Anda di halaman 1dari 16

FORUM MASYARAKAT DESA BUNGKU

(FORMASKU)
KECAMATAN BAJUBANG
KABUPATEN BATANGHARI
Muara Bulian,

Mei 2015

Kepada Yth :
Bapak Bupati Batanghari
Di
Muara Bulian

Nomor : Istimewa
Perihal : PENOLAKAN PEMBERIAN KONPENSASI LAHAN DARI PT. ASIATIC
PERSADA KEPADA 17 RUMPUN SUKU ANAK DALAM (SAD).

Dengan hormat,
Bersama surat ini saya ingin menyampaikan beberapa permasalahan mengenai Konplik
lahan perkebunan kelapa sawit antara masyarakat desa Bungku Kecamatan Bajubang
Kabupaten Batang Hari dengan PT. Jamer Tulen dan PT. Maju Perkasa Sawit anak
perusahaan PT. Bangun Desa Utama yang telah berubah nama menjadi PT. Asiatic
Persada. Permasalahan tersebut berawal dari tahun 1986. PT. Bangun Desa Utama (PT.
BDU) telah melakukan pelanggaran hukum, yaitu melanggar Undang-Undang Nomor ; 18
Tahun 2004 Tentang Perkebunan.
Pemberian izin HGU kepada PT. Bangun Desa Utama dari Dirjen Agraria (An. Menteri
Dalam Negeri RI) dengan Surat Keputusan Nomor : SK. 46/HGU/DA/86 tanggal 01
September 1986 adalah Penetapan Pemberian Hak Guna Usaha (HGU) Atas Tanah Negara
seluas 20.000 Ha, yang terletak di Kecamatan Muara Bulian dan Kecamatan Jambi Luar Kota
Kabupaten Dati II Batang Hari Provinsi Dati I Jambi.
Penerbitan HGU ini diberikan sebelum dikeluarkannya Keputusan Menteri Kehutanan RI
Nomor : 667/KPTS-II/1992 tanggal 3 Juli 1992 Tentang ; Pelepasan Sebagian Kelompok
Hutan S. Bahar S. Temidai yang terletak di Kabupaten Dati II Sarolangun Bangko Prov.
Dati I Jambi seluas 27.675 Ha untuk perkebunan kelapa sawit An. PT. Bangun Desa Utama.
Hal tersebut diatas adalah merupakan kesalahan dalam Prosedur Tata Kelola Pemerintahan
yang sangat fatal, karena bagaimana mungkin Izin HGU diberikan pada areal kawasan hutan
milik Negara yang belum dilepaskan ?

Pemberian izin HGU tersebut adalah merupakan bentuk PERAMBAHAN HUTAN dengan
payung Hukum HGU, dengan kata lain Dirjen Agraria (An. Menteri Dalam Negeri RI)
telah merestui atau mendorong PT. Bangun Desa Utama untuk melakukan
Perambahan Hutan secara besar-besaran.
Karena pemberian Izin HGU kepada PT. Bangun Desa Utama (PT. BDU) mendahului
keluarnya SK. Pelepasan Kawasan Hutan dari Menteri Kehutanan, maka kegiatan PT. BDU
yang namanya sekarang PT. Asiatic Persada, dari sejak tahun 1986 sampai keluarnya SK
Pelepasan dari Menhut tahun 1992 bisa dianggap telah melakukan Perambahan Hutan
di Kelompok Hutan S. Bahar dan S. Temidai di Kabupaten Dati II Batang Hari atau
PT. BDU telah melakukan kegiatan illegal.
Demi tegaknya keadilan di Negara yang kita cintai khususnya di Kabupaten Batang Hari ini,
jangan hanya masyarakat kecil saja yang harus diproses secara hukum dan dimasukkan
kedalam penjara karena telah melakukan kegiatan illegal demi sesuap nasi. Akan tetapi demi
untuk mewujudkan suatu keadilan, maka pemilik PT. Jamer Tulen, PT. Maju Perkasa
Sawit dan PT. Asiatic Persada yang sejak tahun 1986 sampai tahun 1992 telah melakukan
pelanggaran hukum sesuai dengan ketentuan pada masa itu, dan sejak tanggal 21 Mei
2005 sampai saat ini telah melakukan pelanggaran hukum, yaitu melanggar UndangUndang Nomor ; 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan dan pada awal 2010 PT. Asiatic
Persada Group telah melanggar Undang-Undang Nomor : 41 Tahun 1999 Tentang
Kehutanan. Dan sampai saat ini belum ada tindakan hukum yang nyata.
Untuk lebih lengkapnya saya uraikan sebagai berikut :
I.

PROSES PEMBERIAN HGU DARI MENTERI DALAM NEGERI DAN


PELEPASAN KAWASAN HUTAN DARI MENTERI KEHUTANAN UNTUK
PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PT. BANGUN DESA UTAMA DIDUGA SARAT
DENGAN KKN.
1. Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jambi nomor :
188.4/599 Tahun 1985 tentang ; Pencadangan Tanah Seluas 40.000 Ha bagi PT.
Bangun Desa Utama untuk Proyek Perkebunan Kelapa Sawit. (Copy Surat Terlampir)
2. Surat Keputusan Kepala Badan Iventarisasi dan Tata Guna Hutan Departemen
Kehutanan RI Nomor : 031/SK/VII-4/1986 tentang : PembentukanTeam Survei Mikro
Lapangan atas nama PT. Bangun Desa Utama di Provinsi Daerah Tingkat I Jambi.
(Copy Surat Terlampir)
3. Salinan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : SK. 46/HGU//DA/86
tanggal 01 September 2986 ; Penetapan Pemberian Hak Guna Usaha (HGU) Atas
Tanah Negara seluas 20.000 Ha yang terletak di Kecamatan Muara Bulian dan
Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Dati II Batang Hari Provinsi Dati I Jambi.
(Copy Surat Terlampir)
4. Sertifikat Hak Guna Usaha Nomor 1 Tanggal 20 Mei 1987. (Copy Surat Terlampir)

5. Surat Kepala Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan Departemen Kehutanan RI
(An. Menteri Kehutanan) Nomor : 393.4/VII-4/1987 Tanggal 11 Juli 1987 Kepada
Direktur
6. PT. Bangun Desa Utama perihal ; Pemberitahuan Persetujuan Pelepasan Areal Hutan
Seluas 27. 150 Ha untuk Perkebunan Kelapa Sawit dan Coklat a.n PT. Bangun Desa
Utama di Prov. Dati I Jambi. (Copy Surat Terlampir)
7. Berita Acara Pembuatan Tata Batas Kawasan Hutan yang dilepas untuk areal
Perkebunan PT. Bangun Desa Utama dilokasi S. Bahar S. Temidai Prov. Dati I
Jambi Tanggal 18 Agustus 1989. (Copy Surat Terlampir)
8. Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor : 667/Kpts-II/1992 Tentang ; Pelepasan
Sebagian Kelompok Hutan S, Bahar S. Temidai Prov. Dati II Sarolangun Bangko
Prov. Dati I Jambi seluas 27.675 Ha untuk Perkebunan Kelapa Sawit An. PT.
Bangun Desa Utama. (Copy Surat Terlampir)
9. Surat Bupati Batang Hari Nomor : 593/1180/Pem Tanggal 19 April 2006 yang
ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Prov. Jambi
Perihal : Rencana Pengukuran Ulang HGU PT. Asiatic Persada. (Copy Surat
Terlampir)
10. Surat PT. Asiatic Persada kepada Bupati Batang Hari Nomor : 043/050.104/RGA/06
Tanggal 01 Mei Perihal ; Notulen Rapat tanggal 24 April 2006 pada butir 3
menyebutkan bahwa : Untuk menghindari preseden buruk dikemudian hari, semua
biaya yang berkaitan dengan pengukuran ulang tersebut ditanggung oleh pihak yang
menuntut dilakukannya pengukuran ulang. (Copy Surat Terlampir)
11. Berdasarkan Surat PT. Asiatic Persada kepada Bupati Batang Hari Nomor :
044/070.10/BM/07 Tanggal 21 Juli 2007 Perihal ; Rencana Program Kemitraan dan
HGU, pada butir 1 menyebutkan ; Perusahaan mempunyai komitmen untuk tetap
melaksanakan dan menyelenggarakan program kemitraan untuk lahan seluas 1.000
Ha, dan pada butir 3 menyebutkan ; Adapun pengalokasian lahan untuk program
kemitraan seluas 1.000 Ha rencananya akan kami alokasikan pada lahan/areal di PT.
Maju Perkasa Sawit (Peta Terlampir), yang akan dilaksanakan dalam beberapa
tahap. (Copy Surat Terlampir)
A. ANALISIS PROSES PEMBERIAN HAK GUNA USAHA (HGU) DARI MENTERI
DALAM NEGERI DAN PELEPASAN KAWASAN HUTAN DARI MENTERI
KEHUTANAN :
1. Bahwa pemberian Hak Guna Usaha oleh Dirjen Agraria (An. Menteri Dalam Negeri
RI) sesuai dengan Surat Keputusan nomor : SK. 46/HGU/DA/86 Tanggal 01
September 1986 dilakukan sebelum adanya :
a. Surat Kepala Badan Inventarisasi Dan Tata Guna Hutan Departemen Kehutanan RI
(An. Menteri Kehutanan) Nomor : 393.4/VII-4/1987 Tanggal 11 Juli 1987 kepada
Direktur PT. Bangun Desa Utama perihal : Pemberitahuan Persetujuan Pelepasan

Areal Hutan seluas 27.150 Ha untuk Perkebunan Kelapa Sawit dan Coklat an.
PT. Bangun Desa Utama di Prov. Dati I Jambi.
b. Berita Acara Pembuatan Tata Batas Kawasan Hutan yang dilepas untuk areal
Perkebunan PT. Bangun Desa Utama dilokasi S. Bahar S. Temidai Prov. Dati I
Jambi tanggal 18 Agustus 1989.
c. Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor : 667/Kpts-II/1992 Tanggal 03 Juli 1992
Tentang : Pelepasan Sebagian Kelompok Hutan S. Bahar S. Temidai yang terletak
di Kabupaten Dati II Sarolangun Bangko Prov. Dati 1 Jambi seluas 27.675 Ha
untuk Perkebunan Kelapa Sawit An. PT. Bangun Desa Utama.
2. Bahwa pemberian Hak Guna Usaha oleh Dirjen Agraria (An. Menteri Dalam Negeri
RI) sesuai dengan Surat Keputusan Nomor : SK. 46/HGU/DA/86 Tanggal 01
September 1986 tersebut pada butir 1 (satu) diatas, perlu dipertanyakan Dasar
Hukumnya, karena dilakukannya sebelum adanya Surat-surat seperti pada butir a, b
dan c diatas.
3. Bahwa Keputusan Menteri Kehutan RI nomor : 667/Kpts-II/1992 Tanggal 03 Juli
1992 Tentang : Pelepasan Sebagian Kelompok Hutan S. Bahar S. Temidai yang
terletak di Kabupaten Dati II Sarolangun Bangko Prov. Dati I Jambi seluas 27.675
Ha untuk Perkebunan Kelapa Sawit An. PT. Bangun Desa Utama adalah Cacat
Hukum karena lokasi S. Bahar S. Temidai berada di Kabupaten Dati II Batang
Hari bukan di Kabupaten Sarolangun Bangko.
B. DAMPAK DARI ADANYA PEMBERIAN HAK GUNA USAHA (HGU) SARAT
DENGAN KKN :
1. Adanya kegiatan pembukaan kawasan hutan Negara di lokasi S. Bahar S. Temidai
sejak tahun 1986 sampai 1992 di Kabupaten Dati II Batang Hari oleh PT. Bangun
Desa Utama (Sekarang telah berubah nama menjadi PT. Asiatic Persada) untuk
pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit adalah merupakan kegiatan illegal dan perlu
diproses secara hukum, karena belum mendapat pelepasan kawasan hutan dari
Departemen Kehutanan RI. Begitu juga terhadap para pejabat pemberi kebijakan yang
berakibat adanya kegiatan pembukaan kawasan hutan secara illegal tersebut perlu
diproses secara Hukum. Apabila tidak adanya tindakan hukum kepada para pelaku
kegiatan tersebut, berarti telah terjadi perlakuan Hukum yang Diskriminatif di Negeri
yang kita cintai ini. Masyarakat kecil yang telah melakukan pekerjaan illegal dalam
kawasan hutan demi sesuap nasi harus berurusan dengan para penegak hukum
dan dijebloskan kedalam penjara, sementara dilain pihak Pengusaha dan
Penguasa yang saya anggap telah kongkalikong/persekongkolan untuk
memperkaya diri sendiri tidak diproses secara hukum.
2. kegiatan pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit oleh PT. Bangun Desa Utama sejak
adanya Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor : 667/Kpts-II/1992 Tanggal 03 Juli
1992 sampai saat ini adalah Cacat Hukum, karena Pelepasan Sebagian Kelompok
Hutan S. Bahar S. Temidai terletak di Kabupaten Dati II Sarolangun Bangko bukan

terletak di Kabupaten Dati II Batang Hari Prov. Dati I Jambi. Sehingga pemberian
pelepasan kawasan hutan untuk perkebunan kelapa PT. Bangun Desa Utama
(Sekarang PT. Asiatic Persada) perlu ditinjau kembali.
II.

PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PT. JAMER TULEN DAN PT MAJU


PERKASA SAWIT TELAH MELAKUKAN KEGIATAN ILLEGAL PADA
AREAL EX PENCADANGAN HGU PT. BANGUN DESA UTAMA
(SEKARANG NAMANYA PT. ASIATIC PERSADA)
A. DASAR PEMBERIAN IZIN LOKASI :
1. Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jambi Nomor :
188.4/599 Tahun 1985 Tanggal 02 Desember 1985 tentang : Pencadangan
Tanah seluas 40.000 Ha PT. Bangun Desa Utama untuk Proyek Perkebunan
Kelapa Sawit.
2. Salinan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : SK. 46/HGU/DA/86
tanggal 01 September 1986 Penetapan Pemberian Hak Guna Usaha (HGU)
Atas Tanah Negara Luas 20.000 Ha yang terletak di Kecamatan Muara BUlian
dan Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Dati II Batang Hari Propinsi Dati
I Jambi. (Copy surat terlampir)
3. Surat Kepala Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan Departemen
Kehutanan RI (An. Menteri Kehutanan) Nomor : 393.4/VII-4/1987 tanggal 11
Juli 1987 Kepada Direktur PT Bangun Desa Utama perihal : Pemberitahuan
Persetujuan Pelepasan Areal Hutan seluas 27.150 Ha untuk Perkebunan
Kelapa Sawit dan Coklat a.n PT. Bangun Desa Utama di Prov. Dati I Jambi.
(copy surat terlampir).
4. Berita Acara Pembuatan Tata Batas Kawasan Hutan yang dilepas untuk areal
Perkebunan PT. Bangun Desa Utama dilokasi S. Bahar S. Termidai Prop.
Dati I Jambi tanggal 18 Agustus 1989. ( Copy surat terlampir)
5. Surat Kepala Daerah Propinsi Dati I Jambi Nomor : 593.41/10475/Bappeda
tanggal 3 Desember 1991 kepada Direktur PT. Maju Perkasa Sawit dan PT.
Jamer Tulen Perihal : Rekomendasi/Izin Prinsip Percadangan lahan. (Copy
surat terlampir).
6. Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor : 667//Kpts-II/1992 tanggal 3 Juli
1992 Tentang : Pelepasan Sebagian Kelompok Hutan S. Bahar S. Temidai
yang terletak di Kabupaten Dati II Sarolangun Bangko Prop. Dati I Jambi luas
27.675 Ha untuk Perkebunan Kelapa Sawit An. PT. Bangun Desa Utama.
(Copy surat terlampir)
7. Undang Undang Republik Indonesia Nomor : 18 Tahun 2004 Tentang
Perkebunan menyebutkan pada :

Pasal 17 (1) menyebutkan bahwa : Setiap pelaku budidaya tanaman


perkebunan dengan luasan tanah tertentu dan / atau usaha industri
pengolahan hasil perkebunan dengan kapasitas pabrik tertentu wajib
memiliki Izin Usaha Perkebunan.
Pasal 46 (1) menyebutkan bahwa : Setiap orang yang dengan sengaja
melakukan usaha budidaya tanaman perkebunan dengan luasan
tertentu dan/atau usaha industry pengolahan hasil perkebunan dengan
kapasitas tertentu tidak memiliki Izin Usaha Perkebunan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 17 (1) diancam dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak 2 (dua) Milyar.

8. Dengan adanya Salinan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : SK.
46/HGU/DA/86 tanggal 01 September 1986 Penetapan Pemberian Hak
GUna Usaha (HGU) atas Tanah Negara seluas 20.000 Ha yang terletak di
Kecamatan Muara Bulian dan Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Dati II
Batang Hari Propinsi Dati I Jambi dan Keputusan Menteri Kehutan RI
Nomor : 667//Kpts-II/1992 tanggal 3 Juli 1992 Tentang : Pelepasan Sebagian
Kelompok Hutan S. Bahar S. Temidai yang terletak di Kabupaten Dati II
Sarolangun Bangko Prop. Dati I Jambi seluas 27.675 Ha untuk Perkebunan
Kelapa Sawit An. PT. Bangun Desa Utama, maka terdapat sisa pencadangan
areal seluas 7.675 Ha (dan statusnya berdasarkan SK. Menhut Nomor :
667//Kpts-II/1992 tanggal 3 Juli 1992 masih berada di Kabupaten Dati II
Sarolangun Bangko).
9. Bahwa PT. Jamer Tulen telah mendapat Izin Persetujuan Penanaman Modal
Dalam Negeri dari Badan Penanaman Modal Daerah Nomor :
37/15/PMDN/2002 tanggal 15 Feburuari 2002.
10. Surat permohonan PT. Jamer Tulen Nomor : 99/JT/D/JBI/2002 tanggal 8 Mei
2002 Perihal : Permohonan Izin Lokasi seluas 3.871 Ha yang terletak di Desa
Bungku Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batang Hari untuk Perkebunan
Kelapa Sawit.
11. Pada tanggal 20 Mei 2002 Bupati Batang Hari memberikan Izin Lokasi kepada
PT. Jamer Tulen seluas 3871 Ha yang terletak di Desa Bungku Kecamatan
Muara Bulian dengan Izin Lokasi Nomor : 01 Tahun 2002 yang berlaku
selama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang selama 12 bulan atau 1 (satu)
tahun berlaku sejak ditetapkannya keputusan ini. (Copy Izin Lokasi
Terlampir).
12. Surat Bupati Batang Hari Nomor : 593.4/1747/B.Pem tanggal 29 Maret 2005
yang ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertahanan Nasional
Provinsi Jambi Perihal : Rekomendasi HGU PT. Jamer Tulen. (Copy Surat
Terlampir)

13. Surat PT. Asiatic Persada ditujukan kepada Bupati Batang Hari Nomor
GA.046/EXT/V/05 tanggal 29 Mei 2005 Perihal : Perpanjangan Izin Lokasi
PT. Jamer Tulen. Pada butir 3 menyebutkan bahwa :
a. Penanaman Kelapa Sawit seluas 1.253,6 Ha.
b. Land Clearing (LC) seluas 130,4 Ha.
c. Enclave seluas 143,5 Ha sedang dalam proses pengerjaan/pembuatan tata
batas.
d. Peruntukan kawasan konservasi 1.360 Ha.
e. Hutan yang belum dikerjakan 983,5 Ha.
(Copy Surat Terlampir)
14. Kesepakatan Bersama Antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan Pemerintah
Kabupaten Se-Provinsi Jambi tentang : Percepatan Pembangunan Perkebunan
di Provinsi pada tanggal 16 Mei 2006 Menyebutkan bahwa Dalam Rangka
Percepatan Pembangunan Perkebunan di Provinsi Jambi PARA PIHAK
Sepakat untuk melakukan optimalisasi lahan dengan melakukan upaya upaya
sebagai berikut :
a. Mencabut Izin Lokasi dan Usaha Perkebunan yang telah habis masa
berlakunya berdasarkan hasil inventarisasi dan evaluasi tim sesuai dengan
peraturan dan perundang undangan yang berlaku.
b. Menginventarisir dan mengevaluasi perusahaan perusahaan perkebunan
yang dinilai tidak mematuhi ketentuan ketentuan perizinan yang telah
diberikan.
c. Dalam pemberian Izin Usaha Perkebunan yang akan datang dilaksanakan
secara lebih selektif. (Copy Surat Terlampir)
15. Surat Bupati Batang Hari Nomor : 593.3/1952/Eko tanggal 07 April 2007 yang
ditujukan kepada Direktur PT. Asiatic Persada dan PT Jamer Tulen Perihal :
Penghentian Sementara Pembukaan Lahan dan Penanaman pada areal PT.
Jamer Tulen dan PT Maju Perkasa Sawit.
16. Surat PT Asiatic Persada yang ditujukan kepada Bupati Batang Hari Nomor :
028/050.020/BM/07 tanggal 04 Mei 2007 Perihal : Penjelasan Surat Nomor :
593.3/1952/Eko tanggal 07 April 2007 pada butir 3 (tiga) menyebutkan
bahwa;
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Areal tertanam seluas


1.495,96 Ha
Garapan masyarakat seluas
792,00 Ha
Buffer Zone seluas
70,00 Ha
Konservasi seluas
1.360,00 Ha
Emplassemen & Nursery seluas
12,00 Ha
Inclave seluas
141,04 Ha
__________
g. Total
3.871,00 Ha

17. Surat Bupati Batang Hari Nomor : 593.3/1584/Eko tanggal 30 Mei 2007 yang
ditujukan kepada Direktur PT. Asiatic Persada dan PT Jamer Tulen Perihal :
Penghentian Penggarapan Lahan. (Copy Surat Terlampir)
18. Bupati Batang Hari Nomor : 593.3/3128/Eko tanggal 24 Nopember 2008 yang
ditujukan kepada Direktur PT. Asiatic Persada dan PT Jamer Tulen Perihal :
Upaya penyelesaian lahan Ex PT. Jamer Tulen dan PT Maju Perkasa Sawit
pada butir 1 (satu) menyebutkan bahwa : Pemda tidak akan memperpanjang
Izin Lokasi PT. Jamer Tulen dan PT Maju Perkasa Sawit. Pemda hanya
mengakui perolehan lahan sampai dengan Izin Lokasi kedua perusahaan
tersebut berakhir. Dan pada butir 2 (dua) menyebutkan bahwa : PT. Asiatic
Persada memberikan konvensasi kepada masyarakat Suku Aanak Dalam yang
memiliki garapan pada lahan HGU PT. Asiatic Persada sebelum adanya
penerbitan HGU. Konvensasi tersebut berupa lahan 1.000 Ha kebun sawit
kemitraan yang calon penerimanya adalah Suku Anak Dalam yang ditetapkan
oleh Pemerintah Daerah. (Copy Surat Terlampir)
19. Pada rapat masalah lahan antara PT. Asiatic Persada dan Suku Anak Dalam
(SAD) Desa Bungku dan Desa Pompa Air tanggal 29 Juni 2009 yang dihariri
oleh :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Bupati Batangt Hari


Direktur Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi
Kajari Muara Bulian.
Kapolres Batang Hari.
Sekretaris Daerah Kab. Batang Hari.
Kepala BPN Kabupaten Batang Hari.

Dalam kesimpulan rapat pada butir 6 (enam) tersebut menyatakan bahwa


Lahan yang ditanami dan dikuasai oleh PT. Jamer Tulen dan PT Maju
Perkasa Sawit sejak tahun 2002 hingga saat ini seluas 2.000 Ha, pihak
perusahaan telah mengambil manfaat secara ekonomi, namun disisi lain belum
menunaikan kewajibannya terhadap pemerintah, untuk akan diambil tindakan
secara hukum.
20. Surat Bupati Batang Hari Nomor : 593.3/0496/SDA tanggal 25 Februari 2009
yang ditujukan kepada Direktur PT. Asiatic Persada perihal : Mohon realisasi
Program Kebun Kemitraan Seluas 1.000 Ha. (Copy Surat Terlampir)
21. Surat PT Asiatic Persada yang ditujukan kepada Bupati Batang Hari Nomor :
040/050.010/AP-DIR/2009 tanggal 05 September 2009 Perihal : Rencana
Penyerahan Kebun Plasma untuk Masyarakat SAD menyebutkan bahwa untuk
mewujudkan komitmen tersebut perusahaan menetapkan bahwa blok kebun
inti perusahaan yang belum berstatus HGU atas nama PT Jamer Tulen, akan
dialihkan dan/atau diserahkan menjadi kebun plasma SDA seluas 1.000 ha
dengan lokasi kebun Sebagai Berikut :

LOKASI LAHAN PERKEBUNAN

PERUSAHAAN
PT. JAMER TULEN
PT. MAJU PERKASA
SAWIT
TOTAL

MENTILINGAN

DURIAN DANGKAL

TOTAL

225,00 Ha
321,00 Ha

454,00 Ha
0,00 Ha

679,00 Ha
321,00 Ha

545,00 Ha

454,00 Ha

1.000 Ha

22. Perjanjian kerjasama antara PT. Asiatic Persada dengan Koperasi Sanak
Mandiri Tentang : Kemitraan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit tanggal 24 Juni
2010 sebagai berikut :

Pada butir 1 (satu) menyebutkan bahwa guna pelaksanaan program


kemitraan kebun kelapa sawit yang akan dijadikan plasma, PIHAK
PERTAMA menyerahkan kebun kelapa sawit seluas 1.000 Ha kepada
PIHAK KEDUA dengan ketentuan bahwa penyerahan kebun untuk menjadi
milik PIHAK KEDUA dilaksanakan setelah beban investasi kebun kelapa
sawit dinyatakan lunas oleh PIHAK PERTAMA.

Pada butir 2 (dua) menyebutkan bahwa kebun kelapa sawit yang


diserahkan oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA seluas 1.000
Ha didasarkan pada penyerahan lahan oleh PT. Jamer Tulen kepada PT.
Asiatic Persada berdasarkan akta penyerahan oleh Notaris Robert Purba,
SH di Jakarta Nomor : 104 tanggal 19 Februari 2009 dan penyerahan Maju
Perkasa Sawit kepada PT. Asiatic Persada berdasarkan akta penyerahan
oleh Notaris Robert Purba, SH di Jakarta Nomor : 105 tanggal 19 Februari
2009 yang berlokasi di Desa Bungku Kecamatan Bajubang Kabupaten
Batang Hari dengan rincian sebagai berikut :

LOKASI LAHAN PERKEBUNAN


PERUSAHAAN
PT. JAMER TULEN
PT. MAJU PERKASA
SAWIT
TOTAL

TOTAL

225,00 Ha
321,00 Ha

DURIAN
DANGKAL
454,00 Ha
0,00 Ha

679,00 Ha
321,00 Ha

545,00 Ha

454,00 Ha

1.000 Ha

MENTILINGAN

Pada butir 3 (tiga) menyebutkan bahwa kebun kelapa sawit yang


diserahkan PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA adalah kebun
kelapa sawit yang belum berstatus HGU tetapi tetapi telah dibangun oleh
PIHAK PERTAMA serta telah dilakukan penilaiaan teknis terhadap bobot
kualitas fisik kebun oleh tim teknis Kabupaten Batang Hari yang meliputi
aspek lokasi kebun, luas kebun, kualitas kebun dan umur tanaman sesuai
dengan Keputusan Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian RI.

Pada pasal 9 (Sembilan) POTENSI BAHAN TAMBANG, menyebutkan


bahwa Apabila didalam kebun kemitraan ditemukan bahan tambang maka

konvensasi atas pengeloaan hasil tambang tersebut harus dibagi secara


kemitraan 50% : 50% kepada PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA.
23. Surat PT. Asiatic Persada nomor : 006/050.80/SSL/2014 tanggtal 18 Februari
2014 Perihal Penyerahan Lahan Tanaman Kelapa Sawit untuk kebun plasma
warga SAD Asli sebagai berikut :

Pada butir 1 (satu) menyebutkan Perusahaan menyetujui untuk


menyerahkan lahan berikut dengan tanaman kelapa sawit serta infrastruktur
jalan milik PT. Jammer Tulen dan PT. Maju Perkasa Sawit yang terletak di
desa bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batang Hari, Jambi, dengan
total luas 2.000 Ha (kurang lebih dua ribu hektar) kepada Pemerintah
Daerah Kabupaten Batang Hari untuk dijadikan kebun plasma bagi warga
Suku Anaka Dalam (SAD) Asli yang berada didalam wilayah kebun PT.
Asiatic Persada sesuai dengan hasil verifikasi oleh Lembaga Adat Bumi
Serentak Bak Ragam Kabupaten Batang Hari (Lembaga Adat Kabupaten
Batang Hari), dimana tata luas tersebut termasuk lahan tanaman seluas
1.000 Ha (kurang lebih seribu hektar) yang sebelumnya telah diserahkan
oleh perusahaan kepada SAD Asli.

Penyerahan lahan tanaman kelapa sawit ini merupakan pemenuhan


komitmen PT. Asiatic Persada untuk menyediakan kebun kemitraan (Kebun
Plasma) bagi warga SADA Asli yang berada didalam wilayah kebun PT.
Asiatic Persada serta dalam rangka penyelesaian tuntutan warga SAD Asli
atas areal hasil survey mikro tahun 1987 seluas 3.550 Ha (kurang lebih
tiga ribu lima ratus lima puluh hektar) dan areal lainnya.

24. Keputusan Bupati Batang Hari Nomor : 163 Tahun 2014 Tentang : Pembentukan
Tim Verifikasi dan Identifikasi Penetapan nama-nama Warga Suku Anak Dalam
(SAD) di Desa Bungku Kecamatan Bajubang yang berhak menerima lahan
kompensasi dari PT Asiatic Persada.
25. Keputusan Bupati Batang Hari Nomor : 180 Tahun 2014 tanggal 11 Maret 2014
Tentang : Penetapan nama-nama serta peta lokasi Warga Suku Anak Dalam
(SAD) penerima lahan kompensasi seluas 2.000 Ha dari PT Asiatic Persada di
Desa Bungku Kecamatan Bajubang Kabupaten Batang Hari.

B. PERAMBAHAN KAWASAN HUTAN OLEH PT. ASIATIC PERSADA


1. Berdasarkan Surat Kepala Kepala Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan
Provinsi Jambi Nomor : 48/UPTD-BIPHUT/Dishut/2010 Tanggal 16 April
2010 yang ditijukan kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Batang Hari

perihal : Hasil pengecekan lapangan penanaman kebun PT. Asiatic Persada


pada butir 4 (empat) menyebutkan berdasarkan hasil plotting pada peta
pelepasan kawasan hutan untuk PT. Bangun Desa Utama lampiran Surat
keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor : 667/Kpts-II/1992 tanggal 3 Juli
1992, ternyata koordinaat-koordinat tersebut berada diluar areal pelepasan
kawasan hutan untuk PT. Bangun Desa Utama dan termasuk kedalam kawasan
hutan produksi terbatas (HPT) sungai lalan, kelompok hutan Senami Bahar
Kabupaten Batang Hari. (Copy surat terlampir)
2. Bersadarkan Surat Kepala Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Batang Hari
Nomor : 522/180-PPK/Dishut/2010 Tanggal 19 April 2010 yang ditujukan
kepada Bupati Batang Hari Perihal : Laporan Hasil Penelitian terhadap PT.
Asiatic Persada sebagai berikut ;
a) Pada butir 2 (dua) menyebutkan beberapa koordinat lapangan yang
dididuga masuk kedalam kawasan hutan diambil sebagai berikut :

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

02 022' 28,9"
02 022' 32,0"
02 022' 31,3"
02 022' 31,2"
02 022' 30,9"
02 022' 31,9"
02 022' 31,8"
02 022' 31,7"
02 022' 31,0"

Koordinat
LS dan 103 162' 55,2"
LS dan 103 162' 58,7"
LS dan 103 172' 02,9"
LS dan 103 172' 09,02"
LS dan 103 172' 09,6"
LS dan 103 172' 20,4"
LS dan 103 172' 27,3"
LS dan 103 172' 38,6"
LS dan 103 162' 18,17"

keterangan

PATOK BETON

b) Setelah diplooting titik-titik koordinat tersebut kedalam peta pelepasan


kawasan PT. Bangun Desa Utama (Sekarang PT. Asiatic Persada) dan peta tata
batas definitif kawasan hutan produksi terbatas (HPT) sungai lalan kelompok
Hutan Senami Bahar Kabupaten Batang Hari sebagai berikut :
a. Titik-titik koordinat tersebut diatas berada diluar areal lokasi pelepasan
kawasan hutan PT. Bangun Desa Utama.
b. Titik-titik koordinat tersebut berada didalam Kawasan Hutan Produksi
Terbatas (HPT) Sungai Lalan Kelompok Hutan Senami Bahar.
c. Karena titik koordinat tersebut berada dalam Kawasan Hutan Produksi
Terbatas seperti pada huruf b tersebut diatas, maka secara otomatis titiktitik koordinat tersbut tidak masuk dalam :

HGU PT. Asiatic Persada


Ijin Prinsip PT. Maju Perkasa Sawit
Izin Prinsip PT. Jamer Tulen

d. Kondisi dilapangan terdapat tanaman Sawit yang diakui oleh pihak PT.
Asiatic Persada.
e. Luasan belum dapat dihitung karena belum dilakukan pengukuran
lapangan hingga temu gelang. (Copy Surat Terlampir)
3. Surat
Kepala
Dinas
Kehutanan
Provinsi
Jambi
Nomor
:
045.E/3630/Dishut/2010 tanggal 23 Juni 2010 kepada PT. Asiatic Persada
perihal : Mohon bantuan tenaga sebagai tindak lanjut ;
a. Surat Sekretaris Daerah Kabupaten Batang Hari Nomor : 593/1130/sda
tanggal 5 Mei 2010 Perihal : Hasil pengecekan lapangan lahan PT. Asiatic
Persada.
b. Surat Perintah Penyidikan Nomor : 700.E/Spdik/05PPNS/Dishut/2010
tanggal 8 Juni 2010.
4. Bersadarkan Surat Direktur Penyidikan dan Perlindungan Hutan Dirjen PHKA
Departemen Kehutanan RI nomor : 5.81/IV/RHS/PPH-4/2010 tanggal 9 Juli
2010 yang ditujukan kepada Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Batang Hari
Perihal : Penyampaian Laporan Tindak Pidana Kehutanan dan Perkebunan,
pada butir 2 (dua) menyebutkan : Berkenaan dengan hal tersebut diatas,
untuk mengetahui kebenaran laporan tersebut guna pengusutan lebih lanjut,
agar saudara segera melakukan pengumpulan bahan dan keterangan. Apabila
terdapat bukti permulaann yang cukup tentang terjadi tindak pidana kehutanan
agar diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan melaporkan hasilnya
kepada kami pada kesempatan pertama
C. ANALISIS

1. Bahwa PT Maju Perkasa Sawit (PT. MPS) melakukan pembukaan lahan secara
illegal secara fakta lapangan bahwa PT.MPS yang diakui oleh PT. Asiatic Persada
sebagai anak perusahaannya telah melakukan kegiatan perkebunan di Desa
Bungku kecamatan Muara Bulian (Sekarang masuk Kec. Bajubang) sejak tahun
1996 dengan luas 2.000 Ha. Anehnya sampai saat ini perusahaan itu masih
beroperasi tanpa mempunyai Izin yang sah. Jangankan mempunyai Izin HGU,
Izin lokasi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Batang Hari (Bupati) pun tidak ada.
Izin Lokasi yang diberikan oleh Bupati Kabupaten Batang Hari hanya diberikan
kepada PT. Jamer Tulen (Nomor : 01 Tahun 2002 tanggal 20 Mei 2002). Karena
kegiatan PT Maju Perkasa Sawit (PT.MPS) adalah kegiatan Illegal, maka hasil
dari kegiatannya adalah milik Negara karena ditanam dan Tumbuh diatas Tanah
Negara Bebas (Tanah Negara Yang Tidak Dibebani Hak). Dan sebagai

konsekuensi hukumnya PT. MPS harus bertanggung jawab atas segala perbuatan
yang dengan sengaja telah melanggar hukum yaitu Melanggar Undang-Undang
Nomor 18 tahun 2004 tentang Perkebunan.
2. Bahwa dengan berakhirnya Izin Lokasi an. PT. Jamer Tulen terhitung sejak
tanggtal 20 Mei 2005 dan sampai saat ini belum juga mendapat Izin HGUnya,
maka semua pembukaan lahan, penanaman maupun pemanenan kebun sawitnya
yang dilakukan oleh PT Jamer Tulen pada lahan seluas 3.871 Ha, adalah illegal.
Dengan demikian apabila PT. Jamer Tulen masih melakukan aktifitasnya pada
lahan seluas 3.871 Ha tersebut adalah merupakan kegiatan illegal, sehingga
demi KEADILAN harus diproses secara hukum karena dengan sengaja telah
melawan hukum dengan melanggar Undang-Undang Nomor : 18 Tahun 2004
tentang Perkebunan.
3. Bahwa dengan tidak diberikannya perpanjangan Izin Lokasi oleh Bupati
Kabupaten Batang Hari kepada PT. Jamer Tulen sejak berakhirnya Izin Lokasi
Nomor : 01 Tahun 2002 dan berakhir tanggtal 20 Mei 2005 dan sampai saat ini
belum juga mendapat izin HGU-nya, maka semua pembukaan lahan, penanaman
maupun pemanenan kebun sawitnya yang dilakukan oleh PT Jamer Tulen pada
lahan seluas 3.871 Ha adalah illegal. Dengan demikian apabila PT. Jamer Tulen
masih melakukan aktifitasnya pada lahan seluas 3.871 Ha tersebut adalah
merupakan kegiatan illegal, sehingga demi KEADILAN harus diproses secara
hukum karena dengan sengaja telah melawan hukum dengan melanggar UndangUndang Nomor : 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan.
4. Bahwa pemberian kebun sawit kemitraan sesuai dengan Perjanjian Kerjasama
antara PT. Asiatic Persada dengan Koperasi Sanak Mandiri yang diketahui oleh
Bupati Batang Hari pada tanggal 24 Juni 2010 seluas 1.000 Ha berasal pemberian
dari PT. Jamer Tulen seluas 679 Ha dan dari PT. Maju Perkasa Sawit seluas 321
Ha adalah kebun kelapa sawit dilahan Negara bebas, seharusnya kebun sawit yang
diberikan untuk kemitraan tersebut berasal dari lahan HGU PT. Asiatic Persada
(dulu namanya PT. BDU) yang seluas 20.000 Ha. Dengan demikian pemberian
lahan kepada PT. Asiatic Persada dari PT. Jamer Tulen dan PT. Maju Perkasa
Sawit untuk kemitraan dan Koperasi Sanak Mandiri tidak mempunyai dasar
hukum dengan kata lain PT. Asiatic Persada telah melakukan penipuan terhadap
Koperasi Sanak Mandiri.
5. Bahwa berdasarkan Surat Kepala Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan
Provinsi Jambi Nomor : 48/UPTD-BIPHUT/Dishut/2010 tanggal 16 April 2010,
Surat Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi Nomor : 045.E/3630/Dishut/2010
tanggal 23 Juni 2010 dan Surat Direktur Penyidikan dan Perlindungan Hutan
Dirjen PHKA Dep. Kehutanan RI Nomor : 5.81/IV/RHS/PPH-4/2010 tanggal 09
Juli 2010. Bahwa PT. Asiatic Persada diduga telah melakukan Perambahan di
Kawasan Hutan Produksi Tetap (HP) Sungai Air Mato, Hutan Produksi Terbatas
(HPT) Sungai Lalan Kelompok Hutan Senami Bahar Kabupaten Batang Hari.

D. DAMPAK DARI KEGIATAN ILLEGAL (PT. ASIATIC PERSADA GROUP)


1. Dengan berakhirnya Izin Lokasi a.n PT. Jamer Tulen sejak tanggal 20 Mei 2005,
maka semua kegiatan pembukaan lahan, penanaman maupun pemanenan oleh PT.
Jamer Tulen dan PT. MPS pada sisa lahan cadangan PT. BDU seluas 7.675 Ha
tersebut harus dihentikan karena tidak ada legalitas hukumnya. Dengan masih
adanya penguasaan lahan secara illegal oleh PT. Jamer Tulen dan PT. MPS dan
sampai saat ini tidak ada tindakan hukum dari para penegak hukum, berarti
Pemerintah tidak memberikan kesempatan kepada Suku Anak Dalam (SAD) atau
masyarakat setempat baik melalui kelompok tani atau masyarakat perorangan
yang mempunyai usaha kecil/menengah untuk mengerjakan atau membangun
usaha pertanian/perkebunan pada lahan Negara bebas tersebut.
2. Dengan tidak adanya kesempatan mendapat Izin dari pemerintah kepada warga
SAD ataupun masyarakat sekitar lahan tersebut baik melalui kelompok
tanimaupun melalui wadah koperasi untuk membangun pertanian/perkebunan
pada lahan Negara bebas tersebut, maka akan sering terjadi bentrok antara
masyarakat dengan pihak PT. Jamer Tulen dan PT. MPS (yang diakui oleh PT.
Asiatic Persada sebagai anak perusahaannya). Malah sampai saat ini sudah
puluhan orang lebih warga masyarakat kecil yang ditangkap oleh petugas PT.
Asiatic Persada yang dibantu oleh petugas kepolisian, karena dianggap telah
melakukan pencurian atau penadahan dan melakukan perbuatan merusak atau
menyerobot lahan Negara bebas yang dikuasai oleh PT. Jamer Tulen dan PT.
MPS tersebut yang diproses hukum oleh Kepolisian dan dijebloskan kedalam
Penjara di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIb Muara Bulian. Sementara pihak
penyerobot Lahan Negara Bebas yang mempunyai badan hukum dan
menganggap mempunyai legalitas hukum (PT. Asiatic Persada Group) tidak
sedikitpun tersentuh oleh para Penegak Hukum atas perbuatan illegalnya,
dimana letak keadilan di Negara Hukum yang kita cintai ini ??
3. Bahwa PT. Asiatic Persada diduga telah melakukan Perambahan di Kawasan
Hutan Produksi Tetap (HP) Sungai Air Mato, Hutan Produksi Terbatas (HPT)
Sungai Lalan Kelompok Hutan Senami Bahar Kabupaten Batang Hari YANG
PROSES HUKUMNYA SAMPAI SAAT INI BELUM JELAS, dengan demikian
penegakan hukum yang dilakukan terkesan system tebang pilih, sementara
masyarakat kecil yang tidak tahu hukum atau kurang memahami hukum yang
hanya membawa Kayu Bulat Kecil (KBK) atau yang mengangkut kayu bahan Cip
dengan menggunakan Truck (Maksimum 5 10 M3 yang belum tentu kayu yang
diangkut /dibawa berasal dari kawasan hutan), dengan cepat telah diproses secara
hukum dan dijebloskan kedalam penjara. Dan dengan banyaknya perlakuan yang
tidak adil tersebut, akan berdampak timbulnya kegiatan-kegiatan anarkis terhadap
Pemerintah yang dilakukan oleh masyarakat kecil yang kurang memahami atau
tidak tahu hukum serta ditunggangi oleh oknum-oknum tertentu yang mencari
keuntungan.

III.

KESIMPULAN
1. Demi tegaknya keadilan di Negara yang kita cintai ini, jangan hanya kepada
masyarakat kecil dan bodoh saja yang harus diproses secara hukum dan
dimasukkan kedalam penjara karena telah melakukan pencurian buah dan
brondolan sawit secara kecil-kecilan demi sesuap nasi. Tentunya demi terwujudnya
suatu keadilan, maka kepada pemilik PT. Jamer Tulen, PT. Maju Perkasa Sawit dan
PT. Asiatic Persada (yang diakui oleh PT. Asiatic Persada sebagai anak
perusahaannya) yang juga telah melakukan kegiatan melanggar Hukum, yaitu ;
Melanggar Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan dan
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Tentunya terhadap
pemilik/penanggungjawab perusahaan tersebut, harus diperlakukan yang sama
yaitu diproses secara hukum, dan harus mendapat hukuman yang setimpal dengan
perbuatannya.
2. Dengan berakhirnya Izin Lokasi a.n PT. Jamer Tulen sejak tanggal 20 Mei 2005,
maka lahan sisa pencadangan Perkebunan PT. BDU seluas 7.675 Ha, agar oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten Batang Hari dapat dimanfaatkan untuk
pembangunan pertanian/perkebunan bagi masyarakat SAD khususnya atau
masyarakat sekitar yang membutuhkan lahan pertanian/perkebunan, sesuai dengan
peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
3. Perjanjian Kerjasama antara PT. Asiatic Persada dengan Koperasi Sanak Mandiri
yang diketahu oleh Bupati Batang Hari pada tanggal 24 Juni 2010 seluas 1.000 Ha
(berasal pemberian dari PT. Jamer Tulen seluas 679 Ha dan dari PT. Maju Perkasa
Sawit seluas 321 Ha), merupakan kebun kelapa sawit yang tumbuh dilahan Negara
Bebas yang tidak Hak, dengan kata lain bukan lagi milik PT. Jamer Tulen apalagi
PT. MPS. Seharusnya kebun kelapa sawit yang diberikan untuk kemitraan tersebut,
berasal dari lahan HGU PT. Asiatic Persada (dulu namanya PT. BDU) yang seluas
20.000 Ha. Dengan demikian pemberian dari PT. Asiatic Persada untuk Kemitraan
dengan Koperasi Sanak Mandiri tidak mempunyai dasar hukum, dengan kata lain
PT. Asiatic Persada telah melakukan Penipuan terhadap Koperasi Sanak Mandiri.
Demikian saya sampaikan, sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan tindakan
hukum terhadap kegiatan illegal yang telah dilakukan oleh PT. MPS dan PT.
Asiatic Persada.
Hormat Saya,
Ketua FORMASKU

ARDANI

Tembusan disampaikan Kepada Yth :

1. Bapak Kepala Kejaksaan Agung RI di Jakarta


2. Bapak Menteri Kehutanan RI di Jakarta
3. Bapak Menteri Dalam Negeri di Jakarta
4. Bapak Ketua KPK di Jakarta
5. Direktur Piel Necd di Jakarta
6. Dewan Nasional Walhi di Jakarta
7. Direktur Sawiet World di Bogor
8. Bapak Gubernur Jambi di Jambi
9. Bapak Kapolda Jambi di Jambi
10. Bapak Bupati Batang Hari di Muara Bulian
11. Bapak Ketua Pengadilan Tinggi Jambi di Jambi
12. Bapak Kepala Kejaksaan Tinggi Jambi di Jambi
13. Bapak Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Jambi di Jambi
14. Bapak Kepala Dinas kehutanan Provinsi Jambi di Jambi
15. Direktur WALHI Jambi di Jambi
16. Direktur Setara Jambi di Jambi
17. Bapak Kepala Kejaksaan Negeri Muara Bulian di Muara Bulian
18. Bapak Kepala Dinas Perkebunan Kab. Batang Hari di Muara Bulian
19. Bapak Kepala Dinas Kehutanan Kab. Batang Hari di Muara Bulian
20. Bapak Kepala Badan Pertanahan Kabupaten Batang Hari di Muara Bulian
21. Direktur AMPHAL di Muara Bulian
22. Bapak Camat Bajubang di Bajubang
23. Bapak Kepala Desa Bungku di Bungku
24. Pertinggal