Anda di halaman 1dari 6

AUDITING

Pengertian Auditing
Auditing berasal dari bahasa latin, yaitu audire yang berarti mendengar atau memperhatikan.
Mendengar dalam hal ini adalah memperhatikan dan mengamati pertanggungjawaban keuangan
yang disampaikan penanggung jawab keuangan, dalam hal ini manajemen perusahaan. Pada
perkembangan terakhir sesuai dengan perkembangan dunia usaha, pendengar tersebut dikenal
dengan auditor atau pemeriksa. Sedangkan tugas yang diemban oleh auditor tersebut disebut
dengan auditing.

Untuk

dapat

memahami

lebih

lanjut

pengertian

auditing,

maka

perlu

dikemukakan pendapat Kohler yang menyatakan sebagai berikut:


Auditing isan explorotary, critical review by a profesional account of the
underlying internal control and accounting records of a business enterprises or
other economic unit, precedent to the expression by the auditor of an opinion of
the propriety (fairness) of its financial statement.
Dari definisi diatas dapat diketahui tiga sasaran pokok pemeriksaan yaitu:

1. Pemeriksaan atas pengawasan intern


Dalam hal ini pengawasan intern meliputi pengawasan akuntansi dan pengawasan administrasi.

2. Pemeriksaan atas catatan keuangan


Catatan keuangan meliputi catatan yang memuat satuan uang seperti faktur pembelian, faktur
penjualan, bukti penerimaan uang, daftar gaji, buku harian, buku besar, buku tambahan dan lain
sebagainya.

3. Pemeriksaan atas catatan lain


Catatan lain meliputi seluruh catatan diluar catatan keuangan seperti anggaran dasar, notulen rapat,
data statistik dan sebagainya.
Selanjutnya Moenaf Regar memberikan pengertian auditing sebagai berikut:

Pemeriksaan (auditing, general audit, financial audit) adalah serangkaian


pemeriksaan kegiatan yang bebas dilakukan oleh akuntan untuk meneliti daftar
keuangan dari suatu perusahaan yang dilaksanakan menurut norma pemeriksaan
akuntan untuk dapat memberikan (atau menolak memberikan) pendapat
mengenai kewajaran dari daftar keuangan yang diperiksa.
Pendapat diatas mengandung pengertian bahwa pemeriksaan yang dilakukan oleh akuntan (auditor)
terhadap daftar keuangan perusahaan harus dilaksanakan secara bebas, tanpa adanya tekanan
dari pihak manapun dan juga dilaksanakan menurut norma pemeriksaan yang telah ditetapkan oleh
yang berwenang. Kata bebas yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu sikap yang tidak berpihak
dalam melaksanakan pemeriksaan untuk sampai kepada pemberian pendapat, baik dalam
kenyataan (in fact) maupun dalam penglihatan (in appearance). Sedangkan norma pemeriksaan
adalah suatu ukuran untuk mengetahui mutu pelaksanaan pemeriksaan.
Selanjutnya pengertian auditing dikemukakan dalam bentuk yan lebih luas oleh Arens dan James
sebagai berikut:

Auditing adalah suatu proses dengan apa seseorang yang mampu dan independen dapat
menghimpun dan mengevaluasi bukti-bukti dari keterangan yang terukur dari suatu kesatuan
ekonomi dengan tujuan untuk mempertimbangkan dan melaporkan tingkat kesesuaian dari
keterangan yang terukur tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Definisi di atas dapat dijelaskan lebih lanjut berdasarkan unsur-unsur yang dicakup sebagai berikut:
1. Pengumpulan dan penilaian bukti
Yang dimaksud dengan bukti disini adalah segala keterangan yang digunakan oleh auditor untuk
menentukan apakah keterangan atau informasi yang diperiksa tersebut sesuai dengan kriteria yang
telah ditetapkan.
2. Keahlian dan kebebasan
Seorang auditor harus mempunyai pengetahuan yang cukup agar dapat memahami kriteria-kriteria
yang digunakan dan cukup mampu atau kompoten untuk mengetahui dengan pasti jenis dan jumlah
fakta yang dibutuhkan agar pada akhir pemeriksaan ia dapat menarik kesimpulan.

Yang tepat.

Auditor juga harus memiliki sikap mental yang bebas atau

independen.
4. Satuan ekonomi tertentu
Setiap kali akan dilakukan suatu audit, ruang lingkup pertanggungjawaban auditor harus dinyatakan
secara jelas, yang terutama harus dilakukan adalah menegas satuan ekonomi yang dimaksud dan
periode waktunya.

5. Data keterangan yang terukur dan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan


Untuk mempermudah penilaian keterangan, data harus dapat dikumpulkan dengan mudah, berarti
data tersebut disusun dalam suatu sistem akuntansi. Data yang disajikan manajemen tersbut
dibandingkan dengan kriteria atau standar yang telah ditetapkan.

6. Pelaporan
Hasil akhir suatu pemeriksaan adalah menerbitkan laporan yang berisi kesimpulan dan temuan yang
didapat selama pemeriksaan berlangsung sampai selesai. Isi dan bentuk laporan biasanya
berbeda, tergantung pada maksud, tujuan dan sifat pemeriksaan yang dilakukan. Tetapi suatu
laporan harus dapat menjelaskan pada pembaca mengenai kesamaan antara informasi yang
dinyatakan dengan angka, kriteria atau ukuran yang ada,
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pemeriksaan bertujuan memberikan gambaran tentang
kesesuaian yang diperiksa berupa kegiatan, data atau bukti dengan kriteria yang ditentukan oleh
orang yang mempunyai keahlian yang bebas untuk memberikan kesimpulannya melalui alat
komunikasi yang dituangkan dalam bentuk laporan. Secara umum, tujuan pemeriksaan yang
dilakukan auditor adalah untuk meningkatkan kepercayaan (credibility) daftar keuangan yang
disajikan manajemen, dengan memberikan pendapat mengenai kelayakan dari daftar keuangan
yang disajikan tersebut.

Semoga bermanfaat.

Laporan Internal Auditor

Laporan Internal Auditor


Laporan internal auditor merupakan saran pertanggungjawaban internal auditor atas penugasan
pemeriksaan oleh pimpinan. Melalui laporan ini internal auditor akan mengungkapkan dan
menguraikan kelemahan yang terjadi dan keberhasilan yang telah dicapai.
Internal auditor dalam melakukan pemeriksaan senantiasa diikuti dengan pembuatan laporan, yang
mana hal ini adakah merupakan hasil akhir dari pekerjaannya. Laporan harus disusun, sehingga
pimpinan perusahaan dapat mengerti permasalahannya dan segera mengambil keputusan
mengenai tindakan seperlunya. Laporan ini sedapat mungkin ringkas, jelas dan lengkap. Fakta
yang dilaporkan harus menggambarkan seluruh kegiatan perusahaan yang diperiksa. Maksudnya
laporan harus objektif dan dapat dipertanggungjawabkan dengan bukti-bukti pendukung yang kuat.
Laporan ini sebaiknya dibuat tepat pada waktunya, karena laporan yang terlambat akan kurang atau
tidak bermanfaat.
Laporaninternal auditor pada dasarnya adalah merupakan laporan intern perusahaan. Bantuk
laporan ini dapat berbeda-beda dari perusahaan ke perusahaan lainnya, karena bentuk yang
standar tidak ada ditetapkan, berbeda dengan laporan yang dibuat akuntan publik. Namun laporan
pemeriksaan intern harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1.

Cermat

2.

Jelas

3.

Ringkas

4.

Tepat waktu.
Ad. 1. Cermat
Laporan secara keseluruhan haruslah berdasarkan fakta. Setiap pernyataan, angka dan referensi
harus didasarkan atas bukti-bukti yang kuat. Pemeriksa harus berusaha dengan segala upaya agar
laporannya dapat dipercaya atau diandalkan. Keandalan haruslah menjadi ciri dari laporan
permeriksa. Laporan haruslah ditulis dan didokumentasikan agar dapat dipercaya serta
menyakinkan. Apapun yang dikemukakan di dalam laporan harus cukup bukti pendukungnya.
Ad. 2. Jelas
Tujuan laporan pemeriksaan adalah agar diambil tindakan yang perlu. Oleh karen itu laporan harus
efektif. Dan agar efektif, laporan haruslah jelas. Kejelasan menyangkut banyak hal, tetapi pada
pokoknya hal ini harus disadari pemeriksa ketika ia menulis atau menyampaikan laporannya.
Pemeriksa harus memperhatikan dan menghindarkan hal-hal yang menyebabkan laporan menjadi
tidak jelas. Adapun sebab-sebab ketidakjelasan suatu laporan ialah karena:

1.

Pemeriksa tidak memahami pokok masalah yang dilaporkannya.

2.

Laporan ditulis dengan gaya bahasa yang membosankan atau ditulis secara bertele-tele.

3.

Struktur laporan jelek, gagasan-gagasan yang disajikan dengan urutan yang baik akan lebih mudah
dipahami. Kalimat-kalimat dan paragrap-paragrap yang kacau dapat menyebabkan temuan yang
penting menjadi tidak terlihat. Ide-ide atau gagasan-gagasan yang sangat diperlukan oleh
manajemen mungkin menjadi tidak terkomunikasikan.

4.

Banyak menggunakan istilah-istilah teknis dan istilah khusus yang kurang lazim.

5.

Temuan-temuan dilaporkan tanpa diuraikan latar belakangnya.


Memberikan informasi mengenai latar belakang adalah penting untuk dapat memahami suatu
proses atau keadaan atau untuk memahami berapa pentingnya sesuatu hal. Apabila pemeriksa
merekomendasikan suatu prosedur yang baru, pertama-tama ia harus menjelaskan mengenai
prosedur yang sekarang berlaku, apa kekurangan-kekurangannya, akibat-akibat apa yang mungkin
timbul jika prosedur tersebut digunakan. Dengan demikian manajemen akan lebih terbuka dan lebih
mudah diyakinkan akan perlunya melaksanakan usul-usul pemeriksa.

6.

Uraian yang panjang lebar mengenai hal yang bersifat teknis.


Ad. 3. Ringkas
Ringkas berarti membuang hal-hal yang tidak berguna atau yang berlebih-lebihan. Ringkas
bukan berarti pendek, sebab mungkin suatu pokok persoalan memerlukan uraian yang luas. Akan
tetapi ringkas berarti menghilangkan apa yang tidak relevan dan tidak material, seperti gagasangagasan, temuan-temuan, kalimat-kalimat dan sebagainya, yang tidak menunjang tema pokok
laporan.
Ad.4. Tepat waktu
Laporan resmi dibuat tidak untuk dijadikan suatu dokumen sejarah, tetapi untuk meminta dilakukan
suatu tindakan. Laporan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan manajemen akan informasi yang
mutakhir. Tujuan tersebut tidak akan tercapai apabila laporan tidak tepat waktunya.
Mengenai unsur-unsur dari suatu laporan pemeriksaan disebutkan bahwa:
Bagimanapun bentuk laporan, laporan tersebut harus memuat satu atau lebih unsur-unsur
berikut ini: suatu intisari, suatu pendahuluan atau pengantar, suatu ruang lingkup, suatu
pendapat dan temuan-temuan. Pernyataan-pernyataan mengenai temuan-temuan itu sendiri
harus memuat unsur-unsur tertentu. Unsur-unsur untuk temuan positif: wewenang, tujuan,
kondisi. Untuk temuan-temuan negatif suatu intisari, kriteria, fakta, pengaruh/akibat yang
ditimbulkan, sebab-musabab dan rekomendasi. Grafik-grafik dapat merupakan bumbu suatu
laporan dan menambah ilustrasi-ilustrasi yang diperlukan.

Selanjutnya Lianto Hidayat Susanto menguraikan berbagai informasi yang harus dicantumkan pada
laporan internal auditor sebagai berikut:
1.

Nomor laporan yang mencerminkan jenis laporan, letak arsip dan sebagainya

2.

Ditujukan kepada siapa

3.

Tanggal dibuatnya laporan

4.

Ruang lingkup pekerjaan dan jenis pekerjaan yang dilakukan

5.

Pendapat dan kesimpulan

6.

Tanda tangan internal auditor (penanggung jawab pemeriksaan)

7.

Saran jika memang ditemukan sesuatu yang telah final.

8.

Keterangan tentang lampiran

9.

Keterangan mengenai distribusi laporan

10. Keterangan mengenai tim yang terlibat.

Selanjutnya bentuk laporan internal auditor dapat dibagi atas dua bagian. Seperti yang
dikemukakan oleh JB. Heckert, sebagai berikut:
A.

Tulis (written)

1.

Tabulasi

a.

Laporan akuntansi formal

b.

Statistik

2.

Uraian/paparan singkat

3.

GrafikSuatu kombinasi dari berbagai bentuk di atas

B. Lisan (oral)
1.

Persentase formal group. Seperti penggunaan alat visual

2.

Konvensi-konvensi individu.

Banyak ragam laporan pemeriksaan, baik dalam ukuran maupun style. Tidak ada suatu bentuk
laporan yang standar. Contoh laporan pemeriksaan yang dimuat di bawah ini diambil dari organisasi
pemeriksaan yang berbeda, untuk menunjukkan adanya berbagai variasi.
Dengan adanya laporan dari internal auditor, maka pimpinan perusahaan dapat mengetahui sampai
seberapa jauh pengaruh suatu kejadian terhadap pengambilan keputusan. Disamping itu menjadi
bahan pertimbangan dalam membentuk suatu sistem yang baik agar kesalahan yang tejadi tidak
sampai terulang kembali serta dapat mencegah kemungkinan terjadinya penyelewengan di masa
yang akan datang.

Laporan hasil pemeriksaan merupakan informasi bagi pimpinan/direktur utama yang dapat
digunakan sebagai bahan untuk mengambil keputusan. Ada beberapa manfaat laporan internal
auditor bagi pimpinan antara lain:
a.

Untuk mengetahui sampai sejauh mana para pelaksana mampu melaksanakan tugas-tugasnya
dan apakah kebijaksanaan yang telah ditetapkan telah dipenuhi.

b.

Menambah keyakinan atas kebenaran data akuntansi.

c.

Memberikan keyakinan atas perlindungan yang cukup terhadap harta benda perusahaan.

d.

Untuk menilai apakah operasi perusahaan berdaya guna dan berhasil guna.

Semoga bermanfaat.