Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENYULUHAN HIDUP SEHAT DI SD N 1 RIMBA UKUR

Latar Belakang Kasus


Promosi kesehatan di sekolah merupakan upaya yang strategis dalam peningkatan
kesehatan masyarakat, promosi kesehatan melalui komunitas sekolah ternyata paling
efektif diantara upaya kesehatan masyarakat yang lain, khususnya dalam
pengembangan perilaku hidup sehat. UKS adalah usaha kesehatan masyarakat yang
dijalankan di sekolah-sekolah dengan anak didik beserta lingkungan hidupnya sebagai
sasaran utama.
Anak sekolah merupakan kelompok yang sangat potensial untuk menerima
perubahan atau pembaruan. Pada taraf ini, anak dalam kondisi peka terhadap stimulasi
sehingga mudah dibimbing, diarahkan dan ditanamkan kebiasaan-kebiasaan hidup
sehat. Pendekatan pembelajaran sebaya (peer education) dapat dilakukan melalui
metode pelatihan dan juga diharapkan terbinanya kelompok-kelompok motivator.
Melalui pendidikan sebaya kaum muda, dapat mengembangkan pesan maupun
memilih media yang lebih tepat sehingga informasi yang diterima dapat dimengerti
oleh sesama mereka.

Permasalahan
Kurangnya pengetahuan dan keterampilan tentang prinsip-prinsip hidup sehat.
Kurangnya penanaman perilaku/kebiasaan hidup sehat dan daya tangkal
pengaruh buruk dari luar.

Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Dari permasalahan di atas, direncanakan suatu kegiatan penyuluhan yang
bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang prinsip-prinsip
hidup sehat. Isi penyuluhan ini mencakup :

Pengertian UKS
Pengertian perilaku hidup sehat
Contoh perilaku hidup sehat dalam kegiatan sehari-hari
Manfaat berperilaku hidup sehat

Pelaksanaan

Kegiatan penyuluhan perilaku hidup sehat dilaksanakan kepada guru dan


siswa SD Negeri 1 Desa Rimba Ukur
Kegiatan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Senin, 8 Agustus 2016
Waktu
: Pukul 09.00 WIB s/d selesai
Tempat: SD Negeri 1 Desa Rimba Ukur Kecamatan Plakat Tinggi
Oleh
: dr. Isni Irya Maja
Alur kegiatan penyuluhan tercantum pada tabel dibawah ini:
Jam
09.00-09.15
09.15-09.30
09.30-10.15

Susunan Acara
Pembukaan
Kata Sambutan dari Kepala Sekolah dan Kepala Puskesmas
Penyampaian materi

10.15-10.45
Diskusi dan Tanya Jawab
10.45-11.00
5

Penutup

Monitoring dan Evaluasi


Monitoring dilaksanakan

dengan

melihat

kesesuaian

jadwal

dengan

pelaksanaan acara, antusias peserta dalam sesi tanya jawab, administrasi pelaksanaan
acara, dan jumlah peserta yang mengikuti acara penyuluhan hidup sehat.
Evaluasi dilaksanakan dengan membandingkan hasil pre-tes dan post-tes serta
kesesuaian materi yang disampaikan dengan topik penyuluhan hidup sehat.
Peserta

dr. Isni Irya Maja

Pendamping

dr. Ahmad Khoirul Anwar

LAPORAN PENYULUHAN
KERACUNAN MENURUT MEDIS DAN AWAM
DI DESA SUNGAI BATANG
1. Latar Belakang Kasus
Racun adalah zat yang ketika tertelan, terhisap, diabsorpsi, menempel pada kulit,
atau dihasilkan di dalam tubuh dalam jumlah yang relative kecil dapat mengakibatkan
cedera dari tubuh dengan adanya rekasi kimia (Brunner & Suddarth, 2001). Racun adalah
suatu bahan dimana ketika diserap oleh tubuh organisme makhluk hidup akan
menyebabkan kematian atau perlukaan (Muriel, 1995). Keracunan dapat diartikan
sebagai setiap keadaan yang menunjukkan kelainan multisistem dengan keadaan yang
tidak jelas (Arif Mansjor, 1999).
Saat ini manusia sering terkena zat-zat toksik baik dari makanan, air dan
lingkungan. Di rumah pun bukan berarti tidak berbahaya karena masih ada kemungkinan
keracunan insektisida maupun herbisida. Tergantung dari sifat yang dimiliki oleh zat
toksik tersebut, sehingga bisa terserap melalui lambung, usus, paru-paru dan atau kulit.
Untungnya, hati (liver) memiliki kemampuan mendetoksifikasi zat-zat toksik tersebut
sehingga dapat dikeluarkan melalui urine, empedu dan udara. Namun, apabila kecepatan
penyerapan melebihi kecepatan ekskresinya, zat toksik itu akan menumpuk dalam
konsentrasi kritis dan mengakibatkan munculnya efek toksik dari zat tersebut. Zat-zat
tosik seperti sulfida, arsenik, logam berat dapat masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan
efek keracunan. Untuk itu, dibutuhkan zat antitoksik seperti Desferrioksamin
Metansulfonat untuk keracunan besi akut.
Intoksikasi obat sering terjadi dimasyarakat Indonesia khususnya dalam
pemakaian obat-obatan yang dijual bebas di apotek maupun warung, sehingga
memudahkan masyarakat mendapatkan secara bebas tanpa mengetahui dosis dan efek
samping yang tepat tidak heran banyak kasus menunjukan banyaknya angka keracunan
khususnya penggunaan obat yang tidak tepat.
Penyuluhan tentang asumsi keracunan menurut medis dan awam diharapkan
masyarakat bisa meningkatkan pengetahuannya sehingga mengetahui penanganan awal.

2. Permasalahan
Kurangnya pengetahuan warga mengenai keracunan.

Masih banyak argumen masyarakat tentang keracunan adalah disantet.


3. Perencanaan dan Pemilihan Intervensi
Dari permasalahan di atas, direncanakan suatu kegiatan penyuluhan yang
bertujuan untuk meningkatkan wawasan masyarakat mengenai keracunan. Hal yang
paling diutamakan adalah bagaimana cara meningkatkan pengetahuan agar
penanganan awal pun dapat diatasi. Isi penyuluhan ini mencakup :
Pengertian keracunan menurut medis
Pengertian keracunan menurut awam
Jenis-jenis keracunan
Cara terjadinya keracunan
Gejala keracunan medis dan awam
Penanganan awal keracunan
4. Pelaksanaan
Kegiatan penyuluhan asumsi keracunan menurut medis dan awam
dilaksanakan secara massal kepada masyarakat Desa Sungai Batang.
Kegiatan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Jumat, 12 Agustus 2016
Waktu
: Pukul 09.00 WIB s/d selesai
Tempat: Balai Desa Sungai Batang
Oleh
: dr. Isni Irya Maja
Alur kegiatan penyuluhan tercantum pada tabel dibawah ini:
Jam
09.00-09.15
09.15-09.30
09.30-10.15

Susunan Acara
Pembukaan
Kata Sambutan dari Kepala Desa dan Kepala Puskesmas
Penyampaian materi

10.15-10.45
Diskusi dan Tanya Jawab
10.45-11.00

Penutup

5. Monitoring dan Evaluasi


Monitoring dilaksanakan

dengan

melihat

kesesuaian

jadwal

dengan

pelaksanaan acara, antusias peserta dalam sesi tanya jawab, administrasi pelaksanaan
acara, dan jumlah peserta yang mengikuti acara penyuluhan keracunan.
Evaluasi dilaksanakan dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test
serta kesesuaian materi yang disampaikan dengan topik penyuluhan keracunan.

Peserta

dr. Isni Irya Maja

Pendamping

dr. Ahmad Khoirul Anwar

LAPORAN PENYULUHAN MENGENAI BAHAYA PENGGUNAAN NARKOBA PADA IBU


HAMIL DAN MENYUSUI DI DESA AIR PUTIH ULU
1. Latar Belakang Kasus

Saat sedang mengandung, apa pun yang Anda konsumsi, bayi di


dalam

kandungan

juga

turut

mengonsumsinya.

Jika

Anda

mengonsumsi makanan yang sehat, bayi akan merasakan manfaatnya.


Namun sebaliknya, jika yang Anda masukkan ke dalam tubuh adalah
obat-obatan terlarang, maka bayi Anda juga bisa menjadi pengguna
narkoba karena tiap zat yang masuk ke tubuh Anda akan mengalir
melalui pembuluh darah Anda ke plasenta dan kemudian ke bayi.
Melalui plasenta, bayi mendapatkan asupan agar bisa tumbuh. Jadi jika
Anda mengonsumsi obat-obatan terlarang, meski kadarnya sedikit,
tetap bisa memengaruhi kondisi bayi dalam kandungan dan pada saat
dia dilahirkan. Penggunaan narkotika jenis apapun juga tidak anjurkan
baik saat menyusui maupun tidak. Shabu atau metamfetamin dan
senyawa turunananya yaitu amfetamin dapat menyebabkan gejala
halusinasi, agitasi, kejang, psikosis, hipertensi, hipertermia, jantung
berdetak lebih cepat, bergantung dengan dosis yang digunakan.
Metamfetamin dapat dikeluarkan melalui air susu ibu ke bayi dalam
jumlah besar. Konsentrasi narkotika jenis ini mencapai 2,5 x lebih
banyak saat dikeluarkan di air susu daripada jumlah di dalam cairan
tubuh ibu. Pernah terdapat satu kasus kematian bayi setelah menyusu
dari ibu pengguna metamfetamin. Mengetahui adanya dampak yang
ditimbulkan dari penggunaan narkoba pada ibu hamil dan menyusui
maka

dari

itu

perlu

dilakukan

penyuluhan

mengenai

bahaya

penggunaan narkoba pada ibu hamil dan menyusui di Desa Air Putih
Ulu.
2. Permasalahan

Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai bahaya penggunaan narkoba pada

ibu hamil dan janinnya


Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai dampak penggunaan narkoba pada
ibu menyusui terhadap anaknya

3. Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Berdasarkan

permasalahan

yang

didapat,

direncanakan

penyuluhan mengenai bahaya penggunaan narkoba pada ibu hamil


dan menyusui di Desa Air Putih Ulu.

Hasil yang diharapkan dengan

diberikan penyuluhan ini, masyarakat lebih memahami gejala, dampak


yang ditumbulkan dari mengkonsumsi narkoba pada ibu hamil dan
menyusui terhadap diri ibu tersebut dan anaknya.
4. Pelakasanaan
Kegiatan penyuluhan bahaya pengunaan narkoba pada ibu hamil dan menyusui dihadiri
oleh ibu-ibu usia produktif, ibu hamil, ibu menyusui dan dihadiri oleh jajaran petinggipetinggi desa, kepala desa, ibu-ibu pkk.
Kegiatan dilaksanakan pada :
Hari / tanggal : Selasa, 16 Agustus 2016
Waktu
: Pukul 10.00 WIB s/d selesai
Tempat
: Posyandu Air Putih Ulu
Oleh
: dr. Isni Irya Maja
Alur kegiatan penyuluhan tercantum pada tabel dibawah ini:
Jam
09.00-09.15
09.15-09.30
09.30-10.15

Susunan Acara
Pembukaan
Kata Sambutan dari Kepala Desa dan Kepala Puskesmas
Penyampaian materi

10.15-10.45
Diskusi dan Tanya Jawab
10.45-11.00

Penutup

5. Monitoring evaluasi
Monitoring dilaksanakan dengan melihat kesesuaian jadwal dengan pelaksanaan
acara, antusias peserta dalam sesi tanya jawab, administrasi pelaksanaan acara, dan
jumlah peserta yang mengikuti acara penyuluhan pengunaan narkoba pada ibu hamil dan
menyusui.
Evaluasi dilaksanakan dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test serta
kesesuaian materi yang disampaikan dengan topik penyuluhan pengunaan narkoba pada
ibu hamil dan menyusui.

Plakat Tinggi,
Narasumber penyuluhan

dr. Isni Irya Maja

Dokter pembimbing

Dr. Ahmad Khoirul Anwar

PENYULUHAN CARA PENGOLAHAN MP-ASI YANG SESUAI DENGAN


STBM DI DESA SUNGAI BATANG KECAMATAN PLAKAT TINGGI.
1. Latar Belakang
Nutrisi yang adekuat pada masa bayi dan anak-anak sangat dibutuhkan untuk
perkembangan setiap anak. Diketahui bahwa periode dari lahir hingga usia 2 tahun
merupakan periode yang penting untuk mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan
yang optimal (Ariani, 2008). Untuk mencapai tumbuh kembang optimal, di dalam
Global

Strategy

for

Infant

and

Young

Child

Feeding,

WHO/UNICEF

merekomendasikan 4 hal penting yang harus dilakukan, yaitu memberikan Air Susu
Ibu (ASI) kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, memberikan
ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, memberikan Makanan
Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan, dan
meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih (Depkes RI,
2006). Pemberian MP-ASI didefinisikan sebagai suatu proses dimana ASI saja tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sehingga diperlukan makanan dan minuman
lain yang diberikan bersamaan dengan ASI (Didah, 2004).
ASI merupakan makanan yang baik dan memenuhi semua kebutuhan nutrisi
dari bayi selama 6 bulan pertama. Akan tetapi, setelah usia 6 bulan ASI tidak cukup
untuk membuat bayi tumbuh dengan baik, tambahan makanan lain juga dibutuhkan.
Hal ini dikarenakan pertumbuhan bayi dan aktivitas dari bayi yang bertambah.
Sehingga nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi akan meningkat sesuai pertambahan usia.
Pemberian MP-ASI pada usia 6 bulan ke atas disertai dengan pemberian ASI lanjutan
adalah hal yang penting dalam perkembangan dan pertumbuhan bayi (Bahri, 2010).
Di negara-negara berkembang, angka kejadian gizi buruk masih cukup tinggi
berkisar 6,9-53% (Chintia, 2008). Memburuknya gizi bayi dapat saja terjadi karena
penghentian pemberian ASI dengan alasan ASI tidak keluar dan ketidaktahuan ibu
atas tata cara pemberian ASI kepada bayinya (Husaini, 2001). Data Survei
Demografis dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003 menunjukkan konsumsi
MP-ASI secara dini cukup besar, yaitu sebanyak 35% pada bayi kurang dari 2 bulan
dan sebanyak 37% pada usia 2-3 bulan.
Cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Temanggung cenderung meningkat
selama 3 tahun terakhir. Pada tahun 2008 mencapai 28,14%, tahun 2009 mencapai
42,55%, tahun 2010 mencapai 63,52% dan tahun 2011 mencapai 67,48%. Capaian ini
belum melampaui target nasional maupun kabupaten yaitu 80%. Padahal pemberian
ASI eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun disamping

pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) secara adekuat terbukti merupakan


salah satu intervensi efektif dapat menurunkan Angka Kematian Bayi (Eko, 2012).
2. Permasalahan
Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) masih belum terlaksana
dengan baik di masyarakat, termasuk pada masyarakat di Desa Sungai Batang. Hal ini
disebabkan oleh

pengetahuan masyarakat mengenai tujuan, waktu, serta ca

pemberian MP-ASI masih tergolong rendah. Hal ini terbukti bahwa masih sering
dijumpai ibu-ibu di Desa Sungai Batang yang terlalu dini memberikan MP-ASI dan
terlalu cepat menyerah untuk memberikan ASI eksklusif kepada anak-anaknya, atau
pemberian MP-ASI yang terkesan tidak hygienis atau tersanitasi dengan baik. Tradisitradisi yang salah mengenai MP-ASI pun masih kerap kali ditemui. Masih banyak
bayi yang belum genap berusia 6 bulan, sudah diberi kerokan pisang maupun nasi
lumat. Padahal sosialisasi mengenai pentingnya ASI eksklusif dilanjutkan dengan
MP-ASI sudah sejak lama dilakukan. Namun agaknya masyarakat masih cenderung
memegang teguh tradisi lama yang malah dapat membahayakan gizi anak-anak
mereka.

3. POA (Plan of Action) Perencanaan Intervensi


Kegiatan

Pemberitahuan kepada kader dan kepala dusun akan diada

Tujuan

pengolahan MP-ASI sesuai STBM.


Meningkatkan pengetahuan warga tentang pentingnya MP-ASI
hygienis dan sesuai STBM.
Kader posyandu Desa Sungai Batang , Plakat Tinggi MUBA.
Posyandu Desa Sungai Batang
26 Agustus 2016

Sasaran
Tempat
Waktu
Biaya
Metode

Sosialisasi tentang waktu pelaksanaan penyuluhan tentang cara

saat posyandu di Desa Sungai Batang.


Pengumuman akan diadakan penyuluhan tersampaikan oleh sel

Indikator Keberhasilan

Saat pelaksanaan penyuluhan, dihadiri minimal 80% dari juml


memiliki balita).

4. Pelaksanaan Intervensi
Kegiatan
Tujuan

Penyuluhan tentang cara pengolahan MP-ASI sesuai STBM.


Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang cara

Sasaran

pengolahan MP-ASI sesuai STBM.


Seluruh ibu yang memiliki balita di Desa Sungai Batang

Tempat
Waktu
Biaya
Metode

Plakat Tinggi.
Posyandu Desa Sungai Batang.
26 Agustus 2016 pukul 09.00 WIB
Penyuluhan secara dua arah dan tanya jawab tentang cara

Penanggung Jawab

pengolahan MP-ASI sesuai STBM.


Dokter internship, Bidan desa

Indikator

10% peserta mampu menjawab pertanyaan mengenai

materi penyuluhan.
10% peserta mengajukan pertanyaan terkait materi
penyuluhan

Alur kegiatan penyuluhan tercantum pada tabel dibawah ini:


Jam
09.00-09.15
09.15-09.30

Susunan Acara
Pembukaan
Kata Sambutan dari Kepala Desa dan Kepala Puskesmas

09.30-10.15
Penyampaian materi
10.15-10.45
Diskusi dan Tanya Jawab
10.45-11.00

Penutup

E. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring & Evaluasi Kegiatan Perencanaan


Sosialisasi tentang akan diadakannya penyuluhan tentang cara pengolahan MP-ASI
sesuai STBM berhasil dilakukan oleh kader posyandu di Desa Sungai Batang. Hal ini
terbukti dari antusiasnya kedatangan warga Desa Sungai Batang, yaitu datang + 20

ibu (dari total + 40 ibu yang memiliki balita).


Monitoring & Evaluasi Intervensi
Penyuluhan tentang cara pengolahan MP-ASI sesuai STBM dapat diterima dengan
baik oleh para ibu yang mempunyai balita. Terlihat dari peserta penyuluhan sejumlah
+ 20 ibu. Saat dilakukan sesi tanya jawab, 70% ibu dapat menjawab dengan benar
pertanyaan yang diberikan oleh dokter internship. Saat diberikan kesempatan untuk
bertanya, 40% ibu mau bertanya dan bahkan menyampaikan pengalaman pribadinya
dalam pemberian dan cara pengolahan MP-ASI. Ibu-ibu tampak semakin antusias saat
diberikan beberapa resep pembuatan MP-ASI sederhana yang dapat mereka masak

sendiri di rumah.
Kesimpulan
Intervensi berupa penyuluhan tentang MP-ASI ini dapat terlaksana dengan lancar.
Saat pelaksanaan pun, hasil pencapaian melebih dari indikator yang telah ditetapkan.
Diharapkan dengan adanya penyuluhan ini ibu-ibu yang memiliki balita dapat
mempraktekkannya dalam sehari-hari serta meninggalkan tradisi lama mengenai MPASI. Dengan demikian, kejadian kurang gizi serta diare dan alergi pada balita karena
pemberian MP-ASI yang salah dapat berkurang atau bahkan teratasi.

Peserta

( dr. Isni Irya Maja

Pendamping

dr. A.K. Anwar )

LAPORAN PENYULUHAN PENCEGAHAN SYOK PADA PENDERITA DBD DI


DESA TALANG PIASE
1

Latar Belakang Kasus


Dengan yang disebarkan virus disebarkan oleh nyamuk Aedes (Stegomyia). Selama

dua dekade terakhir, frekuensi kasus dan epidemi penyakit demam dengue (dengue fever,
DF), demam berdarah (dengue hemorragic fever, DHF), dan sindrom syok dengue
(dengue syok syndrom, DSS) menunjukkan peningkatan yang dramatis di seluruh dunia.
The World Health Report 1996, menyatakan bahwakemunculan kembali penyakit
infeksisus merupakan suatu peringatan bahwa kemajuan yang telah diraih sampai sejauh
ini terhadap keamanan dunia dalam hal kesehatan dan kemakmuran sia-sia belaka.
Laporan tersebut lebih jauh menyebutkan bahwa penyakit infeksius tersebut berkisar
dari penyakit yang terjadi di daerah tropis (seperti malaria dan DHF yang sering terjadi di
negara berkembang) hingga penyakit yang ditemukan di seluruh dunia (seperti hepatitis
dan penyakit menular seksual [PMS], termasuk HIV/AIDS) dan penyakit yang disebarkan
melalui makanan yang mempengaruhi sejumlah besar penduduk dunia baik di negara
miskin maupun kaya.
Pada Mei 1993, pertemuan kesehatan dunia yang ke-46 mengajukan suatu resolusi
tentang pengendalian dan pencegahan dengue yang menekankan bahwa pengokohan
pencegahan dan pengendalian DF, DHF, DSS baik di tingkat lokal maupun nasional harus
menjadi salah satu prioritas dari Negara Anggota WHO tempat endemiknya penyakit.
Resolusi tersebut juga meminta: (1) strategi yang dikembangkan untuk mengatasi
penyebaran dan peningkatan insiden dengue harus dapat dilakukan oleh negara terkait, (2)
peningkatan penyuluhan kesehatan masyarakat, (3) mengencarkan promosi kesehatan, (4)
memperkuat riset, (5) memperluas surveilens dengue, (6) pemberian panduadalam hal
pengendalian vektor, dan (7) mobilisasi sumber daya eksternal untuk pencegahan
penyakit harus menjadi prioritas.
Untuk menanggapi resolusi WHA dalam pencegahan dan pengendalian dengue,
strategi global untuk operasionalitas kegiatan pengendalian vektor dikembangkan
berdasarkan komponen utama seperti, tindakan pengendalian nyamuk yang selektif
terpadu dengan partisipasi masyarakat dan kerja sama antarsektor, persiapan kedaruratan,
dll. Salah satu penopang utama dalam strategi global adalah peningkatan surveilans yang

aktif dan didasarkan pada pemeriksaaan laboratorium yang akurat terhadap DF/DHF dan
vektornya. Agar berjalan lancar, setiap negara endemik harus memasukkan penyakit DHF
menjadi salah satu jenis penyakit yang harus dilaporkan.
2

Permasalahan
Kurangnya pengetahuan warga mengenai apa saja yang dapat menjadi penyebab
kejadian syok pada penderita demam berdarah dengue.
Kurangnya pengetahuan warga mengenai apa saja yang dapat dilakukan dalam
menurunkan jumlah kejadian syok pada penderita demam berdarah dengue

Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Dari permasalahan di atas, direncanakan suatu kegiatan penyuluhan yang
bertujuan untuk meningkatkan wawasan masyarakat mengenai upaya pencegahan
kejadian syok pada penderita demam berdarah dengue. Hal yang paling diutamakan
adalah bagaimana upaya apa saja yang dapat dilakukan guna menurunkan angka
morbiditas dan mortalitas syok pada penderita demam berdarah dengue. Isi
penyuluhan ini mencakup :
Pengertian dan klasifikasi syok
Penyebab syok pada penderita demam berdarah dengue
Upaya pencegahan kejadian syok pada penderita demam berdarah dengue.
4. Pelaksanaan
Kegiata penyuluhan pencegahan kejadian syok pada penderita demam
berdarah dengue dengan metode penyuluhan ini dilaksanakan secara massal kepada
masyarakat Desa Talang Piase yang meliputi warga dan tokoh masyarakat.
Kegiatan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Selasa, 29 Agustus 2016
Waktu
: Pukul 09.00 WIB s/d selesai
Tempat: Balai Desa Talang Piase Kecamatan Plakat Tinggi
Oleh
: dr. Isni Irya Maja

Alur kegiatan penyuluhan tercantum pada tabel dibawah ini:


Jam
09.00-09.15
09.15-09.30
09.30-10.15

Susunan Acara
Pembukaan
Kata Sambutan dari Kepala Desa dan Kepala Puskesmas
Penyampaian materi

10.15-10.45
Diskusi dan Tanya Jawab

10.45-11.00

Penutup

5. Monitoring dan Evaluasi


Monitoring

dilaksanakan

dengan

melihat

kesesuaian

jadwal

dengan

pelaksanaan acara, antusias peserta dalam sesi tanya jawab, administrasi pelaksanaan
acara, dan jumlah peserta yang mengikuti acara penyuluhan pengunaan narkoba pada
ibu hamil dan menyusui.
Evaluasi dilaksanakan dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test
serta kesesuaian materi yang disampaikan dengan topik penyuluhan penggunaan
narkoba pada ibu hamil dan menyusui.

Peserta

dr. Isni Irya Maja

Pendamping

dr. Ahmad Khoirul Anwar

LAPORAN KEGIATAN PENYULUHAN POPM


FILARIASIS (KAKI GAJAH) DI DESA MODEL SUNGAI MEDAK
1

Latar Belakang
Berdasarkan data yang diperoleh dari Pustu Desa model Sungai Medak, terdapat

satu kasus filariasis di wilayah kerja pustu tersebut. Penyakit filariasis sendiri sempat
menjadi wabah di Kabupaten Musi Banyuasin. Pengobatan merupakan suatu proses
ilmiah yang dilakukan oleh dokter berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh. Dalam
proses pengobatan terkandung keputusan ilmiah yang dilandasi oleh pengetahuan dan
keterampilan untuk melakukan intervensi pengobatan yang memberi manfaat maksimal
dan resiko sekecil mungkin bagi pasien. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan
pengobatan yang rasional.
2

Permasalahan
Kurangnya pengetahuan dalam pengobatan dan pemutusan rantai penularan
Filaria.

Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Dari permasalahan di atas, direncanakan suatu kegiatan penyuluhan tentang

pengobatan dengan DEC dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun di lokasi yang
endemis serta perawatan kasus klinis baik yang akut maupun kronis untuk mencegah
kecacatan dan mengurangi penderitaannya.

Pelaksanaan
Kegiatan penyuluhan tentang pengobatan dasar yang dilaksanakan secara massal

kepada masyarakat Desa Model Sungai Medak.


Kegiatan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Kamis, 4 Agustus 2016
Waktu
: Pukul 09.00 WIB s/d selesai
Tempat: Balai Desa Model Sungai Medak
Oleh
: dr. Isni Irya Maja
Alur kegiatan penyuluhan tercantum pada tabel dibawah ini:
Jam
09.00-09.15
09.15-09.30
09.30-10.15

Susunan Acara
Pembukaan
Kata Sambutan dari Kepala Desa dan Kepala Puskesmas
Penyampaian materi

10.15-10.45
Diskusi dan Tanya Jawab
10.45-11.00
5

Penutup

Monitoring dan Evaluasi


Monitoring dilaksanakan dengan melihat kesesuaian jadwal dengan pelaksanaan

acara, antusias peserta dalam sesi tanya jawab, administrasi pelaksanaan acara, dan
jumlah peserta yang mengikuti acara penyuluhan POPM filariasis.
Evaluasi dilaksanakan dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test serta
kesesuaian materi yang disampaikan dengan topik penyuluhan POPM filariasis.
Peserta

dr. Isni Irya Maja

Pendamping

dr. Ahmad Khoirul Anwar