Anda di halaman 1dari 11

Hakim sebagai corong Undang-undang memiliki peranan yang amat besar dalam

penegakan hukum di Indonesia.Seorang Hakim dituntun untuk bekerja secara maksimal


seseuai fungsi dan kewenangannya. Untuk melaksanakan suatu fungsi, pada semua
lini dalam setiap bidang pada dasarnya terdapat beberapa unsur pokok, yaitu : Tugas,
yang merupakan kewajiban dan kewenangan. Aparat, orang yang melaksanakan tugas
tersebut. Lembaga, yang merupakan tempat atau wadah yang dilengkapi dengan
sarana dan prasarana bagi aparat yang akan melaksanakan tugasnya.
Bagi seorang aparat, mendapatkan tugas merupakan mendapatkan kepercayaan
untuk dapat mengemban tugas dengan baik dan harus dikerjakan dengan sebaiknya.
Untuk mengerjakan tugas tersebut akan terkandung sebuah tanggung jawab dalam
melaksanakan dan mengerjakan tugas tersebut.
A.

Pengertian Hakim
Hakim berasal dari kata : sama artinya dengan qadhi yang berasal dari kata
artinya memutus. Sedangkan menurut bahasa adalah orang yang bijaksana atau orang
yang memutuskan perkara dan menetapkannya. Adapun pengertian menurut Syar'a
Hakim yaitu orang yang diangkat oleh kepala Negara untuk menjadi hakim dalam
menyelesaikan gugatan, perselisihan-perselsihan dalam bidang hukum perdata oleh
karena penguasa sendiri tidak dapat menyelesaikan tugas peradilan[1]. Sebagaimana
Nabi Muhammad SAW telah mengangkat qadhi untuk bertugas menyelesaikan
sengketa di antara manusia di tempat-tempat yang jauh, sebagaimana ia telah
melimpahkan wewenang ini pada sahabatnya. Hakim sendiri adalah pejabat peradilan
Negara yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili.
Sedangkan menurut undang-undang Republik Indonesia nomer 48 tahun 2009
tentang Kekuasaan Kehakiman bahwa yang dimaksud dengan hakim adalah hakim
pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada di bawahnya
dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan
militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan hakim pada pengadilan khusus
yang berada dalam lingkungan peradilan tersebut[2].
Dengan demikian hakim adalah sebagai pejabat Negara yang diangkat oleh
kepala Negara sebagai penegak hukum dan keadilan yang diharapkan dapat
menyelesaikan permasalahan yang telah diembannya meneurut undang-undang yang

berlaku.

Hakim merupakan unsur utama di dalam pengadilan. Bahkan ia identik

dengan pengadilan itu sendiri. Kebebasa kekuasaan kehakiman seringkali diidentikkan


dengan kebebasan hakim.Demikian halnya, keputusan pengadilan diidentikkan dengan
keputusan hakim.Oleh karena itu, pencapaian penegakkan hukum dan keadilan terletak
pada

kemampuan

dan

kearifan

hakim

dalam

merumuskan

keputusan

yang

mencerminkan keadilan.
B.

Hukum menjadi hakim


Menjadi hakim hukumnya fardu kifayah jika tidak ada orang yang sanggup untuk
menjadi hakim. Dan disunatkan apabila jika memang dirinya lebih pantas dibandingkan
dengan orang lain yang juga layak bekapasitas untuk menjadi hakim, Sebaliknya jika
orang lain lebih layak menjadi hakim maka kita makruh hukumnya menjadi hakim.
Hukumnya mubah apabila didapatkan orang lain sama kelayakannnya untuk menjadi
hakim, dan haram hukumnya manakala ,memang tidak mempunyai kapasitas
kemampuan untuk menjadi hakim[3].
Meminta untuk menjadi hakim hukumnya ada lima: wajib, mubah, mustashab,
makruh dan haram.

v Wajib adalah jika orang itu ahli ijtihad atau dari kalangan ahli ilmu dan bersikap adil dan
di daerah itu tidak terdapat hakim atau ada hakim tetapi tidak legal pengangkatannya
atau di tempat itu tidak ada oarang yang layak menjadi hakim, atau karena keadaannya
yang apabila tidak diikuti keputusannya, dia akan menyerakan keputusannya kepada
orang yang tidak legal pengangkatannya.
v Mubah apabila

seseorang

fakir

dan

mempunyai

tanggungan

nafkah

tehadap

keluarganya, maka ia diperbolehkan berusaha mendapatkan penghasilan untuk


menutupi kefakirannya itu.
v Mustashab apabila di suatu tempat terdapat orang yang berilmu tidak diketahui
masyarakat, kemudian penguasa ingin memperkenalkan tentang keberadaannya
dengan jalan mengangkatnya menjadi hakim atau orang tersebut berusaha untuk
menjadi hakim, maka dimustahabkan baginya untuk memangku jabatan hakim.
v Makruh usaha untuk menjadi hakim dalam rangka untuk memperoleh kemegahan dan
ketinggian, bagi orang-orang seperti ini dimakruhkan.

v Haram jika seseorang berusaha meminta menjadi hakim sedangkan dia tidak punya
kapasitas dalam masalah peradilan, atau dia berusaha menjadi hakim dan dia dari
kalangan ahli ilmu akan tetapi dia fasik.
C.

Syarat-syarat menjadi Hakim


Terkait syarat untuk menjadi seorang hakim para fuqoha berbeda pendapat, di
antara mereka ada yang mengatakan bahwa seorang Qodhi/hakim harus memenuhi 15
syarat, dan ada juga yang mengatakan cukup 7 syarat serta ada juga yang
berpendapat cukup dengan 3 syarat. Meskipun mereka berselisih tentang jumlah itu,
tetapi beberapa syarat terpenuhi oleh yang lain dan sejumlah syarat dapat di cakup
oleh syarat yang lain
Secara globalnya syarat menjadi Qodhi/hakim itu sebagai berikut :
1. Laki-laki;
2. Berakal
3. Islam;
4. Adil;
5. Berpengetahuan

tentang

pokok-pokok

hukum

agamadan

cabang-

cabangnya, dan
6. Sehat pendengaran, penglihatan dan ucapanny
Kemudian menurut Ibnu Rusyd, syarat menjadi hakim adalah:

Merdeka;
Islam;
Aqil Balig;
Laki-laki dan
Bersikap Adil

Selanjutnya menurut Yahya Zakaria Al-Ansari, hakim hendaklah ahli dalam


masalah kesaksian, yaitu:

Beragama Islam;
Mukalaf;
Merdeka;
Laki-laki;
Bersifat adil; dan
Mendengar, melihat, dapat berbicara dan menguasai masalah peradilan.

Karena itu janganlah mengankat orang kafir, anak-anak, orang gila, hamba
sahaya, perempuan, banci, orang fasik, orang tuli, orang buta, orang bisu walaupun
isyaratnya dapat dipahami, orang yang pelupa, penipu, orang yang sakit-sakitan[7].
Selain syarat di atas hakim harus seorang mujtahid, yakni paham hukum-hukum
al-Qur`an, as-Sunnah. Berkaitan dengan al-Quran mencakup khas dan `amm, mujmal
dan mubayan, mutlaq dan muqayyad, nas dan zahir, nasikh dan mansukh.Berkait
dengan as-Sunnah mencakup mutawatir, ahad, mustahil dan lain sebagainya.Juga
Qiyas dan macam-macamnya meliputi qiyas aulawi, qiyas musawi dan qiyas
adwan.Hakim hendaklah orang yang menguasai perawi meliputi kuat dan lemahnya,
mendahulukan yang khas dari yang `amm apabila terjadi pertentangan, mendahuliukan
yang muqayyad dari yang mutlaq, mendahulukan yang nas dari yang zahir,
mendahulukan yang muhkan dari yang mutasyabih, mendahulukan yang nasikh dari
yang mutasil dan yang kuat dari yang lemah. Hendaklah hakim menguasai lisanul `Arab
(bahasa Arab), menguasai pendapat para ulama baik yang disepakati maupun yang
diperselisihkan
Di Indonesia Untuk dapat diangkat menjadi hakim di Pengadilan dalam lingkungan
Badan Peradilan Agama adalah sebagai berikut :
v Menurut UU. Nomor 7 Tahun 1989:
1.
2.
3.
4.
5.

Warga negara Indonesia;


Beragama Islam;
Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
Setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;
Bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk
organisasi massanya atau bukan seseorang yang terlibat langsung ataupun tak
langsung dalam "Gerakan Kontra Revolusi G.30.S/PKI", atau organisasi terlarang

yang lain;
6. Pegawai negeri;
7. Sarjana syari'ah atau sarjana hukum yang menguasai hukum Islam;
8. Berumur serendah-rendahnya 25 (dua puluh lima) tahun;
9. Berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela.
v Menurut UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Pertama UU Nomor 7 Tahun 1989
syarat dapat diangkat menjadi hakim adalah seseorang harus memenuhi syarat
sebagai berikut:

1. Warga negara Indonesia;


2. Beragama Islam;
3. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
4. Setia kepada Pancasila dan Undang-Undang

Dasar

Negara

Republik

Indonesia Tahun 1945;


5. Sarjana syariah dan/atau sarjana hukum yang menguasai hukum Islam;
Sehat jasmani dan rohani;
6. Berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela; dan
7. Bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia termasuk
organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung dalam Gerakan 30
September/Partai Komunis Indonesia.
8. Untuk dapat diangkat menjadi hakim harus pegawai negeri yang berasal dari
calon hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan berumur paling rendah 25
(duapuluh lima) tahun.
v Menurut UU Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua UU Nomor 7 Tahun 1989
syarat dapat diangkat menjadi hakim pengadilan agama, seseorang harus memenuhi
syarat sebagai berikut:

Warga negara Indonesia;


Beragama Islam;
Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
Setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945;
Sarjana syariah, sarjana hukum Islam atau sarjana hukum yang menguasai hukum

Islam;
Lulus pendidikan hakim;
Mampu secara rohani dan jasmani untuk menjalankan tugas dan kewajiban;
Berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela;
Berusia paling rendah 25 (dua puluh lima) tahun dan paling tinggi 40 (empat puluh)

tahun; dan
Tidak pernah dijatuhi pidana penjara karena melakukan kejahatan berdasarkan
putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Kesemua persyaratan itu menunjukkan suatu perpaduan antara produk

pemikiran fuqaha dengan ketentuan yang berlaku secara umum bagi hakim pada
pengadilan tingkat pertama. Secara umum persyaratan hakim pada semua badan
peradilan adalah sama. Hal itu terlihat dalam tujuh dari semua persyaratan, yang juga

harus dipenuhi oleh calon hakim pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tata Usaha
Negara. Sedangkan syarat beragama islam dan sarjana syariah hanya berlaku bagi
calon hakim pada pengadilan di lingkungan Peradilan Agama, yang erat hubungannya
dengan produk pemikiran fuqaha. Hal itu konsisten dengan kekhususan badan
peradilan itu di Indonesia, yang berwenang mengadili perkara perdata tertentu menurut
hukum Islam di kalangan orang-orang yang beragama Islam.
D.
1.

Tugas dan fungsi Hakim


Tugas hakim
Peradilan
mempunyai

agama

tugas

sebagai

pokok

untuk

salah

satu

menerima,

pelaksana
memriksa

kekuasaan
dan

kehakiman

mengadili

serta

menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya guna menegakkan hukum dan
keadilan berdasarkan pancasila demi terselenggaranya Negara Hukum Republik
Indonesia (Pasal 1 dan 2 UU. No.14/1970)[9].
a)

Tugas Yustisial
Hakim peradilan agama mempunyai tugas untuk menegakkan hukum perdata
islam yang menjadi kewenangannya dengan cara-cara yang diatur dalamhukum acara
peradilan agama.
Adapun tugas-tugas pokok hakim di pengadilan agama adala sebagai
berikut :s Membantu mencari keadilan (Pasal 5 ayat (2) UU. No. 14/1970);
ii.

Mengatasi segala hambatan dan rintangan (Pasal 5 ayat (2) UU.

No.14/70);
iii.

Mendamaikan para pihak yang bersengketa (Pasal 30 HIR/ Pasal 154

Rbg);
iv.
v.
vi.
vii.
viii.
14/1970);

Memimpin persidangan (Pasal 15 ayat (2) UU. 14/1970);


Memeriksa dan mengadili perkara (Pasal 2 (1) UU. 14/1970);
Meminitur berkas perkara (184 (3), 186 (2) HIR);
Mengawasi pelaksanaan putusan (Pasal 33 (2) UU. 14/1970);
Memberikan pengayoman kepada pencari keadilan (Pasal 27 (1) UU.

ix.

Menggali nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat (Pasal 27 (1)

14/70);
x.
b)

Mengawasi penasehat hukum[10].

Tugas Non Yustisial


Selain tugas pokok sebagai tugas justisial tersebut, hakim juga mempunyai tugas
non justisial, yaitu :
i.
ii.

Turut melaksanakan hisab, rukyat dan mengadakan kesaksian hilal;

iii.

Sebagai rokhaniawan sumpah jabatan;

iv.

Memberikan penyuluhan hukum;

v.
vi.
2.

Tugas pengawasan sebagai hakim pengawas bidang;

Melayani riset untuk kepentingan ilmiah;


Tugas-tugas lain yang diberikan kepadanya[11].

Fungsi Hakim
Fungsi hakim adalah menegakkan kebenaran sesunggyuhnya dari apa yang
dikemukakan dan dituntut oleh para pihak tanpa melebihi atau menguranginya terutama
yang berkaitan dengan perkara perdata, sedangkan dalam perkara pidana mencari
kebenaran sesungguhnya secara mutlak tidak terbatas pada apa yang telah dilakukan
oleh terdakwa, melainkan dari itu harus diselidiki dari latar belakang perbuatan
terdakwa. Artinya hakim pengejar kebenaran materil secara mutlak dan tuntas.
Di sini terlihat intelektualitas hakim yang akan teruji dengan dikerahkannya
segenap kemampuan dan bekal ilmu pengetahuan yang mereka miliki, yang semua itu
akan terlihat pada proses pemeriksaan perkara apakah masih derdapat pelanggaranpelanggaran dalam teknis yustisial atau tidak.

Jpu
Berdasarkan pasal 8 Undang-Undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, seorang jaksa
penuntut umum dalam pelaksanaan tugas dan wewenang: bertindak untuk dan atas nama negara,
bertanggungjawab sesuai saluran hirarki; demi keadilan dan kebenaran berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa, melakukan penuntutan dengan keyakinan berdasar alat bukti yang sah;
senantiasa bertindak berdasar hukum, mengindahkan norma-norma keagamaan, kesopanan, dan
kesusilaan; wajib menggali dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam
masyarakat, serta senantiasa menjaga kehormatan dan martabat profesinya. Bebas Dari Intevensi

Siapapun Dalam melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan, dilaksanakan secara


merdeka, dimana dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab itu seorang jaksa harus terlepas
dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh kekuasaan lainnya.Hal ini berdasarkan pasal
2 UU tersebut.Selanjutnya dalam pasal 37 ayat 1 disebutkan bahwa Jaksa Agung
bertanggungjawab atas penuntutan yang dilaksanakan secara independen demi keadilan
berdasarkan hukum dan hati nurani.Pertanggungjawaban Jaksa Agung disampaikan kepada
Presiden dan DPR sesuai dengan prinsip akuntabilitas. Dalam pelaksanaan tugas, terdapat istilah
Single Prosecution System dimana kejaksaan adalah satu dan tidak terpisahkan, satu landasan
dalam pelaksanaan tugas di bidang penuntutan yang bertujuan pelihara kesatuan kebijakan
penuntutan yang menampilkan ciri khas yang menyatu dalam tata pikir, tata laku, dan tata kerja
kejaksaan. Melihat Fakta Yang Ada Dalam Persidangan Anand Krishna Prof Dr Eddy OS Hiariej
mengatakan,kasus Anand Krishna ini adalah rekayasa, apa yang disebut fakta tidak terbukti di
pengadilan. Menurutnya, karena secara material tidak terpenuhi dan pembuktian di pengadilan
tidak ada, maka hanya ada satu putusan.Ya, harus dibebaskan, Sejak awal kasus ini memang
lemah dan seharusnya pihak Jaksa Penuntut mengetahui hal ini, dimana tidak ada saksi yang
dapat menyatakan dengan pasti bahwa telah melihat sendiri dengan mata kepalanya sendiri telah
terjadi tindakan yang dituduhkan terhadap Anand Krishna.Namun semua saksi mengatakan
katanya, katanya telah terjadi tindak pelecehan, namun tidak pernah melihatnya sendiri. Secara
umum definisi saksi telah tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP)
yang telah diratifikasi menjadi Undang-Undang No 8 Tahun 1981 dalam Pasal 1 angka 35
KUHAP yang menyatakan bahwa saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna
kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar
sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. Prof Dr Eddy OS Hiariej menambahkan Unsur
rekayasa dalam kasus tersebut terlihat kasat mata dari pelaksanaan sidang yang berlangsung
selama ini, di dalam persidangan tersebut hanya ada 1 saksi padahal di dalam hukum 1 saksi
adalah bukanlah saksi. Karena di dalam persidangan Anand Krishna ini hanya ada pelapor dan
saksi-saksi yang di hadirkan tidak mampu memberikan kesaksian bahwa telah melihat terjadi
tindak perbuatan yang dituduhkan terhadap Anand Krishna. Harusnya Jaksa PenuntutUmum
Menghentikan Kasus Ini Sejak Awal Melihat dari bukti materi hukum yang tidak cukup harusnya
jaksa penuntut umum(JPU) Martha Berliana Tobing SH tidak melanjuti kasus ini, karena
memang tidak cukup bukti dan juga dalam poin 2 tentang Tanggungjawab Dalam Pelaksanaan

Tugas dan Wewenang disebutkan demi keadilan dan kebenaran berdasarkan Ketuhanan Yang
Maha Esa, melakukan penuntutan dengan keyakinan berdasar alat bukti yang sah Penuntututan
harus di lakukan dengan keyakinan berdasarkan alat bukti yang sah, dan dalam kasus Anand
Krishna initidak cukup bukti, selain saksi hasil visum menerangkan bahwa TR (korban pelapor)
masih perawan. Pernyataan Sikap Forum Kristiani Pemerhati Lembaga Peradilan untuk Anand
Krishna Melihat kondisi tersebut Forum Kristiani Pemerhati Lembaga Peradilan untuk Anand
Krishna (ForKrisPerAdilan AK), memberikan pernyataan sikap yang disampaikan untuk JPU
Martha Berliana Tobing SH . Kepada Yth: Ibu Jaksa Penuntut Umum, Martha Berliana Tobing
SH. Di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan Lampiran:3 bundel (Pernyataan sikap, klipping media
dan data simpatisanForum) Hal:Dukungan agar tetap berdiri pada Jalan Kasih Yesus Kristus
No:03/B/ForKrisPeraAdilan AK/VI/2011 Syalom Izinkanlah kami memperkenalkan diri.
Kami adalah Forum Kristiani Pemerhati Lembaga Peradilan untuk Anand Krishna
(ForKrisPerAdilan AK), berasal dari beragam denominasi gereja, nama, alamat dan keterangan
diri lainnya terlampir.Forum ini adalah bentuk reaksi dan kepeduliankamisebagai responden pada
berbagai jejaring media on line, web, FB, danBlog yang mencurigai adanya ketidakberesan dan
ketidakadilan yang sedang terjadi proses persidangan tidak berjalan di atas rel pasal yang
didakwakan. Dilandasi rasa keprihatinan yang mendalam maka kami menyampaikan surat ini.
Ibu Martha Berliana Tobing SH. yang kami hormati,kami tahu tugas Ibu sebagai Jaksa Penuntut
Umum ( JPU) dalam kasus Anand Krishna ini begitu berat. Namun kami lebih peduli lagi
terhadap Ibu Martha Berliana Tobing SH., sebagai saudara seiman- Kristen, kiranya tetap
(lebih) mengedepankan penegakan Kebenaran, Kejujuran dan Keadilan berdasarkan fakta dan
logika hukum. Kami berdoa, agar Ibu Martha Berliana Tobing SH. yang baik , terhindar dari
belitan konspirasi yang begitu kental terasa dalam perjalanan kasus ini. KiranyaKasih Yesus
Kristus senantiasa melindungi, menerangi pikiran dan hati Ibu dalam menjalankan tugas.Kami
pun berdoa kiranya Ibu JPU Martha Berliana Tobing SH membentengi diri terhadap hasutan
yang bisa menjauhkan diri dari pesan Cinta-Kasih Yesus Kristus.Kami begitu peduli, sehingga
forum iniakantetap memantau, mempelajari semua fakta dan pendapat ahli pada berbagai media
cetak, on line, TV, dan Radio.Kasus ini telah menjadi perhatian dunia.Selanjutnya adalah
tanggung jawab moral kami untuk tetap menyuarakannya, meneruskannya hinggake dunia
internasional.Hal ini semata-mata kami lakukan karena sosok Anand Krishna sangat berarti bagi
perjuangan Pluralisme/Kebhinnekaan, Nasionalisme dan bahkan beliau aktif membela gereja-

gereja yang mendapat serangan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Ia seorang
tokoh yang diperlukan generasi muda demi mempertahankan NKRI
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/surahman/peran-penting-jaksa-penuntut-umumdalam-menegakan-keadilan_5501016fa33311ef6f512c99