Anda di halaman 1dari 3

Systematic grid sampling

Sistem ini merupakan teknik pengambilan sampel tanah yang didefinitifkan


dahulu dalam bentuk grid pada peta kerja survei tanah. Grid dibuat dengan
ketelitian pewakilan disesuaikan dengan skala peta (1:100.000 dan 1:50.000)
untuk kondisi lahan pada tiap satu sampel.
Sampel direncanakan secara sistematik pada pusat petakan (grid) lahan pada
hamparan luas lahan yang akan disurvei. Cara ini menganggap pusat grid
merupakan wakil paling tepat karena terletak tepat dalam grid.
Lokasi pengambilan contoh tanah dengan cara ini ditentukan dengan sistim Grid
yaitu berjarak sama pada kedua arah.Cara ini merupakan cara yang paling
mudah dan praktis terutama bagi tenaga yang kurang terampil.
Teknik systematic sampling ini memiliki kemiripan prosedur dengan teknik
simple random sampling. Oleh karena itu,systematic sampling juga
memerlukan sampling frame, dan proses pemilihan sampel dilaksanakan secara
random. Namun, berbeda dengan simple random sampling, random dilakukan
hanya untuk memilih sampel pertama. Sedangkan pemilihan sampel kedua,
ketiga dan seterusnya dilakukan secara sistematis berdasarkan interval yang
telah ditetapkan.
Penggunaan interval dalam pemilihan sampel ini merupakan metode quasirandom, karena sebenarnya tidak dilaksanakan random secara murni. Namun,
hasil penggunaan systematic sampling dengan simple random samplingternyata
tidak jauh berbeda (Neuman, 1997). Oleh karena itu, penggunaannya bisa saling
menggantikan, kecuali untuk populasi dengan elemen yang tersusun secara
terpola atau membentuk siklus. Pada populasi dengan elemen yang terorganisir
membentuk pola atau siklus, systematic sampling justru menimbulkan bias.
Prosedur systematic sampling adalah, pertama, disusun sampling frame. Kedua,
peneliti menetapkan sampling interval (k) dengan menggunakan rumus N/n;
dimana N adalah jumlah elemen dalam populasi dan n adalah jumlah sampel
yang diperlukan. Ketiga, peneliti memilih sampel pertama (s1)secara random
dari sampling frame. Keempat, peneliti memilih sampel kedua (S2), yaitu S1 +
k. selanjutnya, peneliti memilih sampel sampai diperoleh jumlah sampel yang
dibutuhkan dengan menambah nilai interval (k) pada setiap sampel sebelumnya.
Contoh penggunaan systematic sampling untuk memilih 20 sampel dari
populasi yang berisi 100 elemen, adalah sebagai berikut. Pertama,
susun sampling frame. Kedua, tetapkan nilai k = 5. Ketiga, tentukan sampel

pertama secara random, misal diperoleh 6. Selanjutnya kita dapat menetukan


sampel berikutnya adalah 11, 16, 21, 26, 31, 36, 41, 46, 51, 56, 61, 66, 71, 76,
81, 86, 91, 96, dan 1.
Referensi
Brown, G. H., and N. I. Fisher. 1972. Subsampling a mixture of sampled materials. Technometric 14:
663-668.
Brus, D. J., L. E. E. M. Sptjens, and J. J. de Gruijter. 1999. A sampling scheme for estimating the
mean extractable phosphorous concentration of fields for environmental regulation.
Geoderma 89: 129-148.
Cameron, D. R., M. Nyborg, J. A. Toogood, and D. H. Laverty. 1971. Accuracy of field sampling for
soil tests. Can. J. Soil.Sci. 51: 165-175.
Cline, M. D. 1944. Principles of soil sampling. Soil.Sci. 58: 275-288.
Das, A. C. 1950. Two-dimensional systematic sampling and associated stratified and random
sampling. Sankhya 10: 95-108.
Dirksen, C. 1999. Soil Physic Measurements. Geo Ecology Paperback. Catena. Germany.
Domburg, P., J. J. de Gruijter, and P. van Beek. 1994. A structured approach to designing soil survey
schemes with prediction of sampling error from variograms. Geoderma 62: 151-164.
Duncan, A. J. 1962. Bulk sampling. Problems and lines of attack. Technometrics 4: 319-343.
Hammond, L. C., W. L. Prichett, and V. Chew. 1958. Soil sampling in relation to soil heterogeneity.
Soil Sci. Soc. Am. Proc. 22: 548-552.
Jury, W. A., G. Sposito, and R. E. White. 1989. A transfer function model of solute transport through
soil. I. Fundamental conceps. Water Resources Research. 22: 243-247.
Peck. A. J. 1980. Field variability of soil physical properties. p.189-221. In: Advances in Irrigation
No.2. Academic press, New York,
Rigney, J. A., and J. F. Reed. 1946. Some factors affecting the accuracy of soil sampling Soil Sci. Soc.
Am. Proc. 10: 257-259.
Warrick, A. W., and D. R. Nielson. 1980. Spatial variability for soil physical properties in the field. p.
319-344. In D. Hillel (Ed.). Application of Soil Physics. Academic Press, Toronto.
Wilding, L. P. 1985. Spatial variability: Its documentation, accommodation, and implication to soil
surveys. p. 166-189. In Nielsen, D. R., and J. Bouma (Eds.). Soil Spatial Variability.
Proceeding of the Workshop ISSS and SSSA, Las Vegas, N. V. 30 November-1 December
1984. PUDOC, Wageningen. The Netherlands.
Pleysier L., Joseph.1995. http://www.cglrc.cgiar.org/iita/soilSampling/6._Systematic_Sampling.htm
diunduh tanggal 26 september 2016

Wollenhaupt N.C and Wolkowski R.P. 1994. The authors are with the Department of Soil Science,
University of Wisconsin, Madison.