Anda di halaman 1dari 4

Cocopeat Sebagai Media Tanam Alternatif,

Berbahan Dasar Sabut Kelapa


Sobat Kebun | February 5, 2016 | Media Tanam | 2 Comments

Sumber: thinura-japan.com
Pada jaman dahulu, penggunaan sabut kelapa hanya sebatas untuk pembuatan alat-alat rumah
tangga seperti sapu, keset, dimanfaatkan sebagai alat pencuci panci, dll. Kemudian di
pertengahan tahun 80-an, penggunaannya mulai berkembang menjadi cocopeat sebagai media
tanam. Di negara-negara barat sana, cocopeat juga dikenal dengan nama lain seperti coir pith,
coir fibre pith, coir dust, atau hanya menyebut coir (sabut).
Dewasa ini, penggunaan cocopeat (coco peat) dalam dunia pertanian semakin populer. Sekedar
info, cocopeat merupakan media tanam yang terbuat dari sabut kelapa yang telah dihancurkan
hingga membentuk butiran-butiran halus. Cocopeat di klaim sebagai media yang memiliki daya
serap tinggi, sehingga mampu menyimpan air dalam jumlah banyak. Cocopeat mampu menahan
air hingga 73% atau 6-9 kali lipat dari volumenya. Oleh sebab itu, frekuensi penyiraman pun
dapat dilakukan dengan lebih jarang, sehingga lebih bisa menghemat air.
Cocopeat yang telah steril dapat langsung digunakan sebagai media tanam. Steril dalam arti
disini adalah telah melalui beberapa kali perendaman dan pencucian dengan air, sehingga kadar
asam, zat tanin (zat anti gizi), jamur, kadar klor yang tinggi, serta berbagai penyakit yang ada di
dalam cocopeat mentah menjadi berkurang.

Sejarah Cocopeat
Dutch Plantin mengklaim sebagai institusi yang pertama kali melakukan penelitian mengenai
cocopeat. Berdiri pada tahun 1984, dan mengkhususkan diri untuk meneliti penggunaan
cocopeat. Awalnya, mereka melakukan percobaan sebagai media tanam untuk bunga mawar di
Belanda dan Inggris pada tahun 1985. Hasil pertumbuhan bunga mawar tersebut sangat
mengejutkan, sehingga mereka memutuskan untuk membuka pabrik di Sri Lanka setahun
setelahnya. Demikianlah perkembangan Dutch Plantin hingga memiliki pabrik yang tersebar di

beberapa negara seperti Sri Lanka, India, Belanda, Ivory Coast, dan saat ini menjadi produsen
cocopeat terbesar di dunia.

Komposisi sabut kelapa


Sabut kelapa merupakan lapisan luar yang membungkus tempurung kelapa. Ketebalannya
berkisar antara 5-6cm, dan mengandung serat-serat halus yang dapat digunakan sebagai bahan
pembuat tali, karung, pulp, karpet, sikat, keset, isolator panas dan suara, filter, bahan pengisi jok
mobil, serta papan hardboard. Dalam satu butir kelapa, rata-rata menghasilkan 0,4kg sabut, atau
sekitar 30-35% dari keseluruhan bagian kelapa. Sabut kelapa itu sendiri terdiri dari 75% serat,
dan 25% gabus.

Kandungan kimia cocopeat mentah


Sedangkan komposisi kimia cocopeat mentah terdiri atas selulosa, lignin, pyroligneous acid, gas,
arang, ter, tannin, dan potasium. Cocopeat mentah juga mengandung clor (Cl) masih tinggi
sehingga jika bercampur dengan air, maka akan membentuk asam klorida sehingga membuat
cocopeat menjadi asam, yang berbahaya bagi tanaman.
Pada cocopeat mentah juga masih terdapat kandungan garam. Cocopeat mentah juga dapat
menyebabkan media tanam ini berebut nitrogen dengan tanaman, sehingga pertumbuhan
tanaman dapat terganggu. Selain itu, kadar asam, zat tannin (zat anti gizi), jamur, kadar klor yang
tinggi, serta berbagai penyakit Karenanya, perlu dilakukan pencucian dan perendaman untuk
menghilangkan zat-zat merugikan tersebut.

Cocopeat sebagai media tanam hidroponik


Kelebihan cocopeat adalah kemampuannya dalam menyerap serta menyimpan air dalam jumlah
tinggi membuat media ini banyak digunakan sebagai media tanam hidroponik pengganti tanah.
Dalam pengamatan Sobatkebun, beberapa sumber mengatakan bahwa di dalam cocopeat terdapat
berbagai unsur hara seperti Kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (Na), dan
fosfor (P). Namun, sumber lain mengatakan bahwa cocopeat tidak mengandung unsur hara,
sehingga perlu ditambahkan pupuk sebelum menggunakannya sebagai media tanam.
Sobatkebun lebih percaya pada pendapat yang kedua, dengan alasan bahwa sebelum digunakan
sebagai media tanam, cocopeat harus direndam dan dicuci menggunakan air hingga
beberapa kali pencucian untuk menghilangkan berbagai zat merugikan. Oleh sebab itu,
kemungkinan besar kandungan nutrisi dalam cocopeat juga ikut terbuang, sehingga kita perlu
menambahkan pupuk serta nutrisi agar tanaman bisa menjadi lebih subur.

Cocopeat untuk perkebunan


Selain digunakan sebagai media hidroponik, cocopeat juga dapat ditaburkan pada areal
perkebunan, karena daya serapnya yang tinggi sehingga mampu menyerap air dalam jumlah

banyak. Perlu diperhatikan, derajat keasaman (pH) pada cocopeat berkisar antara 5,8-6 yang
berarti sedikit asam. Sementara kebutuhan pH tanaman pada umumnya adalah sekitar 5,5 sampai
6,5.
Karena keunikannya tersebut, kita juga perlu waspada dengan tanaman yang menggunakan
media tanam cocopeat, khususnya ketika musim hujan. Pasalanya, guyuran air yang terus
menerus dapat membuat cocopeat menjadi sangat lembab, sehingga dikhawatirkan akan
menyebabkan busuk akar pada tanaman-tanaman tertentu. Oleh sebab itu, perlu juga
dicampurkan media lain seperti pasir dan arang sekam untuk mengurangi kelebihan air. Media
tanam yang biasa dijual di toko-toko pertanian juga seringkali mengandung cocopeat, pasir,
arang sekam, serta kotoran hewan.

Kelebihan dan kekurangan cocopeat


Cocopeat yang berkualitas baik memiliki kelebihan sebagai berikut:
1. Merupakan 100% bahan alami yang terbuat dari sabut kelapa, sehingga mudah terurai
dan aman bagi lingkungan.
2. Mampu menahan air hingga 6-9 kali berat cocopeat itu sendiri.
3. Memiliki tekstur yang memudahkan pertakaran oksigen (tukar kation) di dalam tanah,
sehingga bermanfaat bagi kesuburan akar tanaman.
4. Dapat digunakan berkali-kali dan sangat awet hingga baru akan hancur dalam kurun
waktu 10 tahun.
5. Dapat mengikat bau tak sedap, sehingga cocok digunakan sebagai alas pada kandang
ternak.
6. Sangat baik digunakan sebagai media bedding cacing (vermicomposting).
7. Antibakteri dan antijamur karena mengandung Trichoderma sp, sejenis jamur (fungi)
yang menguntungkan bagi tanaman, dan dapat menghambat pertumbuhan jamur
merugikan.
8. Praktis, karena biasanya dijual dalam bentuk blok dengan berat 5Kg, sehingga mudah
dibawa.
9. Dalam batas tertentu bisa digunakan sebagai pakan ternak dan itik.
Dibalik kelebihannya, cocopeat juga memiliki kekurangan seperti:
1. Biaya produksi yang tidak sedikit

2. Jika tidak diolah dengan benar, maka akan menghasilkan cocopeat berkualitas buruk,
yang justru dapat merugikan tanaman serta lingkungan.
3. Proses pembuatan yang membutuhkan waktu cukup lama.

Produk-produk turunan cocopeat dan sabut kelapa untuk


keperluan pertanian
Dengan semakin berkembangnya tren penggunaan cocopeat, maka muncul pula produk-produk
baru yang dihasilkan untuk mendukung pertanian. Diantara yang paling terkenal adalah:
1. Cocopeat blok, yaitu cocopeat berbentuk balok.
2. Cocopot, yaitu pot yang terbuat dari cocopeat yang direkatkan.
3. Cocomesh, atau biasa disebut sebagai Coir Net, maupun Geotextile Net, biasa
dimanfaatkan untuk konservasi tambang, reklamasi tambang, penguatan jalan, tebing,
pencegah erosi serta longsor, penghijauan kembali hutan yang gundul, dan mencegah
abrasi.
4. Cocomulsa, digunakan sebagai mulsa untuk perkebunan organik.
5. Cocopeat-disk, berbentuk butiran seperti tablet, yang penggunaannya dengan cara
dibenamkan ke media tanam.

Penutup
Itulah beberapa kajian yang telah Sobatkebun rangkum mengenai media tanam cocopeat, yang
saat ini telah menjadi primadona di kalangan para pehobi berkebun. Meski proses pengolahan
yang membutuhkan waktu serta biaya yang tak sedikit, namun cocopeat terbukti sangat
berkualitas dan sangat baik digunakan sebagai media tanam. Apalagi cocopeat merupakan
material organik, sumber daya terbarukan, serta ramah lingkungan.