaran bagi perusahaan baru adalah
Telemarketing dan pernasaran rnelalui Internet. Telemarketing
rnerupakan penggunaan telepon untuk menghubungi secara langsung dan
rnenjual produk kepada konsurnen. Rasio antara ongkos dengan rnanfaat
yang diperoleh dengan Telemarketing relatif tinggi sehingga cara ini
diperkirakan akan rnenjadi alat pernasaran yang penting di masa depan.
Internet juga akan dapat dengan cepat rnenjadi alat pemasaran utama
di abad ke-21. Internet rnernbawa berbagai jenis rnanfaat untuk
rnengernbangkan strategi pemasaran perusahaan secara keseluruhan,
terrnasuk dalarn mernopulerkan rnerek, rnenyarnpaikan inforrnasi kepada
konsurnen, dan juga dalam melakukan pelayanan.
Strategi penetapan harga (pricing) rnerupakan cerminan dari riset
pemasaran dan perlu mempertimbangkan berbagai faktor seperti posisi
perusahaan dalarn persaingan, besarnya permintaan, daur hidup produk
atau jasa yang ditawarkan, dan juga kondisi ekonomi yang sedang
dihadapi.

TES

FDRMATIF 2- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1)

Ada beberapa alas an mengapa para wirausaha kecil enggan rnelakukan


riset pernasaran, antara lain ....
A. faktor ongkos yang harus ditanggung
B. riset tidak berrnanfaat

8.38

KEWIRAUSAHAAN

C. tidak mungkin dilaksanakan


D. tidak mendukung usahanya
2)

Bagi pengusaha kecil, pelaksanaan riset pemasaran dianggap rumit,


terutama yang berkaitan dengan ....
A. penghitungan biaya riset
B. penggunaan teknik-teknik statistik
C. pembuatan jadwal
D. penentuan personil

3)

Jika perusahaan mampu melaksanakan kegiatan produksi secara efisien,


maka pemikiran mengenai pemasaran bisa ditetapkan kemudian.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengusaha tersebut menganut
falsafah pemasaran yang dikendalikan oleh ....
A. penjualan
B. konsumen
C. produksi
D. produk

4)

Falsafah pemasaran yang dikendalikan penjualan berfokus pada aspek ....


A. iklan
B. konsumen
C. produk
D. penjualan dan iklan

5)

Persaingan yang kuat akan membuat banyak wirausaha mencoba


mengembangkan pemasaran yang berorientasi pada ....
A. penjualan
B. produk
C. konsumen
D. omset

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal

e EKMA4370/MODUL B

8.39

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.

8.40

KEWIRAUSAHAAN

Kunci Jawaban Tes Format if


Tes Formatif 1
1) B
2) B
3) D
4) B
5) D

Tes Formatif2
1)
2)
3)
4)
5)

c
D
A
D

e EKMA4370/MODUL B

8.41

Daft ar Pust aka


Boyd and Gumpert. (1985). Coping with Entrepreneurial Stress. Harvard
Business Review, Nov, Dec.
Bruce G. Whiting. (1988). Creativity and Entrepreneurship: How Do They
Relate? Journal of Creative Behavior 22, No.3.
Donald M. Dible. (1980). Small Business Success Secrets. The Entrepreneur
Press.
Doris Shallcross, Anthony M. Gawienowski. (1989). ''Top Experts Address
Issues on Creativity Gap in Higher Education. Journal of Creative
Behavior 23, No.2.
Douglas W. Naffziger, Jeffrey S. Hornsby, and Donald F. Kuratko. (1994).
"A Proposed Research Model of Entrepreneurial Motivation",
Entrepreneurship Theory and Practice. Spring.
Edward de Bono. (1970). Lateral Thinking, Creativity Step by Step. New
York: Harper & Row.
Eugene Staley, Richard Morse. (1965). Modern Small Industry for
Developing Countries. McGraw-Hill.
John J. Kao. (1991). The Entrepreneur. Englewood Cliffs, New Jersey:
Prentice-Hall.
Manfred P.R. Kets de Vries. (1985). The Dark Side of Entrepreneurship.
Harvard Business Review, Nov, Dec.
Michael Kirton. (1976). Adaptors and Innovators: A Description and
Measure. Journal of Applied Psychology, Oct.
Peter F. Drucker. (1985). Innovation and Entrepreneurship. New York,
Harper & Row.

8.42

KEWIRAUSAHAAN

Peter R. Dickson. (1994). Marketing Management. (Fort Worth, TX), The


Dryden Press.
Peter R. Dickson. (2000). Marketing Research and Information Systems,
Marketing Best Practices. Ft. Worth, TX : Harcourt College Publishers.
Program Orientasi Industri Kecil dan Menengah di Perguruan Tinggi. (2007).
Paket 1 Pelatihan IKM untuk Wisudawan Perguruan Tinggi. Bandung:
Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen
Perindustrian Republik Indonesia dan SBHL Consulting.
S.B. Hari Lubis. (1984). Caracteristiques des Dirigeants, Degre de
Croissance et Types d'Organization Dans Les Petites Entreprises en
Indonesia. Etude de 61 Firmes Industrielles de Textile. Disertasi Doktor,
IAE Grenoble-Prancis.
Stephen W McDaniel and A. Parasuraman. (1986). "Practical Guidelines for
Small Business Marketing Research". Journal of Small Business
Management, Jan.
Thomas Monroy and Robert Folger. (1993). "A Typology of Entrepreneurial
Styles : Beyond Economic Rationality. Journal of Positive Entreprise IX,
No.2.
Timothy A. Matherly and Ronald E. Goldsmith. (1985). The Two Faces of
Creativity. Business Horizons, Sept/Oct.

MDDUL 9

lnt rapreneurshi p
Dr. Ir . S B. Har i Lu b i s
PENDAHULUAN

idak ada yang lebih sulit untuk diterima ataupun untuk dilakukan selain
memelopori sesuatu yang baru, karena yang baru selalu tidak disukai
oleh pihak yang sudah terlanjur diuntungkan oleh cara lama, dan hanya
didukung setengah hati oleh mereka yang mungkin diuntungkan oleh cara
baru.
Machiavelli
The Prince
Globalisasi ekonomi memaksa banyak perusahaan di berbagai negara
untuk melakukan perubahan yang mendalam dan menyeluruh. Perusahaan
dituntut untuk meninjau ulang sasarannya dan memberikan perhatian khusus
terhadap strategi yang akan digunakan untuk mencapai sasaran tersebut dan
juga dalam mengimplementasikan strategi terpilih itu, yaitu dengan
mengusahakan munculnya peluang yang lebih besar untuk memberikan
kepuasan terhadap lebih banyak pihak yang berkepentingan. Agar bisa
bereaksi dengan baik terhadap perubahan lingkungan eksternal maupun
internal yang terjadi dengan cepat dan tidak beraturan, banyak perusahaan
besar yang mapan melakukan restrukturasi secara mendasar terhadap
kegiatan operasi perusahaan. Cakupan usaha, budaya, dan cara bersaing
perusahaan-perusahaan sejenis ini menjadi sangat berbeda dibanding
sebelumnya.
Abad ini ditandai dengan munculnya banyak perusahaan yang memilih
strategi yang sangat bertumpu pada inovasi. Perhatian perusahaan yang
meningkat terhadap inovasi terutama terjadi pada tahun-tahun 1980-an dan
1990-an. Peter Drucker menunjukkan empat aspek yang mendorong
meningkatnya perhatian terhadap inovasi dalam kurun waktu tersebut.
Pertama, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cepat,

9.2

KEWIRAUSAHAAN

sehingga mendorong munculnya entrepreneur yang memanfaatkan teknologi


mutakhir tersebut dalam kegiatan usahanya. Kedua, aspek demografis, di
mana bertambah banyak keluarga dengan pasangan suami istri yang samasama bekerja, pendidikan yang berkesinambungan, dan usia hidup yang
semakin panjang; sehingga merangsang munculnya banyak usaha baru.
Ketiga, berkembangnya modal ventura, yang memudahkan masyarakat untuk
mendapatkan biaya untuk memulai usaha baru. Keempat, di berbagai negara
mulai dipahami cara yang tepat untuk mengelola dan memanfaatkan
entrepreneurship yang muncul dalam organisasi atau perusahaan.
Kuatnya pengaruh entrepreneurship dalam mendorong perkembangan
perekonomian menyebabkan munculnya gagasan untuk mengembangkan
perubahan sejenis dalam lingkup organisasi ataupun perusahaan. Memang
banyak pendapat yang menyatakan bahwa entrepreneurship tidak sesuai
dengan sifat organisasi birokrasi, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa
terdapat beberapa perusahaan mampu menjadi sukses setelah
mengembangkan entrepreneurship dalam organisasinya, seperti yang dialami
perusahaan 3M, Bell Atlantic, AT&T, dan Polaroid. Sekarang ini banyak
literatur bisnis yang menggambarkan terjadinya revolusi perusahaan yang
merupakan akibat digunakannya cara berpikir entrepreneurship ke dalam
struktur birokrasi berukuran besar. Menggunakan cara berpikir
entrepreneurship dalam perusahaan dinamakan corporate entrepreneurship
atau intrapreneurship. Konsep ini kemudian menjadi sangat populer karena
mampu memanfaatkan bakat inovatif yang dimiliki karyawan maupun para
manajer yang terdapat dalam organisasi perusahaan.
Modul ini mencoba membahas beberapa aspek penting dalam
intrapreneurship. Setelah mempelajari modul ini, diharapkan mahasiswa
mampu:
1. memahami pengertian intrapreneurship;
2. menjelaskan manfaat intrapreneurship;
3. menjelaskan hambatan dalam intrapreneurship;
4. elemen-elemen yang terlibat dalam pengembangan intrapreneurship.

9.3

e EKMA4370/MODUL 9

KEGIATAN

BELAL.JAR

lnt rapreneurshi p
novasi yang berkesinambungan, baik dalam aspek produk, proses, maupun
dalam prosedur pengelolaan serta struktur organisasi perusahaan, serta
dimilikinya kemampuan bersaing secara efektif di pasar internasional
dianggap merupakan jenis keterampilan yang menjadi kunci keberhasilan
perusahaan dalam menghadapi perkembangan ekonomi global abad ke-21.
Intrapreneurship dipandang sebagai proses yang dapat mendukung usaha
perusahaan untuk terus-menerus melakukan inovasi dan untuk memiliki
kemampuan dalam menghadapi persaingan di pasar internasional. Sikap dan
perilaku entrepreneurship dibutuhkan untuk perusahaan berukuran kecil
hingga yang besar, agar dapat maju dan berkembang dalam lingkungan yang
penuh persaingan.
Walaupun belum banyak yang memahami, Intrapreneurship telah
menjadi sesuatu yang populer. Kebanyakan peneliti sepakat bahwa istilah ini
menunjukkan kegiatan entrepreneurship yang terikat aturan organisasi serta
keterbatasan sumber, yang dimaksudkan untuk menciptakan hasil yang
inovatif. Tujuan utama dari Intrapreneurship adalah untuk mengembangkan
tumbuhnya semangat entrepreneur dalam batas-batas organisasi, yang
mampu mendorong berkembangnya suasana inovatif dalam organisasi.

A. DEFINISI
Definisi intrapreneurship telah berkembang sejak 30 tahun terakhir,
terutama di kalangan pendidikan tinggi. Sebagai contoh, seorang peneliti
mendefinisikan intrapreneurship sebagai suatu konsep yang luas, yaitu
menumbuhkan, mengembangkan, dan mengimplementasikan gagasan
ataupun perilaku baru. Inovasi bisa berbentuk produk atau j as a baru, sis tern
pengelolaan, rencana, atau program yang menyangkut anggota suatu
organisasi. Dalam pengertian ini, intrapreneurship bisa ditafsirkan sebagai
usaha untuk meningkatkan kembali kemampuan organisasi atau perusahaan
untuk memiliki keterampilan ataupun kemampuan inovatif.
Shaker A. Zahra mengamati bahwa intrapreneurship bisa bersifat formal
maupun juga informal, dimaksudkan untuk menciptakan usaha baru dalam
sebuah organisasi atau perusahaan yang sudah mapan, melalui inovasi

9.4

KEWIRAUSAHAAN

produk, proses, maupun pengembangan pasar. Kegiatan semacam ini bisa


dilakukan atau dikembangkan pada tingkat organisasi atau perusahaan secara
keseluruhan, divisi, fungsi, ataupun proyek tertentu, dengan tujuan bersama
yaitu memperbaiki posisi organisasi atau perusahaan dalam persaingan
ataupun untuk memperbaiki kinerj a finansial organisasi atau perusahaan
tersebut.
Dari berbagai definisi mengenai intrapreneurship dapat ditarik
kesimpulan bahwa intrapreneurship bisa didefinisikan sebagai suatu proses,
di mana seseorang atau suatu kelompok, dalam kaitan dengan sebuah
organisasi ataupun perusahaan, berusaha menciptakan organisasi yang baru
datang mendorong terjadinya pembaharuan atau inovasi dalam organisasi
atau perusahaan. Berdasarkan definisi ini, perubahan strategi (perubahan
organisasi dalam hal strategi dan/atau perubahan struktur), inovasi
(memperkenalkan sesuatu yang baru kepada pasar atau konsumen), dan usaha
bersifat entrepreneur dalam sebuah organisasi atau perusahaan yang sudah
mapan, merupakan bagian penting dan sah dari proses intrapreneurship suatu
organisasi atau perusahaan.

B. MANFAAT INTRAPRENEURSHIP
Saat ini sudah banyak pihak yang mulai menyadari pentingnya
Intrapreneurship. Berbagai pihak mengungkapkan perlunya untuk
mengalirkan pemikiran kewirausahaan dalam organisasi birokratis berukuran
besar. Tom Peters yang menaruh perhatian besar terhadap fenomena
munculnya inovasi dalam perusahaan, seperti juga banyak peneliti lain,
ternyata menemukan bahwa Intrapreneurship memang sangat dibutuhkan.
Kebutuhan terhadap Intrapreneurship ini muncul sebagai reaksi terhadap
berbagai tekanan yang dialami perusahaan, seperti munculnya banyak
pesaing baru dengan teknologi yang lebih canggih, semakin tidak
dipercayainya pengaturan yang dilakukan menggunakan gaya manajemen
tradisional, berhentinya karyawan terbaik yang mencoba mengembangkan
usaha sendiri, munculnya pesaing dari luar negeri, mengecilnya ukuran
perusahaan-perusahaan besar, dan tumbuhnya keinginan yang kuat pada
kebanyakan perusahaan untuk meningkatkan produktivitas maupun efisiensi.
Persaingan selalu menjadi masalah bagi semua kegiatan usaha, terutama
pada masa berkembangnya teknologi dengan pola seperti sekarang ini, di
mana inovasi dan berbagai perbaikan merupakan hal yang biasa terjadi dalam

EKMA4370/MODUL 9

9.5

kegiatan perusahaan. Kondisi ini memaksa perusahaan untuk melakukan


inovasi apabila tidak ingin tertinggal dari para pesaingnya.
Di negara-negara tertentu kehilangan karyawan terbaik juga makin
sering terjadi. Makin banyak orang yang lebih tertarik untuk berwirausaha
dibanding menjadi pegawai karena semakin banyak tersedia modal ventura
yang membuat mendapatkan pinjaman untuk memulai usaha menjadi mudah.
Karena itu, perusahaan di jaman modern ini perlu menyediakan saluran untuk
memberikan peluang bagi berkembangnya Intrapreneurship, sehingga
mengurangi minat karyawan terbaiknya untuk meninggalkan posisinya dalam
perusahaan.

C. HAMBATAN TERHADAP INTRAPRENEURSHIP


Terhambatnya Intrapreneurship dalam suatu organisasi biasanya
menunjukkan tidak efektifnya gaya manajemen tradisional untuk digunakan
dalam pengembangan us aha baru. W alaupun sering kali terj adi tanpa
disengaja, dampak gaya manajemen tradisional sering kali sedemikian
buruknya sehingga anggota organisasi cenderung tidak berminat untuk
menjadi intrapreneur. Tabel 9.1. berikut ini menunjukkan berbagai jenis
teknik manajemen dan akibat negatif yang ditimbulkannya apabila teknikteknik tersebut dijalankan secara kaku. Tabel ini juga mencoba menunjukkan
corak tindakan yang direkomendasikan untuk mengatasi berbagai akibat
negatif tersebut.

9.6

KEWIRAUSAHAAN

Tabel 9. 1.
1
SJmber Hambatan dan 9:>1usi bagi M.Jnculnya lntrapreneurship

JENIS PRAKTEK
MANAJEMEN
TRADISIONAL
Memaksakan
prosedur standar
untuk menghindari
ter'adin 'a kesalahan
Pengelolaan sumber
mengacu pada
efisiensi dan ROI
Pengendalian
mengacu pada
rencana
Rencana Jangka
Panjang

Pengelolaan
fungsional

secara

HAMBATAN YANG
TIMBUL TERHADAP
INTRAPRENEURSHIP
Solusi inovatif terhambat,
dana terbuang karena
penggunaannya keliru

Daya saing hi lang,


kemampuan penetrasi pasar
menu run
Fakta diabaikan

Sasaran yang salah


terpaksa tetap menjadi
acuan, mahal jika gagal
Entrepreneurship jadi
terhambat, sehingga
perusahaan gagal

Menghindari tindakan
berisiko bagi bisnis
utama
Menjaga bisnis utama
dengan seluruh
kekuatan 'an dimiliki
Pertimbangan
terhadap langkah
baru mengacu pada
pen alaman
Penyajian seragam

Peluang hilang

lndividu dipromosikan
apabila mampu
menyesuaikan diri
comoatible

lnovator tidak muncul

Usaha baru ditinggalkan


apabila bisnis utama
ter an u
Keputusan mengenai pasar
dan persaingan menjadi
keliru
Motivasi karyawan
terjadi inefisiensi

Kuratko, hal. 55 Tabel 3 .1.

turun,

SOLUSI YANG
DIUSULKAN

Dibuat aturan yang


spesifik untuk setiap jenis
situasi
Usaha difokuskan pada
masalah yang rawan
misaln va Jan sa pasar
Rencana diubah sesuai
kenyataan situasi yang
dihadaJi
Sasaran dilengkapi
dengan milestone yang
setiap tahap selalu
di Jeriksa kesesuaiann 'a
Entrepreneurship dibantu
dengan keterampilan
manajerial yang sifatnya
multidisi plin
Menggunakan langkahlangkah kecil, bertahap,
sesuai kebutuhan
Usaha baru dijadikan
bisnis utama, berani
men hadaJi risiko
Menggunakan strategi
belajar, asumsi-asumsi
diuji kebenarannya
Seimbangkan risiko
terhadap imbalan,
unakan imbalan khusus
Berikan peluang bagi
"perusuh" dan orang yang
berani berbuat.

EKMA4370/MODUL 9

9.7

Penting untuk memahami berbagai jenis penghambat bagi munculnya


Intrapreneurship dalam sebuah organisasi. Untuk mendapat dukungan dan
menggairahkan munculnya semangat Intrapreneurship, sumber hambatan
perlu dibuang dan diusahakan untuk mengembangkan alternatif cara
pengelolaan.
Setelah mengenali berbagai jenis penghambat munculnya inovasi, James
Brian Quinn, seorang ahli di bidang inovasi, menemukan bahwa dalam
perusahaan ukuran besar terdapat aspek-aspek tertentu yang bisa merangsang
munculnya inovasi, adalah berikut ini.
1. Suasana dan visi
Perusahaan yang inovatif memiliki visi yang jelas tentang suasana yang
inovatif dan memberikan dukungan yang jelas terhadap munculnya
suasana seperti itu.
2. Orientasi terhadap Pasar
Perusahaan inovatif memiliki visi yang berkaitan dengan realitas pasar.
3. Organisasi berukuran kecil dan mendatar (flat)
Perusahaan inovatif berusaha agar memiliki organisasi mendatar (flat)
dengan tim berukuran kecil.
4. Pendekatan dari berbagai arah
Dalam mengembangkan suatu gagasan, pimpinan inovatif mengembangkan kegiatan dari berbagai arah.
5. Pembelajaran interaktif
Dalam suasana inovatif mempelajari dan menguji gagasan dilakukan
melalui berbagai fungsi yang ada dalam organisasi.
6. Kelompok Non-Formal
Perusahaan yang sangat inovatif memanfaatkan kelompok-kelompok di
luar garis otoritas formal sehingga bisa terhindar dari hambatan
birokrasi, memiliki daya reaksi yang cepat dan loyalitas kelompok yang
tinggi.

D. REKAYASA ULANG PEMIKIRAN TENTANG PERUSAHAAN


Untuk merangsang munculnya gagasan inovatif dalam perusahaan, perlu
diciptakan suasana yang mampu mendorong para karyawan agar berani
mengembangkan gagasan. Akan tetapi sering kali para pimpinan tidak yakin,
bahwa gagasan bisa tumbuh dan berkembang dalam lingkungan mereka.
Mereka juga sering kali mengalami kesulitan untuk mengimplementasikan

9.8

KEWIRAUSAHAAN

kebijakan yang mendorong kebebasan maupun kegiatan yang tidak


terstruktur, yang biasanya merupakan tempat bagi tumbuhnya gagasan
inovatif. Akan tetapi, para pimpinan memang perlu menciptakan kebijakan
yang dapat membantu karyawan inovatif untuk mengembangkan potensinya
secara maksimal. Empat langkah penting agar suasana sejenis itu bisa
terwujud adalah sebagai berikut.
1. Perlu ditetapkan sasaran yang jelas dan terukur. Sasaran hendaknya
disepakati oleh manajemen maupun oleh karyawan, sehingga tahapantahapan pencapaian sasaran bisa jelas dan memungkinkan untuk dicapai.
2. Perlu diciptakan sistem umpan-balik dan perangsang sehingga karyawan
yang berpotensi sebagai inovator ataupun sebagai Intrapreneur
menyadari bahwa organisasi bisa menerima dan menghargai gagasan
baru.
3. Perlu ditonjolkan dan diutamakan tanggung jawab secara individual.
Memberi kepercayaan dan kejelasan tanggung jawab merupakan faktor
kunci keberhasilan program inovasi.
4. Memberikan imbalan yang sesuai dengan basil yang diperoleh. Sistem
imbalan perlu mampu mengakomodasikan dan juga mendorong anggota
organisasi untuk berani menanggung risiko dan berusaha mencapai
sesuatu.
Setiap perusahaan perlu mampu menciptakan cara mengembangkan
Intrapreneurship yang sesuai dengan kondisi organisasinya masing-masing.
Tetapi, terdapat beberapa pertanyaan kunci yang diharapkan dapat menjadi
acuan dalam mewujudkan cara pengembangan yang tepat. Rangkaian
pertanyaan ini bisa menjadi umpan balik bagi organisasi dalam rangka
memilih pendekatan yang tepat.
1. Apakah Anda perlu mendorong karyawan untuk menjadi Intrapreneur?
Intrapreneur menunjuk dirinya sendiri untuk berperan sebagai
Intrapreneur, dan ternyata pilihan peran ini direstui oleh perusahaan.
Banyak perusahaan yang keliru, mencoba menetapkan orang tertentu
untuk menjadi inovator.
2. Apakah perusahaan Anda memberikan peluang kepada para
Intrapreneur agar dapat mencoba gagasannya?
Dalam proses inovasi, apabila pengembangan gagasan dialihkan dari
pencetus gagasan kepada karyawan atau pihak lain, maka pihak yang

3.

4.

5.

6.

7.

8.

EKMA4370/MODUL 9

9.9

ditunjuk untuk mengembangkan gagasan tidak memiliki rasa tanggung


j awab seperti yang dimiliki pencetus gagasan.
Apakah karyawan di perusahaan Anda diizinkan untuk mengerjakan
tugas dengan caranya sendiri? Atau mereka harus terus-menerus
menjelaskan dan meminta izin untuk menjalankan cara kerja tertentu?
Pada beberapa organisasi, pemberian izin semacam ini sering kali harus
melewati beberapa tingkatan hierarki, sehingga keputusan menjadi
terlambat, sementara pengambil keputusan juga tidak paham karena
tidak pernah bertemu dengan pencetus gagasan.
Apakah di perusahaan Anda tersedia cara informal agar bisa cepat
mendapatkan sumber untuk mencoba gagasan baru?
Beberapa perusahaan mengizinkan karyawannya menggunakan sebagian
waktu kerja mereka untuk mencoba gagasan baru, ataupun juga dana
apabila muncul gagasan baru yang masih perlu dipelajari lebih lanjut.
Perusahaan lain justru mengontrol sumber dengan ketat dan tidak
bersedia menyisihkan dana untuk keperluan mempelajari lebih lanjut
gagasan yang muncul.
Apakah di perusahaan Anda dikembangkan cara untuk mengelola
banyak produk dan sering melakukan percobaan?
Budaya perusahaan sering kali menginginkan penelitian maupun
perencanaan yang sempurna sebelum melaksanakan suatu kegiatan.
Akan menjadi lebih baik apabila lebih sering mencoba walaupun dengan
penelitian dan perencanaan yang kurang sempurna.
Apakah sistem kerja di perusahaan Anda menghalalkan pengambilan
risiko dan memberikan toleransi terhadap kesalahan?
Inovasi tidak akan dapat di wujudkan tanpa risiko dan kesalahan. Inovasi
yang berhasil sering kali dimulai dengan kesalahan.
Apakah organisasi Anda bersedia mempertahankan percobaan dalam
waktu yang memadai dan berkali-kali diawali secara keliru?
Inovasi sering kali makan waktu, kadang-kadang hingga 10 tahun,
padahal pengoperasian perusahaan sering kali iramanya ditentukan oleh
rencana tahunan.
Apakah karyawan di perusahaan Anda lebih tertarik kepada gagasan
baru atau lebih suka mempertahankan cara lama yang sudah mereka
kuasai Gagasan baru sering kali menerabas batas-batas pola kerja
ataupun
organisasi
lama,
sehingga
sering
muncul
gej ala
mempertahankan pola lama pada orang-orang yang merasa terganggu.

9.1 Q

KEWIRAUSAHAAN

9.

Apakah di organisasi Anda cukup mudah untuk membentuk tim otonom


yang mampu berfungsi secara lengkap?
Tim kecil dengan tanggung jawab ataupun kewenangan penuh untuk
melaksanakan gagasan atau kegiatan Intrapreneur sering kali bisa
menyelesaikan banyak inovasi. Tetapi banyak perusahaan yang merasa
enggan membentuk tim sejenis itu.
10. Apakah para Intrapreneur di perusahaan Anda bebas menggunakan
sumber yang dimiliki divisi lain atau dari pemasok luar?
Intrapreneur sering kali harus berhadapan dengan situasi monopoli
internal, misalnya produk hanya boleh dikerjakan oleh bagian tertentu,
hanya boleh dipasarkan oleh bagian pemasaran, yang tidak paham
terhadap gagasan baru yang mendasari inovasi, sehingga gagasan baru
hilang tanpa mampu berkembang lebih lanjut.

Cara lain untuk menciptakan suasana inovatif adalah melalui aturan


inovasi (rules of innovation) berikut ini.
1. Anjurkan agar karyawan berani berbuat atau bertindak.
2. Jika memungkinkan utamakan menggunakan pertemuan informal.
3. Berikan toleransi terhadap kegagalan dan jadikan kegagalan sebagai
pengalaman untuk belajar.
4. Usahakan agar gagasan dapat menjadi sesuatu yang dapat dipasarkan
ataupun dapat digunakan.
5. Berikan ganjaran (reward) terhadap inovasi.
6. Usahakan agar layout fisik perusahaan memudahkan terjadinya
komunikasi informal.
7. Berharaplah agar ada gagasan baru bisa muncul walaupun melanggar
aturan, misalnya ada karyawan yang justru memikirkan gagasan baru
padajam kerja normal.
8. Bentuk tim-tim kecil untuk memikirkan gagasan yang berorientasi ke
masa depan.
9. Dorong anggota organisasi untuk mengakali prosedur yang kaku ataupun
aturan-aturan yang sifatnya birokratis.
10. Promosikan dan berikan ganjaran (reward) bagi karyawan yang inovatif.
Andaikata aturan-aturan tersebut dipenuhi maka akan terbentuk suasana
kerja yang kondusif dan mendukung munculnya Intrapreneurship, dan
perusahaan akan memiliki suasana yang sesuai bagi perilaku

EKMA4370/MODUL 9

9. 11

Intrapreneurship. Karena itu, untuk merangsang agar gagasan baru bisa


muncul maka organisasi perlu memeriksa dan meninjau ulang falsafah
pengelolaannya. Banyak perusahaan yang pengelolaannya bertumpu pada
pemikiran yang sudah ketinggalan jaman mengenai budaya kerja sama,
teknik-teknik manajemen yang digunakan, dan sistem nilai yang dianut para
pimpinan maupun karyawannya. Para pimpinan perusahaan perlu belajar
untuk dapat hidup bersama atau memberi kesempatan terhadap para
Intrapreneur.
Organisasi bisa membantu mengubah kembali cara berpikir dan
mendorong munculnya suasana yang inovatif, yaitu dengan cara:
1. mengidentifikasikan secara dini calon-calon Intrapreneur yang
berpotensi;
2. ada dukungan dari manajemen puncak terhadap kegiatan atau gagasan
yang dimunculkan oleh para Intrapreneur;
3. mendorong munculnya variasi perbedaan maupun keteraturan antar
bagian dalam kegiatan strategis perusahaan;
4. mempromosikan Intrapreneur;
5. mengembangkan kerja sama antara Intrapreneur dan organisasi secara
keseluruhan.

Mengembangkan suasana inovatif ternyata mampu memunculkan


banyak manfaat bagi organisasi. Corak suasana yang sesuai bagi
Intrapreneurship merangsang munculnya pengembangan produk ataupun
jasa baru, sehingga mampu mendorong organisasi untuk tumbuh. Selain itu,
akan tercipta kelompok-kelompok kerja yang dapat membantu menjaga
kemampuan kompetitif perusahaan. Suasana yang kondusif bagi orang-orang
yang berprestasi membantu perusahaan untuk mampu menjaga orang-orang
yang terbaik agar tidak tertarik untuk meninggalkan perusahaan.

LATI HAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)

J elaskan pengertian intrapreneurship!


J elaskan manfaat intrapreneurship!
Jelaskan berbagai hambatan dalam pengembangan intrapreneurship!

9.12

KEWIRAUSAHAAN

Petunjuk Jawaban Latihan

1)
2)
3)

Coba baca kembali uraian tentang definisi intrapreneurship.


Coba pelajari kembali uraian tentang manfaat intrapreneurship.
Pelajari bahasan tentang hambatan dalam implementasi
preneurship.

intra-

RANGKUMAN----------------------------------------

Intrapreneurship bisa ditafsirkan sebagai usaha untuk meningkatkan


kembali kemampuan organisasi atau perusahaan untuk memiliki
keterampilan ataupun kemampuan inovatif. Shaker A. Zahra
menyebutkan bahwa intrapreneurship dimaksudkan untuk menciptakan
usaha baru dalam sebuah organisasi atau perusahaan yang sudah mapan,
melalui inovasi produk, proses, maupun pengembangan pasar. Kegiatan
semacam ini bisa dilakukan atau dikembangkan pada tingkat organisasi
atau perusahaan secara keseluruhan, divisi, fungsi, ataupun proyek
tertentu, dengan tujuan bersama yaitu memperbaiki posisi organisasi
atau perusahaan dalam persaingan ataupun untuk memperbaiki kinerja
finansial organisasi atau perusahaan tersebut. Dari berbagai definisi
mengenai intrapreneurship dapat ditarik kesimpulan bahwa
intrapreneurship bisa didefinisikan sebagai suatu proses, di mana
seseorang atau suatu kelompok, dalam kaitan dengan sebuah organisasi
ataupun perusahaan, berusaha menciptakan organisasi yang baru datang
mendorong terjadinya pembaharuan atau inovasi dalam organisasi atau
perusahaan.
Terhambatnya Intrapreneurship dalam suatu organisasi biasanya
menunjukkan tidak efektifnya gaya manajemen tradisional untuk
digunakan dalam pengembangan usaha baru. Walaupun sering kali
terjadi tanpa disengaja, dampak gaya manajemen tradisional sering kali
sedemikian buruknya sehingga anggota organisasi cenderung tidak
berminat untuk menjadi intrapreneur.
Terdapat beberapa aspek yang bisa merangsang munculnya inovasi,
yaitu
1. suasana dan visi;
2. orientasi terhadap Pasar;
3. organisasi berukuran kecil dan mendatar (flat);
4. pendekatan dari berbagai arab;
5. pembelajaran interaktif;
6. kelompok Non-Formal.

9.13

e EKMA4370/MODUL 9

T E S

F' 0 R MAT I F'

1_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1)

Usaha menumbuhkan, mengembangkan, dan mengimplementasikan


gagasan ataupun perilaku baru dalam suatu organisasi disebut ....
A. enterpreneurship
B. intrapreneurship
C. inovationship
D. inovator

2) Dalam perusahaan, kegiatan intrapreneurship bisa dilakukan pada


tingkat ....
A. divisi saja
B. fungsi tertentu
C. seluruh bagian dalam organisasi
D. unit kerj a tertentu
3)

Salah satu hambatan dalam menerapkan intrapreneurship adalah ....


A. gaya manajemen tradisional
B. serikat pekerj a
C. stockholder
D. karyawan

4)

Kebutuhan terhadap Intrapreneurs hip ini muncul sebagai reaksi atas ....
A. adanya berbagai tekanan yang dialami perusahaan
B. perintah CEO
C. desakan pemerintah
D. keinginan karyawan

5)

Jika perusahaan menerapkan manajemen tradisional di mana


pemimpinnya memaksakan prosedur standar untuk menghindari
terj adinya kesalahan, maka solusi yang diusulkan agar tercipta
intrapreneurship adalah ....
A. sasaran dilengkapi dengan milestone yang setiap tahap selalu
diperiksa kesesuaiannya
B. usaha difokuskan pada masalah yang rawan (misalnya pangsa pasar)
C. menggunakan langkah-langkah kecil, bertahap, sesuai kebutuhan
D. dibuat aturan yang spesifik untuk setiap jenis situasi

9.14

KEWIRAUSAHAAN

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Jumlah Jawaban yang Benar

Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%


Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.

9.15

EKMA4370/MODUL 9

KEGIATAN

BELAL.JAR

El emen-el em en yang Terl i bat dal am


Pengembangan Strategi lntrapreneurship
eringkali ethos awal perusahaan perlu berubah secara drastis apabila
perusahaan tersebut mencoba mengembangkan strategi Intrapreneurship.
Kebanyakan orang yang tidak terbiasa bekerja dalam suasana Intrapreneur
terpaksa berhenti, sementara yang tersisa akan menemukan sebuah sistem
kerja yang mendorong munculnya kreativitas, kecerdikan, keberanian
menanggung risiko, pola kerja dalam tim, dan pemanfaatan jejaring secara
informal, yang seluruhnya dimaksudkan untuk membuat organisasi menjadi
lebih tangguh. Sebagian orang bisa berkembang dengan baik dalam suasana
kerja semacam ini.

A. BEBERAPA PERTIMBANGAN AGAR TERBENTUK SUASANA


INTRAPRENEUR
Dalam merekayasa ulang perusahaan agar terbentuk suasana
Intrapreneur, perlu dipertimbangkan beberapa hal berikut.
1. Perusahaan yang mampu mendorong pertumbuhan karyawannya akan
menjadi perusahaan yang mampu menarik orang-orang terbaik.
2. Tantangan masa depan membuat para manajer perlu berperan sebagai
pelatih, guru, dan sekaligus pembimbing.
3. Karyawan terbaik layak diikutkan menjadi pemilik perusahaan, dan
perusahaan yang baik akan memberikan peluang tersebut melalui bonus,
pembagian keuntungan, saham, bahkan kepemilikan.
4. Gaya manajemen otoriter akan berubah menjadi manajemen jejaring
(network) yang bertumpu pada koordinasi horizontal dan adanya
dukungan bagi setiap karyawan dalam memanfaatkan sejaringnya.
5. Perusahaan dengan suasana Intrapreneurship mengizinkan karyawan
memperoleh kepuasan karena bisa merealisasikan gagasan mereka tanpa
risiko dipecat.
6. Perusahaan besar perlu belajar dari usaha kecil cara untuk menjadi
fleksibel, menjadi inovatif, dan mampu menumbuhkan semangat
karyawan.

9.16

KEWIRAUSAHAAN

Empat langkah penting dalam mengembangkan strategi Intrapreneurship


adalah (1) mengembangkan visi Intrapreneurship, (2) merangsang
munculnya inovasi, (3) menggunakan struktur yang sesuai dengan suasana
Intrapreneurship, dan (4) pembentukan venture team, yaitu kelompok kecil
karyawan yang ditugasi memunculkan inovasi.

B. PENGEMBANGAN VISI INTRAPRENEURSHIP


Langkah pertama dalam mengembangkan strategi Intrapreneurship
adalah menyebarkan visi inovatif dalam organisasi. Suasana Intrapreneurship
diharapkan muncul dari bakat kreatif para anggota organisasi dan
pemahaman karyawan terhadap visi Intrapreneurship tersebut. Visi bersama
ini menuntut adanya pemahaman yang jelas mengenai sasaran dari strategi
Intrapreneurship, dan juga program-program yang diperlukan untuk
mencapai sasaran tersebut.
Rosabeth Moss kanter mengusulkan 3 jenis sasaran utama dan program
apabila hendak dikembangkan strategi Intrapreneurship dalam suatu
organisasi, yaitu seperti yang ditunjukkan pada Tabel 9.2 berikut ini.
Tabel 9.2
Ti ga Jeni s S:tsaran dan Program dal am Pengembangan S: rat egi
lnt rapreneurship
SASARAN

PROGRAM

Membuat sistem kerja, struktur dan


pelaksanaan kegiatan tidak menjadi
hambatan bagi terciptanya fleksibilitas serta
tindakan cepat yang dibutuhkan untuk
meran san munculnva inovasi.
Sediakan rangsangan dan peralatan yang
diperlukan untuk kegiatan lntrapreneurship.

Kurangi birokrasi yang tidak perlu, dorong


terjadinya komunikasi antar bagian/fungsi.

Usahakan agar terjadi sinergi antar bidang


sehingga bisa ditemukan peluang yang
muncul dari kombinasi baru.

Sediakan dana ventura dalam organisasi


dan dana khusus untuk pelaksanaan
kegiatan (dana semacam ini disebut
intracapital), sediakan juga waktu khusus
untuk kegiatan lntrapreneurship.
Dorong terjadinya kegiatan bersama antar
bagian/fungsi, berikan juga kesempatan
untuk melakukan diskusi dan brainstorming
men enai a asan baru

EKMA4370/MODUL 9

9.17

C. MENDORONG MUNCULNYA INOVASI


Inovasi adalah senjata utama para entrepreneur. Karena itu, perusahaan
perlu memahami dan mengembangkan inovasi sebagai elemen utama dalam
strategi perusahaan.
Sebagian pihak menganggap munculnya inovasi tidaklah dapat
direncanakan sehingga tidak beraturan, tetapi pihak yang lain menganggap
inovasi merupakan disiplin pengetahuan atau keterampilan yang sistematis.
Kedua pandangan ini bisa benar apabila dikaitkan dengan keberadaan dua
jenis inovasi, yaitu inovasi radikal dan inovasi bertahap.
Inovasi Radikal merupakan terobosan pertama yang benar-benar berbeda
dari cara lama. Inovasi sejenis ini membutuhkan percobaan dan pandangan
yang teguh, yang sering kali tidak diakomodasikan dengan baik oleh
perusahaan, tetapi sesungguhnya perlu ditemukan keberadaannya dalam
organisasi dan juga perlu ditumbuhkan.
Inovasi Bertahap muncul dari evaluasi yang sistematis terhadap produk
atau jasa yang dimiliki agar mampu memasuki pasar yang lebih luas ataupun
pasar yang baru. Struktur organisasi, pemasaran, aspek keuangan, maupun
sistem formal perusahaan bisa membantu terjadinya inovasi bertahap.
Seorang pimpinan perusahaan besar menyatakan bahwa organisasi yang ia
pimpin berusaha mengerjakan sesuatu hanya 1 persen lebih baik dari cara
sebelumnya.
Inovasi Bertahap sering kali merupakan kelanjutan dari Inovasi Radikal,
2
seperti ditunjukkan pada Gambar 9.1 berikut ini

Kuratko, hal. 63

9.18

KEWIRAUSAHAAN

l?i'Qd'll~ ~ ~J
I [II

wrtg 5 tlllaYD1 ,~rcatJis


~rt! tam fES.C2 ll!! l ~
Jmt;nmn}1ifAmUir u~!3

P'~1t}J~ ~ Vai1~ ptltiL

,., ~?J~ ~~~ ~n1nt~H 11m 1~i"m~ari

.,.

ti~U ~ illb.it~

~------------------~L~~c
' -.

-~~a 1a KGJJ

\,~f~if,,.m!1' ~mi ., ~r p~mne


1
...)~~e''~~W1 1~ll-.u,"_U~h rJ\Ptf.#A,~,
'~------------------~

.-,

'2'roztHIO

l i9Sf

~ ~~f.G

?ermrnJl){jfiSJl
:~~

Ola llSUi

II ]Q[JS I!l

mma1

mamao1

IOOmtftl
IJI1JLQ1

nJ{fnr!U.f

til!i.t"tt9

IMUt

..

H ~

Gambar 9. 1.
lnovasi Radikal dan lnovasi Bertahap

Kedua jenis inovasi ini membutuhkan cara pandang dan dukungan


tertentu yang berbeda seperti ditunjukkan pada Tabel 9.3. Akan tetapi kedua
jenis inovasi tersebut membutuhkan keberadaan "champion", yaitu seseorang
yang memiliki visi atau pandangan tertentu dan kemampuan untuk
membagikan visi tersebut kepada pihak lain. Kedua jenis inovasi ini juga
membutuhkan adanya dukungan dari manajemen puncak, yakni usaha dari
pimpinan puncak untuk mengembangkan dan mendidik karyawan mengenai
inovasi dan Intrapreneurship. Mendorong munculnya inovasi membutuhkan
kesediaan untuk memberikan toleransi terhadap kegagalan dan juga
kesediaan untuk belaj ar dari kegagalan tersebut. Sebagai contoh, salah satu
pendiri 3M, Francis G. Oakie mencetuskan gagasan untuk mengganti pisau
cukur dengan ampelas karena ia yakin bahwa pria lebih suka menggosok
wajah dengan ampelas dibanding menggunakan pisau cukur. Gagasan itu
ternyata keliru, tetapi gagasan yang gagal itu selanjutnya dikembangkan
menjadi ampelas anti air untuk industri otomotif yang kemudian ternyata
sangat sukses.
Seperti itu proses terwujudnya falsafah 3M: inovasi bisa lahir jika
perusahaan memiliki toleransi terhadap kegagalan. Falsafah ini yang
membuat 3M menjadi sukses dan memiliki 60.000 jenis produk.

9.19

EKMA4370/MODUL 9

Tabel 9. 3.
Cara Pandang dan Dukungan Terhadap lnovasi

INOVASI RADIKAL
dirangsang melalui tantangan dan
permasalahan
apabila memungkinkan, hilangkan
hambatan anggaran dan jadwal
dorong pendidikan teknis dan ekspose
terhadap klien
sediakan jadwal pertemuan untuk
berbagi pengetahuan dan keterampi Ian
teknis dan brainstorming
kembangkan
perhatian
terhadap
karyawan secara individual dan
hubungan saling percaya
dorong munculnya pujian dari pihak luar
sediakan dana yang penggunaannya
fleksibel
untuk
membiayai
pengembangan gagasan
rangsangan berupa kebebasan dana
untuk :>ro 'ek baru

INOVASI BERTAHAP
tetapkan sasaran dan jadwal
dirangsang melalui tekanan kompetitif
dorong pendidikan teknis dan ekspose
terhadap klien
sediakan rapat mingguan yang juga
melibatkan pimpinan utama dan staf
pemasaran
delegasikan tanggung jawab yang lebih
besar
tentukan rangsangan finansial yang jelas
untuk pencapaian sasaran maupun untuk
pemenuhan jadwal

3M mengembangkan serangkaian aturan inovatif yang berhasil


mendorong karyawannya untuk mengembangkan gagasan, sebagai berikut.

1.

Tidak "membunuh" proyek


Jika sebuah gagasan tidak sesuai dengan bagian manapun di 3M maka
seorang karyawan akan diizinkan untuk menggunakan 15% waktu kerjanya
untuk membuktikan bahwa gagasan tersebut sebenarnya layak dilaksanakan,
dan apabila membutuhkan dana akan disediakan oleh perusahaan.
2.

Toleransi terhadap kegagalan


Mengizinkan banyak percobaan dilakukan walaupun dengan risiko
gagal, membuat peluang untuk menciptakan produk baru menjadi lebih besar.
Misalnya, penjualan produk baru ditargetkan untuk mencapai 25% dari
omset total.

9.2Q

KEWIRAUSAHAAN

3.

Perusahaan tetap berukuran kecil


Pimpinan bagian diharuskan mengenal nama seluruh karyawan atau
bawahan di bagiannya. Bagian perusahaan yang sudah terlalu besar dipecah.

4.

Penemu gagasan barn dimotivasi


Sebagai contoh, karyawan 3M yang menggagas produk baru diberi
kesempatan untuk memilih sendiri anggota tim untuk mengembangkan
gagasannya. Gaji dan juga promosi dikaitkan dengan tahapan kemajuan
pengembangan produk. Penggagas produk diberi peluang untuk memimpin
kelompok produk atau divisi yang mengerjakan produk tersebut.

5.

Hubungan erat dengan konsumen


Penggagas produk, staf pemasaran, maupun para manajer diharuskan
mengunjungi konsumen, dan secara rutin mengundang konsumen untuk
memberikan komentar terhadap gagasan produk.

6.

Kemajuan atau kekayaan yang dihasilkan menjadi milik semua


orang dalam organisasi
Produk baru atau gagasan inovatif yang muncul selanjutnya menjadi
milik organisasi, walaupun diberikan perhatian khusus kepada penggagasnya.

D. STRUKTUR YANG SESUAI BAGI IKLIM INTRAPRENEURSHIP


Langkah paling akhir dan paling kritis adalah mengembangkan suasana
inovatif dalam organisasi sehingga memberikan peluang bagi gagasan baru
untuk berkembang. Suasana inovatif ini akan meningkatkan potensi
karyawan untuk menjadi pengembang gagasan inovatif bagi perusahaan.
Untuk merangsang agar karyawan menjadi sumber gagasan inovatif bagi
perusahaan, perlu dikembangkan berbagai kegiatan yang sifatnya
memperkaya pengetahuan dan juga menyebarkan informasi. Iklim organisasi
juga perlu diusahakan agar mampu membuat karyawan inovatif bisa
berkembang potensinya semaksimal mungkin. Persepsi karyawan bahwa
iklim organisasi memang mendorong munculnya inovasi memang sangat
penting. Karena itu, perlu ditunjukkan bahwa manajemen memang memiliki
komitmen untuk mendukung karyawan maupun kegiatan bersifat inovatif
dalam organisasi.

EKMA4370/MODUL 9

9.21

Model yang dikembangkan oleh Deborah V. Brazael menjelaskan


3
pengaruh iklim organisasi terhadap berkembangnya Intrapreneurship .
Model ini mendefinisikan Intrapreneurship sebagai proses internal yang
mendukung pertumbuhan organisasi melalui pengembangan produk,
kegiatan, dan teknologi inovatif, dan perlu dilembagakan agar dapat
bermanfaat dalamjangka panjang.
Model ini menunjukkan bahwa organisasi dapat mendorong
karyawannya untuk mengembangkan inovasi perlu diatur secara cermat
kombinasi sikap dan sistern nilai indi vidu serta kecenderungan perilakunya
terhadap faktor-faktor organisasi, yakni struktur dan sistem imbalan. Sasaran
kombinasi ini adalah meningkatkan kemampuan inovatif perusahaan dengan
cara mengembangkan corak lingkungan kerja yang mendukung agar
karyawan menjadi inovatif.
Program pelatihan untuk merangsang munculnya Intrapreneurship perlu
diusahakan agar mendorong munculnya perubahan iklim kerja, yaitu dengan
menumbuhkan kesadaran karyawan bahwa terdapat peluang Intrapreneurship
dalam organisasi, melalui materi berikut ini.

1.

Pengantar

Tinjauan terhadap konsep-konsep perilaku, definisi Intrapreneurship dan


konsep-konsep yang terkait.

2.

Kreativitas

Berbagai latihan kreativitas untuk mengembangkan atau memperkaya


kreativitas peserta.

3.

Intrapreneurship
Tinjauan terhadap berbagai bacaan mengenai Intrapreneurship dan
analisis yang mendalam terhadap beberapa organisasi bersifat Intrapreneur.

4.

Inventarisasi Budaya

Inventarisasi
budaya
kelompok
peserta
dilakukan
untuk
mengembangkan diskusi tentang faktor-faktor pendorong dan penghambat
terhadap perubahan dalam organisasi.

Kuratko, hal 65.

9.22

KEWIRAUSAHAAN

Business Plan
Penjelasan mengenai proses perumusan Business Plan secara lengkap
disertai dengan contoh sebuah business plan yang lengkap.

5.

6.

Rencana Tindakan
Peserta kemudian dikelompokkan untuk merumuskan Rencana Tindakan
(Action Plan) untuk mengusahakan terjadinya perubahan di tempat kerja
masing-masing dan dimaksudkan untuk merangsang tumbuhnya
Intrapreneurs hip.
Untuk memeriksa efektivitas program pelatihan tersebut disarankan
untuk mengukur iklim Intrapreneurship organisasi melalui dimensi-dimensi
berikut.
a. Dukungan Manajemen
Besarnya dukungan manajemen diukur melalui kecepatan organisasi
mengadopsi gagasan karyawan, mengenali karyawan yang menjadi
penggagas inovasi, dukungan terhadap kegiatan untuk mencoba gagasan,
dan ketersediaan dana untuk menjalankan kegiatan.
b. Kebebasan dalam melaksanakan kegiatan
Kebebasan karyawan untuk menetapkan cara kerja yang hendak
digunakan dalam melaksanakan tugas, yaitu cara yang dianggap oleh
karyawan merupakan cara yang paling efektif. Organisasi perlu
memberikan kebebasan kepada karyawan untuk menetapkan cara
melaksanakan pekerjaan dan tidak melontarkan kritik apabila cara yang
dipilih ternyata salah.
c. lmbalan dan dukungan
Sistem imbalan dan dukungan dapat mendorong anggota organisasi
untuk memiliki perilaku inovatif. Organisasi perlu memiliki sistem
imbalan yang bergantung pada kinerja, memberikan tantangan,
memperbesar tanggung jawab, dan membuat gagasan seseorang
diketahui oleh seluruh anggota organisasi.
d. Ketersediaan waktu
Munculnya gagasan baru yang inovatif menuntut ketersediaan waktu
anggota organisasi untuk mengembangkan gagasannya. Organisasi perlu
meringankan beban kerja anggotanya dan menghindarkan munculnya
keterbatasan waktu dalam menjalankan tugas.

e.

EKMA4370/MODUL 9

9.23

Batas-batas Organisasi
Adanya batas-batas dalam organisasi, baik secara nyata maupun tidak
nyata, akan menghambat anggota organisasi untuk melihat permasalahan
di luar tugasnya. Organisasi perlu mendorong karyawan untuk melihat
organisasi melalui perspektif yang lebih luas. Perlu dihindari keberadaan
Standard Operating Procedure untuk sebagian besar tugas, ura1an
jabatan yang sempit, serta standar kinerja yang sifatnya baku.

Telah dibuktikan bahwa susunan faktor-faktor internal semacam ini yang


diperlukan apabila organisasi mencoba mengembangkan strategi
Intrapreneurs hip.
Peneliti Intrapreneurship yang lain, Vijay Sathe, mengusulkan sejumlah
bidang yang perlu mendapat perhatian apabila diinginkan munculnya
perilaku Intrapreneur dalam sebuah organisasi:
Pertama, organisasi perlu merangsang, tetapi bukan mewajibkan,
munculnya kegiatan bersifat Intrapreneurship. Pimpinan lebih baik
memanfaatkan imbalan finansial dan penghargaan daripada menggunakan
aturan atau prosedur yang ketat untuk mendorong munculnya sifat
Intrapreneur di kalangan anggota organisasi.
Kedua, dalam kebijakan pengelolaan karyawan perlu diusahakan agar
para manajer menempati suatu posisi dalam waktu yang cukup lama sehingga
mampu memahami bidangnya dengan baik. Sathe menyarankan agar rotasi
karyawan dilakukan pada berbagai bidang yang berbeda tetapi masih
bertalian satu dengan lainnya. Rotasi seperti ini membantu karyawan
memiliki pengetahuan yang memadai untuk mengembangkan gagasan baru.
Ketiga, manajemen perlu memelihara dukungannya terhadap proyek
Intrapreneurship dalam waktu yang cukup lama, sehingga momentum bisa
terbentuk. Kegagalan bisa saja terjadi tetapi sebaiknya dimanfaatkan sebagai
proses belajar.
Keempat, Sathe berpendapat bahwa organisasi perlu mengandalkan
orang dan bukan semata-mata bertumpu pada analisis. Analisis memang
dibutuhkan untuk mengevaluasi kemajuan kegiatan, dan perlu dilaksanakan
dengan warna mendukung bukan dalam konotasi menghukum atau
mencurigai. Konotasi mendukung akan membuat para Intrapreneur
menyadari kesalahan, menguji kembali gagasan mereka, dan mengevaluasi
dirinya sendiri

9.24

KEWIRAUSAHAAN

Perlu ditambahkan bahwa belum ada kata sepakat mengenai imbalan


yang tepat bagi para Intrapreneur. Sebagian pihak menganggap bahwa
mengizinkan pencetus gagasan sebagai pimpinan kegiatan pengembangannya
merupakan tindakan terbaik. Pihak lain justru menganggap bahwa yang
terbaik adalah dengan memberikan lebih banyak waktu bagi pencetus
gagasan untuk menekuni gagasan-gagasan berikutnya. Pendapat lain
menonjolkan pentingnya dana khusus (yang disebut Intracapital) yang bisa
digunakan oleh para Intrapreneur untuk membiayai gagasan atau kegiatan
berikutnya.
Kesimpulannya, struktur organisasi perlu diubah apabila diinginkan
kegiatan Intrapreneur tumbuh dan mampu berkembang dalam suatu
organisasi. Proses perubahan ini terdiri dari serangkaian tindakan untuk
mengubah karyawan, sasaran, dan juga jenis kebutuhan. Organisasi dapat
mendorong munculnya inovasi dengan mengendurkan pengendalian dan
mengubah struktur birokrasi yang tradisional.

E. MENGEMBANGKAN TIM INOVASI

Pada tahun 1990-an Tim Inovasi dianggap sebagai suatu terobosan


produktivitas dan menjadi sangat populer. Perusahaan-perusahaan yang
menggunakan Tim Inovasi sering menganggap perubahan yang mereka alami
sebagai transformasi, bahkan revolusi. Tim kerja baru semacam ini dianggap
sebagai strategi baru untuk banyak perusahaan dan dianggap tim yang
mampu mengarahkan dan mengendalikan diri sendiri dengan kinerja yang
tinggi.
Robert Reich menemukan bahwa dalam perusahaan bersifat
entrepreneur Intrapreneurship bukan hanya dilakukan oleh pemilik ataupun
para pimpinannya, tetapi terj adi di seluruh bagian perusahaan pada saat
perusahaan mencari cara baru yang lebih baik melalui pengetahuan yang
telah dikumpulkan oleh para karyawannya. Kondisi seperti itu dinamakannya
entrepreneurship kolektif dan didefinisikan sebagai berikut.
Dalam entrepreneurship kolektif keterampilan individu diintegrasikan
dalam kelompok sehingga kapasitas kelompok untuk mengembangkan
inovasi menjadi lebih besar daripada jumlah kapasitas komponenkomponennya. Lama kelamaan, melalui pemecahan berbagai permasalahan
4

Tim Inovasi ini dinamakan sebagai "Venture Team"

EKMA4370/MODUL 9

9.25

dan berbagai kebersamaan anggota kelompok saling belajar kemampuan.


Mereka belajar untuk saling membantu agar bisa bekerja lebih baik,
memahami apa yang bisa disumbangkan setiap orang terhadap setiap
kegiatan, dan bagaimana memanfaatkan dengan sebaik-baiknya berbagai
jenis keahlian yang terdapat dalam kelompok. Tiap anggota kelompok selalu
mencoba mencari penyesuaian-penyesuaian kecil yang bisa mempercepat
dan memperlancar evolusi organisasi secara keseluruhan. Hasilnya
berpengaruh terhadap keseluruhan organisasi dan dimaksudkan untuk
membuat perusahaan menjadi maju.
Entrepreneurship kolektif memberikan peluang kepada perusahaan
untuk menggunakan bakat individual karyawan yang digunakan secara
berkelompok.
Sebuah Tim Inovasi yang terdiri dari 2 orang atau lebih secara formal
menciptakan dan berbagi kepemilikan sebuah unit organisasi baru. Unit ini
bersifat semi-otonom karena memiliki anggaran, pimpinan sendiri dan bebas
memilih keputusan asalkan masih sejalan dengan strategi besar perusahaan.
Unit ini terpisah dari unit-unit lain dalam organisasi, terutama dari unit-unit
yang menjalankan kegiatan sehari-hari. Keterpisahan ini menyebabkan
kegiatan unit tersebut tidak terhambat sehingga juga menghambat munculnya
inovasi. Apabila kegiatan unit ini berhasil, hasilnya kemudian diintegrasikan
dalam kegiatan organisasi secara keseluruhan.
Dengan demikian Tim Inovasi seakan-akan merupakan sebuah usaha
ukuran kecil yang beroperasi dalam sebuah organisasi yang lebih besar, yang
kegiatannya terutama difokuskan pada permasalahan desain (menyangkut
struktur maupun proses) bersifat inovatif.
Strategi inovasi pada tiap perusahaan saling berbeda tetapi seluruhnya
memiliki pola yang sama yaitu mengusahakan perubahan secara proaktif dari
bentuk status quo dan merumuskan pendekatan fleksibel yang baru dalam
manaJemen operas1.

F. PROSES INTERAKTIF INTRAPRENEURSHIP


Intrapreneur tidak harus penemu produk atau jasa baru, tetapi orang
yang mengubah gagasan atau prototipe menjadi produk atau jasa secara nyata
dan menguntungkan. Intrapreneur merupakan orang di belakang munculnya
suatu jenis produk atau jasa. Intrapreneur mengembangkan tim yang
memiliki komitmen serta dorongan yang kuat untuk melihat gagasan mereka

9.26

KEWIRAUSAHAAN

akhirnya menjadi suatu kenyataan. Dan, mungkin paling mengherankan, para


Intrapreneur ini biasanya terdiri dari karyawan yang tingkat kecerdasannya
rata-rata atau sedikit saja di atas rata-rata, dan bukan para jenius.
Kebanyakan Intrapreneur memulai dari gagasan, berwujud impian
(vision) sehingga sering dianggap sebagai pemimpi di siang bolong. Pada
tahap bermimpi ini Intrapreneur memikirkan gagasannya hingga menjadi
buah. Berbagai cara dipikirkan, dipertimbangkan, berbagai kemungkinan
hambatan maupun keterbatasan dipikirkan. Pada saat gagasan mobil Pontiac
Fiero yang terkenal muncul, penciptanya tidak yakin seperti apa bentuk
mobil itu nantinya. Karena itu ia membangun model (mock up) ruang
penumpang dari kayu. Kemudian ia duduk dalam model itu dan
membayangkan apa yang akan ia rasakan pada saat mengendarai mobil itu
nantinya. Ia mengembangkan dan menyempurnakan produk akhir dari
gagasan awalnya.
Di awal, Intrapreneur mungkin ahli di suatu bidang, seperti bidang
Pemasaran atau bidang Produksi, tetapi begitu proses Intrapreneurship
bergulir ia mulai mempelajari keseluruhan aspek dari proyeknya.
Intrapreneur segera berubah menjadi generalis yang memiliki berbagai jenis
keterampilan.
Intrapreneur sering dideskripsikan sebagai pemimpin yang juga berbuat.
Mereka cenderung bertindak, mampu bergerak dengan cepat untuk
menyelesaikan sesuatu. Intrapreneur berorientasi pada sasaran, dan bersedia
mengerjakan apapun agar tujuannya tercapai. Intrapreneur merupakan
gabungan pemikir, perencana, pelaksana, dan pekerja. Mereka
menggabungkan impian dan tindakan, dan memiliki dedikasi maksimal
terhadap gagasannya. Karena itu, Intrapreneur sering mengharapkan hal
yang mungkin dari dirinya sendiri. Mereka tidak pernah menganggap
kemunduran sebagai sesuatu yang besar. Intrapreneur menetapkan sendiri
sasarannya dan sering mengorbankan diri melebihi kewajibannya dalam
usaha untuk mencapai sasaran tersebut.
Intrapreneur seakan-akan mengikuti "sepuluh perintah" berikut.
1. Setiap hari bekerj a dengan perasaan "siap untuk diberhentikan".
2. Mencoba mengakali semua peraturan perusahaan yang mungkin
menghambat pencapaian mimpinya.
3. Bersedia mengerjakan apapun asalkan usahanya bisa berjalan, seperti
apapun tanggung jawab yang harus dipikul dan juga tugasnya.

EKMA4370/MODUL 9

9.27

4.

Memiliki hubungan dengan orang-orang yang tepat, yaitu orang-orang


yang mampu memberikan bantuan.
5. Membentuk kelompok kerja yang bersemangat, dan memilih bekerja
hanya dengan orang-orang yang terbaik.
6. Bekerja diam-diam, seakan "di bawah tanah" selama mungkin. Bekerja
secara terbuka akan memicu bergulirnya aturan perusahaan yang sifatnya
menghambat.
7. Selalu loyal dan jujur terhadap pihak yang mensponsori maupun yang
mendukung.
8. Selalu ingat bahwa lebih mudah meminta maaf dibanding meminta izin.
9. Setia terhadap sasaran yang hendak dicapai, tetapi bersikap realistis
dalam usaha mencapai sasaran.
10. Menjaga agar cita-cita atau mimpinya tetap kuat.
Menghadapi kegagalan ataupun kemunduran, Intrapreneur selalu
bersikap optimis. Mula-mula mereka akan mengaku gagal. Mereka
menganggap kegagalan sebagai kemunduran bersifat sementara yang perlu
dihadapi dan dipelajari, dan bukan merupakan alasan untuk berhenti
berusaha. Mereka juga menganggap bahwa nasib mereka tergantung pada
tanggung jawab mereka sendiri. Intrapreneur tidak mencari "kambing hitam"
apabila mengalami kegagalan, tetapi berusaha mempelajari cara yang lebih
baik. Melalui pikiran yang obyektif dalam menghadapi kegagalan ataupun
hambatan, Intrapreneur akan belajar untuk menghindari kesalahan yang
sama yang sudah pernah mereka lakukan. Ini akan membantu Intrapreneur
berhasil.

G. MITOS MEN GENAl INTRAPRENEURSHIP


Banyak kesamaan antara Entrepreneur dengan Intrapreneur sehingga
mitos yang muncul mengenai Entrepreneur juga sering terjadi pada
Intrapreneur. Berbagai mitos ini banyak berpengaruh terhadap pandangan
ternan sejawat maupun para atasan mengenai Intrapreneur.

Mitos 1:
Motivasi utama para Intrapreneur adalah uang.
Fakta menunjukkan bahwa motivasi utama para Intrapreneur adalah
proses inovasi. Kebebasan dan kemampuan berinovasi merupakan
penggerak utama Intrapreneur, uang hanyalah alat atau lambang
keberhasilan.

9.28

KEWIRAUSAHAAN

Mitos 2:
Intrapreneur senang mengambil risiko, mereka penjudi yang suka
bertaruh besar.
Fakta menunjukkan bahwa Intrapreneur lebih tepat dikatakan sebagai
pengambil risiko yang moderat. Memiliki keinginan yang kuat untuk
mencapai tujuannya sehingga lebih menyenangi risiko yang kecil,
terhitung, dan bisa dipahami melalui analisis.
Mitos 3:
Intrapreneur memiliki keterampilan ana/isis yang memadai, sehingga
cenderung untung-untungan dan pada umumnya bertumpu pada
kemujuran.
Faktanya, Intrapreneur ternyata sangat analitis, walaupun terlihat
seakan-akan
bertindak
untung-untungan.
Sebenarnya
mereka
mempersiapkan diri dengan baik, paham tentang inovasi dan mampu
membaca kebutuhan pasar dengan baik.
Mitos 4:
Karena kuatnya dorongan untuk sukses, maka Intrapreneur biasanya
kurang bermoral dan kurang etis, sehingga tidak peduli seperti apa cara
yang digunakan selama bisa mengantarkan mereka menuju
keberhasilan.
Fakta menunjukkan bahwa dalam masyarakat yang kritis dan
berpendidikan, Intrapreneur perlu memegang standar moral serta etika
yang selaras dengan harapan masyarakat agar bisa bertahan hidup.
Mitos 5:
Intrapreneur gemar menumpuk kekuatan (power) dan ingin membangun
kerajaan sendiri.
Fakta menunjukkan bahwa perusahaan bersifat Intrapreneur biasanya
berukuran kecil dan sifatnya konservatif. Mereka lebih tertarik pada
keuntungan dan pertumbuhan dibanding membangun "kerajaan".
Tumpuan perhatian mereka lebih pada mengerjakan sesuatu dengan
benar daripada mengerjakan sesuatu secara besar-besaran.

Pada Tabel 9.4 berikut ini dicoba membandingkan karakteristik dan


keterampilan Intrapreneur terhadap manajer tradisional maupun
entrepreneur.

9.29

EKMA4370/ MODUL 9

Tabel 9.4.
Karakteristik fvlanajer Tradisional, Entrepreneur, dan Intrapreneur
MANAJER
TRADISIONAL

ENTREPRENEUR

INTRAPRENEUR

Menginginkan promosi
dan imbalan tradisional
(yang biasa).

lngin bebas, orientasi pada


sasaran, percaya diri, dan
memotivasi diri sendiri.

Dipengaruhi
jadwal
anggaran, perencanaan
mingguan, bulanan, triwulan, tahunan dan terhadap jadwal promosi
berikutnya
Mendelegasikan
tindakan, kebanyakan
tenaga digunakan untuk
melaporkan dan super-

Menggunakan
sasaran
pertumbuhan 5 - 10 tahun
sebagai acuan, kemajuan
bertahap.

lngin bebas dan memiliki


akses terhadap berbagai
sumber organisasi, percaya
diri, memotivasi diri sendiri
tetapi juga dipengaruhi
imbalan serta pengakuan
perusahaan.
Sasaran 3 - 15 tahun,
tergantung jenis usaha,
berusaha mematuhi jadwal
perusahaan maupun yang
ditetapkan sendiri.

KARAKTERISTIK

Motif utama

Orientasi Waktu

Kecenderungan
pola bertindak

Bersedia
mengerjakan
sendiri tugas sehingga
bawahan merasa terganggu

VIS I.

Keterampilan

Sikap terhadap
Keberanian dan
Nasib

Fokus Perhatian

Manajemen
profesional,
sering
lulusan sekolah bisnis,
menggunakan
alat
analisis yang abstrak,
manajemen SDM dan
keterampilan bermain
politik.
Menganggap nasibnya
ditentukan pihak lain,
bisa sangat berambisi
dan keras, tapi bisa
juga takut kepada ke:)emimoinan :)ihak lain.
Terutama terhadap halhal yang terjadi dalam
perusahaan.

Terutama terhadap teknologi dan pasar

Berhati-hati

Suka risiko yang moderat,


berani berinvestasi besar
dan berharap sukses

Digunakan
untuk
membaca permintaan
dan
mengarahkan
konsep perancangan
:)roduk.

Menciptakan kebutuhan,
produk sering tidak dapat
dicoba melalui riset pasar,
pembeli belum paham
:)roduk, bicara den ]an

Sikap terhadap
Risiko

Penggunaan
Riset Pasar

Paham
bisnis secara
mendalam, memiliki ketajaman bisnis lebih dari
keterampilan politis ataupun manajerial, sering kali
terlatih secara teknis,
sering memegang tanggung jawab tentang untung/
rugi dalam perusahaan.
Percaya diri, optimis, dan
be rani

Bersedia
mengerjakan
sendiri,
paham
cara
mendelegasikan, tapi jika
perlu mampu mengerjakan
sendiri.
Serupa dengan Entrepreneur tapi berada dalam
situasi yang menuntut
kemampuan lebih untuk
bisa
hidup
dalam
organisasi,
memerlukan
dukungan.

Percaya
diri,
berani.
Beberapa sinis terhadap
sistem,
tapi
optimis
terhadap kemampuan diri
untuk menipu sistem.
Meyakinkan pihak dalam
perusahaan perlunya gagasannya dalam melayani
pasar, tapi di luar juga
fokus pada konsumen
Suka risiko yang moderat,
tidak
takut
dipecat,
menganggap kecil risiko
pribadi.
Melakukan sendiri riset
pasar, menggunakan intuisi
untuk mengevaluasi pasar
seperti entrepreneur.

9.30

KEWIRAUSAHAAN

MANAJER
TRADISIONAL

KARAKTERISTIK

ENTREPRENEUR

INTRAPRENEUR

konsumen untuk membentuk pandangan sendiri.

H. PROSES INTERAKTIF ANTARA INDIVIDU DENGAN


KARAKTERISTIK ORGANISASI
Proses pembentukan usaha baru merupakan interaksi dari banyak faktor,
yaitu keterkaitan antara strategi organisasi dalam mengembangkan
Intrapreneurship dengan ciri atau karakteristik Intrapreneur. Gambar 9.2.
berikut menunjukkan elemen-elemen utama yang terlibat dalam proses
interaksi tersebut. Para peneliti seperti Jeffrey S.Hornby, Douglas W.
Naffziger, Donald F. Kuratko dan Ray F. Montague menemukan bahwa
keputusan seseorang untuk bertindak sebagai Intrapreneur merupakan basil
interaksi antara karakteristik organisasi, karakteristik individu, dan beberapa
jenis peristiwa yang mendorong anggota organisasi untuk berperilaku sebagai
Intrapreneur.
Karakteristik Organisasi
Dukungan manajemen
Kebebasan dalam kerja
Penghargaan dan
dukungan
Ketersediaan waktu
Batas-batas Organisasi

Kejadian I peristiwa
yang mendorong

Ketersediaan
sumber

1---+

Keputusan
,
Business
untuk bertindak
~-+,I Plan I Studi
sebagai
Kelayakan
Intrapreneur

, lmplementasi
1--of-~1
'
gagasan

''
Karakteristik lndividu
Kecenderungan dalam
mengambil resiko
Keinginan untuk otonom
Keinginan untuk berhasil
mencapai sesuatu
Orientasi sasaran
Kebebasan mengatur diri
sendiri

Kemampuan
mengatasi
hambatan

Gambar 9.2.
5
1\Jbdel lnteraktif munculnya lntrapreneurship
5

Kuratko hal.73

e EKMA4370/MODUL 9

9.31

Shaker Zahra menemukan sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap


Intrapreneurship yang dapat digolongkan sebagai kejadian pendorong yang
mencakup faktor-faktor lingkungan seperti ancaman terhadap perusahaan
karena munculnya persaingan, dinamika atau ketidakstabilan pasar karena
terjadi perubahan, keragaman karena perkembangan pasar sehingga muncul
jenis permintaan baru terhadap produk sebuah perusahaan.
Berbagai faktor pengaruh ini tampaknya mengandung berbagai corak
perubahan lingkungan maupun perubahan organisasi yang mampu memicu
interaksi antara karakteristik individu dan karakteristik organisasi, sehingga
terjadi dorongan bagi munculnya Intrapreneurship. Contoh kejadian yang
mendorong munculnya Intrapreneurship seperti pengembangan produk baru,
merger, akuisisi, perubahan manajemen, manuver pesaing, pengembangan
teknologi baru, perubahan selera konsumen, atau perubahan kondisi
ekonomi.
Setelah gagasan Intrapreneur muncul diperlukan Business Plan yang
efektif. Walaupun Business Plan yang akurat memang diperlukan,
implementasi maupun keberhasilan gagasan Intrapreneurship bergantung
pada 2 faktor yaitu (1) apakah organisasi mampu menyediakan sumber yang
diperlukan, dan (2) apakah Intrapreneurship mampu menembus semua
hambatan organisasi maupun hambatan individu yang menghalangi gagasan
baru tersebut.

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1)
2)
3)

Sebutkan dan jelaskan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan agar


terbentuk suasana Intrapreneurs hip!
Sebutkan langkah
penting
dalam
mengembangkan
strategi
Intrapreneurs hip.
Sebutkan tiga jenis sasaran dan program dalam pengembangan strategi
Intrapreneurs hip.

9.32

KEWIRAUSAHAAN

Petunjuk Jawaban Latihan


1)
2)
3)

Pada dasarnya ada 6 aspek. Coba simak kembali bacaan tentang materi
tersebut.
Ada empat langkah. Coba baca kembali uraian tentang langkah penting
dalam mengembangkan strategi Intrapreneurship.
Coba perhatikan Tabel 9.2.

RANGKUMAN

~----------------------------------

Organisasi mengembangkan Intrapreneurship melalui berbagai cara.


Cara pertama adalah dengan memahami hambatan-hambatan yang
muncul terhadap proses Intrapreneurship, yang biasanya muncul sebagai
akibat dari benturan Intrapreneurship dengan teknik-teknik manajemen
tradisional. Cara yang lain adalah dengan mengadopsi prinsip-prinsip
inovasi yang sering kali mencakup iklim dan impian (vision), pendekatan
dari berbagai arah, proses belaj ar bersifat interaktif, dan keberanian
bekerja dengan melanggar peraturan.
Strategi intrapreneurship menyangkut perkembangan impian
(vision) dan juga pengembangan inovasi. Terdapat dua jenis inovasi,
yaitu inovasi bertahap dan inovasi yang radikal. Untuk mendukung
pengembangan inovasi perusahaan perlu pula memperhatikan faktorfaktor utama dukungan manajemen yaitu waktu, sumber, dan
penghargaan. Dukungan dan komitmen manajemen terhadap kegiatan
Intrapreneurs hip merupakan hal yang kritis.
Tim usaha baru (venture team) merupakan unit-unit semi otonom
yang secara bersama memiliki kapasitas untuk mengembangkan gagasan
baru sehingga kadang-kadang disebut tim yang mampu mengelola diri
sendiri (self-managing team) atau tim dengan kinerja yang tinggi (highperformance team). Tim usaha baru muncul sebagai tim kerja baru untuk
memperkuat perkembangan inovasi.
Intrapreneur memiliki beberapa kesamaan ciri atau karakteristik,
antara lain memiliki pandangan generalis, berorientasi terhadap tindakan,
optimis, percaya diri, ambisius dalam penetapan sasaran, berdedikasi
terhadap gagasan baru, dan kesediaan menerima kesalahan dan juga
belajar dari kesalahan.
Bagian akhir dari bab ini membahas proses interaktif yang terjadi
dalam pengembangan Intrapreneurship. Beberapa mitos mengenai
Intrapreneur juga dicoba dijelaskan. Selain itu juga dibahas peran

e EKMA4370/MODUL 9

9.33

karakteristik individu maupun karakteristik organisasi yang berpengaruh


terhadap Intrapreneurs hip.

TES

FDRMATIF 2- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!


1) Ada empat langkah penting dalam mengembangkan strategi
Intrapreneurship, di antaranya adalah menggunakan struktur ....
A. matriks
B. yang sesuai dengan suasana Intrapreneurship
C. sederhana
D. birokrasi
2)

Langkah pertama dalam mengembangkan strategi Intrapreneurship


adalah ....
A. menyebarkan visi inovatif dalam organisasi
B. menyusun visi bisnis
C. menyusun misi bisnis
D. membuat sistem kerja

3)

Jika sasaran pengembangan strategi intrapreneurship adalah membuat


sistem kerja, struktur dan pelaksanaan kegiatan tidak menjadi hambatan
bagi terciptanya fleksibilitas untuk merangsang munculnya inovasi,
maka program kerj a yang harus disusun adalah ....
A. menyediakan dana ventura
B. mendorong kegiatan bersama
C. mengurangi birokrasi yang tidak perlu
D. memberikan kesempatan berdiskusi

4)

Jenis inovasi yang membutuhkan percobaan dan pandangan yang teguh,


yang sering kali tidak diakomodasikan dengan baik oleh perusahaan,
tetapi sesungguhnya perlu ditemukan keberadaannya dalam organisasi
dan juga perlu ditumbuhkan merupakan inovasi ....
A. bertahap
B. gradual
C. ekstrim
D. radikal

9.34

5)

KEWIRAUSAHAAN

Menetapkan sasaran dan jadwal merupakan cara pandang jenis


1novas1 ....
A. bertahap
B. lamban
C. ekstrim
D. radikal

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS). Selamat! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.

9.35

EKMA4370/ MODUL 9

Kunci Jawaban Tes Format if


Tes Formatif 1

Tes Formatif2

1)
2)
3)
4)
5)

1)
2)
3)
4)
5)

c
A
A
D

B
A

c
D
A

9.36

KEWIRAUSAHAAN

Daft ar Pust aka


Boyd and Gumpert. (1985). Coping with Entrepreneurial Stress. Harvard
Business Review, Nov, Dec.
Bruce G. Whiting. (1988). Creativity and Entrepreneurship: How Do They
Relate? Journal of Creative Behavior 22, No.3.
Donald M. Dible. (1980). Small Business Success Secrets. The Entrepreneur
Press.
Doris Shallcross, Anthony M. Gawienowski. (1989). ''Top Experts Address
Issues on Creativity Gap in Higher Education. Journal of Creative
Behavior 23, No.2.
Douglas W. Naffziger, Jeffrey S. Hornsby, and Donald F. Kuratko. (1994).
"A Proposed Research Model of Entrepreneurial Motivation",
Entrepreneurship Theory and Practice. Spring.
Edward de Bono. (1970). Lateral Thinking, Creativity Step by Step. New
York: Harper & Row.
Eugene Staley, Richard Morse. (1965). Modern Small Industry for
Developing Countries. McGraw-Hill.
John J. Kao. (1991). The Entrepreneur. Englewood Cliffs, New Jersey:
Prentice-Hall.
Manfred F.R. Kets de Vries. (1985). The Dark Side of Entrepreneurship.
Harvard Business Review, Nov, Dec.
Michael Kirton. (1976). Adaptors and Innovators: A Description and
Measure. Journal of Applied Psychology, Oct.
Peter F. Drucker. (1985). Innovation and Entrepreneurship. New York,
Harper & Row.

e EKMA4370/MODUL 9

9.37

Peter R. Dickson. (1994). Marketing Management. (Fort Worth, TX), The


Dryden Press.
Peter R. Dickson. (2000). Marketing Research and Information Systems,
Marketing Best Practices. Ft. Worth, TX : Harcourt College Publishers.
Program Orientasi Industri Kecil dan Menengah di Perguruan Tinggi. (2007).
Paket 1 Pelatihan IKM untuk Wisudawan Perguruan Tinggi. Bandung:
Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen
Perindustrian Republik Indonesia dan SBHL Consulting.
S.B. Hari Lubis. (1984). Caracteristiques des Dirigeants, Degre de
Croissance et Types d'Organization Dans Les Petites Entreprises en
Indonesia. Etude de 61 Firmes Industrielles de Textile. Disertasi Doktor,
IAE Grenoble-Prancis.
Stephen W McDaniel and A. Parasuraman. (1986). "Practical Guidelines for
Small Business Marketing Research". Journal of Small Business
Management, Jan.
Thomas Monroy and Robert Folger. (1993). "A Typology of Entrepreneurial
Styles : Beyond Economic Rationality. Journal of Positive Entreprise IX,
No.2.
Timothy A. Matherly and Ronald E. Goldsmith. (1985). The Two Faces of
Creativity. Business Horizons, Sept/Oct.