Anda di halaman 1dari 26

Persiapan, Pelaksanaan, dan Hal hal Lain Seputar Operasi

Tonsilektomi

Joana De Chantal Laiyan 102011152


Ratri Puspitaningrum 102011447
Stacia Cicilia 102012132
Arya Darmadi 102012174
Yovita Indriana 102012225
Dian Nurul Hikmah 102012292
Anestesya Monica 102012410
Viqtor Try Junianto 102012414
Ariff Kamal Bin Zulkafli 102012501

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Pendahuluan
Latar Belakang
Tonsilektomi merupakan cara untuk mengatasi peradangan tonsil yang sudah
tidak bisa diobati dengan menggunakan obat. Peradangan tonsil atau tonsilitis ini akan
membesar dan mengganggu sesorang untuk bernafas dan menelan makanan atau pun
minuman jika tidak segera di operadi tonsilektomi. Tonsilektomi ini merupakan
operasi yang cukup sering dilakukan dalam dunia kesehatan, selain karena mudah
dilakukan juga tidak memiliki resiko yang besar saat penanganannya. Walaupun
begitu kita harus tetap bersikap waspada terhadap resiko yang mungkin terjadi.
Semua jenis operasi memiliki tahapan tahapan yang sesuai prosedur
kesehatan yang harus dilalui. Tahapan itu dibagi menjadi tiga tahap yaitu pre operasi
( sebelum operasi ), intra operasi ( pelaksanaan operasi ), dan pasca operasi ( setelah
operasi ). Petugas kesehatan yang akan melakukan operasi harus mengerti betul
tahapan tahapan tersebut. Dalam hal tonsilektomi ini petugas kesehatan tersebut
adalah dokter umum, dokter anestesi, dokter THT, dokter bedah umum, dan perawat.
Penanganan operasi tonsilektomi yang baik akan menghasilkan hasil yang maksimal
dan membuat pasien kembali sehat. Ini adalah tujuan semua dokter.
Untuk mengetahui lebih jelasnya dan untuk meningkatkan pemahaman tentang
apa itu tonsilitis, tonsilektomi, dan bagaimana langkah langkah operasi tonsilektomi
serta apa saja hal yang bersangkutan dengan tonsilektomi, maka dalam makalah ini
penulis akan menjelaskannya melalui pembahasan suatu kasus yang berkaitan dengan
dengan tema tersebut.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang sesuai dan dipilih untuk makalah ini adalah Seorang
perempuan membawa surat dari dokter THT untuk di rawat dan dirujuk ke dokter
anestesi untuk persiapan pre operasi. Penulis memilih rumusan masalah ini karena
sudah sesuai dengan kasus yang diberikan dan sesuai dengan tema yang akan
dijelaskan dalam makalah ini.
Tujuan

Penulisan makalah ini memiliki beberapa dasar tujuan. Tujuan tersebut adalah
meningkatkan pemahaman mahasiswa dan mahasiswi atau calon dokter di Fakultas
Kedokteran Ukrida mengenai penjelasan tentang tahapan tahapan operasi
tonsilektomi, serta hal hal lain yang berkaitan dengan tonsilektomi. Pengetahuan
pengetahuan yang akan dibahas melalui skenario di dalam makalah ini dapat menjadi
informasi yang berguna bagi mahasiswa dan mahasiswi dalam perkuliahan dan
kehidupan sehari hari.
Sasaran Pembelajaran
Sasaran pembelajaran yang dapat diambil dari makalah ini adalah dapat
menjelaskan mengenai apa itu tonsilitis, tentang tahapan tahapan operasi
tonsilektomi, serta hal hal lain yang berkaitan dengan tonsilektomi.

Isi
Contoh kasus:
Seorang pasien perempuan, datang ke bagian pendaftaran rawat inap RS
dengan membawa surat permintaan rawat dari dokter spesialis THT. Di dalam surat
tersebut, dokter tersebut akan melakukan tindakan tonsilektomi dan dirujuk ke bagian
anestesi untuk penanganan perioperatif operasi tonsilektomi esok hari.
Pembahasan
Anatomi Tonsil
Tonsil merupakan dua kumpulan jaringan limfosit yang terletak di kanan dan kiri
faring diantara tiang tiang lengkung fauces. Tonsil dijelajahi pembuluh darah dan pembuluh
limfe serta mengandung banyak limfosit. Permukaan tonsil ditutupi membran mukosa yang
bersambung dengan bagian bawah faring. Permukaan ini penuh dengan menuangkan
sekresinya. Mukus ini mengandung banyak limfosit. Dengan demikian tonsil bekerja sebagai
garis depan pertahanan dalam infeksi yang tersebar dari hidung, mulut, dan tenggorok.
Meskpun demikian tonsil bisa gagal menahan infeksi, yaitu ketika terjadi tonsilitis
(peradangan tonsil) atau abses peritonsiler. Setelah pengobatan dengan antibiotika dan
pengobatan lokal, maka tonsilektomi dapat dipertimbangkan.1

Tonsil terdiri atas berada di tengah struktur telinga, hidung, dan tenggorokan, tonsil
sebenarnya terdiri atas tiga pasang.1
1. Tonsil faringealis, terletak pada dinding belakang saluran napas bagian atas atau
faring dan di belakang hidung.
2. Tonsil palatina pada sisi kiri dan kanan - pada lengkungan antara anak lidah dan dasar
mulut (amandel). Tonsil ini dilapisi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.
3. Tonsil lingualis, yang letaknya di permukaan atas pangkal lidah. Susunan tonsil ini
sama seperti tonsil palatina yaitu tersusun dari epitel berlapis gepeng tanpa lapisan
tanduk.
Tonsilitis
Tonsilitis adalah peradangan umum dan pembengkakan dari jaringan tonsila yang
biasanya disertai dengan pengumpulan leukosit, sel sel epitel mati, dan bakteri patogen
dalam kripta.
Tonsilitis akut4
1. Etiologi
Tonsilitis bakterial supurativa akut paling sering disebabkan oleh Grup A
Streptococcus beta hemolitikus. Meskipun pneumokokus, staphylococcus, dan
haemophillus influenzae juga virus patogen dapat dilibatkan. Kadang kadang
streptococcus non hemolitikus atau streptococcus viridans, ditemukan pada biakan,
biasanya pada kasus kasus berat.
2. Patofisiologi
Infeksi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi
radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus.
Detritus ini merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mati, dan epitel yang terlepas.
Secara klinis detritus ini mengisi kripta dan tampak sebagai bercak kuning. Perbedaan
strain atau virulensi dari penyebab tonsilitis dapat menimbulkan variasi dalam fase
patologi sebagai berikut:
a. Peradangan biasa pada area tonsil saja
b. Pembentukan eksudat
c. Selulitis pada tonsil dan daerah sekitarnya
d. Pembentukan abses peritonsilar
e. Nekrosis jaringan
Bentuk tonsilitis akut dengan destritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis,
bila bercak bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur alur maka akan
4

menjadi tonsilitis lakunaris. Bercak detritus ini dapat melebar sehingga terbentuk
membrane semu (pseudomembran) yang menutupi tonsil.
3. Gejala dan tanda
Gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggorokan, nyeri
waktu menelan dan pada kasus berat penderita menolak makan dan minum melalui
mulut. Biasanya juga disertai demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa nyeri pada
sendi sendi, tidak nafsu makan, dan nyeri pada telinga. Rasa nyeri di telinga ini
karena nyeri alih melalui n. Glossofaringeus. Seringkali disertai adenopati servikalis
disertai nyeri tekan. Pada pemeriksaan tampak tonsil membengkak, hiperemis, dan
terdapat detritus berbentuk folikel, lakuna, atau tertutup oleh membran semu. Kelenjar
submandibula membengkak dan nyeri tekan.
4. Pengelolaan
Pada umumnya penderita dengan tonsilitis akut serta demam sebaiknya tirah
baring, pemberian cairan adekuat serta diet ringan. Analgetik oral efektif untuk
mengurangi nyeri.terapi antibiotik dikaitkan denga biakan dan sensitivitas yang tepat.
Penisilin masih merupakan obat pilihan, kecuali jika terdapat resistensi terhadap
penisilin. Pada kasus resistensi penisilin, eritromisin atau antibiotik spesifik yang
efektif sebaiknya digunakan. Pengobatan sebaiknya diberikan selama lima sampai
sepuluh ahri. Jika hasil biakan didapatkan Streptococcus beta hemolitikus terapi yang
adekuat dipertahankan selama sepuluh hari untuk menurunkan kemungkinan
komplikasi non supurativa seperti nefritis dan jantung rematik.
Efektivitas obat kumur masih dipertanyakan, terutama apakah cairan dapat
berkontak dengan dinding faring, karena dalam beberapa hal cairan ini tidak mengenai
lebih dari tonsila palatina. Akan tetapi pengalaman klinis menunjukan bahwa dengan
berkumur yang dilakukan secara rutin menambah rasa nyaman pada penderita dan
mungkin dipengaruhi beberapa tingkat perjalanan penyakit.
Tonsilitis Kronik
1. Etiologi
Tonsilitis kronik merupakan penyakit yang paling sering terjadi dari semua
penyakit tenggorokan yang berulang. Faktor predisposisi tonsilitis kronik adalah
rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang
buruk pengaruh cuaca, kelelahan fisik, dan pengobatan tonsilitis akut yang tidak
adekuat. Radang pada tonsil dapat disebabkan kuman Grup A Streptococcus beta
hemolitikus, Pneumococcus, Streptococcus viridans, dan Streptococcus piogenes.
Gambaran klinis bervariasi dan diagnosa sebagian besar tergantung pada infeksi.6
5

2. Gejala dan tanda


Gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggorokan, rasa
mengganjal pada tenggorokan, tenggorokan terasa kering, nyeri pada waktu menelan,
bau mulut, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, lesu, nyeri di sendi sendi, tidak
nafsu makan, dan nyeri di telinga.
Gambaran klinis pada tonsilitis kronis bervariasi, dan diagnosis pada
umumnya bergantung pada inspeksi. Pada umumnya terdapat dua gambaran yang
termasuk dalam kategori tonsilitis kronis, yaitu:
a). Tonsilitis kronis hipertrofikans
Pada tonsilitis ini ditandai dengan pembesaran tonsil dengan hipertrofi
dan pembentukan jaringan parut. Kripta mengalami stenosis, dapat disertai
dengan eksudat, seringnya purulen keluar dari kripta tersebut.
b). Tonsilitis kronis atrofikans
Ditandai dengan tonsil yang kecil (atrofi), di sekelilingnyahiperemis
dan kriptanya dapat keluar sejumlah kecil sekret purulen yang tipis.
Dari hasil biakan tonsil, pada tonsilitis kronik didapatkan bakteri dengan
virulensi rendah dan jarang ditemukan Streptococcus beta hemolitikus.
3. Pengelolaan
Antibiotika spektrum luas, antipiretik, dan obat kumur yang mengandung
desinfektan merupakan pilihan terapi untuk penyakit ini. Pada keadaan dimana
tonsilitis sangat sering timbul dan pasien merasa sangat terganggu, maka pilihan terapi
adalah pengangkatan tonsil (tonsilektomi).
4. Komplikasi
Faringitis merupakan komplikasi

tonsilitis

yang

paling

banyak

didapati.Demamrematik. nefritis dapat timbul apabila penyebab tonsilitisnya adalah


kuman streptokokus.
Komplikasi yang lain dapat berupa :
Abses Pertonsil
Terjadi diatas tonsil dalam jaringan pilar anterior dan pelatum mole, abses ini
terjadi beberapa hari setelah infeksi akut dan biasanya disebabkan oleh

streptococcus group A.
Otistis Media Akut
Infeksi dapat menyebar ke telinga tengah melalui tuba auditorius (eustochi) dan
dapat mengakibatkan otitis media yang dapat mengarah pada ruptur spontan

gendang telinga
Mastoiditis Akut
Ruptur spontan gendang telinga lebih jauh menyebarkan infeksi ke dalam sel
sel mastoid.
Larigitis

Merupakan proses peradangan dari membran mukosa yang membentuk larynx.


Peradangan ini mungkin akut atau kronis yang disebabkan bisa karena virus,

bakteri, lingkunran, maupun karena alergi.


Sinusitis
Merupakan suatu penyakit inflamasi atau peradangan pada satu atau lebih dari
sinus paranasal. Sinus adalah merupakan suatu rongga atau ruangan berisi udara

dari dinding yang terdiri dari membran mukosa.


Rhinitis
Merupakan penyakit inflamasi membran mukosa dari cavum nasal dan
nasopharing.

Pre Operasi
a. Anamnesis
Seperti biasa anamnesis dilakukan terlebih dahulu. Hal hal yang ditanyakan
-

saat anamnesis pasien diantaranya:


Identitas
: nama, usia, alamat, pekerjaan, agama, status perkawinan, dan lainnya.
Keluhan
: umumnya pasien akan berkata nyeri tenggorokan dan sulut menelan
Riwayat penyakit yang sedang atau pernah dialami yang menjadi penyulit saat
anestesi seperti alergi, diabetes mellitus, penyakit paru kronik ( asma bronchial,
bronchitis, pneumonia ), penyakit jantung dan hipertensi ( infark miokard, angina

pektoris, dekompensasi kordis ), penyakit hati, penyakit ginjal.


Riwayat obat yang sedang atau telah digunakan mungkin menimbulkan interaksi
dengan obat obat anestetik. Misalkan kortikosteroid, obat antihipertensi, obat
obat anti diabetik, antibiotika golongan aminoglikosida, obat penyakit jantung
seperti digitalis, diuretika, obat anti alergi, bronkodilator, dan mono amine oxidase

inhibitor.
Riwayat operasi dan anestesi yang pernah dilakukan di waktu yang lalu, berapa kali
dan selang waktunya. Apakah pasien mengalami komplikasi saat itu seperti kesulitan

pulih sadar, perawatan intensif pasca bedah.


Kebiasaan buruk sehari hari yang mungkin dapat mempengaruhi jalannya anestesi
seperti rokok dan alkohol.8

b. Informed consent
Informed consent ini dilakukan untuk meminta persetujuan pasien untuk
dilakukan tindakan medis terhadap dirinya maupun orang yang bersangkutan dengan
dirinya. Informed consent dilakukan secara oral dan tertulis. Pada saat melakukan
informed consent, pasien akan dijelaskan tindakan medis apa yang diberikan terhadap
dirinya, langkah langkahnya bagaimana, apa alat atau obat yang digunakan, untuk

apa tindakan itu dilakukan, dan apa efeknya terhadap pasien jika tindakan medis itu
dilakukan ataupun tidak dilakukan.8
c. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dilakukan pemeriksaan gigi geligi, tindakan buka
mulut, lidah relative besar sangat penting diketahui untuk memeriksa kesulitan
melakukan tindakan laringoskop intubasi. Leher pendek dan kaku juga akan
menyulitkan pemasangan laringoskop intubasi.
Pemeriksaan rutin lain secara sistemik tentang keadaan umum tentu tidak
boleh dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi semua sistem organ
tubuh pasien.8
d. Pemeriksaan Laboratorium
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan penyakit
yang sedang dicurigai. Uji laboratorium yang biasanya dilakukan sebelum operasi
adalah pemeriksaan darah seperti Hb, Ht, leukosit, masa perdarahan, masa
pembekuan, golongan darah, dan rhesus. Pada pasien usia 40 tahun ke atas ada
anjuran pemeriksaan EKG dan foto thoraks.8
e. Masukan oral
Refleks laring mengalamin penurunan selama anestesi. Regurgitasi isi
lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan nafas merupakan resiko utama pada
pasien yang menjalani anestesia. Untuk meminimalkan resiko tersebut, semua pasien
yang dijadwalkan untuk operasi elektif dengan anestesi harus dipantangkan dari
masukan oral (puasa) selama periode tertentu sebelum induksi anestesi. Pada pasien
dewasa umumnya puasa dilakukan 6 8 jam, anak anak 4 6 jam, dan bayi 3 4
jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi anestesi. Minuman
bening, air putih dalam jumlah terbatas boleh 1 jam sebelum induksi anestesi.8
f. Klasifikasi status fisik
Skor ASA
ASA (American Society of Anasthesiologist) adalah klasifikasi yang lazim
digunakan untuk menilai status fisik pasien pre anestesi. Klasifikasi ini berasal dari
The American Society of Anesthesiologist yang terdiri dari:
Tabel 1. Klasifikasi ASA dari status fisik.9
Kelas
I
II
III

Status Fisik
Pasien normal yang sehat
Pasien dengan penyakit sistemik ringan
Pasien dengan penyakit sistemik berat

Contoh
Pasien bugar dengan hernia inguinal
Hipertensi esensial, diabetes ringan
Angina,
insufisiensi
pulmoner

IV

yang tidak melemahkan (incapaciting)


sedang - berat
Pasien dengan penyakit sistemik yang Penyakit paru stadium lanjut, gagal
8

melemahkan dan merupakan ancaman jantung


V

terhadap kehidupan
Pasien sekarat yang diperkirakan tidak Ruptur aneurisma aorta, emboli paru
bertahan selama 24 jam dengan atau massif

tanpa operasi
Kasus kasus

emergensi

diberi

tambahan huruf E ke angka


Skor Mallampati
Skor mallampati adalah suatu perkiraan kasar dari ukuran relatif lidah
terhadap rongga mulut yang digunakan untuk memperkirakan tingkat kesulitan
intubasi. Skor Mallampati ditentukan dengan melihat anatomi dari rongga mulut,
khususnya berdasarkan visibilitas dari dasar uvula, arkus tonsilaris anterior dan
posterior, dan palatum mole. Semakin tinggi skor Mallampati, semakin tinggi pula
kesulitan untuk dilakukan intubasi.
Tabel 2. Skor Mallampati9
Kelas I
Kelas II

Tonsi, palatum mole, dan uvula terlihat seluruhnya


Palatumdurum dan palatum mole masih terlihat, sedangkan

Kelas III

tonsil dan uvula hanya terlihat sebagian


Hanya palatinum mole dan palatum durum yang terlihat,
sedangkan dinding posterior faring dan uvula tertutup

Kelas IV

seluruhnya oleh lidah


Hanya palatum durum yang terlihat, sedangkan dinding
posterior

faring,

uvula,

dan palatum mole

tertutup

seluruhnya oleh lidah

Gambar 1. Skor Mallampati.10


g. Premedikasi

Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anesthesia dengan
tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anesthesia diantaranya: 11

Meredakan kecemasan dan ketakutan


Memperlancar induksi anesthesia
Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
Meminimalkan jumlah obat anestetik
Mengurangi mual muntah pasca bedah
Menciptakan amnesia
Mengurangi isi cairan lambung
Mengurangi refleks yang membahayakan
Kecemasan merupakan reaksi alami, jika seorang dihadapkan pada situasi yang

tidak pasti. Membina hubungan baik dengan pasien dapat membangun kepercayaan
dan menenteramkan pasien. Obat pereda kecemasan bisa digunakan diazepam peroral
10-15 mg beberapa jam sebelum induksi anestesia. Jika disertai nyeri karena
penyakitnya, dapat diberikan opioid misalnya petidin 50 mg intramuskular.
Cairan lambung 25 ml dengan pH 2,5 dapat menyebabkan pneumonitis asam.
Untuk meminimalkan kejadian diatas dapat diberikan antagonis reseptor H2 histamin
misalnya oral simetidin 600 mg atau oral ranitidin (zantac) 150 mg 1-2 jam sebelum
jadwal operasi. Untuk mengurangi mual muntah pasca bedah sering ditambahkan
premedikasi suntikan intramuscular untuk dewasa droperidol 2,5-5 mg atau
ondansentron 2-4 mg
h. Pilihan Anestesi
Anestesi yang digunakan pada kasus ini adalah anestesi umum. Obat anestesi umum
diberikan secara inhalasi atau suntikan intravena
- Anastetik inhalasi
Nitrogen oksida yang stabil pada tekanan suhu kamar merupakan salah satu
anestetik gas yang banya dipakai karena dapat digunakan dalam bentuk
kombinasi dengan anestetik lainnya. Halotan, enfluran, isofluran, desfluran dan
metoksifluran merupakan zat cair yang mudah menguap. Anastesi inhalasi
-

konvensional seperti eter, siklopropanm dan kloroform toksik terhadap hati.


Anestetik intravena
Beberapa obat anestetik diberikan secara intravena baik tersendiri maupun dalam
bentuk kombinasi dengan anestetik lainnya untuk mempercepat tercapainya
stadium anestesi atau pun sebagai obat penenang pada penderita gawat darurat

10

yang mendapat pernafasan untuk waktu yang lama. Anastetik yang termasuk
intravena :

Barbiturat (tiopental, metoheksital)


Benzodiazepine (midazolam, diazepam)
Opioid analgesik dan neuroleptik
Obat-obat lain (profopol, etomidat)
Ketamin, arilsikloheksilamin yang sering disebut disosiatif anestetik.

i. Induksi Anastesi
Induksi anestesi adalah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi
tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. Setelah
pasien tidur akibat induksi anestesi langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan
anestesi sampai tindakan pembedahan selesai.9
Sebelum memulai induksi anestesi selayaknya disiapkan peralatan dan obatobat yang diperlukan, sehingga seandainya terjadi keadaan gawat dapat diatasi dengan
lebih cepat dan lebih baik. Untuk persiapan induksi anestesi, sebaiknya diingat kata
STATICS:
Tabel 3. Persiapan induksi anastesi.
S : Scope Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Laringoskop pilih bilah
atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien. Lampu harus cukup terang.
T : Tubes Pipa trakea. Pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed) dan usia > 5
tahun dengan balon (cuffed).
A : Airway Pipa mulut-faring (Guedel,orotracheal airway) dan pipa hidung-faring (nasotracheal airway). Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk menjaga supaya
lidah tidak menyumbat jalan napas.
T : Tape Plester untuk fiksasi pipa agar tidak terdorong atau tercabut
I : Introducer Mandrin atau stillet untuk memandu agar pipa trakea mudah dimasukkan
C : Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anesthesia
S : Suction Penyedot lender, ludah, dan lain-lainnya
Induksi anestesi dapat dikerjakan dengan secara intravena, inhalasi,
intramuskular, atau rectal.
Induksi intravena
Induksi intravena paling banyak dikerjakan dan digemari, apalagi sudah terpasang
jalur vena, karena cepat dan menyenangkan. Induksi intravena hendaknya
11

dikerjakan dengan hati-hati, perlahan-lahan, lembut, dan terkendali. Obat induksi


bolus disuntikkan dalam kecepatan antara 30-60 detik. Selama induksi anestesi,
pernapasan pasien, nadi, dan tekanan darah harus diawasi dan selalu diberikan
oksigen. Induksi cara ini dikerjakan pada pasien yang kooperatif.
Tiopental (tiopenton, pentotal) diberikan secara intravena dengan kepekatan
2,5% dan dosis antara 3-7 mg/kgBB. Keluar vena menyebabkan nyeri. Pada anak
dan manula digunakan dosis rendah dan dewasa muda sehat dosis tinggi.
Propofol (recofol, diprivan) intravena dengan kepekatan 1% menggunakan
dosis 2-3 mg/kgBB. Suntikan propofol intravena sering menyebabkan nyeri,
sehingga satu menit sebelumnya sering diberikan lidokain 1 mg/kgBB secara
intravena.
Ketamin (ketalar) intravena dengan dosis 1-2 mg/kgBB. Pasca anestesi dengan
ketamin sering menimbulkan halusinasi, karena itu sebelumnya dianjurkan
menggunakan sedativa seperti midasolam (dormikum). Ketamin tidak dianjurkan
pada pasien dengan tekanan darah tinggi (tekanan darah > 160 mmHg). Ketamin
menyebabkan pasien tidak sadar, tetapi dengan mata terbuka.
Induksi intramuscular
Sampai sekarang hanya ketamin (ketalar) yang dapat diberikan secara
intramuscular dengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien tidur.
Induksi inhalasi
Obat yang digunakan adalah obat-obat yang memiliki sifat-sifat :
tidak berbau menyengat / merangsang
baunya enak
cepat membuat pasien tertidur.
Sifat-sifat ini ditemukan pada halotan dan sevofluran. Induksi inhalasi hanya
dikerjakan dengan halotan (fluotan) atau sevofluran. Cara induksi ini dikerjakan
pada bayi atau anak yang belum terpasang jalur vena atau pada dewasa yang takut
disuntik. Induksi halotan memerlukan gas pendorong O 2 atau campuran N2O dan
O2. Induksi dimulai dengan aliran O2 > 4 liter/menit atau campuran N2O:O2=3:1
aliran > 4 liter/menit, dimulai dengan halotan 0,5 vol% sampai konsentrasi yang
dibutuhkan. Kalau pasien batuk konsentrasi halotan diturunkan untuk kemudian
kalau sudah tenang dinaikkan lagi sampai konsentrasi yang diperlukan.
Induksi dengan sevofluran lebih disenangi karena pasien jarang batuk,
walaupun langsung diberikan dengan konsentrasi tinggi sampai 8 vol%. seperti
12

dengan halotan konsentrasi dipertahankan sesuai kebutuhan. Induksi dengan


enfluran (etran), isofluran (foran, aeran), atau desfluran jarang dilakukan, karena
pasien sering batuk dan waktu induksi menjadi lama.
Induksi per rektal
Cara ini hanya untuk anak atau bayi menggunakan thiopental atau midazolam.
Tanda-tanda induksi berhasil adalah hilangnya refleks bulu mata. Jika bulu mata
disentuh, tidak ada gerakan pada kelopak mata.
j. Tanda dan stadium anestesi umum
Secara tradisional, efek anestetik dapat dibagi 4 (emapat) stadium peningkatan
dalamnya depresi susunan saraf pusat, yaitu :
I. Stadium analgesi
Pada stadium awal ini, penderita mengalami analgesi tanpa disertai kehilangan
kesadaran. Pada akhir stadium 1, baru didapatkan amnesia dan analgesi
II. Stadium terangsang
Pada stadium ini, penderita tampak delirium dan gelisah, tetapih kehilangan
kesadaran. Volume dan kecepatan pernafasan tidak teratur, dapat terjadi mual.
Inkontinensia urin dan defekasi sering terjadi. Karena itu, harus diusahakan untuk
membatasi lama dan berat stadium ini, yang ditandai dengan kembalinya pernafasan
secara teratur.
III. Stadium operasi
Stadium ini ditandai dengan pernafasan yang teratur. Dan berlanjut sampai
berhentinya pernafasan secara total. Ada empat tujuan pada stadium III digambarkan
dengan perubahan pergerakkan mata, dan ukuran pupil, yang dalam keadaan tertentu
dapat merupakan tanda peningktan dalamnya anestesi.
IV. Stadium depresi medula oblongata
Bila pernafasan spontan berhenti, maka akan masuk kedalam stadium IV. Pada
stadium ini akan terjadi depresi berat pusat pernafasan dimedula oblongata dan pusat
vasomotor. Tampa bantuan respirator dan sirkulasi, penderita akan cepat meninggal.
Pada praktek anestesi modern, perbedaan tanda pada masing-masing stadium
sering tidak jelas. Hal ini karena mula kerja obat anestetik modern relatife lebih cepat
dibandingkan dengan dietil eter disamping peratan penunjang yang dapat mengontrol
ventilasi paru secara mekanis cukup tersedia. Selain itu, adanya obat yang diberikan
sebelum dan selama operasi dapat juga berpengaruh pada tanda-tanda anestesi.
Atropin, digunakan untuk mengurangi skresi, sekaligus mendilatasi pupil; obatobatnya seperti tubokurarin suksinilkolin yang dapat mempengaruhi tonus otot; serta
obat analgetik narkotik yang dapat menyebabkan efek depresan pada pernafasan.tanda
13

yang paling dapat diandalkan untuk mencapai stadium operasi adalah hilangnya
refleks kelopak mata dan adanya pernapasan yang dalam dan teratur.
k. Teknik anastesi
Teknik anestesi nafas spontan dengan sungkup muka
Indikasi : untuk tindakan yang singkat (0,5-1 jam) tanpa membuka rongga perut,
keadaan umum pasien cukup baik, lambung harus kosong.
Selesai dilakukan induksi, sampai pasien tertidur dan reflek bulu mata hilang,
sungkup muka ditempatkan pada muka. Sebaiknya dagu ditahan atau sedikit ditarik
kebelakang (posisi kepala ekstensi) agar jalan napas bebas dan pernafasan lancer.
N2O mulai diberikan 4 L dengan O2 2 L/menit untuk memperdalam anestesi,
bersamaan dengan ini halotan dibuka sampai 1% dan sedikit demi sedikit
dinaikkan dengan 1% sampai 3 atau 4 % tergantung reaksi dan besar tubuh
penderita.
Kedalaman anestesi dinilai dari tanda-tanda mata (bola mata menetap), nadi
tidak cepat, dan terhadap rangsang operasi tidak banyak berubah. Kalau stadium
anesthesia sudah cukup dalam, rahang sudah lemas, masukan pipa orofaring
(guedel). Halotan kemudian dikurangi menjadi 1-1,5% tergantung respon terhadap
rangsang operasi. Halotan dikurangi dan dihentikan beberapa menit sebelum
operasi selesai. Selesai operasi, N2O dihentikan dan penderita diberi O2 100%
beberapa menit untuk mencegah hipoksi difusi.
Teknik anestesi nafas spontan dengan pipa endotrakea
Indikasi: operasi lama, kesulitan mempertahankan jalan nafas bebas pada anestesi
dengan sungkup muka.
Setelah induksi, dapat

dilakukan

intubasi.

Balon

pipa

endotrakea

dikembangkan sampai tidak ada kebocoran pada waktu melakukan nafas buatan
dengan balon nafas. Harus yakin bahwa pipa endotrakea ada di dalam trakea dan
tidak masuk terlalu dalam yaitu di salah satu bronkus atau di eosofagus. Pipa
endotrakea di fiksasi, lalu pasang guedel di mulut supaya pipa endotrakea tidak
tergigit. Lalu mata ditutup dengan plester supaya tidak terbuka dan kornea tidak
menjadi kering. Lalu pipa endotrakea dihubungkan dengan konektor pada sirkuit
nafas alat anestesi.
Teknik anestesi dengan pipa endotrakea dan nafas kendali
Teknik induksi anestesi dan intubasi sama seperti diatas. Nafas dikendalikan secara
manual atau dengan respirator. Bila menggunakan respirator setiap inspirasi
(volume tidal) diusahakan + 10 ml/kgBB dengan frekuensi 10/14 per menit.
Apabila nafas dikendalikan secara manual, harus diperhatikan pergerakan dada
kanan dan kiri yang simetris. Menjelang akhir operasi setelah menjahit lapisan otot
14

selesai diusahakan nafas spontan dengan membantu usaha nafas sendiri secara
manual. Halotan dapat dihentikan sesudah lapisan fasi kulit terjahit. N2O
dihentikan kalau lapisan kulit mulai dijahit. Ekstubasi dapat dilakukan setelah
nafas spontan normal kembali dengan volume tidal 300 ml. O2 diberi terus 5-6 L
selama 2-3 menit untuk mencegah hipoksia difusi.
Ekstubasi
Mengangkat keluar pipa endotrakea (ekstubasi) harus mulus dan tidak disertai
batuk dan kejang otot yang dapat menyebabkan gangguan nafas, hipoksia sianosis.
Intra Operasi
A. Tonsilektomi
Tonsilektomi adalah tindakan mengangkat tonsil palatina seutuhnya bersama jaringan
patologis lainnya, sehingga fossa tonsilaris bersih tanpa meninggalkan trauma yang
berarti pada jaringan sekitarnya seperti uvula dan pilar.
Indikasi Tonsilektomi
Indikasi Absolut
1) Timbulnya kor pulmonale karena obstruksi jalan nafas yang kronis
2) Hipertrofi tonsil atau adenoid dengan sindroma apneu waktu tidur
3) Hipertofi berlebihan yang menyebabkan disfagia dengan penurunan berat
badan penyerta
4) Biopsi eksisi yang dicurigai keganasan (limfoma)
5) Abses perotinsiler yang berulang atau abses yang meluas pada ruang jaringan
sekitarnya
6) Tonsilitis kronis walaupun tanpa eksaserbasi akut tapi merupakan fokal infeksi
7) Karier difteri
8) Tonsilitis yang menyebabkan kejang demam.
Indikasi Relatif
1) Terjadi Serangan tonsilitis akut berulang (yang terjadi walau telah diberi
penatalaksanaan medis yang adekuat).
2) Tonsilitis yang berhubungan dengan biakan streptokokus yang menetap dan
patogenik (karier).
3) Hiperplasia tonsil dengan obstruksi fungsional.
4) Hiperplasia dan obstruksi yang menetap enam bulan setelah infeksi
mononukleosis.
5) Riwayat demam rematik dengan kerusakan jantung yang berhubungan dengan
tonsilitis rekurens kronis dan pengendalian antibiotika yang buruk.
6) Radang tonsil kronis menetap yang tidak memberikan respon terhadap
penatalaksanaan medis.
7) Hipertrofi tonsil dan adenoid yang berhubungan dengan abnormalitas orofasial
dan gigi geligi yang menyempitkan jalan nafas bagian atas.
15

8) Tonsilitis berulang atau kronis yang berhubungan dengan adenopati servikal


persisten.
Kontraindikasi Tonsilektomi
Kontraindikasi absolut :
1) Penyakit darah: leukemia, anemia aplastik, hemofilia dan purpura
2) Penyakit sistemik yang tidak terkontrol: diabetes melitus, penyakit jantung dan
sebagainya.
Kontraindikasi relatif :
1) Palatoschizis
2) Anemia (Hb <10 gr% atau HCT <30%)
3) Infeksi akut saluran nafas atau tonsil (tidak termasuk abses peritonsiler)
4) Poliomielitis epidemik
5) Usia di bawah 3 tahun (sebaiknya ditunggu sampai 5 tahun)
B. Teknik Tonsilektomi4
Di Indonesia teknik tonsilektomi yang terbanyak digunakan saat ini adalah teknik
Guillotine dan diseksi.
1. Guillotine
Tonsilektomi cara guillotine dikerjakan secara luas sejak akhir abad ke 19, dan
dikenal sebagai teknik yang cepat dan praktis untuk mengangkat tonsil. Namun tidak
ada literatur yang menyebutkan kapan tepatnya metode ini mulai dikerjakan.
Tonsilotom modern atau guillotine dan berbagai modifikasinya merupakan
pengembangan dari sebuah alat yang dinamakan uvulotome. Uvulotome merupakan
alat yang dirancang untuk memotong uvula yang edematosa atau elongasi. Laporan
operasi tonsilektomi pertama dilakukan oleh Celcus pada abad ke-1, kemudian
Albucassis di Cordova membuat sebuah buku yang mengulas mengenai operasi dan
pengobatan secara lengkap dengan teknik tonsilektomi yang menggunakan pisau
seperti guillotine. Greenfield Sluder pada sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke20 merupakan seorang ahli yang sangat merekomendasikan teknik Guillotine dalam
tonsilektomi. Beliau mempopulerkan alat Sluder yang merupakan modifikasi alat
Guillotin. Hingga kini, di UK tonsilektomi cara guillotine masih banyak digunakan.
Hingga dikatakan bahwa teknik Guillotine merupakan teknik tonsilketomi tertua yang
masih aman untuk digunakan hingga sekarang. Negara-negara maju sudah jarang
yang melakukan cara ini, namun di beberapa rumah sakit masih tetap dikerjakan. Di
Indonesia, terutama di daerah masih lazim dilkukan cara ini dibandingkan cara
diseksi. Kepustakaan lama menyebutkan beberapa keuntungan teknik ini yaitu cepat,
komplikasi anestesi kecil, biaya kecil.
2. Diseksi
16

Kebanyakan tonsilektomi saat ini dilakukan dengan metode diseksi. Hanya


sedikit ahli THT yang secara rutin melakukan tonsilektomi dengan teknik Sluder. Di
negara-negara Barat, terutama sejak para pakar bedah mengenal anestesi umum
dengan endotrakeal pada posisi Rose yang mempergunakan alat pembuka mulut
Davis, mereka lebih banyak mengerjakan tonsilektomi dengan cara diseksi. Cara ini
juga banyak digunakan pada pasien anak. Walaupun telah ada modifikasi teknik dan
penemuan peralatan dengan desain yang lebih baik untuk tonsilektomi, prinsip dasar
teknik tonsilektomi tidak berubah. Pasien menjalani anestesi umum (general
endotracheal anesthesia). Teknik operasi meliputi: memegang tonsil, membawanya ke
garis tengah, insisi membran mukosa, mencari kapsul tonsil, mengangkat dasar tonsil
dan mengangkatnya dari fossa dengan manipulasi hati-hati. Lalu dilakukan hemostasis
dengan elektokauter atau ikatan. Selanjutnya dilakukan irigasi pada daerah tersebut
dengan salin. Bagian penting selama tindakan adalah memposisikan pasien dengan
benar dengan mouth gag pada tempatnya. Lampu kepala digunakan oleh ahli bedah
dan harus diposisikan serta dicek fungsinya sebelum tindakan dimulai. Mouth gag
diselipkan dan bilah diposisikan sehingga pipa endotrakeal terfiksasi aman diantara
lidah dan bilah. Mouth gag paling baik ditempatkan dengan cara membuka mulut
menggunakan jempol dan 2 jari pertama tangan kiri, untuk mempertahankan pipa
endotrakeal tetap di garis tengah lidah. Mouth gag diselipkan dan didorong ke inferior
dengan hati-hati agar ujung bilah tidak mengenai palatum superior sampai tonsil
karena dapat menyebabkan perdarahan. Saat bilah telah berada diposisinya dan pipa
endotrakeal dan lidah di tengah, wire bail untuk gigi atas dikaitkan ke gigi dan mouth
gag dibuka. Tindakan ini harus dilakukan dengan visualisasi langsung untuk
menghindarkan kerusakan mukosa orofaringeal akibat ujung bilah. Setelah mouth gag
dibuka dilakukan pemeriksaan secara hati-hati untuk mengetahui apakah pipa
endotrakeal terlindungi adekuat, bibir tidak terjepit, sebagian besar dasar lidah
ditutupi oleh bilah dan kutub superior dan inferior tonsil terlihat. Kepala di
ekstensikan dan mouth gag dielevasikan. Sebelum memulai operasi, harus dilakukan
inspeksi tonsil, fosa tonsilar dan palatum durum dan molle.
Mouth gag yang dipakai sebaiknya dengan bilah yang mempunyai alur garis
tengah untuk tempat pipa endotrakeal (ring blade). Bilah mouth gag tersedia dalam
beberapa ukuran. Anak dan dewasa (khususnya wanita) menggunakan bilah no. 3 dan
laki-laki dewasa memerlukan bilah no. 4. Bilah no. 2 jarang digunakan kecuali pada
anak yang kecil. Intubasi nasal trakea lebih tepat dilakukan dan sering digunakan oleh
17

banyak ahli bedah bila tidak dilakukan adenoidektomi.1 Berbagai teknik diseksi baru
telah ditemukan dan dikembangkan disamping teknik diseksi standar, yaitu:
-

Electrosurgery (Bedah listrik)


Awalnya, bedah listrik tidak bisa digunakan bersama anestesi umum, karena
mudah memicu terjadinya ledakan. Namun, dengan makin berkembangnya zat
anestetik yang nonflammable dan perbaikan peralatan operasi, maka penggunaan
teknik bedah listrik makin meluas. Pada bedah listrik transfer energi berupa radiasi
elektromagnetik (energi radiofrekuensi) untuk menghasilkan efek pada jaringan.
Frekuensi radio yang digunakan dalam spektrum elektromagnetik berkisar pada 0.1
hingga 4 MHz. Penggunaan gelombang pada frekuensi ini mencegah terjadinya
gangguan konduksi saraf atau jantung. Pada teknik ini elektroda tidak menjadi
panas, panas dalam jaringan terbentuk karena adanya aliran baru yang dibuat dari
teknik ini. Teknik ini menggunakan listrik 2 arah (AC) dan pasien termasuk dalam
jalur listrik (electrical pathway). Teknik bedah listrik yang paling paling umum
adalah monopolar blade, monopolar suction, bipolar dan prosedur dengan bantuan
mikroskop. Tenaga listrik dipasang pada kisaran 10 sampai 40 W untuk memotong,
menyatukan atau untuk koagulasi. Bedah listrik merupakan satu-satunya teknik
yang dapat melakukan tindakan memotong dan hemostase dalam satu prosedur.
Dapat pula digunakan sebagai tambahan pada prosedur operasi lain.

Radiofrekuensi
Pada teknik radiofrekuensi, elektroda disisipkan langsung ke jaringan. Densitas
baru di sekitar ujung elektroda cukup tinggi untuk membuat kerusakan bagian
jaringan melalui pembentukan panas. Selama periode 4-6 minggu, daerah jaringan
yang rusak mengecil dan total volume jaringan berkurang. Pengurangan jaringan
juga dapat terjadi bila energi radiofrekuensi diberikan pada medium penghantar
seperti larutan salin. Partikel yang terionisasi pada daerah ini dapat menerima
cukup energi untuk memecah ikatan kimia di jaringan. Karena proses ini terjadi
pada suhu rendah (40C-70C), mungkin lebih sedikit jaringan sekitar yang rusak.
Alat radiofrekuensi yang paling banyak tersedia yaitu alat Bovie, Elmed Surgitron
system (bekerja pada frekuensi 3,8 MHz), the Somnus somnoplasty system
(bekerja pada 460 kHz), the ArthroCare coblation system dan Argon plasma
coagulators. Dengan alat ini, jaringan tonsil dapat dibuang seluruhnya, ablasi
sebagian atau berkurang volumenya. Penggunaan teknik radiofrekuensi dapat
18

menurunkan morbiditas tonsilektomi. Namun masih diperlukan studi yang lebih


besar dengan desain yang baik untuk mengevaluasi keuntungan dan analisa biaya
-

dari teknik ini.


Skalpel harmonic
Skalpel harmonik menggunakan teknologi ultrasonik untuk memotong dan
mengkoagulasikan jaringan dengan kerusakan jaringan minimal. Teknik ini
menggunakan suhu yang lebih rendah dibandingkan elektrokauter dan laser.
Dengan elektrokauter atau laser, pemotongan dan koagulasi terjadi bila temperatur
sel cukup tinggi untuk tekanan gas dapat memecah sel tersebut (biasanya 150C400C), sedangkan dengan skalpel harmonik temperatur disebabkan oleh friksi
jauh lebih rendah (biasanya 50C -100C). Sistim skalpel harmonik terdiri atas
generator 110 Volt, handpiece dengan kabel penyambung, pisau bedah dan pedal
kaki. Alatnya memiliki 2 mekanisme memotong yaitu oleh pisau tajam yang
bergetar dengan frekuensi 55,5 kHz sejauh lebih dari 80 m (paling penting), dan
hasil dari pergerakan maju mundur yang cepat dari ujung pemotong saat kontak
dengan jaringan yang menyebabkan peningkatan dan penurunan tekanan jaringan
internal, sehingga menyebabkan fragmentasi berongga dan pemisahan jaringan.
Koagulasi muncul ketika energi mekanik ditransfer kejaringan, memecah ikatan
hidrogen tersier menjadi protein denaturasi dan melalui pembentukan panas dari
friksi jaringan internal akibat vibrasi frekuensi tinggi. Skalpel harmonik memiliki
beberapa keuntungan dibanding teknik bedah lain, yaitu:
a. Dibandingkan dengan elektrokauter atau laser, kerusakan akibat panas
minimal karena proses pemotongan dan koagulasi terjadi pada temperatur
lebih rendah dan charring, desiccation (pengeringan) dan asap juga lebih
sedikit. Tidak seperti elektrokauter, skalpel harmonik tidak memiliki energi
listrik yang ditransfer ke atau melalui pasien, sehingga tidak ada stray energi
(energi yang tersasar) yang dapat menyebabkan shock atau luka bakar.
b. Dibandingkan teknik skalpel, lapangan bedah terlihat jelas karena lebih sedikit
perdarahan, perdarahan pasca operasi juga minimal.
c. Dibandingkan dengan teknik diseksi standar dan elektrokauter, teknik ini
mengurangi nyeri pascaoperasi.
d. Teknik ini juga menguntungkan bagi pasien terutama yang tidak bisa
mentoleransi kehilangan darah seperti pada anak-anak, pasien dengan anemia

atau defisiensi faktor VIII dan pasien yang mendapatkan terapi antikoagulan.
Coblation

19

Teknik coblation juga dikenal dengan nama plasma-mediated tonsillar


ablation, ionised field tonsillar ablation; radiofrequency tonsillar ablation; bipolar
radiofrequency ablation; cold tonsillar ablation. Teknik ini menggunakan bipolar
electrical probe untuk menghasilkan listrik radiofrekuensi (radiofrequency
electrical) baru melalui larutan natrium klorida. Keadaan ini akan menghasilkan
aliran ion sodium yang dapat merusak jaringan sekitar. Coblation probe
memanaskan jaringan sekitar lebih rendah dibandingkan probe diatermi standar
(suhu 60C (45-85C) dibanding lebih dari 100C). National Institute for clinical
excellence menyatakan bahwa efikasi teknik coblation sama dengan teknik
tonsilektomi standar tetapi teknik ini bermakna mengurangi rasa nyeri, tetapi
-

komplikasi utama adalah perdarahan.


Intracapsular partial tonsillectomy
Intracapsular tonsillectomy merupakan tonsilektomi parsial yang dilakukan
dengan

menggunakan

mikrodebrider

endoskopi.

Meskipun

mikrodebrider

endoskopi bukan merupakan peralatan ideal untuk tindakan tonsilektomi, namun


tidak ada alat lain yang dapat menyamai ketepatan dan ketelitian alat ini dalam
membersihkan jaringan tonsil tanpa melukai kapsulnya. Pada tonsilektomi
intrakapsular, kapsul tonsil disisakan untuk menghindari terlukanya otot-otot faring
akibat tindakan operasi dan memberikan lapisan pelindung biologis bagi otot
dari sekret. Hal ini akan mencegah terjadinya perlukaan jaringan dan mencegah
terjadinya peradangan lokal yang menimbulkan nyeri, sehingga mengurangi nyeri
pasca operasi dan mempercepat waktu pemulihan. Jaringan tonsil yang tersisa akan
meningkatkan insiden tonsillar regrowth. Tonsillar regrowth dan tonsilitis kronis
merupakan hal yang perlu mendapat perhatian khusus dalam teknik tonsilektomi
intrakapsuler. Tonsilitis kronis dikontraindikasikan untuk teknik ini. Keuntungan
teknik ini angka kejadian nyeri dan perdarahan pasca operasi lebih rendah
dibanding tonsilektomi standar. Tetapi masih diperlukan studi dengan desain yang
-

baik untuk menilai keuntungan teknik ini.


Laser (CO2-KTP)
Laser tonsil ablation (LTA) menggunakan CO2 atau KTP (Potassium Titanyl
Phospote) untuk menguapkan dan mengangkat jaringan tonsil. Teknik ini
mengurangi volume tonsil dan menghilangkan recesses pada tonsil yang
meyebabkan infeksi kronik dan rekuren. LTA dilakukan selama 15-20 menit dan
dapat dilakukan di poliklinik dengan anestesi lokal. Dengan teknik ini nyeri
pascaoperasi minimal, morbiditas menurun dan kebutuhan analgesia pascaoperasi
20

berkurang. Tekhnik ini direkomendasikan untuk tonsilitis kronik dan rekuren, sore
throat kronik, halitosis berat atau obstruksi jalan nafas yang disebabkan
pembesaran tonsil.
C. Penyulit Tonsilektomi
Berikut ini keadaan-keadaan yang memerlukan pertimbangan khusus dalam
melakukan tonsilektomi maupun tonsiloadenoidektomi pada anak dan dewasa:
1. Kelainan anatomi:
- Submucosal cleft palate (jika adenoidektomi dilakukan)
- Kelainan maksilofasial dan dentofasial
2. Kelainan pada komponen darah:
- Hemoglobin < 10 g/100 dl
- Hematokrit < 30 g%
- Kelainan perdarahan dan pembekuan (Hemofilia)
3. Infeksi saluran nafas atas, asma, penyakit paru lain
4. Penyakit jantung kongenital dan didapat (MSI)
5. Multiple Allergy
6. Penyakit lain, seperti:
- Diabetes melitus dan penyulit metabolik lain
- Hipertensi dan penyakit kardiovaskular
- Obesitas, kejang demam, epilepsi
D. Komplikasi Bedah
1) Perdarahan
Komplikasi perdarahan dapat tejadi selama operasi belangsung atau segera setelah
penderita meninggalkan kamar operasi (24 jam pertama post operasi) bahkan
meskipun jarang pada hari ke 5 -7 pasca operasi dapat terjadi perdarahan
disebabkan oleh terlepasnya membran jaringan granulasi yang terbentuk pada
permukaan luka operasi, karena infeksi di fossa tonsilaris atau trauma makanan
keras.

Untuk mengatasi perdarahan, dapat dilakukan ligasi ulang, kompresi

dengan gas ke dalam fossa, kauterisasi atau penjahitan ke pilar dengan anastesi
lokal atau umum.
2) Infeksi
Luka operasi pada fossa tonsilaris merupakan port dentre bagi mikroorganisme,
sehingga merupakan sumber infeksi dan dapat terjadi faringitis, servikal adenitis
dan trombosis vena jugularis interna, otitis media atau secara sistematik dapat
terjadi endokarditis, nefritis dan poliarthritis, bahkan pernah dilaporkan adanya
komplikasi meningitis dan abses otak serta terjadi trombosis sinus cavernosus.
Komplikasi pada paru-paru serperti pneumonia, bronkhitis dan abse paru biasanya
terjadi karena aspirasi waktu operasi. Abses parafaring dapat timbul sebagai
akibat suntikan pada waktu anastesi lokal. Pengobatan komplikasi infeksi adalah

21

pemberian antibiotik yang sesuai dan pada abses parafaring dilakukan insisi
drainase.
3) Nyeri pasca bedah
Dapat terjadi nyeri tenggorok yang dapat menyebar ke telinga akibat iritasi ujung
saraf sensoris dan dapat pula menyebabkan spasme faring.

Sementara dapat

diberikan analgetik dan selanjutnya penderita segera dibiasakan mengunyah untuk


mengurangi spasme faring.
4) Trauma jaringan sekitar tonsil
Manipulasi terlalu banyak saat operasi dapat menimbulkan kerusakan yang
mengenai pilar tonsil, palatum molle, uvula, lidah, saraf dan pembuluh darah.
Udem palatum molle dan uvula adalah komplikasi yang paling sering terjadi.
5) Perubahan suara
Otot palatofaringeus berinsersi pada dinding atas esofagus, tetapi bagian medial
serabut otot ini berhubungan dengan ujung epligotis. Kerusakan otot ini dengan
sendirinya menimbulkan gangguan fungsi laring yaitu perubahan suara yang
bersifat temporer dan dapat kembali lagi dalam tempo 3 4 minggu.
6) Komplikasi lain
Biasanya sebagai akibat trauma saat operasi yaitu patah atau copotnya gigi, luka
bakar di mukosa mulut karena kateter, dan laserasi pada lidah karena mouth gag.12
E. Obat dan Kebutuhan cairan selama Operasi
Selama operasi berlangsung dilakukan pemantauan tanda vital berupa tekanan
darah, nadi , dan saturasi oksigen setiap 5 menit secara efisien dan terus menerus, dan
pemberian cairan intravena berupa RL. Cairan yang diberikan adalah RL (Ringer
Laktat) karena merupakan kristaloid dengan komposisinya yang lengkap (Na+, K+, Cl-,
Ca++, dan laktat) yang mengandung elektrolit untuk menggantikan kehilangan cairan
selama operasi, juga untuk mencegah efek hipotensi akibat pemberian obat-obatan
intravena dan gas inhalasi yang mempunyai efek vasodilatasi.
Terapi cairan intra-operatif dijabarkan sebagai berikut :
Kebutuhan Cairan Basal (M) :
o Kebutuhan cairan basal (rutin, rumatan) ialah :
4ml/kgBB/jam tambahkan untuk berat badan 10 kg pertama
2ml/kgBB/jam untuk berat badan 10 kg kedua
1ml/kgBB/jam tambahkan untuk sisa berat badan

22

o Pada pasien ini diperoleh kebutuhan cairan basalnya adalah sebagai berikut :
(4x 10 kg) + (2x10 kg) + (1x 40 kg) = 100 cc
Kebutuhan cairan operasi (O) :
o Pembedahan akan menyebabkan cairan pindah ke ruang peritoneum, ruang
ketiga, atau ke luar tubuh. Untuk menggantinya tergantung pada besar
kecilnya pembedahan, 6-8 ml/kg untuk operasi besar, 4-6 ml/kg untuk operasi
sedang, dan 2-4 ml/kg untuk operasi kecil.
o Pada pasien ini diperoleh kebutuhan cairan operasinya adalah sebagai berikut :
Operasi sedang x Berat badan : 6 x 60 kg = 360 cc
Kebutuhan cairan puasa (P) ;
Lama jam puasa x kebutuhan cairan basal
8 x 100 = 800 cc
Pemberian cairan jam pertama :
Kebutuhan cairan basal + kebutuhan cairan operasi + 50% kebutuhan cairan
puasa
100 cc + 360 cc + 400 cc = 860 cc
Pada pasien diberikan antibiotik untuk pencegahan infeksi yaitu cefotaxime 1gr.
Cefotaxime merupakan antibiotik spektrum luas yang dapat digunakan terhadap
berbagai kuman gram-positif maupun negatif. Obat ini merupakan golongan
sefalosporin generasi ketiga.
Tramadol 100 mg diberikan pada sebagai analgetik kuat dan bekerja secara
sentral, pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga memblok sensasi nyeri dan respon
terhadap nyeri. Tramadol adalah analog kodein sintetik yang merupakan reseptor yang
lemah. Tramadol diberikan secara iv drip pada pasien. Tramadol mengalami
metabolisme di hati dan di ekskresi oleh ginjal. Lama anaslgesi dari obat ini adalah
sekitar 6 jam dengan dosis harian maksimal yang dianjurkan adalah 400 mg per hari.
Ketorolac 30 mg diberikan sebagai analgetik non opioid digunakan sebagai tambahan
penggunaan opioid dosis rendah untuk menghindari efek samping opioid yang berupa
depresi pernapasan. Sifat analgentik ketorolac setara dengan opioid (30mg ketorolac =
100 mg petidin = 12 mg morfin), sedangkan sifat antipiretik dan anti infamasinya
23

rendah. Cara kerja ketorolac adalah menghambat sintesis prostaglandin di perifer tanpa
mengganggu reseptor opioid di sistem saraf pusat.
Selama operasi keadaan pasien stabil. Setelah operasis selesai, observasi
dilanjutkan pada pasien di recovery room, dimana dilakukan pemantauan tanda vital
meliputi tekanan darah, nadi, respirasi dan saturasi oksigen dan menghitung aldrete
score.
Post - Operasi
Pasien harus diobservasi terus (pernafasan, tekanan darah, dan nadi) sesudah operasi
dan anestesi selesai sewaktu masih dikamar bedah dan kamar pulih. Bila pasien gelisah,
harus diteliti apakah karena kesakitan atau karena hipoksia (tekanan darah menurun, nadi
cepat) misalnya karena hipovolemia (perdarahan di dalam perut atau kekurangan cairan).

Skor Aldrete
Skor aldrete adalah suatu kriteria untuk menilai keadaan pasien selama observasi di
ruang pemulihan (recovery room) yang digunakan untuk menentukan boleh tidaknya
pasien dikeluarkan dari ruang pemulihan. Kriteria yang digunakan dan umumnya yang
dinilai pada saat observasi di ruang pulih adalah warna kulit atau saturasi O 2, kesadaran,
sirkulasi, pernafasan, dan aktivitas motorik. Idealnya, pasien baru boleh dikeluarkan bila
jumlah skor total adalah 10 (skor maksimal). Namun, bila skor total telah di atas 8 ,
pasien boleh keluar dari ruang pemulihan. 4
Tabel 4. Aldretes Score4
Kriteria

Skor

Kesadaran
Sadar penuh

Terangsang oleh stimulus verbal

Tidak terangsang oleh stimulus verbal


Respirasi

Dapat bernapas dalam dan batuk

Dispnea atau hanya dapat bernapas dangkal

Tidak dapat bernapas tanpa bantuan (apnea)


Tekanan Darah

24

Berbeda 20% dari tekanan darah sebelum operasi

Berbeda 20 50% dari tekanan darah sebelum operasi

Berbeda > 50% dari tekanan darah sebelum operasi


Oksigenasi

SpO2 > 92% pada udara ruangan

Memerlukan O2 tambahan untuk mencapai SpO2 > 90%

SpO2 < 90% meskipun telah mendapat O2 tambahan

Penutup
Kesimpulan
Tonsilitis adalah peradangan di daerah tonsil yang menimbulkan gejala nyeri
tenggorokan, sulit menelan, tidak nafsu makan, dan lain lain. Selain obat dan tirah
baring, jika penyakit ini sangat mengganggu si penderita bisa dilakukan tonsilektomi.
Pada tonsilektomi, anastesi yang digunakan adalah anastesi umum. Dalam melakukan
pembedahan perlu diperhatikan teknik dan obat anastesi serta teknik pembedahannya.
Tindakan pre-operasi dilakukan untuk mempersiapkan pasien yang akan dibedah,
intra operasi adalah saat pembedahan, dan pasca operasi adalah tindakan yang harus
dilakukan terhadap pasien setelah pembedahan. Tonsilektomi merupakan pembedahan
yang cukup sering di lakukan namun jika tidak memperhatikan tindakan tindakan
pre, intra, dan pasca operasi dengan benar dapat menimbulkan komplikasi yang dapat
membahayakan dan merugikan pasien.

Daftar Pustaka
25

1. Mohammad K. Anatomi dan fisiologi manusia. Jakarta: Gramedia Utama; 2007.h.81.


2. Anatomi Tonsil. Diunduh tanggal 15 November 2015 dari http://www.healthfixt.com
3. Tonsil normal dan tonsilitis. Diunduh tanggal 15 november 2015 dari
http://slideshare.net
4. Burton MJ, Towler B. Tonsilectomy versus non surgical treatment for cronic /
reccurent acute tonsilitis. UK: The cochrane library;2005.p.25-9.36-45.
5. Tonsilitis akut. Diunduh tanggal 15 November 2015 dari
http://tonsilitisakut.wordpress.com
6. Mathews J, Lancaster J, Sullivan GO. Historical article guillotine tonsillectomy. UK;
The journal of Laryngology and otology;2005.p.322-6.
7. Tonsilitis kronik. Diunduh tanggal 15 November 2015 dari http://slideshare.net
8. Mangku G, Tjokorda G, Agung S. Buku Ajar Ilmu Anastesi dan Reanimasi. Indeks : Jakarta;
2010.h.181-201.

9. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Ed ke-2.
Penerbit Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI: Jakarta;2009.h.325-7.
10. Skor Mallampati. Diunduh tanggal 15 November 2015 dari http://medicinesia.com
11. Drake A. Tonsillectomy. http://www.emedicine.com/ent/topic315.htm/emed-tonsilektomi
diakses tanggal 15 November 2015.
12. Efiaty, Soepardi T. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher, Ed
7. Jakarta: FK-UI; 2005.h.167-8.

26