Anda di halaman 1dari 12

Antropologi adalah suatu studi ilmu yang mempelajari tentang

manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain


sebagainya. Antropologi adalah istilah kata bahasa Yunani yang berasal
dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos
memiliki arti cerita atau kata.

Kepercayaan Masyarakat

Orang Marind-anim yang berada diselatan papua juga mempunyai


konsepsi sehat dan sakit, dimana apabila seseorang itu sakit
berarti orang tersebut terkena guna guna ( Black Magic ). Mereka
juga mempunyai pandangan bahwa penyakit itu akan datang
apabila sudah tidak ada lagi keseimbangan antara lingkungan
hidup dan manusia.

Lingkungan sudah tidak dapat mendukung kehidupan manusia.


Bila keseimbangan ini sudah terganggu maka akan ada banyak
orang yang sakit, dan biasanya menurut adat mereka akan
datang seorang kuat
( Tikanem) yang melakukan
pembunuhan terhadap warga dari masing masing kampung secara
berurutan sebanyak 5 orang . Agar lingkungan dapat kembali
normal dan bisa mendukung kehidupan warganya.

Kaitan satu kasus dengan Sosio Antropologi Kesehatan

Antropologi kesehatan adalah study tentang pengaruh unsur-unsur


budaya terhadap penghayatan masyarakat tentang penyakit dan
kesehatan

Terjadinya unsur-unsur budaya yang sangat erat kaitannya dengan


kesehatan

Pendahuluan
Okultisme adalah kepercayaan terhadap hal-hal supranatural seperti ilmu
sihir. Kata "okultisme" merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, occultism.
Kata dasarnya, occult, berasal dari bahasa Latin occultus ('rahasia') dan
occulere ('tersembunyi'), yang merujuk kepada 'pengetahuan yang rahasia
dan tersembunyi' atau sering disalah-artikan oleh masyarakat umum sebagai
'pengetahuan supranatural'.
Okultisme yang sebenarnya adalah bukanlah hanya sihir dan lebih tepatnya
bukanlah supranatural, karena pada dasarnya okultisme adalah ilmu yang
alami. Okultisme adalah ilmu yang mempelajari pengetahuan tersembunyi
yang terdapat dalam alam semesta, pada diri dan lingkungan kita. Tujuan
akhirnya bagi praktisi okultisme adalah pemahaman dan pengertian yang
sebenarnya tentang diri sendiri yang lebih tinggi yang kemudian akan
menghasilkan pencerahan dan kebijaksanaan yang akhirnya akan
mendekatkan diri pada sang pencipta.
Lebihlah mudah untuk mempelajari trik, ilusi, ilmu, dan metode yang
menggunakan teknik memanipulasi energi yang ada pada alam, berbagai
pengaruh yang bervibrasi rendah, kekuatan yang ada pada emosi manusia,
energi yang kasat mata, yang dipahami, dipelajari dan kemudian
dimanipulasi. Tetapi hal ini merupakan ilmu hitam (black magic) yang
motivasinya sering berdasarkan kepentingan sang individu yang
menyalahgunakan ilmu ini.
Okultisme seperti berbagai ilmu pengetahuan lainnya merupakan
pengetahuan yang bersifat netral yang tidak memihak. Hanya motivasi sang
praktisilah yang akan menentukan hasil akhir dari praktik dari pengetahuan
ini.

Kualitas
rasional.
kualitas
gravitasi

okultisme adalah properti yang tidak memiliki penjelasan yang


Dalam Abad Pertengahan, magnetisme kadang-kadang disebut
okultisme.[1] Sezaman Newton sangat dikritik teorinya bahwa
dihasilkan melalui "tindakan yang kelewatan" sebagai okult.[2]

http://id.wikipedia.org/wiki/Okultisme

Perspektif kesehatan dalam budaya


papua
PENDAHULUAN
Masyarakat pada umumnya selalu mengikuti kebudayaan
dan adat istiadat yang sejak dulu telah dibentuk demi
mempertahankan hidup dirinya sendiri ataupun kelangsungan
hidup suku mereka. Kebudayaan sendiri berasal dari kata budaya
(budi dan daya) yakni sikap hidup yang khas dari sekelompok
individu yang dipelajarinya secara turun temurun. Tetapi sikap
hidup ini terkadang malah mengundang risiko bagi timbulnya
suatu penyakit. Hubungan antara budaya dan kesehatan
sangatlah erat. Kebudayaan atau kultur dapat membentuk
kebiasaan dan respons terhadap kesehatan dan penyakit dalam
segala masyarakat tanpa memandang tingkatannya.
Papua merupakan salah satu daerah yang masih sangat
memprihatinkan dilihat dari segi kesehatan. Provinsi yang sering
kali dianggap sebelah mata oleh orang-orang karena anggapan
mereka masyarakat papua masih primitif. Namu di balik
anggapan primitif itu, masyaratakat papua merupakan salah satu
masyarakat yang masih memegang teguh budayanya, budaya

asli Indonesia yang belum tercemar oleh pengaruh dari negaranegara barat.

PEMBAHASAN
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta
yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi
(budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan
budi dan akal manusia. Dalam tiap kebudayaan terdapat berbagai
kepercayaan yang berkaitan dengan kesehatan.
nilai budaya sehat merupakan bagian yang tak terpisahkan
sebagai upaya mewujudkan hidup sehat dan merupakan bagian
budaya yang ditemukan secara universal. Dari budaya pula hidup
sehat dapat ditelusuri melalui komponen pemahaman tentang
sehat, sakit, derita akibat penyakit, cacat dan kematian. Nilai
yang dilaksanakan dan dipercaya serta diyakini itu sesuai dengan
pemahaman masyarakat dengan kebudayaan dan teknologi yang
mereka miliki.
Leavell (1993) menyusun definisi sehat sebagai berikut sehat
adalah keadaan seimbang antara penyebab penyakit dasar,
penjamu dan lingkungan hidup yang disebut juga health
equilibrium.Organisasi Kesehatan Sedunia( World Health
Organization) memberi definisi sehat sebagai berikut : sehat
adalah keadaan fisik,mental, dan sosial yang sempurna dan
bukan hanya terhindar dari penyakit dan kelemahan belaka.
Pemahaman terhadap keadaan sehat dan keadaan sakit
tentunya berbeda di setiap masyarakat tergantung dari
kebudayaan yang mereka miliki. Kebudayaan mempunyai sifat
yang tidak statis yaitu dapat berubah cepat atau lambat karena
adanya kontak-kontak kebudayaan atau adanya gagasan baru
dari luar yang dapat mempercepat proses perubahan. Jadi
persepsi sehat dan sakit itu ditentukan oleh pengetahuan,
kepercayaan, nilai dan norma kebudayaan dari masing-masing
kelompok. Sehingga dapat dikatakan bahwa kebudayaanlah yang
menentukan semua itu.
Papua nerupakan salah satu daerah yang masih sangat
membutuhkan perhatian dari luar untuk memperbaiki nilai-nalai
kesehatan yang mereka persepsikan. Walaupun indonesia telah

merdeka dan papua telah direbut kembali ke pangkuan ibu


pertiwi namun pada kenyataannya kemajuan yang dicapai serta
perkembangan mereka masih tertinggal. Mereka nyaris
terlupakan. Masalah beratnya perjuangan hidup mencari makan
masih ditambah lagi dengan gangguan parasit dan kumankuman, lintah, dan nyamuk-nyamuk penghisap darah. Keadaan ini
diperburuk lagi dengan adanya cacing-cacing usus yang
merampas sari-sari makanan sehingga tak sedikit dari mereka
yang mempunyai perut yang buncit.
Karena keaneka ragaman kebudayaan orang papua yang terdiri
dari berbagai suku bangsa, maka konsep sehat dan sakit itu dapat
di artikan berbeda-beda menurut pandangan dasar kebudayaan
mereka masing-masing. Orang Marind anim yang berada di
selatan Papua mempunyai konsepsi tentang sehat dan sakit,
dimana apabila seseorang itu sakit berarti orang tersebut
terkena guna- guna (black magic). Mereka juga mempunyai
pandangan bahwa penyakit itu akan datang apabila sudah tidak
ada lagi keimbangan antara lingkungan hidup dan manusia.
Lingkungan sudah tidak dapat mendukung kehidupan manusia,
karena mulai banyak. Bila keseimbangan ini sudah terganggu
maka akan ada banyak orang sakit dan biasanya menurut adat
mereka akan datang seorang kuat (Tikanem) yang melakukan
pembunuhan terhadap warga dari masing- masing suku secara
berurutan sebanyak lima orang agar lingkungan dapat kembali
normal dan bisa mendukung kehidupan warganya (Dumatubun,
2001). Hal yang sama pula terdapat pada orang Amungme,
dimana bila terjadi ketidak seimbangan antara lingkungan dengan
manusia maka akan timbul berbagai penyakit. Yang dimaksudkan
dengan lingkungan di sini adalah yang lebih berkaitan dengan
tanah karena tanah adalah mama yang memelihara, mendidik,
merawat, dan memberikan makan kepada mereka (Dumatubun,
1987). Untuk itu bila orang Amungme mau sehat, janganlah
merusak alam (tanah) dan harus terus dipelihara secara baik.
Orang sorong percaya bahwa sakit itu disebabkan oleh adanya
kekuatan-kekuatan supernatural, seperti dewa-dewa, kekuatan
bukan manusia seperti roh halus dan kekuatan manusia dengan
menggunakan black magic. Di samping itu ada kepercayaan

bahwa kalau orang melanggar pantangan-pantangan secara adat


maka akan menderita sakit.
Berdasarkan beberapa contoh-contoh di atas dapatlah dikatakan
bahwa orang Papua mempunyai persepsi tentang sehat dan sakit
itu sendiri berdasarkan pandangan dasar kebudayaan mereka
masing-masing. Memang kepercayaan tersebut bila dilihat sudah
mulai berkurang terutama pada orang Papua yang berada di
daerah - daerah perkotaan, sedangkan bagi mereka yang masih
berada di daerah pedesaan dan jauh dari jangkauan kesehatan
modern, hal tersebut masih nampak jelas dalam kehidupan
mereka sehari hari.
Apabila dikaji lebih lanjut tentang konsep sehat dan sakit
menurut perspektif kebudayaan orang Papua, maka paling sedikit
ada dua kategori yang sama seperti apa yang dikemukakan oleh
Anderson/Foster, berdasarkan lingkup hidup manusianya.
Kategori pertama, memandang konsep sehat-sakit bersifat
supranatural artinya melihat sehat - sakit karena adanya
gangguan dari suatu kekuatan yang bersifat gaib, bisa berupa
mahluk gaib atau mahluk halus, atau kekuatan gaib yang berasal
dari manusia.
Sedangkan kategori kedua, adalah rasionalistik yaitu melihat
sehat sakit karena adanya intervensi dari alam, iklim, air, tanah,
dan lainnya serta perilaku manusia itu sendiri seperti hubungan
sosial yang kurang baik, kondisi kejiwaan, dan lainnya yang
berhubungan dengan perilaku manusia
Dalam kasus persalinan ibu hamil dipapua sangatlah jauh
berbeda dengan apa yang di anjurkan oleh dokter kebanyakan .
Penduduk menganggap tabu perempuan membuka aurat atau
paha di depan orang yang belum dikenal baik itu laki-laki
maupun perempuan.
Kepercayaan ini makin memperkuat ibu- ibu untuk tidak berani
meminta melakukan persalinan di rumah sakit, klinik, puskesmas,
meskipun jaraknya dekat dan tidak membayar. Ibu khawatir
disalah artikan mau melanggar tradisi, mau memanjakan diri
makan tidur sementara di rumah tidak ada yang mengurus
makanan bagi keluarga.

Sebanyak 47,5% ibu melakukan persalinannya di rumah. Ibu-ibu


suku Papua ini melakukan persalinan di rumahnya dan ruangan
yang dipakai adalah kamar mandi dan dapur.
Ruangan tersebut tidak memenuhi syarat dan tidak terjamin
kebersihannya sehingga sangat memungkinkan terjadi komplikasi
infeksi pada ibu dan bayi. Ibu mulai berada di dalam ruangan
yang sempit dan lembab sekitar 40 menit sampai dengan dua
jam. Luka-luka perdarahan yang terjadi dalam proses persalinan,
sangat rentan untuk terjadinya infeksi pada ibu dan bayi.
Rasa pasrah dan tidak waspada dikarenakan rendahnya tingkat
pendidikan dan ekonomi, membuat mereka tetap memilih cara
seperti itu. Bahkan untuk persalinan yang tak terduga, sering
terjadi di atas pasir di pinggir pantai atau di atas rumput di
pinggir hutan dengan beratapkan pohon, beralaskan rumput.
Ibu-ibu suku Amungme yang melakukan persalinan di rumah
dibantu oleh ibu kandung, ibu mertua, tetangga, teman yang
dianggap sudah berpengalaman, atau tanpa bantuan siapapun.
Hal ini disebabkan budaya atau kebiasaan keluarga yang
memberikan contoh sehingga tidak merasa takut lagi. Bahkan ada
rasa malu bila tidak berani mengikuti cara itu, dan dapat
dianggap melanggar budaya.
Suku Kamoro mempunyai dukun yang sudah dikenal baik,
kekeluargaan, ramah, hangat, tidak formal, dan tidak perlu
memikirkan pembayaran hanya saling pengertian. Pelayanan
diberikan sampai kepada hal-hal yang bersifat pribadi dan spritual
termasuk perawatan bayi dan obat-obatan.
Keengganan mereka ditolong oleh bidan atau petugas kesehatan
lain di rumah sakit, puskesmas, klinik, karena ada perasaan malu,
segan, tegang, kesan dingin/kaku, takut dimarahi karena tidak
punya uang, dan bidan tidak merawat bayi.
Pada penanganan proses persalinan, setelah ari-ari keluar, tali
pusat dipotong dengan sebuah silet baru yang sudah disiapkan
sebelumnya. Ada yang membiarkan tali pusat begitu saja tanpa
diikat dan ada juga yang menutup ujung tali pusat dengan ubi
yang baru dibakar, abu panas, dandaun-daunan yang dipanaskan.
Untuk persalinan tidak terduga, tali pusat dipotong dengan pisau
yang mereka bawa atau dengan tangkai daun sagu dan diikat
dengan tali akar-akar kayu. Menghisap asap kayu bakar yang
dilakukan ibu selama proses persalinan sangat berpotensi

menyebabkan sesak nafas dan infeksi saluran pernafasan pada


ibu dan bayi. Namun karena sudah menjadi keyakinan dapat
memberi kekuatan bagi si ibu dan bayi maka secara psikologis
mungkin bermanfaat memberi semangat pada ibu untuk
mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya dalam
proses pengeluaran bayi.
Kematian ibu bersalin banyak terjadi pada kelompok miskin, tidak
berpendidikan di tempat terpencil, tidak memiliki kendali untuk
memperjuangkan kehidupannya sendiri sehingga kematiannya
terabaikan dan tidak mendapat perhatian selayaknya dari
berbagai pihak. Uniknya penduduk menganggap bahwa
persalinan adalah peristiwa alami, urusan perempuan dan tidak
perlu dibesar-besarkan. Laki- laki tidak perlu ikut campur
memikirkan atau membantu persalinan istrinya karena itu sudah
kodrat perempuan. Darah dan kotoran persalinan dapat
menimbulkan penyakit yang mengerikan bagi laki-laki dan anakanak, karena itu harus dijauhkan atau disembunyikan.
Kepercayaan ini memojokkan posisi perempuan dan sangat
merugikan kesehatannya.
Berdasarkan pemahaman kebudayaan orang Papua secara
mendalam,dapatlah dianalisis bagaimana cara-cara melakukan
pengobatan secara tradisional. Untuk itu telah diklasifikasikan
pengobatann tradisional orang Papua kedalam enam pola
pengobatan , yaitu:
1. Pola Pengobatan Jimat. Pola pengobatan jimat dikenal oleh
masyarakat di daerah kepala burung terutama masyarakat
Meibrat dan Aifat. Prinsip pengobatan jimat, menurut Elmberg,
adalah orang menggunakan benda-benda kuat atau jimat untuk
memberi perlindungan terhadap penyakit. Jimat adalah segala
sesuatu yang telah diberi kekuatan gaib, sering berupa
tumbuhtumbuhan yang berbau kuat dan berwarna tua.
2. Pola Pengobatan Kesurupan. Pola kesurupan dikenal oleh
suku bangsa di daerah sayap burung, yaitu daerah teluk Arguni.
Prinsip pengobatan kesurupan menurut van Longhem adalah
seorang pengobat sering kemasukan roh/mahluk halus pada
waktu berusaha mengobati orang sakit. Dominasi kekuatan gaib

dalam pengobatan ini sangat kentara seperti pada pengobatan


jimat.
3. Pola Pengobatan Penghisapan Darah. Pola penghisapan darah
dikenal oleh suku bangsa yang tinggal disepanjang sungai Tor di
daerah Sarmi, Marind-anim, Kimaam, Asmat. Prinsip dari pola
pengobatan ini menurut Oosterwal, adalah bahwa penyakit itu
terjadi karena darah kotor, maka dengan menghisap darah kotor
itu, penyakit dapat disembuhkan. Cara pengobatan penghisapan
darah ini dengan membuat insisi dengan pisau, pecahan beling,
taring babi pada bagian tubuh yang sakit. Cara lain dengan
meletakkan daun oroh dan kapur pada bagian tubuh yang sakit.
Dengan lidah dan bibir daun tersebut digosok-gosok sampai
timbul cairan merah yang dianggap perdarahan. Pengobatan
dengan cara ini khusus pada wanita saja. Prinsip ini sama persis
pada masyarakat Jawa seperti kerok.
4. Pola Pengobatan Injak. Pola injak dikenal oleh suku bangsa
yang tinggal disepanjang sungai Tor di daerah Sarmi. Prinsip dari
pengobatan ini menurut Oosterwal adalah bahwa penyakit itu
terjadi karena tubuh kemasukan roh, maka dengan menginjakinjak tubuh si sakit dimulai pada kedua tungkai, dilanjutkan
ketubuh sampai akhirnya ke kepala, maka injakan tersebut akan
mengeluarkan roh jahat dari dalam tubuh.
5. Pola Pengobatan Pengurutan. Pola pengurutan dikenal oleh
suku bangsa yang tinggal di daerah selatan Merauke yaitu suku
bangsa Asmat, dan selatan kabupaten Jayapura yaitu suku
bangsa Towe. Prinsip dari pola pengobatan ini menurut van
Amelsvoort adalah bahwa penyakit itu terjadi karena tubuh
kemasukan roh, maka dengan mengurut seluruh tubuh si sakit,
maka akan keluar roh jahat dari dalam tubuhnya. Orang Asmat
menggunakan lendir dari hidung sebagai minyak untuk
pengurutan. Sedangkan pada suku bangsa Towe penyebab
penyakit adalah faktor empirik dan magis. Dengan menggunakan
daun-daun yang sudah dipilih, umunya baunya menyengat,
dipanaskan kemudian diurutkan pada tubuh si sakit.
6. Pola Pengobatan Ukup. Pola ukup dikenal oleh suku bangsa
yang tinggal di selatan kabupaten Jayapura berbatasan dengan

kabupaten Jayawijaya yaitu suku bangsa Towe, Ubrup. Prinsip dari


pengobatan ini adalah bahwa penyakit terjadi karena tubuh
kemasukan roh, hilang keseimbangan tubuh dan jiwa, maka
dengan mandi uap dari hasil ramuan daun-daun yang dipanaskan
dapat mengeluarkan roh jahat dan penyebab empirik penyakit

Kesimpulan
Orang Papua yang terdiri dari keaneka ragaman kebudayaan
memiliki pengetahuan tentang mengatasi berbagai masalah
kesehatan yang secara turun temurun diwariskan dari generasi ke
genarasi berikutnya. Nampaknya pengetahuan tentang
mengatasi masalah kesehatan pada orang Papua yang berada di
daerah pedesaan lebih cenderung menggunakan pendekatan
tradisional karena faktor-faktor kebiasaan, lebih percaya pada
kebiasaan leluhur mereka, dekat dengan praktisi langsung seperti
dukun, lebih dekat dengan kerabat yang berpengalaman
mengatasi masalah kesehatan secara tradisional, mudah
dijangkau, dan pengetahuan penduduk yang masih berorientasi
tradisional.
http://wulandarifitrianti97.blogspot.com/2015/01/persperktif-kesehatandalam-budaya-papua.html

http://sitirohmie.blogspot.com/2013/04/makalah-pengaruh-sosialbudaya.html