Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN TUGAS PERANCANGAN ELEKTRONIKA 2

NO
: 01
JUDUL
: POWER SUPPLY VARIABEL
NAMA/NIM : WINDA WULANDARI / 1315030026

FOTO

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2016

DAFTAR ISI

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
2. DASAR TEORI
3. PERANCANGAN
3.1 Deskripsi Singkat dan Spesifikasi
3.2 Diagram Blok
(Diberi penjelasan)
3.3 Penentuan dan Pembahasan Komponen
(Masing-masing komponen penyusun rangkaian dituliskan secara
beruratan dari awal dan dilakukan pembahasan singkat disertai
alasan pemilihan komponen).
4. HASIL DAN ANALISIS
4.1

Diagram Skematik Rangkaian

(Digambar sesuai standar gambar teknik, masing-masing titik


pengukuran ditampikan alat ukur)
4.2

Simulasi Rangkaian

(Hasil simulasi masing-masing titik pengukuran, shoot)


4.3

Analisis

5. PENUTUP
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
- Data Sheet Komponen
-

Dll.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Untuk dapat merancang sebuah Power Supply yang memiliki tegangan keluaran
yang presisi, stabil dan bervariasi tentunya diperlukan analisa yang cukup teliti dalam
merangkai tiap-tiap komponen pembentuk rangkaian Power Supply itu sendiri. Hal
ini diperlukan mengingat banyak Power Supply yang beredar dipasaran masih banyak
memiliki keterbatasan dalam permasalahan presisi dan variasi keluaran tegangan,
sehingga pengguna sulit menggunakan untuk pengukuran-pengukuran yang
membutuhkan tingkat presisi yang baik dan variasi yang banyak, seperti untuk
keperluan penelitian dan kegiatan laboratorium.
Untuk itu dalam tugas ini dirancang sebuah catudaya atau power supply dengan
tingkat akurasi yang baik dan nilai tegangan yang lebih bervariasi, penggunaan IC
regulator adalah salah satu hal yang sangat penting untuk mendapatkan kondisi yang
dimasksud.
Power supply variable ini diharapkan mampu digunakan dalam kegiatan
pengkuran dan keperluan laboratorium yang membutuhkan tingkat presisi yang baik
dan variasi tegangan yang banyak.
1.2 TUJUAN
Pembuatan tugas ini bertujuan untuk mesimulasikan sebuah rangakain power
supply dapat disesuaikan tingkat presisi dan variasi tegangannya dapat disesuaikan
dengan keinginan dan kebutuhan dalam pengkuran.
Disamping itu juga untuk menganalisa secara tertulis sebuah rangkaian
power suplly agar keluaran yang dihasilkan dari simulasi dan perhitungan telah
sesuai.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 POWER SUPPLY
2.1.1

Prinsip Kerja Power Supply


Perangkat elektronika mestinya dicatu oleh suplai arus searah DC (direct current)

yang stabil agar dapat bekerja dengan baik. Baterai atau accu adalah sumber Power Supply
DC yang paling baik. Namun untuk aplikasi yang membutuhkan Power Supply lebih besar,
sumber dari baterai tidak cukup. Sumber Power Supply yang besar adalah sumber bolakbalik AC (alternating current) dari pembangkit tenaga listrik. Untuk itu diperlukan suatu
perangkat Power Supply yang dapat mengubah arus AC menjadi DC. Pada tulisan kali ini
disajikan prinsip rangkaian Power Supply linier mulai dari rangkaian penyearah yang
paling sederhana sampai pada Power Supply yang teregulasi.
2.2 PENYEARAH (RECTIFIER)
Prinsip penyearah (rectifier) yang paling sederhana ditunjukkan pada gambar 2.1
berikut ini. Transformator (T1) diperlukan untuk menurunkan tegangan AC dari jala-jala
listrik pada kumparan primernya menjadi tegangan AC yang lebih kecil pada kumparan
sekundernya.

Gambar 2.1 Rangkaian penyearah sederhana

Pada rangkaian ini, dioda (D1) berperan hanya untuk merubah dari arus AC
menjadi DC dan meneruskan tegangan positif ke beban R1. Ini yang disebut dengan
penyearah setengah gelombang (half wave). Untuk mendapatkan penyearah

gelombang penuh (full wave) diperlukan transformator dengan center tap (CT) seperti
pada gambar 2.2.

Gambar 2.2 Rangkaian penyearah gelombang penuh


Tegangan positif phasa yang pertama diteruskan oleh D1 sedangkan phasa yang
berikutnya dilewatkan melalui D2 ke beban R1 dengan CT transformator sebagai
common ground. Dengan demikian beban R1 mendapat suplai tegangan gelombang penuh
seperti gambar di atas. Untuk beberapa aplikasi seperti misalnya untuk men-catu motor dc
yang kecil atau lampu pijar dc, bentuk tegangan seperti ini sudah cukup memadai.
Walaupun terlihat di sini tegangan ripple dari kedua rangkaian di atas masih sangat besar.

Gambar 2. 3 Rangkaian penyearah setengah gelombang dengan filter C


Gambar diatas adalah rangkaian penyearah setengah gelombang dengan filter
kapasitor C yang paralel terhadap beban R. Ternyata dengan filter ini bentuk gelombang
tegangan keluarnya bisa menjadi rata. Gambar 2.4 menunjukkan bentuk keluaran tegangan
DC dari rangkaian penyearah setengah gelombang dengan filter kapasitor. Garis b-c kirakira adalah garis lurus dengan kemiringan tertentu, dimana pada keadaan ini arus untuk
beban R1 dicatu oleh tegangan kapasitor. Sebenarnya garis b-c bukanlah garis lurus tetapi
eksponensial sesuai dengan sifat pengosongan kapasitor.

gambar 2.4 Bentuk gelombang dengan filter kapasitor


Kemiringan kurva b-c tergantung dari besar arus (I) yang mengalir ke beban R. Jika
arus I = 0 (tidak ada beban) maka kurva b-c akan membentuk garis horizontal. Namun jika
beban arus semakin besar, kemiringan kurva b-c akan semakin tajam. Tegangan yang
keluar akan berbentuk gigi gergaji dengan tegangan ripple yang besarnya adalah :
Vr = VM -VL .......(1)
dan tegangan dc ke beban adalah Vdc = VM + Vr/2 . (2)
Rangkaian penyearah yang baik adalah rangkaian yang memiliki tegangan ripple
(Vr) paling kecil. VL adalah tegangan discharge atau pengosongan kapasitor C, sehingga
dapat ditulis :
VL = VM e

-T/RC

..........(3)

Jika persamaan (3) disubsitusi ke rumus (1), maka diperoleh :


Vr = VM (1 - e

-T/RC

) ...... (4)

Jika T << RC, dapat ditulis :


e

-T/RC

1 - T/RC .....(5)

sehingga jika ini disubsitusi ke rumus (4) dapat diperoleh persamaan yang lebih
sederhana :
Vr = VM(T/RC) .... (6)
VM/R tidak lain adalah beban I, sehingga dengan ini terlihat hubungan antara
beban arus I dan nilai kapasitor C terhadap tegangan ripple Vr. Perhitungan ini efektif
untuk mendapatkan nilai tegangan ripple yang diinginkan.
Vr = I T/C ...(7)
Rumus ini mengatakan, jika arus beban I semakin besar, maka tegangan ripple akan
semakin besar. Sebaliknya jika kapasitansi C semakin besar, tegangan ripple akan semakin
kecil. Untuk penyederhanaan biasanya dianggap T=Tp, yaitu periode satu gelombang sinus
dari jala-jala listrik yang frekuensinya 50Hz atau 60Hz. Jika frekuensi jala-jala listrik 50Hz,

maka T = Tp = 1/f = 1/50 = 0.02 det. Ini berlaku untuk penyearah setengah gelombang.
Untuk penyearah gelombang penuh, tentu saja frekuensi gelombangnya dua kali lipat,
sehingga T =
1/2 Tp = 0.01 det.
Penyearah gelombang penuh dengan filter C dapat dibuat dengan menambahkan
kapasitor pada rangkaian gambar 2.2. Bisa juga dengan menggunakan transformator yang
tanpa CT, tetapi dengan merangkai 4 dioda seperti pada gambar 2.5 berikut ini.

gambar 2.5 Rangkaian penyearah gelombang penuh dengan filter C


Sebagai contoh, anda mendisain rangkaian penyearah gelombang penuh dari catu
jala- jala listrik 220V/50Hz untuk mensuplai beban sebesar 0.5 A. Berapa nilai kapasitor
yang diperlukan sehingga rangkaian ini memiliki tegangan ripple yang tidak lebih dari
0.75 Vpp. Jika rumus (7) dibolak-balik maka diperoleh. C = I.T/Vr = (0.5) (0.01)/0.75 =
6600 uF.
Untuk kapasitor yang sebesar ini banyak tersedia tipe elco yang memiliki polaritas
dan tegangan kerja maksimum tertentu. Tegangan kerja kapasitor yang digunakan harus
lebih besar dari tegangan keluaran Power Supply. Anda barangkali sekarang paham
mengapa rangkaian audio yang anda buat mendengung, coba periksa kembali rangkaian
penyearah Power Supply yang anda buat, apakah tegangan ripple ini cukup mengganggu.
Jika dipasaran tidak tersedia kapasitor yang demikian besar, tentu bisa dengan
memparalel dua atau tiga buah kapasitor.
2.2 REGULATOR TEGANGAN
Pengatur tegangan (voltage regulator) berfungsi menyediakan suatu tegangan
keluaran dc tetap yang tidak dipengaruhi oleh perubahan tegangan masukan, arus beban
keluaran, dan suhu. Pengatur tegangan adalah salah satu bagian dari rangkaian Power
Supply DC. Dimana tegangan masukannya berasal dari tegangan keluaran filter, setelah
melalui proses penyearahan tegangan AC menjadi DC.

Pengatur tegangan dikelompokkan dalam dua kategori, pengatur linier dan switching
regulator. yang termasuk dalam kategori pengatur linier, dua jenis yang umum adalah
pengatur tegangan seri (Series Regulator) dan pengatur tegangan parallel (Shunt
Regualtors). Dua jenis pengatur di atas dapat diperoleh untuk keluaran tegangan positif
maupun negatif. Sedangkan untuk switching regulator terdapat tiga jenis konfiguarsi yaitu,
step-up, step-down dan inverting.
2.2.1 Pengaturan Tegangan
Dua kategori dasar pengaturan tegangan adalah pengaturan garis (Line Regulation) dan
pengaturan beban (Load Regulation). Pengaturan garis adalah kemampuan pengatur
tegangan (voltage regulator) untuk tetap memepertahankan tegangan keluaran ketika
tegangan

masukan

berubah-ubah.

Pengaturan

Beban

kemampuan

untuk

tetap

mempertahankan tegangan keluaran ketika beban bervariasi.


2.2.2 Cara Kerja Pengaturan Tegangan
Rangkaian dasar pengatur tegangan seri ditunjukkan pada gambar 4. Sedangkan cara
kerjanya ditunjukkan pada gambar 5. Resistor pembagi tegangan dibentuk oleh R2 dan R3
yang bertindak sebagai sensor bila terjadi perubahan tegangan keluaran. Jika tegangan
keluaran turun yang disebabkan oleh penurunan tegangan masukan VIN atau bertambahnya
arus beban IL, maka tegangan pada masukan inverting (-) dari Op-Amp (sebagai error
detector) juga akan turun yang disebabkan oleh penurunan tegangan pada resistor pembagi
tegangan.

Gambar 2.6 Cara Kerja Regulator tegangan

Diode zener yang digunakan sebagai masukan pada masukan Non-inverting (+)
dari Op-Amp, juga bertindak sebagai tegangan acuan atau VREF, yang nilainya tetap.
Selisih tegangan yang ada pada kedua masukan Op-Amp akan diperkuat, sehingga
keluaran Op- Amp pun akan bertambah, demikian pula tegangan pada Basis dari transistor
Q1, akibatnya tegangan pada Emittor Q1 atau VOUT juga naik sampai tegangan pada
masukan inverting (-) sama dengan tegangan VREF. Tindakan ini akan menghindari
penurunan tegangan pada keluaran dan mejaga tetap kontan. Transistor Q1 adalah power
transistor yang diberi penyerap panas (heatsink) karena transistor ini harus melalukan
semua arus yang mengalir ke beban.

BAB III
PERANCANGAN
3.1 DESKRIPSI SINGKAT DAN SPESIFIKASI
3.1.1 DESKRIPSI SINGKAT
Power supply variabel adalah Power supply yang tegangan keluarannya dapat
diubah-ubah dengan nilai tegangan tertentu sesuai dengan yang diinginkan.
Pada rangkaian ini menggunakan IC LM317 sebagai regulator tegangan yang
didesain khusus untuk keperluan tegangan output variabel dengan tegangan yang
dihasilkan 1,5 31 Vdc dengan arus 2.7 A dan beban 2 W yang diberi sumber AC
220 V, 60 HZ. Power supply variable ini diharapkan mampu digunakan dalam
kegiatan pengkuran dan keperluan laboratorium yang membutuhkan tingkat presisi
yang baik dan variasi tegangan yang banyak.
3.1.2 SPESIFIKASI

Tegangan sumber 220 V, 60 Hz

Tegangan output 1.5 31 Vdc

Arus 5 A

3.2 DIAGRAM BLOK


Blok diagram power supply secara umum pada perancangn ini dapat dilihat sebagai
berikut.

SUMBER
SUMBER ACAC

TRANSFORMATO
RR

PENYEARAH
PENYEARAH

REGULATOR
REGULATOR

KELKELUUARAN
ARAN DCDC

Prinsip kerja rangkaian power supply seperti yang ditunjukan pada blok diagram
adalah mengubah sumber tegangan AC menjadi DC dengan tegangan keluaran yang dapat
divariasikan, sumber tegangan AC dari jala-jala sebesar diturunkan tegangannya dengan
menggunakan transfomator, setelah itu diserahakan oleh rangkaian peyearah berupa diode
bridge, selanjutnya masuk ke regulator untuk proses regulasi tegangan dan terakhir didapat
keluaran DC yang bervariasi.
3.3. PENENTUAN DAN PEMBAHASAN KOMPONEN
1. Tegangan sumber AC 220 V, 60 Hz. Yang berfungsi sebagai penyuplai tegangan
untuk power supply.
2. Transformator dengan pengaturan:
Maximum Primary Voltage = 220 V
Maximum Secondary 1 Current = 5A
Primary-to-Secondary Turns Ratio = 7.3
Untuk memperoleh nilai Vout dari kumparan sekunder transformator sebesar
30 VAC, nilai ini dapat kita hitung dengan:
V2 = V1 / TR
V2 = Tegangan kumparan sekunder
V1 = Tegangan kumparan primer
TR = Nilai turns ratio kumparan primer ke sekunder
3. Dioda Bridge, sebagai penyearah gelombang AC.
4. Kapasitor,
Kapasitor keramik = 0,1 F. Dipasang parallel pada kaki Vin regulator.

Kapasitor elco pada kaki Vout regulator.

Kedua kaki ini berfungsi sebagai penstabil tegangan keluaran dari rangkaian.
5. Resistor (R1) dipasang pada kaki Vout dan potensiometer (R2) dipasang pada kaki IC
LM317H, kedua komponen ini berfungsi sebagai pengatur range tegangan output
dari rangkaian power supply, sehingga output dari rangkaian dapat divariasikan,
persamaan yang dipakai adalah:
Vout= Vreff (1+R2/R1)+IADJ R2, dimana Vreff=1.25V
dalam rangakain ini tegangan output rangkaian power supply divariasi mulai
dari 1.5VDC sampai dengan 30VDC.
6. IC LM317, alasan digunakannya IC LM317 sebagai Regulator Tegangan adalah
supaya rangkaian menjadi sederhana. IC regulator tegangan variabel LM317
memiliki kemampuan mengalirkan arus maksimum sebesar 1,5 Ampere dan mampu
memberikan tegangan output variabel dari 1,2 volt DC sampai dengan 37 volt DC.
Spesifikasi Regulator Tegangan Variabel LM317
Arus maksimum 1,5 Ampere
Dapat memberikan perubahan output dari 1,2 volt sampai 37 volt DC
Dilengkapi dengan proteksi dari hubung singkat (shot circuit)
Dilengkapi dengan proteksi over heating (panas berlebih)
7. Resistor dengan resistansi sebesar 1k dan maximum rated power (Watts) sebesar 2
W digunakan sebagai beban.

BAB IV
HASIL DAN ANALISIS
4.1 DIAGRAM SKEMATIK RANGKAIAN

4.2 SIMULASI RANGKAIAN

1. Pada Sumber Tegangan

2. Pada Transformator

3. Pada Dioda Bridge

4. Pada IC LM317 H

5. Pada Output Keluaran

6. Pada saat potensiometer 1%

Vout =Vreff(1+R2/R1)+IADJ2
=1.25V(1+0.031ohm/128ohm)+50uA*0.031ohm
=1.25VDC

7. Pada saat Potensiometer 100%

Vout =Vreff(1+R2/R1)+IADJR2
=1.25V(1+3100ohm/128ohm)+50uA*3100ohm
=31,5VDC
4.3 ANALISIS
Pada saat potensiometer pada rangkaian diatur menjadi 1% maka, Vout DC akan
bernilai 1,5V. Sedangkan pada saat potensiometer diatur menjadi 100%, Vout DC akan
bernilai 31V. Didapatkan bahwa, nilai output dipengaruhi oleh potensiometer yang berfungsi
sebagai pengatur tegangan keluaran pada power supply sehingga dapat divariasikan.
Rangkaian ini menggunakan IC LM13H dikarenakan IC ini dapat membuat
rangkaian power supply menjadi lebih sederhana serta memiliki banyak kelebihan. Misalnya
seperti dapat memberikan perubahan output hingga 37 Volt, dilengkapi dengan proteksi dari
terjadinya short circuit dan dilengkapi dengan proteksi over heating (panas berlebih).

BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN DAN SARAN
1. Untuk menghitung nilai tegangan sekunder trafo jika diketahui jumlah
lilitan maka digunakan persamaan:

2. Jika tidak diketahui jumlah lilitan maka digunakan persamaan: V2=V1/TR


3. Dioda Bridge digunakan sebagai rangkaian penyearah gelombang penuh.
4. Kapasitor dalam rangkaian berfungsi untuk memperoleh tegangan
keluaran yang stabil, tidak berubah-ubah.
5. Resistor dan potensiometer digunakan untuk menagtur range tegangan
keluaran agar didapat nilai yang bervariasi.
6. Persamaan untuk menghitung nilai tegangan keluaran adalah:
Vout
= Vreff
(1+R2/R1)+IADJ R2
7. Regulator tegangan LM 317H memiliki range tegangan keluaran mulai dari
1.5Vdc sampai dengan 31Vdc, dengan kuat arus maksimal
31mA.
8. Regulator Arus dan Regulator Tegangan dibuat dalam rangkaian yang
berbeda untuk menghindari kesalahan akibat efek beban dalam rangkaian.
9. Nilai arus dan tegangan saling berbanding lurus dan berbanding
terbalik dengan nilai tahanan.
10. Sebaiknya, beban yang diletakkan harus memiliki nilai resistansi
sebesar 1k dan daya sebesar 2W agar rangkaian dapat dijalankan.

DAFTAR PUSTAKA

Bayu, Arif. Cara Membuat Catu Daya. 20 Agustus 2007. http://gosciencego.blogspot.com/2011/12/cara-membuat-catu-daya.html


Lala, Aang. Cara Membuat Catu Daya. 5 Februari 2009. http://aangla.blogspot.com/2010/05/cara-membuat-catu-daya.html
Elektronika, Dunia. Catu Daya. 12 Desember 2012.
http://duniaelektronika.blogspot.com/2007/09/catu-daya.html