Anda di halaman 1dari 13

Tugas Blok 29 Eye Emergency

Cinthia 102012148
Kelas E
1. Glaukoma Akut
Riwayat Klinis
- Nyeri yang terjadi secara mendadak dan sangat nyeri pada mata disekitar daerah inervasi
cabang nervus kranial V, mual, muntah dan lemas, dan hal ini sering berhubungan dengan
nyeri. Penurunan visus secara cepat dan progresif, hiperemis, dan fotofobia yang terjadi pada
semua kasus.
Pemeriksaan Mata
- Slit-lamp Biomikroskopi : hipermemis siliar karena injeksi limbal dan pembuluh darah
konjungtiva, edema kornea dengan vesikel epitelial dan penebalan struma, bilik mata depan
dangkal dengan kontak iridokorneal perifer, flare dan sel akuos dapat dilihat setelah edema
kornea dapat dikurangi, pupil oval vertikal, tetap pada posisi semidilatasi dan tidak ada reaksi
terhadap cahaya dan akomodasi, dilatasi pembuluh darah iris, dan tekanan intraokuler sangat
meningkat ( 50-100mmHg )
- Gonioskopi : Pemeriksaan gonioskopi ditunda sampai edem kornea berkurang, salah satunya
dengan obat yang dapat menurunkan tekanan intra okular, misalnya dengan gliserin topikal
atau saline hipertonik salep mata. Hal yang tidak kalah penting yaitu melakukan pemeriksaan
mata kontralateral yang biasanya ditemukan gambaran sudut tertutup latent, dimana mata yang
menderita glaukoma akut menunjukkan adanya kontak perifer iridokorneal komplit ( shaffer
grade 0 ).
- Oftalmoskopi : Kelainan optik-disc dapat dievaluasi dengan menggunakan oftalmoskop direct,
slit-lamp biomikroskopi yang menggunakan lensa +90 dioptri, hruby lens, atau lensa kontak
goldmann, dan oftalmoskop indirect. Gambaran fundus pada glaukoma akut sering ditemukan
optik-disk edema dan hiperemis.
Diagnosis
Glaukoma akut merupakan suatu keadaan darurat mata yang memerlukan penanganan
segera untuk mencegah kerusakan nervus optikus yang dapat menyebabkan kebutaan. Diagnosis
pasti ditegakkan berdasarkan, gejala klinis dan hasil pemeriksaan gonioskopi yang dapat
memberikan bukti bahwa sudut bilik mata tertutup.
Diagnosis Banding
- Glaukoma sekunder sudut tertutup akut
- Glaukoma Neovaskular
- Glaukomatosiklitik Krisis
Terapi
- Agen Osmotik
Agen ini lebih efektif untuk menurunkan tekanan intraokuler, pemberiannya dianjurkan
kepada pasien yang tidak mengalami emesis. Agen osmotik oral pada penggunaannya tidak
boleh diencerkan dengan cairan atau es, agar osmolaritas dan efisiensinya tidak menurun.
Gliserin, dosis efektif 1-1,5 gr/kgBB dalam 50% cairan. Dapat menurunkan tekanan
intraokular dalam waktu 30-90 menit setelah pemberian, dan dipastikan agen ini bekerja selama
5-6 jam.

Mannitol, merupakan oral osmotik diuretik kuat yang dapat memberikan keuntungan dan
aman digunakan pada pasien diabetes karena tidak dimetabolisme. Dosis yang dianjurkan
adalah 1-2 gr/kgBB dalam 50% cairan. Puncak efek hipotensif okular terlihat dalam 1-3 jam dan
berakhir dalam 3-5 jam.
Ureum intravena, merupakan agen osmotik yang dahulu sering digunakan, mempunyai
berat molekul yang lebih rendah. Urea lebih cepat berpenetrasi pada mata, sehingga tidak
seefektif manitol dalam menurunkan tekanan intraokular. Karena agen ini merupakan salah satu
alternatif, maka penggunaan urea ini haarus dengan pengawasan yang ketat untuk menghindari
komplikasi kardiovaskular.
-

Karbonik Anhidrase Inhibitor


Digunakan untuk menurunkan tekanan intraokular yang tinggi, dengan menggunakan dosis
maksimal dalam bentuk intravena, oral atau topikal.
Asetazolamid, merupakan pilihan yang sangat tepat bagi pengobatan darurat pada
glaukoma akut. Efeknya dapat menurunkan tekanan dengan menghambat produksi humour
akuos, sehingga sangat berguna untuk menurunkan teknan intraokularsecara cepat, yang
digunakan secara oral dan intravena. Asetazolamid dengan dosis inisial 2x250 mg oral, dapat
diberikan kepada pasien yang tidak mempunyai komplikasi lambung. Dosis alternatif intravena
500 mg bolus, efektif terhadap pasien nausea.

Miotik Kuat
Pilokarpin 2% atau 4% setiap 15 menit sampai 4 kali pemberian sebagai inisial terapi,
diindikasikan untuk mencoba menghambat serangan awal gloukoma akut. Penggunaannya
ternyata tidak efektif pada serangan yang sudah lebih dari 1-2 jam. Hal ini terjadi karena
muskulus spingter pupil sudah iskhemik sehingga tidak dapat merespon terhadap pilokarpin.
Pilokarpin diberikan satu tetes setiap 30 menit selama 1-2 jam. Pada umumnya respon pupil
negatif terhadap serangan yang telah berlangsung lama sehingga menyebabkan atrofi otot
spingter akibat iskhemia.

Beta-bloker
Merupakan terapi tambahan yang efektif untuk menangani serangan sudut tertutup. Beta
bloker dapat menurunkan tekanan intraokular dengan cara mengurangi produksi humor akuos.
Timolol merupakan beta bloker nonselektif dengan aktifitas dan konsentrasi tertinggi di bilik mata
belakang yang dicapai dalam waktu 30 60 menit setelah pemberian topikal. Beta bloker tetes
mata nonselektif sebagai inisial terapi dapat diberikan 2 kali dengan interval setiap 20 menit dan
dapat diulang dalam 4, 8, dan 12 jam kemudian.

Apraklonidin
Merupakan agen alfa2-agonis yang efektif untuk hipertensi okular, apraklonidin bekerja
dengan cara menurunkan produksi akuos humor dan tidak memberikan efek pada outflow humor
akuos. Apraklonidin 0,5% dan 1%, keduanya telah menunjukkan efektifitas yang sama dan ratarata dapat menurunkan tekanan intraokular 34% setelah 5 jam pemakaian topikal. Apraklonidin
dapat digunakan pada pengobatan glaukoma akut yang dikombinasikan dengan terapi medis
lainnya.

Parasentesis
Apabila pemakaian terapi medikamentosa secara intensif masih dianggap lambat dalam
menurunkan tekanan intraokular ke tingkat yang aman, dan kadang-kadang justru setelah
pemberian 2 atau 4 jam masih tetap tinggi. Sekarang ini mulai diperkenalkan cara menurunkan
tekanan intraokular yang cepat dengan tehnik parasintesis, seperti yang dilaporkan oleh Lamb

DS dkk, tahun 2002, yang merupakan penelitian pendahuluan (pilot study). Pada 10 mata dari 8
pasien dengan glaukoma akut, yang rata-rata tekanan intraokular 66,6 mmHg sebelum tindakan
parasintesis. Setelah dilakukan parasintesis dengan mengeluarkan cairan akuos sebanyak 0,05
ml, didapatkan penurunan tekanan intraokular secara cepat yaitu pada 15 menit setelah
parasintesis tekanan intraokular menjadi sekitar 17,1 mmHg, setelah 30 menit menjadi 21,7
mmHg, setelah 1 jam 22,7 mmHg, setelah 2 jam atau lebih 20,1 mmHg. Cara ini juga dapat
menghilangkan rasa nyeri dengan segera pada pasien.
Bedah Laser
-

Laser Iridektomi
Iridektomi diindikasikan pada keadaan glaukoma sudut tertutup dengan blok pupil.
Iridektomi juga diindikasikan untuk mencegah terjadinya blok pupil pada mata yang beresiko,
yang ditetapkan melalui evaluasi gonioskopi. Iridektomi laser juga dilakukan pada serangan
glaukoma akut dan pada mata kontra-lateral dengan potensial glaukoma akut. Kontra indikasi
Iridektomi laser tidak dapat dilakukan pada mata dengan rubeosis iridis, karena dapat terjadi
perdarahan. Resiko perdarahan juga meningkat pada pasien yang menggunakan anti-koagulan
sistemik, seperti aspirin. Argon laser lebih diutamakan pemakaiannya dari pada Nd:YAG laser
pada individu yang membutuhkan terapi laser iridektomi. Walaupun laser iridektomi tidak
membantu dalam kasus glaukoma sudut tertutup yang bukan disebabkan oleh mekanisme blok
pupil, tetapi kadang-kadang laser iridektomi perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya blokpupil pada pasien dengan sudut bilik mata sempit. Pada glaukoma sudut tertutup akut, sering
mengalami kesulitan saat melakukan iridektomi laser karena kornea keruh, sudut bilik mata
depan dangkal, dan pembengkakan iris. Dokter harus berusaha untuk menghentikan serangan
akut dengan tindakan medis sebelum melakukan operasi. Sebelum dilakukan laser harus
diberikan terapi inisial gliserin topikal untuk memperbaiki edema kornea, agar mudah untuk
mempenetrasi kripta iris. Hati-hati pada saat melakukan iridektomi perifer dan jangan terhalang
oleh palpebra. Terapi-awal dengan pilokarpin dapat membantu melebarkan dan menipiskan iris.
Terapi-awal dengan aproklonidin dapat membantu menurunkan tekanan intraokular. Pada
umumnya iridektomi menggunakan argon laser, tetapi padakeadaan kongesti, edem dan
inflamasi akibat serangan akut, tehnik ini sulit dilakukan. Setelah dilakukan indentasi gonioskopi,
kekuatan inisial laser diatur dalam 0,02-0,1 detik, ukuran tembakan 50 m, dan kekuatan 8001000 mW. Biasanya tehnik yang digunakan adalah tehnik pewarnaan iris. Komplikasi dari argon
laser adalah sinekia posterior, katarak lokal, meningkatnya tekanan intraokular (dapat merusak
nervus optikus), iritis, lubang iridektomi lebih cepat tertutup kembali dan terbakarnya kornea dan
retina. Argon laser dan Nd:YAG laser sama-sama dapat digunakan untuk iridektomi. Namun,
pemakaian Nd:YAG laser lebih disukai. Karena lebih cepat, lebih mudah, dan energi yang
dibutuhkan lebih sedikit dari pada argon laser. Lebih lanjut lagi, keefektifan dari Nd:YAG laser ini
tidak berpengaruh pada keadaan iris dan lubang iridektomi yang dihasilkan Nd:YAG laser lebih
jarang tertutup kembali dari pada argon laser. Setelah indentasi gonioskopi, inisial laser diatur 28 mJ. Komplikasi yang dapat terjadi adalah terbakarnya kornea, kapsul anterior lensa robek,
perdarahan (biasanya tidak lama), tekanan intraokular meningkat setelah operasi, inflamasi dan
lubang iridektomi lambat tertutup kembali. Untuk mencegah kerusakan lensa, operator harus
berhati-hati pada saat mempenetrasi Nd:YAG laser ke iris. Lokasi penetrasi harus seperifer
mungkin. Komplikasi yang sering terjadi pada laser iridektomi meliputi kerusakan lokal pada
lensa dan kornea, ablasio retina, pendarahan, gangguan visus dan tekanan intraokular
meningkat. Kerusakan lensa dapat dihindari dengan cara menghentikan prosedur dan segera
penetrasi iris untuk iridektomi lebih ke superior iris perifer. Ablasio retina sangat jarang, tetapi
masih ditemukan pada prosedur Nd:YAG laser iridektomi.

Laser Iridoplasti
Merupakan tindakan alternatif jika tekanan intraokular gagal diturunkan secara intensif
dengan terapi medika mentosa. Bila tekanan intraokularnya tetap sekitar 40 mmHg, visus jelek,
kornea edema dan pupil tetap dilatasi. Pada laser iridoplasti ini pangaturannya berbeda dengan
pengaturan pada laser iridektomi. Disini pengaturannya dibuat sesuai untuk membakar iris agar
otot spingter iris berkontraksi, sehingga iris bergeser kemudian sudutpun terbuka. Agar laser
iridoplasti berhasil maka titik tembakan harus besar, powernya rendah dan waktunya lama.
Aturan yang digunakan ukurannya 500 m (200-500 m), dengan power 500 mW (400-500 mW),
waktunya 0,5 detik (0,3-0,5 detik). Pada penelitian ahli terhadap 20 mata penderita glaukoma
akut, dari tekanan intraokular rata-rata sebelum iridoplasti 43,2 mmHg turun menjadi rata- rata
17 mmHg, pada 2 jam setelah dilakukan iridoplasti laser.
Bedah Insisi
Iridektomi bedah insisi
Jika iridektomi bedah insisi yang dipilih, maka pupil dibuat semiosis mungkin, dengan
menggunakan miotik tetes atau asetilkolin intra- kamera. Peritomi superior 3 mm, walaupun
beberapa ahli mata memilih tidak melakukan peritomi. Kemudian dilakukan insisi 3 mm pada
kornea- sklera 1 mm di belakang limbus. Insisi dilakukan agar iris prolap. Bibir insisi bagian
posterior ditekan, sehingga iris perifer hampir selalu prolaps lewat insisi, dan kemudian dilakukan
iridektomi. Bibir insisi bagian posterior ditekan lagi diikuti dengan reposisi pinggir iridektomi. Luka
insisi kornea ditutup dengan satu jahitan atau lebih, dan bilik mata depan dibentuk kembali
dengan NaCl 0,9% melalui parasintesis. Setelah operasi selesi, fluoresen sering digunakan
untuk menetukan ada tidaknya kebocoran pada bekas insisi. Oleh karena kebocoran dapat
meningkatkan komplikasi seperti bilik mata depan dangkal.

Trabekulektomi
Mengingat komplikasi yang terjadi pada saat dan sesudah operasi trabekulektomi, tidak
baik dilakukan pada keadaan glaukoma akut. Namun kadang-kadang, karena suatu kondisi
misalnya serangan glaukoma akut yang akan terjadi keterlantaran penyakitnya atau penderita
berasal dari tempat yang jauh maka dapat dilakukan tindakan ini, jika mungkin akan
dikombinasikan dengan ektraksi lensa (katarak), sebab jika lensanya diangkat akan melebarkan
sudut filtrasi sehingga dapat menurunkan tekanan intraokular yang efektif. Indikasi tindakan
trabekulektomi dilakukan pada keadaan glaukoma akut yang berat, atau setelah kegagalan
tindakan iridektomi perifer, glaukoma primer sudut tertutup kreeping, juga pada penderita dengan
iris berwarna coklat gelap (ras Asia atau China), yang kemungkinan terjadi serangannya lebih
berat serta tidak respon dengan tindakan iridektomi perifer.

Ekstraksi Lensa
Apabila blok pupil jelas terlihat berhubungan dengan katarak, ektraksi lensa dapat
dipertimbangkan sebagai prosedur utama. Walaupun iridektomi laser dapat menghentikan
serangan akut akibat blok pupil, namun operasi katarak baik dilakukan agar lebih aman untuk
waktu yang akan datang.

2. Ulkus Kornea
Riwayat Klinis
Terdiri dari 2 gejala, yaitu gejala subjektif dan gejala objektif. Gejala subjektif meliputi eritema
pada kelopak mata dan konjungtiva, secret mukopurulen, merasa ada benda asing di mata,
pandangan kabur, mata berair, bintik putih pada kornea (sesuai lokasi ulkus), silau, nyeri
dikarenakan ada infiltrate yang steril dapat menimbulkan sedikit nyeri apabila ulkus terdapat pada

perifer kornea dan tidak disertai dengan robekan lapisan epitel kornea. Gejala objektif meliputi
injeksi silier, hilangnya sebagian jaringan kornea dan adanya infiltrate, serta terdapat hipopion.
Pemeriksaan mata
Ketajaman penglihatan
Tes refraksi
Tes air mata
Pemeriksaan slit-lamp
Keratometri (pengukuran kornea)
Respon reflek pupil
Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.
Goresan ulkus untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau KOH)
Pada jamur dilakukan pemeriksaan kerokan kornea dengan spatula kimura dari dasar dan
tepi ulkus dengan biomikroskop dilakukan pewarnaan KOH, gram atau Giemsa. Lebih baik lagi
dengan biopsi jaringan kornea dan diwarnai dengan periodic acid Schiff. Selanjutnya dilakukan
kultur dengan agar sabouraud atau agar ekstrak maltosa.
Diagnosis
Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat supuratif
disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea dapat terjadi dari epitel sampai
stroma. Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang tepat dan cepat untuk mencegah
perluasan ulkus dan timbulnya komplikasi berupa descematokel, perforasi, endoftalmitis, bahkan
kebutaan. Ulkus kornea yang sembuh akan menimbulkan kekeruhan kornea dan merupakan
penyebab kebutaan nomor dua di Indonesia
Diagnosis Banding
Keratomalasia
Infiltrat sisa karat benda asing
Terapi
Penatalaksanaan ulkus di rumah
Jika memakai lensa kontak, secepatnya untuk melepaskannya
Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang
Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan sesering mungkin dan
mengeringkannya dengan handuk atau kain yang bersih
Berikan analgetik jika nyeri
Penatalaksanaan medis
Pengobatan konstitusi
Oleh karena ulkus biasannya timbul pada orang dengan keadaan umum yang kurang
dari normal, maka keadaan umumnya harus diperbaiki dengan makanan yang bergizi,
udara yang baik, lingkungan yang sehat, pemberian roboransia yang mengandung vitamin
A, vitamin B kompleks dan vitamin C. Pada ulkus-ulkus yang disebabkan kuman yang
virulen, yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa, dapat diberikan vaksin tifoid 0,1 cc
atau 10 cc susu steril yang disuntikkan intravena dan hasilnya cukup baik. Dengan
penyuntikan ini suhu badan akan naik, tetapi jangan sampai melebihi 39,5C. Akibat
kenaikan suhu tubuh ini diharapkan bertambahnya antibodi dalam badan dan menjadi lekas
sembuh.

Pengobatan lokal
Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan. Lesi kornea
sekecil apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya. Konjungtuvitis, dakriosistitis
harus diobati dengan baik. Infeksi lokal pada hidung, telinga, tenggorok, gigi atau tempat
lain harus segera dihilangkan.
Infeksi pada mata harus diberikan :
Sulfas atropine sebagai salap atau larutan,
Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena bekerja lama 1-2 minggu.
Efek kerja sulfas atropine :
Sedatif, menghilangkan rasa sakit.
Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang.
Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil.
Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodsi sehingga
mata dalan keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi
midriasis sehinggga sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas dan mencegah
pembentukan sinekia posterior yang baru
Skopolamin sebagai midriatika.
Analgetik.
Untuk menghilangkan rasa sakit, dapat diberikan tetes pantokain, atau tetrakain
tetapi jangan sering-sering.
Antibiotik
Anti biotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum luas
diberikan sebagai salap, tetes atau injeksi subkonjungtiva. Pada pengobatan ulkus
sebaiknya tidak diberikan salap mata karena dapat memperlambat penyembuhan
dan juga dapat menimbulkan erosi kornea kembali.
Anti jamur
Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat komersial
yang tersedia berdasarkan jenis keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi:
Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya : topikal amphotericin B 1, 2, 5
mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml, Natamycin > 10 mg/ml, golongan Imidazole
Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal, Natamicin, Imidazol
Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol
Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa, berbagai jenis anti biotik
Anti Viral
Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan streroid lokal
untuk mengurangi gejala, sikloplegik, anti biotik spektrum luas untuk infeksi
sekunder analgetik bila terdapat indikasi.
Untuk herpes simplex diberikan pengobatan IDU, ARA-A, PAA, interferon
inducer.
3. Endoftalmitis
Riwayat Klinis
Peradangan yang disebabkan bakteri akan memberikan gambaran klinik rasa sakit yang
sangat, kelopak merah dan bengkak, kelopak sukar dibuka, konjungtiva kemotik dan merah, kornea
keruh, bilik mata depan keruh. Selain itu akan terjadi penurunan tajam penglihatan dan fotofobia
(takut cahaya). Endoftalmitis akibat pembedahan biasa terjadi setelah 24 jam dan penglihatan akan

semakin memburuk dengan berlalunya waktu. Bila sudah memburuk, akan terbentuk hipopion, yaitu
kantung berisi cairan putih, di depan iris
Pemeriksaan Mata
- Pemeriksaan funduskopi sulit dilakukan karena ada kekeruhan media refrakta
- Metode kultur dengan cairan dari COA dan korpus vitreus. Pada endoftalmitis biasanya terjadi
kekeruhan apda korpus vitreus. Oleh sebab itu, bila dengan pemeriksaan oftalmoskop fundus
tidak terlihat, maka dapat dilakukan pemeriksaan USG mata. Dengan pemeriksaan ini dapat
ditentukan apakah ada benda asing dalam bola mata, menilai densitas dari vitreitis yang terjadi
dan mengetahui apakah infeksi telah mencapai retina.
- USG didapatkan kesan endoftalmitis
Diagnosis
Endoftalmitis adalah peradangan pada seluruh lapisan mata bagian dalam, cairan dalam bola
mata (humor vitreus) dan bagian putih mata (sklera). Endoftalmitis merupakan radang purulen pada
seluruh jaringan intra okuler disertai dengan terbentuknya abses didalam badan kaca. Endoftalmitis
bisa disebabkan sepsis, selulitis orbita, trauma tembus, dan ulkus.
Diagnosis Banding
- Panuveitis
- Endoftalmitis endogen
- Endoftalmitis eksogen
Terapi
Pengobatan endoftalmitis tergantung penyebabnya. Segera setelah diagnosis endoftalmitis
ditegakkan, pengobatan dapat diberikan karena keterlambatan beberapa jam saja dapat
membedakan hasil yang diinginkan. Bila disebabkan oleh bakteri, dan hal ini sudah dikonfirmasikan
pemeriksaan laboratorium, antibiotik dapat dipakai. Antibiotik ini dapat berbentuk tetes mata, per
oral (diminum) atau melalui intra vena. Antibiotik yang dapat dipakai antara lain Cefotaxim injeksi
2x1 gram intravena (lakukan skin test terlebih dahulu). Suntikan antibiotik dapat langsung dilakukan
ke dalam mata. Bila penyebabnya adalah jamur, dapat diberikan antijamur seperti Amphotericin B
yang langsung disuntikan ke dalam mata ataupun Fluconazol yang pemberiannya per oral
(diminum). Jika infeksi sudah semakin berat, dokter spesialis mata dapat melakukan tindakan
bedah yang disebut Vitrectomy.
4. Trauma Tembus Bola Mata
Riwayat Klinis
Nyeri, tajam penglihatan yang menurun, defek kehitaman (prolapsus koroid) atau prolapsus
vitreous, injeksi sklera dan perdarahan subkonjungtiva, kebocoran cairan vitreous, hyphaema,
prolapsus iris, lensa yang dislokasi, katarak traumatic, tekanan bola mata rendah, bilik mata
dangkal, bentuk dan letak pupil yang berubah, pupil yang tidak sama, berdilatasi dan nonreaktif
pada sisi yang terkena, terlihatnya ada ruptur pada kornea atau sclera
Pemeriksaan Mata
Evaluasi awal yang dapat dilakukan seperti pemeriksaan akuisi visual, lapang pandang
konfrontasional, pemeriksaan pupil, dan funduskopi mungkin dilakukan secara ekstrim karena ada
penekanan yang menyebabkan ekstruksi dari isi bola mata melalui perlukaan pada sclera maupun
kornea. Tanda-tanda penetrasi yang dapat dilihat yaitu berupa prolapses uvea, distorsi pupil,
katarak, dan perdarahan vitreous.

Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan antara lain foto polos, USG, CT scan yang dapat
memberikan informasi apakah ada rupture bola mata, kerusakan saraf optic, dan mendeteksi
apakah ada benda asing pada mata. MRI juga dapat dilakukan untuk mendeteksi kerusakan
jaringan lunak.
Diagnosis
Penegakkan diagnosis trauma tembus pada mata dapat diketahui dari anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Trauma tembus pada mata merupakan laserasi
dengan luka yang tunggal dengan ketebalan penuh disebabkan objek yang tajam tanpa adanya
jaringan yang keluar (exit wound) sedangkan perforasi akibat trauma terdapat laserasi akibat
trauma yang mengakibatkan keluamya jaringan disebabkan oleh benda yang sama.
Diagnosis Banding
Trauma tumpul pada mata
Trauma kimia
Trauma radiasi
Terapi
Tanpa Operasi
Pada luka tembus yang minimal, tanpa kerusakan intraocular, tidak ada prolapse, diberikan
terapi antibiotic sistemik dengan atau topical, dengan observasi yang ketat.
Operasi
Repair korneosklera
Tujuan primer repair korneosklera adalah untuk memperbaiki integritas bola mata. Tujuan
sekunder alah untuk memperbaiki visus. Bila prognosis visus kurang baik dan mempunyai risiko
oftalmia simpatis maka sebaiknya diakukan enukleasi. Enukleasi primer lebih baik bila perlu ditunda
tidak lebih dari 14 hari untuk mencegah oftalmia simpatis. Kemudian diikuti dengan pemeriksaan
fungsi visus, vitreoretina atau konsultasi ke subbagian plastic rekonstruksi.

Anestesi
Anestesi umum digunakan untuk repair bola mata, sebab anestesi retrobulbar dan peribulbar
akan meningkatkan tekanan bola mata. Diberikan pelumpuh otot yang cukup untuk menghindari
prolapsnya isi bola mata.
Pengobatan setelah operasi
Diberikan terapi untuk mencegah infeksi, supresi inflamasi, control tekanan intraokuler, dan
menghilangkan rasa sakit.
Antibiotik intravena diberikan 3-5 hari sedangkan antibiotic topical diberikan hingga 7 hari
dan kortikosteroid dan sikloplegia dikurangi berdasarkan tingkat inflamasinya.
Jahitan kornea bila tidak longgar dapat diletakkan sampai 3 bulan lalu diangkat bertahap
Karena ablation retina dapat terjadi, maka pemeriksaan segmen posterior perlu dilakukan
secara sering dan apabila tidak terlihat dapat menggunakan USG
Koreksi penglihatan harus dilakukan sesegera mungkin
Profilaksis sistemik untuk mencegah traumatic endoftalmitis :
Gram positif : Vankomisin 1 g IV tiap 12 jam
Gram negative
: Gentamisin 1-2 mg/kgBB IV pada kali pertama, dilanjutkan 1
mg/kgBB tiap 8 jam selama 3 hari atau Ceftazidim 1 g IV tiap 12 jam selama 3 hari

5. Trauma Kimia ( Asam dan Basa )


Riwayat Klinis
- Efipora
- Blefarospasme
- Nyeri berat
- Penurunan penglihatan akibat nekrosis superfisial kornea ( Trauma kimia asam )
- Penurunan penglihatan beberapa hari sesudah kejadian ( Trauma kimia basa )
Pemeriksaan Mata
- Pemeriksaan pH pada bola mata secara berkala dengan kertas lakmus
- Slit-lamp biomikroskopi
- Oftalmoskopi direct dan indirect
- Tonometri
Diagnosis
Trauma kimia, trauma kimia dapat bersifat asam maupun basa.
Diagnosis Banding
- Konjungtivitis
- Keratokonjungtivitis sicca
- Ulkus kornea
- Konjungtivitis hemoragik akut
Terapi
Penatalaksanaan emergency:
- Irigasi, untuk meminimalkan durasi kontak mata dengan bahan kimia dan untuk menormalisasi
pH pada saccus konjungtiva, menggunakan larutan normal saline selama 15-30 menit sampai
pH mata menjadi normal.
- Double eversi pada kelopak mata, untuk memindahkan material yang terdapat pada bola mata,
menghindari adanya perlengketan antara konjungtiva palpebra, konjungtiva bulbi, dan
konjungtiva forniks.
- Debridement pada daerah epitel kornea yang mengalami nekrotik sehingga dapat terjadi reepitalisasi pada kornea.
Penatalaksanaan medika mentosa :
- Steroid topikal, dexametason 0,1% ED dan prednison 0,1% ED diberikan selama 2 jam.
- Siplogenik, atropin 1%ED atau scopolamin 0,25% diberikan 2x sehari.
- Asam askorbat, natrium askorbat 10% topikal diberikan setiap 2 jam.
6. Hifema
Riwayat Klinis
- Penurunan visus yang mendadak dan berat
- Mata merah akibat pelebaran pembuluh darah konjungtiva
- Terdapat darah pada bilik mata depan
- Nyeri
- Diplopia
- Blefarospasme
- iridoplegia
Pemeriksaan Mata
- Tonometri, untuk memeriksa tekanan intraokular

USG untuk menyingkirkan adanya perdarahan vitreus atau ablasi retina


Skrining sickle sel
X-ray
CT-scan orbita

Diagnosis
Hifema, merupakan gejala yang ditandai dengan adanya darah dalam bilik mata depan,
sebagai akibat dari pecahnya pembuluh darah iris, akar iris, dan badan siliar.
Diagnosis Banding
- Perdarahan vitreus
- Ablasio retina
Terapi
- Tidur dengan elevasi kepala 45 derajat, istirahat total ditempat tidur.
- Infus manitol 20% 250 cc dalam 1 jam, 2x sehari
- Untuk maintenance RL infus sebagai diuresis menurunkan tekanan intrakranial
- Koagulansia : adona inj 3x1 amp
- Midriatik : cendo tropin ed 3x
- Kombinasi antibiotik dan steroid : cando xytol ed 4x
- Beta-adrenergik antagonis : glaucon 3x1
- Kalium I-aspartat 1x300 mg(Aspar-K)
7. Korpus Allienum Konjungtiva dan Kornea
Riwayat Klinis
Gejala yang ditimbulkan berupa nyeri, sensasi benda asing, fotofobia, mata merah dan mata
berair banyak. Dalam pemeriksaan oftalmologi, ditemukan visus normal atau menurun, adanya
injeksi konjungtiva atau injeksi silar, terdapat benda asing pada bola mata, fluorescein (+).
Pemeriksaan Mata
- Pemeriksaan tajamm penglihatan kedua mata
- Pemeriksaan dengan oftalmoskop
- Pemeriksaan keadaan mata yang terkena trauma
- Bila ada perforasi, maka dilakukan pemeriksaan x-ray orbita

Diagnosis
Korpus Allienum. Benda asing, merupakan salah satu penyebab terjadinya cedera mata, sering
mengenai sclera, kornea, dan konjungtiva. Meskipun kebanyakan bersifat ringan, beberapa cedera
bisa berakibat serius. Apabila suatu corpus alienum masuk ke dalam bola mata maka akan terjadi
reaksi infeksi yang hebat serta timbul kerusakan dari isi bola mata. Oleh karena itu, perlu cepat
mengenali benda tersebut dan menentukan lokasinya di dalam bola mata untuk kemudian
mengeluarkannya.
Benda yang masuk ke dalam bola mata dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu :
Benda logam, seperti emas, perak, platina, timah, besi tembaga
Benda bukan logam, seperti batu, kaca, bahan pakaian
Benda inert, adalah benda yang terbuat dari bahan-bahan yang tidak menimbulkan reaksi jaringan
mata, jika terjadi reaksinya hanya ringan dan tidak mengganggu fungsi mata. Contoh : emas,
platina, batu, kaca, dan porselin.
Benda reaktif, terdiri dari benda-benda yang dapat menimbulkan reaksi jaringan mata sehingga
mengganggu fungsi mata. Contoh : timah hitam, seng, nikel, alumunium, tembaga

Diagnosis Banding
- Konjungtivitis
Terapi
Penatalaksanaannya adalah dengan mengeluarkan benda asing tersebut dari bola mata. Bila
lokasi corpus alienum berada di palpebra dan konjungtiva, kornea maka dengan mudah dapat
dilepaskan setelah pemberian anatesi lokal. Untuk mengeluarkannya, diperlukan kapas lidi atau
jarum suntik tumpul atau tajam. Arah pengambilan, dari tengah ke tepi. Bila benda bersifat
magnetik, maka dapat dikeluarkan dengan magnet portable. Kemudian diberi antibiotik lokal,
siklopegik, dan mata dibebat dengan kassa steril dan diperban.
Pecahan besi yang terletak di iris, dapat dikeluarkan dengan dibuat insisi di limbus, melalui
insisi tersebut ujung dari magnit dimasukkan untuk menarik benda asing, bila tidak berhasil dapat
dilakukan iridektomi dari iris yang mengandung benda asing tersebut.
Pecahan besi yang terletak di dalam bilik mata depan dapat dikeluarkan dengan magnit sama
seperti pada iris. Bila letaknya di lensa juga dapat ditarik dengan magnit, sesudah insisi pada limbus
kornea, jika tidak berhasil dapat dilakukan pengeluaran lensa dengan ekstraksi linier untuk usia
muda dan ekstraksi ekstrakapsuler atau intrakapsuler untuk usia yang tua.
Bila letak corpus alienum berada di dalam badan kaca dapat dikeluarkan dengan giant magnit
setelah insisi dari sklera. Bila tidak berhasil, dapat dilakukan dengan operasi vitrektomi.
8. Trauma Radiasi Sinar Las
Riwayat Klinis
Mata sangat sakit, mata terasa kelilipan atau kemasukan pasir, fotofobia, blefarospasme dan
konjungtiva kemotik.
Pemeriksaan Mata
- Pemeriksaan dengan fluorescein untuk kornea
- Pemeriksaan sensibilitas kornea
Diagnosis
Trauma radiasi sinar las(ultraviolet)
Diagnosis Banding
- Sinar ionisasi dan sinar X
- Trauma sinar infra red
Terapi
Pengobatan yang diberikan adalah sikloplegia, antibiotika lokal, analgetik, dan mata ditutup
selama 2-3 hari. Biasanya sembuh setelah 48 jam.
9. Ablatio Retina
Riwayat Klinis
Ablasio retina tidak menimbulkan nyeri, tetapi bisa menyebabkan gambaran bentuk-bentuk
ireguler yang melayan-layang atau kilatan cahaya, serta menyebabkan penglihatan menjadi kabur.
Hilangnya fungsi penglihatan awalnya hanya terjadi pada salah satu bagian dari lapang pandang,
tetapi kemudian menyebar sejalan dengan perkembangan ablasio. Jika makula terlepas, akan
segera terjadi gangguan penglihatan dan penglihatan menjadi kabur.
Pemeriksaan Mata
- Pemeriksaan funduskopi

Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit penyerta antara lain
glaukoma, diabetes mellitus, maupun kelainan darah.
Pemeriksaan ultrasonografi, yaitu ocular B-Scan ultrasonografi juga digunakan untuk
mendiagnosis ablasio retina dan keadaan patologis lain yang menyertainya seperti proliverative
vitreoretinopati, benda asing intraokuler. Selain itu ultrasonografi juga digunakan untuk
mengetahui kelainan yang menyebabkan ablasio retina eksudatif misalnya tumor dan posterior
skleritis.
Scleral indentation
Fundus drawing
Goldmann triple-mirror
Indirect slit lamp biomicroscopy

Diagnosis
Ablasio retina, merupakan suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan batang retina dari sel
epitel pigmen retina. Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih melekat erat dengan membran
Bruch. Sesungguhnya antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlekatan
struktural dengan koroid atau pigmen epitel, sehingga merupakan titik lemah yang potensial untuk
lepas secara embriologis.
Diagnosis Banding
- Retinoschisis degeneratif, yaitu degenerasi peripheral tipikal sering ditemukan pada orang
dewasa, berlanjut dan meninggi 2-3 mm posterior ke ora serrata. Daerah yang degenerasi
tampak adanya gelembung dan paling mudah diamati adanya depresi skleral. Kavitas kistoid
pada lapisan pleksiform luar mengandung hyalorinidase-mukopolisakarida sensitif. Komplikasi
yang diketahui dari degenerasi kistoid yang tipikal adalah koalesensi dan ekstensi kavitas dan
peningkatan kearah retinoskisis degenerasi tipikal. Gejala fotopsia dan floaters tidak ada karena
tidak ada traksi vitreoretinal. Defek lapangan pandang jarang.
- Choroidal detachment, gejala fotopsia dan floaters tidak ada karena tidak ada traksi
viteroretinal. Defek lapangan pandang ada pada mata dengan detachment choroidal yang luas.
Terapi
Prinsip Penatalaksanaan pada ablasio retina adalah untuk melekatkan kembali lapisan
neurosensorik ke lapisan epitel pigmen retina. Penanganannya dilakukan dengan pembedahan,
pembedahan ablasio retina dapat dilakukan dengan cara:
Retinopeksi pneumatik
Retinopati pneumatik merupakan cara yang paling banyak pada ablasio retina regmatogenosa
terutama jika terdapat robekan tunggal pada superior retina. Teknik pelaksanaan prosedur ini adalah
dengan menyuntikkan gelembung gas ke dalam vitreus. Gelembung gas ini akan menutupi robekan
retina. Jika robekan dapat ditutupi oleh gelembung gas, cairan subretinal akan menghilang 1-2 hari.
Robekan retina dapat juga dilekatkan dengan kryopeksi sebelum balon disuntikkan. Pasien harus
mempertahankan posisi head precise selama 7-10 hari untuk meyakinkan gelembung terus
menutupi robekan retina.
Scleral buckle
Metode ini paling banyak digunakan pada ablasio retina regmatogenosa terutama tanpa disertai
komplikasi lainnya. Ukuran dan bentuk sabuk yang digunakan tergantung lokasi dan jumlah robekan
retina. Sabuk ini biasanya terbuat dari spons silikon atau silikon padat. Pertama-tama dilakukan
kryopeksi atau laser untuk memperkuat perlengketan antara retina sekitar dan epitel pigmen retina.
Sabuk dijahit mengelilingi sklera sehingga terjadi tekanan pada robekan retina sehingga terjadi

penutupan pada robekan tersebut. Penutupan retina ini akan menyebabkan cairan subretinal
menghilang secara spontan dalam waktu 1-2 hari.
Vitrektomi
Vitrektomi merupakan cara yang paling banyak digunakan pada ablasio akibat diabetes, ablasio
regmatogenosa yang disertai traksi vitreus atau hemoragik vitreus. Cara pelaksanaannya yaitu
dengan membuat insisi kecil pada bola mata kemudian memasukkan instrumen hingga ke cavum
melalui pars plana. Setelah itu pemotongan vitreus dengan pemotong vitreus. Teknik dan instrumen
yang digunakan tergantung tipe dan penyebab ablasio.