Anda di halaman 1dari 5

Hubungan antara Ilmu Hukum Pidana dan Kriminologi

Hubungan antara ilmu hukum pidana dan kriminologi, dapat dikatakan mempunyai
hubungan timbal balik dan bergantungan satu sama lain(interrelation dan
dependence). Ilmu hukum pidana mempelajari akibat hukum daripada perbuatan
yang dilarang sebagai kejahatan (crime) yang dapat disingkat pula dengan nama
ilmu tentang hukumnya kejahatan, dengan demikian sebenarnya bagian hukum
yang memuat tentang kejahatan disebut hukum kejahatan, hukum kriminil (criminil
law/penal law, misdaads-recht/delicten-recht). Akan tetapi telah menjadi lazim bagi
hukum tentang kejahatan itu dinamakan strafecht yang salinannya ke dalam
bahasa Indonesia menjadi hukum pidana.
Kriminologi adalah ilmu yang mempelajari kejahatan, yang lazimnya mencari sebabsebabnya sampai timbul kejahatan dan cara menghadapi kejahatan dan
tindakan/reaksi yang diperlukan.
Kedua ilmu pengetahuan itu bertemu dalam fokus pada kejahatan, dengan prinsipprinsip yang berbeda karena objek dan tujuannya. Ilmu hukum pidana mempunyai
objek pada aturan hukum tentang kejahatan dengan akibat hukum berupa pidana
dan tujuanna untuk mendapatkan pengertian dan penggunaan pidana yang sebaikbaiknya guna mencapai keadilan hukum, sedangkan krimonologi mempunyai objek
manusia penjahat di belakang peraturan hukum pidana dan tujuannya memperoleh
pengertian tentang sebab kejahatan untuk memberikan pidana atau tindakan yang
tepat agar tidak melakukan lagi kejahatan.

Asas Berlakunya Hukum Pidana Menurut Tempat


Asas berlakunya undang-undang hukum pidana menurut tempat, dapat dibedakan menjadi
empat asas, yaitu:
1. Asas teritorial
Yaitu hukum pidana berlaku bagi semua orang yang melakukan tindak pidana di luar wilayah
RI.
2. Asas nasional aktif
Yaitu hukum pidana berlaku bagi orang Indonesia jika melakukan tindak pidana di luar
wilayah RI.
3. Asas nasional pasif
Yaitu hukum pidana berlaku bagi WNI maupun WNA yang melakukan tindak pidana di luar
wilayah RI.
4. Asas universalitas
Yaitu hukum pidana berlaku terhadap tindak pidana yang terjadi di luar wilayah RI yang
bertujuan untuk merugikan kepentingan Internasional

Aliran-Aliran Hukum di indonesia


Berkenaan dengan kekuasaan yang menentukan kaidah hukum, terdapat
beberapa aliran pemikiran dalam hukum, yaitu:
1. Aliran Hukum Alam
Menurut ajaran ini kaidah hukum hasil dari titah tuhan dan langsung berasal dari
tuhan. Oleh karena itu, aliran ini mengakui adanya suatu hukum yang benar dan
abadi, sesuai dengan ukuran kodrat, serta selaras dengan alam. Dalam ajaran ini,
ada dua unsur yang menjadi pusat perhatian, yaitu unsur agama dan unsur akal.
Pada dasarnya hukum alam bersumber pada tuhan, yang menyingkari akal manusia
dan sebaliknya hukum alam bersumber pada akal atau pikiran manusia.
2. Teori Perjanjian Masyarakat
Teori ini berpendapat bahwa hukum adalah perwujudan kemauan orang dalam
masyarakat yang bersangkutan yang ditetapkan oleh negara, yang mereka bentuk
karena suatu perjanjian dan orang mentaati hukum karena perjanjian tersebut.
3. Aliran Sejarah
Menurut Aliran Culture Historische School
Pokok pikiran aliran ini, manusia di dunia ini terbagi atas beberapa bangsa dan
bangsa ini mempunyai sifat dan semangat yang berbeda-beda. Oleh karena itu,
hukum berlainan dan berubah sesuai dengan tempat dan zaman, karena hukum
ditentukan oleh sejarah. Hukum yang dibuat oleh manusia masih ada kebaikan yang
lebih tinggi nilainya yaitu keadilan menjadidasar dari setiap hukum yang diperbuat
oleh manusia. Dengan begitu golongan atau aliran yang bertentangan dengan aliran
tersebut ialah berpendapat bahwa hukum tertulis buatan manusia itulah yang
tertinggi dan tidak dapat diatasi oleh apapun juga.
Aliran demikiran disebut aliran positivisme atau legisme, yang sangat menghargai
secara berlebih-lebihan terhadap hukum tertulis.
4. Teori kedaulatan negara
Menurut Madhzab Kedaulatan Negara
Menurut madhzab ini, isi kaidah-kaidah hukum itu ditentukan dan bersumber pada
kehendak negara. Menurut hans kelsen, isi kaidah-kaidah hukum adalah wille des
staates.
5. Teori kedaulatan hukum
H. Krabbe Dan Madhzabnya
Kedaulatan hukum tidak sependapat dengan kedaulatan negara. Menurut krabbe,
negara adalah suatu konstruksi yuridis, karena tidak mempunyai kehendak sendiri.
Kehendak tersebut pada hakikatnya adalah kehendak dari pemerintah, sedangkan
yang disebut pemerintah itu sendiri dari orang-orang tertentu.
Berdasarkan teori hukum dan ajaran hukum tersebut diatas maka timbul aliran-aliran
hukum, sebagai berikut:
a. Aliran legisme, yang menganggap bahwa hukum terdapat dalam undang-undang.
Yang berarti hukum identik dengan undang-undang, sehingga hakim dalam
melakukan tugasnya terikat pada undang-undang. Bahwa undang-undang itu
sebagai sumber hukum formal, dalam hal undang-undang itu dapat digolongkan
menjadi dua golongan, yaitu
Undang-undang dalam arti formal adalah setiap keputusan pemerintah yang
karena bentuknya disebut undang-undang
Undang-undang dalam bentuk materiel adalah keputusan pemerintah yang karena
isinya langsung mengikat masyarakat

b. Aliran freie rechsbeweging, yang beranggapan bahwa didalam melaksanakan


tugasnya seorang hakim bebas untuk melakukan menurut undang-undang atau
tidak. Ini disebabkan pekerjaan hakim ialah menciptakan hukum. Dengan demikian,
yurisprudensi merupakan hal yang penting yang dianggap primer, sedangkan
undang-undang merupakan hal yang sekunder.
c. Aliran rechtsvinding, yang beranggapan bahwa hakim terikan pada unfangundang, akan tetapi tidak seketat menurut paham aliran legisme. Karena hakim juga
memiliki kebebasan, namun kebebasan hakim tidak seperti faham freie
rechgtsbeweging. Karena dalam melaksanakan tugasnya hakim mempunyai
kebebasan yang terikat.
d. Aliran sicoilogishe rechtschuke, pada dasarnya tidak setuju dengan adanya
kebebasan bagi para pejabat hukum untuk menyampingkan undang-undang sesuai
dengan perasaanya. Oleh karena itu, aliran ini hendak menahan dan menolak
kemungkinan sewenang-wenang dari hukum, sehubungan dengan adanya
freieserhessen dalam aliran rechtsschule. Pada akhirnya aliran ini mengimbau suatu
masyarakat bagi pejabat-pejabat hukum dipertinggi berkenaan dengan pengetahuan
tentang ekonomi, sosiologi dan lain-lain, supaya kebebasan dari hakim ditetapkan
batas-batasnya dan supaya putusan-putusan hakim dapat diuji oleh public opinion.
e. Aliran sistem hukum terbuka (open system), berpendapat bahwa hukum itu
merupakan suatu sistem, bahwa semua peraturan-peraturan itu saling berhubungan
yang satu ditetapkan oleh yang lain; bahwa peraturan-peraturan tersebut dapat
disusun secara mantik dan untuk yang bersifat khusus dapat dicari aturan-aturan
umumnya, sehingga sampailah pada asas-asas. Sistem hukum adalah suatu
susunan atau tatanan yang diatur dalam keseluruhan yang terdiri atas bagian-bagian
yang berkaitan satu sama lain, tersusun menurut suatu rencana atau pola, hasil dari
suatu pemikiran untuk mencapai suatu tujuan. (Prof. R Subekti, SH.)
Sebelum dikenal hukum tertulis, maka satu-satunya sumber hukum adalah hukum
kebiasaan. Oleh karena hukum kebiasaan itu sifatnya tidak tertullis, maka dapat
dibayangkan bahwa tidak ada kepastian atau keseragaman hukum. Kemudian
lahirlah aliran-aliran penemuan hukum, yang pada dasarnya bertitik tolak pada
pandangan mengenai apa yang merupakan sumber hukum. Jadi aliran-aliran itu
merupaka aliran-aliran tentang ajaran sumber hukum.

Tugas dan Aliran Ilmu Hukum Pidana


Ilmu hukum pidana mempunyai tugas untuk menjelaskan, menganalisa, dan seterusnya
menyusun dengan sistematis dari norma hukumpidana dan sanksi pidana agar pemakaiannya
menjadi berlaku sesuai dengan kemanfaatan dalam masyrakat. Oleh sebab itu yang menjadi
objek ilmu hukum pidana hdala hukum pidana positif. Sebagaimana diketahui di dalam
hukum pidana positif pada umumnya perana asas-asas hukum pidana itu menjadi dasar di
dalam perundang-undangan, baik yang diletakkan pada aturan umum (algemene leerstukke)
maupun pada perumusan delik-delik khususnya (bijzondere delictsomschrijvengen).
Apabila diingat kembali bahwa hukum pidana itu mempunyai unsur pokok norma dan sanksi
pidana, serta mempunyai tugas menentukan agar setiap orang menaati ketentuan di dalam
pergaulan hidup bermasyarakat dan menjamin ketertiban hukum, kiranya dalam mempelajari
sejarah dari timbal dan perkembangannya hukum pidana tidak akan lepas lepada latar
belakang social serta kejiwaannya.

Bertalian dengan latar belakang social serta kejiwaannya itu, di dalam ilmu hukum pidana
terdapat pandangan yang berbeda di antara para sarjana. Perbedaan pandangan itu lazimnya
menimbulkan aliran ilmu hukum pidana yang sempit dan aliran ilmu hukum pidana yang
luas.
Zevenbergen memandang ilmu hukum pidana adalah ilmu pengetahuan yang berdasarkan
norma-norma yang terdapat di dalam peraturan hukum pidana positif, berarti hanya
membentangkan tentang sistematis norma-norma. Ilmu hukum pidana merupakan ilmu
pengetahuan hukum, maka sasarannya tingkah laku normatif dan tidak perlu menyangkut
sebab-sebabdari tingkah laku yang melanggar norma.
Ilmu hukum pidana positif memandang kejahatan sebagai pelanggaran norma (rechtsnorm)
dan mendapatkan pidana karena encaman sanksi pidana (rechtsanctie). Penerapan hukum
pidana dalam pertumbuhannya memerlukan bantuan bahan-bahan dan pengaruh hasil
penyelidikan dari kriminologi

Asas-asas ekstradisi
1.Asas Kejahatan Ganda (double criminality principle)
Kejahatan yang dijadikan sebagai alasan untuk meminta ekstradisi atas orang yang
diminta, haruslah mrpkan kejahatan baik menurut hukum negara peminta maupun
hukuk negara diminta.
2. Asas Kekhususan (principle of speciality)
Apabila orang yang diminta telah diserahkan, negara peminta hanya boleh mengadili dan
atau menghukum orang yang diminta, hanyalah berdasarkan pada kejahatan yang
dijadikan alasan untuk meminta ekstradisinya.
3. Asas tidak menyerahkan pelaku kejahatan politik ( Non extradiction of political criminal)
Jika negara diminta berpendapat, bahwa kejahatan yang dijadikan alasan untuk
meminta ekstradisi oleh negara peminta adalah tergolong sebagai kejahatan politik,
maka negara diminta harus menolak permintaan tsb.
4. Asas tidak menyerahkan warga negara (non extradiction of nations)
Jika orang yang diminta ternyata adalah warga negara dari negara diminta, maka
negara diminta dapat menolak permintaan dari negara peminta. Asas ini
berlandaskan pada pemikiran, bahwa negara berkewajiban melindungi warga
negaranya dan sebaliknya warga negaranya memang berhak untuk memperoleh
perlindungan dari negaranya. Tapi jika negara diminta menolak permintaan negara
peminta, negara diminta berkewajiban untuk mengadili dan atau menghukum warga
negaranya itu berdasarkan pada hukum nasionalnya sendiri.
5. Asas non bis in idem atau ne bis in idem
Jika kejahatan yang dijadikan alasan untuk meminta ekstradisi atas orang yang diminta,
ternyata sudah diadili dan atau dijatuhi hukuman yg telah memiliki kekuatan
mengikat yang pasti, maka permintaan negara peminta harus ditolak oleh negara
diminta.
6. Asas daluwarsa
Yaitu permintaan negara peminta hrs ditolak apabila penuntutan atau pelaksanaan
hukuman thdp kejahatan yang dijadikan sebagai alasan untuk meminta ekstradisi
atas orang yg diminta, sudah daluwarsa menurut hukum dari salah satu atau kedua
pihak.