Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA KLIEN DENGAN POST PARTUM SECTIO CAESARIA


DI RUANG OBSTETRI RSUP Dr. KARIADI SEMARANG

SAFITRI ZUMMY AFIYATI


P1337420614043

PRODI DIV KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2016

LAPORAN PENDAHULUAN
PADA KLIEN DENGAN POST PARTUM SECTIO CAESARIA
A. Konsep Dasar Sectio Caesaria
1. Pengertian Sectio Caesaria
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui
suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam
keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono, 2009).
Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat badan
diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh (Gulardi &
Wiknjosastro, 2006).
Sectio caesaria (SC) adalah membuka perut dengan sayatan pada dinding perut
dan uterus yang dilakukan secara vertical , dari kulit sampai fasia (Wiknjosastro,
2010).
Sectio caesaria adalah pembedahan untuk mengeluarkan anak dari rongga
rahim dengan mengiris dinding perut dan dinding rahim (Angraini, 2008).
2. Etiologi
a. Riwayat SC
Uterus yang memiliki jaringan parut dianggap sebagai kontraindikasi untuk
melahirkan karena dikhawatirkan akan terjadi rupture uteri. Risiko ruptur uteri
meningkat seiring dengan jumlah insisi sebelumnya, klien dengan jaringan perut
melintang yang terbatas disegmen uterus bawah, kemungkinan mengalami
robekan jaringan parut simtomatik pada kehamilan berikutnya. Wanita yang
mengalami ruptur uteri berisiko mengalami kekambuhan, sehingga tidak
menutup kemungkinan untuk dilakukan persalinan pervagina, tetapi dengan
beresiko ruptur uteri dengan akibat buruk bagi ibu dan janin.
b. Indikasi Ibu :
1) Panggul sempit
2) Tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
3) Stenosis serviks uteri atau vagina
4) Plassenta praevia
5) Disproporsi janin panggul
6) Rupture uteri membakat
7) Partus tak maju
8) Incordinate uterine action
c. Indikasi Janin
1) Kelainan Letak :
a) Letak lintang
b) Letak sungsang ( janin besar,kepala defleksi)
c) Letak dahi dan letak muka dengan dagu dibelakang
2

d) Presentasi ganda
e) Kelainan letak pada gemelli anak pertama
2) Gawat Janin
3) Indikasi Kontra (relative)
a) Infeksi intrauterine
b) Janin Mati
c) Syok/anemia berat yang belum diatasi
d) Kelainan kongenital berat
3. Tujuan Sectio Caesarea
Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk mempersingkat lamanya
perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim.
4. Jenis - Jenis Operasi Sectio Caesarea (SC)
a. Abdomen (SC Abdominalis)
1) Sectio caesarea klasik atau corporal : dengan insisi memanjang pada corpus
uteri. Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kirakira 10cm.
Kelebihan :
1. Mengeluarkan janin lebih memanjang
2. Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik
3. Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal

Kekurangan :
1. Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada
reperitonial yang baik.
2. Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan.
3. Ruptura uteri karena luka bekas SC klasik lebih sering terjadi
dibandingkan dengan luka SC profunda. Ruptur uteri karena luka bekas
SC klasik sudah dapat terjadi pada akhir kehamilan, sedangkan pada
luka bekas SC profunda biasanya baru terjadi dalam persalinan.
4. Untuk mengurangi kemungkinan ruptura uteri, dianjurkan supaya ibu
yang telah mengalami SC jangan terlalu lekas hamil lagi. Sekurang
-kurangnya dapat istirahat selama 2 tahun. Rasionalnya adalah
memberikan kesempatan luka sembuh dengan baik. Untuk tujuan ini
maka dipasang akor sebelum menutup luka rahim.

2) Sectio caesarea profunda (Ismika Profunda) : dengan insisi pada segmen


bawah uterus.Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada
segmen bawah rahim kira-kira 10cm
Kelebihan :
1. Penjahitan luka lebih mudah
2. Penutupan luka dengan reperitonialisasi yang baik
3. Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan isi uterus
ke rongga perineum
4. Perdarahan kurang
5. Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan
lebih kecil
Kekurangan :
1. Luka dapat melebar ke kiri, ke kanan dan bawah sehingga dapat
menyebabkan arteri uteri putus yang akan menyebabkan perdarahan
yang banyak.
2. Keluhan utama pada kandung kemih post operatif tinggi.

3) Sectio caesarea ekstraperitonealis.


Merupakan sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis dan dengan
demikian tidak membuka kavum abdominalis.
b. Vagina (sectio caesarea vaginalis)
Menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesaria dapat dilakukan apabila :
1) Sayatan memanjang (longitudinal)
2) Sayatan melintang (tranversal)
3) Sayatan huruf T (T Insisian)
5. Patofisiologi
Adanya

beberapa

kelainan/hambatan

pada

proses

persalinan

yang

menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal/spontan, misalnya plasenta previa
sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture uteri
mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks, dan
malpresentasi janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan
pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC).
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan
klien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi
aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan
4

klien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri klien secara mandiri sehingga
timbul masalah defisit perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan
perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada klien. Selain itu,
dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen
sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh darah, dan saraf
- saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin dan
prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Setelah proses
pembedahan berakhir, daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op, yang
bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah risiko infeksi.

6. Komplikasi
a. Infeksi Puerperalis
Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari
dalam masa nifas atau dapat juga bersifat berat, misalnya peritonitis, sepsis dan
lain-lain. Infeksi post operasi terjadi apabila sebelum pembedahan sudah ada
gejala - gejala infeksi intrapartum atau ada faktor - faktor yang merupakan
predisposisi terhadap kelainan itu (partus lama khususnya setelah ketuban pecah,
tindakan vaginal sebelumnya). Bahaya infeksi dapat diperkecil dengan pemberian
antibiotika, tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali, terutama SC klasik dalam
hal ini lebih berbahaya daripada SC transperitonealis profunda.
b. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang
arteria uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri
c. Komplikasi-komplikasi lain seperti :
1) Luka kandung kemih
2) Embolisme paru paru
Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya perut
pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura
uteri. Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan sesudah sectio caesarea
klasik.
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Hemoglobin atau hematokrit (Hb/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra
operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
5

b.
c.
d.
e.

Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi


Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
Urinalisis / kultur urine
Pemeriksaan elektrolit

8. Penatalaksanaan Medis Post SC


a. Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian cairan
perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi
hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. Cairan yang
biasa diberikan biasanya DS 10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan
jumlah tetesan tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi
darah sesuai kebutuhan.
b. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu
dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian minuman
dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 10 jam pasca
operasi, berupa air putih dan air teh.
c. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
1) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi
2) Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini
mungkin setelah sadar
3) Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan
diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
4) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk
(semifowler)
5) Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, klien dianjurkan belajar
duduk selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan sendiri pada
hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi.
b. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada
penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Kateter
biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan
keadaan penderita.
c. Pemberian obat-obatan
1) Antibiotik. Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda
setiap institusi
2) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
a) Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
b) Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
c) Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
6

3) Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan
caboransia seperti neurobian I vit. C
d. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan berdarah
harus dibuka dan diganti
e. Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu, tekanan darah,
nadi,dan pernafasan.
f. Perawatan payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak
menyusui, pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara
tanpa banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa nyeri.
(Manuaba, 1999)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian fokus
a. Identitas klien dan penanggung jawab
Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agama, alamat, status
perkawinan, ruang rawat, nomor medical record, diagnosa medik, yang
mengirim, cara masuk, alasan masuk, keadaan umum tanda vital.
b. Keluhan utama
c. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya bagi kien multipara
d. Data riwayat penyakit
1) Riwayat kesehatan sekarang
Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit
yang dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah klien operasi.
2) Riwayat kesehatan dahulu
Meliputi penyakit lain yang dapat mempengaruhi penyakit sekarang,
maksudnya apakah klien pernah mengalami penyakit yang sama (plasenta
previa)
3) Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi penyakit yang diderita klien dan apakah keluarga klien ada juga
mempunyai riwayat persalinan yang sama (plasenta previa).
e. Pola-pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

Karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini, dan cara
pencegahan, penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga
kebersihan tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan dirinya
2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari
keinginan untuk menyusui bayinya.
3) Pola aktifitas
Pada klien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya,
terbatas pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, cepat
lelah, pada klien nifas didapatkan keterbatasan aktivitas karena mengalami
kelemahan dan nyeri.
4) Pola eleminasi
Pada klien postpartum sering terjadi adanya perasaan sering / susah kencing
selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema, yang
menimbulkan infeksi dari uretra sehingga sering terjadi konstipasi karena
penderita takut untuk melakukan BAB.
5) Istirahat dan tidur
Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena
adanya kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan
6) Pola hubungan dan peran
Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan
orang lain.
7) Pola mekanisme coping atau stres
Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas
8) Pola sensori dan kognitif
Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka jahitan dan
nyeri perut akibat involusi uteri (pengecilan uteri oleh kontraksi uteri), pada
pola kognitif klien nifas primipara terjadi kurangnya pengetahuan merawat
bayinya

9) Pola persepsi dan konsep diri


Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih
menjelang persalinan dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep
diri antara lain dan body image dan ideal diri
10) Pola reproduksi dan sosial
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau
fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan
nifas.

f. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kontribusi rambut, warna
rambut, ada atau tidak adanya edem, kadang-kadang terdapat adanya
cloasma gravidarum, dan apakah ada benjolan.
2) Mata
Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata, konjungtiva, dan
kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses
persalinan yang mengalami perdarahan, sklera kunuing.
3) Telinga
Biasanya bentuk telinga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya,
adakah cairan yang keluar dari telinga.
4) Hidung
Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang
ditemukan pernapasan cuping hidung.
5) Leher
Pembesaran kelenjar limfe dan tiroid, adanya abstensi vena jugularis.
6) Dada dan payudara
Bentuk dada simetris, gerakan dada, bunyi jantung apakah ada bisisng usus
atau

tiak

ada.

Terdapat

adanya

pembesaran

payudara,

adanya

hiperpigmentasi areola mamae dan papila mamae


7) Abdomen
Pada klien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa nyeri.
Fundus uteri 3 jari dibawa pusat.

8) Ginetelia
Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila terdapat
pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan
menandakan adanya kelainan letak anak.
9) Anus
Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena ruptur, adanya
hemoroid.
10) Ekstermitas
Pemeriksaan odema untuk melihat kelainan-kelainan karena membesarnya
uterus, karenan preeklamsia atau karena penyakit jantung atau ginjal.
11) Tanda-tanda vital
Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun, nadi
cepat, pernafasan meningkat, suhu tubuh turun.
2. Diagnosa keperawatan yang sering muncul

a. Nyeri

akut

berhubungan

dengan

pelepasan

mediator

nyeri

(histamin,

prostaglandin) akibat trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea)


b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pada abdomen post operasi
SC
c. Resiko infeksi berhubungan dengan perdarahan, luka post operasi
d. Cemas berhubungan dengan koping yang tidak efektif
3. Rencana Tindakan
a. Diagnosa : Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin,
prostaglandin) akibat trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea)
Tujuan
: Klien akan mengungkapkan penurunan nyeri
Kriteria hasil:
- Mengungkapkan nyeri dan tegang di perutnya berkurang
- Skala nyeri 0-1 ( dari 0 10 )
- Dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri
- Kooperatif dengan tindakan yang dilakukan
- TTV dalam batas normal ; Suhu : 36-37C, TD : 120/80 mmHg, RR : 1820x/menit, Nadi : 80-100 x/menit
Tindakan
1) Kaji lokasi, sifat dan durasi nyeri, Menandakan

khususnya

saat

berhubungan tindakan.

dengan indikasi kelahiran sesaris.

Rasional
ketepatan

Klien

kelahiran

sesaria

mengalami

yang

pilihan
menunggu

iminen

berbagai

ketidaknyamanan,

tergantung

dapat
derajat
pada

indikasi terhadap prosedur.


2) Hilangkan

menghasilkan
kehilangan

factor-faktor

yang

ansietas

(mis;

control),

berikan

informasi akurat, dan anjurkan

Tingkat
individual

toleransi

ansietas

dan

dipengaruhi

adalah
oleh

berbagai faktor. Ansietas berlebihan


pada respon terhadap situasi darurat
dapat meningkatkan ketidaknyamanan

keberadaan pasangan.

karena rasa takut, tegang, dan nyeri


yang saling berhubungan dan merubah
kemampuan klien untuk mengatasi.
Dapat membantu dalam reduksi
3) Instruksikan

posisikan

teknik

relaksasi;

senyaman

mungkin.

ansietas

dan

ketegangan

dan

meningkatkan kenyamanan.

Gunakan sentuhan terapeutik.


10

b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pada abdomen post operasi
SC
Tujuan: Dalam 3 x 24 jam gangguan mobilitas fisik teratasi dengan kriteria hasil
klien mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri
c.

Tindakan
1) Kaji tingkat mobilitas dari klien

Rasional
1) Diharapkan dapat

mempermudah

pengobatan

ia

pemberian tindakan
selanjutnya
2) Diharapkan dapat

2) Motivasi klien untuk

melakukan mobilitas

secara

kenyamanan dan ambulasi.

bertahap
3) Pertahankan posisi tubuh yang

3) Dapatkan

tepat
4) berikandukungan dan bantuan kelu

4) Memampukan

arga/orang

terdekat pada

latihan gerak klien.

meningkatkan

g
n
os

meningkatkan posisi

fungsional pada tubuh klien.


keluarga/orang
terdekat untuk aktifitas
dalam perawatan

klien

perasaan senang dan nyaman pada


klien.
keperawatan
: Resiko infeksi berhubungan dengan perdarahan, luka post operasi
Tujuan umum :
Sel darah putih, suhu, nadi, tetap dalam batas normal.
Penyembuhan insisi terjadi dengan tujuan pertama ; uterus tetap lembut dan tidak
empuk dan lochia bebas dari bau.
Tindakan
Rasional
1) Angkat balutan verban abdomen 1) Memudahkan insisi untuk kering
sesuai indikasi

dan meningkatkan penyembuhan


setelah 24 jam pertama menjalani

2) Bantu sesuai keperluan dengan


mengangkat benang kulit

prosedur pembedahan.
2) Insisi biasanya sudah
sembuh

untuk

cukup

pengangkatan

benang pada 4-5 hari setelah


3) Anjurkan klien untuk mandi air
hangat setiap hari.

prosedur pembedahan.
3) Mandi sering diijinkan setelah hari
ke-2 menjalani prosedur kelahiran
caesarea

dapat

meningkatkan

kebersihan dan dapat merangsang


sirkulasi dan penyembuhan luka
11

4) Berikan oxytoksin atau preparat


ergometrium, beri infuse oksitoksin

4) Mempertahankan

kontraksi

yang sering dianjurkan secara rutin

miometrial oleh karena menurunya

untuk 4 jam setelah prosedur

penyebaran bakteri melalui dinding

pembedahan.

uterus,

5) Ambil darah vaginal dan kultur


urine bila infeksi dicurigai.

membantu

dalam

pengeluaran bekuan dan selaput.


5) Bekterimial lebih sering pada ibu
yang mengalami ruptur membrane
untuk 6 jam atau lebih lama dari
pada

klien

membran

yang

tetap

menjalani

mempunyai

utuh

kelahiran

sebelum
caesarea,

pemasangan kateter tidak tetap,


mempredisposisi
6.

Berikan infus antibiotik profilaksis.

klien

untuk

kemungkinan infeksi.
6) Menurunkan
/
mengurangi
kemungkinan
partum

endometritis

sebagaimana

post
halnya

dengan komplikasi seperti abses


insisi atau trombophlebitis pelvis.

d. Diagnosa : Cemas b/d koping yang tidak efektif.


Tujuan : Cemas berkurang
Kriteria hasil Klien akan ;
- Mengungkapkan rasa takut pada keselamat klien dan janin
- Mendiskusikan perasaan tentang kelahiran sesaria
- Tampak benar-benar rileks
- Menggunakan sumber atau sistem pendukung secara efektif

12

Tindakan
1) Kaji

respons

psikologis

Rasional
pada Makin klien

merasakan

ancaman,

kejadian dan ketersediaan system makin besar tingkat ansietas.


pendukung.
2) Pastikan
apakah
direncanakan

atau

prosedur
tidak

Pada kelahiran sesaria yang tidak


direncanakan, klien/pasangan biasanya
tidak

direncanakan.

mempunyai

waktu

untuk

persiapan secara psikologis maupun


fisiologis. Bahkan bila direncanakan,
kelahiran

sesaria

ketakutan

dapat

membuat

klien/pasangan

karena

ancaman fisik aktual atau dirasakan


pada ibu dan bayi yang berhubungan
dengan prosedur dan pembedahan itu

3) Tetap bersama klien dan tetap

tenang.

Bicara

perlahan.

Tunjukkan empati.
4) Beri penguatan aspek positif dari

sendiri.
Membantu

membatasi

ansietas

interpersonal,

transmisi
dan

mendemonstrasikan perhatian terhadap


klien/pasangan.
Memfokuskan

pada

kemungkinan

keberhasilan hasil akhir dan membantu

ibu dan kondisi janin.

membawa ancaman yang dirasakan /


aktual ke dalam perspektif.

Mendukung mekanisme koping dasar


5) Dukung/arahkan

mekanisme

kembali
koping

yang

dan

otomatik,

meningkatkan

kepercayaan diri dan penerimaan, dan


menurunkan ansietas
Klien dapat mengalami penyimpangan

diekspresikan
6) Diskusikan pengalaman / harapan

memori dari melahirkan masa lalu atau

kelahiran anak pada masa lalu, bila

persepsi

tidak

realistis

dari

tepat.

abnormalitas kelahiran sesaria yang


akan meningkatkan ansietas.

7) Berikan masa privasi. Kurangi

rangsang

lingkungan,

seperti

jumlah orang yang ada, sesuai


indikasi keinginan klien.

Memungkinkan

kesempatan

klien/pasangan

untuk

menginternalisasi
Menyusun

bagi

informasi.

sumber-sumber,

mengatasi dengan efektif

dan

13

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini. 2008. Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Post Sectio Caesaria. Surakarta :
UMS.
Gulardi , Wiknjosastro, Hanifa, 2006, Ilmu Kebidanan, Edisi Ketiga, Jakarta : YBP-SP.
Mansjoer, Arif, 2002, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Aesculapius.
Prawirohardjo, Sarwono. 2009. . Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT.Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Wiknjosastro. 2010. Buku panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,
Edisi 1. Cet. 12. Jakarta : Bina Pustaka.

14

Anda mungkin juga menyukai