Anda di halaman 1dari 6

PAPER BEDAH MULUT

Oleh
Taupiek Rahman
I4D111217

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI KEDOTERAN GIGI
BANJARMASIN
September , 2016

I.

Infeksi Odontogenik
Infeksi odontogenik merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang

merupakan flora normal dalam mulut, yaitu bakteri yang terdapat dalam plak,
sulkus gingival, dan mukosa mulut yang dapat menyebabkan karies, gingivitis dan
periodontitis yang mencapai jaringan yang lebih dalam yaitu melalui nekrosis
pulpa dan poket periodontal yang dalam (1).
Infeksi odontogenik mempunyai 2 penyebab utama, yaitu periapikal yang
berasal dari nekrosis pulpa yang menyebabkan bakteri menginvasi ke jaringan
periapikal dan periodontal, yang disebabkan poket periodontal yang dalam
sehingga proses inokulasi bakteri terjadi di dalam jaringan lunak (2).
Infeksi dapat bersifat akut maupun kronis. Suatu kondisi akut biasanya
disertai dengan pembengkakan dan rasa sakit yang hebat dengan malaise dan
demam

yang

berkepanjangan.

Bentuk

kronis

dapat

berkembang

dari

penyembuhan sebagian keadaan akut, serangan yang lemah atau pertahanan tubuh
yang kuat.

Infeksi kronis sering ditandai dengan ketidaknyamanan dalam

berbagai tingkatan dan reaksi ringan dari jaringan sekitarnya, misalnya edema,
kemerahan, nyeri tekan (2).
II.

Patogenesis
Penyebaran infeksi odontogenik diawali dengan adanya kerusakan gigi

atau karies, kemudian terjadi proses inflamasi disekitar periapikal di daerah


membran periodontal berupa suatu periodontitis apikalis. Rangsangan yang ringan
dan kronis menyebabkan membran periodontal di apikal mengadakan reaksi
membentuk dinding untuk mengisolasi penyebaran infeksi. Respon jaringan
periapikal terhadap iritasi tersebut dapat berupa periodontitis apikalis yang
supuratif atau abses dentoalveolar (1).
Proses dekstruksi tulang yang terjadi sama seperti proses nekrosis dari
suatu pulpa gigi yang terinflamasi. Terutama, seperti saat terjadinya peningkatan
tekanan hidrostatik interstisial yang diakibatkan oleh transudasi dari cairan
ekstraseluler, yang kemudian diikuti oleh eksudasi dari sel-sel inflamatori, aliran
dari darah yang sehat menuju ke daerah jaringan yang terifeksi menurun atau
terhambat. Pada jaringan lunak, peningkatan tekanan dari cairan akan diringankan
melalui proses pembengkakan pada jaringan lunak tersebut. Saat jaringan lunak

mengandung struktur keras yang termineralisasi seperti space medular dari tulang
atau saluran pulpa, maka peningkatan tekanan tersebut tidak dapat diringankan.
Sehingga pulpa atau jaringan lunak medular akan mati akibat terjadinya iskemia
pada jaringan tersebut (3).
Proses dari nekrosis dan resorpsi tulang terjadi secara meluas hingga
mencapai korteks tulang. Pada tahap ini proses dari resorpsi tulang akan melambat
ketika mencapai jaringan yang termineralisasi secara padat, yang kemudian
menghasilkan perubahan bentuk rongga pada tulang. Setelah kerusakan mencapai
lapisan korteks tulang, kemudian infeksi akan menyebar menuju ke jaringan
lunak. Kemudian akan diikuti oleh munculnya inflamasi dan terjadinya nekrosis.
Jaringan yang paling rentan terkena adalah jaringan ikat areolaris yang tidak
tervaskularisasi secara baik. Jaringan ikat tersebut akan kalah dan dengan mudah
dapat dirusak oleh tekanan hidrostatik yang relatif rendah. Kemudian infeksi akan
menyebar ke arah jaringan yang memiliki resistensi paling rendah namun infeksi
akan sulit menyebar ke arah struktur jaringan yang padat dan tervaskularisasi
dengan baik seperti otot, fascia, organ dan tulang (3).

III.

Penanganan Abses
Secara umum prinsip penanganan dari abses yaitu dengan melakukan

bedah drainase. Tujuannya yaitu untuk mengeluarkan pus dari suatu jaringan dan
untuk meletakan suatu drain agar jaringan tersebut tidak tertutup sehingga pus
tidak terakumulasi lagi pada rongga tersebut. Prosedur tersebut bertujuan untuk
menghilangkan pus dan mengurangi tekanan pada jaringan lunak akibat adanya
pus tersebut. Pada beberapa infeksi odontogenik proses drainase juga dapat
dilakukan dengan melakukan ekstraksi pada gigi yang terinfeksi atau dengan
prosedur perawatan saluran akar. Pencabutan gigi yang terinfeksi juga dapat
mencegah rekurensi infeksi pada daerah tersebut karena dengan dilakukannya
pencabutan maka akan menghilangkan jalan masuk bakteri menuju ke jaringan
lunak. Pada beberapa infeksi odontogenik, membersihkan kamar pulpa atau
ekstraksi gigi tidak dapat dilakukan, maka pada kasus tersebut harus dilakukan
insisi intraoral atau ekstraoral (3).

Bedah insisi juga penting dilakukan pada pasien dengan selulitis tanpa
disertai pus. Pada pasien dengan keluhan pembengkakan, insisi pada jaringan
tersebut juga berpengaruh pada penyembuhan infeksi. Tujuan dari prosedur ini
adalah untuk menghilangkan tekanan jaringan yang muncul disekitar abses atau
pembengkakan

serta

meningkatkan

vaskularisasi

darah,

sehingga

dapat

meningkatkan efektifitas dari peggunaan antibiotik akibat vaskularisasi yang


kembali lancar (3).
1. Drainase pus yang terbentuk dalam jaringan dapat dilakukan melalui : (1)
a. Saluran akar
b. Insisi intra oral
c. Insisi ekstra oral
d. Alveolus soket gigi yang telah diekstraksi
Jika penanganan hanya dengan penggunaan antibiotic dan tanpa drainase pus
maka tidak dapat mengurangi infeksi dengan cepat.
2. Open bur gigi yang menjadi fokal infeksi saat fase awal inflamasi, untuk
mengeluarkan cairan eksudat lewat saluran akar. Dengan cara ini maka
penyebaran inflamasi dapat dihindari dan mengurangi rasa sakit yang diderita
pasien.
3. Asepsis daerah yang akan diinsisi
4. Anestesi daerha yang akan diinsisi dengan teknik anestesi blok yang
dikombinasikan dengan infitrasi di daerah tepi inflamasi, untuk menghindari
mikroba menyebar ke daerah yang lebih dalam.
5. Rencanakan daerah insisi agar :
a. Dapat dihindari kerusakan duktus kelenjar liur, pembuluh darah besar
dan saraf
b. Dapat menghasilkan drainase yang baik. Insisi dilakukan superfisial,
pada daerah yang paling rendah dari akumulasi pus untuk mengurangi
rasa sakit dan dapat membantu pengeluaran pus dengan gravitasi.
c. Insisi tidak dilakukan pada daerah yang dapat mengganggu estetik, jika
memungkinkan insisi dilakukan intra oral.
6. Insisi dilakukan pada saat yang tepat, yaitu saat pus telah terbentuk pada
jaringan lunak dan fluktuasi (+), yaitu saat dipalpasi maka akan terasa cairan
yang bergerak dalam rongga abses. Jika insisi dilakukan prematur, biasanya
hanya akan mengeluarkan sedikit darah, tanpa pengurangan rasa sakit dan
edema cenderung tidak berkurang.

7. Jika lokasi pus dalam jaringan lunak tidak dapat ditentukan (saat fluktuasi (-))
insisi drainase dilakukan pada daerah yang paling lunak saat dilakukan
palpasi, daerah yang lebih kemerahan, dan daerah yang paling sakit saat
ditekan.
8. Hindari kompres hangat ekstraoral untuk encegah drainase spontan ekstraoral.
9. Drainase awal dilakukan dengan menggunakan hemostat yang dimasukan ke
dalam lubang insisi dengan paruh hemostat ditutup, lalu paruh dilebarkan saat
hemostat berada dalam lubang insisi. Kemudian lakukan pijatan ringan pada
daerah sekitar insisi secara perlahan untuk mengeluarkan sisa pus.
10. Tempatkan drain ke dalam lubang insisi.
11. Ekstraksi gigi yang menjadi fokal infeksi secepatnya apabila gigi tersebut
sudah tidak dapat dipertahankan lagi.
12. Berikan antibiotik ketika pembengkakan telah meluas, terutama apabila
terjadi demam dan infeksi menyebar ke spasia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Fragiskos D. 2007. Oral Surgery. Springer-Verlag. Berlin Heidenberg.


Germany.
2. Peterson LJ, D.D.S, MS. 2003. Contemporary Oral and Maxillofacial
Surgery. Fourth Edition. Mosby. St. Louise.

3. Topazian dkk. 2004. Oral and Maxillofacial Infection. 4rd ed. WB Saunders

Company. Philadelphia. USA.