Anda di halaman 1dari 34

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

RUPTUR UTERI

MAKALAH

oleh
Kelompok 18

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
SEPTEMBER, 2016

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


RUPTUR UTERI

MAKALAH
Disusun sebagai pemenuhan tugas Keperawatan Maternitas
dengan dosen pengampu: Ns. Ratna Sari Hardiani, M.Kep

oleh
Widiyatus Sholehah

142310101056

Restina Septiani

142310101118

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
SEPTEMBER, 2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ruptur Uteri ini dengan baik tanpa
ada halangan. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Sebagai insan biasa yang tidak punya daya dan upaya, penulis sadar
sepenuhnya bahwa dalam makalah ini banyak kekurangan. Maka dari itu kritik
dan saran yang membangun sangat saya harapakan dari pembaca demi
menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua dan siapa saja yang membacanya.

Jember, September 2016

DAFTAR ISI
Halaman Sampul..........................................................................................

Halaman Judul..............................................................................................

ii

Kata Pengantar.............................................................................................

iii

Daftar Isi......................................................................................................

iv

Bab 1. Pendahuluan......................................................................................
1.1 Latar Belakang................................................................................

1.2 Tujuan.............................................................................................

1.3 Implikasi Kperawatan.....................................................................

Bab 2. Tinjauan Teori...................................................................................


2.1 Pengertian.......................................................................................

2.2 Epidemiologi...................................................................................

2.3 Etiologi............................................................................................

2.4 Tanda dan Gejala.............................................................................

2.5 Patofisiologi dan Pathway...............................................................

2.6 Komplikasi dan Prognosis..............................................................

12

2.7 Pengobatan dan Pencegahan...........................................................

13

2.8 Penatalaksanaan..............................................................................

14

Bab 3. Asuhan Keperawatan........................................................................


3.1 Pengkajian.......................................................................................

17

3.2 Diagnosis.........................................................................................

22

3.3 Intervensi.........................................................................................

22

3.4 Implementasi...................................................................................

25

3.5 Evaluasi...........................................................................................

27

Bab 4. Penutup.............................................................................................
4.1 Kesimpulan.....................................................................................

28

4.2 Saran...............................................................................................

29

Daftar Pustaka..............................................................................................

30

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perdarahan merupakan trias penyebab kematian maternal tertinggi selain
preeklampsia atau eklampsia dan infeksi. Perdarahan dalam bidang obstetri dapat
dibagi menjadi perdarahan pada kehamilan muda (<22 minggu), perdarahan pada
kehamilan lanjut dan persalinan, dan perdarahan pasca persalinan. Penyebab
kematian janin dalam rahim paling tinggi yang berasal dari faktor ibu adalah
penyulit kehamilan yaitu ruptur uteri dan diabetes melitus.
Ruptur uteri merupakan salah satu bentuk perdarahan pada kehamilan
lanjut dan persalinan, selain plasenta previa, solusio plasenta, dan gangguan
pembekuan darah. Secara klasik, ruptur uteri ditandai dengan nyeri abdomen akut
dan perdarahan pervaginam berwarna merah segar serta keadaan janin yang
memburuk. Faktor predisposisi yang sering ditemukan pada rupture uteri adalah
riwayat operasi atau manipulasi yang mengakibatkan trauma, seperti kuretase atau
perforasi. Stimulasi uterus secara berlebihan atau kurang tepat dengan oksitosin,
yaitu suatu penyebab yang sebelumnya lazim ditemukan, tampak semakin
berkurang. Ruptur uteri sendiri merupakan kasus gawat darurat yang harus
terdiagnosis dan ditangani segera untuk menyelamatkan ibu dan janin. Oleh
karena itu diagnosis dan manajemen ruptur uteri sangatlah penting.
Ruptur uteri pada bekas seksio sesarea lebih sering terjadi terutama pada
parut pada bekas seksio sesarea klasik dibandingkan pada parut bekas seksio
sesarea profunda. Hal ini disebabkan oleh karena luka pada segmen bawah uterus
yang tenang pada saat nifas memiliki kemampuan sembuh lebih cepat sehingga
parut lebih kuat. Ruptur uteri pada bekas seksio klasik juga lebih sering terjadi
pada kehamilan tua sebelum persalinan dimulai sedangkan pada bekas seksio
profunda lebih sering terjadi saat persalinan.
Maka sebab itulah dibuat makalah ini untuk membahas lebih lanjut
mengenai ruptur uteri, epidemiologi, etiologi, komplikasi, prognosis, pengobatan,
pencegahan, patofisiologi dan pathway serta penatalaksanaannya.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
1

Mahasiswa mampu memahami dan melaksanakan asuhan keperawatan


pada pasien dengan Ruptur Uteri.
1.2.2

Tujuan Khusus

Mahasiswa mampu:
1.2.2.1 Menjelaskan pengertian Ruptur uteri.
1.2.2.2 Mengetahui epidemiologi Ruptur Uteri.
1.2.2.3 Menyebutkan etiologi dari Ruptur Uteri.
1.2.2.4 Menyebutkan tanda dan gejala dari Ruptur Uteri.
1.2.2.5 Menjelaskan patofisiologi dan pathway dari Ruptur Uteri.
1.2.2.6 Menyebutkan komplikasi dan prognosis dari Ruptur Uteri.
1.2.2.7 Menjelaskan cara pengobatan dan pencegahan dari Ruptur Uteri.
1.2.2.8 Menjelaskan cara penatalaksanaan dari Ruptur Uteri.
1.2.2.9 Mengetahui dan mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien
dengan Ruptur Uteri.
1.3 Implikasi Keperawatan
Manfaat perawat dalam mempelajari dan memahami konsep dasar
keperawatan pada pasien dengan ruptur uteri adalah meningkatkan mutu asuhan
keperawatan pada klien dalam mempercepat penegakan diagnosa, tindakan yang
dilakukan dengan harapan menyelamatkan pasien dan janinnya dari komplikasi
yang fatal.

BAB 2. TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian
Ruptur uteri merupakan robeknya dinding uterus yang terjadi pada saat
kehamilan atau persalinan dimana umur kehamilan lebih dari 28 minggu. Namun,
yang paling sering terjadi ialah robekan ketika persalinan. Ruptur uteri adalah
pelepasan insisi yang lama disepanjang uterus dengan robeknya selaput ketuban
sehingga kavum uteri berhubungan langsung dengan langsung dengan kavum
peritoneum (Cuninngham, 1945).

Klasifikasi ruptur uteri berdasarkan:


a. Keadaan robek
1) Ruptur uteri inkomplit (subperitoneal): hanya dinding uterus yang robek
sedangkan lapisan serosa (peritoneum) tetap utuh.
2) Ruptur uteri komplit (transperitoneal): uterus dan lapisan serosa
(peritoneum) robek sehingga dapa berada di rongga perut.
b. Kapan terjadinya
1) Ruptur uteri pada waktu kehamilan (ruptur uteri gravidarum): dinding
uterus lemah dan cacat.
2) Ruptur uteri pada waktu persalinan (ruptur uteri intrapartum): dinding
uterus baik tetapi bagian bawah janin tidak maju atau turun.
c. Etiologinya
1) Ruptur uteri spontan (non violent): keadaan janin tidak maju akibat
adanya rintangan pada jalan lahir.
2) Ruptur uteri traumatika (violent): adanya trauma akibat terjadinya
kecelakaan atau tindakan.

3) Ruptur uteri jaringan parut: adanya jaringan parut bekas insisi


sebelumnya.
d. Lokasinya
1) Segmen bawah rahim (SBR): biasanya terjadi pada partus yang sulit dan
lama (tidak maju). SBR semakin lama tambah regang dan tipis dan
akhirnya terjadilah ruptur uterus.
2) Korpus uteri: biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami
operasi, seperti seksio sesarea klasik (korporal) atau miomektomi.
3) Serviks: sering terjadi pada tindakan forseps/versi ekstraksi, sedang
pembukaan belum lengkap.
4) Kolpoporeksis, robekan-robekan diantara servik dan vagina.
2.2 Epidemiologi
Terjadinya ruptur uterus pada seorang ibu hamil atau sedang bersalin
merupakan bahaya besar yang mengancam jiwanya dan janinnya. Kematian ibu
dan anak karena ruptur uterus masih tinggi. Insiden dan angka kematian yang
tinggi dijumpai di negara-negara yang sedang berkembang, seperti Afrika dan
Asia, misalnya: Greenhill (Chicago 1:1400), Conato dan Borja (Filipina 1:331),
Harris dan Angawa (Afrika 1:117)
Frekuensi kejadian ruptur uteri di rumah sakit-rumah sakit di Indonesia
antara 1:92 sampai 1:294 persalinan. Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan
dengan negara maju antara 1:1250 atau 1:2000 persalinan.
2.3 Etiologi
a. Ruptur uteri yang terjadi secara spontan, disebabkan oleh.
1) Panggul yang terlalu sempit.
2) Tumor pada jalan lahir.
3) Malposisi kepala.
4) Faktor predisposisi (multiparita, tekanan keras pada fundus uteri, stimulus
oksitosin).
5) Janin letak lintang.
6) Hidrosefalus.
b. Ruptur uteri traumatic, disebabkan oleh.
1) Kecelakan (jatuh, tabrakan).
4

2) Manual plasenta.
3) Embriotomi.
4) Trauma tumpul atau trauma tajam dari luar.
5) Stimulus oksitosin.
6) Dorongan pada fundus uterus yang terlalu keras (biasanya dilakukan oleh
dukun dalam menyelesaikan persalinan).
7) Dystosia.
8) Usaha vaginal untuk melahirkan janin.
9) Penyakit rahim misalnya udenomiosis.
c. Ruptur uteri pada bekas luka parut.
Ruptur uteri ini terdapat paling serimg pada parut bekas seksio sesarea,
peristiwa ini jarang timbul pada uterus yang telah dioperasi untuk mengangakat
mioma (miomektomi). Penyebabnya sama dengan ruptur uteri yang terjadi secara
spontan.

Kondisi-kondisi berikut berkaitan erat dengan ruptur uterus:


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Grandemultipara
Partus lama & macet
Scar (jaringan parut) pada dinding uterus
Penggunaan uterotonik berlebihan intrapartum
Tekanan kuat pada fundus uteri
Trauma interna (cunam, versi dalam, embriotomi)
Trauma ekstrena (trauma tumpul, kecelakaan, jatuh tertelungkup)
Ruptur uterus violenta (traumatika), karena trauma lain seperti ( ekstraksi
forsep, embriotomi, manual plasenta, keuretase, pemberian pitosin tanpa

indikasi dan pengawasan)


i. Infeksi

j. Pendarahan
k. Kehamilan preterm atau posterm.
2.4 Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang mengancam

Lingkaran Bandl
a. Lingkaran retraksi patologis/lingkaran Bandl yang tinggi, mendekati pusat
b.
c.
d.
e.
f.

dan naik terus.


Kontraksi rahim kuat dan terus menerus.
Penderita gelisah, nyeri di perut bagian bawah, juga di luar his.
Pada palpasi segmen bawah rahim terasa nyeri (diatas simpisis).
Ligamentum rotundum tegang, juga di luar his.
DJJ terdengar lemah bahkan tidak terdengar karena mengalami hipoksia yang

disebabkan kontraksi dan retraksi rahim yang berlebihan.


g. Air kencing mengandung darah (karena kandung kencing teregang dan
tertekan)
Tanda dan gejala ruptur uteri lanjutan dapat terjadi (Varney,2001)
a. Dramatis
1) Nyeri tajam, yang sangat pada abdomen bawah saat kontraksi hebat
memuncak.
2) Penghentian kontraksi uterus disertai hilangnya rasa nyeri.
3) Perdarahan vagina (dalam jumlah sedikit atau hemoragi).
4) Tanda dan gejala syok: denyut nadi meningkat, tekanan darah
menurun, sesak napas.
5) Temuan pada palpasi abdomen tidak sama dengan temuan terdahulu.
6) Bagian presentasi dapat di gerakkan di atas panggul.
6

7) Gerakan janin dapat menjadi kuat dan kemudian menurun menjadi


tidak ada gerakan dan Denyut Jantung Janin sama sekali tidak
terdengar atau masih dapat di dengar.
8) Lingkar uterus dan kepadatannya (kontraksi) dapat dirasakan di
samping janin (janin seperti berada di luar uterus).
b. Tenang
1) Kemungkinan terjadi muntah.
2) Nyeri tekan meningkat di seluruh abdomen.
3) Nyeri berat pada suprapubis.
4) Kontraksi uterus hipotonik.
5) Perkembangan persalinan menurun.
6) Perasaan ingin pingsan.
7) Perdarahan pervagina (kadang-kadang).
8) Tanda-tanda syok progresif di temukan dalam hilangnya darah disertai
denyut nadi yang cepat dan pucat.
9) Kontraksi dapat berlanjut tanpa menimbulkan efek pada servik, atau
kontraksi tidak dapat dirasakan.
10) DJJ mungkin akan hilang.
2.5 Patofisiologi dan Pathway
Pada umumnya uterus dibagi atas dua bagian besar: korpus uteri dan
serviks uteri. Batas keduanya disebut ismus uteri (2-3 cm) pada rahim yang tidak
hamil. Bila kehamilan sudh kira-kira 20 minggu, dimana ukuran janin sudah
lebih besar dari ukuran kavum uteri, maka mulailah terbentuk SBR ismus ini.
Batas antara korpus yang kontraktil dan SBR yang pasif disebut lingkaran dari
Bandl. Lingkaran Bandl ini dianggap fisiologis bila terdapat 2 sampai 3 jari diatas
simpisis, bila meninggi kita harus waspada terhadap kemungkinan adanya ruptur
uteri.
Pada saat his korpus uteri berkontraksi dan mengalami retraksi, dinding
korpus uteri atau SAR menjadi lebih tebal dan volume korpus uteri menjadi lebih
kecil. Akibatnya, tubuh janin yang menempati korpus uteri terdorong ke bawah
dan ke dalam SBR. SBR menjadi lebih lebar karena dindingnya menjadi lebih
tipis karena tertarik oleh kontraksi SAR yang lebih kuat, berulang dan sering
sehingga lingkaran retraksi yang membatasi kedua segmen semakin bertambah
tinggi. Apabila bagian terbawah janin tidak dapat terdorong karena suatu sebab
yang menahannya (misal panggul sempit atau kepala janin yang besar) maka

volume korpus yang semakin mengecil pada saat his harus diimbangi oleh
perluasan SBR ke atas. Dengan demikian, lingkaran retraksi fisiologis
(physiologic retraction ring) semakin meninggi kearah pusat melewati batas
fisiologi menjadi patologi (pathologic retraction ring) lingkaran patologi ini
disebut Lingkaran Bandl (ring van Bandl).
SBR terus menerus tertarik ke arah proksimal, tetapi tertahan oleh servik
dan his berlangsung kuat terus menerus sedangkan bagian terbawah janin tidak
kunjung turun melalui jalan lahir, lingkaran retraksi makin lama semakin
meninggi dan SBR semakin tertarik ke atas sembari dindingnya sangat tipis hanya
beberapa milimeter saja. Hal ini menandakan telah terjadi ruptur imminens dan
rahim yang terancam robek pada saat his berikutnya berlansung dinding SBR
akan robek spontan pada tempat yang tertipis dan terjadilah perdarahan. Jumlah
perdarahan tergantung pada luas robekan yang terjadi dan jumlah pembuluh darah
yang terputus. Perdarahan tersebut mengakibatkan suplai darah ke perifer
menurun sehingga dapat menurunkan tekanan darah. penurunan tekanan darah
menimbulkan tubuh kekurangan volume cairan. Jika masalah tersebu tidak segera
diatasi pasien akan mengalami syok hipovolemik. Selain itu, penurunan suplai
darah ke perifer juga mengakibatkan penurunan ventilasi. Penurunan ventilasi
mengakibatkan

peningkatan

kebutuhan

oksigen

sehingga

timbullah

ketidakefektifan pola napas yang ditandai pasien nampak sesak napas.


Ketika terjadi robekan, pasien merasakan nyeri seperti teriris dan his
terakhir itu sekaligus mendorong janinnya sehingga timbulnya masalah
keperawatan nyeri akut. Nyeri akut mengakibatkan pasien mengalami ansietas.
Selain itu, nyeri abdomen juga dapat mempengaruhi pola tidur pasien sehingga
timbullah gangguan pola tidur. pabila robekannya cukup luas, tubuh janin
sebagian atau seluruhnya terdorong keluar rongga rahim dan masuk ke dalam
rongga peritoneum. Melalui robekan tersebut, usus dan ommentum terkadang
masuk ke dalamnya sehingga bisa mencapai vagina dan bisa diraba pada waktu
periksa dalam. Ruptur uteri yang tidak sampai ikut merobek perimetrium terjadi
pada bagian rahim yang longgar hubungannya dengan peritoneum yaitu pada
bagian samping dan dekat kandung kemih. Kandung kemih mungkin juga

mengalami penekanan dan perenggangan akibat adanya dorongan dari janin


sehingga ikut sedikit robek dan kemudian terjadi perdarahan. Perdarahan yang
terjadi akan menimbulkan adanya darah pada urine sehingga dapat menyebabkan
resiko terjadinya infeksi pada saluran kencing. Dinding servik yang meregang
karena ikut tertarik kadang-kadang bisa ikut robek. Robekan pada bagian samping
bisa sampai melukai pembuluh-pembuluh darah besar yang terdapat di dalam
ligamentum latum. Jika robekan terjadi pada bagian dasar ligamnetum latum,
arteria rahim atau cabang-cabangnya bisa terluka disertai perdarahan yang banyak
dan di dalam parametrium di pihak yang robek, akan terbentuk hematoma yang
besar dan menimbulkan syok yang sering kali fatal.

R.uhambatan
traumaticpada
(adanya
atau
tindakan)
tan (janin tidak maju akibat adanya
jalantrauma
lahir) akibat terjadi kecelakaan
R.u jaringan
parut
(adanya jaringan parut bekas insisi sebelu

His korpus uteri berkontraksi dan mengalami retraksi


TubuhSBR
janin
terdorong
dalam SBR
melebar
danke
dindingnya
menipis akibat tertarik kontraksi SAR yan
Dinding korpus uteri menebal dan volumenye
mengecil

Janin tidak turun ke jalan


SBRlahir
tertarik
sebab
danada
makin
halangan
menipis, His berlansung
kuat dan
terus menerus
Lingkaran
Bandl semakin meninggi kearah pusat melewati b
Lingkaran
retraksi
fisiologis

RUPTUR UTERI

Ada dorongan dari janin


Kandung kemih tertekan dan merenggang

Terputusnya kontinuitas jaringan dan syaraf


dinding uterus
Kerusakan
Integritas Jaringan
Robekan semakin meluas
Robekan kecil pada kandung kemih
Perdarahan pervagina
Tubuh janin terdorong ke rongga peritoneum

10

Aliran darah ke perifer menurun


Robekan pada dasar ligamentum
latumuterus meningkat
Kontraksi

Resiko Infeksi

Nyeri abdomen Pasien sukar tertidur


Tekanan darah menurun Penurunan ventilasi
Arteri rahim atau cabang-cabangnya terluka
Kebutuhan oksigen meningkat
Kekurangan volume cairan
Hematoma besar

Nyeri Akut
Gangguan pola tidur
Ansietas

Syok hipovolemikKetidakefektifan pola napas

Sesak napas

11

2.6 Komplikasi dan Prognosis


a. Komplikasi
1) Syok hipovolemik
Syok hipovolemik karena perdarahan yang hebat dan sepsis akibat infeksi
adalah dua komplikasi yang fatal pada peristiwa

ruptura uteri. Syok

hipovolemik terjadi bila pasien tidak segera mendapat infus cairan


kristaloid yang banyak untuk selanjutnya dalam waktu yang cepat
digantikan dengan transfusi darah segar. Darah segar mempunyai
kelebihan selain menggantikan darah yang hilang juga mengandung
semua unsur atau faktor pembekuan dan karena itu lebih bermanfaat demi
mencegah dan memngatasi koagulopati dilusional akibat pemberian
cairan kristaloid yang umumnya banyak diperlukan untuk mengatasi atau
mencegah gangguan keseimbangan elektrolit antar-kompartemen cairan
dalam tubuh dalam menghadapi syok hipovolemik.
2) Infeksi dan sepsis
Infeksi berat umumnya terjadi pada pasien kiriman dimana ruptura uteri
telah terjadi sebelum tiba di rumah sakit dan telah mengalami berbagai
manipulasi termasuk periksa dalam yang berulang. Jika dalam keadaan
yang demikian pasien tidak segera memperoleh terapi antibiotika yang
sesuai, hampir pasti pasien akan menderita peritonitis yang luas dan
menjadi sepsis pasca bedah. Sayangnya hasil pemeriksaan kultur dan
resistensi bakteriologik dari sampel darah pasien baru diperoleh beberapa
hari kemudian. Antibiotika spektrum luas dalam dosis tinggi biasanya
diberikan untuk mengantisipasi kejadian sepsis.
3) Kecacatan
Meskipun pasien bisa diselamatkan, morbiditas dan kecacatan tetap
tinggi. Histerektomi merupakan cacat permanen, yang pada kasus yang
belum punya anak hidup meninggalkan sisa trauma psikologis yang berat
dan mendalam.
4) Kematian ibu dan janin
b. Prognosis
Ruptur uteri merupakan peristiwa yang gawat bagi ibu terlebih lagi bagi
janin. Angka mortalitas yang ditemukan dalam berbagai penelitian berkisar dari
50% hingga 75%. Janin umumnya meninggal pada ruptur uteri. Tetapi, jika janin

12

masih hidup pada saat peristiwa tersebut terjadi, satu-satunya harapan untuk
mempertahankan jiwa janin adalah dengan persalinan segera, yang paling sering
dilakukan adalah laparatomi. Jika tidak, baik keadaan hipoksia baik sebagai akibat
terlepasnya plasenta maupun hipovolemia maternal tidak akan terhindari. Jika
tidak diambil tindakan, kebanyakan wanita akan meninggal karena perdarahan
atau mungkin pula karena infeksi yang terjadi kemudian.
Diagnosis cepat, tindakan operasi cepat, ketersediaan darah dalam jumlah
besar dan terapi antibiotik sudah menghasilkan perbaikan prognosis yang sangat
besar bagi wnita hamil dengan ruptur uteri.
2.7 Pengobatan dan Pencegahan
a. Pengobatan
Pemberian terapi antibiotika dan serum tetanus
Bila terdapat tanda-tanda infeksi segera berikan antibiotika dengan spektrum
luas. Bila terdapat tanda-tanda trauma alat genetalia atau luka yang kotor,
tanyakan saat terakhir mendapat tetanus toksoid. Bila hasil anamnesis tidak dapat
memastikan perlindungan terhadap tetanus, berikan serum anti tetanus 1500
IU/IM dan TT 0,5 ml/IM
b. Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya ruptur uteri yaitu dengan prenatal care atau
anatenatal care antara lain:
1) Panggul sempit atau kelainan panggul
a) Dianjurkan bersalin di rumah sakit.
b) Pemeriksaan yang teliti, misalnya apabila kepala janin belum turun
lakukan pemeriksaan dalam (PD).
c) Jika panggul sempit yaitu conjungata vera (CV) <8cm, lakukan seksio
sesarea primer in-partu.
2) Malposisi kepala
a) Reposisi
b) Apabila tidak berhasil, lakukan seksio sesarea primer pada saat
persalinan
3) Uterus cacat karena miomektomi, kuretase, manual uri dianjurkan untuk
bersalin di rumah sakit dengan pengawasan teliti.

13

Strategi pencegahan kejadian ruptura uteri langsung adalah dengan memperkecil


jumlah pasien beresiko, dengan kriteria:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

persalinan dengan SC lebih dari satu kali.


Riwayat SC classic ( midline uterine incision).
Riwayat SC dengan jenis low vertical incision.
LSCS dengan jahitan uterus satu lapis.
SC dilakukan kurang dari dua tahun.
LSCS pada uterus dengan kelainan kongenital.
Riwayat SC tanpa riwayat persalinan spontan per vagina.
Induksi atau akselerasi persalinan pada pasien dengan riwayat SC.
Riwayat SC dengan janin makrosomia.
Riwayat miomektomi dengan laparaskop atau laparotomi.

2.8 Penatalaksanaan
Tindakan pertama adalah mengatasi syok, memperbaiki keadaan umum
penderita dengan pemberian cairan infus dan transfusi darah, kardiotonika,
antibiotika, dan lain-lain. Bila keadaan umum mulai membaik, tindakan
selanjutnya adalah melakukan laparatomi dengan jenis operasi:
a. Histerektomi, baik total maupun maupun subtotal. Histerektomi adalah
operasi pengangkatan kandungan (rahim dan uterus) pada seorang wanita,
sehingga setelah menjalani operasi ini dia tidak bisa lagi hamil dan
mempunyai anak. Histerektomi dapat dilakukan melalui irisan pada bagian
perut atau melalui vagina. Pilihan ini bergantung pada jenis histerektomi
yang akan dilakukan, jenis penyakit yang mendasari, dan berbagai
pertimbangan lainnya. Ada beberapa jenis histerektomi yang perlu kita
ketahui. Berikut ini adalah penjelasannya :
1) Histerektomi parsial (subtotal). Pada histerektomi jenis ini, rahim
diangkat, tetapi mulut rahim (serviks) tetap dibiarkan. Oleh karena itu,
penderita masih dapat terkena kanker mulut rahim sehingga masih
perlu pemeriksaan pap smear (pemeriksaan leher rahim) secara rutin.
2) Histerektomi total. Pada histerektomi ini, rahim dan mulut rahim
diangkat

secara

keseluruhannya.

Histerektomi

total

dilakukan

khususnya bila garis robekan longitudinal.

14

3) Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral. Histerektomi ini


mengangkat uterus, mulut rahim, kedua tuba fallopii, dan kedua
ovarium.
4) Histerektomi radikal. Histerektomi ini mengangkat bagian atas vagina,
jaringan, dan kelenjar limfe disekitar kandungan. Operasi ini biasanya
dilakukan

pada

beberapa

jenis

kanker

tertentu

untuk

bisa

menyelamatkan nyawa penderita.

b. Histerorafia, yaitu tepi luka dieksidir lalu dijahit sebaik-baiknya.


c. Konservatif, hanya dengan tamponade dan pemberian antibiotika yang
cukup.
Tindakan yang akan dipilih tergantung dari beberapa faktor:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Keadaan umum penderita (syok dan sangat anemis).


Jenis ruptur (inkomplit atau komplit).
Jenis luka robekan.
Tempat luka (apakah pada servik, korpus, segmen bawah rahim).
Perdarahan dari luka (sedikit atau banyak).
Umur dan jumlah anak yang hidup.
Kemampuan dan ketrampilan penolong

15

BAB 3. ASUHAN KEPERAWATAN

Kasus:
Ny. K (27th) dengan usia kehamilan 38 minggu dirawat di Rumah Sakit Harapan
dengan keluhan nyeri perut hebat seperti teriris selama persalinannya dengan
penghentian kontraksi. Kondisi kesehatan pasien baik. Pasien juga menerima
perawatan kehamilan normal (4 kali kunjungan) disebuah pusat kesehatan didekat
rumah sakit ini selama kehamilan, yang dimulai pada usia 20 minggu kehamilan.
Dia memiliki riwayat kelahiran pervagina anak pertamanya 4 tahun yang lalu
dengan berat 2800 gram. Semua kehamilan berasal dari ayah yang sama. Pasien
tidak memiliki riwayat penyakit atau prosedur pembedahan. Pasien tinggal
didaerah pedesaan di Kabupaten Jember bersama suami dan anaknya. Sekitar 24
jam sebelum masuk rumah sakit, dia mulai aktif mendorong/mengedan. Sekitar 3
jam sebelum masuk rumah sakit terjadi perdarahan pervagina secara tiba-tiba
yang disertai nyeri yang parah dan diikuti dengan penghentian kontraksi yang
progresif. Pasien kemudian dibawa ke rumah sakit dengan hanya ditemani
suaminya Tn. X ,30 tahun dan bekerja sebagai karyawan swasta. Pada
pemeriksaan awal, pasien dinyatakan sadar dengan kondisi pucat dan lemah.
Tekanan darah 60/30 mm Hg dengan denyut nadi 112 denyut permenit dan
lemah, RR 28x/Menit dengan irama cepat. Membran mukosa kering dan
konjungtiva putih. Perut buncit tidak teratur. Pada bagian perut yang teraba
adanya janin, bunyi jantung janin tidak terdengarSetelah 20 menit kedatangan
pasien dilakukan sebuah prosedur.
3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Nama
Umur
Jenis kelamin
Alamat
Pendidikan
Pekerjaan
Agama

: Ny. K
: 27 Tahun
: Perempuan
: Jember
: SMA
: Ibu rumah tangga
: Islam

16

h. Status Perkawinan
i. Tanggal MRS
j. Sumber Informasi

: Menikah
: 24 Agustus 2016
: Suami dan Keluarga

3.1.2 Keluhan Utama


Perdarahan pada vagina diikuti dengan nyeri hebat seperti teriris.
3.1.3 Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Sekitar 24 jam sebelum

masuk

rumah

sakit,

dia

mulai

aktif

mendorong/mengedan. Sekitar 3 jam sebelum masuk rumah sakit terjadi


perdarahan pervagina secara tiba-tiba yang disertai nyeri yang parah dan
diikuti dengan penghentian kontraksi yang progresif.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Kondisi kesehatan pasien baik. Pasien juga menerima perawatan kehamilan
normal (4 kali kunjungan) disebuah pusat kesehatan didekat rumah sakit ini
selama kehamilan, yang dimulai pada usia 20 minggu kehamilan.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien dan keluarga tidak memiliki riwayat penyakit atau prosedur
pembedahan.
3.1.4 Riwayat Perkawinan
Menikah usia 22 tahun, menikah satu kali, dan lama menikah 5 tahun.
3.1.5 Riwayat Obstetri
3.1.5.1 Riwayat Menstruasi
a. Menarce
: 14 tahun
b. Siklus/lama
: 28 hari / 7 hari
c. Perdarahan
: sedang
d. Dismenorea
: ada
3.1.5.2 Riwayat Kehamilan dan Persalinan
a. Antenatal: Nutrisi saat hamil tercukupi.
b. Intranatal: Kelahiran pervagina anak pertama 4 tahun yang lalu.
c. Post natal: Anak pertama lahir sehat dengan berat 2800 gram.
3.1.5.3 Riwayat kehamilan sekarang
a. Umur kehamilan menurut pasien 38 minggu
b. HPHT : 2 November 2015

HPL 28 Agustus 2016

17

c. Pasien menerima perawatan kehamilan normal (4 kali kunjungan) disebuah


pusat kesehatan didekat rumah sakit ini selama kehamilan, yang dimulai pada
usia 20 minggu kehamilan.
d. Imunisasi TT
1) TT capeng

: 4 September 2015

2) TT I kehamilan

: 20 Januari 2016

3) TT II kehamilan

: 20 Februari 2016

e. Ibu tidak memiliki kebiasaan merokok, minum jamu dan obat-obatan kecuali
dari tenaga kesehatan
f. Berat badan sebelum hamil 50 kg
g. Gerakan janin sudah dirasakan sejak usia kehamilan 16 minggu
h. Rencana persalinan di RS Harapan
3.1.5.4 Riwayat Keluarga Berencana
Pasien pernah KB saat anak pertama berusia 6 bulan dan berhenti saat
anak pertama berusia 3,5 tahun, pasien menggunakan kontrasepsi pill karena
sedikit takut dengan jarum suntik.
3.1.6 Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Persepsi dan Tata laksana kesehatan
Mengkaji tanggapan pasien dan orangtua mengenai kesehatan dan kebiasaan
yang kurang menjaga kebersihan serta pemakaian obat dan konsumsi
makanan yang dianjurkan untuk ibu hamil.
b. Pola Nutrisi & Metabolisme
Sebelum: ibu makan 3 kali/ hari, porsi sedang (nasi, sayur, lauk), makanan
selingan 2 kali/hari, minum air putih 5 gelas/ hari dan susu 1 gelas/hari.
Selama: ibu makan 4 kali/hari porsi sedang(nasi, sayur, lauk), makanan
selingan 4 kali/hari, minum air putih 5 gelas/ hari dan susu 2 gelas / hari.
c. Pola eliminasi
Sebelum: BAB 1 kali/hari konsistensi lunak, BAK 5 kali/hari
Selama

: BAB 1 kali/hari konsistensi lunak, BAK 7 kali/hari

d. Pola aktifitas / bermain (termasuk kebersihan diri)


Sebelum : pasien melakukan pekerjaan rumah di bantu suami
Selama

: pasien melakukan pekerjaan rumah ringan dibantu suami

18

e. Pola Istirahat tidur


Sebelum : tidur siang 2 jam/hari, tidur malam 8 jam/hari
Selama : tidur siang 1 jam/ hari, tidur malam 8 jam/ hari.
f. Pola kognitif dan persepsi sensori
Pasien merasa cemas karena merasakan nyeri yang hebat pada perut bagian
bawah dan tidak merasakan gerakan janin. Nyeri digambarkan seperti teriris
dan terjadi perdarahan pervagina.
g. Integritas Ego.
Gejala : Faktor stress akut/psikologi, perasaan tidak berdaya.
Tanda :ansietas, pucat, gelisah, berkeringat sampai berkeringat dingin,
perhatian berkurang.
h. Pola Hubungan - Peran
Pola hubungan-peran antara pasien dan lingkungan sekitarnya setelah
mengalami ruptur uteri terganggu
i. Pola Mekanisme Koping
Pasien mengeluh kesakitan pada perut bagian bawah.
j. Personal Nilai dan kepercayaan
Pasien taat beribadah sebelum dan selama kehamilan
k. Keamanan
Pasien tidak memiliki alergi pada obat-obatan.
3.1.6

Pemeriksaan Fisik

a. Status kesehatan umum


1) Keadaan umum

: lemah

2) Kesadaran

: menurun

3) TD

: 60/30 mmHg

4) Nadi

: 112 x/menit

5) RR

: 28x/menit cepat dan dangkal

6) CRT

: >2 detik, anemis

b. Head to toe
1) Rambut : tidak rontok, kulit kepala bersih tidak ada ketombe.
2) Mata : konjungtiva anemis sklera putih; pupil midriasis; cowong
3) Wajah : pucat

19

4) Dada : pergerakan seimbang


payudara: konsistensi normal; hiperpigmentasi areola mamae terlihat;
puting menonjol; simetris
5) Abdomen:
a) Perut buncit tidak teratur. Pada bagian perut yang teraba adanya
janin, bunyi jantung janin tidak terdengar, ada pergeseran perut
kusam, dan adanya sensasi perut.
b) Perdarahan pervagina secara tiba-tiba yang disertai nyeri yang parah
dan diikuti dengan penghentian kontraksi yang progresif.
6) Genitalia

: perdarahan pervagina secara tiba-tiba

7) Ekstremitas

: Edema (-), varises (-)

c. Inspeksi
1) Pada suatu his yang kuat sekali, pasien merasa kesakitan yang luar biasa,
menjerit seolah-olah perutnya sedang dirobek kemudian jadi gelisah, takut,
keluar keringat dingin sampai kolaps.
Muntah-muntah karena perangsang peritoneum
Syok, nadi kecil dan cepat, tekanan darah turun bahkan tidak terukur
Perdarahan pervaginam yang biasanya tidak begitu banyak
Tampak lemah
Peningkatan suhu, tekanan darah menurun
Pada rongga thorax:
a) Penggunaan otot-otot asesoris pernapasan
b) Pernapasan dangkal dan cepat
l. Pada area tangan dan kaki :
Nyeri yang menjalar ke tungkai bawah dan di bahu
m. Pada area wajah
Konjungtiva anemis, pucat, mata cowong, sklera putih.

2)
3)
4)
5)
6)
7)

n. Payudara
Konsistensi normal, puting menonjol
o. Pada area abdomen :
a) nyeri abdomen bagian bawah
b) perut terlihat tidak teratur
c) perdarahan pervagina secara tiba-tiba .
d. Auskultasi
Denyut jantug janin tidak terdengar
e. Palpasi
20

a) Teraba krepitasi pada kulit perut yang menandakan adanya emfisema


subkutan
b) Bila kepala janin belum turun, akan mudah dilepaskan dari pintu atau
panggul
c) Bila janin sudah keluar dari kavum uteri, jadi berada di rongga perut, maka
teraba bagian janin langsung di bawah kulit perut, dan di sampingnya
kadang-kadang teraba uterus sebagai suatu bola keras sebesar kelapa
d) Nyeri tekan pada perut, terutama pada tempat yang robek.
3.2 Diagnosa Keperawatan
a. Kekurangan volume cairan b.d perdarahan pervagina
b. Nyeri akut b.d robekan uterus yang meluas
c. Pola nafas Tidak efektif b.d aliran darah ke perifer menurun
3.3 Intervensi Keperawatan
No
Diagnosa
1
Kekurangan

Tujuan dan Kriteria Hasil


Tujuan : setelah
dilakukan tindakan
volume
keperawatan diharapkan
cairan b.d kriteria hasil:

Intervensi
1. Tidurkan pasien dengan

perdarahan

tetap terlentang
2. Monitor TTV
3. Monitor
intake

pervagina

posisi kaki lebih tinggi


sedangkan

badannya

dan

output
4. Evaluasi kandung kemih
5. Berikan infus atau cairan

Nyeri akut Tujuan


b.d

intravena
6. Kolaborasi antibiotik
setelah Pain Management

uterus dilakukan tindakan x 24 1. Lakukan

pengkajian

nyeri

yang

jam

keperawatan

secara komprehensif, durasi,

meluas

diharapkan

rasa

frekuensi, kualitas dan faktor

nyeri

pasien dapat berkurang


dengan kriteria hasil:
1. Mampu

mengontrol

presipitasi
2. Observasi reaksi

nonverbal

dari ketidaknyamanan pasien

nyeri (tahu mengenai 3. Gunakan teknik komunikasi


penyebab

nyeri,

mampu menggunakan
teknik
nonfarmakologi untuk

terapeutik untuk mengetahui


pengalaman nyeri
4. Bantu pasien dan keluarga
dalam

dan

menemukan
21

mengurangi

nyeri,

dan mencari bantuan)


2. Melaporkan
nyeri

bahwa
berkurang

dengan

penggunaan

manajemen nyeri
3. Mampu

dukungan dalam mengatasi


nyeri
5. Ajarkan

pasien

nonfarmakologi: napas dalam,


relaksasi
6. Kontrol

lingkungan

berpengaruh

mengenali

teknik

seperti

yang
suhu,

pencahayaan dan kebisingan

skala,

intensitas, 7. Kolaborasi dengan


frekuensi, dan tanda
medis
lainnya
nyeri.
memberikan

tenaga
dalam
terapi

farmakologi
8. Evaluasi

keefektifan

dari

pengontrolan nyeri
9. Tingkatkan

istirahat

yang

adekuat
10. Berikan informasi penyebab
3

Pola

nafas Tujuan

nyeri, lama nyeri


setelah 1.Posisikan
pasien

tidak efektif dilakukan tindakan x 24


b.d

aliran jam

keperawatan

memaksimalkan ventilasi
2.Auskultasi suara nafas, catat

perifer

adanya suara tambahan


3.Berikan bronkodilator :
efektif dengan kriteria 4.Atur
intake
untuk

menurun

hasil:

darah

ke diharapkan

pola

untuk

nafas

cairan

mengoptimalkan keseimbangan.
5.Monitor respirasi dan status O2
6.Pertahankan jalan nafas yang

- Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara

paten
nafas yang bersih, tidak 7.Observasi adanya tanda tanda
ada

sianosis

dan

dyspneu
- Menunjukkan jalan nafas
yang paten(klien tidak
merasa tercekik, irama
nafas,

frekuensi

hipoventilasi
8.Monitor vital sign
9.Informasikan pada pasien dan
keluarga

tentang

tehnik

relaksasi untuk memperbaiki


pola nafas.
10. Monitor pola nafas
22

pernafasan

dalam

rentang normal, tidak


ada

suara

nafas

abnormal)
- Tanda Tanda vital dalam
rentang

normal

(tekanan darah, nadi,


pernafasan)

3.4 Implementasi
No
1.

Hari/

Waktu

Implementasi

Tanggal
Rabu,

08.00-

24/08/16

09.00

posisi kaki lebih tinggi

WIB

sedangkan badannya tetap

1. Tidurkan

pasien

Ttd
dengan

terlentang
2. Monitoring TD, nadi, suhu,
dan RR
3. Monitoring

intake

dan

output
4. Evaluasi kandung kemih
5. Memberikan infus atau
cairan intravena
2.

Rabu

10.30-

6. Mengkolaborasi antibiotik
1. Melakukan pengkajian nyeri

24/08/16

11.30

secara komprehensif, durasi,

WIB

frekuensi,

kualitas

dan

faktor presipitasi
2. Mengobservasi

reaksi
23

nonverbal

dari

ketidaknyamanan pasien
3. Menggunakan

teknik

komunikasi terapeutik untuk


mengetahui

pengalaman

nyeri
4. Mengontrol
yang

lingkungan

berpengaruh

suhu,

pencahayaan

seperti
dan

kebisingan
5. Mengajarkan pasien teknik
nonfarmakologi
6. Mengkolaborasi pemberian
farmakologi
7. Monitoring

pengontrolan

nyeri
8. Meningkatkan istirahat yang
adekuat
9. Memberikan
3.

Rabu,

14.00-

24/08/16

14.30
WIB

informasi

penyebab nyeri
1. Memposisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
2. Mencatat adanya suara
tambahan
3. Memberikan bronkodilator
4. Mengatur intake untuk
cairan

mengoptimalkan

keseimbangan.
5. Monitoring respirasi dan
status O2
6. Memperertahankan
nafas yang paten
7. Mengobservasi

jalan
adanya

tanda tanda hipoventilasi


8. Monitoring vital sign

24

9. Memberikan informasikan
pada pasien dan keluarga
tentang

tehnik

relaksasi

untuk memperbaiki pola


nafas.
10. Monitoring pola nafas

3.5 Evaluasi
No

Tgl/jam

Evaluasi

Dx
1

24-08-16/ 08.00-09.00WIB

S:

pasien

TTD
mengatakan

perdarahan mulai berhenti


O: TD: 100/80 mmHg; N:
94x/menit;
x/menit;
A:

Masalah

RR:

27

T:36,5C
teratasi

sebagian
2

24-08-16/10.30-11.30 WIB

P: Lanjutkan intervensi
S: pasien mengatakan
masih nyeri
O:

pasien

tampak

meringis menahan nyeri,


gelisah
A: Masalah belum teratasi
3

24-08-16/14.00-14.30WIB

P: Lanjutkan intervensi
S: pasien mengatakan
sesak

25

O: RR 27x/menit
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi

26

BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Ruptur uteri merupakan robeknya dinding uterus yang terjadi pada saat
kehamilan atau persalinan dimana umur kehamilan lebih dari 28 minggu. Namun,
yang paling sering terjadi ialah robekan ketika persalinan. Ruptur uteri adalah
pelepasan insisi yang lama disepanjang uterus dengan robeknya selaput ketuban
sehingga kavum uteri berhubungan langsung dengan langsung dengan kavum
peritoneum (Cuninngham, 1945).
Ruptur uteri pada bekas seksio sesarea lebih sering terjadi terutama pada
parut pada bekas seksio sesarea klasik dibandingkan pada parut bekas seksio
sesarea profunda. Hal ini disebabkan oleh karena luka pada segmen bawah uterus
yang tenang pada saat nifas memiliki kemampuan sembuh lebih cepat sehingga
parut lebih kuat. Ruptur uteri pada bekas seksio klasik juga lebih sering terjadi
pada kehamilan tua sebelum persalinan dimulai sedangkan pada bekas seksio
profunda lebih sering terjadi saat persalinan.
Tindakan pertama dalam kasus ruptur uteri adalah mengatasi syok,
memperbaiki keadaan umum penderita dengan pemberian cairan infus dan
transfusi darah, kardiotonika, antibiotika, dan lain-lain. Bila keadaan umum mulai
membaik, tindakan selanjutnya adalah melakukan laparatomi. Diagnosis cepat,
tindakan operasi cepat, ketersediaan darah dalam jumlah besar dan terapi
antibiotik sudah menghasilkan perbaikan prognosis yang sangat besar bagi wnita
hamil dengan ruptur uteri.
Bila terdapat tanda-tanda infeksi segera berikan antibiotika dengan
spektrum luas. Bila terdapat tanda-tanda trauma alat genetalia atau luka yang
kotor, tanyakan saat terakhir mendapat tetanus toksoid. Bila hasil anamnesis tidak
dapat memastikan perlindungan terhadap tetanus, berikan serum anti tetanus
1500 IU/IM dan TT 0,5 ml/IM

27

4.2 Saran
4.2.1 Akademik
Diharapkan kepada akademi agar dapat lebih memperbanyak buku-buku
yang dapat menunjang perkuliahan, khususnya mata kuliah Keperawatan
Maternitas dan mata kuliah lainnya.
4.2.2 Mahasiswa /i
Untuk dapat membaca dan memberikan masukan tentang makalah ini serta
dapat mempergunakan makalah ini sebagai bahan penunjang materi pembelajaran.
4.2.3 Pembaca
Agar dapat membaca makalah dan menggunakan makalah ini sebagai bahan
bacaan yang bermanfaat bagi si pembaca dan juga yang lainnya.

28

DAFTAR PUSTAKA

Cuningham , Gary et.all, 2005. Obstetri Williams Edisi 21. Jakarta: EGC.
https://www.scribd.com/doc/230367918/Asuhan-Keperawatan-Ruptur-Uteri
(diakses tanggal: 10 September 2016)
Mirzanie, Hanifah dan Kurniawati, D. 2010. Obgynacea. Yogyakarta: Tosca
Enterprise
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi.
Ed. 2. Jakarta:EGC
Varney, Helen dkk. 2001. Buku ajar asuhan kebidanan. Jakarta : EGC.
https://www.scribd.com/doc/230367918/Asuhan-Keperawatan-Ruptur-Uteri
(diakses tanggal: 10 September 2016)

29

Beri Nilai