Anda di halaman 1dari 14

KEBIJAKAN ADMINISTRASI PUBLIK

A. Latar Belakang Masalah


Dalam era yang serba modern seperti sekarang ini, pelayanan publik
menjamin keberlangsungan administrasi negara yang melibatkan pengembangan
kebijakan administrasi pelayanan dan pengelolaan sumberdaya yang berasal dari
dan untuk kepentingan publik. Pelayanan publik berpijak pada prinsip-prinsip
profesionalisme dan etika seperti akuntabilitas, efektifitas, efisiensi, integritas,
netralitas, dan keadilan bagi semua penerima pelayanan. Menguatnya hembusan
globalisasi, demokratisasi, dan desentralisasi membawa peluang sekaligus
tantangan tersendiri bagi pelayanan publik, khususnya pelayanan sosial bagi
masyarakat dengan kebutuhan khusus. Untuk dapat memberikan pelayanan yang
baik publik atau masyarakat, tentunya dibutuhkan kebijakan administrasi publik
yang baik. Kebijakan publik dapat dinilai sebagai suatu program yang
diproyeksikan dengan tujuan-tujuan tertentu, nilai-nilai tertentu dan praktekpraktek tertentu (Nugroho, 2004).
Kebijakan administrasi publik adalah keputusan-keputusan yang mengikat
bagi orang banyak pada tataran strategis atau bersifat garis besar yang dibuat oleh
pemegang otoritas publik. Sebagai keputusan yang mengikat publik maka
kebijakan administrasi publik haruslah dibuat oleh otoritas politik, yakni mereka
yang menerima mandat dari publik atau orang banyak, umumnya melalui suatu
proses pemilihan untuk bertindak atas nama rakyat banyak. Selanjutnya,
kebijakan administrasi publik akan dilaksanakan oleh administrasi negara yang
dijalankan oleh birokrasi pemerintah. Fokus utama kebijakan administrasi publik
dalam negara modern adalah pelayanan publik, yang merupakan segala bentuk
jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang maupun jasa publik yang pada
prinsipnya menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh negara untuk
mempertahankan atau meningkatkan kualitas kehidupan orang banyak. Pada
dasarnya, kebijakan administrasi publik dapat dipahami sebagai serangkaian
tindakan yang ditetapkan dan dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh
pemerintah yang mempunyai tujuan tertentu demi kepentingan seluruh
masyarakat.

Secara umum, kebijakan selalu menyangkut pelaku atau aktor seperti


halnya pejabat, kelompok, maupun lembaga pemerintah (Winarno, 2002). Aturan
atau peraturan kebijakan administrasi publik semestinya dibuat secara sederhana.
Kebijakan administrasi publik ini dapat juga diartikan sebagai suatu hukum. Akan
tetapi, kebijakan administrasi publik merupakan hukum yang harus dipahami
secara utuh dan benar. Ketika suatu isu yang menyangkut kepentingan bersama
dipandang perlu untuk diatur, maka formulasi isu tersebut menjadi kebijakan
administrasi publik harus dilakukan dan disusun dan disepakati oleh para pejabat
yang berwenang dan ketika kebijakan administrasi publik tersebut ditetapkan
menjadi suatu kebijakan administrasi publik.
Pada dasarnya, terdapat beberapa definisi dan batasan terkait dengan
konsep kebijakan administrasi publik. Robert Eyestone (dalam Winarno, 2002)
menyatakan bahwa kebijakan administrasi publik dapat didefinisikan sebagai
hubungan suatu unit pemerintah dengan lingkungannya. Melalui konsep tersebut
dapat dipahami bahwa kebijakan administrasi publik menyangkut kepentingan
banyak pihak. Sedikit berbeda dengan konsep tersebut, Thomas R. Dye (1995)
mengatakan bahwa kebijakan publik adalah segala sesuatu yang dikerjakan
pemerintah, mengapa mereka melakukan, dan hasil yang membuat sebuah
kehidupan bersama tampil. Kebijakan administrasi publik berhubungan dengan
apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan dan tidak dilakukan.
Namun demikian, konsep ini menjadi agak sulit untuk dipahami karena tidak
menjelaskan mengenai apa yang diputuskan oleh pemerintah, dan apa yang
sebenarnya dilakukan oleh pemerintah. Pakar lainnya, Richard Rose (dalam
Winarno, 2002) menjelaskan bahwa kebijakan seharusnya dipahami sebagai
serangkaian kegiatan yang banyak berhubungan beserta konsekuensikonsekuensinya bagi mereka yang bersangkutan daripada sebagai suatu keputusan
tersendiri. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan batasan-batasan dan konsep yang
lebih jelas untuk memahami kebijakan administrasi publik. Kebijakan publik
adalah pola ketergantungan yang kompleks dari pilihan-pilihan kolektif yang
saling tergantung, termasuk keputusan-keputusan untuk tidak bertindak, yang
dibuat oleh badan atau kantor pemerintah (Dunn, 2003).

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa kebijakan administrasi


publik memiliki banyak batasan dan konsep yang menggunakan penekanan yang
berbeda-beda. Namun demikian, ada satu hal yang perlu diperhatikan dalam
mendefinisikan kebijakan. Hal tersebut adalah pendefinisian kebijakan
administrasi publik harus tetap memiliki pengertian mengenai apa yang
sebenarnya dilakukan dibandingkan mengenai apa yang diusulkan dalam tindakan
mengenai suatu persoalan tertentu.
Perlu disadari bahwa kebijakah administrasi publik tidak hanya
berhubungan dengan perencanaan dan penyusunan kebijakan saja. Melainkan
harus memperhatikan implementasinya. Implementasi kebijakan administrasi
publik bahkan jauh lebih penting dibandingkan hanya perencanaan dan rumusan
kebijakan saja. Tanpa adanya implementasi, maka kebijakan administrasi publik
tidak dapat diambil manfaatnya smaa sekali. Namun demikian, belum diketahui
bagaimana implementasi kebijakan administrasi publik yang baik untuk
dilaksanakan sehingga kebijakan administrasi publik yang diberlakukan dapat
mencapai tujuannya. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembahasan lebih lanjut
mengenai implementasi kebijakan administrasi publik.
B. Perumusan Masalah
Pembahasan lebih lanjut pada makalah ini terkait dengan implementasi
kebijakan administrasi publik dan proses-prosesnya. Permasalahan yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Kenapa implementasi kebijakan merupakan faktor penting terkait kebijakan
adminstrasi publik?
2. Bagaimanakah model prooses implementasi atas kebijakan administrasi
publik?
C. Analisis Masalah dan Pemecahan Masalah
1. Analisis Masalah
Implementasi merupakan proses yang sangat penting bagi suatu
kebijakan. Implementasi kebijakan bukan hanya berhubungan dengan
mekanisme penjabaran keputusan-keputusan politik kedalam prosedurprosedur rutin lewat saluran birokrasi, namun implementasi kebijakan juga
menyangkut konflik, keputusan dan siapa yang memperoleh apa dari suatu

kebijakan. Untuk dapat mencapai tujuan yang ditargetkan, kebijakan publik


harus diimplementasikan terlebih dahulu. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa implementasi kebijakan publik merupakan tahap yang sangat penting
dalam proses kebijakan publik.
Pelaksanaan kebijakan adalah sesuatu yang penting, bahkan mungkin
jauh lebih penting daripada sekedar berupa impian atau rencana bagus yang
tersimpan rapi dalam arsip kalau tidak diimplementasikan. Namun demikian,
perlu diingat bahwa implementasi tidak aka nada tanpa adanya penetapan
undang-undang dan dana yang disediakan untuk melaksanakan implementasi.
Hal ini disebabkan kebijakan dan implementasi memiliki ketergantungan satu
sama lain untuk dapat mencapai tujuan. Harus disadari bahwa biarpun
formulasi atau perumusan kebijakan telah dilakukan dengan begitu baik dan
kemudian akan bermuara pada dikeluarkannya satu kebijakan, tanpa
diimplementasikan dalam suatu program atau kegiatan, kebijakan tersebut
tidak berarti apa-apa.
Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam memahami kebijakan
publik adalah pembedaan antara maksud dari implementasi kebijakan,
pencapaian kebijakan, dan dampak kebijakan. Studi implementasi kebijakan
memfokuskan diri pada aktivitas atau kegiatan-kegiatan yang dijalankan
untuk menjalakan keputusan kebiajakan yang telah ditetapkan. Dengan
demikian, studi kebijakan akan mampu memberi penjelasan terhadap salah
satu atau lebih kekuatan-kekuatan yang menentukan dampak kebijakan.
Van Meter dan Van Horn menggolongkan kebijakan-kebijakan
menurut 2 karakteristik yang berbeda, yaitu jumlah perubahan yang terjadi
dan sejauh mana konsensus menyangkut tujuan antara pemeran serta dalam
proses implementasi berlangsung. Karakteristik yang paling penting adalah
unsur perubahan yang terjadi di lingkungan pelaksanaan kebijakan. Pertama,
mplementasi akan dipengaruhi oleh sejauh mana kebijakan menyimpang dari
kebijakan-kebijakan sebelumnya. Dalam hal ini, perubahan-perubahan
incremental lebih cenderung menimbulkan tanggapan positif daripada
perubahan-perubahan drastis (rasional). Kedua, proses implementasi akan
dipengaruhi oleh jumlah perubahan organisasi yang diperlukan. Ada yang

menyatakan bahwa implementasi yang efektif akan sangat mungkin terjadi


jika lembaga pelaksana tidak diharuskan melakukan re-organisasi secara
drastis.
Dalam studi kebijakan, dipahami benar bahwa bukan persoalan yang
mudah untuk melahirkan satu kebijakan bahkan untuk kebijakan pada
tingkatan lokal, apalagi kebijakan yang memiliki cakupan serta pengaruh luas,
menyangkut kelompok sasaran serta daerah atau wilayah yang besar. Pada
tatanan implementasi pun, persoalan yang sama terjadi, bahkan menjadi lebih
rumit lagi karena dalam melaksanakan satu kebijakan selalu terkait dengan
kelompok sasaran dan birokrat itu sendiri, dengan kompleksitasnya masingmasing. Tidak saja dalam proses implementasi, dalam realitas ditemukan juga
walaupun kebijakan dengan tujuan yang jelas telah dikeluarkan tetapi
mengalami hambatan dalam implementasi (tidak atau belum dapat
diimplementasikan) karena dihadapkan dengan berbagai kesulitan atau
hambatan.
Salah satu hal yang penting dalam studi implementasi adalah
bagaimana mengenali tingkat kesulitan suatu kebijakan untuk
diimplementasikan, dan bagaimana agar kebijakan tersebut dapat lebih
terimplementasi. Dalam proses implementasi satu kebijakan publik seringkali
menimbulkan konflik dari kelompok sasaran atau masyarakat, artinya terbuka
peluang munculnya kelompok tertentu diuntungkan (gainer), sedangkan
dipihak lain implementasi kebijakan tersebut justru merugikan kelompok lain.
Implikasinya, masalah yang muncul kemudian berasal dari orang-orang yang
merasa dirugikan. Upaya untuk menghalang-halangi, tindakan komplain,
bahkan benturan fisik bisa saja terjadi. Singkatnya, semakin besar konflik
kepentingan yang terjadi dalam implementasi kebijakan publik, maka semakin
sulit pula proses implementasi nantinya, demikian pula sebaliknya.
Aspek lain yang harus diperhatikan dalam implementasi kebijakan
publik adalah perubahan perilaku kelompok sasaran atau masyarakat.
Maksudnya, sebelum implementasi kebijakan kelompok sasaran atau
masyarakat melakukan sesuatu dengan pola implementasi kebijakan
terdahulu. Ketika satu kebijakan baru diimplementasikan, terjadi perubahan

baik dalam finansial, cara atau tempat dan sebagainya. Perubahan tersebut
akan menimbulkan resistensi dari kelompok sasaran. Aparat pelaksana
kebijakan menjadi salah satu aspek untuk menilai sulit tidaknya implementasi
kebijakan. Komitmen, kualitas dan persepsi yang baik nantinya akan
memudahkan dalam proses implementasi kebijakan dan sebaliknya.
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa implementasi
kebijakan administrasi publik sangat penting karena proses pelaksanaan
kebijakan atau menerapkan kebijakan setelah kebijakan itu disahkan sangat
menentukan hasil outcome yang diinginkan. Berarti, tidak hanya mengandung
maksud terjadinya suatu proses tunggal atau berdiri sendiri, tapi ada proses
lain yang dilakukan dalam upaya persiapan implementasi dan proses yang
sebenarnya dari implementasi kebijakan itu sendiri. Dari uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa implementasi kebijakan adalah suatu proses
melaksanakan atau menerapkan kebijakan melalui serangkaian tindakan
operasional untuk menghasilkan outcome yang diinginkan. Dalam
implementasi kebijakan publik tentunya terdapat berbagai kesulitan-kesulitan
tersendiri. Kesulitan-kesulitan yang dapat menghambat diimplementasikannya
satu kebijakan, dapat pula dipengaruhi oleh orientasi atau interest aparat atau
pimpinan organisasi pemerintah daerah terhadap kebijakan yang ada. Banyak
persoalan yang harus dikerjakan, prioritas pilihan kebijakan apa yang akan
diimplementasikan tergantung pada interest serta orientasi pimpinan daerah.
2. Pemecahan Masalah
a. Model Proses Implementasi Kebijakan
Van Meter dan Van Horn (1975) menawarkan suatu model dasar
mengenai proses impelementasi kebijakan. Model ini memiliki 6 variabel
yang membentuk ikatan linkage (antara kebijakan dan pencapaian).
Keenam variabel tersebu antara lain sebagai berikut.
1) Ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan;
Variabel ini didasarkan pada kepentingan utama terhadap
faktor-faktor yang menentukan pencapaian tujuan. Menurut Van Meter
dan Van Horn, identifikasi indikator-indikator pencapaian merupakan
tahap yang krusial dalam analisis implementasi kebijakan. Indikator-

indikator ini menilai sejauh mana ukuran-ukuran dasar dan tujuantujuan kebijakan telah direalisasikan. Ukuran-ukuran dasar dan tujuantujuan berguna di dalam menguraikan tujuan-tujuan keputusan
kebijakan secara menyeluruh. Disamping itu, ukuran-ukuran dasar dan
tujuan-tujuan ini merupakan bukti itu sendiri dan dapat diukur dengan
mudah dalam beberapa kasus.
2) Sumber-sumber kebijakan;
Sumber daya kebijakan merupakan keberhasilan proses
implementasi kebijakan yang dipengaruhi dengan pemanfaatan sumber
daya manusia, biaya, dan waktu. Sumber-sumber kebijakan tersebut
sangat diperlukan untuk keberhasilan suatu kebijakan yang dibuat oleh
pemerintah. Sumber-sumber tersebut mencakup dana dan insentif lain
yang mendorong dan memperlancar implementasi yang efektif. Modal
diperlukan untuk kelancaran pembiayaan kebijakan agar tidak
menghambat proses kebijakan. Selain itu, juga diperlukan waktu.
Waktu merupakan bagian yang penting dalam pelaksanaan kebijakan,
karena waktu merupakan bagian pendukung keberhasilan kebijakan.
Sumber daya waktu merupakan penentu pemerintah dalam
merencanakan dan melaksanakan kebijakan.
3) Komunikasi antar organisasi terkait dengan kegiatan-kegiatan
pelaksanaan
Komunikasi memegang peranan penting bagi berlangsungnya
koordinasi implementasi kebijakan. Standar dan tujuan kebijakan
memiliki efek tidak langsung pada kinerja. Jelas yang memberikan
pelayanan publik akan dipengaruhi oleh cara yang standar dan tujuan
komunikasi untuk pelaksana dan sejauh mana standars dan tujuan
memfasilitasi pengawasan dan penegakan hukum. Standar dan tujuan
tidak langsung berdampak pada disposisi pelaksana melalui kegiatan
komunikasi inter-organisasi. Dengan demikian, sangat penting untuk
member perhatian yang besar kepada kejelasan ukuran-ukuran dasar
dan tujuan-tujuan impelementasi, ketetapan komunikasi dengan para
pelaksana, dan konsistensi atau keseragaman dari ukuran dasar dan

tujun-tujuan yang dikomunikasikan dengan berbagai sumber


informasi.
4) Karakteristik badan-badan pelaksana;
Keberhasilan kebijakan bisa dilihat dari sifat atau ciri-ciri
badan/instansi pelaksana kebijakan. Hal ini sangat penting karena
kinerja implementasi kebijakan publik akan sangat banyak
dipengaruhi oleh ciri-ciri yang tepat serta cocok dengan para badan
atau instansi pelaksananya. Kualitas dari suatu kebijakan dipengaruhi
oleh kualitas atau ciri-ciri dari para aktor. Kualitas tersebut dapat
ditinjau dari tingkat pendidikan, kompetensi dalam bidangnya,
pengalaman kerja, dan integritas moralnya. Komponen dari model ini
terdiri dari stuktur-struktur formal dari organisasi-organisasi dan
atribut-atribut yang tidak formal dari personil mereka, disamping itu
perhatian juga perlu ditujukan kepada ikatan-ikatan badan pelaksana
dengan pameran-pameran serta dalam penyampaian kebijakan. Van
Meter dan Van Horn mengetengahkan beberapa unsur yang meungkin
berpengaruh terhadap suatu organisasi dalam mengimplementasi
kebijakan, sebagaimana berikut.
a) Kompetensi dan ukuran staf suatu badan
b) Tingkat pengawasan hierarchies terhadap keputusan-keputusan sub
unit dan proses-proses dalam badan-badan pelaksana.
c) Sumber-sumber politik suatu organisasi
d) Vitalitas suatu organisasi
e) Tingkat komunikasi-komunikasi terbuka yang didefinisikan
sebagai jaringan kerja komunikasi horizontal dan vertikal secara
bebas serta tingkat kebebasan yang relatif tinggi dalam komunikasi
dengan individu-individu di luar organisasi
f) Kaitan formal dan informal suatu badan dengan badan pembuat
keputusan atau pelaksana keputusan
5) Kondisi-kondisi ekonomi, sosial dan politik;
Dampak kondisi-kondisi ekonomi, sosial dan politik pada
kebijakan publik merupakan pusat perhatian yang besar selama

dasawarsa yang lalu. Lingkungan eksternal ikut mendukung


keberhasilan kebijakan publik yang telah ditetapkan. Lingkungan
eksternal tersebut adalah ekonomi, sosial, dan politik. Dukungan
sumber daya ekonomi dapat mendukung keberhasilan implementasi
kebijakan dan dalam lingkungan politik dukungan elite politik sangat
diperlukan dalam mendukung keberhasilan implementasi kebijakan.
Perubahan kondisi ekonomi, sosial dan politik dapat mempengaruhi
interpretasi terhadap masalah dan dengan demikian akan
mempengaruhi cara pelaksanaan program, variasi-variasi dalam situasi
politik berpengaruh terhadap pelaksanaan kerja. Peralihan
pemerintahan dapat mengakibatkan perubahan-perubahan dalam cara
pelaksanaan kebijakan-kebijakan tanpa mengubah kebijakan itu
sendiri.
6) Kecenderungan pelaksana.
Kecenderungan atau karakteristik pelaksana adalah mencakup
struktur birokrasi, norma-norma, dan pola-pola hubungan yang terjadi
dalam birokrasi. Pengalaman-pengalaman subjektif individu
memegang peranan yang sangat besar. Sikap para pelaksana dalam
menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai pelaksana kebijakan
harus dilandasi dengan sikap disiplin. Hal tersebut dilakukan karena
dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan, setiap
badan/instansi pelaksana kebijakan harus merasa memiliki terhadap
tugasnya masing-masing berdasarkan rencana yang telah ditetapkan
sebelumnya. Proses ini merupakan sebuah abstraksi atau performansi
dari suatu kebijakan yang pada dasarnya dilakukan untuk meraih
kinerja implentasi kebijakan publik yang tinggi, yang berlangsung dala
hubungan berbagai variabel. Model ini mengumpamakan
implementasi kebijakan berjalan secara linier dari keputusan politik
yang tersedia, pelaksana, dan kinerja kebijakan publik.
b. Kaitan Antara Komponen-Komponen Model
Kebijakan saat ini masih banyak berorientasi pada nasihat dan
rancangan para pakar dan kaum elit tanpa melibatkan masyarakat dalam

suatu debat dan musyawarah publik. Pola kebijakan seperti ini masih
dianggap sebagai kebijakan tradisional dan cenderung mengarah
padatindakan yang otoriter dan belum tercerahka semangat musyawarah
(deliberation) untuk mencapai mufakat (consensus) dalam demokrasi
yang sebenarnya. Implementasi merupakan proses yang dinamis dan
berkelanjutan. Faktor-faktor yang meungkin mempengaruhi pelansakaan
suatu kebijakan dalam tahap-tahap awal mungkin akan mempunyai
konsekuensi yang kecil dalam tahap selanjutnya.
Sementara itu, tanggapan para pelaksana terhadap kebijakan akan
melibatkan persepsi-persepsi dan interpretasi para pelaksana terhadap tujuantujuan kebijakan. Ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan ini akan mempunyai
dampak yang tidak langsung pada kecenderungan para pelaksana melalui
kegiatan-kegiatan pelaksanaan. Bagi para pejabat, ukuran-ukuran dasar dan
tujuan-tujuan merupakan landasan dalam berhubungan dengan pelaksanapelaksana kebijakan dalam organisasi-organisasi lain. Pembangunan terhadap
loyalitas pelaksana kebijakan, pejabat di tingkat atas dapat melakukan
berbagai cara, diantaranya kekuasaan yang bersifat koersif maupun normatif.
Koersif berate pemaksaan melalui berbagai bentuk kekerasan dan pemaksaan
lainnya, sedangkan normatif dilaksanakan melalui peraturan-peraturan.
Tipe dan tingkatan sumber-sumber yang disediakan oleh keputusan
kebijakan akan mempengaruhi kegiatan-kegiatan komunikasi dan
pelaksanaan. Bantuan teknik dan pelayanan-pelayanan lain hanya ditawarkan
apabila ditetapkan oleh keputusan kebijakan dan semangat para pelaksana
dapat dicapai hanya jika sumber-sumber yang tersedia cukup untuk
mendukung kegiatan tersebut. Pada sisi yang lain, kecenderungan para
pelaksana dapat dipengaruhi secara langsung oleh ketersediaan sumbersumber.
Kaitan antara-sumber-sumber dan lingkungan ekonomi, sosial dan
politik dari yurisdiksi atau organisasi pelaksana menunjukkan bahwa
tersedianya sumber-sumber keuangan dan sumber-sumber lain mungkin akan
menimbulkan tuntutan oleh para warga negara swasta dan kelompokkelompok kepentingan yang terorganisir untuk peran serta dalam

implementasi program yang berhasil. Faktor-faktor ini juga akan mendorong


kelompok-kelompok yang pasif untuk berperan serta dalam implementasi
kebijakan. Dengan kata lain, motivasi untuk mencari keuntungan dari sumbersumber yang tersedia akan mendorong para pemeran serta baru di dalam
proses implementasi kebijakan.
Hubungan antara sumber daya dan lingkungan ekonomi, sosial, dan
politik dari yuridiksi menerapkan (atau organisasi) menunjukkan bahwa
ketersediaan sumber daya fiskal dan lainnya dapat menciptakan permintaan
oleh warga negara swasta dan terorganisir kelompok-kelompok kepentinganuntuk partisipasi dalam dan implementasi berhasil dari program. Prospek
manfaat dari program ini dapat menyebabkan kelompok dinyatakan diam
untuk menekan partisipasi maksimum. Berdasarkan sumber daya terbatas
yang tersedia, warga negara kepentingan pribadi dan terorganisir dapat
memilih untuk menentang kebijakan atas dasar bahwa manfaat dari partisipasi
sedikit dibandingkan dengan biaya potensial.
Lingkungan ekonomi, sosial, dan politik dari aspek yuridiksi atau
organisasi pelaksana akan mempengaruhi karakter badan-badan pelaksana,
kecenderungan-kecendeungan para pelaksana, dan pencapaian itu sendiri.
Kondisi-kondisi lingkungan dapat mempunyai pengaruh yang penting pada
keinginan dan kemampuan yuridiksi atau organisasi dalam mendukung
struktur-struktur vitalitas dan keahlian yang ada dalam badan-badan
administratif maupun tingkat dukungan politik yang dimiliki. Kondisi
lingkungan juga akan berpengaruh pada kecenderungan-kecenderungan para
pelaksana. Jika masalah-masalah dapat diselesaikan oleh suatu program
begitu berat dan para warga negara swasta serta kelompok-kelompok
kepentingan dimobilisir untuk mendukung suatu program, maka besar
kemungkinan para pelaksana menerima tujuan-tujuan ukuran-ukuran dasar
dan sasaran-sasaran kebijakan. Sebaliknya, apabila masalah-masalah tidak
berat dan kepentingan-kepentingan tidak terorganisir menentang suatu
program, maka besar kemungkinan para pelaksana menolak program tersebut.
Kondisi-kondisi lingkungan mungkin menyebabkan para pelaksana
melaksanakan suatu kebijakan tanpa mengubah pilihan-pilihan pribadi mereka

tentang kebijakan itu. Akhirnya, variabel-variabel lingkungan ini dipandang


mempunyai pengaruh langsung pada pemberian-pemberian pelayanan publik.
Kondisi-kondisi lingkungan dapat memperbesar dan membatasi pencapaian
meskipun kecenderungan-kecenderungan para pelaksana dan kekuatankekuatan lain mempunyai pengaruh terhadap implementasi program.
Bila variabel lingkungan sosial, ekonomi dan politi mempengaruhi
implementasi kebijakan, maka hal ini juga berlaku untuk variabel-variabel
yang lain. Beberapa karakteristik dari badan-badan pelaksana mempunyai
pengaruh terhadap kecenderungan-kecenderungan para personil yang ada di
dalamnya. Sifat jaringan kerja komunikasi, tingkat pengawasan hierarchies
dan gaya kepemimpinan dapat mempengaruhi identifikasi individu terhadap
tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran organsiasi. Dalam hal ini, ada kemungkinan
pengaruh yang ineteraktif antara komunikasi antar organisasi dan kegiatankegiatan pelaksana serta karakteristik-karakteristik badan pelaksana.
Kegiatan-kegiatan antara pelaksanaan dan tindakan lanjut memberikan badanbadan tambahan, vitalitas, dan keahlian.
Komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari
implementasi kebijakan publik. Implementasi yang akan terjadi apabila para
pembuat keputusan (decision maker) sudah mengetahui apa yang akan mereka
kerjakan. Pengetahuan atas apa yang akan mereka kerjakan baru dapat
berjalan manakala komunikasi berjalan dengan baik, sehingga setiap
keputusan kebijakan dan peraturan implementasi harus ditransmisikan (atau
dikomunikasikan) kepada bagian personalia yang tepat. Selain itu, kebijakan
yang dikomunikasikan pun harus tepat, akurat dan konsisten. Komunikasi
(atau pentransmisian informasi) diperlukan agar para pembuat keputusan dan
para implementor semakin konsisten dalam melaksanakan setiap kebijakan
yang akan diterapkan dalam masyarakat.
Walaupun sumber-sumber untuk melaksanakan suatu kebijakan
tersedia, atau para pelaksana kebijakan mengetahui apa yang harusnya
dilakukan dan mempunyai keinginan untuk melaksanakan suatu kebijakan,
tetapi kemungkinan kebijakan tersebut tidak dapat terlaksana atau terealisasi
masih tetap ada karena terdapatnya kelemahan dalam struktur birokrasi.

Kebijakan yang begitu kompleks menuntut adanya kerjasama banyak orang,


ketika struktur birokrasi tidak kondusif pada kebijakan yang tersedia, maka
hal ini akan menyebabkan sumber-sumbernya.
Pada akhirnya, model menjelaskan 4 variabel yang berpengaruh pada
proses implementasi kebijakan. Variabel-variabel tersebut terdiri dari ukuranukuran dasar dan tujuan-tujuan, komunikasi antar organisasi dan kegiatankegiatan pelaksanaan, karakteristik-karakteristik dari badan pelaksana, dan
kecenderungan para pelaksana. Pusat perhatian pada dasarnya adalah pada
tingkat sejauh mana ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan
ditransmisikan kepada para pelaksana dengan jelas, tepat, konsisten, dan
dalam cara yang tepat pada waktunya.
D. Kesimpulan dan Rekomendasi
1. Kesimpulan
Implementasi adalah proses penting dari suatu kebijakan administrasi
publik. Hal ini disebabkan implementasi atas kebijakan adminis trasi publik
yang dapat menentukan keberhasilan atau hasil yang akan diperoleh oleh
pemberlakuan administrasi publik. Implementasi kebijakan administrasi
publik merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan banyak
elemen-elemen penting untuk dapat menuai keberhasilan dari tujuan yang
ingin diperoleh. Elemen-elemen tersebut saling terkait dan membutuhkan satu
sama lain. Elemen yang perlu mendapatkan perhatian dalam implementasi
kebijakan publik tersebut antara lain: (1) ukuran dan tujuan kebijakan, (2)
sumberdaya, (3) karakteristik pihak pelaksana, (4) sikap/kecenderungan
(disposisi) para pelaksana, (5) komunikasi antaraorganisasi dan aktivitas
pelaksana, dan (6) lingkungan ekonomi, sosial dan politik.
2. Rekomendasi
Sebagai upaya memberi masukan kepada pengambilan kebijakan,
maka dari hasil kajian tentang implementasi kebijakan administrasi publik
perlu diberikan rekomendasi bahwa partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan
kebijakan administrasi publik harus diperhatikan. Oleh karena itu, perlu
adanya dukungan dan kerjasama dalam wujud sosialisasi dari segenap elemen
pemerintah untuk bersama-sama mendukung proses implementasi kebijakan

administrasi publik. Perlu adanya upaya pemerintah dengan melakukan


pendekatan budaya terkait dengan pandangan masyarakat terhadap
implementasi kebijakan administrasi publik.
DAFTAR PUSTAKA
Dunn, William N. (2003). Analisis Kebijakan Publik. Yogjakarta: Gadjah Mada
University Press.
Dye, Thomas R. (1995). Understanding Public Policy. New Jersey: Prentice Hall.
Meter, Donald Van, dan Carl Van Horn. (1975). The Policy Implementation Process:
A Conceptual Framework dalam Administration and Society. London: Sage.
Riant, Nugroho D. (2004). Kebijakan Publik: Formulasi, Implementasi dan Evaluasi.
Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Winarno, Budi. (2002). Kebijakan Publik, Teori dan Proses. Yogyakarta: MedPress.