Anda di halaman 1dari 3

58

Majalah Farmasi Airlangga, Vol.5 No.2 Agustus 2005

Rosita N., et.al.

Daya Adsorpsi Zeolit Terhadap Mikroba Penyebab D iare (2):


Daya Adsorbsi Zeolit Alam Malang Selatan Terhadap Salmonella typhi Dibandingkan Dengan Atapulgit (Upaya
Pemanfaatan Zeolit sebagai Bahan Baku Obat Diare)
Noorma Rosita, Tristiana Erawati, Moegihar djo, Ratna Wati
Bagian Farmasetika Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
The adsorption capability of zeolite of South Malang and attapulgite to Salmonella typhi bacteria
have been investigated. Inoculum bacteria were diluted with sterile NaCl 0,9% solution up to 1010 times
until the transmittance 25% at 580 nm wavelengths.
The 1,0 ml suspension of Salmonella typhi was added to 300 mg zeolite and 300 mg attapulgite in a
difference tube, they were vortexed during 10, 20 and 30 minutes . The 0.2ml samples from each tube
were incubated in sterile nutrient agar media pH 7,00,2 at 30-35C. The colony was calculated after
incubated for 48 hours.
The result indicated that the natural zeolite of South Malang and attapulgite had adsorption
capability to Salmonella typhi. Zeolite of South Malang has greater adsorption capability to Salmonella
typhi than attapulgite at the same contact time (10, 20 and 30 minutes)
Keyword: Adsorption, Attapulgite, Zeolite, Salmonella typhi
PENDAHULUAN
Mineral zeolit merupakan senyawa magnesium
aluminium silikat (Mursi, 1994). Selama ini z eolit alam
Indonesia (modernit dan klinoptilolit) umumnya
dimanfaatkan sebagai adsorben limbah industri dan
lingkungan, penyaring molekuler, penukar ion, penjerap
bahan dan katalisator (Harjan to, 1980).
Zeolit
mempunyai potensi untuk dapat digunakan sebagai
bahan baku obat/adsorben pada
diare karena
mempunyai struktur kristal yang sama dengan atapulgit,
suatu adsorben antidiare (Moegihardjo, 2002).
Penggunaan atapulgit sebagai obat hanya dapa t
dilakukan untuk tindakan pertolongan pertama pada
diare dengan mekanisme mengadsorpsi zat (toksin) dan
menghambat pertumbuhan koloni -koloni mikroba yang
terdapat di saluran pencernaan (usus halus)
Farmakope Indonesia memberikan persyaratan untuk
arang jerap (sebagai adsorben pada obat diare) meliputi
uji daya adsorpsi terhadap alkaloid, dan zat warna. Dari
hasil penelitian Erawati (2003) diketahui bahwa zeolit
alam Malang Selatan mempunyai daya adsorpsi
terhadap biru metilen dan kuinin HCl 95%. Oleh
karena diare dapat disebabkan oleh mikroba Vibrio
cholerae, maka dilakukan uji daya adsorpsi zeolit
terhadap: Vibrio cholerae galur WHO dan dibandingkan
potensinya dengan atapulgit. Hasilnya menunjukkan
bahwa daya adsorpsi zeolit tidak berbeda bermakna
dengan atapulgit yang selama ini digunakan sebagai
adsorben pada kasus diare (Erawati, 2005). Selain itu,
dari uji uji toksisitas akut dan subkronik dengan
menggunakan hewan coba mencit jantan (Mus
musculus) yang telah diberi zeolit zeolit alam Malang
Selatan menunjukkan bahwa zeolit dapat digolongkan
sebagai zat tidak berbahaya karena pada penelitian
tersebut tidak ada hewan coba yang mati (Studiawan,
2005).
Selain Vibrio cholerae bakteri penyebab diare yang
lain adalah Salmonella typhi (Ristrini, 1989 dan
Snyder, 1996). Untuk lebih dapat diketahui fisibilitas
penggunaan zeolit alam Malang Selatan sebagai bahan

baku obat, yaitu adsorben pada kasus diare spesifik,


maka pada penelitian ini ditentukan daya adsorpsi zeolit
terhadap Salmonella typhi galur WHO dan
dibandingkan dengan atapulgit . Dosis yang digunakan
untuk zeolit alam Malang Selatan dan atapulgit masing masing sebesar 300,0 mg. Jumlah koloni Salmonella
typhi galur WHO sebelum dan sesudah ditambah
dengan adsorben uji dihitung. Hal yang sama juga
dilakukan untuk mengetahui pengaruh lama waktu
kontaknya, dilakukan pada waktu ke 10, 20 dan 30 menit.
Dalam penelitian ini, diharapkan zeolit alam Malang
selatan memiliki daya jerap terhadap pertumbuhan
koloni Salmonella typhi sehingga membuka peluang
untuk dimanfaatkan sebagai adsorben. Apabila zeolit
terbukti memenuhi salah satu persyaratan sebagai
adsorben dalam bidang kesehatan (bahan obat/sediaan
obat), maka akan diperoleh adsorben baru pengganti
atapulgit yang berarti akan meningkatkan nilai ekonomi
bahan tambang zeolit di daerah Malang selatan dan
diharapkan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi
penduduk di sekitar daerah tersebut.
BAHAN DAN METODE
Alat Roller Mill (Erweka Apparatus GmbH), Neraca
analitik, Sentrifus, Oven,Vortex (Thermolyne), Laminar
Air Flow Cabinet (LAFC), spektrofotometer UV -Vis,
Colony counter
Bahan penelitian. HCl , NaCl 0.9%, Nutrien Agar
Medium, etanol, NaOH, semuanya berderajat analisa
dari MERCK dan aqua bidestilata. Zeolit hasil
penambangan di dusun Kedung Banten g dan Sumber
Agung, kecamatan Sumber Manjing Wetan, Malang
Selatan yang telah dipisahkan dari endapan lumpur,
kuarsa dan atapulgit. Mikroba yang dipakai adalah:
Salmonella typhi (strain dari WHO) yang diperoleh dari
Laboratorium Kesehatan Surabaya.
Cara Penelitian. Zeolit alam yang telah
diidentifikasi dengan difraktometer sinar X (Arifin,
1990 dan Harjanto, 1980) dan diaktifkan dengan cara
dipanaskan pada suhu 250 C pada oven selama 120

Daya Adsorpsi Zeolit Terhadap Mikroba Penyebab Diare (2):

menit ditimbang sebanyak 300,00 mg dan dimasukkan


dalam tabung reaksi untuk disterilkan selama 2 jam
pada suhu 180 C. Selanjutnya dilakukan uji daya
jerap zeolit Alam Malang Selatan terhadap mikroba
Salmonella typhi.
Uji Daya Jerap Zeolit Alam Malang Selatan terhadap
mikroba Salmonella typhi diawali dengan penyiapan
inokulum mikroba uji dan uji kerapatan mikroba.
Penyiapan inokulum mikroba uji, dilakukan dengan
cara: kultur mikroba digesekkan pada media agar
miring, diinkubasi pada suhu 37 C selama 18-20 jam.
Ke dalam tabung ditambahkan 5 mL NaCl 0,9% steril,
kemudian disuspensikan dan dikocok selama 15 menit.
Sebanyak 1mL suspensi diencerkan dengan larutan
NaCl 0,9% steril sampai diperoleh transmittan 25%, bila
diukur dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang 580nm dan dengan larutan NaCl 0,9%
sebagai blanko.
Uji kerapatan koloni mikroba pada masing -masing
pengenceran dilakukan dengan cara lempeng, yaitu:
inokulum tertentu mulai dari pengenceran 10 1 sampai
1010 sebanyak 0,2 ml dituangkan ke dalam masing masing cawan petri, selanjutnya ditambahkan media uji
(Nutrien agar steril pH 7,00,2 sebanyak 10 ml) ke
dalam cawan petri sambil cawan digoyang -goyang
sampai media rata. Cawan ditutup dan dibiarkan sampai
dingin dan diinkubasi pada suhu antara 30 -35 C selama
24 jam sampai 48 jam.
Dari masing-masing hasil pengenceran yang telah
ditanam dan diamati diketahui bahwa jumlah koloni
yang sesuai, mudah untuk diamati dan yang selanjutnya
dapat digunakan dalam penentuan angka mikroba
sebagai uji daya jerapnya terhadap zeolit adalah hasil
pengenceran 10 5 kali.
Uji daya jerap terhadap mikroba (Salmonella typhi)
dilakukan dengan cara diambil 1mL dari inokulum hasil
pengenceran 10 5 dan dimasukkan ke dalam 3 tabung
yaitu tabung A, B, C (masing -masing 1mL). Pada
pengukuran daya jerap terhadap Salmonella typhi,
tabung A berfungsi seba gai kontrol sedangkan tabung B
ditambah dengan 300 mg sample zeolit, dan tabung C

Majalah Farmasi Airlangga, Vol.5 No.2 Agustus 2005

59

ditambah dengan 300 mg attapulgit sebagai


pembanding. Dari tiap-tiap tabung ditambah larutan
NaCl 0,9% ad 10 mL, campuran dikocok dalam vortex
selama 10 menit dan dipipet sebanyak masing-masing
0,2 mL dan tanam kedalam media agar dan dilakukan
replikasi sebanyak tiga kali tiap menitnya. Selanjutnya
diinkubasi pada suhu 30-35 0C selama 24-48 jam dan
diamati pertumbuhan koloni dengan menggunakan
colony counter.
Untuk mengetahui pengaruh waktu kontak, uji yang
sama juga dilakukan tetapi dengan lama waktu vortex
adalah 20 dan 30 menit.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data hasil pembiakan Salmonella typhi galur WHO
dalam media nutrien agar dapat dilihat pada tabel 1, dan
perbandingan daya jerap zeolit Alam Malang Selatan
dan attapulgit terhadap Salmonella typhi galur WHO
dengan perbedaan waktu penggojokan dapat dilihat
pada tabel 2.
Tabel 1. Hasil pengamatan jumlah koloni Salmonella
typhi galur WHO yang tumbuh pada media Nutrien
Agar setelah
proses adsorpsi berdasarkan
perbedaan lama kontak
Sampel

Replikasi

A: Blanko
(kontrol)

1
2
3
1
2
3
1
2
3

B: Zeolit
300 mg
C: Attapulgit
50 mg

Jumlah koloni / 0,2ml yang


tumbuh setelah lama kontak :
10
20
30
menit
menit
menit
301
297
290
289
278
296
290
294
301
91
76
62
89
74
61
94
80
63
141
98
79
137
100
80
144
102
72

Tabel 2. Daya jerap zeolit alam Malang Selatan dan attapulgit terhadap Salmonella typhi galur WHO
Adsorben
Replikasi
Jumlah koloni Salmonella typhi
Persentase Salmonella typhi yang teradsorbsi
yang teradsorbsi pada lama
(%)
pengojokan:
10 menit 20 menit 30 menit
10 menit
20 menit
30 menit
1
210
221
228
69,77
74,41
78,28
Zeolit 300 mg
2
212
223
229
73,36
80,22
77,36
3
207
213
227
71,80
73,87
75,75
Rerata
71,50 1,47 76,15 2,89
77,13 1,05
1
160
221
221
53,16
67,00
76,21
Atapulgit
2
164
223
210
56,75
70,86
70,95
300 mg
3
157
217
218
54,14
66,33
72,43
Rerata
54,68 1,52 68,06 2,00
73,20 2,21

60

Majalah Farmasi Airlangga, Vol.5 No.2 Agustus 2005

Dari tabel 2 tersebut dapat diketahui bahwa dengan


waktu kontak yang sama (10, 20 dan 30 menit) daya adsorpsi
zeolit terhadap Salmonella typhi lebih besar dari daya adsorpsi
atapulgit sebagai pembanding.
Mekanisme zeolit alam Malang Selatan untuk dapat
mengadsorpsi dan menghambat pertumbuhan mikroba
Salmonella typhi antara lain: Salmonella typhi merupakan
bakteri gram negatif dengan bentuk koloni berupa basilus
(batang), dengan diameter 1,2 m. sedangkan zeolit alam
Malang selatan (mordernit) mempunyai diameter ruang
kosong atau pori-pori sebesar 2,9-7,0 . (Arthur, 1980).
Ukuran diameter pori mordernit yang lebih kecil dari diameter
bakteri menunjukkan bahwa bakteri Salmonella typhi bakteri
tidak dapat melintasi atau masuk dalam pori-pori dari struktur
kristal zeolit dan mekanisme yang mungkin adalah bakteri
teradsorbsi di atas permukaan zeolit alam Malang selatan
(Gerard, 1994). Selain itu Salmonella typhi mempunyai
dinding sel yang bersifat lipopolisakarida, dimana untuk
menjaga kestabilan dari dinding sel tersebut diperlukan ion
Ca2+ yang banyak terdapat disekitar dinding sel bakteri. Zeolit
merupakan adsorben yang mempunyai kemampuan mengikat
logam dari luar untuk menetralkan muatannya, sehingga
apabila ion Ca2+ bakteri terikat oleh zeolit maka bakteri
Salmonella typhi akan mengalami lisis dan akhirnya dapat
menyebabkan kematian dari sel bakteri (Schlegel, 1994).
Kesimpulan. Dari hasil penelitian dan hasil uji statistik,
data yang diperoleh dapat disimpulkan sebagai berikut: (1).
Zeolit alam Malang Selatan memiliki daya adsorpsi Salmonella
typhi galur WHO. (2) Daya adsorpsi zeolit alam Malang Selatan
lebih besar dibandingkan dengan daya adsorpsi atapulgit
terhadap Salmonella typhi pada lama kontak 10, 20 dan 30
menit. (3) Daya adsorpsi zeolit alam Malang Selatan dan
atapulgit terhadap Salmonella typhi pada lama kontak 30 menit
> lama kontak 20 menit > lama kontak 10 menit.
Saran. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk
dilakukan penelitian lebih lanjut tentang daya adsorpsi zeolit
alam Malang Selatan terhadap mikroba-mikroba lain
penyebab diare untuk menetapkan besarnya dosis zeolit alam
Malang Selatan sebagai obat diare. Selain itu juga perlu
dilakukan uji preklinik dan klinik untuk memastikan
keamanan dan efektifitas zeolit alam Malang Selatan.
Sehingga dalam penggunaannya sebagai bahan baku obat
diare, zeolit dapat memberikan efektifitas yang optimal.

Rosita N., et.al.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M, 1990. Zeolit Alam: Potensi, Teknologi, Kegunaan
dan Prospeknya di Indonesia. Proyek Pengembangan Pusat
Informasi Mineral, Pusat Pengembangan Te knologi
Mineral, Bandung.
Arthur, W.A., 1980, Physical Chemistry of Surface, Fifth
Edition, A. W. Wiley-Interscience Publication, John Wiley
& Sons Inc., New York-Chicester-Brisbane-TorontoSingapore, p 421-449.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia Indonesia,1995.
Farmakope Indonesia, Edisi IV, Jakarta, hal 118-119, 847853, 1061- 1064
Erawati, T., Rosita, N., Sari, R., Moegihardjo, 2003,
Penentuan daya Jerap Zeolit Alam Malang Selatan terhadap
Biru Metilen dan Kuinin HCl, Majalah Farmasi Airlangga,
vol. 2 No. 2, p. 43-46
Erawati, T., Rosita N., Moegihardjo, 2005, Daya Adsorbsi
Zeolit Alam Malang Selatan dan Attapulgit Terhadap
Vibrio Cholerae Galur Who, Majalah Farmasi Airlangga,
vol. 5 No. 1, p. 7-10.
Gerard, B., 1994. Mikrobiologi Kedokteran, Edisi Revisi,
Jakarta, hal.174-175
Harjanto, S., 1980. Endapan Zeolit: Jenis, Komposisi, Sifat
Fisik, Cara Terbentuk dan Penggunaannya, Departemen
Pertambangan dan Energi, Direktorat Jenderal
Pertambangan Umum, Direktorat Sumberdaya Mineral,
Jakarta.
Moegihardjo, 2002. Pemanfaatan
Zeolit Alam Sebagai
Bahan Baku Obat Diare ( Adsorben ), Departemen
Pendidikan Nasional Universitas Airlangga Fakultas
Farmasi Que Project Tahun 2001 Batch III, hal. 29-38.
Mursi, S., 1994. Zeolit : Tinjauan Literatur, Pusat
Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, Jakarta.
Ristrini, 1989. Tinjauan Tentang Penyakit Diare di Indonesia,
Majalah Medika.Nomor 7 Tahun 15. hal 642-643.
Schlegel, G.H., 1994. Mikrobiologi Umum, Edisi keenam,
Gadjah Mada University Press, hal. 53-54.
Snyder, J.D., 1996. Bacterial Diarrhea, In W. Allan, Walker,
PR Durie, JR Hamilton, JA Walker Smith, JB Watkins eds.
Pediatric Gastrointestinal Disease. Patophysiology,
Diagnosis, Managment. Vol 12nd ed. St. Louis : Mosley, p
645-654.
Studiawan H., Purwanti T., Yulianik T., 2005, Uji Toksisitas
subkronikMineral Zeolit Alam Malang yang Diaktivasi
Secara Fisik pada Mencit Jantan, Majalah Farmasi
Airlangga, vol. 5 No. 1, p. 11-14.