Anda di halaman 1dari 22

Iffah sebuah Kehormatan diri

Nov 14, 2011 | Asy Syariah Edisi 011, Mutiara Kata | 1 Komentar

Persaingan hidup yang semakin tinggi dan keras banyak memunculkan perilaku umat yang
melanggar batasan syariat. Bila perbuatan suka meminta-minta sudah bisa menyebabkan
kemuliaan seseorang jatuh, maka yang lebih berat dari sekedar meminta-mintaseperti korupsi,
mencuri, merampok, dsb.lebih menghinakan pelakunya. Namun toh perbuatan tersebut
semakin banyak dilakukan. Termasuk maraknya perilaku kaum wanita, hanya demi
menginginkan enaknya hidup, mereka rela melakukan perbuatan yang menghilangkan
kemuliaan mereka. Padahal agama ini telah menuntunkan agar mereka senantiasa menjaga
kemuliaan diri mereka.
Iffah, sebuah kata yang pernah atau biasa kita dengar. Si Fulan afif atau si Fulanah afifah
merupakan sebutan bagi lelaki dan wanita yang memiliki iffah. Lalu, apa sebenarnya yang
dimaksud dengan iffah itu?

Secara bahasa, iffah adalah menahan. Adapun secara istilah; menahan diri sepenuhnya dari
perkara-perkara yang Allahsubhanahu wa taala haramkan. Dengan demikian, seorang yang afif
adalah orang yang bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan walaupun jiwanya
cenderung kepada perkara tersebut dan menginginkannya. Allah subhanahu wa taalaberfirman,

Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya
sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya. (an-Nur: 33)
Termasuk makna iffah adalah menahan diri dari meminta-minta kepada manusia.
Allah subhanahu wa taala berfirman,

Orang yang tidak tahu menyangka mereka (orang-orang fakir) itu adalah orang-orang yang
berkecukupan karena mereka taaffuf (menahan diri dari meminta-minta kepada manusia). (alBaqarah: 273)
Abu Saidal-Khudriz mengabarkan, orang-orang dari kalangan Anshar pernah meminta-minta
kepada Rasullah shallallahu alaihi wa sallam. Tidak ada seorang pun dari mereka yang minta
kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melainkan beliau berikan hingga habislah apa
yang ada pada beliau. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun bersabda kepada mereka
ketika itu,


Apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) tidak ada yang aku simpan dari kalian.
Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah subhanahu wa taala akan
memelihara dan menjaganya, dan siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta maka
Allah subhanahu wa taala akan menjadikannya sabar. Siapa yang merasa cukup dengan Allah
subhanahu wa taala dari meminta kepada selain-Nya, Allah subhanahu wa taala akan
memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan
lebih luas daripada kesabaran. (HR. al-Bukhari no. 6470 & Muslim no. 1053)[1]
An-Nawawi rahimahullah mengatakan, Dalam hadits ini ada anjuran untuk taaffuf (menahan diri
dari meminta-minta),qanaah (merasa cukup) dan bersabar atas kesempitan hidup dan kesulitan
(hal yang tidak disukai) lainnya di dunia. (Syarah Shahih Muslim, 7/145)
Menjadi Wanita yang Afifah
Bila seorang muslim dituntut untuk memiliki iffah maka demikian pula seorang muslimah.
Hendaknya ia memiliki iffah sehingga ia menjadi seorang wanita yang afifah, karena akhlak
yang satu ini merupakan akhlak yang tinggi, mulia, dan dicintai oleh Allah subhanahu wa taala.
Bahkan akhlak ini merupakan sifat hamba-hamba Allah yang saleh, yang senantiasa
menghadirkan keagungan Allah subhanahu wa taala dan takut akan murka dan azab-Nya. Ia
juga menjadi sifat bagi orang-orang yang selalu mencari keridhaan dan pahala-Nya.
Berkaitan dengan iffah ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh
muslimah untuk menjaga kehormatan diri, di antaranya:
Pertama: Menundukkan pandangan mata (ghadhul bashar) dan menjaga kemaluannya.
Allah subhanahu wa taalaberfirman,

Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: Hendaklah mereka menundukkan pandangan


mata mereka dan menjaga kemaluan mereka. (an- Nur: 31)
Asy-Syaikh
Muhammad
Amin
asy-Syinqithi rahimahullah berkata,
Allah Jalla
wa
Ala memerintah kaum mukminin dan mukminat untuk menundukkan pandangan mata mereka
dan menjaga kemaluan mereka. Termasuk menjaga kemaluan adalah menjaganya dari
perbuatan zina, liwath (homoseksual), dan lesbian, serta menjaganya dengan tidak
menampakkan dan menyingkapnya di hadapan manusia. (Adhwaul Bayan, 6/186)
Kedua: Tidak bepergian jauh (safar) sendirian tanpa didampingi mahramnya yang akan menjaga
dan melindunginya dari gangguan.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Tidak boleh seorang wanita safar kecuali didampingi mahramnya. (HR. al-Bukhari no. 1862
dan Muslim no. 1341)
Ketiga: Tidak berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahramnya. Karena bersentuhan
dengan lawan jenis akan membangkitkan gejolak di dalam jiwa yang akan membuat hati itu
condong kepada perbuatan keji dan hina.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah berkata, Secara mutlak tidak boleh
berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, sama saja apakah wanita itu masih muda
ataupun sudah tua. Sama saja apakah lelaki yang berjabat tangan denganya itu masih muda
atau kakek tua. Sebab, berjabat tangan seperti ini akan menimbulkan godaan bagi kedua pihak.
Aisyah radhiallahu anha berkata tentang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:


Tangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan wanita, kecuali
tangan wanita yang dimilikinya (istri atau budak beliau). (HR. al-Bukhari, no. 7214)
Tidak ada perbedaan antara jabat tangan yang dilakukan dengan memakai alas/penghalang
(misalnya memakai kaos tangan atau kain) ataupun tanpa penghalang. Sebab, dalil dalam
masalah ini sifatnya umum dan semua ini untuk menutup jalan yang mengantarkan kepada
keburukan. (Majmu al-Fatawa, 1/185)
Keempat: Tidak khalwat (berduaan) dengan lelaki yang bukan mahram. Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam telah memperingatkan dalam titahnya yang agung:

Tidak boleh sama sekali seorang lelaki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali bila
bersama wanita itu ada mahramnya. (HR. al-Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341)
Kelima: Menjauh dari hal-hal yang dapat mengundang fitnah, seperti mendengarkan musik,
nyanyian, menonton film, gambar yang mengumbar aurat dan semisalnya.
Seorang muslimah yang cerdas adalah yang bisa memahami akibat yang ditimbulkan dari suatu
perkara dan memahami cara-cara yang ditempuh orang-orang bodoh untuk menyesatkan dan
meyimpangkannya. Ia akan menjauhkan diri dari membeli majalah-majalah perusak dan tak
berfaedah, dan ia tidak akan membuang hartanya untuk merobek kehormatan dirinya dan
menghilangkan iffah-nya. Karena kehormatannya adalah sesuatu yang sangat mahal dan iffahnya adalah sesuatu yang sangat berharga.[2]
Memang usaha yang dilakukan untuk sebuah iffah bukanlah usaha yang ringan. Perlu
perjuangan jiwa yang sungguh-sungguh dengan meminta tolong kepada Allah subhanahu wa
taala. Allah subhanahu wa taala menyatakan,

Orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami


tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orangorang yang berbuat baik. (al-Ankabut: 69)
Wallahu taala alam bish-shawab.
Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
[1] Lihat:

Al-Jami li Ahkamil Quran, al-Imam al-Qurthubi, 3/221.

Makarimul Akhlaq, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hlm. 149, 152.

Fathul Bari, 11/309, 311

Al-Iffah Madhahiruha wa Tsamaruha, hlm. 4


[2] Lihat:

Lin Nisa-i Faqath, asy-Syaikh Abdullah bin Jarullah Alu Jarillah, hlm. 6075.

Al-Iffah, hlm. 810.

I F F A H (MEMELIHARA DIRI)
Abdullah Hadrami | 6 Oktober 2009 | Artikel, Sukses Hidup | Tidak ada Komentar

I F F A H (MEMELIHARA DIRI)
Iffah adalah usaha memelihara dan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak halal,
makruh dan tercela.
Hal-hal yang dapat menumbuhkan iffah antara lain :
Pertama: Iman dan Taqwa
Inilah asas yang paling fundamental di dalam memelihara diri dari segala hal yang
tercela. Jiwa yang terpateri oleh iman dan taqwa merupakan modal yang paling
utama untuk membentengi diri dari hal-hal yang dibenci oleh Allah dan RasulNya.
Allah membrikan jaminan kepada orang-orang yang amal solehnya didasari oleh
iman dengan kehidupan yang baik, Barang siapa mengerjakan amal soleh, baik lakilaki maupun perempuan, sedangkan dia orang beriman, maka sesungguhnya kami
akan berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri
balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan (An Nahl: 97)
Lalu terhadap orang beriman yang taqwa Allah mmberikan AlFurqan, yaitu petunjuk
yang dapat membedakan antara Al Haq dengan Al Bathil. Hai orang-orang yang
beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu
Al Furqan dan menghapuskan segala kesalahanmu dan mengampuni (dosadosa)mu. (Al Anfal: 29)
Dan manakala iman dan taqwa dalam jiwa seorang muslim telah rapuh, maka itulah
pertanda mudahnya dirinya terjebak dalam kesesatan dan perbuatan tercela. Maka
memelihara dan memupuk iman ini merupakan kewajiban yang harus mendapatkan
prioritas utama.
Kedua: Nikah
Inilah salah satu rambu jalan yang jelas menuju kesucian diri. Bahkan nikah adalah
sarana yang paling baik dan paling afdhol untuk menumbuhkan sikap iffah pada diri
seorang muslim. Nikah adalah sesuatu yang fithri pada diri seorang muslim, di mana
padanya Allah menjadikan rasa cinta serta kasih sayang dan kedamaian. Dan di
antara kekuasaanNya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri
supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa cinta
dan kasih sayang. (Ar Rum: 21).
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda:
Hai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang telah mampu untuk menikah,
maka hendaklah ia menikah, karena hal itu lebih (dapat) menundukkan pandangan
dan lebih memelihara kemaluan, dan barang siapa yang tidak mampu, maka
hendaklah ia berpuasa, karena itu dapat mengobatinya. (Muttafaq Alaih)
Dalam hadits lain beliau bersabda:
Apabila seorang hamba telah menikah, maka ia telah menyempurnakan setengah

agamanya, maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah padayang setengah lagi. (HR.
Al Baihaqy, shohih)
Ayat dan hadits-hadits tadi merupakan nash-nash yang jelas mendorong untuk
nikah, di mana ketenteraman hati, cinta dan kasih sayang dapat diraih oleh seorang
muslim. Dan yang lebih utama lagi adalah bahwa nikah merupakan sarana yang
dapat memelihara pandangan dan kehormatan diri seetiap muslim.
Ketiga: Rasa Malu
Malu adalah akhlak indah dan terpuji. Malu adalah sifat yang sempurna dan
perhiasan yang anggun. Terlebih indah jika malu ini menghiasi seorang muslimah.
Sifat malu selalu tumbuh dalam sikap yang baik dan memadamkan keinginan untuk
berbuat tercela. Allah telah mentakdirkan sifat malu ini hanya ada pada manusia
untuk membedakannya dengan hewan. Malu adalah potret pribadi yang agung dan
terpuji. Tentang keutamaan malu ini Rasulullah Shallalhu Alaihi wa Sallam bersabda:
Malu dan iman adalah bersaudara, maka jika salah satu dari keduanya itu dicabut,
tercabut pulalah yang lainnya. (HR. Al Hakim, shohih)
Sesungguhnya setiap agama itu mempunyai akhlak, dan akhlak Islam adalah rasa
malu. (HR. Malik, Ibnu Majah, Al Hakim, shohih) [alsofwah]

http://www.kajianislam.net/2009/10/i-f-f-a-h-memelihara-diri/

b. Pengertian iffah
Secara bahasa,
iffah adalah menahan. Adapun secara istilah adalah ; menahan dirisepenuhnya dari perk
ara-perkara yang Allah haramkan. Dengan demikian, seorang yang afif adalah orang
yang bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan walaupunjiwanya cenderung kepad
a perkara tersebut dan menginginkannya.
Fungsi :
a. Meraih pahala yang besar di akherat.
b. Mendapatkan ketenangan hati dan kenikmatan besar di dunia.
c. Memberi jalan keluar dari kesukaran dan kesulitan.
Cara :
Membekali diri dengan ketaqwaan kepada Allah
Membentengi diri dengan rasa malu
Menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan fitnah
Memperbanyak membaca doa
Contoh :
~ menjaga kesucian diri yaitu seorang lelaki tidak berkhalwat dengan
yang tidak halal baginya.
~ berusaha menolak ajakan maksiat.

seorang wanita

http://dewirissa.blogspot.co.id/2014/09/mendefinisikan-sifat-hikmah-iffah.html

"Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian ('iffah diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya." (QS An Nuur: 33).

Seorang salafusholih yang bergelar Al-Miski memiliki aroma tubuh yang wangi, karena aroma
tubuh yang wangi itu Abu Bakar Al-Miski pernah ditanya, "Kami selalu mencium aroma wangi
ketika bertemu dengan anda, apa rahasianya?"

Al-Miski menjawab, Demi Allah, aku tidak pernah memakai wewangian seumur hidupku. Adapun
sebab tubuhku selalu wangi adalah: dulu ada seorang wanita yang menggodaku, hingga ia
mampu mengajakku ke dalam rumahnya lalu mengunci pintunya, kemudian ia memaksaku agar
aku mau melayani keinginan nafsunya, sehingga aku rasakan dunia terasa begitu sempit saat
itu".
Maka aku berkata kepadanya: "Aku ingin membersihkan diriku dulu". Lalu ia menyuruh
pembantunya mengantarkanku ke kamar kecil. Ketika aku berada di sana, akupun langsung
mengambil kotoran yang berada di dalam kamar kecil itu dan melumurkannya ke seluruh
tubuhku, kemudian aku kembali menemui wanita tersebut dengan tubuh yang berlumuran
kotoran dan sangat bau. Ketika ia melihatku, iapun terkejut dan menyuruh pembantunya untuk
mengusirku dari rumahnya.
Akupun segera pulang, kemudian mandi dan membersihkan diriku. Ketika aku tidur di malam
harinya, aku bermimpi ada seseorang yang berkata kepadaku: "Engkau telah melakukan
sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh siapapun, sungguh kami akan mengharumkan
tubuhmu di dunia dan di akhirat". Ketika aku bangun maka aroma wangi menyelimuti diriku dan
hal itu berlangsung sampai saat ini. (Kitab Al-Jaza min Jinsil Amal, Al-Affani, disalin kembali
dari jabal-uhud.com)
Kisah diatas adalah contoh dari sikap iffah yang dimiliki oleh Abu Bakar Al-Miski. Pengertian Iffah
Secara bahasa 'iffah menahan dan menjaga. Adapun secara istilah; iffah adalah menahan diri
dari perkara-perkara yang Allah haramkan. Dengan demikian seorang yang 'afif adalah orang
yang bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan walaupun jiwanya menginginkannya.
Di dalam Al Quran, disebutkan lafazh "Isti'faf" maksudnya adalah: Permintaan untuk menjaga
diri dari sebab-sebab kerusakan, menjauhkan diri dari perbuatan zina dan fitnah wanita. Hal
tersebut sebagaimana firman Allah Swt: "Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah
hendaklah menjaga kesucian diri sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karuniaNya." (QS. An Nuur: 33)
Termasuk dalam makna 'iffah adalah menahan diri dari meminta-minta kepada manusia. Allah
Swt berfirman:"Orang yang tidak tahu menyangka mereka itu adalah orang-orang yang
berkecukupan karena mereka taaffuf ." (QS. AL Baqarah: 273)
Dalam hadits dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu 'anhu mengabarkan bahwa orang-orang dari
kalangan Anshar pernah meminta-minta kepada Rasullah Saw. Tidak ada seorang pun dari
mereka yang minta kepada Rasulullah Saw melainkan beliau berikan hingga habislah apa yang
ada pada beliau. Rasulullah Saw pun bersabda kepada mereka:
"Apa yang ada padaku dari kebaikan tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya
siapa yang menahan diri dari meminta-minta, maka Allah akan memelihara dan menjaganya dan
siapa yang bersabar dari meminta-minta, maka Allah akan menjadikannya sabar. Dan siapa
yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya, maka Allah akan
memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan
lebih luas daripada kesabaran.(HR. Bukhori dan Muslim)
Itulah dua makna dari 'iffah, yaitu menahan dan menjaga diri dari syahwat kemaluan, dan
menahan diri dari syahwat perut dengan cara meminta-meminta.
'Iffah merupakan akhlaq paling tinggi dan dicintai Allah Swt. Oleh sebab itulah sifat ini perlu
dilatih sejak anak-anak masih kecil, sehingga memiliki kemampuan dan daya tahan terhadap

keinginan-keinginan yang tidak semua harus dituruti karena akan membahayakan saat telah
dewasa. Dari sifat 'iffah inilah akan lahir sifat-sifat mulia seperti: sabar, qana'ah, jujur, santun,
dan akhlak terpuji lainnya.
Ketika sifat 'iffah ini sudah hilang dari dalam diri seseorang, maka akan membawa pengaruh
negative dalam diri seseorang tersebut, dikhawatirkan akal sehatnya akan tertutup oleh nafsu
syahwatnya, ia sudah tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan salah, mana baik
dan buruk, yang halal dan haram.
Dengan memiliki sifat' iffah seorang yang sudah dewasa akan mampu menahan dirinya dari
dorongan syahwat, mengambil hak orang lain dan sebagainya. Namun ketika sifat itu sudah
tidak dimiliki lagi maka secara otomatis pula tidak ada lagi daya tahan dalam dirinya.
Oleh sebab itulah,'iffah pada diri manusia merupakan sifat potensial yang harus dididik,
ditanamkan serta dilatih secara sungguh-sungguh dalam diri manusia, sehingga bisa menjadi
benteng dalam menjaga kemuliaan eksistensi dirinya.
Sumber : jabal-uhud.com ditulis oleh Ust. H. Zulhamdi M. Saad, Lc

http://shadiqin.blogspot.co.id/2012/09/pengertian-iffah-dan-contohnya.html
Izzah adalah sebuah harga diri yang mulia dan agung. Harus ada menghiasi setiap
relung jiwa seorang muslim, apalagi Muslimah.
Sedangkan iffah adalah menahan. Adapun secara istilah; menahan diri sepenuhnya
dari perkara-perkara yang Allah haramkan.
Dengan demikian, seorang yang afif adalah orang yang bersabar dari perkaraperkara yang diharamkan walaupun jiwanya cenderung kepada perkara tersebut dan
menginginkannya.
Izzah dan Iffah adalah akhlaq yang tinggi, mulia, dan dicintai oleh Allah Taala.
Bahkan akhlaq ini merupakan sifat hamba2 Allah Taala yang shalih, yang senantiasa
memuji keagungan Allah Taala, takut akan siksa, adzab, dan murka-Nya, serta selalu
mencari keridhaan dan pahala-Nya.
Karena Izzah-nya adalah sesuatu yang sangat mahal dan iffah-nya adalah sesuatu
yang sangat berharga.
Kita mungkin mampu menguasai keduanya (Izzah dan 'Iffah) di dunia nyata tapi
ternyata tidak sedikit yang tidak mampu mempertahankan keduanya ketika berada
di dunia maya.
Sayang sekali memang, ketika kita merasa bahwa "dunia maya" akan jauh berbeda
dengan "dunia nyata" ternyata syetan pun dengan mudah menguasai diri.
Hijab yang begitu anggun ditutup dari lawan jenis, begitu mudah dibuka ketika
menemukan lawan jenis, karna merasa bahwa tidak ada hijab di "dunia maya"
apalagi yang sedang populer kini yakni facebook.

Tak ada lagi yang tersisa dari rasa malu yang sering dibanggakan di dunia nyata,
hilang begitu saja ketika lawan jenis (bukan mahram) lebih memperhatikan di
facebook daripada ketika di dunia nyata.
Disisihkan kemana rasa malu itu, ketika hati sudah terpaut di dunia maya sehingga
mata dan hati tak lagi melihat sebuah iffah dan izzah yang harus pertahankan.
Demikianlah Islam telah menempatkan wanita di tempat yang mulia, namun mereka
sendirilah yg menghilangkan Izzah dan 'Iffah mereka.
#MenjagaIzzahDanIffah

Kenapa izzah dan Iffah seorang


muslimah harus dijaga??

Bismillah,
Ada sebuah quotes yang aku dapat ketika sedang asik mensearching tugas
pagi ini, entah kenapa aku malah nyasar ke sebuah website tapi, aku
bersyukur nyasar ke website itu.. sebenarnya sebelum searchingsearching, pagi ini aku sedang membaca sebuah buku yang sangat menarik
dan aku sangat suka menyelami lembar demi lembar dari buku ini. Judul
buku ini adalah Jalan Cinta Para Pejuang, pada sebuah bab aku
menemukan sepenggal percakapan yaitu :

ketika disuatu padang ada beberapa ladang


gembalaan, dimana sebagian ladang gembalaan itu
pernah dipakai orang untuk menggembalakan

ternaknya, dan ada satu ladang gembalaan yang belum


pernah disentuh, kemanakah engkau akan
menggembalakan ternakmu? | tentu saja keladang
gembalaan yang tak pernah disentuh itu percakapan
antara Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dengan
Aisyah Radhiallahu anhu.
Membaca penggalan percakapan itu aku teringgat
tentang izzah dan iffah yang harus dijaga seorang muslimah, yah aku sadar
aku belum sempurna, tapi tak ada salahnya kita belajar bukan begitu
benarr?? ^_^
Saat searching tentang izzah dan iffah, Izzah adalah kehormatan
perempuan sebagai seorang muslimah. Sedangkan Iffah adalah
bagaimana seorang muslimah dapat menjaga kesucian dirinya dengan
menjadikan malu sebagai pakaian mereka, aku menemukan sebuah
website dimana ada tulisan berjudul Catatan Seorang Akhwat disana aku
membaca dan merenungi kata demi kata yang dituliskan oleh penulisnya,
sungguh aku sangat suka, terlebih ada sebuah quotes yang tertulis indah.
Begini bunyi quotes itu :

Jika engkau jatuh cinta pendamlah rasa itu dan jangan


kau tampakkan. Mohonlah kepada Allah agar menjadi
tenang. Jika kau mati dalam keadaan bersabar, niscaya
kau akan beruntung mendapatkan syurga. (Taman
Orang-Orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu).
Siapa yang belum pernah merasakan jatuh cinta, aku rasa kebanyakan
sudah merasakan itu, tapi yang membedakan adalah apakah dia
mengumbar atau diam dan bermunajat kepada pemilik hati ini? Banyak hal
yang aku takuti ketika aku jatuh hati
1.

Aku takut, kenapa aku takut? Aku takut mencuri keimanan


seseorang, aku takut menggodanya, aku takut menjadi fitnah bagi nya dan
aku takut atas bisikan maksiat dari setan. Yahh, karena aku sadar usia ku
adalah usia yang rentan dengan pergaulan yang semakin tak dapat
dikontrol, aku merasakan betapa aku takut masuk kedalam jerat
mematikan dari bisikan setan yang selalu menggoda generasi muda,
sehingga tak sedikit diantara kami yang menjadi korban jeratan itu, tapi tak
sedikit pula diantara kita yang bisa dengan tegas mengatakan inilah kami

yang bebas dari penyakit cinta karena kami majikannya. kami bukan budak
cinta
2.

Aku takut, aku takut menjadi fitnah bagi mereka, mereka adalah
saudara-saudaraku yang sangat aku kasihi dan aku selalu bersyukur dan
berterima kasih karena telah dipertemukan dengan mereka teman-teman
dan sahabat dari sisiNya.

3.

Aku takut, aku takut tak kuat menjaga diri dari godaan setan.

4.

Aku takut, aku takut menjadi manusia tak amanah yang tak bisa
menjaga janji kepadaNya.

5.

Aku takut, aku takut menjadi kecerobohan dan kelalaian mereka


karena aku tak bisa menjadi orang yang membuat aman dan nyaman dalam
pertemanan.
Sebuah kisah cinta bukan selayaknya diumbar atau diperlihatkan dalam
kata-kata, indah jika lantunan doa yang terselip dan sebuah permohonan
kepada pemilik hati yang dapat membolak balikkan hati hambaNya. Aku
ingin menjadi seperti khadijah dan aisyah, khadijah yang menentramkan
dan mengorbankan segalanya untuk Rosulullah berjalan untuk berdakwah
dan aisyah yang dengan keceriaan dan kasih sayangnya selalu menghibur
Rosulullah.
Kisah cinta Ali dan Fattimah pun indah, mereka berteman sejak kecil,
mereka tak mengumbar perasaan, Ali yang dapat menjaga pandangannya
dan betapa sabarnya Ali ketika beberapa sahabat rosulullah berniat
mempersunting fattimah, ia tak lantas menjadi seorang yang kehilangan
akal karena cintanya akan diambil orang, tapi dia tetap ,tetap menjadi
pemuda sejati yang dengan keikhlasannya mempersilahkan, walau Ali tak
pernah mengatakan rahasia hati nya kepada fattimah ataupun Rosulullah
Shalallahu alaihi wassalam. Ia bermunajat kepada Allah Subhanahu Wa
Taala dan Subhanallah, Allah menjawab doa Ali yang kemudian Ali
menikah dengan Fattimah, inilah jalan yang mempertemukan cinta
berserta tanggungjawab. Aku mengambil kesimpulan bahwa cinta itu suci,
tak sepantasnya dia ternoda dengan cara penyampaian yang salah. Pernah
membaca dari sebuah tulisan yang ditulis oleh ustad Felix Y siauw dalam
bukunya yang berjudul Beyond The Inspiration disana pada halaman 158
aku menemukan sebuah tulisan perasaan antara pria-wanita bersifat
fitrah dan hal itu tidak berdosa, dosa akan dinilai dari bagaimana keduanya
memenuhi perasaan itu, apakah dengan cara yag baik atau dengan cara
yang buruk?

Pemuda dan pemudi itu bagaikan berjalan ditengah jurang yang dengan
siap akan menelan mereka yang tergelincir. Indah memang cinta itu, tapi
tak seharusnya merusak akal dan pikiran kita, bener tidak teman??, dan
aku sangat menyukai cara mereka menjaga diri mereka dengan hijab
mereka, baik akhwat dan ikhwan ,mereka yang dengan teguh memegang
prinsip dan komitmen untuk saling menjaga batasan-batasan diantara
mereka, sungguh aku belajar dari situ, belajar bertanggung jawab atas
setiap perasaan.
Masih banyak hal yang bisa dilakukan selain hanya memikirkan dia yang
belum halal untuk kita kawan, ingat kedua orang tua? Sudahkah kita
melaksanakan kewajiban kita? Sudahkah kita menjadikan mereka orang
tua yang bangga dengan kita? Atau kah kita melupakan kewajiban itu?
Karean terlalu fokus dengan perasaan kita?
Ahh.. dahulu aku masih suka mengutamakan ego, tapi kini, in syaa Allah..
^_^ aku senang melihat mereka yang berjalan lurus, dan tak tergoda
dengan godaan godaan yang indah namun berakhir dengan menyesatkan.
Para ukhti dan akhi yang telah mengajariku secara tak langsung, aku
senang mencuri ilmu dari mereka, yah, caranya dengan memperhatikan
mereka, bagaimana mereka bisa tetap istiqomah, bagaimana mereka tetap
bisa berinteraksi tanpa mereka melupakan batasan batasan diantara
mereka. Indah rasanya, nyaman dan aman. Itulah perasaan yang aku
peroleh dari hasil observasi diam-diamku terhadap mereka yang
subhanallah aku sulit menggambarkan dalam kata-kata ^_^.
Sungguh aku bersyukur, walau terlambat mengenal perasaan nyaman dan
aman ini, tapi tetaplah bersyukur dari pada tidak sama sekali dan
terlambat. Para ukhti yang tanpa mereka sadari telah mengajarkanku
untuk bersyari dalam penampilan, dan para akhi yang tanpa mereka sadari
mengarakanku untuk menjaga izzah dan iffah, serta orang tuaku yang
begitu protektif kepadaku telah berhasil aku menjawab banyak pertanyaan
yang aku simpan dalam hati, kenapa aku tak diperbolehkan untuk merajut
hubungan saat masa masa remaja? Mengapa kedua orang tuaku selalu
menanyakan siapa saja yang berteman denganku, dan entah kenapa aku
juga selalu dengan senang hati memberitahu siapakah teman-temanku,
walau kedua orang tuaku tak pernah melihat teman-temanku karena aku
tak tinggal satu rumah dengan kedua orang tuaku, tapi aku selalu
memberitahu mereka dan itu nyaman untukku, apa sebenarnya ketakutan
beliau sehingga over protektif kepadaku, kini aku tahu, itu semua untuk
menjagaku.. subhanallah
Sebenarnya laki-laki dan perempuan memiliki risiko yang sama besar
ketika salah dalam pergaulan, dan memiliki peluang yang sama besar pula

untuk berbalik dan kembali kepada hal yang sesuai dengan nilai dan norma
yang berlaku.
Yang perlu diingat bukanlah hasil, tapi proses yang akan kau ceritakan
kepada generasi setelahmu, dengan indah dan dalam lantunan kata yang
indah pula.
terima kasih
untuk :http://evans86.abatasa.co.id/post/detail/13470/catatan-seorangakhwat-.html
dan terima kasih untuk para penulis yang sudah menginspirasi serta para
akhi dan ukhti yang aku telah curi ilmu dari kalian secara diam-diam..
kemudian untuk terspesial of course kedua orang tua dan keluarga yang
telah menjaga hingga kini dan tak pernah lelah menyayangi dan
mengasihiku ^_^
wassalam
salam pena ^_^
https://sitirahayusiray.wordpress.com/2014/01/10/kenapa-izzah-dan-iffahseorang-muslimah-harus-dijaga/

pengertian Iffah
Secara etimologis, iffah adalah bentuk masdar dari affa-yaiffu-iffah yang
berarti menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik. Dan juga berarti
kesucian tubuh.
Secara terminologis, iffah adalah memelihara kehormatan diri dari segala
hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkannya.
Bentuk-bentuk Iffah
1. Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan masalah
seksual, Muslim harus menjaga penglihatan, pergaulan, dan pakaiannya.
2. Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan masalah
harta, Muslim tidak menadahkan tangan meminta-minta. Al-Quran
menganjurkan kepada orang-orang berpunya untuk membantu orangorang miskin yang tidak mau memohon bantuan karena sikap iffah
mereka.
3. Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan
kepercayaan orang lain kepada dirinya, sseorang harus betul-betul
menjauhi segala macam bentuk ketidakjujuran. Sekali-kali jangan dia
berkata bohong, mungkir janji, khianat dan lain sebagainya.
http://www.ariefrianto.com/2012/01/iffah-mujahaddah-tawadhu-kel-5.html

Iffah: Lambang Kemuliaan Seorang Wanita


Iffah: Lambang Kemuliaan Seorang Wanita
Segala puji bagi Allah Taala, Robb semesta alam. Sholawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad j.
Akhwatifillah
Di masa sekarang ini, di saat kejahiliahan kembali merata di seluruh penjuru dunia,
upaya penjagaan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan, kesia-siaan, dan kerendahan
harus lebih ditekankan. Terlebih lagi bagi seorang muslimah yang kedudukannya sebagai
makhluk yang mulia. Iffah adalah bahasa yang lebih akrab untuk menyatakan penjagaan
diri ini. Lalu apa sebenarnya iffah itu?
Pengertian Iffah
Wahai muslimah
Menurut bahasa, iffah artinya adalah menahan. Sedangkan menurut istilah, iffah adalah
menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah.
Jadi, afifah (sebutan bagi muslimah yang iffah) adalah muslimah yang bersabar dari
perkara-perkara yang diharamkan walaupun jiwanya menginginkannya.
Allah Taala berfirman: Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah
menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karuniaNya. (An-Nur: 33).
Wanita yang afifah
Saudariku
Iffah adalah akhlaq yang tinggi, mulia, dan dicintai oleh Allah Taala. Bahkan akhlaq ini
merupakan sifat hamba-hamba Allah Taala yang shalih, yang senantiasa memuji
keagungan Allah Taala, takut akan siksa, adzab, dan murka-Nya, serta selalu mencari
keridhaan dan pahala-Nya.
Ada beberapa hal yang dapat menumbuhkan akhlaq iffah dan perlu dilakukan oleh
seorang muslimah untuk menjaga kehormatan dirinya, di antaranya adalah:
1. Ketaqwaan kepada Allah Taala
Taqwa adalah asas paling fundamental dalam mengusahakan iffah pada diri seseorang.
Ketaqwaan adalah pengekang seseorang dari perbuatan-perbuatan tercela yang dilarang
oleh Allah Taala, sehingga ia akan selalu berhati-hati dalam berbuat seseuatu, baik di
saat sendirian maupun dalam keramaian.
Sesungguhnya kemuliaan yang diraih seorang wanita shalihah adalah karena
kemampuannya dalam menjaga martabatnya (Iffah) dengan hijab serta iman dan taqwa.
Ibarat sebuah bangunan, ia akan berdiri kokoh jika mempunyai pondasi yang kokoh.
Andaikan pondasi sebuah bangunan tidak kokoh, maka seindah dan semegah apapun
pasti akan cepat runtuh. Begitu juga dengan iffah yang dimiliki oleh seorang wanita,
dengan iman dan taqwa sebagai pondasi dasar untuk meraih kemuliaan-kemuliaan lain.
Segala anggota tubuh akan selalu terjaga jangan sampai melanggar larangan Allah Taala
sehingga terjerumus ke dalam kesesatan. Mulutnya terjaga dari pembicaraan yang siasia, ghibah, fitnah, adu domba, dusta, mengumpat , mencela, dan lain-lain. Tangannya
pun akan terjaga dari hal yang dilarang seperti mencuri, bersentuhan dengan orang yang
bukan mahramnya, dan lain-lain. Mata pun demikian, tak ingin terjerumus dalam
mengumbar pandangan yang diharamkan.
Sungguh ketika taqwa berdiam pada diri seseorang, maka muncullah pribadi yang penuh
dengan hiasan yang tak tertandingi keindahannya. Mengalahkan emas, perak, berlian,
dan hiasan dunia lainnya.

2. Menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan


Saudariku muslimah
Allah Taala berfirman: Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: Hendaklah mereka
menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka (An-Nur: 31)
Asy-Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata: Allah Jalla wa Ala
memerintahkan kaum mukminin dan mukminat untuk menundukkan pandangan mata
mereka dan menjaga kemaluan mereka. Termasuk menjaga kemaluan adalah
menjaganya dari perbuatan zina, liwath (homoseksual), dan lesbian, serta menjaganya
dengan tidak menampakkan dan menyingkapnya di hadapan manusia. (Adhwa-ul
Bayan, 6/186)
3. Tidak bepergian jauh (safar) sendirian tanpa didampingi mahramnya
Seorang wanita tidak boleh bepergian jauh tanpa didampingi mahramnya yang akan
menjaga dan melindunginya dari gangguan. Rasulullah j bersabda: Tidak boleh seorang
wanita safar kecuali didampingi mahramnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
4. Tidak berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahramnya
Bersentuhan dengan lawan jenis akan membangkitkan gejolak di dalam jiwa yang akan
membuat hati condong kepada perbuatan yang keji dan hina.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah berkata: Secara mutlak tidak
boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, sama saja apakah wanita itu
masih muda atau sudah tua. Dan sama saja apakah laki-laki yang berjabat tangan
dengannya itu masih muda atau kakek tua. Karena berjabat tangan seperti ini akan
menimbulkan fitnah bagi kedua pihak.
Aisyah radhiyallahu anha berkata tentang Rasulullah j: Tangan Rasulullah j tidak
pernah menyentuh tangan wanita, kecuali tangan wanita yang dimilikinya (istri atau
budak beliau). (HR. Al-Bukhari)
Tidak ada perbedaan antara jabat tangan yang dilakukan dengan memakai alas atau
penghalang (kaos tangan atau kain) maupun tanpa penghalang. Karena dalil dalam
masalah ini bersifat umum dan semua ini dalam rangka menutup jalan yang
mengantarkan kepada fitnah. (Majmu Al-Fatawa, I/185)
5. Tidak khalwat (berduaan) dengan laki-laki yang bukan mahram
Rasulullah j telah memerintahkan dalam sabdanya: Tidak boleh sama sekali seorang
lak-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali bila bersama wanita itu ada
mahramnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
6. Nikah
Nikah adalah salah satu jalan terbaik untuk menjaga kesucian diri. Bahkan nikah adalah
sarana utama untuk menumbuhkan sifat iffah. Dengan menikah, seorang muslimah akan
terjaga pandangan mata dan kehormatan dirinya. Nikah adalah fitrah kemanusiaan yang
di dalamnya terdapat rasa cinta, kasih sayang, dan kedamaian yang tidak didapatkan
dengan cara lain, seperi firman Allah Taala: Dan di antara tanda kekuasaanNya adalah
Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. (Ar-Rum: 21)
7. Rasa Malu
Malu adalah sifat yang agung dan terpuji. Dengan rasa malu, seseorang akan terhindar
dari perbuatan keji, tidak pantas, mengandung dosa dan kemaksiatan. Rasa malu akan
bertambah indah jika melekat pada diri seorang muslimah. Dengan malu, seorang
muslimah akan selalu nampak dalam fitrah kewanitaannya, tak mau mengumbar aurat
tubuhnya, tak mau mengeraskan suara yang tak diperlukan di tengah kumpulan
manusia, tidak tertawa lepas, dan lain-lain.
Rasa malu ini benar-benar akan menjadi penjaga yang baik bagi seorang muslimah. Ia
akan menyedikitkan beraktivitas di luar rumah yang tanpa manfaat. Ia akan menjaga diri
ketika berbicara dengan orang lain, terlebih laki-laki yang bukan mahram. Tentu hal ini

akan lebih menjaga kehormatannya.


8. Menjauh dari hal-hal yang mengundang fitnah
Seorang muslimah yang cerdas haruslah memahami akibat yang ditimbulkan dari suatu
perkara dan memahami cara-cara yang ditempuh orang-orang bodoh untuk
menyesatkan dan menyimpangkannya. Sehingga ia akan menjauhkan diri dari
mendengarkan musik, nyanyian, menonton film dan gambar yang mengumbar aurat,
membeli majalah-majalah yang merusak dan tidak berfaedah, dan lain-lain. Ia juga tidak
akan membuang hartanya untuk merobek kehormatan dirinya dan menghilangkan iffahnya. Karena kehormatan serta iffah adalah sesuatu yang mahal dan sangat berharga.
Sebuah Penutup
Wahai ukhti muslimah
Iffah adalah pondasi kemuliaan bagi seorang wanita shalihah. Sungguh mulia wanita
shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan
generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah Taala akan menjadikannya bidadari di surga.
Kemuliaan wanita shalihah digambarkan oleh Rasulullah j dalam sabdanya: Dunia ini
adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah. (HR. Muslim)
Jika ingin mendapatkan kemuliaan sebagai wanita shalihah, maka sesungguhnya
kemuliaan itu hanya dapat diraih ketika ia memiliki kemampuan untuk menjaga
martabatnya dengan iman, menerima semua karunia yang Allah Taala berikan,
menghijab dirinya dari kemaksiatan, menghiasi semua aktivitasnya dengan ibadah, dan
memberikan yang terbaik bagi sesamanya. Seorang wanita yang mampu melakukan
semua itu akan mulia di sisi Allah Taala dan terhormat di hadapan manusia.
Memang usaha yang dilakukan untuk meraih iffah bukanlah hal yang ringan. Diperlukan
perjuangan yang sungguh-sungguh dan keistiqamahan yang stabil dengan meminta
kepada Allah Taala. Allah Taala telah berfirman: Dan orang-orang yang bersungguhsungguh untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada
mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang
berbuat baik. (Al-Ankabut: 69)
Wallahu Taala alam bish-showab
Maroji:
Asy-Syariah Vol I/No.11/1425 H/2004
js.ugm.ac.id/?p=51
homiket.wordpress.com/2007/05/31/iffah-lambang-kemuliaan-wanita/

http://udinmagz1.blogspot.co.id/2008/12/iffah-lambang-kemuliaan-seorangwanita.html
Secara bahasa, iffah adalah menahan. Adapun secara istilah; menahan diri sepenuhnya dari
perkara-perkara yang Allah haramkan. Dengan demikian, seorang yang afif adalah orang yang
bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan walaupun jiwanya cenderung kepada perkara
tersebut dan menginginkannya.
Firman Allah swt:

Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai
Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya. (An-Nur: 33).

Orang yang tidak tahu menyangka mereka (orang-orang fakir) itu adalah orang-orang yang
berkecukupan karena mereka taaffuf (menahan diri dari meminta-minta kepada manusia). (AlBaqarah: 273).



Apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya
siapa yang menahan diri dari meminta-minta maka Allah akan memelihara dan menjaganya, dan
siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta maka Allah akan menjadikannya sabar. Dan
siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya maka Allah akan
memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih
luas daripada kesabaran. (HR. Al-Bukhari no. 1469 , 6470 dan Muslim no. 1053 , 2421) (Lihat: AlJami li Ahkamil Quran, Al-Imam Al-Qurthubi, 3/221. Makarimul Akhlaq, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah, hal. 149, 152. Fathul Bari, 11/309, 311. Al-Iffah Madhahiruha wa Tsamaruha, hal. 4).
Al-Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sadi rahimahullah mengatakan: Hadits
yang agung ini terdiri dari empat kalimat yang singkat, namun memuat banyak faedah lagi
manfaat.
Pertama: Ucapan Nabi shallallahu alaihi wasallam:


Siapa yang menjaga kehormatan dirinyadengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi
untuk beroleh apa yang ada di tangan merekaAllah taalaakan menganugerahkan kepadanya iffah.
Kedua: Ucapan Nabi shallallahu alaihi wasallam:


Siapa yang merasa cukup, Allah taala akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup
dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki).
Dua kalimat di atas saling terkait satu sama lain, karena kesempurnaan seorang hamba ada pada
keikhlasannya kepada Allah taala, dalam keadaan takut dan berharap serta bergantung kepada-Nya
saja. Adapun kepada makhluk, tidak sama sekali. Oleh karena itu, seorang hamba sepantasnya
berupaya mewujudkan kesempurnaan ini dan mengamalkan segala sebab yang mengantarkannya
kepadanya, sehingga ia benar-benar menjadi hamba Allah taalasemata, merdeka dari perbudakan
makhluk.
Usaha yang bisa dia tempuh adalah memaksa jiwanya melakukan dua hal berikut:
1. Memalingkan jiwanya dari ketergantungan kepada makhluk dengan menjaga kehormatan diri
sehingga tidak berharap mendapatkan apa yang ada di tangan mereka, hingga ia tidak meminta
kepada makhluk, baik secara lisan (lisanul maqal) maupun keadaan (lisanul hal).
Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Umar radhiyallahu anhu:


,


Harta yang mendatangimu dalam keadaan engkau tidak berambisi terhadapnya dan tidak pula
memintanya, ambillah. Adapun yang tidak datang kepadamu, janganlah engkau/menggantungkan
jiwamu kepadanya. (HR. Al-Bukhari no. 1473 dan Muslim no. 2402)
Memutus ambisi hati dan meminta dengan lisan untuk menjaga kehormatan diri serta menghindar
dari berutang budi kepada makhluk serta memutus ketergantungan hati kepada mereka, merupakan
sebab yang kuat untuk mencapai iffah.
2. Penyempurna perkara di atas adalah memaksa jiwa untuk melakukan hal kedua, yaitu merasa
cukup dengan Allah taala, percaya dengan pencukupan-Nya. Siapa yang bertawakal kepada
Allah taala, pasti Allah taala akan mencukupinya. Inilah yang menjadi tujuan.
Yang pertama merupakan perantara kepada yang kedua ini, karena orang yang ingin menjaga diri
untuk tidak berambisi terhadap yang dimiliki orang lain, tentu ia harus memperkuat ketergantungan
dirinya kepada Allah taala, berharap dan berambisi terhadap keutamaan Allah taala dan kebaikanNya, memperbaiki persangkaannya dan percaya kepada Rabbnya. Allah taala itu mengikuti
persangkaan baik hamba-Nya. Bila hamba menyangka baik, ia akan beroleh kebaikan. Sebaliknya,
bila ia bersangka selain kebaikan, ia pun akan memperoleh apa yang disangkanya.
Setiap hal di atas meneguhkan yang lain sehingga memperkuatnya. Semakin kuat ketergantungan
kepada Allah taala, semakin lemah ketergantungan terhadap makhluk. Demikian pula sebaliknya.
Di antara doa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam:


Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah, dan kecukupan. (HR. Muslim no.
6842 dari Ibnu Masud z)
Seluruh kebaikan terkumpul dalam doa ini. Al-huda (petunjuk) adalah ilmu yang bermanfaat,
ketakwaan adalah amal saleh dan meninggalkan seluruh yang diharamkan. Hal ini membawa
kebaikan agama.
Penyempurnanya adalah baik dan tenangnya hati, dengan tidak berharap kepada makhluk dan
merasa cukup dengan Allah taala. Orang yang merasa cukup dengan Allah taala, dialah orang kaya
yang sebenarnya, walaupun sedikit hartanya. Orang kaya bukanlah orang yang banyak hartanya.
Akan tetapi, orang kaya yang hakiki adalah orang yang kaya hatinya.
Dengan iffah dan kekayaan hati sempurnalah kehidupan yang baik bagi seorang hamba. Dia akan
merasakan kenikmatan duniawi dan qanaah/merasa cukup dengan apa yang Allah taala berikan
kepadanya.
Ketiga: Ucapan Nabi shallallahu alaihi wasallam:

Siapa yang menyabarkan dirinya, Allah taala akan menjadikannya sabar.


Keempat: Bila Allah taala memberikan kesabaran kepada seorang hamba, itu merupakan pemberian
yang paling utama, paling luas, dan paling agung, karena kesabaran itu akan bisa membantunya
menghadapi berbagai masalah. Allah taala berfirman:
Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. (Al-Baqarah: 45)
Maknanya, dalam seluruh masalah kalian.
Sabar itu, sebagaimana seluruh akhlak yang lain, membutuhkan kesungguhan (mujahadah) dan
latihan

jiwa.

Karena

memaksa

itulah,

Rasulullah shallallahu

alaihi

jiwanya untuk bersabar, balasannya:

wasallam mengatakan:

Allah taala akan

menjadikannya sabar. Usaha dia akan berbuah bantuan Allah taala terhadapnya.

Sabar itu disebut pemberian terbesar, karena sifat ini berkaitan dengan seluruh masalah hamba dan
kesempurnaannya. Dalam setiap keadaan hamba membutuhkan kesabaran.
Ia membutuhkan kesabaran dalam taat kepada Allah taala sehingga bisa menegakkan ketaatan
tersebut
dan
menunaikannya.
Ia membutuhkan kesabaran untuk menjauhi maksiat kepada Allah taala sehingga ia bisa
meninggalkannya
karena
Allah taala.
Ia membutuhkan sabar dalam menghadapi takdir Allah taala yang menyakitkan sehingga ia tidak
menyalahkan/murka terhadap takdir tersebut. Bahkan, ia pun tetap membutuhkan sabar menghadapi
nikmat-nikmat Allah taala dan hal-hal yang dicintai oleh jiwa sehingga tidak membiarkan jiwanya
bangga dan bergembira yang tercela. Ia justru menyibukkan diri dengan bersyukur kepada
Allah taala.
Demikianlah, ia membutuhkan kesabaran dalam setiap keadaan. Dengan sabar, akan diperoleh
keuntungan dan kesuksesan. Oleh karena itulah, Allah taalamenyebutkan ahlul jannah (penghuni
surga) dengan firman-Nya:
Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan),
Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
(Ar-Rad: 2324)
Demikian pula firman-Nya:
Mereka itulah yang dibalasi dengan martabat yang tinggi dalam surga karena kesabaran mereka.
(Al-Furqan: 75)
Dengan kesabaranlah mereka memperoleh surga berikut kenikmatannya dan mencapai tempattempat yang tinggi.
Seorang hamba hendaklah meminta keselamatan kepada Allah taala, agar dihindarkan dari musibah
yang ia tidak mengetahui akibatnya. Akan tetapi, bila musibah itu tetap menghampirinya, tugasnya

adalah bersabar. Kesabaran merupakan hal yang diperintahkan dan Allah taala-lah yang menolong
hamba-Nya.
Allah taala menjanjikan dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya bahwa orang-orang yang
bersabar
akan
beroleh
ganjaran
yang
tinggi
lagi
mulia.
Allah taala berjanji akan menolong mereka dalam semua urusan, menyertai mereka dengan
penjagaan, taufik dan pelurusan-Nya, mencintai dan mengokohkan hati serta telapak kaki mereka.
Allah taala akan memberikan ketenangan dan ketenteraman, memudahkan mereka melakukan
banyak ketaatan.
Dia
juga
akan
menjaga
mereka
dari
penyelisihan.
Dia memberikan keutamaan kepada mereka dengan shalawat, rahmat, dan hidayah ketika tertimpa
musibah.
Dia mengangkat mereka kepada tempat-tempat yang paling tinggi di dunia dan akhirat.
Dia berjanji menolong mereka, memudahkan menempuh jalan yang mudah, dan menjauhkan mereka
dari
kesulitan.
Dia menjanjikan mereka memperoleh kebahagiaan, keberuntungan, dan kesuksesan.
Dia
juga
akan
memberi
mereka
pahala
tanpa
hitungan.
Dia akan mengganti apa yang luput dari mereka di dunia dengan ganti yang lebih banyak dan lebih
baik daripada hal-hal yang mereka cintai yang telah diambil dari mereka.
Allah taala pun akan mengganti hal-hal tidak menyenangkan yang menimpa mereka dengan ganti
yang segera, banyaknya berlipat-lipat daripada musibah yang menimpa mereka.
Sabar itu pada mulanya sulit dan berat, namun pada akhirnya mudah lagi terpuji akibatnya. Ini
sebagaimana dikatakan dalam bait syair berikut.




Sabar
itu
seperti
Akan tetapi, akibatnya lebih manis daripada madu.

namanya,

pahit

rasanya

(Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawamiil Akhbar, hadits ke-33, hlm. 9l
93)
Bila seorang muslim dituntut untuk memiliki iffah maka demikian pula seorang muslimah. Hendaknya
ia memiliki iffah sehingga ia menjadi seorang wanita yang afifah, karena akhlak yang satu ini
merupakan akhlak yang tinggi, mulia dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Taala. Bahkan akhlak ini
merupakan sifat hamba-hamba Allah yang shalih, yang senantiasa menghadirkan keagungan Allah
dan takut akan murka dan azab-Nya. Ia juga menjadi sifat bagi orang-orang yang selalu mencari
keridhaan dan pahala-Nya.
Berkaitan dengan iffah ini, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh
seorang muslimah untuk menjaga kehormatan diri, di antaranya:
1. Menundukkan pandangan mata (ghadhul bashar) dan menjaga kemaluannya. Allah
Subhanahu wa Taala berfirman:





Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: Hendaklah mereka menundukkan pandangan mata
mereka dan menjaga kemaluan mereka (An-Nur: 31)
Asy-Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata: Allah Jalla wa Ala memerintahkan
kaum mukminin dan mukminat untuk menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan
mereka. Termasuk menjaga kemaluan adalah menjaganya dari perbuatan zina, liwath (homoseksual)
dan lesbian, dan juga menjaganya dengan tidak menampakkan dan menyingkapnya di hadapan
manusia. (Adhwa-ul Bayan, 6/186)
2. Tidak bepergian jauh (safar) sendirian tanpa didampingi mahramnya yang akan menjaga
dan melindunginya dari gangguan. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


Tidak boleh seorang wanita safar kecuali didampingi mahramnya. (HR. Al-Bukhari no. 1862 dan
Muslim no. 1341)
3. Tidak berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahramnya. Karena bersentuhan dengan
lawan jenis akan membangkitkan gejolak di dalam jiwa yang akan membuat hati itu condong kepada
perbuatan keji dan hina.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah berkata: Secara mutlak tidak boleh berjabat
tangan dengan wanita yang bukan mahram, sama saja apakah wanita itu masih muda ataupun sudah
tua. Dan sama saja apakah lelaki yang berjabat tangan denganya itu masih muda atau kakek tua.
Karena berjabat tangan seperti ini akan menimbulkan fitnah bagi kedua pihak. Aisyah radhiallahu
anhu berkata tentang teladan kita (Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam):





Tangan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan wanita, kecuali
tangan wanita yang dimilikinya (istri atau budak beliau). (HR. Al-Bukhari, no. 7214)
Tidak ada perbedaan antara jabat tangan yang dilakukan dengan memakai alas/ penghalang (dengan
memakai kaos tangan atau kain misalnya) ataupun tanpa penghalang. Karena dalil dalam masalah ini
sifatnya umum dan semua ini dalam rangka menutup jalan yang mengantarkan kepada fitnah.
(Majmu Al-Fatawa, 1/185)
4. Tidak khalwat (berduaan) dengan lelaki yang bukan mahram. Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam telah memperingatkan dalam titahnya yang agung:

Tidak boleh sama sekali seorang lelaki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali bila bersama
wanita itu ada mahramnya. (HR. Al-Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341)
5. Menjauh dari hal-hal yang dapat mengundang fitnah seperti mendengarkan musik,
nyanyian, menonton film, gambar yang mengumbar aurat dan semisalnya.
Seorang muslimah yang cerdas adalah yang bisa memahami akibat yang ditimbulkan dari suatu
perkara dan memahami cara-cara yang ditempuh orang-orang bodoh untuk menyesatkan dan
meyimpangkannya. Sehingga ia akan menjauhkan diri dari membeli majalah-majalah yang rusak dan
tak berfaedah, dan ia tidak akan membuang hartanya untuk merobek kehormatan dirinya dan
menghilangkan iffah-nya. Karena kehormatannya adalah sesuatu yang sangat mahal dan iffah-nya
adalah sesuatu yang sangat berharga. (Lihat: Lin Nisa-i Faqath, Asy-Syaikh Abdullah bin Jarullah Alu
Jarillah, hal. 60-75. Al-Iffah, hal. 8-10)
Memang usaha yang dilakukan untuk sebuah iffah bukanlah usaha yang ringan. Butuh perlu
perjuangan jiwa yang sungguh-sungguh dengan meminta tolong kepada Allah Subhanahu wa Taala.
Allah Subhanahu wa Taala telah menyatakan:



Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orangorang yang berbuat baik. (Al-Ankabut: 69).

sumber: http://muhammadqosim.wordpress.com/2010/08/03/iffah-sebuah-kehormatan-diri/

https://sites.google.com/site/mydeltama/articles/pengertian-iffah