Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Nama
Jenis kelamin
Umur
Agama
Suku
Pekerjaan
Alamat
No. Register
Tanggal pemeriksaan
Rumah sakit

: Tn. R
: Perempuan
: 43 tahun
: Islam
: Bugis / Indonesia
: IRT
: Jl. Tinumbu Lorong 149
: 087719
: 14 Juni 2016
: BKMM Makassar

II. ANAMNESIS

KU
: Tidak dapat melihat pada mata kanan
AT : pasien datang kerumah sakit BKMM dengan keluhan tidak dapat melihat
pada mata kanan sejak 6 bulan yang lalu, pasien mengatakan pada awalnya
mengalami kecelakaan lalu lintas, tetapi 1 minggu tiba tiba pusing dan nyeri
kepala kemudian pasien tiba tiba tidak dapat melihat dengan mata kanan,
riwayat penggunaan kaca mata OD -3,25 D, OS -2,5 D. Air mata berlebihan
(-), kotoran mata berlebih (-), rasa berpasir pada mata (-), gatal pada mata (-),
rasa mengganjal (-), silau (-), sakit kepala (+), Riwayat mata merah (-).
Riwayat nyeri (-), riwayat trauma (-), riwayat memakai kaca mata (+) sejak
dua puluh tahun yang lalu, kacamata yang dipakai kacamata miop. Riwayat
Hipertensi (-). Riwayat Diabetes Melitus (-), riwayat penyakit sama pada
keluarga (-). Riwayat penyakit sistemik lainnya (-), riwayat trauma (+). Riw
sering mengangkat barang-barang berat (-).

III. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI


A. Inspeksi

PEMERIKSAAN

OD

OS

Palpebra
Apparatus

Edema (-)
Lakrimasi (-)

Edema (-)
Lakrimasi (-)

Lakrimalis
Silia

Normal

Normal

Konjungtiva

Hiperemis (-)

\Hiperemis (-)

Bola mata
Mekanisme

Normal
Normal ke segala arah :

Normal
Normal ke segala

muscular

arah :

- ODS
- OD
- OS

Kornea
Bilik Mata Depan
Iris

Jernih
Normal
Coklat, kripte (+)

Jernih
Normal
Coklat, kripte

Pupil
Lensa

Bulat, sentral
Jernih

(+)
Bulat, sentral
Jernih

B. Palpasi
2

Pemeriksaan
Tensi okuler
Nyeri tekan
Massa tumor
Glandula preaurikuler

OD
Tn
(-)
(-)
Tidak ada pembesaran

OS
Tn
(-)
(-)
Tidak ada pembesaran

C. Tonometri
TOD : (-)
TOS : (-)
D. Slit Lamp
SLOD

: konjungtiva hiperemis (-), Kornea jernih, Bilik Mata


Depan kesan normal, Iris coklat, kripte (+), pupil bulat

SLOS

sentral, RC (+), lensa jernih.


: konjungtiva hiperemis (-), Kornea jernih, Bilik Mata
Depan kesan normal, Iris coklat, kripte (+), pupil bulat
sentral, RC (+), lensa jernih.

E. Visus
VOD 0

VOS 6/6, VD 20/40, S(-)2D, C(0,75) 161O Dapat 20/20

F. Campus Visual
Tidak dilakukan Pemeriksaan
G. Penyinaran Oblik
Pemeriksaan
Konjungtiva
Kornea
BMD
Iris
Pupil
Lensa

OD
Hiperemis (-)
Jernih
Normal
Coklat, kripte (+)
Bulat, sentral, RC(+)
Jernih

OS
Hiperemis (-)
Jernih
Normal
Coklat, kripte (+)
Bulat, sentral, RC(+)
Jernih

H. USG

IV. DIAGNOSIS
OD Ablasio Retina tipe Regmatogenosa
V. PLANNING
Pemeriksaan B-Scan
VI. ANJURAN TERAPI
VI. RESUME
Seorang perempuan umur 44 tahun datang ke BKMM dengan keluhan
utama tidak dapat melihat pada okuli dextra + sejak 6 bulan yang lalu secara
tiba-tiba yang diawali dengan riwayat trauma 1 minggu sebelumnya. Riw
trauma (+). Dari pemeriksaan oftalmologi didapatkan pada inspeksi OD dan
OS hasil pemeriksaan normal. Pada pemeriksaan visus didapatkan VOD
0 VOS

6/6, VD 20/40, S(-)2D, C(0,75) 161O Dapat 20/20, pada

pemeriksaan SLOD konjungtiva hiperemis (-), Kornea jernih, Bilik Mata


Depan kesan normal, Iris coklat, kripte (+), pupil bulat sentral, RC (+), lensa
jernih, dan pada pemeriksaan didapatkan ablation retina.
VII. DISKUSI
4

Berdasarkan hasil anamnesa didapatkan adanya keluhan pasien


dengan penglihatan kabur pada mata kanan yang dialami secara tiba-tiba
sekitar kurang lebih enam bulan yang lalu yang awalnya sejak terjadi
riwayat kecelakaan Pasien mengeluh mata kanannya tidak dapat melihat
dengan Riwayat seperti melihat kilatan (+), riwayat seperti ada bintik-bintik
hitam yang berterbangan (+). Gejala yang dirasakan pasien merupakan
gejala yang khas yang dapat dijumpai pada keadaan-keadaan terjadinya
ablasio retina. Adapun gejala tersebut yaitu adanya floaters berupa bintikbintik hitam berterbangan, light flashes berupa melihat kilatan dan
penurunan ketajaman penglihatan.
Ablasio retina terdiri dari 3 yaitu regmatogenosa, ablasio traksi dan
eksudatif. Bentuk tersering dari ketiga jenis ablasio ini adalah ablasio retina
regmatogenosa. Karakteristik dari ablasio retina ini adalah adanya
pemutusan total suatu rhegma di retina sensorik, traksi korpus vitreum
dengan derajat yang bervariasi dan mengalirnya korpus vitreum cair melalui
defek retina sensorik kedalam

ruang subretina. Gejala yang sering

dikeluhkan penderita adalah adanya floaters (terlihatnya benda-benda yang


melayang-layang), yang terjadi karena adanya kekeruhan di vitreus oleh
adanya darah, pigmen retina yang lepas, atau degenerasi vitreus itu sendiri.
Photopsia atau kilatan cahaya tanpa adanya sumber cahaya disekitarnya
yang umumnya terjadi sewaktu mata digerakkan dalam keremangan cahaya
atau dalam keadaan gelap. Penurunan tajam penglihatan, penderita
mengeluh separuh lapangan pandangnya terganggu.
Pasien ini dianjurkan untuk scleral buckling serta injeksi gas dengan
tujuan untuk melekatkan kembali bagian retina yang lepas. Dengan
melekatnya retina pada koroid diharapkan dapat memperbaiki prognosis
pasien, yaitu terjadi peningkatan visus. Selain itu tindakan ini untuk
mencegah komplikasi lebih lanjut, yaitu peninggian tekanan bola mata bila
telah terjadi neovaskular glaukoma pada ablasi yang telah lama.
Prinsip bedah pada ablasio retina yaitu :

1. Menemukan semua bagian yang terlepas


2. Membuat iritasi korioretinal pada sepanjang masing-masing daerah retina
yang terlepas.
3. Menguhubungkan koroid dan retina dalam waktu yang cukup untuk
menghasilkan adhesi dinding korioretinal yang permanen pada daerah
subretinal.
Prognosis tergantung luasnya robekan retina, jarak waktu
terjadinya ablasio, diagnosisnya dan tindakan bedah yang dilakukan. Terapi
yang cepat prognosisnya lebih baik. Jika makula melekat dan pembedahan
berhasil melekatkan kembali retina perifer, maka hasil penglihatan sangat
baik. Jika makula lepas lebih dari 24 jam sebelum pembedahan, maka tajam
penglihatan sebelumnya mungkin tidak dapat pulih sepenuhnya.

ABLASIO RETINA
I.

Pendahuluan
Retina merupakan lapisan membran neurosensoris dan merupakan
lapisan ketiga bola mata setelah sklera yang merupakan jaringan ikat dan
jaringan uvea yang merupakan jaringan vaskuler yang terdiri dari iris,
badan siliar, dan koroid. Retina berbatas dengan koroid dengan sel pigmen
epitel retina. Antara retina dan koroid terdapat rongga yang potensial yang
bisa mengakibatkan retina terlepas dari koroid. Hal ini yang disebut
sebagai ablasio retina.1
Retina manusia merupakan suatu struktur yang sangat terorganisir,
yang terdiri dari lapisan-lapisan badan sel dan prosesus sinaptik. Walaupun
ukurannya kompak dan tampak sederhana apabila dibandingkan dengan
struktur saraf misalnya korteks serebrum, retina memiliki daya pengolahan
yang sangat canggih. Pengolahan visual retina diuraikan oleh otak, dan
persepsi warna, kontras, kedalaman, dan bentuk berlangsung di korteks.
Pengolahan informasi di retina berlangsung dari lapisan

II.

fotoreseptor

melalui akson sel ganglion menuju ke saraf optikus dan otak.2


Anatomi retina
Retina adalah selembar tipis jaringan saraf yang semitransparan,
multilapis yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding bola
mata. Retina membentang ke depan hampir sama jauhnya dengan korpus
siliare, dan berakhir di tepi ora serrata. Pada orang dewasa, ora serrata
berada sekitar 6,5 mm di belakang garis Schwalbe pada sisi temporal dan

5,7 mm di belakang garis ini pada sisi nasal. Permukaan luar retina
sensorik bertumpuk dengan lapisan epitel berpigmen retina sehingga juga
bertumbuk dengan membrane Bruch, koroid dan sklera. Disebagian besar
tempat, retina dan epitelium pigmen retina mudah terpisah hingga
membentuk suatu ruang subretina, seperti yang terjadi pada ablsio retina.
Tetapi pada diskus optikus dan ora serrata, retina dan epitelium pigmen
retina saling melekat kuat sehingga membatasi perluasan cairan subretina
pada ablasio retina. Hal ini berlawanan dengan ruang subkhoroid yang
dapat terbentuk antara khoroid dan sklera yang meluas ke taji sklera.
Dengan demikian ablasi koroid meluas melewati ora serrata, dibawah pars
plana dan pars plikata. Lapisan - lapisan epitel permukaan dalam korpus
siliare dan permukaan posterior iris merupakan perluasan ke anterior retina
dan epitelium pigmen retina. Permukaan dalam retina menghadap ke
vitreus.2
Lapisan-lapisan retina mulai dari sisi luar ke dalam adalah sebagai
berikut:
1. Epitelium pigmen retina
Merupakan lapisan terluar dari retina. Epitel pigmen retina terdiri
dari satu lapisan sel mengandung pigmen dan terdiri atas sel-sel
silindris dengan inti di basal. Daerah basal sel melekat erat membran
Bruch dari koroid. Fotoreseptor dipelihara oleh epitel pigmen retina,
yang berperan pada proses penglihatan. Epitel pigmen ini bertanggung
jawab untuk fagositosis segmen luar fotoreseptor, transportasi vitamin,
mengurangi hamburan sinar, serta membentuk sawar selektif antara
koroid dan retina.3, 4, 5
2. Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar batang dan kerucut.
Sel-sel batang dan kerucut di laisan fotoreseptor mengubah
rangsangan cahaya menjadi suatu impuls saraf yang dihantarkan oleh
jaras-jaras penglihatan ke korteks penglihatan ocipital. Fotoreseptor
tersusun sehingga kerapatan sel-sel kerucut meningkat di di pusat
makula (fovea), dan kerapatan sel batang lebih tinggi di perifer.
Pigmen fotosensitif di dalam sel batang disebut rodopsin. Sel kerucut
8

mengandung tiga pigmen yang belum dikenali sepenuhnya yang


disebut iodopsin yang kemungkinan menjadi dasar kimiawi bagi tiga
warna (merah,hijau,biru) untuk penglihatan warna.

Sel kerucut

berfungsi untuk penglihatan siang hari (fotopik). Subgrup sel kerucut


responsif terhadap panjang gelombang pendek, menengah, dan
panjang (biru, hijau merah). Sel batang berfungsi untuk penglihatan
malam (skotopik). Dengan bentuk penglihatan adaptasi gelap ini
terlihat beragam corak abu-abu, tetapi warnanya tidak dapat
dibedakan. Waktu senja (mesopik) diperantarai oleh kombinasi sel
kerucut dan batang.2,4, 5
3. Membrana limitans externa
4. Lapisan inti luar sel fotoreseptor, Ini terdiri dari inti dari
batang dan kerucut.3,6
5. Lapisan pleksiformis luar, yang mengandung sambungan sambungan
sel bipolar dan sel horizontal dengan fotoreseptor .3,6
6. Lapisan inti dalam badan sel bipolar, amakrin dan sel horizontal
7. Lapisan pleksiformis dalam, yang mengandung sambungan
sambungan sel ganglion dengan sel amakrin dan sel bipolar .3,6
8. Lapisan sel ganglion, Ini terutama mengandung sel badan sel ganglion
(urutan kedua neuron visual 7 pathway). Ada dua jenis sel ganglion.3,6
9. Lapisan serat saraf, yang mengandung akson akson sel ganglion
yang berjalan menuju ke nervus optikus.3,6
10. Membrana limitans interna. Ini adalah lapisan

paling dalam dan

memisahkan retina dari vitreous. Itu terbentuk oleh persatuan ekspansi


terminal dari serat yang Muller, dan pada dasarnya adalah
dasar membran.3,6

Gambar 1.
Lapisan retina dari luar ke dalam (3)
9

Retina mempunyai tebal 0,1 mm pada ora serrata dan 0,23 mm


pada kutub posterior. Di tengah tengah retina posterior terdapat makula.
Secara klinis makula dapat didefinisikan sebagai daerah pigmentasi
kekuningan yang disebabkan oleh pigmen luteal (xantofil) yang
berdiameter 1,5 mm. Secara histologis makula merupakan bagian retina
yang lapisan ganglionnya mempunyai lebih dari satu lapis sel. Secara
klinis, makula adalah bagian yang dibatasi oleh arkade arkade pembuluh
darah retina temporal. Di tengah makula sekitar 3,5 mm di sebelah lateral
diskus optikus terdapat fovea yang secara klinis jelas jelas merupakan
suatu cekungan yang memberikan pantulan khusus bila dilihat dengan
oftalmoskop.2
Fovea merupakan zona avaskular di retina pada angiografi
fluoresens. Secara histologi, fovea ditandai dengan menipisnya lapisan inti
luar dan tidak adanya lapisan lapisan parenkim karena akson akson sel
fotorreceptor (lapisan serat Henle) berjalan oblik dan pergeseran secara
sentrifugal lapisan retina yang lebih dekat ke permukaan dalam retina.
Foveola adalah bagian paling tengah pada fovea, disini fotoreseptornya
adalah sel kerucut dan bagian retina yang paling tipis. Semua gambaran
histologis ini memberikan diskriminasi visual yang halus. Ruang
ekstraseluler retina yang normalnya kosong potensial paling besar di
makula dan penyakit yang menyebabkan penumpukan bahan di ekstrasel
dapat menyebabkan daerah ini menjadi tebal sekali.2

Gambar 2.
Anatomi makula (6)
Retina menerima darah dari dua sumber yaitu khoriokapilaria yang
berada tepat diluar membrana Bruch, yang mendarahi sepertiga luar retina
10

termasuk lapisan pleksiformis luar dan lapisan inti luar, fotorreceptor, dan
lapisan epitel pigmen retina serta cabang cabang dari arteri sentralis
retinae yang mendarahi dua pertiga sebelah dalam. Fovea sepenuhnya
diperdarahi oleh khoriokapilaria dan mudah terkena kerusakan yang tak
dapat diperbaiki kalau retina mengalami ablasi. Pembuluh darah retina
mempunyai lapisan endotel yang tidak berlubang yang membentuk sawar
darah retina. Lapisan endotel pembuluh khoroid dapat ditembus. Sawar
darah retina sebelah luar terletak setinggi lapisan epitel pigmen retina.2,3
III.

Definisi
Ablasio retina (retinal detachment) adalah pemisahan retina
sensorik, yakni lapisan fotoreseptor (sel kerucut dan batang) dan jaringan
bagian dalam, epitel pigmen retina dibawahnya. Pada keadaan ini sel epitel
pigmen masih melekat erat dengan membran Bruch. Sesungguhnya antara
sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlekatan struktural
dengan koroid atau pigmen epitel, sehingga merupakan titik lemah yang
potensial untuk lepas secara embriologis. 1,3,7
Gambar 3.

Ablasio retina (4)


IV.

Epidemiologi
Penyebab The most common worldwide etiologic factors
associated with retinal detachment are myopia (ie, nearsightedness),

11

aphakia, pseudophakia (ie, cataract removal with lens implant), and


traumpaling umum di seluruh dunia yang terkait dengan ablasio retina
adalah miop, afakia, pseudofakia, dan trauma. Approximately 40-50% of
all patients with detachments have myopia, 30-40% have undergone
cataract removal, and 10-20% have encountered direct ocular trauma.
Sekitar 40-50% dari semua pasien dengan ablasio memiliki miop, 30-40%
mengalami pengangkatan katarak, dan 10-20% telah mengalami trauma
okuli. Traumatic detachments are more common in young persons, and
myopic detachment occurs most commonly in persons aged 25-45
years.Dablasio ablasio retina yang terjadi akibat trauma lebih sering terjadi
pada orang muda, dan miop terjadi paling sering pada usia 25-45 tahun.
Although no studies are available to estimate incidence of retinal
detachment related to contact sports, specific sports (eg, boxing and
bungee jumping) have an increased risk of retinal detachment. Meskipun
tidak ada penelitian yang menunjukkan untuk terjadinya ablasio retina
yang berhubungan dengan olahraga tertentu (misalnya, tinju dan bungee
jumping) tetapi olahraga tersebut meningkatkan resiko terjadinya ablasio
retina.2,8,9
SexNo predilection exists; overall, incidence is unchanged even
when corrections for the higher rate of ocular trauma in men is
considered.Kejadian ini tidak berubah ketika dikoreksi, meningkat pada
pria dengan trauma okuli.Of those younger than 45 years who have retinal
detachment, 60% are male and 40% are female. Ablasio retina pada usia
kurang dari 45 tahun, 60% laki-laki dan 40% perempuan.9
AgeAs the population ages, retinal detachments (RDs) are
becoming more common.ablasiAblasio retina biasanya terjadi pada orang
berusia 40-70 tahun. However, paintball injuries in young children and
teens are becoming increasingly common causes of eye injuries, including
traumatic retinal detachments. Namun, cedera paintball pada anak-anak
dan remaja merupakan penyebab umum dari cedera mata, yang termasuk
ablasio retina traumatik.9

12

V.

Klasifikasi
Berdasakan penyebabnya ablasio retina dibagi menjadi:
1. Ablasio Retina Primer (Ablasio Retina Regmatogenosa)
Ablasio regmatogenosa berasal dara kata Yunani rhegma, yang
berarti diskontuinitas atau istirahat . Pada ablasio retina regmatogenosa
dimana ablasi terjadi adanya robekan pada retina sehingga cairan
masuk ke belakang antara sel pigmen epitel dengan retina. Terjadi
pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid vitreus) yang masuk
melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga subretina sehingga
mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen koroid.
Ablasio regmantogenosa spontan biasanya didahului atau disertai oleh
pelepasan korpus vitreum posterior.1,2,8
Faktor predisposisi terjadinya ablasio retina regmatogenosa antara
lain: 2,3
a. Usia. Kondisi ini paling sering terjadi pada umur 40 60 tahun.
Namun, usia tidak menjamin secara pasti karena masih banyak
faktor yang mempengaruhi.
b. Jenis kelamin. Keadaan ini paling sering terjadi pada laki laki
dengan perbandingan laki : perempuan adalah 3 : 2
c. Miopi. Sekitar 40 persen kasus ablasio retina regmatogenosa
terjadi karena seseorang mengalami miop.
d. Afakia. Keadaan ini lebih sering terjadi pada orang yang afakia
daripada seseorang yang fakia. Pasien bedah katarak diduga akibat
vitreus ke anterior selama atau setelah pembedahan. Lebih sering
terjadi setelah ruptur kapsul, kehilangan vitreus dan vitrektomi
anterior. Ruptur kapsul saat bedah katarak dapat mengakibatkan
pergeseran materi lensa atau sesekali, seluruh lensa ke dalam
vitreus.
e. Trauma. Mungkin juga bertindak sebagai faktor predisposisi

13

f. Fenile Posterior Vitreous Detachment (PVD). Hal ini terkait


dengan ablasio retina dalam kasus banyak.
g. Pasca sindrom nekrosis akut retina dan sitomegalovirus (CMV)
retinitis pada pasien AIDS berupa nekrosis retina dengan formasi
istirahat retina terjadi, kemudian, cairan dari rongga vitreous dapat
mengalir melalui istirahat dan melepas retina tanpa ada hadir traksi
vitreoretinal terbuka. This commonly occurs in acute retinal
necrosis syndrome and in cytomegalovirus (CMV) retinitis in
AIDS patients.
h. Retina yang memperlihatkan degenerasi di bagian perifer seperti
Lattice degeneration, Snail track degeneration, White-withpressure

and

white-without

or

occult

pressure,

acquired

retinoschisis
Ablasio retina akan memberikan gejala prodromal terdapatnya
gangguan penglihatan yang kadang kadang terlihat sebagai tabir
yang menutupi (floaters) akibat dari vitreous cepat degenerasi dan
terdapat riwayat adanya pijaran api (fotopsia) pada lapangan
penglihatan akibat sensasi berkedip cahaya karena iritasi retina oleh
gerakan vitreous.1,3
Ablasi retina yang berlokalisasi di daerah superotemporal sangat
berbahaya karena dapat mengangkat macula. Penglihatan akan turun
secara akut bila lepasnya retina mengenai macula lutea. Pada
pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang terangkat berwarna
pucat dengan pembuluh darah diatasnya dan terlihat adanya robekan
retina berwarna merah. Bila bola mata bergerak akan terlihat retina
yang lepas (ablasi) bergoyang. Kadang kadang terdapat pigmen
didalam badan kaca. Pada pupil terdapat adanya defek aferen pupil
akibat penglihatan menurun. Tekanan bola mata rendah dan dapat
meninggi bila telah terjadi neovaskuler glaucoma pada ablasi yang
telah lama.1

14

Gambar 4.
Ablasio retina tipe regmatogenosa, arah panah menunjukkan horseshoe tear (7)

2. Ablasio Retina Sekunder (Non regmatogenosa)


i.

Ablasio Retina Eksudatif


Ablasio retina eksudatif terjadi akibat adanya penimbunan
cairan eksudat di bawah retina (subretina) dan mengangkat retina.
Penimbunan cairan subretina terjadi akibat ekstravasasi cairan dari
pembuluh retina dan koroid. Penyebab Ablasio retina eksudatif
dibagi menjadi dua yaitu penyakit sistemik yang meliputi Toksemia
gravidarum, hipertensi renalis, poliartritis nodosa. Sedangkan
penyakit mata meliputi akibat inflamasi (skleritis posterior, selulitis
orbita), akibat penyakit vascular (central serous retinophaty, and
axudative retinophaty of coats, akibat neoplasma (malignant
neoplasma koroid dan retinoblastoma), akibat perforasi bola mata
pada operasi intraokuler.1,2,3
Gejala klinis ablasio retina eksudatif antara lain:3
a. Tidak adanya photopsia, lubang / air mata, lipatan dan
undulations.
b. Ablasio retina eksudatif halus dan cembung. Pada puncak
tumor itu biasanya bulat dan tetap dan bisa menunjukkan
gangguan pigmen.
c. Kadang-kadang, pola pembuluh retina mungkin terganggu
akibat adanya neovaskularisasi di puncak tumor.

15

d. Pergeseran cairan ditandai dengan mengubah posisi daerah


terpisah dengan gravitasi adalah ciri khas yang dari detasemen
retina eksudatif.
e. Pada tes transillumination satu ablasio sederhana muncul
transparan sedangkan ablasio padat.
Gambar 5.

Ablasio retina tipe eksudatif akibat dari hasil metastase karsinoma payu dara (6)

ii.

Ablasio retina traksi


Pada ablasio ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat
tarikan jaringan parut pada

korpus vitreus (badan kaca). Pada

badan kaca terdapat jaringan fibrosis yang dapat disebabkan


diabetes melitus proliferative, trauma, dan perdarahan badan kaca
akibat bedah atau infeksi. Tipe ini juga dapat terjadi sebagai
komplikasi dari ablasio retina regmatogensa.1,2,3
Ablasio retina tipe regmatogenosa yang berlangsung lama
akan membuat retina semakin halis dan tipis sehingga dapat
menyebabkan terbentuknya proliferatif

vitreotinopathy (PVR)

yang sering ditenukan pada tipe Regmetogenosa yang lama. PVR


juga dapat terjadi kegagalan dalam penatalaksanaan ablasio retina
regmatogenosa. Pada PVR, epitel pigmen retina, sel glia, dan sel
lainya yang berada di dalam maupun di luar retina pada badan
vitreus akan membentuk membrane. Kontraksi dari membrane

16

tersebut akan menyebabkan retina tertarik ataupun menyusut,


sehingga dapat mengakibatkan terdapatnya robekan baru atau
brkembang menjadi ablasio retina traksi.1,2,3,6
Gambar 6.
Ablasio retina traksi dengan proliferatif vitreoretinopati (6)

VI.

Diagnosis
Ablasio retina ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan

oftalmologi dan pemeriksaan penunjang.


1. Anamnesis
Gejala umum pada ablasio retina yang sering dikeluhkan
penderita adalah:
a. Floaters (terlihatnya benda melayang laying) yang terjadi karena
adanya kekeruhan di vitreus oleh adanya darah, pigmen retina yang
lepas atau degenerasi vitreus itu sendiri.1,2,3
b. Photopsi/light flashes (kilatan cahaya), tanpa adanya sumber
cahaya di sekitarnya, yang umumnya terjadi sewaktu mata
digerakkan dalam keremangan cahaya atau dalam keadaan gelap.3
c. Penurunan tajam penglihatan, penderita mengeluh penglihatannya
sebagian seperti tertutup tirai yang semakin lama semakian luas.

17

Pada keadaan yang telah lanjut, dapat terjadi penurunan tajam


penglihatan yang berat.1,3,6
Pada ablasio regmatogenosa, pada tahap awal masih relative
terlokalisir, tetapi jika hal tersebut tidak diperhatikan oleh penderita maka
akan berkembang menjadi lebih berat jika berlangsung sedikit sedikit demi
sedikir menuju ke arah makula. Keadaan ini juga tidak menimbulkan rasa
sakit tiba- tiba kehilangan penglihatan terjadi ketika kerusakannya sudah
parah. Pasien seperti biasanya mengeluhkan kemunculan tiba tiba awan
gelap atau kerudung didepan mata.2,3
Selain itu perlu di anamnesa adanya faktor predisposisi yang
menyebakan teradi ablasio retina seperti adanya riwayat trauma, riwayat
pembedahan sebelumnya seperti ekstraksi katarak, pengangkatan korpus
alienum inoukler, riwayat penyakit mata sebelumnya (uveitis, perdarahan
vitreus, amblopia, galukoma, dan retinopati diabetik). Riwayat keluarga
dengan sakit mata yang sama serta penyakit serta panyakit sistemik yang
berhubungan dengan ablasio retina (diabetes melitus, tumor, sickle cell
leukimia, eklamsia, dan prematuritas).1,2,3
2. Pemeriksaan oftalmoskopi
Adapun tanda tanda yang dapat ditemukan pada keadaan ini
antar lain :
a. Pemeriksaan visus. Dapat terjadi penurunan tajam penglihatan
akibat terlibatnya makula lutea atau kekeruhan media refrakta atau
badan kaca yang menghambat sinar masuk. Tajam penglihatan
akan sangat terganggu bila makula lutea ikut terangkat. 1,2,3
b. Tekanan intraokuler biasanya sedikit lebih atau mungkin normal.1,3
c. Pemeriksaan funduskopi. Merupakan salah satu cara terbaik untuk
mendiagnosa ablasio retina dengan menggunakan oftalmoskop
indirek binokuler. Pada pemeriksaan ini retina yang mengalami
ablasio tampak sebagai membran abu abu merah muda yang
menutupi gambaran vaskuler koroid. Jika terdapat akumulasi
cairan pada ruang subretina, didapatkan pergerakkan undulasi

18

retina ketika mata bergerak. Pembuluh darah retina yang terlepas


dari dasarnya berwarna gelap, berkelok kelok dan membengkok
di tepi ablasio. Pada retina yang terjadi ablasio telihat lipatan
lipatan halus. Satu robekan pada retina terlihat agak merah muda
karena terdapat pembuluh koroid dibawahnya. 1,3,6
d. Electroretinography (ERG) adalah dibawah normal atau tidak ada.3
e. Ultrasonography mngkonfirmasikan diagnosis. Ini adalah nilai
khusus pada pasien media berkabut terutama dihadapan padat
katarak.3
VII.

Penatalaksanaan
Tujuan utama bedah ablasi adalah untuk menemukan dan
memeperbaiki semua robekan retina, digunakan krioterapi atau laser untuk
menimbulkan adhesi antara epitel pigmen dan retina sensorik sehingga
mencegah influks cairan lebih lanjut kedalam ruang subretina,
mengalirkan cairan subretina ke dalam ke luar, dan meredakan traksi
vitreoretina.2,3
Penatalaksanaan pada ablasio retina adalah pembedahan. Prinsip
bedah pada ablasio retina yaitu :6
1. Menemukan semua bagian yang terlepas
2. Membuat iritasi korioretinal pada sepanjang masing-masing daerah
retina yang terlepas.
3. Menguhubungkan koroid dan retina dalam waktu yang cukup untuk
menghasilkan adhesi dinding korioretinal yang permanen pada daerah
subretinal.
Pada pembedahan ablasio retina dapat dilakukan dengan cara :
1. Scleral buckling
Metode ini paling banyak digunakan pada ablasio retina
rematogenosa terutama tanpa disertai komplikasi lainnya. Prosedur
meliputi lokalisasi posisi robekan retina, menangani robekan dengan
cryoprobe, dan selanjutnya dengan scleral buckle (sabuk). Sabuk ini
biasanya terbuat dari spons silikon atau silikon padat. Ukuran dan
19

bentuk sabuk yang digunakan tergantung posisi lokasi dan jumlah


robekan retina. Pertama tama dilakukan cryoprobe atau laser untuk
memperkuat perlengketan antara retina sekitar dan epitel pigmen
retina. Sabuk dijahit mengelilingi sklera sehingga terjadi tekanan pada
robekan retina sehingga terjadi penutupan pada robekan tersebut.
Penutupan retina ini akan menyebabkan cairan subretinal menghilang
secara spontan dalam waktu 1-2 hari. 2,3,6
Gambar 7.
Spons silikon dijahit pada bola mata untuk menekan sklera di atas robekan retina setelah
drainase cairan sub retina dan dilakukan crioterapi (10)

Gambar 8.
Penekanan yang didapatkan dari spons silikon, retina sekarang melekat kembali dan
traksi pada robekan retina oleh vitreus dihilangkan (10)

2. Retinopeksi pneumatik
Retinopeksi pneumatik merupakan metode yang juga sering
digunakan pada ablasio retina regmatogenosa terutama jika terdapat
robekan tunggal pada bagian superior retina. Teknik pelaksanaan
prosedur ini adalah dengan menyuntikkan gelembung gas ke dalam
rongga vitreus. Gelembung gas ini akan menutupi robekan retina dan
mencegah pasase cairan lebih lanjut melalui robekan. Jika robekan
dapat ditutupi oleh gelembung gas, cairan subretinal biasanya akan
hilang dalam 1-2 hari. Robekan retina dapat juga dilekatkan dengan
kriopeksi atau laser sebelum gelembung disuntikkan. Pasien harus

20

mempertahankan posisi kepala tertentu selama beberapa hari untuk


meyakinkan gelembung terus menutupi robekan retina.3,6

Gambar 9.
Setelah pengangkatan gel vitreus pada drainase cairan sub retina, gas fluorokarbon inert
disuntikan ke dalam rongga vitreus (10)

iii.

Vitrektomi
Merupakan cara yang paling banyak digunakan pada ablasio
akibat diabetes, dan juga pada ablasio regmatogenosa yang disertai
traksi vitreus atau perdarahan vitreus. Cara pelaksanaannya yaitu
dengan membuat insisi kecil pada dinding bola mata kemudian
memasukkan instruyen ing cavum vitreous melalui pars plana.
Setelah itu dilakukan vitrektomi dengan vitreus cutre untuk
menghilangkan berkas badan kaca (viteuos stands), membran, dan
perleketan perleketan. Teknik dan instruyen yang digunakan
tergantung tipe dan penyebab ablasio. Lebih dari 90% lepasnya retina
dapat direkatkan kembali dengan teknik-teknik bedah mata modern,

VIII.

meskipun kadang- kadang diperlukan lebih dari satu kali operasi.3,6


Prognosis
Prognosis dari penyakit ini berdasarkan pada keadaan makula
sebelum dan sesudah operasi serta ketajaman visualnya. Jika, keadaannya
sudah melibatkan makula maka akan sulit menghasilkan hasil operasi yang
baik, tetapi dari data yang ada sekitar 87 % dari operasi yang melibatkan
makula dapat mengembalikan fungsi visual sekitar 20/50 lebih kasus
diman makula yang terlibat hanya sepertiga atau setengah dari makula
tersebut.6

21

Pasien dengan ablasio retina yang melibatkan makula dan


perlangsungannya kurang dari 1 minggu, memiliki kemungkinan sembuh
post operasi sekitar 75 % sedangkan yang perlangsungannya 1-8 minggu
memiliki kemungkinan 50 %.3
Dalam 10-15 % kasus yang dilakukan pembedahan dengan ablasio
retina yang melibatkan makula, kemampuan visualnya tidak akan kembali
sampai level sebelumnya dilakukannya operasi. Hal ini disebabkan adanya
beberpa faktor seperti irreguler astigmat akibat pergeseran pada saat
operasi, katarak progresif, dan edema makula. Komplikasi dari
pembedahan misalnya adanya perdarahan dapat menyebabkan kemampuan
visual lebih menurun.6

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Masa edisi ketiga. 2010. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia: Jakarta. p.1-10, 183-6
2. Vaughan, Daniel G. Asbury, Taylor. 2000. Oftalmologi umum (General
ophthalmology) edisi 17. EGC: Jakarta. p. 12-199
3. Khurana. Diseases of retina in comprehensive ophthalmology 4 th edition.
New Age International Limited Publisher: India. p. 249- 279.
4. Junqueira LC, Jose C. Histologi Dasar Teks & Atlas. Edisi 10. Jakarta:
EGC; 2007. Hal. 470-464
5. Ganong WF. Buku Ajar Fisiologi kedokteran. Edisi 20. Jakarta: EGC;
2002. Hal. 178-165.
6. American Academy Ophtalmology. Retina and Vitreous: Section 12 20072008. Singapore: LEO; 2008. p. 9-299
7. Lang, GK. Ophtalmology, A Pocket Textbook Atlas. 2nd Edition.
2006.Thieme. Germany. p. 305-344.
8. Sundaram venki. Training in Ophthalmology. 2009. Oxford university
press: New York. P.118-119
9. Larkin, L. Gregory. Retinal Detachment.[serial online] 8th septembe 2010
[cited

24th

January

2012].

Available

from

http//emedicine.medscape.com/article/1226426

22

10. James, Bruce, dkk. Oftalmologi Lecture Notes. 2003. Erlangga: Jakarta. p.
117-7

23