Anda di halaman 1dari 6

Indonesia merupakan salah satu hot spot keanekaragaman hayati dunia

(Myers et al. 2000). Salah satu habitat yang memililki keunikan dan
keanekaragaman hayati yang tinggi adalah lahan gambut. Dalam skala
regional, Indonesia memiliki area gambut terluas yaitu berkisar 20-27
juta ha (Page et al. 2011), yang kaya akan keanekaragaman hayati endemik
dengan pusat keanekaragaman hayati tertinggi berada di Kalimantan.
Walaupun demikian, lahan gambut di Indonesia mempunyai tingkat
kerentanan dan ancaman yang tinggi akibat perubahan lahan dari hutan ke
penggunaan lain, kebakaran, perkebunan dan permukiman
Keberadaan lahan gambut memiliki peranan yang sangat penting baik dalam
lingkup lokal, regional maupun global. Lahan gambut disamping memiliki
fungsi ekologis juga memiliki fungsi ekonomi dan sosial budaya. Fungsi
ekologis yang diperankan lahan gambut diantaranya menjaga keanekaragaman
hayati, penyimpan karbon, penghasil oksigen dan pengelolaan air.
Sedangkan fungsi ekonomi dan sosial budaya dari lahan gambut diantaranya
sebagai penghasil kayu dan sumber penghidupan masyarakat, ekowisata
serta tempat pendidikan dan penelitian
Fungsi ekologis lahan gambut dalam menjaga keanekaragaman hayati dan
keseimbangan lingkungan, dipengaruhi oleh karakteristik dari lahan
gambut yang merupakan ekosistem unik dengan pH asam, miskin hara, bahan
organik yang tebal dan selalu terendam air. Hal tersebut yang menjadikan
lahan gambut memiliki kekhasan keanekaragaman hayati karena hanya
mendukung keberadaan flora dan fauna tertentu yang mampu beradaptasi
dengan kondisi habitat tersebut
Gambut memiliki keanekaragaman flora atau vegetasi yang tinggi dengan
jenis-jenis tumbuhan yang hanya mampu beradaptasi pada kondisi ekosistem
gambut. Studi mengenai keanekaragaman vegetasi di gambut telah lama
dilakukan bahkan tercatat sejak zaman kolonialisme Belanda yang
dilakukan oleh Ijzerman et al. pada tahun 1895. Dibandingkan dengan
hutan hujan tropika secara umum, keanekaragaman vegetasi di lahan gambut
tergolong lebih rendah. Walaupun demikian, keanekaragaman vegetasi di
lahan gambut memiliki tingkat proporsi yang lebih tinggi pada
karakteristik spesiesnya dibandingkan ekosistem lahan kering pada zona
biogeografi yang sama

Manfaat Lahan Gambut


Manusia (atau masyarakat) sangat tergantung kepada sumberdaya alam hayati dengan
segenap keanekaan dan fungsinya. Tingkat ketergantungan dan kebutuhan akan
sumberdaya alam hayati ini berbeda-beda, tergantung dari pola ekonomi dan kebudayaan
masyarakat; mulai dari masyarakat peramu, masyarakat peladang/petani sampai ke
masyarakat industri. Ada masyarakat yang membutuhkan sumberdaya alam hayati hanya
untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup sehari-hari (subsistence), namun ada masyarakat
yang membutuhkan sumberdaya alam hayati yang sangat berlebihan.
Sumber daya alam hayati memiliki sifat bisa memperbaharui dirinya (renewable
resources), akan tetapi kemampuannya untuk memperbaharui dirinya tersebut bukan
tidak terbatas. Apabila pemanfaatan sumberdaya alam hayati telah melampaui
kemampuan tersebut maka keberadaan sumberdaya alam hayati tersebut akan menjadi
irreversible (tidak bisa pulih kembali).
Lahan gambut memiliki peranan hidrologis yang penting bagi suatu wilayah, karena
secara alami berfungsi sebagai cadangan (reservoir) air dengan kapasitas yang sangat
besar, dengan demikian lahan gambut dapat mengatur debit air pada musim hujan dan
kemarau. Secara ekologis, ekosistem lahan gambut merupakan tempat perkembangbiakan
ikan yang ideal, selain itu juga menjadi habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar,
termasuk jenis-jenis endemik dan dilindungi.
Fungsi dan manfaat lahan gambut secara lebih terinci dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Menyediakan berbagai layanan jasa lingkungan/ekologis
Melindungi sumber-sumber air (memelihara daur hidrologi, mengatur dan
menstabilkan aliran permukaan dan menjaga air tanah, berperan sebagai penyangga
dalam berbagai keadaan yang ekstrim, seperti banjir dan kekeringan).
Memelihara struktur tanah dan menahan kelembaban dan berbagai unsur hara
untuk membantu melindungi kemampuan produktif tanah.
Menyimpan dan mendaur zat-zat hara (hara dari udara dan juga dari dalam tanah
yang keduanya penting untuk kelangsungan kehidupan).
Menyerap dan menguraikan zat-zat pencemar (oleh berbagai komponen ekosistem
mulai dari bakteri sampai berbagai bentuk kehidupan yang lebih tinggi, dan berbagai
proses ekologis).
Memberi konstribusi terhadap kestabilan iklim (penyimpan karbon).
Memelihara berbagai ekosistem (menjaga keseimbangan antara makhluk hidup
dengan berbagai sumber daya yang diperlukannya seperti makanan dan naungan
yang mereka perlukan untuk tetap hidup).

b. Fungsi biologis untuk memasok :


Penyedia makanan (berbagai binatang, ikan, tumbuhan).
Berbagai gen (merupakan suatu sumber daya yang sangat kaya, misalnya, untuk
meningkatkan kualitas dan kuantitas persediaan makanan dan obat-obatan).
Berbagai sumber obat (salah satu pemanfaatan sumber daya hayati yang paling
tua dan tetap berlangsung sekarang, seperti antibiotik dan bahan obat-obatan yang
potensial untuk masa depan)
Berbagai cadangan untuk pemuliaan, cadangan populasi (menyediakan berbagai
sistem penunjang bagi potensi manfaat dan sumber daya lingkungan yang bernilai
komersial).
Sumber-sumber daya di masa depan (suatu bank yang sangat besar untuk
pengembangan sumber-sumber daya yang telah dan belum ditemukan untuk
meningkatkan kesejahteraan manusia).
c. Fungsi Sosial/ekonomi/budaya untuk menyediakan :
Berbagai fasilitas penelitian, pendidikan dan pemantauan (sebagai laboratorium
hidup bagi berbagai studi tentang cara memperoleh manfaat yang lebih baik dari
berbagai sumber daya hayati, cara memelihara sumber-sumber genetis dari berbagai
sumber daya hayati yang dipanen dan bagaimana melakukan rehabilitasi terhadap
sumber-sumber daya yang mengalami kerusakan dan kemerosotan).
Berbagai fasilitas rekreasi dan pariwisata.
Berbagai nilai budaya (karena budaya manusia berkembang bersama
lingkungannya, lingkungan alami menyediakan kebutuhan manusia untuk
mendapatkan inspirasi, menikmati keindahan, memenuhi kebutuhan spiritual dan
pendidikan).
Kegiatan penunjang budidaya tumbuhan. Yang dimaksud disini adalah
pengambilan berbagai jenis flora maupun fauna, kemudian dibudidayakan di luar
kawasan konservasi seperti lahan milik sendiri, hutan lindung dan hutan produksi
(apabila di kedua hutan tersebut tidak terdapat bibitnya).
Kerusakan Lahan Gambut
Perlu dipahami bahwa keberadaan, fungsi dan dampak akibat kerusakan sumber daya
alam hayati dan ekosistemnya tidak mengenal batas-batas wilayah administrasi (misalnya
batas kabupaten, batas propinsi atau bahkan batas negara). Pengelolaan sumber daya alam
hayati yang kurang baik (misalnya eksploitasi yang berlebihan, dsb.) di daerah
hulu/daerah tinggi (upstream, upperland) dampaknya tidak hanya dirasakan diderah yang
bersangkutan, melainkan akan dirasakan oleh daerah-daerah dibawahnya (downstream,
lowland).
Sebagian besar lahan gambut di Indonesia kini mengalami kerusakan yang cukup

mengkhawatirkan sebagai akibat dari adanya kegiatan-kegiatan yang kurang/tidak


berwawasan lingkungan. Kegiatan yang merusak antara lain pembakaran lahan gambut
dalam rangka persiapan lahan pertanian, perkebunan, pemukiman dan lain-lain;
penebangan hutan gambut yang tidak terkendali (baik legal maupun ilegal) untuk diambil
kayunya, pembangunan saluran-saluran irigasi/parit/kanal untuk tujuan pertanian maupun
transportasi.
Kegiatan-kegiatan diatas tidak hanya menyebabkan rusaknya fisik lahan/hutan gambut
(seperti amblasan/subsiden, terbakar dan berkurangnya luasan gambut), tapi juga
menyebabkan hilangnya fungsi gambut sebagai penyimpan (sink) dan penyerap
(sequester) karbon, sebagai daerah resapan air yang mampu mencegah banjir pada
wilayah disekitarnya pada musim hujan dan mencegah intrusi air asin pada musim
kemarau.
Disamping itu, kerusakan hutan dan lahan gambut juga menyebabkan hilangnya
keanekaragaman hayati dan sumber daya alam didalamnya. Keberadaan parit dan sluran
di lahan gambut (baik untuk mengangkut kayu, produk pertanian maupun lalu lintas air)
tanpa adanya sistem pengatur air yang memadai telah menyebabkan keluarnya air dari
dalam tanah gambut ke sungai di sekitarnya tanpa kendali, sehingga lahan gambut
tersebut di musim kemarau menjadi kering dan mudah terbakar.
Sebagai akibat kerusakan lahan gambut dalam satu dasawarsa terakhir di Pulau Sumatera,
telah menyebabkan penyusutan kandungan karbon sebesar 3,5 milyar ton karbon.
Upaya Konservasi Lahan Gambut
Memperhatikan peranan, manfaat, ancaman kerusakan lahan gambut, maka perlu
dilakukan upaya secara bersama-sama, agar dapat menyelamatkan dan melestarikan
kawasan lahan gambut beserta segenap potensi, fungsi dan manfaatnya bagi
kesejahteraan kita semua melalui upaya:
a. Identifikasi dan Inventarisasi Potensi Kawasan Lahan gambut
Kegiatan identifikasi dan inventarisasi potensi ekosistem lahan gambut merupakan
langkah yang harus dilakukan sebelum upaya pemanfaatan dan konservasi dapat
dilaksanakan secara terpadu dan menyeluruh. Upaya ini masih perlu dilakukan mengingat
luasnya wilayah negara kita.
b. Interpretasi fungsi kawasan lahan gambut dan sosialisasi ke masyarakat luas
Informasi-informasi mengenai apa itu kawasan/ekosistem lahan gambut, potensi, fungsi

dan manfaatnya sangat penting bagi masyarakat yang sebagian besar tidak
mengetahuinya.
c.

Identifikasi manfaat berkelanjutan

Pemanfaatan terhadap potensi ekosistem lahan gambut hanya mungkin dilakukan


sepanjang hal tersebut dilakukan berdasarkan pengetahuan dan pemahaman mengenai
keberadaan populasi dan habitat dari kehidupan penghuni kawasan lahan gambut yang
mengandung potensi penting namun juga memiliki sifat keterbatasan.
d. Akses bagi pemanfaatan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar
Setelah upaya identifikasi manfaat berkelanjutan tersebut dilakukan, upaya selanjutnya
adalah mengembangkan kegiatan pemanfaatan yang berkelanjutan dan menyediakan
akses bagi masyarakat, terutama masyarakat sekitar kawasan lahan gambut, agar mereka
benar-benar dapat merasakan manfaat dari keberadaan kawasan lahan gambut tersebut
sehingga pada gilirannya mereka dapat menjadi pelestari kawasan lahan gambut.
e. Perlindungan terhadap Kawasan Lahan gambut
Mengingat ekosistem lahan gambut tidak mengenal batas administrasi pemerintahan
maka upaya konservasi haruslah dilakukan melalui pendekatan:
Melindungi hutan yang tumbuh diatas kawasan lahan gambut.
Menetapkan suatu kawasan tertentu untuk dikelola sebagai perwakilan konservasi
ekosistem lahan gambut.
Melakukan tindakan pemanfaatan dengan menerapkan kaidah-kaidah konservasi
secara terencana dan konsisten, misalnya untuk kegiatan ekowisata. Didalam
pengembangan ekowisata dan berprinsip ekowisata, kelestarian obyek dan kelestarian
sumber daya sudah terpatri, demikian pula manfaat bagi masyarakat sekitar.
f. Pemanfaatan bijaksana ekosistem Lahan gambut secara berkolaborasi
Sasarannya adalah terwujudnya akses bagi para pihak untuk ikut berbagi peran, tanggung
jawab dan mendapatkan manfaat secara adil terhadap ekosistem lahan gambut.
Pengelolaan Bersama merujuk pada proses dan alat pemecahan masalah, penanganan
peluang atau pengelolaan kepentingan bersama dalam pengelolaan SDAH&E, selaras
dengan rekomendasi dari Kongres kehutanan Dunia :
1 Seluruh masyarakat yang bergantung pada sumberdaya hutan, mempunyai
tanggungjawab pada: keanekaragaman hayati, keteraturan iklikm, udara bersih,
konservasi air dan tanah, ketahanan pangan, hasil kayu dan non kayu, jasa energi,

obat-obatan, serta nilai-nilai budaya.


2 Kebutuhan planet dan manusia dapat diselaraskan, dan hutan mempunyai potensi
untuk memberikan potensi bagi penyelamatan lingkungan, pengentasan kemiskinan,
keadilan sosial, peningkatan kesejahteraan manusia, modal bagi generasi sekarang
dan akan datang.
3 Penyelarasan kebutuhan planet bumi dan manusia tidak dapat dilakukan hanya
oleh satu pihak, melainkan perlu kerjasama semua pihak.