Anda di halaman 1dari 10

1

1. Bagaimana cara menentukan usia kehamilan ?


a. Riwayat haid
Pada dasarnya, diagnosis kehamilan postterm tidaklah sulit untuk
ditegakkan apabila keakuratan HPHT ibu bisa dipercaya. Diagnosis kehamilan
postterm berdasarkan HPHT dapat ditegakkan sesuai dengan definisi yang
dirumuskan oleh American College of Obstetricians and Gynecologists (2004),
yaitu kehamilan yang berlangsung lebih dari 42 minggu (294 hari) yang
terhitung sejak hari pertama siklus haid terakhir (HPHT). 1
Permasalahan sering timbul apabila ternyata HPHT ibu tidak akurat atau
tidak bisa dipercaya. Menurut Mochtar et al (2004), jika berdasarkan riwayat
haid, diagnosis kehamilan postterm memiliki tingkat keakuratan hanya 30
persen. Riwayat haid dapat dipercaya jika telah memenuhi beberapa kriteria,
yaitu: (a) ibu harus yakin betul dengan HPHT-nya; (b) siklus 28 hari dan
teratur, (c) tidak minum pil anti hamil setidaknya 3 bulan terakhir.2
Hasil penelitian Savitz, et al (2002) menunjukkan bahwa usia kehamilan
yang ditentukan berdasarkan HPHT cenderung lebih sering salah didiagnosa
sebagai kehamilan postterm dibanding dengan pemeriksaan USG, terutama
akibat ovulasi yang terlambat. Penentuan usia kehamilan dengan HPHT
didasarkan kepada asumsi bahwa kehamilan akan berlangsung selama 280 hari
(40 minggu) dari hari pertama siklus haid yang terakhir. Pendekatan ini
berpotensi menyebabkan kesalahan karena sangat bergantung kepada
keakuratan tanggal HPHT dan asumsi bahwa ovulasi terjadi pada hari ke-14
siklus menstruasi. Padahal, ovulasi tidak selalu terjadi pada hari ke-14 siklus
karena adanya variasi durasi fase folikular, yang bisa berlangsung selama 7-21
hari. Oleh sebab itu, pada ibu yang memiliki siklus 28 hari, masih ada

2
kemungkinan ovulasi terjadi setelah hari ke-14 siklus. Akibatnya, terjadi
kesalahan dalam penentuan usia kehamilan yang seharusnya dihitung mulai
dari terjadinya fertilisasi sampai lahirnya bayi.Tingkat kesalahan estimasi
tanggal perkiraan persalinan jika berdasarkan HPHT adalah 1,37 minggu.3
b. Tes Kehamilan.
Bila pasien melakukan pemeriksaan tesimunologik sesudah terlambat haid
2 minggu, maka dapat diperkirakan keamilan telah berlangsung 6 minggu.

c. Gerak Janin.
Gerak janin pada umumnya dirasakan ibu pada umur kehamilan 18-20
minggu. Pada primigravida dirasakan sekitar umur kehamilan 18 minggu,
sedangkan pada multigravida pada 16 minggu. Keadaan klinis yang ditemukan
ialah gerakan janin yang jarang, yaitu secara subyektif kurang dari 7 kali/20
menit, atau secara obyektif dengan CTG kurang dari 10 kali/20 menit.
d. Denyut Jantung Janin (DJJ)
Dengan stetoskop Laennec DJJ dapat didengar mulai umur kehamilan 1820 minggu, sedangakn dengan Doppler dapat terdengar pada usia kehamilan
10-12 minggu.
Pernoll, et al (2007) menyatakan bahwa kehamilan dapat dinyatakan
sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil
pemeriksaan sebagai berikut:
a. Telah lewat 36 minggu sejak test kehamilan positif
b. Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerak janin pertama kali
c. Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler

3
d. Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan
stetoskop Laennec.
e. Tinggi Fundus Uteri
Dalam trisemester pertama pemeriksaan tinggi fundus uteri serial dalam
sentimeter (cm) dapat bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan secara berulang
setiap bulan.Lebih dari 20 minggu, tinggi fundus uteri dapat menentukan umur
kehamilan secara kasar.4
f. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Penggunaan pemeriksaan USG untuk menentukan usia kehamilan telah
banyak menggantikan metode HPHT dalam mempertajam diagnosa kehamilan
postterm. Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa penentuan
usia kehamilan melalui pemeriksaan USG memiliki tingkat keakuratan yang
lebih tinggi dibanding dengan metode HPHT.
Semakin awal pemeriksaan USG dilakukan, maka usia kehamilan yang
didapatkan akan semakin akurat sehingga kesalahan dalam mendiagnosa
kehamilan postterm akan semakin rendah. Tingkat kesalahan estimasi tanggal
perkiraan persalinan jika berdasarkan pemeriksaan USG trimester I (crownrump length) adalah 4 hari dari taksiran persalinan.Pada usia kehamilan
antara 16-26 minggu, ukuran diameter biparietal (biparietal diameter/BPD)
dan panjang femur (femur length/FL) memberikan ketepatan 7 hari dari
taksiran persalinan.2
Pemeriksaan usia kehamilan berdasarkan USG pada trimester III menurut
hasil penelitian Cohn, et al (2010) memiliki tingkat keakuratan yang lebih
rendah dibanding metode HPHT maupun USG trimester I dan II. Pemeriksaan

4
sesaat setelah trisemester III dapat dipakai untuk menentukan berat janin,
keadaan air ketuban ataupun keadaan plasenta yang berkaitan dengan
kehamilan postterm, tetapi sukar untuk menentukan usia kehamilan. Ukuranukuran biometri janin pada trimester III memiliki tingkat variabilitas yang
tinggi sehingga tingkat kesalahan estimasi usia kehamilan pada trimester ini
juga menjadi tinggi. Tingkat kesalahan estimasi tanggal perkiraan persalinan
jika berdasarkan pemeriksaan USG trimester III bahkan bisa mencapai 3,6
minggu. Keakuratan penghitungan usia kehamilan pada trimester III saat ini
sebenarnya dapat ditingkatkan dengan melakukan pemeriksaan MRI terhadap
profil air ketuban.4
g. Pemeriksaan laboratorium

Sitologi cairan amnion. Pengecatan nile blue sulphate dapat melihat


sel lemak dalam cairan amnion. Apabila jumlah sel yang
mengandung lemak melebihi 10%, maka kehamilan diperkirakan
sudah berusia 36 minggu dan apabila jumlahnya mencapai 50% atau

lebih, maka usia kehamilan 39 minggu atau lebih.


Tromboplastin cairan amnion (ATCA). Hasil penelitian terdahulu
berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu
pembekuan darah. Aktivitas ini meningkat dengan bertambahnya
usia kehamilan. Pada usia kehamilan 41-42 minggu, ACTA berkisar
antara 45-65 detik sedangkan pada usia kehamilan >42 minggu,
didapatkan ACTA <45 detik. Bila didapatkan ACTA antara 42-46

detik, ini menunjukkan bahwa kehaminan sudah postterm.


Perbandingan kadar lesitin-spingomielin (L/S). Perbandingan kadar
L/S pada usia kehamilan sekitar 22-28 minggu adalah sama (1:1).
Pada usia kehamilan 32 minggu, perbandingannya menjadi 1,2:1

5
dan pada kehamilan genap bulan menjadi 2:1. Pemeriksaan ini tidak
dapat dipakai untuk menentukan kehamilan postterm tetapi hanya
digunakan untuk menentukan apakan janin cukup usia/matang untuk

dilahirkan.
Sitologi vagina. Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik >
20%) mempunyai sensitivitas 755. Perlu diingat bahwa kematangan

serviks tidak dapat dipakai untuk menentukan usia gestasi.


2. Skor maturitas janin

3. Jelaskan tindakan resusitasi pada janin

4. Tanda-tanda terjadinya bayi asfiksia pada kehamilan serotinus


a. Denyut jantung janin abnormal

DJJ normal : dapat melambat sewaktu his, dan segera kembali

normal setelah relaksasi


DJJ lambat (kurang dari 100 per menit) saat tidak ada his,

menunjukkan adanya gawat janin


DJJ cepat (lebih dari 180/menit) yang disertai takikardi ibu bisa
karena ibu demam, efek obat, hipertensi, atau amnionitis. Jika
denyut jantung ibu normal, denyut jantung janin yang cepat
sebaiknya dianggap sebagai tanda gawat janin

b. Mekonium
Adanya mekonium pada cairan amnion lebih sering terlihat saat
janin mencapai maturitas dan dengan sendirinya bukan merupakan
tanda-tanda gawat janin. Sedikit mekonium tanpa dibarengi dengan
kelainan pada denyut jantung janin merupakan suatu peringatan

untuk pengawasan lebih lanjut


Mekonium kental merupakan tanda pengeluaran mekonium pada
cairan amnion yang berkurang dan merupakan indikasi perlunya
persalinan yang lebih cepat dan penanganan mekonium pada saluran

napas atas neonatus untuk mencegah aspirasi mekonium


Pada presentasi sungsang, mekonium dikeluarkan pada saat
persalinan akibat kompresi abdomen janin pada persalinan. Hal ini
bukan merupakan tanda kegawatan kecuali jika hal ini terjadi pada
awal persalinan.
Penanganan Khusus
Jika denyut jantung janin diketahui tidak normal, dengan atau tanpa
kontaminasi mekonium pada cairan amnion, lakukan hal sebagai
berikut:
Jika sebab dari ibu diketahui (seperti demam, obat-obatan)
mulailah penanganan yang sesuai

Jika sebab dari ibu tidak diketahui dan denyut jantung janin
tetap abnormal sepanjang paling sedikit 3 kontraksi, lakukan
pemeriksaan dalam untuk mencari penyebab gawat janin:
Jika terdapat perdarahan dengan nyeri yang hilang
timbul atau menetap pikirkan kemungkinan solusio
plasenta
Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam, sekret
vagina berbau tajam) berikan antibiotika untuk
amnionitis
Jika tali pusat terletak dibawah bagian bawah janin
atau dalam vagina, lakukan penanganan prolaps tali

pusat
Jika denyut jantung janin tetap abnormal atau jika terdapat
tanda-tanda lain gawat janin (mekonium kental pada cairan
amnion), rencanakan persalinan:
Jika serviks telah berdilatasi dan kepala janin tidak
lebih dari 1/5 di atas simfisis pubis atau bagian
teratas tulang kepala janin pada stasion 0, lakukan
persalinan dengan ekstraksi vakum atau forseps
Jika serviks tidak berdilatasi penuh dan kepala janin
berada lebih dari 1/5 di atas simfisis pubis atau
bagian teratas tulang kepala janin berada di atas
stasion 0, lakukan persalinan dengan seksio sesarea

DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham FG, Gant FN, Leveno KJ, dkk. Obstetri Williams. Edisi 22. Jakarta:
EGC, 2010.
2. Prawirohardjo,

Sarwono.

2008.

Ilmu

Kebidanan.

Bina

Pustaka

Sarwono

Prawirohardjo. Jakarta
3. Hacker NF and Moore George, Esensial Obstetri dan Ginekologi, edisi ke-3, 2001.
4. Briscoe D, Nguyen H, Mencer M, et al, Management of Pregnancy Beyond 40 Weeks
Gestation, 2005, Texas, American Academy of Family Physicians
5.

American Academy of Pediatrics, 2007. Red Book : Atlas of Pediatric Infectious


Diseases. Illinois: American Academy of Pediatrics.

10
6. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal . Edisi 1. Jakarta.