Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
Dermatitis atopik merupakan penyakit inflamasi, kronik berulang, dan
penyakit kulit dengan pruritus hebat yang sering terjadi pada keluarga dengan
penyakit atopik (dermatitis atopik, asma bronkial dan/atau alergi rhinoconjungtivitis). Kurang dari 10 % dianggap kasus parah karena intensitas penyakit
dan luasnya (SCORAD > 40) atau sulitnya pengobatan. Alasan untuk parahnya
DA didasarkan pada individu (misalnya genetik, fungsi penghalang, alergi) faktor
resiko dan kadang-kadang bermasalah pula pada terapi seperti kesalahpahaman
mengenai pengobatan topikal. Penatalaksanaan DA merupakan sebuah tantangan,
karena membutuhkan pengendalian jangka pendek gejala yang efisien, tanpa
mengorbankan rencana pengelolaan keseluruhan yang ditujukan untuk stabilisasi
jangka panjang, pencegahan, dan pencegahan efek samping.(1)
Saat ini, setidaknya ada empat evidence-based international guidelines
tentang pengelolaan DA. Diantaranya, "Atopik Eksim Pada Anak" yang
diterbitkan oleh National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) pada
bulan Desember 2007 dan satu-satunya pengelolaan khusus untuk anak sejak lahir
sampai 12 tahun. Pedoman NICE mencakup rekomendasi komprehensif tentang
diagnosis, penilaian dan manajemen dengan mengacu pada bukti-bukti yang
terdapat saat ini.(2)
DA dapat dibagi menjadi tiga tahap: dermatitis atopik bayi, terjadi pada 2
bulan sampai 2 tahun; dermatitis atopik pada anak-anak, 2-10 tahun; dan
dermatitis atopik dewasa. Di semua tahapan, pruritus adalah ciri khas dari
dermatitis atopik. Gatal sering mendahului munculnya lesi, karena itu konsep
dermatitis atopik adalah the itch that rashes.(3)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Dermatitis atopik (DA) adalah keadaan peradangan kulit kronis dan
residif, disertai gatal, yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anakanak, sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat
atopi pada keluarga atau penderita. Kelainan kulit berupa papul gatal, yang
kemudian mengalami ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya di lipatan
(fluksural). Diagnosis DA didasarkan kriteria yang disusun oleh Hanifin dan
Rajka yang diperbaik oleh kelompok kerja dari inggris yang dikoordinasi oleh
williams (1994).(4)
Kata atopi pertama kali diperkenalkan oleh Coca (1923), yaitu istilah
yang dipakai untuk sekelomok penyakit atau individu yang mempunyai riwayat
kepekaan dalam dalm keluarganya. Misalnya: asma bronkial, rinitis alergik,
dermatitis alergi, dan konjungtivitis alergik.(4)
B. EPIDEMIOLOGI
Sejak tahun 1960, telah terjadi peningkatan kasus dermatitis atopik
sebanyak 3 kali lipat. Studi terbaru menunjukkan prevalensi anak-anak yang
terkena dermatitis atopik adalah kira-kira 10-20% di Amerika Serikat, Eropa
Utara dan Barat, Afrika, Jepang, Australi, dan negara industrial yang lain.
Prevalensi orang dewasa sekitar 1- 3%. Namun begitu, prevalensi dermatitis
atopik lebih rendah di negara-negara agrikultur seperti China dan Eropa timur,
pedalaman Afrika, dan Asia tengah. Rasio antara penderita perempuan/lelaki
adalah 1.3:1. Peningkatan prevalensi ini tidak diketahui penyebabnya.(5)

C. ETIPATOGENESIS
1. Peningkatan IgE dan respon inflamasi
Peran IgE dalam DA tidak diketahui. IgE meningkat pada
kebanyakan serum pasien dengan DA, tetapi 20% pasien DA
mempunyai serum IgE yang normal dan tidak mempunyai reaktivitas
terhadap alergen. Tingkat IgE tidak selalu berkorelasi dengan aktivitas
penyakit, sehingga peningkatan serum IgE hanya dapat dianggap
sebagai bukti pendukung untuk diagnosa DA. Total IgE secara
signifikan lebih tinggi pada anak dengan riwayat hidup penyakit
pernapasan atopik pada semua kelompok umur. Kebanyakan orang
dengan DA memiliki riwayat rhinitis alergi pribadi atau keluarga serta
asma dan peningkatan serum antibodi IgE terhadap udara atau tertelan
antigen protein. DA biasanya berkurang pada spring hay fever
season, yaitu ketika aeroalergen berada pada konsentrasi maksimum.(6)
2. Eosinofilia darah
Eosinofil mungkin sel efektor utama dalam DA. Eosinofil darah
Perhitungan kasar eosinofil darah berkorelasi dengan tingkat severitas
penyakit,

meskipun

banyak

pasien

dengan

penyakit

berat

memperlihatkan jumlah eosinofil periferyang normal dalam darah.


Pasien dengan jumlah eosinofil yang normal adalah terutama pada
mereka yang mengalami dermatitis atopik sahaja; pasien dengan
dermatitis atopik yang berat dan yang mempunyai alergi pernapasan
umumnya mempunyai eosinofil darah perifer yang meningkat. Tidak
terdapat akumulasi eosinofil pada jaringan; namun, degranulasi
eosinofil pada dermis melepaskan protein yang dapat menyebabkan
pelepasan histamin dari basofil dan sel mast dan merangsang gatal,
iritasi, dan likenifikasi.(6)

3. Penurunan cell-mediated immunity


Beberapa fakta menunjukkan bahwa pasien DA mempunyai cellmediated immunity yang terganggu. Pasien dapat terkena infeksi kulit
melalui virus herpes simpleks (eczema herpeticum) meskipun
dermatitis tidak aktif. Ibu dengan herpes labialis yang aktif harus
menghindari kontak langsung dari lesi aktif mereka dengan kulit anakanak mereka, seperti berciuman, terutama jika anak mengalami
dermatitis. Insiden alergi kontak (misalnya, mengurangi kepekaan
terhadap poison ivy) mungkin lebih rendah dari normal dalam pasien
dermatitis atopik. Namun, beberapa studi menunjukkan tingkat
sensitisasi yang sama.(6)
4. Aeroalergen
Aeroalergen dapat memainkan peran penting dalam menyebabkan
lesi ekzema. Tingkat reaksi patch test adalah: debu rumah (70%),
tungau (70%), kecoa (63%), cetakan campuran (50%), dan rumput
campuran (43%). Pasien dengan DA sering menunjukkan reaksi
garukan dan intradermal yang positif ke sejumlah antigen, menghindari
antigen ini jarang dapat memulihkan dermatitis.(6)
D. GEJALA KLINIS
Tampilan DA berbeda tergantung umur pasien. Pada bayi timbul vesikel
eksudat yang gatal pada wajah dan tangan, sering disertai infeksi sekunder.
Setelah 18 bulan, polanya sering berubah pada daerah antecubiti dan fossa
poplitea, leher, pergelangan tangan dan pergelangan kaki. Pada wajah sering
terlihat eritema disertai likenifikasi, ekskoriasi dan kulit kering.(7)
Sensasi yang sangat gatal dan reaktivitas kulit merupakan gejala kardinal
pada dermatitis atopik. Rasa gatal bisa hilang timbul sepanjang hari tetapi
bertambah berat pada awal sore dan malam. Konsekuensi yang bisa terjadi adalah
menggaruk, papul prurigo, likenifikasi, dan lesi pada kulit yang ekzema. Lesi kulit
yang akut pula ditandai dengan gejala seperti sensasi yang sangat gatal, papul

eritema dengan ekskoriasi, vesikel pada kulit yang eritem, dan eksudat serosa.
Dermatitis subakut pula ditandai dengan gejala seperti papul eritematous
berskuama yang disertai dengan ekskoriasi. Dermatitis kronik ditandai dengan
gejala seperti plak yang menebal pada kulit, likenifikasi, dan papul fibrotik
(prurigo nodularis).(3,5,7)
Kriteria mayor

Kriteria minor

1. Pruritus
2. Jenis morfologi dan distribusi
Likenifikasi fleksura pada
orang dewasa
Keterlibatan
wajah
dan
ekstensor pada bayi dan anakanak
3. Dermatitis kronik yang berulang
4. Riwayat keluarga atau personal
terhadap penyakit atopik (asma,
rhinitis alergi, dermatitis atopik)

1. Xerosis
2. Ichthyosis/
hyperlinear
pada
tangan
3. IgE reaktif (RAST +)
4. Peningkatan IgE
5.
6. Infeksi (kulit) S.aureus, herpes
simpleks
7. Dermatitis tangan non-alergi,
iritan
8. Dermatitis payudara
9. Cheilitis
10. Konjungtivitis - rekuren
11. Dennie-Morgan Infraorbital fold
12. Keratokonus
13. Katarak (anterior-subkapsular)
14. Warna hitam pada orbital
15. Facial palor/facial eritema
16. Pityriasis alba
17. Gatal sewaktu berkeringat
18. Intoleren pada wool
19. Eksim asentuasi perifolikuler
20. Intoleren terhadap makanan
21.
22. Dermografisme putih

Table 1. Kriteria Dermatitis Atopik

Gambar 1. DA pada bayi dengan infeksi sekunder serta ekskoriasi dan


likenifikasi pada pergelangan tangan.

Gambar 2. DA pada anak-anak, lesi pada fossa poplitea.

Gambar 3. DA pada dewasa, banyak likenifikasi dan nodular.

E. DIAGNOSA
Tidak ada tes diagnostik khusus untuk DA. Diagnosa gangguan tersebut
berdasarkan kriteria tertentu berdasarkan riwayat dan manifestasi klinis pasien.
Meskipun berbagai kriteria diagnostik untuk DA telah diusulkan dan divalidasi,
penggunaan beberapa kriteria tersebut banyak yang memakan waktu dan
memerlukan pengujian invasif. Kriteria yang diusulkan Williams mudah
digunakan, tidak memerlukan pengujian invasif, dan telah terbukti memiliki
sensitivitas tinggi dan spesifisitas untuk diagnosis DA. Menggunakan kriteria ini,
diagnosis DA membutuhkan adanya suatu kondisi kulit gatal (laporan orangtua /
pengasuh bahnwa anak menggaruk atau menggosok) ditambah tiga atau lebih
krietia ringan berikut: (4,8)
1. Riwayat terkenanya lipatan kulit, misalnya lipatan siku, belakang lutut,

bagian depan pergelangan kaki atau sekeliling leher(termasuk pipi anak


usia dibawah 10 tahun)
2. riwayat asma bronkial atau hay fever pada penderita (atau riwayat penyakit

atopi pada keluarga tingkat pertama dari anak di bawah 4 tahun)


3. riwayat kulit kering secara umum pada tahun terakhir.
4. Adanya dermatitis yang tampak di lipatan(atau dermatitis pada pipi/dahi

dan anggota badan bagian luar anak di bawah 4 tahun).


5. Awitan di bawah usia 2 tahun (tidak digunakan bila anak di bawah 4

tahun)
F. DIAGNOSA BANDING
Diagnosa banding bagi penyakit dermatitis atopik dapat dilihat dalam table
berikut: (9)
Diagnosis
Dermatitis seboroik

Deskripsi
Merah, mengkilap, berbatas tegas yang biasanya
melibatkan daerah popok pada bayi usia empat
bulan atau lebih muda. Perut bagian bawah, ketiak,
dan kulit kepala (cradle cap). Bayi terlihat nyaman.
Sembuh dalam beberapa bulan.

Dermatitis numular

Dermatitis kontak iritan

Dermatitis kontak alergi

Eritema "retak" dengan diameter 1-5 cm dengan


diameter yang awalnya timbul pada tungkai.
Kerusakan kumulatif dari sawar kulit dari iritan
seperti sabun dan deterjen. Penampilan klinis dapat
identik dengan dermatitis atopik , tapi berlokasi
pada tempat yang terkena paparan maksimal
( misalnya jari ) dapat membantu dalam membuat
diagnosis.
Reaksi hipersensitivitas timbul setelah sensitisasi
terhadap zat-zat tertentu (misalnya, nikel dalam
perhiasan, karet dalam sarung tangan, atau lem pada
sepatu). lokalisasi mungkin dapat menegaskan
diagnosis, namun tes patch dibutuhkan untuk
memastikannya.

Table 2. Differensial Diagnosis Dermatitis Atopik


G. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita dermatitis atopik adalah
seperti berikut(10)
1. kualitas hidup

Aspek psikososial
pada anak-anak, salah satu dampak yang paling mengganggu dari penyakit
ini adalah pada pola tidur.

Pertumbuhan terhambat
terhambatnya pertumbuhan dapat dikaitkan dengan dermatitis atopik. Ini
dapat dilihat dari pada kasus berat sebelum pengguanaan terapi
kortikosteroid dan karena itu dapat dikaitkan dengan DA.

2. infeksi bakteri
Infeksi bakteri sekunder staphylococcus atau streptococcus sebenarnya
merupakan bagian dari gambaran klinis. Meskipun tanpa terlihat eksudat
purulen.

3. infeksi virus
Pasien dengan dermatitis atopik , baik aktif dan diam , besar kemungkinan
menyebabkan timbulnya infeksi general akut dengan herpes simpleks
( eksim herpeticum ) dan vaccinia ( eksim vaccinatum ) virus.
4. kelainan okuli
Iritasi konjungtiva adalah sindrom umum pada penderita atopik. Dapat
pula terjadi keratoconus dan katarak.
5. Miscellaneous
Cartilaginous pseudocyst dari aurikula eksternal mungkin lebih umum
pada anak dengan dermatitis atopik
H. PENATALAKSANAAN
Langkah-langkah umum dalam penatalaksanaa dermatitis atopik meliputi
menjelaskan mengenai penyakit dan pengobatan kepada pasien dan orang tuanya,
menekankan biasanya prognosis adalah baik. Seorang anak harus mengenakan
pakaian cotton longgar dan menghindari wool dan cuaca panas yang
berlebihan. Kuku harus dipotong pendek. Kucing dan anjing menyebabkan
eksaserbasi pada beberapa pasien dan sebaiknya dijauhkan. Pengecualian tungau
housedust dari rumah lingkungan adalah sulit.(7)
Pengobatan

Indikasi

Emolien

Dermatitis; Ichtyosis

Steroid topical

Semua tipe dermatitis

Takrolimus topical

Dermatitis pada wajah dan tangan

Perban tar

Dermatitis likenifikasi/ekskoriasi

Antihistamin oral

Pruritus

Antibiotik oral

Superinfeksi bakteri

Pengecualian diet

Alergi makanan/dermatitis resisten

PUVA, cyclosporine dan azathiopine

Dermatitis resisten dan kronik

Tabel 3. Pengobatan pada dermatitis atopik.

Terapi topikal(7)

Emolien

Emulsi seperti krim berair dan salep pengemulsi harus digunakan secara teratur
pada kulit dan sebagai sabun pengganti. Emolien melembabkan kulit kering,
mengurangi keinginan untuk menggaruk dan mengurangi kebutuhan untuk steroid
topikal. Emolien minyak mandi juga dapat membantu.

Steroid topikal dan tacrolimus

Aturannya adalah untuk meresepkan steroid yang paling kurang poten namun
yang paling efektif. Pada anak-anak, salep hidrokortison 1% diterapkan dua kali
sehari biasanya cukup (salep umumnya lebih disukai daripada krim bagi pasien
ekzema). Kadang-kadang diperlukan untuk menggunakan steroid yang cukup
ampuh untuk waktu yang singkat pada anak-anak dengan dermatitis resiten, dan
periode yang lebih lama pada orang dewasa dengan ekzema kronik. Salep
tacrolimus (Protopic: Primecrolimus 0,03% anak-anak, orang dewasa 0,1%)
merupakan agen imunosupresif, terutama untuk dermatitis pada wajah dan tangan.

Antibiotik topikal atau antiseptik

Antibiotik topikal atau antiseptik dapat digunakan untuk dermatitis yang


terinfeksi, baik dengan kombinasi steroid (misalnya Fucibet cream) atau terpisah
(misalnya Bactroban atau Fucidin salep).

Coal tar atau pasta ichtamol

Coal tar atau paichtamol berguna untuk dermatitis yang likenifikasi atau
ekskoriasi, digunakan sebagai obat oklusif perban (mis. Coltapaste atau
Ichthopaste) biasanya dibiarkan semalaman.

Teknik wet-wrap

Wet-wrap sering digunakan dalam waktu yang singkat pada dermatitis eksudatif.
Terapi sistemik(7)
Antihistamin sedatif, seperti prometazin atau trimeprazine, diberikan pada
malam hari, dapat membantu mengurangi keinginan untuk menggaruk pada anakanak dan orang dewasa. Eksaserbasi terinfeksi sering memerlukan penggunaan

intermiten dari antibiotik melalui mulut, dan flukloksasilin sering menjadi pilihan.
Ekzema herpeticum biasanya merupakan indikasi untuk masuk ke rumah sakit
(dengan isolasi pasien yang tepat), pengobatan dengan asiklovir (Zovirax). Pasien
dengan dermatitis atopic yang resiten dan kronik dapat diobati dengan Ultraviolet
B (UVB) atau Psoralen combined with Ultraviolet A (PUVA), azathioprine atau
siklosporin, diberikan selama 8 minggu.
Modifikasi diet(7)
Beberapa anak dengan dermatitis atopik mempunyai riwayat alergi
terhadap makanan (mis. urtikaria mulut pada kontak dengan makanan, atau gejala
gastrointestinal) dan jelas bahwa makanan yang menyebabkan alergi harus
dihindari. Jika tidak, pengobatan diet dicadangkan untuk minoritas yang belum
membaik dengan standard terapi. Diet bebas dari susu sapi atau telur dapat
diperhatikan oleh ahli gizi untuk memastikan pengecualian dan mencegah
kekurangan gizi.

DAFTAR PUSTAKA

Darsow

et al. World Allergy Organization


http://www.waojournal.org/content/6/1/6

Journal

2013,

6:6

HK J Paediatr. Clinical Guidelines on Management of Atopic Dermatitis

in Children. 2013;18:96-104
James

W. Atopic Dermatitis, Eczema and Non-Infectious


Immunodeficiency Disorder. In: James W, editor. Andrew's Disease of The
Skin:Clinical Dermatology. 10th ed. Philadelphia: Pa: Mosby Elsevier;
2009. p. 69-76.

Djuanda, A. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai

Penerbit FKUI. p. 138-47


Leung D. Atopic Dermatitis. In:

Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI,


Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ, editors. Fitzpatricks Dermatology in
General Medicine. 7th Edition. USA: McGraw-Hill Company; 2008. p.
146-58

Habif TP. Atopic Dermatitis. In: Habif TP, editor. Clinical Dermatology: A

Color Guide to Diagnosis and Therapy. 4th Edition. USA: Mosby; 2003.
p.105-7
Gawkrodger

DA. Atopic Eczema. In: Gawkrodger DA, editor.


Dermatology: An Illustrated Colour Text. 3rd Edition. USA: Churchill
Livingstone; 2003. p. 32-3

Watson and Kapur Allergy, Asthma & Clinical Immunology 2011, 7

(Suppl 1):S4 http://www.aacijournal.com/content/7/S1/S4


Williams. C. The New England Journal of Medicine 2005 ;352:2314-24.

http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMcp042803
Friedmann PS. Atopic Dermatitis. In: Burns T, Breathnach S, Cox N,

Griffiths CG, editors. Rooks Textbook of Dermatology. 8th Edition. USA:


Wiley-Blackwell; 2010. p.24.01-24.26