Anda di halaman 1dari 32

PEDOMAN

PELAYANAN INSTALASI GAWAT


DARURAT

RUMAH SAKIT JIH YOGYAKARTA


Jl. Ringroad Utara No. 160 Depok, Condong Catur
Yogyakarta 55283. Telp. (0274) 4463535

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan oleh suatu organisasi untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat
memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan ratarata penduduk, serta yang penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar
pelayanan profesi yang telah ditetapkan.
Pelayanan gawat darurat merupakan pelayanan yang dapat memberikan tindakan
yang cepat dan tepat pada seorang atau kelompok orang agar dapat meminimalkan angka
kematian dan mencegah terjadinya kecacatan yang tidak perlu. Upaya peningkatan gawat
darurat ditujukan untuk menunjang pelayanan dasar, sehingga dapat menanggulangi pasien
gawat darurat baik dalam keadaan sehari-hari maupun dalam keadaaan bencana.
Dengan semakin meningkatnya jumlah penderita gawat darurat, maka diperlukan
peningkatan pelayanan gawat darurat baik yang diselenggarakan ditempat kejadian, selama
perjalanan ke rumah sakit, maupaun di rumah sakit.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka di Instalasi Gawat Darurat perlu dibuat standar
pelayanan yang merupakan pedoman bagi semua pihak dalam tata cara pelaksanaan
pelayanan yang diberikan ke pasien pada umumnya dan pasien IGD RS JIH Yogyakarta
khususnya.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas maka, dalam melakukan pelayanan gawat
darurat di IGD harus berdasarkan standar pelayanan Gawat Darurat RS Sumber Sejahtera.

Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 1

B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pelayanan Instalasi Gawat Darurat meliputi
1.

Pasien dengan kasus True Emergency.


Yaitu pasien yang tiba tiba berada dalam keadaan gawat darurat atau akan menjadi
gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak
mendapat pertolonngan secepatnya.

2.

Pasien dengan kasus False Emergency.


Yaitu pasien dengan :
Keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat
Keadaan gawat tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badannya.
Keadaan tidak gawat dan tidak darurat.
C. Batasan Operasional
1. Instalasi Gawat Darurat
Adalah unit pelayanan di rumah sakit yang memberikan pelayanan pertama pada pasien
dengan ancaman kematian dan kecacatan secara terpadu dengan melibatkan berbagai
multidisiplin.
2. Triage
Adalah pengelompokan korban yang berdasarkan atas berat ringannya trauma / penyakit
serta kecepatan penanganan/pemindahannya.
3. Prioritas
Adalah penentuan mana yang harus didahulukan mengenai penanganan dan pemindahan
yang mengacu tingkat ancaman jiwa yang timbul.
4. Survey Primer
Adalah deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi yang mengancam jiwa.
5. Survey Sekunder
Adalah melengkapi survei primer dengan mencari perubahan perubahan anatomi yang
akan berkembang menjadi semakin parah dan memperberat perubahan fungsi vital yang
ada berakhir dengan mengancam jiwa bila tidak segera diatasi.

Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 2

6. Pasien Gawat Darurat


Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam
nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan
secepatnya.
7.

Pasien Gawat Tidak Darurat


Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat misalnya
kanker stadium lanjut.

8.

Pasien Darurat Tidak Gawat


Pasien akibat musibah yang datang tiba tiba tetapi tidak mengancam nyawa dan
anggota badannya, misalnya luka sayat dangkal.

9.

Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat


Misalnya pasien dengan ulcus tropium , TBC kulit , dan sebagainya.

10.

Kecelakaan (Accident)
Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai faktor yang datangnya mendadak, tidak
dikehendaki

sehingga

menimbulkan

cedera

fisik,

mental

dan

sosial.

Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut :


1.

Tempat kejadian :

Kecelakaan lalu lintas.

Kecelakaan di lingkungan rumah tangga.

Kecelakaan di lingkungan pekerjaan.

Kecelakaan di sekolah.

Kecelakaan di tempat tempat umum lain seperti halnya : tempat rekreasi,


perbelanjaan, di area olah raga, dan lain lain.

2.

Mekanisme kejadian:
Tertumbuk, jatuh, terpotong, tercekik oleh benda asing, tersengat, terbakar baik
karena efek kimia, fisik maupun listrik atau radiasi.

3.

Waktu kejadian
Waktu perjalanan (travelling/transport time)
-Waktu bekerja, waktu sekolah, waktu bermain dan lain lain.

11.

Cidera
Masalah kesehatan yang didapat / dialami sebagai akibat kecelakaan.
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 3

12.

Bencana
Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam dan atau manusia yang
mengakibatkan korban dan penderitaaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan,
kerusakan sarana dan prasarana umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan
masyarakat dan pembangunan nasional yang memerlukan pertolongan dan bantuan.
Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dari salah
satu system / organ di bawah ini, yaitu :
1. Susunan saraf pusat.
2. Pernafasan.
3. Kardiovaskuler.
4. Hati.
5. Ginjal.
6. Pancreas.
Kegagalan (kerusakan) sistem/organ tersebut dapat disebabkan oleh :
1. Trauma / cedera,
2. Infeksi,
3. Keracunan (poisoning),
4. Degerenerasi (failure),
5. Asfiksi,
6. Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar (excessive loss of water and
electrolit ),
7. Dan lain-lain.
Kegagalan sistem susunan saraf pusat, kardiovaskuler, pernafasan dan hipoglikemia
dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4 6), sedangkan kegagalan
SISTEM /organ yang lain dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang lama.
Dengan demikian keberhasilan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD)
dalam mencegah kematian dan cacat ditentukan oleh :
1. Kecepatan menemukan penderita gawat darurat.
2. Kecepatan meminta pertolongan.
3. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan.
4. Ditempat kejadian.
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 4

5. Dalam perjalanan ke rumah sakit.


6. Pertolongan selanjutnya secara mantap di rumah sakit.
D. Landasan Hukum :
1. Undang undang No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang undang No.44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. Undang undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
4. Undang undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
5. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 129 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal RS
6. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 856 Tahun 2009 tentang Standar IGD di RS
7. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 340 tahun 2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit

BAB II
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 5

STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi SDM.
1. Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM IGD adalah :
No
1

Nama Jabatan

As Men Pelayanan
Keperawatan
Ka Ru IGD

Ka Instalasi Gawat Darurat

Perawat Pelaksana IGD

Dokter IGD

TPK

Kualifikasi
Formal
SKP / SKM /
Setingkat
D III
Keperawatan
Dokter Umum

Bersertifikat
BLS/BTCLS/PPGD
Bersertifikat
BLS/BTCLS/PPGD
Bersertifikat ACLS/ATLS

D III
Keperawatan
Dokter Umum

Bersertifikat
BLS/BTCLS/PPGD
Bersertifikat ACLS/ATLS

SMU

Keterangan

B. Distribusi Ketenagaan
Pola pengaturan ketenagaan Instalasi Gawat Darurat yaitu :
1. Untuk Dinas Pagi :yang bertugas sejumlah 2 ( dua ) orang dengan standar minimal
bersertifikat BLS.
Kategori :
1 orang Ka Ru,
1 orang Pelaksana.
2. Untuk Dinas Sore :yang bertugas sejumlah 2 ( dua ) orang dengan standar minimal
bersertifikat BLS.
Kategori :
1 orang Penanggung Jawab Shift.
1 orang Pelaksana.

3. Untuk Dinas Malam : yang bertugas sejumlah 2 ( dua ) orang dengan standar minimal
bersertifikat BLS. Kategori :
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 6

1 orang Penanggung Jawab Shift.


1 orang Pelaksana
Pengaturan Jaga
1.

Pengaturan Jaga Perawat IGD.


Pengaturan jadwal dinas perawat IGD dibuat dan di pertanggung jawabkan oleh

Kepala Ruang (Karu) IGD dan disetujui oleh Asisten Manajer Pelayanan
Keperawatan.
Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu satu bulan dan direalisasikan ke perawat

pelaksana IGD setiap satu bulan..


Untuk tenaga perawat yang memiliki keperluan penting pada hari tertentu, maka

perawat tersebut dapat mengajukan permintaan dinas pada buku permintaan.


Permintaan akan disesuaikan dengan kebutuhan tenaga yang ada (apa bila tenaga
cukup dan berimbang serta tidak mengganggu pelayanan, maka permintaan
disetujui).

Setiap tugas jaga / shift harus ada perawat penanggung jawab shift (PJ Shift)
dengan syarat pendidikan minimal D III Keperawatan dan masa kerja minimal 2
tahun, serta memiliki sertifikat tentang kegawat daruratan.

Jadwal dinas terbagi atas dinas pagi, dinas sore, dinas malam, lepas malam, libur
dan cuti.

Apabila ada tenaga perawat jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga
sesuai jadwal yang telah ditetapkan (terencana), maka perawat yang bersangkutan
harus memberitahu Karu IGD : 2 jam sebelum dinas pagi, 4 jam sebelum dinas
sore atau dinas malam. Sebelum memberitahu Karu IGD, diharapkan perawat
yang bersangkutan sudah mencari perawat pengganti, Apabila perawat yang
bersangkutan tidak mendapatkan perawat pengganti, maka KaRu IGD akan
mencari tenaga perawat pengganti yaitu perawat yang hari itu libur atau perawat
IGD yang tinggal di asrama.

Apabila ada tenaga perawat tiba tiba tidak dapat jaga sesuai jadwal yang telah
ditetapkan (tidak terencana), maka KaRu IGD akan mencari perawat pengganti
yang hari itu libur atau perawat IGD yang tinggal di asrama. Apabila perawat
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 7

pengganti tidak di dapatkan, maka perawat yang dinas pada shift sebelumnya
wajib untuk menggantikan.(Prosedur pengaturan jadwal dinas perawat IGD sesuai
SOP terlampir).
2.

Pengaturan Jaga Dokter IGD

Pengaturan jadwal dokter jaga IGD menjadi tanggung jawab Ka Instalasi Gawat
Darurat dan disetujui oleh Manajer Pelayanan.

Jadwal dokter jaga IGD dibuat untuk jangka waktu 1 bulan serta sudah diedarkan
ke unit terkait dan dokter jaga yang bersangkutan 1 minggu sebelum jaga di mulai.

Apabila dokter jaga IGD karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga sesuai
dengan jadwal yang telah di tetapkan maka :
1.

Untuk yang terencana, dokter yang bersangkutan harus menginformasikan


ke Ka Instalasi Gawat Darurat paling lambat 3 hari sebelum tanggal jaga, serta
dokter tersebut wajib menunjuk dokter jaga

2.

Untuk

yang

tidak

terencana,

dokter

yang

bersangkutan

harus

menginformasikan ke Ka Instalasi Gawat Darurat dan di harapkan dokter


tersebut sudah menunjuk dokter jaga pengganti, apabila dokter jaga pengganti
tidak didapatkan, maka Ka Instalasi Gawat Darurat wajib untuk mencarikan
dokter jaga pengganti, yaitu digantikan oleh dokter jaga yang pada saat itu
libur atau dirangkap oleh dokter jaga ruangan. Apabila dokter jaga pengganti
tidak di dapatkan maka dokter jaga shift sebelumnya wajib untuk
menggantikan.( Prosedur pengaturan jadwal jaga dokter IGD sesuai SOP
terlampir).
3.

Untuk

yang

tidak

terencana,

dokter

yang

bersangkutan

harus

menginformasikan ke Ka Instalasi Gawat Darurat dan di harapkan dokter


tersebut sudah menunjuk dokter jaga pengganti, apabila dokter jaga pengganti
tidak didapatkan, maka Ka Instalasi Gawat Darurat wajib untuk mencarikan
dokter jaga pengganti, yaitu digantikan oleh dokter jaga yang pada saat itu
libur atau dirangkap oleh dokter jaga ruangan. Apabila dokter jaga pengganti
tidak di dapatkan maka dokter jaga shift sebelumnya wajib untuk
menggantikan.( Prosedur pengaturan jadwal jaga dokter IGD sesuai SOP
terlampir).
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 8

3.

Pengaturan Jadwal Dokter Konsulen

Pengaturan jadwal jaga dokter konsulen menjadi tanggung jawab Manager Pelayanan.

Jadwal jaga dokter konsulen dibuat untuk jangka waktu 3 bulan serta sudah diedarkan
ke unit terkait dan dokter konsulen yang bersangkutan 1 minggu sebelum jaga di
mulai.

Apabila dokter konsulen jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga sesuai
dengan jadwal yang telah di tetapkan maka :

Untuk yang terencana, dokter yang bersangkutan harus menginformasikan ke


Manager Pelayanan atau ke petugas sekretariat paling lambat 3 hari sebelum
tanggal jaga, serta dokter tersebut wajib menunjuk dokter jaga konsulen pengganti.

Untuk yang tidak terencana, dokter yang bersangkutan harus menginformasikan


ke Manager Pelayanan atau ke petugas sekretariat dan di harapkan dokter tersebut
sudah menunjuk dokter jaga konsulen pengganti, apabila dokter jaga pengganti
tidak didapatkan, maka Manager Pelayanan wajib untuk mencarikan dokter jaga
konsulen pengganti.( Prosedur pengaturan jadwal jaga dokter konsulen sesuai SOP
terlampir).

BAB III
STANDAR FASILITAS
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 9

A. Denah Ruangan
Denah terlampir
B. Standar Fasilitas
1. Fasilitas & Sarana
IGD RS Sumber Sejahtera berlokasi di lantai I gedung utama yang terdiri dari ruangan
Triase, ruang resusitasi , ruang tindakan bedah , ruangan tindakan non bedah dan
ruangan observasi.
Ruangan resusitasi terdiri dari 1 (satu) tempat tidur , ruangan tindakan bedah terdiri dari
satu (1) tempat tidur, ruangan tindakan non bedah terdiri dari 2 (dua) tempat tidur,
ruangan observasi terdiri dari 2 (dua) tempat tidur.
2. Peralatan
Peralatan yang tersedia di IGD mengacu kepada buku pedoman pelayanan Gawat Darurat
Departermen Kesehatan RI untuk penunjang kegiatan pelayanan terhadap pasien Gawat
darurat.
Alat yang harus tersedia adalah bersifat life saving untuk kasus kegawatan jantung
seperti monitor dan defribrilator.
Alat alat untuk ruang resusitasi :
1. Mesin suction (1 set),
2. Oxigen lengkap dengan flowmeter (1 set),
3. Laringoskope anak & dewasa (1 set),
4. Spuit semua ukuran (masing masing 10 buah).
5. Oropharingeal air way (sesuai kebutuhan).
6. Infus set / transfusi set (5/5 buah).
7. Brandcard fungsional diatur posisi trendelenberg, ada gantungan infus & penghalang
(1 buah).
8. Gunting besar (1 buah).
9. Defribrilator (1 buah).
10. Monitor EKG (1 buah).
11. Trolly Emergency yang berisi alat alat untuk melakukan resusitasi (1 buah).
12. Papan resusitasi (1 buah).
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 10

13. Ambu bag (1 buah).


14. Stetoskop (1 buah).
15. Tensi meter (1 buah).
16. Thermometer (1 buah).
17. Tiang Infus (1 buah).
Alat alat untuk Ruang Tindakan Bedah.
1. Bidai segala ukuran untuk tungkai, lengan, leher, tulang punggung (1 set).
2. Verban segala ukuran :

4 x 5 em (5 buah),

4 x10 em (5 buah).
3. Vena seksi set (1 set).
4. Extraksi kuku set (2 set).
5. Hecting set (5 set).
6. Benang benang / jarum segala jenis dan ukuran:
Cat gut 2/0 dan 3/0 (1 buah),
Silk Black 2/0 (1 buah), 3/0 (1 buah),
Jarum (1 set).
7. Lampu sorot (1 buah ).
8. Kassa (1 tromel ).
9. Cirkumsisi set (1 set).
10. Ganti verban set (3 set).
11. Stomach tube / NGT :
Nomer 12 ( 3 buah );
Nomer 16 ( 3 buah );
Nomer 18 ( 2 buah )..
12. Spekulum hidung ( 2 buah).
13. Spuit sesuai kebutuhan :
5 cc (5 buah),
2.5 cc (5 buah).
14. Infus set (1 buah).
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 11

15. Dower Catheter segala ukuran : Nomer 16 (2 buah),- Nomer 18 (2 buah).


16. Emergency lamp (1 buah).
17. Stetoskop (1 buah)
18. Tensimeter ( 1 buah )
19. Thermometer ( 1 buah )
20. Elastis verban sesuai kebutuhan :- 6 inchi ( 1 buah ),- 4 inchi ( 2 buah ),- 3 inchi ( 1
buah ).
21. Tiang infus ( 2 buah )
Alat alat untuk ruang tindakan non bedah :
9. Stomach tube / NGT : Nomer 16 ( 2 buah ),- Nomer 18 ( 2 buah ),- Nomer 12 ( 3
buah ).
10. Urine bag ( 3 buah ).
11. Otoscope ( 1 buah )
12. Nebulizer ( 1 buah )
13. Mesin EKG ( 1 buah )
14. Infus set ( 1 buah )
15. IV catheter semua nomer ( 1 set )
16. Spuit sesuai kebutuhan :
1 cc

( 5 buah ),

2.5 cc ( 5 buah ),
5 cc

( 5 buah ),

10 cc ( 5 buah ),
20 cc ( 3 buah ),
50 cc ( 3 buah ),
17. Tensimeter ( 1 buah ).
18. Stetoskop ( 1 buah ).
19. Thermometer ( 1 buah ).
20. Tiang infus ( 1 buah ).
Alat alat untuk ruang observasi :
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 12

1. Tensi meter ( 1 buah ).


2. Oxygen lengkap dengan flow meter ( 1 buah ).
3. Termometer ( 1 buah ).
4. Stetoskop ( 1 buah ).
5. Standar infus ( 1 buah ).
6. Infus set ( 1 set ).
7. IV catheter segala ukuran ( 1 set ).
8. Spuit sesuai kebutuhan :
1 cc

( 5 buah ),

2.5 cc ( 5 buah ),
5 cc ( 5 buah ),
10 cc ( 5 buah ),
20 cc ( 3 buah ),
50 cc ( 3 buah ).
Alat alat dalam trolly emergency :
1. Obat Life saving ( terlampir pada standar obat IGD RS.
2. Obat penunjang ( terlampir pada standar obat IGD RS.
Alat alat kesehatan.
1. Ambu bag / Air viva untuk dewasa & anak ( 1 buah / 1 buah ).
2. Oropharingeal airway : Nomer 3 ( 2 buah ),- Nomer 4 ( 2 buah ).
3. Laringoscope dewasa & anak ( 1 set ).
4. Magyl forcep.
5. Face mask ( 1 buah )
6. Urine bag non steril ( 5 buah ).
7. Spuit semua ukuran.
8. Infus set ( 1 set).
9. Endotracheal tube ( dewasa & anak ) :
Nomer 2.5 ( 1 buah ),
Nomer 3 ( 1 buah ),
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 13

Nomer 4 ( 1 buah ),
Nomer 7 ( 1 buah ),
Nomer 7.5 ( 1 buah ),
Nomer 8 ( 1 buah ).
10. Slang oksigen sesuai kebutuhan
11. Stomach tube / NGT :
Nomer 16 ( 2 buah ).
Nomer 18 ( 2 buah ).
Nomer 12 ( 3 buah ).
12. IV catheter sesuai kebutuhan :
Nomer 18 Cath / Terumo ( 2 / 2 buah ).
Nomer 20 Cath / Terumo ( 2 / 16 buah ).
Nomer 22 Cathy / terumo ( 2 / 11 buah ).
13. Suction catheter segala ukuran :
Nomer 10 ( 3 buah ).
Nomer 12 ( 2 buah )
14. Neck collar Ukuran S / M ( 2 / 1 )

Ambulance
Untuk menunjang pelayanan terhadap pasien RSSS saat ini memiliki 2 ( dua ) unit ambulance
yang kegiatannya berada dalam koordinasi IGD dan bagian umum.
Fasilitas & Sarana untuk Ambulance
1. Perlengkapan Ambulance
2. Ac
3. Sirine
4. Lampu rotater
5. Sabuk pengaman
6. Sumber listrik / stop kontak
7. Lemari untuk alat medis
8. Lampu ruangan
9. Wastafel
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 14

Alat & Obat untuk Ambulance.


1. Tabung Oksigen ( 1 buah )
2. Mesin suction ( 1 buah )
3. Monitor EKG 1 buah )
4. Stretcher ( 1 buah )
5. Scope ( 2 buah )
6. Piala ginjal ( 5 buah )
7. Tas Emergency yang berisi :
o Obat obat untuk life saving (Cairan infus : RL, NaCL 0,9 % ( 5 / 10 kolf )
o Senter ( 2 buah )
o Stetoskop ( 3 buah )
o Tensimeter ( 1 buah )
o Piala ginjal ( 5 buah )
o Oropharingeal air way
o Gunting verban ( 2 buah )
o Tongue Spatel ( 1 buah )
o Reflex hummer ( 2 buah )
o Infus set ( 1 buah )
o IV chateter ( Nomer 20 , 18 : 2 : 2 )
o Spuit semua ukuran ( masing- masing 2 buah ).

Standar Obat IGD RS


OBAT LIVE SAVING
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 15

1. Injeksi
No
1.
2.

Nama Obat
Adona AC 10 ml
Alupent

Satuan
Ampul
Ampul

Jumlah
6
2

3.

Aminophilin

Ampul

14

4
5.
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34

Atropin sulfat
Buscopan
Catapres
Cedation
Cortidex
Diazepam
Dicynone
Dormicum
Ephinephrin
Lasik
Lidocain
Metro clopramide
Nicholin 250 mg
Nicholin 100 mg
Naotropil 1 gr
Novalgin
Orodexon
Phenobarbital
Pethidine
Pulmicortn Naspv
Ranitidine
Remopain
Renatoc
Toradol 50 mg
Panadol
Transamin
Valium
Vit k
Tramal 100 mg
ATS 1500 u
Vaksin Engerik BIn-1
Vaccin Engerik o,5
ml
Kallium clorida
Meylon 25 ml
Meylon 100 ml

Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Asmpul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Tube

125
14
3
5
6
5
5
2
16
94
5
2
2
5
5
4
2
2
8
5
5
2
1
5
7
14
2
1
10
3

Jenis Obat
Haemostatic
Anti asthmatic dan COPD
preparations
Anti asmatic dan COPD
preparations
Anti spasmodics
Anti spasmodics
Other Anti hypertensives
Anti emetics
Corticosteroid Hormones
Minor Transquillizer
Haemostatics
Hypnotics dan sedatives
Asnastetic lokal & general
Diuretics
Anastetic lokal
Anti emetik
Neuroprotector
Neoroprotector
Neuroprotector
Analgetik
Anti inflamasi
Sedatif
Sedatif
Broncodilator
Antacida
Analgetik
Antacida
Analgetik
Analgetik
Haemostatics
Sedatif
Anti perdarahan
Analgetik
Anti tetanus
Vaksinasi hepatitis

Tube

Vaksinasi hepatitis

Flacon
Flacon
Flacon

6
9
1

Elektrolit

35
36
37
38

Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 16

2. Tablet
N
o
1.
2.
3.
4.

Nama Obat

Satuan

Jumla
h

Adalat 5 mg
Adalat 10 mg
Cedocard 5 mg
Nitrobat

Tablet
Tablet
Tablet
Tablet

10
10
8
10

3. Cairan Infus
No
Nama Obat
Satuan
1. Asering
Kolf
2. Dextrose 5 % 250 ml
Kolf
3. Dextrose 5 % 500 ml
Kolf
4 Dextrose 10 % 500ml
Kolf
5. Dextrose In Saline
Kolf
0,225
6. Dextrose 0,5 Darrow
Kolf
7. Kaen 3 B
Kolf
8. Kaen 3 A
Kolf
9. Larutan 2 A
Kolf
10. Manitol 250 cc
Kolf
11. Nacl 0,9 % 250 ml
Kolf
12. Nacl 0,9 % 500 ml
Kolh
13. Nacl 3 %
Kolf
14. Ringer Dextrose
Kolf
15 Ringer Lactat
Kolf
16. Ringer Solution
Kolf
17. Dex 40 % 25 ml
Flalon
4. Suppositoria
No
Nama Obat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Jenis Obat

Amicain Supp
Primperan
sup
Child
Primperan
Sup
Adult
Paracetamol Sup
Propyretic 160 mg
Proris Sup
Stesolid 5 mg rect
Stesolid 10 mg rect

Anti hypertensi/ Betabloker


Anti hypertensi / Betabloker
Anti anginal
Nitrogliserida
Jumlah
4
2
8
5
2

Jenis Obat

3
1
1
7
2
1
5
1
6
13
2
6

Satuan

Jumla

Jenis Obat

Supp
Supp

h
2
3

Anti emetik
Anti emetik

Supp

Anti emetik

Supp
Supp
Supp
Tube
Tube

1
1
6
5
7

Anti piretik, Analgetik


Anti piretik, Analgetik
Anti piretik , Analgetik
Sedatif
Sedatif

Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 17

2.

OBAT PENUNJANG
1. Injeksi
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8
9.
10
.

Nama Obat
Cedantron
Calsium gluconas
Zantadin
Lanoxin
Neurobion 5000
Papaverin
Sotatik
Cortison Asetat
Kanamycin 1 gr
Procain Penicillin

Satuan
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Ampul
Flacon
Flacon
Flacon

Jumla
h
5
3
5
2
5
12
8
4
10
2

Jenis Obat
Antiemetik
Vitamin (elektrolit)
Antasida
Cardiac drugs
Vitamin
Anti spasmudics
Anti emetik
Anti inflamasi
Antibiotik
Antibiotik

2. Obat tablet
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Nama Obat

Satuan

Aspilet

Tablet

Jumla
h
7

Inderal
Inopamil
Isorbid
Merislon
Propanolol
Strocain
Norit
Ponstan

Tablet
Tablet
Tablet
Tablet
Tablet
Tablet
Tablet
Tablet

5
5
2
2
3
5
15
2

Jenis Obat
Anti
coagulans,
trombotics
Beta Blockers

anti

Cardiac drugs
Anti vertigo
Beta Blockers
Antacid& Antiulcerant
Analgetic& Antipiretic

Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 18

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN
A. TATA LAKSANA PENDAFTARAN PASIEN
1. Petugas Penanggung Jawab

Perawat IGD

Petugas Admission

2. Perangkat Kerja

Status Medis

Tata Laksana Pendaftaran Pasien IGD


1.

Pendaftaran pasien yang datang ke IGD dilakukan oleh pasien/keluarga di bagian


admission ( SPO IGD 002 )

2.

Bila keluarga tidak ada petugas IGD bekerja sama dengan sekuriti untuk mencari
identitas pasien

3.

Sebagai bukti pasien sudah mendaftar di bagian admission akan memberikan


status untuk diisi oleh dokter IGD yang bertugas.

4.

Bila pasien dalam keadaan gawat darurat, maka akan langsung diberikan
pertolongan di IGD, sementara keluarga / penanggung jawab melakukan pendaftaran di
bagian admission

B. TATA LAKSANA SISTEM KOMUNIKASI IGD


1.

Petugas Penanggung Jawab

2.

Petugas Operator
Dokter / perawat IGD

Perangkat Kerja

Pesawat telpon
Hand phone

Tata Laksana Sistem Komunikasi IGD


Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 19

1. Antara IGD dengan unit lain dalam RS JIH adalah dengan nomor extension masingmasing unit
2. Antara IGD dengan dokter konsulen / rumah sakit lain / yang terkait dengan pelayanan
diluar rumah sakit adalah menggunakan pesawat telephone langsung dari IGD melalui
bagian operator
3. Antara IGD dengan petugas ambulan yang berada dilapangan menggunakan pesawat
telephone dan handphone
4. Dari luar RS JIH dapat langsung melalui operator
C. TATA LAKSANA PELAYANAN TRIASE
1. Petugas Penanggung Jawab
Dokter jaga IGD
2. Perangkat Kerja
Stetoscope
Tensimeter
Status medis
Tata Laksana Pelayanan Triase IGD
1. Pasien / keluarga pasien mendaftar ke bagian admission
2. Dokter jaga IGD melakukan pemeriksaan pada pasien secara lengkap dan menentukan
prioritas penanganan.
3. Prioritas pertama ( I, tertinggi, emergency ) yaitu mengancam jiwa / mengancam fungsi
vital, pasien ditempatkan diruang resusitasi
4. Prioritas kedua ( II, medium, urgent ) yaitu potensial mengancam jiwa / fungsi vital, bila
tidak segera ditangani dalam waktu singkat. Penanganan dan pemindahan bersifat
terakhir. Pasien ditempatkan di ruang tindakan bedah / non bedah
5. Prioritas ketiga (III, rendah, non emergency) yaitu memerlukan pelayanan biasa, tidak
perlu segera. Penanganan dan pemindahan bersifat terakhir. Pasien ditempatkan diruang
non bedah
D. TATA LAKSANA PENGISIAN INFORMED CONSENT
1. Petugas Penangung Jawab
Dokter jaga IGD
2. Perangkat Kerja
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 20

Formulir Persetujuan Tindakan

Tata Laksana Informed Consent

Dokter IGD yang sedang bertugas menjelaskan tujuan dari pengisian informed consent
pada pasien/keluarga pasien disaksikan oleh perawat

pasien menyetujui, informed consent diisi dengan lengkap disaksikan oleh perawat.

Setelah diisi dimasukkan dalam status medik pasien.

E. TATA LAKSANA TRANSPORTASI PASIEN


1. Petugas Penanggung Jawab
Perawat IGD
Supir Ambulan
2. Perangkat Kerja
Ambulans
Alat Tulis
Tata Laksana Transportasi Pasien IGD
1. Bagi pasien yang memerlukan penggunaan ambulan RS JIH sebagai transportasi, maka
perawat unit terkait menghubungi IGD
2. Perawat IGD menuliskan data-data / penggunaan ambulan (nama pasien ruang rawat
inap, waktu penggunaan & tujuan penggunaan
3. Perawat IGD menghubungi bagian / supir ambulan untuk menyiapkan kendaraan
4. Perawat IGD menyiapkan alat medis sesuai dengan kondisi pasien.

F. TATA LAKSANA PELAYANAN FALSE EMERGENCY


1. Petugas Penanggung Jawab

Perawat Admission

Dokter jaga IGD

2. Perangkat Kerja
Stetoscope
Tensi meter
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 21

Alat Tulis

Tata Laksana Pelayanan False Emergency


1. Pasien / keluarga pasien mendaftar dibagian admission
2. Dilakukan triase untuk penempatan pasien diruang non bedah
3. Pasien dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter jaga IGD
4. Dokter jaga menjelaskan kondisi pasien pada keluarga / penanggung jawab
5. Bila perlu dirawat / observasi pasien dianjurkan kebagian admission.
6. Bila tidak perlu dirawat pasien diberikan resep dan bisa langsung pulang
7. Pasien dianjurkan untuk kontrol kembali sesuai dengan saran dokter
G. TATA LAKSANA PELAYANAN VISUM ET REPERTUM
1.

2.

Petugas Penanggung Jawab

Petugas Rekam Medis

Dokter jaga IGD

Perangkat Kerja

Formulir Visum Et Repertum IGD

Tata Laksana Pelayanan Visum Et Repertum


1. Petugas IGD menerima surat permintaan visum et repertum dari pihak kepolisian
2. Surat permintaan visum et repertum diserahkan kebagian rekam medik
3. Petugas rekam medik menyerahkan status medis pasien kepada dokter jaga yang
menangani pasien terkait
4. Setelah visum et repertum diselesaikan oleh rekam medik maka lembar yang asli
diberikan pada pihak kepolisian
H. TATALAKSANA PELAYANAN DEATH ON ARRIVAL ( DOA )
1. Petugas Penanggung Jawab

Dokter jaga IGD

Petugas Satpam

Perangkat Kerja
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 22

2. Perangkat Kerja
Senter
Stetoscope
EKG
Surat Kematian
Tata Laksana Death On Arrival IGD (DOA)
1. Pasien dilakukan triase dan pemeriksaan oleh dokter jaga IGD
2. Bila dokter sudah menyatakan meninggal, maka dilakukan perawatan jenazah
3. Dokter jaga IGD membuat surat keterangan meninggal
4. Jenazah dipindahkan / diserah terimakan di ruangan jenazah dengan bagian umum /
keamanan
I. TATA LAKSANA SISTEM INFORMASI PELAYANAN PRA RUMAH SAKIT
1. Petugas Penanggung Jawab
Perawat IGD
2. Perangkat Kerja
Ambulan
Handphone
Tata Laksana Sistem Informasi Pelayanan Pra Rumah Sakit
1. Perawat yang mendampingi pasien memberikan informasi mengenai kondisi pasien yang
akan dibawa, kepada perawat IGD RS JIH.
2. Isi informasi mencakup :

Keadaan umum ( kesadaran dan tanda tanda vital )

Peralatan yang diperlukan di IGD ( suction, monitor, defibrillator )

Kemungkinan untuk dirawat di unit intensive care

Perawat IGD melaporkan pada dokter jaga IGD & PJ Shift serta menyiapkan halhal yang diperlukan sesuai dengan laporan yang diterima dari petugas ambulan.

J. TATA LAKSANA SISTEM RUJUKAN


1. Petugas Penanggung Jawab
Dokter IGD
Perawat IGD
2. Perangkat Kerja
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 23

Ambulan

Formulir persetujuan tindakan

Formulir rujukan

Tata Laksana Sistem Rujukan IGD


1. Alih Rawat

Perawat IGD menghubungi rumah sakit yang akan dirujuk

Dokter jaga IGD memberikan informasi pada dokter jaga rumah sakit rujukan
mengenai keadaan umum pasein

Bila tempat telah tersedia di rumah sakit rujukan, perawat IGD menghubungi RS
Sumber Sejahtera / ambulan 118 sesuai kondisi pasien

2. Pemeriksaan Diagnostik

Pasien / keluarga pasien dijelaskan oleh dokter jaga mengenai tujuan pemeriksaan
diagnostik, bila setuju maka keluarga pasien harus mengisi informed consent

Perawat IGD menghubungi rumah sakit rujukan

Perawat IGD menghubungi petugas ambulan RS JIH

3. Spesimen

Pasien / keluarga pasien dijelaskan mengenai tujuan pemeriksaan specimen

Bila keluarga setuju maka harus mengisi inform consent

Dokter jaga mengisi formulir pemeriksan, dan diserahkan kepetugas laboratorium

Petugas laboratorium melakukan rujukan ke laboratorium yang dituju


BAB V
LOGISTIK

Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 24

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
A. Pengertian Keselamatan Pasien (Patient Safety)
Adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman.
Sistem tersebut meliputi :
Asesmen resiko
Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien
Pelaporan dan analisis insiden
Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya
Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko
Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 25

Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh :


Kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan
Tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil
B. Tujuan
Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD ) di rumah sakit
Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan
Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD )
C. STANDAR KESELAMATAN PASIEN
1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program
peningkatan keselamatan pasien
5. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
6. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien
KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN ( KTD )
ADVERSE EVENT :
Adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan, yang mengakibatkan cedera pasien akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil, dan
bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien. Cedera dapat diakibatkan oleh
kesalahan medis atau bukan kesalahan medis karena tidak dapat dicegah
KTD yang tidak dapat dicegah
Unpreventable Adverse Event :

Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 26

Suatu KTD yang terjadi akibat komplikasi yang tidak dapat dicegah dengan pengetahuan
mutakhir
KEJADIAN NYARIS CEDERA ( KNC )
Near Miss :
Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan ( commission ) atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission ), yang dapat mencederai pasien,
tetapi cedera serius tidak terjadi :

Karena keberuntungan

Karena pencegahan

Karena peringanan
KESALAHAN MEDIS
Medical Errors:
Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan atau
berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien

KEJADIAN SENTINEL
Sentinel Event :
Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius; biasanya dipakai
untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat diterima, seperti : operasi
pada bagian tubuh yang salah.
Pemilihan kata sentinel terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi ( seperti, amputasi
pada kaki yang salah ) sehingga pencarian fakta terhadap kejadian ini mengungkapkan
adanya masalah yang serius pada kebijakan dan prosedur yang berlaku.

Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 27

D. TATA LAKSANA
1. Memberikan pertolongan pertama sesuai dengan kondisi yang terjadi pada pasien
2. Melaporkan pada dokter jaga IGD
3. Memberikan tindakan sesuai dengan instruksi dokter jaga
4. Mengobservasi keadaan umum pasien
5. Mendokumentasikan kejadian tersebut pada formulir Pelaporan Insiden Keselamatan

BAB VII
KESELAMATAN KERJA
A. Pendahuluan
HIV / AIDS telah menjadi ancaman global. Ancaman penyebaran HIV menjadi lebih
tinggi karena pengidap HIV tidak menampakkan gejal. Setiap hari ribuan anak berusia
kurang dari 15 tahun dan 14.000 penduduk berusia 15 49 tahun terinfeksi HIV. Dari
keseluruhan kasus baru 25% terjadi di Negara negara berkembang yang belum mampu
menyelenggarakan kegiatan penanggulangan yang memadai.

Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 28

Angka pengidap HIV di Indonesia terus meningkat, dengan peningkatan kasus yang
sangat bermakna. Ledakan kasus HIV / AIDS terjadi akibat masuknya kasus secara langsung
ke masyarakat melalui penduduk migran, sementara potensi penularan dimasyarakat cukup
tinggi (misalnya melalui perilaku seks bebas tanpa pelingdung, pelayanan kesehatan yang
belum aman karena belum ditetapkannya kewaspadaan umum dengan baik, penggunaan
bersama peralatan menembus kulit : tato, tindik, dll).
Penyakit Hepatitis B dan C, yang keduanya potensial untuk menular melalui tindakan
pada pelayanan kesehatan. Sebagai ilustrasi dikemukakan bahwa menurut data PMI angka
kesakitan hepatitis B di Indonesia pada pendonor sebesar 2,08% pada tahun 1998 dan angka
kesakitan hepatitis C dimasyarakat menurut perkiraan WHO adalah 2,10%. Kedua penyakit
ini sering tidak dapat dikenali secara klinis karena tidak memberikan gejala.
Dengan munculnya penyebaran penyakit tersebut diatas memperkuat keinginan untuk
mengembangkan dan menjalankan prosedur yang bisa melindungi semua pihak dari
penyebaran infeksi. Upaya pencegahan penyebaran infeksi dikenal melalui Kewaspadaan
Umum atau Universal Precaution yaitu dimulai sejak dikenalnya infeksi nosokomial
yang terus menjadi ancaman bagi Petugas Kesehatan.
Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak yang melayani dan melakukan kontak
langsung dengan pasien dalam waktu 24 jam secara terus menerus tentunya mempunyai
resiko terpajan infeksi, oleh sebab itu tenaga kesehatan wajib menjaga kesehatan dan
keselamatan darinya dari resiko tertular penyakit agar dapat bekerja maksimal.

B. Tujuan
1. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat melindungi diri
sendiri, pasien dan masyarakat dari penyebaran infeksi.
2. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya mempunyai resiko
tinggi terinfeksi penyakit menular dilingkungan tempat kerjanya, untuk menghindarkan
paparan tersebut, setiap petugas harus menerapkan prinsip Universal Precaution.
Tindakan yang beresiko terpajan

Cuci tangan yang kurang benar.


Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 29

Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.

Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman.

Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman.

Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.

Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.

C. Prinsip Keselamatan Kerja


Prinsip utama prosedur Universal Precaution dalam kaitan keselamatan kerja adalah
menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan. Ketiga
prinsip tesebut dijabarkan menjadi 5 (lima) kegiatan pokok yaitu :
1. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
2. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna mencegah kontak
dengan darah serta cairan infeksi yang lain.
3. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai
4. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
Indikator mutu yang digunakan di RS JIH dalam memberikan pelayanan adalah angka
keterlambatan penanganan kegawat daruratan dengan varibel jumlah penderita yang dilayani > 5
menit berbanding dengan jumlah penderita gawat darurat hari yang sama.
Dalam pelaksanaan indikator mutu menggunakan kurva harian dalam format tersendiri
dan dievaluasi serta dilaporkan setiap bulan pada panitia mutu dan direktur pelayanan.

Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 30

BAB IX
PENUTUP

Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat | 31