Anda di halaman 1dari 9

Bahasa Indonesia

A. Pendahuluan
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material
hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia
maupun organisme, yang diendapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi
yang

kemudian

mengalami

pembatuan

(Pettijohn,

1975).

Sedimen

meliputi proses pelapukan, erosi, transportasi dan deposisi. Diagenesa sendiri


adalah perubahan yang terjadi pada sedimen secara alami sejak proses
pengendapan awal hingga batas dimana metamorfisme akan terbentuk. Pada
batuan

karbonat,

diagenesa

merupakan

proses

transformasi

menuju

batugamping atau dolomite yang lebih stabil. Diagenesa dipengaruhi oleh


beberapa faktor seperti komposisi sedimen mula-mula, sifat alami fluida
interstitial dan pergerakannya serta proses kimia dan fisika yang bekerja
selama diagenesa.

Sejarah

pelarutan

dan

lithifikasi (pembatuan)

akan

berbeda pada kondisi air laut dan tawar. Hal yang sama juga akan terjadi pada
tekstur semen dan butiran akan bervariasi bergantung pada tekanan dan
temperature lingkungan diagenesa.

B. Proses diagenesa batuan karbonat


Dalam diagenesa batuan karbonat terdapat enam proses utama yang
meliputi:

pelarutan,

sementasi,

neomorfisme,

dolomitisasi,

mikritisasi

mikrobial dan kompaksi. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam hal ini adalah
tekanan, temperatur, stabilitas mineral, kondisi kesetimbangan, rate of water
influx, waktu dan kontrol struktur (Tucker & Wright, 1990 dalam Boggs,
1992).
Di antara proses-proses diagenesa tersebut terdapat tiga proses diagenesa
utama, yaitu pelarutan (dissolution), sementasi dan penggantian (replacement).
Masing-masing

dicirikan

oleh

kenampakan

yang

berbeda-beda

yang

menggambarkan kondisi pembentukan batuan karbonat.


Proses diagenesa yang teramati berdasarkan pengamatan dan analisa
petrografi pada sayatan tipis batuan meliputi :
NAMA : AQIB DZULFIQAR RONANDA
NIM : 111150051

Bahasa Indonesia

1.

Proses Mikritisasi Mikrobial


Proses ini terjadi di lingkungan marine, aktivitas pemboran
(boring) dapat dilakukan oleh organisme seperti endolithic fungi,
bakteri dan ganggang hijau atau mungkin ganggang merah. Butiran
skeletal dibor di sekitar batas skeletal dan lubang yang terbentuk
diisi dengan sedimen berbutir halus atau semen. Pemboran (boring)
butiran karbonat ini paling intensif terjadi di laut dangkal daerah
tropis. Kegiatan organisme tersebut menghasilkan micrite envelope,
yaitu

mikrit

yang

mengelilingi

cangkang.

Apabila

kegiatan

organisme tersebut sangat aktif, maka akan menghasilkan cangkang


yang sepenuhnya termikritisasi.
Proses mikritisasi butiran ditunjukan dengan adanya proses
penggantian sejumlah butiran kerangka oleh mikrit yang berwarna
coklat keruh yang melapisi butiran. Mikritisasi merupakan proses
yang penting dalam lingkungan stagnant marine phreatic zone dan
active

marine

phreatic

zone

(Longman,

1980

dalam

Koesoemadinata, 1987).
2.

Proses Pelarutan
Proses pelarutan memerlukan jumlah volume air yang terlewat
jenuh dalam jumlah banyak dan dipengaruhi oleh selektivitas
terhadap matriks, bentuk butir, ukuran butir serta sifat kerangka.
Tingkatan mudahnya larut mineral-mineral karbonat merupakan
fungsi dari mineralogi dan kandungan ion Mg. Urut-urutan mineral
karbonat yang paling mudah larut adalah Very high-Mg Calcite,
aragonit, Mg Calcite, Low Mg Calcite dan dolomit. Tingkat
kelarutan (Solubilities) dari mineral-mineral tersebut merupakan
fungsi dari temperatur dan tekanan (water depth). Kelarutan
(Solubilities)

menurun

dengan

meningkatnya

temperatur,

dan

kelarutan meningkat dengan meningkatnya tekanan air laut.


Proses pelarutan pada batuan karbonat dapat membentuk
porositas sekunder seperti porositas moldic dan vuggy. Proses
NAMA : AQIB DZULFIQAR RONANDA
NIM : 111150051

Bahasa Indonesia

pelarutan dapat terjadi pada lingkungan freshwater vadose maupun


freshwater phreatic (Longman, 1980 dalam Koesoemadinata, 1987).

3.

Proses Sementasi
Proses sementasi dalam sedimen karbonat merupakan proses
diagenesa utama dan terjadi ketika pore-fluid supersaturated terhadap
fase semen dan tidak ada faktor kinetik yang menghalangi presipitasi
semen. Proses ini memerlukan sirkulasi air tawar ataupun air laut yang
besar sekali. Dalam air yang stagnant hampir tidak/sedikit sekali
terjadi sementasi (Koesoemadinata, 1987). Mineralogi dan fabric
semen yang berbeda-beda tergantung pada komposisi pore-fluid,
kecepatan supply karbonat dan kecepatan presipitasi, yang dapat
menunjukan lingkungan diagenesa yang berbeda pula.

Gambar Beberapa tipe semen pada batuan karbonat (dalam Boggs,


1992)

4.

Proses Neomorfisme
Proses Neomorfisme (Folk, 1965 dalam Boggs, 1992) terdiri
dari

inverse,

NAMA : AQIB DZULFIQAR RONANDA


NIM : 111150051

rekristalisasi

dan

coalescive

neomorphism

Bahasa Indonesia

(aggrading/degrading neomorphism). Inversi adalah perubahan satu


mineral ke polymorph, misalnya polymorphic transformation
aragonite

menjadi kalsit,

alterasi Mg kalsit menjadi kalsit.

Sedangkan rekristalisasi adalah perubahan dalam ukuran kristal


tanpa

perubahan

membesar/mengecilnya

dalam
ukuran

mineraloginya,
kristal

kalsit

misalnya

atau

penggantian

(replacement) kristal kalsit berukuran kecil oleh kristal kalsit


berukuran lebih besar.
Neomorfisme pada batuan karbonat umumnya adalah tipe
aggrading (agradasi) yaitu kumpulan proses yang menghasilkan
butiran spar yang lebih besar.
Proses neomorfisme menyebabkan matrik (mikrit) telah terubah
menjadi mikrospar pada sebagian besar conto batuan. Proses ini
dapat terjadi pada awal pemendaman freshwater phreatic dan deep
burial.

5.

Proses Dolomitisasi
Dolomitisasi merupakan proses penggantian mineral kalsit
menjadi dolomit yang disebabkan oleh meningkatnya kadar Mg
dalam batuan karbonat. Faktor-faktor yang mempercepat presipitasi
dolomit adalah besarnya rasio Mg/Ca pada mineral, besarnya
kandungan

CO2,

tingginya

temperatur

dan

pH,

rendahnya

kandungan sulfat, rendahnya kadar salinitas serta pengaruh material


organik. Proses dolomitisasi bisa berupa replacement melalui proses
presipitasi atau berupa

sementasi,

yang

dapat

terjadi pada

lingkungan mixing zone dan deep burial.

6.

Proses Kompaksi
Proses kompaksi terdiri dari kompaksi mekanik dan kimia, yang
terjadi pada lingkungan deep burial setelah batuan terendapkan.
Kompaksi mekanik terjadi ketika sedimen karbonat terkubur

NAMA : AQIB DZULFIQAR RONANDA


NIM : 111150051

Bahasa Indonesia

(buried) di bawah overburden yang meningkat sehingga terjadi


grain fracture dan penurunan porositas oleh closer packing,
akhirnya butiran mulai larut pada point contact menghasilkan kontak
suture dan concave-convex. Kompaksi kimia menghasilkan stylolite
dan wispy seam. Kompaksi kimia mulai terjadi setelah kompaksi
mekanik membentuk stable grain framework, sehingga load atau
tectonic stress dapat diteruskan dari butiran ke butiran. Tektonik
stres juga dapat menghasilkan pressure dissolution, fracture
ekstensional dan compressional.

C. Lingkungan Diagenesa Batuan Karbonat


Diagenesa dapat terjadi di :
1. Di bawah air laut (submarine)
2. Di bawah udara (subaerial/vadose atau air tanah dangkal)
3. Di bawah permukaan/tanah (subsurface).
Lingkungan diagenesa merupakan daerah dimana pola diagenesa yang
sama muncul, lingkungan diagenesa ini dapat saja tidak ada kaitannya dengan
lingkungan pengendapan dan dapat berubah sepanjang waktu. Mempelajari
produk-produk diagenesa yang hadir pada lingkungan tertentu merupakan
kunci penting untuk memprediksi kecenderungan porositas pada batuan
karbonat. Dari segi lingkungan airnya, Longman (1980) membagi menjadi
empat lingkungan diagenesa, yakni :
1.

Zona Marine Phreatic

2.

Zona Mixing

3.

Zona Freshwater Phreatic

4.

Zona Vadose

NAMA : AQIB DZULFIQAR RONANDA


NIM : 111150051

Bahasa Indonesia

Gambar

Model

lingkungan

diagenesa

(Longman

1981

dalam

Koesoemadinata, 1987)

1.

Zona Marine Phreatic


Sedimen berada pada lingkungan marine phreatic bila semua
rongga porinya terisi oleh air laut yang normal. Umumnya batuan
karbonat diendapkan dan memulai sejarah diagenesanya pada
lingkungan marine phreatic. Lingkungan ini dapat dibagi menjadi
dua, yaitu: Lingkungan yang berhubungan dengan sirkulasi air
sedikit,

dicirikan

oleh

kehadiran

mikritisasi

dan

sementasi

setempat. Lingkungan kedua berupa lingkungan yang berhubungan


dengan

sirkulasi

air

yang

baik

dimana

tingkat

sementasi

intergranular dan mengisi rongga lebih intensif. Semen aragonit


berserabut dan Mg Kalsit merupakan ciri lain dari lingkungan ini.
Keberadaan lingkungan ini didukung oleh terdapatnya proses
mikritisasi mikrobial dan semen mikrit yang jejaknya banyak
dijumpai pada contoh sayatan tipis

NAMA : AQIB DZULFIQAR RONANDA


NIM : 111150051

Bahasa Indonesia

2.

Zona Mixing
Zona mixing merupakan percampuran lingkungan freshwater
phreatic dan freshwater vadose, jalur ini agak sempit, tidak
permanen, adanya air payau dan bersifat diam. Seluruh rongga yang
semula terisi air laut akan mulai tergantikan oleh air tawar.
Dolomitisasi merupakan salah satu penciri lingkungan ini jika
salinitas air sekitarnya rendah. Jika salinitasnya tinggi, maka akan
terbentuk Mg kalsit yang menjarum.

3.

Zona Freshwater Phreatic


Zona ini terletak di bawah zona vadose dan zona mixing. Semua
ruang pori batuan diisi air meteorik yang mengandung material
karbonat hasil pelarutan dengan kadar yang bervariasi. Lingkungan
ini dicirikan oleh proses pencucian, neomorfisme butir yang diikuti
atau tanpa diikuti sementasi kalsit secara intensif.
Ukuran semen kristal kalsit pada zona ini cenderung lebih besar
daripada zona vodose. Tipe-tipe semen kalsit yang terjadi pada zona
ini umumnya berupa semen isopachous, blocky dan syntaxial
overgrowth pada echinoderm. Proses neomorfisme menyebabkan
mikrit telah berubah menjadi mikrospar dan pseudospar pada seluruh
contoh batuan. Proses neomorfisme juga menyebabkan aragonit dan
Mg kalsit terubah menjadi kalsit (berubah dalam bentuk dan ukuran
kristal). Zona ini dibagi ke dalam:
a) Zona dibawah kejenuhan (Undersaturated Zone)
Pada zona ini terjadi pelarutan dan pembentukan porositas
cetakan (moldic) dan gerowong-gerowong (vuggy).
b) Zona Jenuh aktif (Active Saturated Zone)
Pada zona ini terjadi dua proses, yaitu: neomorfisme butir yaitu
pelarutan aragonit dan pengendapan kalsit. Tipe semen yang
terbentuk adalah equant mosaic cement. Proses kedua adalah
sementasi antar butir yaitu pengisian rongga oleh sparry kalsit.

NAMA : AQIB DZULFIQAR RONANDA


NIM : 111150051

Bahasa Indonesia

c) Zona Air tawar diam (Stagnant Freshwater Phreatic Zone)


Pada zona ini, sangat sedikit terjadi perubahan diagenesa.
Porositas primer terawetkan. Tekstur aragonit yang telah
berubah menjadi kalsit juga terawetkan.
4.

Zona Vadose
Zona Vadose terletak di bawah permukaan dan di atas muka air
tanah yang menyebabkan rongga pada batuan terisi oleh udara dan
air meteorik. Proses utama yang terjadi di lingkungan ini berupa
pelarutan yang menghasilkan porositas sekunder vuggy dan saturasi
yang membentuk semen pendant dan meniskus akibat air yang jenuh
kalsit maupun penguapan CO2. Pada pengamatan megaskopis
ditunjukan oleh tingkat pengapuran (chalky appearance) pada
batuan

inti.

Kecenderungan

tinggi

rendahnya

pengapuran

menunjukan tingkat resistensi batuan terhadap pelarutan.

D. Penutup
Dalam diagenesa batuan karbonat terdapat enam proses utama yang
meliputi:

pelarutan,

mikrobial dan
lingkungan

sementasi,

kompaksi.

tertentu

neomorfisme,

Produk-produk

merupakan

kunci

dolomitisasi,

diagenesa
penting

yang
untuk

mikritisasi
hadir

pada

memprediksi

kecenderungan porositas pada batuan karbonat. Dari segi lingkungan airnya,


Longman (1980) membagi menjadi empat lingkungan diagenesa yaitu : Zona
Marine Phreatic, Zona Mixing, Zona Freshwater Phreatic, dan Zona Vadose.
Demikian yang dapat saya paparkan mengenai proses diagenesa batuan
karbonat.

Tentunya

masih

banyak

kekurangannya

kerena

terbatasnya

pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya


dengan judul artikel ini.

NAMA : AQIB DZULFIQAR RONANDA


NIM : 111150051

Bahasa Indonesia

Penulis banyak berharap para pembaca memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada penulis demi sempurnanya artikel ini. Semoga artikel ini
berguna bagi penulis pada khususnya juga pembaca.

NAMA : AQIB DZULFIQAR RONANDA


NIM : 111150051