Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Banyak pembahasan tentang korupsi oleh para ahli dari berbagai sudut pandang
dikaji siapa, dimana, dengan apa, bagaimana, bilamana, tentunya ini dengan maksud
bagaimana pemahaman dan memberikan masukan kepada pembuat kebijakan atau
sebagai sumbangsih dari kalangan akademisi sebagai sebuah bentuk kepedulian
terhadap tindak korupsi yang dirasa sudah meresahkan dan menghilangkan kepercayaan
publik terhadap pimpinan, atau pemerintah karena tidak sesuai dengan apa yang
diharapkan masyarakat, melihat dan juga mengalami apakah itu sebagai korban, pelaku
dari perbuatan korupsi.
Korupsi sudah dikategorikan sebagai kejahatan yang luar biasa, tidak ada beda
dengan narkoba yang melanda Indonesia akhir-akhir ini atau (extra ordinary crime).
Undang-undang menganut azaz lex specialis derogat lege generali. Korupsi selain
dapat merusak berbagai tatanan kehidupan bermasyarakat juga dapat menghancurkan
sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Korupsi sebagai fenomena penyimpangan dalam kehidupan sosial budaya,
kemasyarakatan dan kenegaraan, yang menyimpang dari karakter bangsa Indonesia.
Karakter bangsa dalam antropologi dipandang sebagai tata nilai budaya dan keyakinan
yang mengejawantah dalam kebudayaan suatu masyarakat dan memancarkan ciri-ciri
khas keluar sehingga dapat ditanggapi orang luar sebagai kepribadian masyarakat
tersebut.
Ada upaya dari Kementrian Diknas mengeluarkan 18 nilai-nilai dalam
pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai pedoman kebangsaan
dalam proses penanaman karakter bangsa di dunia pendidikan pengembangan karakter.
Melville Herskovits & Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala yang
terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat,
dianggap sebagai karakter.
Dari uraian diatas begitu pentingnya karakter bangsa Indonesia dikembalikan,
sebagai benteng pertahanan terhadap pengaruh korupsi dan disini penulis mengambil
judul Karakter Bangsa Solusi Pencegah Korupsi.

I.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

Pengertian dan pemahaman korupsi?

Bagaimana karakter Bangsa Indonesia?

Bagaimana upaya pencegahan korupsi dengan Pancasila sebagai karakter Bangsa


Indonesia?

I.3. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini adalah:

Mengerti dan memahami korupsi lebih jauh

Mengetahui karakter dan kepribadian Bangsa Indonesia

Mengetahui upaya pencegahan korupsi dengan Pancasila sebagai karakter Bangsa


Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Pengertian Korupsi
Korupsi adalah tindakan yang dilakukan oleh setiap orang yang secara melawan
hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi yang dapat merugikan negara atau perekonomian Negara. Tindak pidana
korupsi di Indonesia sudah meluas dalam masyarakat. Perkembangannya terus
meningkat dari tahun ke tahun, baik dari jumlah kasus yang terjadi dan jumlah kerugian
keuangan negara maupun dari segi kualitas tindak pidana yang dilakukan semakin
sistematis serta lingkupnya yang memasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Secara terminologi, kata korupsi berasal dari kata latin yaitu corruptus atau
corruption. Lalu menjadi corruption karena diserap dalam bahasa Inggris dan Perancis
dan kemudian di Belanda korupsi disebut dengan korruptie, sedangkan di Indonesia
disebut korupsi (Hamzah, 1985). Secara esensi, menurut Alatas (1987) bahwa
pengertian korupsi sebagai pencurian yang melalui penipuan dalam situasi yang
mengkhianati kepercayaan. Korupsi merupakan wujud

perbuatan inmoral dari

dorongan untuk mendapatkan sesuatu menggunakan metode penipuan dan pencurian.


Korupsi adalah pemanfaatan kekuasaan untuk mendapat keuntungan pribadi. Dari
definisi korupsi ini maka kolusi, dan nepotisme merupakan bagian dari korupsi atau
bentuk korupsi itu sendiri1.
Dalam UU tentang penyelenggara negara yang bersih dari korupsi, kolusi dan
nepotisme, pemufakatan atau kerjasama secara melawan hukum antara penyelenggara
negara dan pihak lain yang merugi orang lain, masyarakat atau negara. Nepotisme
adalah pemihakan tidak wajar kepada kerabat keluarga oleh seseorang yang memiliki
kewenangan seperti, manajer atau supervisor. Sementara suap adalah Barang siapa
menerima sesuatu atau janji, sedangkan ia mengetahui atau patut dapat diduga bahwa
pemberian sesuatu atau janji itu dimaksud supaya ia berbuat sesuatu atau tidak dalam
tugasnya.

1 Kusuma dan Fitria Agustina, Gelombang Perlawanan Rakyat; Kasus-KasusGerakan


Sosial di Indonesia, (Yogyakarta: INSIST Press, 2003), hlm. 12.

"Korupsi menghalangi investasi dan pertumbuhan dan misdirects sumber daya


publik; korupsi sistematis mendistribusikan kembali kekayaan dalam mendukung
mereka dengan koneksi dan uang untuk bekerja sistem; korupsi mengikis kepercayaan
pada lembaga-lembaga negara dan berhubungan dengan kejahatan terorganisir; bagi
pembayar pajak yang sah, korupsi mengikis kualitas layanan publik di mana warga
negara yang mengandalkan dan mereka membayar pajak" (Bank Dunia & Amerika
Serikat Agency for International Development, 2000).
Ada empat macam korupsi diantaranya yaitu:
1. Korupsi ekstraktif, adalah suap dari penguasa kepada penguasa untuk kemudahan
usaha bisnisnya dan agar memperoleh perlindungan.
2. Korupsi manipulatif, adalah kejahatan yang dilakukan pengusaha untuk
mendapatkan kebijakan/aturan/keputusan, agar dapat mendatangkan keuntungan
ekonomi bagi dirinya.
3. Korupsi nepotetik dan kronisme, adalah perlakuan istimewa yang dilakukan oleh
penguasa kepada sanak saudaranya atau kerabatnya (istri, anak, menantu, cucu,
keponakan, ipar) dalam rekrutmen atau pembagian aktivitas yang mendatangkan
keuntungan sosial ekonomi maupun politik.
4. Korupsi subversif, adalah pencurian kekayaan negara oleh para penguasa yang
merusak kehidupan ekonomi bangsa.
II.2. Karakter dan Kepribadian Bangsa Indonesia
Karakter adalah distinctive trait, distinctive quality, moral strength, the pattern
of behavior found in an individual or group. Kamus Besar Bahasa Indonesia belum
memasukkan kata karakter, yang ada adalah kata watak yang diartikan sebagai: sifat
batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti;
tabiat. Dalam risalah ini, dipakai pengertian yang pertama, dalam arti bahwa karakter
itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan netral. Jadi, orang
berkarakter adalah orang punya kualitas moral (tertentu) yang positif. Dengan
demikian, pendidikan membangun karakter, secara implisit mengandung arti
membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral
yang positif atau yang baik, bukan yang negatif atau yang buruk.
Kepribadian, merupakan penampilan (lebih ke psikologis) seseorang yang
terpancar dari karakter. Namun penampilan ini belum tentu mencerminkan karakter
yang bersangkutan, karena dapat saja tertampilkan sangat bagus tetapi didorong oleh
4

kemunafikan. Dengan demikian untuk mengenal strategi komunikasi pendidikan dan


anti korupsi, dilingkungan polri, seseorang secara lengkap diperlukan waktu, karena
yang terpancar sebagai lingkaran terluar adalah kepribadian yang bisa mengecoh,
sementara lingkaran kedua adalah karakter dan lingkaran terdalam adalah jati dirinya.
Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia, sebagai falsafah, ideologi, dan alat
pemersatu bangsa Indonesia, adalah pemersatu. Pancasila merupakan pandangan hidup,
dasar negara, dan pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk. Mengapa begitu besar
pengaruh Pancasila terhadap bangsa dan negara Indonesia? Kondisi ini dapat terjadi
karena perjalanan sejarah dan kompleksitas keberadaan bangsa Indonesia seperti
keragaman suku, agama, bahasa daerah, pulau, adat istiadat, kebiasaan budaya, serta
warna kulit jauh berbeda satu sama lain tetapi mutlak harus dipersatukan. sebagai alat
untuk membangun karakter bangsa indonesia adalah pancasila sejak dahulu kala.
II.3. Pencegahan Korupsi dengan Pancasila Sebagai Karakter Bangsa Indonesia
Falsafah Pancasila harus kita laksanakan di dalam kehidupan kita. Jika
pendidikan yang kuat tentang falsafah pancasila dilaksanakan dengan sebenar-benarnya
maka bangsa indonesia bisa menjadi bangsa yang kuat jauh dari penyimpanganpenyimpangan ekonomi, hukum, sosial dan lain sebagainya menjalankan hak yang
semestinya didapat oleh masyarakat yang membutuhkan haknya sehingga haknya tidak
dirampas oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Cara yang sebetulnya sangat mudah dijalankan dalam usaha membangun karakter
bangsa dengan falsafah pancasila yaitu dengan mengingat isi falsafah pancasila,
memberikan pendidikan falsafah pancasila sejak sekolah dasar hingga dewasa.
menjalankan falsafah pancasila dengan pendidikan yang benar serta kita sebagai
individu juga harus berusaha membangun karakter individu yang benar dulu barulah
kita bisa membangun karakter bangsa yang kuat dan didorong dengan kepercayaan
kepada tuhan dan agama kita masing-masing.
Pembangunan karakter bangsa bertujuan untuk membina dan mengembangkan
karakter warga negara sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan
Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia,
berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Nilai-nilai Pancasila telah diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia dari
jaman orde lama sampai orde reformasi. Oleh karena itu, mengamalkan Pancasila
5

merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia untuk membangun karakter bangsa
yang berasaskan gotong royong dan kekeluargaan demi terwujudnya semua makna
yang terkandung dalam Pancasila.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
III.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah yang telah dibuat adalah:
1. Setiap Warga Negara Indonesia yang menyadari dirinya sebagai bagian dari
Bangsa Indonesia, harusnya menyadari pula nilai-nilai yang ada pada Pancasila
yang dijadikan sebagai karakter bangsa.
2. Dengan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, sebagai perekat
berbangsa dan bertanah air, terutama menyadari sebagai orang beragama dan
berkarakter

yang

baik,

akan

membuat

Warga

Negara

Indonesia

lebih

mengutamakan kepentingan bersama atau negara dari pada kepentingan kelompok


atau pribadi sehingga korupsi di Indonesia tidak akan ada lagi.
III.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan oleh penulis adalah sebagai rakyat Indonesia,
sebaiknya kembali mengkampanyekan Pancasila, untuk mengembalikan jati diri
Bangsa Indonesia yang sesungguhnya memiliki jiwa Nasionalisme yang tinggi
berketuhanan, sehingga perbuatan korupsi dan kecurangan lainnya dapat dikurangi atau
bahkan dihilangkan.

DAFTAR PUSTAKA
Kusuma, N dan Fitria Agustina. 2003. Gelombang Perlawanan Rakyat; Kasus-Kasus
Gerakan Sosial di Indonesia. Yogyakarta: INSIST Press.
Rijadi, Prasetijo. 2010. Prawacana Hukum, Keadilan dan Pancasila dalam Mafia Hukum.
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Toer, Pramoedya Ananta. 2002. Korupsi. Jakarta: Hasta Mitra.