Anda di halaman 1dari 3

Review Artikel

Analisis Perbedaan Gender terhadap Perilaku Etis, Orientasi Etis dan


Profesionalisme pada Auditor KAP di Surabaya
1. Area of interest
Salah satu permasalahan yang sering terjadi adalah apakah gender mempengaruhi
sensitivitas etis setiap individu. Seorang auditor dapat diandalkan jika mereka
mampu menjadi seorang profesional yang independen, memiliki pengetahuan
audit yang memadai, serta memahami dengan benar pelaksanaan etika dalam
menjalankan profesinya (Herawaty dan Susanto, 2009). Pandangan sex role
stereotype menyatakan bahwa pria lebih berorientasi pada pekerjaan, objektif,
independen, agresif dan lebih bertanggung jawab dalam hal manajerial. Wanita
dipandang lebih pasif, lembut, berorientasi pada pertimbangan, lebih sensitif dan
rendah posisinya pada pertanggungjawaban dalam organisasi.
2. Phenomena
Jasa audit akuntan publik sudah menjadi kebutuhan utama dalam memberikan
opini bagi para pemakai laporan keuangan untuk pengambilan keputusan. Namun
permasalahan independensi dan profesionalisme masih menjadi masalah dalam
dunia audit. Hal ini dikarenakan banyaknya kasus di dunia akuntan yang tidak
lagi mempertimbangkan etika demi mendapatkan keuntungan yang besar, seperti
kasus Enron tahun 2001, WorldCom tahun 2001, Kimia Farma tahun 2002,
Telkom tahun 2002 dan Lippo tahun 2003 (Hery dan Agustiny, 2007).
3. Theoritical foundation
a. Perilaku Etis
Perilaku etis dalam berorganisasi adalah melaksanakan tindakan secara adil
sesuai dengan hokum dan peraturan pemerintah yang dapat diaplikasikan.
b. Orientasi Etis
Orientasi etis diartikan sebagai dasar pemikiran dalam menentukan sikap dan
arah secara tepat dan benar yang berhubungan dengan dilema etis.
c. Profesionalisme
Menurut Lee (1995) dalam Ikhsan (2007), profesional merupakan suatu
bentuk praktisi yang memiliki komitmen jelas untuk melayani kepentingan
publik dan menawarkan kepada klien segala pelayanan yang berhubungan
dengan intelektualitas dan ilmu pengetahuan.
d. Gender

Istilah gender menurut Umar (1993) dalam Hastuti (2007) adalah suatu konsep
kultural yang membedakan antara pria dan wanita dalam hal peran, perilaku,
mentalitas dan karakteristik emosional di kalangan masyarakat.
4. Methodology
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan alat uji yaitu Independent
Sample T-test.
5. Data and Method
Sample
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh auditor di semua KAP di
Surabaya dengan metode pengambilan sampel purposive sampling. Kritetria
purposive sampling yang digunakan adalah minimal auditor sudah bekerja
selama 2 tahun. Dari hasil sampling didapat 40 auditor pria dan 44 auditor
wanita.

Method
Metode pengujian yang digunakan adalah independent sample t-test.

6. Findings
a. Variabel perilaku etis memiliki nilai signifikansi dari Uji Levene lebih besar dari
batas toleransi 0.05, yaitu sebesar 0.111. Hal ini menunjukkan bahwa data
perilaku etis antara auditor pria dan wanita memiliki varians yang sama. Nilai
signikansi uji T pada equal variances assumed juga menunjukkan nilai yang lebih
besar dari taraf signifikansi 0.05, yaitu sebesar 0.996. Hasil analisis uji T pada
variabel perilaku etis ini menyatakan bahwa tidak ada perbedaan perilaku etis
antara auditor pria dan wanita.
b. Variabel orientasi etis memiliki nilai signifikansi uji Levene yang lebih besar dari
batas toleransi 0.05, yaitu sebesar 0.583. Hasil uji Levene ini menetapkan bahwa
data orientasi etis memiliki varians yang sama antara auditor pria dan wanita. Uji
T pada variabel ini memberikan nilai signifikan yang lebih besar dari taraf
signifikansi 0.05. Hal ini dapat dilihat pada nilai signifikan T Test dari equal
variances assumed sebesar 0.279. Nilai uji T yang lebih besar dari taraf
signifikan tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan orientasi etis
antara auditor pria dan wanita.
c. Uji Levene pada variabel profesionalisme juga menunjukkan nilai signifikansi
sebesar 0.626 yang lebih besar dari batas toleransi 0.05. Hal ini berarti data
profesionalisme auditor pria dan wanita memiliki varians yang sama. Hasil dari
uji T pun juga memberikan nilai signifikan T-Test dari equal variances assumed

yang lebih besar dari taraf signifikansi 0.05, yaitu sebesar 0.787. Hasil tersebut
menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan profesionalisme antara auditor
pria dan wanita.
7. Conclusions
a. Tidak adanya perbedaan perilaku etis antara auditor pria dan wanita.
b. Tidak terdapat perbedaan orientasi etis antara auditor pria dan wanita.
c. Tidak terdapat perbedaan profesionalisme antara auditor pria dan wanita.
8. Recommendations
Penelitian ini gagal membuktikan adanya pengaruh gender terhadap perilaku etis,
orientasi etis dan profesionalisme auditor. Peneliti perlu mempertimbangkan
variable lain kedepannya karena terbukti gender tidak berpengaruh terhadap
variable dependent. Peneliti juga perlu mempertimbangkan sampel jenuh karena
dengan purposive sampling maka auditor yang dijadikan sampel merupakan
auditor yang sudah paham benar tentang audit dan tidak terpengaruh terhadap
perilaku etis dan profesionalisme.
Analisis dan pembahasan perbedaan orientasi etis berdasarkan gender hanya
diukur melalui dua indikator saja, yaitu idealisme dan relativisme. Penelitian ini
seharusnya masih perlu diuji dan dianalisis kembali dengan mempertimbangkan
faktor faktor lain, seperti utilitarianisme, justice, egoism dan deontological.
9. Futher Researches
Untuk riset peneliti selanjutnya diharapkan tidak hanya terbatas pada gender
namun dapat juga menggunakan variable lain seperti lama bekerja, tempat KAP
bekerja apakah termasuk KAP besar atau tidak, usia, disiplin ilmu, perbedaan
wilayah dan sebagainya.
Penelitian selanjutnya juga dapat memperluas sampel yang digunakan serta
proporsi antara sampel wanita dan pria dapat sama jumlahnya.