Anda di halaman 1dari 28

Makalah Akuntansi Forensik dan Audit Investigasi

FRAUD DAN KORUPSI

Disusun Oleh
Chairanisa Natasha Miraza

(1301103010021)

Cut Inyatul Maulida

(1301103010062)

Ikhsan Riansa

(1301103010080)

Natasya Putri

(1301103010075)

Raudhatul Jannah

(1301103010037)

Wiladatika

(1301103010034)

UNIVERSITAS SYIAH KUALA


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
BANDA ACEH
2016

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang maha esa karena rahmat dan hidayah-nya, kami
dapat menyelesaikan makalah Fraud dan Korupsi.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen yang telah memberikan bekal
ilmu dan membimbing kami dalam mata kuliah Akuntansi Forensik dan Audit
Investigasi.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca. Untuk kesempurnaan
makalah ini kami mohon kritik dan saran agar lebih baik kedepannya. Sekian dan
terimakasih.

DARUSSALAM, 05 OKTOBER 2016

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................

DAFTAR ISI................................................................................................

ii

BAB 6 FRAUD............................................................................................

FRAUD DALAM PERUNDANGAN KITA..........................................

FRAUD DALAM KUHP........................................................................

FRAUD TREE........................................................................................

AKUNTAN FORENSIK DAN JENIS FRAUD.....................................

MANFAAT FRAUD TREE....................................................................

PRESSURE.............................................................................................

10

PERCEIVED OPPORTUNITY..............................................................

13

RATIONALIZATION.............................................................................

14

REPORT TO THE NATION...................................................................

15

BAB 7 KORUPSI........................................................................................

19

PENDEKATAN SOSIOLOGI.................................................................

19

DELAPAN PERTANYAAN TENTANG KORUPSI .............................

20

KORUPSI TINJAUAN SOSIOLOGI .................................................

23

KORUPSI TIJAUAN SOSIOLOGI ADITJONDRO...........................

23

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................

25

BAB 6
FRAUD
PENGANTAR

Pertanyaan yang sering timbul, mengapa manusia melakukan fraud? Atau


dalam konteks Indonesia, mengapa pejabat penting dengan kedudukan dan
penghasilan tinggi (termasuk guru besar universitas ternama dan pimpinan LSM yang
mempunyai misi memberantas korupsi) justru terlibat dalam tindakan korupsi.
Jawaban sederhana menjelaskan korupsi karena:corruption (atau fraud) by
need, by greed, and by opportunity atau dalam bahasa Indonesi (Korupsi karena
kebutuhan, karena serakah dan karena ada peluan). Maka pada pembahasan kali ini
akan memanfaatkan hasil penelitian Donald R. Cressey untuk menjawab pertanyaan
tersebut.

FRAUD DALAM PERUNDANGAN KITA


Pengumpulan dan pelaporan statistik tentang kejahatan di suatu Negara dapat
dilakukan sesuai dengan klasifikasi kejahatan dan pelanggaran (tindak pidana)
menurut ketentuan perundang-undangan Negara tersebut. Dalam Statistik Kejahatan
Indonesia yang dilaporkan oleh BPS tidak selalu tersedia dalam format yang sama,
istilah kejahatan yang dipergunakan sering kali juga tidak konsisten, dan tidak terlalu
bermanfaat untuk pembahasan akuntansi forensik.
Dalam membaca dan menggunakan statistik kejahatan di Indonesia, perlu
diingat bahwa masih rendahnya kesadaran untuk melaporkan kejahatan. Banyak
faktor yang menyebabkan masyarakat enggan melaporkan kejahatan. Di antaranya,
tercermin dari ungkapan sehari-hari yang sederhana. Oleh karena itu, beberapa kajian
luar negeri tentang data kejahatan di Indonesia memberi peringatan crimes may be
unreported.
FRAUD DALAM KUHP
Beberapa pasal dalam KUHP yang mencakup pengertian Fraud :
1. Pasal 362 tentang pencurian (definisi KUHP: mengambil barang sesuatu, yang
seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki
secara melawan hukum);
2. Pasal 368 tentang Pemerasan dan pengancaman (definisi KUHP: dengan
maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan

hukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk


memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan
orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan
piutang);
3. Pasal 372 tentang penggelapan (definisi KUHP: dengan sengaja dan melawan
hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan
orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan);
4. Pasal 378 tentang perbuatan curang (definisi KUHP: dengan maksud untuk
menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan
memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun
rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang
sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan
piutang);
5. Pasal 396 tentang merugikan pemberi piutang dalam keadaan pailit;
6. Pasal 406 tentng menghancurkan dan Merusak Barang (definisi KUHP: dengan
sengaja atau melawan hukum menghancurkan, merusakkan, membikin tak layak
dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian
barang orang lain) ;
7. Pasal 209, 210, 387, 388, 415, 417, 418, 419, 420, 423, 425 dan 435 yang secara
khusus diatur dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
(Undang-Undang Nomor 31 Tahun 199).

Di samping KUHP juga ada ketentuan perundang-undangan lain yang


mengatur perbuatan melawan hukum yang termasuk dalam ketegori fraud, seperti
undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, dan berbagai undangundang perpajakan yang mengatur tindak pidana perpajakan.

FRAUD TREE (POHON FRAUD)


Secara skematis, Assosiation of Certified Fraud Examiners (ACFE)
menggambarkan

occupational

fraud

dalam

bentuk

fraud

tree.

Pohon

ini

menggambarkan cabang-cabang dari fraud dalam hubungan kerja, beserta rantinf dan
anak rantingnya.
Occupational fraud tree ini mempunyai tiga cabang utama, yakni corruption,
asset misappropriation, dan fraudulent statements.
4

Corruption
Istilah corruption disini serupa tetapi tidak sama dengan istilah korupsi dalam
ketentuan perundangan kita. Korupsi menurut UU No. 31 tahun 1999 meliputi 30
tindak pidana korupsi dan 4 bentuk dalam ranting-ranting: conflicts of interest,
bribery, illegal gratuities, economics extortion.
Conflicts of interest atau benturan kepentingan diantaranya dapat berupa
bisnis plat merah atau bisnis pejabat dan keluarga serta kroni mereka yang menjadi

pemasok atau rekanan di lembaga-lembaga pemerintah dan di dunia bisnis. Ciri-ciri


mereka menjadi pemasok :
1. Selama bertahun-tahun. Bukan saja selama pejabat tersebut berkuasa. Melalui
kontrak jangka panjang, bisnis berjalan terus meskipun pejabat tersebut sudah
lengser
2. Nilai kontrak relatif mahal ketimbang kontrak yang dibuat dalam arms length.
Dalam bahasa sehari-hari disebut juga dengan mark up atau
penggelembungan.
3. Para rekanan ini, meskipun hanya sefelintir, mengusai pangsa pembelian yang
relatif sangat besar dalam lembaga tersebut.
4. Kemenangan dalam proses tender dicapai dengan cara-cara tidak wajar.
5. Hubungan antara penual dan pembeli lebih dari hubungan bisnis. Pejabat atau
penguasa bisa menggunakan sanak saudaranya (nepotisme) sebgai rang
depan atau ada persekongkolan (kolusi) yang melibatkan penyuapan.
Bisnis yang mengandung benturan kepentingan sering disamarkan dengan kegiatan
sosial-keagamaan dan muncul dalam bentuk yayasan-yayasan.
Bribery atau penyuapan merupakan bagian yang akrab dalam kehidupan bisnis
dan politik Indonesia.Kickbacks merupakan salah satu bentuk penyuapan di mana si
penjual mengikhlaskan sebagian dari hasil penjualannya. Persentase yang
dihasilkan itu bisa diatur dimuka, atau diserahkan sepenuhnya kepada keikhlasan
penjual. Kickback berbeda dengan bribery. Dalam bribery

pemberinya tidak

Mengorbankan suatu penerimaan. Misalnya, apabila seseorang menyuap atau


menyogok sesorang penegak hukum, ia mengharapkan keringanan hukuman. Dalam
contoh kickback tersebut pemberinya menerima keuntungan materi. Dalam kickback,
si pembuat keputusan atau yang dapat mempengaruhi pembuatan keputusan dapat
mengancam sang rekanan. Ancaman ini bisa terselubung tetapi tidak jarang pula
dilakukan secara terbuka. Ancaman ini bisa merupakan pemerasan (economic
excortion).
Bid Rigging merupakan permainan tender, Illegal Gratuities adalah pemberian
atau hadiah yang merupakan bentuk terselubung dari penyuapan. Dalam kasus
korupsi di Indonesia kita dapat melihat hal ini dalam bentuk hadiah perkawinan,
hadiah ulang tahun, hadiah perpisahan, hadiah kenaikan pangakat dan jabatan, dan
lain-lainyang diberikan kepada pejabat.
6

Aset Misappropriation
Aset misappropriation atau pengambilan aset secara ilegal dalam bahasa
sehari-hari disebut mencuri. Di dalam istilah hukum, mengambil aset secara ilegal
(tidak sah, atau melawan hukum) yang dilakukan oleh seseorang yang diberi
wewenang untuk mengelola atau mengawasi aset tersebut, disebut menggelapkan.
Istilah pencurian, dalam fraud tree disebut larceny. Istilah penggelapan dalam bahasa
Inggris nya adalah embezzlement.
Aset misappropriation dalam bentuk penjarahan kas atau cash appropriation
dilakukan dalam tiga bentuk :skimming, larceny, fraudulent disbursements.
Klasifikasi penjarahan kas dalam tiga bentuk disesuaikan dengan arus uang masuk.
Dalam skimming, uang dijarah sebelum uang tersebut secara fisik masuk ke
perusahaan. Cara ini terlihat dalam dalam fraud yang sangat dikenal para auditor,
yakni lapping. Kalau uang sudah masuk kedalam perusahaan dan kemudian baru
dijarah, maka fraud ini disebut larceny atau pencurian. Sekali arus uang sudah
terekam dalam (atau sudah masuk ke) sistem, maka penjarahan ini disebut fraudulent
disbursements yang lebih dekat dengan istilah penggelapan.
Penjarahan atas dana-dana yang tidak masuk ke perusahaan secara fisik atau
secara administratif, dengan cara menghimpun dana-dana tersebut dari berbagai
sumber, misalnya komisi resmi dari perusahaan asuransi atau kickback dari penyuplai.
Dana-dana ini disebut dana taktis; dalam bahasa Belanda, tactishe fonds; dalam
bahasa Inggris, slush funds. Dalam fraud tree, baik pembentukan maupun pengeluaran
dari dana taktis ini didefinisikan sebagai corruption bukan asset misappropriation.
Corruption seperti ini mengandung ciri skimming.
Larceny atau pencurian adalah bentuk penjarahan yang paling kuno dan
dikenal sejak awal peradaban manusia. Peluang untuk terjadinya penjarahan jenis ini
berkaitan erat dengan lemahnya sistem pengendalian intern, khususnya yang
berkenaan dengan perlindungan keselamatan aset (safeguarding of assets).
Pencurian melalui pengeluaran yang tidak sah (fraudulent disbursements)
sebenarnya satu langkah lebih jauh dari pencurian. Sebelum tahap pencurian, ada

tahap perantara. Terdapat lima kolom (sub ranting) pada fraudulent disbursements,
yaitu :billing schemes, payroll schemes, expense reinbursement schemes, check
tampering, dan register disbursements.
Billing schemes adalah skema permainan (schemes) dengan menggunakan
proses billing atau pembebanan tagihan sebagai sarananya. Pelaku fraud dapat
mendirikan perusahaan bayangan (shell company) yang seolah-olah merupakan
penyuplai atau rekanan atau kontraktor sungguhan. Perusahaan bayangan ini
merupakan sarana untuk mengalirkan dana secara tidak sah ke luar perusahaan.
Payroll schemes adalah skema permainan melalui pembayaran gaji. Bentuk
permainannya antara lain dengan pegawai atau karyawan fiktif (ghost employee) atau
dalam pemalsuan jumlah gaji. Jumlah gaji yang dilaporkan lebih besar dari gaji yang
dibayarkan.
Expense

reinbursement

schemes

adalah

skema

permainan

melalui

pembayaran kembali biaya-biaya, misalnya biaya perjalanan. Seorang pemasar


mengambil uang muka perjalanan, dan sekembalinya dari perjalanan, ia membuat
perhitungan biaya perjalanan. Kalau biaya perjalanan melampaui uang muka nya, ia
meminta reinbursement atau penggantian. Ada beberapa skema permainan melalui
mekanisme reinbursement ini. Rincian biaya menyamarkan jenis pengeluaran yang
sebenarnya (mischaracterized expense).
Check tampering adalah sekema permainan melalui pemalsuan cek. Hal yang
dipalsukan bisa tanda tangan orang yang mempunyai kuasa mengeluarkan cek, atau
endorsemennya, atau nama kepada siapa cek dibayarkan, atau cek nya disembunyikan
(concealed checks).
Register disbursments adalah pengeluaran yang sudah masuk dalam cash
register. Skema permainan melalui register disbursements pada dasarnya ada dua,
yakni false refunds (pengembalian uang yang dibuat-buat) dan false voids
(pembatalan palsu).
Dalam false refund ada berbagai cara penggelapan, di antaranya, penggelapan
dengan seolah-olah ada pelanggan yang mengembalikan barang, dan perusahaan
memberikan refund. False voids hampir sama dengan false refund. Hal yang
8

dipalsukan disini adalah pembatalan penjualan. Penjualan yang sudah terekam di pita
cash register dibatalkan, seolah-olah pembeli urung melakukan pembelian. Jumlah
yang sudah diterima perusahaan seolah-olah juga dibatalkan.
Skimming merupakan penjarahan sebelum uang secara fisik masuk ke
perusahaan. Contoh yang sangat populer adalah praktik gali lubang tutup lubang
dalam penagihan piutang (lapping). Contoh lain, piutang dihapusbukukan, namun
tetap ditagih dari pelanggan. Hasil tagihan tidak masuk ke perusahaan, dan dijarah
oleh si penagih.
Sasaran lain dari penjarahan adalah persediaan barang (inventory). Dalam
situasi tertentu, persediaan barang menjadi barang menarik untuk dijadikan sasaran
pencurian. Contoh, penjualan BBM bersubsidi secara ilegal pada waktu ada
disparsitas harga yang tinggi antara BBM bersubsidi dan yang tidak.Aset lainnya
(yang bukan kas dan inventory) juga bisa menjadi sasaran adalah aset tetap, misalnya
kendaraan bermotor yang dimiliki perusahaan.
Modus operan di dalam penjarahan aset yang bukan uang tunai atau uang di
bank adalah misuse da larceny. Misuse adalah penyalahgunaan, misalnya
penggunaan kendaraam bermotor perusahaan atau aset tetap lainnya untuk keperluan
pribadi. Contoh, alat transportasi perusahaan atau lembaga pemerintah yang dipakai
untuk mengangkut barang-barang pribadi atau inventaris kantor atau instansi
pemerintah yang dipinjam selama seseorang memegang jabatan (misuse) dan tidak
mengembalikan nya sesudah ia tidak lagi menjabat (larceny).
Fraudulent Statement
Cabang dan ranting yang menggambarkan fraud yang diberi label Fraudulent
Statements dapat dilihat di sisi kanan dari fraud tree. Jenis fraud ini sangat dikenal
oleh auditor yang melakukan general audit (opinion audit). Fraud yang berkenaan
dengan penyajian laporan keuanga, sangat menjadi perhatian auditor, masyarakat atau
para LSM/NGO, namun tidak menjadi perhatian akuntan forensik.
Ranting pertama menggambarkan fraud dalam menyusun laporan keuangan.
Fraud

ini

berupa

salah

saji

(misstatements

baik

overstatements

maupun

understatements). Cabang dari ranting ini ada dua. Pertama, menyajikan aset atau
pendapatan lebih tinggi dari yang sebenarnya (aset/revenue understatements). Kedua,

menyajikan aset atau pendapatan lebih rendah dari yang sebenarnya (aset/revenue
understatements).
Ranting kedua menggambarkan fraud dalam menyusun laporan non-keuangan.
Fraud ini berupa penyampaian laporan non-keuangan secara menyesatkan, lebih
bagus dari keadaan yang sebenarnya, dan sering kali merupakan pemalsuan atau
pemutarbalikan keadaan. Bisa tercantum dalam dokumen yang dipakai untuk
keperluan intern maupun eksteren. Contoh, perusahaan minyak besar didunia yang
mencantumkan cadangan minyak nya lebih besar secara signifikan dari keadaan yang
sebenarnya apabila diukur dengan standar industrinya.
AKUNTAN FORENSIK DAN JENIS FRAUD
Dari tiga cabang fraud tree, yakni corruption, misappropriation of asset, dan
fraudulent statements. Akuntan forensik memusatkan perhatian pada dua cabang
pertama. Cabang fraudulent statements menjadi pusat perhatian dalam audit atas
laporan keuangan (general audit atau opinion audit).
Akuntan forensik atau audit investigatif hampir tidak pernah menyentuh fraud
yang

menyebabkan

laporan

keuangan

menjadi

menyesatkan,

dengan

dua

pengecualian.Pertama, ketika regulator seperti Bapepam, Securities and Exchange


Commission, atau Financial Services Authority (OJK, Otoritas Jasa Keuangan)
mempunyai dugaan kuat bahwa laporan audit suatu kantor akuntan publik
mengandung kekeliruan yang serius (atau kantor akuntan publik yang bersangkutan
mengakui hal tersebut). Regulator dapat meminta kantor akuntan lain melakukan
pendalaman, atau mereka sendiri melakukan penyidikan. Dalam hal ini akuntan
forensik melakukan audit investigatif.Mengapa? Kasusnya bisa dibawa ke pengadilan
atau diselesaikan di luar pengadilan dan auditnya harus lebih luas dan mendalam
karena harus jelas siapa yang bertanggungjawab untuk hal apa.
Kedua, ketika fraudulent statements dilakukan dengan pengolahan data secara
elektronis, terintegrasi, dan besar-besaran atau penggunaan komputer yang dominan
dalam penyiapan laporan. Selain pertimbangan penyelesaian kasus di dalam atau
diluar pengadilan, juga ada pertimbangan diperlukannya keahlian khusus, yakni
computer forensics.

10

MANFAAT FRAUD TREE


Fraud tree yang dibuat ACFE sangat bermanfaat. Fraud tree memetakan fraud
dalam lingkungan kerja. Peta ini membantu akuntan forensik mengenali dan
mendiagnosis fraud yang terjadi. Ada gejal-gejala penyakit fraud yang dalam
auditing dikenal sebagai red flags. Dengan memahami gejala-gejala ini dan
menguasai teknik-teknik audit investigatif, akuntan forensik dapat mendeteksi fraud
tersebut.
Kondisi kita yang berbeda dengan kondisi di Amerika Serikat dapat menjadi
alasan untuk tidak sepenuhnya mengikuti fraud tree diatas. Koruptor atau pelaku fraud
di Indonesia sering kali lebih kreatif. Juga iklim bisnis dan pemerintahan yang
koruptis mengharuskan akuntan forensik berpikir mengenai dunia nyatanya. Akuntan
forensik sebaiknyamembuat sendiri fraud tree atau peta dari tindak pidana yang
diperiksanya.
Fraud Triangle
Bermula dari penelitian Donald R. Cressey yang tertarik pada embezzlers
yang disebutnya trust violators atau pelanggra kepercayaan, yakni mereka yang
melanggar kepercayaan atau amanah yang dititipkan kepada mereka. Penelitian nya
diterbitkan dengan judul Other Peoples Money : Study in the Social Psychology of
Embezzlement.
PERCEIVED OPPORTUNITY
FRAUD
TRIANGLEE

PRESSURE

RATIONALIZATION

Dalam perkembangan selanjutnya, hipotesis dari penelitian tersebut dikenal


sebagai fraud triangle atau segitiga fraud.Sudut pertama dari segitiga itu diberi judul
pressure yang merupakan perceived non-shareable financial need. Sudut keduanya,
perceived opportunity. Sudut ketiga, rationalization.

PRESSURE
Penggelapan uang perusahaan oleh pelakunya bermula dari suatu tekanan
(pressure) yang menghimpitnya. Orang ini mempunyai kebutuhan keuangan yang
mendesak, yang tidak dapat diceritakan nya kepada orang lain. Konsep yang penting
di sini adalah, tekanan yang menghimpit hidupnya (berupa kebutuhan akan uang),
padahal ia tidak bisa berbagi (sharing) dengan orang lain. Konsep ini di dalam bahasa
inggris disebut perceived non-shareable financial need.
Cressey menjelaskan, ketika para pelanggar kepercayaan ini ditanya:
mengapa di waktu yang lalu anda tidak melanggar kepercayaan yang diberikan terkait
dengan kedudukan-kedudukan anda terdahulu, atau mengapa anda tidak melangar
kepercayaan (trust) lainnya yang terkait dengan kedudukan anda sekarang? Umumnya
jawaban mereka adalah salah satu diantara: (a) ketika itu belum ada kebutuhan (yang
mendesak) seperti sekarang, atau (b) belum pernah terpikir untuk melakukan hal itu
sebelumnya, atau (c) diwaktu yang lalu saya mengganggap perbuatan itu tidak jujur,
tapi kali ini tidak demikian halnya.
Bagi pelaku atau (embezzler), ia tidak bias berbagi masalah (keuangannya)
dengan orang lain, padahal sebenarnya berbagi masalah dengan orang lain dapat
membantunya mencari pemecahan. Apa yang bisa diceritakan kepada orang lain
tentunya tergantung pada orang tersebut. Ada orang yang kehilangan uang dalam
jumlah besar di meja judi dan ia menyadari sebagai suatu masalah, tetapi bukan
masalah yang tidak dapat diceritakannya kepada orang lain. Orang lain dengan
pengalaman yang sama menganggap masalah itu harus dirahasiakan dengan bersifat
pribadi. Juga masalah yang dihadapi suatu bank, bagi bankir tertentu merupakan
masalah yang didiskusikannya dengan orang lain, sedangkan bagi bankir lain masalah
itu harus ditutup rapat-rapat, atau mencari masalah yang non shareable baginya.
Masalah tadi digambarkan sebagai masalah keuagan karena masalah ini dapat
dipecahkan dengan mencuri uang atau asset lainnya. Seorang penjudi yang kalah
habis-habisan, (merasa) harus menutup kekalahannya dengan mencuri. Namun,
Cressey mencatat bahwa ada masalah non keuangan tertentu yang dapat diselesaikan
dengan mencuri uang atau asset lainnya, jadi dengan melanggar kepercayaan yang
terkait dengan kedudukannya. Contoh: kasir yang mencuri uang perusahaan sebagai
balas dendam atas perlakuan tidak adil yang dirasakannya.
12

Dari penelitiannya, Cressey menemukan bahwa non-shareable problem timbul


dari situasi yang dapat dibagi dalam enam kelompok:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

violation of ascribed obligation


problems resulting from personal failure
business reversals
physical isolation
status gaining
employer-employee relation
Keenam kelompok situasi tersebut, pada dasarnya berkaitan dengan upaya

memperoleh status lebih tinggi atau mempertahankan status yang sekarang dipunyai.
Dengan lain perkataan, non shareable problems mengancam status orang itu, atau
merupakan ancaman baginya untuk meningkatkan ke status yang lebih tinggi dari
statusnya pada saat pelanggaran terjadi.
Violation of Ascribed Obligation
Suatu kedudukan atau jabatan dengan tanggung jawab keuangan, membawa
konsekuensi tertentu bagi yang bersangkutan dan juga menjadi harapan atasan atau
majikannya. Di samping harus jujur, ia dianggap perlu memiliki perilaku tertentu.
Orang dalam jabatan seperti itu merasa wajib menghindari perbuatan yang dapat
merendahkan martabatnya. Inilah kewajiban yang terkait dengan jabatan yang
dipercayakan kepadanya, ini adalah ascribed obligation baginya. Kalaui ia
menghadapi situasi yang melanggar kewajiban terkait dengan jabatannya, ia merasa
masalah yang dihadapinya tidak dapat diungkapkannya kepada orang lain.
Problems Resulting from Personal Failure
Kegagalan pribadi juga merupakan situasi yang dipersepsikan oleh orang yang
mempunyai kedudukan serta dipercaya dalam bidang keuangan, sebagai kesalahan
nya menggunakan akal sehatnya, dan karena itu menjadi tanggungjawab pribadinya.
Seorang pengacara yang kehilangan tabungan hasil kerjanya bertahun-tahun.
Ia menderita rugi karena menanamkan uang nya dalam bisnis yang bersaing dengan
bisnis para pelanggannya. Ia percaya, kalau ia mengungkapkan masalahnya kepada
para pelanggannya, mereka akan bersedia membantu. Namun, ia merasa tidak mampu

mengungkapkan masalah tersebut karena telah menghianati para pelanggannya


dengan berusahan dalam bisnis rahasia yang bersaingan dengan mereka. Ia bahkan
tidak berani mengungkapkan kerugian tersebut kepada istrinya, dan memilih mencuri
uang perusahaan.Ia takut kehilangan status nya sebagai orang yang dipercaya dalam
bidang keuangan, karena itu ia takut mengakui kegagalannya. Kehormatan pada diri
sendiri menjadi awal kejatuhannya.
Business Reversals
Cressey menyimpulkan bahwa kegagalan bisnis merupakan kelompok situasi
yang juga mengarah kepada non-shareable problem. Masalah ini berbeda dari
kegagalan pribadi yang dijelaskan diatas, karena pelakunya merasa bahwa kegagalan
itu berasal dari luar dirinya atau luar kendalinya. Dalam persepsinya, kegagalan itu
karena inflasi yang tinggi, atau krisis moneter, tingkat bunga yang tinggi, dan lainlain.

Physical Isolation
Situasi ini dapat diterjemahkan sebagai keterpurukan dalam kesendirian.
Dalam situasi ini, orang itu bukan tidak mau berbagi keluhan dengan orang lain. Ia
tidak mempunyai orang lain tempat ia berkeluh dan mengungkapkan masalahnya.
Status Gaining
Situasi ini tidak lain dari kebiasaan buruk untuk tidak mau kalah dengan
tetangga. Orang lain punya harta tertentu, ia juga harus seperti itu atau lebih dari
itu. Orang lain punya jabatan tertentu, ia juga harus punya jabatan seperti itu atau
bahkan lebih baik. Dalam situasi yang dibahas di atas, pelaku berusaha
mempertahankan status. Di sini, pelaku bersedia meningkatkan statusnya.
Cressy mencatat, masalahnya menjadi non-shareable ketika orang itu
menyadari bahwa ia tidak mampu secara financial untuk naik ke status itu, untuk
menikmati simbol-simbol keistimewaan yang dijanjikan status itu secara wajar dan
14

sah, dan pada saat yang sama ia tidak bisa menerima kenyataan untuk tetap berada
dalam status itu, apalagi kalau harus turun status.
Employer-Employee Relation
Situasi ini mencerminkan kekesalan (atau kebencian) seorang pegawai yang
menduduki jabatan yang dipegangnya sekarang, tetapi pada saat yang sama ia merasa
tidak ada pilihan baginya, yakni ia tetap harus menjalankan apa yang dikerjakannya
sekarang.
Menurut Cressey, masalah yang diahadapi orang menjadi non-shareable
karena kalau ia mengusulkan solusi untuk masalah yang dihadapinya, ia khawatir
statusnya di organisasi itu menjadi terancam. Juga ada motivasi yang kuat baginya
untuk membuat perhitungan dengan majikannya ketika ia merasa diperlakukan
tidak adil.
PERCEIVED OPPORTUNITY
Cressey berpendapat, ada dua komponen dari persepsi tentang peluang.
Pertama, general information, yang merupakan pengetahuan bahwa kedudukan yang
mengandung trust atau kepercayaan, dapat dilanggar tanpa konsekuensi. Pengetahuan
ini diperoleh dari apa yang dia dengar atau lihat, misalnya dari pengalaman orang lain
yang melakukan fraud dan ketidak tahuan atau tidak dihukum atau terkena sanksi.
Kedua,

technical

sklill

atau

keahlian/ketrampilan

yang

dibutuhkan

untuk

melaksanakan kejahatan tersebut. Ini biasanya keahlian atau keterampilan yang


dipunyai orang itu dan yang menyebabkan ia mendapat kedudukan tersebut.General
information dan technical skills yang dibahas Cressey bukan semata-mata dipunyai
oleh orang yang punya kedudukan, pegawai biasa juga mempunyainya. Namun,
mereka yang mempunyai posisi dengan kepercayaan di bidang keuangan, ketika
menghadapi non-shareable financial problem, akan melihat general information dan
technical skills sebagai jalan keluar dari masalah itu. Posisi mereka yangmendapat
kepercayaan atau trust, khususnya di bidang keuangan, memungkinkan mereka
memanfaatkan general information dan technical skills yang mereka miliki.
RATIONALIZATION

Rationalization (rasionalisasi), dapat dikatakan sebagai usaha untuk mencari


pembenaran sebelum melakukan kejahatan, bukan sesudahnya. Biasanya secara naluri
alamiah ketika kejahatan telah dilakukan, rationalization ini ditinggalkan. karena tidak
diperlukan lagi. Pertama kali manusia akan berbuat kejahatan atau pelanggaran, ada
perasaan tidak enak. contohnya :ketika kita mengulanginya perbuatan itu menjadi
mudah, dan selanjutnya menjadi biasa. Ketika akan mencuri uang perusahaan untuk
pertama kalinya, pembenarannya adalah: "nanti kubayar, nanti kuganti". Sekah si
pelaku sukses, mencuri secara berulang kali, ia tidak memerlukan rationalization
semacam itu.
Kejahatan Kerah Putih
Kejahatan kerah putih adalah terjemahan untuk istilah yang sangat dikenal
dalam bahasa Inggris, yakni white-collar crime. Istilah ini dikenalkan oleh Edwin H.
Sutherland.kejahatan kerah putih merupakan kejahatan kelas atas, kelas manusia
berkerah putih yang terdiri atas orang-orang bisnis dan profesional terhormat, atau
paling tidak, dihormati.Kejahatan kerah putih terbatas pada kejahatan yang dilakukan
dalam lingkup jabatan mereka.Kamus terbitan the Federal Bureau of Justice Statistics
(Dictionary of Criminal Justice Data Terminology) mendefinisikan white-collar
crime sebagai:
"nonviolent crime for financial gain committed by means of deception by persons
whose occupational status is entrepreneurial, professional or semi-professional
and utilizing their special occupational skills and opportunities; also nonviolent
crime for financial gain utilizing deception and committed by anyone having
special technical and professional knowledge of business and government,
irrespective of the person's occupation."

"Kejahatan tanpa kekerasan demi keuntungan keuangan yang dilakukan dengan


penipuan oleh orang yang pekerjaannya adalah wiraswasta, profesional atau semi
profesional dan yang memanfaatkan keahlian dan peluang yang diberikan oleh
jabatannya; juga kejahatan tanpa kekerasan demi keuntungan keuangan yang
dilakukan dengan penipuan oleh orang yang mempunyai keahlian khusus dan
pengetahuan profesional mengenai bisnis dan pemerintahan, meskipun ia tidak terkait
dengan pekerjaannya.".
Ada suatu definisi lain juga yang diusulkan oleh Albert J. Reiss, Jr. dan Albert
Biderman, yaitu :

16

"White-collar crime violations are those violations of law to which penalties are
attached that involve the use of a violator's position of economic power, influence,
or trust in the legitimate economic or political institutional order for the purpose
of illegal gain, or to commit an illegal act for personal or organizational gain."

"Pelanggaran kerah putih adalah pelanggaran terhadap hukum yang terkena sanksi
tertentu dan yang meliputi pemanfaatan kedudukan pelakunya yang mempunyai
kekuasaan ekonomi, pengaruh, atau kepercayaan dalam lembaga-lembaga yang
sebenarnya mempunyai legitimasi ekonomi dan politik namun disalahgunakan untuk
keuntungan ilegal atau untuk melakukan kegiatan ilegal demi keuntungan pribadi atau
organisasi."
REPORT TO THE NATION
Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) secara berkala menerbitkan
kajiannya mengenai fraud di Amerika Serikat. Laporan ACFE terakhir mengenai hal
ini dikenal dengan nama Report to the Nation on Occupational Fraud and Abuse.
Meskipun Report to the Nation adalah untuk, dari, dan berkenaan dengan Amerika
Serikat, Namun di dalamnya ada informasi tertentu yang bermanfaat bagi akuntan
forensik (fraud examiners).ACFE mensurvei dengan carasurvey online secara terbuka
kepada Certifed Fraud Examiners (CFEs) dengan jangka waktu satu tahun. sebagai
bagian dari survey, responden di minta untuk menyajikan sebuah naratif yang detail
tentang kasus fraud yang terbesar yang pernah mereka tangani/ investigasi dalam
kurun waktu tertentu, Kasus tersebut harus memenuhi 4 kriteria yaitu :
1. Kasus harus berhubungan atau melibatkan Occupational Fraud (didefinisikan
sebagai Fraud secara internal, atau fraud yang dilakukan oleh seseorang yang
di dalam organisasi)
2. Kasus dan investigasi yang dilakukan oleh CFEs haruslah terjadi dalam kurun
waktu survey.
3. Investigasi dari kasus tersebut haruslah sudah selesai pada kurun waktu
survey.
4. CFEs haruslah telah yakin dengan pelaku kejahatan yang telah di identifikasi.
Responden juga di berikan lebih kurang 85 pertanyaan untuk dijawab terkait
dengan kasus yang mereka sajikan tersebut. termasuk dengan informasi si pelaku
kejahatan, korban di dalam organisasi, dan metode yang digunakan untuk melakukan
fraud serta tentang kecenderungan fraud secara menyeluruh. untuk menguji

profesionalitas ACFE hanya mengirimkan kepada CFEs tertentu yang dianggap baik
pada kurun waktu survey dilakukan dan ACFE meminta responden (yakni CFEs)
untuk menyajikan beberapa informasi mengenai pengalaman mereka,
profesionalitas mereka sehingga ACFE tahu siapa yang sedang terlibat untuk
mengatasi kasus yang dikirimkan kepada mereka.
Berikut merupakan responden di dalam Report to the Nation on Occupational Fraud
and Abuse tahun 2012 :

dari table di atas dapat disimpulkan bahwa rata-rata responden adalah Fraud
Examiner/ Investigator dan Responden rata-rata memiliki pengalaman kerja sebagai
professional di bidangnya selama 11 tahun.

Di dalam Report to the Nation on Occupational Fraud and Abuse tahun 2012,
dapat disimpulkan bahwa Fraud dapat terdeteksi dengan adanya informasi (yang

18

dibeikan oleh karyawan, konsumen, anonym, vendor, owner, competitor ), review


yang dilakukan oleh manajemen dan adanya internal audit.

seperti yang di tunjukan dibawah, pelaku kejahatan fraud jika didasarkan oleh
umur

mereka,

kebanyakan

mereka

berumur antara 31 - 41 tahun, da

kecenderungannya adalah laki-laki lebih banyak melakukan fraud di banding dengan


perempuan, serta kebanyakan dari mereka adaah orang yang memiliki degree college
sampai kepada post graduate ke atas.

Jika dilihat melalui perbagian di dalam perusahaan maka bagian yang harus
diwaspadai akan adanya fraud adalah bagian Akuntansi, Operasional, Penjualan,
Manajer eksekutif atau manajer tingkat Atas, Costumer service, dan bagian
pembelian.hal dapat terlihat dari survey yang dilakukan di dalam Report to the Nation
on Occupational Fraud and Abuse tahun 2012. Dan kebanyakan dari mereka
melakukan fraud karena ada dorongan dari gaya hidup, kebutuhan finansial yang
mendesak, dan karena adanya control yang kurang baik dari organisasi.
BAB 7
KORUPSI
PENDEKATAN SOSIOLOGI
Dalam pendekatan sosiologi, definisi korupsi yang lazim dipergunakan adalah
penyalahgunaan wewenang pejabat untuk keuntungan pribadi (the abuse of public
power for private gain).
Korupsi merupakan masalah yang berkenaan dengan sistem perekonomian dan
kelembagaan. Sistem perekonomian dan kelembagaan tertentu mendorong bahkan
memberikan ganjaran (reward) untuk perbuatan korupsi.
Lingkungan perekonomian dan kelembagaan menentukan lingkup korupsi dan
insentif untuk melakukan korupsi. Sistem perekonomian dan kelembagaan yang
meningkatkan manfaat atau keuntungan korupsi cenderung memiliki empat ciri :

20

a. Individu pejabat mempunyai kekuasaan mutlak (substantial monopoly power)


atas pengambilan keputusan
b. Pejabat yang bersangkutan mempunyai kelonggaran wewenang (discretion) yang
besar
c. Mereka tidak perlu mempertanggungjawabkan (tidak accountable terhadap)
tindakan mereka) mereka beroperasi dalam lingkungan yang rendah tingkat
keterbukaannya.
Keempat ciri di atas melahirkan rumus atau persamaan:
C=MP+ DAT dm
Di mana:
C
= corruption (korupsi)
MP = monopoly power (kekuasaan mutlak)
D
= discretion (kelonggaran wewenang)
A
= accountability (akuntabilitas)
Tdm = transparency of decision making (keterbukaan dalam pengambilan
keputusan)
DELAPAN PERTANYAAN TENTANG KORUPSI
Bagian ini disarikan dari tulisan Jakob Svensson, seorang senior economist pada
Development Research Group, Word Bank. Sevensson mengajukan dan membahas
delapan pertanyaan mengenai korupsi sebagai berikut:
1. What is Corruption? ( Apa sesungguhnya korupsi itu?)
2. Which countries are the most corrupt? (Negara negara mana yang paling
korup?)
3. What are the common characteristics of countries with high corruption? (Apa
ciri-ciri umum negara yang mempunyai tingkat korupsi yang tinggi?)
4. What is the magnitude of corruption? (Berapa besarnya korupsi?)
5. Do higher wages of bureaucrats reduce corruption? (Apakah gaji lebih tinggi
untuk para birokrat akan menekan korupsi?)
6. Can competition reduce corruption? ( Apakah persaingan dapat menekan
korupsi?)
7. Why have there been so few (recent) succesful attempts to fight corruption?
(mengapa (akhir-akhir ini) begitu sedikit upaya yang berhasil memerangi
korupsi?)
8. Does corruption adversely affect growth? (Apakah korupsi berdampak negatif
terhadap pertumbuhan?)
Pertanyaan Pertama
What is corruption? Korupsi umumnya didefinisi adalah penyalahgunaan
jabatan di sektor pemerintahan (misuse of public office) untuk keuntungan pribadi.

Korupsi yang didefinisikan seperti itu meliputi, misanya, penjualan kekayaan negara
secara tidak sah oleh pejabat, kickbacks dalam pengadaan di sektor pemerintahan,
penyuapan, dan pencurian (embezzlement) dana-dana pemerintah.
Korupsi adalah outcome, cerminan dari lembaga-lembaga hukum, ekonomi,
budaya dan politik suatu negara. Korupsi dapat berupa tanggapan atas peraturan yang
berguna atau peraturan yang merugikan. Peraturan lalu lintas, misalnya, adalah
peraturan yang berguna untuk mengatur ketertiban di jalan. Pelanggaran aturan ini
menyogok polisi lalu lintas untuk menghindari sanksi.

Pertanyaan Kedua
Which countries are the most corrupt? Bagaimana kita mengukur korupsi
sedemikian rupa sehingga kita memperoleh gambaran antar-negara. Kajian mengenai
pengukuran korupsi antar-negara oleh Knack dan Keefer (1995) dan Mauro (1995)
didasarkan atas indikator korupsi yang dihimpun oleh perusahaan-perusahaan yang
berkecimpung dalam usaha mengukur risiko (private risk-assesment firms). Di
antaranya, International Country Risk Guide (ICRG) adalah yang paling populer,
karena ia meliputi lebih banyak kurun waktu dan negara.
Bentuk yang kedua adalah indeks yang menunjukkan rata-rata dari berbagai
peringkat oleh sumber sumber yang menghimpun data mengenai persepsi adanya
korupsi. Diantaranya, yang paling populer adalah Corruption Perception Index (CPI).
Kaufmann, Kraay da Mastruzzi (2003) menghasilkan ukuran yang melengkapi
pengukuran tersebut di atas, yakni Control of Corruption (CoC)
Pertanyaan Ketiga
What are the common characteristics of countries with high corruption? Ada
teori teori yang melihat ciri-ciri umum negara korup dari peranan lembaga-lembaga
(institutional theories). Teori teori ini dapat dipilah dalam dua kelompok besar.
Kelompok toeri pertama memandang mutu lembaga dan karenanya juga
korupsi dibentuk oleh faktor faktor ekonomi. Secara singkat, perkembangan
lembaga-lembaga merupakan respons terhadap tingkat pendapatan negara. (Lipset,
1960; Demsetz, 1967). Pandangan yang terkait diberikan oleh human capital theory,
yang melihat perkembangan dalam human capital dan penghasilan menyebabkan
perkembangan dalam kelembagaan (Lipset, 1960; Glaeser, La Porta, Lopez-de Silanes
dan Shleifer, 2004).

22

Kelompok institusional theories kedua menekankan peran lembaga lembaga


secara lebih langsung. Teori teori ini sering kali memandang lembaga-lembaga
sebagai pantang menyerah (persistent) dan bawaan (inherited).
Pertanyaan Keempat
What is the magnitude of corruption? Peringkat negara-negara berdasarkan persepsi
tingkat korupsi bersifat subjektif. Kesimpulan diambil bukan dari penelitian yang
mendalam melainkan atas dasar kesan, dan pengamatan sekilas (anecdotal).
Pertanyaan Kelima
Do higher wages of bureaucrats reduce corruption? Bukti sistematis yang
menunjukkan hubungan antara kenaikan gaji dan tingkat korupsi memang meragukan.
Rauch dan Evans (2000) menemukan tidak ada bukti kuat mengenai hubungan antara
kenaikan gaji dan turunnya tingkat korupsi. Sebaliknya, Van Rijckeghem dan Weder
(2001) menunjukkan sebaliknya. Memang sulit untuk mengukur korupsi dengan
menggunakan data persepsi korupsi lintas negara. Sulit untuk memastikan bahwa gaji
yang tinggi merupakan fungsi dari rendahnya korupsi, atau sebaliknya. Hal yang
menambah kesulitan untuk menarik kesimpulan adalah data gaji yang agregat.
Kenaikan gaji dari suatu kelompok penerima gaji mungkin tidak berkaitan dengan
korupsi oleh kelompok yang lain.

Pertanyaan Keenam
Can competetion reduce corruption? Pertanyaannya mengenai apakah persaingan
dapat menekan korupsi, berkaitan dengan pendekatan untuk menekan korupsi melalui
peningkatan persaingan. Jalan pikirannya adalah, ketika persaingan yang kuat, peserta
tender akan berusaha menekan harga jual mereka sekuat mungkin. Sehingga tidak
tersedia dana untuk menyogok pejabat. Dalam kenyataannya, hubungan antara laba
perusahaan dan korupsi sangatlah kompleks, dan secara analitis tidaklah selalu jelas.
Pertanyaan Ketujuh
Why have there been o few (recent) succesful attempts to fight corruption? Di banyak
negara, termasuk indonesia, pemberantasan korupsi dilakukan melalui gebrakan-

gebrakan oleh lembaga atau aparat (penegak) hukum dan keuangan (para pemeriksa,
seperti auditor dan investigator).
Pertanyaan Kedelapan
Does corruption adversely affect growth ? Di era order baru,
ada pakar dan pengamat yang berargumentasi bahwa korupsi
justru mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurut mereka, dengan
penyuapan perusahaan bisa melicinkan usaha mereka yang
tersendat oleh birokrasi yang tidak efisien. Argumen ini
didokumentasikan oleh Leff,1964 dan Huntington,1968). Dalam
kebanyakan
teori
yang
menghubungkan
korupsi
dengan
pertumbuhan ekonomi yang lambat, tindakan korup itu sendiri
bukanlah biaya sosial terbesar. Kerugian terbesar dari korupsi
adalah bahwa korupsi melahirkan perusahaan yang tidak efisien dan
alokasi talenta (SDM), teknologi, dan modal justru menjauhi
penggunaannya yang paling produktif bagi masyarakat.

KORUPSI TINJAUAN SOSIOLOGI


Prof. Syed Hussein Alatas, guru besar pada jurusan Kajian Melayu, Universitas
Nasional Singapura merupakan penulis perintis mengenai masalah korupsi di kawasan
ini. Beberapa bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia oleh LP3ES.
Dari kasus kasus korupsi sekitaran tahun 1970 1980-an yang dilaporkan Prof.
Alatas, dapat disimpulkan antara lain berikut ini:
1. Tipologi korupsinya tidak banyak berubah. Beberapa di antaranya merupakan
penyakit kekanak kanakan alias mencuri terang terangan.
2. Bahkan pemain-nya masih yang itu-itu juga (meskipun sudah berganti
nama) seperti bank bank BUMN yang menjadi Bank Mandiri atau Bank
BNI, Pertamina, distributor pupuk, ABRI (sekarang TNI), dan lain-lain.
3. Gebrakan membawa sukses sesaat seperti terlihat dalam hasil kerja Komisi
Empat, Opstib, Opstibpus, dan lain-lain.

KORUPSI TIJAUAN SOSIOLOGI ADITJONDRO


Geogre Junus Aditjondro adalah pengajar dan peneliti mengenai sosiologi korupsi di
Universitas New Castle, Jurusan Sosiologi dan Antropologi. Ia pernah menerima
24

penghargaan lingkungan hidup, Kalpataru, dari (pada waktu itu Presiden) Soeharto.
Sepuluh tahun kemudian penghargaan itu dikembalikannya sebagai protes atas
pelanggaran HAM dan lingkungan oleh rezim soeharto. Tulisan tulisannya tercecer
mengenai korupsi oleh para mantan presiden, keluarga dan kroninya dibukukan
dengan judul Korupsi Kepresidenan.
Ada beberap kesimpulan yang dibuat Aditjoro mengenai korupsi kepresidenan di
Indonesia, yang perlu diketahui akuntan forensik:
1. Bentuk oligarki berkaki tiga (Istana, Tangsi, dan Partai penguasa) yang
melanggengkan dan mewariskan korupsi kepada pemerintahan penerus.
2. Oligarki yang dipimpin oleh istri (Nyonya Tien Soeharto) atau suami (Taufiq
Kiemas) presiden atau spouse-led oligarchi. Aditjoro menambahkan bahwa
itulah sebabnya sejumlah penulis mengingatkan Taufiq Kiemas, suami
Megawati Soekarnoputri, untuk menarik pelajaran dari kasus Mike Arroyo
(suami Gloria Macapagal Arroyo) dan dari Asif Zardari (suami Benazir
Bhutto).
3. Oligarki dan jejaring bisnis dan politik yang membentengi keperntingan
mantan penguasa dengan segala cara pemindahan kekayaan?

Pertanyaan bagi akuntan forensik tentang kasus soeharto yaitu:


1. Ada

atau

tidak

alternatif

penyelesaian

secara

hukum

yang

dapat

menyimpulkan bersalah atau tidaknya Soeharto? Pertanyaan ini terlepas dari


apakah pemerintahan yang berkuasa akan memberikan pengampunan.
2. Apa pun bentuk penyelesaian terhadap soeharto, apakah penuntutan terhadap
pejabat lain atau kroninya dapat dilakukan? Pertanyaan ini timbul karena
kesan yang ingin diberikan, khususnya dalam kasus tujuh yayasan (Dharmais,
Dakab, Supersemar, Amal Bhakti Muslim Pancasila, Dana Mandiri, Gotong
Royong, dan Trikora), bahwa segala sesuatunya hanyalah tanggung jawab
soeharto, sedang orang lain hanyalah pelaksana yang mengikuti perintahnya.
3. Apakah keputusan yang akan diambil (secara hukum atau non-hukum) akan
mengamankan secara hukum proses pemulihan harta yang diduga hasil
jarahan, baik yang berada di dalam maupun di luar negeri.
4. Bagaimana menembus upaya-upaya soeharto, keluarganya, kroninya dan
jaringan bisnis dan politiknya untuk mengamankan kekayaan yang diduga
berasal dari korupsi dari sentuhan hukum seperti yang dibahas Aditjoro?

5. Kalau terjadi kegagalan (sebagian atau sepenuhnya) dalam kasus korupsi


soeharto, apa dampak negatif dari upaya hukum terhadap keluarga,
penguasa/pejabat lain di era soeharto dan penguasa penguasa sesudah
Soerharo

26

DAFTAR PUSTAKA

ACFE (Association of Certified Fraud Examiners). (2012). REPORT


TO THE NATIONS on occupational Fraud and Abuse. 2012,
(versi elektronik) pp. 20-35.
ACFE (Association of Certified Fraud Examiners). (2010). REPORT TO THE
NATIONS on occupational Fraud and Abuse. 2012, (versi elektronik) pp.
75-76.
ACFE (Association of Certified Fraud Examiners). (2008). REPORT TO THE
NATIONS on occupational Fraud and Abuse. 2012, (versi elektronik) pp.
15-25.
Tuanakotta, T. M. (2010 ). Akuntansi Forensik Dan Audit Investigatif. In T. M.
Tuanakotta, Akuntansi Forensik Dan Audit Investigatif. Salemba Empat.