Anda di halaman 1dari 137

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

PRAKTIK VOLUNTARY COUNSELING AND TESTING


(VCT) HIV/AIDS PADA KELOMPOK LAKI-LAKI YANG
BERHUBUNGAN SEKS DENGAN LAKI-LAKI (LSL)
DI KOTA SEMARANG
(Studi Kasus Semarang Gay@ Community)

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat
Untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh
Siti Noor Kamalia
NIM. 6411411244

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang
Desember 2015

ABSTRAK
Siti Noor Kamalia,
Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Praktik Voluntary Counseling
And Testing (VCT) HIV/AIDS Pada Kelompok Laki-laki Yang Berhubungan
Seks Dengan Laki-laki (LSL) Di Kota Semarang.
XV+ 86 Halaman+ 22 tabel+ 4 gambar+ 9 lampiran
Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) merupakan salah
satu kelompok yang berisiko terkena AIDS. Salah satu program pemerintah untuk
mencegah penyakit HIV dan AIDS adalah voluntary counseling and testing
(VCT). Berdasarkan laporan dari Semarang Gay@ Community (SGC) jumlah gay
yang melakukan VCT di Kota Semarang sebanyak 36,72 % sehingga tidak semua
gay melakukan VCT.
Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan melibatkan
75 orang sampel yang dipilih secara simple random sampling. Analisis data
menggunakan univariat dan bivariat dengan chi-square.
Kesimpulan pada penelitian ini didapatkan bahwa ada hubungan antara
tingkap pendidikan (p=0,019), pengetahuan (p=0,031) dan persepsi hambatan
(p=0,001) dengan praktik VCT. Dan tidak ada hubungan antara umur (p=0,998),
tingkat pendapatan (p=1), persepsi kerentanan (p=0,689), persepsi keseriusan
(p=0,641), persepsi manfaat (p=894),dan pencetus tindakan (p=0,230) dengan
praktik VCT. Saran yang direkomendasikan oleh peneliti yaitu saling bekerjasama
antara intansi kesehatan dan SGC untuk melakukan VCT mobile.
Kata Kunci : HIV/AIDS,LSL , Praktik VCT
Kepustakaan : 52 (2004-2014)

ii

Public Health Department


Sport Science Faculty
Semarang State University
December 2015
ABSTRACT
Siti Noor Kamalia,
Factors Relating To Practice Voluntary Counseling And Testing (VCT) HIV
/ AIDS In The Men Who Have Sex With Men (MSM) In The City Of
Semarang
xv + 86 pages + 22 tables + 4 images + 9 attachments
Men who have sex with men (MSM) is one of the groups at risk for AIDS.
One government program to prevent diseases hiv and aids is voluntary counseling
and testing ( VCT ). Based on the report from semarang gay@ community (SGC)
the number of gay do VCT within the city of semarang just as much 36,72 %, so
not all gay do vct.
This research used cross sectionalapproachinvolving the sample 75
selected through simple random sampling. An analysis of data using univariat and
bivariat with chi-square.
Conclusions on this research got that there was a correlation between of
education (p = 0,019) , knowledge (p = 0,031) and perception barriers (p = 0,001)
with vct practices. And there was no connection between the ages of ( p = 0,998 )
, level of income (p = 1) , perception susceptibility (p = 0,689) , perception
seriousness (p =0,641) , perception benefit ( p = 0,894) , and cues to action (p =
0,230) with vct practices.Suggestions were recommended by the researchers is
mutual cooperation between health institutions and SGC to perform VCT mobile.
Key word :HIV/AIDS,MSM,VCT
Bibliography:52 (2004-2014)

iii

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO
Jika X + Y = Z
Maka

X : Usaha
Y : Doa
Z : Sukses

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Arrahman :13)
Dont be Afraid to Take that First Step (Muhammad Ali)

Persembahan:
Dengan tidak mengurangi rasa syukur penulis kepada Allah SWT dan cinta pada
Rosullah SAW skripsi ini saya persembahkan kepada:
Kedua Orang Tuaku BapakKamalin dan Ibu Sulastri
Yeng telah mencurahkan segenap doa, cinta dan kasih sayang yang tulus serta
pengorbanan terbaik untuk ananda
Semoga Allah menghimpun kalian dalam keridhoan-NYA
Saudaraku tercinta Mas Akim, Mas Ulum dan Dek Umam
Yang selalu memberikan semangat dan mengispirasi dalam setiap langkahku
Dan untukmu calon imamku yang suatu saat akan membaca skripsi ini, percayalah
bahwa sebelum kita bertemu ini sudah adinda persembahkan untuk kakanda,
adinda tidak menulis nama siapaun disini karena adinda tidak ingin masa lalu itu
mengganggu kehidupan kita dimasa depan, karena jodoh tidak ada yang tahu
Untuk Almamaterku Universitas Negeri Semarang

vi

KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT.Kita memuji-NYA dan memohon
pertolongan serta ampunan-NYA.Kita berlindung dari segala keburukan diri kita
dan kesalahan perbuatan kita. Dialah Allah, satu-satu-NYA yang disembah. Aku
bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah hamba dan Rosul-NYA.
Alhamdulillah, penulisan skripsi yang berjudul Faktor-faktor Yang
Berhubungan Dengan Praktik Voluntary Counseling And Tasting (VCT)
HIV/AIDS Pada Kelompok Laki-laki Yang Berhubungan Seks Dengan Laki-laki
(LSL) Di Kota Semarang (Studi Kasus Pada Semarang Gay@ Community) dapat
penulis selesaikan dengan proses yang terbaik.
Dalam kesempatan ini, izinkan penulis secara khusus menyampaikan
penghargaan dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang
telah membantu dalam menyelesaikan karya yang tidak sesederhana namanya.
Terimakasih penulis ucapkan untuk :
1. Dekan Fakultas Ilmu Keolahrgaan Universitas Negeri Semarang, Prof. Dr.
Tandiyo Rahayu, M.Pd., atas izin penelitian yang diberikan.
2.Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Keolahrgaan Universitas Negeri
Semarang, Dr. Setya Rahayu, M.S., atas izin penelitian.
3. Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahrgaan
Universitas Negeri Semarang, Irwan Budiono, S.KM.,M.Kes, atas izin penelitian.
4. Pembimbing, Muhammad Azinar S.KM.,M.Kes., atas arahan, bimbingan dan
motivasi dalam penyusunan skripsi ini.

vii

5. Dosen Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahrgaan


Universitas Negeri Semarang, atas bekal ilmu yang sudah diberikan selama
perkuliahan.
6. Bapak Sungatno, atas arahan dan bantuan dalam mengurus penelitian.
7. Dinas Kesehatan Kota Semarang, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa
Tengah dan Kota Semarang, atas data yang sudah diberikan dalam penelitian ini.
8. Pengurus Semarang Gay@ Community (SGC) dan teman-teman komunitas
SGC, atas bantuan dan partisipasinya dalam penyusunan skripsi.
9. Bapak Kamalin, Ibu Sulastri, Kakak-kakakku Zainul Hakim, Muhammad
Bahrul Ulum, dan Adek Khairul Umam atas kasih sayang, perhatian, bantuan,
motivasi, dan doa dalam penyusunan skripsi ini.
10. Teman-temanku semua yang sudah membantu dalam pengambilan data ( ayu,
vivin, dan bayu) serta teman-teman kos yang sudah memberikan dorongan dan
motivasi (tika, devi, mb beta) dan kakak-kakak kos yang lainnya.
11. Teman seperjuangan Ilmu Kesehatan Masyarakat angkatan 2011 atas
motivasinya dalam menyelesaikan skripsi ini terutama untuk teman-teman
Rokubel, Promkes dan teman sebimbingan.
12. Semua pihak yang terlibat yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu atas
segala bantuannya.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.
Semarang, 18 Desember 2015

Peneliti

viii

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................................. i
ABSTRAK........................................... ......................................................... ii
ABSTRACT.. .............................................................................................. iii
PERNYATAAN.. ........................................................................................ iv
PENGESAHAN........................................................................................... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN .............................................................. vi
KATA PENGANTAR.. ............................................................................... vii
DAFTAR ISI.. ............................................................................................. ix
DAFTAR TABEL.. ..................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR..xiv
DAFTAR LAMPIRAN...xv
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 7
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................... 8
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................. 9
1.5 Keaslian Penelitian ................................................................................. 11
1.6 Ruang Lingkup Penelitian ....................................................................... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 14
2.1 HIV dan AIDS ........................................................................................ 14
2.2 Laki-laki yang Berhubungan Seks dengan Laki-laki ................................ 15

ix

2.3 Voluntary Counseling And Testing (VCT) ............................................. 19


2.4 Teori Health Belief Model (HBM) .......................................................... 31
2.5 Kerangka Teori ....................................................................................... 36
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................. 38
3.1 Kerangka Konsep .................................................................................... 38
3.2 Variabel Penelitian .................................................................................. 39
3.2.1 Variabel Bebas ..................................................................................... 39
3.2.2 Variabel Terikat ................................................................................... 39
3.3 Hipotesis Penelitian................................................................................. 40
3.4 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel .............................. 40
3.5 Jenis dan Rancangan Penelitian ............................................................... 43
3.6 Populasi dan Sampel Penelitian ............................................................... 44
3.7 Sumber Data ........................................................................................... 45
3.8 Instrumen Penelitian dan Teknik Pengambilan Data ................................ 46
3.9 Prosedur Penelitian ................................................................................. 48
3.10Teknik Pengolahan dan Analisis Data .................................................... 48
BAB IV HASIL PENELITIAN .................................................................. 51
4.1 Gambaran Umum Semarang Gay@ Community ..................................... 51
4.2 Analisis Data........................................................................................... 53
4.2.1 Analisis Univariat ................................................................................ 53
4.2.1 Analisis Bivariat .................................................................................. 56
BAB V PEMBAHASAN ............................................................................ 65
5.1 Pembahasan ........................................................................................... 65

5.1.1 Hubungan antara Umur dengan Praktik VCT ....................................... 65


5.1.2 Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Praktik VCT .................. 66
5.1.3 Hubungan antara Tingkat Pendapatan dengan Praktik VCT .................. 67
5.1.4 Hubungan antara Pengetahuan dengan Praktik VCT ............................. 68
5.1.5 Hubungan antara Persepsi Kerentanan Tertular Penyakit HIV dan
AIDS dengan Praktik VCT ................................................................. 70
5.1.6 Hubungan antara Persepsi Bahaya atau Keseriusan Penyakit HIV dan
AIDS dengan Praktik VCT ................................................................. 72
5.1.7 Hubungan antara Persepsi Manfaat dalam Melakukan VCT dengan
Praktik VCT ....................................................................................... 73
5.1.8 Hubungan antara Persepsi Hambatan dalam Melakukan VCT dengan
Pratik VCT ......................................................................................... 75
5.1.9 Hubungan antara Pencetus Tindakan dengan Praktik VCT .................. 76
5.2 Kelemahan Penelitian ............................................................................. 78
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 79
6.1 Simpulan ................................................................................................ 79
6.2 Saran ...................................................................................................... 80
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 82
LAMPIRAN ................................................................................................ 86

xi

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian ..................................................................... 11
Tabel 3.1 Definisi Operasional ................................................................... 40
Tabel 4.1 Distribusi Responden Menurut Umur .......................................... 53
Tabel 4.2 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan .................... 53
Tabel 4.3 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendapatan .................... 54
Tabel 4.4 Distribusi Responden Menurut Pengetahuan ............................... 54
Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi Kerentanan
Tertular Penyakit HIV dan AIDS ................................................ 54
Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi Bahaya atau
Keseriusan Penyakit HIV dan AIDS ........................................... 55
Tabel 4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi Manfaat Dalam
Melakukan VCT ......................................................................... 55
Tabel 4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi Hambatan Dalam
Melakukan VCT ......................................................................... 55
Tabel 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Pencetus Tindakan ............... 56
Tabel 4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Praktik VCT ......................... 56
Tabel 4.11 Crosstab Hubungan antara Umur dengan Praktik VCT................ 57
Tabel 4.12 Crosstab Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan
Praktik VCT ............................................................................... 57
Tabel 4.13 Crosstab Hubungan antara Tingkat Pendapatan dengan
Praktik VCT ............................................................................... 58

xii

Tabel 4.14 Crosstab Hubungan antara Pengetahuan dengan Praktik VCT ..... 59
Tabel 4.15 Crosstab Hubungan antara Persepsi Kerentanan Tertular
Penyakit HIV dan AIDS dengan Praktik VCT ............................. 60
Tabel 4.16 Crosstab Hubungan antara Persepsi Bahaya atau Keseriusan
Penyakit HIV dan AIDS dengan Praktik VCT ............................. 61
Tabel 4.17 Crosstab Hubungan antara Persepsi Manfaat Dalam Melakukan
VCT dengan Praktik VCT ........................................................... 62
Tabel 4.18 Crosstab Hubungan antara Persepsi Hambatan Dalam
Melakukan VCT dengan Praktik VCT ........................................ 63
Tabel 4.19 Crosstab Hubungan antara Pencetus Tindakan dengan
Praktik VCT ............................................................................... 63
Tabel 4.20 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Praktik VCT ................ 64

xiii

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Alur Pelaksanaan Tes HIV dalam VCT .................................... 24
Gambar 2.2 Teori HBM ............................................................................... 35
Gambar 2.3 Kerangka Teori HBM ............................................................... 36
Gambar 3.1 Kerangka Konsep ..................................................................... 38

xiv

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1.

Surat Tugas Pembimbing ....................................................... 87

Lampiran 2.

Surat Ijin Penelitian ................................................................ 88

Lampiran 3.

Surat Telah Melakukan Penelitian .......................................... 89

Lampiran 4.

Etichal Cleareance .................................................................. 90

Lampiran 5.

Instrumen Penelitian Penelitian .............................................. 91

Lampiran 6.

Data Uji Validitas dan Reliabilitas.......................................... 100

Lampiran 7.

Hasil Uji Normalitas Data ...................................................... 109

Lampiran 8.

Hasil Uji Statistik ................................................................... 112

Lampiran 9.

Dokumentasi .......................................................................... 121

xv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang
sistem

kekebalan

Immunodeficiency

tubuh/imunitas
Syndrome

manusia,

(AIDS)(KPAP

dan

menyebabkan

Jateng,

2014).

Aqcuired
Aqcuired

Immunodeficiency Syndrome/Sindroma (AIDS) adalah suatu kumpulan gejala


penyakit kerusakan sistem kekebalan tubuh, bukan penyakit bawaan tetapi didapat
dari hasil penularan (Widiyono, 2005 : 83)
Penyebaran HIV dan AIDS sangat cepat di dunia semenjak ditemukan di
Amerika Serikat pada tahun 1981.Sampai tahun 1986, 18.000 kasus ditemukan,
dan 51 % dari jumlah ini meninggal dunia. Berdasarkan hasil laporan epidemi
HIV dan AIDS di dunia pada tahun 2013 terdapat 35 juta orang terkena AIDS, 2,1
juta infeksi baru dan terdapat 1,5 juta orang yang meninggal akibat AIDS (WHO,
2014), sehingga terdapat sekitar 6.000 infeksi baru per hari pada tahun 2013
(Kaiser Family Foundation, 2014).
Epidemi HIV di Indonesia telah berlangsung 20 tahun.Sejak tahun 2000
epidemi tersebut sudah mencapai tahap terkonsentrasi pada beberapa sub-populasi
berisiko tinggi (dengan prevalens > 5%), yaitu pengguna Napza suntik (penasun),
wanita penjaja seks (WPS), dan waria. Situasi demikian menunjukkan bahwa pada
umumnya Indonesia berada pada tahap concentrated epidemic. Dalam lima tahun
terakhir, jumlah orang yang dilaporkan mengidap AIDS bertambah cepat. Situasi
1

percepatan ini disebabkan kombinasi transmisi HIV melalui penggunaan jarum


suntik tidak steril dan transmisi seksual di antara populasi berisiko tinggi (KPA
Nasional, 2007). Jumlah kasus baru HIV positif tahun 2005 sebesar 859 kasus
kemudian meningkat menjadi 29.037 kasus pada tahun 2013. Sedangkan untuk
kasus AIDS kumulatif pada tahun 2013 sebanyak 52.348 kasus (Kemenkes RI,
2014 ).
Temuan Kasus HIV dan AIDS di Jawa Tengah dari tahun1993 hingga Juni
2014 tercatat 9.393 kasus. Kasus tersebut terdiri atas HIV 5.087 kasus, AIDS
4.306 kasus, dan 978 orang di antaranya meninggal dunia. Penemuan kasus baru
di Jawa Tengah terus pengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini dapat dilihat
dari jumlah kasus infeksi HIV dari tahun 2012 sebanyak 609 kasus, tahun 2013
sebanyak 1.045 kasus, dan tahun 2014 sebanyak 1.352 kasus (DinKes Prov.
Jateng,2014).
Angka kasus baru HIV di Kota Semarang sampai dengan bulan Desember
2013 sebanyak 174 orang, dengan 75 orang sudah pada stadium AIDS.
Berdasarkan jenis kelamin, kasus HIV tahun 2013 lebih banyak diderita oleh lakilaki yaitu sebesar 55 % sedangkan untuk perempuan yang menderita HIV
sebanyak 45 % (Dinkes Kota Semarang, 2013). Selain itu berdasarkan kelompok
berisiko yang terkena HIV dan AIDS diketahui Laki-laki yang berhubungan seks
dengan laki-laki (LSL) merupakan kelompok risiko tertinggi tertular HIV yaitu
sebesar 73 orang, urutan kedua pada kelompok pasangan risiko tinggi 64 orang,
urutan ketiga oleh kelompok pelanggan WPS sebanyak 63 orang, diikuti dan lainlain sebanyak 53 orang (KPA Jawa Tengah, 2014).Untuk tahun 2014 penemuan

kasus baru HIV di Kota Semarang sebanyak 153 kasus (Dinkes Prov Jateng,
2014).Hal ini menunjukkan bahwa penemuan kasus baru HIV terus meningkat
setiap tahunnya.
Salah satu program yang direncanakan oleh pemerintah untuk mencegah
penularan penyakit HIV/AIDS adalah Voluntary Counseling and Testing (VCT).
Voluntary Counseling and Testing (VCT) dilakukan dalam rangka penegakan
diagnosis HIV dan AIDS, untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penularan
atau peningkatan kejadian infeksi HIVdan pengobatan lebih dini(PERMENKES
RI, 2014).
Voluntary Counseling and Testing (VCT) adalah suatu pembinaan dua arah
atau dialog yang berlangsung tak terputus antara konselor dan kliennya dengan
tujuan untuk mencegah penularan HIV, memberikan dukungan moral, informasi,
serta dukungan lainnya kepada ODHA, keluarga dan lingkungannya (Nursalam
dan Nunik Dian Kurniawati, 2007 : 76). VCT merupakan pintu masuk utama pada
layanan pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan (PERMENKES RI,
2014).
Target sasaran layanan VCT sangat luas yaitu pada kelompok berisiko
tertular dan kelompok rentan.Kelompok rentan adalah kelompok masyarakat yang
karena lingkup pekerjaan, lingkungan, rendahnya ketahanan keluarga dan
rendahnya kesejahteraan keluarga, status kesehatan, sehingga mudah tertular HIV.
Kelompok tersebut seperti orang dengan mobilitas tinggi, perempuan, remaja,
anak jalanan, orang miskin, ibu hamil, dan penerima transfusi darah.

Kelompok berisiko tertular adalah kelompok masyarakat yang berperilaku


risiko tinggi seperti wanita penjaja seksual (WPS) dan pelanggannya, pasangan
tetap wanita pekerja seksual, gay (MSM-man who have sex with man), pengguna
napza suntik (penasun) dan pasangannya serta narapidana (PKBI Pusat, 2007).
Gay atau homoseksual menjadi salah satu kelompok berisiko tertular
HIV/AIDS. Dalam kamus psikologi dijelaskan gay atau homoseksual merupakan
hubungan seksual antara anggota jenis kelamin yang sama atau daya tarik seksual
bagi anggota jenis kelamin yang sama, sedangkan untuk laki-laki yang
berhubungan seks dengan laki-laki merupakan aktivitas nyata orang yang
berkelamin laki-laki melakukan hubungan seks tanpa menilai orientasi
seksualnya. Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki sangat rentan
terkena HIV dikarenakan perilaku hubungan seksual yang tidak aman, baik yang
dilakukan secara anal maupun oral (Kemenkes, 2011).
Menurut perkiraan para ahli dan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan
memperhitungkan jumlah penduduk lelaki dewasa, jumlah LSL di Indonesia saat
ini diperkirakan lebih dari tiga juta orang.Sedangkan berdasarkan perkiraan tahun
2009, angkanya hanya sekitar 800 ribu (Kompas, 2011). Menurut estimasi dan
proyeksi HIV/AIDS pada tahun 2011 sampai dengan 2016,untuk jumlah penderita
HIV/AIDS pada populasi kunci pada tahun 2016 adalah WPS Langsung 11.309
orang, WPS tidak langsung 5.401 orang, Pelanggan WPS (langsung dan tidak
langsung) 115.954

orang, Laki-laki seks dengan laki-laki 153.771 orang,

Pengguna napza suntik 21.559 orang, Waria 10.678 orang, Pelanggan waria

32.396 orang, Laki-laki resiko rendah 155.477 orang dan Perempuan resiko
rendah 279.276 orang (Kemenkes RI, 2013 : 13).
Pada tahun mendatang diproyeksikan jumlah terbesar infeksi HIV baru di
Indonesia akan terjadi di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki
(LSL), dimana secara signifikan terjadi peningkatan pada tahun 2011 sebesar
13.074 menjadi 28.640 di tahun 2016 (Kemenkes RI, 2013: 14).Oleh karena itu,
VCT sangat penting untuk dilakukan karena dapat menurunkan dan mencegah
penyebaran penyakit HIV/AIDS.VCT dapat dilakukan di tempat pelayanan
kesehatan yang sudah disediakan oleh pemerintah.
Klinik VCT di Kota Semarang terdapat di berbagai instansi kesehatan seperti
Rumah Sakit, Puskesmas dan juga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Jumlah
kunjungan pasien untuk melakukan tes VCT di Kota Semarang mengalami
penurunan yaitu pada tahun 2014 sebesar 4.725 kunjungan dibandingkan dengan
tahun 2013 sebesar 5.140 kunjungan. Untuk konseling pre test yang dilaksanakan
pada tahun 2014 sebanyak 4.725 pre test. Sedangkan untuk jumlah klien yang
melakukan tes pada tahun 2014 sebesar 4.725 test (KPA Kota Semarang, 2014).
Menurut hasil wawancara dengan wakil ketua Semarang Gaya Community
(SGC) untuk jumlah gay yang dijangkau oleh komunitas di semarang dari bulan
Juli 2013 sampai bulan Juni 2014 sebanyak 863 orang, sedangkan untuk bulan Juli
2014 sampai Januari 2015 jumlah gay baru yang dijangkau mencapai 300 orang,
sehingga jumlah gay yang ada di Kota Semarang mencapai 1.163 orang yang
tersebar di seluruh wilayah Semarang. Semarang Gaya Community (SGC) tidak
hanya menjangkau gay yang asli semarang saja, tetapi keseluruhan gay yang ada

di Kota Semarang. Kebanyakan gay yang tergabung dalam Semarang Gaya


Community berasal dari luar Kota Semarang.
Berdasarkan laporan dari SGC jumlah gay yang melakukan VCT di Kota
Semarang dari bulan Juli 2013 sampai bulan Juni 2014 sebanyak 277 orang,
sedangkan untuk bulan Juli 2014 sampai Januari 2015 jumlah gay baru yang
melakukan VCT sebanyak 150 orang. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua
gay yang dijangkau bersedia melakukan VCT hanya sebanyak 36,72 % dari gay
yang melakukan VCT. Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada ketua SGC
salah satu yang menyebabkan gay di Kota Semarang tidak melakukan VCT adalah
dikarenakan keyakinan pada dirinya bahwa mereka tidak termasuk dalam
kelompok berisiko.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Argyo Demartoto didapatkan
hasil bahwa tidak semua LSL mau melakukan tes HIV/AIDS. Alasan tidak
melakukan VCT antara lain adalah belum ada keberanian untuk melakukan test
HIV, adanya perasaan takut mengetahui HIV positif dan keengganan melakukan
test HIV karena lebih menyukai untuk tidak mengetahui status terkait dalam
masalah HIV/AIDS. Sedangkan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Nuraeni
Titik, dkk terhadap hubungan pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS dan VCT
dengan sikap terhadap konseling dan tes HIV/AIDS secara sukarela di Puskesmas
Karangdoro Semarang didapatkan hasil bahwa ada hubungan antara pengetahuan
ibu hamil tentang HIV/AIDS dan VCT dengan sikap terhadap konseling dan tes
HIV/AIDS secara sukarela di Puskesmas Karangdoro Semarang.

Pada Health Belief Model (HBM)menjelaskan bahwakemungkinan individu


akan melakukan tindakan pencegahan tergantung secara langsung pada hasil dari
dua keyakinan atau penilaian kesehatan yaitu ancaman yang dirasakan dari sakit
dan pertimbangan tentang keuntungan dan kerugian.
Sebagai salah satu kelompok yang berisiko, LSL juga harus mendapatkan
perhatian terhadap persebaran penyakit HIV/AIDS dikarenakan estimasi yang
diperkirakan akan semakin naik. Oleh karena itu berdasarkan uraian yang sudah
dijelaskan, maka peneliti tertarik untuk mengetahui faktor-faktor yang
berhubungan dengan praktik VCT pada kelompok LSL di Kota Semarang.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Rumusan Masalah Umum
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan
praktik VCT HIV/AIDS pada kelompok LSL di Kota Semarang ?
1.2.2 Rumusan Masalah Khusus
Berdasarkan rumusan masalah umum, maka untuk rumusan masalah khusus
antara lain :
1)

Apakah ada hubungan antara umur dengan praktik VCT HIV/AIDS pada
kelompok LSL di Kota Semarang ?

2)

Apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan praktik VCT


HIV/AIDS pada kelompok LSL di Kota Semarang ?

3)

Apakah ada hubungan antara tingkat pendapatan dengan praktik VCT


HIV/AIDS pada kelompok LSL di Kota Semarang?

4)

Apakah ada hubungan antara pengetahuan dengan praktik VCT HIV/AIDS


pada kelompok LSL di Kota Semarang?

5)

Apakah ada hubungan antara persepsi responden tentang kerentanan tertular


penyakit HIV dan AIDS dengan praktik VCT HIV/AIDS pada kelompok
LSL di Kota Semarang?

6)

Apakah ada hubungan antara persepsi responden tentang bahaya atau


keseriusan akibat penyakit HIV dan AIDS dengan praktik VCT HIV/AIDS
pada kelompok LSL di Kota Semarang?

7)

Apakah ada hubungan antara persepsi responden tentang manfaat melakukan


VCT dengan praktik VCT HIV/AIDS pada kelompok LSL di Kota
Semarang?

8)

Apakah ada hubungan antara persepsi responden tentang hambatan


melakukan VCT dengan praktik VCT HIV/AIDS pada kelompok LSL di
Kota Semarang?

9)

Apakah ada hubungan pencetus tindakan dengan praktik VCT HIV/AIDS


pada kelompok LSL di Kota Semarang?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang
berhubungan dengan praktik VCT HIV/AIDS pada kelompok LSL di Kota
Semarang.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini antara lain sebagai berkut :

1) Mengetahui hubunganantara umur dengan praktik VCT HIV/AIDS

pada

kelompok LSL di Kota Semarang


2) Mengetahuihubungan antara tingkat pendidikan dengan praktik VCT
HIV/AIDS pada kelompok LSL di Kota Semarang
3) Mengetahui hubungan antara tingkat pendapatan dengan praktik VCT
HIV/AIDS pada kelompok LSL di Kota Semarang
4) Mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan praktik VCT HIV/AIDS
pada kelompok LSL di Kota Semarang
5) Mengetahui hubungan antara persepsi tentang kerentanan tertular penyakit
HIV dan AIDS dengan praktik VCT pada kelompok LSL di Kota Semarang
6) Mengetahui hubungan antara persepsi tentang bahaya atau keseriusan akibat
penyakit HIV dan AIDS dengan praktik VCT HIV/AIDS pada kelompok LSL
di Kota Semarang
7) Mengetahui hubungan antara persepsi tentang manfaat melakukan VCT
dengan praktik VCT HIV/AIDS pada kelompok LSL di Kota Semarang
8) Mengetahui hubungan antara persepsi tentang hambatan melakukan VCT
dengan praktik VCT HIV/AIDS pada kelompok LSL di Kota Semarang
9) Mengetahui hubungan pencetus tindakan dengan praktik VCT HIV/AIDS
pada kelompok LSL di Kota Semarang
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

10

1.4.1 Untuk Peneliti


Untuk mengetahui dan mendapatkan pengalaman dalam melakukan penelitian
khususnya yang berhubungan dengan perilaku laki-laki yang berhubungan seks
dengan laki-laki mengenai VCT HIV/AIDS. Selain itu penelitian ini juga sebagai
sarana penerapan ilmu pengetahuan yang sudah diperoleh selama mengikuti
pendidikan yang meliputi metode penelitian, pendidikan kesehatan reproduksi dan
ilmu perilaku.
1.4.2 Untuk Masyarakat
Penelitian ini memberikan informasi mengenai adanya VCT yang digunakan
untuk mengetes penyakit HIV/AIDS.Dan juga memberikan informasi mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku laki-laki yang berhubungan seks
dengan laki-laki dalam melakukan VCT HIV/AIDS.
1.4.3 Untuk Pengurus dan Instansi Terkait (KPA Kota Semarang, Dinas
Kesehatan Kota Semarang, dan SGC)
Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam menanggulangi penyakit
HIV/AIDS dengan melihat faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi
kelompok berisiko terutama untuk laki-laki yang berhubungan seks dengan lakilaki dalam melakukan VCT.
1.4.4 Untuk Peneliti Lain
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi peneliti lain sebagai bahan
rujukan dalam mengembangkan penelitian yang masih terkait.

11

1.5 Keaslian Penelitian


Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
No

Judul

Nama

Tahun dan
Tempat
Penelitian

Faktor-Faktor
Yang
Berhubungan
Dengan
Praktik Wanita
Pekerja
Seks(WPS)
Dalam VCT
Ulang
Di Lokalisasi
Sunan Kuning,
Semarang

S. Gunawan
Widiyanto

2008,Di
Lokalisasi
Sunan Kuning,
Semarang

Perilaku Lakilaki
Yang
Berhubungan
Seks
dengan
laki-laki (LSL)
Untuk
Melakukan Tes
HIV di Kota
Surakarta

Argyo
Demartoto

2010,
Surakarta

Hubungan
Pengetahuan
dan
Sikap
Tentang VCT
dan HIV/AIDS
dengan
Pemanfatan
Layanan VCT
Pada WPS di
Resosialisasi
Gambilangu
Kabupaten
Kendal Tahun
2013

Endra
Erfawanti

2014,
di
Resosialisasi
Gambilangu
Kabupaten
Kendal

Di

Rancangan
Penelitian

Variabel
Penelitian

Hasil Penelitian

Cross
Secsional
Study

Variabel terikat :
VCT Ulang
Variabel bebas :
Faktor-Faktor
Yang
Berhubungan
Dengan
Praktik Wanita
Pekerja
Seks(WPS)

Uji chi square


menunjukkan bahwa
variabel yang berhubungan
secara signifikan dengan
praktik VCT ulang adalah
keyakinan mengenai VCT
(p=0,000), nilai tentang
status HIV dirinya
(p=0,000) dan motivasi
untuk
mengikuti dorongan orang
lain (p=0,000). Variabel
dorongan orang lain untuk
melakukan VCT, praktik
organisasi dan lingkungan
organisasi klinik VCT
tidak
mempunyai
hubungan
signifikan.

Kualitatif
Eksploratif

Variabel terikat :
Tes HIV
Variabel bebas :
Pengetahuan,
sikap dan prilaku

Untuk tingkat pengetahuan


LSL terhadap HIV/AIDS
masih ada sebagian yang
salah persepsi.
Sikap LSL terhadap VCT
mempunyai sikap positif.
Prilaku yang mendasari
LSL melakukan Tes HIV
adalah motivasi mereka.

Case
control
prospektif

Variabel terikat :
Pemanfaatan
Layanan VCT
Variabel bebas :
pengetahuan dan
sikap
tentang
VCT
dan
HIV/AIDS

Ada
hubungan
pengetahuan tentang VCT
dan HIV/AIDS dengan
pemanfaatan layanan VCT
(p=0,002;OR=18,600).
Sedangkan untuk variabel
sikap terhadap VCT dan
HIV/AIDS
tidak
berhubungan
dengan
pemanfaatan layanan VCT
(p value = 0, 613; OR = 3,
207)

12

Ada beberapa hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitianpenelitian sebelumnya adalah sebagai berikut :
1) Penelitian ini mengenai praktik VCT pada kelompok LSL di Kota Semarang,
penelitian ini sebelumnya pernah dilakukan oleh peneliti Argyo Demartoto di
Kota Surakarta.
2) Untuk penelitian dari S. Gunawan Widiyanto dan Endra Erfawanti
menggunakan populasi WPS yang ada di Lokalisasi sedangkan penelitian ini
menggunakan populasi LSL terutama gay yang tergabung pada Semarang
Gaya Community.
3) Penelitian yang dilakukan oleh untuk peneliti Argyo Demartoto menggunakan
kualitatif eksploratif, dan untuk peneliti

Endra Erfawanti menggunakan

desain case control prospektif, sedangkan untuk penelitian ini menggunakan


desain cross sectional.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian


1.6.1 Ruang Lingkup Tempat
Tempat dalam penelitian ini adalah wilayah Kota Semarang pada komunitas
gay.Peneliti mengambil Kota Semarang karena kejadian angka HIV/AIDS besar
dan terus meningkat setiap tahunnya.Selain itu dikarenakan peneliti dapat dengan
mudah memperoleh data-data yang diperlukan dari informan.
1.6.2 Ruang Lingkup Waktu
Penelitian dilakukan selama dua bulan yaitu bulan Agustus-September 2015.

13

1.6.3 Ruang Lingkup Keilmuan


Lingkup materi pada penelitian ini dibatasi karakteristik responden meliputi
umur, pendidikan, ekonomi, pengetahuan, kerentanan yang dirasakan terhadap
penyakit HIV dan AIDS, bahaya terkena penyakit HIV dan AIDS,manfaat, dan
hambatan dalam melakukan VCT pada LSL dalam melakukan VCT HIV/AIDS
dan pencetus tindakan LSL dalam melakukan VCT. Penelitian ini mencakup ilmu
promosi kesehatan dan kesehatan reproduksi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 HIV dan AIDS


Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang
dan merusak sel limfosit T (sel T4 penolong) yang mempunyai peranan penting
dalam sistem kekebalan seluler tubuh.Virus HIV ini menyebabkan penyakit
AIDS.AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah
kumpulan gejala-gejala penyakit yang didapat karena imunitas atas kekebalan
turun menurun (Irianto, K, 2014 :464). Infeksi HIV tidak langsung
menghancurkan sistem kekebalan tubuh tetapi terus bereplikasi dan menginfeksi.
Hal ini dapat terjadi bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya sistem kekebalan
tubuh hancur dan tubuh tidak dapat melawan infeksi-infeksi lain yang menyerang
tubuh, sehingga pada saat infeksi-infeksi yang menyerang tubuh berkumpul
disebut dengan AIDS. HIV akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan
menghasilkan antibodi HIV (Kemenkes RI, 2011: 16).
Penyakit HIV/AIDS bukan merupakan penyakit bawaan tetapi didapat dari
hasil penularan. Penularan penyakit HIV/AIDS dapat melalui berbagai cara
diantaranya yaitu melalui cairan tubuh seperti darah, cairan genetalia, dan ASI.
(Widoyono, 2005 : 85). Perilaku berisiko yang menjadi jembatan dari penularan
HIV adalah seks vaginal dengan penetrasi, tidak menggunakan kondom dan
berganti-ganti pasangan atau berhubungan seks dengan pasangan yang HIV tanpa
menggunakan kondom; seks anal dengan penetrasi dan tidak menggunakan

14

15

kondom, ejakulasi di dalam, berganti-ganti pasangan atau berhubungan seks


secara anal dengan pasangan yang HIV tanpa menggunakan kondom; tertusuk
jarum suntik yang mengandung virus HIV; menggunakan jarum suntik dan
semprit bersama pengguna napza suntik; dan air susu ibu dengan kandungan virus
HIV yang digunakan untuk menyusui bayi/transplasental (Modul Pelatihan
Konseling dan Tes HIV Sukarela, 2011 : 53), sedangkan untuk kelompok yang
memiliki risiko tinggi terkena HIV/AIDS diantaranya yaitu pekerja seks,
pengguna

narkoba

suntik,

lelaki

seks

dengan

lelaki

dan transgender

(PERMENKES, 2014). Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki sangat


rentan terkena HIV dikarenakan perilaku hubungan seksual yang tidak aman, baik
yang dilakukan secara anal maupun oral (Kemeskes,2011).
2.2 Laki-laki Yang Berhubungan Seks dengan Laki-laki
Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki merupakan aktivitas
nyata orang yang berkelamin laki-laki melakukan hubungan seks tanpa menilai
orientasi seksualnya.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2011) mengklasifikasikan
Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki sebagai berikut :
1) Laki-laki yang senantiasa berhubungan seks dengan laki-laki
2) Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki tetapi sebagian besar
hidupnya dia berhubungan seks dengan perempuan
3) Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki juga dengan perempuan,
tanpa suatu preferensi khusus

16

4) Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki dengan tujuan mendapatkan


uang, atau karena tak ada perempuan yang dapat ditemui, misalnya di lapas
atau kampong peperangan.
Gay atau homoseksual merupakan salah satu dari kelompok Laki-laki yang
berhubungan seks dengan laki-laki. Gay atau homoseksual adalah hubungan
seksual antara anggota jenis kelamin yang sama atau daya tarik seksual bagi
anggota jenis kelamin yang sama. Dalam membicarakan masalah homoseksualitas
harus diperhatikan bahwa tidak ada dikotomi yang sederhana mengenai orang
yang homoseksual dan heteroseksual (Chaplin, J.P, 2009).
2.2.1 Penyebab dari Homoseksual
Tidak ada penyebab khusus tingkah laku homoseksual.Banyak faktor
sebagai penyebabnya dan kepentingannya yang relatif sangat berbeda-beda
(Semiun, Y., 2006).
2.2.1.1 Pendekatan Fisiologis
Dalam tubuh manusia terdapat hormon-hormon pria dan wanita.
Keseimbangan yang relatif antara hormon-hormon tersebut merupakan faktor
yang ikut menunjang kadar maskulinitas dan feminitas dari individu.
2.2.1.2 Pendekatan Psikologis
Perkembangan psikoseksual normal yang menyebabkan penyesuaian diri
yang heteroseksual tergantung pada pola yang berlangsung lama dari hubungan
emosional efektif, terutama diperoleh dalam keluarga tetapi juga dalam kalangan
lingkungan luar keluarga.Penyesuaian diri secara homoseksual terjadi jika

17

hubungan-hubungan ini tidak adekuat, menyimpang, atau tidak ada.Tipe


pengalaman-pengalaman berikut ini telah dikaitkan dengan homoseksual.
1. Pengalaman homoseksual pada usia dini yang menyenangkan karena godaan
dari orang yang berpengalaman atau karena turut serta secara sukarela untuk
sekedar ingin tahu.
2. Identifikasi silang. Identifikasi silang adalah identifikasi dengan salah satu
orang tua yang tidak sejenis.
3. Ketakutan akan katrasi. Ini merupakan pusat dari teori psikoanalitik yang
menjelaskan homoseksual sebagai pertahanan ego terhadap ketakutan akan
katrasi. Fenichel melaporkan bahwa kecemasan akan katrasi menyebabkan
homoseksual dapat muncul dengan dua cara : a) penemuan adanya orangorang tanpa penis oleh anak laki-laki yang masih kecil dapat mendorongnya
untuk menjadi seperti itu dan dengan sebelumnya memperkuat ancaman
katrasi sebelumnya; untuk menghindari kecemasan yang ditimbulkan oleh
genitalia wanita, dia menghindari hubungan seksual dengan anak-anak
perempuan. b) genitalia wanita sebagai akibat dari fantasi-fantasi masa lampau
dan ancaman akan katrasi mungkin dilihat sebagai alat untuk katrasi yang
membahayakan penis.
4. Membangkitkan kembali fantasi-fantasi oedipal. Fantasi-fantasi oedipal yang
tidak terpecahkan dihidupkan kembali dan perasaan-perasaan bersalah yang
begitu hebat terhadap dorongan-dorongan incest menghalangi pendekatan
seksual pada wanita.

18

5. Faktor-faktor

psikologis

lainnya.

Ada

beberapa

faktor

juga

yang

mengakibatkan perilaku homoseksual, diantaranya perasaan takut untuk


menikah karena orang tua selalu bertengkar; takut memikul tanggung jawab
terhadap perkawinan dan keluarga; takut akan hubungan-hubungan dengan
orang yang tidak sejenis karena pengalaman-pengalaman sebelumnya yang
menimbulkan fatrasi dan memalukan; dan seseorang anak laki-laki yang
pernah mengalami pengalaman traumatis (Semiun, Y., 2006).
2.2.2 Faktor-faktor Kompleks Yang Meningkatkan Penularan HIV dan
AIDS pada Gay
Menurut CDC (2014), faktor-faktor kompleks yang meningkatkan
penularan HIV and AIDS dikalangan Gay adalah :
2.2.2.1 Prevalensi HIV yang Tinggi
Tingginya prevelensi HIV diantara pria gay dan biseksual berarti
menghadapi risiko lebih besar terkena infeksi dengan setiap aktivitas seksualnya,
terutama ketika mereka sudah beranjak tua.
2.2.2.2 Kurangnya Pengetahuan Tentang Status HIV
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sudah mengetahui bahwa
dirinya terinfeksi mengambil langkah-langkah untuk melindungi pasangan. Akan
tetapi banyak Gay yang tidak menyadari status mereka dan mungkin tanpa sadar
akan menularkan virus kepada orang lain. Selain itu beberapa gay dapat membuat
asumsi yang keliru atau memiliki informasi yang tidak akurat tentang status HIV
pasangannya.

19

2.2.2.3 Kurangnya Kepedulian Terhadap Risiko


Sikap kurang peduli terhadap risiko HIV khususnya Gay muda,
kemungkinan memainkan peran kunci dalam risiko HIV, karena mereka tidak
mengalami sendiri keparahan awal epidemik AIDS. Tantangan lain juga
mencakup kemampuan Gay untuk menjaga perilaku yang aman secara konsisten
dari waktu ke waktu, sikap menganggap remeh risiko pribadi, dan keyakinan
keliru bahwa karena kemajuan pengobatan, HIV bukan lagi merupakan ancaman
kesehatan yang serius.
2.2.2.4 Sosial Diskriminasi dan Isu-isu Budaya
Untuk beberapa Gay, faktor-faktor sosial dan ekonomi, termasuk
homophobia, stigma dan kurangnya akses ke perawatan kesehatan dapat
meningkatkan perilaku berisiko atau menjadi penghalang untuk menerima layanan
pencegahan HIV.
2.2.2.5 Tindakan Penyalahgunaan
Sebagian

gay

menggunakan

alkohol

dan

obat-obatan

terlarang,

berkontribusi terhadap peningkatan risiko infeksi HIV dan PMS.


2.3VoluntaryCounseling Test (VCT)
2.3.1 Definisi VCT
VCT adalah suatu pembinaan dua arah atau dialog yang berlangsung tak
terputus antara konselor dan kliennya dengan tujuan untuk mencegah penularan
HIV, memberikan dukungan moral, informasi, serta dukungan lainnya kepada
ODHA, keluarga dan lingkungannya (Nursalam dan Kurniawati, Nunik Dian,

20

2007 : 76). VCT merupakan pintu masuk utama pada layanan pencegahan,
perawatan, dukungan dan pengobatan (PERMENKES RI, 2014).
2.3.2 Tujuan VCT
VCT mempunyai tujuan :
2.3.2.1 Upaya pencegahan HIV/AIDS
2.3.2.2 Upaya mengurangi kegelisahan, meningkatkan persepsi/pengetahuan
mereka tentang faktor-faktor risiko penyebab seseorang terinfeksi HIV
2.3.2.3 Upaya

pengembangan perubahan perilaku,

sehingga

secara

dini

mengerahkan mereka menuju ke program pelayanan dan dukungan termasuk


akses terapi antiretroviral, serta membantu mengurangi stigma dalam masyarakat
2.3.3 Lima Komponen Dasar VCT
Berdasarkan dari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 74
Tahun 2014 mengenai Pedoman Pelaksanaan Konseling Dan Tes HIV
menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan VCT harus mencakup lima komponen
dasar, diantaranya :
2.3.3.1 Informed Consent, adalah persetujuan akan suatu tindakan pemeriksaan
laboratorium HIV yang diberikan oleh pasien/klien atau wali/pengampu setelah
mendapatkan dan memahami penjelasan yang diberikan secara lengkap oleh
petugas kesehatan

tentang tindakan medis yang akan dilakukan terhadap

pasien/klien tersebut.
2.3.3.2 Confidentiality, adalah Semua isi informasi atau konseling antara klien
dan petugas pemeriksa atau konselor dan hasil tes laboratoriumnya tidak akan
diungkapkan kepada pihak lain tanpa persetujuan pasien/klien. Konfidensialitas

21

dapat dibagikan kepada pemberi layanan kesehatan yang akan menangani pasien
untuk kepentingan layanan kesehatan sesuai indikasi penyakit pasien.
2.3.3.3 Counselling, yaitu proses dialog antara konselor dengan klien bertujuan
untuk memberikan informasi yang jelas dan dapat dimengerti klien atau pasien.
Konselor memberikan informasi, waktu, perhatian dan keahliannya, untuk
membantu klien mempelajari keadaan dirinya, mengenali dan melakukan
pemecahan masalah terhadap keterbatasan yang diberikan lingkungan. Layanan
konseling HIV harus dilengkapi dengan informasi HIV dan AIDS, konseling praKonseling dan Tes pasca-tes yang berkualitas baik.
2.3.3.4 Correct test results, Hasil tes harus akurat. Layanan tes HIV harus
mengikuti standar pemeriksaan HIV nasional yang berlaku. Hasil tes harus
dikomunikasikan sesegera mungkin kepada pasien/klien secara pribadi oleh
tenaga kesehatan yang memeriksa.
2.3.3.5 Connections to care, treatmen, and

prevention services. Pasien/klien

harus dihubungkan atau dirujuk ke layanan pencegahan, perawatan, dukungan,


dan pengobatan HIV yang didukung dengan sistem rujukan yang baik dan
terpantau.
2.3.4 Tahap VCT
Menurut Nursalam dan Nunik (2007 : 76), terdapat 3 tahapan dalam
melakukan VCT, diantaranya :
2.3.4.1 Sebelum Deteksi HIV (Pra-Konseling)
Menurut Blocker (1966) dalam Nursalam dan Nunik, 2007 : 69,
menjelaskan bahwa konseling berarti membantu seseorang agar menyadari

22

berbagai reaksi pribadi terhadap pengaruh perilaku dari lingkungan dan membantu
seseorang membentuk makna dari perilakunya. Konseling juga membantu klien
untuk membentuk dan memperjelas rangkaian tujuan dan nilai-nilai untuk
perilaku selanjutnya.
Tahap pra konseling juga dapat disebut dengan konseling pencegahan
HIV.Pada tahap ini ada dua hal penting yang harus diketahui yaitu aplikasi
perilaku klien yang menyebabkan dapat berisiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS dan
apakah klien mengetahui tentang HIV/AIDS dengan benar.Tujuan dari konseling
ini adalah untuk mengubah tingkah laku klien.
Ruang lingkup pra-konseling adalah:
1) Alasan kunjungan, informasi dasar tentang HIV dan klarifikasi tentang fakta
dan mitos tentang HIV;
2) Penilaian risiko untuk membantu klien memahami faktor risiko;
3) Menyiapkan klien untuk pemeriksaan HIV;
4) Memberikan pengetahuan tentang implikasi terinfeksi HIV dan memfasilitasi
diskusi cara menyesuaikan diri dengan status HIV;
5) Melakukan penilaian sistem dukungan termasuk penilaian kondisi kejiwaan
jika diperlukan;
6) Meminta informed consent sebelum dilakukan tes HIV; dan
7) Menjelaskan pentingnya menyingkap status untuk kepentingan pencegahan,
pengobatan dan perawatan.
Pemberian informasi dasar terkait HIV bertujuan agar klien:
1) Memahami cara pencegahan, penularan HIV, perilaku berisiko;

23

2) Memahami pentingnya tes HIV; dan


3) Mengurangi rasa khawatir dalam tes HIV.
2.3.4.2 Deteksi HIV
Tes HIV merupakan tes darah yang digunakan untuk memastikan apakah
seseorang sudah positif terinfeksi HIV atau belum.Cara tes yang digunakan adalah
dengan mendeteksi ada tidaknya antibodi HIV dalam sampel darahnya. Hal ini
perlu dilakukan supaya seseorang dapat mengetahui secara pasti status kesehatan
dirinya (Nursalam dan Nunik, 2007 : 78).
Tes HIV harus bersifat :
1) Sukarela : orang yang akan melakukan tes HIV haruslah berdasarkan atas
kesadarannya sendiri dan bukan atas paksaan/tekanan orang lain.
2) Rahasia : apapun hasil tes ini, baik positif maupun negatif hanya boleh
diberitahukan secara langsung kepada yang bersangkutan
3) Tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.
2.3.4.3

Konseling Setelah Deteksi HIV (Pasca-Konseling)


Pasca konseling merupakan kegiatan konseling yang harus diberikan

setelah hasil tes diketahui, baik hasilnya positif maupun negatif. Konseling pasca
tes sangat penting untuk membantu meraka yang hasilnya HIV positif agar dapat
mengetahui cara menghindarkan penularan HIV kepada orang lain (Nursalam dan
Nunik, 2007 : 78 ).

24

Pelayanan Satu Hari-One Day Service


Form Rujukan tes HIV dan
Informed Consent
Konseling Pra
tes HIV

Pengambilan
Sampel Darah

Pendaftaran/
Administrasi
Pemeriksaan
Laboratorium (satu
atap atau rujukan)
Klien
Konseling Pasca
Tes HIV

Penyerahan Hasil
Tes Darah

Gambar 2.1 Alur Pelaksanaan Tes HIV dalam VCT


Sumber : Modul Pelatihan Konseling Dan Tes Sukarela HIV, 2011, 27
2.3.5 Sarana dan Prasana Tes VCT
Pada SOP Klinik VCT Layanan Mandiri, sarana yang harus disediakan
untuk VCT yaitu :
2.3.5.1 Pelayanan VCT
1) Sarana Pertama;
a. Papan nama / petunjuk
b.

Ruang tunggu

c. Alat Peraga, leaflet kesehatan tentang IMS dan HIV-AIDS, Dildo,


Kondom, Poster, Stiker dan Kaset/CD
d. Telephon dan fax

25

e. Alat pendukung tempat sampah, tisu,dan persediaan air minum, meja dan
kursi yang tersedia dan nyaman dan kalendar.
f. Jam Kerja Layanan konseling dan testing terintegrasi dalam jam kerja
Institusi pelayanan kesehatan setempat.
2) Sarana Kedua;
a. Ruang konseling yang nyaman untuk 2 atau 3 orang dengan fasilitas
pendukung,AC atau Kipas Angin dan penerangan yang cukup.
b. Tempat duduk bagi klien maupun konselor
c. Buku catatan perjanjian klien dan catatan harian, formulir informed
consent, catatan medis klien, formulir pra dan pasca testing, buku rujukan,
formulir rujukan, kalender, dan alat tulis.
d. Kondom dan alat peraga penis, jika mungkin alatperaga alat reproduksi
perempuan.
e. Alat peragaan lainnya misalnya gambar berbagai penyakit oportunistik,
dan alat peraga menyuntik yang aman.
f. Air minum
g. Kartu rujukan
h. Lemari arsip atau lemari dokumen yang dapat dikunci.
3) Sarana Ketiga; Ruang pengambilan darah dan peralatan yang diperlukan,
seperti;
a. Jarum dan semprit steril
b. Tabung dan botol tempat penyimpan darah
c. Stik kode

26

d. Kapas alcohol
e. Cairan desinfektan
f. Sarung tangan
g. Jas Lab
h. Sabun dan tempat cuci tangan dengan air mengalir
i.

Tempat sampah barang terinfeksi, barang tidak terinfeksi, dan barang


tajam (sesuai petunjuk Kewaspadaan Universal Departemen Kesehatan)

j.

Petunjuk pajanan okupasionaldan alur permintaan pertolonganpasca


pajanan okupasional.

2.3.5.2 Pelayanan Manajemen Kasus


1) Sarana Pertama;
a. Papan nama / petunjuk nama Lembaga
b. Ruang tunggu klien
c. Jam Kerja Layanan manajemen Kasus.
d. Telp dan fax pendukung
2) Sarana Kedua;
a. Ruang kerja MK yang nyaman untuk intake, asessement dan perencanaan
layanan.
b. Tempat duduk bagi klien maupun petugas manajemen kasus.
c. Buku

catatan

perjanjian

klien

dan

catatan

harian,

informedConsent penerimaan layanan MK, dan catatan klien.


d. Daftar alamat layanan, surat atau kartu rujukan dan alat peragaan.
e. Lemari arsip atau lemari dokumen yang dapat dikunci.

formulir

27

2.3.5.3 Program Kelompok Dukungan


Sasaranya :
1) Ruangan yang cukup nyaman untuk 3 20 orang.
2) Waktu penyelenggaraan layanan.
3) Rencana kegiatan kelompok dukungan
2.3.5.4 Program Hotline Service MSM
Sarana ;
1) Petunjuk pelayanan Hotline Service MSM
2) 3 Telepon lokal dan 2 HP
3) Jam Kerja Hotline dan alur
4) Buku catatan perjanjian klien dan catatan harian
5) Klasifikasi kasus
6) Materi-materi kesehatan seksual dan HIV & AIDS
2.3.6 Pelayanan VCT untuk Laki-laki Yang Berhubungan Seks dengan
Laki-laki (LSL)
Pada awalnya, VCT digunakan sebagai sarana untuk memahami adanya
aktivitas laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) dan membuat protokol yang sesuai.
Protokol ini akan dapat sejalan dengan aspek lain dari pelayanan VCT yang baik.
Pelayanan VCT untuk LSL seharusnya dapat (KEMENKES RI, 2011 :142):
1) Memahami berbagai prilaku seksual LSL dan kompleksitas relasi dengan
pasangan umum dan pasangan khususnya.
2) Melaksanakan penilaian resiko seksual untuk HIV dan IMS dengan daftar cek
yang sesuai termasuk perilaku seksual yang mungkin dilakukan.

28

3) Mengembangkan strategi agar klien mau mengungkapkan status HIVnya baik


kepada pasangan laki-laki dan perempuannya.
4) Menjawab masalah disfungsi seksual yang mungkin muncul dari identitas
dan/atau status HIV positif. Ini akan membuat kesulitan untuk masuk dalam
aktivitas seks aman.
5) Menjawab masalah yang berkaitan dengan keterbukaan mereka akan
preferensi seksualnya sebagai LSL kepada keluarga atau kawan.
6) Mempromosikan penggunaan kondom dan lubrikan untuk seks aman.
7) Mempromosikan aktivitas seksual non penetrative ketika kondom tidak dalam
jangkauan atau sebagai alternative seks penetratif.
8) Mengutarakan dan menyediakan informasi tentang penularan HIV dengan
faktor risiko yang terkait LSL dan seks anal.
2.3.7 Faktor Penting dalam Pelayanan VCT Untuk Laki-laki yang
Berhubungan Seks dengan Laki-laki (LSL)
Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pelayanan VCT pada
LSL(KEMENKES RI, 2011 :143):
1) Menjaga konfidensial
2) Petugas (terutama petugas penerima, perawat, konselor dan dokter) tidak
melakukan pendekatan menghakimi atas perilaku klien.
3) Menyediakan materi edukasi yang sesuai di ruang tunggu, ruang konseling
dan ruang/meja dokter.
4) Jam buka pelayanan disesuaikan dengan waktu mereka dapat menjangkau,
lewat tengah malam atau hari libur.

29

5) Berlokasi di area yang mudah terjangkau seperti dekat dengan tempat mereka
saling bertemu atau tempat mereka melaksanakan hubungan seks.
6) Menyediakan pelayanan HIV dan IMS yang terjangkau.
7) Menyediakan kondom dan lubrikan berbasis air yang terjangkau.
2.3.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Untuk Melakukan VCT
Faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan tes HIV
atau VCT diantaranya :
1) Pendidikan
Pendidikan merupakan proses perubahan sikap dan tata laku seseorang
atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi
sehingga nantinya dapat menunjang kualitas hidup. Semakin tinggi pendidikan
seseorang, maka akan semakin mudah untuk menerima informasi, sehingga
semakin banyak juga pengetahuan yang dimiliki seseorang (Priyoto, 2014 : 80)
Penelitian yang dilakukan oleh Retnowati, N.A (2010) didapatkah hasil
bahwa pendidikan mempengaruhi seseorang untuk melakukan tes HIV.
2) Umur
Semakin tua umur seseorang, maka pengalaman akan bertambah sehingga
akan meningkatkan pengetahuan akan suatu objek. Dari hasil penelitian oleh
Tesfaye H Leta et all (2012) menyatakan bahwa pria yang lebih muda (usia 44
tahun) memiliki minat yang tinggi untuk melakukan tes HIV/AIDS.

30

3) Pengetahuan
Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2010 : 138) pengetahuan merupakan
hasil dari tau, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap
suatu objek tertentu. Pada penelitian yang dilakukan oleh Erfawanti Endra (2014)
pengetahuan terhadap HIV/AIDS dan VCT mempunyai pengaruh terhadap
pemanfaatan layanan VCT. Hal ini juga disampaikan pada hasil penelitian yang
dilakukan oleh Wicaksana et al (2009) bahwa pengetahuan yang dimiliki
seseorang akan mempengaruhi dalam penggunaan layanan VCT.
4) Pendapatan
Keadaan ekonomi akan mempengaruhi faktor fisik, kesehatan, dan
pendidikan. Hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Tesfaye
H Leta et all (2012) banyak pria yang melakukan tes HIV/AIDS berasal dari
sosial-ekonomi tinggi.
5) Akses Informasi
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Purwaningsih dkk bahwa salah
satu yang mempengaruhi seseorang memanfaatkan layanan VCT karena
mendapatkan pengalaman memperoleh informasi tentang VCT sebelumnya. Hal
ini juga ditunjukkan pada penelitian yang dilakukan oleh Abebe, A. dan Mitikie,
G. (2009) dijelaskan bahwa siswa yang melakukan VCT 97 % sudah mengetahui
informasi terkait VCT.
6) Isyarat tanda dan Gejala Penyakit
Seseorang yang mendapatkan penyakit, dan tidak merasakan sakit (disease
but not illness) sudah pasti tidak akan bertindak apa-apa terhadap penyakitnya

31

tersebut. Tetapi apabila diserang penyakit dan juga merasakan sakit, maka baru
akan timbul berbagai macam perilaku dan usaha salah satunya dengan
mengunjungi fasilitas-fasilitas kesehatan (Soekidjo, N., 2010:107)
2.4Teori Health Belief Model
Health Belief Model (HBM) seringkali dipertimbangkan sebagai kerangka
utama dalam perilaku yang berkaitan dengan kesehatan, dimulai dari
pertimbangan

orang mengenai kesehatan. Health Belief Model

(HBM) ini

digunakan untuk meramalkan perilaku peningkatan kesehatan. Health Belief


Model (HBM) merupakan model kognitif yang berarti bahwa khususnya proses
kognitif dipengaruhi oleh informasi dari lingkungan. Menurut Health Belief
Model

(HBM) kemungkinan individu akan melakukan tindakan pencegahan

tergantung secara langsung pada hasil dari dua keyakinan atau penilaian kesehatan
yaitu ancaman yang dirasakan dari sakit dan pertimbangan tentang keuntungan
dan kerugian (Ircham Machfoedz dan Eko Suryani,2009: 90).
Model teori ini perilaku individu dipengaruhi oleh persepsi dan
kepercayaan individu itu sendiri tanpa memandang apakah persepsi dan
kepercayaannya tersebut sesuai atau tidak sesuai dengan realitas.Dalam hal ini
penting sekali untuk dapat membedakan penilaian kesehatan secara objektif dan
subjektif.Penilaian secara objektif artinya kesehatan dinilai dari sudut pandang
tenaga kesehatan, sedangkan penilaian subjektif artinya kesehatan dinilai dari
sudut pandang individu berdasarkan keyakinan dan kepercayaannya. Teori Health
Belief Model didasarkan atas tiga faktor esensial yaitu :

32

1) Kesiapan individu untuk merubah perilaku dalam rangka menghindari suatu


penyakit atau memperkecil risiko kesehatan,
2) Adanya dorongan dalam lingkungan individu yang membuatnya merubah
perilaku,
3) Perilaku itu sendiri
Ketiga faktor di atas dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti persepsi
tentang kerentanan terhadap penyakit, potensi ancaman, motivasi untuk
memperkecil kerentanan terhadap penyakit,

adanya kepercayaan bahwa

perubahan perilaku dapat memberikan keuntungan, penilaian individu terhadap


perubahan yang

ditawarkan,

interaksi dengan petugas kesehatan yang

merekomendasikan perubahan perilaku, dan pengalaman mencoba perilaku yang


serupa (Priyoto, 2014 : 136).
Ada empat persepsi utama yang membangun teori HBM, setiap persepsi
baik sendiri-sendiri atau bergabung, dapat digunakan dalam menjelaskan perilaku
sehat. Dalam perkembangannya, pembentuk lain ditambahkan ke dalam HBM,
sehingga model HBM diperluas meliputi, modifying factor,dan cues to action.
2.4.1 Komponen HBM
HBM memiliki komponen-komponen diantaranya (Priyoto, 2014:136) :
1) Kerentanan yang Dirasakan (Perceived Susceptibility)
Kemudahan menderita penyakit adalah salah satu dari banyak persepsi
yang digunakan dalam mendorong seseorang dalam menerima perilaku
sehat.Semakin besar penerimaan terhadap risiko, semakin besar kemungkinan
terciptanya perilaku yang dapat menurunkan risiko.

33

Ketika persepsi tentang kemudahan menderita penyakit (perceived


susceptibility) dikombinasikan dengan keseriusan (perceived severity), akan
menghasilkan penerimaan ancaman (perceived threat). Hal ini mengacu pada
sejauh mana seseorang berfikir penyakit atau kesakitan betul-betul merupakan
ancaman pada dirinya. Asumsinya adalah bahwa bila ancaman yang dirasakan
tersebut meningkat maka perilaku pencegahan juga akan meningkat.
2) Manfaat yang Dirasakan(Perceived Benefits)
Yang membentuk persepsi terhadap keuntungan yang akan diperoleh
adalah opini individu itu sendiri terhadap kegunaan atau kemampuan perilaku
baru dalam menurunkan risiko. Orang-orang cenderung untuk mengembangkan
perilaku sehat ketika mereka percaya bahwa perilaku baru tersebut akan
menurunkan kemungkinan mereka untuk terkena penyakit.
3) Hambatan yang Dirasakan (Perceived Barriers)
Pembentuk terakhir HBM adalah persepsi terhadap hambatan yang akan
dihadapi dari tindakan atau perilaku kesehatan. bagaimanapun, sebuah tindakan
dapat saja tidak diambil oleh seseorang, meskipun individu tersebut percaya
terhadap keuntungan mengambil tindakan tersebut. Ini bisa saja disebabkan oleh
hambatan.Hambatan mengacu kepada karakteristik dari pengukuran sebuah
pencegahan

seperti

merepotkan,

mahal,

tidak

menyenangkan,

atau

menyakitkan.Karakteristik ini dapat menyebabkan individu menjauh dari tindakan


yang diinginkan untuk dirasakan.

34

4) Keseriusan yang Dirasakan (Perceived Severity)


Perceived severity merupakan persepsi subjektif dari individu terhadap
seberapa parah konsekuensi fisik dan sosial dari penyakit yang akan dideritanya.
Persepsi terhadap keseriusan dapat terbentuk dari informasi medis dan
pengetahuan individu, namun juga dapat terbentuk dari kepercayaan individu
tentang kesulitan dari sebuah penyakit tercipta atau mempengaruhi hidup mereka
secara umum.
5) Isyarat Untuk Bertindak (Cues to Action)
Tambahan dari empat kepercayaan atau persepsi dan variabel modifikasi,
HBM menyatakan bahwa timbulnya perilaku memerlukan adanya pemicu (cause
of action).Pemicu timbulnya perilaku adalah kejadian, orang, atau barang yang
membuat seseorang merubah perilaku mereka.Isyarat untuk bertindak (Cues to
Action) itu berupa informasi dari luar.Ada bermacam-macam bentuk. Misalnya
dari media massa, pengumuman di radio, dan kampanye pembasmian nyamuk,
juga telfon yang mengingatkan janji dengan dokter, serta penyakit dari anggota
keluarga atau teman.
6) Variabel Modifikasi (Modifying Variable)
Empat persepsi pembentuk utama teori HBM yaitu ancaman, keseriusan,
ketidak-kekebalan dan pertimbangan keuntungan dan kerugian, dipengaruhi
variabel-variabel yang dikenal dengan modifying variable. Variabel tersebut
diantaranya : a) variabel demografis (usia, jenis kelamin, latar belakang budaya);
b) variabel sosial psikologis (kepribadian, kelas sosial, tekanan sosial, peer dan

35

reference group, pengalaman sebelumnya); c) variabel struktural (pengetahuan,


akses ke layanan kesehatan, dan pengalaman tentang masalah).
Variabel Demografis : umur, jenis kelamin,
etnis
Variabel Sosial Psikologis :kepribadian,
kelas sosial, tekanan sosial, peer dan
reference group, pengalaman sebelumnya
Variabel Struktur :pengetahuan, akses ke
layanan kesehatan, dan pengalaman tentang
masalah

Kecenderungan yang
dilihat (perceived)
mengenai gejala/penyakit.
Keseriusan/bahaya yang
dilihat mengenai gejala
dan penyakit.

Ancaman yang dilihat


mengenai gejala dan
penyakit.

Pendorong (cues) untuk


bertindak (kampanye
media massa, tulisan
dalam surat kabar dll)

Gambar 2.2 Teori HBM


Sumber : Soekidjo Notoatmodjo, 2010

Manfaat yang dilihat dari


pengambilan tindakan
dikurangi rintangan (biaya,
akses layanan, stigma negatif,
dan prosedur layanan VCT)
yang dilihat dari pengambilan
tindakan.

Kemungkinan mengambil
tindakan tepat untuk
perilaku sehat atau sakit

36

2.5 Kerangka Teori


Gay

Waria

Lesbian

Homoseksual

Perilaku
Berisiko

Biseksual

Seks

Heteroseksual

Darah (termasuk
penggunaan jarum suntik)

HIV/AIDS

Transplasental/perinatal

VCT

Variabel Demografis : umur


Variabel Sosial Psikologis :tingkat
pendapatan, tingkat pendidikan
Variabel Struktur : pengetahuan
1. Persepsi kerentanan tertular HIV dan
AIDS
2. Persepsi bahaya atau keseriusan
akibat penyakit HIV dan AIDS
3. Persepsi manfaat dari tindakan
melakukan VCT
4. Persepsi hambatan dari tindakan
melakukan VCT
5. Pencetus Tindakan
Gambar 2.3 Kerangka Teori
Sumber : Modul Pelatihan Konseling dan Tes HIV Sukarela, 2011 : 53, Tesfaye H
Leta et all (2012), Retnowati, N.A (2010), Erfawanti Endra (2014), Wicaksana et
al (2009), Purwaningsih dkk, Abebe, A. dan Mitikie, G. (2009), Soekidjo
Notoatmodjo, 2010.

37

Dari beberapa teori perilaku, teori yang digunakan dalam penelitian ini
adalah health belief model (HBM). Dalam teori ini menjelaskan bahwa
kemungkinan individu akan melakukan tindakan pencegahan dipengaruhi oleh
dua keyakinan atau penilaian kesehatan yaitu ancaman yang dirasakan dari sakit
atau luka dan pertimbangan tentang keuntungan dan kerugian.
Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki merupakan salah satu
kelompok berisiko tertular penyakit HIV dan AIDS. Untuk mengetahui status HIV
dan AIDS diperlukan tes HIV. Dalam melakukan tes HIV dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya umur, pendidikan, pengetahuan, ekonomi, Persepsi
kerentanan tertular HIV dan AIDS, Persepsi bahaya atau keseriusan terhadap HIV
dan AIDS, Persepsi manfaat dari tindakan melakukan VCT, Persepsi hambatan
dari tindakan melakukan VCT, dan pencetus tindakan yang mendorong LSL untuk
melakukan VCT meliputi akses informasi, isyarat tanda dan gejala penyakit, dan
teman.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep


Variabel Bebas

Variabel Terikat

A. Karakteristik
Responden
meliputi : umur, tingkat
pendidikan, tingkat pendapatan
B. Pengetahuan tentang HIV dan
AIDS dan VCT
C. Persepsi kerentanan tertular HIV
dan AIDS
Praktik VCT

D. Persepsi bahaya atau keseriusan


akibat penyakit HIV dan AIDS
E. Persepsi manfaat dari tindakan
melakukan VCT
F. Persepsi hambatan dari tindakan
melakukan VCT

G. Pencetus Tindakan
1. Akses informasi
2. Isyarat tanda dan gejala HIV dan
AIDS
3. Teman

Gambar. 3.1 Kerangka Konsep

38

39

3.2 Variabel Penelitian


Variabel merupakan objek penelitian, atau apa yang menjadi titik
perhatian suatu penelitian. Menurut Sutrisno Hadi dalam Suharsini Arikunto
(2010 : 159) mengatakan variabel sebagai gejala yang bervariasi misalnya jenis
kelamin, karena jenis kelamin mempunyai variasi laki-laki dan perempuan.
1) Variabel Bebas
Variabel

bebas

(Independent

Variabel)

adalah

variabel

yang

mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya


dependenvariabel (variabel terikat) (Sugiyono, 2009 : 61). Variabel bebas dalam
penelitian ini diantaranya adalah :
1) Karakteristik responden meliputi umur, tingkat pendidikan dan tingkat
pendapatan
2) Pengetahuan responden tentang penyakit HIV dan AIDS dan VCT
3) Persepsi responden tentang kerentanan tertular penyakit HIV dan AIDS
4) Persepsi responden tentang bahaya atau keseriusan akibat penyakit HIV dan
AIDS
5) Persepsi responden tentang manfaat dari tindakan melakukan VCT
6) Persepsi responden tentang hambatan dari tindakan melakukan VCT
7) Pencetus tindakan dalam mendukung upaya melakukan VCT
2) Variabel Terikat
Variabel terikat

(Dependent

Variabel)

merupakan variabel

yang

dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.Variabel


terikat dalam penelitian ini yaitu praktik VCT pada kelompok LSL.

40

3.3 Hipotesis Penelitian


Berdasarkan kerangka konsep diatas maka peneliti dapat menetapkan
hipotesis penelitian sebagai berikut :
1) Ada hubungan antara karakteristik responden terhadap praktik VCT
2) Ada hubungan antara pengetahuan responden mengenai HIV dan AIDS serta
VCT terhadap praktik VCT
3) Ada hubungan antara persepsi responden tentang kerentanan tertular penyakit
HIV dan AIDS terhadap praktik VCT
4) Ada hubungan antara persepsi responden tentang bahaya atau keseriusan
akibat penyakit HIV dan AIDS terhadap praktik VCT
5) Ada hubungan antara persepsi responden tentang manfaat melakukan VCT
terhadap praktik VCT
6) Ada hubungan antara persepsi responden tentang hambatan melakukan VCT
terhadap praktik VCT
7) Ada hubungan antara pencetus tindakan terhadap praktik VCT
3.4 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel
Tabel 3.1 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel
No
(1)
1

Variabel
(2)
Umur

Definisi Operasional
(3)
Tahun saat dilakukan
penelitian dikurangi
tahun subjek lahir.

Cara Ukur
(4)
Pembagian angket

Kategori
(5)
1. Remaja (17 tahun25 tahun)
2. Dewasa (26 tahun35 tahun)
Sumber : DEPKES
RI, 2009

Skala
(6)
Ordinal

41

Tingkat
pendidikan

Pencapaian tingkat
pendidikan formal
yang ditamatkan oleh
subjek penelitian
sampai saat
pengambilan data

Pembagian angket

1. Pendidikan rendah
(tidak tamat SD,
tamat SD, dan
tamat SMP)
2. Pendidikan tinggi
(tamat SMA ke
atas)
Sumber
:
UU
SISDIKNAS

No

Ordinal

20

Tahun 2003
3

Pengetahuan

Kemampuan subjek
penelitian untuk
menjawab pertanyaan
yang diberikan dengan
benar tentang :
- Pengertian
dari HIV dan
AIDS
- Penyebab
HIV
- Gejala HIV
- Masa inkubasi
HIV
- Penularan
HIV
- Kelompok
berisiko
- Tes HIV
- Tahap VCT

Pembagian angket
berisipertanyaan dengan
alternatif jawaban a,b,c,
dan d dan dihitung
berdasarkan jumlah
jawaban yang benar dan
salah dibagi dengan
jumlah pertanyaan dikali
100

Tingkat
pendapatan

Jumlah uang yang


diperoleh responden
dihitung dengan satuan
rupiah per bulan

Pembagian angket

1) Rendah (< 60 %
jawaban benar)
2) Sedang (60% 80% jawaban
benar)
3) Tinggi (>80%
jawaban benar)
(Yayuk Farida, 2004)

Ordinal

1. Rendah apabila
penghasilan <
1.685.000,00
2. Tinggi apabila
penghasilan >
1.685.00,00
Sumber : UMR Kota

Ordinal

Semarang
2015

42

Persepsi
responden
tentang
kerentanan
penyakit HIV
dan AIDS

Tanggapan responden
dalam menilai
kerentanan penyakit
HIV dan AIDS

Persepsi
responden
tentang bahaya
atau keseriusan
penyakit HIV
dan AIDS

Pembagian angket yang


berisi pertanyaan dengan
alternatif jawaban untuk
pertanyaan favorable
SS diberi skor 5, S
diberi skor 4, RG diberi
skor 3, TS diberi skor
2,STS diberi skor 1.
Dan untuk alternatif
jawaban pertanyaan
unfavorable SS diberi
skor 1, S diberi skor 2,
RG diberi skor 3, TS
diberi skor 4,STS diberi
skor 5.

1.

Baik : total skor >


median (data
tidak terdistribusi
normal)
Buruk : total skor
median (data
tidak terdistribusi
normal)

Ordinal

Tanggapan responden
dalam menilai risiko
yang akan didapat
apabila terkena
penyakit HIV dan
AIDS

Pembagian angket yang


berisi pertanyaan dengan
alternatif jawaban untuk
pertanyaan favorable
SS diberi skor 5, S
diberi skor 4, RG diberi
skor 3, TS diberi skor
2,STS diberi skor 1.
Dan untuk alternatif
jawaban pertanyaan
unfavorable SS diberi
skor 1, S diberi skor 2,
RG diberi skor 3, TS
diberi skor 4,STS diberi
skor 5.

1. Baik : total skor >


median (data tidak
terdistribusi
normal)
2. Buruk : total skor
median (data
tidak terdistribusi
normal)

Ordinal

Persepsi
responden
tentang manfaat
dari melakukan
VCT

Tanggapan responden
dalam menilai tentang
manfaat dalam
melakukan VCT
meliputi informasi
terkait pencegahan
HIV/AIDS, informasi
status HIV, dan
dukungan petugas
kesehatan.

Pembagian angket yang


berisi pertanyaan dengan
alternatif jawaban untuk
pertanyaan favorable
SS diberi skor 5, S
diberi skor 4, RG diberi
skor 3, TS diberi skor
2,STS diberi skor 1.
Dan untuk alternatif
jawaban pertanyaan
unfavorable SS diberi
skor 1, S diberi skor 2,
RG diberi skor 3, TS
diberi skor 4,STS diberi
skor 5.

1.

Baik : total skor >


median (data
tidak terdistribusi
normal)
Buruk : total skor
median (data
tidak terdistribusi
normal)

Ordinal

Persepsi
responden
tentang
hambatan
dalam
melakukan
VCT

Tanggapan responden
dalam menilai tentang
hambatan dalam
melakukan VCT
meliputi biaya, akses
layanan, stigma
negatif, dan prosedur

Pembagian angket yang


berisi pertanyaan dengan
alternatif jawaban untuk
pertanyaan favorable
SS diberi skor 5, S
diberi skor 4, RG diberi
skor 3, TS diberi skor

1.

Baik : total skor >


median (data
tidak terdistribusi
normal)
Buruk : total skor
median (data
tidak terdistribusi

Ordinal

2.

2.

2.

43

10

Pencetus
Tindakan

Praktik VCT

3.5

layanan VCT

2,STS diberi skor 1.


Dan untuk alternatif
jawaban pertanyaan
unfavorable SS diberi
skor 1, S diberi skor 2,
RG diberi skor 3, TS
diberi skor 4,STS diberi
skor 5.

Tanggapan responden
dalam menilai tentang
sesuatu yang
mendorong untuk
melakukan VCT
meliputi : isyarat tanda
dan gejala penyakit
HIV dan AIDS, akses
informasi dan teman

Pembagian angket yang


berisi pertanyaan dengan
alternatif jawaban untuk
pertanyaan favorable
SS diberi skor 5, S
diberi skor 4, RG diberi
skor 3, TS diberi skor
2,STS diberi skor 1.
Dan untuk alternatif
jawaban pertanyaan
unfavorable SS diberi
skor 1, S diberi skor 2,
RG diberi skor 3, TS
diberi skor 4,STS diberi
skor 5.
Pembagian angket yang
berisi pertanyaan dengan
alternatif jawaban Ya
diberi skor 1, dan Tidak
diberi skor 0.

Praktik VCT dalam 3


bulan terakhir yang
dilakukan

normal)

1.

2.

1.
2.

Baik : total skor >


median (data
tidak terdistribusi
normal)
Buruk : total skor
median (data
tidak terdistribusi
normal)

Ordinal

Melakukan VCT
Tidak Melakukan
VCT

Nominal

Jenis dan Rancangan Penelitian


Jenis dan rancangan dalam penelitian ini adalah survey analitik, dengan

pendekatan cross sectional untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi


praktik VCT pada kelompok LSL di Kota Semarang, dimana data yang
menyangkut variabel dependen dan variabel independen akan dikumpulkan dalam
waktu yang bersamaan dan secara langsung.
Cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika
korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek, cara pendekatan, observasi atau
pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach) artinya setiap
subjek penelitian hanya diobservasi sekali dan pengukuran dilakukan terhadap

44

status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan (Soekidjo


Notoadmodjo, 2010 : 38)
3.6 Populasi dan Sampel Penelitian
1)

Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek atau elemen penelitian. Populasi

dalam penelitian ini adalah seluruh LSL yang ada di Semarang yang tergabung
dalam komunitas gay Semarang (SGC) selama masa penjangkauan dari bulan Juli
tahun 2014 sampai dengan Januari tahun 2015 yaitu sebanyak 300 orang.
2)

Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

teknik simple random sampling. Hakikat pengambilan sampel secara simple


random adalah bahwa setiap anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama
untuk diseleksi sebagai sampel (Soekidjo Notoatmodjo, 2010 : 120)
Untuk populasi kecil atau lebih kecil dari 10.000, dapat ,menggunakan
rumus :

n=

1+ 2

Keterangan :
N = Populasi
n = Sampel
d = Derajat Kepercayaan 0,1 (10 %)
(Sarwono J., 2006: 120)

45

n=

n=

n=

300
1+300 0,12
300
1+3
300
4

n = 75
untuk sampel minimal pada penelitian ini yaitu 75 sampel.
3.7 Sumber Data
1) Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dengan pembagian angket.Data
primer berupa data mengenai karakteristik responden, pengetahuan responden
mengenai HIV dan AIDS terhadap perilaku praktik VCT, persepsi responden
mengenai kerentanan terhadap penyakit HIV dan AIDS, persepsi responden
mengenai bahaya penyakit HIV dan AIDS, persepsi responden mengenai manfaat
melakukan VCT, persepsi responden mengenai hambatan dalam melakukan VCT
dan pencetus tindakan.
2) Data Sekunder
Metode dokumentasi adalah pengumpulan data dengan menggunakan
berbagai sumber tulisan yang berkenaan dengan objek penelitian, yaitu berupa
data kunjungan VCT pada SGC, Data jumlah penderita HIV dan AIDS di KPA
Propinsi Jawa Tengah, Data jumlah penderita HIV dan AIDS di Dinas Kesehatan
Kota Semarang, dan data jumlah penderita HIV dan AIDS di Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia.

46

3.8 Instrumen Penelitian dan Teknik Pengambilan Data


1) Instrumen Penelitian
Instrument penelitian merupakan alat-alat

yang digunakan untuk

pengumpulan data (Soekidjo Notoatmodjo, 2010:87).Instrument dalam penelitian


ini adalah angket.Angket merupakan seperangkat pertanyaan atau pernyataan
tertulis kepada respoden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2009:199).Angket
diberikan kepada anggota SGC untuk mengentahui persepsi gay mengenai praktik
VCT.
2) Validitas dan Reliabilitas Instrumen
3.8.2.1 Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar
mengukur apa yang diukur. Untuk mengetahui instrument yang valid kuesioner
diuji validitasnya menggunakan uji product moment. Suatu instrumen dikatakan
valid apabila korelasi tiap butir pertanyaan memiliki nilai positif dan nilai r hitung
> t tabel (Soekidjo Notoatmodjo, 2010 : 164).
Uji validitas angket penelitian dilakukan terhadap 30 orang LSL yang
tergabung dalam komunitas Kota Kudus. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa
pertanyaan tentang pengetahuan terdapat 4 pertanyaan yang tidak valid, yaitu
pertanyaan ke-13, ke-14, ke-18 dan ke-20, untuk pertanyaan tentang persepsi
kerentanan tertular penyakit HIV dan AIDS terdapat 3 pertanyaan tidak valid,
yaitu pertanyaan ke-6, ke-7, dan ke-9, untuk pertanyaan tentang persepsi bahaya
atau keseriusan penyakit HIV dan AIDS terdapat 3 pertanyaan tidak valid, yaitu
pertanyaan ke-1, ke-3, dan ke-12, untuk pertanyaan tentang persepsi manfaat

47

dalam melakukan VCT terdapat 1 pertanyaan tidak valid, yaitu pertanyaan ke-3,
untuk pertanyaan tentang hambatan dalam melakukan VCT terdapat 3 pertanyaan
tidak valid, yaitu pertanyaan ke-5, ke-6, dan ke-11, dan untuk pertanyaan tentang
pencetus tindakan terdapat 4 pertanyaan tidak valid, yaitu pertanyaan ke-5, ke-7,
ke-10, dan pertanyaan ke-27.
3.8.2.2 Reliabilitas
Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat
pengukur dapat dipercaya atau diandalkan (Soekidjo Notoatmodjo, 2010: 168) ini
berarti sejauhmana suatu alat pengukuran itu tetap konsisten bila dilakukan
pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan
alat ukur yang sama. Untuk uji reliabilitas instrument dilakukan setelah uji
validitas dengan menggunakan metode alfa cronbach. Standar yang digunakan
dalam penentuan reliabel atau tidak adalah perbandingan r alpha dengan konstanta
(0,6). Suatu instrumen dikatakan reliabel jika r alpha > konstanta (0,6).
Uji reliabilitas dilakukan terhadap seluruh pertanyaan yang sudah valid
dari pertenyaan tentang pengetahuan, persepsi kerentanan tertular penyakit HIV
dan AIDS, persepsi bahaya atau keseriusan penyakit HIV dan AIDS, persepsi
manfaat dalam melakukan VCT, persepsi hambatan dalam melakukan VCT, dan
pencetus tindakan.Hasil uji reliabilitas menyatakan bahwa seluruh pertanyaan
yang sudah valid memperoleh hasil reliabel.
3) Teknik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data merupakan salah satu langkah penting dalam
penelitian karena berhubungan dengan data yang diperoleh selama penelitian.

48

Teknik pengambilan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pembagian
angket.Angket adalah sejumlah daftar pertanyaan tertulis yang sudah tersusun
dengan baik dan digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam
arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang responden ketahui.
3.9 Prosedur Penelitian
Penelitian dilakukan dengan mendatangi komunitas SGC, peneliti
melakukan tahapan sebagai berikut, yaitu :
1) Koordinasi dengan pengurus SGC
2) Pengambilan data jumlah Gay yang melakukan VCT pada SGC
3) Melakukan izin penelitian pada pengurus SGC
4) Pembagian angket kepada responden
5) Analisis data.
3.10 Teknik Pengolahan dan Analisis Data
1) Langkah-langkah Pengolahan Data
Data yang didapat dari lapangan dikumpulkan, diperiksa dan diteliti ulang
tentang kelengkapannya dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Editing, sebelum data diolah, data tersebut perlu diedit terlebih dahulu dan
dibuat tabel pada variabel yang diteliti.
2) Coding, pemberian kode pada masing-masing jawaban untuk mempermudah
dalam pengolahan data.
3) Entry, data yang telah dikode tersebut kemudian dimasukkan dalam komputer
untuk diolah.
4) Tabulasi, pengelompokan data dalam suatu data tertentu

49

3.10.2 Analisis Data


Analisis data dalam penelitian ini dengan menggunakan metode sebagai
berikut :
Analisis data dilakukan dengan menggunakan :
1)

Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan pada setiap variabel hasil penelitian yang

menghasilkan distribusi dan persentase setiap variabel (Soekidjo Notoatmodjo,


2010:182).Dalam penelitian ini analisis univariat dilakukan terhadap faktor-faktor
yang mempengaruhi praktik VCT pada kelompok LSL di Kota Semarang.
2) Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antar dua variabel
(Soekidjo Notoatmodjo, 2010:183).
Uji statistik yang digunakan adalah uji chi-squer. Uji chi-square adalah
teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis apabila dalam populasi
terdiri atas dua atau lebih kelas, dimana data berbentuk nominal, dan sampelnya
besar (Sugiyono, 2007:107)
Syarat uji chi-square adalah tidak ada sel yang nilai observed bernilai nol
dan sel yang dinilai expected (E) kurang dari 5 maksimal 20 % dari jumlah sel
(Widya dan Dina, 2012: 139)
Jika syarat uji chi-square tidak terpenuhi, maka dipakai uji alternatifnya
yaitu :
1) Alternatif uji chi-square untuk tabel 2x2 adalah uji fisher
2) Alternatif uji chi-square untuk tabel 2xk adalah uji kolmogorov-smirnov

50

3) Penggabungan sel adalah langkah alternatif uji chi-square untuk tabel selain
2x2 dan 2xk sehingga terbentuk suatu tabel B kali K yang baru. Setelah
dilakukan penggabungan sel, uji hipotesis dipilih sesuai dengan tabel B kali K
yang baru tersebut (Widya dan Dina, 2012: )
Menurut Sugiyono (2007: 216), taraf signifikan yang digunakan adalah 95
% dengan nilai kemaknaan 5 %. Hasil uji chi-square dilihat dengan nilai p. Jika
nilai p<0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang menyimpulkan bahwa
terdapat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Untuk mengetahui
tingkat keakuratan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat maka
digunakan koefisien korelasi. Kriteria keakuratan hubungan dengan menggunakan
koefisien korelasi yaitu : 0.000-0.199: sangat lemah; 0.200-0.399: lemah; 0.4000.599:

sedang;

0.600-0.799:

kuat;

dan

0.800-1.000:

sangat

kuat.

BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Semarang Gay@ Community


4.1.1 Profil Semarang Gay@ Community
Semarang

Gay@

Community (SGC)

merupakan organisasi

non

pemerintah independen berbasis (Gay dan LSL lainnya) yang didirikan oleh
beberapa teman komunitas pada tanggal 16 Juni 2009 dengan akte notaris Djoni
Djohan,S.H. dengan nomor akte 37/2009/IV pada kantor notaris Djoni Djohan,
S.H. 23 Juni 2009. Isu HIV dan AIDS sudah menjadi salah satu isu yang diangkat
SGC diawal organisasi ini berdiri, bekerjasama dengan salah satu lembaga donor
Global Found (GF) sebagai implementing unit dengan SSR yayasan Graha Mitra
Semarang dalam penanggulangan HIV dan AIDS pada kelompok laki-laki yang
berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) di 8 wilayah provinsi Jawa Tengah.
Semarang Gay@ Community (SGC) sebagai organisasi yang berbasis LSL
tidaklah sulit untuk melibatkan komunitas gay di Semarang dalam berbagai
program pemberdayaan pengendalian HIV dan penanganan AIDS.
4.1.2 Visi, Misi, Dan Nilai-Nilai
4.1.2.1 Visi
Menjadikan Komunitas LSL yang mandiri dan sehat dalam kebersamaan.
4.1.2.2 Misi

51

52

1) Mendorong kemandirian komunitas dalam mengakses layanan kesehatan dalam


rangka penanggulangan HIV dan AIDS
2) Mendorong kemandirian komunitas dalam pemberdayaan
3) Mendorong kemandirian komunitas dalam membangun jaringan
4.1.2.3 Nilai-nilai
1) Kebersamaan
2) Kemandirian
3) Kepedulian
4) Kerelawanan
5) Keterbukaan
4.1.3 Pemetaan Fisik
Pemetaan fisik di lapangan dalam jangkauan SGC terdapat 8 lokasi dengan
12 titik hotspot yang merupakan tempat berkumpulnya teman-teman komunitas,
yaitu taman, mall, open spaceatau tempat terbuka (seperti lapangan, stadion, dan
sebagainya) dan warung makan, dimana jumlah estimasi populasi 1000 orang.
Pada 12 titik hotspot tersebut terdapat beberapa tokoh kunci yang sangat
berpengaruh terhadap komunitas. Lokasi yang strategis mempermudah untuk
komunitas menjangkau lokasi hotspot dengan berbagai arah tujuan, antara lain :
Mangkang-Terboyo,

Mangkang-Penggaron,

Banyumanik-Terboyo,

Kedungmundu-Johar, Sampangan-Johar, dan Banyumanik-Johar. Pada 12 titik


hotspot tersebut juga terdapat satu outlet kondom yang mendapat subsidi dari
KPA Kota Semarang, sedangkan untuk titik hotspot yang lain outletnya non
subsidi seperti minimarket, apotek dan supermarket. Untuk layanan kesehatan

53

(VCT dan IMS) dapat diakses oleh komunitas dengan mudah karena lokasi
layanan tersebut dekat dengan titik hotspot. Beberapa tempat pelayanan kesehatan
yang biasanya sering diakses diantaranya Rumah Sakit Pantiwilasa, Rumah Sakit
dr. Kariadi, Rumah Sakit Tugurejo, Puskesmas Halmahera, Puskesmas Poncol,
Klinik BKPM dan Klinik Griya Asa.
4.2 Analisis Data
4.2.1 Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui gambaran distribusi
frekuensi dan proporsi dari masing-masing variabel yang diteliti. Hasil analisis
univariat berdasarkan hasil penelitian terhadap 75 responden dapat dilihat pada
uraian berikut :
4.2.1.1 Umur
Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur
No
1.
2.

Karakteristik Responden
N
%
Remaja ( 17 tahun-25 tahun)
41
54,7%
Dewasa ( 26 tahun- 35 tahun)
34
45,3 %
75
100 %
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebanyak 41 orang (54,7%) responden
berumur kategori remaja ( 17 tahun-25 tahun), dan sebanyak 34 orang (45,3%)
responden berumur dewasa ( 26 tahun-35 tahun).
4.2.1.2 Tingkat Pendidikan
Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No
1.
2.

Karakteristik Responden
Rendah ( Tidak tamat SD,
tamat SD dan SMP)
Tinggi ( Tamat SMA ke atas)
Jumlah

N
34

%
45,3%

41
75

54,7 %
100 %

54

Berdasarkan tabel 4.2 diketahui bahwa sebanyak 34 responden (45,3%)


berpendidikan rendah, dan sebanyak 41 responden (54,7%) berpendidikan tinggi.
4.2.1.3 Tingkat Pendapatan
Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan
No
1.
2.

Karakteristik Responden
Rendah ( Rp.1.685.000,00)
Tinggi ( Rp. 1.685.000,00)
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa terdapat

N
%
44
58,7%
31
41,3%
75
100 %
44 responden yang mempunyai

tingkat pendapatan rendah (58,7%), dan 31 responden yang mempunyai tingkat


pendapatan tinggi (41,3%).
4.2.1.4 Pengetahuan
Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan
No
1.
2.
3.

Karakteristik Responden
Rendah
Sedang
Tinggi
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.4 jumlah responden yang

N
%
10
13,3%
41
54,7%
24
32,0%
75
100%
mempunyai pengetahuan rendah

sebanyak 10 responden (13,3%), pengetahuan sedang 41 responden (54,7%), dan


pengetahuan tinggi sebanyak 24 responden (32,0%).
4.2.1.5 Persepsi Kerentanan Tertular Penyakit HIV dan AIDS
Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi Kerentanan Tertular
Penyakit HIV dan AIDS
No
1.
2.

Karakteristik Responden
Baik
Buruk
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.5 jumlah responden yang

N
%
32
42,7%
43
57,3%
75
100 %
memiliki persepsi baik terhadap

kerentanan tertular penyakit HIV dan AIDS sebanyak 32 responden (42,7%),

55

sedangkan yang memeliki persepsi buruk terhadap kerentanan tertular penyakit


HIV dan AIDS sebanyak 43 responden (57,3%).
4.2.1.6 Persepsi Bahaya atau Keseriusan Penyakit HIV dan AIDS
Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi Bahaya atau
Keseriusan Penyakit HIV dan AIDS
No
1.
2.

Karakteristik Responden
Baik
Buruk
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.6 jumlah responden yang

N
%
34
45,3%
41
54,7%
75
100 %
memiliki persepsi baik terhadap

keseriusan atau bahaya penyakit HIV dan AIDS sebanyak 34 orang (45,3%),
sedangkan yang memiliki persepsi buruk sebanyak 41 orang (54,7%)
4.2.1.7 Persepsi Manfaat Dalam Melakukan VCT
Tabel 4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi Manfaatdalam
Melakukan VCT
No
1.
2.

Karakteristik Responden
Baik
Buruk
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.7 jumlah responden yang

N
%
38
50,7%
37
49,3%
75
100 %
memiliki persepsi baik terhadap

manfaat melakukan VCT sebanyak 38 responden (50,7%), sedangkan yang


memiliki persepsi buruk sebanyak 37 responden (49,3%).
4.2.1.8 Persepsi Hambatan Dalam Melakukan VCT
Tabel 4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi Hambatan dalam
Melakukan VCT
No
1.
2.

Karakteristik Responden
Baik
Buruk
Jumlah

34
41
75

45,3%
54,7%
100 %

56

Berdasarkan tabel 4.8 jumlah responden yang memiliki persepsi baik terhadap
hambatan melakukan VCT sebanyak 34 responden (45,3%), sedangkan yang
memiliki persepsi buruk sebanyak 41 responden (54,7%).
4.2.1.9 Pencetus Tindakan
Tabel 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Pencetus Tindakan
No

Karakteristik Responden

1.
2.

Baik
Buruk
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.9 jumlah responden yang

N
35
40
75
memiliki persepsi

%
46,7%
53,3%
100 %
baik terhadap

pencetus tindakan sebanyak 35 responden (46,7%), sedangkan yang memiliki


persepsi buruk sebanyak 40 responden (53,3%).
4.2.1.10 Praktik VCT
Tabel 4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Praktik VCT
No
1.
2.

Karakteristik Responden
N
VCT
32
Tidak VCT
43
75
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.10 diketahui bahwa sebanyak 32 responden

%
42,7 %
57,3 %
100 %
(42,7%)yang

melakukan praktik VCT, sedangkan yang tidak melakukan VCT sebanyak 43


responden (57,3%).
4.2.2 Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk menilai hubungan satu variabel bebas
dengan satu variabel terikat. Berdasarkan uji chi-square hasil analisis bivariat
adalah sebagai berikut :
4.2.2.1 Hubungan antara Umur dengan Praktik VCT
Berdasarkan pengujian hubungan antara umur dengan praktik VCT
menggunakan uji chi-square diperoleh hasil sebagai berikut:

57

Tabel 4.11 Crosstab Hubungan antara Umur dengan Praktik VCT


Umur
Remaja
Dewasa

Praktik VCT
Tidak VCT
VCT
N
%
N
%
18
43,9%
23
56,1%
14
41,2%
20
58,8%

Total
N
41
34

%
54,7%
45,3%

p value

CC

0,998

0,027

32
42,7%
43
57,3%
75
100
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.11 menunjukkan bahwa terdapat 41 responden yang berumur
remaja ( 17 tahun-25 tahun) (23 responden melakukan praktik VCT dan 18
responden tidak melakukan praktik VCT), sedangkan yang berumur dewasa ( 26
tahun-35 tahun) sebanyak 34 orang ( 14 orang tidak melakukan praktik VCT dan
20 orang melakukan praktik VCT). Hasil analisis bivariat pada tabel 4.11
diperoleh p-value= 0,998 (CC:0,027). Nilai p>0,05 sehingga dapat dikatakan
bahwa tidak ada hubungan antara usia dengan praktik VCT. Nilai koefisen
korelasi (CC) didapatkah hasil 0,027 yang artinya ada hubungan yang sangat
lemah antara umur dengan praktik VCT pada kelompok LSL di Kota Semarang.
4.2.2.2 Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Praktik VCT
Berdasarkan pengujian hubungan antara tingkat pendidikan dengan praktik
VCT menggunakan uji chi-square diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.12 Crosstab Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Praktik
VCT
Tingkat
Pendidikan

Praktik VCT
Total
P
CC
value
Tidak VCT
VCT
N
%
N
%
N
%
0,019
0,297
Rendah
20
58,8%
14
41,2%
34
45,3%
Tinggi
12
29,3%
29
70,7%
41
54,7%
32
42,7%
43
57,3%
75
100
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.12 menunjukkan hasil sebanyak 34 responden memiliki
tingkat pendidikan rendah (20 responden tidak melakukan VCT dan 14 responden
melakukan VCT), sedangkan sebanyak 41 responden memiliki tingkat pendidikan

58

tinggi (12 responden tidak melakukan VCT dan 29 responden melakukan VCT).
Hasil analisis bivariat pada tabel 4.12 didapatkan hasil p-value= 0,019
(CC:0,297). Nilai p<0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa ada hubungan antara
tingkat pendidikan dengan praktik VCT. Nilai koefisen korelasi (CC) didapatkah
hasil 0,297 yang artinya ada hubungan yang lemah antara tingkat pendidikan
dengan praktik VCT pada kelompok LSL di Kota Semarang.
4.2.2.3 Hubungan antara Tingkat Pendapatan dengan Praktik VCT
Berdasarkan pengujian hubungan antara tingkat pendidikan dengan praktik
VCT menggunakan uji chi-square diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.13 Crosstab Hubungan antara Tingkat Pendapatan dengan Praktik
VCT
Tingkat
Pendapatan

Praktik VCT
Tidak VCT
VCT
N
%
N
%
Rendah
19
43,2%
25
56,8%
Tinggi
13
41,9%
18
58,1%
32
42,7%
43
57,3%
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.13 menunjukkan bahwa

Total

P value

CC

N
%
1
0,012
44 58,7%
31 41,3%
75
100
terdapat 44 responden yang

mempunyai tingkat pendapatan rendah (19 responden tidak melakukan VCT dan
25 responden melakukan VCT), sedangkan responden yang memiliki tingkat
pendapatan tinggi sebanyak 31 responden ( 13 responden tidak melakukan VCT
dan 18 responden melakukan VCT). Hasil analisis bivariat pada tabel 4.13
didapatkan hasil p-value= 1 (CC:0,012). Nilai p>0,05 sehingga dapat dikatakan
bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendapatan dengan praktik VCT. Nilai
koefisen korelasi (CC) didapatkah hasil 0,012 yang artinya ada hubungan yang
sangat lemah antara tingkat pendapatan dengan praktik VCT pada kelompok LSL
di Kota Semarang.

59

4.2.2.4 Hubungan antara Pengetahuan dengan Praktik VCT


Berdasarkan pengujian hubungan antara pengetahuan dengan praktik VCT
didapatkan Expected Count kurang dari 5 sebanyak 1 sel (16,7%). Sehingga masih
memenuhi syarat uji Chi-square untuk tabel 2xk dengan nilai Expected Count
kurang dari 5 tidak lebih dari 20% jumlah sel.
Tabel 4.14 Crosstab Hubungan antara Pengetahuan dengan Praktik VCT
Pengetahuan

Praktik VCT
Total
P
CC
value
Tidak VCT
VCT
N
%
N
%
N
%
0,031 0,143
Rendah
8
80,0%
2
20,0%
10
13,3%
Sedang
14
34,1%
27
65,9%
41
54,7%
Tinggi
10
41,7%
14
58,3%
24
32,0%
32
42,7%
43
57,3%
75
100
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.14 menunjukkan bahwa terdapat 10 responden yang
mempunyai pengetahuan rendah (8 responden tidak melakukan VCT dan 2
responden melakukan VCT), 41 responden mempunyai pengetahuan sedang (14
responden tidak melakukan VCT dan 27 responden melakukan VCT), dan
terdapat 24 responden yang mempunyai pengetahuan tinggi (10 responden tidak
melakukan VCT dan 14 responden melakukan VCT). Hasil analisis bivariat pada
tabel 4.14 didapatkan hasil p-value= 0,031 (CC:0,143). Nilai p>0,05 sehingga
dapat dikatakan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan praktik VCT.
Nilai koefisen korelasi (CC) didapatkah hasil 0,143 yang artinya ada hubungan
yang sangat lemah antara pengetahuan dengan praktik VCT pada kelompok LSL
di Kota Semarang.

60

4.2.2.5 Hubungan antara Persepsi Kerentanan Penyakit HIV dan AIDS dengan
Praktik VCT
Berdasarkan pengujian hubungan antara persepsi kerentanan penyakit HIV
dan AIDS dengan praktik VCT menggunakan uji chi-square diperoleh hasil
sebagai berikut:
Tabel 4.15Crosstab Hubungan antara Persepsi Kerentanan Tertular Penyakit
HIV dan AIDS dengan Praktik VCT
Persepsi
Kerentanan

Praktik VCT
Total
Tidak VCT
VCT
N
%
N
%
N
%
Baik
15
46,9%
17
53,1%
32
42,7%
Buruk
17
39,5%
26
60,5%
43
57,3%
32
42,7%
43
57,3%
75
100
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.15 menunjukkan hasil bahwa terdapat 32

P
value
0,689

CC
0,073

responden yang

mempunyai persepsi kerentanan yang baik (15 responden tidak melakukan VCT
dan 17 responden melakukan VCT), sedangkan sebanyak 43 responden
mempunyai persepsi kerentanan yang buruk (17 responden tidak melakukan VCT
dan 26 responden melakukan VCT). Hasil analisis bivariat pada tabel 4.15
didapatkan hasil p-value=0,689 (CC:0,073). Nilai p<0,05 sehingga dapat
dikatakan tidak ada hubungan antara persepsi kerentanan tertular penyakit HIV
dan AIDS dengan praktik VCT. Nilai koefisen korelasi (CC) didapatkah hasil
0,073 yang artinya ada hubungan yang sangat lemah antara persepsi kerentanan
tertular penyakit HIV dan AIDS dengan praktik VCT pada kelompok LSL di Kota
Semarang.

61

4.2.2.6 Hubungan antara Persepsi Bahaya atau Keseriusan Penyakit HIV dan
AIDS dengan Praktik VCT
Berdasarkan pengujian hubungan antara persepsi manfaat melakukan VCT
dengan praktik VCT menggunakan uji chi-square diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.16 Crosstab Hubungan antara Persepsi Bahaya atau Keseriusan HIV
dan AIDS dengan Praktik VCT
Persepsi
Keseriusan

Praktik VCT
Total
Tidak VCT
VCT
N
%
N
%
N
%
Baik
16
47,1%
18
52,9%
34
45,3%
Buruk
16
39,0%
25
61,0%
41
54,7%
32
42,7%
43
57,3%
75
100
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.16 menunjukkan hasil bahwa terdapat 34

P
value
0,641

CC
0,081

responden yang

mempunyai persepsi keseriusan yang baik (16 responden tidak melakukan VCT
dan sebanyak 18 responden melakukan VCT), sedangkan sebanyak 41 responden
mempunyai persepsi keseriusan yang buruk (16 responden tidak melakukan VCT
dan 25 responden melakukan VCT). Hasil analisis bivariat pada tabel 4.16
didapatkan hasil p-value=0,641 (CC:0,081). Nilai p<0,05 sehingga dapat
dikatakan tidak ada hubungan antara persepsi keseriusan atau bahaya penyakit
HIV dan AIDS dengan praktik VCT.Nilai koefisen korelasi (CC) didapatkah hasil
0,081 yang artinya ada hubungan yang sangat lemah antara persepsi keseriusan
atau bahaya penyakit HIV dan AIDS dengan praktik VCT pada kelompok LSL di
Kota Semarang.
4.2.2.7 Hubungan antara Persepsi Manfaat Dalam Melakukan VCT dengan
Praktik VCT
Berdasarkan pengujian hubungan antara persepsi manfaat melakukan VCT
dengan praktik VCT menggunakan uji chi-square diperoleh hasil sebagai berikut:

62

Tabel 4.17Crosstab Hubungan antara Persepsi Manfaat dalam Melakukan


VCT dengan Praktik VCT
Persepsi
Manfaat

Praktik VCT
Total
P
CC
value
Tidak VCT
VCT
N
%
N
%
N
%
0,894 0,042
Baik
17
44,7%
21
55,3%
38
50,7%
Buruk
15
40,5%
22
59,5%
37
49,3%
32
42,7%
43
57,3%
75
100
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.17 menunjukkan hasil bahwa terdapat 38 responden yang
mempunyai persepsi manfaat yang baik (17 responden tidak melakukan VCT dan
21 responden melakukan VCT), sedangkan sebanyak 37 responden mempunyai
persepsi manfaat yang buruk (15 responden tidak melakukan VCT dan 22
responden melakukan VCT). Hasil analisis bivariat pada tabel 4.17 didapatkan
hasil p-value=0,894 (CC:0,042). Nilai p<0,05 sehingga dapat dikatakan tidak ada
hubungan antara persepsi manfaat melakukan VCT dengan praktik VCT. Nilai
koefisen korelasi (CC) didapatkah hasil 0,042 yang artinya ada hubungan yang
sangat lemah antara persepsi manfaat melakukan VCT dengan praktik VCT pada
kelompok LSL di Kota Semarang.
4.2.2.8 Hubungan antara Persepsi Hambatan Dalam Melakukan VCT dengan
Praktik VCT
Berdasarkan pengujian hubungan antara persepsi hambatan dalam
melakukan VCT dengan praktik VCT menggunakan uji chi-square diperoleh hasil
sebagai berikut:

63

Tabel 4.18Crosstab Hubungan antara Persepsi Hambatan dalam Melakukan


VCT dengan Praktik VCT
Persepsi
Hambatan

Praktik VCT
Total
Tidak VCT
VCT
N
%
N
%
N
%
Baik
22
64,7%
12
35,3%
34
45,3%
Buruk
10
24,4%
31
75,6%
41
54,7%
32
42,7%
43
57,3%
75
100
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.18 menunjukkan hasil bahwa sebanyak

P
value
0,001

CC
0,406

34 responden

mempunyai persepsi hambatan yang baik (22 responden tidak melakukan VCT
dan 12 responden melakukan VCT), sedangkan sebanyak 41 responden
mempunyai persepsi hambatan yang buruk ( 10 responden tidak melakukan VCT
dan 31 responden melakukan VCT). Hasil analisis bivariat pada tabel 4.18
didapatkan hasil p-value=0,001 (CC:0,406). Nilai p<0,05 sehingga dapat
dikatakan ada hubungan antara persepsi hambatan dengan praktik VCT. Nilai
koefisen korelasi (CC) didapatkah hasil 0,406 yang artinya ada hubungan yang
lemah antara persepsi hambatan dengan praktik VCT pada kelompok LSL di Kota
Semarang.
4.2.2.9 Hubungan antara Pencetus Tindakan dengan Praktik VCT
Berdasarkan pengujian hubungan antara pencetus tindakan dengan praktik
VCT menggunakan uji chi-square diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.19Crosstab Hubungan antara Pencetus Tindakan dengan Praktik
VCT
Pencetus
Tindakan

Praktik VCT
Total
Tidak VCT
VCT
N
%
N
%
N
%
Baik
18
51,4%
17
48,6%
35
46,7%
Buruk
14
35,0%
26
65,0%
40
53,3%
32
42,7%
43
57,3%
75
100
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.19 menunjukkan hasil bahwa sebanyak

P
value
0,230

CC
0,166

35 responden

mempunyai pencetus tindakan yang baik (18 responden tidak melakukan VCT

64

dan 17 responden melakukan VCT), sedangkan sebanyak 40 responden


mempunyai pencetus tindakan yang buruk (14 responden tidak melakukan VCT
dan 26 reponden melakukan VCT). Hasil analisis bivariat pada tabel 4.19
didapatkan hasil p-value=0,230 (CC:0,166). Nilai p<0,05 sehingga dapat
dikatakan tidak ada hubungan antara pencetus tindakan dengan praktik VCT. Nilai
koefisen korelasi (CC) didapatkah hasil 0,166 yang artinya ada hubungan yang
sangat lemah antara pencetus tindakan dengan praktik VCT pada kelompok LSL
di Kota Semarang.
Berdasarkan analisis bivariat terhadap seluruh variabel bebas didapatkan hasil
sebagai berikut :
Tabel 4.20 Faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik VCT
Variabel Bebas
Umur
Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendapatan
Pengetahuan
Persepsi Kerentanan
Tertular Penyakit HIV dan
AIDS
Persepsi Bahaya atau
Keseriusan Penyakit HIV
dan AIDS
Persepsi Manfaat Dalam
Melakukan VCT
Persepsi Hambatan Dalam
Melakukan VCT
Pencetus Tindakan

p-value
0,998
0,019
1
0,031
0,689

CC
0,027
0,297
0,012
0,166
0,073

Kesimpulan
Tidak Berhubungan
Ada Hubungan
Tidak Berhubungan
Ada Hubungan
Tidak Berhubungan

0,641

0,081

Tidak Berhubungan

0,894

0,042

Tidak Berhubungan

0,001

0,406

Ada Hubungan

0,230

0,166

Tidak Berhubungan

BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Pembahasan
5.1.1 Hubungan antara Umur dengan Praktik VCT
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang berusia
remaja (17 tahun-25 tahun) sebesar 41 responden (54,7%) dan yang berusia
dewasa (26 tahun-35 tahun) sebesar 34 responden (45,3%). Dan analisis bivariat
antara umur dengan praktik VCT menggunakan Chi-Square didapatkan hasil pvalue sebesar 0,998.Hasil p-value tersebut tidak sesuai dengan hipotesis
sebelumnya karena menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara umur
dengan praktik VCT pada kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan lakilaki (LSL) di Kota Semarang.Nilai koefisen korelasi (CC) didapatkah hasil 0,027
yang artinya ada hubungan yang sangat lemah antara umur dengan praktik VCT
pada kelompok LSL di Kota Semarang.
Hasil analisis faktor umur tersebut tidak sejalan dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Tesfaye H Leta et all (2012) yang mengatakan bahwa pria
yang lebih muda memiliki minat yang tinggi untuk melakukan tes HIV,
sedangkan penelitian ini sejalan dengan Ni Ketut Arniti (2014) dan Titi Legiati
P.S, dkk (2012) bahwa tidak terdapat hubungan antara umur dengan tes HIV.
Faktor usia sebagai karakteristik individu menyebabkan faktor usia kurang
berperan dalam memanfaatkan pelayanan VCT (Leni Syafitri,2012). Berdasarkan
teori dalam psikologi kesehatan menyatakan bahwa faktor perkembangan seperti

65

66

usia dapat mempengaruhi pengambilan keputusan terhadap status kesehatannya


(Eunike R., 2005:104). Semakin tua umur seseorang, maka pengalaman akan
semakin bertambah sehingga akan meningkatkan pengetahuan akan suatu objek.
Sedangkan dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa yang menjadi alasan
responden tidak melakukan VCT karena faktor hambatan yang mereka rasakan
seperti rasa malu ketika akan melakukan VCT, takut status HIV diketahui orang
lain, tidak mengetahui tempat VCT, dan tidak mempunyai waktu. Walaupun pada
penelitian ini menunjukkan hasil yang berbeda, akan tetapi menurut penelitian
yang dilakukan oleh oleh Abiy Abebe dan Getnet M. (2009) menjelaskan bahwa
yang mempengaruhi seseorang melakukan VCT tidak hanya umur, tetapi juga
tingkat pendidikan, persepsi kerentanan, persepsi manfaat dan persepsi hambatan.
5.1.2 Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Praktik VCT
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang mempunyai
tingkat pendidikan tinggi sebesar 41 responden (54,7%) dan responden yang
mempunyai tingkat pendidikan rendah sebesar 34 responden (45,3%). Dan
analisis bivariat antara tingkat pendidikan dengan praktik VCT menggunakan ChiSquare didapatkan hasil p-value sebesar 0,019.Hasil p-value tersebut sesuai
dengan hipotesis sebelumnya karena menunjukkan bahwa terdapat hubungan
antara tingkat pendidikan dengan praktik VCT pada kelompok laki-laki yang
berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) di Kota Semarang.Nilai koefisen
korelasi (CC) didapatkah hasil 0,297 yang artinya ada hubungan yang lemah
antara tingkat pendidikan dengan praktik VCT pada kelompok LSL di Kota
Semarang.

67

Hasil analisi faktor tingkat pendidikan tersebut sejalan dengan penelitian


yang dilakukan oleh Noor Anggrainy R. (2010) dan Maharani Indah D. (2010)
yang mengatakan bahwa pendidikan mempengaruhi seseorang untuk melakukan
tes HIV. Tingkat pendidikan, berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk
menerima dan merespon terhadap berbagai informasi sehingga nantinya dapat
menunjang kualitas hidup (Priyoto, 2014).Menurut Notoatmodjo (2012),
pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap,
dan bentuk-bentuk

tingkah laku lainnya di dalam masyarakat dimana dia

hidup.Tingkat pendidikan akan menentukan pengetahuan yang dimiliki seseorang


sehingga dapat mempengaruhi tindakan dalam menentukan status kesehatannya.
Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh seseorang, maka akan semakin
besar keinginan untuk melakukan tes HIV (Noor Anggrainy Retnowati, 2010).
Sedangkan dilihat dari tingkat pendidikan responden bahwa mereka rata-rata
sudah mempunyai pendidikan tinggi yaitu sebanyak 41 responden (54,7%)
sehingga mereka dapat menerima tes HIV dan juga selain mempunyai pendidikan
tinggi mereka juga mempunyai pengetahuan yang baik terkait penyakit HIV dan
AIDS serta VCT.
5.1.3 Hubungan antara Tingkat Pendapatan dengan Praktik VCT
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang mempunyai
tingkat pendapatan tinggi sebesar 31 responden (41,3%) dan responden yang
mempunyai tingkat pendapatan rendah sebesar 44 responden (58,7%). Dan
analisis bivariat antara tingkat pendapatan dengan praktik VCT menggunakan
Chi-Square didapatkan hasil p-value sebesar 1.Hasil p-value tidak sesuai dengan

68

hipotesis sebelumnya karena menunjukkan tidak ada hubungan antara tingkat


pendapatan dengan praktik VCT pada kelompok laki-laki yang berhubungan seks
dengan laki-laki (LSL) di Kota Semarang.Nilai koefisen korelasi (CC) didapatkah
hasil 0,012 yang artinya ada hubungan yang sangat lemah antara tingkat
pendapatan dengan praktik VCT pada kelompok LSL di Kota Semarang.
Hasil analisi faktor tingkat pendapatan tersebut tidak sesuai dengan
penelitian yang dilakukan Tesfaye H Leta et all (2012) yang mengatakan bahwa
seseorang yang mempunyai pendapatan yang besar cenderung untuk melakukan
VCT. Sedangkan penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Aulia Faris A.P (2014) bahwa tidak terdapat hubungan antara pendapatan
dengan kesediaan tes.Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh pekerjaan karena
responden yang mempunyai penghasilan tinggi mereka sudah bekerja sehingga
tidak mempunyai waktu untuk melakukan VCT. Selain itu ada faktor hambatan
lain yang dirasakan seperti rasa malu yang mereka rasakan ketika akan melakukan
VCT, dan tidak mengetahui tempat VCT. Pada penelitian yang dilakukan oleh
Aulia Faris A.P (2014) menyatakan bahwa seseorang melakukan tes HIV
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan yaitu umur, tingkat
pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sikap, dan perilaku seseorang itu
sendiri.
5.1.4 Hubungan antara Pengetahuan dengan Praktik VCT
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang mempunyai
pengetahuan rendah sebesar 10 responden (13,3%), pengetahuan sedang sebesar
41 responden (54,7%), dan yang mempunyai pengetahuan tinggi sebesar 24

69

responden (32,0%). Dan analisis bivariat antara pengetahuan dengan praktik VCT
menggunakan Chi-Square didapatkan hasil p-value sebesar 0,031.Hasil p-value
sesuai dengan hipotesis sebelumnya karena menunjukkan ada hubungan antara
pengatahuan dengan praktik VCT pada kelompok laki-laki yang berhubungan
seks dengan laki-laki (LSL) di Kota Semarang. Nilai koefisen korelasi (CC)
didapatkah hasil 0,143 yang artinya ada hubungan yang sangat lemah antara
pengetahuan dengan praktik VCT pada kelompok LSL di Kota Semarang.
Hasil analisis sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wicaksana et
al (2009) dan Erfawanti Endra (2014) yang mengatakan bahwa ada hubungan
antara pengetahuan dengan tes HIV. Namun, hasil penelitian ini tidak sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Aulia Faris A.P (2014) bahwa tidak
terdapat hubungan antara pengetahuan dengan tes HIV.Menurut Green yang
dikutip Notoatmojo menyatakan bahwa pengetahuan merupakan bagian dari
faktor predisposisi yang sangat menentukan dalam membentuk perilaku seseorang
(Notoatmodjo, 2012).Pengetahuan tentang HIV/AIDS yang baik akanmenjadi
dasar terbentuknya perilaku yang baik pula.Pengetahuan yang kurang tentang
HIV/AIDS danVCT dapat membuat LSL mempunyaipersepsi yang salah. Dari
hasil jawaban pengetahuan mengenai HIV dan AIDS serta VCT, sebagian besar
responden 65 responden (86,7%) mengetahui tentang apa itu HIV dan AIDS,
gejala-gejalanya, cara penularan penyakit, cara pencegahan penyakit, apa itu
VCT, komponen VCT dan responden lainnya 10 responden (13,3%) hanya
mengetahui sedikit mengenai HIV dan AIDS serta VCT. Responden yang
mengetahui penyebab penyakit AIDS sebanyak 72 responden (96,0%), penularan

70

HIV dapat dicegah dengan menggunakan kondom sebanyak 72 (96,0%),


kelompok orang yang mempunyai risiko tinggi tertular dan menularkan HIV
sebanyak 72 (96,0%), tahapan VCT sebanyak 62 responden (82,7%), dan tes yang
digunakan untuk mendeteksi virus HIV di dalam tubuh sebanyak 49 responden
(65,3%). Selain itu pengetahuan yang didapatkan responden berasal dari petugas
kesehatan, teman, komunitas, dan media seperti internet,poster, buku, dan
sebagainya.
5.1.5 Hubungan antara Persepsi Kerentanan Tertular Penyakit HIV dan
AIDS dengan Praktik VCT
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa sebanyak 32 responden (42,7%)
mempunyai persepsi kerentanan yang baik dan sebanyak 43 responden (57,3%)
mempunyai persepsi kerentanan yang buruk. Dan analisis bivariat antara persepsi
kerentanan tertular penyakit HIV dan AIDS dengan praktik VCT menggunakan
Chi-Square didapatkan hasil p-value sebesar 0,689.Hasil p-value tersebut tidak
sesuai dengan hipotesis sebelumnya karena menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan antara persepsi kerentanan tertular penyakit HIV dan AIDS dengan
praktik VCT pada kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki
(LSL) di Kota Semarang. Nilai koefisen korelasi (CC) didapatkah hasil 0,073
yang artinya ada hubungan yang sangat lemah antara persepsi kerentanan tertular
penyakit HIV dan AIDS dengan praktik VCT pada kelompok LSL di Kota
Semarang.
Hasil analisis tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ni
Ketut A. (2014) yang mengatakan bahwa persespi kerentanan tertular tidak

71

berhubungan dengan tes HIV, akan tetapi penelitian ini tidak sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Titi Legiati P.S et all (2012) bahwa terdapat
hubungan antara persepsi kerentanan dengan tes HIV. Ketidaksesuaian tersebut
mungkin bisa dijelaskan sebagai berikut, sebagaimana diketahui sesuai teori L.
Green bahwa jika seseorang mempunyai pengetahuan maupunkeyakinan (faktor
predisposisi) mungkin cukup untuk memulai suatu perilaku, tetapi hal itu tidak
akan mencukupi jika orang tersebut tidak mampu mengakses sarana yang
diperlukan untuk melaksanakan perilaku tersebut.Persepsi kerentanan akan
mendorong seseorang dalam menerima perilaku sehat.Oleh karena itu persepsi
responden yang baik tentang kerentanan dirinya terkena HIV akan mendasari
untuk terjadinya perilaku VCT (Amik K dan Sugi P,2014). Hal ini juga dapat
dilihat dari jawaban responden meskipun banyak yang mempunyai persepsi
kerentanan baik akan tetapi tidak semuanya melakukan praktik VCT. Persepsi
kerentanan yang mereka rasakan diantaranya adalah mereka rentan terkena
penyakit HIV dan AIDS karena sering berhubungan anal seks sebanyak
35responden (46,7%), berganti-ganti pasangan sebanyak 45 responden (60,0%),
dan sering melakukan hubungan seks dengan pasangan baru sebanyak 34
responden (45,33%). Pada penelitian yang dilakukan oleh Abiy Abebe dan Getnet
M. (2009) menjelaskan bahwa yang mempengaruhi seseorang melakukan VCT
tidak hanya dari persepsi kerentanan, tetapi juga umur, pendidikan, persepsi
manfaat dan persepsi hambatan.

72

5.1.6 Hubungan antara Persepsi Keseriusan atau Bahaya HIV dan AIDS
dengan Praktik VCT
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebanyak 34 responden
(45,3%) mempunyai persepsi keseriusan yang baik dan sebanyak 41 responden
(54,7%) mempunyai persepsi keseriusan yang buruk. Dan analisis bivariat antara
persepsi keseriusan atau bahaya penyakit HIV dan AIDS dengan praktik VCT
menggunakan Chi-Square didapatkan hasil p-value sebesar 0,641.Hasil p-value
tersebut tidak sesuai dengan hipotesis sebelumnya karena menunjukkan bahwa
tidak terdapat hubungan antara persepsi keseriusan atau bahaya penyakit HIV dan
AIDS dengan praktik VCT pada kelompok laki-laki yang berhubungan seks
dengan laki-laki (LSL) di Kota Semarang. Nilai koefisen korelasi (CC) didapatkah
hasil 0,081 yang artinya ada hubungan yang sangat lemah antara persepsi
keseriusan atau bahaya penyakit HIV dan AIDS dengan praktik VCT pada
kelompok LSL di Kota Semarang.
Hasil analisis faktor tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Titi Legiati P.S et all (2012) yang mengatakan bahwa persespi keparahan
penyakit tidak berhubungan dengan tes HIV. Dan penelitian ini tidak sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Ni Ketut A. (2014) yang mengatakan
bahwa terdapat hubungan antara persepsi keparahan penyakit HIV/AIDS dengan
tes HIV. Dari hasil jawaban responden diketahui bahwa responden yang
mempunyai persepsi penyakit HIV/AIDS masih dapat disembuhkan sebanyak 63
(84,0%), penyakit HIV/AIDS tidak akan membuat mati sebanyak 59 (78,7%),
penyakit HIV/AIDS tidak akan mengacam hidup sebanyak 64 (85,3%), sehingga

73

masih banyak responden yang mempunyai persepsi buruk. Pada teori Health
Belief Model dijelaskan bahwa keseriusan yang dirasakan oleh individu terhadap
suatu penyakit merupakan bentuk persepsi subjektif terhadap seberapa parah
konsekuensi fisik dan sosial dari penyakit yang akan dideritanya. Apabila persepsi
keseriusan dikombinasikan dengan persepsi kerentanan maka akan menghasilkan
penerimaan ancaman. Asumsinya apabila ancaman yang dirasakan meningkat
maka perilaku pencegahan juga akan meningkat. Pada jawaban responden
diketahui bahwa mereka masih mempunyai persepsi buruk terkait penyakit HIV
dan juga responden mempunyai hambatan yang besar dalam melakukan VCT
seperti rasa malu ketika akan melakukan VCT, takut status HIV diketahui orang
lain, tidak mengetahui tempat VCT, dan tidak mempunyai waktu sehingga akan
mempengaruhi responden dalam melakukan VCT. Salah satu yang mendasari
mereka tetap melakukan VCT adalah adanya VCT mobile. Selain itu dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh Zinash M. dan Alemaya A. (2011) diketahui
bahwa faktor HMB yang paling berpengaruh terhadap seseorang untuk menerima
VCT adalah persepsi kerentanan, persepsi manfaat, persepsi hambatan dan self
efficacy.
5.1.7 Hubungan antara Manfaat Melakukan VCT dengan Praktik VCT
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 38 responden (50,7%)
mempunyai persepsi manfaat yang baik dan sebanyak 37 responden (49,3%)
mempunyai persepsi manfaat yang buruk. Dan analisis bivariat antara manfaat
dalam melakukan VCT dengan praktik VCT menggunakan Chi-Square
didapatkan hasil p-value sebesar 0,894.Hasil p-value tersebut tidak sesuai dengan

74

hipotesis sebelumnya karena menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara


manfaat dalam melakukan VCT dengan praktik VCT pada kelompok laki-laki
yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) di Kota Semarang.Nilai koefisen
korelasi (CC) didapatkah hasil 0,042 yang artinya ada hubungan yang sangat
lemah antara persepsi manfaat melakukan VCT dengan praktik VCT pada
kelompok LSL di Kota Semarang.
Hasil analisis dari faktor tersebut tidak sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Titi Legiati P.S et all (2012) yang mengatakan bahwa terdapat
hubungan antara manfaat dengan tes HIV, akan tetapi penelitian ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Ni Ketut A. (2014) bahwa tidak terdapat hubungan
antara persepsi manfaat dengan tes HIV. Ketidaksesuain ini mungkin bisa saja
terjadi, hal ini dapat disebabkan bahwa persepsi manfaat suatu tindakan
pencegahan penyakit akan mempengaruhi kemungkinan seseorang melakukan
tindakan pencegahan tersebut. Akan tetapi, orang-orang cenderung untuk
mengembangkan perilaku sehat ketika mereka percaya bahwa perilaku baru
tersebut akan menurunkan kemungkinan untuk mereka terkena penyakit (Priyoto,
2014). Hal ini juga dapat dilihat dari jawaban responden, meskipun mereka
mempunyai manfaat yang tinggi, akan tetapi mereka juga merasakan hambatan
yang tinggi sehingga mereka tidak mau melakukan VCT. Persepsi manfaat yang
dirasakan responden diantaranya adalah VCT mempunyai manfaat untuk
mengetahui status HIV dan AIDS sebanyak 58 responden (77,3%), VCT dapat
mendeteksi HIV dan AIDS sejak dini sebanyak 51 responden (68,0%) dan VCT
membuat mereka dapat dukungan dari petugas kesehatan sebanyak 46 responden

75

(61,3%). Pada penelitian yang dilakukan oleh Ika Arulita F. (2013) menyatakan
bahwa yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan VCT tidak hanya persepsi
manfaat tetapi juga persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi hambatan
dan cues to action.
5.1.8 Hubungan antara Hambatan Melakukan VCT dengan Praktik VCT
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang mempunyai
persepsi baik sebesar 34 responden (45,3%) dan responden yang mempunyai
persepsi buruk sebesar 41 responden (54,7%). Dan analisis bivariat antara
hambatan dalam melakukan VCT dengan praktik VCT menggunakan Chi-Square
didapatkan hasil p-value sebesar 0,001.Hasil p-value tersebut sesuai dengan
hipotesis sebelumnya karena menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara
hambatan dalam melakukan VCT dengan praktik VCT pada kelompok laki-laki
yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) di Kota Semarang.Nilai koefisen
korelasi (CC) didapatkah hasil 0,406 yang artinya ada hubungan yang lemah
antara persepsi manfaat melakukan VCT dengan praktik VCT pada kelompok
LSL di Kota Semarang.
Hasil analisis dari faktor hambatan melakukan VCT dengan praktik VCT
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Titi Legiati P.S et all (2012) bahwa
terdapat hubungan antara persepsi hambatan dengan tes HIV, akan tetapi
penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ni Ketut A.
(2014) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara persepsi halangan
dengan tes HIV. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Health Belief Model yang
dikemukakan oleh Rosenstock bahwa kemungkinan individu melakukan tindakan

76

pencegahan tergantung secara langsung pada hasil dari dua keyakinan atau
penilaian kesehatan yaitu ancaman yang dirasakan dari sakit dan pertimbangan
tentang keuntungan dan kerugian (Ircham Machfoedz dan Eko Suryani,
2009).Bagimanapun sebuah tindakan dapat saja tidak diambil oleh seseorang,
meskipun individu tersebut percaya terhadap keuntungan mengambil tindakan
tersebut (Priyoto, 2014). Hal ini juga dapat dilihat dari jawaban responden dimana
yang menjadi hambatan dari sebagian responden adalah ketakutan mengenai
status HIV yang nantinya akan diketahui oleh orang lain termasuk keluarga
sebanyak 26 responden (34,7%), waktu pelaksanaan VCT sebanyak 37 responden
(49,3%) , rasa malu sebanyak 18 responden (24,0%) dan akses layanan VCT
sebanyak 35 responden (46,7%). Sedangkan mengenai biaya, dan VCT merugikan
tidak menjadi hambatan bagi mereka.
5.1.9 Hubungan antara Pencetus Tindakan dengan Praktik VCT
Berdasarkan hasil penelitian diketahui sebanyak 35 responden (46,7%)
mempunyai pencetus tindakan yang baik dan sebanyak 40 responden (53,3%)
mempunyai pencetus tindakan yang buruk. Dan analisis bivariat antara pencetus
tindakan dengan praktik VCT menggunakan Chi-Square didapatkan hasil p-value
sebesar 0,230.Hasil p-value tersebut tidak sesuai dengan hipotesis sebelumnya
karena menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pencetus tindakan
dengan praktik VCT pada kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan lakilaki (LSL) di Kota Semarang.Nilai koefisen korelasi (CC) didapatkah hasil 0,166
yang artinya ada hubungan yang sangat lemah antara pencetus tindakan dengan
praktik VCT pada kelompok LSL di Kota Semarang.

77

Hasil analisis dari faktor pencetus tindakan tersebut tidak sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Titi Legiati P.S et all (2012) yang mengatakan
bahwa terdapat hubungan antara pencetus tindakan dengan tes HIV. Perbedaan ini
dikarenakan faktor pendorong yang dirasakan oleh responden masih belum
maksimal. Hal ini kemungkinan dapat dipengaruhi beberapa faktor yang dapat
dilihat dari jawaban responden dimana banyak responden yang menyatakan
bahwa mereka kurang mendapat dukungan dari teman sebanyak 27 (36%)
,sebanyak 20 (26,7%) responden tidak mendapatkan informasi yang detail terkait
HIV/AIDS dan sebanyak 55 (73,3%) responden tidak merasakan gejala-gejala
terhadap penyakit HIV, sehingga mereka tidak melakukan VCT. Dan dari
jawaban responden diketahui sebanyak 68 (90,7%) responden melakukan VCT
karena ingin mengetahui status HIV dan sebanyak 46 (61,3%) responden
mendapat dukungan dari petugas kesehatan. Pada teori Health Belief Model
mengatakan bahwa timbulnya perilaku memerlukan adanya pemicu (cause to
action).Pemicu bisa bermacam-macam bentuknya. Misalnya media informasi,
petugas kesehatan, teman, dan keluarga (Priyoto,2014), sehingga semakin tinggi
faktor pendorong yang dirasakan oleh LSL kemungkinan akan semakin terdorong
untuk melakukan VCT. Pada penelitian yang dilakukan oleh Purwaningsih et al
(2011) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mendorong seseorang untuk
memanfaatkan layanan VCT tidak hanya pencetus tindakan (cues to action), tetapi
juga persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi manfaat, persepsi
hambatan dan self efficacy.

78

5.2 Kelemahan Penelitian


Kelemahan dalam penelitian ini antara lain :
1. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan desain cross sectional
sehingga sulit untuk menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data
risiko dan efek dilakukan pada saat bersamaan dan informasi yang didapat juga
tidak terlalu mendalam.
2. Responden dalam penelitian ini tidak dibedakan antara yang homoseksual dan
biseksual sehingga dapat menyebabkan bias informasi.

BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang faktor-faktor yang
berhubungan dengan praktik voluntary counseling and testing (VCT) pada
kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki di Kota Semarang
dapat ditarik simpulan sebagai berikut:
1)

Tidak terdapat hubungan antara umur dengan praktik VCT

2)

Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan praktik VCT

3)

Tidak ada hubungan antara tingkat pendapatan dengan praktik VCT

4)

Ada hubungan antara pengetahuan dengan praktik VCT

5)

Tidak ada hubungan antara persepsi kerentanan tertular penyakit HIV/AIDS


dengan praktik VCT

6)

Tidak ada hubungan antara persepsi bahaya atau keseriusan penyakit


HIV/AIDS dengan praktik VCT

7)

Tidak ada hubungan antara persepsi manfaat melakukan VCT dengan praktik
VCT

8)

Ada hubungan antara persepsi hambatan melakukan VCT dengan praktik


VCT

9)

Tidak ada hubungan antara pencetus tindakan dengan praktik VCT.

79

80

6.2 Saran
6.2.1 Bagi Dinas Kesehatan Kota Semarang, KPA Provinsi Jawa Tengah dan
KPA Kota Semarang
1) Bekerjasama dengan pengurus SGC dalam pelaksanaan VCT pada kelompok
laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki di Kota Semarang seperti
mengadakan penyuluhan terkait penyakit HIV dan AIDS serta VCT, dan VCT
mobile.
2) Memberikan informasi terkait tempat pelayanan kesehatan yang menyediakan
tes VCT.
6.2.2 Bagi Pengurus Semarang Gay@ Community
1) Melakukan pendekatan kembali terhadap teman-teman komunitas sehingga
semua dapat melakukan VCT.
2) Mencari waktu yang sesuai dengan anak-anak komunitas sehingga tidak ada
lagi hambatan terkait waktu pelaksanaan VCT
3) Mengadakan kerjasama dengan pelayanan kesehatan untuk mengadakan VCT
mobile.
6.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya
1) Meneliti praktik VCT pada kelompok LSL dengan menggunakan desain
penelitian yang lain yang lebih dapat menunjukkan sebab akibat.
2) Meneliti faktor-faktor lain yang belum diteliti dalam penelitian ini seperti sosial
budaya, status perkawinan, pekerjaan dan sebagainya.

81

3) Menggunakan kajian kualilatif yang lebih mendalam sehingga diketahui lebih


jelas faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi LSL dalam melakukan praktik
VCT

DAFTAR PUSTAKA

Abebe, A., dan Mitikie, G., 2009.Perception of High School Students towards
Voluntary HIV Counseling and Testing, using Health Belief Model in
Butajira, SNNPR, Ethiop. J. Health Dev.2009; Vol. 23 No.2 :148-153
Amik Khosidah, dan Sugi P., 2014, Persepsi Ibu Rumah Tangga Tentang
Voluntarry Councelling And Testing (VCT) Terhadap Perilaku Pencegahan
Hiv-Aids, Jurnal Ilmiah kebidanan, Vol.5 No. 2 Hal: 67-78. Diakses 9
Desember 2015
Arikunto, S., 2010, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta,
Jakarta
Aulia Faris A.P., 2014, Pengetahuan, Sikap, Dan Perilaku Ibu Hamil Di Klinik
Antenatal RSUP DR Kariadi, Puskesmas Ngresep, Puskesmas Halmahera
Semarang Terhadap Tes HIV, Skripsi : Universitas Diponegoro
Chaplin, JP, 2009, Kamus Lengkap Psikologi, Terjemahan oleh Kartini Kartono
Rajawali Press, Jakarta.
CDC, 2014, HIV among Gay and Bisexual Men. U.S. Department of Health and
Human Services Centers for Disease Control and Prevention,diakses 27
Februari 2015, (www.cdc.gov/)
Clinical Services Unit Fhi Indonesia, 2007, Standar Operasional Prosedur Klinik
VCT Layanan Mandiri,diakses 30 Mei 2014, (www.aidsindonesia.or.id)
Demartoto, A., 2010,Perilaku Laki-Laki Yang Berhubungan Seks Dengan LakiLaki (LSL) Untuk Melakukan Test HIV Di Kota Surakarta, Universitas
Sebelas Maret : Laporan Penelitian,diakses 29 Mei 2014,
(http://www.Word-to-PDF-Converter.net)
Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, 2012, Kondisi HIV/AIDS di Jawa Tengah 1993
s.d 31 Desember 2013, DinasKesehatanProvinsiJateng, Semarang.
Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, 2013, Buku Saku Kesehatan tahun 2013, Dinas
Kesehatan Provinsi Jateng, Semarang.
Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, 2015, Buku Saku Kesehatan tahun 2014, Dinas
Kesehatan Provinsi Jateng, Semarang.
Erfawanti, E, 2014, Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Tentang VCT Dan
HIV/AIDS Dengan Pemanfaatan Layanan VCT Pada WPS Di Resosialisasi
Gambilangu Kabupaten Kendal Tahun 2013, Skripsi :UniversitasNegeri
Semarang.

82

83

Eunike R. Rustiana, 2005, Psikologi Kesehatan, Semarang: Universitas Negeri


Semarang Press.
Ika, Arulita F., 2013, Determinan Keikutsertaan Pelanggan Wanita Pekerja Seks
(WPS) Dalam Program Voluntary Conseling And Testing (VCT), Jurnal
Kesmas, Vol. 8 No. 2: 146-151
Irianto, K, 2014, Seksologi Kesehatan, Alfabeta : Bandung.
Kaiser Family Foundation, 2014,The HIV/AIDS Epidemic in The United
States,diakses 10 Februari 2015,(http://kff.org/hivaids/)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013,Estimasi dan Proyeksi
HIV/AIDS di Indonesia Tahun 2011-2016, diakses 30 Mei 2014,
(http://pppl.depkes.go.id/_asset/_download/Estimasi%20&%20proyeksi%20
HIV%20AIDS%20di%20Indonesia%20th%202011-2016.pdf)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013,Profil Kesehatan Indonesia
2012, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2011,Modul Pelatihan Konseling dan
Tes Sukarela HIV (Voluntary Counseling dan Testing/ VCT), Kementrian
Kesehatan, Jakarta.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2014,Profil Kesehatan Indonesia
2013, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Kompas, 2011, Diperkirakan 3 Juta Pria Lakukan Seks Sejenis, diakses 10
Februari 2015
(http://health.kompas.com/read/2011/03/18/11182825/Diperkirakan.3.Juta.Pri
a.Lakukan.Seks.Sejenis )
KPA Kota Semarang, 2013, Laporan Bulanan Konseling Dan Testing Sukarela
(KTS/VCT) Bulan Januari 2013-Desember 2013, KPA Kota Semarang,
Semarang.
KPA Kota Semarang, 2014, Laporan Bulanan Konseling Dan Testing Sukarela
(KTS/VCT) Bulan Januari 2014-Desember 2014, KPA Kota Semarang,
Semarang.
KPA Nasional, 2007, Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV Dan AIDS Di
Indonesia 2007 2010, KPA Nasional, Jakarta.
KPAP Jateng, 2014,Buku Pedoman HIV dan AIDS, KPAP Jateng, Semarang.
KPAP Jateng, 2014, Komitmen Bersama Dalam Penanggulangan HIV Dan AIDS,
Buletin KATAIDS, No. 004/KPAJATENG/2014 Edisi IV

84

Leni, Syafitri, 2012, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemanfaatan


Pelayanan PITC Bagi Tahanan Dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP)
Berisiko Tinggi HIV/AIDS Di Poliklinik Rutan Klas I Cipinang Tahun 2012,
Tesis : Universitas Indonesia.
Machfoez, I dan Suryani, E, 2008, Pedidikan Kesehatan Bagian Dari Promosi
Kesehatan, Fitramaya, Yogyakarta.
Maharani, Indah Dewanti, 2010, Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Formal
Terhadap Penerimaan Program Provider Initiated Testing And Counseling
(PITC) Di Surakarta, Skripsi : Universitas Sebelas Maret
Ni Ketut Arniti, 2014, Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Penerimaan Tes
HIV Oleh Ibu Hamil Di Puskesmas Kota Denpasar, Tesis : Universitas
Udayana.
Noor, Anggrainy Retnowati, 2010, Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Formal
Dengan Kesediaan Melakukan Tes HIV( Human Immunodeficiency Virus)
Di Surakarta, Skripsi : Universitas Sebelas Maret
(digilib.uns.ac.id) diakses 5 Mei 2015
Notoatmodjo, S, 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
, 2010, Ilmu Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
Nuraeni, T, Indrawati, N.D, Rahmawati, A. Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil
Tentang HIV/AIDS Dan VCT Dengan Sikap Terhadap Konseling Dan Tes
HIV/AIDS Secara Sukarela Di Puskesmas Karangdoro Semarang. Jurnal
Keperawatan; Vol. 1 No. 1 : 45-54 (http:jurnal.unimus.ac.id)
Nursalam dan Kurniawati, ND, 2007,Asuhan Keperawatan pada pasien terinfeksi
HIV/AIDS, Salemba Medika, Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun
2014,Pedoman Pelaksanaan Konseling Dan Tes HIV, diakses 3 Januari 2015,
(www.hukor.depkes.go.id)
PKBI Pusat, 2007, Konseling Dan Tes HIV Sukarela,diakses 30 Mei 2014,
(http://www.pkbi.or.id/berita/berita.asp?id=3385)
Priyoto, 2014, Teori Sikap Dan Perilaku Dalam Kesehatan, Nuha Medika
,Yogyakarta.
Purwaningsih, Misutarno dan Nurimamah, S, 2011, Analisis Faktor Pemanfaatan
VCT Pada Orang Risiko Tinggi HIV/AIDS. JurnalNers Vol. 6 No. 1 April
2011 : 58-67

85

Sarwono, J, 2006, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Graha ilmu,


Yogyakarta.
Semiun, Y, 2006, Kesehatan Mental 2, Kanisius, Yogyakarta.
Sopiyudin, D, 2004, Statistika Untuk Kedokteran Dan Kesehatan, PT. Arkans,
Jakarta.
Sugiyono, 2007, Statistik Untuk Penelitian, Alfabeta, Bandung.
Sugiyono, 2009,Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan R&D, Alfabeta, Bandung.
Tesfaye H Leta et al, 2012, Factors Affecting Voluntary HIV Counselling
and Testing Among Men in Ethiopia: a Cross-Sectional Survey, BMC Public
Health
2012,
12:
438,
diakses
27
Maret
2015,
(http://www.biomedcentral.com/1471-2458/12/438)
Titi Legiati, P.S., Zahroh S., dan Antono S., 2012, Perilaku Ibu Hamil untuk Tes
HIV di Kelurahan Bandarharjo dan Tanjung Mas Kota Semarang, Jurnal
Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 7 No.2 2012 : 153-164
WHO, 2014, Global Summary Of The AIDS Epidemic 2013, diakses 30 Mei 2014
(www.who.int/hiv/data/en)
Wicaksana, J.F.T, Kusumawati Y dan Ambarwati. 2009. Pengetahuan tentang
HIV/AIDS dan Voluntary Counseling and Testing (VCT), Kesiapan Mental,
dan perilaku pemeriksaan di Klinik VCT pada para mitra pengguna obat
dengan jarum suntik di Surakarta. Jurnal Kedokteran Indonesia, Vol. 1,No. 2
Juli 2009:179-184.
Widiyanto, S. Gunawan, 2008, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Praktik
Wanita Pekerja Seks (WPS) Dalam VCT Ulang Di Lokalisasi Sunan Kuning,
Semarang, Tesis, Universitas Diponegoro
Widoyono, 2005,Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan
Pemberantasannya, Erlangga, Jakarta.
Widya Hary Cahyati dan Dina Anggraini Ningrum, 2012, Buku Ajar Biosatistika
Inferensial, Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Zinash M. et al, Factors Associated With Readiness To VCT Service Utilization
Among Pregnant Women Attending Antenatal Clinics In Northwestern
Ethiopia: A Health Belief Model Approach, Ethiop J Health Sci Vol. 21 2011
: 107-115

86

LAMPIRAN-LAMPIRAN

87

Lampiran 1 Surat Tugas Pembimbing

88

Lampiran 2 Surat Ijin Penelitian

89

Lampiran 3 Surat Telah Melaksanakan Penelitian

90

Lampiran 4 Etichal Cleareance

91

Lampiran 5 Instrumen Penelitian Penelitian

ANGKET PENELITIAN
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
PRAKTIK VCT HIV/AIDS PADA KELOMPOK LSLDI
KOTA SEMARANG
(Studi Kasus Semarang Gay@ Community)

A. Identitas Responden
No Responden

Nama Responden

Umur

Alamat

Pekerjaan

: a. Pelajar/Mahasiswa
b. PNS
c. Pegawai Swasta
d. TNI/Polisi
e. Wiraswasta
f. Tidak Bekerja
g. dan lain-lain

Penghasilan Tiap Bulan

: a. Kurang dari Rp. 1.685.000,b. Lebih dari Rp 1.685.000,-

Pendidikan Terakhir

: a. Tidak tamat SD
b. SD
c. SMP
d. SMA
e. D3/SI

92

A. Pertanyaan Mengenai Pengetahuan Responden Tentang HIV/AIDS dan


VCT
1. Penyakit AIDS disebabkan oleh ..
a. Bakteri

b. Virus

c. Jamur

d. Tidak tahu

2. Kepanjangan dari HIV adalah ..


a. Human Immunodeficiency Virus

b. Human Immuno Virus

c. Human Virus

d. Tidak tahu

3. Kepanjangan dari AIDS adalah ..


a. Aquired Immune Deficiency Syndrome

b.

Aquired

Immune

Deficiency System
c. Aquired Immune Syndrom

d. Tidak tahu

4. HIV/AIDS adalah merupakan penyakit yang menyerang ..


a. Sistem otot b. Sistem syaraf

c. Sistem kekebalan tubuh

d.

Tidak tahu
5. Virus HIV membutuhkan waktu berapa lama hingga menunjukkan gejalagejalanya, yaitu
a. 1-5 tahun

b. 5-10 tahun

c. > 15 tahun

d. Tidak tahu

6. Penyakit HIV/AIDS terdiri dari beberapa tahapan klinis, yaitu ..


a. Stadium I, II dan III b. Stadium I, II, III dan IV

c. Stadium I, dan IId.

Tidak tahu
7. Pada stadium 2 gejala yang ditunjukkan yaitu ..
a. Penurunan berat badan < 10 % tanpa sebab, dan infeksi saluran nafas
berulang
b. Penurunan berat badan > 10 % tanpa sebab, dan TB paru
c. Kanker kulit, dan kehilangan berat badan total
d. Tidak tahu
8. Gejala seperti demam tanpa sebab > 1 bulan, anemia, infeksi bakteri berat,
TB paru merupakan gejala HIV/AIDS yang ditunjukkan pada tahapan di
bawah ini, yaitu ..
a. Stadium 2

b. Stadium 1

c. Stadium 3

9. Virus HIV terdapat di cairan tubuh di bawah ini, yaitu ..

d. Tidak tahu

93

a. Darah

b. Keringat

c. Air liur

d. Tidak tahu

10. Virus HIV terdapat pada cairan tubuh di bawah ini, kecuali ..
a. Cairan vagina

b. ASI

c. Urine

d.

Tidak tahu
11. Penularan HIV dapat dicegah dengan cara sebagai berikut, yaitu ..
a. Menggunakan kondom pada saat berhubungan seks
b. Meminum antibiotik atau obat lainnya sebelum berhubungan seks
c. Mencuci alat kelamin setelah berhubungan seks
d. Tidak tahu
12. Penularan HIV juga dapat dicegah dengan cara sebagai berikut, yaitu ..
a. Mandi setelah berhubungan seks

b. Meminum antibiotik

c. Tidak berganti-ganti pasangan

d. Tidak tahu

13. Kelompok orang yang termasuk dalam risiko tinggi tertular dan
menularkan HIV adalah
a. Pedagang, polisi
b. Wanita pekerja seks dan pelanggannya, waria dan pelanggannya,
penasun, Gay
c. Petani, sopir
d. Tidak tahu
14. Obat untuk HIV/AIDS dikenal dengan sebutan di bawah ini, yaitu ..
a. Antibiotik

b. Vaksin

c. Anti Retro Viral

d. Tidak tahu

15. Tes HIV sering dikenal dengan sebutan sebagai berikut, yaitu
a. Donor darah

b. VCT

c. PMTCT

d. Tidak tahu

16. Untuk mendeteksi/mengetahui virus HIV di dalam tubuh kita dilakukan tes
di bawah ini, yaitu ..
a. ELISSA DAR
c. WESTERN ELISSA

b. ELISSA dan WESTERN BOLD


d. Tidak tahu

17. VCT terdiri dari beberapa tahap, yaitu ..


a. Pengobatan dan Perawatan

b. Rekam Medik, Tes HIV

dan Kontrol
c. Pra-Konseling, Tes HIV dan Pasca Konseling

d. Tidak tahu

94

18. Di bawah ini merupakan komponen dasar dalam melaksanakan VCT,


kecuali ..
a. Mengisi lembar persetujuan

b. Hasil Tes Akurat

c.

Terbuka

d.Tidak tahu
19. Kegunaan dari pelayanan VCT yaitu ..
a. Mengubah perilaku berisiko dan memberikan informasi tentang
pencegahan HIV/AIDS
b. Memberikan pelatihan softskill
c. Memantau perkembangan virus HIV
d. Tidak tahu
20. Penyakit HIV/AIDS termasuk ke dalam kategori penyakit di bawah ini,
yaitu ..
a. IMS

b. Akut

c. Kanker

d. Tidak tahu

21. Apakah penyakit AIDS dapat disembuhkan dengan pengobatan?


a. Ya

b. Tidak

c. Tidak tahu

B. Persepsi Kerentanan Tertular HIV dan AIDS


Untuk pertanyaan berikut, Beri tanda () pada kotak yang telah tersedia sesuai
dengan pendapat yang anda yakini paling sesuai dengan diri anda, dengan
keterangan sebagai berikut :
SS

: Sangat Setuju

: Setuju

RG

: Ragu-ragu

TS

: Tidak Setuju

STS

: Sangat Tidak Setuju

95

No

Pernyataan

Menurut saya, saya merasa rentan terkena penyakit HIV dan

SS

RG

TS

STS

RG

TS

STS

AIDS jika saya sering berganti-ganti pasangan


2

Saya tidak akan terkena penyakit AIDS selama saya tidak


memakai narkoba suntik

Saya merasa bahwa perilaku tidak menggunakan kondom


dan pelican akan membuat saya mudah tertular HIV dan
AIDS

Menurut saya, saya tidak akan terkena penyakit HIV dan


AIDS selama saya tidak berganti-ganti pasangan

Menurut saya, saya akan terhindar dari penyakit HIV dan


AIDS selama memakai kondom

Menurut saya, saya tidak akan terkena HIV dan AIDS selama
saya berhubungan hanya dengan pasangan saya

Saya tidak yakin saya akan tertular penyakit HIV dan AIDS

Saya rentan tertular penyakit HIV karena saya melakukan


anal seks

Saya rentan terkena penyakit HIV karena saya sering


melakukan hubungan seks dengan pasangan baru

C. PersepsiBahayaatau Keseriusan Terhadap HIV dan AIDS


No

Pernyataan

Penyakit HIV dan AIDS sangat berbahaya

Penyakit HIV dan AIDS akan merubah kehidupan saya


sebelumnya

Penyakit HIV dan AIDS akan menjauhkan saya dari temanteman saya

Penyakit HIV dan AIDS akan membuat saya dikucilkan oleh


masyarakat

Penyakit AIDS membuat saya malu

SS

96

Penyakit AIDS membuat saya kehilangan semangat hidup

Penyakit AIDS membuat saya kehilangan nafsu makan

Penyakit AIDS membuat saya kehilangan pekerjaan saya

Penyakit HIV dan AIDS akan membuat saya dijauhi oleh


pasangan saya

10

Saya merasa bahwa penyakit HIV dan AIDS tidak akan


membuat saya mati

11

Menurut saya, penyakit HIV dan AIDS masih dapat diobati

12

Menurut saya, penyakit HIV dan AIDS tidak akan


mengancam hidup saya

13

Menurut saya, penyakit HIV dan AIDS akan membuat saya


mudah terserang penyakit TBC
D. Persepsi Manfaat Dari Tindakan Melakukan VCT
SS
S

No

Pernyataan

VCT tidak penting untuk dilakukan

VCT

mempunyai

manfaat

untuk

mengetahui

status

HIV/AIDS
3

VCT dapat mencegah saya dari penularan HIV dan AIDS

VCT tidak cukup memberikan informasi terkait HIV dan


AIDS

VCT dapat membuat saya merasa nyaman

VCT dapat membuat saya merasa tenang

VCT dapat membuat saya lebih percaya diri

VCT dapat membuat saya mendeteksi HIV dan AIDS sejak


dini

VCT dapat membuat saya mendapat dukungan dari petugas


kesehatan

10

Saya merasa bahwa VCT tidak akan merubah hidup saya

11

Saya merasa bahwa VCT hanya akan membuat saya tidak


tenang

RG

TS

STS

97

E. Persepsi Hambatan Dari Tindakan Melakukan VCT


No

Pernyataan

SS

VCT sangat merugikan bagi saya

VCT hanya membuang waktu saya

Biaya VCT sangat mahal

Saya merasa kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan

RG

TS

STS

untuk melakukan VCT


5

Saya tidak melakukan VCT karena takut status HIV diketahui


orang lain termasuk keluarga saya

Saya tidak melakukan VCT karena tidak ada yang menemani

Saya tidak melakukan VCT karena saya tidak tahu klinik


VCT

Saya tidak melakukan VCT karena saya tidak mempunyai


uang

No

F. Pencetus Tindakan
Pernyataan

Saya mendapatkan informasi HIV dan AIDS dari media sosial

Saya sering mendapatkan informasi HIV dan AIDS dari


petugas kesehatan

Saya sering mendapatkan informasi HIV dan AIDS dari


teman saya

Saya sering mendapatkan informasi HIV dan AIDS dari


komunitas

Setiap hari saya mencari informasi terkait penyakit HIV dan


AIDS

Saya melakukan VCT karena saya merasa demam tinggi terus


menerus

Saya melakukan VCT karena saya merasa berat badan saya


turun drastic

SS

RG

TS

STS

98

Saya melakukan VCT karena saya merasa sakit

Saya

melakukan

VCT

karena

saya

menderita

diare

berkepanjangan
10

Saya melakukan VCT karena saya terkena penyakit kulit

11

Saya melakukan VCT karena saya merasa kelamin saya sakit

12

Saya melakukan VCT karena saya merasa nafsu makan saya


menurun
Saya melakukan VCT karena saya terkena penyakit flu yang
tidak sembuh-sembuh
Saya melakukan VCT karena saya merasa nyeri otot dan
sendi
Saya melakukan VCT karena saya merasa sakit sariawan
yang tidak sembuh-sembuh
Saya melakukan VCT karena saya melihat teman saya juga
melakukan VCT
Saya melakukan VCT karena diajak oleh teman saya

13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

Saya melakukan VCT karena teman saya ada yang terkena


HIV/AIDS
Saya melakukan VCT karena teman saya sudah pernah
melakukan VCT sebelumnya
Saya melakukan VCT karena saya penasaran dengan status
HIV saya
Saya melakukan VCT karena sudah kewajiban saya untuk tes
HIV
Saya melakukan VCT karena diingatkan oleh petugas
kesehatan
Saya tidak melakukan VCT karena tidak ada gejala-gejala
penyakit yang saya rasakan
Petugas kesehatan tidak memberikan informasi secara detail
tentang HIV/AIDS pada saat saya periksa kesehatan
Saya mendapatkan informasi HIV dan AIDS dari VCT
sebelumnya
Saya mendapatkan informasi HIV dan AIDS dari pasangan
saya
G. Praktik VCT
1. Apakah dalam waktu 3 bulan terakhir anda melakukan VCT?
a. Ya

b. Tidak

99

2. Jika ya, dimana anda melakukan VCT?


a. Puskesmas

b.Rumah Sakit

c. LSM

d.VCT

Mobile
d. Lainnya, sebutkan
3. Apakah alasan anda melakukan VCT ? ( Jawaban boleh lebih dari satu )
a. Ingin mengetahui status HIV
b. Ada gejala IMS
c. Gratis
d. Ada VCT Mobile
e. Disarankan orang lain ( petugas lapangan, teman, petugas kesehatan)
f. Lainnya, sebutkan ..
4. Apa alasan anda tidak melakukan VCT?
a. Tidak ada waktu
b. Biaya mahal
c. Tidak diizinkan pasangan
d. Malu
e. Tidak ada yang mengajak
f. Tidak tahu tempat VCT
g. Lainnya, sebutkan .

100

Lampiran 6 Data Uji Validitas Dan Reliabilitas


Variabel Pengetahuan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13 P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 P21 P22 P23 P24 P25 Skor
3
3
3 3
3
3
3 3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
3
2
2
69
3
3
3 3
3
2
2 3
3
3
3
3
2
2
3
3
2
3
3
2
3
3
3
3
2
68
3
3
3 3
3
2
2 2
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
2
2
3
3
3
3
2
68
3
3
3 3
2
3
2 3
3
3
2
3
3
2
3
3
3
3
3
2
1
3
1
3
2
65
3
3
3 3
3
3
2 2
3
3
3
3
3
2
3
3
2
3
2
2
3
2
2
3
1
65
3
3
3 3
2
3
2 3
3
0
3
3
3
2
2
3
3
3
2
1
3
3
3
3
1
63
3
3
3 3
2
3
2 3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
1
2
2
3
2
3
2
66
3
2
3 2
3
3
3 3
3
3
3
3
2
3
3
3
2
3
1
2
1
2
3
3
2
64
3
3
3 3
3
3
3 2
3
1
3
3
2
3
3
3
3
2
2
2
2
0
3
3
2
63
3
3
2 3
3
3
3 2
3
2
3
3
2
3
3
3
3
3
2
2
3
2
3
3
2
67
3
3
3 3
3
3
3 3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
2
2
2
1
3
3
1
67
3
3
3 3
3
2
2 3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
2
1
2
2
2
2
2
1
62
3
2
3 3
3
3
2 2
2
1
1
3
3
3
2
3
3
3
0
3
2
2
2
3
1
58
2
3
2 3
3
3
1 2
3
1
1
2
3
3
3
2
1
3
1
3
1
0
1
3
1
51
3
3
2 2
2
3
1 2
2
1
3
3
3
3
3
1
1
3
2
3
2
3
1
3
1
56
3
3
3 3
3
2
1 2
3
1
2
2
3
3
3
3
2
3
3
2
1
2
1
3
1
58
3
3
3 3
3
3
1 2
2
1
1
1
3
2
3
3
3
3
1
2
2
1
3
2
1
55
3
3
3 3
3
3
2 2
2
2
1
1
3
3
3
3
3
3
1
1
0
1
2
3
1
55
3
3
3 2
3
3
3 2
2
2
1
1
3
3
2
2
3
2
1
1
0
2
2
3
1
53
2
3
2 3
3
2
3 3
2
2
1
1
3
3
3
3
2
3
1
1
2
3
2
3
1
57
2
3
3 3
3
2
0 3
3
2
2
2
3
2
3
3
1
3
2
0
2
3
2
2
1
55
3
2
3 3
3
3
3 3
3
3
2
3
2
3
3
3
2
2
3
2
1
2
1
3
1
62
3
2
3 2
2
2
2 3
2
3
2
2
1
3
3
3
2
3
2
0
2
1
2
3
1
54

101

24
25
26
27
28
29
30
Kriteria

3
2
2
3
3
2
3
v

3
3
3
3
2
2
2
v

3
3
2
3
3
2
2
v

3
3
3
2
3
2
2
v

3
3
3
2
2
1
2
v

2
1
2
2
2
2
1
v

3
3
0
2
2
1
1
v

1
1
1
1
2
2
1
v

3
2
2
3
2
2
3
v

3
3
3
2
1
2
2
v

2
3
3
3
3
2
3
v

3
3
3
3
3
2
2
v

3
3
3
2
3
2
2
tdk

3
3
2
3
3
3
2
tdk

3
2
3
3
2
1
2
v

2
3
3
3
3
2
1
v

2
3
3
3
2
2
1
v

3
3
3
3
2
3
3
tdk

0
2
2
1
0
1
1
v

2
1
2
2
1
2
3
tdk

2
1
1
2
2
1
2
v

1
0
1
1
0
2
1
v

2
2
2
2
3
2
2
v

Variabel Kerentanan
No
Responden P1
P2
P3
P4
P5
P6
P7
P8
P9
P10
P11
P12
Total Skor
4
4
5
4
5
5
4
4
5
5
4
5
54
1
5
5
4
5
4
4
5
5
4
5
3
5
54
2
5
4
4
4
5
3
4
4
5
4
4
4
50
3
3
4
5
4
4
3
4
5
4
5
4
4
49
4
3
4
5
4
5
3
4
3
4
4
4
5
48
5
5
5
4
4
2
5
3
5
3
3
4
4
47
6
4
4
3
4
4
2
4
4
4
5
3
4
45
7
4
5
4
5
4
4
4
5
4
4
4
5
52
8
4
5
4
4
4
4
4
4
4
4
5
5
51
9
4
5
5
5
5
1
5
4
4
5
4
3
50
10
4
5
2
4
3
2
5
4
5
4
4
4
46
11
5
4
5
2
2
4
4
5
5
4
3
4
47
12

3
3
3
3
2
1
2
v

1
1
2
1
1
1
1
v

59
57
57
58
52
45
47

102

13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Kriteria

4
5
4
5
3
4
3
4
5
4
5
5
4
4
4
4
4
3
5
5
4
5
5
4
4
2
5
3
5
4
5
3
4
3
4
3
3
4
5
4
4
5
4
4
4
5
4
3
4
4
3
5
4
4
4
3
4
3
5
4
4
5
4
3
5
2
4
4
5
5
4
4
3
5
4
5
4
3
4
5
4
5
5
4
4
5
4
4
3
4
5
5
5
5
4
3
3
4
5
4
3
3
5
5
4
4
3
4
2
5
4
5
4
3
5
4
4
4
4
5
4
4
4
4
5
3
5
5
5
5
3
5
3
4
4
4
5
4
4
5
4
3
3
4
2
3
4
3
5
3
4
4
4
4
4
4
4
3
5
4
4
4
4
4
4
5
4
4
4
4
5
5
4
3
3
5
4
5
4
5
3
4
5
5
4
4
3
4
4
3
4
3
2
3
3
4
3
5
2
2
5
4
3
1
2
4
3
3
2
2
5
3
4
4
3
4
Valid Valid Valid Valid Valid Tdk Tdk
Valid Tdk Valid Valid Valid

51
51
45
49
47
49
51
51
47
49
52
47
44
49
51
46
37
39

103

Variabel Keseriusan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

P1
5
5
5
4
4
5
4
5
4
5
3
4
5
5
4
3
4
5
4
3
4
4
4
5

P2
4
2
3
4
4
3
4
4
5
4
5
4
5
3
4
5
3
5
5
4
3
5
5
4

P3
4
3
3
3
5
3
3
4
4
3
4
4
3
4
3
4
3
3
4
5
4
4
2
4

P4

P5
5
4
2
2
3
4
3
3
4
4
3
2
4
3
4
3
4
5
4
4
3
4
3
3

P6
4
3
3
4
4
5
2
3
4
2
2
5
4
2
3
3
5
3
3
4
5
5
4
4

P7
5
3
3
3
5
5
3
4
3
3
4
3
4
2
2
5
4
3
2
3
5
2
3
4

P8
5
4
3
4
4
2
3
2
3
2
3
2
4
2
2
3
3
4
5
2
4
5
4
2

P9
4
3
4
3
4
3
2
4
3
2
3
4
2
3
3
4
4
5
3
4
3
4
5
3

5
4
3
3
3
4
4
5
3
2
4
2
3
3
3
3
4
4
2
5
4
5
4
3

P10
3
3
2
5
5
4
3
3
3
4
3
4
4
2
2
5
2
4
3
3
4
3
3
4

P11
4
3
4
5
5
3
4
5
2
2
3
2
4
3
3
4
3
2
4
3
3
4
4
5

P12
5
2
2
4
4
5
3
3
4
3
3
4
3
4
4
3
3
5
4
3
3
3
4
3

P13
3
3
3
4
4
4
2
3
3
4
3
2
3
4
3
3
4
4
5
4
3
4
4
4

P14
3
4
3
3
4
3
3
3
4
2
4
5
5
3
4
4
5
5
5
5
2
3
4
5

P15
2
2
3
1
1
2
3
2
3
2
4
3
5
2
3
5
5
4
5
5
5
4
5
5

P16 Skor
3
64
3
51
3
49
3
55
4
63
4
59
3
49
5
58
4
56
3
47
4
55
2
52
3
61
3
48
2
49
3
60
3
59
3
64
4
62
3
60
5
60
3
62
4
62
5
63

104

25
5
3
2
4
3
4
4
3
4
4
4
3
5
5
5
4
26
4
2
4
3
2
4
4
4
3
2
4
3
4
5
5
3
27
5
4
5
4
3
3
3
4
4
3
3
5
3
3
4
2
28
3
5
4
5
3
3
5
3
4
4
5
3
4
4
5
3
29
4
5
4
4
3
3
4
3
3
4
3
4
3
4
4
4
30
4
5
3
3
4
4
3
3
4
3
3
5
3
4
4
4
Kriteria tdk valid tdk valid valid valid valid valid valid valid valid tdk valid valid valid valid
Variabel Manfaat
No
Responden P1
P2
P3
P4
P5
P6
P7
P8
P9
P10
P11
P12
Skor
4
5
4
4
4
4
4
5
5
4
2
2
47
1
3
4
3
3
2
3
3
5
4
3
2
3
38
2
3
4
4
3
3
4
3
4
4
3
2
2
39
3
4
4
5
4
4
4
4
4
3
3
2
3
44
4
5
4
3
4
4
5
4
5
4
4
3
4
49
5
4
5
4
3
4
4
4
4
4
4
4
3
47
6
4
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
47
7
4
5
4
5
4
4
4
4
5
5
4
5
53
8
4
4
4
2
2
4
4
5
5
4
4
4
46
9
4
4
3
4
3
3
2
2
4
3
3
4
39
10
4
4
3
4
3
3
2
2
4
3
3
4
39
11
4
4
4
4
4
4
4
4
4
2
3
4
45
12
5
5
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
49
13

62
56
58
63
59
59

105

14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Kriteria

2
4
3
2
2
2
2
2
3
1
2
2
3
4
2
3
2
3
3
3
4
3
2
3
3
4
5
4
3
3
3
3
4
4
3
4
2
4
4
4
4
4
4
3
5
4
4
5
3
4
4
4
4
2
5
2
4
3
3
3
4
5
4
5
3
2
4
3
3
2
4
2
5
5
4
4
4
3
5
3
4
3
5
2
5
5
4
3
5
2
4
2
4
3
5
3
4
5
4
3
4
3
4
4
3
4
4
4
3
5
4
4
4
4
2
4
5
5
3
5
3
4
3
5
5
4
3
5
5
5
3
5
2
4
4
5
4
5
4
4
4
5
2
4
3
4
4
4
4
4
3
3
4
4
2
4
3
4
5
4
4
4
2
2
4
4
3
4
4
4
4
3
3
4
3
3
4
4
4
4
3
4
4
3
2
3
3
3
4
4
4
4
2
3
4
2
2
3
4
4
4
4
4
4
Valid Valid Tdk Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

27
35
43
47
41
41
47
45
46
48
50
47
43
43
44
41
40

106

Variabel Hambatan
No
Responden

P1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

P2
4
2
4
4
2
1
2
2
2
3
2
2
4
2
2
4
3
2
3
4
4

P3
4
3
4
4
1
1
2
2
3
2
2
2
4
3
2
4
3
3
3
2
4

P4
4
4
4
3
1
4
3
1
2
4
4
3
3
1
2
4
3
4
4
4
5

P5
4
4
4
2
2
4
4
2
2
4
4
4
3
4
2
4
4
4
2
2
3

P6
4
4
2
1
3
4
2
5
3
4
5
4
4
3
2
3
4
3
2
3
3

P7
3
4
3
3
4
2
2
4
2
1
1
4
1
2
3
1
2
4
3
3
4

P8
4
5
4
5
4
2
2
4
2
2
2
4
2
4
3
4
4
3
4
2
3

P9
4
3
3
4
5
4
2
2
5
2
3
2
2
1
2
4
3
3
4
3
4

P10
4
2
5
3
3
2
2
3
2
4
4
2
3
3
2
2
2
3
3
3
3

Total
Skor

P11
4
1
3
2
4
4
2
2
2
2
2
4
3
2
2
4
2
1
3
3
3

4
3
4
4
4
3
4
4
4
3
4
3
2
3
4
3
4
4
2
3
1

43
35
40
35
33
31
27
31
29
31
33
34
31
28
26
37
34
34
33
32
37

107

3
3
2
4
2
2
3
3
4

22
23
24
25
26
27
28
29
30
Kriteria

Valid

4
4
3
2
3
4
4
4
2
Valid

4
4
3
3
2
3
4
3
3
Valid

3
4
5
4
4
3
4
3
3

4
4
4
4
3
2
2
4
3

Valid

2
3
3
3
4
4
4
2
4

tdk

tdk

3
4
3
2
3
3
2
4
3
Valid

4
3
4
2
3
2
2
3
4

3
4
4
4
5
3
2
4
3

Valid

Valid

4
4
5
4
3
2
2
4
4

1
2
4
4
4
3
1
3
2

Valid

tdk

35
39
40
36
36
31
30
37
35

Variabel Pencetus Tindakan


N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

1 2 3 4
4
4
5
5
4
4
4
4
5
3

4
4
3
4
3
2
4
4
5
3

4
4
3
4
4
3
4
4
4
2

4
3
4
4
4
3
4
5
3
4

4
3
4
4
3
3
4
4
4
4

4
2
5
3
4
2
3
3
3
2

4
2
4
4
2
2
4
2
4
2

8 9 10

1
1

1
2

1
3

1
4

1
5

1
6

1
7

1
8

1
9

2
0

2
1

2
2

2
3

2
4

2
5

2
6

27

2
8

2
9

3
0

Sko
r

5
2
4
2
2
2
4
4
4
2

4
5
4
4
3
5
4
3
3
5

4
4
4
4
5
4
4
3
3
4

4
4
3
3
4
2
4
4
4
4

4
3
4
4
4
5
4
4
4
5

4
4
3
2
3
4
2
4
4
5

4
4
3
4
3
4
5
4
5
5

4
4
4
4
4
4
2
3
3
3

4
3
3
4
3
4
4
3
3
3

4
3
4
4
4
3
2
4
4
3

4
4
4
3
3
4
3
4
4
4

2
4
4
3
4
4
4
4
4
3

4
2
2
3
4
4
4
5
4
2

5
4
3
3
4
4
4
5
4
5

4
4
3
2
2
3
3
4
4
3

2
4
4
5
5
3
2
2
3
2

2
4
4
3
4
5
4
3
4
5

2
3
3
4
2
3
3
3
2
3

4
3
4
4
4
4
3
4
3
3

4
5
5
4
4
4
2
4
2
3

4
3
2
3
4
4
4
4
4
5

113
107
110
107
106
104
105
109
108
100

4
5
5
4
4
5
5
4
3
2

3
4
3
3
3
1
2
1
2
1

108

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
K

2
4
4
4
4
4
5
3
4
2
3
4
3
2
2
2
2
4
4
4

3
2
3
4
2
4
4
4
4
4
3
4
2
2
5
4
3
4
5
5

2
2
3
4
2
3
3
3
3
2
3
4
4
5
3
2
2
2
4
3

3
2
3
4
4
4
3
4
3
4
4
3
2
3
2
3
3
5
4
3

4
4
4
4
3
4
3
3
4
4
4
2
2
2
2
3
4
5
3
3
td
V V V V k

2
2
1
4
3
3
3
3
3
4
4
4
2
2
2
2
2
2
3
3

2
2
2
5
2
2
1
1
2
2
2
3
5
3
3
3
4
5
2
2
td
V k

2
2
2
5
4
2
2
3
3
3
2
4
2
3
3
3
2
4
2
3

4
3
3
3
3
3
4
4
1
4
4
2
5
2
4
3
4
5
3
4

1 4 4 4 5 5 5 4 3 3 4 3 2 5 3 5 5
3 4 1 5
2 2 4 4 2 2 2 2 2 2 2 4 4 2 4 2 2
2 4 2 2
2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 4 2 2
4 2 4 2
3 2 2 2 4 2 4 3 3 2 3 2 4 4 4 2 4
3 5 3 3
3 3 1 3 3 3 4 4 3 3 3 4 2 4 3 2 2
4 4 2 2
1 3 2 3 3 2 4 1 2 4 4 3 4 4 3 1 2
4 4 1 5
1 3 3 2 4 2 4 4 3 3 4 2 2 5 2 3 3
4 3 2 3
2 3 3 2 2 2 3 3 4 2 3 2 3 3 2 2 4
3 2 3 4
2 2 4 4 3 1 3 2 4 2 4 3 3 4 3 3 4
2 1 1 2
1 5 4 3 3 1 3 4 5 2 4 2 4 5 1 3 3
1 5 1 2
2 4 4 3 2 1 3 5 4 2 4 3 4 3 2 2 3
1 5 1 5
3 3 4 5 2 2 5 3 3 2 4 3 3 4 3 4 5
3 4 4 3
3 4 2 3 4 2 4 2 2 1 4 3 2 4 4 4 3
2 2 2 4
2 5 2 3 4 3 3 2 2 4 4 3 2 3 2 3 4
3 3 5 3
1 3 2 3 3 4 5 4 3 3 3 2 2 5 2 2 3
4 2 4 4
1 3 2 5 4 3 5 3 4 2 5 1 1 4 1 2 2
4 2 5 4
2 2 5 3 4 2 4 2 2 3 2 3 4 2 2 1 2
5 4 3 2
2 4 4 5 4 3 4 2 4 2 4 4 4 3 4 1 1
4 5 4 4
3 3 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 5 4 5 3 5
4 3 4 5
3 4 4 5 3 3 3 4 4 4 4 4 5 4 5 4 4
4 4 4 4
td
td
V V k
V V V V V V V V V V V V V V V V k
V V V

102
77
75
101
89
89
90
85
84
91
92
102
88
89
90
88
85
108
109
113

109

Lampiran 7 Hasil Uji Normalitas Data


Variabel Kerentanan

Variabel Keseriusan

110

Variabel Manfaat

Variabel Hambatan

111

Variabel Pencetus Tindakan

112

Lampiran 8 Hasil Uji Statistik


Variabel Umur

113

Variabel Tingkat Pendidikan

114

Variabel Tingkat Pendapatan

115

Variabel Pengetahuan

116

Variabel Persepsi Kerentanan

117

Variabel Persepsi Keseriusan

118

Variabel Persepsi Manfaat

119

Variabel Persepsi Hambatan

120

Variabel Pencetus Tindakan

121

Lampiran 9 Dokumentasi

Responden sedang Mengisi Angket

Responden sedang Mengisi Angket

122

Responden sedang Mengisi Angket

Responden sedang Mengisi Angket