Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH

PERBANYAKAN VEGETATIF

Disusun Oleh :
Nama

: Sayyida Camilla Balqies

NIM

: 135040200111152

Kelompok

: F1, Rabu pukul 06.00

Asisten

: Nur Irma

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang

Benih adalah biji yang dipersiapkan untuk tanaman, telah melalui


proses seleksi sehingga diharapkan dapat mencapai proses tumbuh yang besar.
Benih siap dipanen apabila telah masak. Benih dihasilkan dari tanaman
sebelumnya yang dikembangbiakkan dengan perkawinan maupun tanpa
perkawinan. Terdapat dua tipe perbanyakan tanaman yakni perbanyakan
generative dan perbanyakan vegetative.
Perbanyakan generative yakni perbanyakan yang dilakukan dengan
perkawinan yaitu saling bertemunya sel jantan dan sel betina, sedangkan
perbanyakan vegetative yakni perbanyakan yang dilakukan tanpa melalui
perkawinan, namun menggunakan bagian dari tubuh tanaman itu sendiri,
dengan kata lain perbanyakan vegetative adalah cara perkembangbiakan
tanaman dengan menggunakan bagian tanaman seperti batang, cabang, ranting,
pucuk daun, umbi, dan akar. Pembiakan secara tak kawin atau aseksual
merupakan dasar dari perkembangbiakan vegetative. Tanaman dapat
membentuk kembali jaringan-jaringan dan bagian-bagian lain, dimana pada
beberapa tanaman pembiakan vegetative merupakan proses salami yang
sempurna atau proses dari buatan manusia.
Pembiakan vegetative ini pada dasarnya memiliki prinsip yaitu
merangsang tunas adventif yang ada pada bagian-bagian tanaman yang akan
digunakan

sebagai

alat

perkembangbiakan

vegetative

tersebut

agar

berkembangbiak menjadi tanaman baru yang sempurna dimana memiliki akar,


batang, dan daun. Pembiakan vegetatif ini dapat dilakukan dengan beberapa
cara yaitu stek, okulasi, penyambungan, dan cangkok. Keuntungan dari
perbanyakan vegetative yaitu sifat tumbuhan baru sama persis dengan sifat
tumbuhan induknya. Jika tumbuhan induk merupakan tumbuhan unggul, maka
tumbuhan baru pun akan bersifat unggul. Waktu tumbuhnya cepat sehingga
lebih cepat memberikan hasil jika dibandingkan dengan ditanam dengan
bijinya. Namun perbanyakan vegetative juga mempunyai kekurangan yaitu
tumbuhan yang diperbanyak secara vegetatif mempunyai akar yang kurang
kokoh sehingga mudah tumbang. sehingga perlu dipelajari lebih lanjut
bagaiaman cara perkembangbiakan vegetative yang benar agar dapat diperoleh
manfaat yang maksimal dari perkembangbiakan tersebut.
I.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum perbanyakan vegetatif ini adalah sebagai berikut :


a. Mahasiswa mengetahui informasi mengenai perbanyakan tanaman secara
vegetatif dan mampu menerapkan cara perbanyakan dengan vegetatif.
b. Mahasiswa mampu mengetahui perbedaan antara perbanyakan vegetatif
secara akami dan perbanyakan vegetatif buatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perbanyakan Vegetatif
2.1.1 Pengertian Perbanyakan Vegetatif Alami
a. Perbanyakan tanaman tanpa melalui perkawinan atau tidak
menggunakan biji dari tanaman induk yang terjadi secara alami
tanpa bantuan campur tangan manusia. Perbanyakan tanaman secara
vegetatif alamiah dapat terjadi melalui tunas, umbi, rizoma, dan
geragih (stolon) (Mangoendidjojo, 2003).
b.

Perkembangbiakan tak kawin merupakan perkembang biakan yang


tanpa didahului adanya pertemuan/ peleburan sel kelamin. Oleh
karena itu hasil perkembangbiakan secara tak kawin sifatnya sama
seperti induknya. Perkembangbiakan vegetatif alami dapat melalui
beberapa cara misalnya dengan : Tunas, Umbi, Stolon, Rhizoma,
Spora (Handoyo, 2014).

2.1.2 Macam Perbanyakan Vegetatif Alami


a. Rhizome
Rhizoma merupakan modifikasi dari batang

yang tumbuh

menjalar dibawah permukaan tanah. Salah satu ciri rhizoma yang


nampak adalah adanya ruas-ruas, sehingga dari setiap ruas tersebut
dapat tumbuh individu baru. Contoh tumbuhan yang membentuk
rhizoma sebagai alat perkembangbiakan adalah Sansiveira, Jahe,
Lengkuas, dll.

b. Umbi
Umbi kecuali berperan sebagai tempat menyimpan cadangan
makanan

juga

berperan

sebagai

alat

perkembangbiakan.

Berdasarkan cirinya umbi dapat dibedakan atas umbi batang, umbi


akar dan umbi lapis.

1). Bulb (Umbi Lapis)


Merupakan umbi yang tersusun atas lapisan-lapisan yang
membungkus bagian yang disebut cakram. Dari cakram inilah
nantinya muncul individu baru sebagai keturunannya. Contoh
tumbuhan yang membentuk umbi lapis adalah : bawang merah,
bakung dll.

2). Corn (Umbi batang)


Umbi

batang

memiliki ciri

terdapat beberapa mata tunas, sehingga dari satu umbi dapat


menghasilkan beberapa individu baru sebagai keturunannya.
Contoh tumbuhan yang menghasilkan umbi batang adalah
kentang, ubi jalar dll.

3). Umbi akar


Umbi akar tidak memiliki mata tunas, sehingga tunas baru
hanya muncul pada satu tempat yaitu pada pangkal umbi yang
merupakan

tempat

pelekatannya

dengan

batang.

Contoh

tumbuhan yang membentuk umbi akar adalah dahlia, bengkuang


dan lobak.

c. Tunas
Tunas batang

: bambu, pisang,
Aglaonema.

Tunas akar : cemara, sukun, kesemek.

Tunas

daun : Cocor bebek (disebut

juga tunas adventif)

(Handoyo, 2014)
d. Stolon/Geragih
Batang yang menebal dan tumbuh secara horizontal
sepanjang atau tumbuh di bawah permukaan tanah dan pada
interval tertentu memunculkan tunas ke permukaan tanah.
Contoh: strawberry, lili paris, arbei (Raharja, dkk, 2003).

2.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Perbanyakan Vegetatif Alami


a. Suhu
Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan
tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari
tanaman. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22oC sampai
dengan 37oC. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal
tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti
b. Kelembaban udara
Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta
perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi
tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah
serta

berkurangnya

penguapan

yang

akan

berdampak

pada

pembentukan sel yang lebih cepat.


c. Cahaya Matahari
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat
melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu
tanaman kekurangan cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak
pucat dan warna tanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada
kecambah,

justru

sinar

mentari

dapat

menghambat

proses

pertumbuhan.
d. Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting
dalam proses perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin
untuk membantu perpanjangan sel, hormon giberelin untuk
pemanjangan

dan

pembelahan

sel,

hormon

sitokinin

untuk

menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk mempercepat


buah menjadi matang.
(Rochiman.2002)

2.2 Perbanyakan Vegetattif Buatan


2.2.1 Pengertian Perbanyakan Vegetatif Buatan
Perbanyakan tanaman tanpa melalui perkawinan atau tidak
menggunakan biji dari tanaman induk yang terjadi secara buatan dengan
bantuan campur tangan manusia. Tanaman yang biasa diperbanyak
dengan cara vegetatif buatan adalah tanaman yang memiliki kambium.
Tanaman yang tidak memiliki kambium atau bijinya berkeping satu
(monokotil) umumnya tidak dapat diperbanyak dengan cara vegetatif
buatan (Rochiman.2002).
2.2.2 Macam Perbanyakan Vegetatif Buatan
a. Cangkok
Cangkok adalah perbanyakan tanaman dengan cara menguliti
suatu bagian batang tanaman yang ada, kemudian dibungkus dengan
tanah agar akarnya tumbuh dan kemudian ditanam pada media yang
lain.

Teknik cangkok (marcottage atau air layerage) banyak


dilakukan untuk memperbanyak tanaman hias atau tanaman buah yang
sulit diperbanyak dengan cara lain, seperti stek, biji, atau sambung.
Tanaman yang biasa dicangkok umumnya memiliki kambium atau zat
hijau daun, seperti mangga (Mangifera indica), sukun (Artocarpus
communis), jeruk nipis (Citrus aurantifolia), alpukat (Persea
americana), dan lain-lain. Tanaman lain yang tidak berkambium dan
bisa diperbanyak dengan sistem cangkok adalah salak dan jenis-jenis
bambu.
1). Keuntungan mencangkok
Tumbuhan hasil cangkokan lebih cepat berbuah dibandingkan
tumbuhan yang ditanam dari biji dan memiliki sifat yang sama dengan
induknya.

2). Kerugian mencangkok


Tumbuhan hasil cangkokan mudah roboh, karena sistem
perakarannya adalah serabut dan umurnya lebih pendek dibandingkan
tumbuhan yang ditanam dari biji.
b. Stek
Penyetekan

merupakan

suatu

perlakuan

pemisahan,

pemotongaan beberapa bagian dari tanaman seperti; akar, batang, daun


dan

tunas

dengan

tujuan

bagian

bagian

tanaman

tersebut

menghasilkan tanaman baru. Teknis sangat mudah. Perbanyakan


dengan stek umumnya dilakukan pada tanaman dikotil, pada monokotil
masih jarang. Dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah yang
banyak walaupun bahan tanaman yang tersedia terbatas dan dapat
menghasilkan tanaman yang sifatnya sama dengan induknya. Dapat
diberikan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) untuk mempercepat tumbuhnya
akar.
Stek Batang

Stek Daun

(Handoyo, 2014)
c. Okulasi
Okulasi atau budding adalah teknik memperbanyak tanaman
secara vegetatif dengan cara menggabungkan dua tanaman atau lebih.
Penggabungan dilakukan dengan cara mengambil mata tunas dari
cabang pohon induk, lalu dimasukkan atau ditempelkan di bagian
batang bawah yang sebagian kulitnya telah dikelupas membentuk
huruf T tegak, T terbalik, H, U tegak, atau U terbalik. Tempelan kedua
tanaman tersebut diikat selama beberapa waktu sampai kedua bagian
tanaman bergabung menjadi satu tanaman baru. Penyatuan kedua
tanaman ini terjadi setelah tumbuh kalus dari kedua tanaman tersebut.
Akibat

pertumbuhan kalus

ini

akan terjadi perekatan atau

penyambungan yang kuat. Contoh tanaman yang dapat diperbanyak


dengan teknik okulasi yaitu : mangga (Mangifera indica), rambutan
(Nephelium lappaceum), sirsak (Annona muricata), alpukat (Persea
americana), dan jeruk (Citrus sp.) (Hartmann, dkk. 1997).

d.
Menyambung/ Mengenten
Menyambung atau mengenten adalah menggabungkan batang
bawah dan batang atas dua tanaman yang sejenis. Misalnya, ada dua
tanaman mangga. Tanaman mangga pertama berakar kuat tetapi
buahnya asam, sedangkan tanaman mangga kedua berakar lemah
tetapi buahnya sangat manis. Untuk memperoleh pohon mangga yang
berakar kuat dan berbuah manis, maka batang bawah dari tanaman
mangga berakar kuat disambungkan dengan batang atas tanaman
mangga yang berbuah manis.

e.

Merunduk
Merunduk adalah memperbanyak tumbuhan dengan cara
merundukan batang atau cabang ke tanah sehingga tumbuh akar.
Tumbuhan yang biasa dikembangbiakan antara lain sirih, strawberry,
alamanda, anyelir, apel, selada air,anggur dan sebagainya.

f.

Kultur

jaringan

Yaitu

perbanyakan
tanaman

yang

dilakukan

dengan

cara

mengambil

jaringan

tertentu dari suatu

tanaman(tunas,akar,daun) dan dikembangkan dalam media khusus.

(Handoyo, 2014)
2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Perbanyakan Vegetatif Buatan
a. Faktor Intern :
1) Dormansi bahan tanam (dapat dipecahkan dengan pemberian
kelembaban tinggi)
2) ZPT (dapat memacu pertumbuhan akar dan tunas)
b. Faktor Ekstern:
1) Suhu (bahan tanam tidak tahan dengan suhu tinggi)
2) Kelembaban (pada awal masa tanam dibutuhkan kelembaban yang
tinggi)

3) Cahaya (pada awal pertumbuhan tunas dan akar dibutuhkan cahaya


yang tidak banyak, maka perlu diberi naungan)
4) Jamur dan bakteri (biasanya sangat peka terhadap keadaan yang
lembab, bahan tanam yang terlukai sangat rawan terhadap
serangan jamur dan bakteri sehingga menyebabkan kebusukan)
(Mangoendidjojo, 2003).

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan bahan (+ fungsi)
Alat
Pisau / Silet
: untuk memotong bahan
Plastik
: untuk menutup bahan grafting
Polybag
: wadah untuk tanaman
Rafia
: untuk mengikat
Bahan
Bawang merah : Umbi lapis
Kentang
: Umbi batang
Daun cocor bebek: Stek Daun
Rosemary
: Stek batang
Tanaman mawar : Okulasi
Batang Bougenvile: Grafting
Rootone-F
: ZPT
Tanah
: Media tumbuh tanaman
3.2 Lembar pengamatan
1. Umbi lapis
N

Parameter

Pengamatan

Minggu ke1

Perlakuan bawang merah dipotong bagian


1

Saat munculnya

7 HST

tunas
2

Jumlah tunas

Tinggi tanaman (cm) 2

8,5

10

Perlakuan penanaman menggunakan bawang merah tanpa dipotong


1

Saat munculnya

7 HST

tunas
2

Jumlah tunas

Tinggi tanaman (cm) 3,5

7,5

11,5

2. Umbi batang
N

Parameter

Minggu ke-

o
1

Pengamatan
Saat munculnya

7 HST

tunas
2

Jumlah tunas

Tinggi tanaman

(cm)

3. Stek daun
N

Parameter

Minggu ke-

Pengamatan

Perlakuan menggunakan bagian daun


1

Saat munculnya

7 HST

tunas
2

Jumlah tunas

Perlakuan menggunakan daun utuh


1

Saat munculnya

7 HST

tunas
2

Jumlah tunas

4. Stek batang
N

Parameter

Minggu ke-

Pengamatan

Perlakuan menggunakan batang atas


1

Saat munculnya

7 HST

tunas
2

Jumlah tunas

Persentase tanaman

100%

100%

100%

100%

100%

hidup (%)
Perlakuan menggunakan batang tengah

Saat munculnya

7 HST

tunas
2

Jumlah tunas

Persentase tanaman

100%

100%

100%

100%

100%

hidup (%)
Perlakuan menggunakan batang bawah
1

Saat munculnya

7 HST

tunas
2

100%

100%

100%

100%

100%

Jumlah tunas
3

Persentase tanaman
hidup (%)

5. Okulasi
N

Parameter

Pengamatan

Saat Munculnnya

Minggu ke1

Mati

tunas
2

Panjang tunas

Warna tunas

Hijau

Hijau

Coklat

Coklat

Coklat

Kecoklata
n

6. Grafting
N

Parameter

Pengamatan

Saat munculnya

Minggu ke1

tidak tumbuh tunas

tunas
2

Warna batang

3.3 Dokumentasi
a. Umbi Lapis dan

Coklat

Coklat

Coklat

Coklat

Coklat

segar

segar

segar

segar

segar

Umbi Batang

b. Stek
Daun dan Stek Batang

c. Grafting

c. Okulasi

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Perbanyakan Vegetatif Alami
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada perbanyakan vegetative
alami umbi lapis dengan tanaman bawang merah, untuk perlakuan bawang merah
yang dipotong sekian bagiannya mendapati hasil yang lebih rendah dibandingkan
dengan perlakuan bawang merah tanpa dipotong. Pada perlakuan bawang merah yang
dilakukan pemotongan, tunas tumbuh pada 7 hari setelah tanam. Pada minggu
pertama munculnya tunas berjumlah 1 dengan tinggi 2 cm, pada minggu kedua jumlah
tunas adalah 2 dengan tinggi 4 cm, pada minggu ketiga jumlah tunas adalah 3 dengan
tinggi 7 cm, pada minggu keempat jumlah tunas tidak mengalami penambahan yakni
tetap 3 dengan tinggi 8,5 cm, pada minggu terakhir jumlah tunas bertambah 2 yakni
menjadi 5 tunas dengan tinggi 10 cm.
Sedangkan pada perlakuan bawang merah yang tanpa dilakukan pemotongan
bagian umbinya memiliki hasil yang lebih cepat perkembangannya dibandingkan
yang dilakukan pemotongan bagian umbi bawang merah, yakni terjadi kemunculan
umbi pertama kali sama dengan perlakuan sebelumnya yakni 7 hari setelah tanam.
Pada minggu pertama setelah bertunas, jumlah tunas ada 2 dengan tinggi 3,5 cm. Pada
minggu kedua jumlah tunas tidak bertambah yakni tetap 2 dengan tinggi 5 cm. Pada
minggu ketiga tunas berjumlah 4 dengan tinggi 7,5 cm. Pada minggu keempat jumlah
tunasnya bertambah 1 menjadi 5 tunas dengan tinggi 9 cm. Pada minggu terakhir,
jumlah tunas ada 6 tunas dengan tinggi 11,5 cm. Hasil yang telah diperoleh
mengatakan bahwa pada perlakuan tanpa adanya pemotongan bagian bawang merah
lebih unggul dibandingkan dengan pemotongan. Hal tersebut tidak sesuai dengan
literature karena menurut Samadi dan Cahyono (2005) menyatakan bahwa pemotongan umbi bertujuan untuk mem-percepat pertumbuhan tunas dan meningkatkan
jumlah anakan. Sama halnya dengan Jumini, Yenny Sufyati dan Nurul Fajri (2010)
yang mengatakan bahwa hasil uji F pada analisis ragam menunjukkan bahwa
pemotongan umbi bibit bawang merah sangat nyata pengaruhnya terhadap jumlah
anakan per rumpun umur 30 HST dan jumlah umbi per rumpun, nyata pengaruhnya
terhadap jumlah anakan umur 45 HST dan bobot basah umbi per rumpun. Namun,
pemotongan umbi bibit bawang merah tidak nyata pengaruhnya terhadap tinggi
tanaman umur 15, 30 dan 45 HST, jumlah anakan umur 15 HST dan bobot kering
umbi per rumpun. Wibowo (2005) menyatakan bahwa pemotongan umbi bibit dapat
mempercepat pertumbuhan tanaman dan jumlah anakan, serta dapat mendorong

pertumbuhan umbi samping. Selanjutnya Rukmana (1994) menambahkan bahwa


pemotongan umbi bibit bawang merah mempunyai beberapa keuntungan antara lain:
pertumbuhan bibit merata, umbi bibit lebih cepat tumbuh dan berpengaruh terhadap
banyaknya anakan dan jumlah daun, sehingga hasil meningkat. Sedangkan rendahnya
nilai pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada perlakuan tanpa
pemotongan umbi bibit diduga diakibatkan oleh lambatnya keluar

mata tunas,

sehingga pertumbuhan tunas dan pembentukan anakan terhambat dan mengakibatkan


tanaman tumbuh tidak maksimal.
Terdapat beberapa factor yang dapat dianalisis secara kasat mata mengenai
penyimpangan yang terjadi seperti itu. Mungkin saja terjadi kesalahan pemotongan
yang tidak sesuai dengan kriteria pemotongan yang seharusnya dilakukan sehingga
mempengaruhi hasil yang tidak sesuai dengan literature. Selain itu mungkin pada
bawang merah yang dilakukan pemotongan tersebut terinfeksi kuman penyakit yang
dapat disebabkan oleh pemotong yang tidak menggunakan alcohol saat melakukan
pemotongan. Selain itu bisa juga dikarenakan masa dormansi bawang merah yang
dilakukan pemotongan sedikit lebih lama dibandingkan bawang merah yang tanpa
pemotongan. Factor lain dapat juga diduga ada kaitannya dengan kualitas umbi yang
berbeda satu dengan lainnya.
Sedangkan pada perbanyakan vegetative umbi batang, didapatkan hasil bahwa
tunas muncul pada 7 hari setelah tanam dengan jumlah tunas pada minggu pertama
adalah sebanyak 2 dengan tinggi 2 cm. Pada minggu kedua berjumlah 4 tunas dengan
tinggi sekitar 2 cm. Pada minggu ketiga memiliki tunas sebanyak 6 tunas dengan
tinggi 3 cm. Pada minggu keempat tunasnya bertambah 1 menjadi 7 tunas dengan
tinggi 4 cm. Pada minggu terakhir memiliki 9 tunas dengan tinggi 4 cm. Perbanyakan
vegetative umbi batang yang telah dilakukan tersebut cukup baik dengan perendaman
menggunakan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) karena ZPT senantiasa memacu
pertumbuhan tanaman dengan memperpendek umur dormansi umbi. ZPT dapat juga
diberikan pada tanaman disamping melakukan pemupukan untuk memacu
pertumbuhan dan meningkatkan produksi. ZPT adalah senyawa organik bukan hara
(nutrient) tetapi dapat merubah proses fisiologis tumbuhan. Seringkali pemasokan
ZPT secara alami itu di bawah optimal, dan dibutuhkan sumber dari luar untuk
menghasilkan respon yang dikehendaki (Gardner dkk., 1991).
4.2 Perbanyakan Vegetatif Buatan

Perbanyakan vegetative stek daun dilakukan dengan dua perlakuan yakni

penanaman menggunakan bagian daun dan penanaman menggunakan daun utuh.


Hasil yang didapat dari perlakuan stek daun menggunakan bagian daun adalah
mengenai kemunculan tunas pertama kali pada 7 hari setelah tanam dengan jumlah
tunas 1. Pada minggu kedua, tunas berjumlah 2. Pada minggu ketiga, tunas berjumlah
3. Pada minggu keempat, tunas berjumlah 3. Pada minggu terakhir, tunas berjumlah 4.
Sedangkan pada perlakuan menggunakan daun utuh lebih banyak jumlah tunasnya
dibandingkan dengan menggunakan bagian daun. Pada perlakuan ini tunas tumbuh
pada 7 hari setelah tanam dengan tunas berjumlah 1. Pada minggu selanjutnya tunas
berjumlah 2. Pada minggu ketiga, tunas berjumlah 4. Pada minggu keempat, tunas
berjumlah 5 dan pada minggu terakhir, tunas berjumlah 7. Hasil pengamatan ini
nampaknya tidak sesuai dengan literature yang mengatakan bahwa penanaman stek
daun baiknya pada bahan tanam dilakukan pemotongan bagian daun agar hasil
anakannya lebih cepat tumbuh. Secara teknis stek daun dilakukan dengan cara
memotong daun dengan panjang 7,5 10 cm (Sansevieria) atau memotong daun
beserta petiolnya kemudian ditanam pada media (Hartmann et al, 1997). Untuk
Begonia dan Violces, perlakuan kimia yang umum dilakukan adalah penyemprotan
dengan IBA 100 ppm. Penggunaan bahan yang mengandung kimera periklinal
dihindari agar tanaman-tanaman baru yang dihasilkan bersifat true to type (Hartmann
et al, 1997). Ketidaksesuaian dengan literature ini disebabkan oleh banyak hal. Dapat
dikarenakan kesalahan teknis yang dilakukan pengamat, dapat dikarenakan kualitas
daun yang tidak sama, dapat dikarenakan letak penanaman yang salah, atau bahkan
dikarenakan perbedaan perawatan 2 perlakuan tersebut secara tidak disengaja.
Selanjutnya mengenai perbanyakan vegetative stek batang dengan perbedaan
perlakuan pada bahan tanam (menggunakan batang atas, tengah, atau bawah). Hasil
yang didapat dari pengamatan yang telah dilakukan yakni sama antara bahan tanam
yang digunakan berasal dari batang atas, tengah, maupun bawah. Muncul tunas terjadi
pada 7 hari setelah tanam dengan total tunas 1 hingga minggu ketiga. Selanjutnya
pada minggu keempat dan kelima, tunas berjumlah sama yakni 2 tunas. Selama lima
minggu pengamatan, tanaman 100% hidup tanpa ada yang mati atau layu. Menurut
Marschner (1986), stek batang atas lebih banyak dilakukan karena bagian batang
muda memiliki jaringan meristem dan hormone tumbuh yang lebih banyak, sehingga
akar dan tunasnya lebih cepat keluar dibandingkan dengan stek batang tengah dan
bawah. Namun stek batang atas yang masih sukulen dan lemah dapat membuat stek
pucuk mudah mati.

Selanjutnya adalah mengenai perbanyakan okulasi. Menurut Rismunandar


(2000), okulasi adalah teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cara
menggabungkan dua tanamn atau lebih. Okulasi dilakukan dengan menggunakan
batang bawah dan batang atas dari spesies atau dari satu varietas. Tanaman yang
mempunyai perakaran baik digunakan sebagai batang bawah yang akan ditempeli,
sedangkan tanaman yang mempunyi buah lezat diambil mata tunasnya untuk
ditempeli pada bagian bawah. Waktu untuk melakukan okulasi yang paling baik
adalah saat kulit batang bawah maupun batang atas mengeluas dari kaunya,yaitu pada
saat pembelahan sel dalam kambium berlangsung secara aktif. Faktor-faktor yan
mempengaruhi mudah atau sulitnya pelepasan kulit kayu adalah curah hujan,
pengairan, ketinggian tempat. Hasil okulasi yang didapat adalah tanaman tidak hidup
(mati) dengan minggu pertama masih berwarna hijau, selanjutnya semakin coklat dan
akhirnya menjadi coklat tua.
Perbanyakan vegetatif grafting yang dilakukan tidak membuahkan hasil
karena tanaman yang dibudidayakan tidak dapat hidup (mati). Dalam melakukan
grafting atau budding, perlu diperhatikan polaritas batang atas dan batang bawah.
Untuk batang atas bagian dasar entris atau mata tunas harus disambungkan dengan
bagian atas batang bawah. Untuk okulasi (budding), mata tunas harus menghadap ke
atas. Jika posisi ini terbalik, sambungan tidak akan berhasil baik karena fungsi xylem
sebagai pengantar hara dari tanah meupun floem sebagai pengantar asimilat dari daun
akan terbalik arahnya (Ashari, 1995). Selain itu terdapat pula hal yang kurang
mendukung pertumbuhan tanaman grafting ini menurut Yohanis Tambing, Enny
Adelin, Tati Budiarti, dan Endang Murniati (2008) yaitu beberapa kemungkinan
penyebab inkompatibilitas: (1) jumlah sambungan yang bertaut relatif kecil, (2)
adanya perbedaan laju tumbuh antara batang bawah dan batang atas, (3) kedua
varietas yang disambungkan mengalami defisiensi hara/hormon tumbuh maupun
translokasi nutrisi yang abnormal, (4) banyak getah dan mengeras pada luka di bagian
sambungan, (5) infeksi penyakit, (6) beberapa varietas tertentu sangat rendah
memperoduksi kalus, (7) bentuk potongan yang tidak serasi, (8) bidang persentuhan
kambium tidak tepat, (9) faktor ketrampilan orang yang melakukan penyambungan.
Menurut Ashari (1995) pengaruh batang bawah terhadap batang atas antara lain (1)
mengontrol kecepatan tumbuh batang atas dan bentuk tajuknya, (2) mengontrol
pembungaan, jumlah tunas dan hasil batang atas, (3) mengontrol ukuran buah,
kualitas dan kemasakan buah, dan (4) resistensi terhadap hama dan penyakit tanaman.

Pengaruh batang atas terhadap batang bawah juga sangat nyata. Namun pada
umumnya efek tersebut timbal balik sebagaimana pengaruh batang bawah terhadap
batang atas.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Pada praktikum perbanyakan vegetative baik secara alami maupun buatan


telah dilakukan dengan baik sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pada umbi
lapis, sebaiknya bahan tanam dipotong terlebih dahulu. Untuk umbi batang, pada
bahan tanam sebaiknya dilakukan perendaman menggunakan ZPT. Untuk stek daun
agaknya harus juga memperhatikan bahan tanam yakni dengan melakukan sedikit
pemotongan pada daun yang akan digunakan sebagai bahan tanam. Untuk stek
batang sebaiknya digunakan batang atas (muda) sebagai bahan tanam. Untuk okulasi
sebaiknya dilakukan dengan teliti dalam pemilihan bahan tanam yakni bagian
tanaman yang diokulasi adalah merupakan mata tunas yang lagi dorman atau kulit
batang beserta sedikit kayunya. Terakhir adalah grafting yang seharusnya dilakukan
pemilihan bahan tanam yang kompatibel sehingga dapat hidup dan berhasil.
Dari kesimpulan tersebut dapat ditarik benang merah bahwa dalam melakukan
teknik perbanyakan vegetatif harus sangat berhati hati karena manusia (secara
teknis) sangat menentukan keberhasilan tipe perbanyakan ini.
5.2 Saran
Semoga praktikum kedepan lebih baik dengan handle dari asisten yang lebih
baik, terarah, dan konsisten.

DAFTAR PUSTAKA
Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
Gardner, F. P. ; R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
Terjemahan: Herawati Susilo. Jakarta : UI Press.
Handoyo, Luisa Diana. 2014. Perkembangbiakan Tumbuhan.
Hartmann, H.T., and D.E. Kester. 1997. Plant Propagation Principles and Practices. 6th ed.
Hartmann, H.T., D.E. Kester, F.T. Davies, and R. L. Geneve. 1997. Plant propagation
principles and practices. 6th ed. Prentice Hall, Englewood Cliffs, N.J.
Jumini, S. Yenny. F. Nurul. 2010. Pengaruh Pemotongan Umbi Bibit Dan Jenis Pupuk
Organik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Bawang Merah. J. Floratek 5: 164
171.
Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.
Marschner, H. 1986. Mineral Nutrition of Higher Plants. Academic Press Harcourt Brace
Jovanovich Publisher, London. Dalam Ilmu Kesuburan Tanah.ed. Rosmarkam, A.
dan N. W. Yuwono. 2002. Kanisius, Yogyakarta.
Prentice Hall. Englewood Cliffs. New York.
Raharja, PC. dan Wiryanta, W. 2003. Aneka Cara Memperbanyak Tanaman. Agro Media
Pustaka: Jakarta.
Rismunandar, 2000. Menbudidayakan 5 Jenis Bawang. Bandung : Sinar Baru.
Rochiman, K. dan S. S. Harjadi. 2002. Perkembangbiakan Vegetatif. Departemen Agronomi
Fakultas Pertanian IPB.
Rochiman, Koesriningroem dan Sri Setyati Harjadi, 1973, Pembiakan Vegetatif , Departemen
Agronomi, Fakultas Pertanian, Institu Pertanian Bogor.
Salisbury, F.B., and C.W. ROSS. 1992. Plant Physiology. Wadworth Publishing Company.
California.
Tambing, Y., 2004. Respons Pertautan Sambung Pucuk dan Pertumbuhan Bibit Mangga
Terhadap Pemupukan Nitrogen pada Batang Bawah. J. Agrisains 5 (3):141-147.

Tambing, Y., E. Adelina, T. Budiarti dan E. Murniati. 2008. Kompatibilitas Batang Bawah
Nangka Tahan Kering dengan Entris Nangka Asal Sulawesi Tengah dengan Cara
Sambung Pucuk. J. Agroland Fakultas Pertanian Untad 15 (2): 95 100.
Tirtawinata, 2003. Kajian Anatomi Dan Fisologi Sambungan Bibit Manggis Dengan
Beberapa Anggota Kerabat Clusiaceae. Bogor Agricultural University.