Anda di halaman 1dari 15

REFERAT

OPIOID
SEJARAH
Sejak ribuan tahun yang lalu opioid telah digunakan untuk mengatasi nyeri.
Zat opium didapatkan dari bibit pohon Papaver somniverum, dan kata opium sendiri
berasal dari kata opos, yang dalam bahasa Jerman artinya juice. Opium terdiri lebih
dari 20 alkaloid. Pada tahun 1806, Sertuener, sorang ahli farmasi telah mengisolasi
suatu zat yang disebut sopofiric principle yang terkandung di dalam opium,
kemudian pada tahun 1817, zat itu diberi nama morfin, berasal dari nama dewa
Morpheus. Penelitian-penelitian untuk mengisolasi alkaloid opium lainnya terus
dilakukan, sehingga sejak pertengahan tahun 1800, penggunaan alkaloid opium lebih
banyak digunakan di dalam bidang medis, dibandingkan dengan penggunaan opium
langsung. Pada tahun 1828, Bally mempublikasikan penggunaan morfin pada hampir
800 pasien. Observasi yang dilakukan menjelaskan tentang indikasi terapi morfin
oral, efek samping, dosis, toleransi terhadap morfin, serta potential abuse. Morfin
telah digunakan secara luas untuk menangani tentara yang terluka saat perang
masyarakat Amerika. Pada tahun 1869, Claude Bernard menggunakan morfin
sebagai obat premedikasi. Akan tetapi penggunaan opioid jika tanpa obat pelumpuh
otot, dan kontrol terhadap ventilasi, dapat menyebabkan resiko depresi pernapasan
parah dan kematian, karena itu penggunaannya untuk anestesi masih sangat terbatas
(Barash et al, 2001 )
Seiring dengan perkembangan bedah jantung pada tahun 1950, berkembang
pula opioid asnesthesia. Satu dekade kemudian, Lowenstein melaporkan
penggunaan morfin dalam dosis besar (0,5 3 mg/kgBB) yang progresif tanpa
menyebabkan efek samping terhadap sirkulasi, tapi dua tahun kemudian dijelaskan
tentang keterbatasan teknik tersebut, termasuk penekanan terhadap respon stress
yang tidak lengkap, hipotensi, dan bangun kembali saat dalam anestesi. Menurut

Stanley, morfin dalam dosis tinggi dihubungkan dengan adanya kejadian peningkatan
kebutuhan cairan dan darah (Barash et al, 2001; Morgan et al, 2006).
Phenoperidine adalah derivat dari normeperidine, pada tahun 1957 telah
dibuat bentuk sintetisnya, sedangkan derivat fentanyl, yaitu 4-anilinoperidine baru
dibuat sintetiknya pada tahun 1960. Opiod sintetik ini memiliki efek yang lebih poten
dan memiliki safety margin yang lebih baik dibandingkan meperidine. Kemajuan
teknik bedah menimbulkan meningkatnya kebututuhan opioid yang memiliki efek
lebih poten, dengan onset cepat, lama masa kerja yang dapat diramalkan, serta
memiliki safety margin yang maksimal. Antara tahun 1974 dan 1976, sefentanyl,
alfentanyl, dan derivat fentanyl lainnya banyak digunakan. Bentuk opioid poten yang
terbaru, remifentanyl memiliki durasi ultrashort, dan dimetabolisme dengan cepat.
Hal itu menyebabkan keamanan penggunaan opioid yang lebih baik (Barash et al,
2001 ).
JENIS JENIS OPIOID
Secara umum opioid dibagi menjadi 3 macam yaitu: opioid alami, semi sintetik dan
sintetik. Untuk Lebih jelasnya dapat dibagi seperti di bawah ini.
Opioid Alami
Morphine
Codeine
Papaverine
Thebaine

Opioid semisintetik
Heroin
Dihydromorphone/morphinone
Thebaine derivatives (e.g., etorphine, buprenorphine)
Opioid sintetik
Morphinan series (e.g., levorphanol, butorphanol)
Diphenylpropylamine series (e.g., methadone)
Benzomorphan series (e.g., pentazocine)

Phenylpiperidine series (e.g., meperidine, fentanyl, sufentanil, alfentanil,


remifentanil)
Pembagian jenis jenis opioid yang lain yitu berdasarkan kerjanya pada
reseptor opioid, opioid dibagi menjadi 4 jenis, yaitu: 1. Agonis kuat (seperti Fentanil,
Heroin, Meperidin, Metadon, Morfin dan Sulfentanil), 2. Agonis sedang (Kodein,
Propoksifen), 3. Antagonis Agonis campuran (Buprenorfin, Pentazocin), 4.
Antagonis (Nalokson, Naltrekson) (Mycek et al, 2001: Miller et al, 2005)
FARMAKOKINETIK
A.ABSORBSI
Kebanyakan Analgesik opioid diabsornsi dengan baik pada pemberian
parenteral dan peroral. Akan tetapi walaupun absorpsi melalui saluran cerna mungkin
cepat , ketersidaan hayati dari beberapa senyawa opioid yang diabsorbsi melalui
saluran cerna mungkin berkurang karena metabolisme first-pass di hati (melalui
enzim glukoronidase). Oleh karena itu diperlukan dosis oral yang jauh lebih tinggi
untuk memperoleh efek terapi daripada dosis yang diperlukan bila digunakan secara
parenteral.
B. Distribusi
Meskipun semua jenis opioid terikat pada protein protein plasma dengan
berbagai tingkat afinitas, senyawa senyawa ini dengan cepat meninggalkan darah dan
terlokalisasi dengan konsentrasi tertinggi di jaringan jaringan yang perfusinya tinggi
seperti di paru, hati, ginjal dan limpa. Walaupun konsentrasi obat di otot rangka
mungkin sangat rendah , jaringan ini merupakan tempat simpanan obat obatan jenis
opioid, karena massanya yang lebih besar. Akumulasi obat obat opioid pada lemak
juga terjadi pada jenis jenis opioid yang lipofilik seperti fentanil. Kadar opioid
dalam otak relatif lebih rendah dibandingkan pada organ organ lain karena adanya
sawar otak. Namun demikian sawar darah otak lebih mudah dilewati oleh senyawa
senyawa hidroksil aromatik yang disubtitusi pada atom C3, seperi pada heroin dan
kodein. Pada neontaus sawar darah otaknya masih belum sempurna sehingga
pemberian analgesia opioid untuk bedah obstetri dapat menimbulkan depresi nafas
pada bayi baru lahir.
C. Metabolisme

Sebagian besar opioid dikonfersi menjadi metabolit metabolit polar sehingga


mudah diekskresikan oleh ginjal. Senyawa yang mempunyai hidroksil bebas seperti
morfin akan dengan mudah dikonjugasi dengan asam glukoronat. Senyawa senyawa
bentuk ester (meperidin dan heroin) lebih cepat dihidrolisis oleh esterase yang
umumnya terdapat dalam jaringan. Opioid juga mengalami N-demetilase oleh hati,
tetapi hanya sebagian kecil saja.
D. Ekskresi
Metabolit polar opioid terutama diekskresi melalui ginjal. Sebagian kecil
opioid diekskresikan dalam bentuk tidak berubah. Konjugasi

Glukoronid juga

diekskresikan ke dalam empedu, tetapi sirkulasi enterohepatik hanya merupakan


sebagian kecil dari proses ekskresi.
Berikut ini ringkasan farmakokinetik beberapa jenis opioid:

Pada prakteknya, opioid biasanya diberikan secara intravena. Setelah


pemberian secara bolus ataupun infus, konsentrasi obat di plasma akan segera
meningkat dan mencapai puncaknya dalam hitungan menit. Konsentrasi dalam
plasma akan segera menurun dengan cepat, saat didistribusikan ke daerah
ekstravaskular. Kenaikan konsentrasi obat di dalam plasma hingga mencapainya
masuk ke dalam fase distribusi, sedangkan saat konsentrasi obat mulai semakin
menurun, disebut sebagai fase eleminasi (Barash et al, 2001).
Penting untuk diketahui bahwa farmakokinetik banyak dipengaruhi oleh
parameter-perameter tertentu, seperti usia, ataupun penyakitnya, saat pengambilan
sampel pemeriksaan, durasi, pembedahan, efek akibat pemberian oabt lain.
Untuk dapat bekerja pada susunan saraf pusat, opioid harus terlebih dahulu
menembus membran biologis darah ke reseptor pada membran sel saraf.
Kemampuan opioid untuk menembus sawar darah otak tergantung pada ukuran
molekulnya, ionisasi, kelarutan dalam lemak, ikatan dengan protein. Dari
kesemuanya itu, kelarutan dalam lemak dan ionisasi adalah yang memegang peranan
paling penting dalam penetrasi obat ke SSP. Di laborarium, kelarutan dalm lemak
diukur dengan menggunakan oktanol, air atau iktanol:buffer partition koefisien.
Ionisasi obat juga berpengaruh terhadap kelarutan dalam lemak. Obat yang dalam
bentuk tidak terionisasi memiliki kelarutan 1000 -10000 kali diabandingkan bentuk
terionisasi. Tingkat ionisasi bergantung kepada pKa dari opioid serta pH lingkungan.
Opioid dengan pKa kurang dari 7,4 memliki fraksi noionisasi yang lebih besar di
dalam plasma. Korelasi antara kelarutan dalam lemak dengan permeabilitas
membran tidak selalu dalm bentuk linear. Ikatan protein dalam plasma juga
mempengaruhi redistribusinya, karena hanya fraksi yang tidak berikatan yang dapat
menembus membran sel. Protein plasma yang akan berikatan dengan opioid adalah
albumin dan 1 acid glycoprotein (AAG). Perubahan pada konsentrasi AAG, terjadi
pada beberapa kondisi tertentu, dan penyakit tertentu, dan akan menimbulkan
perubahan pada kebutuhan opoid.
Dua mekanisme yang bertanggung jawab terhadap elemimasi obat adalah
biotransformasi dan ekskresi. Opioid mengalami biotransformasi di hati melalui dua
fase. Fase I meliputi proses oksidasi dan reduksi yang dikatalisasi oleh P450 dan
reaksi hidrolasi. Fase II melibatkan konjugasi dari obat dan metabolitnya terhadap

substrat endogen seperti D-glucoronic acid. Phenilpiperidine, remifentanil,


dimetabolisme melalui hidrolisis ester. Secara umum metabolit opioid berada dalam
bentuk tidak aktif, kecuali untuk N-dellylated yang merupakan metabolit
meperidine,6 atau mungkin 3-glucoronide. Metabolit diekskresi terutama melalui
ginjal, bisa juga melalui sistem empedu, usus, dan rute lainnya.
FARMAKODINAMIK
Reseptor opioid yang berhasil diidentifikasi adalah reseptor (mu) ,
(kappa), (sigma), (delta) dan (epsilon). Dari reseptor-reseptor di atas, hanya
reseptor mu, kappa dan delta yang banyak diakui sebagai reseptor opioid. Telah
dibuktikan pula adanya sub tipe reseptor, yaitu dua mu, dua delta, dan tiga kappa.
Tampak bahwa reseptor spesifik opioid bertanggung jawab terhadap efek opioid
yang berbeda-beda, dan opioid sintetik selektif terhadap tipe dan subtipe reseptor.
Efek opioid melibatkan interaksi kompleks terhadap sistem reseptor yang berbeda
pada supraspinal, spinal, dan perifer. Kebanyakan opioid yang digunakan pada
anestesi klinik saat ini (fentanyl, morfin dan derivatnya) adalah yang memiliki
selektifitas tinggi terhadap reseptor . Naloxon adalah anatagonis opioid yang paling
sering digunakan, tidak selektif terhadap tipe reseptor (Barash et al, 2001)

Pada tingkat selular, peptida opioid eksogen mampu menimbulkan efek


melalui komunikasi interneural dan berikatan dengan reseptor opioid. Reseptor
opioid merupakan reseptor yang termasuk dalam G proteincoupled receptor family
dan melalui interaksi ini akan menimbulkan pembukaan ion canel, memodulasi
disposisi Ca dan mengubah protein pospholirase. Secara seluler opioid mempunyai 2

mekanisme yang mempunyai beraksi langsung pada saraf yaitu: (1) opioid menutup
canel Ca pada terminal saraf presynaptik sehingga dapat mengurangi pengeluaran
transmitter (seperti glutamat asetilkolin, norepinefrin, dopamin, serotonin dan
substansi P) (2) opioid memperlihatkan efek hiperpolarisasi yang akan menghambat
neuron postsinaptik dengan membuka canel K (Barash et al, 2001)
Sebagai contoh reseptor opioid berpasangan dengan jalur kalium, aktivasi
pada reseptor akan menyebabkan peningkatan aliran kalium, yang akan menghambat
pelepasan neurotransmitter dan hiperpolarisasi dari membran sel. Reseptor juga
meningkatkan aliran dari kalium dengan cara yang sama, akan tetapi juga
mempunyai efek terhadap voltage dari aliran kalsium. Reseptor

tampaknya

menghambatnya masuknya kalsium melalui voltage dependent calcium channel


(katzung et al, 2002).

Efek analgesik dari opioid adalah hasil dari terbentuknya interaksi kompleks
pada tempat-tempat seperti otak, medula spinalis, jarngan perifer. Pada tingkat
medula spinalis, opioid telah diperlihatkan menghambat pembebasan transmitter
eksitatory pada aferen primer. Beberapa tempat pengikatan opioid di otak
berhubungan dengan modulasi nyeri jaras descenden termasuk nukleus rafe magnus
dalam rostal ventral medulla dan lokus ceruleus batang otak, area periaqueductal
gray otak, dan beberapa nukleus hipotalamus dan talamus. Dengan adanya opioid
opioid pada tempat tempat rostal ventral medulla dan area periaqueductal gray akan
menghambat tranmisi saraf nyeri. Oleh karena itu , ikatan opioid pada tempat tempat

supraspinal ini sangat memperbesar efek opioid pada tingkat spinal untuk
menurunkan trnamisi nosiseptif dan meningkatkan ambang nyeri (katzung et al,
2002).
Tempat tempat di otak yang terlibat dalam perubahan reaktifasi nyeri kurang
dapat diidentifikasi dengan baik dibandingkan dengan trnamisi nyeri itu sendiri. Ada
hipotesa bahwa perubahan reaktifasi terhadap nyeri ini melibatkan sistem limbik,
termasuk kortek bagian antero temporal dan korteks bagian frontal orbital maupun
bagian hipotalamus dan amigdala, karena opioid mengurangi rasa takut dan anxietas
serta dapat menimbulkan euforia. Yang mendukung hipotesa ini adalah adanya fakta
bahwa beberapa struktur limbik mempunyai densitas yang tinggi dari tempat tempat
ikatan opioid (katzung et al, 2002).
Efek yang ditimbulkan OPIOID
Analgesia
Opioid dapat memberikan efek analgesia yang baik. Efek analgesianya lebih
efektif terhadap nyeri visceral yang sifatnya konstan dan tumpul, dibanding nyeri
yang sifatnya intermitten dan tajam. Sayangnya, semakin baik efeknya dalam
mengatasi nyeri semakin berat pula timbulnya depresi pernapasan. Pasien seringkali
mengatakan bahwa mereka masih merasakan nyeri, tapi tidak menyakitkan lagi. Para
ahli anestesi sudah sejak lama mengetahui bahwa begitu nyeri telah timbul
membutuhkan opioid yang dalam jumlah yang jauh lebih banyak untuk
mengatasinya, dibanding jika diberikan sebelum nyeri timbul. Penelitian tentang hal
ini adalah merupakan dasar untuk analgesia pre emptive. Besarnya dosis efektif
bervariasi dari pasien yang satu dengan pasien lainnya, dan bahkan dapat sebesar 4
kali lipat dari dosis yang biasanya diberikan pada pasien-pasien kelompok umur
dalam penelitian. Bervariasinya besar dosis pemberian tersebut, dalam sebagian
kasus, lebih menonjolkan efek euforiknya dibanding efek penekan rasa nyeri.
Depresi pernapasan
Opioid mengurangi rangsangan untuk bernapas. Pasien dapat mengalami
hipoventilasi, dan memperlambat pernapasan rata-rata 8 kali permenit atau kurang.
Dalam ruangan penyembuhan sebagian besar pasien, meskipun dapat dirangsang,
seperti lupa bernapas, namun, mereka dapat melakukan pernapasan yang dalam jika

diminta. Fenomena ini disebut Ondines Curse. Dengan memotivasi pasien untuk
melakukan pernapasan yang banyak, pada akhirnya seringkali pasien akan dapat
mulai bernapas secara spontan dalam waktu beberapa menit. Untuk sementara waktu
anda harus selalu mengingatkannya setiap kali bernapas.
Depresi pernapasan seringkali timbul pada kelompok pasien : Orang tua,
neonatus,

pasien dengan kondisi yang lemah, penyakit paru intercurrent, gagal

jantung, diabetes,

obesitas,

asma,

penyakit hati, penyakit neuromuskular,

intoksikasi akut obat atau alkohol.


Efek Kardiovaskuler
Opioid tidak terlalu menyebabkan terjadinya gangguan pada tekanan darah
pasien, jika hal tersebut terjadi, biasanya disebabkan oleh karena menurunnya respon
simpatik terhadap nyeri. Jika terdapat penurunan tekanan darah yang hebat maka
dapat dipikirkan kemungkinan-kemungkinan penyebab lain sepeti : hipovolemia,
hipoksia, gagal jantung dan interaksi dengan obat-obatan lainnya.
Pethidin lebih sering menyebabkan terjadinya vasodilatasi, penekanan terhadap
kerja jantung, tachycardia dan hypotensi dibanding opioid jenis lain. Short-acting
opioid, fentanyl, (dan turunannya alfentanyl, dan sufentanil) dapat menyebabkan
bradikardi dan mencetuskan timbulnya depresi pernapasan. Opioid jenis tersebut
sebaiknya tidak digunakan dalam ruangan pemulihan. Pada neonatus dan infant dapat
terjadi penurunan tekanan darah jika diberikan morfine atau pethidine.
Nausea dan Vomiting
Opioid yang digunakan selama operasi , atau dalam ruangan pemulihan,
menyebabkan 20 30 % pasien menjadi mual atau muntah setelah operasi. Seluruh
jenis opioid tampaknya memiliki kemampuan yang sama dalam menimbulkan
terjadinya nausea dan vomitus. Opioid dapat menyebabkan pasien mudah untuk
mengalami motion sickness, Meningkatklan sensitivitas terhadap rangsangan yang
berasal dari organ-organ vestibular.
Sedasi
Opioid dapat menyebabkan drowsiness. Pasien terbaring sejenak dan tidak
bergerak kecuali digerakkan. Ketika ditanya apa yang mereka pikirkan , mereka
mengatakan tidak sedang bermimpi, tertidur seperti patung, tapi tetap sadar terhadap
sekelilingnya. Ketidaksanggupan dalam berfikir secara terstruktur, antisipatif atau

10

terencana; dan ketidaksanggupan dan ketidakserasian dalam bergerak inilah yang


disebut retardasi psikomotor. Fenomena yang menarik adalah Lid Lag . Kelopak
mata pasien yang diberi opioid berkedip turun dengan cepat , tapi jika diangkat
keatas geraknya lebih lambat dibanding pada orang normal. Efek yang sama terlihat
setelah pemberian dengan benzodiazepin ( oleh karena itu disebut benzo-blink).
Sebaiknya jangan diberi tambahan opioid lagi jika pasien sudah tampak mengantuk;
oleh karena telah cukup.
Euforia
Nyeri memiliki dua komponen ; pertama adalah rasa sakit dan lainnya adalah
rasa takut. Opioid menimbulkan perasaan fantasi telah menjadi baik. Opioid juga
menghilangkan rasa cemas, sehingga membuat pasien tidak memiliki perasaan
khawatir terhadap apapun, dan segala ketakutan akan hilang. Selain untuk
meningkatkan kewaspadaan dan menghilangkan rasa takut, takikardi, hipertensi serta
berbagai efek-efek metabolik lainnya juga timbul akan hilang atau berkurang oleh
karena aktivitas dari sistem saraf simpatis. Penanganan nyeri akan makin kurang dan
mudah, dan meskipun seringkali tetap muncul, sudah tidak terasa sakit lagi
Gatal-gatal
Opioid dapat menimbulkan gatal-gatal pada hidung pasien setelah berada
dalam ruangan pemulihan. Pasien selalu ingin menggaruk hidung mereka. Jika ini
dianggap suatu masalah sama seperti setelah suatu operasi mata, atau setelah suatu
operasi plastik pada wajah atau hidung, maka dapat diberikan prometazin dengan
dosis yang rendah. Misalnya (phenergan) 0,125 mg/kg. Jika tidak memberi efek yang
diharapkan, dapat diberikan naloxan untuk menghilangkan rasa gatal tersebut, akan
tetapi obat ini mungkin dapat mencetuskan timbulnya rasa nyeri. Opioid (utamanya
morfin), yang digunakan pada spinal atau epidural anastesi umumnya dapat
menyebabkan gangguan berupa gatal-gatal.
Gangguan berkemih
Opioid dapat menurunkan keinginan untuk mengeluarkan urin, dan
menyebabkan spasme pada sphincter vesikel, serta relaksasi dari otot detrusor. Upaya
memotivasi pasien, ketenangan, dan suara aliran air dapat membantu mengatasi
masalah ini. Jika cara ini tidak berhasil barulah dilakukan pemasangan kateter.

11

Gangguan-gangguan lainnya
Opioid dapat menimbulkan berbagai masalah lain termasuk konstipasi,
konstriksi pupil, spasme biliary, spasme sphincter Oddi, serta bronkokonstriksi.
Respon alergik juga dapat timbul, tapi tidak selalu. Pelepasan histamin timbul pada
pemberian morfin intravena, dan juga pada pemberian pethidine namun tidak sehebat
pada pemberian morfin i.v. Secara teori pemberian morfin pada pasien asma
sebaiknya dihindari, namun dalam prakteknya, tampaknya tidak menimbulkan
masalah. Beberapa pasien alergi terhadap opioid, dan yang lainnya memberikan
respon idiosinkrasi seperti kekaburan penglihatan dan pusing atau perasaan beputarputar (Hatfield et al, 1996).
APLIKASI KLINIS OPIOID
Analgesia
Opioid merupakan agen yang sering digunakan untuk meredakan nyeri saat
pasien dianaestesi, baik general maupun regional anestesia. Penggunaan opioid
tunggal secara intravena dapat mengurangi nyeri secara signifikan. Morfin
mempunyai onset yang lambat tapi duarsi obat yang cukup lama. Meperidin (50 s/d
100 mg I.V) mengurangi nyeri yang ringan sedang dan tidak selalu efektif untuk
pasien dengan nyeri yang berat. Penggunaan fentanil intravena (1 sampai 3 g/kg)
dapat menghilangkan nyeri yang bagus tapi berdurasi pendek. Pengurangan nyeri
postoperatif menggunakan opioid sering digunakan dengan cara edpidural fentanil
ataupun bupivakain.

12

Penggunaan opioid dalam mengurangi nyeri tidak hanya lewat intravena


saja, Fentanyl merupakan salah satu obat yang dapat dipakai secara transdermal.
Keuntungan dari penggunaan fentanyl secara transdermal adalah tidak terjadinya
first-pass drug metabolism pada liver, kenayamanan,dan menyenangkan bagi pasien.
Dosis fentanyl transdermalyang tersedia adalah 20, 50, 75, and 100 g/hr. Selain
penggunaan opioid intravena dan transdermal, morfin merupakan opioid yang
tersedia dalam bentuk oral dan sering digunakan untuk mengurangi nyeri post
operatif dan pre medikasi. Morfin dalam bentuk ini biasa tersedia dalam bentuk
sustained-release tablet (MST) . MST merupakan pilihan yang bagus untuk
mengurangi

nyeri

pada

pasien

pasien

dengan

keganasan/cancer

Sedasi
Pasien pasien yang kritis di ICU sering mengalami kecemasan dan agitasi
saat terngasang nyeri ataupun stress yang lain. Oleh karena itu pasien pasien di ICU
secara umum memerlukan kombinasi analgesia dan sedasi untuk mengurangi tingkat
kecemasan pasien tersebut. Morfin merupakan agen yang paling sering digunakan
untuk analgesia intrvena pada psien pasien di ICU dengan dosis 0.75 g/kg/min.
Balanced Anesthesia
Pengertian dari balanced anesthesia mengacu pada keseimbangan agen
dan teknik yang digunakan untuk menghasilkan komponen komponen anestesia
(seperti: analgesia, amnesia, muscle relaxation, dan penghilangan reflek otonom
dengan hemodinamik yang stabil). Anestesia dengan agen tunggal dapat membuat
depressi hemodinamik yang berat. Sehingga diperlukan beberapa agen anestesia
untuk menghasilkan efek efek anestesia yang diinginkan dengan efek samping yang
minimal. Dalam komponen balanced anesthesia, opioid dapat mengurangi nyeri
preoperatif dan kecemasan, mengurangi respon otonom selama manipulasi airway,
hemodinamik

lebih

stabil

dan

mengurangi

penggunaan

agen

inhalasi.

Total Intravenous Anesthesia (TIVA)


Banyak agen agen anestesi intravena yang dapat digunakan untuk kombinasi
dalam menghasilkan TIVA. Salah satu yang paling sering adalah Opioid. Opioid
biasanya dikombinasikan dengan obat obatan yang lain untuk menghasilkan efek

13

hipnosis dan amnesia. Contohnya adalah kombinasi alfentanil dan propofol dapat
menghasilkan TIVA yang sangat baik. Alfentanil menghasilkan analgesia dan
hemodinamik yang stabil dengan respon nyeri yang nihil, di sisi lain prpofol
menghasilkan hypnosis , amnesia dan anti muntah. Sinergi dari opioid dan obatobatan anestesia lain juga sering digunakan dengan kombinasi lebih dari 2 macam
obat

seperti

kombinasi

propofol-alfentanil-midazolam.

Dimana

Induksinya

menggunakan Alfentanil (25 sampai 50 g/kg) dan propofol (0.5 sampai 1.5 mg/kg),
diikuti infus alfentanil dengan dosis 0.5 to 1.5 g/kg/min dan propofol dengan dosis
80 to 120 g/kg/min,akan menghasilkan pasien yang teranestesi dengan ventilasinya
hanya dengan udara dan oksigen.
Teknik anestesi dengan menggunakan TIVA, biasanya digunakan pada
operasi operasi yang singkat ataupun saat agen inhalasi kurang disepakati
penggunaanya. Dengan menjaga prinsip balanced anesthesia, penggunaan
kombinasi obat obatan anestesia, infusion pumm dan pemahaman yang bagus
mengenai faramakokinetik obat, Anestesolog dapat menghasilkan bervariasi teknik
TIVA. Berikut ini beberapa dosis obat dan infusion pump dalam menghasilkan TIVA

Anti shivering
Opioid

dalam

anaestesia

juga

dapat

mengurangi

treshold

dari

termoregulator. Tetapi, meperidine merupakan salah satu opioid yang unik di antara
opioid opiod yang lain. Hal ini karena meperidin mempunyai kemampuan yang baik
dan efektif dalam menghentikan shivering. Efek antishivering dari meperidine
mungkin berkaitan dengan kemampuannya untuk menurunkan shivering threshold
dan mediasi dari meperidine pada -receptor. Alfetanil, morphine, dan fentanyl tidak
dapat menghasilkan efek antishivering sebagus meperidin. Tramadol (0.5 mg/kg)
menghasilkan anti shivering post operatife sebagus meperidin (0.5 mg/kg),dengan
kejadian somnolence pada tramadol lebih rendah dibandingkan dengan meperidine
(Miller, 2005).
14

Daftar Pustaka
Barash , Paul et al. 2001. Clinical Anesthesia 4th edition. Lippincott Williams &
Wilkins Publishers
Hatfield, Andrea et al. 1996. The Complete Recovery Room Book Second Edition.
Oxford University Press
Katzung, Bertram et al. 2005. Basic And Clinical Paharmacology. Lippincott
Williams & Wilkins Publishers
Miller, Ronald. 2005. Miller's Anesthesia :Seventh Edition. Elsevier's Rights
Department
Morgan, Edward et al.2006. Clinical Anesthesiology 4th Edition. Appleton & Lange
McGraw-Hill Companies
Mycek, Jerzy. 2001. Pharmacology. Appleton & Lange McGraw-Hill Companies

15