Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
I.1 Gangguan Perkembangan Pervasif
Gangguan perkembangan pervasif adalah sekelompok keadaan berupa terdapatnya
keterlambatan dan penyimpangan perkembangan keterampilan sosial, bahasa dan
komunikasi, serta kumpulan perilaku. (Kaplan, 2010)
Anak dengan gangguan perkembangan pervasif sering menunjukkan minat keanehan yang
intens dalam kisaran sempit aktivitas, menolak perubahan, dan tidak berespons sesuai
terhadap lingkungan sosial. (Kaplan, 2010)
Gangguan ini memengaruhi berbagai area perkembangan, terlihat pada masa kehidupan awal
dan menyebabkan disfungsi yang persisten. (Kaplan, 2010)
I.2 Klasifikasi
Menurut revisi teks edisi keempat Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders
(DSM-IV) gangguan perkembangan pervasif mencakup lima gangguan, antara lain: gangguan
autistik, Syndrome Rett, gangguan disitegratif masa kanak-kanak, Syndrome Asperger, dan
ganggguan perkembangan pervasif yang tidak tergolongkan.
2.2.1 Gangguan Autistik
a. Definisi

Autisme berasal dari bahasa Yunani autos yang berarti segala sesuatu yang mengarah
pada diri sendiri. Autisme pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943, seorang
psikiatri Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis
pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut dengan sindroma Kanner.2
Gangguan autistik (dahulu disebut autisme infantil dini, autisme masa kanak-kanak, atau
autisme Kanner) ditandai dengan interaksi sosial timbal-balik yang menyimpang,
keterampilan komunikasi yang terlambat dan menyimpang, serta kumpulan aktivitas serta
minat yang terbatas.1
Pada awalnya istilah autisme diambilnya dari gangguan schizophrenia, dimana Bleuer
memakai autisme ini untuk menggambarkan perilaku pasien skizofrenia yang menarik diri
dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri. Namun ada perbedaan yang jelas
antara penyebab dari autisme pada penderita skizofrenia dengan penyandang autisme
infantile. Pada skizofrenia, autisme disebabkan dampak area gangguan jiwa yang didalamnya
terkandung halusinasi dan delusi yang berlansung minimal selama 1 bulan, sedangkan pada

anak-anak dengan autisme infantile terdapat kegagalan dalam perkembangan yang tergolong
dalam kriteria Gangguan Pervasif dengan kehidupan autistic yang tidak disertai dengan
halusinasi dan delusi ( DSM IV, 1995 ).2
b. Epidemiologi

Gangguan autistik diyakini terjadi dengan angka kira-kira 5 kasus per 10.000 anak
(0,05%). Laporan mengenai angka gangguan autistik berkisar antara 2 hingga 20 kasus per
10.000. Berdasarkan definisi, onset gangguan autistik adalah sebelum usia 3 tahun, meskipun
pada beberapa kasus, gangguan ini tidak dikenali hingga anak berusia lebih tua.1
Gangguan autistik 4 hingga 5 kali lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan anak
perempuan. Anak perempuan dengan gangguan autistik lebih besar kemungkinannya
memiliki retardasi mental berat.1
c. Etiologi dan Patogenesis
Gangguan autistik merupakan gangguan perilaku perkembangan. Meskipun gangguan
autistik awalanya dihipotesiskan oleh Kanner sebagai akibat ibu bersifat dingin yang secara
emosional tidak respinsif, tidakada validitas terhadap hipotesis ini.1
Faktor psikososial dan keluarga. Anak dengan autisme, seperti anak dengan gangguan
lain, dapat berespons melalui gejala yang memburuk pada stressor psikososial termasuk
perselisihan keluarga, kelahiran saudara kandung, atau pindahnya keluarga. Beberapa anak
dengan gangguan autitstik dapat sangat sensitif bahkan terhadap perubahan kecil di dalam
keluarga serta lingkungan sekitarnya.1
Faktor biologis. Tingginya angka retardasi mental pada anak dengan gangguan autistik
dan angka gangguan bangkitan yang lebih tinggi dari yang diharapkan menunjukkan adanya
dasar biologi utnutk gangguan autistik. Kira-kira 75 % anak dengan gangguan autistik
memiliki retardasi mental. Kira-kira sepertiga anak-anak ini memiliki retardasi mental ringan
hingga sedang, dan hampir setengah dari anak-anak ini mengalami retardai mental berat atau
sangat berat. Anak autistik menunjukkan lebih banyak bukti adanya komplikasi perinatal
dibandingkan kelompok anak normal serta mereka dengan gangguan lain. Temuan bahwa
anak autistik memiiki lebih banyak anomali fisik kongenital minor yang signifikan
dibandingkan yang diperkirakan menunjukkan adanya perkembangan abnormal dalam
trimester pertama kehamilan.1
Faktor Genetik. Hasil penelitian pada keluarga dan anak kembar menunjukkan adanya
faktor genetik yang berperan dalam perkembangan autisme. Pada studi anak kembar
didapatkan 40 hingga 90 persen pada kembar monozigot dan 0 sampai 25 persen pada
kembar dizigot. Hal ini menunjukkan autisme lebih banyak pada kembar monozigot.1

Selain itu, ditemukan adanya hubungan autisme dalam sindrom fragile-X, yaitu suatu
kelainan dari kromosom X. Pada sindrom fragile-X ditemukan kumpulan berbagai ciri seperti
retardasi mental dari yang ringan sampai berat, kesulitan belajar ringan, daya ingat jangka
pendek yang kurang, fisik yang abnormal pada 80% laki-laki dewasa, Clumsiness (kaku
lumpuh), serangan kejang, dan hiper-refleksi. Sering tampak pula gangguan perilaku seperti
hiperaktif, gangguan pemusatan perhatian, impulsif, dan anxietas.1
Gambaran autistik seperti tidak mau kontak mata, stereotipik, pengulangan kata-kata,
perhatian/minat yang terpusat pada suatu benda/obyek juga sering ditemukan. Diduga
terdapat 0-20% sindrom fragile-X pada autisme. Walau demikian hubungan kedua kondisi ini
masih diperdebatkan.1
Faktor perinatal. Tingginya insiden berbagai komplikasi perinatal tampaknya terjadi
pada anak-anak dengan gangguan autistik, walaupun tidak ada komplikasi yang secara
langsung dinyatakan sebagai penyebabnya. Selama gestasi, perdarahan maternal setelah
trimester pertama dan mekonium dalam cairan amnion telah dilaporkan lebih sering
ditemukan pada anak autistik dibandingkan populasi umum. Dalam periode neonatus, anak
autistik memiliki insidensi tinggi sindrom gawat pernapasan dan anemia neonatus. Beberapa
bukti menyatakan tingginya insidensi pemakaian medikasi selama kehamilan oleh ibu dari
anak autistik.1
Faktor neuroanatomis. Studi MRI yang membandingkan orang autistik dengan kontrol
normal menunjukkan bahwa volume total otak menigkat pada orang dengan autisme,
meskipun anak autistik dengan retardasi mental berat memiliki kepala yang lebih kecil.
Peningkatan presentase rerata ukuran terbesar terdapat pada lobus oksipitalis, lobus parietalis,
dan lobus temporalis. Penignkatan volume dapt terjadi akibat 3 kemungkinan mekanisme
yang berbeda; meningkatnya neurogenesis, menurunnya kematian neuron, dan meningkatnya
produksi jaringan otak nonneuronal seperti sel glia atau pembuluh darah. Pembesaran otak
dijadikan sebagai kemungkinan penanda biologis untuk gangguan autistik.1
Faktor biokimia. Pada beberapa anak autistik, meningkatnya asam homovanilat
(metabolit dopamin utama) didalam cairan cerebrospinal menyebabkan meningkatnya
stereotipe dan penarikan diri. Dengan anggapan bila disfungsi neurokemistri yang ditemukan
merupakan dasar dari perilaku dan kognitif yang abnormal tentunya dengan terapi obat
diharapkan disfungsi sistem neurotransmiter ini akan dapat diperbaiki. Beberapa jenis
neurotransmiter yang diduga mempunyai hubungan dengan autisme antara lain: serotonin
dopamin, dan opioid endogen.1

Faktor imunologis. Ditemukannya penurunan respon dari sistem imun pada beberapa
anak autistik meningkatkan kemungkinan adanya dasar imunologis pada beberapa kasus
autisme. Ditemukan antibodi beberapa ibu terhadap antigen leukosit anak mereka yang
autistik, memperkuat dugaan ini karena ternyata antigen leukosit itu juga ditemukan pada selsel otak, sehingga antibodi ibu dapat secara langsung merusak jaringan saraf otak janin, yang
menjadi penyebab timbulnya autisme.1
d. Gambaran Klinis

1. Ciri Khas Fisik


Anak dengan gangguan autistik sering digambarkan sebagai anak yang atraktif, dan pada
pandangan pertama, tidak menunjukkan adanya tanda fisik yang menunjukkan gangguan
autistik. Mereka memiliki angka kelainan fisik minor yang tinggi, seperti malformasi telinga.
Anomali fisik minor mungkin merupakan cerminan periode tertentu perkembangan janin saat
munculnya kelainan, karena pembentukan telinga terjadi kira-kira pada waktu yang sama
dengan pembentukan bagian otak.
Anak autistik juga memiliki insiden yang lebih tinggi untuk mengalami dermatoglifik
(contoh, sidik jari) yang abnormal dibandingkan populasi umum. Temua ini dapat
mengesankan adanya gangguan perkembangan neuroektodermal.
2. Ciri Khas Perilaku
1) Hendaya kualitatif di dalam Interaksi Sosial
Anak autistik sering tidak memahami atau membedakan orang-orang yang penting
dalam hidupnya-orangtua, saudara kandung, dan guru- serta dapat menunjukkan
ansitas yang berat ketika rutinitas biasanya terganggu, dan bereaksi tidak terbuka jika
ditinggalkan dengan seorang yang asing. Defisit jelas di dalam kemampuannya untuk
bermain dengan teman sebaya dan berteman; perilaku sosial aneh dan tidak dapat
sesuai. Secara kognitif anak dengan gangguan autistik lebih terampil dalam tugas
visual-spasial, tidak demikian dengan tugas yang memerlukan ketrampilan dalam
pemberian alasan secara verbal. Anak dengan autisme, mereka tidak mampu
menghubungkan motivasi atau tujuan orang lain, sehingga tidak dapat memberikan
empati.
2) Gangguan Komunikasi dan Bahasa
Defisit

perkembangan

bahasa

dan

kesulitan

menggunakan

bahasa

untuk

mengkomunikasikan gagasan adalah kriteria utama untuk mendiagnosis gangguan

autistik. Anak autistik memiliki kesulitan yang signifikan di dalam menggabungkan


kalimat yang bermakna meskipun memiliki kosakata yang luas.
3) Perilaku Stereotipik
Anak autistik umumnya tidak menunjukkan permainan pura-pura atau menggunakan
pantomim abstrak. Aktivitas dan permainan anak ini sering kaku, berulang, dan
monoton. Manerisme, stereotipik, dan menyeringai paling sering jika seorang anak
ditinggalkan sendiri dan dapat berkurang pada situasi yang terstruktur. Anak autistik
umumnya menolak transisi dan perubahan.
4) Gejala Perilaku Terkait
Hiperkinesis adalah masalah perilaku yang lazim pada anak autistik yang masih kecil.
Hipokinesis lebih jarang; jika ada, hipokinesis sering bergantian dengan
hiperaktivitas. Agresi dan ledakan kemarahan dapat diamati, sering disebabkan oleh
perubahan dan tuntutan. Perilaku mencederai diri mencakup membenturkan kepala,
menggigit, menggaruk, dan menarik rambut. Rentang perhatian yang pendek,
kemampuan yang buruk untuk berfokus pada tugas, insomnia, masalah makan, dan
enuresis juga lazim ditemukan pada anak dengan autisme.
5) Penyakit Fisik Terkait
Insiden infeksi saluran napas atas dan infeksi ringan lain yang lebih tinggi daripada
yang diperkirakan. Gejala gastrointestinal yang lazim ditemukan mencakup
bersendawa, konstipasi, dan hilangnya gerakan usus. Juga terdapat meningkatnya
insiden kejang demam.
3. Fungsi Intelektual
Kemampuan visuomotor atau kognitif yang tidak biasa atau prekoks terjadi pada beberapa
anak autistik yang disebut sebagai splinter functions atau islet of precocity. Contoh menonjol
adalah, pelajar autistik atau idiot, yang memiliki daya ingat menghafal atau kemampuan
berhitung yang luar biasa, biasanya di luar kemampuan sebaya yang normal. Kemampuan
lain mencakup hiperleksia, kemampuan awal untuk membaca dengan baik (meskipun tidak
mengerti), mengingat dan menceritakan kembali, serta kemampuan musikal (bernyanyi atau
memainkan nada atau memainkan alat musik).
e. Diagnosis1

Kriteria diagnostik DSM-IV-TR Gangguan Autistik:

A. Keenam (atau lebih) hal dari (1), (2), (3), dengan sedikitnya dua dari (1), dan satu
masing-masing dari (2) dan (3) :
(1) Hendaya kualitatif dalam hal interaksi sosial, seperti yang ditunjukkan oleh sedikitnya
dua dari hal berikut:
(a) Hendaya yang nyata dalam hal penggunaan berbagai perilaku non verbal seperti
pandangan mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan sikap untuk mengatur interaksi
sosial
(b) Kegagalan mengembangkan hubungan sebaya yang sesuai dengan tingkat
perkembangan
(c) Tidak adanya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau pencapaian
dengan orang lain (cth., dengan tidak menunjukkan, membawa, atau menunjukkan
objek minat)
(2) Hendaya kualitatif dalam hal komunikasi seperti yang ditunjukkan dengan sedikitnya
salah satu dari di bawah ini:
(a) Keterlambatan atau tidak adanya perkembangan bahasa lisan (tidak disertai dengan
upaya untuk mengompensasikan melalui cara komunikasi alternatif seperti sikap
atau mimik)
(b) Pada orang dengan pembicaraan yang adekuat, hendaya yang nyata dalam hal
kemampuannya untuk memulai atau mempertahankan pembicaraan dengan orang
lain
(c) Penggunaan bahasa yang stereotipik dan berulang atau bahasa yang aneh
(d) Tidak adanya berbagai permainan sandiwara spontan atau permainan pura-pura
sosial yang sesuai dengan tingkat perkembangan
(3) Pola perilaku, minat, dan aktivitas stereotipik berulang, dan terbatas, yang ditunjukkan
oleh sedikitnya salah satu dari berikut:
(a) meliputi preokupasi terhadap salah satu atau lebih pola minat yang stereotipik dan
terbatas yang abnormal baik dalam intensitas atau fokus
(b) tampak terlalu lekat dengan rutinitas atau ritual yang spesifik serta tidak fungsional
(c) manerisme motorik berulang dan stereotipik (cth., ayunan atau memuntir tangan atau
jari, atau gerakan seluruh tubuh yang kompleks)
B.

Keterlambatan atau fungsi abnormal pada sedikitnya salah satu area ini, dengan onset
sebelum usia 3 tahun: (1) interaksi sosial, (2) bahasa yang digunakan dalam komunikasi
sosial, atau (3) permainan simbolik dan khayalan.

C. Gangguan ini tidak disebabkan oleh gangguan Rett atau gangguan disintegeratif masa
kanak-kanak.
Pedoman diagnosis anak autis menurut PPGDJ-III adalah :

Gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya kelainan dan/atau


hendaya perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun, dan dengan ciri kelainan
fungsi dalam tiga bidang : interkasi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas,
dan berulang.

Biasanya tidak jelas ada periode perkembangan yang normal sebelumnya, tetapi bila
ada, kelainan perkembangan sudah menjadi jelas sebelum usia 3 tahun, sehingga
diagnosis sudah dapat ditegakkan. Tetapi gejala-gejalanya (sindrom) dapat didiagnosis
pada semua kelompok umur.

Selalu ada hendaya kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik (reciprocal
social interaction). Ini berbentuk apresiasi yang tidak adekuat terhadap isyarat yang
sosio-emosional, yang tampak sebagai kurangnya respons terhadap orang lain
dan/atau kurangnya modulasi terhadap perilaku dalam konteks sosial; buruk dalam
menggunakan isyarat sosial dan integrasi yang lemah dalam perliaku sosial,
emosional, dan komunikatif; dan khususnya, kurangnya respon timbal balik sosioemosional.

Demikian juga terdapat hendaya kualitatif dalam komunikasi. Ini berbentuk


kurangnya penggunaan ketrampilan bahasa yang dimiliki di dalam hubungan sosial;
hendaya dalam permainan imaginatif dan imitasi sosial; keserasian yang buruk dan
kurangnya interaksi timbal balik dalam percakapan; buruknya keluwesan dalam
bahasa ekspresif dan kreativitas, dan fantasi dalam proses pikir yang relatif kurang;
kurangnya respon emosional terhadap ungkapan verbal dan non-verbal orang lain;
hendaya dalam menggunakan variasi irama atau penekanan sebagai modulasi
komunikatif; dan kurangnya isyarat tubuh untuk menekankan atau memberi arti
tambahan dalam komunikasi lisan.

Kondisi ini juga ditandai oleh pola perilaku, minat dan kegiatan yang terbatas,
berulang, dan stereotipik. Ini berbentuk kecenderungan untuk bersikap kaku dan rutin
dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari; ini biasanya berlaku untuk kegiatan baru
dan juga kebiasaan sehari-hari serta pola bermain. Terutama sekali dalam masa kanak
yang dini, dapat terjadi kelekatan yang khas terhadap benda-benda yang aneh,

khususnya benda yang tidak lunak. Anak dapat memaksakan suatu kegiatan rutin
dalam ritual yang sebetulnya tidak perlu; dapat terjadi preokupasiyang stereotipik
terhadap suatu minat seperti tanggal, rute atau jadwal; sering terdapat stereotipi
motorik; sering menunjukkan minat khusus terhadap segi-segi non-fungsional dari
benda-benda (misalnya bau atau rasanya); dan terdapat penolakan terhadap perubahan
dari rutinitas atau dalam detil dari lingkungan hidup pribadi (seperti perpindahan
mebel atau hiasan dalam rumah).

Semua tingkatan IQ dapat ditemukan dalam hubungannya dengan autisme, tetapi pada
tiga perempat kasus secara signifikan terdapat retardasi mental.

f.

Terapi1
Tidak ada terapi khusus yang digunakan untuk menangani gangguan autis. Deteksi dan

penanganan dini dapat memperbaiki gejala dan perkembangan dengan signifikan. Tujuan
terapi untuk anak dengan gangguan autistik adalah untuk meningkatkan perilaku prososial
dan perilaku yang secara sosial dapat diterima, untuk mengurangi gejala perilaku yang aneh,
dan untuk memperbaiki komunikasi verbal serta non verbal. Perbaikan bahasa dan akademik
sering diperlukan. Anak dengan retardasi mental memerlukan intervensi perilaku yang sesuai
secara intelektual untuk mendorong perilaku yang dapat diterima secara sosial dan
mendorong ketrampilan perawatan diri. Orang tua, yang sering putus asa, membutuhkan
dukungan dan konseling. Psikoterapi individual yang berorientasi tilikan terbukti tidak
efektif. Intervensi edukasi dan perilaku dianggap terapi pilihan. Pelatihan di dalam ruang
kelas yang terstruktur dikombinasikan dengan metode perilaku adalah metode terapi yang
paling efektif untuk banyak anak autistik.
Pelatihan yang teliti pada orang tua mengenai konsep dan ketrampilan modifikasi perilaku
serta resolusi perhatian orang tua dapat menghasilkan cukup keuntungan di dalam bahasa,
kognitif, dan area perilaku sosial anak.
Psikofarmaka
Tidak ada pengobatan spesifik untuk mengobati gejala inti gangguan autistik; meskipun
demikian, psikofarmakoterapi merupakan terapi tambahan yang bernilai untuk mengurangi
gejala perilaku terkait. Obat-obat telah dilaporkan memperbaiki gejala berikut yang
mencakup agresi, ledakan kemarahan hebat, perilaku mencederai diri sendiri, hiperaktivitas,
dan perilaku obsesif-kompulsif serta stereotipik. Obat anti psikotik dapat mengurangi agresi
atau perilaku mencederai diri.

Agonis serotonin-dopamin (SDA) memiliki resiko rendah dalam menimbulkan efek


samping ekstrapiramidal, meskipun beberapa individu yang sensitif tidak dapat menoleransi
efek samping ekstrapiramidal atau anti kolinergik dari agen antipsikotik atipikal. SDA
mencakup risperidone (Risperdal), olanzapine (Zyprexa), quetiapine (Seroquel), Clozaril
(Clozapine), dan ziprasidone (Geodon).
g. Perjalanan Gangguan dan Prognosis

Gangguan anak autistik umumnya merupakan gangguan seumur hidup dengan prognosis
terbatas. Prognosis pasien dengan autisme besar hubungannya dengan IQ mereka. Pasien
dengan fungsi-fungsi yang rendah tidak dapat hidup mandiri. Mereka rata-rata membutuhkan
perawatan di rumah selama hidupnya. Sedangkan pada pasien dengan fungsi yang masih baik
dapat hidup dengan mandiri, memiliki pekerjaan yang sukses, dan bahkan dapat menikah dan
mempunyai anak.
Area gejala yang tidak nampak membaik seiring waktu adalah gejala yang terkait perilaku
berulang atau ritualistik. Umumnya, studi hasil saat dewasa menunjukkan bahwa kira-kira
dua pertiga orang dewasa dengan autistik tetap mengalami hendaya berat dan hidup benarbenar bergantung, baik dengan kerabatnya atau di institusi jangka panjang. Prognosisnya
membaik jika lingkungan atau rumah bersifat suportif dan dapat memenuhi kebutuhan
ekstensif anak tersebut. Meskipun pengurangan gejala dicatat pada banyak kasus, mutilasi
diri yang berat atau agresivitas serta regresi dapat terjadi pada yang lain.