Anda di halaman 1dari 38

LAUT TERITORIAL

BY:Cristian M. Pangaribuan

Batas-batas penguasaan laut oleh suatu negara antara lain landas kontinen,
laut teritorial, dan zona ekonomi eksklusif.
1. Batas Landas Kontinen
Pengertian batas landas kontinen
Batas landas kontinen atau batas landas benua adalah batas bagian dasar
laut yang paling ujung dan masih terhubung dengan benua daratan atau kelanjutan
benua yang terdapat di laut. Lautan pada batas laut ini merupakan laut dangkal
yang berkedalaman kurang dari 200 m. Karena itu, wilayah laut dangkal dengan
kedalaman 200 meter merupakan bagian dari wilayah negara yang berada di
kawasan laut tersebut. Jika ada dua negara yang wilayahnya terlalu dekat dan
memiliki wilayah laut pada batas landas kontinen yang sama, maka jarak
antarpantai kedua negara diukur dan dibagi menjadi dua. Hal semacam ini terjadi
di kawasan Selat Malaka yang berada di antara Indonesia, Malaysia, dan
Singapura.
2. Batas Laut Teritorial
Pengertian batas laut teritorial
Batas laut teritorial merupakan batas perairan suatu negara yang ditarik
dari pantai terluar atau pulau terluar sejauh 12 mil (19,3 km) ke arah laut lepas.
Pada batas laut teritorial ini, negara memiliki kedaulatan penuh seperti halnya di
wilayah daratan. Bila ada suatu negara kepulauan yang jarak antarpulaunya
renggang dan lebih dari 24 mil, maka lautan yang berada di kawasan tersebut
diakui oleh hukum internasional sebagai wilayah perairan negara tersebut.
3. Zona Ekonomi Eksklusif

Zona ekonomi eksklusif merupakan kawasan yang berjarak 200 mil dari
pulau terluar Indonesia. Pada kawasan ini, Indonesia berhak untuk mengambil
dan memanfaatkan segala potensi sumber daya alam yang ada. Zona ekonomi
eksklusif diumumkan pemerintah Indonesia pada tanggal 21 Maret 1980. Dengan
pengumuman ini, wilayah laut Indonesia bertambah luasnya menjadi dua kali
lipat. Kapal-kapal asing tidak diperbolehkan mengambil kekayaan laut di dalam
wilayah ZEE. Adapun batas laut yang bersinggungan dengan negara lain diatur
dengan kesepakatan bersama antara dua negara. Sebagai negara yang memiliki
wilayah atau zona ekonomi eksklusif, Indonesia memiliki hak atas ZEE sebagai
berikut.
a. Berhak untuk melakukan eksplorasi, eksploitasi, pengelolaan, dan konservasi
sumber daya alam.
b. Berhak melakukan penelitian, perlindungan, dan pelestarian laut.
c. Mengizinkan pelayaran internasional melalui wilayah ini dan memasang
berbagaisaranaperhubunganlaut.
Dengan penetapan pemerintah tentang perairan laut wilayah, landas
kontinen, dan zona ekonomi ekslusif, maka seluruh perairan Indonesia dengan
pulau-pulaunya merupakan satu kesatuan.

Gambar: Batas Laut teritorial dan ZEE

Laut teritorial menurut Hukum Laut Internasional maupun nasional adalah


sebagai berikut :
1. Menurut UNCLOS, garis-garis dasar (garis pangkal / baseline), yang
lebarnya 12 mil laut diukur dari garis dasar laut teritorial didefinisikan
sebagai laut wilayah yang terletak disisi luar dari garis pangkal.
2.

Menurut Undang-undang Nomor 6 Tahun 1996, laut teritorial adalah jalur


laut selebar 12 (dua belas) mil yang diukur dari garis pangkal Kepulauan
Indonesia sebagaimana yang dimaksud Pasal 5 Undang-undang Nomor 6
Tahun 1996.

3. Dalam laut teritorial berlaku hak lintas laut damai bagi kendaraankendaraan air asing penentuan laut teritorial

suatu Negara pantai

dilakukan dengan cara penarikan sejauh 12 mil dari garis pangkal terluar
yang merupakan titik pasang surut terendah seperti yang diatur dalam
Pasal 5 UNCLOS dan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1996.
Secara nasional pengaturan mengenai hak lintas damai terdapat dalam :
1. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1962 tentang Hak Lintas Damai
kendaraan Air Asing.
3. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nation
Convention of the Law of the Sea 1982.
4. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2002 tentang Hak dan Kewajiban
Kapal Asing dalam Melaksanakan Lintas Damai Melalui Perairan Indonesia.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian dan
Perusakan Laut.

Dalam UNCLOS, Laut Teritorial diatur dalam :

Bagian 1. Pendahuluan (Pasal 1 sampai Pasal 3)

Bagian 2. Batas Laut Teritorial

Bagian 3. Lintas damai di laut territorial

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/United_Nations_Convention_on_t
he_Law_of_the_Sea

KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG HUKUM


LAUT
Ditandatangani di Montego Bay, Jamaica, 10 Desember 1982
Pemberlakuan: 16 November 1994

BAB II
LAUT TERITORIAL DAN ZONA TAMBAHAN
Bagian 1. KETENTUAN UMUM
Pasal 2
Status hukum laut teritorial, ruang udara
di atas laut teritorial, serta dasar laut dan lapisan tanah dibawahnya

1. Kedaulatan suatu Negara pantai, selain wilayah daratan dan perairan


pedalamannya, dan dalam hal suatu Negara kepulauan dengan perairan
kepulauannya, meliputi pula suatu jalur laut yang berbatasan dengannya yang
dinamakan laut terotgirial.

2. Kedaulatan ini meliputi ruang udara di atas laut serta dasar laut dan lapisan
tanah dibawahnya.
3. Kedaulatan atas laut teritorial dilaksanakan dengan tunduk pada Konvensi ini
dan peraturan-peraturan lainnya dari hukum internasional.

Bagian 2. BATAS LAUT TERITORIAL


Pasal 3
Lebar laut teritorial
Setiap Negara mempunyai hak untuk menetapkan lebar laut teritorialnya sampai
suatu batas yang tidak melebihi 12 mil laut, diukur dari garis pangkal yang
ditentukan sesuai dengan Konvensi ini.

Pasal 4
Batas terluar laut teritorial
Batas terluar laut teritorial adalah garis yang jarak setiap titiknya dari titik yang
terdekat garis pangkal, sama dengan lebar laut teritorial.

Pasal 5
Garis pangkal biasa (normal baseline)
Kecuali ditentukan lain dalam Konvensi ini, garis pangkal biasa untuk mengukur
lebar laut teritorial adalah garis air rendah sepanjang pantai sebagaimana yang
ditandai pada peta skala besar yang secara resmi diakui oleh Negara pantai
tersebut.

Pasal 6
Karang

Dalam hal pulau yang terletak pada atol atau pulau yang mempunyai karangkarang di sekitarnya, maka garis pangkal untuk mengukur lebar laut teritorial
adalah garis air rendah pada sisi karang ke arah laut sebagaimana ditunjukkan
oleh tanda yang jelas untuk itu pada peta yang diakui resmi oleh Negara pantai
yang bersangkutan.
Pasal 7
Garis pangkal lurus (straight baselines )

1.

Di tempat-tempat dimana garis pantai menjorok jauh ke dalam dan


menikung ke dalam atau jika terdapat suatu deretan pulau sepanjang pantai
di dekatnya, cara penarikan garis pangkal lurus yang menghubungkan titiktitik yang tepat dapat digunakan dalam menarik garis pangkal dari mana
lebar laut teritorial diukur.

2.

Dimana karena adanya suatu delta dan kondisi alam lainnya garis pantai
sangat tidak tetap, maka titik-titik yang tepat dapat dipilih pada garis air
rendah yang paling jauh menjorok ke laut dan sekalipun garis air rendah
kemudian mundur, garis-garis pangkal lurus tersebut akan tetap berlaku
sampai dirobah oleh Negara pantai sesuai dengan Konvensi ini.

3.

Penarikan garis pangkal lurus tersebut tidak boleh menyimpang terlalu jauh
dari arah umum dari pada pantai dan bagian-bagian laut yang terletak di
dalam garis pangkal demikian harus cukup dekat ikatannya dengan daratan
untuk dapat tunduk pada rezim perairan pedalaman.

4.

Garis pangkal lurus tidak boleh ditarik ke dan dari elevasi surut kecuali jika
di atasnya didirikan mercu suar atau instalasi serupa yang secara permanen
ada di atas permukaan laut atau kecuali dalam hal penarikan garis pangkal
lurus ke dan dari elevasi demikian telah memperoleh pengakuan umum
internasional.

5.

Dalam hal cara penarikan garis pangkal lurus dapat diterapkan berdasarkan
ayat 1, maka di dalam menetapkan garis pangkal tertentu, dapat ikut
diperhitungkan kepentingan ekonomi yang khusus bagi daerah yang
bersangkutan, yang kenyataan dan pentingnya secara jelas dibuktikan oleh
praktek yang telah berlangsung lama.

6.

Sistem penarikan garis pangkal lurus tidak boleh diterapkan oleh suatu
Negara dengan cara yang demikian rupa sehingga memotong laut teritorial
Negara lain dari laut lepas atau zona ekonomi eksklusif.

Pasal 8
Perairan pedalaman (internal waters)

1.

Kecuali sebagaimana diatur dalam bab IV, perairan pada sisi darat garis
pangkal laut teritorial merupakan bagian perairan pedalaman Negara
tersebut.

2.

Dalam hal penetapan garis pangkal lurus sesuai dengan cara yang
ditetapkan dalam pasal 7 berakibat tertutupnya sebagai perairan pedalaman
daerah-daerah yang sebelumnya tidak dianggap demikian, maka di dalam
perairan demikian akan berlaku suatu hak lintas damai sebagaimana
ditentukan dalam Konvensi ini.
Pasal 9
Mulut sungai

Apabila suatu sungai mengalir langsung ke laut, garis pangkal adalah suatu garis
lurus melintasi mulut sungai antara titiktitik pada garis air rendah kedua tepi
sungai.

Pasal 10
Teluk

1.

Pasal ini hanya menyangkut teluk pada pantai milik satu Negara.

2.

Untuk maksud Konvensi ini, suatu teluk adalah suatu lekukan yang jelas
yang lekukannya berbanding sedemikian rupa dengan lebar mulutnya
sehingga mengandung perairan yang tertutup dan yang bentuknya lebih dari
pada sekedar suatu lingkungan pantai semata-mata. Tetapi suatu lekukan
tidak akan dianggap sebagai suatu teluk kecuali apabila luas teluk adalah
seluas atau lebih luas dari pada luas setengah lingkaran yang garis
tengahnya adalah suatu garis yang ditarik melintasi mulut lekukan tersebut.

3.

Untuk maksud pengukuran, daerah suatu lekukan adalah daerah yang


terletak antara garis air rendah sepanjang pantai lekukan itu dan suatu garis
yang menghubungkan titik-titik garis air rendah pada pintu masuknya yang

alamiah. Apabila karena adanya pulau-pulau, lekukan mempunyai lebih dari


satu mulut, maka setengah lingkaran dibuat pada suatu garis yang
panjangnya sama dengan jumlah keseluruhan panjang garis yang melintasi
berbagai mulut tersebut. Pulau-pulau yang terletak di dalam lekukan harus
dianggap seolah-olah sebagai bagian daerah perairan lekukan tersebut.
4.

Jika jarak antara titik-titik garis air rendah pada pintu masuk alamiah suatu
teluk tidak melebihi 24 mil laut, maka garis penutup dapat ditarik antara ke
dua garis air rendah tersebut dan perairan yang tertutup karenanya dianggap
sebagai perairan pedalaman.

5.

Apabila jarak antara titik-titik garis air rendah pada pintu masuk alamiah
suatu teluk melebihi 24 mil laut, maka suatu garis pangkal lurus yang
panjangnya 24 mil laut ditarik dalam teluk tersebut sedemikian rupa,
sehingga menurut suatu daerah perairan yang maksimum yang mungkin
dicapai oleh garis sepanjang itu.

6.

Ketentuan di atas tidak diterapkan pada apa yang disebut teluk sejarah,
atau dalam setiap hal dimana sistem garis pangkal lurus menurut pasal 7
diterapkan

Pasal 11
Pelabuhan (Ports)

Untuk maksud penetapan batas laut teritorial, instalasi pelabuhan permanen yang
terluar yang merupakan bagian integral dari sistem pelabuhan dianggap sebagai
bagian dari pada pantai. Instalasi lepas pantai dan pulau buatan tidak akan
dianggap sebagai instalasi pelabuhan yang permanen.
Pasal 12
Tempat berlabuh di tengah laut (Roadsteads)

Tempat berlabuh di tengah laut yang biasanya dipakai untuk memuat,


membongkar dan menambat kapal, dan yang terletak seluruhnya atau sebagian di
luar batas luar laut teritorial, termasuk dalam laut teritorial.
Pasal 13

Elevasi surut

1.

Suatu elevasi adalah suatu wilayah daratan yang terbentuk secara alamiah
yang dikelilingi dan berada di atas permukaan laut pada waktu air surut,
tetapi berada di bawah permukaan laut pada waktu air pasang. Dalam hal
suatu evaluasi surut terletak seluruhnya atau sebagian pada suatu jarak yang
tidak melebihi lebar laut teritorial dari daratan utama atau suatu pulau, maka
garis air surut pada elevasi demikian dapat digunakan sebagai garis pangkal
untuk maksud pengukuran lebar laut teritorial.

2.

Apabila suatu elevasi surut berada seluruhnya pada suatu jarak yang lebih
dari laut teritorial dari daratan utama atau suatu pulau, maka elevasi
demikian tidak mempunyai laut teritorial sendiri.

Pasal 14
Kombinasi cara-cara penetapan garis pangkal

Negara pantai dapat menetapkan garis pangkal secara bergantian dengan


menggunakan cara penarikan manapun yang diatur dalam pasal-pasal di atas
untuk menyesuaikan dengan keadaan yang berlainan.

Pasal 15
Penetapan garis batas laut teritorial antara negara-negara
yang pantainya berhadapan atau berdampingan

Dalam hal pantai dua Negara yang letaknya berhadapan atau berdampingan satu
sama lain, tidak satupun di antaranya berhak, kecuali ada persetujuan yang
sebaliknya antara mereka, untuk menetapkan batas laut teritorialnya melebihi
garis tengah yang titiktitiknya sama jaraknya dari titik-titik terdekat pada garisgaris pangkal dari mana lebar laut teritorial masing-masing Negara diukur.
Tetapi ketentuan di atas tidak berlaku, apabila terdapat alasan hak historis atau
keadaan khusus lain yang menyebabkan perlunya menetapkan batas laut teritorial
antara kedua Negara menurut suatu cara yang berlainan dengan ketentuan di atas.

Pasal 16
Peta dan daftar koordinat geografis

1.

Garis pangkal untuk mengukur lebar laut teritorial sebagaimana ditetapkan


sesuai dengan pasal 7, 9 dan 10, atau garis batas yang diakibatkan oleh
ketentuan-ketentuan itu dan garis batas yang ditarik sesuai dengan pasal 12
dan 15, harus dicantumkan dalam peta dengan skala atau skala-skala yang
memadai untuk penetapan garis posisinya. Sebagai gantinya dapat diberikan
suatu daftar titik-titik koordinat geografis, yang menjelaskan datum
geodetik.

2.

Negara pantai harus memberikan pengumuman sebagaimana mestinya


mengenai peta atau daftar koordinat geografis tersebut dan mendepositkan
satu copy/turunan setiap peta atau daftar tersebut kepada Sekretaris Jenderal
Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Bagian 3. LINTAS DAMAI (INNOCENT PASSAGE)


DI LAUT TERITORIAL
Sub Bagian A. PERATURAN YANG BERLAKU UNTUK SEMUA KAPAL
Pasal 17
Hak lintas damai
Dengan tunduk pada Konvensi ini, kapal semua Negara, baik berpantai maupun
tak berpantai, menikmati hak lintas damai melalui laut teritorial.

Pasal 18
Pengertian lintas (meaning of passage)

1. Lintas berarti navigasi melalui laut teritorial untuk keperluan:


(a) melintasi laut tanpa memasuki perairan pedalaman atau singgah di tempat
berlabuh di tengah laut (roadstead) atau fasilitas pelabuhan di luar
perairan pedalaman; atau

(b) berlalu ke atau dari perairan pedalaman atau singgah di tempat berlabuh di
tengah laut (roadstead) atau fasilitas pelabuhan tersebut.
2. Lintas harus terus menerus, langsung serta secepat mungkin. Namun
demikian, lintas mencakup berhenti dan buang jangkar, tetapi hanya
sepanjang hal tersebut berkaitan dengan navigasi yang lazim atau perlu
dilakukan karena force majeure atau mengalami kesulitan atau guna
memberikan pertolongan kepada orang, kapal atau pesawat udara yang dalam
bahaya atau kesulitan

Pasal 19
Pengertian lintas damai

1.

Lintas adalah damai sepanjang tidak merugikan bagi kedamaian, ketertiban


atau keamanan Negara pantai. Lintas tersebut harus dilakukan sesuai
dengan ketentuan Konvensi ini dan peratruan hukum internasional lainnya.

2.

Lintas suatu kapal asing harus dianggap membahayakan kedamaian,


ketertiban atau Keamanan Negara pantai, apabila kapal tersebut di laut
teritorial melakukan salah satu kegiatan sebagai berikut :
(a)

setiap ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan,


keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik Negara pantai, atau
dengan cara lain apapun yang merupakan pelanggaran asas hukum
internasional sebagaimana tercantum dalam Piagam Perserikatan
Bangsa-Bangsa;

(b)

setiap latihan atau praktek dengan senjata macam apapun;

(c)

setiap perbuatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang


merugikan bagi pertahanan atau keamanan Negara pantai;

(d)

setiap perbuatan propaganda yang bertujuan


pertahanan atau keamanan Negara pantai;

(e)

peluncuran, pendaratan atau penerimaan setiap pesawat udara di atas


kapal;

(f)

peluncuran, pendaratan atau penerimaan setiap peralatan dan


perlengkapan militer;

mempengaruhi

(g)

bongkar atau muat setiap komoditi, mata uang atau orang secara
bertentangan dengan peraturan perundangundangan bea cukai, fiskal,
imigrasi atau saniter Negara Pantai;

(h)

setiap perbuatan pencemaran dengan sengaja dan parah yang


bertentangan dengan ketentuan Konvensi ini;

(i)

setiap kegiatan perikanan;

(j)

kegiatan riset atau survey;

(k)

setiap perbuatan yang bertujuan mengganggu setiap sistem


komunikasi atau setiap fasilitas atau instalasi lainnya Negara pantai;

(l)

setiap kegiatan lainnya yang tidak berhubungan langsung dengan


lintas.

Pasal 20
Kapal selam dan kendaraan bawah air lainnya
Di laut teritorial, kapal selam dan kendaraan bawah air lainnya diharuskan
melakukan navigasi di atas permukaan air danmenunjukkan benderanya.

Pasal 21
Hukum dan peraturan dari Negara pantai yang berkaitan dengan lintas damai

1.

Negara pantai dapat membuat peraturan perundang-undangan sesuai dengan


ketentuan Konvensi ini dan peraturan hukum internasional lainnya yang
bertalian dengan lintas damai melalui laut teritorial, mengenai semua atau
setiap hal berikut :
(a)

keselamatan navigasi dan pengaturan lalu lintas maritim;

(b)

perlindungan alat-alat pembantu dan fasilitas navigasi serta fasilitas


atau instalasi lainnya;

(c)

perlindungan kabel dan pipa laut;

(d)

konservasi kekayaan hayati laut;

(e)

pencegahan pelanggaran peraturan perundang-undangan perikanan


Negara pantai;

(f)

pelestarian lingkungan negara pantai dan pencegahan, pengurangan


dan pengendalian pencemarannya;

(g)

penelitian ilmiah kelautan dan survey hidrografi;

(h)

pencegahan pelanggaran peraturan perundang-undangan bea cukai,


fiskal, imigrasi atau saniter Negara Pantai.

2.

Peraturan perundang-undangan demikian tidak berlaku bagi disain,


konstruksi, pengawakan atau peralatan kapal asing, kecuali apabila
peraturan perundang-undangan tersebut melaksanakan peraturan atau
standar internasional yang diterima secara umum.

3.

Negara pantai harus mengumumkan semua peraturan perundang-undangan


tersebut sebagaimana mestinya.

4.

Kapal asing yang melaksanakan hak lintas damai melalui laut teritorial
harus mematuhi semua peraturan perundangundangan demikian dan semua
peraturan internasional bertalian dengan pencegahan tubrukan di laut yang
diterima secara umum.

Pasal 22
Alur laut dan skema pemisah lalu lintas di laut teritorial

1.

Negara pantai dimana perlu dengan memperhatikan keselamatan navigasi,


dapat mewajibkan kapal asing yang melaksanakan hak lintas damai melalui
laut teritorialnya untuk mempergunakan alur laut dan skema pemisah lalu
lintas sebagaimana yang dapat ditetapkan dan yang harus dikuti untuk
pengaturan lintas kapal.

2.

Secara khusus, kapal tanki, kapal bertenaga nuklir, dan kapal yang
mengangkut
nuklir
atau barang atau bahan lain karena sifatnya berbahaya atau beracun dapat
diharuskan untuk membatasi pelayarannya pada alur laut demikian.

3.

Dalam penetapan alur laut dan penentuan skema pemisah lalu lintas
menurut pasal ini, Negara pantai harus memperhatikan:
(a)

rekomendasi dari organisasi internasional yang berwenang;

4.

(b)

setiap alur yang biasanya digunakan untuk navigasi internasional;

(c)

karakteristik khusus kapal dan alur tertentul; dan

(d)

kepadatan lalu lintas.

Negara pantai harus mencantumkan secara jelas alur laut dan skema
pemisah lalu lintas demikian pada peta yang harus diumumkan
sebagaimana mestinya.

Pasal 23
Kapal asing bertenaga nuklir dan kapal yang mengangkut nuklir
atau bahan lain yang karena sifatnya berbahaya atau beracun
Kapal asing bertenaga nuklir dan kapal yang mengangkut nuklir atau bahan lain
yang karena sifatnya berbahaya atau beracun, apabila melaksanakan hak lintas
damai melalui laut teritorial, harus membawa dokumen dan mematuhi tindakan
pencegahan khusus yang ditetapkan oleh perjanjian internasional bagi kapal-kapal
demikian.

Pasal 24
Kewajiban Negara pantai

1.

2.

Negara pantai tidak boleh menghalangi lintas damai kapal asing melalui
laut teritorial kecuali sesuai dengan ketentuan Konvensi ini. Dalam
penerapan Konvensi ini atau setiap peraturan perundang-undangan yang
dibuat sesuai Konvensi ini, Negara pantai khususnya tidak akan :
(a)

menetapkan persyaratan atas kapal asing yang secara praktis berakibat


penolakan atau pengurangan hak litas damai; atau

(b)

mengadakan diskriminasi formal atau diskriminasi nyata terhadap


kapal Negara manapun atau terhadap kapal yang mengangkut muatan
ke, dari atau atas nama Negara manapun.

Negara pantai harus mengumumkan secara tepat bahaya apapun bagi


navigasi dalam laut teritorialnya yang diketahuinya.

Pasal 25
Hak perlindungan Negara Pantai

1.

Negara pantai dapat mengambil langkah yang diperlukan dalam laut


teritorialnya untuk mencegah lintas yang tidak damai.

2.

Dalam hal kapal menuju perairan pedalaman atau singgah di suatu fasilitas
pelabuhan di luar perairan pedalaman, Negara pantai juga mempunyai hak
untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah pelanggaran
apapun terhadap persyaratan yang ditentukan bagi masuknya kapal tersebut
ke perairan pedalaman atau persinggahan demikian.

3.

Negara pantai, tanpa diskriminasi formil atau diskriminasi nyata di antara


kapal asing, dapat menangguhkan sementara dalam daerah tertentu laut
teritorialnya lintas damai kapal asing apabila penangguhan demikian sangat
diperlukan untuk perlindungan keamanannya, termasuk keperluan latihan
senjata. Penangguhan demikian berlaku hanya setelah diumumkan
sebagaimana mestinya.

Pasal 26
Pungutan yang dapat dibebankan pada kapal asing

1.

Tidak ada pungutan yang dapat dibebankan pada kapal asing hanya karena
melintasi laut teritorial.

2.

Pungutan dapat dibebankan pada kapal asing yang melintasi laut teritorial
hanya sebagai pembayaran bagi pelayanan khusus yang diberikan kepada
kanal tersebut. Pungutan ini harus dibebankan tanpa diskriminasi.

Sub Bagian B. PERATURAN YANG BERLAKU BAGI KAPAL DAGANG


DAN
KAPAL PEMERINTAH YANG DIOPERASIKAN UNTUK TUJUAN
KOMERSIAL

Pasal 27
Yurisdiksi kriminal di atas kapal asing

1.

Yurisdiksi kriminal Negara pantai tidak dapat dilaksanakan di atas kapal


asing yang sedang melintasi laut teritorial untuk menangkap siapapun atau
untuk mengadakan penyidikan yang bertalian dengan kejahatan apapun
yang dilakukan di atas kapal selama lintas demikian, kecuali dalam hal yang
berikut :
(a)

apabila akibat kejahatan itu dirasakan di Negara pantai;

(b)

apabila kejahatan itu termasuk jenis yang mengganggu kedamaian


Negara tersebut atau ketertiban laut wilayah;

(c)

apabila telah diminta bantuan penguasa setempat oleh nakhoda kapal


oleh wakil diplomatik atau pejabat konsuler Negara bendera; atau

(d) apabila tindakan demikian diperlukan untuk menumpas perdagangan


gelap narkotika atau bahan psychotropis.
2.

Ketentuan di atas tidak mempengaruhi hak Negara pantai untuk mengambil


langkah apapun berdasarkan undangundangnya untuk tujuan penangkapan
atau penyidikan di atas kapal asing yang melintasi laut teritorialnya setelah
meninggalkan perairan Pedalaman.

3.

Dalam hal sebagaimana ditentukan dalam ayat 1 dan 2, Negara pantai,


apabila nakhoda memintanya, harus memberitahu wakil diplomatik atau
pejabat konsuler Negara bendera sebelum melakukan tindakan apapun dan
harus membantu hubungan antara wakil atau pejabat demikian dengan awak
kapal. Dalam keadaan darurat pemberitahuan ini dapat disampaikan
sewaktu tindakan tersebut dilakukan.

4.

Dalam mempertimbangkan apakah atau dengan cara bagaimanakah suatu


penangkapan akan dilakukan, penguasa setempat harus memperhatikan
sebagaimana mestinya kepentingan navigasi.

5.

Kecuali dalam hal sebagaimana ditentukan dalam Bab XII atau yang
bertalian dengan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang
ditetapkan sesuai dengan Bab V, Negara pantai tidak dibenarkan untuk
mengambil langkah apapun di atas kapal asing yang melintasi laut teritorial
untuk melakukan penangkapan seseorang atau melakukan penyidikan
apapun yang bertalian dengan kejahatan apapun yang dilakukan sebelum
kapal itu memasuki laut teritorial, apabila kapal tersebut dalam

perjalanannya dari suatu pelabuhan asing, hanya melintasi laut teritorial


tanpa memasuki perairan pedalaman.

Pasal 28
Yurisdiksi perdata bertalian dengan kapal asing

1.

Negara pantai seharusnya tidak menghentikan atau merobah haluan kapal


asing yang melintasi laut teritorialnya untuk tujuan melaksanakan yurisdiksi
perdata bertalian dengan seseorang yang berada di atas kapal itu.

2.

Negara pantai tidak dapat melaksanakan eksekusi terhadap atau menahan


kapal untuk keperluan proses perdata apapun, kecuali hanya apabila
berkenaan dengan kewajiban atau tanggung jawab ganti rugi yang diterima
atau yang dipikul oleh kapal itu sendiri dalam melakukan atau untuk
maksud perjalannya melalui perairan Negara pantai.

3.

Ayat 2 tidak mengurangi hak Negara pantai untuk melaksanakan eksekusi


atau penangkapan sesuai dengan undangundangnya dengan tujuan atau
guna keperluan proses perdata terhadap suatu kapal asing yang berada di
laut teritorial atau melintasi laut teritorial setelah meninggalkan perairan
pedalaman.

SUB BAGIAN C.
PERATURAN YANG BERLAKU BAGI KAPAL PERANG DAN
KAPAL PEMERINTAH LAINNYA YANG DIOPERASIKAN UNTUK
TUJUAN NON-KOMERSIAL
Pasal 29
Batasan kapal perang

Untuk maksud Konvensi ini kapal perang berarti suatu kapal yang dimiliki oleh
angkatan bersenjata suatu Negara yang memakai tanda luar yang menunjukkan
ciri khusus kebangsaan kapal tersebut, di bawah komando seorang perwira yang
diangkat untuk itu oleh Pemerintah Negaranya dan yang namanya terdapat di
dalam daftar dinas militer yang tepat atau daftar serupa, dan yang diawaki oleh
awak kapal yang tunduk pada disiplin angkatan bersenjata reguler.

Pasal 30
Tidak ditaatinya peraturan perundang-undangan

Negara pantai oleh kapal perang asing Apabila sesuatu kapal perang tidak
mentaati peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Negara pantai
mengenai lintas melalui laut teritorial dan tidak mengindahkan permintaan untuk
mentaati peraturan perundang-undangan tersebut yang disampaikan kepadanya,
maka Negara pantai dapat menuntut kapal perang itu segera meninggalkan laut
teritorialnya.

Pasal 31
Tanggung jawab Negara bendera untuk kerugian yang
disebabkan oleh kapal perang atau kapal pemerintah
lainnya yang dioperasikan untuk tujuan non-komersial

Negara bendera memikul tanggung jawab internasional untuk setiap kerugian atau
kerusakan yang diderita Negara pantai sebagai akibat tidak ditaatinya oleh suatu
kapal perang kapal pemerintah lainnya yang dioperasikan untuk tujuan nonkomersial peraturan perundang-undangan Negara pantai mengenai lintas melalui
laut teritorial atau ketentuan Konvensi ini atau peraturan hukum internasional
lainnya.

Pasal 32
Kekebalan kapal perang dan kapal pemerintah lainnya yang dioperasikan
untuk tujuan non-komersial

Dengan pengecualian sebagaimana tercantum dalam sub-bagian A dan dalam


pasal 30 dan 31, tidak satupun ketentuan dalam Konvensi ini mengurangi
kekebalan kapal perang dan kapal pemerintah lainnya yang dioperasikan untuk
tujuan non-komersial.

BAGIAN 4.
ZONA TAMBAHAN
Pasal 33
Zona tambahan

1.

2.

Dalam suatu zona yang berbatasan dengan laut teritorialnya, yang


dinamakan zona tambahan, Negara pantai dapat melaksanakan pengawasan
yang diperlukan untuk :
(a)

mencegah pelanggaran peraturan perundang-undangan bea cukai,


fiskal, imigrasi atau saniter di dalam wilayah atau laut teritorialnya;

(b)

menghukum pelanggaran peraturan perundang-undangan tersebut di


atas yang dilakukan di dalam wilayah atau laut teritorialnya.

Zona tambahan tidak dapat melebihi lebih 24 mil laut dari garis pangkal
dari mana lebar laut teritorial diukur.

A. Pengertian Laut Teritorial


Konsep laut teritorial bertujuan untuk menumpas pembajakan dan untuk
mempromosikan pelayaran dan perdagangan antar negara. Prinsip ini

mengijinkan negara untuk memperluas yurisdiksinya melebihi batas wilayah


pantainya untuk alasan keamanan. Secara konseptual, laut teritorial merupakan
perluasan dari wilayah teritorial darat. Sejak Konferensi Den Haag 1930
kemudian Konferensi Hukum Laut 1958, negara-negara pantai mendukung
rencana untuk konsep laut teritorial ditetapkan dalam doktrin hukum laut.
Kemudian ketentuan laut teritorial dikodifikasikan dalam Konvensi Hukum Laut
1982 (UNCLOS). UNCLOS mengijinkan negara pantai untuk menikmati
yurisdiksi eksklusif atas tanah dan lapisan tanah dibawahnya sejauh 12 mil laut
diukur dari garis dasar sepanjang pantai yang mengelilingi negara tersebut.
Pengertian laut teritorial menurut hukum laut internasional maupun nasional
adalah sebagai berikut : 1[2]
a.

Pengertian Laut Teritorial menurut UNCLOS 1982


Konvensi Hukum Laut 1982 merupakan kemenangan bagi
negara-negara berkembang terutama negara berkembang yang
mempunyai

pantai

(coastal

states),

tetapi

juga

Konvensi

memberikan hak akses kepada negara-negara yang tidak


mempunyai pantai (land-locked states). Konvensi Hukum Laut
1982 menetapkan bahwa setiap Negara pantai mempunyai laut
teritorial (teritorial sea). Laut teritorial telah diatur oleh Konvensi,
yaitu yang terdapat dalam Bab II dari mulai Pasal 2-32. Bab II
Konvensi

Hukum

Laut

1982

berjudul

Teritorial

Sea

and

Contiguous Zone.
Garis-garis dasar (garis pangkal / baseline), yang lebarnya 12 mil laut
diukur dari garis dasar Laut teritorial didefinisikan sebgai laut wilayah yang
terletak disisi luar dari garis pangkal.
Yang dimaksud dengan garis dasar disini adalah garis yang ditarik pada
pantai pada waktu air laut surut . Negara pantai mempunyai kedaulatan atas Laut
Teritorial, ruang udara di atasnya, dasar laut dan tanah di bawahnya serta
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dimana dalam pelaksanaannya
kedaulatan atas laut teritorial ini tunduk pada ketentuan hokum internasional.

b. Pengertian Laut Teritorial menurut UU No. 6 Tahun 1996


Laut teritorial adalah jalur laut selebar 12(dua belas) mil yang diukur
dari garis pangkal kepulauan Indonesia sebagaimana yang dimaksud pasal 5 UU
No 6 Tahun 1996. Pasal 5 UU No 6 Tahun 1996 berbunyi :2[3]
(1) Garis pangkal kepulauan Indonesia ditarik dengan menggunakan garis pangkal
lurus kepulauan.
(2) Dalam hal garis pangkal lurus kepulauan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
tidak dapat digunakan, maka digunakan garis pangkal biasa atau garis pangkal
lurus.
(3) Garis pangkal lurus kepulauan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah
garis -garis lurus yang menghubungkan titik-titik terluar pada garis air rendah
(4)

pulau-pulau dan karang- karang kering terluar dari kepulauan Indonesia.


Panjang garis pangkal lurus kepulauan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3)
tidak boleh melebihi 100 (seratus) mil laut, kecuali bahwa 3% (tiga per seratus)
dari jumlah keseluruhan garis -garis pangkal yang mengelilingi kepulauan
Indonesia dapat melebihi kepanjangan tersebut, hingga suatu kepanjangan

maksimum 125 (seratus dua puluh lima) mil laut.


(5) Garis pangkal lurus kepulauan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) tidak boleh
ditarik dari dan ke elevasi surut, kecuali apabila di atasnya telah dibangun mercu
suar atau instalasi serupa yang se-cara permanen berada di atas permukaan laut
atau apabila elevasi surut tersebut terletak seluruhnya atau sebagian pada suatu
jarak yang tidak melebihi lebar laut teritorial dari pulau yang terdekat.
(6) Garis pangkal biasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) adalah garis air
(7)

rendah sepanjang pantai.


Garis pangkal lurus sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) adalah garis lurus
yang menghubungkan titik-titik terluar pada garis pantai yang menjorok jauh dan
menikung ke daratan atau deretan pulau yang terdapat di dekat sepanjang pantai.
Dalam Laut Teritorial berlaku hak lintas laut damai bagi kendaraankendaraan air asing. Kapal asing yang menyelenggarakan lintas laut damai di
Laut Teritorial tidak boleh melakukan ancaman atau penggunaan kekerasan
terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik negara pantai
serta tidak boleh melakukan kegiatan survey atau penelitian, mengganggu sistem
2

komunikasi, melakukan pencemaran dan melakukan kegiatan lain yang tidak ada
hubungan langsung dengan lintas laut damai. Pelayaran lintas laut damai tersebut
harus dilakukan secara terus menerus, langsung serta secepatnya, sedangkan
berhenti dan membuang jangkar hanya dapat dilakukan bagi keperluan navigasi
yang normal atau kerena keadaan memaksa atau dalam keadaan bahaya atau
untuk tujuan memberikan bantuan pada orang, kapal atau pesawat udara yang
berada dalam keadaan bahaya.
Terkait dengan pelaksanaan hak lintas damai bagi kapal asing tersebut, Negara
pantai berhak membuat peraturan yang berkenaan dengan keselamatan pelayaran
dan pengaturan lintas laut, perlindungan alat bantuan serta fasilitas navigasi,
perlindungan kabel dan pipa bawah laut, konservasi kekayaan alam hayati,
pencegahan

terhadap

pelanggaran

atas

peraturan

perikanan,

pelestarian

lingkungan hidup dan pencegahan, pengurangan dan pengendalian pencemaran,


penelitian ilmiah kelautan dan survei hidrografi dan pencegahan pelanggaran
peraturan bea cukai, fiskal, imigrasi dan kesehatan.
Di laut teritorial kapal dari semua negara, baik negara berpantai ataupun
tidak berpantai, dapat menikmati hak lintas damai melalui laut teritorial, demikian
dinyatakan dalam pasal 17 UNCLOS 1982. Dalam pasal 18 UNCLOS 1982,
disebutkan pengertian lintas, berarti suatu navigasi melalui laut teritorial untuk
keperluan :
1)

Melintasi laut tanpa memasuki perairan pedalaman atau singgah di tempat

2)

berlabuh di tengah laut atau fasilitas pelabuhan di luar perairan pedalaman ; atau
Berlalu ke atau dari perairan pedalaman atau singgah di tempat berlabuh di
tengah laut (roadstead) atau fasilitas pelabuhan tersebut.
Termasuk dalam pengertian lintas ini harus terus menerus, langsung serta
secepat mungkin, dan mancakup juga berhenti dan buang jangkar, tetapi hanya
sepanjang hal tersebut berkaitan dengan navigasi yang lazim atau perlu dilakukan
karena force majure atau memberi pertolongan kepada orang lain, kapal atau
pesawat udara yang dalam keadaan bahaya.
Selanjutnya dalam pasal 19 Konvensi menyatakan, bahwa lintas adalah
damai, sepanjang tidak merugikan bagi kedamaian, ketertiban atai keamanan
Negara pantai.sedangkan lintas suatu kapal asing dianggap membahayakan
kedamaian, ketertiban atau keamanan suatu Negara pantai, apabila kapal tersebut

dalam melakukan navigasi di laut teritorial melakukan salah satu kegiatan sebagai
berikut :
1)

Setiap ancaman penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah


atau kemerdekaan politik Negara pantai, atau dengan cara lain apapun yang
merupakan pelanggaran atas hukum internasional sebagaimana tercantum dalam

2)
3)

Piagam PBB.
Setiap latihan atau praktek dengan senjata macam apapun.
Setiap perbuatan yang bertujuan untuk mengumpulkan infomasi yang merugikan

4)
5)

bagi pertahanan atau keamanan Negara pantai.


Peluncuran, pendaratan atau penerimaan pesawat udara di atas kapal.
Perbuatan propaganda yang bertujuan mempengaruhi pertahanan dan keamanan

6)

Negara pantai.
Bongkar atau muat setiap komoditi, mata uang atau orang secara bertentangan

7)
8)
9)
10)
11)

dengan peraturan bea cukai dan imigrasi.


Perbuatan pencemaran laut yang disengaja.
Kegiatan perikanan.
Kegiatan riset.
Mengganggu sistem komunikasi.
Kegiatan yang berhubungan langsung dengan lintas.
Pasal 32 UNCLOS memberikan pengecualian bagi kapal perang atau
kapal pemerintah yang dioperasikan untuk tujuan non komersial. Pasal 29
UNCLOS memberikan definisi kapal perang yaitu suatu kapal yang dimiliki oleh
angkatan bersenjata suatu Negara yang memamkai tanda luar yang menunjukkan
ciri khusus kebangsaan kapal tersebut, di bawah komando seorang perwira, yang
diangkat oleh pemerintah Negaranya dan namanya terdaftar dinas militer yang
tepat atau daftar yang serupa yang diawasi oleh awak kapal yang tunduk pada
disiplin angkatan bersenjata reguler.
Negara pantai tidak boleh menghalangi lintas damai kapal asing melalui
laut teritorialnya, kecuali dengan ketentuan Konvensi atau perundang-undangan
yang dibuat sesuai dengan ketentuan Konvensi. Negara pantai juga tidak boleh
menetapkan persyaratan atas kapal asing yang secara praktis berakibat penolakan
atau pengurangan hak lintas damai. Lain dari pada itu Negara pantai tidak boleh
mengadakan diskriminasi formil atau diskriminasi nyata terhadap kapal Negara
manapun. Untuk keselamatan pelayaran, Negara pantai harus secepatnya

mengumumkan bahaya apapun bagi navigasi dalam laut teritorialnya yang


diketahuinya.
Selanjutnya Pasal 25 UNCLOS, mengenai hak perlindungan bagi
keamanan

Negaranya,

Negara

pantai

dapat

mengambil

langkah

yang

diperlakukan untuk mencegah lintas yang tidak damai di laut teritorialnya. Negara
pantai juga berhak untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah
pelanggaran apapun terhadap persyaratan yang ditentukan bagi masuknya kapal
ke perairan pedalaman atau ke persinggahan demikian. Tanpa diskriminasi formil
atau diskriminasi nyata di antara kapal, Negara pantai dapat menangguhkan
sementara pada daerah tertentu di laut teritorialnya untuk perlindungan
keamanannya termasuk keperluan latihan senjata.
B.

Cara Menentukan Lebar Dan Garis Batas Laut Teritorial Menurut


Instrumen Hukum Nasional dan Internasional
Seperti yang diuraikan diatas bahwa penentuan laut teritorial suatu
Negara pantai dilakukan dengan cara penarikan sejauh 12 mil dari garis pangkal
terluar yang merupakan ttitik pasang surut terendah seperti yang diatur dalam
pasal 5 unclos dan UU No.6 tahun 1996 pasal 5. Namun unclos dan UU no.6
tahun1996 memberikan pengecualian terhadap wilayah laut yang memiliki pantai
yang saling berhadapan antar Negara pantai.

1) Pasal 10 UU no.6 tahun 1996 menyebutkan bahwa :


(1) Dalam hal pantai Indonesia letaknya berhadapan atau berdampingan dengan
negara lain, kecuali adapersetujuan yang sebaliknya, garis batas laut teritorial
antara Indonesia dengan negara tersebut adalahgaris tengah yang titik-titiknya
sama jaraknya dari titik- titik ter-dekat pada garis pangkal dari mana lebar laut
teritorial masing-masing negara diukur.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku apabila terdapat
alasan hak historis ataukeadaan khusus lain yang menyebabkan perlunya
menetapkan batas laut teritorial antara kedua negaramenurut suatu cara yang
berbeda dengan ketentuan tersebut.
2) Pasal 83 UNCLOS, 1982 menetapkan bahwa penentuan batas landasan
continental antar negara dengan pesisir yang berhadapan atau berdekatan akan

dilaksanakan melalui perjanjian berdasarkan hukum internasional dengan tujuan


untuk mencapai suatu penyelesaian yang pantas dan fair.
Berdasarkan peraturan diatas ,dapat dinyatakan bahwa penentuan batas
laut teritorial antara Negara pantai yang memiliki wilayah pantai dapat dilakukan
melalui perundingan atau kesepakatan antar kedua belah pihak.
C. Sejarah dan Pengaturan Hukum Laut mengenai hak lintas damai di Laut
Teritorial Secara Nasional dan Internasional
Perluasan yurisdiksi nasional atas laut dan tantangan yang timbul terhadap
hal tersebut dari negaranegara maritim yang ingin mempertahankan prinsip
keebebasan dilautan, merupakan pokok sengketa yang fundamental dalam
masalah penggunaan laut, zaman dahulu dapat dikatakan hanya ada satu pola
pandangan terhadapa kegunaan laut sebagai alat transportasi dan komunikasi,
kehadiran kapal-kapal asing pada jalur-jalur perairan sepanjang pantai
menimbulkan suatu akibat yang menganggu kedudukan negara pantai sebagai
suatu

negara

yang

berdaulat.3[4]

Kebijakan

umum

yang

berkembang kemudian adalah untuk sedapat mungkin untuk


mengadakan pembatasan terhadap kehadiran atau kapal-kapal
asing pada wilayah laut yang terletak berdampingan dengan
pantai suatu negara.
Kompromi yang dihasilkan dari adanya pertentangan diantara
dua yang sama kuatnya ini akhirnya melahirkan suatu doktrin
baru yang lahir dalam bentuk konsepsi lintas damai, yaitu
pemberian suatu hak kepada kapal-kapal asing untuk melintasi
wilayah laut yang berada dalam juridiksi (dan dengan demikian
kedaulatan) suatu negara dengan pembatasanpembatasan
tertentu.
Pada KHL(Konferensi Hukum Laut) I di Jenewa tahun 1958,
dua kepentingan yang berada tersebut akhirnya dicoba untuk
diselesaikan melalui rumusan pasalpasal 14 s/d 23 dari KHL I
tentang Laut Teritorial dan jalur tambahan (untuk selanjutnya
disebut sebagai Konvensi Laut Teritorial 1958), dalam bentuk
3

aturan umum tentang hak-hak kapal asing. Ketentuan tersebut


juga merumuskan wewenang yang diberikan kepada negara
pantai
tentang

untuk
Laut

mengatur

pelaksanaannya.

Teritorial

dan

Jalur

Konvensi

Tambahan

1958

Jenewa
telah

memperkuat kedaulatan negara pantai atas laut teritorialnya,


termasuk ruang udara diatasnya, serta dasar laut dan tanah
dibawahnya.

Namun,

kedaulatan

Negara

pantai

ini

masih

dibatasi oleh ketentuanketentuan Konvensi itu sendiri maupun


ketentuan-ketentuan hukum Internasional lainnya. Salah satu
kelemahan atau kegagalan KHL I ini adalah bahwa rezim hak
lintas damai yang dihasilkannya dianggap tidak memadai untuk
dipakai mengatur pelayaran didunia dewasa ini, terutama karena
konferensi

tidak

berhasil

merumuskan

ketentuan-ketentuan

tentang lintas oleh kapal perang.


Sebetulnya masalah lintas bagi kapal perang melalui laut terrtorial suatu
negara telah menjadi bahan pembicaraan pada konferensi Kodifikasi Deg Haag
tahun 1930. Rancangan Pasal-pasal yang dihasilkan oleh Konferensi ini
kemudian dipakai oleh panitia Hukum Internasional sebagia rancangan pasalpasal untuk disampaikan pada Konferensi Hukum Laut Jenewa 1958 .
Sayangnya, Rancangan Pasal 24 tentang lintas bagi kapal perang ini ditolak,
karena gagal mencapai dukungan mayoritas suara yang diperlukan. Oleh
karenanya hak lintas damai bagi kapal perang tidak akan dapat ditemui dalam
naskah konvensi.4[5]
Menurut Mochtar Kusumaatmadja5[6], naskah Pasal 24 ini
sebenarnya berisi ketentuan yang menetapkan bahwa kapal
perang asing yang hendak lewat di laut teritorial, terlebih dahulu
memerlukan izin Negara pantai, atau sedikit-dikitnya harus
terlebih dahulu memberitahukan maksudnya tersebut kepada
negara pantai. Akibatnya Konvensi Jenewa tentang Laut Teritorial
dan Jalur Tambahan 1958 ini tidak memuat satu ketentuan
4
5

apapun tentang lintas damai bagi kapal perang. Satu-satunya


ketentuan mengenai Hak lintas damai bagi kapalkapal asing
melalui selat yang digunakan untuk pelayaran Internasional
secara umum diatur dalam pasal 45, yang menetapkan bahwa
kertentuan-ketentuan tentang hak lintas damai di laut teritorial
(seksi 3, Bagian II) juga berlaku pada selat yang digunakan untuk
pelayaran

internasional.

Menurut

kententuan

Pasal

45

selanjutnya, hak lintas damai ini hanya dapat diterapkan pada:


1. Selat yang dikecualikan dari ketentuan Pasal 37, yaitu selat
yang terletak antara suatu pulau dan daratan utama Nnegara
yang berbatasan dengan selat, yang apabila pada sisi kearah
laut pulau itu terdapat suatu rute melalui laut lepas atau melalui
suatu zona ekonomi ekslusif yang sama fungsinya bertalian
denga sifat-sifat navigasi dan hidrografis (untuk selanjutnya akan
disebut sebagai selat dengan kategori Pasal 38 ayat 1);
2. Selat selat yang terletak antara bagian laut lepas atau zona
ekonomi ekslusif dan laut teritorial suatu Negara asing (untuk
selanjutnya akan disebut sebagai selat dengan kategori Pasal
45 ayat 1(b)). Ketentuan diatas menetapkan juga bahwa hak
lintas damai dapat diterapkan pada selat-selat dimana lintas
transit tidak berlaku.
Ketentuan-ketentuan tentang hak lintas damai dalam UNCLOS
1982 tetap mempertahankan bentuk yang sama seperti dalam
Konvensi Jenewa tentang Laut Teritorial dan Jalur Tambahan
1958, dengan membedakan pengaturan bagi kapalkapal asing
ke dalam tiga kategori :
(1) Semua jenis kapal (pasal 17 26);
(2) Kapal-kapal dagang dan kapal-kapal

pemerintah

yang

dioperasikan untuk tujuan komersil (pasal 27 28); dan


(3) kapalkapal perang dan kapalkapal pemerintah lainnya yang
dioperasikan untuk tujuan non-komersial (pasal 29-32).
Sedangkan secara nasional pengaturan mengenai hak lintas damai terdapat
dalam:

1) UU No. 4 Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia


2) Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1962 tentang Hak Lintas Damai kendaraan Air
Asing.
3) UU No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan.
4) UU No. 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nation Convention of the
Law of the Sea 1982.
5) Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2002 tentang Hak dan Kewajiban Kapal
Asing dalam Melaksanakan Lintas Damai Melalui Perairan Indonesia.
6) PP No.19 Tahun 1999 tentang pengendalian dan atau perusakan laut.
D. Pengaturan Hukum Laut Internasional Mengenai Laut Teritorial Dalam
Unclos 1982
Dalam UNCLOS laut teritorial diatur dengan ketentuan sebagai berikut,
Bagian 1 Pendahuluan yakni pasal 1 dan 2 yang berbunyi :
Pasal 1
1.
(1)

Untuk tujuan Konvensi ini:


Kawasan (Area) berarti dasar laut dan dasar samudera serta tanah

(2)

dibawahnya di luar batas-batas yurisdiksi nasional;


Otorita (Authority) berarti Otorita Dasar Laut Internasional (International

(3)

Sea-Bed Authority);
kegiatan-kegiatan di Kawasan (activities in the Area) berarti segala kegiatan

(4)

eksplorasi dan eksploitasi kekayaan Kawasan;


pencemaran lingkungan laut (pollution of the marine environment) berarti
dimasukkannya oleh manusia, secara langsung atau tidak langsung, bahan atau
energi ke dalam lingkungan laut, termasuk kuala, yang mengakibatkan atau
mungkin membawa akibat buruk sedemikian rupa seperti kerusakan pada
kekayaan hayati laut dan kehidupan di laut, bahaya bagi kesehatan manusia,
gangguan terhadap kegiatan-kegiatan di laut termasuk penangkapan ikan dan
penggunaan laut yang sah lainnya, penurunan kwalitas kegunaan air laut dan
pengurangan kenyamanan. secara langsung atau tidak langsung, bahan atau energi
ke dalam lingkungan laut, termasuk kuala, yang mengakibatkan atau mungkin
membawa akibat buruk sedemikian rupa seperti kerusakan pada kekayaan hayati
laut dan kehidupan di laut, bahaya bagi kesehatan manusia, gangguan terhadap
kegiatan-kegiatan di laut termasuk penangkapan ikan dan penggunaan laut yang

(5)

sah lainnya, penurunan kualitas kegunaan air laut dan pengurangan kenyamanan..
a. dumping berarti:

(i) setiap pembuangan dengan sengaja limbah atau benda lainnya dari kendaraan air,
pesawat udara, peralatan (platform) atau bangunan buatan lainnya di laut;
(ii) setiap pembuangan dengan sengaja kendaraan air, pesawat udara, pelataran
(platform), atau bangunan buatan lainnya di laut.
b.
tidak termasuk dumping:
(i) pembuangan limbah atau benda lainnya yang berkaitan dengan atau berasal dari
pengoperasian wajar kendaraan air, pesawat udara, pelataran (platform) atau
bangunan buatan lainnya di laut serta peralatannya, selain dari limbah atau benda
lainnya yang diangkut oleh atau ke kendaraan air, pesawat udara, pelataran
(platform) atau bangunan buatan lainnya di laut, yang bertujuan untuk
pembuangan benda tersebut atau yang berasal dari pengolahan limbah atau benda
lain itu di atas kendaraan air, pesawat udara, pelataran (platform) atau bangunan
tersebut;
(ii) penempatan benda untuk suatu keperluan tertentu, tetapi bukan semata-mata
untuk pembuangan benda tersebut, asalkan penempatan itu tidak bertentangan
dengan tujuan Konvensi ini.
2. (1) Negara-negara Peserta berarti negara-negara yang telah menyetujui untuk
terikat oleh Konvensi ini dan untuk mana konvensi ini berlaku.
(2) Konvensi ini berlaku mutatis mutandis untuk satuan-satuan tersebut pada pasal
305, ayat 1 (b), (c), (d), (e), dan (f), yang menjadi Peserta Konvensi menurut
syarat-syarat yang berlaku untuk masing-masing dan sejauh hal tersebut Negara
Peserta mencakup satuan-satuan tersebut.
Pasal 2
Status hukum laut teritorial, ruang udara di atas laut teritorial, serta dasar laut dan
lapisan tanah dibawahnya
1.

Kedaulatan suatu Negara pantai, selain wilayah daratan dan perairan


pedalamannya, dan dalam hal suatu Negara kepulauan dengan perairan
kepulauannya, meliputi pula suatu jalur laut yang berbatasan dengannya yang

2.

dinamakan laut terotgirial.


Kedaulatan ini meliputi ruang udara di atas laut serta dasar laut dan lapisan tanah

3.

dibawahnya.
Kedaulatan atas laut teritorial dilaksanakan dengan tunduk pada Konvensi ini
dan peraturan-peraturan lainnya dari hukum internasional.

Bagian 2. batas Laut Teritorial meliputi Pasal 3 sampai 16 UNCLOS 1982


Bagian 3.lintas damai di laut teritorial
1)

Sub bagian a.

Peraturan yang berlaku bagi semua kapal(pasal 17 sampai 26)


2)

Sub bagian b.

Peraturan yang berlaku bagi kapal dagang dan kapal pemerintah yang
dioperasikan untuk tujuan komersial(pasal 27 sampai 28)
3)

Sub bagian c.

Peraturan yang berlaku bagi kapal perang dan kapal pemerintah lainnya yang
dioperasikan untuk tujuan non-komersial(pasal 29 sampai 32)

BAB 3
KESIMPULAN
Konvensi Hukum Laut 1982 merupakan kemenangan bagi
negara-negara berkembang terutama negara berkembang yang
mempunyai

pantai

(coastal

states),

tetapi

juga

Konvensi

memberikan hak akses kepada negara-negara yang tidak


mempunyai pantai (land-locked states). Konvensi Hukum Laut
1982 menetapkan bahwa setiap Negara pantai mempunyai laut
teritorial (teritorial sea). Laut teritorial telah diatur oleh Konvensi,
yaitu yang terdapat dalam Bab II dari mulai Pasal 2-32. Bab II
Konvensi

Hukum

Laut

1982

berjudul

Teritorial

Sea

and

Contiguous Zone.
UNCLOS 1982 menegaskan bahwa kedaulatan negara
pantai mencakup wilayah darat, perairan pedalaman, perairan
kepulauan kalau negara kepulauan, dan sampai laut teritorial
atau laut wilayah. Kedaulatan tersebut meliputi ruang udara di
atasnya dan dasar laut serta tanah di bawahnya.
a.

Laut teritorial menurut hukum laut internasional maupun nasional adalah sebagai
berikut :

1. Menurut UNCLOS 1982


Garis-garis dasar (garis pangkal / baseline), yang lebarnya 12 mil laut diukur dari
garis dasar Laut teritorial didefinisikan sebgai laut wilayah yang terletak disisi
luar dari garis pangkal.
2. Menurut UU No.6 tahun 1996
Laut teritorial adalah jalur laut selebar 12(dua belas) mil yang diukur dari garis
pangkal kepulauan Indonesia sebagaimana yang dimaksud pasal 5.
b. Dalam Laut Teritorial berlaku hak lintas laut damai bagi kendaraan-kendaraan air
asing
c.

Penentuan laut teritorial suatu Negara pantai dilakukan dengan cara penarikan
sejauh 12 mil dari garis pangkal terluar yang merupakan ttitik pasang surut
terendah seperti yang diatur dalam pasal 5 unclos dan UU No.6 tahun 1996 pasal
5.

d. Secara nasional pengaturan mengenai hak lintas damai terdapat dalam:


1. UU No 4 Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia
2. Peraturan Pemerintah No 8 Tahun 1962 tentang Hak Lintas Damai
kendaraan Air Asing.
3. UU No 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nation
Convention of the Law of the Sea 1982.
4. UU No 6 Tahun 1996 tentang Pelayaran
5. Peraturan Pemerintah No 36 Tahun 2002 tentang Hak dan
Kewajiban Kapal Asing dalam Melaksanakan Lintas Damai
Melalui Perairan Indonesia
6. PP no.19 tahun 1999 tentang pengendalian dan atau perusakan laut
7. pengaturan hukum laut internasional mengenai laut teritorial dalam
unclos 1982 mengenai laut teritorial diatur dalam bab 1,2 dan3
yaitu mulai pasal 1 sampai dengan pasal 32.

Sumber:
Retno windari,
Dan

Hukum Laut, Zona-Zona Maritim Sesuai Unclos 1982

Konvensi-Konvensi

Bidang

Maritim,

Penerbit

Badan

Koordinasi Keamanan Laut, Jakarta, 2009.

Laut teritorial
Definisi laut territorial. Laut territorial adalah salah satu wilayah yang
lebarnya tidak melebihi 12 mil laut di ukur dari garis pangkal, sedangkan garis
pangkal adalah garis air surut terendah sepanjang pantai, seperti yang terlihat
pada peta laut skala besar yang berupa garis yang menghubungkan titik-titik
terluar dari dua pulau dengan batas-batas tertentu sesuai konvensi ini. Kedaulatan
suatu Negara pantai mencakup daratan, perairan pedalaman dan laut territorial
tersebut. Istilah laut teritorial dan perairan teritorial kadang-kala digunakan pula
secara informal untuk menggambarkan dimana negara memiliki yurisdiksi,
termasuk perairan internal, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif dan landas
kontinen berpotensi. garis pangkal ke laut. Laut teritorial atau perairan
teritorial (bahasa Inggris: Territorial sea) adalah wilayah kedaulatan suatu
negara pantai selain wilayah daratan dan perairan pedalamannya; sedangkan bagi
suatu negara kepulauan seperti Indonesia, Jepang, dan Filipina, laut teritorial
meliputi pula suatu jalur laut yang berbatasan dengannya perairan kepulauannya
dinamakan perairan internal termasuk dalam laut teritorial pengertian kedaulatan
ini meliputi ruang udara di atas laut teritorial serta dasar laut dan tanah di
bawahnya dan, kedaulatan atas laut teritorial dilaksanakan dengan menurut
ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (United
Nations Convention on the Law of the Sea) lebar sabuk perairan pesisir ini dapat
diperpanjang paling banyak dua belas mil laut (22,224 km) dari garis dasar
(baseline-sea)

Zona tambahan
Pengertian Zona Tambahan menurut UNCLos 1982 adalah suatu jalur
yang lebarnya 24 mil laut ynag diukur dari luar garis pangkal yang digunakan
dalam mengukur Laut wilayah dan untuk mencegah pelanggaran peraturan
perundangan bea cukai, fiskal, dan imigrasi.
KEDAULATAN NEGARA PADA LAUT TERITORIAL
Wilayah suatu Negara merupakan tempat bagi rakyat sekaligus sebagai
tempat

bagi

pemerintah

untuk

mengorganisir

dan

menyelenggarakan

pemerintahan bicara mengenai wilayah suatu negara tidak lepas dari kedaulatan
dari negara tersebut Negara pantai memiliki hak berdaulat atas laut teritorial..
Kedaulatan wilayah udara meluas ke dasar laut dan tanah. Dalam hal ini, laut
teritorial ini mirip dengan wilayah tanah negara. Kapal dari semua negara
menikmati "hak lintas damai" melalui laut teritorial, tetapi mereka harus
beroperasi di bawah kondisi tertentu menghormati norma-norma internasional.
pada dasarnya merupakan perpanjangan dari kedaulatan negara eksklusif pantai
atas daratan dan laut tinggi, bersama global di luar jangkauan yurisdiksi setiap
negara, tanggal setidaknya untuk awal abad kedelapan belas di Eropa
KEPENTINGAN KEDAULATAN NEGARA
Dewasa ini ada bermacam macam kepentingan kedaulatan sebuah negara
terhadap laut teritorial dan zona tambahan nya , di bawah ini saya coba uraikan
beberapa

dari

sekian

banyak

kepentingan

sebuah

negara

menyangkut

kedaulatanya pada laut teritorial dan zona tambahan

a. Sebagai wilayah
Salah satu persyaratan mutlak yang harus di miliki oleh sebuah negara adalah
wlayah kedaulatan di samping rakyat dan pemerintahan yang di akui . di akuinya
konsep ini oleh dunia internasionmal seperti yang tercantum dalam unclos 1982,
dengan semakin luasnya wilayah laut teritorial dan zona tambahan akan
menambah luas wilayah sebuah negara, setiap negara yang memiliki wilayah laut

wajib mengelola laut teritorial dan zona tambahannya namun dalam mengelola
laut sebagai wilayah ada dua hal pokok yang harus diselesaikan , pertama external
menata batas batas maritim dengan negara negara tetangga sesuai dengan
ketentuan internasional yang berlaku dan kedua , internal menata wilayah laut
khususnya batas batas lahan laut sebagai suatu pengaturan pemanfaatan laut yang
mengakomodasi semua kepentingan
b. Pemanfaatan sumber daya alam yang terkandung
Laut merupakan fenomena alam yang tersusun dalam suatu yang kompleks,
terdiri dari komponen komponen sumber daya hayati dan non hayati dengan
keragaman dan nilai nekonomi yang tinggi
Sehubungan dengan terus bertambahnya jumlah penduduk dunia serta semakin
meningkatnya intensitas pembangunan (industrialisasi), maka perebutan wilayah
perbatasan dengan motif utama penguasaan sumber daya alam baik yang
terbarukan (renewable resources) maupun tak terbarukan (non-renewable
resources), oleh karena itu sering terjadi pencaplokan wilayah , dan pengakuan
wilayah suatu negara oleh negara lain . keberadaan laut teritorial di sini sangatlah
vital mengingat kewenangan suatu negara yang berdaulat untuk memanfaatkan
suber daya alam yang terkandung dalam laut teritorial mengingat keberadaan
sumber daya alam yang sangat amat di butuhkan oleh masyarakat , belum lagi
bilaman sumber daya alam tersebut tidak dapat diperbaharukan . oleh karena itu
sehingga keberadaan laut teritorial dan zona tambahan sangatlah dibuituhkan oleh
sebuah nnnegara untuk menuinjang kelangsungan hidup dan m,emenuhi
kebutuhan masyarakatnya.

c. Untuk memelihara hubungan baik dengan negara lain


Untuk kepentingan persahabatan antar negara maka dlam konvensi Hukum
Laut Internasional ditetapkan adanya lintas damai melalui laut teritorial. Yang
dimaksud lintas damai adalah jalur wilayah laut teritorial yang boleh digunakan
oleh pihak asing sepanjang tidak merugikan bagi kedamaian, ketertiban, dan

keamanan negara yang berdaulat.adanya hubungan yang baik tercipta maka


kedaulatan negara tersebut akan di akui oleh negara lain
d. Pemberlakuan asas teritorial atau wilayah
Dalam LAUT TERITORIAL berlaku yuridiksi negara tersebut dan setiap
negara memiliki yurisdiksi terhadap kejahatan-kejahatan yang dilakukan di
wilayahnya atau di teritorialnya, akan tetapi juga ada pengecualian-pengecualian
tertentu dalam pelaksanaannya, sehingga azas ini diterapkan Perkembangan issu
strategis baik global, regional maupun nasional juga sangatlah kental turut
mempenga-ruhi kondisi teritorial yurisdiksi laut. Makin tingginya teknologi
transportasi dan komunikasi menambah makin kompleksnya masalah-masalah
yang harus dihadapi oleh suatu negara dalam mengawal yurisdiksi negara
tersebut. Oleh sebab itu perlu diketahui juga tentang pengecualian - pengecualian
dari prinsip-prinsip yurisdiksi teritorial dalam penerapanya
1. Pengecualian terhadap kepala negara asing.
Adapun dasar-dasar pemikiran yang melatarbelakangi pemberian
pengecualian ini adalah sebagai berikut:
a. Bahwa suatu negara yang berdaulat itu tidak dapat menjalankan yurisdiksi
teritorialnya atas negara lain yang juga berdaulat. Atau lebih dikenal dengan azas
"Par in parem non habet imperium".
b. Bahwa keputusan pengadilan suatu negara, itu pada umumnya tidak dapat
dilaksanakan terhadap negara lainya, atau tidak berlaku azas Yuris-prodensi.
c. Bahwa berlaku prinsip Reciprocity dan Comity
d. Bahwa perkara yang menyangkut kebijaksanaan negara asing, tidak boleh
diselidiki oleh negara lain.
e. Bahwa suatu negara yang mengijinkan negara lain memasuki teritorialnya,
maka berarti bahwa negara tersebut telah memberikan hak kekebalan hukum
terhadap negara lain tersebut. Oleh sebab itu berkaitan dengan hak kekebalan ini
maka belaku dua status yang harus dipenuhi yaitu :
1).Bahwa tindakan pemerintah itu semata - mata hanya berkaitan dengan
kedaulatan negara.

2).Bahwa tindakan pemerintah itu yang bekaitan dengan kegiatan komersial,


maka dalam hal ini negara telah me-narik kekebalanya dan wajib tunduk kepada
yurisdiksi negara asing.
2. Pengecualian terhadap perwakilan diplomatik dan konsuler
Adapun dasar pemikiran yang melatar belakangi pemberian hak kekebalan
ini adalah untuk menjaga agar missi fungsi diplomatik benar - benar dapat
berjalan dengan efektif. Karena masalah-masalah ke diplomatikan dan ke
konsuler an ini sebenarnya telah diatur dalam Konvensi Wina 1961 dan 1963,
yaitu tentang hubungan diplomatik dan konsuler.
3. Pengecualian terhadap kapal negara asing.
Adapun kapal - kapal negara asing yang mendapat hak kekebalan adalah
kapal perang. Dengan bukti bahwa kapal perang adalah kapal yang dimiliki oleh
Angkatan Bersenjata suatu negara, dengan tanda luar yang menunjukan ciri dari
identitas suatu negara, kemudian dipimpin oleh seorang perwira militer, yang
ditugaskan oleh negaranya, di awaki oleh awak kapal yang tunduk kepada disiplin
Angkatan Bersenjata Reguler. sedangkan kapal dengan tujuan non komersial yang
harus disertai bukti - bukti yang ditunjukan dengan bendera kapal serta dokumen
- dokumen dari kapal tersebut.
Kekebalan tersebut diperoleh baik pada saat kapal masih berada pada laut lepas,
di perairan/laut teritorial, maupun di wilayah laut/perairan pedalaman. Na-mun
demikian bukan berarti bahwa kapal-kapal tersebut dapat dengan se enaknya
melanggar peraturan perun-dangan negara lain. Pelanggaran dan kejahatan yang
dilakukan diatas kapal saat berada di pelabuhan, kecuali dilakukan terhadap
warga lokal, maka yurisdiksi berada pada yurisdiksi eksklusif komandan kapal,
termasuk apabila ada orang-orang yang berlari dan bersembunyi di atas kapal
untuk mendapatkan perlindungan, maka yurisdiksi berada pada komandan
kapal. Kecuali ijin penangkapan ditolak, maka penyelesaian dapat dilakukan
dengan saluran diplomatik. Demikian juga sebaliknya, yaitu apabila awak kapal
negara asing tadi melakukan pelanggaran atau kejahatan saat mer-eka berada di
darat, maka hak kekebalan itu tidak berlaku terhadapnya.

4. Pengecualian terhadap Angkatan Bersenjata negara asing


Bahwa Angkatan Bersenjata negara asing, dianggap sebagai organ negara
tersebut yang dibentuk untuk memeli-hara kemerdekaan, kekuasaan dan keselamatan suatu negara. Akan tetapi di sini kekebalan tidaklah absolut, kekebalan
hanya diberikan terhadap Angkatan Bersenjata yang ditempatkan, bukan terhadap
kelompok yang tidak memiliki organisasi dan tidak ada hubungannya dengan
operasi militer, miskipun mereka mendapat perintah dari orang - orang yang
memiliki pangkat militer. Kekebalan juga tidak diberikan kepada mereka yang
berbaur dengan masyarakat sipil se-tempat. Artinya bahwa hak kekebalan itu
hanya diberikan kepada mereka sepanjang Angkatan Bersenjata itu bertugas
untuk negaranya, dan bukan untuk kepentingan pribadi, termasuk bagi Angkatan
Bersenjata pada tugas sebagai keamanan PBB. Atau bagi angkatan bersenjata
asing yang ditugaskan pada pangkalan militer di Negara / kepulauan tertentu.
5. Pengecualian terhadap Organisasi Internasional.
Bahwa sejauh mana hak kekebalan yang diberikan kepada Organisasi
Internasional itu semua tergantung dari dan pada umumnyaTelah diatur oleh suatu
perjanjian internasional antara negara itu dengan organisasi yang bersangkutan.
(contohnya adalah Green Peace, Kapal dari organisasi internasional yang
bergerak di bidang pengamat pencemaran lingkungan laut).
e. Sebagai kontak budaya dan sosial
Seiring dengan pemanfaatan laut teritorial sebagai media transportasi ,
terbukalah hubungan antar masyarakat baik melalui perdagangan maupun
kegiatan lainya , hubungan antar masyarakat ini secara langsungdan tidak
langsung telah membuka adanya adanya pertukaran budaya antara suatu pulau
dengan pulau lain di negara kepulauan,
Namun perlu di waspadai aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di laut perlu di
waspadai adanya peluang negativ atau bahkan muncul tinakan kriminal seperti
perompakan kapal , pengambilan sumber daya yang tidak pada ketetntuanya atau

tindak kejahatan lainnya merupakan dampak negativ aktivitas sosial ekonomi di


laut
f. Menjaga keamanan negara dari gangguan ,
Keberadaan laut teritorial juga tidak lepas dari pencegahan tindakan
gangguan keamanan seperti isu terorisme , gerakan separatis dan gangguan dari
negara lain , seperti di ketahui sebelumnya wewenang suatu negara di zona laut
teriorial , maka negara tersebut dengan kekuatan armada perang yang dimiliki
dapat mencegah atau bahkan menumpas gangguan yang muncul dari wilayah
laut , keberadaan laut teritorial juga dapat dimanfaatkan untuk latihan perang ,
guna melatih armada tempur bila dibutuhkan.