Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

DELIRIUM

Nama

: Andri Dwi Heryadi

NIM

: 2011730005

Pembimbing

: dr. Metta Desvini P. Siregar, Sp.KJ

Rumah Sakit

: RS Jiwa Islam Klender

KEPANITERAAN KLINIK
STASE ILMU KESEHATAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
0

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan referat dengan judul Delirium ini. Laporan ini penulis ajukan sebagai
salah satu persyaratan untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik Stase Ilmu Kesehatan Jiwa di
Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas
Muhammadiyah Jakarta.
Penulis menyadari laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik
dan saran sangat diharapkan guna perbaikan selanjutnya. Atas selesainya laporan ini, penulis
menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dr. Metta
Desvini P. Siregar, Sp.KJ yang telah memberikan persetujuan dan pembimbingan. Semoga
laporan ini dapat menambah ilmu pengetahuan bagi penulis dan para pembaca.

Jakarta, Agustus 2016


Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................1


DAFTAR ISI ............................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 3
A. Latar Belakang .............................................................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 4
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.

Definisi .......................................................................................................... 4
Epidemiologi................................................................................................... 6
Etiologi .......................................................................................................... 6
Patofisiologi..................................................................................................... 9
Manifestasi Klinis............................................................................................ 11
Penegakan Diagnostik..................................................................................... 13
Kriteria Diagnostik.......................................................................................... 15
Diagnosis Banding........................................................................................... 18
Penatalaksanaan............................................................................................... 20
Komplikasi...................................................................................................... 21
Prognosis......................................................................................................... 21

BAB III PENUTUP

.............................................................................................. 22

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 23

BAB I
PENDAHULUAN

Kognitif adalah kemampuan berpikir dan memberikan rasional, termasuk proses


mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan. Kognitif memberikan peran
penting dalam intilegensi seseorang, yang paling utama adalah mengingat, dimana proses
tersebut melibatkan fungsi kerja otak untuk merekam dan memanggil ulang semua atau
beberapa kejadian yang pernahh dialami. Kognisi meliputi kemampuan otak untuk
memproses , mempertahankan , dan menggunakan informasi. Kemampuan kognitif ini
penting pada kemapuan inidvidu dalam membuat keputusan, menyelesaikan
2

masalah,menginterpretasikan lingkungan dan mempelajari informasi yang baru, untuk


memberikan nama pada beberapa hal.
Gangguan kognitif merupakan gangguan atau kerusakan pada fungsi otak yang lebih
tinggi dan dapat memberikan efek yang merusak pada kemampuan individu untuk melakukan
funsi sehari hari sehingga individu tersebut lupa nama anggota keluarga atau tidak mampu
melakukan tugas rumah tangga harian atau melakukan hygiene personal (Caine &
lyness,2000). Gangguan kognitif yang paling sering ditemui meliputi Demensia dan
Delirium. Banyak orang mensalah artikan antara Demensia, Delirium dan Depresi. Juga
tentang respon kognitif yang maladaptive pada seseorang.
Delirium dan demensia merupakan kelainan yang sering ditemukan pada pasien pada
semua usia, namun kelainan ini paling sering ditemukan pada pasien usia lanjut. Delirium
adalah suatu keadaan kebingungan (confusion) mental yang dapat disertai fluktuasi
kesadaran, kecemasan, halusinasi, ilusi, dan waham (delusi). Kelainan ini dapat menyertai
infeksi, kelainan metabolik, dan kelainan medis atau neurologis lain atau berhubungan
dengan penggunaan obat-obatan atau gejala putus obat. Demensia, sebaliknya, merupakan
kondisi dimana memori dan fungsi kognitif lain terganggu sehingga kegiatan sosial normal
atau pekerjaan menjadi terhambat. Sebagian besar demensia merupakan hasil dari penyakit
degenerasi otak namun stroke dan infeksi juga dapat menimbulkan demensia.

BAB II
TINJAUN PUSTAKA
A. DEFINISI
Delirium adalah gangguan kognitif dan kesadaran dengan onset akut. Kata delirium
berasal dari bahasa Latin de lira yang berarti keluar dari parit atau keluar dari jalurnya.
Dalam karyanya , Engel dan Romano menyebut delirium sebagai suatu sindrom insufisiensi
serebral. Keduanya menganggap delirium bsebagai sindrom terkait dengan insufisiensi
organ lain : Ginjal, jantung, hepar dan paru-paru. Sebagai perbandingan, Lipowsky dalam
3

Delirium : Acute Brain Failure In Man, mengemukakan bahwa berkurangnya kewaspadaan


terhadap lingkungan dapat diasosiasikan dengan gangguan memori, disorientasi, gangguan
bahasa dan gangguan kognitif tipe lainnya. Beragam pasien mempunyai pengalaman
disorientasi yang berbeda seperti salah identifikasi, ilusi, halusinasi, dan waham. Dengan
onset yang mendadak dan durasi yang pendek, delirium terjadi dari jam sampai hari dan
berfluktiatif. Kebiasaan pasien menunjukkan variasi dengan adanya agitasi yang menonjol
pada beberapa individu, dan hipoaktif pada pasien lainnya, dan pada individu yang sama pun
akan menunjukkan variasi berbeda dari waktu ke waktu. Delirium harus dibedakan dari
demensia, kondisi kronis kemerosotan fungsi kognitif yang merupakan faktor risiko
terjadinya delirium.1
Diagnostic Statisitical Manual of Mental Disorders (DSM-IV) mendefinisikan
delirium sebagai gangguan kesadaran dan perubahan kognitif yang terjadi secara cepat dalam
waktu yang singkat (APA, 1994). Gejala awal delirium biasanya muncul tiba-tiba dan
durasinya singkat (misal 1 minggu, jarang lebih dari 1 bulan). Gangguan ini hilang sama
sekali jika pasien pulih dari determinan penyebab. Bila kondisi yang menyebabkan delirium
menetap, delirium berubah perlahan menjadi sindrom demensia atau berkembang menjadi
koma. Kemudian individu penderita mengalami pemulihan, menjadi vegetative kronis, atau
meninggal.1
Klasifikasi Delirium berdasarkan DSM-IV :1
1. Delirum akibat masalah medis umum
Masalah

medis

tertentu,

seperti

infeksi

sistemik,

gangguan

metabolic,

ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, penyakit hati atau ginjal, ensefalopati, dan trauma
kepala dapat menyebabkan gejala delirium.
2. Delirium akibat zat
Gejala delirium dapat disebabkan pajanan terhadap toksin atau ingesti obat, seperti
anti konvulsan, neuroleptik, ansiolitik, anti depresan, obat kardiovaskular, anti neoplastik,
dan hormone.
3. Delirium akibat intoksikasi zat
Gejala delirium dapat terjadi sebagai respons terhadap konsumsi kanabis,kokain,
halusinogen, alcohol, ansiolitik atau narkotik dalam dosis tinggi.
4. Delirium akibat putus zat

Pengurangan atau penghentian penggunaan zat jangka panjang dan dosis tiggi zat
tertentu, seperti alcohol, sedative, hipnotik, atau ansiolitik, dapat menyebabkan delirium
akibat putus zat.
5. Delirium akibat etiologi multiple
Gejala delirium dapat berhubungan dengan lebih dari satu masalah medis umum atau
pengaruh kombinasi masalah medis umum dan penggunaan zat.
Selain klasifikasi di atas, delirium juga dapat dibagi menjadi sub tipe hiperaktif dan
hipoaktif, tergantung dari aktivitas psikomotornya. Keduanya dapat terjadi bersamaan pada
satu individu.
a. Delirium hiperaktif
Delirium hiperaktif merupakan delirium yang paling sering terjadi. Pada pasien terjadi
agitasi, psikosis, labilitas mood, penolakan untuk terapi medis, dan tindakan dispruptif
lainnya. Kadang diperlukan pengawas karena pasien mungkin mencabut selang infus atau
kathether, atau mencoba pergi dari tempat tidur. Pasien delirium karena intoksikasi, obat
antikolinergik, dan alkohol withdrawal biasanya menunjukkan perilaku tersebut. Delirium
hiperaktif juga didapatkan pada pasien dengan gejala putus substansi antara lain;
alkohol,amfetamin,lysergic acid diethylamideatau LSD.
b. Delirium hipoaktif
Adalah bentuk delirium yang paling sering, tapi sedikit dikenali oleh para klinisi.
Pasien tampak bingung, lethargia, dan malas. Hal itu mungkin sulit dibedakan dengan
keadaan fatigue dan somnolen, bedanya pasien akan dengan mudah dibangunkan dan dalam
berada dalam tingkat kesadaran yang normal. Rangsang yang kuat diperlukan untuk
membangunkan , biasanya bangun tidak komplet dan transient. Penyakit yang mendasari
adalah metabolit dan enchepalopati.
B. EPIDEMIOLOGI
Delirium adalah penyakit yang sering terjadi, sekitar 10-15% pasien yang ada di
bangsal bedah dan 15-20% di bangsal ilmu penyakit dalam mengalami delirium selama
dirawat. Penyebab delirium pasca operasi termasuk stress pembedahan, nyeri pasca operasi,
gangguan keseimbangan elektrolit, infeksi, demam, dan kehilangan darah. Insidensi delirium
meningkat seiring dengan bertambahnya usia pasien. Faktor-faktor predisposisi delirium
antara lain usia (usia muda dan usia lanjut lebih dari 65 tahun), kerusakan otak yang

mendahului (penyakit serebrovaskuler, tumor), riwayat delirium sebelumnya, kecanduan


alkohol, diabetes, kanker, kerusakan sensorik (seperti kebutaan), dan malnutrisi.1
C. ETIOLOGI
Faktor predisposisi:2
1. Demensia
2. Obat-obatan multiple
3. Umur lanjut
4. Kecelakaan otak seperti stroke, penyakit Parkinson
5. Gangguan penglihatan dan pendengaran
6. Ketidakmampuan fungsional
7. Hidup dalam institusi
8. Ketergantungan alcohol
9. Isolasi social
10. Kondisi ko-morbid multiple
11. Depresi
12. Riwayat delirium post-operative sebelumnya
Faktor presipitasi:2
A. Medikasi
B. Penyakit:
1. Infeksi
2. Metabolik
3. Kelainan SSP
4. Perubahan lingkungan
5. Penurunan rangsang sensoris
6. Lainnya: bedah, syok, demam, hipotermia, anemia
Delirium mempunyai berbagai macam penyebab. Penyebabnya bisa berasal dari
penyakit susunan saraf pusat, penyakit sistemik, intoksikasi akut (reaksi putus obat) dan zat
toksik. Penyebab delirium terbanyak terletak diluar sistem saraf pusat, misalnya gagal ginjal
dan hati. Secara lengkap dan lebih terperinci penyebab delirium dapat dilihat pada tabel
dibawah ini. 2
Tabel 1. Penyebab Delirium

D. PATOFISIOLOGI
Mekanisme penyebab delirium masih belum dipahami secara seutuhnya. Delirium
menyebabkan variasi yang luas terhadap gangguan structural dan fisiologik. Neuropatologi
dari delirium telah dipelajari pada pasien dengan hepatic encephalopathy dan pada pasien
dengan putus alcohol. Hipotesis utama yaitu gangguan metabolisme oksidatif yang reversibel
dan abnormalitas dari multipel neurotransmiter. 2
Neurotransmiter

utama

yang

berperan

terhadap

timbulnya

delirium

adalah asetilkolin dan daerah neuroanatomis utama adalah formasio retikularis. Beberapa
penelitian telah melaporkan bahwa berbagai faktor yang menginduksi delirium diatas
menyebabkan penurunan aktivitas asetilkolin di otak. Mekanisme patofisiologi lain
khususnya berkenaan dengan putus zat/alkohol adalah hiperaktivitas lokus sereleus dan

neuron non adrenergiknya. Neurotransmiter lain yang juga berperan adalah serotonin dan
glutamat.2
a. Obat dan Delirium
Lansia lebih sensitif terhadap efek obat atau dosis rendah dan secara khusus
beresiko delirium pada saat lebih besardari obat yang digunakan. Obat-obatan yang
melewati sawar darah otak menyebabkan delirium. Delirium karena toksisitas obat
juga disebabkan oleh obat-obatan dengan 'indeks terapi sempit', meskipun beberapa
obat seperti digoxin dilaporkan menyebabkan delirium pada keadaan normal. Pasien
dengan intoksikasi alkohol dapat menyebabkan delirium selama perawatan meskipun
withdrawal alkohol dapat menyebabkan delirium 1-3 hari setelah dirawat, seperti
withdrawal ( reaksi putus obat) hipnotik dan sedatif.2
Obat paling sering menyebabkan delirium adalah sedatif dan hipnotik,
antikolinergik dan narkotik. Penggunaan preparat ini sebaiknya berhati-hati pada
lansia, khususnya pada gangguan kognitif sebelumnya. Jika obat ini harus dipakai
sebaiknya dengan dosis rendah dan dinaikkan perlahan. Obat hipoglikemi, khususnya
kerja sedang dapat menyebabkan hipoglikemi yang juga bermanifestasi konfusio.2
(1) Asetilkolin
Data studi mendukung hipotesis bahwa asetilkolin adalah salah satu
dari neurotransmiter yang penting dari pathogenesis terjadinya delirium.
Hal yang mendukung teori ini adalah bahwa obat antikolinergik diketahui
sebagai penyebab keadaan bingung. pada pasien dengan transmisi
kolinergik yang terganggu juga muncul gejala ini. Pada pasien post
operatif, delirium serum antikolinergik juga meningkat.
(2) Dopamine
Pada otak,
hubungan
muncul antara aktivitas kolinergik

dan

dopaminergic. Pada delirium muncul aktivitas berlebih dari dopaminergik.


Pengobatan simptomatis muncul pada pemberian obat antipsikosis seperti
haloperidol dan obat penghambat dopamine.
b. Neurotransmitter lainnya
Serotonin ; terdapat peningkatan serotonin pada pasien dengan encephalopati
hepatikum. GABA (Gamma-Aminobutyric acid); pada pasien dengan hepatic
encephalopati, peningkatan inhibitor GABA juga ditemukan. Peningkatan level
ammonia terjadi pada pasien hepatic encephalopati, yang menyebabkan peningkatan
pada asam amino glutamat dan glutamine (kedua asam amino inimerupakan precursor
GABA). Penurunan level GABA pada susunan saraf pusat juga ditemukan pada
pasien yang mengalami gejala putus benzodiazepine dan alkohol.
9

c. Mekanisme peradangan/inflamasi
Studi terkini menyatakan bahwa peran sitokin, seperti interleukin-1 dan
interleukin-6,dapat menyebabkan delirium. Mengikuti setelah terjadinya infeksi yang
luas dan paparan toksik, bahan pirogen endogen seperti interleukin-1 dilepaskan dari
sel. Trauma kepala dan iskemia, yang sering dihubungkan dengan delirium, terdapat
hubungan respon otak yang dimediasi oleh interleukin-1 dan interleukin 6.
d. Mekanisme reaksi stress
Stress psikososial dan gangguan tidur mempermudah terjadinya delirium.
e. Mekanisme structural
Pada pembelajaran terhadap MRI terdapat data yang mendukung hipotesis
bahwa jalur anatomi tertentu memainkan peranan yang lebih penting daripada
anatomi yang lainnya. Formatio reticularis dan jalurnya memainkan peranan penting
dari bangkitan delirium. Jalur tegmentum dorsal diproyeksikan dari formation
retikularis mesensephalon ke tectum dan thalamus adalah struktur yang terlibat pada
delirium.
Kerusakan pada sawar darah otak juga dapat menyebabkan delirium,
mekanismenya karena dapat menyebabkan agen neurotoksik dan sel-sel peradangan
(sitokin) untuk menembus otak.

E. MANIFESTASI KLINIS
Kunci utama dari delirium adalah suatu gangguan kesadaran, yang dalam DSM IV
digambarkan sebagai penurunan kejernihan kesadaran terhadap lingkungan dengan
Keadaan delirium mungkin didahului selama beberapa hari oleh perkembangan kecemasan,
mengantuk, insomnia, halusinasi transien, mimpi menakutkan di malam hari dan kegelisahan.
Tampaknya gejala tersebut pada seorang pasien yang berada dalam resiko delirium harus
mengarahkan dokter untuk mengikuti pasien secara cermat.3
1. Kesadaran
Dua pola umum kelainan kesadaran telah ditemukan pada pasien dengan delirium.
Satu pola ditandai oleh hiperaktivitas yang berhubungan dengan peningkatan kesiagaan. Pola
10

lain ditandai oleh penurunan kesiagaan. Pasien delirium yang berhubungan dengan putus zat
seringkali mempunyai delirium hiperaktif yang juga dapat disertai dengan tanda otonomik,
seperti kemerahan kulit, pucat, berkeringat, takikardia, pupil dilatasi, mual, muntah, dan
hipertermia. Pasien dengan gejala hipoaktif kadang-kadang diklasifikasikan sebagai sedang
depresi atau katatonik3
2. Orientasi
Orientasi terhadap waktu seringkali hilang, bahkan pada kasus delirium yang ringan.
Orientasi terhadap tempat dan kemampuan untuk mengenali orang lain (sebagai contohnya
dokter, anggota keluarga) mungkin juga terganggu pada kasus yang berat. Pasien delirium
jarang kehilangan orientasi terhadap dirinya sendiri.3
3. Bahasa dan kognisi
Pasien dengan delirium seringkali mempunyai kelainan dalam bahasa seperti
melantur, tidak relevan, atau membingungkan (inkoheren) dan gangguan kemampuan untuk
mengerti pembicaraan. Tetapi DSM IV tidak lagi memerlukan adanya kelainan bahasa untuk
diagnosis, karena kelainan tersebut tidak mungkin untuk mendiagnosis pasien yang bisu.
Fungsi kognitif lainnya yang mungkin terganggu pada pasien delirium adalah fungsi
ingatan dan kognitif umum. Kemampuan untuk menyusun, mempertahankan, dan mengingat
kenangan mungkin terganggu, walaupun kenangan yang jauh mungkin dipertahankan. Pasien
delirium juga mempunyai gangguan kemampuan memecahkan masalah dan mungkin
mempunyai waham yang tidak sistematik, kadang-kadang paranoid.3
4. Persepsi
Pasien dengan delirium seringkali mempunyai ketidakmampuan umum untuk
membedakan stimuli sensorik dan untuk mengintegrasikan persepsi sekarang dengan
pengalaman masa lalu mereka. Dengan demikian, pasien seringkali tertarik oleh stimuli yang
tidak relevan atau menjadi teragitasi jika dihadapkan oleh informasi baru. Halusinasi juga
relatif sering pada pasien delirium. Halusinasi paling sering adalah visual atau auditoris,
walaupun halusinasi juga dapat taktil atau olfaktoris. Ilusi visual dan auditoris adalah sering
pada delirium.3
5. Mood

11

Pasien dengan delirium juga mempunyai kelainan dalam pengaturan mood. Gejala
yang paling sering adalah kemarahan, kegusaran, dan rasa takut yang tidak beralasan.
Kelainan mood lain yang sering ditemukan pada pasien delirium adalah apati, depresi, dan
euforia. Beberapa pasien dengan cepat berpindah-pindah di antara emosi tersebut dalam
perjalanan sehari.3
6. Gejala Penyerta
Tidur pada pasien delirium secara karakteristik terganggu. Pasien seringkali
mengantuk selama siang hari dan dapat ditemukan tidur sekejap di tempat tidunya atau di
ruang keluarga. Tetapi tidur pada pasien delirium hampir selalu singkat dan terputus-putus.
Seringkali keseluruhan siklus tidur bangun pasien dengan delirium semata-mata terbalik.
Pasien seringkali mengalami eksaserbasi gejala delirium tepat sebelum tidur, situasi klinis
yang dikenal luas sebagai sundowning. Kadang-kadang mimpi menakutkan di malam hari
dan mimpi yang mengganggu pada pasien delirium terus berlangsung ke keadaan terjaga
sebagai pengalaman halusinasi.3

7. Gejala Neurologis
Pasien dengan delirium seringkali mempunyai gejala neurologis yang menyertai,
termasuk disfasia, tremor, asteriksis, inkordinasi dan inkontinesia urin. Tanda neurologis
fokal juga ditemukan sebagai bagian pola gejala pasien dengan delirium.3

F. PENEGAKAN DIAGNOSTIK
Diagnosis delirium dibagi dalam dua proses:3
1. Deteksi delirium, melalui pemeriksaan riwayat dan status mental yang terfokus pada
kriteria diagnosis delirium berdasarkan DSM-IV.
2. Identifikasi penyebab dari delirium. Karena manifestasi klinis hanya memberikan
sedikit petunjuk untuk kausa, sehingga penting untuk dilakukan anamnesis terhadap
riwayat umum, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya dan sesegera mungkin ditentukan
penyebabnya. Kriteria diagnostik untuk delirium yaitu :3

12

1. Kemampuan terbatas untuk mempertahankan daya perhatian terhadap rangsang dari


luar (misalnya pertanyaan harus diulang karena daya perhatian melantur) dan secara
wajar dapat mengalihkan ke arah rangsang eksternal yang baru.
2. Alam pikiran yang kacau, yang ditujukan oleh cara bicara yang ngawur dan tak
jelas( asal bersuara), soalnya tidak relevan, atau daya bicara inkoheren.
3. Sedikitnya dua dari yang tercantum di bawah ini :
a. Kesadaran

yang

menurun

(contoh

sulit

mempertahankan

kesadaran

saatpemeriksaan)
b. Gangguan persepsi: misinterpretasi, ilusi, atau halusinasi
c. Gangguan siklus tidur dengan insomnia atau mengantuk di siang hari
d. Kegiatan psikomotor meningkat atau menurun
e. Disorientasi terhadap waktu, tempat atau orang
f. Gangguan daya ingat (contoh : tidak mampu belajar materi baru, seperti
namaberaneka ragam benda yang tak terkait setelah 5 menit, atau untuk mengingat
peristiwa yang telah lalu, seperti riwayat dari episode gangguan sekarang)
4. Gambaran klinis yang timbul yang berkembang dalam waktu yang singkat
(biasanyadalam jam atau hari) dan cenderung untuk naik turun dalam sehari.
5. Salah satu dari poin di bawah ini :
a. Terbukti dari riwayat, pemeriksan fisik, atau uji laboratorik tentang satu
ataubeberapa faktor organik yang khas yang dapat diduga sebagai penyebab
yangterkait dengan gangguan itu.
b. Bila tidak adanya bukti ini, faktor penyebab organik yang dapat diduga
bilagangguannya tidak dapat diperkirakan adalah disebabkan oleh gangguan
mental nonorganik (contoh : episode manik yang merupakan sebab untuk menjadi
agitatif dan gangguan tidur).

13

Pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan adalah :3


a. Anamnesa terutama riwayat medis menyeluruh, termasuk penggunaan obat-obatan
atau medikasi.
b. Pemeriksaan fisik lengkap terutama dilakukan secara rutin pada pasien yang rawat
inap.
c. Pemeriksaan neurologis, termasuk status mental, tes perasaan (sensasi), berpikir
(fungsi kognitif), dan fungsi motorik. Pemeriksaan status kognitif mencakup :
-

Tingkat kesadaran

Kemampuan berbahasa

Memori

Apraksia

Agnosia dan gangguan citra tubuh

Pemeriksaan penunjang berupa :3


a. Uji darah
Tujuannya untuk memeriksa adanya gangguan organik, memeriksa komplikasi fisik
akibat gangguan psikiatri untuk menemukan gangguan metabolik. Uji darah serologis,
biokimia, endokrin dan hematologis yang harus dilakukan termasuk :
i. Pemeriksaan darah lengkap
ii. Urea dan elektrolit
iii. Uji fungsi tiroid
iv. Uji fungsi hati

14

v. Kadar vitamin B12 dan asam folat


vi. Serologi sifilis
b. Uji urin
Skrining obat terlarang dalam urine perlu dilaksanakan untuk memeriksa
penyalahgunaan zat psikoaktif yang samar.
c. Elektroensefalogram (EEG)
d. X-ray dada
e. CT scan kepala
f. MRI scan Kepala
g. Analisis cairan serebrospinal (CSF)
h. Kadar obat, alkohol (toksikologi)
i. Uji genetik
Penggolongan kariotipe merupakan pemeriksaan penunjang klinik kedua yang bisa
memastikan adanya gangguan akibat kelainan kromosom. Uji ini terutama berguna untuk
menyelidiki orang dengan disabilitas belajar (retardasi mental).

G. KRITERIA DIAGNOSIS
Kriteria diagnosis delirium berdasarkan DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders IV dibedakan berdasarkan etiologinya. 3
1. Kriteria diagnostik untuk delirium akibat kondisi medis tertentu
A. Gangguan kesadaran dengan penurunan kemampuan untuk memfokuskan diri
B. Perubahan fungsi kognitif (seperti defisit memori, disorientasi, gangguan bahasa)
C. Awitan yang tiba-tiba (beberapa jam atau hari), singkat dan fluktuatif

15

D. Bukti dari anamnesa, pemeriksaan fisik atau laboratorium yang menunjukan gangguan
fisiologis yang berkonsekuensi pada terjadinya delirium
2. Kriteria diagnostik untuk delirium akibat intoksikasi zat tertentu
A. Gangguan kesadaran dengan penurunan kemampuan untuk memfokuskan diri
B. Perubahan fungsi kognitif (seperti defisit memori, disorientasi, gangguan bahasa)
C. Awitan yang tiba-tiba (beberapa jam atau hari), singkat dan fluktuatif
D. Bukti dari anamnesa, pemeriksaan fisik atau laboratorium yang menunjukan: (1) Gejala
kriteria A dan B terjadi selama intoksikasi zat tertentu, (2) Penggunaan obat sebagai etiologi
dari delirium
3. Kriteria diagnostik untuk delirium akibat withdrawal
A. Gangguan kesadaran dengan penurunan kemampuan untuk memfokuskan diri
B. Perubahan fungsi kognitif (seperti defisit memori, disorientasi, gangguan bahasa)
C. Awitan yang tiba-tiba (beberapa jam atau hari), singkat dan fluktuatif
D. Bukti dari anamnesa, pemeriksaan fisik atau laboratorium yang menunjukan bahwa kriteria A
dan B terjadi selama atau seketika setelah obat dihentikan (withdrawal sindrom)
4. Kriteria diagnostik untuk delirium akibat etiologi multipel
A. Gangguan kesadaran dengan penurunan kemampuan untuk memfokuskan

diri

A. Perubahan fungsi kognitif (seperti defisit memori, disorientasi, gangguan bahasa)


B. Awitan yang tiba-tiba (beberapa jam atau hari), singkat dan fluktuatif
C. Bukti dari anamnesa, pemeriksaan fisik atau laboratorium yang

menunjukan bahwa

delirium memiliki lebih dari 1 etiologi


5. Kriteria diagnostik untuk delirium yang tidak spesifik
Kategori ini digunakan apabila tidak tergolongkan pada kriteria-kriteria delirium spesifik.
1. Delirium yang diperkirakan akibat kondisi medis tertentu, atau intoksikasi namun bukti-bukti
yang didapatkan tidak cukup
2. Delirium yang disebabkan oleh suatu penyebab yang tidak tercantum (seperti kekurangan
stimulus sensorik)

Beberapa instrumen untuk penilaian pasien yg mengalami delirium :


1. Confusion Assesment Method (CAM)
2. Memorial Delirium Assesment Scale (MDAS)
16

3. Cognitive test for Delirium (CTD)


4. Delirium Rating Scale (DRS)

Metode Penilaian Kebingungan (CAM) adalah alat berbasis bukti standar yang
memungkinkan dokter umum terlatih untuk mengidentifikasi dan mengenali delirium cepat
dan akurat di kedua klinis dan pengaturan penelitian. The CAM mencakup empat aspek
ditemukan memiliki kemampuan terbesar untuk membedakan delirium dari jenis lain
gangguan kognitif.4

17

Memorial Delirium Assesment Scale (MDAS)

Tingkat keparahan gejala delirium berdasarkan saat interaksi dengan subjek atau
penilaian / nya perilakunya atau pengalaman selama beberapa jam terakhir.

Cognitive test for Delirium (CTD)

CTD dirancang untuk menilai pasien delirium rumah sakit, terutama yang diintubasi
atau tidak mampu berbicara atau menulis. Sebuah instrumen baik divalidasi, sangat
terstruktur dan sangat baik berlabuh untuk rating dan scoring. Andal membedakan delirium
dari kondisi neuropsikiatri lainnya seperti demensia, skizofrenia dan depresi. Ini mencakup 5
domain neuropsikologi (orientasi, perhatian, memori, pemahaman dan kewaspadaan) dan
meletakkan lebih menekankan pada nonverbal (visual dan pendengaran) modalitas. Setiap
domain adalah mencetak gol 0-6 dengan 2 kenaikan titik (kecuali pemahaman yang terdapat
kenaikan titik tunggal). Total nilai rentang 0-30, skor yang lebih tinggi menunjukkan fungsi
kognitif yang lebih baik.4
Delirium Rating Scale (DRS)

Ini adalah 10 item skala untuk diselesaikan oleh seorang dokter dengan pelatihan
kejiwaan, berdasarkan perilaku pasien selama 24 jam periode. Setiap item dinilai dari 0 ke
maksimum salah satu dari 2, 3, atau 4 poin, tergantung pada barang. Jumlah dari semua nilai
barang terdiri dari total Skor DRS dengan skor maksimum yang mungkin adalah 32 poin.
Telah terbukti memiliki validitas yang tinggi, interrater tinggi kehandalan, dan substansial
sensitivitas dan spesifisitas.4
D. DIAGNOSIS BANDING
Delirium dan demensia merupakan penyebab yang paling sering dan gangguan atau
hendaya kognitif, walaupun gangguan afektif (seperti depresi) juga bisa mengganggu kognisi.
Delirium dan demensia merupakan dua gangguan yang berbeda, namun sering sukar
dibedakan. Pada keduanya, fungsi kognitif terganggu, namun demensia biasanya memori
yang terganggu, sedangkan delirium daya \perhatiannya yang terganggu.4
Beberapa ciri khas membedakan kedua gangguan tersebut. Delirium biasanya
disebabkan oleh penyakit akut atau keracunan obat (kadang mengancam jiwa orang) dan
sering reversibel, sedangkan demensia secara khas disebabkan oleh perubahan anatomik

18

dalam otak, berawal lambat dan biasanya tidak reversibel. Delirium bisa timbul pada pasien
dengan demensia juga.4

Catatan: pasien dengan demensia amat rentan terhadap delirium dan delirium sering pula
bertumpang tindih dengan demensia.
Delirium dibanding Psikosis atau Depresi
Pada umumnya pasien dengan kondisi psikiatrik tidak mengalami perhatian yang
fluktuatif dan defisit yang berhubungan dengan delirium. Beberapa pasien dengan gangguan
psikotik, misalnya skizofrenia atau episode manik mungkin mempunyai episode perilaku
yang sangat terdisorganisasi yang mungkin sulit dibedakan dari delirium. Tetapi pada
umumnya halusinasi dan waham pada pasien skizofrenik adalah lebih konstan dan
terorganisasi lebih baik dari pasien delirium. Pasien skizofrenik juga biasanya tidak
mengalami perubahan dalam tingkat kesadaran atau orientasinya. Pasien skizofrenik
berbicara dengan sangat kacau, tetapi kata-katanya memiliki tema aneh yang mendasari.
Halusinasi skizofrenik lebih konsisten dalam bentuk suara daripada halusinasi visual serta
waham yang dirasakan pasien skizofrenik lebih sistematik dan kadang merujuk pada
19

seseorang sosok. Sebaliknya, halusinasi pasien delirium sifatnya seringkali visual dan waham
yang mereka rasakan lebih terfragmentasi. 4
Pasien dengan gejala hipoaktif dari delirium mungkin tampak lebih mirip dengan
pasien dengan depresi berat tetapi dapat dibedakan dengan EEG. Diagnostik psikiatrik lain
yang dipertimbangkan dalam diagnosis banding delirium adalah gangguan psikotik singkat,
gangguan skizofrenik form dan gangguan disosiatif.4
E. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama adalah mengobati gangguan dasar yang menyebabkan delirium. Tujuan
pengobatan yang penting lainnya adalah memberikan bantuan fisik, sensorik, dan lingkungan.
Dua gejala utama dari delirium yang mungkin memerlukan pengobatan farmakologis adalah
psikosis dan insomnia. Obat yang terpilih untuk psikosis adalah haloperidol ( Haldol ), suatu
obat antipsikotik golongan butirofenon, dosis awal antara 2 - 10 mg IM, diulang dalam satu
jam jika pasien tetap teragitasi, segera setelah pasien tenang, medikasi oral dalam cairan
konsentrat atau bentuk tablet dapat dimulai, dosis oral kira kira 1,5 kali lebih tinggi
dibandingkan dosis parenteral. Dosis harian efektif total haloperidol 5 - 50 mg untuk sebagian
besar pasien delirium. Droperidol (Inapsine) adalah suatu butirofenon yang tersedia sebagai
suatu formula intravena alternatif, monitoring EKG sangat penting pada pengobatan ini.
Insomnia diobati dengan golongan benzodiazepin dengan waktu paruh pendek, contohnya,
hidroksizine (Vistaril) dosis 25 - 100 mg.4
Selain itu penatalaksanaan lain dari pasien dengan delirium yaitu:
a. Pengobatan etiologik harus sedini mungkin dan di samping faal otak dibantu agar
tidak terjadi kerusakan otak yang menetap.
b. Peredaran darah harus diperhatikan (nadi, jantung dan tekanan darah), bila perlu
diberi stimulansia.
c. Pemberian cairan harus cukup, sebab tidak jarang terjadi dehidrasi. Hati-hati dengan
sedativa dan narkotika (barbiturat, morfin) sebab kadang-kadang tidak menolong,
tetapi dapat menimbulkan efek paradoksal, yaitu klien tidak menjadi tenang, tetapi
bertambah gelisah.
d. Klien harus dijaga terus, lebih-lebih bila ia sangat gelisah, sebab berbahaya untuk
dirinya sendiri (jatuh, lari dan loncat keluar dari jendela dan sebagainya) ataupun
untuk orang lain.
e. Dicoba menenangkan klien dengan kata-kata (biarpun kesadarannya menurun) atau
dengan kompres es. Klien mungkin lebih tenang bila ia dapat melihat orang atau
20

barang yang ia kenal dari rumah. Sebaiknya kamar jangan terlalu gelap , klien tidak
tahan terlalu diisolasi.
f. Terdapat gejala psikiatrik bila sangat mengganggu dapat diberikan neroleptika,
terutama yang mempunyai dosis efektif tinggi.
F. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat muncul pada pasien gangguan kognitif delirium adalah
sebagai berikut: 5,6
1. Hilangnya kemampuan untuk berfungsi atau merawat diri
2. Kehilangan kemampuan untuk berinteraksi
3. Perburukan menjadi stupor atau koma
4. Efek samping dari obat yang digunakan untuk mengobati gangguan
5. Cedera aksidental akibat kesadaran pasien yang berkabut atau hendaya koordinasi
atau karena penggunaan alat pengekang yang tidak perlu

G. PROGNOSIS
Delirium hampir selalu merupakan kondisi sementara yang sembuh apabila penyebab
yang mendasarinya berhasil diatasi. Akan tetapi, pada beberapa kasus yang penyebab
deliriumnya, seperti cedera kepala atau ensefalitis, dapat menyebabkan klien mengalami
gangguan kognitif, perilaku, atau emosional, bahkan setelah penyebab yang mendasarinya
diatasi. Semakin tua pasien maka semakin lama waktu yang dibutuhkan delirium untuk
mereda. Mengingat kembali apa yang terjadi saat delirium, saat sudah reda, biasanya seorang
pasien akan menyebut episode tersebut sebagai mimpi buruk yang terkadang hanya dapat
diingat secara samar-samar. Terjadinya delirium dengan tingkat kematian yang tinggi pada
tahun berikutnya merupakan akibat sifat serius kondisi medis yang menyebabkan delirium.

21

BAB III
PENUTUP

Delirium adalah suatu kondisi yang dicirikan dengan adanya perubahan kognitif akut
(defisit memori,disorientasi,gangguan berbahasa) dan gangguaan pada sistem kesadaran
manusia. Delirium bukanlah suatu penyakit melainkan suatu sindrom dengan penyebab
multipel yang terdiri atas berbagai macam gejala akibat dari suatu penyakit dasar. Delirium
didefinisikan sebagai disfungsi cerebral yang reversible,akut dan bermanifestasi klinis pada
abnormalitas neuropsikiatri.

22

DAFTAR PUSTAKA

1.

Kusumawardhani, A.. Buku Ajar Psikiatri Fakultas KedokteranUniversitas Indonesia. Badan Penerbit FK UI.
Jakarta : 2010

2. Kaplan, H. I dkk. Synopsis of Psychiatry (jilid 1). Terjemahan oleh: Kusuma,Widjaja. Binarupa
3.

Aksara Publisher. Tangerang, Indonesia, 2010.


Maslim, Rusdi dr. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkasan dari PPDGJ III Bagian

Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya. Jakarta, 2001.


4. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders

(DSM-IV-TR). 4th

ed. Washington,

DC: American

Psychiatric

Association; 2000.
5. Lidyana L. Delirium. Bagian ilmu Kesehatan Jiwa Universitas Padjadjaran Rumah
Sakit Hasan Sadikin Bandung. 2011.
6. Sjamsir BS. Delirium. Departemen Psikiatri FK-USU. 2009

23